Menyisir dari Kanan

Serial Adab Di Tubuh Manusia : Adab Di Rambut

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Islam adalah agama yg konprehensif (menyeluruh), tidak ada yg luput dari perhatiannya. Di antaranya adalah tentang sederet adab atau etika dalam perilaku manusia. Di antara adab itu adalah adab kepada diri sendiri, mulai dari ujung kepala ke using kaki. Kita akan bahas secara cicil di antara adab-adab tersebut.

1⃣ Adab Di Rambut

Ada beberapa adab, di antaranya:

1. Menutupnya bagi kaum wanita

Ini hukumnya wajib secara umum,sebab itu aurat,khususnya lagi saat di hadapan laki-laki yang bukan mahram,saat shalat dan ihram.Kewajiban ini termasuk al ma’lum mind din bidh dharurah yaitu hal yang kewajibaannya telah pasti dan tanpa perdebatan.

ستر العورة واجب بإجماع المسلمين

Menutup aurat adalah wajib berdasarkan ijma’ kaum muslimin. (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5128)

Ini juga berlaku bagi wanita tua,Allah Ta’ala berfirman:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ ۖ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.(QS. An-Nur, Ayat 60)

Maksud ayat ini bukan bolehnya membuka jilbab bagi wanita tua, Imam Al Jashash Rahimahullah menjelaskan:

لا خلاف في أن شعر العجوز عورة لا يجوز للأجنبي النظر إليه كشعر الشابة , وأنها إن صلت مكشوفة الرأس كانت كالشابة في فساد صلاتها , فغير جائز أن يكون المراد وضع الخمار بحضرة الأجنبي . إنما أباح للعجوز وضع ردائها بين يدي الرجال بعد أن تكون مغطاة الرأس , وأباح لها بذلك كشف وجهها ويدها ; لأنها لا تشتهى

Tidak ada perbedaan pendapat, bahwa rambut wanita tua (nenek-nenek) adalah aurat, tidak boleh laki-laki bukan mahramnya melihatnya sebagaimana kepada wanita muda.

Dia pun jika shalat kelihatan rambutnya maka shalatnya batal sebagaimana wanita muda. Maka TIDAK BOLEH memaksudkannya dengan menanggalkan Khimar (kerudungan) dihadapan laki-laki bukan mahramnya.

Sesungguhnya dibolehkannya dibuka dihadapan laki-laki bukan mahram adalah tangannya dan wajahnya, sedangkan kepalanya tetap tertutup. Karena dia tidak lagi bersyahwat. (Ahkamul Quran, 3/485)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’diy Rahimahullah mengatakan:

فهؤلاء يجوز لهن أن يكشفن وجوههن لأمن المحذور منها وعليها ..

Maka, mereka (para wanita tua) boleh membuka wajahnya jika aman dari bahaya, baik bahaya karenanya dan bahaya atas dirinya.. (Tafsir As Sa’diy, Hal. 670)

2⃣ Memakai peci atau surban

Ini juga adab bagi kaum laki-laki, sebagian mengatakan sunnah, apalagi di saat shalat. Sedangkan model peci adalah hal yang luwes dan fleksibel, masing-masing negeri muslim ada modelnya sendiri, ini tidak masalah.Ini bagian dari “berhias” bagi kaum laki-laki, namun hal ini kadang berbeda di masing-masing tempat dan zaman.

Dalam Al Mausu’ah disebutkan sunnahnya memakai penutup kepala:

لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي اسْتِحْبَابِ سَتْرِ الرَّأْسِ فِي الصَّلاَةِ لِلرَّجُل ، بِعِمَامَةٍ وَمَا فِي مَعْنَاهَا ، لأَِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ كَذَلِكَ يُصَلِّي

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ahli fiqih tentang kesunnahan menutup kepala ketika shalat bagi laki-laki baik dengan surban atau yang semakna dengan itu karena begitulah shalatnya Nabi Shallallahu “Alaihi wa Sallam.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 22/5)

Fatwa Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah (mantan Mufti Mesir), Beliau ditanya tentang orang yang shalat tanpa menutup kepala baik imam, makmum, atau shalat sendiri, bolehkah?

تغطية الرأس فى الصلاة لم يرد فيها حديث صحيح يدعو إليها ، ولذلك ترك العرف تقديرها ، فإن كان من المتعارف عليه أن تكون تغطية الرأس من الآداب العامة كانت مندوبة فى الصلاة نزولا على حكم العرف فيما لم يرد فيه نص ، وإن كان العرف غير ذلك فلا حرج فى كشف الرأس”;ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“Menutup kepala ketika shalat, tidak ada hadits shahih yang menganjurkannya. Hal itu hanyalah meninggalkan kebiasaan saja. Jika telah dikenal secara baik bahwa menutup kepala merupakan adab secara umum, maka hal itu dianjurkan dalam shalat sebagai konsekuensi hukum Al ‘Urf [tradisi] terhadap apa-apa yang tidak memiliki dalil syara’. Jika tradisinya adalah selain itu (yaitu tidak menutup), maka tidak mengapa membuka kepala. “Apa-apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka di sisi Allah itu juga baik.” (Fatawa Al Azhar, 9/107)

Sedangkan Imam Ibnu Taimiyah mengatakan makruh tanpa penutup kepala saat shalat bagi kaum laki-laki, sebagaimana tertera dalam Al Fatawa Al Kubra -nya.

3. Meminyaki Rambut

Banyak riwayat yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminyaki rambutnya, bahkan janggutnya.

Dari Salman Al Farisi Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ  دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى

Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jumat, dia bersuci sebersih bersihnya, dia memakai minyak rambut, atau memakai minyak wangi yang ada di rumahnya, lalu dia keluar menuju masjid tanpa membelah barisan di antara dua orang, kemudian dia shalat sebagaimana dia diperintahkan, lalu dia diam ketika imam berkhutbah, melainkan  akan diampuni sejauh hari itu dan Jumat yang lainnya.

(HR.Bukhari no. 883)

Rabi’ah bin Abdurrahman  Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

فَرَأَيْتُ شَعَرًا مِنْ شَعَرِهِ، فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ

Aku melihat rambut di antara rambut-rambut nabi, jika warnanya menjadi merah maka aku bertanya lalu dijawab: merah karena minyak.

(HR.Bukhari no. 3547)

Simak bercerita, bahwa   Jabir bin Samurah ditanya tentang uban Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

كَانَ إِذَا ادَّهَنَ رَأْسَهُ لَمْ يُرَ مِنْهُ، وَإِذَا لَمْ يُدَّهَنْ رُئِيَ مِنْهُ

Dahulu jika Beliau melumasi dengan minyak ubannya tidak terlihat, dan jika tidak memakai minyak maka ubannya terlihat. **(HR.Muslim no. 2344)**

Jabir bin Samurah Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ شَمِطَ مُقَدَّمُ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ، وَكَانَ إِذَا ادَّهَنَ لَمْ يَتَبَيَّنْ، وَإِذَا شَعِثَ رَأْسُهُ تَبَيَّنَ، وَكَانَ كَثِيرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai memutih rambut bagian depan kepalanya dan jenggotnya, jika dia melumasi dengan minyak  ubannya tidak terlihat jelas, jika sudah mengering rambutnya  ubannya terlihat, dan  Beliau memiliki jenggot yang lebat.

(HR.Muslim No. 2344, An Nasa’i No. 5114)

Maka, anjuran memakai minyak rambut merupakan sunah, baik secara fi’iliyah dan qauliyah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Wallahu A’lam

4. Tarajjul (Menyisir Rambut)

Ini adalah salah satu cara memuliakan rambut. Bukan karena ganjen atau genit, tapi mengikuti perilaku Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

كُنْتُ أُرَجِّلُ رَأْسَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ وأنا حائض

Aku menyisir kepala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan saat itu aku sedang haid. 1)

Dalam kesempatan lain, ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha juga bercerita:

إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ

Jika beliau i’tikaf, Beliau mencondongkan kepalanya kepadaku lalu aku menyisirnya, dan Beliau tidaklah masuk ke rumah (ketika i’tikaf) kecuali jika ada kebutuhan manusiawi. 2)

Inilah sunah fi’liyah yang nabi lakukan, yaitu menyisir dan menata rambut. Tetapi, NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah melakukannya sering-sering seperti wanita pesolek.

Oleh karena itu, dari Abdullah bin Mughaffal Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

نَهَى رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ عنِ التَّرَجُّلِ إِلَّا غِبًّا

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menyisir kecuali jarang-jarang. 3)

Menyisir disunahkan dari kanan. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Beliau melakukan semua  kebaikan memulainya dari kanan (at tayammun) . Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyukai memulai sesuatu dari kanan: memakai sendal, menyisir, bersuci, dan semua perbuatan lainnya. 4)

Al Hafizh Ibnu Hajar Radhiallahu ‘Anhu menjelaskan:

وترجله أي ترجيل شعره وهو تسريحه ودهنه

Tarajjulihi  yaitu merapikan rambutnya, dengan menata dan meminyakinya. 5)

Wallahu A’lam


🌴🌴🌴🌴

[1] HR. At Tirmidzi, Asy Syamail, No. 25. Syaikh Al Albani mengatakan Shahih. Lihat Mukhtashar Asy  Syamail No. 25
[2] HR. Muslim No. 297
[3] HR. Abu Daud No. 4159, At Tirmidzi No. 1756, juga  Asy Syamail, No. 29, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 16793. Syaikh Syu’Aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Ta’liq Musnad AhmadNo. 16793
[4] HR. Bukhari No. 168
[5] Fathul Bari, 1/269

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Zina itu utang

Cahaya di atas Cahaya – Tadabbur Surat An-Nur (Bag-1)

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dalam menapaki hidupnya manusia memerlukan petunjuk. Petunjuk ini ibarat secercah cahaya di tengah kegelapan yang pekat.

Luasnya kehidupan yang diarungi oleh manusia yang berada di tengah berbagai nafas dan kepentingan duniawi. Tak jarang dalam kondisi seperti ini manusia melupakan asalnya. Dia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kehidupan yang diberikan kepadanya adalah sebuah ujian.

Kelak ia akan mempertanggung-jawabkan semua apa yang dilakukannya di dunia.

Dalam interaksi sosial, manusia memerlukan panduan sebagai pijakan. Apalagi bagi seorang muslim, ia lebih memerlukannya.

Dalam Surat Annur yang sedang kita tadabburi kali ini, Allah menurunkan berbagai aturan sebagai cermin sosial seorang muslim dalam berinteraksi. Erat kaitannya dengan interaksi antara laki-laki dan perempuan, adab-adab rumah tangga serta berbagai sikap terhadap penyelewengan sosial.

Dan sebagai contoh riil sejarah, Allah menurunkan beberapa ayat untuk menyikapi fitnah besar berita bohong (ifky) yaitu tuduhan keji orang-orang munafik terhadap Ibunda Aisyah r.a dan Sahabat Shafwan bin Mu’atthal ra.

”Ini (adalah) satu surat yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukum yang ada di dalam)nya. Dan kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya..” (QS. Annur : 1)

Sebagai salah satu surat yang diturunkan di Madinah, memiliki ciri khusus berupa hukum-hukum dan peraturan.

Secara global dapat kita klasifikasikan dalam beberapa permasalahan pokok sebagai berikut.

Pertama

Pada ayat kedua Allah menjelaskan hukuman bagi pezina baik laki-laki maupun perempuan yaitu didera (dicambuk) 100 kali.

Hukuman ini dikhususkan bagi mereka yang belum pernah menikah. Dan sebagian besar ahli fikih menambahkannya dengan diasingkan selama satu tahun.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ubadah bin Shamit ra. Sedangkan untuk laki-laki dan perempuan yang sudah (pernah) menikah maka dihukum rajam.

Dalam istilah fikih disebut dengan ”muhshan”.

Berdasarkan hadits Nabi saw dan perintah beliau untuk merajam pezina yang muhshan serta berdasarkan apa yang beliau lakukan beberapa kali, juga disepakati oleh para shahabat beliau. ”… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat… ” (QS. Annur: 2).

Yang dimaksudkan bukan melaksanakan hukuman dengan kejam atau sampai melewati batas. Namun tetap menjaga sisi kemanusiaan.

Hanya saja kadang kita malah berbelas kasihan terhadap orang-orang yang berbuat salah tersebut sehingga meninggalkan penerapan hukuman seperti ini.

Seperti kasus pembunuhan. Kadang kita berdebat tentang nasib si pembunuh, namun sering terlupakan bagaimana ia membunuh korbannya. Tentunya bila sudah sama-sama jelas mana saja pihak yang bersalah.

Dalam masalah perzinaan ini tidaklah sepele, karena untuk menetapkannya perlu persaksian empat orang laki-laki yang melihat secara langsung. Atau dengan pengakuan pihak yang bersangkutan.
Selain itu Allah memerintahkan pelaksanaan hukuman ini dengan disaksikan oleh orang banyak. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang bisa mengambil ibrah dan pelajaran dari peristiwa tersebut, serta menjauhi perbuatan buruk dan keji ini. Dan Allah menyediakan jalan keluar yang halal, yaitu dengan pernikahan.

Penegasan Allah tentang keburukan perbuatan ini tertera pada ayat berikutnya :
”Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin”. (QS. Annur: 3)

Ini bukan sebuah perintah, namun sebuah kaidah sosial yang umum. Artinya tidak selaiknya orang baik-baik menikahi orang-orang yang berzina, baik laki-laki maupun perempuan. Kecuali mereka yang benar-benar bertobat dari perbuatannya. Konon ayat ini turun ketika ada beberapa orang sahabat Nabi yang terlilit kemiskinan dan kehidupan Madinah sangat perlu biaya yang tidak sedikit. Di pasar dan tempat-tempat umum terlihat ada pintu-pintu yang diberi tanda khusus bahwa penghuninya adalah para perempuan pezina.

Mereka berandai-andai kalau bisa menikahi mereka sampai mencukupi kebutuhan hidup di Madinah. Mereka lalu bertanya pada Rasulullah dan turunlah ayat ini. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Menurut sebagian pakar hadits, hadits ini lemah karena perawinya terputus sampai tabiin saja, dalam istilah ilmu hadits disebut mursal.

Ringkasnya hukuman berzina ada dua, yaitu secara hukum dan peraturan yang diterapkan (hudûd) dan hukuman sosial (dengan diperlihatkan prosesi pelaksanaan hukuman dan diharamkan menikahi mereka bagi orang baik-baik)

Kedua

Pada ayat berikutnya Allah memerinci lebih detai lagi. ”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi,

Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Annur : 4-5)

Sebuah bentuk proteksi sosial dari Allah. Bahwa tidak selaiknya orang-orang ringan lidah mengatakan sebuah tuduhan tanpa didasari dengan bukti dan persaksian yang cukup seperti yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu dengan 4 orang saksi.

Ini juga berlaku untuk perempuan yang menuduh laki-laki atau laki-laki dan perempuan yang menuduh sesamanya berbuat zina. Yang demikian agar orang-orang lebih menjaga lisan dan perkataannya.

Secara ringkas hukuman orang yang menuduh zina orang baik-baik tanpa bukti yang lengkap ada dua macam: secara hukum (didera 80 kali) dan hukuman sosial dengan tidak diterimanya persaksian mereka.

(Bersambung bag 2)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Apabila Tidak Mampu Membaca al-Fatihah

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Walaupun mungkin setiap muslim pasti bisa membaca Surah al-Fatihah, namun bukan tidak mungkin ada saja kasus di antara mereka yang memang tidak bisa membacanya, misalnya bagi seorang mualaf yang baru masuk Islam dan belum mempelajari bacaan al-Fatihah. Ketidakmampuan mereka juga bisa bermacam-macam, ada yang sama sekali tidak hafal al-Fatihah bahkan tidak bisa membaca huruf-huruf al-Qur’an sama sekali, ada juga yang mungkin hafal sebagian ayat-ayat al-Fatihah, atau ada juga yang hafal beberapa ayat lain tapi tidak hafal al-Fatihah sama sekali.

Di dalam Raudhah ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin, Imam an-Nawawi (w. 676 H) mengatakan: “Barangsiapa yang tidak mampu membaca al-Fatihah, maka wajib baginya berusaha semampunya untuk belajar, atau dengan membaca mushaf, baik mushaf tersebut diperoleh dengan membeli, menyewa ataupun meminjam.” Beliau kemudian menjelaskan bahwa bila seseorang tidak bisa membaca al-Fatihah karena udzur, misalnya karena waktu sudah mepet, atau karena daerahnya yang tidak memungkinkan, atau tidak ada guru maupun mushaf, dan lain-lain, maka tidak boleh diganti dengan terjemah al-Fatihah. Tetapi jika ia mampu membaca dengan benar surah lain selain al-Fatihah maka wajib baginya membaca tujuh ayat dari surah lain yang sebanding dengan al-Fatihah. Sebagaimana dikemukakan oleh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H) di dalam Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-Ain bi Muhimmat ad-Din, bacaan ayat-ayat tersebut boleh saja urutannya terpisah-pisah, asalkan tidak sampai kurang dari banyaknya jumlah huruf al-Fatihah, yang menurut perhitungan beliau terdiri dari 156 huruf dengan menghitung basmalah, termasuk juga dengan menambahkan alif setelah huruf mim pada lafazh maliki.

Lebih lanjut, Imam an-Nawawi mengatakan bahwa bila ayat yang bisa dibaca dengan baik itu tidak sampai tujuh ayat sebagaimana jumlah ayat-ayat dalam Surah al-Fatihah, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pertama, menurut pendapat yang paling shahih, wajib dibaca semampunya dan sisa kekurangannya diganti dengan dzikir. Kedua, menurut pendapat lainnya, maka wajib mengulang-ulang ayat yang bisa dibaca tersebut hingga sepadan dengan ayat-ayat dalam al-Fatihah, yakni tujuh ayat.

Kemungkinan selanjutnya-masih menurut Imam an-Nawawi, apabila seseorang tidak mampu membaca dengan baik dan benar satupun ayat dari al-Qur’an, maka wajib baginya mengganti bacaan al-Fatihah dengan dzikir, seperti tasbih dan tahlil. Mengenai masalah dzikir apa saja yang wajib dibaca sebagai pengganti yang di atas tadi, maka ada beberapa pendapat. Menurut pendapat yang paling shahih, tidak ditentukan, dalam arti boleh dzikir apa saja yang dikuasai. Sementara menurut kitab at-Tahdzib, wajib membaca tujuh macam dzikir sesuai dengan jumlah ayat di dalam Surah al-Fatihah. Dan terakhir, apabila seseorang tidak bisa membaca dengan baik dan benar, baik itu al-Qur’an maupun dzikir, maka wajib baginya berdiri dan diam selama kira-kira cukup untuk membaca al-Fatihah sebelum kemudian ruku”.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. pernah meluruskan shalat seseorang yang dianggap oleh beliau bahwa shalatnya tidak memenuhi persyaratan sehingga berkalikali Rasulullah menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya. Di antara yang dikatakan oleh Rasulullah saw. kepadanya: “Jika kamu memiliki hafalan al-Qur’an, maka bacalah. ]ika tidak, maka ucapkanlah hamdalah, takbir, dan tahlil, kemudian ruku’lah….” (HR. at-Tirmidzi) Dari riwayat ini, maka boleh bacaan al-Fatihah itu diganti dengan dzikir, dengan syarat ketika seseorang memang tidak mampu sama sekali membaca al-Fatihah maupun bacaan ayat-ayat lainnya. Hal ini dipertegas lagi dalam hadits yang diriwayatkan dari (Abdullah ibn Abi Aufa ra. bahwa pernah suatu ketika ada seseorang datang kepada Rasulullah saw., kemudian berkata: “Sesungguhnya aku tidak mampu membaca apapun dari al-Qur’an, maka ajarilah aku sesuatu yang mencukupi bagiku darinya.” Rasulullah saw.

menjawab: “Ucapkanlah: Subhanallah, wal-hamdu lillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billahil-hliyil-hzhim.” (HR. Abu Dawud) Allah swt. sendiri berfirman: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS. At-Taghabun [64]: 16) Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk melaksanakan segala macam bentuk ketaatan sesuai dengan kesanggupan. Di dalam shalat memang diwajibkan untuk membaca al-Fatihah, namun jika memang seseorang benar-benar tidak mampu membacanya, bahkan tidak mampu membaca ayat-ayat lainnya, juga tidak mampu membaca dzikir, maka selama ia bisa berdiri, tentu itu saja bisa mencukupi. Rasulullah saw. juga bersabda: “jika aku memerintahkan kalian untuk melaksanakan sesuatu, maka kerjakanlah ia sesuai dengan kemampuan kalian.” (HR. al-Bukhari)
Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Aku Cinta Rasulullah

Menista Para Penista Rasulullah SAW

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Diriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat Muslim dari Aisyah ra, dia menuturkan bahwa Rasulullah saw meminta beberapa orang sahabat yang diketahui memiliki kemampuan sastra yang baik untuk membalas penghinaan kaum kafir kepada beliau dengan gubahan syair mereka yang dapat merendahkan para penghina tersebut.

Pertama dipanggillah Abdullah bin Rawahah, maka Rasulullah saw memintanya untuk menggubah syair-syari seperti itu. Namun Rasulullah kurang puas. Lalu dipanggilah Ka’ab bin Malik dengan perintah yang sama, tampaknya juga belum memuaskan. Maka akhirnya dipanggillah Hassan bin Tsabit. Rasulullah saw memotvias Hassan dengans sabdanya,

إنَّ رُوحَ القُدُسِ لا يَزالُ يُؤَيِّدُكَ، ما نافَحْتَ عَنِ اللهِ ورَسولِهِ،

“Sesungguhnya ruhul qudus (malaikat Jibril) senantiasa membelamu selama engkau membela Allah dan RasulNya”

Sesudah itu Hassan membuat syair yang meggambarkan kemuliaan Rasulullah saw dan merendahkan para penghinanya. (HR. Muslim)

Hadits di atas paling tidak memberika dua pelajaran bagi kita,

Pertama, tidak ada kehormatan bagi orang yang telah menghina Rasulullah saw, dia layak dikecam, layak diungkap namanya agar kaum muslimin mengetahui keburukannya.

Kedua, wujud dari keimanan kita kepada Rasulullah saw selain mengimani kerasulannya mentaatai segala ajarannya, juga adalah membela nama baiknya jika ada pihak-pihak yang menghinanya.

Rasulullah saw adalah pribadi yang agung, mulia karena dimuliakan Allah, tinggi karena ditinggikan Allah. Karenanya sebagai umatnya kita diperintahkan untuk mencintainya, mengagungkannya dan memuliakannya. Bahkan, walaupun tidak ada perintah khusus dalam Al-Quran atau hadits untuk memuliakan beliau, sudah semestinya kecintaan dan pemuliaan setiap muslim diberikan kepada Rasulullah saw.

Betapa tidak, beliau sangat mencintai kita sebagai umatnya, karena cintanya itu beliau berupaya sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Allah taala agar umatnya memiliki jalan terang yang diridhai Allah untuk keselamatannya di dunia dan akhirat. Untuk hal tersebut beliau melewati berbagai peristiwa yang amat berat dan pedih. Semua itu tak lain untuk keselamatan kita di dunia dan akhirat. Bagaimana kita sebagai umatnya tidak mencintai dan memuliakan beliau?

Karenanya sudah sepantasnya jika kita sebagai kaum muslimin marah, mengingkari dan mengecam keras setiap ucapan maupun tindakan yang mengarah kepada pelecehan dan penghinaan terhadap kehormatan dan kemuliaan Rasululah saw.

Ini sesunguhnya merupakan konsekwensi logis, bahkan langsung berkaitan dengan tingkat keimanan kita. Mengapa? Karena tidak ada seorang pun yang waras yang diam saja apabila ada orang lain yang menghina orang yang sangat dia cintai, misalnya orang tuanya, gurunya atau siapa yang dia idolakan. Dia pasti akan menolaknya, mengecamnya dan mengingkarinya.

Jika demikian halnya, maka sikap tersebut lebih layak dilakukan kepada orang yang menghina Rasulullah saw. Karena keimanan kita mengajarkan kita untuk mencintai Rasulullah saw lebih dari cinta kita kepada orang tua dan anak kita dan semua orang.

Rasulullah saw bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman kalian sebelum aku lebih dia cintai dibanding orang tuanya, anaknya dan semua manusia (HR. Bukhari)

Setiap tahun kita peringati hari maulid beliau dengan penuh pengkhayatan dan pengagungan dan kita nyatakan bahwa hal tersebut kita lakukan sebagai bukti cinta kita kepada beliau. Maka tentu sebagai bukti cinta kita, kita tidak boleh tinggal diam terhadap penghinaan kepada Rasulullah saw.

Di sisi lain, kejadian ini hendaknya mengingatkan kita untuk mempertegas kembali dan memperkuat kembali kecintaan kepada Rasulullah saw. Kita kenali sirahnya, kita pelajari sabda-sabdanya dan kita ikuti jalan dan petunjuknya.

Semakin umat Islam perlihatkan kecintaannnya kepada Rasulullah saw, insyaAllah akan membuat berbagai pihak berpikir seribu kali untuk melakukan penghinaan kepada Rasulullah saw.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhlaq Islam

MENJAGA LISAN BAGI KELUARGA SAKINAH

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Suami istri yang ingin menjaga keluarga sakinah agar terus menjadi milik mereka, maka hendaknya bisa menjaga lisan dalam kondisi suka atau benci dan dalam kondisi damai atau bertengkar sehingga mereka bisa menjaga suasana hati tetap tentram, damai dan tenang serta tidak ada yang saling menyakiti atau melukai hati dan perasaan pasangan.

Keharmonisan suami istri itu sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga lisan. Maka menjaga lisan dalam keluarga sakinah itu sangat penting sehingga suami istri harus bisa berbicara dengan lembut, bijak dan berkesan sehingga keluarga selalu harmonis dan terselamatkan dari perceraian. Rasulullah bersabda :

“Keselamatan manusia bergantung kepada lisan yang terjaga” ( HR. Bukhari ).

Suami istri juga ketika berbicara harus benar dan jujur sehingga tidak mengandung dusta dan salah. Agar kata-kata yang terucapkan selalu dipercaya dan tidak akan muncul buruk sangka, kebencian dan amarah kepada pasangann. Karena itu Allah berfirman :

” Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar” ( 33 : 70 ).

Selain itu bagi suami istri yang beriman seharusnya hati-hati dalam berbicara kepada pasangan karena mereka yakin setiap kata yang terucap selalu dicatat untuk dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Allah berfirman :

” Tidak ada suatu kata yang diucapkan kecuali di disinya ada Malaikat pengawas yang selalu siap ( mencatat) ” (50: 19).

Dalam kondisi suami istri sedang emosi dan sedang terjadi salah faham, mereka harus bisa mengendalikan dan mengontrol kata-kata yang diucapkan lisan. Jika tidak, maka begitu mudahnya syetan menjerumuskan pada pertengkaran yang berujung kepada perceraian. Rasulullah bersabda :

” Hendaknya kamu lebih banyak diam karena sesungguhnya itu dapat mengusir syetan dan dapat menolong kamu dalam urusan agamamu” (HR. Ahmad ).

Jika suami istri saat emosi sulit mengendalikan lisan maka sering terjadi salah faham dan timbul perselisihan.

Karena itu, saat emosi lebih baik diam, tidak bicara. Saat diam tersebut hendaknya digunakan untuk berfikir yang positif tentang pasangannya. Juga ada kesempatan melakukan evaluasi diri untuk perbaikan kepada pribadi yang lebih baik. Rasulullah bersabda:

” Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diam” ( HR. Bukhari Muslim ).

Jadi dengan kemampuan suami istri bisa menjaga lisan, maka hal tersebut dapat membantu terwujudnya keluarga yang sakinah yang bisa saling menentramkan suami istri.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Cinta Allah

Jejak Tangisan Kerinduan

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Bertanyalah Kholid bin Ma’dan kepada Mu’adz: “Wahai Mu’adz, sampaikan kepadaku satu hadist yang pernah engkau dengar dari Rosulullah SAW?”

Belum juga terjawab, suasana terjeda, hening dan membisu. Mu’adz menangis pelan dan makin menderas mencucurkan airmatanya. Terus tak berhenti. Lama sekali Muadz menangis hingga terkira ia tidak akan menghentikan tangisannya itu. Tetiba sambil sesenggukan mereda tangisan, Muadz terdiam lalu berkata;

“Duhai betapa rindunya aku kepada Rasulullah SAW sehingga aku merasa sangat ingin bertemu dengan Baginda Rasulullah SAW.”

Demikian Ibnu al Mubarok telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Kholid bin Ma’dan.

Begitulah rasa betapa kerinduan para sahabat kepada baginda Rasulullah SAW begitu tinggi. Para sahabat selalu terkenang bagaimana kasih sayang baginda Rasulullah SAW yang sangat membekas baginya. Tentu tidak hanya Mu’adz yang merasa, begitupun dengan sahabat-sahabat lainnya.

Pernahkah kita merasa keriduan yang begitu dahsyatnya? Kerinduan pada orang-orang yang sangat kita cintai. Lama tidak ketemu. Ada jarak. Jauh. Kerinduan pada suami kita. Pada istri kita. Pada anak-anak kita. Pada orangtua kita. Begitu lama tidak temu.

Terbayang jelas di pelupuk mata kita, di benak hati kita, saat kebersamaan itu ada. Saat bertemu bertatap muka. Saat bercengkrama. Bersendaguaru. Bermain. Bahkan pun saat konflik, bertengkar, saling marah. Semua itu… kini tiada. Kita kehilangan dan berharap bisa kembali. Jejak kerinduan itu begitu dalam terasa.

Hidup tak sekedar satu Warna; berupa warna, tetapi itulah hidup. Ada keindahan. Ada kesedihan. Biarkan itu semua ada. Relakan semuanya. Semua akan menjadi kenangan. Kenangan yang mengugah kerinduan. Tugas kita adalah memilah dan memilih agar semua itu terasa bermakna.

Ending dari semua ini, adakah semua yang memberi kenangan yang meriuh kerinduan akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah? Jika semua yang merindukan itu tidak menghantarkan kita untuk mendekat pada Allah, maka tidak ada maknanya dan tidak ada manfaatnya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhir Kehidupan

Manusia Berhati Iblis

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Iblis itu sombong …

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan sombong dan adalah ia termasuk golongan yang kafir. (QS. Al Baqarah: 34)

Iblis itu merasa paling baik dan benar, seraya meremehkan yang lain …

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Shad: 76)

Pernahkah berjumpa dengan manusia atau komunitas dengan tipologi Iblis ?

Menyangka diri dan kelompoknya yg paling baik, paling benar, paling sunnah, dan paling paham dalil ..

Standar kebenaran adalah apa yang benar menurut mereka ..

Berbeda dengan mereka maka itu kesalahan, kesesatan, dan bid’ah ..

Tidak mau menerima perbedaan, mengunci diri dari lainnya .. steril .. Hanya mau menerima dari kelompoknya saja ..

Memandang yg lain dengan pra konsep ” pasti salah” karena yg lain beda dengan pemahamannya ..

Memuji kebaikan dan kelebihan yg ada pada diri dan kelompoknya, namun menutupi kebaikan dan kelebihan pada orang lain betapa pun bagusnya, justru yang mereka lakukan adalah mengkorek kesalahan yg lain ..

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
(QS. An Najm: 32)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ: هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

Jika seseorang berkata: “Manusia telah rusak” maka dialah yang lebih rusak dibanding mereka. (HR. Muslim No. 2623)

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari sikap buruk Iblis ini dan menjaga kita menjadi korbannya mereka …

Wallahu A’lam wa Ilaihil Musytaka

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ganti Keburukan dengan Kebaikan

Gantilah Keburukan Dengan Kebaikan

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda,

“إِذَا أَسَأْتَ فَأَحْسِنْ “

“Jika engkau pernah melakukan keburukan maka gantilah dengan berbuat baik.” (Hadist Shahih Riwayat Ibnu Hibban)

PENJELASAN:

1. Tidak ada manusia yang tidak memilki kesalahan dan salah satu cara bertaubat adalah dengan melakukan kebaikan.

Allah berfirman,

“إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)

2. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Rahm As-Sama’i dari Abu Ayub Al Ansari, ia bercerita bahwa Nabi saw bersabda, ”Setiap shalat menghapus kesalahan yang ada di antaranya”.

Abu Ja’far bin Jarir meriwayatkan dari Syuraih bin Ubaid dari Abu Malik Al-Asy’ari dia berkata : Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya antara shalat itu dijadikan sebagai penghapus dosa-dosa karena sesungguhnya Allah berfirman, ‘Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus perbuatan-perbuatan yang buruk.'”

3. Jika seseorang pernah menulis yang tidak baik, maka hendaklah ia menggantinya dengan menulis kebaikan. Jika ia kikir maka bertaubatlah dengan bersedekah. Jika ia suka berkata kasar maka gantilah dengan tutur kata yang lembut.

4. Ulama berkata,

“ اترك الشر يتركك “

“Tinggalkanlah perbuatan buruk, maka perbuatan buruk itu akan meninggalkanmu.“

5. عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ) رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ. وَفِي بَعْضِ النُّسَخِ: حَسَنٌ صَحِيْحٌ

“Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, 5:153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Bacaan al-Fatihah di dalam Shalat

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Secara umum, sebagaimana disepakati mayoritas ulama, termasuk dalam madzhab Syafi’i, bacaan al-Qur’an merupakan bagian yang tak terpisahkan dari shalat, bahkan tidak sah seseorang tanpa membaca al-Qur’an di dalamnya. Meski demikian, memang ada sebagian kecil ulama yang hanya memandangnya sebagai salah satu kesunnahan. Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya membaca ayat-ayat al-Qur’an di dalam shalat ini adalah firman Allah swt.: “… bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an…”(QS. Al-Muzzammil [73]: 20) Ayat ini sebagaimana dikatakan oleh al-Kiya al-Harasi (w. 504 H) di dalam Ahkam al-Qur’an merupakan dalil yang menunjukkan bahwa membaca al-Qur’an merupakan salah satu kefardhuan shalat.

Di dalam hadits, di antaranya ada sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Tidak ada shalat kecuali dengan membaca al-Qur’an.” (HR. Muslim) Bahkan, di dalam Shahih al-Bukhari juga terdapat riwayat bahwa Abu Hurairah ra. pernah bercerita: “Rasulullah saw. pernah masuk masjid. Lalu ada seorang lelaki masuk dan melakukan shalat. Setelah selesai ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah saw. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda: “Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat)”. Lelaki itu kembali shalat. Setelah shalatnya yang kedua ia mendatangi Nabi saw. dan memberi salam. Kemudian beliau bersabda lagi: “Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat”. Sehingga orang itu mengulangi shalatnya sebanyak tiga kali. Lelaki itu berkata: “Demi Dzat yang mengutus Kamu dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya”. Beliau bersabda: “Bila kamu melakukan shalat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari al-Qur’an yang mudah bagimu. Setelah itu ruku’ hingga kamu tenang dalam ruku’mu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga kamu tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga kamu tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh shalatmu”.” Sebagaimana riwayat ini, bacaan al-Qur’an merupakan salah satu yang harus dibaca di dalam shalat, sehingga jika ia tidak dibaca, maka seseorang tidak bisa dikatakan shalat.

Para ulama kemudian menetapkan bahwa bacaan al-Qur’an yang menjadi rukun yang mesti ada di dalam shalat adalah Surah al-Fatihah. Sehingga, tidak sah shalat seseorang jika ia tidak membaca surah al-Fatihah. Abu Yahya Zakariyya al-Anshari (w. 926 H) di dalam Asna’ al-Mathalib fi Syarh Raudh ath-Thalib mengatakan: “Rukun shalat yang keempat yaitu mambaca al-Fatihah ataupun bacaan penggantinya (bagi yang tidak mampu) dalam setiap rakaat. Baik bagi orang yang shalat sendiri atau berjamaah, shalat sirriyyah ataupun jahriyyah, lewat hafalan, dengan dituntun, atau dengan melihat mushaf, atau selainnya.”

Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan keharusan membaca Surah al-Fatihah ini di dalam shalat. Salah satunya adalah riwayat dari ‘Ubadah ibn ash-Shamit ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Surah al-Fatihah).” (HR. al-Bukhari)

Di dalam hadits lain, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang shalat namun tidak membaca Ummul Kitab (Surah al-Fatihah) di dalamnya, maka shalatnya cacat (Rasulullah saw. mengulanginya hingga tiga kali).” (HR. Muslim)

Rasulullah saw. sendiri pernah bersabda: “Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. al-Bukhari) Sedangkan dalam kaitannya dengan bacaan al-Fatihah ini, di antaranya ada riwayat yang disampaikan oleh Imam al-Bukhari (w. 251 H) di dalam Shahihnya dari ‘Abdullah ibn Abi Qatadah, dari ayahnya, ia berkata: “Nabi saw. pernah membaca dalam dua raka’at awal pada shalat zhuhur Surah al-Fatihah dan dua surah. Beliau membaca surah yang panjang pada raka’at pertama dan membaca surah yang pendek pada raka’at kedua, dan kadang-kadang memperdengarkan kepada kami dalam membaca ayat.” Wallahu a’lam.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Karena Allah

Semua Tentang Cinta

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ketika ibu menyayangi anaknya.
Ketika ayah menafkahi keluarganya.
Ketika kakak menjaga adiknya.
Dan ketika saudara memberikan perhatiannya.
Semua berkisah tentang cinta.

Kala angin bertiup sepoi-sepoi lembut.
Kala air mengalir tanpa menyurut.
Kala hujan membasahi rumput.
Dan langit cerah tanpa awan yang menggelayut.
Itu semua tentang cinta.

Saat berbagi perhatian dengan pasangan.
Saat bahagia dalam persahabatan.
Saat rela berkorban untuk apa yang diperjuangkan.
Dan saat hati berlabuh di dermaga harapan.
Semua ada karena kekuatan cinta.

Bersebab cinta persaudaraan makin terdekatkan.
Bersebab cinta persahabatan makin tereratkan.
Dan bersebab cinta hati yang beriman makin terikatkan.

Bila ada rasa ingin menjaga.
Bila ada hasrat ingin bersua.
Bila ada asa meraih cita.
Dan bila ada semangat membara.
Begitulah jiwa-jiwa yang sedang mencinta.

Namun….
Bijaklah bersikap agar perilaku tetap beradab.
Berhati-hatilah dalam meletakkan supaya diri tak terjatuh dalam kenistaan.
Tak pernah salah tentang cinta
Terkadang kitalah yang tak menempatkan secara semestinya

Cinta bukan soal salah benar.
Tapi bagaimana cinta memposisikan cinta yang benar
Iman pun tak memudar.
Pribadi yang baik pun tak akan tertukar.
Bahkan kesempatan emas akan terhampar
Bagi pecinta sejati karena Allah yang Maha Besar
Allahu Akbar

Dan aku pun mencintai kalian wahai sahabat Surgaku karena Allah semata.
Begitu pun apa yang sedang kujalani akan aku cintai pula.

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678