Ash-Shabr

Senin, 23 Muharam 1438 H/24 Oktober 2016

Akhlak

Ustadzah Trisa Yunita

============================

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153)

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syu’ara : 43)

Bersabar bukan saja sikap yg utama..namun, ia merupakan perintah Allah SWT.

Dan siapa saja yg mampu bersabar maka janji Allah SWT adalah akan dicukupkan pahalanya tanpa batas.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az -Zumar : 10).

Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Saat Keluar Rumah

Senin, 23 Muharrom 1438H / 24 Oktober 2016

HADITS DAN FIQIH

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah keluar dari rumah kecuali beliau melihat ke langit seraya berdoa:

*”ALLAHUMMA A’UUDZU BIKA AN ADHILLA AW UDHALLA AW AZILLA AW UZALLA AW AZHLIMA AW UZHLAMA AW AJHALA AW UJHALA ‘ALAYYA”*

 (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketersesatan atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzhalimi atau dizhalimi dan membodohi atau dibodohi).”

—–

HR. Abu Daud No. 5094,  An Nasa’i No. 5486,  Al Hakim No.1907, beliau berkata: “Shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.”

Berkata Ath Thayyibi Rahimahullah:

فَاسْتُعِيذَ مِنْ هَذِهِ الْأَحْوَالِ كُلِّهَا بِلَفْظٍ سَلِسٍ مُوجَزٍ وَرُوعِيَ الْمُطَابَقَةُ الْمَعْنَوِيَّةُ وَالْمُشَاكَلَةُ اللَّفْظِيَّةُ كَقَوْلِ الشَّاعِرِ

Maka hendaknya meminta perlindungan dari semua keadaan ini dengan kata-kata  yang ringan, ringkas, indah, yang begitu serasi antara makna dan bentuk katanya, seperti sya’ir.

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 9/272

AMALAN-AMALAN HARI JUM’AT

Ustadz Menjawab
Senin, 24 Oktober 2016
Ustadzah Novria Flaherti

Assalamualaikum..minta tlg ditanyakan ustadz ttg sunah2 di hari Jum’at…yg hadistnya lbh sahih.Saya mau share dgn ibu2 tetangga..krn sebagian masih kaku bahwa majelis ta’lim malam Jum’at hrs diisi dgn pembacaan QS.Yassin. Bukan utk berdebat,sekedar sharing saja. Jazakillah!    # A 42

Jawaban
—————-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Beberapa amalan Sunnah pada hari Jum’at

1. Mandi

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda, yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.”
(HR. Bukhori dan Muslim).

Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi jenabat biasa.

Rasulullah bersabda yang artinya, “Barangsiapa mandi Jumat seperti mandi jenabat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Berpakaian Bersih dan Memakai Wangi-Wangian

Rasulullah berkata, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at.” (HR. Bukhari)

3. Menghentikan Aktivitas Duniawi dan Menyegerakan ke Masjid.

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari).

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

4. Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jumat.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.”
(HR. Muslim)

5. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.”

6. Memperbanyak Shalawat.

Dari Anas ra, Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah shalawat pada hari Jumat dan malam Jumat.”
(HR. Baihaqi)

Dari Aus Radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda:

“Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jumat: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”, para shahabat bertanya: “wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur (sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat), Beliau menjawab: “sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para Nabi.” (HR, “al-Khamsah)

# Memperbanyak do’a di hari Jum’at.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membicarakan mengenai hari Jum’at lalu ia bersabda,

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut.” (HR Bukhari Muslim)

4. Memperbanyak berdzikir dan berdoa di hari Jumat.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian diseru untuk shalat pada hari jum’at, maka bersegeralah mengingat Allah…” (QS. AlJumu’ah: 9)

Allahu ‘Alam bisshowab

Tersenyumlah Wahai Saudaraku

Ahad, 22 Muharram 1438H / 23 Oktober 2016

MOTIVASI

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Senyumlah saudaraku…
Senyumlah dengan segenap jiwa kita..
Senyumlah dengan sepenuh hati kita…
Senyumlah dengan setulus batin kita..
Semoga Allah memberkahi senyum ikhlas kita itu

Nabi SAW tercinta telah bersabda…
Sedekah tidak harus dengan harta berlimpah…
Sedekah tidak mesti dalam bentuk barang yang jumlahnya meruah…
Senyuman ikhlas kan hadirkan suasana yang meriah…
Meski tak terhidang makanan yang mewah

“Tabasumuka fi wajhi akhuka shadaqah”
Senyuman terhadap saudaramu menjadi shadaqah

Masya Allah begitu indah Rasulullah mengajarkan kepada kita
Hidup terasa bahagia, kenyamanan pun tercipta

Dengan senyum wajah tercerahkan
Hati tak terkeruhkan
Kebersamaan pun kan semakin terhangatkan
Jiwa menyatu dalam sebuah ikatan

Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.”
(HR.Imam Muslim).

Terkadang merasa sangat menyayangkan bila hal yang mudah saja sangat sulit untuk kita lakukan.
Allah sudah menyiapkan jalan-jalan kemudahan untuk meraih pahala, sayangnya kita enggan segera mengambil kesempatan.

Kita mudah mengabaikan, melalaikan, serta memilih berperilaku dengan hal yang tak bermutu.
Terusik dengan kebahagiaan teman, tertekan dengan keberhasilan orang lain.
Padahal hal itu akan semakin mempuruk keadaan diri.

Rugilah rasanya bila kita terlelahkan oleh kesibukan mencari kesalahan bukan mengoreksi diri agar semakin nampak kemuliaan diri kita.
Masalah-masalah kita di akhirat kelak sangat berat, maka memperbaiki diri lebih utama dibanding mencari-cari kelemahan orang lain.

Waktu yang ada sangat efektif bila kita segera mau berkaca.
Untuk merapikan diri, untuk memperindah diri, untuk menghias diri dengan akhlak mulia.

Menjadi pribadi yang indah agar perjalanan menuju keabadian akan terasa lebih bermakna…

Fastabiqul khairat

AURAT WANITA

Ustadz Menjawab
Ahad, 23 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamualaikum..Izin bertanya ustadz..
Dalam hal merawat diri, bagaimana ketika wanita/pria ketika ber spa?

Terkhusus kepada istri, yg mau spa khusus di salon muslimah, ini seperti apa?jatuhkah larangan dikarenakan menampakkan aurat kepada orang lain??

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Spa pd prinsipnya tdk apa2, tp tetap menjaga aurat dr laki2 yg bukan mahram .., lalu bgmn dgn wanita lajn?

Wanita ada 2 aurat ..

1. Mughallazhah, berat, seperti dibawah leher, dada sampai lutut, ini hanya boleh dilihat oleh suami

2. Aurat mukhafafah, ringan, seperti sepanjang tangan, leher, betis, rambut, .. ini boleh terlihat oleh mahramnya (ortu, kakak, adik, paman, kakek, anak, keponakan), dan juga wanita muslimah lain ..

Lengkapnya kpd siapa aja boleh terlihat, baca ayat ini ya .

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, *atau wanita-wanita islam,* atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31)

Ada pun kpd laki2 yg bukan mahram (ipar dan sepupu termasuk bukan mahram), tidak boleh menampakkan semua jenis aurat tsb.
Wallahu a’lam

Anak SMA Mencium Tangan Guru, Bolehkah?

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
22 Oktober 2016
=====================

Assalamualaikum. Ka, ana mau bertanya. Apa hukumnya bila seorang anak SMA mencium tangan gurunya yg berlawanan jenis? Kemudian berdosakah seorang akhwat yang dibonceng seorang ikhwan, bila ikhwan tersebut hanya berniat ingin mengantarnya saja? Mohon penjelasannya

Jawaban
========

Berboncengan dengan teman laki-laki.

Berdasarkan hadist dibawah ini:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR. Ahmad)

Saat ini, kita sering sekali baik itu tukang ojek, tetangga, teman kerja atau teman sekolah, kuliah dll.

Hadits Shahih Bukhari; dan hadits Sahih Muslim meriwayatkan tentang Asma binti Abu Bakar (saudari Aisyah dan ipar Nabi) yang pernah diajak naik unta bersama Nabi (boncengan bersama dalam satu kendaraan):

“Dari Asma bin Abu Bakar…Suatu hari saya datang ke kebun Zubair (suami saya) dan memanggul benih di atas kepala saya. Di tengah jalan saya bertemu Rasulullah bersama sekolompok orang dari Sahabat Anshar. Lalu, Nabi memanggilku dan menyuruh untanya (dengan mengatakan “ikh … ikh”) agar merunduk untuk membawaku di belakang Nabi.”

Dalam menganalisa hadits ini, Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menyatakan :

Hadits ini menunjukkan bolehnya berboncengan (antara lelaki dan perempuan bukan mahram) pada satu kendaraan apabila wanita itu seorang yang taat agamanya. Dalam soal hadits ini ada banyak pendapat ulama yang berbeda antara lain:

1. Adanya sifat belas kasih Nabi pada umat Islam baik laki-laki dan perempuan dan berusaha membantu sebisa mungkin.

2. Pendapat lain menyatakan bolehnya membonceng perempuan yang bukan mahram apabila dia ditemukan di tengah jalan dalam keadaan kecapean. Apalagi, kalau bersama sejumlah laki-laki lain yang saleh. Dalam konteks ini maka tidak diragukan kebolehannya.

3. Menurut Qadhi Iyad bolehnya ini khusus untuk Nabi saja, tidak yang lain. Karena Nabi telah menyuruh kita agar laki-laki dan perempuan saling menjauhkan diri.

Dan biasanya Nabi menjauhi para perempuan dengan tujuan supaya diikuti ummatnya. Kasus ini adalah kasus khusus karena Asma adalah putri Abu Bakar, saudari Aisyah alias ipar dan istri dari Zubair. Maka, seakan Asma itu seperti salah satu keluarganya. Adapun lelaki membonceng wanita mahram maka, hukumnya boleh secara mutlak dalam segala kondisi.

Kesimpulan dari hadits dan tafsir tersebut adalah haramnya berboncengan antara laki-laki dan perempuan non mahram jika menimbulkan syahwat.

Artinya, berboncengan diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu.

Syarat-syarat diperbolehkannya antara lain:

1. Tidak terjadi persinggungan badan.

Jika dibonceng seseorang yang bukan mahram, usahakan tidak terjadi persentuhan kulit, apalagi sampai memeluk pinggang pembonceng.

Taruhlah tas di tengah-tengah antara pembonceng dengan yang dibonceng. Dan berpeganganlah pada ujung motor, biasanya ada tempat pegangan sehingga kita tetap aman meskipun kecepatan motor agak tinggi.

2. Tidak terjadi khalwat (berdua-duaan di tempat sepi).

Upayakan tidak berboncengan di daerah yang sepi atau di malam hari. Lebih baik dibonceng oleh mahram kita, entah suami, ayah, atau saudara laki-laki kandung jika terjadinya di malam hari.

3. Tidak memiliki maksud buruk atau kecenderungan ke arah syahwat.

Kalau kebetulan yang mengajak berboncengan adalah teman kita, dan kita memiliki kecenderungan suka kepadanya, lebih baik jangan berboncengan dengannya, karena akan menimbulkan hal yang buruk, entah itu berupa penyakit hati, maupun hal lain yang tidak diinginkan.

Boncengan dengan teman laki2 sebaiknya dihindari.

Kisah Istri Nabi Nuh AS

Sabtu, 21 Muharram 1438 H / 22 Oktober 2016

KELUARGA

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Kisah istri Nabi Nuh AS ini diabadikan Allah di surat At-Tahrim ayat 10 :

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلا النار مع الداخلين

At Tahrim Ayat 10-12

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”

Pagi bersinar cerah dengan cahaya mentari memancar tajam menerangi penjuru bumi dengan sinarnya yang tajam. Seluruh makhluk bertasbih kepada Allah Robb Sang Pemilik Mentari.

Pagi itu…nabi Nuh AS keluar rumah untuk berdakwah menyeru manusia agar menyembah Allah SWT.
Pagi itu juga, istri nabi Nuh beranjak dari peraduan. Ia bersolek, memakai pakaian terbaik, menggunakan perhiasan simpanannya dan bergegas menemui karib kerabatnya. Hari ini hari raya besar….pesta akan dilaksanakan di tempat penyembahan berhala Wadda, Suwa’, Yaghuts, Ya’uuq, dan Nasra. Mereka bergegas dengan membawa berbagai sesajen dari makanan yg beragam, bunga2 yg bermacam, serta wewangian yg menjadi persembahan bagi para berhala.

Dalam perjalanan pulang dari perayaan besar itu, istri nabi Nuh bertemu dengan putranya Kan’an yang menceritakan dakwah yang dilakukan sang ayah. Seraya terbahak si anak berkata : “
Ayah menginginkan agar tuhan-tuhan itu dijadikan hanya satu saja.”

Si ibu berkata : “Biarlah dia bersama mereka. Mereka akan menjadikannya pahlawan pembawa petunjuk.”

Si anak berkata lagi : “Bayangkan ibu! Ayah menyeru manusia seperti kebiasaannya dan mereka berkumpul disekelilingnya dan ayah mulai meracuni mereka dengan kata-kata ajaibnya.”
Si ibu berkata: “Aku hafal betul apa yang dia katakan ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,
(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.'(QS Nuh :2-3)”.

Ia mengucapkannya dengan penuh amarah. Baginya…apa yang dilakukan suaminya adalah perbuatan yang hina dan memalukan. Mencoreng nama baik dan kedudukannya di tengah kaum kerabatnya.
Si anak bertanya:”Bagaimana engkau hafal dengan apa yang disampaikan ayah itu wahai ibu?”.
Si ibu menjawab: “Karena setiap waktu siang dan malam, pagi dan sore, kalimat itulah yang disampaikan ayahmu kepada setiap orang.” Ia melanjutkan : “Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya saat ia pulang nanti.”
Beberapa saat kemudian nabi Nuh AS memasuki rumahnya. Dan saat itu juga, si istri memberondongnya dengan kata2 penuh caci maki dan amarah. Nabi Nuh AS berkata:”Takutlah engkau kepada Allah dan tinggalkanlah menyembah berhala. Jangan engkau pelihara anakmu dalam kesesatan.”

“Dan diwahyukan kepada Nuh, “Ketahuilah, tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat. Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS Huud:36-37)…..

Inilah perintah Allah SWT kepada nabi Nuh AS. Allah memerintahkan kepada beliau untuk membuat bahtera. Dengan keta’atan nabi Nuh AS melaksanakan perintah Robb-nya.

Dan lihatlah apa yg dilakukan istri serta kaumnya. Setiap kali mereka lewat di tempat nabi Nuh membuat bahtera, si istri tertawa dengan penuh ejekan dan mengatakan :”Rupanya kau telah alih profesi. Apakah engkau telah meninggalkan ibadah kepada Tuhanmu dan beralih menjadi tukang kayu?”. Ejekan itu terus dikatakan istrinya setiap hari. Hingga ketika bahtera itu sudah sempurna, nabi Nuh AS mengajak orang2 yang beriman untuk pergi menaiki bahtera dengan membawa keluarga bahkan binatang ternak miliknya.

Dan inilah istri nabi Nuh yang tak henti mengolok-olok. “Apakah engkau membawa binatang ternak yang beriman kepadamu dan meninggalkan yang lain karena tidak beriman kepadamu?”. Nabi Nuh AS menjawab:”Ini adalah perintah Allah.”

Pagi itu….saat seharusnya mentari bersinar terang, Allah taqdirkan air bah melimpah ruah keluar dari semua sumbernya dan hujan deras tak terhingga menyertai kepergian nabi Nuh AS meninggalkan kaumnya tanpa disertai istri dan anaknya. Angin topan bertiup kencang memporak porandakan apa yang ada dipermukaan bumi. Nabi Nuh AS masih berharap anaknya bisa ikut bersamanya. Dari atas bahtera yang kokoh, nabi Nuh berseru: “Ayo….pergilah bersama kami!”. Namun si anak menjawab: “Aku bersama ibu akan pergi ke puncak gunung.” Maka sirnalah harapan itu. Harapan untuk pergi dengan selamat bersama orang terdekat anak dan istri…

*Hikmah kehidupan :*

1⃣ Ada model pasangan suami istri yang sikapnya kepada Allah SWT begitu kontras. Suami sangat soleh dan istri sebaliknya. Membangkang aturan2 Allah.

2⃣ Dalam kondisi taqdir seperti ini, sikap istri tidak harus menjadikan suami berhenti berdakwah. Ia tetap berdakwah dengan terus mengupayakan perubahan sikap istrinya.

3⃣ Peran ibu dalam memelihara & menumbuhkan hidayah dalam diri seorang anak sangat penting. Jangan serahkan urusan memelihara hidayah kepada guru ngaji. Tetapi ibulah yang menghandle urusan ini.

4⃣ Ujian dalam keluarga seorang da’i terkadang lebih berat daripada ujian yang datang dari luar.

5⃣ Khianat terbesar seorang istri adalah khianat dalam aqidah dan dakwah.

6⃣ Diantara karakter istri tolihah (kebalikan solihah) adalah sering mengejek/mengolok2/memandang rendah pekerjaan dan kondisi suami.

7⃣ Hidayah tidak mengenal nasab dan ikatan keluarga. Bahkan ia bisa begitu jauh dari orang2 terdekat seorang da’i. Maka mintalah kepada Allah dan berdo’alah agar hidayah selalu bersemai dihati kita, keluarga kita, orang2 dekat kita dan orang2 yg kita cintai

اللهم نور قلوبنا بنور هدايتك كما نورت الارض بنور شمسك ابدا ابدا يا ارحم الراحمين
“Ya Allah…terangilah hati kami dengan cahaya hidayahMu sebagaimana Engkau menerangi bumi dengan cahaya matahai yg tidak pernah padam…selamanya…. selamanya…wahai yang Maha Penyayang..”

Wallohu a’lam bis showwab

HUKUMNYA HAMIL SEBELUM MENIKAH

Ustadz Menjawab
Sabtu, 22 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum ustadz/ah…
Apabila seorang laki2 dan wanita berbuat zina di sebelum menikah , tetapi pada akhirnya kedua’nya menikah apa hukumnya??
Apakah dosa itu dihapus / bagaimana??

Terimakasih.

saya tambah pertanyaannya,  kemudian lahir anaknya padahal waktu menikah itu si wanita sdg hamil, apakah sudah lahir anaknya, mereka menikah lagi?
Syukron… #A41

JAWABAN
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Nikahnya orang zina itu haram hingga ia bertaubat, baik dengan pasangan zinanya atau dengan orang lain.”

Inilah yang benar tanpa diragukan lagi. Demikianlah pendapat segolongan ulama salaf dan khalaf, di antara mereka yakni Ahmad bin hambal dan lainnya.

Tetapi kebanyakan ulama salaf dan khalaf membolehkannya, yaitu pendapat Imam Yang tiga, hanya saja Imam Malik mensyaratkan rahimnya bersih (kosong/tidak hamil).

Abu Hanifah membolehkan akad sebelum  istibra’ (bersih dari kehamilan) apabila ternyata dia hamil, tetapi jika dia hamil tidak boleh  jima’ (hubungan badan) dulu  sampai dia melahirkan.

Asy Syafi’i membolehkan akad secara mutlak akad dan hubungan badan, karena air sperma zina itu tidak terhormat, dan hukumnya tidak bisa dihubungkan nasabnya, inilah alasan Imam Asy Syafi’i.

Abu Hanifah memberikan rincian antara hamil dan tidak hamil, karena wanita hamil apabila dicampuri, akan menyebabkan terhubungnya anak yang bukan anaknya, sama sekali berbeda dengan yang tidak hamil.”

# Nikahnya Wanita Hamil Harus dirinci sebagai berikut:
1. Hamil karena suaminya sendiri, tetapi suaminya meninggal atau wafat, dia jadi janda. Bolehkah menikah dan dia masih hamil?
Sepakat kaum muslimin seluruhnya, wanita hamil dan dia menjanda ditinggal mati suami atau cerai, hanya baru boleh nikah setelah masa iddahnya selesai, yaitu setelah kelahiran bayinya. Tidak boleh baginya nikah ketika masih hamil, karena ‘iddahnya belum selesai.

2. Gadis Hamil karena berzina, bolehkah dia menikah?
Jika yang menikahinya adalah laki-laki yang menghamilinya, maka menurut Imam Asy Syafi’i adalah boleh. Imam Abu Hanifah juga membolehkan tetapi tidak boleh menyetubuhinya sampai ia melahirkan.
Imam Ahmad mengharamkannya. Begitu pula Imam Malik dan Imam Ibnu Tamiyah.
Sedangkan, jika yang menikahinya adalah laki-laki lain, maka menurut Imam Ibnu taimiyah juga tidak boleh kecuali ia bertaubat, yang lain mengatakan boleh, selama ia bertobat plus Iddahnya selesai (yakni sampai melahirkan), inilah pendapat Imam Ahmad. Demikian.
Wallahu A’lam

Empati (Part 2)

Jum’at, 20 Muharam 1438 H/21 Oktober 2016

Pengembangan Diri & Motivasi

Ustadzah Dina & Bunda Wiwit

============================

Assalaamu’alaikum Sobat!!

Ketemu lagi dengan sesi materi psikologi, semoga tidak bosan dan tetap semangat yaa!

Masih inget dengan materi jum’at lalu? Nah, kita mau lanjut lagi ya, supaya bisa tambah banyak info dan lebih faham lagi, OK.

® Review dikit yaa. Empati yaitu ; kamu menempatkan diri di posisi orang lain dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.

® Masih inget jenis empati? Ada empati kognitif dan empati emosional.. Nah, kira-kira contohnya apa ya?

® Contoh empati kognitif : misal, kamu melihat temanmu sering makan di restoran. Alih-alih berpikir bahwa ia sombong dan buang-buang uang, kamu bisa memahami cara berfikirnya bahwa makan di restoran lebih praktis dan mudah baginya.

® Contoh empati emosional: kamu melihat temanmu menangis karena uangnya hilang, kamu bisa memahami perasaan sedih yang dialaminya sehingga kamu bisa memakluminya.

® Mengapa harus empati???

© Remaja yang mampu ber-empati, cenderung lebih sukses karena dapat memahami dan merasakan tujuan utama dari suatu proses pendidikan/pembelajaran.

© Remaja yang kurang memiliki kemampuan empati, cenderung fokus hanya pada dirinya dan kurang peduli dengan keadaan orang lain, bahkan ironisnya, seringkali ia juga kurang mampu bersikap peduli pada dirinya sendiri.

® Gimana caranya supaya bisa jadi orang yang empati??

1. Cobalah untuk melihat dari sudut pandang orang lain.

2. Cobalah untuk ikut merasakan emosi yang dialami oleh orang lain.

3. Cobalah untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.

4. Cobalah untuk cepat menangkap isi perasaan dan fikiran orang lain (understanding others).

5. Berikan masukan positif yang membangun kepada orang lain (developing others).

6. Ambillah manfaat dari perbedaan, bukan mempermasalahkan perbedaan (leveraging diversity).

7. Memahami adab/etika dalam pergaulan.

® CARA Efektif Menumbuhkan Empati:

© Berinteraksi
© Mendengar
© Menghayati oranglain

Nah, semoga dengan penjelasan tersebut, kamu bisa lebih faham dan termotivasi untuk mengembangkan kemampuanmu dalam ber-empati, OK.

See you next time..

Dengerin Musik Di Kamar Mandi, Boleh?

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
20 Oktober 2016
=====================

Saya mau tanya mengenai mendengarkan musik itu hukumnya apa? Saya jadi ingin nanya juga..
Kalau di kamar mandi bolehkah mendengar musik? Tapi tidak bernyanyi..
#MFT 02

Jawaban
========

Berdasarkan hadist diatas, barangsiapa yang mendengarkan nyanyian baik ada musik ataun tanpa musik dalam rangka bermaksiat kepada Allah niscaya ia tergolong fasik. Namun, barangsiapa berniat sekedar menghibur dirinya agar mengokohkan jiwanya untuk semakin taat kepada Allah dan menggairahkan hatinya untuk berbuat kebaikan maka perbuatannya itu adalah benar. Akan tetapi, orang yang tidak berniat untuk taat ataupun bermaksiat maka ia melakukan perbuatan yang sia-sia.

Kebanyakan ulama memfatwakan bahwa nyanyian diiringi musik atau tanpa musik adalah haram, berdasarkan firman Allah SWT :

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ  وَّيَتَّخِذَهَا هُزُوًا   ؕ  اُولٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)

Berdasarkan Hadist dari Aisyah r.a., ia berkata bahwa Abu Bakar r.a., masuk ke rumahnya pada suatu hari Mina (Hari Raya Idul Adha), sedang saat itu disampingnya ada dua gadis yang tengah bernyanyi dan memukul rebana, sementara Nabi SAW berada disitu dengan menutupi wajahnya denga pakaiannya. Serta merta Abu Bakar mengusir kedua gadis itu. Mendengar itu Nabi SAW membuka tutup wajahnya dan berkata, “biarkan mereka wahai Abu Bakar, saat ini adalah hariraya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa hadist tentang dua gadis tersebut menunjukkan bahwa nyanyian itu tidak haram. Beberapa hal yang dapat ditolerir adalah nyayian dan menabuh rebana adalah hiburan disaat hari raya, yakni waktunya bersenang-senang.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait nyanyian dengan musik atau tanpa musik:

1. Tema nyanyian tidak berlawanan dengan etika dan ajaran islam.

2. Walaupum tema nyanyian tidak bertentangan dengan ajaran islam, akan tetapi cara menyanyikannya menyebabkan ia bergeser dari halal ke haram maka mendengarkannya adalah haram. Misalnya, dengan cara berlenggak lenggok.

3. Tidak berlebih-lebihan, dengan artian tidak menghabiskan waktu.

4. Jika nyanyian dapat membangkitkan nafsu untuk melakukan maksiat maka mendengarkan nyanyian/musik adalah haram.

5. Ulama sepakat bahwa nyanyian yang diiringi dengan hal-hal yang haram maka hukumnya menjadi haram pula.

Berdasarkan hadist dibawah ini:

“Sungguh akan ada sekelompok orang dari ummatku yang meminum khamar, mereka menamainya dengan nama lain, lalu diiringi dengan musik2 dan para biduan wanita. Allah bakal meneggelamkan mereka ke dalam perut bumi dan menjadikan mereka kera dan babi.” (HR. Ibnu Majah).