Dakwah bil Hikmah

Berdakwah Bil Hikmah

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Dakwah itu butuh orang-orang berakhlakul karimah agar mampu menuai berkah.
Dakwah itu butuh manusia-manusia kuat agar geloranya mendahsyat.
Dakwah itu butuh orang-orang yang tulus agar jalan dakwah ini senantiasa lurus.
Dan dalam berdakwah butuh sifat yang jujur agar pelakunya meraih mujur.

Amanah dakwah bukanlah jabatan.
Tidak pula diperjualbelikan.
Amanah dakwah itu disematkan kepada orang yang tepat.
Karena pemberian dari Yang Maha Pemberi selamat.

Bila dakwah sudah ditanggungkan di pundak kita.
Jaga semangat agar tak mudah putus asa.
Jaga lisan agar tak salah berkata.
Jaga hati agar jauh dari durjana.
Dan jaga sikap agar tidak berbuat cela.

Dakwah itu keteladanan.
Bukan hanya pandai berorasi tanpa perbaikan.
Perubahan diri senantiasa dilakukan.
Menempa diri menjadi manusia pilihan.

Berdakwahlah jangan seperti yang biasa orang yahudi lakukan.

Dalam Q.S. Al-baqarah; 44.โ€œMengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?โ€

Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya kaum Yahudi menyuruh orang lain untuk mengerjakan kebajikan, sedangkan mereka melupakan dirinya sendiri.

Mereka menyuruh orang lain untuk berbuat baik, namun mereka sendiri tidak melakukannya. Itu artinya, terdapat kebathilan antara ucapan dan perbuatan yang mereka lakukan. Itulah yang menjadi pembedaumat Islam dan kaum Yahudi.

Berhati-hati menjadi tabiat agar mendapat jalan selamat.
Jangan seperti lilin yang menerangi orang lain tapi membakar dirinya.

โ€ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.โ€ (Q.S. An-Nahl: 125)

Innallaha maโ€™ana

Wallahu a’lam bisshawwab

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa Orang Tua Atas Anaknya

Kenapa Doa Tidak Dikabulkan?

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Sebagian manusia menganggap ini adalah kenyataan yang nampaknya tidak mengenakkan di tengah janjiNya bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-hamaNya. Tetapi hal ini memang ada, kenapa bisa terjadi? Apa yang harus dievaluasi?

Ada banyak sebab doa kita ditolak, diantaranya:

๐Ÿ“Œ Makan dan Minum dari yang Haram

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, dia berkata:

โ€œRasulullah ๏ทบ menyebutkan, seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, berambut kusut, berdebu, dan menengadahkan tangannya ke langit: โ€œYa Rabb .. Ya Rabb .., tetapi dia suka makan yang haram, minum yang haram, pakaiannya juga haram, dan dikenyangkan dengan yang haram. Maka, bagaimana doanya bisa dikabulkan?โ€ (HR. Muslim No. 1015)

๐Ÿ“Œ Tergesa-gesa dalam Berdoa

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dia berkata:

Sesungguhnya Rasulullah ๏ทบ bersabda, โ€œDoa salah seorang di antara kalian pasti akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu dia mengatakan: Saya sudah berdoa akan tetapi belum dikabulkan.โ€ (HR. Bukhari No. 6340)

Bukan hanya itu, dia juga tidak menjaga adab-adab doa yang lainnya.

๐Ÿ“Œ Meninggalkan Kewajiban

Dari Huzaifah Radhiallahu Anhu dari Nabi ๏ทบ beliau bersabda, โ€œDemi yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus betul-betul memerintahkan kepada yang maโ€™ruf dan melarang dari yang mungkar, kalau tidak maka betul-betul dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan kepada kalian semua siksaan dari-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya akan tetapi Dia tidak mengabulkannya.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 2169, kata At Tirmidzi: hasan)

Hadits ini menyebutkan bahwa meninggalkan salah satu kewajiban agama yakni kewajiban untuk amar maโ€™ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran), merupakan salah satu penyebab ditolaknya doa.

๐Ÿ“Œ Menjalankan Larangan dan Maksiat

Inilah keanehan manusia. Ketika mereka membutuhkan sesuatu atau dalam keadaan sulit, mereka mencari-cari Tuhannya, mereka memohon dan menangis, serta mengakui semua kesalahan dan kelemahannya. Tetapi ketika kesulitan hilang, mereka melupakanNya dan kembali maksiat kepadaNya. Bagaimana yang seperti ini dikabulkan doanya?

Ada jawaban sangat bagus dari Imam Ibrahim bin Adham Rahimahullah atas pertanyaan ini. Ketika beliau ditanya kenapa doa tidak dikabulkan dia menjawab:

1. Seseorang yang meyakini adanya Allah ๏ทป tetapi ia tidak menunaikan hak-hakNya.
2. Seseorang yang telah membaca ( mengerti ) kitab Allah ๏ทป tetapi tidak mengamalkannya.
3. Seseorang yang mengetahui bahwa syetan adalah musuhnya yang nyata, tetapi ia justru mengikuti langkah-langkahnya.
4. Seseorang yang mengaku mencintai Rasulullah ๏ทบ tetapi meninggalkan atsar dan sunnahnya.
5. Seseorang yang mencita-citakan masuk surga namun meninggalkan amalan – amalan masuk surga.
6. Seseorang mengatakan takut adzab neraka, tetapi ia tidak berhenti melakukan dosa dan maksiat.
7. Seseorang yang yakin tentang kepastian datangnya ajal, tetapi ia tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
8. Seseorang yang sibuk dengan aib dan cacat orang lain, tetapi ia melupakan cacat dan aibnya sendiri.
9. Seseorang yang makan rizki Allah, tetapi tidak mensyukurinya.
10.Seseorang yang mengubur orang mati, tetapi ia tidak mengambil pelajaranya dari padanya.

๐Ÿ“Œ Allah ๏ทป Sedang menguji hambaNya

Sebenarnya Allah ๏ทป punya banyak cara untuk menguji keimanan hambaNya, di antaranya dengan tidak dikabulkannya doa, khususnya di dunia. Apakah dengan itu dia semakin beriman atau justru lari dariNya.

Hamba yang mukmin dan shabirin (sabar) akan meyakini bahwa Allah ๏ทป punya rencana lain untuknya, dan itu pasti lebih baik. Sebab Dia lebih tahu dibanding hambaNya sendiri tentang apa yang terbaik bagi hambaNya. Hamba minta A, Allah ๏ทป memberinya B, dan B itu ternyata lebih baik baginya. Atau, Allah ๏ทป menundanya sebagai ujian kesabaran dan sekaligus memang itulah momen yang pas baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

โ€œBoleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.โ€ (QS. Al Baqarah (2): 216)

Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hendaknya Satu Kubur Untuk Satu Mayit

Mengubur Mayit Satu Lubang Lebih Dari Satu Mayat

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Bismillahirrahmanirrahim…

Hal ini pada prinsipnya terlarang karena tidak sesuai dengan cara penguburan Islam, KECUALI dalam kondisi darurat atau alasan yang dibenarkan.Seperti sama sekali ketiadaan lahan atau mayit yg sangat banyak dan tidak mungkin diurus satu persatu.

Syaikh Muhammad bin Umar Al Jawi Rahimahullah berkata:

ูˆูŽู„ูŽุง ูŠุฌูˆุฒ ุฌู…ุน ุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูููŠ ู‚ุจุฑ ูˆูŽุงุญูุฏ ุจู„ ูŠูุฑุฏ ูƒู„ ูˆูŽุงุญูุฏ ุจูู‚ูŽุจู’ุฑ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงูˆูŽุฑู’ุฏููŠู‘ ุจูุงู„ู’ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉู ุนูู†ู’ุฏ ุงุชู‘ูุญูŽุงุฏ ุงู„ู’ุฌูู†ู’ุณ ุฃูŽูˆ ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ุฑูŽู…ููŠู‘ูŽุฉ ุฃูŽูˆ ุงู„ุฒู‘ูŽูˆู’ุฌููŠู‘ูŽุฉ

Tidak boleh menggabungkan dua mayit dalam satu kubur, tapi hendaknya satu kubur untuk satu orang. Al Mawardi berkata bahwa makruh menyatukan jenis, mahram, dan pasangan suami istri. [1]

Syaikh Sulaiman Al Jamal Rahimahullah menjelaskan:

ุฃู…ุง ุฏูˆุงู…ุง ุจุฃู† ูŠูุชุญ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูŠุช ูˆูŠูˆุถุน ุนู†ุฏู‡ ู…ูŠุช ุขุฎุฑ ููŠุญุฑู…ุŒ ูˆู„ูˆ ู…ุน ุงุชุญุงุฏ ุงู„ุฌู†ุณ ุฃูˆ ู…ุน ู…ุญุฑู…ูŠุฉ ูˆู†ุญูˆู‡ุง ู‡ุฐุง ูˆุงู„ู…ุนุชู…ุฏ ุฃู† ุฌู…ุน ุงุซู†ูŠู† ุจู‚ุจุฑ ุญุฑุงู… ู…ุทู„ู‚ุง ุงุจุชุฏุงุก ูˆุฏูˆุงู…ุง ุงุชุญุฏ ุงู„ุฌู†ุณ ุฃูˆ ู„ุง

Ada pun membuka kubur mayit lalu meletakkan mayit lain di situ secara permanen adalah haram. Walau sesama jenis, atau mahramnya, dan semisalnya. Inilah pendapat yang mu’tamad ( pendapat resmi dalam madzhab Syafiโ€™i), bahwa mengumpulkan dua mayit dalam satu kubur HARAM secara mutlak, baik dipermulaan saja atau terus menerus baik yg sesama jenis atau tidak. [2]

Larangan ini, baik yang mengatakan haram atau makruh, telah final dan disepakati. Imam Ibnu al Haj Rahimahullah berkata:

ุงุชู‘ูŽููŽู‚ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุถูุนูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุฏู’ููŽู†ู ูููŠู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู : ูˆูŽู‚ู’ููŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ู…ูŽุง ุฏูŽุงู…ูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู…ูู†ู’ู‡ู ู…ูŽูˆู’ุฌููˆุฏู‹ุง ูููŠู‡ู ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽูู’ู†ูŽู‰ ุŒ ููŽุฅูู†ู’ ููŽู†ููŠูŽ ููŽูŠูŽุฌููˆุฒู ุญููŠู†ูŽุฆูุฐู ุฏูŽูู’ู†ู ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูููŠู‡ู ุŒ ููŽุฅูู†ู’ ุจูŽู‚ููŠูŽ ูููŠู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู…ูู†ู’ ุนูุธูŽุงู…ูู‡ู ููŽุงู„ู’ุญูุฑู’ู…ูŽุฉู ุจูŽุงู‚ููŠูŽุฉูŒ ู„ูุฌูŽู…ููŠุนูู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุญู’ููŽุฑูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุฏู’ููŽู†ูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠููƒู’ุดูŽููŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุงุชูุงู‚

Para ulama sepakat bahwa tempat dikuburkannya seorang muslim adalah tempatnya yang terakhir, selama masih ada bagian dari tubuhnya maka dia masih di situ, sampai dia fana (lenyap), jika mayat itu sudah tidak ada maka saat itu boleh bagi mayat lain di kubur di situ. Seandainya ada sisa tulangnya maka semua itu tetap dihormati, tidak boleh menggalinya dan menguburkan mayat lain bersamanya, dan tidak boleh dibongkar berdasarkan kesepakatan ulama. [3]

Namun, jika kondisinya darurat, jumlah mayat sangat banyak dan tidak tertangani satu persatu, maka tidak apa-apa mereka dikubur satu lubang. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. sendiri terhadap mayat para sahabat saat perang Uhud.

Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu berkata:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุฌู’ู…ูŽุนู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽูŠู’ู†ู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุชู’ู„ูŽู‰ ุฃูุญูุฏู ูููŠ ุซูŽูˆู’ุจู ูˆูŽุงุญูุฏูุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู: ยซุฃูŽูŠู‘ูู‡ูู…ู’ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ุฃูŽุฎู’ุฐู‹ุง ู„ูู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูยปุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูุดููŠุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽุญู’ุฏู

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah menggabungkan dua mayat yang terbunuh saat Uhud dalam satu kain, lalu Beliau bersabda: โ€œSiapa di antara mereka yang lebih banyak hapal al Quranโ€, jika ditunjuk salah satunya maka dia didahulukan yang dimasukkan ke liang lahad. [4]

Dari Hisyam bin โ€˜Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

ุงุญู’ููุฑููˆุงุŒ ูˆูŽุฃูŽูˆู’ุณูุนููˆุงุŒ ูˆูŽุฃูŽุญู’ุณูู†ููˆุงุŒ ูˆูŽุงุฏู’ููู†ููˆุง ุงู„ุงูุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽู„ุงูŽุซูŽุฉูŽ ูููŠ ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽุงุญูุฏูุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู‘ูู…ููˆุง ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽู‡ูู…ู’ ู‚ูุฑู’ุขู†ู‹ุง

Galilah lubang, buatlah yang luas, dan berbuat ihsanlah,[5] kuburkanlah dua atau tiga orang di dalam satu kubur, dan dahulukan dalam penguburan yang paling banyak hapal Al Quran. [6]

Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri Rahimahullah berkata tentang hadits ini:

ููŠู‡ ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุฌู…ุน ุจูŠู† ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ู‚ุจุฑ ูˆุงุญุฏุŒ ูˆู„ูƒู† ุฅุฐุง ุฏุนุช ุฅู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุญุงุฌุฉุŒ ูƒู…ุง ููŠ ู…ุซู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ูˆุงู‚ุนุฉ ูˆุฅู„ุง ูƒุงู† ู…ูƒุฑูˆู‡ุงู‹ุŒ ูƒู…ุง ุฐู‡ุจ ุฅู„ูŠู‡ ุฃุจูˆุญู†ูŠูุฉ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุญู…ุฏ

Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya menggabungkan sekelompok orang dalam satu kubur, tetapi itu jika ada kebutuhan, sebagaimana realita dalam hadits ini, tapi jika tidak ada kebutuhan maka itu makruh sebagaimana pendapat Abu Hanifah, Syafiโ€™i, dan Ahmad. [7]

Imam ash Shanโ€™ani Rahimahullah juga mengatakan:

ุฌูˆุงุฒ ุฌู…ุน ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ู‚ุจุฑ ูˆูƒุฃู†ู‡ ู„ู„ุถุฑูˆุฑุฉ

Bolehnya mengumpulkan sekelompok (mayat) dalam satu kubur, itu jk kondisi darurat. [8]

Syaikh Muhammad bin Shalih al โ€˜Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

ยซุฅู„ุง ู„ุถุฑูˆุฑุฉยปุŒ ูˆุฐู„ูƒ ุจุฃู† ูŠูƒุซุฑ ุงู„ู…ูˆุชู‰ุŒ ูˆูŠู‚ู„ ู…ู† ูŠุฏูู†ู‡ู…ุŒ ูููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุงู„ ู„ุง ุจุฃุณ ุฃู† ูŠุฏูู† ุงู„ุฑุฌู„ุงู† ูˆุงู„ุซู„ุงุซุฉ ููŠ ู‚ุจุฑ ูˆุงุญุฏ. ูˆุฏู„ูŠู„ ุฐู„ูƒ: ยซู…ุง ุตู†ุนู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ููŠ ุดู‡ุฏุงุก ุฃุญุฏ ุญูŠุซ ุฃู…ุฑู‡ู… ุฃู† ูŠุฏูู†ูˆุง ุงู„ุฑุฌู„ูŠู† ููŠ ู‚ุจุฑ ูˆุงุญุฏุŒ ูˆูŠู‚ูˆู„: ุงู†ุธุฑูˆุง ุฃูŠู‡ู… ุฃูƒุซุฑ ู‚ุฑุขู†ุงู‹ ูู‚ุฏู…ูˆู‡ ููŠ ุงู„ู„ุญุฏยป ูˆุฐู‡ุจ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุฅู„ู‰ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุฏูู† ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุงุซู†ูŠู† ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชู†ุฒูŠู‡

(Kecuali darurat) ini terjadi karena banyaknya mayat sementara petugas yang menguburkan sedikit, dalam kondisi seperti ini tidak apa-apa menguburkan dua orang laki-laki atau tiga orang dalam satu kubur. Dalilnya adalah apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap syuhada Uhud ketika Beliau memerintahkan menguburkan dua orang laki-laki dalam satu kubur, dan bersabda: โ€œLihat, siapa di antara mereka yang paling banyak hapal Al Quran maka dahulukan di liang lahad.โ€ Sebagian ulama berpendapat makruhnya menguburkan lebih dari dua orang, makruh tanzih. [9]

Demikian, maka menguburkan dalam satu kubur untuk sekumpulan mayat adalah dibolehkan hanya jika memang ada hajat atau darurat. Wallahu Aโ€™lam


Notes:

[1] Syaikh Muhammad bin Umar al Jawi, Nihayatu az Zain, 1/163

[2] Syaikh Sulaiman al Jamal, Hasyiyah Al Jamal, 2/203

[3] Imam Ibnu al Haj al Maliki, al Madkhal, Hal. 18

[4] HR. Bukhari no. 1343

[5] Imam Ali al Qari mengatakan, ada yang mengartikan berbuat baiklah kepada mayat yang akan dikubur, ada pula yang mengartikan perbaguslah kuburannya baik kedalamannya, meratakan bagian bawahnya, dan lainnya. (Imam Ali al Qari, Mirqah al Mafatih, 3/1219)

[6] HR. At Tirmidzi no. 1813, katanya: hasan shahih

[7] Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri, Mirโ€™ah al Mafatih, 5/437

[8] Imam ash Shanโ€™ani, Subulussalam, 1/547

[9] Syaikh Muhammad bin Shalih al โ€˜Utsaimin, Asy Syarh al Mumtiโ€™, 5/368

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

cropped-logo-manis-1.png

Ketika Langit Terbelah – Tadabbur Surat al-Infithar

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Mukaddimah: Kepemilikan yang Sempurna

Surat al-Infithar diturunkan di kota Makkah setelah surat an-Nรขziโ€™รขt.

Tak jauh berbeda dengan surat-surat sebelumnya, surat ini memuat dan menjelaskan kondisi alam saat terjadinya hari kiamat dan mengupas keadaan manusia yang tidak mampu dan tahu berterimakasih sedikit pun kepada Dzat Yang Maha Pemurah. Ia mendurhakai-Nya, kafir terhadap ajaran-Nya, serta mendustakan kebenaran hari kiamat. Bahkan ia mengajak sebanyak-banyak manusia untuk berbuat seperti dirinya.

Nantinya, di hari penentuan itu semua akan menjadi gamblang. Ada dua golongan besar yang masing-masing akan menuju tempat akhirnya, sesuai amal perbuatannya.

Pada hari itu semua titah dan kekuasaan hanya milik Allah semata. Siapapun orangnya takkan mampu menolong orang lain atau bahkan dirinya sendiri.

Semuanya hanya bisa menunggu keputusan terakhir yang akan diberikan Allah untuk mereka. Keputusan yang seadil-adilnya.

Hari Kiamat: Keniscayaan Hancurnya Alam Semesta.

โ€œApabila langit terbelah. Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. Dan apabila lautan menjadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkarโ€ (QS. 82: 1-4).

Langit yang batas luasnya hanya diketahui Allah pada hari kiamat akan dihancurkan. Demikian juga bintang-bintang yang dijadikan penghias langit, yang jumlahnya juga hanya diketahui Allah akan berjatuhan ke bumi. Dan air laut yang telah memanas akan bergejolak karena goncangan yang sangat dahsyat dan kemudian batas-batasnya menjadi sirna dan bercampurlah semua yang ada di dalamnya.

Hal-hal tersebut benar-benar terjadi saat itu.

Dan pada saat hari kebangkitan datang, semua orang takkan mampu bersembunyi di manapun juga.

Karena semua yang mati akan dibangkitkan oleh Dzat yang mampu menghidupkan yang mati dan mengubah yang tak ada menjadi ada.

Inilah takwilan pembongkaran kuburan yang relevan dengan susunan kata-kata sebelumnya. Kata yang digunakan untuk mengekspresikan kebangkitan kali ini adalah โ€œbuโ€™tsiratโ€ yang berarti pembongkaran. Aslinya berasal dari โ€œal-baโ€™tsarahโ€ yaitu membuat tanah berantakan karena ada sesuatu di bawahnya yang dikeluarkan.

Ini berarti menggabungkan antara menyatukan ruh dan jasad kemudian mengeluarkannya dari kuburan masing-masing dengan cara yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.
โ€œMaka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannyaโ€ (QS. 82: 5)

Semua orang saat itu sudah merasa apa saja yang telah ia perbuat dari amal-amal kebaikan atau sebaliknya perbuatan-perbuatan jahat, serta apa-apa saja yang ia lalaikan dan tunda-tunda dari pekerjaan baik. Ibnu Abbas, demikian juga Ibnu Masโ€™ud dan Qatadah memberikan penafsiran yang spesifik. Manusia akan menyesal saat itu, karena ia tahu apa-apa yang telah ia kerjakan terdapat banyak perbuatan yang tidak baik. Serta ia melalaikan serta suka menunda-nunda untuk berbuat baik dan bertaubat.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Kelalaian Manusia

โ€œHai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurahโ€. (QS. 82: 6)

Bagaimana mungkin manusia lupa dan lalai terhadap Tuhan yang sangat pemurah. Dia memberi rizki siapa saja, baik yang taat atau yang bejat dan durhaka pada-Nya.

Dia tak pernah menunda rahmat-Nya kepada makhluk-Nya. Semuanya takaran takdir telah ditentukannya. Karena ketaatan dan kemaksiatan makhluk-Nya sama sekali tidaklah mempengaruhi wibawa ketuhanan-Nya. Karena itu sangat pas jika kata yang dipakai di sini adalah โ€œal-karimโ€ dan bukan yang lainnya.

Atau apakah kelalaian itu justru disebabkan oleh kemurahan yang diberikan Allah serta kemudahan-kemudahan hidup serta fasilitas yang semuanya diperuntukkan oleh Allah demi kemaslahatan manusia, seperti tutur Yahya bin Muโ€™adz.

Sangat pantas jika kemudian Allah menyatakan bahwa hanya sedikit dari hamba-Nya yang mampu mengingat-Nya dan bersyukur atas segala karunia dan limpahan nikmat-Nya. Itupun hanya sebagian kecil saja yang bisa disyukuri. Sangat pantas jika kemudian manusia dicap sebagai makhluk yang bodoh dan zhalim.

Padahal Allahlah yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.ย  Dalam bentuk apa saja yang dia kehendaki, dia menyusun tubuhmuโ€. (QS. 82: 7-8)

Apakah manusia lupa dari mana ia berasal dan bagaimana ia diciptakan? Bukankah ia berasal dari ketiadaan dan tidak pernah disebut sekalipun oleh siapapun sebelumnya.
Kemudian Allah jadikan ia ada. Dijadikan dari sel kecil yang berada dalam satu tetes air mani yangtelah ditakar kejadiannya. Diberi dan dikaruniakan kepadanya tubuh yang sempurna, namun ia tak pernah merasa bahwa itu adalah pemberian dari Tuhan-Nya. Dia โ€“bahkan- lupa padahal hampir setiap saat ia bercermin.

Pernahkah ia berpikir, siapa yang menjadikan susunan wajahnya seperti sekarang ini. Mata, hidung, telinga, mulut, lidah semuanya pada posisi yang sudah sangat pas.

Demikian juga anatomi tubuhnya. Baik bagian luar maupun dalam, siapakah yang menyusunnya. Tengkorak kepalanya yang melindungi otak yang didalamnya ada jutaan sel, siapakah yang sanggup membuatnya dengan demikian detil. Dia juga yang menjadikannya sesuai dengan kehendak-Nya; apakah ia mirip dengan ibunya atau bapaknya, cantik rupawan atau ada bagian tubuhnya yang kurang sempurna fungsinya.

Namun secara umum, Allah telah membaguskan bentuk manusia)ย jauh lebih bagus dan sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk- Nya yang lain.

Dan yang menjadikan manusia sangat keterlaluan dan melampaui batas adalah sikap angkuh dan durhakanya yang tak berhenti namun menjadi-jadi bertambah. Seperti ungkap Allah dalam ayat selanjutnya,

โ€œBukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasanโ€
(QS. 82: 9)

Itulahโ€“kebanyakan- manusia. Lalai dan tak pandai berterima kasih. Naifnya, bukan hanya itu sifat jeleknya, ia menambahnya dengan pendustaan terhadap kebenaran terjadinya hari pembalasan. Padahal jelas-jelas setiap manusia selalu diikuti oleh malaikat pencatat amal yang tak pernah lalai sedikitpun merekam semua amal perbuatan yang dilakukannya untuk kelak diberikan balasannya sesuai dengan perbuatannya.

Tidakkah ia malu, dalam setiap detiknya ada yang selalu memperhatikannya, merekam amal perbuatannya, yang besar dan kecil.

โ€œPadahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.โ€ (QS. 82: 10-12).

Para pencatat amal itu bukan sembarang utusan Allah. Mereka adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah swt dan penduduk langit. Mereka juga sangat disiplin dalam merekam dan membukukan amal perbuatan anak adam dengan teliti. Mereka juga tidak bisa ditipu dan dikelabuhi. Tak heran, jika kemudian Imam al-Bazzar meriwayatkan sebuah hadits yang didengar oleh sahabat Ibnu Abbas ra. Yaitu tentang larangan bertelanjang, karena ada para malaikat Allah yang selalu menyertai manusia kecuali dalam tiga keadaan: sedang buang hajat, mandi dan ketika berkumpul dengan istrinya).

Balasan yang Setimpal

โ€œSesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatanโ€ (QS. 82: 13)

Setelah semua buku dan catatan amal diberikan kemudian dipersaksikan kepada masing-masing manusia seluruh anggota tubuhnya yang berbicara sebagai saksi atas titah Sang Maha Kuasa. Tak seorang pun mampu memungkiri perbuatannya. Hanya sesallah yang ada saat itu. Baik ia seorang yang baik ataupun ia seorang yang buruk akhlaknya.

Dan orang-orang yang baik yang ketika di dunia selalu takut akan adzab Allah serta bertakwa kepada-Nya, maka Allah sediakan bagi mereka berbagai kenikmatan yang belum ada tandingannya sebelum dan sesudahnya. Karena itu ungkapan โ€la fรฎ naโ€™รฎmโ€ sangat relevan. Karena mereka benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang tiada tara. Di ayat lain bahkan digambarkan tenggelam dalam kesibukan menikmati karunia Allah. Dan mereka memang benar layak demikian setelah jerih payah dan usahanya di dunia.

Setelah ia menahan hawa nafsunya untuk menaati ajaran Allah dan tunduk pada titah-Nya.

Sementara itu sebaliknya orang-orang yang melampaui batas tadi sebagaimana diceritakan di atas. โ€œDan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam nerakaโ€ (QS. 82: 14)

Orang-orang durhaka dan para pendusta tadi akan benar-benar sengsara. Berada dalam keabadian adzab yang pedih di neraka. Hari yang mereka dustakan juga akan menjadi saksi kebenaran kejadiannya. Saat itulah mereka benar-benar terpanggang dalam panas dan pedihnya siksa neraka, โ€œMereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasanโ€ (QS. 82: 15). Dan begitu mereka masuk, โ€œmereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka ituโ€ (QS. 82: 16). Mereka benar-benar celaka. Hari yang mereka dustakan sekaligus mereka takuti kebenarannya kini telah benar-benar ada di depannya. Bahkan mereka takkan pernah keluar sejenak pun untuk menghirup udara segar atau beristirahat melepas penat. Sebagaimana yang digambarkan dalam surat an-Naba. โ€œMereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,ย  selain air yang mendidih dan nanahโ€ (QS. 78: 24-25)

Sekali-kali takkan pernah mereka merasakan kenyamanan dan kesejukan. Al-Farraโ€™ menafsirkan ayat 24 surat An-naba dengan kenyamanan beristirahat dari panasnya hawa neraka sehingga disebut dengan โ€la bardanโ€, takkan ada kesejukan dan kenyamanan dari siksa neraka yang tak kenal ampun. Bahkan sekedar mendapatkan hembusan angin pun tidak, seperti tutur Az-Zajjaj dalam tafsirnya. Tidak juga mereka mendapatkan sesuatu yang bisa mengusir dahaga dan haus karena menahan panas yang sangat luar biasa. Tak ada air. Kecuali air yang menggelegak atau nanah yang sangat menjijikkan dan baunya menyengat.

Mungkin gambaran ini tak pernah terdetik dalam hati para pendusta itu. Atau jika mereka sempat percaya, ditutupi oleh gengsi untuk mengungkapkan iman dan mengikutinya dengan perbuatan baik.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Kebenaran Hari Pembalasan

โ€œTahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?โ€ (QS. 82: 17-18)

Sebenarnya seperti apakah hari pembalasan itu? Sampai Allah perlu mengulang pertanyaan dua kali di akhir surat ini. Ini memberikan indikasi, betapapun jelas tanda dan bukti kebenaran hari pembalasan pasti tetap akan banyak yang mendustakan dan tidak memperca-yainya. Padahal dengan adanya hari pembalasan seseorang akanmendapatkan haknya dengan adil. Ketidakadilan yang terjadi di dunia akan diselesaikan pada hari itu dengan sangat transparan dan profesional. Tak ada yang dizhalimi hari itu. Tak ada yang menzhalimi orang pada hari itu kecuali zhalim pada dirinya sendiri di masa lalu dengan tidak mengindahkan ajakan dan titah Allah.

Hari pembalasan ini menjadi pembuktian janji Allah yang tak sedikit pun mengambil manfaat dari ketaatan manusia, juga tidak merugi sedikit pun karena kemaksiatan yang terus menerus dilakukan manusia.

Sudah demikian jelasnya kebenaran hari pembalasan ini, manusia tetap tidak menggubrisnya. Sebagian karena hatinya tertutup oleh kedustaan, sebagian karena menjadi manusia matrealis, sebagian lagi lalai yang diperturutkan dan suka menunda-nunda taubat dan amal baik.

Dengarkan penuturan Allah tentang maksud dari hari pembalasan itu, โ€œ(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allahโ€ (QS. 82: 19)

Jangankan untuk menolong orang lain, hari yang sangat menegangkan dan menakutkan itu benar-benar membuat manusia lupaย  terhadap siapapun. โ€œPada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannyaโ€. (QS. 80: 34-37).

Dan karena sebenar-benar kekuasaan hanya dimiliki Allah, tanpa tandingan dan saingan oleh siapapun.

Keangkuhan dan kesombongan yang pernah didengungkan didunia seketika sirna dan tak berkutik. Karena semuanya semu dan hanya fatamorgana, ketika bertemu dengan kekuasaan dan kebenaran yang sesungguhnya. Hari itu sepenuhnya dimiliki oleh Allah.

Tentunya, sebagaimana hari-hari sebelumnya. Hanya saja selama ini manusia tak menganggapnya demikian. Saat itulah kebenaran terungkap dan tak seorang pun mampu membantahnya.

Penutup
Semoga saat langit benar-benar terbelah dan bintang berjatuhan serta batas-batas laut disirnakan, serta penghuni-penghuni kubur dibangkitkan, kita berharap semoga berada dalam golongan orang-orang yang selalu berada dalam kenikmatan surga dan keridhoan Allah. Amin

(Selesai)

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersuci Istinja Cebok Bersih Najis

Wudhu Dengan Air Seukuran Bak atau Gayung, Bolehkah? Apakah dikucurkan atau bolehkah dikobok ke dalamnya?

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Bismillahirrahmanirrahim al Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜ala Rasulillah wa Baโ€™d:

Wudhu dengan air di bak mandi, selama air tersebut suci dan mensucikan adalah Boleh dan SAH. Hal ini berdasarkan beberapa hadits berikut:

Pertama. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุบู’ุณูู„ู ุฃูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ุจูุงู„ุตู‘ูŽุงุนู ุฅูู„ูŽู‰ ุฎูŽู…ู’ุณูŽุฉู ุฃูŽู…ู’ุฏูŽุงุฏู ูˆูŽูŠูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃู ุจูุงู„ู’ู…ูุฏู‘ู

Nabi ๏ทบ membasuh, atau mandi dengan satu sha’ hingga lima mud, dan berwudhu dengan satu mud. [1]

Satu mud itu tidak banyak, Imam Al โ€˜Ainiy mengatakan 1,3 Rithl Iraq (Rithl itu bukan liter), sebagaimana pendapat Imam Asy Syafiโ€™i dan ulama Hijaz. Ada yang mengatakan 2 Rithl yaitu Imam Abu Hanifah dan ulama Iraq.[2]

Sementara Imam Ash Shanโ€™ani menjelaskan dengan lebih sederhana yaitu sepenuh dua telapak tangan manusia berukuran sedang dengan telapak tangan yang dibentangkan (madda), dari sinilah diambil kata mud.[3]

Satu mud ini adalah cukup, jangan dikurangi lagi. Imam Al Munawiy mengatakan: โ€œMaka, sunahnya adalah tidak kurang dari itu dan jangan ditambah bagi orang yang ukuran badannya seperti badannya (Rasulullah ๏ทบ). [4]

Ini menunjukkan air seukuran gayung pun boleh dipakai dan sah, selama suci dan mensucikan.

Kedua. Hadits lainnya adalah:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุณูŽุนููŠุฏู ุงู„ู’ุฎูุฏู’ุฑููŠู‘ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ููŠู„ูŽ ู„ูุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃู ู…ูู†ู’ ุจูุฆู’ุฑู ุจูุถูŽุงุนูŽุฉูŽ ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุจูุฆู’ุฑูŒ ูŠูุทู’ุฑูŽุญู ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ู’ุญููŠูŽุถู ูˆูŽู„ูŽุญู’ู…ู ุงู„ู’ูƒูู„ูŽุงุจู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุชู’ู†ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุทูŽู‡ููˆุฑูŒ ู„ูŽุง ูŠูู†ูŽุฌู‘ูุณูู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ

Dari Abu Saโ€™id Al Khudri, bahwa ditanyakan kepada Rasulullah ๏ทบ: โ€œApakah kami boleh berwudhu dari sumur budhaaโ€™ah, yaitu sumur yang kemasukan Al Hiyadh (pembalut wanita), daging anjing, dan An Natnu (bau tidak sedap).โ€ Lalu Rasulullah ๏ทบ menjawab: โ€œAir itu adalah suci, tidak ada sesuatu yang menajiskannya.โ€ [5]

Hadits ini menunjukkan hukum dasar air adalah suci, dan tidak ada apa pun yang dapat menajiskannya. Bahkan Imam Malik Rahimahullah mengatakan walau airnya sedikit, selama sifat sucinya belum berubah, baik warna, aroma, dan rasa.

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah mengatakan: โ€œDengan hadits ini, Imam Malik berdalil bahwa sesungguhnya air tidak menjadi najis dengan terkenanya air itu dengan najis โ€“walau air itu sedikit- selama salah satu sifatnya belum berubah.โ€ [6] Tapi, para ulama mengoreksi pendapat Imam Malik, bahwa hadits tersebut adalah khusus untuk sumur Budhaaโ€™ah yang memang berukuran besar, sebagaimana keterangan Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuriy berikut:

“Taโ€™wilnya adalah bahwa air yang kalian tanyakan adalah tentang air sumur Budhaaโ€™ah, maka jawabannya adalah itu khusus, bukan untuk umum sebagaimana pertanyaan Imam Malik. Selesai. Jika Alif dan Lam (pada kata Al Maaโ€™/air) menunjukkan jenis, maka hadits ini adalah spesifik (khusus) menurut kesepakatan sebagaimana Anda lihat (tidak ada sesuatu yang menajiskannya) karena banyaknya, sesungguhnya sumur budhaaโ€™ah adalah sumur yang banyak airnya, lebih dari dua qullah, maka terkena semua hal ini tidaklah merubahnya, dan air yang banyak tidaklah menjadi najis karena sesuatu selama belum terjadi perubahan.” [7]

Ummu โ€˜Umarah bercerita:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ูŽ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃูŽ ููŽุฃูุชูู‰ูŽ ุจูุฅูู†ูŽุงุกู ูููŠู‡ู ู…ูŽุงุกูŒ ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุซูู„ูุซูŽู‰ู ุงู„ู’ู…ูุฏู‘ู

Bahwa Nabi ๏ทบ berwudhu dengan dibawakan untuknya di bejana berisi air seukuran 2/3 mud. [8]

Ketiga, Hadits lainnya:

ุนูŽู†ู’ ุนูุจูŽูŠู’ุฏู ุจู’ู†ู ุนูู…ูŽูŠู’ุฑู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู†ููŠ ุฃูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ููŽุฅูุฐูŽุง ุชูŽูˆู’ุฑูŒ ู…ูŽูˆู’ุถููˆุนูŒ ู…ูุซู’ู„ู ุงู„ุตู‘ูŽุงุนู ุฃูŽูˆู’ ุฏููˆู†ูŽู‡ู ููŽู†ูŽุดู’ุฑูŽุนู ูููŠู‡ู ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ููŽุฃููููŠุถู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุฃู’ุณููŠ ุจููŠูŽุฏูŽูŠู‘ูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุงุชู ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ู‚ูุถู ู„ููŠ ุดูŽุนู’ุฑู‹ุง

Dari โ€˜Ubaid bin โ€˜Umair, bahwa โ€˜Aisyah Radhiyallahu anha berkata, โ€œ Aku menyaksikan diriku mandi bersama Rasulullah ๏ทบ dari ini, – yaitu sebuah bejana kecil tempat yang berukuran satu shaaโ€™ atau lebih kecil- kami menyelupkan tangan kami seluruhnya, aku mencelupkan dengan tanganku pada kepalaku tiga kali dan aku tidak menguraikan rambut.โ€ [9]

Maka, dari hadits-hadits ini dapat disimpulkan bahwa wudhu dengan air seukuran bak mandi adalah sah, begitu pula dengan memakai gayung, yang penting tetap pada prinsip โ€œsuci dan mensucikanโ€, tidak ada perubahan sifat dasar sucinya, walau volume bak itu tidak sampai dua qullah. Ada pun jika sudah ternoda najis dan merubah salah satu sifat dasarnya maka tidak boleh wudhu dengannya.

Namun, dalam madzhab Syafiโ€™i, wudhu dengan air di wadah yang sedikit (misal gayung) tidaklah dengan mencelupkan (mengkobok) tangan ke wadah tersebut, tetapi hendaknya dikucurkan, agar tidak menjadi air mustaโ€™mal.

Syaikh Wahbah Az Zuhailiy Rahimahullah menyebutkan tentang pendapat Syafiโ€™iyyah:

โ€œKesimpulannya, tidak sah bersuci dengan air mustaโ€™mal yang sedikit untuk keperluan menghilangkan hadats dan membersihkan najis. Jika seorang yang berwudhu memasukkan tangannya ke air yang sedikit (misal di gayung, pen) setelah mencuci wajahnya, maka air yang tersisa tersebut adalah mustaโ€™mal.โ€ [10]

Bersuci dengan air musta’mal tidaklah sah menurut madzhab Syafi’i, Hanafi, dan Hambali. Sebab air tersebut suci tapi tidak mensucikan. Namun sah bagi Maliki dan Zhahiri.

Imam Ibnu Mundzir Rahimahullah mengatakan: โ€œPara ulama telah ijmaโ€™ bahwa air yang sedikit dan banyak, jika terkena najis lalu berubah rasa, atau warna, atau aroma, maka dia menjadi najis selama seperti itu.โ€ [11]

Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar Rahimahullah mengatakan: โ€œPara ulama telah ijma’ bahwa air yang telah berubah salah satu sifatnya yang tiga itu, maka menjadi najis, walau air itu sebanyak lautan.โ€ [12]

Kesimpulan:

– Berwudhu dengan volume air sebesar bak mandi atau gayung adalah SAH selama air tersebut tetap suci dan mensucikan, tidak ada perubahan baik rasa, warna, dan aroma.

– Ada pun berwudhu dengan air di wadah kecil, misal gayung, hendaknya dikucurkan, dialirkan, bukan dikobok. Sebab hal itu menjadikannya sebagai air mustaโ€™mal. Dalam madzhab Syafiโ€™i, Hanafi, dan Hambali, air mustaโ€™mal tidak boleh digunakan untuk bersuci, ada pun madzhab lainnya membolehkan wudhu dengan air mustaโ€™mal.

Demikian. Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

[1] HR. Bukhari no. 201

[2] Imam Badruddin Al โ€˜Aini, โ€˜Umdatul Qari, 4/433

[3] Imam Ash Shanโ€™aniy, Subulus Salam, 1/49

[4] Imam Al Munawiy, At Taysir, 2/545

[5] HR. Abu Daud No. 67, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 1513, Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah, 2/61, dll. Imam Ibnu Hajar berkata: โ€œHadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Imam Yahya bin Maโ€™in, dan Imam Ibnu Hazm.โ€ (Talkhish Al Habir, 1/125-126), Imam An Nawawi mengatakan: โ€œshahih.โ€ (Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 1/82)

[6] Imam Ash Shanโ€™aniy, Subulus Salam, 1/16

[7] Imam Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuriy, Tuhfah Al Ahwadzi, 1/170. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah

[8] HR. Abu Daud no. 94, Dishahihkan oleh Abu Zurโ€™ah, dan dihasankan oleh Imam An Nawawi dan Imam Al โ€˜Iraqiy. Lihat Shahih Abi Daud, 1/158

[9] HR. An Nasaโ€™iy, no. 416

[10] Syaikh Wahbah Az Zuhailiy, Al Fiqhu Asy Syafiโ€™iyyah Al Muyassar, 1/82

[11] Imam Ibnul Mundzir, Al Ijmaโ€™, Hal. 35

[12] Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar, Mishbahuzh Zhalam, 1/35

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

cropped-logo-manis-1.png

Mengulang Bacaan al-Fatihah dalam Shalat Supaya Khusyu’

๐Ÿ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Memang terkadang ada saja orang yang shalat, namun ia ragu dalam hal bacaannya, terutama dalam hal ini adalah bacaan al-Fatihah, apakah ada ayat-ayat yang tertinggal ataukah tidak, bisa saja terjadi keraguan di dalamnya. Namun di dalam kasus lain, mungkin ada juga orang yang mengulang bacaan al-Fatihahnya hanya karena bacaan sebelumnya dirasa tidak khusyu’ sehingga ia merasa perlu untuk mengulangi bacaan al-Fatihahnya lagi.

Mengenai hal ini, ada sebuah penjelasan dari Abu Ishaq asy-Syairazi (w. 476 H) di dalam al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam asy-Syafi’i yang juga kemudian dijelaskan oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam Syarhnya, yaitu jika seseorang mengulangi bacaan al-Fatihahnya karena lupa, maka hal itu tidak membahayakan shalatnya. Namun jika ia dengan sengaja mengulangi bacaan al-Fatihahnya tersebut dan bukan karena sebab lupa, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, yaitu pendapat yang paling shahih, adalah bahwa shalatnya tetap tidak batal, sama seperti ketika seseorang mengulangi bacaan al-Qurโ€™an setelah al-Fatihah. Pendapat satu lagi mengatakan bahwa shalatnya batal, karena mengulangi al-Fatihah sebagai salah satu rukun shalat, sama saja dengan mengulangi rukun-rukun lainnya, seperti mengulangi rukuk dan sujud. Wallahu a’lam.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berpaling dari dunia

Jika Dunia Mengejarmu

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Diuji dengan kemiskinan, banyak manusia yang bisa lolos dari bahayanya. Diuji dengan kekayaan, banyak manusia yang lupa diri karenanya. Oleh karena itu jika dunia terbentang dihadapanmu, begitu mudah dia kau kuasai, maka cepat pejamkanlah mata.. Agar hatimu tidak menggila!

Umar bin Khathab Radhiallahu ‘Anhu berkata:

ุฃุบู…ุถ ุนู† ุงู„ุฏู‘ู†ูŠุง ุนูŠู†ูƒุŒ ูˆูˆู„ู‘ ุนู†ู‡ุง ู‚ู„ุจูƒ

“Tutuplah matamu dari dunia niscaya hatimu berpaling darinya.”

Maka berkumpul dengan manusia yang obsesinya dunia membuat hatimu gelisah dan tersiksa, selalu ingin seperti mereka..

Ingin jadi raja? Maka puaslah dengan apa yang sudah Allah Ta’ala berikan..

Imam Asy Syafi’i Rahimahullah dalam salah satu syairnya berkata:

ุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุง ูƒูู†ู’ู€ุชูŽ ุฐูŽุง ู‚ูŽู„ู’ุจู ู‚ูŽู†ูู€ูˆุนู
ููŽุฃูŽู†ู’ู€ุชูŽ ูˆูŽู…ูŽุงู„ููƒู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุณูŽู€ูˆูŽุงุกู

“Jika kamu memiliki hati yang puas, maka kamu dan rajanya dunia adalah sama.”

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seribu Kebaikan

Pahala Seribu Kebaikan Akan Didapatkan Dalam Sehari, Hanya Dengan Membaca Dzikir ini

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

ุนูŽู†ู’ ุณูŽุนู’ุฏู ุนูŽู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽูŠูŽุนู’ุฌูุฒู ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒู’ุณูุจูŽ ูููŠ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุฃูŽู„ู’ููŽ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุทููŠู‚ู ุฐูŽู„ููƒูŽุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูุณูŽุจู‘ูุญู ู…ูุงุฆูŽุฉูŽ ุชูŽุณู’ุจููŠุญูŽุฉู ููŽูŠููƒู’ุชูŽุจู ู„ูŽู‡ู ุฃูŽู„ู’ูู ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽุชูู…ู’ุญูŽู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู„ู’ูู ุณูŽูŠู‘ูุฆูŽุฉู (ุฑูˆุงู‡ ุงุญู…ุฏ)

Dari Sa’d bin Abi Waqash ra berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bersabda, “Apakah kalian tidak mampu untuk mendapatkan seribu kebaikan dalam sehari?” Sahabat bertanya, “Siapakah diantara kami yang sanggup untuk melakukannya?” Maka beliau bersabda, “Bertasbih seratus kali (membaca dzikir subhabalallah), akan ditulis baginya seribu kebaikan dan dihapuskan darinya seribu kesalahan.” (HR. Ahmad)

ยฉ๏ธ Takhrij Hadits;

1. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, pada Musnad Sa’d bin Abi Waqqash, hadits no 1414.

2. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, hadits no 4966 dan Imam Tirmidzi dalam Sunannya, hadits no 3385.

ยฎ๏ธ Hikmah Hadits ;

1. Mendapatkan kebaikan yang besar tidak selalu harus dilakukan dengan amalan yang besar, namun kebaikan yang besar dapat juga dilakukan dengan amalan-amalan yang ringan dan sederhana. Oleh karenanya jangan meremehkan suatu amal kebaikan pun, karena kita tidak mengetahui amal kebaikan manakah yang kita lakukan yang dapat mengantarkan pada ridha Allah Swt dan dapat mengetuk pintu surga. Bisa jadi sebuah amalan ringan justru yang akan mengantarkan seseorang masuk ke dalam surga, jika dilakukan dengan baik, benar dan ikhlas.

2. Bahwa nahkoda dalam amal perbuatan manusia adalah hati. Hati lah yang akan menggerakkan anggota badan untuk melakukan suatu amalan kebaikan. Hati pula lah yang akan dapat menentukan bobot dan timbangan suatu amal perbuatan, apakah memiliki nilai yg mulia di sisi Allah SWT atau tidak? Karena hanya amal yg ikhlas sajalah yg akan mendapatkan nilai yang mulia di sisi Allah SWT. Sedangkan pelabuhan dalam keikhlasan adalah hati seseorang. Oleh karenanya, salafuna shaleh mengingatkan agar senantiasa menyibukkan hati dengan hal-hal yang baik, agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik ;

ุฅู† ุงู„ู‚ู„ูˆุจ ุฅุฐุง ู„ู… ุชุดุบู„ู‡ุง ุจุงู„ุฐูƒุฑุŒ ุดุบู„ุชู‡ุง ุงู„ุตุบุงุฆุฑ

Sesungguhnya hati itu jika tidak disebutkan dengan dzikir, maka ia akan disibukkan dengan shagha’ir.

3. Bahwa diantara amalan ringan yang memiliki balasan kebaikan yang sangat besar adalah berdzikir menyebut nama Allah Swt, khususnya dengan mengucapkan lafadz tasbih, yaitu “Subhanallah” (Mahasuci Allah Swt). Karena lafadz dzikir yang ringan ini, jika dibaca sebanyak seribu kali oleh seorang muslim, maka ia akan mendapatkan dua keutamaan sekaligus, yaitu :

1). Akan mendapatkan seribu kebaikan, berupa balasan pahala kebIkan dari Allah Swt.

2). Akan dihapuskan seribu kesalahan, yaitu berupa ampunan dari dosa yang telah dilakukannya.

4. Maka di sela-sela keseharian dan aktivitas serta pekerjaan yang kita lakukan, mari perbanyak dzikir dengan mengucapkan “Subhanallah” (Maha Suci Allah Swt). Dan jika memungkinkan dibaca hingga seribu kali dalam satu hari, dengan harapan bahwa dengan dzikir tersebut akan menambah seribu kebaikan bagi kita dan juga menggugurkan seribu kesalahan dari diri kita.

Wallahu A’lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Jihad bagi Mereka yang Lelah Hati

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Bersyukurlah masih punya hati, di zaman ketika banyak orang yang tidak peduli lagi. Bahkan kehilangan hatinya. Tepatnya hatinya telah mati. Mungkin karena hatinya lelah. Istirahatlah.

Lelahnya hati, lebih banyak disebabkan hidupmu ingin selalu memenuhi semua keinginan orang lain. Kamu lelah sebab kehilangan dirimu sendiri, dan terus berjuang agar hidupmu seperti mereka. Dan akan semakin lelah dengan semua itu.

Berburu untuk sesuatu yang tidak ada habisnya. Kamu jadi mudah mengeluh. Gelisah. Urakan. Hilang rasa pedemu. Hilang rasa syukurmu. Padahal setiap kita punya kapling takdirNya. Setiap kita ada keunggulan dan pasti ada kekurangannya. Berburu agar menuruti setiap keinginan semua orang adalah mustahil. Hati jadi lelah tak berkesudahan.

Lelahnya hatimu, sebanding dengan keridhloanmu pada apa yang Dia beri. Tidak ridho artinya tidak mau menerima. Mungkin tak rela. Hidup pinginnya seperti seenaknya sendiri. Hari ini A, besok B, lusa D, dst. Ingat boleh jadi kamu ingin tetapi belum tentu baik bagimu. Kamu suka itu, tetapi sebetulnya tidak kamu butuhkan. Lelahlsh hatimu.

Tak perlulah kamu menggadaikan hidupmu hanya untuk memenuhi harapan mereka. Apalagi kamu tak akan kuasa untuk itu. Berhentilah. Lebih baik jadilah diri sendiri. Meskipun itu sederhana. Dianggap biasa. Bahkan remeh menurut sebagian mereka. Yang penting kamu merdeka, berdiri di kaki sendiri. Mungkin yang perlu kamu lakukan adalah upaya untuk selalu melakukan yang terbaik di setiap keadaan.

Mungkin kamu sedang lupa, atau kamu sedang dikuasai emosi (ingin seperti mereka), bahwa Dia telah memberimu yang terbaik. Itulah kapling takdirmu. Hatimu akan lebih lega jika menerimanya. Pasti apa yang Dia beri untukmu tak akan menyiakanmu. Tugasmu hanya mencegah yang buruk dan memupuk kebaikan.

Belajar menerima apa yang terjadi dengan penerimaan yang baik, memang tidak mudah. Butuh perjuangan dan so pasti pengorbanan. Dan kesungguhan itulah yang akan mengantarkanmu pada harapanNya. Inilah makna sesungguhnya jihad bagi diri sendiri, mujahidunn linafsih, bagi meeka gang lelah hati.

Semoga…

Wallahu A’lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

MEMBUAT SUAMI DAN ISTRI BETAH DI RUMAH

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

๐ŸŒน๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒท

Rumah itu tempat yang paling tepat untuk dihuni oleh suami istri , tempat beristirahat yang paling nyaman, tempat yang paling menyenangkan untuk berkumpul bersama keluarga, tempat yang sangat menghibur, bisa berbagi cinta dan sayang, serta tempat untuk menyempurnakan separuh agama dan berfungsi sebagai madrasah utama untuk mendidik ana-anak menjadi generasi terbaik.

Karena itu, suami dan istri hendaknya saat tiba dirumah melakukan hal-hal yang bisa membuat pasangannya merasa betah dan nyaman. Adapun hal-hal yang harus dilakukan adalah :

1. Menyambut dengan wajah ceria.
2. Menyapa dengan lemah lembut.
3. Memberikan perhatian.
4. Menyiapkan waktu untuk bersamanya.
5. Berbincang-bincang dan bersenda gurau bersama pasangan.
7. Menghibur dan menggembirakan pasangan.
6. Menjaga rumah yang bersih dan rapih.
7. Melaksanakan kewajiban masing-masing.
8. Tidak menuntut lebih dari kemampuan pasangan.
9. Istri melayani kebutuhan suami dengan ikhlas dan dengan wajah yang ceria.
10. Istri memberikan kesempatan kepada suami untuk istirahat.
11. Suami dan istri pandai memberikan apresiasi dan saling menggembirakan pasangan.
12. Bekerjasa dalam mendidik anak-anak.

Rasulullah SAW bersabda : ” Ada 3 di antara kebahagiaan manusia dan ada 3 di antara kesengsarasn manusia. Adapun di antara kebahagiaan manusia adalah istri yang shalihah, rumah yang baik dan kendaraan yang baik. Sedangkan di antara kesengsaraan manusia adalah istri yang buruk, rumah yang buruk dan kendaraan yang buruk ”

Wallahu a’lam bish showab

๐ŸŒน๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒท

Sebarkan! Raih Pahala


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678