Jangan Menyakiti Jika Tidak Ingin Disakiti

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

أحب للناس ما تحب لنفسك

Dari Yasid bin Azid Perlakukanlah manusia dengan baik sebagaimana engkau suka di perlakukan dengan baik ( Hadist sahih Riwayat Tirmidzi )

Penjelasan :

1. Setiap manusia akan mencintai orang yang melakukan kebaikan kepadanya, ini adalah isyarat agar kita juga melakukan hal yang sama kepada sesama.

2. Jika tidak suka di zhalimi, maka jangan menzhalimi seorangpun, jika hatimu tersakiti dengan kata–kata yang kasar, maka ucapkanlah kata-kata yang baik dan lembut kepada manusia karena ucapan itu bisa menembus apa yang tidak bisa di tembus oleh jarum.

3. Tidak ada yang tertukar dari sebuah kebaikan, semuanya akan kembali kepada pelakunya, karenanya ketika seseorang melakukan kebaikan kepada orang lain sebenarnya ia sedang berbuat baik kepada dirinya sendiri, Allah berfirman

“إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا “

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri (QS Al Isra 7)

Prof Dr Wahbah Zuhaili berkata tentang makna ayat di atas “Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,” karena manfaat dari perbuatan baik kalian kembali kepada kalian sendiri (bukan kepada orang lain), bahkan saat kalian masih berada di dunia, seperti yang telah kalian saksikan, berupa kemenangan kalian terhadap musuh-musuh kalian “dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,” kepada diri kalian sendirilah bahaya itu berbalik arah, sebagaimana yang telah Allah perlihatkan kepada kalian berupa penguasaan musuh atas kalian.

4. Di riwayatkan dari Thabrani Dari Yazid bin Asid : Rasulullah saw berkata kepadaku “Apakah engkau ingin masuk surga ? Iya ya Rasulullullah,
Beliau berkata “Perlakukan manusia dengan baik sebagaimana engkau suka di perlakukan dengan baik.”

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

Ikhlas itu Berat, Namun Harus Tetap Diusahakan

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

وقَد صَامَ بَعضُ السَّلفِ أربَعِين سَنةً لَا يَعلَمُ بِه أحدٌ، كَانَ يَخرُج مِن بَيتِهِ إلَى سُوقِهِ ومَعَهُ رَغِيفَان، فَيَتَصدَّقُ بِهِمَا ويَصُومُ؛ فَيَظُنُّ أهلُهُ أنَّهُ أكلَهُمَا، ويَظُنُّ أهلُ سُوقِهِ أنَّه أكلَ فِي بَيتِه

“Sebagian Salaf ada yang berpuasa selama 40 tahun dalam keadaan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, dia keluar dari rumahnya menuju pasarnya dengan membawa dua potong roti, namun roti tersebut dia sedekahkan dan dia berpuasa. Maka keluarganya menyangka bahwa dia telah makan roti, sedangkan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah makan di rumahnya.”

📚 Lathaiful Ma’arif, hlm. 252

Penjelasan:

1. Sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu.

2. Menampakkan kebaikan tidak selalu bermakna pamer karena semua perbuatan tergantung niatnya, maka tidak boleh lisan ini mudah menuduh bahwa seseorang telah melakukan riya dalam amalnya.

3. Kita harus baik sangka kepada niat seseorang dan buruk sangka kepada niat sendiri, agar kita selalu berusaha melakukan tajdidun niyyah (memperbaiki niat)

4. Jika aku bisa menyembunyikan shalatku dari malaikat maka pasti aku akan melalukannya karena takut akan riya, demikian khawatirnya para salafus shalih akan salahnya niat mereka.

5. Di antara salafus shalih ada yang mengatakan kepada temannya “betapa parahnya flu yang aku derita”
padahal saat itu ia sedang menangis karena takut kepada Allah, tetapi ia berusaha menyembunyikan tangisannya.

6. Ada perbuatan yang tidak termasuk riya di antaranya adalah:

A. Semangat beribadah jika bersama ahli ibadah padahal ia tidak melakukannya saat sendirian.

Ibnu Qudamah mengatakan:
“Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud (shalat malam), lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini”

B. Menyembunyikan dosa.

Di antara nikmat yang Allah berikan kepada hambaNya adalah nikmat assatru (di tutupinya keburukan diri kita) seorang muslim hendaknya tidak membeberkan dosa yang ia lakukan dan orang lain tidak tahu karena itu adalah kesempatan dari Allah agar ia memperbaiki dirinya.

C. Memakai pakaian yang bagus.

Memakai pakaian yang bagus bukanlah sebagai bentuk pamer selama masih dalam batas kewajaran, ia adalah bentuk rasa syukur kepada Allah, karena Allah suka jika Ia memberikan nikmat kepada hambaNya lalu ia perlihatkan.

Dan karena Allah itu indah dan menyukai keindahan.

D. Melakukan Ibadah yang bersifat Syiar seperti: shalat berjamaah, haji atau umrah dan berkurban.

Karena ibadah ibadah yang saya sebutkan di atas tidak mungkin di lakukan dalam kamar sendirian walau demikian kita tetap selalu menjaga keikhlasan dalam melakukannya.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jalan Dakwah

Antara Dakwah dan Alwala’ Wal Baro’

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Saat berdakwah, selain menjelaskan kebenaran dan keunggulan aqidah Islam, Rasulullah ﷺ pun tak lupa sampaikan kesesatan para menyembah berhala atau apa saja yg disembah selain Allah. Al-Qur’an pun banyak jelaskan kebatilan tersebut. Inilah jalan dakwah para nabi dan para pewarisnya.

Inilah konsekwensi dari aqidah tauhid. ada yang harus diyakini dan ada yang harus ditolak dan diingkari. Itulah kandungan Laa ilaaha illallahu. Bahkan jika diperhatikan, kalimat tauhid justeru diawali oleh penolakan, Laa ilaaha… tidak ada tuhan selain Allah yabg boleh diyakini, diimani dan ditaati.

Dalam Islam memang dikenal konsep al wala wal baro; Kita bukan hanya dituntut punya loyalitas terhadap keyakinan yang kita pegang, tapi harus diiringi pula dengan pengingkaran terhadap keyakinan yang berbeda. Jadi, menerima kebenaran islam, tapi masih menganggap agama selainnya juga benar, itu tidak diterima dalam Islam.

Konsekwensinya adalah kebatilan dan penyimpangan ajaran selain Islam harus disampaikan, khususnya masalah aqidah. Agar jelas bagi kita bersikap dan ambil posisi.

Ayat yang paling tegas berbicara ttg al wala wal baro adalah surat Al-Baqarah: 256

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)

“Thagut” adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah.

Inilah keyakinan Islam yang harus dipahami umat Islam sebelum umat agama lain. Sayangnya sekarang ini, jangan umat agama lain, umat Islam sendiri ada yang belum paham soal ini. Alil-alih berusaha dan berperan berikan penguatan aqidah dan keimanan di tengah umat, justeru malah mengaburkan dan melemahkannya.

Bagaimana sikap kita dengan keyakinan agama lain? Ayat di atas surat Al-Baqarah diawali oleh pesan Allah…

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam agama…”

Tugas kita hanya memperjelas dan memperkokoh keimanan. Soal penganut agama lain, kita tidak pernah memaksakan mereka untuk ikut. Merekapun harus paham sikap dan keyakinan kita terhadap ajaran mereka.

Bahkan jika mereka menjelaskan keyakinan mereka kepada umat mereka dengan menyebutkan ‘kebatilan’ agama Islam versi mereka atau memberikan label-label kesesatan seperti ‘domba-domba tersesat’, kita selama ini tidak pernah ambil pusing, selama itu mereka sampaikan dalam majlis majlis ilmu mereka. Bahkan itu konsekwensi logis kalau mereka meyakini kebenaran agama mereka. Dan bagi muslim, dikatakan sesat atau bahkan kafir oleh mereka dan menurut agama mereka, justru kita anggap sebagai kebenaran agama ini. Justeru yabg bermasalah adalah kalau kita dianggap sama imannya oleh mereka.

Dalam aspek sosial pun Islam tetap mengajarkan berbuat baik, tidak menzalimi, tidak berkhianat, saling tolong menolong dan perkara-perkara sosial lainnya. Selama tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, serta tidak ada yang terlarang dalam syariat, kita tetap diperintahkan berbuat baik kepada mereka…..

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Manusia Dikejar Rizki

Allah Menjamin Rizqi Penuntut Ilmu

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, ada seseorang ingin melanjutkan studinya, namun ia khawatir tentang rizqinya, maka apa yang harus ia perbuat?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Faisal Kunhi

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Yang harus ia lakukan adalah ia bertawakkal kepada Allah; Imam Zarnuji berkata, “Seorang penuntut Ilmu sebaiknya tidak begitu perlu mementingkan urusan rizqi dan jangan sampai hatinya disibukkan dengan urusan ini.”

Abu Ja’far menceritakan bahwa Abu Hanifah meriwayatkan dari Abdullah bin Hasan Azzubaidi, salah seorang sahabat Nabi, berkata,

“ من تفقه فى دين الله كفاه الله تعالى همه ورزقة من حيث لا يحتسب “

“Siapa yang mempelajari agama Allah, maka Allah akan mencukupi keinginannya dan menganugerahkan kepadanya rezeki kepadanya dengan cara yang tak terduga.” (Diriwayatkan oleh ar-Rafi’i dari Abu Yusuf dan dari Abu Hanifah dari Anas dan diriwayatkan pula oleh al-Khatib dan Ibnu an-Najar dari Abu Yusuf dari Abu Hanifah dari Abdullah bin Juz’i az- Zubaidi).

Imam Zarnuji berkata dalam kitabnya “Ta’lim wa Muta’allim”, “Sesungguhnya orang yang hatinya sudah tersibukkan dengan urusan rizqi seperti pangan dan sandang, maka jarang sekali yang akan fokus dan konsentrasi mengejar kemuliaan budi pekerti dan cita-cita yang tinggi.“

Kalau saat ini orang berkata biasanya kalau orang sudah banyak uang, maka ia akan malas belajar dan melanjutkan studinya.

Maka bagi saudaraku yang ingin melanjutkan studi, luruskanlah niat belajar untuk beribadah kepada Allah bukan untuk gelar dan lain-lain, kemudian yakinlah bahwa Allah akan memberikan jalan untuk memberikan biaya belajarmu dari jalan yang tidak pernah engkau duga.
Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jujur

Jangan Bicara Jika Bukan Ahlinya

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi, M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Islam adalah agama yang sangat menghargai kepakaran, karenanya seseorang tidak dibenarkan berbicara kecuali ia memilki ilmu tentangnya, Allah berfirman,

“وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra: 36).

Syaikh Wahbah Zuhaili berkata tentang makna ayat di atas, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, dan janganlah kamu ikut campur dalam hal yang tidak ada hubungannya denganmu. Sesungguhnya pada hari kiamat kamu bertanggungjawab di sisi Allah atas penglihatan, pendengaran dan hati yang kamu gunakan baik dalam kebaikan atau keburukan. Dan anggota-anggota tubuh ini adalah amanat yang dititipkan di sisimu.”

Lihatlah bagaimana takutnya Abu Bakar ketika ia berkata yang bukan bidangnya, padahal dia adalah orang yang pertama kali beriman kepada Rasululullah, seraya berkata,

“أي سماء تظلني؟ وأي أرض تقلني؟ إذا قلت في كلام الله ما لا أعلم” “

“Langit mana tempat saya bernaung, dan bumi mana tempat saya berpijak, jika saya berkata tentang kitab Allah yang tidak saya ketahui,“ itulah komentar Abu Bakar ketika ia ditanya tentang makna “Abba” dalam surah ‘Abasa ayat 31.

Lihatlah bagaimana Umar bin Khattab seorang sahabat besar dan senior, tidak malu bertanya kepada Ibnu Abbas tentang tafsir surah An Nasr; Umar bertanya kepadanya karena Ibnu Abbas pernah didoakan oleh Nabi saw,

“ اللهم فقهه فى الدين وعلمه التأويل “

“Ya Allah jadikanlah Ibnu Abbas orang yang dalam ilmu agamanya dan ajarkan ia ilmu tafsir.”

Riwayat-riwayat di atas juga memberikan pesan buat kita bahwa ulama itu memilki kepakarannya masing-masing, sebagaimana Umar bertanya kepada Ibnu Abbas tentang tafsir karena ia tidak memiliki pengetahuannya tentangnya.

Jadi bukan sebuah aib jika seorang ulama tidak menguasai semua bidang, sebagaimana Imam Malik ketika di tanya 40 permasalahan agama, maka 36 pertanyaan ia jawab dengan “tidak tahu“.

Kepakaran itu diibaratkan seperti silet; silet bisa mencukur rambut tetapi ia tidak bisa digunakan untuk menebang pohon. Golok bisa dipakai untuk menebang pohon, tetapi ia tidak bisa digunakan untuk merapihkan rambut kita.

Maka ada ulama yang pakar di bidang fiqh tetapi ia tidak menguasai tafsir, atau ada yang pakar dalam ilmu hadist tetapi ia tidak menguasai ushul fiqh, maka itu adalah hal yang biasa.

Agar kita tidak salah dalam memahami sebuah Ilmu, maka Islam mengajarkan kita untuk bertanya kepada pakarnya. Allah SWT. berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang berpengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” (QS An Nahl: 43).

Hati-hatilah berkomentar tentang agama, apalagi jika kita tidak memilki latar belakang keilmuan dan hanya bermodalkan membaca satu atau dua buku, dan kita tidak memiliki guru untuk meluruskan pemahaman kita; ingatlah nasihat para ulama,

“ من ليس له شيخ فشيخه شيطان “

“Siapa yang tidak memiki guru, maka gurunya adalah setan.“

Berhati-hatilah berkata tentang makna ayat dalam Al Qur’an, karena kita tidak bisa sempurna memahami sebuah ayat dalam Al Qur’an tanpa mengetahui sebab turunya dan tanpa mengaitkannya dengan al hadist, karena sebagian besar ayat-ayat Al Qur’an itu sifatnya global, kemudian hadist yang menjelaskannya secara rinci.

Dalam hadits disebutkan,

وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi no. 2951. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if).

Masruq berkata,

اتقوا التفسير، فإنما هو الرواية عن الله

“Hati-hati dalam menafsirkan (ayat Al Qur’an) karena tafsir adalah riwayat dari Allah.

Berkata tentang sesuatu yang bukan menjadi bidang kita itu seperti seseorang yang menggunakan pisau bedah untuk mengobati seseorang; memegang pisaunya sama tetapi jika yang menggunakannya bukanlah seseorang yang mempelajari ilmu kedokteran, akhirnya bukan kesembuhan yang didapat tetapi kecelakaan dan bertambahnya penyakit.

Memang Al Qur’an dan hadistnya sama, tetapi jika seseorang tidak memilki kemampuan berbahasa Arab, tidak kenal ilmu Al Qur’an, ilmu hadist, ushul fiqh dan kaidah fiqh, serta ilmu-ilmu Islam lainnya, akhirnya ia memahami ayat apa adanya tanpa mengaitkan dengan hal-hal yang kontekstual.

Hari ini kita menyaksikan di Indonesia begitu mudahnya seseorang berbicara tentang agama, berceramah ke sana dan ke sini memberikan fatwa kepada umat, padahal ia hanya seorang public figure yang baru saja bertaubat.

Ulama berkata, “تعلم ثم تكلم , “Belajarlah kemudian bicaralah.”

Ada sebuah nasihat dari Imam Syafi’i’ untuk para pemimpin karena mereka adalah orang yang sering berbicara di depan rakyatnya; jika mereka sering salah bicara, maka rakyat yang akan di rugikan, beliau berkata,

تفقه قبل أن ترأس , فإذا ترأس فلا سبيل إلى التفقه

“Belajarlah sebelum engkau menjadi pemimpin, sebab ketika engkau telah memimpin, tiada masa lagi untuk belajar.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Membaca aI-Fatihah di dalam Shalat Jenazah

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Pembahasan ini juga perlu untuk disampaikan mengingat ada perbedaan di kalangan ulama tentang kedudukan bacaan al-Fatihah ini di dalam shalat jenazah. Ada yang menyebutnya sebagai rukun, ada juga yang bahkan menyebutkan bahwa al-Fatihah justru tidak dibaca di dalamnya. Menurut madzhab Hanafi, tidak ada bacaan al-Fatihah di dalam shalat jenazah ini, karena ia pada hakikatnya ia bukan shalat, tetapi mendoakan dan memohonkan ampun bagi mayit. Bacaan al-Fatihah diperbolehkan jika niatnya adalah doa. Salah satu penjelasannya misalnya dapat kita lihat di dalam Tuhfah al-Fuqaha’ yang ditulis oleh Alauddin as-Samarqandi (w. 540 H).

Adapun di dalam madzhab Syafi’i, al-Fatihah merupakan salah satu rukun yang harus terpenuhi di dalam shalat jenazah. Sehingga jika al-Fatihah tidak dibaca di dalamnya, maka tidak sah shalatnya. Di antara dalilnya tiada lain adalah sabda Rasulullah saw. sebagaimana penulis sampaikan sebelumnya bahwa tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah. Apapun shalatnya, termasuk shalat jenazah, maka al-Fatihah harus dibaca di dalamnya.

Ada juga riwayat sebagaimana disampaikan oleh Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) di dalam Musnadnya dari Jabir ibn ‘Abdillah ra. yang pernah bercerita bahwa Nabi saw. menshalatkan mayit dengan empat kali takbir dan membaca al-Fatihah setelah takbir pertama. Riwayat ini juga beliau sampaikan di dalam al-‘Umm ketika membahas tentang shalat jenazah. Namun, memang sebagaimana dikatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, hadits ini memiliki sanad yang lemah karena di dalam periwayatannya terdapat Ibrahim ibn Muhammad yang dinilai lemah oleh para ahli hadits.

Namun demikian, tentu masih banyak riwayat-riwayat lain yang shahih. Di dalam Shahih al-Bukhari, kita akan menemukan riwayat dari Thalhah ibn “Abdillah ibn “Auf yang pernah shalat jenazah di belakang Ibn ‘Abbas di mana ia membaca al-Fatihah di dalamnya. Selesai shalat, Ibn ‘Abbas mengatakan: “Supaya mereka tahu bahwa hal itu adalah sunnah.” Sebagaimana dikatakan pentahqiqnya, Mushthafa al-Bugha, yang dimaksud sunnah oleh Ibn ‘Abbas di sini dalam arti bacaan al-Fatihah memang benar-benar disyari’atkan. Di dalam Sunan Ibn Majah, beliau sendiri pernah mengatakan bahwa Rasulullah saw. membaca Surah al-Fatihah ketika menshalatkan jenazah. Wallahu a’lam.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Aku Cinta Rasulullah

Meneladani Rasulullah saw Pada Tempatnya

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ayat yang sangat popular di hari-hari belakangan ini adalah ayat 21 surat Al Ahzab.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا – سورة الأحزاب: 21

Mungkin banyak yang tidak tahu kalau ayat ini dari sebab turunnya memiliki latar belakang perang. Sebagaiman nama suratnya; Al-Ahzab yang di dalamnya banyak bercerita tentang salah satu perang yang fenomenal, yaitu perang Ahzab. Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini adalah perang yang sangat berat. Kaum kafir berkolaborasi dan bersekutu menghimpun kekuatan untuk menghabisi kekuatan kaum muslimin di Madinah, karenanya dikatakan ‘ahzab’ (sekutu). Maka untuk menghadapinya Rasulullah dan para sahabatnya membuat parit besar di perbatasan kota Madinah. Karenanya perang ini juga dinamakan perang Khandaq (parit).

Jadilah Rasulullah saw berhari-hari bahu membahu dengan para sahabat lainnya menggali parit dalam suasana yang sangat berat. Sementara itu, orang-orang munafik terlihat enggan ikut bersama kaum muslimin, maka dengan alasan di tempat tersebut tidak ada tempat berteduh dan rumah mereka tidak ada yang menjaga, mereka ‘melipir’ tidak mau ikut menggali parit bersama kaum muslimin (QS. Al-Ahzab: 13). Dalam kontek inilah Allah turunkan ayat tersebut.

Para ulama menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan bagi kaum munafik yang enggan ikut berlelah-lelah menggali parit dan berjihad menghadapi pasukan sekutu. Semestinya mereka meneladani Rasulullah saw yang walaupun kemuliaannya, tetap mau membersamai para sahabat untuk menggali parit dan menanggung beban jihadi di jalan Allah.

Jalaludin As-Suyuti dan Jalaludin Al-Mahalli dalam tafsirnya Al-Jalalain menafsirkan ayat ini dengan singkat;

اقْتِدَاءً بِهِ فِي الْقِتَالِ وَالثَّبَاتِ فِي مَوَاطِنِهِ

“Meneladaninya dalam perang dan keteguhan pada tempatnya masing-masing.”

Walaupun pemahaman Al-Quran diambil dari keumuman ayat bukan kekhususan sebab, sebagaimana kaidah populer dalam ilmu tafsir, namun latar belakang ini penting kita pahami, bahwa meneladani Rasulullah saw itu bukan hanya pada hal-hal yang sifatnya lembut, santun, kasih sayang dan dalam suasana tenang nyaman tanpa permusuhan. Tapi disana juga ada keteladangan dalam hal ketegasan, marah, perang, letih dan berat menanggung beban dan tidak lemah hadapi permusuhan.

Abu Bakar Ash-Shidiq terkenal dengan kesantunan dan kelembutannya. Saat menjadi khalifah, ada sebagian rakyatnya yang membangkang, menola zakat. Tanpa ragu beliau putuskan untuk memerangi mereka. Saat Umar bin Khatab tampak ragu soal itu, dengan tegas beliau nyatakan, ‘Aku akan perangi orang yang ingin pisahkan shalat dengan zakat. Apakah engkau berani di masa jahiliah, justeru jadi penakut di masa Islam?”

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

MENGHINDARI KERIBUTAN DAN KEKACAUAN DALAM KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Keributan dan kekacauan dalam keluarga sering terjadi karena :

1. Masing-masing suami istri tidak pernah membicarakan bersama-sama tentang tujuan apa yang ingin dicapai atau diwujudkan dalam berkeluarga. Atau pernah dibicarakan oleh meteka tetapi tidak mencapai kesepakatan. Sehingga setelah menikah dan menjalani kehidupan berkeluarga tidak memiliki kejelasan apa yang ingin diwujudkan oleh mereka.
Karena itu, mereka tidak bisa bersinergi dalam menjalani kehidupan berkeluarga, sehingga mereka berijtihad dan berkreasi sendiri-sendiri , tanpa arah yang jelas yang akan dituju. Maka mereka akan mendapatkan banyak perbedaan yang tidak bisa diterima dan tidak didukung oleh pasangannya sehingga terjadilah keributan dan kekacauan.

2. Suami istri telah membicarakan bersama dan telah bersepakat tentang tujuan yang ingin diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga. Tetapi sama-sama tidak memiliki komitmen untuk mewujudkannya.

3. Suami istri tidak memiliki frekwensi yang sama dalam komitmen mewujudkan tujuan berkeluarga. Sehingga hanya salah satunya saja dari suami istri yang benar-benar serius melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan tujuan berkeluarga tersebut, karena itu ia merasakan terlalu berat berjuang sendirian.

4. Suami istri tidak bersinergi dan tidak bekerja sama dalam mewujudkan tujuan berkeluarga.

Di saat suami atau istri sangat lelah fisiknya dan rapuh jiwanya serta tantangan semakin berat maka terjadilah perselisihan, pertengkaran hingga terjadilah kekacauan dalam keluarga mereka.

Maka suami istri untuk terus bisa harmonis, hendaknya sejak awal sudah menyepakati tentang tujuan berkeluarga dan sama-sama berkomitmen dalam melakukan berbagai ikhtiar serta selalu bersinergi dan bekerja sama dalam memperjuangkan tercapainya tujuan tersebut, sehingga selalu seiring dan bersama dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Zina itu utang

Zina Walau Sama-Sama Ridha dan Suka: Tetap Haram Ferguso!

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Tulisan lama, semoga masih relevan (menyorot PERMENDIKBUD NO. 30/2021)

📌 Keharaman zina, kontak seksual di luar pernikahan, telah final. Jelas dan pasti, orang awam pun juga paham. Maka, sudah seharusnya orang yang mengaku berpendidikan lebih paham lagi.

📌 Bahkan orang yg berzina pun paham apa yang mereka lakukan itu sebenarnya haram. Tapi, karena hawa nafsu, gelap mata, tidak takut dosa, dan rayuan syetan, akhirnya dilakukan juga.

📌 Semua kesepakatan yang berlawanan dengan syariat adalah terlarang, termasuk kesepakatan untuk mengubah yang haram menjadi halal seperti keharaman zina menjadi BOLEH, dengan alasan keduanya sama-sama ridha.

Hal ini mirip yang diprediksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang manusia yang bermain-main dengan istilah untuk menghalalkan yang haram:

يسمُّونَها بغيرِ اسمِها فيستحلُّونَها

Mereka menamakan bukan dengan nama sebenarnya lalu mereka menghalalkannya

(Takhrij Misykah Al Mashabih, 5/85. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: hasan)

📌 Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ، إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ شَرْطًا أَحَلَّ حَرَامًا

Kaum muslimin terikat oleh perjanjian yang mereka buat, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

(HR. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra no. 11430)

📌 Maka, segala bentuk perzinaan dan pintu-pintunya, walau dibungkus dengan istilah keren, ilmiah, tapi esensinya adalah legalisasi zina, free sex, atas nama HAM, adalah perilaku busuk dan menjijikkan.

📌 Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ حَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ كِتَابَ اللهِ

Jika zina dan riba sudah nampak di sebuah negeri maka mereka telah menghalalkan siksa Allah ﷻ atas diri mereka.

(HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 5416. Al Hakim, Al Mustadrak No. 2261, kata Al Hakim: shahih)

📌 Maka, tegas bagi seorang muslim menolak pembenaran perzinaan walau atas dasar suka sama suka.

Bukankah Aku telah sampaikan? Allahumasyhad!

Wallahul Musta’an
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Cahaya di atas Cahaya – Tadabbur Surat An-Nur (Bag-5)

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Kesembilan

Allah juga menurunkan etika interaksi kaum mukminin dengan Rasulullah SAW pada ayat (62-63), yaitu:

a. Bila mereka berada dalam satu majlis dengan Rasulullah SAW. mereka tidak meninggalkan Rasulullah kecuali setelah mereka meminta izin kepada beliau.

b. Tidak memanggil Rasulullah SAW dengan panggilan seperti mereka memanggil di antara mereka. Tapi, memanggilnya dengan sebutan yang laik bagi seorang Nabi dan Rasul Allah.

Hal ini pun masih dan tetap berlaku bagi umat Islam, meskipun saat ini Rasulullah sudah tiada. Yaitu dengan mengagungkan majlis-majlis yang mempelajari hadits-haditsnya. Juga tidak menyebut langsung nama beliau sebagai penghormatan etis kita kepada beliau.

Meskipun sebagian orang mengatakan bahwa Muhammad adalah manusia sebagaimana manusia yang lain. Namun, bagi seorang mukmin beliau adalah manusia pilihan Allah yang dijadikan Nabi dan Rasul. Sebaik-baik manusia yang pernah dan akan ada di muka bumi ini.
Itulah aturan-aturan Allah.

Aturan ini bagaikan cahaya. Dan merugilah orang-orang yang tidak memerdulikan cahaya penerang hidayah ini. ”Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.

Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS Annur : 35)

Dalam surat ini Allah juga memberikan perumpamaan dan menjelaskan sikap orang-orang beriman yang menerima aturan dan hukum Allah serta tidak lalai melaksanakan hak-hak Allah. Tidak tergiur oleh gemerlapnya kehidupan dunia dan berbagai kenikmatannya yang tidak langgeng. Juga sikap dan sifat orang-orang munafik dan kafir yang menyepelekan dan tak mengindahkan aturan Allah.

Allah tunjukkan kekuasan-Nya kepada mereka semua. Penciptaan langit bumi dan seisinya. Ketundukan alam semesta dan burung-burung kepada-Nya. Pergantian siang dan malam serta penciptaan Allah atas segala makhluk hidup yang bermacam-macam.

Allah menjanjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan berbuat kebaikan dengan kemenangan dan dikokohkan kedudukannya di bumi-Nya. ”Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman.  Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.

Dan barang-siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. Annur: 55)

Demikianlah secara singkat kandungan surat Annur.

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang ”..yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Azzumar: 18)

(Selesai)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678