Pake Make Up Waterboom, bole gak?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Mau tanya nih ustadz/ah, masalah make up, kalo pakai produk produk yg waterboom resistant untuk eyeliner dan mascara, tidak boleh apa boleh ya?  Kan menghalangi air wudhu masuk yaa ke wajah.. Secara kalo bepergian pasti jg nglewatin waktu sholat dan sering batal wudhu. Kalo ga pakai yg water resistant kan mbleber, mending ga pake yaa?  Tapi kan pengen make up an. Begitu juga​ dgn bedak.. Tolong pencerahan nya ya ustadzah

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Untuk make up, sebenarnya muslimah sudah ada aturannya berdasarkan firman Allah

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Qs. Al-Ahzab : 33)

Berdasarkan ayat tersebut diatas ditegaskan bahwa boleh berhias terutama untuk suami.tapi harus beda dari wanita jahiliah dan tentunya bahan dasar yg digunakan halal dan ramah dengan kulit. Kalau waterboom resistant tidak  boleh alasannya  karena menghalangi air wudhu .jadi silahkan saja pakai eyeliner tp pilih yang tidak water proof. Ya memang resikonya kita harus sedikit repot. Kalau tidak mau repot ya tdk usah pakai make up.

Wallahu a’lam.

Serial Fatwa Ulama Tentang Bom Syahid (Bag. 1)​

Berikut ini adalah fatwa para ulama tentang legalitas bom syahid di negeri perang untuk membunuh musuh. Fatwa ini sudah dikeluarkan puluhan tahun lalu.

Sebagian orang mengingkari fatwa ini bahkan menjelek-jelekkannya,  jelas itu adalah adab yang buruk. Sebagian orang lagi  menyalahgunakan fatwa ini untuk membom di sembarang tempat, sehingga membunuh sesama muslim, ini juga sangat buruk dan konyol.

Yang benar adalah fatwa ini hanya terbatas di negeri-negeri perang dengan musuh yang pasti dan jelas, seperti penjajah Yahudi di Palestina.

1⃣ Fatwa Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashirudin Al Albany Rahimahullah

                Didalam Shahih Mawarid Azh Zham’an oleh Syaikh al Albany (dipublikasikan setelah beliau wafat), dia berkata pada bab kedua, halaman 119, setelah menjelaskan hadits populer Abu Ayyub, mengenai firman Allah walaa tulqu bi aydiikum ilat-tahlukah (janganlah kamu menjerumuskan diri kamu ke dalam jurang kebinasaan), dia berkata :

“Dan ini adalah kisah populer yang menjadi bukti yang sekarang dikenal sebagai operasi bunuh diri dimana beberapa pemuda Islam pergi lakukan terhadap musuh-musuh Allah,akan tetapi aksi ini diperbolehkan hanya pada kondisi tertentu dan mereka melakukan aksi ini untuk Allah dan kemenangan agama Allah, bukan untuk riya, reputasi, atau keberanian, atau depresi akan kehidupan.”[1]

                Selanjutnya beliau juga berkata, ketika ditanya mengenai aksi Bom Syahid, Syaikh Al Albany menjawab:

لا يعد هذا انتحاراً ، لأن الانتحار هو أن يقتل المسلم نفسه خلاصا من هذه الحياة التعيسة … أما هذه الصورة التي أنت تسأل عنها ، فهذا ليس انتحارا ، بل هذا جهادا في سبيل الله .. إلا أن هناك ملاحظة يجب الانتباه لها ، وهي أن هذا العمل لا ينبغي أن يكون فرديا أو شخصيا ، إنما يكون هذا بأمر قائد الجيش .. فإذا كان قائد الجيش يستغني عن هذا الفدائي ، ويرى أن في خسارته ربح كبير من جهة أخرى ، وهو إفناء عدد كبير من المشركين والكفار ، فالرأي رأيه ويجب طاعته ، حتى لو لم يرض هذا الإنسان فعليه طاعته …

“Itu bukanlah bom bunuh diri, bunuh diri adalah dimana ketika seorang muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya atau sesuatu yang sama seperti itu, sejauh yang kamu tanyakan itu, itu adalah jihad untuk Allah, akan tetapi kita harus mempertimbangkan aksi ini tidak bisa dilakukan secara individual tanpa di desain oleh seseorang yang menjadi ketua yang mempertimbangkan apakah itu menguntungkan Islam dan kaum muslimin, dan jika Amir memutuskan untuk kehilangan mujahid tadi lebih menguntungkan dibandingkan untuk menahannya, terutama jika hal itu menyebabkan kerusakan  bagi orang kafir dan musyrik, kemudian pendapat Amir tersebut terjamin bahkan walaupun si mujahid tadi tidak senang dengan dengan hal itu, maka dia harus mematuhinya.. dan seterusnya.”

Syaikh Al Albany Rahimahullah kemudian melanjutkan:

الانتحار من أكبر المحرمات في الإسلام ، لن ما يفعله إلا غضبان على ربه ولم يرض بقضاء الله .. أما هذا فليس انتحارا ، كما كان يفعله الصحابة ، يهجم على جماعة ( كردوس ) من الكفار بسيفه

“Bunuh diri adalah salah satu dosa besar dalam Islam, tidaklah orang yang melakukannya melainkan karena dia marah dan tidak ridha dengan ketetapan Allah. Sedangkan ini, bukanlah bunuh diri, sebagaimana yang dilakukan para sahabat Radhiallahu ‘anhum sering dilakukan untuk melawan sejumlah musuh yang besar oleh mereka..[2]

2⃣ Fatwa Syaikh Sulaiman bin Mani’ Hafizhahullah(Ulama Saudi Arabia, anggota Hai’ah Kibaril Ulama)

Beliau ditanya tentang aksi ‘intihariyah’- mengorbankan diri sendiri- ketika melawan musuh Islam dalam jihad apakah itu mati syahid?

Beliau menjawab:

الحمد لله, لا شك أن العمليات الانتحارية في سبيل الله ضد أعداء الله ورسوله وأعداء المسلمين قربة كريمة يتقرب بها المسلم إلى ربه, ولا شك أنها من أفضل أبواب الجهاد في سبيل الله, ومن استشهد في مثل هذه العمليات فهو شهيد إن شاء الله. ولنا من التاريخ الإسلامي في عهد النبوة وفي عهد الخلفاء الراشدين ومن بعدهم مجموعة من صور الجهاد في سبيل الله, ومن أبرز صور جهاد البطولة والشجاعة النابعة من الإيمان بالله وبما أعده سبحانه للشهداء ما في قتال المرتدين وفي طليعتهم مسيلمة الكذاب وقومه, فقد كان لبعض جيوش الإسلام في هذه المعركة عمليات انتحارية في سبيل افتتاح حديقة مسيلمة (حصنه المتين). ولكن ينبغي للمسلم المجاهد أن يحسن نيته في جهاده وأن يكون جهاده في سبيل الله فقط, وألا يلقي بنفسه إلى التهلكة في عملية يغلب على ظنه عدم انتفاعه منها……

“Alhamdulillah, tidak ragu lagi sesungguhnya aksi mengorbankan diri pada jihad fi sabilillah melawan musuh-musuh Allah dan RasulNya dan musuh kaum muslimin, merupakan upaya qurbah (pendekatan) yang mulia bagi seorang muslim kepada Rabbnya dan tidak ragu  pula bahwa itu merupakan di antara pintu jihad fi sabilillah yang paling utama, barang siapa yang mencari syahid dengan aksi ini maka itu adalah mati syahid Insya Allah.

Dalam sejarah Islam baik pada masa kenabian,Khulafa’ur Rasyidin, dan yang mengikuti mereka, kita memiliki kumpulan gambaran jihad fi sabilillah, yang paling menonjol di antara gambaran jihad kepahlawan dan keberanian karena iman kepada Allah Ta’ala dan apa-apa yang telah dijanjikanNya untuk para syuhada, adalah ketika memerangi kaum murtadin yang dipelopori oleh Musailamah Al Kadzdzab dan pengikutnya. Pada peperangan tersebut pasukan Islam membuka benteng pertahanannya yang sangat kuat.

Tetapi hendaknya seorang mujahid memperbaiki niatnya, dia hanya menjadikan jihad fi sabilillah adalah satu-satunya niat dan hendaknya jangan melakukan aksi menjerumuskan diri dalam kebinasaan yang tidak membawa manfaat dan janganlah melakukan takwil untuk keluar (memisahkan diri) dari pemerintahan Islam, dan seseungguhnya mendakwahi mereka bukanlah itu,  melainkan dengan menasehati mereka dengan  hikmah dan pelajaran yang baik, dan komitmen dengan adab memberikan nasihat. Wallahul Musta’an….” (Al Fatawa An Nadiyyah fil ‘Amaliyat Alisytisyhadiyah, Hal. 13)

Bersambung …

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
[1] http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/22/fatwa-syaikh-al-bani-mengenai-bomb-syahid/

[2] Kaset Silsilah Al Huda wan Nuur No. 134, atau risalah  Al Fatawa an Nadiyyah fil ‘Amaliyat Al Isytisyhadiyah, hal. 5.

Ilmu yang Bermanfaat

Assalamualaikum wrwb Ustadzah…Apakah amalan seorang guru ngaji masih mengalir pd sang guru itu (karena ilmu yg dia ajarkan masih di amalkan sama murid2 nya sampai saat ini)tetapi sekarang sang guru itu sudah tdk serajin dulu dlm beribadah.
🅰2⃣1⃣

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
In shaa Allah pahala akan terus mengalir pada beliau selama msh ada yg terus mengamalkan ajarannya…bahkan walau beliau sudah wafat… sesuai hadits berikut:

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Kebaikan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah kebaikan agama maupun kebaikan dunia.

Termasuk dalam memberikan kebaikan di sini adalah dengan memberikan wejangan, nasehat, menulis buku tentang ilmu yang bermanfaat.

Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim)

Bentuk pengajaran ilmu yang bisa diberikan ada dua macam:

Dengan lisan seperti mengajarkan, memberi nasehat dan memberikan fatwa.

Dengan perbuatan atau tingkah laku yaitu dengan menjadi qudwah hasanah, memberi contoh kebaikan.

Wallahu a’lam.

Aqiqah

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Izin bertanya ust,Bisa tolong di jelaskan kembali tentang aqiqah ust?
dari referensi yang saya tahu, waktu pemotongan hewan aqiqah itu di hari ke 7, atau 14 atau 21.
Yang jadi pertanyaan saya, bagaimana kalau aqiqah tidak dilaksanakan pada hari ke 7, 14 atau 21 ?
Karena alasan tidak memiliki biaya untuk hitungan hari itu. Apakah aqiqah tetap bisa dilaksanakan saat sudah memiliki biaya serta hukumnya bagaimana?
(Iman-I51)

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Para ulama sepakat bahwa hari ketujuh dari kelahiran bayi adalah paling utama (afdhal), tetapi mereka berbeda pendapat tentang aqiqah selain hari ketujuh, bolehkah atau tidak. Kebanyakan ulama membolehkannya. Ada yang mengatakan sama sekali tidak boleh dan jika dilakukan, maka itu bukanlah aqiqah. Sebagian lain ada yang membolehkan pada hari ke 14 dan 21, ada pula yang membolehkan sebelum hari ke tujuh, bahkan ada yang membolehkan kapan pun dia memiliki kemampuan, walau sudah dewasa.

Dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Setiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberikan nama.” (HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 8377. Hadits ini shahih. lihat Syaikh Al Albani, Irwa’ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al Islami. Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843. Darul Fikr)

Imam Asy Syaukani mengomentari demikian:

“Dalam hadits ini terdapat pensyariatan penamaan pada hari ketujuh, dan sebagai bantahan bagi pihak yang mengatakan bahwa penamaan itu pada saat penyembelihan, dan disyariatkannya pula menghilangkan gangguan (mencukur rambut), dan menyembelih aqiqah pada hari itu.” (Nailul Authar , 5/135. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi, menjelaskan demikian:

“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa waktu aqiqah adalah hari ke tujuh kelahiran. Sesungguhnya tidak disyariatkan sebelum dan sesudahnya. Ada yang mengatakan: Sudah mencukupi dilakukan pada hari ke 14 dan 21, sebab telah dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah, dari Ayahnya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: ‘Aqiqah disembelih pada hari ke- 7, 14, dan 21.’ Hadits ini disebutkan dalam kitab Subulus Salam. Imam At Tirmidzi mengutip dari para ulama bahwa mereka menyukai menyembelih aqiqah pada hari ke 7, jika dia belum siap maka hari ke 14, jika dia belum siap maka di hari ke 21.” (‘Aunul Ma’bud, 8/28. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Para Imam Ahlus Sunnah pun membolehkan aqiqah dilakukan setelah hari ketujuh kelahiran.

Berikut keterangannya:

“Abu Daud mengatakan dalam kitab Al Masail, aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Aqiqah disembelih pada hari ke 7. Berkata Shalih bin Ahmad: “Ayahku (Imam Ahmad) berkata tentang aqiqah, bahwa disembelih pada hari ke 7, jika belum melaksanakannya maka hari ke 14, dan jika belum melaksanakannya aka hari ke 21. Berkata Al Maimuni: Aku bertanya kepada Abu Abdillah, kapankah dilaksanakannya aqiqah? Dia menjawab: ‘Ada pun ‘Aisyah mengatakan pada hari ke 7, 14, dan 21.’ Berkata Abu Thalib: Imam Ahmad berkata aqiqah disembelih pada satu hari, hari ke 21. Selesai.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 43. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Ibnul Qayyim juga menceritakan bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan aqiqah pada hari ketujuh. Imam Laits bin Sa’ad mengatakan bahwa aqiqah dilakukan pada hari ketujuh kelahiran, jika belum siap, boleh saja dilakukan pada hari setelahnya, dan bukan kewajiban aqiqah pada hari ketujuh. Sementara Abu Umar (Ibnu Abdil Bar) mengatakan bahwa Imam Laits bin Sa’ad mewajibkan aqiqah hari ketujuh. Semenara ‘Atha lebih menyukai aqiqah dilakukan hari ketujuh dan mengakhirkannya hingga hari ketujuh selanjutnya (hari ke 14). Ini juga pendapat Ahmad, Ishaq, dan Asy Syafi’i, Malik tidak menambahkan hingga hari ke 14, sementara menurut Ibnu Wahhab tidak mengapa hingga hari ke 21. Ini juga pendapat Aisyah, ‘Atha, Ishaq, dan Ahmad. (Ibid, Hal. 44)

Tapi, perkataan Imam Ibnul Qayyim bahwa Imam Hasan Al Bashri mewajibkan di hari ketujuh bertentangan dengan riwayat dari Imam Ibnu Hazm  bahwa Imam Hasan Al Bashri membolehkan aqiqah ketika dewasa.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

“Penyembelihan dilakukan pada hari ke tujuh setelah kelahiran jika dia lapang, jika tidak maka pada hari ke 14, jika tidak maka hari ke 21 dari hari kelahirannya. Jika masih sulit, maka bisa lakukan di hari apa pun. Dalam Hadits Al Baihaqi: “disembelih pada hari ke 7, 14, dan 21.” (Fiqhus Sunnah, 3/328. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Demikian perselisihan ini, bahkan ada pula yang mengklaim bahwa secara ijma’ (aklamasi) tidak boleh aqiqah pada hari sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun klaim ini lemah dan bertentangan dengan realita perselisihan yang ada.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

“Pengarang Al Bahr mengutip dari Imam Yahya, bahwa menurut ijma’ aqiqah tidaklah sah dilakukan sebelum dan sesudah hari ke 7. Namun, klaim adanya ijma’ ini hanyalah prasangkaan semata, tidakkah Anda mengetahui perselisihan yang sudah disebutkan.” (Nailul Authar, 5/133. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

​Bolehkah Aqiqah setelah Dewasa?​

Para ulama berbeda pendapat, antara membolehkan dan tidak. Mereka yang melarang beralasan bahwa hadits tentang bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengaqiqahkan dirinya setelah dewasa adalah dhaif.

Dari Anas bin Malik, katanya:

عق رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نفسه بعد ما بعث بالنبوة   
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah beliau diangkat menjadi nabi.” (HR. Abdurrazaq, No. 7960)

Hadits ini sering dijadikan dalil bolehnya aqiqah ketika sudah dewasa.

Shahihkah hadits ini?  Sanad hadits ini dhaif menurut para ulama.

Lantaran dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muharrar. Para Imam Ahli hadits tidaklah menggunakan hadits darinya.

Yahya bin Ma’in mengatakan, Abdullah bin Muharrar bukanlah apa-apa (tidak dipandang).Amru bin Ali Ash Shairafi mengatakan, dia adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan).Ibnu Abi Hatim berkata: Aku bertanya kepada ayahku (Abu Hatim Ar Razi) tentang Abdullah bin Muharrar, dia menjawab: matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan), munkarul hadits (haditsnya munkar), dan dhaiful hadits (haditsnya lemah).Ibnul Mubarak meninggalkan haditsnya.  Abu Zur’ah mengatakan, dia adalah dhaiful hadits. (Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 5/176. Dar Ihya At Turats)

 Sementara Imam Bukhari mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah munkarul hadits. (Imam Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 70, No. 195. Darul Ma’rifah)

Muhammad bin Ali Al Warraq mengatakan, ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad tentang Abdullah bin Muharrar, beliau menjawab: manusia meninggalkan haditsnya. Utsman bin Said mengatakan: aku mendengar Yahya berkata: Abdullah bin Muharrar bukan orang yang bisa dipercaya. (Al Hafizh Al Uqaili, Adh Dhu’afa, 2/310. Darul Kutub Al ‘ilmiyah)

Imam An Nasa’i mengatakan, Abdullah bin Muharrar adalah matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). (Imam An Nasa’i, Adh Dhu’afa wal Matrukin, Hal. 200, No. 332)

Imam Ibnu Hibban mengatakan, bahwa Abdullah bin Muharrar adalah diantara hamba-hamba pilihan, sayangnya dia suka berbohong, tidak mengetahui, dan banyak memutarbalik-kan hadits, dan tidak faham. (Imam Az Zaila’i, Nashb Ar Rayyah, 1/297)

 Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Abdullah bin Muharrar adalah seorang yang dhaif jiddan (lemah sekali). (Imam Ibnu Hajar,Talkhish Al Habir, 4/362. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Ada pun ulama yang mendhaifkan hadits ini adalah Al Hafizh Ibnu Hajar, Imam An Nawawi menyebutnya sebagai hadits batil, sedangkan Imam Al Baihaqi menyebutnya hadits munkar. (Ibid)

Oleh karena itu, dengan dasar dhaifnya hadits ini,  ulama kalangan Malikiyah dan sebagain Hambaliyah melarang aqiqah ketika sudah dewasa.
Tetapi, banyak pula imam kaum muslimin yang membolehkan.  Sebab hadits di atas memiliki beberapa syawahid (penguat), sehingga terangkat menjadi shahih.

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Kitab Musykilul Atsar No. 883: Berkata kepada kami Al Hasan bin Abdullah bin Manshur Al Baalisi, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkatakepada kami Abdullah bin Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu,  katanya

: أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعدما جاءته النبوة

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya setelah datang kepadanya nubuwwah (masa kenabian).

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath No. 994: Berkata kepada kami Ahmad, berkata kepada kami Al Haitsam (bin Jamil), berkata kepada kami Abdullah (bin Mutsanna), dari Tsumamah, dari  Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أن النبي عق عن نفسه بعد ما بعث نبيا

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah diutus sebagai nabi

Ketiga, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla, 7/528, Darul Fikr:  Kami meriwayatkan dari Ibnu Aiman, berkata kepada kami Ibrahim bin Ishaq As Siraaj, berkata kepada kami ‘Amru bin Muhammad An Naaqid, berkata kepada kami Al Haitsam bin Jamil, berkata kepada kami Abdullah bin Al Mutsanna bin Anas, berkata kepada kami Tsumamah bin Abdullah bin Anas, dari Anas, katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَقَّ، عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا جَاءَتْهُ النُّبُوَّةُ

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah datang kepadanya masa kenabian.

Syaikh Al Albani memberikan komentar tentang semua riwayat penguat ini:

قلت : و هذا إسناد حسن رجاله ممن احتج بهم البخاري في “ صحيحه ” غير الهيثم ابن جميل ، و هو ثقة حافظ من شيوخ الإمام أحم               

Aku berkata: Isnad hadits ini hasan, para perawinya adalah orang-orang yang dijadikan hujah oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, kecuali Al Haitsam bin Jamil, dia adalah terpercaya, seorang haafizh, dan termasuk guru dari Imam Ahmad. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/502)  Sehingga, walau sanad hadits riwayat Imam Abdurrazzaq adalah dhaif –karena di dalamnya ada  Abdullah bin  Muharrar yang telah disepakati kedhaifannya-  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menshahihkan hadits ini dengan status SHAHIH LI GHAIRIHI, karena beberapa riwayat di atas yang menguatkannya. (Ibid)

Ulama yang membolehkan aqiqah ketika sudah dewasa adalah Imam Muhammad bin Sirin, Al Hasan Al Bashri, Atha’, sebagian Hambaliyah dan Syafi’iyah.

Imam Ahmad ditanya tentang bolehkah seseorang mengaqiqahkan dirinya ketika sudah dewasa? Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitabnya sebagai berikut:

وقال أن فعله إنسان لم أكرهه  “

Dia (Imam Ahmad) berkata: Aku tidak memakruhkan orang yang melakukannya.” (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal 61. Cet. 1. 1983M-1403H.Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Imam Muhammad bin Sirin berkata:

لَوْ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُعَقَّ عَنِّي ، لَعَقَقْتُ عَنْ نَفْسِي.

Seandainya aku tahu aku belum diaqiqahkan, niscaya akan aku aqiqahkan diriku sendiri. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 24718)

Imam Al Hasan Al Bashri berkata:

إذا لم يعق عنك ، فعق عن نفسك و إن كنت رجلا               

Jika dirimu belum diaqiqahkan, maka aqiqahkan buat dirimu sendiri, jika memang kamu adalah laki-laki. (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 8/322)

Dan, inilah pendapat yang lebih pas, Insya Allah. Hanya saja di negeri kita umumnya, memang  tidak lazim aqiqah ketika sudah dewasa. Aquulu qauliy haadza wa astaghfirullahu liy wa lakum

Wallahu a’lam.

RIYADHUS SHALIHIN (22)​

📕Bab Taubat – Taubat, Masuk Surga

Hadits:

وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏
‏”‏يضحك الله سبحانه وتعالى إلى رجلين يقتل أحدهما الآخر يدخلان الجنة، يقاتل هذا في سبيل الله فيقتل، ثم يتوب الله على القاتل فيسلم فيستشهد‏”‏ ‏(‏‏‏متفق عليه‏)‏‏ ‏.‏

Artinya:
Dan dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala tertawa – merasa senang – kepada dua orang yang seorang membunuh pada lainnya, kemudian keduanya dapat memasuki syurga. Yang seorang itu berperang fisabilillah kemudian ia dibunuh, selanjutnya Allah menerima taubat atas orang yang membunuhnya tadi, kemudian ia masuk Islam dan selanjutnya dibunuh pula sebagai seorang syahid.” (Muttafaq ‘alaih)

           ☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

Selamat menyimak.

 Link kajian 

Kisah Zainab binti Khuzaimah Ra. Ummul Masaakin (Ibu Kaum Fakir Miskin)​

Zainab binti Khuzaimah Ra lahir di Makkah 13 tahun sebelum Rasulullah Saw diangkat menjadi nabi.  Sejak tinggal di Makkah ia dikenal sangat menyayangi orang-orang fakir dan miskin. Ketika cahaya Islam menerangi jazirah Arab, Zainab binti Khuzaimah Ra termasuk golongan pertama yang memeluk Islam. Ia menyaksikan bagaimana kaum kafir Quraisy melakukan penindasan yang sangat berat kepada kaum muslimin.

Ia hijrah ke Madinah bersama suaminya Thufail bin Harits yang syahid di perang Uhud. Kemudian ia dinikahi oleh Rasulullah Saw setelah masa iddahnya usai.

Akan tetapi pernikahan beliau hanya berusia dua bulan karena Allah Swt memanggilnya. Zainab binti Khuzaimah adalah istri Rasulullah Saw yang pertama kali meninggal dunia di Madinah.

Zainab binti Khuzaimah Ra hidup di bawah naungan kasih sayang, cinta dan kelembutan . Ia hidup di dalam dekapan kehangatan dan keagungan Islam. Ia menghabiskan hari-harinya di rumah Rasulullah Saw dengan ketha’atan dan kedermawanan.

Kebahagiaannya berumah tangga bersama Rasulullah Saw, ia syukuri dengan cara berbelas kasih kepada orang-orang miskin, bersikap lembut, dan berbuat baik kepada mereka. 

Zainab menghabiskan semua waktunya untuk beribadah kepada Allah Swt, menyantuni sekian banyak orang miskin   dan bershadaqoh kepada mereka. Karena sifatnya tersebut, ia sangat dikenal   dengan julukan Ummul Masaakin (ibunya kaum fakir miskin). Julukan yang sangat indah dan agung. Seindah jiwa ibunda Zainab dengan keagungannya.

Semua yang keluar dari rumahnya hanyalah shadaqah dan keta’atan kepada  Allah sehingga membuatnya menjadi perempuan yang mulia dan agung. 

Terkait dengan kebiasaan baik Zainab, Rasulullah Saw menyampaikan banyak hadits  tentang shadaqah. Diantara hadits riwayat Bukhari berikut:
Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Tangan yang diatas (memberi) lebih baik dari pada tangan yang dibawah (penerima). Jika kalian memberi, mulailah dari orang terdekat yang menjadi tanggunganmu.   Shadaqah yang paling baik adalah yang diberikan dari kecukupannya. Siapa yang menahan diri untuk tidak meminta, maka Allah akan membuatnya tidak meminta. Siapa yang menganggap dirinya cukup, maka Allah akan membuatnya cukup.” (HR Bukhari).​ 

Dalam hadits lain, ​Rasulullah Saw bersabda:  Perbuatan-perbuatan baik menjaga seseorang dari dampak-dampak buruk, penyakit-penyakit dan kebinasaan.Orang-orang yang biasa berbuat baik di dunia juga akan menjadi orang-orang yang biasa berbuat baik di akhirat.” (HR Al-Hakim)

Ibunda Zainab binti Khuzaimah Ra tidak pernah meriwayatkan hadits. Mungkin karena sibuk mengurus orang-orang miskin dan terlalu singkat masa kebersamaannya bersama Rasulullah Saw.

Butir-butir Hikmah:

🌷 Perbuatan baik perlu dibiasakan sejak kecil sehingga menjadi akhlak yang muncul secara otomatis saat dewasa.

🌷 Hati yang diliputi oleh hidayah Allah yang menjadikan dasar bagi seseorang dalam memilih pasangan.

🌷 Hati yang diliputi oleh hidayah selalu memiliki kesiapan untuk menerima taqdir yang ditentukan Allah Swt, baik ataupun buruk bentuk taqdir itu bagi dirinya.

🌷 Tha’at dan dermawan merupakan dua sifat yang saling berdekatan.

🌷 Salah satu bentuk syukur seorang hamba akan ni’mat yang Allah berikan diantaranya memiliki keluarga yang harmonis adalah dengan memperbanyak shadaqah atau perbuatan baik lain.

🌷 Orang-orang yang sangat dekat dengan orang miskin dan membantu mereka  akan Allah berikan kedudukan yang mulia baik di dunia maupun di akhirat.

🌷 Kehidupan berkeluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah dan rahmah perlu dijaga secara lahir batin diantaranya dengan amal-amal kebaikan seperti shadaqah kepada  fakir miskin.

🌷 Shadaqah akan membuat hati orang yang melakukannya menjadi lembut dan penuh kasih sayang.

🌷 Shadaqah terbaik adalah shadaqah yang diambil dari kecukupan harta yang dimiliki seseorang.

🌷 Allah tidak akan memberikan kekurangan kepada mereka yang gemar memberi.

🌷 Para istri perlu memiliki kemandirian ekonomi sehingga shadaqah yang dilakukannya tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan keluarga.

🌷 Para istri perlu memiliki keterampilan mengelola keuangan  keluarga agar rizki yang Allah berikan cukup untuk kehidupan keluarga.

🌷 Para suami perlu memberikan kepercayaan dan fleksibilitas kepada istri untuk mengelola keuangan keluarga.  Dan ia berkewajiban untuk membimbing istrinya dalam hal ini.

🌷 Stabilitas ekonomi  dalam keluarga menunjang kokohnya ketahanan keluarga.

🌷 Prinsip umum ekonomi keluarga adalah bagaimana income keluarga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga  sehingga menghasilkan kepuasan.

🌷 Termasuk didalam kepuasan adalah bershadaqah (melihat orang lain bahagia karena terpenuhi kebutuhannya).

🌷 Setiap orang perlu memiliki amal unggulan seperti Zainab binti Khuzaimah Ra dengan amalan unggulannya bershadaqah.

🌷Sempitnya waktu seringkali membuat seseorang sulit berbagi  ilmu,  namun perbuatan baik yang dilakukannya menjadi  ilmu dan teladan tersendiri bagi orang lain.  

Wallohu a’lam bish showwab

I’TIKAF di Aula Masjid

Assalamu’alaikum ustadz/ah….Mau nanya kalau i’tikaf di aula masjid yg sering disewa untuk acara pernikahan apakah boleh? Karena dimasjid saya ada 3 lantai. Lantai dasar untuk aula. Tapi kalau sholat I’dh sering dipakai untuk sholat. Mohon pencerahannya. Terima kasih

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Itu istilahnya AR RAHBAH, yaitu bagian bangunan yg msh tersambung secara fisiknya dan tegelnya dgn masjid, Imam Ibnu Hajar mengatakan pendapat paling kuat  itu adalah bagian dari masjid. Shingga berlaku hukum2 masjid, termasuk i’tikaf juga sah. Bahkan Imam Syafi’i mengatakan i’tikaf di menara dan di atap masjid juga sah.

Wallahu a’lam.

Belajar Tegar Dari Pendahulu Kita

©Adalah teguh ketika masalah mengeruh itulah pribadi yang utuh dari para pengusung kebenaran.

©Adalah tegar ketika masalah terhampar itulah sikap para hamba nan mulia.

▪Tiada sedikit keluh meski diri berpeluh dan tiada menyesal susah lantaran berjumbuh dengan masalah.

© Iman itu sebagai penanda sejauh mana kita senantiasa menjadi hamba yang ridha atas segala yang Allah hadirkan.

▪Kadang lelah menggelayut rasa di jiwa, namun tak jua langkah itu terjeda. Kadangpun sakit dirasa namun selalu ada sabar dan syukur kala merasainya.

© Imam Bukhari mengingatkan kita semua bahwa, “Keteguhan orang-orang yang shalih tak lain buah dari keyakinan yang kuat, yang kemudian melahirkan inspirasi yang jernih dalam memandang berbagai masalah. Mereka tak memandang problematika hidup sebagai beban besar yang menggelayut dan menahan gerak langkah.”

Masya Allah
Allahu Akbar…

▪Melihat masalah bukan menjadi penyebab urungnya karunia namun salah satu musabab Allah hadirkan karunia yang lebih besar dan tentunya yang terbaik bagi hamba-Nya.

© Begitulah mereka senantiasa menjadi hamba yang ridha karena menyadari bahwa segalanya tak lepas dari campur tangan kehendak Sang Maha Kuasa.

▪Adakah kita setegar orang-orang shalih yang senantiasa mampu berhikmah dari segala yang hadir di depan mata kita?

▪Kita ini perlu banyak memahami ilmu yang Allah tunjukkan di alam semesta ini. Dan semuanya kan jadi pelajaran yang berharga. Belumlah dikatakan beriman bila kadang ada rasa penolakan terhadap apa saja yang Allah tetapkan.

© Para salafusshalih selalu mengajarkan kepada kita bagaimana senantiasa menggenapkan iman.
Tujuan hidup bukan apa yang bisa kita raih di dunia ini namun kemuliaan di akhiratlah yang menjadi tujuan utama dari perjalanan ini.

© Para salafusshalih selalu menyandarkan semua kehidupannya hanya kepada Allah. Hal itulah yang selalu membuat mereka memaknai sabar dan syukur dengan tepat. Karena iman itu ada dua sisi yakni sabar dan syukur. Sehingga tak menjadi berat serta tetap semangat meski ada aral yang melintas. Tak ada kata putus asa dalam menjalani hidup.

▪Kehidupan yang kita jalani ini tak lain milik Allah. Kita sebagai hamba wajiblah menaati segala perintah-Nya. Kadang memang terasa berat namun, bila kita melakukan karena cinta kepada-Nya pasti kemudahan kan kita dapatkan. Rencana Allah memang tak selalu indah menurut pandangan kita. Juga bukan yang terbagus. Rencana Allah itu selalu yang terbaik.

© Sayangnya kita sebagai manusia tak mampu melihat misteri yang ada di depan. Namun keyakinan dan berprasangka baik pada setiap ketetapan Allah itu yang kita wajib lakukan.

© Maka tugas kita menapaktilasi jejak keshalihan yang mereka ajarkan. Sehingga kita mampu meneladani langkah-langkah mereka.

Ta’ziyah Tetangga Non-muslim

Assalamu’alaikum wr wb Ustadz/ah..
Bagaimana hukum ikut mengantarkan jenazah tetangga yg non muslim? Dg catatan, kita hanya warga biasa & bukan pengurus RT….
🅰2⃣1⃣
Jazakillaah khoiron.

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Cukup takziah saja tanpa perlu mengantarkan jenazah non muslim tersebut hingga prosesi pemakaman.

Wallahu a’lam.

Ketika Merasa Tersaingi dapat Merusak & Mengancam Persatuan​

Dalam kitab Futuh Masr wal-Maghrib karya Ibn Abdul Hakan, halaman 280:

Musa ibn Nusayr berangkat menyusul Thariq pada bulan Rajab 93 H dengan mayoritas pasukan Arab beserta klien-spesial (الموالى و عرفاء) dari kalangan Berber sampai mendarat di Andalus. (Musa) dalam keadaan marah* terhadap Thariq, membawa** (calon pengganti, yaitu) Hajib ibn Abi Ubaydah al-Fihri. Musa menjadikan anak sulungnya yang bernama Abdullah ibn Musa sebagai pemimpin di kota al-Qayrawan (ibukota Ifriqiya) sekepergiannya.

Pada paragraf yg terpotong (dari foto kitab di bawah, tertulis):

(Ketika keduanya bertemu di Qurtuba/Cordova) Thariq mencoba menjelaskan (keputusannya) kepada Musa:

“Sesungguhnya aku adalah mawla (pembantu)-mu dan pembebasan (Andalus) ini adalah bagi (kejayaan)-mu”

Agung Waspodo
Depok, 9 Syawal 1438 H


* Musa menganggap inisiatif penaklukan Andalus oleh Thariq melampaui wewenang yang ia berikan selaku wali (gubernur) Ifriqiya.

** Inilah bibit awal persaingan antara bangsa Arab dan Berber di Andalusia yang turut mengakibatkan perpecahan beberapa abad ke depan sehingga mengubah negeri ini menjadi Mulukuth Thawa’if (kerajaan yang berpecah-belah) hingga kehancurannya..