RIYADHUS SHALIHIN (25)​

📕 ​Bab Sabar – Besarnya Pahala Sabar​

​Al Quran Surat Al :Az Zumar: 10​

وَقالَ تَعَالَى :
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب [ الزمر :10 ] ،

​Artinya:​
​Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas​

​Al Quran Surat Al :As Syuro: 43​

وَقالَ تَعَالَى:
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأُمُورِ [الشورى: 43 ]

​Artinya:​

​Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.​

           ☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

Selamat menyimak. Link audio kajian 

Suami Tidak Sholat

Assalamu’alaikum..Mohon pencerahannya tadz..
Bagaiaman jika suami tidak melaksanakan shalat.sang istri sudah sering mengingatkan tetapi tetep ia tidak mau.lalu apakah istri boleh menolak untuk berjima.karena saya pernah baca bahwa muslim yg tidak shalat di katagorikan sebagai  non muslim.syukron

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Saya pernah buat artikel “Hukum Meninggalkan Shalat”, intinya ada beberapa pembahasan ulama:

1. Jika tidak shalat karena MENGINGKARI kewajibannya, maka sepakat semua ulama org itu murtad.

2. Jika tidak shalat karena malas atau sengaja tapi TIDAK MENGINGKARI kewajibannya, maka ada 3 pendapat ulama:

a. Dia kafir, ini pendapat Imam Ahmad bin Hambal, diberi waktu tibat selama 3 hari, jika tidak tobat maka hukuman mati

b. Dia masih muslim, tapi dosa besar, fasiq, ini pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik. Diberikan waktu tobat 3 hr, jika tdk tobat, mk  hukumannya tetap mati krn meninggalkan perintah agama adalah kejahatan besar.

c. Dia masih muslim, dosa besar, fasiq, hukumannya adalah dikucilkan dari msyrkt Muslim.

Jk seorg suami tdk shalat, maka lihat dulu kriteria di atas.

Wallahu a’lam.

Lawan Bersatu, Jangan Dibiarkan!​

Sekelompok kavaleri pengintai dari balatentara Bulgaria di pinggiran kota ​Edirne​, setelah 25 Maret 1913 yang menandai jatuhnya kota tersebut, AND.

Bulgaria telah meminta bantuan meriam berat Serbia untuk meluluh-lantakkan kota Edirne pada awal Perang Balkan Kedua yang dimulai kembali pada 30 Januari 1913. Berbagai upaya serangan untuk mematahkan kepungan Bulgaria dilancarkan oleh Şükrü Paşa sebagai jenderal Turki Utsmani yang mempertahankan kota.

Namun bantuan tak kunjung datang karena Pusat Komando balatentara Turki Utsmani lebih memprioritaskan peningkatan garis pertahanan Çatalca. Garis ini adalah yang terakhir sebelum kota İstanbul. Dalam kondisi serba kekurangan dan banyaknya pengungsi sipil di dalam kota yang berpotensi menjadi korban, maka pada jam 13.00 tanggal 25 Maret 1913, Şükrü Paşa menyerah kepada Jenderal Ivanov.

​Edirne​ yang pernah menjadi ibukota kedua setelah Bursa dan sebelum İstanbul hancur lebur kecuali beberapa masjid seperti Selimiye Cami pada gambar ini. Kota kelahiran Mehmet II Fatih itu harus menunggu hingga 21 Juli tahun yang sama untuk dibebaskan kembali. Kolapsnya Aliansi Balkan melemahkan posisi pendudukan Bulgaria. Enver Bey, pimpinan Turki Muda yang berhasil mengkudeta Sultan Mehmet V Reşat, memanfaatkan kelemahan itu. Enver Bey mengerahkan 250.000 pasukan dibawah Ahmet İzzet Paşa untuk merebut kembali kota bersejarah itu. Namun, Enver Bey yang mengklaim sebagai Pembebas Edirne Kedua.

Agung Waspodo, bekerja agar kesatuan Kaum Muslimin tidak lagi pecah belah.

Depok, 7 Mei 2017

Muntah Saat Puasa

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Jika seseorang Sedang sakit asam lambung, dan ketika bersendawa kadang keluar muntahan dan secara reflek tertelan.
Bagaimana hukumnya?

Terimakasih ☺

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

itu tdk sengaja .. baik muntahnya dan tertelannya, tidak apa-apa.

Sebagaimana ayat: ​Laa tuakhidzna inna siina aw akhtha’na​ .. – Jangan salahkan kami jika kami lupa atau kesalahan yg tidak sengaja.

Wallahu a’lam.

Bacalah Dengan Nama Tuhanmu (QS. Al-‘Alaq) Bag. 3 Selesai

© Pilihan yang Selalu Berkonsekuensi

▪Jika mendustakan dan menghalang-halangi dakwah serta risalah yang dibawa Nabi Muhammad merupakan pilihan yang diambil oleh orang yang tidak memahami atau mengingkari dahsyatnya nikmat dan karunia diutusnya beliau, maka balasan yang buruk sangat pantas baginya. Karena ia telah melecehkan keberadaan dan kekuasaan Dzat Yang Maha Melihat.

”Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatan-nya?” (QS. 96: 14)

▪Bisa jadi bukan karena ketidaktahuan, namun karena kesombongan dan keangkuhan hati yang menutupi kesadaran akan kemahabesaran Allah. Karenanya ia berbuat sesuka hati dan tidak pernah sekalipun ia mengerem nafsunya serta memperturutkan hawa dan syahwat kesesatannya. Ia tidak sadar bahwa yang ia musuhi dan ia hadapi bukanlah sekedar anak yatim saja. Tapi beliau adalah utusan Sang Maha Perkasa yang secara penuh memback up dakwahnya.

▪Tidakkah ia sadar akan ancaman Allah, ”Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. 96: 15-16)

©Menurut al-Mubarrid, salah seorang pakar Bahasa Arab terkemuka, mengatakan, ”as-saf’u” artinya mengambil dengan paksa dan kekerasan. Apalagi yang diambil di sini adalah ubun-ubun. Maka bukan hanya fisik yang tersakiti. Ia akan benar-benar merasa terhinakan dan direndahkan. Karena ubun-ubun atau kepala adalah bagian termulia manusia.

▪Ada pendapat lain dari al-Farra` bahwa yang dimaksud di sini adalah menghitamkan wajah sebagai kiasan akan ditimpakan kepadanya adzab neraka yang pedih dan menghanguskan.

▪Yaitu ubun-ubun atau wajah yang hangus milik sang pendusta yang mengingkari dan memusuhi serta menyakiti Nabi Muhammad saw. Para pakar bahasa di sini membolehkan badal (ganti) dengan menggunakan isim nakirah padahal sebelumnya disebut dengan isim makrifat.

▪Az-Zamakhsyari dan Abu Hayyan memberikan dispensasi tersebut karena isim nakirah setelah makrifat tersebut memberikan penjelasan sebagai sifat. Sehingga seolah ia berdiri sendiri memberikan penjelasan tambahan setelahnya (al-ifadah).

▪Jika hal di atas terjadi, maka kepada siapa lagi ia hendak meminta pertolongan. ”Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)” (QS. 96: 17)

Sebagaimana ia mengumpulkan mereka didarunnadwah, mengadakan konspirasi untuk mencelakakan Nabi Muhamamd saw. Dalam ayat ini seolah kata ”nadiah” yang berarti majelis menyimpan sebuah mudhaf yaitu para pegiatnya.

▪Namun, panggilan dan permintaan tolong tersebut tak menghasilkan apapun kecuali keputusasaan dan penyesalan. Karena nasib mereka juga tak lebih baik darinya. Justru Allah yang ”… akan memanggil Malaikat Zabaniyah” (QS. 96: 18) dan diperintahkan untuk mendatanginya, kemudian memberikan siksaan yang tiada tandingan dan bandingannya sebelum dan sesudahnya.

▪Maka, orang dengan karakter pembangkang dan pendusta tersebut tak perlu lagi didengar perkataannya apalagi sampai terpengaruh dengan syubhat dan ejekannya. Dan salah satu jalan untuk menguatkan diri dari pengaruh kejelekan tersebut yang paling mujarab adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah dan bersujud kepada-Nya.

”Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. 96: 19)

▪Para ulama kemudian menyimpulkan bahwa kedekatan terbaik dan paling dekat seorang hamba dengan rabbnya terjadi pada saat ia bersujud. Apalagi ada sebuah hadits yang menyatakan,

”Keadaan yang paling dekat dari seorang hamba dengan Tuhannya adalah pada saat ia bersujud maka perbanyaklah berdoa”.

©Penutup

Semoga akhir yang tragis yang dialami oleh Abu Jahal –baik di dunia dengan mati terhinakan atau di akhirat sengsara dalam keabadian adzab-Nya- bisa kita jadikan pelajaran untuk tidak mencoba-coba menjadi penghalang dakwah Rasulullah saw atau menjadi orang yang mengabaikan sunnah-sunnahnya. Karena, pertemuan dengan makhluk termulia ini menjadi impian setiap muslim.

Semoga kelak kita dipertemukan dengan beliau dalam naungan ridha Allah swt, Aamiin.

Jari Telunjuk Bergerak-Gerak Ketika Taayahud

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Afwan ustadz apa hukumnya mengetakan jari saat attahiyat karena ada yg mengatakan itu adalah bid’ad.
mohon penjelasannya tadz.syukron

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
( Ada pertanyaan yang serupa yang pernah dibahas)
Assalamu ‘Alaikum, Wr Wb. Saya sering melihat orang-orang tasyahhudnya berbeda di sisi mengacungkan jari kedepan :
-Ada yang dikibaskan
-Ada yang biasa
-Ada yang menunggu sampai bacaan tertentu..
Saya sering juga melihat orang-orang takbir berbeda
-Ada yang dengan slowmotion/gerak lambat (Enggak bohong !!!!)
-Ada yangg dengan dikekirikan/kanan
-Ada yangg biasa…Yang mana yang benar ?
Tolong pencerahannya
Jazakumullah

Jawab:
Wa ‘alaikum Salam Wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Apa yang Anda lihat, bahwa ada yang mengkibaskan (menggerak-gerakkan), atau yang biasa saja, atau ada yang menggerakkan pada bacaan tertentu, adalah khilafiyah yang memang benar-benar ada. Maka Anda tidak usah heran, sebab itu terjadi lantaran perbedaan mereka dalam menafsirkan hadits-hadits nabi tentang hal ini.

Dari Wail Bin Hujr Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

Bahwa rasulullah meletakkan tangannya yang kiri di atas pahanya dan lututnya yang kiri, dan meletakkan siku kanan di atas paha kanannya, kemudian dia menggenggam jari jemarinya dan membentuk lingkaran. Lalu dia mengangkat jarinya (telunjuk) dan aku melihat dia menggerak-gerakkannya, sambil membaca doa.”[1]

Syaikh Al Albany mengomentari hadits ini:

 أولا : مكان المرفق على الفخذ. ثانيا : قبض إصبعيه والتحليق بالوسطى والإبهام .ثالثا : رفع السبابة وتحريكها    .رابعا : الاستمرار بالتحريك إلى آخر الدعاء

Pertama. Tempat siku adalah di paha. Kedua. Menggenggam jari jemari dan membentuk lingkaran antara jari tengah dan jempol. Ketiga. Mengangkat jari telunjuk. Keempat. Terus-menerus menggerakkannya sampai akhir do’a.[2]

Sangat berbeda dengan Syaikh Al Albany, Imam Al Baihaqi mengomentari demikian:

 يحتمل أن يكون المراد بالتحريك الاشارة بها. لا تكرير تحريكها، ليكون موافقا لرواية ابن الزبير: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يشير بإصبعه إذا دعا لا يحركها. رواه أبو داود بإسناد صحيح.

“Mungkin yang dimaksud dengan menggerakkan itu adalah memberikan isyarat menunjuk, bukan menggerak-gerakkan secara berulang-ulang, agar hadits ini sesuai dengan riwayat dari Ibnu Zubeir, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan jarinya jika dia berdoa tanpa menggerak-gerakkannya.” Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih. [3]

Lalu Imam An Nawawi Rahimahullahmengatakan:

واما الحديث المروى عن ابن عمر عن النبي صلي الله عليه وسلم ” تحريك الاصبع في الصلاة مذعرة للشيطان ” فليس بصحيح قال البيهقى تفرد به الواقدي وهو ضعيف

“Adapun hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Menggerakan jari dalam shalat adalah hal yang ditakuti syetan,’ tidaklah shahih. Berkata Al Baihaqi: Al Waqidi meriwayatkannya sendiri, dan dia dha’if.” [4]

Namun Syaikh Al Albany menyanggah pendapat ini karena hadits dari Ibnu Zubeir yang katanya shahih menurut Imam al Baihaqi, ternyata ghairu shahih (tidak shahih) menurut hasil penelitiannya.[5]

Beliau juga memperkuat dengan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لهي أشد على الشيطان من الحديد

“Gerakan telunjuk itu benar-benar lebih ditakuti syetan dibanding besi.” [6]

Beliau mengatakan bahwa para sahabat nabi melakukan itu, yakni menggerakan jari sebagai isyarat ketika doa, karena mereka menyontoh terhadap sesama sahabat lainnya. Sebagaiana yang dikatakan Ibnu Abi Syaibah secara hasan. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun melakukannya pula pada semua duduk tasyahudnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh  An Nasa’i dan Al Baihaqi dengan sanad shahih. [7]

Sementara Syaikh Sayyid SabiqRahimahullah berkata:

وقد سئل ابن عباس عن الرجل يدعو يشير بإصبعه؟ فقال: هو الاخلاص. وقال أنس بن مالك: ذلك التضرع، وقال مجاهد: مقمعة للشيطان. ورأى الشافعية أن يشير بالاصبع مرة واحدة عند قوله (إلا الله) من الشهادة، وعند الحنفية يرفع سبابته عند النفي ويضعها عند الاثبات، وعند المالكية، يحركها يمينا وشمالا إلى أن يفرغ من الصلاة، ومذهب الحنابلة يشير بإصبعه كلما ذكر اسم الجلالة، إشارة إلى التوحيد، لا يحركها.

“Ibnu Abbas ditanya tentang seorang yang memberikan isyarat dengan telunjuknya. Beliau menjawab: ‘Itu menunjukkan ikhlas.’ Anas bin Malik berkata: ‘Itu menunjukkan ketundukan.’ Mujahid berkata: ‘Untuk memadamkan syetan.’ Sedangkan golongan syafi’iyah memberikan isyarat dengan jari hanya sekali yakni pada ucapan Illallah (kecuali Allah) dari kalimat syahadat. Sedangkan menurut golongan Hanafiyah, mengangkat jari telunjuk ketika ucapan pengingkaran (laa ilaha/tiada Tuhan) lalu meletakkan lagi ketika ucapan penetapan(Illallah/ kecuali Allah). Sedangka menurut Malikiyah menggerak-gerakan ke kanan dan ke kiri hingga shalat selesai. Sedankan madzhab Hanabilah (hambali) memberikan isyarat dengan jari telunjuk ketika disebut lafzul jalalah (nama Allah) sebagai symbol tauhid, tanpa menggerak-gerakkannya.” [8]

📌 Tata Cara Mengangkat Tangan Takbiratul Ihram

Tidak dibenarkan slowmotion (terlalu lama) atau terlalu cepat, dan di main-mainkan ke kanan ke kiri.  Hendaknya  kita melakukan secara wajar mengikuti sunah nabi. Di angkat sejajar bahu atau hampir sejajar bahu, bersamaan dengan takbir atau sebelum membaca takbirtul  ihram.

Berkata Syaikh Muhammad NashiruddinAl Albany Rahimahullah:

( البخاري وأبو داود وابن خزيمة ) و ( كان يرفع يديه تارة مع التكبير وتارة بعد التكبير وتارة قبله )
( أبو داود وابن خزيمة ) كان يرفعهما ممدودة الأصابع [ لا يفرج بينها ولا يضمها ] )

 ( البخاري وأبو داود ) و ( كان يجعلهما حذو منكبيه وربما كان يرفعهما حتى يحاذي بهما [ فروع ] أذنيه )

“Rasulullah mengankat kedua tangannya, kadang bersamaan dengan takbir, kadangkala setelah takbir, dan kadang kalasebelum takbir. “ (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Ibnu Khuzaimah)

“Rasulullah mengangkat kedua tangannya dengan jari terbuka (tidak merenggangkan dan tidak menggenggamnya) (HR. Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah)

“Rasulullah mengangkat tangannya hingga sampai sejajar kedua bahunya, dan terkadang sampai kedua telinganya.” (HR. Bukhari dan Abu Daud) [9]

Berkata Syaikh Sayyid SabiqRahimahullah:

والمختار الذي عليه الجماهير، أنه يرفع يديه حذو منكبيه، بحيث تحاذي أطراف أصابعه أعلى أذنيه، وإبهاماه شحمتي أذكيه، وراحتاه منكبيه.
قال النووي: وبهذا جمع الشافعي بين روايات الاحاديث فاستحسن الناس ذلك منه.
ويستحب أن يمد أصابعه وقت الرفع.
فعن أبي هريرة قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة رفع يديه مدا. رواه الخمسة إلا ابن ماجة.
وقت الرفع: ينبغي أن يكون رفع اليدين مقارنا لتكبيرة الاحرام أو متقدما عليها.
فعن نافع: أن ابن عمر رضي الله عنهما كان إذا دخل في الصلاة كبر ورفع يديه، ورفع ذلك إلى النبي صلى الله عليه وسلم.
رواه البخاري والنسائي وأبو داود.
وعنه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يرفع يديه حين يكبر حتى يكونا حذو منكبيه أو قريبا من ذلك.
الحديث رواه أحمد وغيره.
وأما تقدم رفع اليدين على كبيرة الاحرام فقد جاء عن ابن عمر قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة رفع يديه حتى يكونا بحذو
منكبيه ثم يكبر، رواه البخاري ومسلم.
وقد جاء في حديث مالك بن الحويرث بلفظ: (كبر ثم رفع يديه) رواه مسلم.
وهذا يقيه تقدم التكبيرة على رفع اليدين، ولكن الحافظ قال: لم أر من قال بتقديم التكبيرة على الرفع.

Riwayat yang dipilih oleh jumhur(mayoritas) adalah mengangkat tangan itu harus sejajar dengan kedua bahu sampai ujung jari sejajar dengan puncak kedua telinga, kedua ibu jari dengan ujung bawahnya serta kedua telapak tangan dengan kedua bahunya.

An Nawawi mengatakan: “Dengan cara ini Asy Syafi’i telah menghimpun beberapa riwayat hadits hingga ia mendapat pengakuan dari kalangan ulama.” Dan, disunnahkan merenggangkan jari jemari pada saat mengangkat tangan. Dari Abu HurairahRadhiallahu ‘Anhu:

“Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamhendak melakukan shalat maka beliau mengangkat kedua tangannya sambil merenggangkannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, An Nasa’i, dan At Tirmidzi kecuali Ibnu Majah)

Saat mengangkat kedua tangan. Hendaknya mengangkat kedua tangan itubersamaan waktunya dengan mengucapkan takbiratul ihram atau mendahulukannya sebelummembaca takbiratul ihram. Nafi’ berkata:

“Jika Ibnu Umar hendak memulai shalat, maka ia membaca takbir dan mengangkat kedua tangannya. Hal ini dinyatakannya berasal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari An Nasa’i dan Abu Daud)

Dari Nafi’ juga: “Bahwa RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya ketika takbir hingga sejajar dengan kedua bahu atau hamper sejajar dengannya.” (HR. Ahmad dan lainnya)
               
Adapun mendahulukan mengangkat kedua tangan sebelum takbiratul ihram, maka telah ada riwayat dari Ibnu Umar dia berkata: “Apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri hendak mengerjakan shalat maka beliau mengangkat kedua belah tangannya sehingga sejajar dengan kedua bahunya, lalu beliau membaca takbir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan telah diterima hadits dari Malik binAl Huwairits dengan lafaz: “Ia membaca takbir, lalu mengangkat kedua tangannya.” (HR. Muslim)

Hadits ini membolehkan mendahulukan takbir daripada mengangkat tangan. Akan tetapi, Al Hafizh (Ibnu Hajar) berkata: “Saya tidak pernah melihat adanya orang yang mengatakan bahwa didahulukannya takbir daripada mengangkat kedua tangan.”[10] Demikian.

Wallahu A’lam

🍃🍃🍃🍃🍃
                      
[1] HR. An Nasa’i, Kitab Al Iftitah Bab Maudhi’Al Yamin minasy Syimali fish Shalah, Juz. 3, Hal. 433 No hadits. 879. Ahmad, Juz.38, Hal. 331, No hadits. 18115.
[2] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany, Tamam Al Minnah, Juz. 1, Hal. 221.
[3] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 170. Lihat juga Imam An Nawawi,Al Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 454.
[4] Imam An Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 454-455. Darul Fikr.
[5] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Tamamul Minnah, Juz. 1, Hal. 217.
[6] HR. Ahmad, Juz. 12, Hal. 265, No hadits. 5728, Lihat pula Tamamul Minnah, Juz. 1 Hal. 220. Dan Shifah ash Shalah an Nabi, Hal. 159.
[7] Ibid
[8] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 171.  Lihat juga Imam An Nawawi, Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, Juz. 3, Hal. 455.
[9] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shifah Ash Shalah An Nabi, Hal.  86. Maktabah Al Ma’arif  Linasyr wat Tauzi’.
[10] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 142-143. 

Wallahu a’lam.

Selalu ada Bahaya Besar sebelum Kemenangan Besar​ ​(Ketika Sultan Mehmed II belum Bergelar Fatih)​

Sejak kemarin, 26 Mei, tahun 1453, Sultan Mehmed II masih terus dirayu oleh sadrazam-nya untuk mencabut kepungan atas Konstantinopel. Çandarli Halil Paşa menawarkan pendekatan kompromi terhadap Kaisar Konstantin XI. Mengajukan tuntutan upeti kepada kaisar merupakan salah satu usulannya. Keluarga Çandarli telah lama menjalin hubungan diplomatik antara Turki Utsmani dan Byzantium; upeti bukan barang baru dalam diplomasi.

Untung saja, Mehmed II telah lama melihat gelagat buruk ini. Beliau menempatkan panglima Zaganos Paşa pada posisi sadrazam-sani, satu tingkat dibawah sadrazam, dalam lingkar inti penasihatnya. Kepahlawanan Zaganos Paşa lebih dari cukup untuk mengimbangi pengaruh Halil Paşa. Sepertinya masih ada harapan untuk menggelorakan semangat tempur.

Hari ini, 27 Mei, tahun 1453, Mehmed II mengunjungi setiap kemah kesatuan tempurnya untuk meraba denyut juang pasukan barisan terdepan. Mehmed II tidak menemukan alasan untuk bersedih karena hampir semua kesatuan ingin menjadi yang pertama melampaui dinding pertahanan kota. Mehmed II menginstrusikan agar kisah Sahabat Abu Ayyub al-Anshari (ra) dibacakan kembali di setiap kemah kesatuan.

Tidak ada yang tahu bahwa 2 hari kemudian kota Konstantinopel jatuh ke tangan Kaum Muslimin Turki Utsmani. Nubuwwat Nabi SAW tentang pembebasan kota akhirnya terwujud setelah 8 abad lamanya.

Apa kiranya bahaya besar yang harus diatasi Kaum Muslimin di Indonesia sebelum Allah SWT memberkahi negeri ini dengan kemenangan yang besar?

Agung Waspodo
Depok, 27 Mei 2017

Arisan Kurban

Assalamualaikum  ustadz mau tanya ni
Gimana hukimnya arisan kurban
Apa kurbannya itu sah buat yg dapat nomer undinya ( si penenang arisan jurban) bukannya uang yg di buat kurban itu sama saja masih berhutang karna selesai kurban si pemenang tadi masih punya tanggungan
makasih☺☺

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Dalam arisan hakikatnya yang mendapat undian lebih dulu berhutang kepada anggota arisan tersebut. Dalam hal arisan kurban, sebagian ulama menganjurkannya meskipun harus berhutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim, ketia beliau ditanya mengapa berhutang untuk membeli unta kurban? Beliau menjawab, “Saya mendengar Allah berfirman”:
لكم فيها خير

“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” (QS. Al Hajj: 36)

Ulama lainnya yang membolehkan adalah Imam Ahmad.

Sedangkan yang menganjurkan untuk melunasi hutang daripada berkurban adalah Ibnu Utsamin yang tercantum dalam Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 dan 28826.

“Jika seseorang punya huttang maka selayaknya mendahuukan pelunasan hutangnya daripada berkurban.” (syarhul mumti’, 7/455)

Kesimpulan:
Jika arisan kurban adalah jalan yang ringan untuk kita berkurban dan kita yakin dapat menyelesaikan ewajiban membayar arsan tersebut, maka ikhtiar tersebut adalah suatu hal yang baik. Akan tetapi jika kita khawatir tidak mampu melunasi tanggungan hutang akibat arisan, maka lebih baik dihindari.

Wallahu a’lam.

Sejarah dan Keutamaan Al Aqsha Serta Kewajiban Melindunginya (Bag. 2)​

📌Masjid Al Aqsha Termasuk Tiga Masjid Yang Paling Dianjurkan Untuk Dikunjungi

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah bertekad kuat untuk melakukan perjalanan kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Masjidil Aqsha. (HR. Bukhari
No. 1132, 1139, Muslim No. 1338, Ibnu Majah No. 1409, 1410, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 19920)

Maksudnya adalah berkunjung untuk berniat shalat, janganlah terlalu bertekad kecuali ke tiga masjid ini. Ada pun sekedar, kunjungan biasa, silaturrahim, maka tentu tidak mengapa mengunjungi selain tiga masjid ini; seperti mengunjungi orang shalih, silaturrahim ke rumah saudara dan family, ziarah kubur, mengunjungi ulama, mendatangi majelis ilmu, berdagang, dan perjalanan kebaikan lainnya. Semua ini perjalanan kebaikan yang dibolehkan bahkan dianjurkan.

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:

أن النهي مخصوص بمن نذر على نفسه الصلاة في مسجد من سائر المساجد غير الثلاثة فإنه لا يجب الوفاء به قاله ابن بطال.

“Bahwa larangan dikhususkan bagi orang yang bernazar  atas dirinya untuk shalat di masjid selain tiga masjid ini, maka tidak wajib memenuhi nazar tersebut, sebagaimana dikatakan Ibnu Baththal.” (Fathul Bari, 3/65)

Imam Al Khathabi Rahimahullah mengatakan:

وأنه لا تشد الرحال إلى مسجد من المساجد للصلاة فيه غير هذه الثلاثة؛ وأما قصد غير المساجد لزيارة صالح أو قريب أو صاحب أو طلب علم أو تجارة أو نزهة فلا يدخل في النهي، ويؤيده ما روى أحمد من طريق شهر بن حوشب قال: سمعت أبا سعيد وذكرت عنده الصلاة في الطور فقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لا ينبغي للمصلي أن يشد رحاله إلى مسجد تبتغى فيه الصلاة غير المسجد الحرام والمسجد الأقصى ومسجدي”

“Bahwa sesungguhnya janganlah bertekad kuat mengadakan perjalanan menuju masjid untuk shalat di dalamnya selain tiga masjid ini. Ada pun bermaksud selain masjid-masjid ini untuk berziarah kepada orang shalih, kerabat, sahabat, menuntut ilmu, berdagang, atau berwisata, maka tidaklah termasuk dalam larangan. Hal yang menguatkan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalan Syahr bin Hausyab, dia berkata: aku mendengar Abu Said, dan aku menyebutkan padanya tentang shalat di Ath thur, dia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Hendaknya janganlah orang yang shalat itu bersungguh-sungguh mengadakan perjalanan untuk shalat menuju masjid  selain Masjidil Haram, Masjid Al Aqsha, dan masjidku (Masjid nabawi). (Ibid)

Bersambung ….

Arisan Kurban

Assalamualaikum  ustadz mau tanya ni
Gimana hukimnya arisan kurban
Apa kurbannya itu sah buat yg dapat nomer undinya ( si penenang arisan jurban) bukannya uang yg di buat kurban itu sama saja masih berhutang karna selesai kurban si pemenang tadi masih punya tanggungan
makasih☺☺

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Dalam arisan hakikatnya yang mendapat undian lebih dulu berhutang kepada anggota arisan tersebut. Dalam hal arisan kurban, sebagian ulama menganjurkannya meskipun harus berhutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim, ketia beliau ditanya mengapa berhutang untuk membeli unta kurban? Beliau menjawab, “Saya mendengar Allah berfirman”:
لكم فيها خير

“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” (QS. Al Hajj: 36)

Ulama lainnya yang membolehkan adalah Imam Ahmad.

Sedangkan yang menganjurkan untuk melunasi hutang daripada berkurban adalah Ibnu Utsamin yang tercantum dalam Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 dan 28826.

“Jika seseorang punya huttang maka selayaknya mendahuukan pelunasan hutangnya daripada berkurban.” (syarhul mumti’, 7/455)

Kesimpulan:
Jika arisan kurban adalah jalan yang ringan untuk kita berkurban dan kita yakin dapat menyelesaikan ewajiban membayar arisan tersebut, maka ikhtiar tersebut adalah suatu hal yang baik. Akan tetapi jika kita khawatir tidak mampu melunasi tanggungan hutang akibat arisan, maka lebih baik dihindari.

Wallahu a’lam.