AIR WUDHU

Ustadz Menjawab
Senin, 31 Oktober 2016
Ustadzah Rochma Yulikha

Assalamualaikum ustadz/ah.Minta petunjuk ya…sah tidak sebenarnya jikalau kita berwudhu menggunakan air di bak mandi besar atau kolam,  kita ambil menggunakan ember lalu di
tuang ke ember yg bisa mengalirkan air untuk memudahkan berwudhu(pancuran) ? Mohon penjelasan… ๐Ÿ…ฐ3โƒฃ8โƒฃ

Jawaban
———-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡
Boleh karena airnya punya standar yakni lebih 2 hasta. Meskipun kita ambil dari ciduk. Karena sumbernya dari kolam yg standar tadi.

Air Muthlaq

Air muthlaq ini biasa disebut pula air thohur (suci dan mensucikan). Maksudnya, air muthlaq adalah air yang tetap seperti kondisi asalnya. Air ini adalah setiap air yang keluar dari dalam bumi maupun turun dari langit. Sebagaimana Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ู’ู†ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ู…ูŽุงุกู‹ ุทูŽู‡ููˆุฑู‹ุง

โ€œDan Kami turunkan dari langit air yang suci.โ€ (QS. Al Furqon: 48)

Yang juga termasuk air muthlaq adalah air sungai, air salju, embun, dan air sumur kecuali jika air-air tersebut berubah karena begitu lama dibiarkan atau karena bercampur dengan benda yang suci sehingga air tersebut tidak disebut lagi air muthlaq.

Begitu pula yang termasuk air muthlaq adalah air laut. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah ditanyakan mengenai air laut, beliau pun menjawab,

ู‡ููˆูŽ ุงู„ุทู‘ูŽู‡ููˆุฑู ู…ูŽุงุคูู‡ู ุงู„ู’ุญูู„ู‘ู ู…ูŽูŠู’ุชูŽุชูู‡ู

โ€œAir laut tersebut thohur (suci lagi mensucikan), bahkan bangkainya pun halal.โ€ [1]

Air-air inilah yang boleh digunakan untuk berwudhu dan mandi tanpa ada perselisihan pendapat antara para ulama.

Bagaimana jika air muthlaq tercampur benda lain yang suci?

Di sini ada dua rincian, yaitu:

1. Jika air tersebut tercampur dengan benda suci dan jumlahnya sedikit, sehingga air tersebut tidak berubah apa-apa dan masih tetap disebut air (air muthlaq), maka ia boleh digunakan untuk berwudhu. Misalnya, air dalam bak yang berukuran 300 liter kemasukan sabun yang hanya seukuran 2 mm, maka tentu saja air tersebut tidak berubah dan boleh digunakan untuk berwudhu.

2. Jika air tersebut tercampur dengan benda suci sehingga air tersebut tidak lagi disebut air (air muthlaq), namun ada โ€œembel-embelโ€ (seperti jika tercampur sabun, disebut air sabun atau tercampur teh, disebut air teh), maka air seperti ini tidak disebut dengan air muthlaq sehingga tidak boleh digunakan untuk bersuci (berwudhu atau mandi).

Wallahu a’lam.

Wudhu Pakai Air Hangat, Bolehkah?

Senin, 30 Muharram 1438H / 31 Oktober 2016

FIKIH DAN HADITS

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Sebagian ulama ada yang memakruhkan berudhu dengan air hangat, berdasarkan hadits-hadits larangan berwudhu dengan air musyammas (air hangat karena panas matahari).

Dari Muhammad bin Al Fath, dari Muhammad bin Al Husein Al Bazaz, dari Amru bin Muhammad Al Aโ€™syam, dari Falih, dari Az Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, dia berkata:

ู†ู‡ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุฃู† ูŠุชูˆุถุฃ ุจุงู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุดู…ุณ ุฃูˆ ูŠุบุชุณู„ ุจู‡ ูˆู‚ุงู„ ุฅู†ู‡ ูŠูˆุฑุซ ุงู„ุจุฑุต

Rasulullah ๏ทบ melarang berwudhu atau mandi dengan air hangat karena terik matahari. Beliau mengatakan: itu dapat menyebabkan kusta. (HR. Ad Daruquthni, 1/38)

Hadits ini dhaif. Berkata Ad Daruqthni:
โ€œAmru bin Muhammad Al Aโ€™syam itu munkar haditsnya, tidak ada yang meriwayatkan dari Falih kecuali dirinya. Dan tidak shahih dari Az Zuhri.โ€  (Ibid)

Sehingga lemahnya hadits ini tidak cukup baginya untuk dijadikan acuan utama.
Jadi, wajar jika umumnya ulama membolehkannya untuk beruwdhu, baik hangat karena matahari atau direbus baik dengan api unggun atau listri.

Imam Asy Syafiโ€™i Rahimahullah berkata:

ูˆู„ุง ุฃูƒุฑู‡ ุงู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุดู…ุณ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠูƒุฑู‡ ู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ุทุจ

Aku tidak memakruhkan air musyammas (air hangat karena terik matahari), melainkan makruhnya itu dari sisi kedokteran saja.
(Maโ€™rifatus Sunan,23/507)

Imam Ali Al Qari Rahimahullah menjelaskan:

ูˆุงุนู„ู… ุฃู† ุงุณุชุนู…ุงู„ ุงู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุดู…ุณ ู…ูƒุฑูˆู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุตุญ ู…ู† ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุงู„ู…ุฎุชุงุฑ ุนู†ุฏ ู…ุชุฃุฎุฑูŠ ุฃุตุญุงุจู‡ ุนุฏู… ูƒุฑุงู‡ูŠุชู‡ ูˆู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ุซู„ุงุซุฉ ูˆุงู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุณุฎู† ุบูŠุฑ ู…ูƒุฑูˆู‡ ุจุงู„ุฅุชูุงู‚

Ketahuilah, bahwa menggunakan air musyammas itu makruh menurut yang shahih dari madzhab Syafiโ€™i, namun yang dipilih oleh Syafiโ€™iyah generasi belakangan adalah tidak makruh, dan itulah pendapat para imam yang tiga (Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad). Ada pun air rebusan TIDAKLAH MAKRUH menurut kesepakatan ulama. (Mirqah Al Mafatih, 2/422)

Sedangkan bertayamum karena air sangat dingin, dan dengan itu dia khawatir atas kesehatan dirinya,  juga tidak apa-apa. Syaikh Abu Bakar Al Jazairi Rahimahullah mengatakan:

Jika air sangat dingin dan tidak api yang bisa memanaskannya, dan dia yakin bisa sakit jika menggunakan air dingin tersebut, maka dia bisa bertayamum dan shalat dengannya, itu tidak apa-apa. Sebab Abu Daud meriwayatkan dengan sanadyang jayyid, bahwa Nabi ๏ทบ menyetujui Amr bin Al โ€˜Ash Radhiallahu โ€˜Anhu  melakukan itu. ( Minhajul Muslim, Hal. 141, Cat kaki No. 4. Maktabah Al ‘Ulum wa Hikam. Madinah)

Wallahu A’lam

Ibu Tiri dalam Islam โ€“ Posisi, Hak, dan Kewajibannya

Ustadz Menjawab
Ahad, 30 Oktober 2016
Ustadz Wawan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
 Ada kah yg bisa Bantu saya.. artikel ttg hak seorang IBU tiri??apakah mempunyai kedudukan yg sama??

Jawaban
———

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡
Posisi Ibu Tiri dalam Garis Keluarga menurut Islam

Secara umum ibu tiri bisa diartikan sebagai ibu yang tidak mengandung, melahirkan, atau menyusi anaknya. Ibu tiri adalah hasil dari pernikahan Ayah setelah ibu kandung tiada atau mengalami perceraian. Ibu tiri erat kaitannya dengan posisi atau status yang rendah atau bahkan dikesampingkan karena dianggap bukan ibu asli dari anak-anak sang suami.

Posisi ibu tiri dalam Islam dapat dilihat dari posisinya dalam garis keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa sebetulnya ibu tiri merupakan keluarga sah yang bergabung dengan keluarga suaminya dan berlaku sebaliknya. Dalam hali ini ibu tiri pun juga termasuk di dalam pengertian mahram dalam islam.

Istri yang sah dari Suami (dari terjadinya akad nikah)

Seorang ibu tiri tentunya adalah istri yang sah bagi suaminya. Tentunya seorang wanita yang dinikahi secara sah dalam kaidah-kadiah dan sesuai syarat-syarat akad nikah dalam islam adalah menjadi tanggung jawab suaminya. Begitupun istri yang sah dari pernikahan sesuai rukun nikah dalam islam, walaupun bukan istri pertama atau ibu dari anak anak suami, memiliki tanggung jawab sebegaimana seorang ibu atau istri dalam ajaran islam. Selagi pernikahan itu sah dan terdapat wali nikah yang sah, maka wanita menjadi istri yang sah bagi suami.

Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:

โ€œWanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batalโ€

Ibu Tiri adalah Ibu yang sah (mahram) bagi Anak dari Suami

Dengan menikahnya laki-laki yang memiliki anak dengan seorang perempuan, maka anak dari laki-laki tersebut menjadi anak dan mahram pula bagi perempuan yang sudah dinikahi. Maka anak dari laki-laki tersebut selama-lamanya berstatus anak yang resmi dan mahram bagi perempuan. Secara otomatis, (walaupun berstatus anak tiri) maka selama-lamanya pula tidak boleh menikah dengan ibu tirinya walaupun suatu waktu telah bercerai pada ayahnya, karena ibu tiri bagi anaknya adalah muhrim dalam islam. Untuk itu ibu tiri adalah wanita yang haram dinikahi dalam islam oleh anak tirinya.

Hal ini dijelaskan dalam QS. Annisa : 22

โ€œDan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)โ€

Untuk itu, ibu tiri adalah adalah ibu yang sah atau resmi dan berstatus mahram bagi anak-anak dari suami.

Ibu Tiri yang memiliki anak, adalah anak pula bagi suaminya

Apabila Laki-laki menikahi perempuan yang memiliki anak (janda), dan setelah berhubungan seksual, maka anak-anak dari perempuan tersebut pun menjadi anak dan mahram dari laki-laki tersebut (suami). Maka sampai kapanpun laku-laki tersebut diharamkan untuk menikahi anak dari perempuan tersebut, walaupun sudah bercerai dari istrinya. Dalam fiqh pernikahan, maka ibu tiri pun dilarang dinikahi oleh anak-anak suaminya walaupun sudah bercerai dengan ayahnya.

Hal ini dijelaskan pula dalam Al Quran, QS : An Nisa : 23

โ€œDiharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayangโ€

Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa jika terjadi pernikahan antara perempuan dan laki-laki yang salah seorang atau keduanya memiliki anak, maka terjadi hukum yang berlaku pula pada anak-anak mereka. Hukum tersebut disebut dengan tahrim muโ€™abbad yaitu larangan untuk melakukan perkawinan selama-lamanya, walau ayah dan ibu dari anak anak tersebut sudah bercerai.

Hak Ibu Tiri dalam Islam

Karena seorang ibu tiri adalah istri yang sah dari suaminya, maka kita bisa melihat hak-hak apa saja yang bisa didapatkan seorang istri walaupun dinikahi bukan pertama kalinya oleh sang suami. Hal-hal tersebut merupakan kewajiban suami terhadap istri dalam islam. Berikut adalah hak-hak yang bisa didapatkan seorang ibu tiri sebagaimana seorang istri,

Mendapatkan Nafkah dari Suaminya

Seorang istri walaupun ia seorang ibu tiri bagi anak-anak suaminya, ia berhak untuk mendapatkan nafkah dari suaminya. Untuk itu seorang suami berkewajiban untuk memberikan nafkah pada istrinya, walaupun secara status bukan ibu kandung dari anak anaknya.
Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah : 233

โ€œDan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara maโ€™ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakanโ€

Memperoleh Tempat tinggal yang layak dari suaminya

Ibu tiri sebagaimana istri, ia berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak dari suaminya. Tidak dibedak-bedakan sebagaimana ibu tiri statusnya bukan istri pertama atau bukan ibu asli dari anak anaknya. Namun suami berkewajiban memberikan tempat tinggal yang layak. Islam menjelaskannya dalam Qs. Ath-Thalaq : 6

โ€œTempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknyaโ€

Mendapat pergaulan dan perlakuan yang baik dari suaminya

Pergaulan dan perlakuan yang baik pun berhak didapatkan oleh istrinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nisa : 19

โ€œDan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyakโ€

Begitupun keadilan yang harus diterima oleh sang istri, dijelaskan dalam QS : Annisa : 3

โ€œDan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniayaโ€

Mendapat mutโ€™ah atau harta jika ia dicerai

Jika seorang istri bercerai dengan suaminya, atau suami telah menjatuhkan talak, apapun status bagi anak anaknya, maka ia berhak mendapatkan mutโ€™ah atau harta dari perceraian tersebut. Persoalan mutโ€™ah ini disampaikan Allah dalam QS. Al-Baqarah : 241

โ€œKepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mutโ€™ah menurut yang maโ€™ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwaโ€

Mendapat warisan dari harta suami

Begitupun jika suami meninggal, maka istri pun berhal mendapatkan warisan dari harta suaminya. Walaupun berstatus ibu tiri anak-anak dari suami tidak boleh iri atau protes karena hal tersebu merupakan hak istri yang dijelaskan dalam QS. Yusuf : 14

โ€œโ€ฆโ€ฆ.Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmuโ€ฆ..โ€

Hal-hal tersebut bisa didapatkan seorang istri dan ibu tiri sekalipun, jika ia sendiri pun menjadi istri yang dalam kriteria calon istri menurut islam dan menjadi istri dengan ciri-ciri istri shalehah dalam islam.

Kewajiban Ibu Tiri terhadap Anak dan Keluarganya

Seorang ibu tiri yang berstatus seorang istri dari suami yang telah memiliki anak tentunya berkewajiban pula untuk berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya. Walaupun ibu tiri bukanlah ibu kandung, perbedaannya pada sisi mengandung, melahirkan, dan menyusui, maka itu ia tetap berperan dan berkewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsi orang tua sampai kapanpun itu.

Orang tua sebagaimanapun kesibukan dan statusnya, ia tetap berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya. Memberikan pengarahan yang benar, memberikan pengetahuan, membentuk moral dan karakter pada anak-anaknya. Jika anak-anaknya sudah dewasa ia pun tetap bertugas untuk menjaga anak-anaknya dari pandangan yang salah.

Maka, tugas dari seorang ibu tiri adalah :
โ€ข Memberikan pendidikan pada anak
โ€ข Menjaga, melindungi, dan memberikan kasih sayang seorang ibu
โ€ข Memperlakukan anak lemah lembut, tidak emosi, dan menganggap anak bukan bagian dari kewajibanya, karena sifat marah dalam islambukanlah hal baik terutama untuk anak.
โ€ข Menjaga nama baik keluarganya dan tidak berbuat yang dapat merusak keutuhan rumah tangga
โ€ข Mengasuh, menjaga anak anak sebagaimana ia terhadap suaminya dengan cinta yang utuh

Kewajiban Anak terhadap Ibu Tiri

โ€œDan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan โ€œahโ€ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, โ€˜Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecilโ€
(QS Al-Isra : 23-24)

Sebagaimana disampaikan di Al Quran maka anak tiri terhadap ibu tiri memiliki kewajiban yang sebagaimana terhadap ibu kandungnya :

โ€ข Berbuat baik, kepada kedua orang tuanya yang masih ada, hal ini termasuk ibu tiri
โ€ข Tidak berkata kasar, melawan atau membantah perintahnya yang baik
โ€ข Menjaga dan memelihara terutama saat sudah memasuki usia uzur (lanjut usia)
โ€ข Mendoakan kebaikan, bukan keburukan kepada orang tua
โ€ข Membantu kesulitan orang tua dan meringankan bebannya

Dalam hal ini tidak ada istilah anak tiri tidak bisa menerima ibu tirinya, karena jika sudah berstatus istri dari ayahnya, maka anak tetap harus menghormati, menghargai, dan berbuat baik kepada ibu tiri tersebut.

Ibu Tiri sama Mulianya sebagaimana Ibu Kandung

Ibu tiri bukanlah ibu sampingan. Jika ibu tiri berbuat sebagaimana ibu kandung memperlakukan anak-anak dan keluarganya dengan baik tentunya akan membawakan kemuliaan, kebaikan di dunia dan akhirat, selayaknya ibu kandung yang juga bertugas dan berkewajiban seperti itu untuk anak-anak dan keluarganya.

Islam tidak pernah memandang rendah ibu tiri melainkan mengangkat derajat seseorang bukan karena statusnya, akan tetapi dari bagaimana perilaku, moral, dan amaliah yang dilakukan.

Wallahu a’lam

Sungguh Kematiaan Adalah Muara Bagi manusia

Ahad, 29 Muharram 1438H / 30 Oktober 2016

TAZKIYATUN NAFS

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Sejenak kita ingat Quran surat Al Anbiya ayat 1,
โ€œTelah dekat kepada manusia harmanusiahisab segala amalan mereka, sedang mereka berda dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).โ€

Begitu juga dalam firman Allah surat Ibrahim ayat 44, โ€œDan berikanlah peringatan kepada menuais terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: โ€˜Ya Tuhan kami tangguhkan kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….โ€

Tersentak diri tanpa sadar sudah di ujung usia. Sang malakul maut pun menghampiri diri yang lemah ini. Tak kuasa menolak ketetapan Nya. Semua akan kita tinggalkan dan hanya amal sebagai bekalan. Tak sia-siakan kesempatan kala nyawa masih dikandung badan.

Bergegas untuk memperbanyak amalan. Yang mati tak bisa dihidupkan dan yang hidup tinggal menunggu kepastian kapan saat itu tiba.

Kematian awal sebuah perjalanan yang panjang. Kubur sebagai pertanda pindahnya fase dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Lantas seperti apa kubur kita? Apa ia kan menjadi taman surga yang indah lagi mempesona atau menjadi jurang neraka yang kelam lagi mengerikan?

Amal kita lah yang akan menentukan seperti apa kubur kita kelak.
Bila menjadi taman surga kebahagiaan bisa dirasakan sembari menunggu hari kiamat tiba. Waktu berlalu tanpa dirasa, hingga sangkakala dibunyikan.

Namun, jika neraka yang dihadirkan di kubur kita, seolah lama sekali menunggu tiba berakhirnya.

Masya Allah….
Bila mengingat dahsyatnya peristiwa kematian, diri tersadar tak ingin lagi hidup dalam kesia-siaan.

Namun terkadang diri terjatuh dalam ketergodaan. Dan tugas kita bersegera bangkit untuk selalu melakukan perbaikan. Berharap Allah kan beri ampunan dan saat ajal menjelang semua dosa kan termaafkan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar,โ€Kami bersepuluh datang kepada Rasululla SAW, ketika seorang anshar berdiri dan bertanya:โ€Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?โ€

Maka Rasulullah SAW menjawab, โ€Mereka adalah yang sering mengingat kematian. Merekalah orang-orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.โ€ (HR. Ibnu Majjah).

Memperbanyak mengingat kematian akan mendatangkan kemuliaan. Merasa takut akan azab Nya saja mampu menghapus diri dari dosa. Bahkan para sahabat Rasulullah sampai membuat liang lahat di dalam rumahnya untuk mengingatkan diri sendiri.

Kala iman melemah mereka masuk ke liang lahat dan menutupnya rapat-rapat untuk bermuhasabah. Menyadari khilaf dan alpa supaya bersemangat mengumpulkan pahala.

Allahu Akbar.
Kematian sebuah kisah kepastian yang kita tak mampu merubah skenario Nya. Air mata, duka nestapa, ratapan sanak saudara tak mampu hentikan alur cerita yang sudah ditetapkan oleh Nya. Selagi nafas masih ada, tetaplah bertahan di jalan kebenaran. Untuk menangkap peluang berbuat kebajikan serta menebar kebaikan. Agar tak menyesal kala waktu habis tak tersisa lagi untuk kita.

Hidup di dunia diibaratkan kita sedang bercocok tanam di ladang, dan kelak hasil dari cocok tanam tersebut akan kita tuai pada kehidupan setelah mati, yakni kehidupan di akhirat.

Hidup di dunia hanya senda gurau, permainan yang tak lebih hanya sebagai terminal kehidupan menuju sebuah hidup yang lebih kekal dan hakiki.

Adanya kehidupan setelah mati merupakan hal yang wajib dipercaya oleh mereka yang memiliki agama. Segala bentuk tindakan yang pernah kita lakukan selama di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Inilah yang menyebabkan kita tak boleh begitu larut dengan indahnya kehidupan dunia. Sebab akan ada proses hitung-hitungan yang akan kita jalani kelak di hadapan Tuhan.

Jika kita buruk selama di dunia niscaya Tuhan akan memberi balasan yang setimpal dengan keburukan kita.
Sebaliknya jika kita baik, maka Tuhan akan memberi balasan berupa keindahan surga yang sangat dinanti-nanti oleh manusia. Inilah makna kehidupan yang sebenarnya.

Indahnya gemerlap kehidupan di dunia sering membuat manusia lupa dengan hakikat dan makna kehidupan. Manusia merasa seolah mereka akan hidup selamanya di dunia. Mereka lupa bahwa akan ada kehidupan sejati yang akan dilalui. Segala bentuk ketidakadilan yang dialami manusia selama di dunia akan diadili di akhirat kelak.

Di sanalah pengadilan yang tak akan pernah sedikit pun menzalimi para peserta pengadilan tersebut.

Manusia penting mengingat mati, sebab itu akan mendorong dirinya cerdas dalam mengahadapi segala hal kehidupan di dunia. Ia tak akan tertipu dengan kemewahan dunia.

Bahkan dikatakan bahwa orang yang paling pintar adalah orang yang selalu rajin mengingat kematian atau disebut dengan zikrul maut.

Sebab kematian adalah sesuatu yang rahasia, hanya Allah yang tahu kapan seorang hamba akan ia panggil kembali.

Wallahu A’lam

Seri Memahami Diri

Jum’at, 27 Muharam 1438 H/28 Oktober 2016

Pengembangan Diri & Motivasi

Bunda Heni & Tim

============================

Memelihara tanaman memungkinkan kita memberi tanpa mengharapkan balasan, ucapan terima kasih atau penghargaan. Memang benar tanaman hanya meminta sedikit perhatian. Hanya air dan sinar matahari. Dalam hal material pun, tanaman bahkan hanya memberikan. Sedikit imbalan. Meskipun demikian, rumah yang dihiasi tanaman semakin populer karena terkesan lebih dekoratif. Mungkin kita menanam tanaman karena memenuhi kebutuhan penting manusia: kebutuhan untuk selalu dibutuhkan.

Sebuah pot tanaman yang ada di balkon jatuh. Anda segera keluar untuk melihat kerusakannya. Apa yang Anda lihat?

1โƒฃ Tanaman jatuh dan tetap utuh.

2โƒฃ Pot rusak,tapi tanaman tidak rusak.

3โƒฃ Pot dan tanaman rusak tanpa dapat diperbaiki.

4โƒฃ Karena alasan tertentu, pot dan tanaman tidak terlihat.

Yukss dipilih..dan tunggu penjelasan nya di hari sabtu..

GELAR ALAIHIS SALAM DALAM SHAHIH BUKHORI

Ustadz Menjawab
Sabtu, 29 Oktober 2016
Ustadz Wawan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
apakah ada dalam shahih bukhori yang menyebutkan ali bin abi thalib alaihisalam(ada penambahan alaihisalam)?mohon jawabannya
# i-23

Jawaban
———-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡
Dalam bukhari yang menggunakan alaihi/ha salam ada 5 orang.

Berikut beberapa di antara teks hadits yang memberikan gelar alaihissalam kepada ahlul bait:

Ali bin Abi Thalib alaihissalam

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏูŽุงู†ู ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ูŠููˆู†ูุณู ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุดูู‡ูŽุงุจู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ููŠ ุนูŽู„ููŠู‘ู ุจู’ู†ู ุญูุณูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุญูุณูŽูŠู’ู†ูŽ ุจู’ู†ูŽ ุนูŽู„ููŠู‘ู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ููŠู‘ู‹ุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู… ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู„ููŠ ุดูŽุงุฑูููŒ ู…ูู†ู’ ู†ูŽุตููŠุจููŠ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ู†ูŽู…ู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุนู’ุทูŽุงู†ููŠ ุดูŽุงุฑููู‹ุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฎูู…ู’ุณู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุฑูŽุฏู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุจู’ุชูŽู†ููŠูŽ ุจูููŽุงุทูู…ูŽุฉูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู… ุจูู†ู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุงุนูŽุฏู’ุชู ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุตูŽูˆู‘ูŽุงุบู‹ุง ู…ูู†ู’ ุจูŽู†ููŠ ู‚ูŽูŠู’ู†ูู‚ูŽุงุนูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฑู’ุชูŽุญูู„ูŽ ู…ูŽุนููŠ ููŽู†ูŽุฃู’ุชููŠูŽ ุจูุฅูุฐู’ุฎูุฑู ุฃูŽุฑูŽุฏู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠุนูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽูˆู‘ูŽุงุบููŠู†ูŽ ูˆูŽุฃูŽุณู’ุชูŽุนููŠู†ูŽ ุจูู‡ู ูููŠ ูˆูŽู„ููŠู…ูŽุฉู ุนูุฑูุณููŠ

“Telah menceritakan kepada kami โ€˜Abdan yang berkata telah mengabarkan kepada kami โ€˜Abdullah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ali bin Husain bahwa Husain bin Ali radiallahuanhuma mengabarkan kepadanya bahwa Ali Alaihis Salam berkata, Aku memiliki seekor unta yang kudapat dari ghanimah dan Rasulullah memberikan unta kepadaku dari bagian khumus (seperlima). Ketika aku ingin menikahi Fathimah Alaihas Salam binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam aku menyuruh seorang laki-laki pembuat perhiasan dari bani Qainuqaโ€™ untuk pergi bersamaku maka kami datang dengan membawa wangi-wangian dari daun idzkhir, aku jual yang hasilnya kugunakan untuk pernikahanku.”
[Shahih Bukhari 3/60 no 2089].

Fathimah Alaihassalam

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ููŠ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุจูŽุดู‘ูŽุงุฑู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุบูู†ู’ุฏูŽุฑูŒ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุดูุนู’ุจูŽุฉู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุฅูุณู’ุญูŽุงู‚ูŽ ุนูŽู†ู’ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ู…ูŽูŠู’ู…ููˆู†ู ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุณูŽุงุฌูุฏูŒ ูˆูŽุญูŽูˆู’ู„ูŽู‡ู ู†ูŽุงุณูŒ ู…ูู†ู’ ู‚ูุฑูŽูŠู’ุดู ุฌูŽุงุกูŽ ุนูู‚ู’ุจูŽุฉู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ู…ูุนูŽูŠู’ุทู ุจูุณูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽุฒููˆุฑู ููŽู‚ูŽุฐูŽููŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุธูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ููŽุนู’ ุฑูŽุฃู’ุณูŽู‡ู ููŽุฌูŽุงุกูŽุชู’ ููŽุงุทูู…ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู… ููŽุฃูŽุฎูŽุฐูŽุชู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุธูŽู‡ู’ุฑูู‡ู ูˆูŽุฏูŽุนูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ุตูŽู†ูŽุนูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽุฃูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูุฑูŽูŠู’ุดู ุฃูŽุจูŽุง ุฌูŽู‡ู’ู„ู ุจู’ู†ูŽ ู‡ูุดูŽุงู…ู ูˆูŽุนูุชู’ุจูŽุฉูŽ ุจู’ู†ูŽ ุฑูŽุจููŠุนูŽุฉูŽ ูˆูŽุดูŽูŠู’ุจูŽุฉูŽ ุจู’ู†ูŽ ุฑูŽุจููŠุนูŽุฉูŽ ูˆูŽุฃูู…ูŽูŠู‘ูŽุฉูŽ ุจู’ู†ูŽ ุฎูŽู„ูŽูู ุฃูŽูˆู’ ุฃูุจูŽูŠู‘ูŽ ุจู’ู†ูŽ ุฎูŽู„ูŽูู ุดูุนู’ุจูŽุฉู ุงู„ุดู‘ูŽุงูƒู‘ู ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู‡ูู…ู’ ู‚ูุชูู„ููˆุง ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุจูŽุฏู’ุฑู ููŽุฃูู„ู’ู‚ููˆุง ูููŠ ุจูุฆู’ุฑู ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุฃูู…ูŽูŠู‘ูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุฎูŽู„ูŽูู ุฃูŽูˆู’ ุฃูุจูŽูŠู‘ู ุชูŽู‚ูŽุทู‘ูŽุนูŽุชู’ ุฃูŽูˆู’ุตูŽุงู„ูู‡ู ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูู„ู’ู‚ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุจูุฆู’ุฑู

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ghundar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syuโ€™bah dari Abu Ishaq dari Amru bin Maimun dari Abdullah RA yang berkata ketika Nabi SAW sedang sujud disekeliling Beliau ada orang-orang Quraisy kemudian Uqbah bin Abi Muโ€™aith datang dengan membawa isi perut hewan dan meletakkannya di punggung Nabi SAW. Beliau tidak mengangkat kepala Beliau sampai akhirnya Fathimah Alaihas Salam datang dan membuangnya dari punggung Beliau dan memanggil orang yang melakukan perbuatan tersebut. Nabi SAW berkata โ€œya Allah aku serahkan para pembesar Quraisy kepadamu Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabiโ€™ah, Syaibah bin Rabiโ€™ah, Umayah bin Khalaf atau Ubay bin Khalafโ€. Dan sungguh aku melihat mereka terbunuh dalam perang Badar. Kemudian mereka dibuang ke sumur kecuali Umayyah atau Ubay karena dia seorang yang badannya besar ketika badannya diseret anggota badannya terputus-putus sebelum dimasukkan kedalam sumur.”
[Shahih Bukhari 5/45 no 3854]

Sebutan Alaihas Salam kepada Fathimah dapat ditemukan di banyak tempat dalam Shahih Bukhari bahkan Bukhari sendiri membuat judul khusus dengan kata-kata:

ู…ู†ุงู‚ุจ ู‚ุฑุงุจุฉ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูˆู…ู†ู‚ุจุฉ ูุงุทู…ุฉ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุณู„ุงู… ุจู†ุช ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…

“Keutamaan Kerabat Rasulullah ๏ทบ dan Keutamaan Fathimah Alaihassalam binti Nabi ๏ทบ”
[Shahih Bukhari 5/20 kitab Al Manaqib]

ุจุงุจ ู…ู†ุงู‚ุจ ูุงุทู…ุฉ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุณู„ุงู…

“Bab ; Keutamaan Fathimah Alaihas Salam”
[Shahih Bukhari 5/29 kitab Al Manaqib]

Hasan bin Ali Alaihis Salam

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ููŠ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุนูŽู„ููŠู‘ู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุงุจู’ู†ู ููุถูŽูŠู’ู„ู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุฅูุณู’ู…ูŽุงุนููŠู„ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุฎูŽุงู„ูุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฃูŽุจูŽุง ุฌูุญูŽูŠู’ููŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ุจู’ู†ู ุนูŽู„ููŠู‘ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ูŽุง ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู… ูŠูุดู’ุจูู‡ูู‡ู ู‚ูู„ู’ุชู ู„ูุฃูŽุจููŠ ุฌูุญูŽูŠู’ููŽุฉูŽ ุตููู’ู‡ู ู„ููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุจู’ูŠูŽุถูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุดูŽู…ูุทูŽ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽู„ููˆุตู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู‚ูุจูุถูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ู†ูŽู‚ู’ุจูุถูŽู‡ูŽุง

“Telah menceritakan kepadaku Amru bin Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abi Khalid yang berkata aku mendengar Abu Juhaifah RA berkata โ€œAku melihat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan Hasan bin Ali Alaihimas Salam sangat mirip dengan Beliauโ€. Aku [Ismail] bertanya kepada Abu Juhaifah โ€œCeritakan sifat Beliau kepadaku?โ€. Abu Juhaifah berkata โ€œBeliau berkulit putih, rambut Beliau sudah beruban dan Beliau pernah memerintahkan untuk memberi 13 anak unta kepada kamiโ€. Ia kemudian berkata โ€œNabi SAW wafat sementara kami belum sempat mengambil pemberian Beliau tersebutโ€.
[Shahih Bukhari 4/187 no 3544]

Husain bin Ali Alaihis Salam

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏูŽุงู†ู ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ูŠููˆู†ูุณู ุนูŽู†ู’ ุงู„ุฒู‘ูู‡ู’ุฑููŠู‘ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ููŠ ุนูŽู„ููŠู‘ู ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุญูุณูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุญูุณูŽูŠู’ู†ูŽ ุจู’ู†ูŽ ุนูŽู„ููŠู‘ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ูŽุง ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู… ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ููŠู‘ู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู„ููŠ ุดูŽุงุฑูููŒ ู…ูู†ู’ ู†ูŽุตููŠุจููŠ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ู†ูŽู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุจูŽุฏู’ุฑู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุนู’ุทูŽุงู†ููŠ ุดูŽุงุฑููู‹ุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฎูู…ูุณู

“Telah menceritakan kepada kami โ€˜Abdan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abdullah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ali bin Husain bahwa Husain bin Ali Alaihimas Salam mengabarkan kepadanya bahwa Ali berkata โ€œAku memiliki seekor unta yang kudapat dari bagian ghanimah dalam perang badar dan Nabi SAW memberiku unta dari bagian khumus (seperlima)โ€ฆ”
[Shahih Bukhari 4/78 no 3091]

Banyak orang mempertanyakan kebenaran penyebutan gelar โ€˜Alaihimussalamโ€™ setelah nama-nama Ahlulbait Nabi ๏ทบ. Sebagian dari mereka menyangka bahwa hal itu adalah perbuatan orang-orang Syiah, bukan Ahlussunnah.

Pertama

Dalam berbagai buku rujukan hadits utama Ahlussunnah disebutkan berulangkali kata โ€˜As-salamโ€™ atas tokoh-tokoh Ahlulbait Nabi ๏ทบ, bahkan adakalanya dirangkaikan dengan kata โ€˜was-shalatu โ€˜alaihimโ€™.

Contohnya dalam kitab Shahih Al-Bukhari:

1. Kitab Kusuf, Bab Tahridh Al-Nabi ๏ทบ โ€˜ala Shalat Al-Layl wa Al-Nawafil min ghairi Ijabi, wa Tharaqa Al-Nabiyy ๏ทบ Fathimata wa โ€˜Aliyyan โ€˜alaihimassalam (salam atas keduanya).

2. Kitab Al-Hibah, Bab Idza wahaba daynan โ€˜ala rajulin, Syuโ€™bah berkata dari Al-Hakam, bahwa hal itu diperbolehkan sebagaimana Al-Hasan bin Ali โ€˜alaihimassalam (salam atas keduanya) memberikan hutang kepada seseorang.

3. Kitab Jihad wa Al-Sayr, Sahl r.a ditanya tentang luka Nabi ๏ทบ pada peristiwa perang Uhud, ia menjawab, โ€œMaka Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) membersihkan darah beliau Saw.

4. Bab Fardh Al-Khumus, Al-Zuhri berkata, Ali bin Al-Husein menceritakan kepadaku bahwa Husein bin Ali โ€˜alaihimassalam (salam atas keduanya) menceritakan bahwa Ali berkata, โ€œAku memperoleh bagian dari rampasan perang Badar.โ€

5. Bab Duโ€™a Al-Nabiyy Saw, bahwa Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) putri Rasulullah ๏ทบ meminta bagian warisan dari Rasulullah Saw kepada Abu Bakar As-Shiddiq r.a setelah Rasulullah ๏ทบ wafatโ€ฆ

6. Bab Duโ€™a Al-Nabiyy Saw, bahwa Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) mengeluhkanโ€ฆ

7. Bab Duโ€™a Al-Nabiyy Saw, sehingga Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) datang dan mengambil dari punggung beliauโ€ฆ

8. Bab Shifat Al-Nabiyy ๏ทบ, โ€œAku melihat Nabi ๏ทบ dan Al-Hasan bin Ali โ€˜alaihimassalam (salam atas keduanya) sangat mirip dengan beliau.โ€

9. Bab Manaqib Al-Muhajirin, Ali menyampaikan kepadaku bahwa Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) mengeluhkan bekas lukanya akibat penggiling gandum.

10. Bab Manaqib Qarabah Rasulullah ๏ทบ wa Manqibah Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya), bahwa Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) menuliskan surat kepada Abu Bakarโ€ฆ

11. Bab Qisshah Ghazwah Badr, bahwa Ali berkataโ€ฆ ketika aku ingin memberikannya kepada Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya)โ€ฆ

12. Bab Ghazwah Uhud, Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) putri Rasulullah ๏ทบ membersihkannya.

13. Bab โ€˜Umrah Al-Qadhaโ€™, dan berkata kepada Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya)โ€ฆ

14. Bab Maradh Al-Nabiyy ๏ทบ, Nabi Saw memanggil Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) ketika beliau sakit menjelang wafat.

15. Bab Maradh Al-Nabiyy ๏ทบ, ketika beliau akan dikebumikan, Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) berkata, โ€œWahai Anas, apakah engkau tega menyegerakan penguburan Rasulullah ๏ทบ?

16. Bab Surah Al-Dzariyat,  Ali โ€˜alaihissalam (salam atasnya) berkata, โ€œAl-Dzariyatโ€ฆโ€

17. Ali bin Al-Husein โ€˜alaihimassalam (salam atas keduanya) berkataโ€ฆ

18. Kitab Al-Dzabaโ€™ih wa Al-Shaid, Al-Hasan โ€˜alaihissalam (salam atasnya) naik ke atas pelana yang terbuat dari kulit berang-berang.

19. Kitab Al-Thibb, ketika Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) melihat darah, maka ia menambahkan air.

20. Kitab Al-Adab, Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) berkata, โ€œRasulullah ๏ทบ memberi isyarat kepadaku, maka aku tertawaโ€ฆโ€

21. Kitab Al-Adab, โ€˜Uday bin Tsabit berkata, โ€œAku mendengar Al-Barraโ€™  berkata, โ€˜Ketika Ibrahim โ€˜alaihissalam (putra Rasulullah dari Mariah Al-Qibthiyyah)wafat, Rasulullah ๏ทบ berkata,โ€ฆ

22. Kitab Al-Istiโ€™dzan, Rasulullah ๏ทบ mengunjungi rumah Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) dan Ali tidak ada di dalamnya.

23. Kitab Al-Istiโ€™dzan, Masruq diceritakan oleh Aisyah ummul mukminin r.a, โ€œSuatu kali kami para istri Nabi berada di sisi beliau, maka Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) datang.

24. Kitab Al-Iโ€™tisham bil Kitab wa Al-Sunnah, dan Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) putri Rasulullah ๏ทบ.

25. Kitab Al-Daโ€™awat, Ali menyampaikan bahwa Fathimah โ€˜alaihassalam (salam atasnya) mengeluhkan bekas luka di tangannya akibat penggiling gandum.

26. Kitab Al-Tauhid, Ali bin Al-Husein berkata bahwa Husein bin Ali โ€˜alaihimassalam (salam atas keduanya) menyampaikan kepadanya.

Contoh dari kitab-kitab hadis lainnya:

Musnad Ahmad, jilid II, Rasulullah ๏ทบ bersabda pada perang Khaibar, โ€œNiscaya aku berikan panji kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah akan membuka kepadanya. Umar pun berkata, โ€˜Aku tidaklah mencintai kedudukan sebelum hari itu, dan aku berangan-angan mendapatkan kehormatan dengan memperolehnya. Ketika hari esok tiba, beliau memanggil Ali โ€˜alaihissalam (salam atasnya) dan memberikan panji kepadanya dan bersabda, โ€œBerperanglah tanpa menoleh sehingga engkau membuka (gerbang Khaibar-).

Shahih Muslim, Kitab Fadhail Al-Shahabah, Bab Fadhilah Fathimah binti Nabi โ€˜alaihassalam (salam atasnya).

Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Shalah, Bab Al-Rajul yushalli โ€˜aqishan syaโ€™rahu, Al-Hasan bin Ali menceritakan kepada kami, โ€ฆ bahwasanya beliau melihat Abu Rafiโ€™ pembantu Rasulullah Saw melewati Hasan bin Ali โ€˜alaihimassalam (salam atas keduanya) yang sedang shalat โ€ฆ

Kedua

Perbedaan pendapat di antara orang-orang berilmu adalah seputar penyebutan kata โ€˜Ash-Shalatโ€™ bukan pada โ€˜As-Salamโ€™ kepada selain para Nabi secara terpisah. Menurut Imam Malik dan Syafiโ€™i dianjurkan menyertakan Ash-Shalat dan As-Salam atas para Nabi. Sementara Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan penyebutan terpisah atas selain para Nabi.

Dalil yang membolehkan hal itu adalah firman Allah ๏ทป, โ€˜Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu dapat membersihkan dan mensucikan harta mereka. Dan berdoalah untuk mereka (wa shalli โ€˜alaihim), karena doamu akan membuat tenang jiwa mereka. Sesungguhnya Allah ๏ทป Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (QS. Al-Taubah [9]: 103). dan hadis Nabi, โ€œYa Allah ๏ทป anugerahkanlah shalat atas keluarga Abu Awfaโ€ (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Imam Bukhari membuat sebuah bab dengan nama, โ€œBab Shalat Al-Imam wa Duโ€™auhu lishahibi Ash-Shadaqah.โ€โ€ฆ Dari Jabir bin Abdullah bahwa seorang wanita berkata kepada Nabi ๏ทบ, โ€œShalli โ€˜alayya wa โ€˜ala Zauji (doakanlah aku dan suamiku). Maka Rasulullah menjawab,โ€œShalla Allahu โ€˜alaika wa โ€˜ala Zaujik (semoga Allah menganugerahkanmu dan suamimu) (Riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Ketiga

Sebagian ahli hadis menjadikan salam atas sahabat selain Ahlulbait juga, di antaranya:

1. Sunan Maโ€™tsurah lil Imam Al-Syafiโ€™i, โ€œHanya saja tidak diketahui bahwa Umar โ€˜alaihissalam.

2. Kitab Al-Aahad wa Al-Matsani, Ibn Abi โ€˜Ashim, โ€œIbnu Umar berkata, Umar โ€˜alaihissalam (salam atasnya) wafat.

3. Sunan Ad-Daruquthni, dari Asy-Syaโ€™bi, Aku mendengar Umar โ€˜alaihissalam (salam atasnya) berkata.

4. Fadhail Ash-Shahabah, Ad-Daruquthni, โ€œDari Syaโ€™bi, Ali โ€˜alaihissalam (salam atasnya) berkata.

Terakhir

Jelas sudah bahwa persoalan yang menyebar luas ini tidak lagi mengandung perseteruan, perbedaan dan penolakan lagi.

Saudara-saudara Muslim yang suka berkomentar sebaiknya tidak bersikap terburu-buru mengingkari adanya penyebutan salam atas Ahlulbait sebelum menyelidiki lebih jauh, berhati-hati dan bertanya kepada orang-orang berilmu jika memang mereka bukan ahli di bidangnya. Sesungguhnya banyak orang berangan-angan memiliki ilmu dan ahli di bidangnya, namun terjerumus dalam memberikan pendapat/fatwa tanpa didasari keahliannya. Mereka ini begitu mudahnya memberikan tuduhan tanpa dasar. Hanya Allah ๏ทป tempat memohon pertolongan.

Selain itu, sebaiknya kita tidak menganggap setiap orang yang mengagungkan, mencintai dan memberikan pujian terbaik yang ditujukan secara khusus atas Ahlulbait Nabi ๏ทบ sebagai orang Syiah saja dan seolah-olah kecintaan kepada Ahlulbait Nabi ๏ทบ hanya milik Syiah dan Ahlussunnah tidak termasuk di dalamnya. Kita berlindung kepada Allah dari pernyataan demikian.

Wallahu a’lam.

OPTIMIS MENGHADAPI TAKDIR*

Sabtu, 28 Muharram 1438H / 29 Oktober 2016

*KELUARGA & MOTIVASI*

Pemateri: *Ustzh DR. Hj. Aan Rohanah, Lc, MAg*

Memperjuangkan keberhasilan visi dan misi kehidupan harus disertai rasa optimis sekalipun banyak cobaan.

Memperjuangkan visi dan misi berkeluarga harus dengan rasa optimis sekalipun banyak tantangan.

*Kenapa harus optimis dan  tidak boleh putus asa?*

A. Putus asa sikap orang kafir bukan orang mukmin

” Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang2 kafir” (QS. 12 : 87).

B. Hidup dan kematian adalah ujian untuk selalu memberikan yang terbaik kepada  Allah.

Hidup di dunia bukan kenikmatan hakiki, kenikmatan yang sesungguhnya itu setelah kematian

” Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian yang paling baik amalnya (QS. 67 : 2).

C. Yakin terhadap kekuasaan Allah SWT. Dengan ‘kun fayakun’ semua yang sulit bisa berubah menjadi mudah.

“Maka  sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (Qs 94 : 5 – 6)

D. Segala sesuatu di dunia dapat berubah dengan usaha dan doa. (QS 13 ,: 11)

E. Dibalik takdir yang buruk banyak hikmah.

 Ketika mendapat takdir yang buruk  tetap bersyukur dan memuji Allah SWT, maka balasannya mendapat istana di surga dan akan diangkat derajatnya.

” Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu.” ( QS 2: 216)

 Saat mendapatkan takdir yang buruk maka lakukanlah evaluasi diri, banyak bertaubat dan beristigfar serta memperbaiki diri.

F. Orang yang beriman pasti bisa bersabar.

Rasulullah bersabda : “Sungguh takjub dg urusan orang mukmin jika diberi nikmat bersyukur dan jika diberi musibah bersabar”.

*KIAT2 MEMBENTUK SIKAP OPTIMIS*

1โƒฃ. *Yakin dengan semua takdir Allah selalu berakibat baik.*

” Wahai Rab kami, tidak ada yang Engkau ciptakan ini  dalam keadaan sia2″ (QS 3: 191).

2โƒฃ. *Ikhlas*

 Ikhlas bisa menimbulkan ketenangan. Sebab orang yang ikhlas  semua urusannya dimudahkan Allah.

3โƒฃ. *Sabar*
Sabar  itu menambah iman, membentuk kekuatan dan menambah kecerdasan.

Sabar itu sebagian dari iman.

“Sabar itu cahaya”. (HR Muslim)

4โƒฃ. *Tawakkal*
Tawakkal itu bisa mengendalikan perasaan.
” Barang siapa yang bertakwakkal kepada Allah maka cukuplah Allah sebagai pelindungnya”
(65:4)

5โƒฃ. *Berdoa*

Do’a diwaktu yang mustajab  dan  diiringi dengan ibadah (shaum, dzikir, shalat sunnah, dll) insya Allah lebih cepat  mustajab.

” Aku  kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada Ku (QS. 2 : 186)

” Barang siapa yang tidak meminta pada Allah SWT, Allah SWT murka” (HR Tirmidzi).

“Tidak ada yang bisa menolak ketetapan Allah SWT kecuali do’a”

6โƒฃ. *Fokus dan bekerja keras dalam berikhtiar*

” Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka merubah dirinya sendiri” ( QS 13 : 11 )

 Dengan bekerja keras , solusi akan selalu datang.

” Dan orang2 yang berjuang di jalan Kami, maka Kami berikan petunjuk untuk selalu berada di jalan Kami”
(QS. 29 : 69)

7โƒฃ. *Banyak berbuat kebaikan.*
” Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang2 yang berbuat kebaikan” ( 7 : 56)

Jangan pernah lelah memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah untuk mendapatkan banyak rahmat Nya.  

Ada  4 hal yang merubah nasib setelah beribadah lebih baik.

โœณ Mendapatkan  cinta Allah
โœณ Kebersamaan Allah
โœณ Doa terkabul
โœณ Mendapatkan  perlindungan Allah.

8โƒฃ. *Banyak beristighfar dan bertaubat.*

 Istighfar dan taubat bisa mendatangkan kesenangan

“Dan hendaklah kamu beristighfar dan bertaubat kepada Tuhanmu , maka Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang ditentukan” (QS. 11 : 3)

” Barang siapa yang memperbanyak beristighfar maka Allah  memberikan kemudahan terhadap kesulitannya , menghilangkan bebannya dan memberikan rizki dari yang tidak terduga” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah )

9โƒฃ. *Banyak membaca _laa hawlla wa laa quwwata illaa billah_* .
Dzikir tersebut mendatangkan solusi dan rizki.

*Banyak berinfak/ bersedakah, akan dibalas dengan rizki dan  solusi.*

” Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang yang menumbuhkan 7 tangkai, pada setiap tangkai ada 100 biji , Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki  , dan Allah Maha luas, Maha mengetahui” (QS 2 : 261).

Wallahu A’lam bishshawaab.

Yang Menggunakan Alaihi/ha Salam dalam Shahih Bukhori

Ustadz Menjawab
Jum’at, 28 Oktober 2016
Ustadz Wawan

Assalamualaikum mohon dijawab ustadz/ah.. apakah ada dalam shahih bukhori yang menyebutkan ali bin abi thalib alaihisalam(ada penambahan alaihisalam)?mohon jawabannya
# i-23)

Jawaban
———

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡
Dalam bukhari yang menggunakan alaihi/ha Salam ada 5 orang.
Silahkan dibuka :
1. Fatimah, ada di hadits nomor: 3435, 3730, 5843, 4942, 3913, 5812, 2881, 3429, 4103, 4943, 4080, 2862

2. Ali, terdapat pada hadits nomor: 4566, 1947, 3280

3. Ummu kultsum, terdapat pada hadits nomor: 5394

4. Fatimah dan al Abbas, hadits nomor: 6230

5. Husain bin Ali, nomor: 3702, 3465.

Wallahu a’lam.

Dan Nabi Saw Pun Enggan Memberikan Jabatan Kepada Yang Berambisi & Mengharapkan

Jumat, 27 Muharram 1438H / 28 Oktober 2016

MUAMALAT

Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Hadits:

 ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู…ููˆุณูŽู‰ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŽุงู†ู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ููŠ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽู…ู‘ูุฑู’ู†ูŽุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุขุฎูŽุฑู ู…ูุซู’ู„ูŽู‡ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽุง ู„ูŽุง ู†ููˆูŽู„ู‘ููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ุญูŽุฑูŽุตูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Abu Musa ra berkata, aku menemui Nabi Saw bersama dua orang dari kaumku.

Salah satu dari keduanya berkata ‘Wahai Rasulullah, jadikanlah kami pejabat (amir).’
Kemudian orang yang kedua juga mengatakan hal yang sama.

Maka Rasulullah Saw bersabda, “Kita tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang-orang yang memintanya dan tidak juga kepada orang yang ambisi terhadapnya.” (HR. Bukhari)

Hikmah Hadits :

1. Kecenderungan manusia umumnya suka terhadap jabatan dan kedudukan. Karena secara lahiriyah, jabatan terlihat manis dan menyenangkan, bertaburan harta dan penghormatan, serta diwarnai dengan wibawa dan kemewahan.

Maka tidak heran, terkadang demi jabatan, banyak orang yang rela melakuka apa saja, termasuk perbuatan yang tercela, haram bahkan berbau kemusyrikan. Atau juga sekedar lobi, datang dan sowan, kepada tokoh dan panutan, atau juga melakukan pencitraan, demi mendapatkan jabatan.

2. Sementara hakikat dari jabatan itu sendiri adalah amanah yang sangat berat dari Allah Swt, yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dalam hisab yang panjang.

Disamping juga bahwa jabatan, penuh dengan tekanan dan jebakan, bahkan intrik saling menjelekkan dan menjatuhkan, yang apabila seseorang lemah iman, ia akan terperdaya dalam perangkap syaitan.

3. Maka Nabi Saw pun enggan memberikan jabatan kepada orang yang terperdaya dengan kemilau pesonanya, ambisi terhadap gemerlapnya, atau yang tergoda bias wibawa dan kemewahannya.

Karena mungkin umumnya orang yang ambisi, punya maksud dan niatan yang tersembunyi, yang menggelapkan niatan suci, demi semata keinginan pribadi.

4. Idealnya, jabatan dipegang oleh orang yang amanah, shiddiq dan fathanah, yang hati kecilnya menolak untuk memangkunya, namun ia ‘terpaksa’ memikulnya, karena beban dan amanah untuk dakwah, bukan karena ingin hidup mewah, namun karena amanah untuk menyelamatkan ummah.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab : 72)

Wallahu A’lam

Meraih Kemuliaan Dengan Iman dan Ilmu

Kamis, 26 Muharam 1438 H/27 Oktober 2016

Ibadah

Ustadz Farid Nu’man Hasan

============================

Allah Ta’ala berfirman:

ูŠูŽุฑู’ููŽุนู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฃููˆุชููˆุง ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุงุชู.

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Kandungan ayat ini:

โ€ข Allah Ta’ala meninggikan derajat orang beriman dan berilmu dengan banyak tingkatan dibanding yang tidak beriman dan berilmu.

โ€ข Iman saja tanpa ilmu akan mudah diperdayai, bahkan beriman tapi sedikit daya guna.

โ€ข Berilmu tapi tanpa iman, membuatnya tidak bermanfaat, bahkan ketiadaan iman membuat ilmunya bisa membawa petaka bagi diri dan orang lain.

Imam Al-Qurthubi Rahimahullah menjelaskan:

ุฃูŽูŠู’ ูููŠ ุงู„ุซู‘ูŽูˆูŽุงุจู ูููŠ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ูƒูŽุฑูŽุงู…ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุงุŒ ููŽูŠูŽุฑู’ููŽุนู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูู…ูุคู’ู…ูู†ู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงู„ูู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูุนูŽุงู„ูู…ู. ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆุฏู: ู…ูŽุฏูŽุญูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกูŽ ูููŠ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุขูŠูŽุฉู. ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ ููŠูŽุฑู’ููŽุนู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฃููˆุชููˆุง ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู† ูŽุขู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุคู’ุชูŽูˆูุง ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ (ุฏูŽุฑูŽุฌุงุชู) ุฃูŽูŠู’ ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุงุชู ูููŠ ุฏููŠู†ูู‡ูู…ู’ ุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ููˆุง ู…ูŽุง ุฃูู…ูุฑููˆุง ุจูู‡ู.

“Yaitu ketinggian balasan yang diperolehnya di kehidupan akhirat, dan ketinggian karamah (kemuliaan) di dunia. Maka, Allah meninggikan orang beriman di atas yang tidak beriman, dan meninggikan orang berilmu di atas yang tidak  berilmu.

Ibnu Mas’ud berkata: “Allah memuji para ulama dalam ayat ini.”

Dalam ayat ini Allah meninggikan orang yang diberikan ilmu di atas orang beriman yang tidak diberikan ilmu.

(Banyak derajat) yaitu derajat dalam agama mereka jika mereka menjalankan apa-apa  yang diperintahkan.”

โ€ข Imam Al-Qurthubi, Jami’ Lil Ahkam Al-Qur’an, 17/299