Membuat Home Industri Perlengkapan Ibadah Agama Lain

Ustadz Menjawab
Ustadzah Novria Flaherti
27 Oktober 2016
============================

Assalamualaikum. Ustadz, bagaimana hukum nya orang islam yang membuat home industri persiapan  upacara natalan, seperti petasan untuk natalan, topi nya, dll.

Jawaban
========

1. Tidak boleh/Haram.

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً (الفرقان:72)

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kemaksiatan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan [25]: 72)

Mujahid, dalam menafsirkan ayat tersebut menyatakan, “Az-Zûr (kemaksiatan) itu adalah hari raya kaum Musyrik. Begitu juga pendapat yang sama dikemukakan oleh Ar-Rabî’ bin Anas, Al-Qâdhî Abû Ya’lâ dan Ad-Dhahâk.” Ibn Sirîn berkomentar, “Az-Zûr adalah Sya’ânain. Sedangkan Sya’ânain adalah hari raya kaum Kristen. Mereka menyelenggarakannya pada hari Ahad sebelumnya untuk Hari Paskah. Mereka merayakannya dengan membawa pelepah kurma. Mereka mengira itu mengenang masuknya Isa al-Masih ke Baitul Maqdis.”

Wajh Ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, jika Allah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan Az-Zur (Hari Raya kaum Kafir), padahal hanya sekedar hadir dengan melihat atau mendengar, lalu bagaimana dengan tindakan lebih dari itu, yaitu merayakannya. Bukan sekedar menyaksikan.

Hadits Anas bin Malik r.a., yang menyatakan:

قَدَمَ رَسُوْلُ الله [صلم] اَلْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَا اْليَوْمَانِ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله [صلم]: إنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ [رواه أبو داود، وأحمد، والنسائي على شرط مسلم]

“Rasulullah SAW tiba di Madinah, sementara mereka (penduduk Madinah) mempunyai dua hari, dimana mereka sedang bermain pada hari-hari tersebut, seraya berkata, ‘Dua hari ini hari apa?’ Mereka menjawab, ‘Kami sejak zaman Jahiliyyah bermain pada hari-hari tersebut.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik: Hari Raya Idul Adhha dan Hari Raya Idul Fitri.'” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan An-Nasa’i dengan Syarah Muslim)

Wajh Ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, bahwa kedua hari raya Jahiliyyah tersebut tidak diakui oleh Rasulullah SAW. Nabi juga tidak membiarkan mereka bermain pada kedua hari yang menjadi tradisi mereka. Sebaliknya, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik.” Pernyataan Nabi yang menyatakan, “mengganti” mengharuskan kita untuk meninggalkan apa yang telah diganti. Karena tidak mungkin antara “pengganti” dan “yang diganti” bisa dikompromikan. Sedangkan, sabda Nabi SAW, “Lebih baik dari keduanya” mengharuskan digantikannya perayaan Jahiliyah tersebut dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah SWT kepada kita.

Tindakan ‘Umar dengan syarat yang ditetapkannya kepada Ahli Dzimmah telah disepakati oleh para sahabat, dan para fuqaha’ setelahnya, bahwa Ahli Dzimmah tidak boleh mendemonstrasikan hari raya mereka di wilayah Islam. Para sahabat sepakat, bahwa mendemonstrasikan hari raya mereka saja tidak boleh, lalu bagaimana jika kaum Muslim melakukannya, maka tentu tidak boleh lagi.

‘Umar pun berpesan:

إِيَّاكُمْ وَرِطَانَةَ الأَعاَجِمِ، وَأَنْ تَدْخُلُوْا عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فِيْ كَنَائِسِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ [رواه أبو البيهقيإسناد صحيح].

“Tinggalkanlah bahasa kaum ajam (non-Arab). Janganlah kalian memasuki (perkumpulan) kaum Musyrik dalam hari raya mereka di gereja-gereja mereka. Karena murka Allah akan diturunkan kepada mereka.” (HR. Al-Baihaqi dengan Isnad yang Shahih)

2. Ada juga yang membolehkan.
Dr. Quraisy Shihab menyatakan, memberikan ucapan selamat Natal sudah diajarkan dalam Al-Qur’an, seperti tertuang dalam surah Maryam ayat 34.

“Itu tentang Isa putera Maryam, yang merupakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.” (QS. Maryam [19]: 34)

Ayat ini sama sekali tidak membahas tentang hukum kebolehan mengucapkan “Selamat Natal”. Menurut Al-Qurthubi, ayat ini menjelaskan tentang siapa Nabi Isa –’alaihissalam. Dia adalah putra Maryam, tidak seperti yang dituduhkan orang Yahudi, sebagai putra Yûsuf an-Najjâr, atau seperti klaim orang Kristen, bahwa dia adalah Tuhan (anak), atau putra Tuhan.

DR. Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan, bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama, selama tidak merugikan agama lain. Termasuk hak tiap agama untuk memberikan ucapan selamat saat perayaan agama lain. Dia mengatakan, “Sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan ucapan selamat kepada non-Muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk dalam kategori Al-Birr (perbuatan yang baik).

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8) Kebolehan memberikan mengucapkan selamat ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan ucapan selamat kepada kita dalam perayaan hari raya kita:

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)

Begitu, kata DR. Yusuf Al-Qaradhawi. Padahal, QS. Al-Mumtahanah: 8 di atas, khususnya frasa “Tabarrûhum wa tuqsithû ilaihim” (berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka) tidak ada kaitannya dengan mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada kaum Kafir yang tidak memerangi kita. Karena bersikap baik dan adil kepada mereka dalam hal ini terkait dengan mu’amalah, bukan ibadah. Sedangkan, mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada mereka bagian dari ibadah. Konteks ayat ini terkait dengan Bani Khuza’ah, dimana mereka menandatangani perjanjian damai dengan Nabi untuk tidak memerangi dan menolong siapapun untuk mengalahkan Baginda SAW, maka Allah SWT perintahkan kepada Baginda SAW untuk berbuat baik, dan menepati janji kepada mereka hingga berakhirnya waktu perjanjian. Jadi, konteks “berbuat baik” di sini sama sekali tidak ada kaitannya dengan “Selamat Hari Raya” kepada mereka, yang merupakan bagian dari “berbuat baik”.

Demikian juga dengan QS. An-Nisa’: 86. Ayat ini menjelaskan tentang tahiyyah (ucapan salam) yang disampaikan kepada orang Mukmin. Tahiyyah juga bisa berarti do’a agar diberi kehidupan. Menurut At-Thabari, “Jika kalian dido’akan orang agar diberi panjang umur, maka diperintahkan untuk mendo’akannya dengan do’a yang sama.Namun, menurut Al-Qurthubi, tahiyyah di sini bisa berarti ucapan salam. Jadi, “Jika kalian diberi salam, maka jawablah salamnya dengan lebih baik.” Hanya, menurut Al-Qurthubi, balasan lebih baik ini dikhususkan kepada orang Islam, jika mereka yang mengucapkan salam. Jika yang mengucapkan salam orang Kafir, termasuk Ahli Dzimmah, maka tidak boleh membalas salam mereka, kecuali dengan jawaban yang diajarkan oleh Nabi SAW, “Wa’alaikum.”

• Kesimpulannya

Tidak boleh ikut andil dalam perayaan hari besar agama lain termasuk dalam memproduksi perlengkapan untuk memeriahkannya, menjual ataupun memberikan ucapan selamat hari raya..

Allahu’Alam Bisshowab

LAKI LAKI BERDANDAN

Ustadz Menjawab
Kamis, 27 Oktober 2016
Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Bagaimana hukumnya laki-laki metroseksual. Yg seneng dandan, pake minyak wangi, baju sesuai style terkini entah niatnya untuk gaya , tuntutan pekerjaan dll. Lantas bagaimana batas laki-laki dalam berias atau berdandan??

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Rasulullah itu pakai farfum, minyak rambut, menyisir (tp tdk sering), suka dgn baju putih, pernah merah, hijau dan bercorak ..

Dulu ada pemuda yg kumel, dia disuruh pulang oleh Ibnu Abbas, diminta rapi agar istrinya jg senang .. sbb istri jg berhak melihat suaminya rapi ..

Batasannya adalah selama tdk memakai emas dan sutra, tidak menyerupai style wanita, tdk meniru2 non muslim (ini biasanya sering terjadi pd model rambut) gak peduli cocok apa gak dgn bentuk tubuh dan wajah, dan dari bahan yg halal dan suci.
Ada pun “berlebihan” memang tdk boleh, jika ibadah sunah saja tdk boleh berlebihan apalagi sekedar memperindah diri .

Wallahu a’lam

Jika Terpaksa Mundur, Lakukan Dengan Elegan Jika Sudah Memukul Mundur, Jangan Beri Kesempatan Bertahan

Kamis, 26 Muharram 1438H / 27 Oktober 2016

SIROH DAN TARIKH

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Salerno – Foothold in Europe, David Mason, Ballantine’s Illustrated History of the Violent Century – Battle Book no. 24, New York: 1972.

Buku tipis ini membahas lengkap Operasi Avalanche yang merupakan pendaratan Sekutu di wilayah “sepatu” Italia yang diduduki Jerman. Operasi militer yang digelar bersamaan dengan Operasi Slapstick ini adalah kelanjutan dari Operasi Husky (Juli 1943) dan Baytown (September 1943) melewati pertengahan Perang Dunia Kedua.

Karena pendaratan Sekutu dan pukulan balik Vietinghoff sudah sering dibahas, maka saya hendak menulis sedikit saja pelajaran tentang bagaimana taktik mundur-teraturnya Jerman setelah itu. Jenderal Clark yang memimpin Operasi Avalanche juga menguatkan persepsi saya tentang kemahiran Jerman dalam hal ini ketika mengatakan: “Kesselring was a master of delaying tactics.”

Ketika perintah mundur turun lewat tengah hari, maka pada malamnya hampir semua elemen tempur Jerman sudah bergerak. Yang tersisa hanyalah kesatuan jaga mundur (rearguard elements) yang memang bertugas untuk melindungi gerak mundur utama.

*Lesson #1* jika terpaksa mundur, lakukanlah dengan teratur dan terhormat.

Garis mundur balatentara Jerman adalah sepanjang Sungai Volturno. Persiapan untuk menjadikan garis itu sebagai basis pertahanan berikutnya yang kuat pasti membutuhkan waktu. Pasukan yang mundur mendapat tugas ganda disamping menyelamatkan kesatuannya; yaitu menahan laju pengejaran Sekutu. Setiap bukit dan lembah diubah menjadi medan tempur yang menguntungkan pihak yang bertahan. Kota Naples terpaksa ditinggalkan dan dibumi-hanguskan oleh Jerman agar Sekutu tidak dapat langsung memanfaatkannya, terutama fasilitas pelabuhan.

*Lesson #2* bertempur sambil mundur adalah satuan tindakan terkoordinasi dalam suasana chaos yang tak menentu; hanya jiwa korsa, disiplin, dan kepemimpinan yang mumpuni yang berpeluang mencegah pecahnya kepanikan.

Faktor cuaca pun tidak mendukung laju gerak balatentara Sekutu dengan hadirnya musim hujan dan badai yang menjadikan jalanan seperti kubangan lumpur. Pasukan Sekutu harus memulai lagi perjuangannya merebut sejengkal demi sejengkal bumi Italia. Namun yang sudah pasti, balatentara Jerman kini terdesak mundur, Jenderal McCreery menginstruksikan kepada Korps X bahwa: “once we have the enemy on the run, we will keep him moving.”

*Lesson #3* jika lawan sudah limbung, jangan beri dia waktu dan ruang untuk kembali kokoh. Terus kejar dan hujani serangan sampai jatuh tak berkutik.

Agung Waspodo, berharap hari ini penuh keberkahan kembali
Depok, 18 Oktober 2016

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SYAHADAT

Rabu, 25 Muharam 1438 H/26 Oktober 2016

Aqidah

Ustadzah Novria Flaherti
============================

SYIRIK (MENYEKUTUKAN ALLAH)

Sikap adalah menyekutukan Allah SWT dalam zat, sifat, perbuatan dan ibadah.

® Zat yaitu Meyakini bahwa Zat Allah sama dengan zat makhluk-Nya.

® Sifat yaitu Meyakini bahwa sifat Allah sama dengan sifat makhluk-Nya.

® Perbuatan yaitu Meyakini bahwa makhluk yang mengatur alam semesta dan rezeki ummat manusia.

® Ibadah yaitu Menyembah selain Allah SWT dan mengagungkannya, mencintainya seperti kepada Allah SWT

BENTUK SYIRIK

© Menyembah patung atau berhala.

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا.

“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya; ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?.'” (QS. Maryam: 42)

© Menyembah Matahari.

 وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushshilat: 37)

© Menyembah Malaikat dan Jin.

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ ۖ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ.

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat- sifat yang mereka berikan.” (QS. Al-An’am: 100)

© Menyembah para Nabi.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ.

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?.” (QS. At-Taubah: 30)

© Menyembah Rahib atau Pendeta.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ.

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)

© Menyembah Taghut

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ.

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang- orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl: 36)

© Menyembah Hawa Nafsu.

 أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

MACAM-MACAM SYIRIK

1. Syirik Besar (Asy-Syirkul Akbar)
• Tampak (Zhahir)
• Tersembunyi (Khafiy)

2. Syirik Kecil (Asy-Syirkul Asghar)

® Syirik Besar (Asy-Syirkul Akbar)

• Yaitu tindakan menyekutukan Allah SWT dengan makhluk-Nya. Syirik besar tak akan diampuni dan tak akan masuk surga.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا.

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh- jauhnya.” (QS. An-Nisa: 116)

• Syirik Besar Zhahir

° Menyembah bintang, matahari, bulan, patung, batu, pohon besar, manusia, malaikat, jin dan setan.

• Syirik Besar Khafiy

° Meminta kepada orang yang telah mati dengan keyakinan mereka bisa memenuhi permintaan mereka.

° Menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum, menghalalkan dan mengharamkan seperti halnya Allah SWT.

° Tindakan yang mengarah kepada kesyirikan, tetapi tingkatannya belum sampai keluar dari tauhid (hanya mengurangi kemurnian tauhid).

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)

® Syirik Kecil (Asy-Syirkul Asghar)

• Syirik Kecil Zhahir.

° Berupa pernyataan ataupun perbuatan.

° Contoh bersumpah dengan nama selain Allah, seperti “Demi Nabi!”, “Demi Ka’bah!”.

° “Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah SWT, ia telah kafir dan musyrik.” (HR. Tirmidzi)

 ° Contoh lain: memakai jimat dengan keyakinan jimat itu akan memberikannya keselamatan.

• Syirik Kecil Khafiy

° Berupa niat atau keinginan, seperti riya’ dan sum’ah.

° Contohnya: membaca Al-Qur’an dengan merdu agar dipuji orang lain.

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ. الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ.

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)

BAHAYA SYIRIK

• Kezaliman yang nyata (QS. 31:13)
• Sumber khurafat
• Sumber ketakutan dan kesengsaraan (QS. 3:151)
• Merendahkan derajat manusia (QS. 22:31)
• Menghancurkan kecerdasan manusia (QS. 10: 18)
• Tak akan mendapatkan ampunan dan kekal di neraka selama-lamanya (QS. 5:72)

SEBAB-SEBAB SYIRIK

• Kebodohan
• Lemahnya iman
• Taklid buta (QS. 7: 28)

® Sumber
• Al-Qur’anul Kariim
• Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah. 2009- Modul Tarbiyah Islamiyah. Jakarta: Rabbani Press
• Iman Rukun Hakikat dan yang Membatalkannya; Muhammad Nuaim Yasin; alih bahasa Tete Qomarudin; Assyamil Press;  Bandung 2001

Makmum Tidak Membaca Iftitah

Ustadzah Menjawab
Ustadzah Novria
26 Oktober 2016
=====================

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mau tanya  .. apa shalatnya sah jika tidak membaca doa iftitah ketika sholat, dikarenakan imamnya sudah  hampir ruku’ ,sehingga kita pun segera langsung membaca al-fatihah ? Syukron

================
Jawab

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Do’a iftitah hukumnya sunnah, dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum ta’awudz membaca al-Fatihah. Jika ia meninggalkan membaca doa iftitah pada rakaat pertama, maka sholatnya tetap sah. (Kitab Shifatish Shalah, Ibnu Taimiyah)

Dari Abu Hurairah ra, berkata “Biasanya Rasulullah saw setelah bertakbir ketika shalat, beliau diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, “wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah: … (beliau menyebutkan do’a iftitah).” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah saw membaca do’a iftitah dengan do’a yang bermacam-macam, beliau memuji Allah swt, menyanjung dan mengagungkan-Nya dalam doanya itu. Beliau bersabda, “Tidak sempurna shalat seseorang hingga bertakbir, memuji Allah, memuliakan serta menyanjung-Nya dan membaca ayat-ayat Al Quran yang mudah baginya” (HR. Abu Daud dan Hakim dan ia menshahihkannya, disepakati oleh adz-Dzahabi)

Imam An Nawawi berkata, “Ketahuilah bahwa semua do’a-do’a ini (berbagai macam do’a iftitah) hukumnya mustahabbah (sunnah) dalam shalat wajib maupun shalat sunnah” (Al Adzkar, 1/107)

Jadi sholt tetap sah  jika tidak dibaca karena hukumnya sunnah.

Allahu ‘Alam Bisshowab

Tidak Ada…

Rabu, 25 Muharram 1438H / 26 Oktober 2016

MOTIVASI

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

لاَ حَيَاةَ بِلاَ إِيمَانٍ وَلاَ إِيمَانَ لاَ حَيَاةَ فِيهِ

Tidak ada kehidupan tanpa iman, tak berguna  iman yang tak hidup.

لاَ إِيمَانَ بِلاَ عَمَلٍ وَلاَ عَمَلَ بِلاَ إِيمَانٍ

Tidak ada iman tanpa amal, tak berguna amal tanpa iman.

لاَ مَحَبَّةَ بِلاََ طَاعَةٍ وَلاَ طَاعَةَ بِلاَ مَحَبَّةٍ

Tak ada cinta tanpa taat, tak kan lahir taat tanpa cinta.

لاَ خَيْرَ فِي اْلإِسْرَافٍ وَلاَ إِسْرَافَ فِي الْخَيْرِ

Tidak ada kebaikan pada sifat boros, tidak dikatakan boros jika untuk kebaikan.

لاَ سِلاَحَ أَقْوَى مِنَ الدُّعَاءِ وَلاَ حِصْنَ أَقْوَى مِنَ الذِّكْرِ

Tidak ada senjata lebih kuat selain doa, tidak ada benteng yang lebih kokoh selain zikir

لاَ عِلْمَ مَعَ الْكِبْر وَلاَ جَهْلَ مَعَ التَّعَلُّم

Tidak dikatakan berilmu jika disertai kesombongan, tidak dikatakan bodoh jika terus belajar

لاَ صَغِيرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ وَلاَ كَبِيرَةَ مَعَ الاِسْتِغْفَارِ

Tidak dikatakan dosa kecil kalau terus menerus, tidak dikatakan dosa besar jika disudahi istighfar (taubat)

لاَ عِلْمَ بِلاَ عَمَلٍ وَلاَ عَمَلَ بِلاَ عِلْمٍ

Tidak ada ilmu tanpa amal, tidak ada amal tanpa ilmu.

لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشُ الآخِرَةِ وَلاَ مَوْتَ إِلاَّ مَوْتَ الْقُلُوبِ

Tidak ada kehidupan (hakiki) kecuali kehidupuan akhirat, tidak ada kematian (hakiki) kecuali kematian hati.

لاَ سَعَادَةَ بِلاَ زَوْجٍ وَلاَ زَوْجَ بِلاَ سَعَادَةٍ

Tidak ada kebahagiaan tanpa pasangan (suami/isteri), apa guna pasangan kalau tidak bahagia….

4 MAHZAB

Ustadz Menjawab
Rabu, 26 Oktober 2017
Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamualaikum wr wb Ustadz/ah..
Saya mau tanya kita muslim sama2 tau bahwa ada 4 mahzab dan kita tau bahwa 4 mahzab itu hidup setelah rasulullah, Namun yang saya lihat saat ini banyak para kalangan muslim membahas ikut salah satu tata cara dari mahzab tersebut lebih jauh saya perhatikan ke 4 mahzab tersebut tidaklah menciptakan sakte atau aliran lambat laun muridnyalah yg menciptakan sakte tersebut di dalam islam atau di dlam Alquran menyatakan bahwa ikutilah Allah dan rosul serta ulil amri ulil amri yakni para ulama namun ada lanjutan ayat apa bila ulil amri tersebut bertentangan kembalilah kepada Allah dan rasul. Adapun dalam satu ajaran islam bahwa kita muslim di haramkan dalam berpecah belah bahwa Allah menyatakan bukanlah tanggungmu muhammad orang yg memecah belah aliran tersebut
yang saya tanyakan Adalah bagaimana setatus islam ini? Kita mengikuti 4 mahzab atau baginda? Dalam suatu hadist dikatakan 2 pusaka yg tidak akan tersesat yakni Alquran dan Hadist, tentulah hadist soheh munurut ustad bagaimna tanggapannya bila ada serang hamba Allah atau ummat nabi yang mengklaim dirinya bukan mengikuti salah satu 4 mahzab namun mengikuti rasul?

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihiwa ashhabihi wa man waalah, wa ba’d:

📌 Dalam masalah gerakan anti madzhab, lalu mereka menyerang para imam madzhab dan yang mengikutinya, jelas itu adalah perbuatan yang tidak terpuji.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah telah mengkritik para penggiat anti madzhab ini dengan menyusun kitab: Raf’ul malam an a’immatil a’lam.

Beliau telah melucuti pihak-pihak yang telah berlaku kasar dan sombong terhadap para imam-imam madzhab, dan Beliau telah berhasil mengembalikan madzhab dan para pendirinya pada kedudukan yang seharusnya mereka terima.

Sejak dahulu hingga kini selalu ada golongan yang selalu menyerukan kembali kepada Al Quran dan As Sunnah. Seruan ini baik dan patut didukung, tetapi ternyata dibalik mulia seruan ini ada “azab” di dalamnya. Meminjam istilah Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, “Kalimatul haq yuradu bihal baathil.” Kalimat yang benar untuk dimaksudkan pada hal yang batil.

Dibalik seruan ini mereka hendak mengubur dalam-dalam warisan pemikiran para imam kaum muslimin, dengan slogan “Cukup Al Quran dan As Sunnah,” dan lemparlah ke tong sampah pemikiran Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal. Inilah golongan Neo Zhahiriyah  yang selalu ada setiap zaman, mereka hendak memposisikan dirinya sebagai mujtahid yang setara dengan para imam tersebut bahkan melebihinya, sehingga mereka tidak butuh mengutip, menimbang, mengkaji, dan  menganalisa, dari istimbath para imam-imam ini. Bagi mereka, “Kami adalah laki-laki dan mereka juga laki-laki, kami juga bisa menggali langsung dari Al Quran dan As Sunnah!” Akhirnya, mereka justru terjebak pada keadaan yang mereka tidak benarkan sendiri, yakni mendirikan madzhab baru, “madzhab tanpa madzhab.”

Ini adalah sikap ekstrim yang tidak dibenarkan syariat, akal, dan adat manusia. Bagaimana pun, manusia yang hidup zaman ini tidak bisa lepas dari para pendahulunya. Ulama yang hidup masa modern juga tidak bisa melepas total dengan para ulama terdahulu (salaf). Sebab, para ulama masa lalu menyiapkan kaidah ilmu  dan tonggak-tonggak dalam memahami dasar-dasar agama adalah diperuntukkan anak dan cucu mereka seperti kita yang hidup masa kini. Saat ini kita sudah dimudahkan dengan rumusan berbagai kaidah dan ilmu yang mereka buat, itu adalah warisan yang sangat mahal, yang belum tentu kita mampu menciptakan seperti mereka. Namun, di mata orang yang picik,   para imam-imam ini dianggap pemecah belah agama, dan kita tidak boleh taklid kepada mereka. Wallahul Musta’an!

📌 Di sisi lain, ada pula golongan lain yang menjadi lawannya. Mereka bersikap ekstrim pula dalam mengkultuskan pendapat madzhab. Mereka begitu fanatik dengan pendapat madzhabnya dan mengingkari pendapat madzhab lain. Walaupun pendapat tersebut lemah. Akhirnya, mereka menjadi junudul madzhab (tentara-tentara madzhab) bukan junudullah (tentara-tentara Allah). Marahnya mereka karena madzhab, ridha pun karena madzhab. Pedang mereka siap terhunus dan taring mereka siap menerkam siapa-siapa saja yang mengkritik pendapat imam madzhabnya. Kuat lemahnya hujjah tidak lagi menjadi ukuran, tapi ukuran itu dilihat dari “Setiap orang  yang berbeda dengan madzhab kami maka dia sesat dan menempuh bukan jalan kaum beriman.”

Sikap ini juga tidak benar dan tercela, bahkan sama sekali bukan cerminan akhlak dari para imam madzhab, tidak Hanafi, tidak Maliki, tidak Syafi’i, dan tidak pula Hambali.

Para bintang dunia ini, tidak pernah mengajak orang lain untuk selalu mengkultuskan pendapatnya, salah dan benar harus diikuti.
 
Maka, sikap anti madzhab di satu sisi dan kultus madzhab di sisi lain, keduanya sama-sama keliru dan berbahaya. Bahkan para imam dan tokoh madzhab seperti Imam Abu Yusuf (Hanafi), Imam Al Ghazali (Syafi’i), Imam An Nawawi (syafi’i), Imam Ibnul ‘Arabi  (Maliki), Imam Ibnu Taimiyah (Hambali), mereka adalah sebaik-baiknya imam pengikut madzhab, tapi mereka terbuka dengan pihak lain, tidak fanatik, dan berjalan bersama dalil-dalil.

Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk menempuh jalan tengah, adil, dan seimbang:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

  “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat pertengahan ..” (QS. Al Baqarah (2): 143)

  Ayat lain:

أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (8) وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ (9)

  Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS. Ar Rahman (55): 8-9)

  📌 Ada pun tentang Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah, dia adalah seorang ulama hadits masa kini yang telah menghabiskan hampir semua umurnya untuk berkhidmat kepada sunah nabi. Telah banyak pengakuan dan penghargaan baginya, baik yang datang dari kawan dan lawan.

Telah ada kritikan baginya seperti yang dilakukan oleh Syaikh Hammud At Tuwaijiri Rahimahullah dalam beberapa masalah, padahal   secara garis pemikiran mereka berdua tidak berbeda.  Syaikh Al Qaradhawi pun –yang pernah memuji Syaikh Al Albani- pernah mengkritiknya dalam hal pengingkarannya terhadap zakat pertanian, dan banyak lagi dari para ulama lainnya, termasuk kritik dari Syaikh Said Ramadhan Al Buthi Rahimahullah.

Namun, saling kritik dalam dunia ilmu adalah hal yang biasa dan sudah terjadi sejak masa lalu. Dan, hal itu sama sekali tidak menjatuhkan nama dan kehormatan Syaikh Al Albani Rahimahullah dan ulama lainnya.

Dalam konteks gerakan anti madzhab, maka jalan yang ditempuh oleh Syaikh Al Albani tidaklah demikian. Bagi orang yang akrab dengan karya-karyanya, akan menyimpulkan bahwa metode beliau adalah madzhabnya Ahlul Hadits atau Ashhabul Hadits, itu pun tidak mutlak, sebab dalam berbagai pembahasan Beliau juga mengikuti pendapat para imam madzhab. Madzhab Ahlul Hadits ini pun sudah ada sejak masa lalu dan mesti tetap diberikan peluang dan ruang hidup sebagaimana lainnya. Bagi yang dekat dengan karya-karya para fuqaha, mereka akan sering mendapatkan informasi, “menurut Malikiyah begini, Hambali begitu, ada pun ahli hadits mereka begini …. .”

Sebagai misal dalam hal turun sujud, apakah lutut dahulu atau tangan dahulu? Saya akan kutipkan paparan Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah sebagai berikut:

 ذهب الجمهور إلى استحباب وضع الركبتين قبل اليدين، حكاه ابن المنذر عن عمر النخعي ومسلم بن يسار وسفيان الثوري وأحمد وإسحاق وأصحاب الرأي قال: وبه أقول، انتهى.
وحكاه أبو الطيب عن عامة الفقهاء.
وقال ابن القيم: وكان صلى الله عليه وسلم يضع ركبتيه قبل يديه ثم يديه بعدهما ثم جبهته وأنفه هذا هو الصحيح الذي رواه شريك عن عاصم بن كليب عن أبيه.
عن وائل بن حجر قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه، وإذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه ولم يرو في فعله ما يخالف ذلك، انتهى.
وذهب مالك والاوزاعي وابن حزم إلى استحباب وضع اليدين قبل الركبتين، وهو رواية عن أحمد. قال الاوزاعي: أدركت الناس يضعون أيديهم قبل ركبهم. وقال ابن أبي داود: وهو قول أصحاب الحديث.
 
“Menurut madzhab jumhur ulama, disunahkan meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan. Demikian itu diceritakan Ibnul Mundzir dari Umar, An Nakha’i, Muslim bin Yasar, Sufyan Ats Tsauri , Ahmad, Ishaq dan ashabur ra’yi (pengikut Abu Hanifah). Dia berkata: “Aku juga berpendapat demikian.” Abu Thayyib menceritakan hal ini dari umumnya para fuqaha.

Ibnul Qayyim mengatakan: Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meletakkan lututnya sebelum tangannya, kemudian tangannya, lalu diikuti dengan keningnya dan hidungnya. Inilah yang shahih yang diriwayatkan oleh Syarik dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya, dari Wail bin Hujr, dia berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika dia sujud dia meletakkan lututnya sebelum tangannya, dan jika dia akan bangkit, dia mengangkat tangannya sebelum lututnya. Dan tidak ada riwayat yang bertentangan dengan apa yang dilakukannya itu.” Selesai.

Sedangkan madzhab Imam Malik, Al Auza’i , dan Ibnu Hazm, menyunnahkan meletakkan tangan sebelum lutut, itu juga merupakan satu riwayat dari Ahmad. Berkata Al Auza’i: “Aku melihat manusia meletakkan tangan mereka sebelum lututnya.”

Berkata Ibnu Abi Daud: “Ini adalah PENDAPAT PARA AHLI HADITS.”   (Fiqhus Sunnah, 1/164. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Telah masyhur bahwa Syaikh Al Albani mengikuti pendapat ahli hadits dalam hal ini sebagaimana yang kita lihat dalam Shifat Shalat Nabi.

Contoh lain adalah dalam menyikapi penguasa yang zalim dan menyimpang. Para ulama berbeda pendapat antara yang memilih untuk bersabar saja sebagaimana pendapat Ahli Hadits, atau yang menurunkan pemimpin tersebut sebagaimana pendapat Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Hazm, Imam Al Mawardi, dan lainnya.

Jadi, madzhab ahli hadits sudah ada sejak lama. Bahkan tidak sedikit kitab yang secara khusus menempatkan pendapat para ahli hadits dalam bidang aqidah, seperti Al Intishar Li Ashhabil Hadits karya Imam Abu Muzhaffar As Sam’ani, lalu  I’tiqad Ahl As Sunnah Syarh Ashhab Al Hadits karya Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al Khamis.

Syaikh Al Albani juga sering menyandarkan pendapatnya pada pendapat imam madzhab. Ketika Beliau membahas “membaca Al fatihah bagi makmum” beliau memilih pendapat Imam Ahmad  dan Imam Malik, bahwa membaca Al Fatihah bagi Makmum adalah wajib ketika shalat sirr, namun tidak membacanya ketika shalat dijaharkan, tetapi mesti mendengarkan bacaan imam.

Dalam mengharamkan alat-alat musik (lihat kitab Tahrim Alat Ath Tharb) beliau mengikuti dan mengulang-ulang bahwa imam empat madzhab mengharamkan musik.

Kesimpulan, Syaikh Al Albani juga bermadzhab yakni madzhab Ahli Hadits, dan kadang Beliau mengikuti pendapat imam madzhab fiqih yang dipandangnya kuat dalilnya.

Pengingkaran beliau lakukan kepada orang yang fanatik madzhab, bukan kepada madzhabnya. Inilah yang bisa kita lihat jika langsung membaca karya-karyanya. Hanya saja,  Syaikh Al Albani kerap menggunakan pilihan kata yang pedas dan keras kepada orang-orang yang dikritiknya. Bisa kita lihat dalam muqadimah Tahrim Alat Ath Tharb, beliau begitu pedas dalam mengkritik tiga ulama sekaligus, yakni Syaikh Abu Zahrah, Syaikh Muhammad Al Ghazali, dan Syaikh Al Qaradhawi, seakan tiga ulama ini benar-benar bodoh dihadapannya. Juga antara beliau dengan Syaikh Hammud At Tuwaijiri, yang keduanya sama-sama pedas dalam mengkritik, tapi dalam kehidupan nyata keduanya baik-baik saja.

Belum lagi kritikan beliau terhadap Syaikh Hasan As Saqqaf (pengarang kitab Tanaqudhat Al Albani – Kontradiksinya Al Albani), atau Syaikh Habiburrahman Al A’zhami, atau Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, dan masih banyak lainnya. Sehingga hampir-hampir  saja kita katakan bahwa mereka adalah ulama yang saling bermusuhan dan membenci satu sama lain.

Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

NABI HUD AS (Part 2)

Selasa, 24 Muharam 1438 H/25 Oktober 2016

Sirah

Ustadzah Yani

============================

KETIKA AZAB DITURUNKAN


Ketika kaum Nabi Hud masih dalam kekufuran, maka Allah menurunkan azab-NYA. Azab tersebut diawali dengan musim kering yang berkepanjangan, dan selama 3 tahun lamanya tak ada turun hujan.

Pada saat itu, masyarakat mengalami kondisi yang sangat genting, mereka memohon pertolongan Allah dengan kehormatan & kemuliaan Baitullah. Maka, diutuslah beberapa orang dari kaum ‘Ad pergi ke Baitullah dengan tujuan memohon pertolongan Allah agar diturunkan hujan. Saat tiba diperbatasan kota Makkah, mereka singgah di kediaman Muawiyah bin Bakr, dan tinggal sebulan lamanya. Mereka berpesta minum khamr dan dihibur biduanita yang disediakan oleh Muawiyah, mereka lupa dengan tujuan awal mereka. Lalu mereka tersadar, dan pergi menuju Masjidil Haram lalu berdo’a kepada Allah SWT,  memohon agar diturunjannya hujan pada kaumnya.

Kemudian Allah SWT menjadikan 3 macam awan, ada yang putih, merah, dan hitam. Lalu, ada seruan yang diarahkan ke mereka untuk memilih awan mana yg mereka inginkan. Dan merekapun memilih awan hitam dengan anggapan awan tersebut lebih banyak airnya. Lalu, Allah SWT menggiring awan tersebut diatas bangsa ‘Ad. Melihat awan tersebut kaum ‘Ad bergembira dan mengira permohonan mereka dikabulkan dan hujan akan segera turun.

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 24)

Namun, apa yang mereka kira akan turun hujan adalah salah. Awan yang mereka pilih adalah awan yang membawa angin yang membinasakan.

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus.” (QS. Al-Qamar: 19)

Allah SWT menimpakan angin itu kepada kaum ‘Ad selama 7 malam dan 8 hari selama terus menerus. Dan mereka pun mati bergelimpangan bagaikan batang kurma yang lapuk.

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

“Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al-Haqqah: 7)

فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

“Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.” (QS. Al-Haqqah: 8)

Kedahsyatan azab berupa angin kencang yang menimpa kaum ‘Ad selalu diingat Rasulullah SAW, apabila beliau melihat awan menggantung dilangit, raut muka beliau berubah dan beliau dengan gusar keluar masuk rumah. Wajah Rasulullah SAW kembali berseri seri apabila telah turun hujan.

Aisyah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah SAW apabila menyaksikan angin bertiup kencang, beliau berdoa,

اللهم إني أسألك خيرها وخيرما فيها وخيرما أرسلت به، وأعذبك من شرها وشرما فيها وشرما أرسلت به
(رواه مسلم، رقم ٨٩٩)

‘Allahumma innii as aluka khoirohaa wa khoiromaa fiiha wa khoiromaa arsilat bihi, wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa fiihaa wa syarrimaa ursilat bihi.’ (HR. Muslim, no. 899)

“Ya Allah, sungguh aku mohon kepadaMU kebaikannya (angin tersebut) dan kebaikan yg ada didalamnya serta kebaikan yg ENGKAU kirim kepadanya. Dan aku berlindung kepadaMU dari keburukannya dan keburukan yg ada didalamnya serta keburukan yg ENGKAU kirim padanya.”

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf: 24)

Allahu ‘alam bishowab

Sumber : Kisah Para Nabi (Ibnu Katsir

Hidangan Allah – [at-Tahrim] (Bag. 1)

Selasa, 24 Muharram 1438H / 25 Oktober 2016

TADABUR AL- QURAN

Pemateri: DR. SAIFUL BAHRI, M.A.

BILA TAK SEMUA BUNGA WANGI

Kehidupan rumah tangga merupakan sebuah biduk yang penuh pernik-pernik. Bahkan, sekalipun itu adalah sebuah keluarga Nabi. Surat at-Tahrim, yang sedang kita tadabburi bersama ini menjelaskan salah satu pernik keluarga yang dilalui oleh Rasulullah. Sekaligus menunjukkan bahwa Rasulullah sebagai tauladan semua manusia, khususnya umat Islam. Beliau adalah seorang manusia, bukan malaikat. Hal tersebut dimaksudkan agar siapapun bisa meniru sifat-sifat terpuji beliau yang telah diabadikan dalam al-Qur’an, _“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”_ *(QS. Al-Qalam: 4)*

Surat yang turun di Madinah ini menggambarkan sedikit masalah yang terjadi antara Rasulullah saw dan isteri-isterinya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah membawa Maria al-Qibthiyah ke rumah Hafshah, dan beristirahat di sana ketika Hafshah sedang tidak berada di rumahnya. Kemudian Hafshah menjumpai Rasulullah berada dalam rumahnya dengan Maria. Hafshah pun cemburu. Maka seketika itu pula Rasul pun mengharamkan Maria untuk diri beliau. Namun, riwayat ini lemah karena beberapa periwayatnya yaitu Abdullah bin Syabib seorang yang kurang kuat hafalannya. Dan Abu Said ar-Rib’iy seorang yang pandai tapi mudah lupa dan terlalu banyak bicara dan bercerita sehingga tercampur-campur riwayatnya. Sebagaimana ditegaskan Abu Ahmad al-Hakim dalam bukunya Mîzân al-`I’tidâl fi Naqdi ar-Rijâl (lihat vol. 4/118).

Adapun sebab turun ayat ini yang shahih sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim juga Abu Dawud, Rasulullah dijumpai oleh Aisyah dan Hafshah sepulang dari rumah Zainab binti Jahsy dan mereka berdua menemukan tanda-tanda Rasulullah telah meminum madu dan jamuan yang istimewa di rumah Zaenab, mereka berdua pun cemburu. Untuk menyenangkan isteri-isterinya Rasul pun mengharamkan madu. Maka turunlah teguran Allah, _“Hai Nabi, Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”_ *(At-Tahrim: 1)*

Kemudian tatkala beliau menjelaskan sebuah rahasia tertentu kepada Hafshah. Lalu Hafshah memberitahukannya kepada Aisyah dan mereka berdua sibuk membicarakannya. Turunlah teguran Allah berikutnya, _“Dan ingatlah ketika nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang Telah memberitahukan hal Ini kepadamu?” nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua Telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan nabi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”_ *(At-Tahrim: 3-5)*

Adalah sebuah keistimewaan dan kebanggaan berada di dekat Rasulullah, berada di tengah-tengah kehidupan Rasulullah. Apalagi dengan status sebagai ahli baitnya. Menjadi orang pertama yang dekat dengan sumber turunnya hukum dari Allah. Namun, keistimewaan ini tak lantas membuat ahli bait Rasulullah kebal hukum dan bebas melakukan apa saja. Karena agama Islam, risalah yang dibawa Rasulullah tak mengenal kasta. Siapapun yang baik dihargai kebaikannya dan yang salah harus dihukum atau setidaknya ditegur.

Teguran pertama yang diperuntukkan Rasulullah adalah sebuah teguran yang tegas. Apakah demi menyenangkan para isteri, beliau bisa mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah. Sekaligus sebagai contoh untuk para umatnya, terutama dalam mengarungi kehidupan keluarga. Tak jarang demi menyenangkan hati isteri seorang suami melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah. Dalam ayat ini, Rasul tidaklah melakukan maksiat atau melanggar larangannya, tapi beliau menahan dari sesuatu yang dibolehkan. Itu saja sudah mendapat teguran. Apalagi jika seandainya yang dilakukan adalah maksiat. Maka yang perlu diambil pelajaran adalah penyikapan terhadap perilaku isteri yang kadang memiliki kecemburuan yang berlebihan, bahkan tak jarang sangat tidak beralasan. Penyelesaian yang baik bukanlah asal isteri senang. Namun, perlu diperhatikan apakah melanggar norma agama selain tentunya dicari akar permasalahan yang sesungguhnya. Dan kemudian dibicarakan dengan baik-baik dan kepala dingin. Bahwa permasalahan cemburu juga tak jauh berbeda dengan permasalahan salah paham antara pasangan suami istri dalam berkomunikasi. Kecuali jika memang benar suami telah benar-benar melanggar hak-hak istri. Bukan sekedar praduga atau prasangka, karena kita diminta untuk menjauhi keduanya.

🔹Bersambung…🔹

MEMBANGUNKAN YG TIDUR PULAS SETELAH MASUK AZAN

Ustadz Menjawab
Selasa, 25 Oktober 2016
Ustadzah Dwi Hastuti Rakhmawati. S.Psi

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
assalamualaikum…afwan izin bertanya…
kalau ada yang lagi tidur pulas lalu masuk azan sholat apakah kita wajib membangunkan ya? apa tidak? soal nya pernah ada yg bilang tdk usah di bangunkan… terimakasih  #A 42

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Ada sebuah ayat yang bisa menguatkan untuk manusia berbuat baik yaitu :

 وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّکٰوةَ   ؕ  وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ  ؕ  اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Dan laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
[QS. Al-Baqarah: Ayat 110]

Membangunkan teman untuk melaksanakan kewajiban Muslim yaitu sholat adalah kebaikan. Khawatir pula jika tidak dibangunkan teman tersebut tidur sampai lewat waktu sholat.

Perlu juga diperhatikan cara-cara membangunkan teman. Bisa ditepuk pada tubuh bagian kanan dan mengucapkan salam didekat telinganya atau dengan suara yang cukup didengar.

Wallahu a’lam.