ALLAH TUJUAN KITA

Selasa, 10 Ramadhan 1437 H/ 15 Juni 2016
Akhlak
Ustadz Farid Num’man Hasan, S.S
ALLAH TUJUAN KITA
=====================

Sikap dan perbuatan seorang muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebagai pancaran jiwa hamba yang taat, patuh, taqwa, dan pasrah karena sebuah kesadaran. Si muslim sangat yakin bahwa apa-apa yang dimilikinya semuanya semata-mata karena pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan apa saja yang (dimiliki) olehmu berupa nikmat,
kesemuanya adalah pemberian Allah”
(QS. An-Nahl (16): 53)
“Dan jika kamu ingin menghitung-hitung nikmat Allah kepadamu,  niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya”  (QS. Ibrahim (14) : 34)
Sikap dan perbuatan seorang Muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berlandaskan keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan dirinya dan apa saja yang merupakan sarana hidupnya. Dan ia pun sangat yakin Allah Subhanahu wa Ta’ala berkuasa untuk mencabut apa saja yang dimilikinya itu. Ia pun sadar bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bukan saja yang nyata tapi juga yang tersembunyi.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Allah mengetahui apa yang kamu sembunyikan
dan apa yang kamu nyatakan”
(QS. Al Baqarah (2): 77)
Setiap Muslim sadar bahwa tidak ada satupun perbuatannya di dunia baik yang kecil dan besar, kecuali akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak. Oleh sebab itu, seorang Muslim akan senantiasa bersikap sebagai seorang Muslim yang benar.
1.  Mengabdi hanya kepada Allah
Bertaqwa dan mengabdi hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak mempersekutukannya dengan apapun dalam bentuk apapun dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun.
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepadaku”.
(QS. Adzariyat (51): 56)
“Mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama karenanya dengan menjauhi kesesatan, dan (agar) mereka mendirikan sholat, dan memberikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus”
(QS. Al Bayyinah (98): 5)
  Dahulu, pada masa Khalifah Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu ada pangima perang nan gagah berani, Khalid bin Walid Radhiallahu ‘Anhu, dia adalah panglima besar yang selalu memimpin berbagai peperangan dan selalu menang. Akhirnya banyak manusia yang memuji-muji dan sangat menyanjungnya.  Umar bin Al Khathab mengkhawatiri itu akan mengurangi keikhlasannya, maka Khalid bin Walid dicopot dari jabatannya sebagai panglima tertinggi dan diturunkan menjadi prajurit biasa.
  Orang-orang saat itu bertanya kepada Khalid bin Walid, kenapa dia mau begitu saja diturunkan menjadi prajurit biasa padahal dahulunya panglima tertinggi? Kenapa dia tidak protes atas keputusan itu?
  Khalid bin Walid menjawab: “Tidak apa-apa, karena aku berperang bukan untuk khalifah Umar, tetapi aku berperang untuk Tuhannya Khalifah Umar.”
2.  Tunduk dan Patuh hanya kepada Allah
Tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala merupakan suatu keharusan bagi setiap Muslim, karena ketentuan dan ketetapan Allah bersifat abadi. Tidak berubah sepanjang masa dan tidak bisa dirubah oleh siapapun. Berbeda dengan ketentuan dan ketetapan yang dibuat oleh manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah  dan RasulNya, dan janganlah kamu berpaling dari padaNya  padahal kamu mendengar”
(QS. An Anfal (8): 20)
Dan bagi mereka yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dibalas dengan ganjaran pahala berupa hidup berdampingan di surgaNya bersama para Nabi, orang-orang yang benar (shidiq), orang-orang yang mati syahid (syuhada) dan orang-orang shalih.
Seorang Muslim dilarang untuk taat, takut, dan tunduk kepada makhluk melebihi taat, tunduk, dan patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketaatan kepada makhluk hanya dibolehkan apabila tidak bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah di atas segala-galanya. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita berdusta, maka janganlah berdusta meskipun kita diperintah berdusta oleh orang tua kita, guru, kakak, teman, pejabat, atasan, bos, dan yang lain. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita sholat, maka shalatlah walaupun dilarang oleh orang lain.
Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Tidak boleh taat  dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya taat itu hanya  dalam hal yang ma’ruf (baik).” (HR. Bukhari No. 4340, 7145 dan Muslim No. 1840)
Justru yang ada adalah takut bila tidak melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala; tidak sholat lima waktu, tidak puasa, tidak berinfaq, tidak mengasihi anak-anak yatim, tidak memberi makan fakir miskin. Dan takut apabila melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala; dilarang untuk melawan orang tua, takut bila berdusta, takut bila berzina, takut bila mencuri, takut bila menyakiti sesama Muslim, takut bila tidak menutup aurat, takut bila berkelahi, takut bila menceritakan keburukan orang lain, dsb …
Jadi hanya Allah-lah yang berhak untuk ditakuti dan ditaati. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
_”Allah lah yang lebih berhak kamu takuti jika kamu benar-benar orang yang beriman”_
(QS. At Taubah (9): 13)
_”Sesungguhnya (yang pantas) memakmurkan masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat; dan tidak takut kepada yang lain kecuali hanya kepada Allah”_
(QS. At Taubah (9): 18)
3.  Bersyukur hanya kepada Allah
Bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik nikmat kesehatan, akal pikiran, maupun nikmat-nikmat lainnya yang sulit bagi manusia untuk menghitungnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
_“Dan Tuhanmu telah memaklumkan kamu (bahwa) jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat bagi kamu, apabila kamu tidak bersyukur, maka azabKu itu sangat pedih”_ (QS. Ibrahim (14): 6  7)
4.  Ridha dan Ikhlas Menerima Keputusan Allah
Sesudah manusia berusaha, bekerja sungguh-sungguh dan bertawakal, maka ia dituntut untuk ikhlas dan ridha terhadap semua keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia selalu siap menerima semua itu tanpa sedikit pun keberatan di dalam hatinya. Apalagi berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Yang dia rasakan adalah bahwa keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala apapun bentuknya, itu adalah yang terbaik baginya.
Orang yang tidak ridha dengan keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sama saja menuduh Allah Subhanahu wa Ta’ala berbuat tidak adil. Padahal Allah lah zat yang Maha Adil.  Keadilan Allah  Subhanahu wa Ta’ala tidak pilih kasih, tidak pandang bulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan rasa keadilan kepada semua orang tanpa kecuali. Keikhlasan ini senantiasa dituntut oleh Allah kepada setiap Muslim. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala  :
_“Dan alangkah baiknya jika mereka ridha dengan apa yang Allah dan RasulNya berikan kepada mereka . . ._
(QS. At Taubah (9) : 59)
_”Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridho dan diridhoi. Yaitu masuklah di dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam syurgaKu”_
(QS. AlFajr (89): 27  30)
5.  Selalu Berharap kepada Allah
Setiap manusia pasti punya keinginan dan cita-cita. Keinginan yang macam-macam dan banyak. Ingin memiliki masa depan yang cerah, ingin sekolah yang baik, ingin punya pekerjaan yang layak, dsb, dsb. Namun, ingatlah keinginan itu tidak mungkin tercapai hanya dengan mengandalkan usaha sendiri. Oleh sebab itu, gantungkanlah harapan, keinginan, dan cita-cita itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Manusia tidak boleh menggantungkan harapannya kepada sesama makhluk apalagi kepada benda-benda mati. Karena banyak juga orang-orang yang menggantungkan harapan, keinginan, dan cita-citanya kepada kuburan orang terkenal, paranormal, dan dukun, ramalan bintang, roh-roh halus, dsb. Hal ini disamping tidak masuk di akal juga akan terkena dosa paling besar yakni dosa syirik (menduakan Allah dengan makhluk).
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (pertemuan) dengan Allah akan tiba. Dia Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
(Q.S AlAnkabut (29) : 5)
Allah  Subhanahu wa Ta’ala  pun melarang kita berputus asa kepadaNya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Janganlah kamu putus asa kepadaKu, karena sesungguhnya tidaklah putus asa kepada Allah, kecuali orang-orang yang kafir”
(QS. Yusuf (12): 87)
“Janganlah kamu berputus asa dari Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu”
(QS. AzZumar (39): 53)
6.  Berdo’a (Memohon Pertolongan Allah)
Salah satu perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah  Ta’ala adalah berdo’a kepadanya dan hanya kepadaNya. Kenapa Allah Ta’ala senang diminta oleh hambaNya. Karena Allah Maha Kaya. Dialah pemiliki tunggal apa ayang ada di alam semesta beserta isinya. Sedangkan manusia adalah makhluk yang miskin. Miskin segala-galanya. Kenapa ? Karena pada hakekatnya semua yang ada pada manusia sangat sedikit dibandingkan kekayaan alam semesta. Yang sedikit itupun bukan miliknya karena ketika datang ke dunia, manusia tidak membawa apa-apa, satu potong pakain pun tidak, bahkan dirinya sendiri adalah kepunyaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh sebab itu, manusia yang tidak pernah berdo’a adalah orang yang sombong, yang merasa kaya dan tidak butuh pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Islam mengajarkan agar kita selalu berdo’a sambil merendahkan diri kepadaNya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya tentang Aku, katakanlah : bahwa Aku dekat, Aku akan mengabulkan do’a, orang yang berdo’a kepadaKu”
(QS. AlBaqarah (2): 186)
Berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  diajarkan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk kita baca di setiap kesempatan dan di mana saja. Berdo’alah ketika hendak makan dan selesai makan, ketika hendak tidur dan bangun tidur, ketika belajar, ketika keluar rumah, dan naik kendaraan, ketika berpakaian, dan bercermin, dan ketika melakukan kegiatan-kegiatan yang lainnya.
Agar do’a dikabulkan seorang hamba diharapkan suci diri dan pakaian, dengan penuh harap, ikhlas, dengan suara perlahan-lahan dan dengan menyebut nama Allah yang Mulia (Asma’ul Husna).
7.   Menjadi pembela agamaNya
Seorang muslim yang baik, tentunya tidak ingin menjadi muslim yang biasa-biasa saja. Harus menjadi istimewa dibanding orang lain. Di antaranya adalah hendaknya dia menjadi muslim pejuang yang membela agama Allah Ta’ala yang diturunkanNya melalui risalah NabiNya yang mulia, Islam.
Membela agamaNya, bisa dilakukan dengan berbagai cara, dari yang paling ringan sampai yang paling berat mengorbankan harta dan nyawa; seperti menyantuni kaum muslimin yang lemah, membela yang tertindas dan terusir, memberikan infaq untuk para pejuang, pendirian masjid, Islamic Center, menjadi pemikir dan penulis muslim yang handal, sampai ikut berjihad fi sabilillah di medan tempur.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Wahai orang-orang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan pendirian kalian. (QS. Muhammad: 7)
Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala….

Fiqih I’tikaf (Bag. 2)

📆 Senin,  8 Ramadhan 1437 H / 13 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋  *Fiqih I’tikaf (Bag. 2)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Hukumnya*

  Hukumnya adalah sunnah alias tidak wajib, kecuali I’tikaf karena nazar.

Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

وقد وقع الإجماع على أنه ليس بواجب ، وعلى أنه لا يكون إلا في مسجد

📌Telah terjadi ijma’ bahwa I’tikaf bukan kewajiban, dan bahwa dia tidak bisa dilaksanakan kecuali di masjid. (Fathul Qadir, 1/245)

Namun jika ada seorang yang bernazar untuk beri’tikaf, maka wajib baginya beri’tikaf.

  Khadimus Sunnah Asy Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan:

الاعتكاف ينقسم إلى مسنون وإلى واجب، فالمسنون ما تطوع به المسلم تقربا إلى الله، وطلبا لثوابه، واقتداء بالرسول صلوات الله وسلامه عليه، ويتأكد ذلك في العشر الاواخر من رمضان لما تقدم، والاعتكاف الواجب ما أوجبه المرء على نفسه، إما بالنذر المطلق، مثل أن يقول: لله علي أن أعتكف كذا، أو بالنذر المعلق كقوله: إن شفا الله مريضي لاعتكفن كذا.
وفي صحيح البخاري أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” من نذر أن يطيع الله فليطعه “

📌  I’tikaf terbagi menjadi dua bagian; sunah dan wajib. I’tikaf sunah adalah I’tikaf yang dilakukan secara suka rela oleh seorang muslim dalam rangka taqarrub ilallahi (mendekatkan diri kepada Allah), dalam rangka mencari pahalaNya dan mengikuti sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal itu ditekankan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana penjelasan sebelumnya.

  I’tikaf wajib adalah apa-apa yang diwajibkan seseorang atas dirinya sendiri, baik karena nazar secara mutlak, seperti perkataan: wajib atasku untuk beri’tikaf sekian  karena Allah. Atau karena nazar yang mu’alaq (terkait dengan sesuatu), seperti perkataan: jika Allah menyembuhkan penyakitku saya akan I’tikaf sekian ..

  Dalam shahih Bukhari disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang bernazar untuk mentaati Allah maka taatilah (tunaikanlah).” (Fiqhus Sunnah, 1/475)

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

FIQIH I’TIKAF (Bag. 1)

📆 Ahad,  7 Ramadhan 1437 H / 12 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *FIQIH I’TIKAF (Bag. 1)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Definisi*

📕 *Secara Bahasa (Lughah):*

I’tikaf adalah Al Mulaazim artinya  berdiam, membiasakan, menetapi (Lihat Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 1/244. Mawqi’ Ruh Al Islam)

يقال عكف على الشيء : إذا لازمه

    Dikatakan, ‘akafa ‘ala Asy Syai’  (Dia menetap di atas sesuatu), artinya dia selalu bersamanya. (Ibid)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

الاعتكاف لزوم الشئ وحبس النفس عليه، خيرا كان أم شرا

I’tikaf adalah menetapi sesuatu dan menutup  diri, dalam hal baik atau buruk . (Fiqhus Sunnah, 1/475)

📕 *Secara Istilah (Syara’)* :

 والاعتكاف في الشرع : ملازمة طاعة مخصوصة على شرط مخصوص

Secara syara’: menetap dalam rangka taat secara khusus dengan syarat khusus pula. (Fathl Qadir, 1/245)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

والمقصود به هنا لزوم المسجد والاقامة فيه بنية التقرب إلى الله عزوجل.

Yang dimaksud I’tikaf di sini adalah menetapi masjid dan menegakkan shalat di dalamnya dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

📕 *Dasar Hukum*

🌸 *Al Quran*

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Janganlah kalian    mencampuri  mereka (Istri), sedang kalian sedang   I’tikaf di masjid. (QS. Al Baqarah : 187)

🌸 *As Sunnah*

Dari ‘Aisyah Radiallahu ‘Anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatka Allah, kemudian istri-istrinya pun I’tikaf setelah itu.(HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam I’tikaf di setiap Ramadhan 10 hari, tatkala pada tahun beliau wafat, beliau I’tikaf 20 hari. (HR. Bukhari No. 694, Ahmad No. 8662, Ibnu Hibban No. 2228,  Al Baghawi No. 839, Abu Ya’la No. 5843,  Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan, 2/53)

🌸 *Ijma’*

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menceritakan adanya ijma’ tentang  syariat I’tikaf:

وقد أجمع العلماء على أنه مشروع، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام، فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما.

Ulama telah ijma’ bahwa I’tikaf adalah disyariatkan, Nabi  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf setiap Ramadhan 10 hari, dan 20 hari ketika tahun beliau wafat. (Fiqhus Sunnah, 1/475)

🔹Bersambung🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 5)

📆 Sabtu,  6 Ramadhan 1437 H / 11 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 5)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

2⃣8⃣  *Doa ketika Lailatul Qadar*

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan doa khusus  untuk kita baca ketika Lailatul Qadar.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

  Dari ‘Aisyah dia berkata “Aku berkata: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa pada suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah, ‘Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni.”

 (HR. At Tirmidzi No. 3513, At Tirmidzi berkata: hasan shahih. Ibnu Majah No. 3850. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 3337, Shahihul Jami’ No. 4423, dan lainnya)

2⃣9⃣  *Orang yang tidak berpuasa tanpa alasan*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, secara marfu’:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ

Barang siapa yang  tidak berpuasa pada Ramadhan tanpa adanya uzur, tidak pula sakit, maka tidaklah dia bisa menggantikannya dengan puasa sepanjang tahun, jika dia melakukannya. (HR. Bukhari No. 1934)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عرى الاسلام، وقواعد الدين ثلاثة، عليهن أسس الاسلام، من ترك واحدة منهن، فهو بها كافر حلال الدم: شهادة أن لا إله إلا الله، والصلاة المكتوبة، وصوم رمضان
             
Tali Islam dan kaidah-kaidah agama ada tiga, di atasnyalah agama Islam difondasikan, dan barangsiapa yang meninggalkannya satu saja, maka dia kafir dan darahnya halal ( untuk dibunuh), (yakni):  Syahadat Laa Ilaaha Illallah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan.”

(HR. Abu Ya’ala No. 2349, Alauddin Al muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 23, juga Ad Dailami dan dishahihkan oleh Imam Adz Dzahabi. Berkata Hammad bin Zaid: aku tidak mengetahui melainkan hadits ini  telah dimarfu’kan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al Haitsami mengatakan sanadnya hasan, Majma’ Az Zawaid, 1/48. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Tetapi didhaifkan oleh Syaikh Al Albani Rahimahullah)

Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:

وعند المؤمنين مقرر:  أن من ترك صوم رمضان بلا مرض، أنه شر من الزاني، ومدمن الخمر، بل يشكون في إسلامه، ويظنون به الزندقة، والانحلال.

“Bagi kaum mukminin telah menjadi ketetapan bahwa meninggalkan puasa Ramadhan padahal tidak sakit adalah lebih buruk dari pezina dan pemabuk, bahkan mereka meragukan keislamannya dan mencurigainya sebagai zindiq dan tanggal agamanya.” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/434. Lihat juga Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/410. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

3⃣0⃣  *Puasa adalah tameng dari Api Neraka*

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ
“Puasa adalah tameng, orang berpuasa akan melindungi dirinya dari api neraka.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya No. 14669)

Imam Al Haitsami mengatakan: isnadnya hasan. (Majma’ Az Zawaid, No. 5077)

Berkata Syaikh Syu’aib Al Arnauth:

حديث صحيح بطرقه وشواهده وهذا إسناد حسن

 “Hadits shahih dengan berbagai jalur dan penguatnya. Isnad hadits ini hasan.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 14669, Jadi sanad hadits ini hasan, namun terangkat menjadi shahih karena banyaknya jalan. Demikian menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Syaikh Al Albani juga menghasankan hadits ini. Lihat Shahihul Jami’ No. 4308)
Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 4)

📆Jumat,  5 Ramadhan 1437 H / 10 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 4)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

2⃣6⃣ *Umrah ketika Ramadhan adalah sebanding pahalanya seperti haji bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam*

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada seorang wanita Anshar bernama Ummu Sinan:

فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي

“Sesungguhnya Umrah ketika bulan Ramadhan sama dengan memunaikan haji atau haji bersamaku.” (HR. Bukhari No. 1863, Muslim No. 1256)

2⃣7⃣ *Tentang Lailatul Qadar*

Secara spesifik, Lailatul Qadar ada pada sepuluh malam terakhir  atau tujuh  malam terakhir. Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ

“Maka, barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari    No.  1105)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Sesungguhnya seorang laki-laki dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat Lailatul Qadr pada mimpinya pada tujuh hari terakhir. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Saya melihat mimpi kalian  telah bertepatan pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada tujuh malam terakhir.” (HR. Bukhari No. 1911, 6590, Muslim No.1165  Ibnu Hibban No. 3675, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 8327, Ibnu Khuzaimah No. 2182, Malik dalam Al Muwaththa’ No. 697)

Bagaimanakah maksud tujuh malam terakhir? Tertulis penjelasannya dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, sebagai berikut:

قال أبو بكر هذا الخبر يحتمل معنيين أحدهما في السبع الأواخر فمن كان أن يكون صلى الله عليه وسلم لما علم تواطأ رؤيا الصحابة أنها في السبع الأخير في تلك السنة أمرهم تلك السنة بتحريها في السبع الأواخر والمعنى الثاني أن يكون النبي صلى الله عليه وسلم إنما أمرهم بتحريها وطلبها في السبع الأواخر إذا ضعفوا وعجزوا عن طلبها في العشر كله

Berkata Abu Bakar: Khabar ini memiliki dua makna. Pertama, pada malam ke tujuh terakhir karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala mengetahui adaya kesesuaian dengan mimpi sahabat bahwa Lailatul Qadr terjadi pada tujuh malam terakhir pada tahun itu, maka beliau memerintahkan mereka pada tahun itu untuk mencarinya pada tujuh malam terakhir. Kedua, perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada para sahabat untuk mencari pada tujuh malam terakhir dikaitkan jika mereka lemah dan tidak kuat mencarinya pada sepuluh hari semuanya. (Lihat Shahih Ibnu Khuzaimah No. 2182)

Makna  ini diperkuat lagi oleh hadits yang menunjukkan alasan kenapa  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mengintai tujuh hari terakhir.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah dia pada sepuluh malam terakhir (maksudnya Lailatul Qadar) jika kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai dikalahkan oleh tujuh hari sisanya.” (HR. Muslim No. 1165, 209)

📌 Kemungkinan besar adalah pada malam ganjilnya

Kemungkinan lebih besar adalah Lailatul Qadr itu datangnya pada malam ganjil sebagaimana hadits berikut:

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَإِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نُسِّيتُهَا وَإِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ

“Seseungguhnya Aku diperlihatkan Lailatul Qadar, dan aku telah dilupakannya, dan saat itu pada sepuluh malam terakhir, pada m

alam ganjil.” (HR. Bukhari No. 638, 1912,  1923)

Dalam riwayat lain:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 1913)

Ada dua pelajaran dari dua hadits yang mulia ini. Pertama, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri tidak tahu persis kapan datangnya Lailatu Qadar karena dia lupa. Kedua, datangnya Lailatul Qadar adalah pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir.

📌 Malam ke 24,  25, 27 dan 29?

  Imam Bukhari meriwayatkan, dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

التمسوا في أربع وعشرين

  “Carilah pada malam ke 24.” (Atsar sahabat dalam Shahih Bukhari No. 1918)

Imam Bukhari juga meriwayatkan, dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

  “Maka carilah Lailatul Qadar pada malam ke sembilan, tujuh, dan lima (pada sepuluh malam terakhir, pen).” (HR. Bukhari No. 49, 1919)

  Berkata seorang sahabat mulia, Ubay bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

“Demi Allah, seseungguhnya aku benar-benar mengetahui malam yang manakah itu, itu adalah malam yang pada saat itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk shalat malam, yaitu malam yang sangat cerah pada malam ke 27, saat itu tanda-tandanya hingga terbitnya matahari, pada pagi harinya putih terang benderang, tidak ada panas.” (HR. Muslim No. 762)

Bukan hanya Ubay bin Ka’ab, tapi juga sahabat yang lain.  Salim meriwayatkan dari ayahnya Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

رَأَى رَجُلٌ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَاطْلُبُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنْهَا

  “Seorang laki-laki melihat Lailatul Qadr pada malam ke 27. Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Aku melihat mimpi kalian pada sepuluh malam terakhir, maka carilah pada malam ganjilnya.” (HR. Muslim No. 1165)

  Inilah riwayat yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama, bahwa kemungkinan besar Lailatul Qadr adalah pada malam ke 27. Namun, perselisihan tentang kepastiannya sangat banyak, sehingga bisa dikatakan bahwa jawaban terbaik dalam Kapan Pastinya  Lailatul Qadr  adalah wallahu a’lam.

  Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah:

وَقَدْ اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي لَيْلَة الْقَدْر اِخْتِلَافًا كَثِيرًا . وَتَحَصَّلَ لَنَا مِنْ مَذَاهِبهمْ فِي ذَلِكَ أَكْثَر مِنْ أَرْبَعِينَ قَوْلًا

  “Para ulama berbeda pendapat tentang Lailatul Qadr dengan perbedaan yang banyak. Kami menyimpulkan bahwa di antara pendapat-pendapat mereka ada lebih 40 pendapat.” (Fathul Bari, 4/262. Darul Fikr)

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 3)

 Kamis,  4 Ramadhan 1437 H / 9 Juni 2016 M

 Fiqih dan Hadits

 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

 *Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 3)*


 
2⃣1⃣ *Terawih pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: 8 rakaat dan witir 3 rakaat*

   Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata:
مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَة
          
“Bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat shalat malam, baik pada bulan Ramadhan atau selainnya.”  (HR. Bukhari No. 2013, 3569, Muslim No. 738)

                Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

جاء أبي بن كعب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله ، إن كان مني الليلة شيء يعني في رمضان ، قال : « وما ذاك يا أبي ؟ » ، قال : نسوة في داري ، قلن : إنا لا نقرأ القرآن فنصلي بصلاتك ، قال : فصليت بهن ثمان ركعات ، ثم أوترت ، قال : فكان شبه الرضا ولم يقل شيئا
               
Ubay bin Ka’ab datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, semalam ada peristiwa pada diri saya (yaitu pada bulan Ramadhan).” Rasulullah bertanya: “Kejadian apa itu Ubay?”, Ubay menjawab: “Ada beberapa wanita di rumahku, mereka berkata: “Kami tidak membaca Al Quran, maka kami akan shalat bersamamu.” Lalu Ubay berkata: “Lalu aku shalat bersama mereka sebanyak delapan rakaat, lalu aku witir,” lalu Ubay berkata:  “Nampaknya nabi ridha dan dia tidak mengatakan apa-apa.”  (HR. Abu Ya’la dalam Musnadnya No. 1801. Ibnu Hibban No. 2550, Imam Al Haitsami mengatakan: sanadnya hasan. Lihat Majma’ az Zawaid, Juz. 2, Hal. 74)

2⃣2⃣  *Terawih pada masa Sahabat:   20 rakaat dan witir 3 rakaat serta terawih 36 rakaat dan witir 3 rakaat*

Pada masa sahabat, khususnya sejak masa khalifah Umar bin Al Khathab Radhilallahu ‘Anhu dan seterusnya, manusia saat itu melaksanakan shalat tarawih dua puluh rakaat.

وصح أن الناس كانوا يصلون على عهد عمر وعثمان وعلي عشرين ركعة، وهو رأي جمهور الفقهاء من الحنفية والحنابلة وداود، قال الترمذي: وأكثر أهل العلم على ما روي عن عمر وعلي وغيرهما من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم عشرين ركعة، وهو قول الثوري وابن المبارك والشافعي، وقال: هكذا أدركت الناس بمكة يصلون عشرين ركعة

“Dan telah shahih, bahwa manusia shalat pada masa Umar, Utsman, dan Ali sebanyak 20 rakaat, dan itulah pendapat jumhur (mayoritas) ahli fiqih dari kalangan Hanafi, Hambali, dan Daud. Berkata At Tirmidzi: ‘Kebanyakan ulama berpendapat seperti yang diriwayatkan dari Umar dan Ali, dan selain keduanya dari kalangan sahabat nabi yakni sebanyak 20 rakaat. Itulah pendapat Ats Tsauri, Ibnul Mubarak. Berkata Asy Syafi’i: “Demikianlah, aku melihat manusia di Mekkah mereka shalat 20 rakaat.” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/206

Imam Ibnu Hajar Rahimahullah menyebutkan:
               
وَعَنْ يَزِيد بْن رُومَانَ قَالَ ” كَانَ النَّاس يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَر بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ ” وَرَوَى مُحَمَّد بْن نَصْر مِنْ طَرِيق عَطَاء قَالَ ” أَدْرَكْتهمْ فِي رَمَضَان يُصَلُّونَ عِشْرِينَ رَكْعَة وَثَلَاثَ رَكَعَاتِ الْوِتْر “
         
  “Dari Yazid bin Ruman, dia berkata: “Dahulu manusia pada zaman Umar melakukan  23 rakaat.” Dan Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari Atha’, dia berkata: “Aku berjumpa dengan mereka pada bulan Ramadhan, mereka shalat 20 rakaat dan tiga rakaat witir.” (Fathul Bari, 4/253)

Beliau melanjutkan:

وَرَوَى مُحَمَّد اِبْن نَصْر مِنْ طَرِيق دَاوُدَ بْن قَيْس قَالَ ” أَدْرَكْت النَّاس فِي إِمَارَة أَبَانَ بْن عُثْمَان وَعُمْر بْن عَبْد الْعَزِيز – يَعْنِي بِالْمَدِينَةِ – يَقُومُونَ بِسِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثٍ ” وَقَالَ مَالِك هُوَ الْأَمْرُ الْقَدِيمُ عِنْدَنَا . وَعَنْ الزَّعْفَرَانِيِّ عَنْ الشَّافِعِيِّ ” رَأَيْت النَّاس يَقُومُونَ بِالْمَدِينَةِ بِتِسْعٍ وَثَلَاثِينَ وَبِمَكَّة بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ ، وَلَيْسَ فِي شَيْء مِنْ ذَلِكَ ضِيقٌ “

Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari jalur Daud bin Qais, dia berkata: “Aku menjumpai manusia pada masa pemerintahan Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz –yakni di Madinah- mereka shalat 39 rakaat dan ditambah witir tiga rakaat.” Imam Malik berkata,”Menurut saya itu adalah perkara yang sudah lama.” Dari Az Za’farani, dari Asy Syafi’i: “Aku melihat manusia shalat di Madinah 39 rakaat, dan 23 di Mekkah, dan ini adalah masalah yang lapang.” (Ibid)

2⃣3⃣ *Orang yang sia-sia puasanya*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja. (HR. Ahmad No. 9685, Ibnu Majah No. 1690, Ad Darimi No. 2720)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 9685), Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: hadits ini shahih. (Sunan Ad Darimi No. 2720. Cet. 1, 1407H. Darul Kitab Al ‘Arabi, Beirut)

2⃣4⃣ *Boleh mencium isteri jika mampu menahan diri*

Diriwayatkan dari Umar Radhilallahu ‘Anhu:
عنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ هَشَشْتُ يَوْمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ قُلْتُ لَا بَأْسَ بِذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفِيمَ
Suatu hari bangkitlah syahwat saya, lalu saya mencium isteri, saat itu saya sedang puasa. Maka saya datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saya berkata: “Hari ini, Aku telah melakukan hal yang besar, aku mencium isteri padahal sedang puasa.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apa pendapatmu jika kamu bekumur-kumur dengan air dan kamu sedang berpuasa?”, Saya (Umar) menjawab: “Tidak mengapa.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Lalu, kenapa masih ditanya?” (HR. Ahmad,  No. 138, 372. Al Hakim, Al Mustadrak No. 1572,   Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 7808, 8044. Ibnu Khuzaimah No. 1999)
Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim. (Al Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 1572).  Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 138). Syaikh Al A’zhami (Tahqiq Shahih Ibnu Khuzaimah No. 1999)
Hadits di atas menerangkan bahwa mencium isteri dan berkumur-kumur hukumnya sama yakni boleh, kecuali berlebihan hingga bersyahwat, apalagi mengeluarkan air mani.
Dari Abu Salamah,  bahwa   ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبل بعض نسائه وهو صائم. قلت لعائشة: في الفريضة والتطوع؟ قالت عائشة: في كل ذلك، في الفريضة والتطوع
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencium sebagian isterinya  dan dia sedang puasa.” dan aku juga berpuasa.” Aku (Abu Salamah) berkata kepada ‘Aisyah: “Apakah pada puasa wajib atau sunah?” Beliau menjawab: “Pada semuanya, baik puasa wajib dan sunah.” (HR.  Ibnu Hibban No. 3545)
Syaikh  Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Hadits ini shahih.” (Shahih Ibnu Hibban bitartib Ibni Balban, No. 3545)

2⃣5⃣ *Berpuasa ketika safar; diberikan pilihan antara tetap berpuasa atau berbuka, tergantung kekuatan orangnya*

Dari Hamzah bin Amru Al Aslami Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

يا رسول الله: أجد بي قوة على الصيام في السفر. فهل علي جناح ؟، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “هي رخصة من الله فمن أخذ بها فحسن. ومن أحب أن يصوم فلا جناح عليه”.

“Wahai Rasulullah, saya punya kekuatan untuk berpuasa dalam safar, apakah salah saya melakukannya?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Itu adalah rukhshah (keringanan) dari Allah, barang siapa yang mau mengambilnya (yakni tidak puasa) maka itu baik, dan barang siapa yang mau berpuasa maka tidak ada salahnya.” (HR. Muslim No. 1121. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, no.  7947. Ibnu Khuzaimah No. 2026)

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج إلى مكة عام الفتح في رمضان فصام حتى بلغ كراع الغميم فصام الناس معه فقيل له يا رسول الله إن الناس قد شق عليهم الصيام فدعا بقدح من ماء بعد العصر فشرب والناس ينظرون فأفطر بعض الناس وصام بعض فبلغه أن ناسا صاموا فقال أولئك العصاة

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar pada tahun Fath (penaklukan) menuju Mekkah pada saat Ramadhan. Dia berpuasa hingga sampai pinggiran daerah Ghanim. Manusia juga berpuasa bersamanya. Dikatakan kepadanya: “Wahai Rasulullah, nampaknya manusia kepayahan berpuasa.” Kemudian Beliau meminta segelas air  setelah asar,  lalu beliau minum, dan manusia melihatnya. Maka sebagian manusia berbuka, dan sebagian lain tetap berpuasa. Lalu, disampaikan kepadanya  bahwa ada orang   yang masih puasa.”   Maka Beliau bersabda: “Mereka  durhaka.”  (HR. Muslim No. 1114.  Ibnu Hibban No. 2706, An Nasa’i No. 2263. At Tirmidzi No. 710.  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No.7935)

Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengkritik orang yang berpuasa dalam keadaan safar dan dia kesusahan karenanya.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفره. فرأى رجلا قد اجتمع الناس عليه. وقد ضلل عليه. فقال: “ماله ؟” قالوا: رجل صائم. فقال رسول الله عليه وسلم: “ليس من البر أن تصوموا في السفر”.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tengah dalam perjalanannya. Dia melihat seseorang yang dikerubungi oleh manusia. Dia nampak kehausan dan kepanasan. Rasulullah bertanya: “Kenapa dia?” Mereka menjawab: “Seseorang yang puasa.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada kebaikan kalian berpuasa dalam keadaan safar.” (HR. Muslim No. 1115)

Jika diperhatikan berbagai dalil ini, maka dianjurkan tidak berpuasa ketika dalam safar, apalagi perjalanan diperkirakan melelahkan. Oleh karena itu, para imam hadits mengumpulkan hadits-hadits ini dalam bab tentang anjuran berbuka ketika safar atau dimakruhkannya puasa ketika safar. Contoh: Imam At Tirmidzi membuat Bab Maa Ja’a fi Karahiyati Ash Shaum fi As Safar (Hadits Tentang makruhnya puasa dalam perjalanan), bahkan Imam Ibnu Khuzaimah menuliskan dalam Shahihnya:

باب ذكر خبر روي عن النبي صلى الله عليه وسلم في تسمية الصوم في السفر عصاة من غير ذكر العلة التي أسماهم بهذا الاسم توهم بعض العلماء أن الصوم في السفر غير جائز لهذا الخبر

“Bab tentang khabar dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang penamaan berpuasa saat safar adalah DURHAKA tanpa menyebut alasan penamaan mereka dengan nama ini. Sebagian ulama menyangka bahwa berpuasa ketika safar adalah TIDAK BOLEH karena hadits ini.”

  Tetapi, jika orang tersebut kuat dan mampu berpuasa, maka boleh saja dia berpuasa sebab berbagai riwayat menyebutkan hal itu, seperti riwayat Hamzah  bin Amru Al Aslami Radhiallahu ‘Anhu di atas.

Ini juga dikuatkan oleh riwayat lainnya, dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

لا تعب على من صام ولا من أفطر. قد صام رسول الله صلى الله عليه وسلم، في السفر، وأفطر.
 

  “Tidak ada kesulitan bagi orang yang berpuasa, dan tidak ada kesulitan bagi yang berbuka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berpuasa dalam safar dan juga berbuka.” (HR. Muslim No. 1113)

Dari Ibnu Abbas juga:

سافر رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان. فصام حتى بلغ عسفان. ثم دعا بإنء فيه شراب. فشربه نهارا. ليراه الناس. ثم أفطر. حتى دخل مكة .قال ابن عباس رضي الله عنهما: فصام رسول الله صلى الله عليه وسلم وأفطر. فمن شاء صام، ومن شاء أفطر.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengadakan perjalanan pada Ramadhan, dia berpuasa singga sampai ‘Asfan. Kemudian dia meminta sewadah air dan meminumnya siang-siang. Manusia melihatnya, lalu dia berbuka hingga masuk Mekkah.” Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata: “Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa dan berbuka. Barang siapa yang mau maka dia puasa, dan bagi yang mau buka maka dia berbuka.” (Ibid)

Dengan mentawfiq (memadukan) berbagai riwayat yang ada ini, bisa disimpulkan bahwa anjuran dasar  bagi orang yang safar adalah berbuka. Namun, bagi yang kuat dan sanggup untuk berpuasa maka boleh saja berbuka atau tidak berpuasa sejak awalnya. Namun bagi yang sulit dan lelah, maka lebih baik dia berbuka saja. Wallahu A’lam

Bersambung 



Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

 Sebarkan! Raih pahala…

Polemik Doa berbuka puasa

📆 Rabu,  3 Ramadhan 1437 H / 8 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Polemik Doa berbuka puasa*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Ada beberapa versi:

1⃣Versi 1:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

 “Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwa dia menyampaikan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; jika berbuka puasa dia membaca Allahumma laka shumtu, wa ala rizqika afthartu.

Hadits di atas diriwayatkan oleh:

📌Imam Abu Daud, No. 2011, dari Muadz bin Zuhrah.

📌Imam al Baihaqi, dalam kitab  As Sunan Al Kubra, Juz. 4/ 239, dari Muadz bin Zuhrah

📌Imam ath Thabarani, dalam kitab Al Mujam al Awsath, No. 7762, dari Anas bin Malik. Lihat juga kitabnya yang lain Al Mujam Ash Shaghir, No. 912, dari Anas bin Malik.

📌Imam al Baihaqi, dalam kitab Syu’abul Iman, No. 3747, dari Muadz bin Zuhrah

Jadi, hadits di atas diriwayatkan oleh dua jalur; yakni Anas bin Malik dan Muadz bin Zuhrah.

✅ Penilaian:

Dalam Jalur Anas bin malik, terdapat perawi bernama Ismail bin Amru al Bajali dan Daud bin Az Zibiriqan. Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany Rahimahullah:

قلت : وهو ضعيف قال الذهبي في ( الضعفاء ) : ( ضعفه غير واحد ) . قلت : وشيخه داود بن الزبرقان شرمنه قال الذهبي : ( قال أبو داود : متروك وقال البخاري : مقارب الحديث ) وقال الحافظ في ( التقريب ) : ( متروك كذبه الازدي )  . والحديث قال الهيثمي في ( المجمع ) : ( رواه الطبراني في ( الاوسط ) وفيه داود بن الزبرقان وهو ضعيف )

 “Aku (Syaikh al Albany) berkata: Dia (Isma’il bin Amru al Bajali) adalah dha’if (lemah). Berkata Imam Adz Dzahabi dalam kitab Adh Dhu’afa: “Yang mendha’ifkan lebih dari satu orang.” Aku (Syaikh al Albany) berkata: Gurunya, yaitu Daud bin Az Zibriqan lebih buruk darinya. Berkata Imam Adz Dzahabi: Berkata Abu Daud: Dia (Daud bin Az Zibriqan) adalah  matruk (haditsnya ditinggalkan). Imam Bukhari berkata: Haditsnya pertengahan/sedang-sedang saja. Imam Al hafizh Ibnu Hajar dalam kitab At Taqrib berkata: Haditsnya ditinggalkan, dan Al ‘Azdi menganggapnya sebagai pendusta. Menurut Imam al Haitsami dalam Al Majma’: Diriwayatkan Ath Thabarani dalam Al Ausath, dalam sanadnya terdapat Daud bin Az Zibriqan, dia adalah dhaif. (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Irwa al Ghalil fii Takhriji Ahadits Manaris Sabil, Juz. 4, Hal. 37-38. Cet. 2, 1985M-1405H. Maktab Islami, Beirut-Libanon)

Jalur Muadz bin Zuhrah,  juga dhaif. Hadits ini mursal (riwayatnya tanpa melalui sahabat Nabi). Berkata Syaikh al Albany:

قلت : وهذا سند ضعيف فانه مع إرساله فيه جهالة معاذ هذا

 “Aku (Syaikh al Albany) berkata: “Sanad hadits ini dha’if, karena mursal, dan Mu’adz ini adalah tidak dikenal biografinya.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Irwa’ al Ghalil fii Takhriji Ahadits Manaris Sabil, Juz. 4, Hal. 38. Cet. 2, 1985M-1405H. Maktab Islami, Beirut-Libanon. Lihat juga dalam kitab Shahih wa Dhaif Al Jami’ Ash Shaghir,  No. 9830)

 Hadits mursal adalah hadits yang terputus sanad (periwayatannya)  setelah generasi tabiin. Muadz bin Zuhrah ini seorang tabiin, yang tidak langsung mendengar hadits ini dari sahabat nabi.

Imam Ibnul Qayyim mendhaifkannya. (Zaadul Ma’ad, 2/51)

Tetapi Imam Ibnu Mulaqin mengatakan: “Isnad hadits ini HASAN, tetapi mursal, sebab Muadz bin Zuhrah belum pernah berjumpa dengan Nabi ﷺ.” (Badrul Munir, 5/710)

Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth juga menyatakan hadits ini memiliki syahid (penguat), berikut keterangan dari Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih:

وقال عنه عبد القادر الأرناؤوط في تحقيقه للأذكار للنووي: ولكنه له شواهد يقوى بها

Abdul Qadir Al Arnauth berkata tentangnya, dalam penelitiannya terhadap Al Adzkar-nya Imam An Nawawi: “Hadits ini memiliki beberapa syawahid (saksi yang menguatkan) yang dengannya membuatnya menjadi kuat kedudukannya.” (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, 10/1181)
2⃣Doa berbuka puasa Versi 2:

بسم الله و الحمد لله اللهم لك صمت و على رزقك أفطرت و عليك توكلت سبحانك و بحمدك تقبل مني إنك أنت السميع العليم .

 “Bismillah wal hamdulillah, Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu, wa ‘alaika tawakkaltu, subhanaka wa bihamdika taqabbal minni innaka antas samii’ul ‘aliim.”

Hadits ini j

uga dha’if, dari Anas bin Malik. (Lihat Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Shahih wa Dha’if al Jami’ Ash Shaghir, No. 1644)

3⃣Doa berbuka puasa Versi 3:

 Dari Ibnu ‘Abbas:

كان إذا أفطر قال : اللهم لك صمت و على رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم .

 “Adalah Rasululah jika berbuka, dia mengucapkan: “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu, fataqabbal minni innaka antas samii’ul ‘Aliim.”

Imam Al Munawi mengatakan: waahin jiddan (sangat lemah). (At Taysir, 2/470)

 Hadits ini juga dha’if. (Syaikh al Albany, Shahih wa Dha’if Al jami’ Ash Shaghir, No. 9831)

*📖 Lalu, Bolehkah Mengamalkan hadits ini?*

Doa dalam hadits ini boleh dipakai selama tidak meyakini dan memastikan dari Rasulullah ﷺ, sebab pada prinsipnya berdoa pada pada saat menjelang berbuka memang dianjurkan dengan doa apa pun, bahkan dengan doa susunan sendiri sesuai hajat kita.  Begitulah keterangan para ulama.

Para ulama mengatakan:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى جَوَازِ كُل دُعَاءٍ دُنْيَوِيٍّ وَأُخْرَوِيٍّ ، وَلَكِنَّ الدُّعَاءَ بِالْمَأْثُورِ أَفْضَل مِنْ غَيْرِهِ

Mayoritas fuqaha berpendapat bolehnya setiap doa duniawi dan ukhrawi, tetapi doa yang ma’tsur lebih utama daripada selainnya. (Raudhatuth Thalibin, 1/265, Asnal Mathalib, 1/16)

Para ulama kontemporer seperti Syaikh Utsaimin, Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Syaikh Abdurrahman Al Jazayri, dan lainnya juga membolehkan doa Allahumma Laka Shumtu ini.

*1.  Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah*

Kami akan kutipkan tiga fatwa Beliau dalam kitab yang berbeda. Berikut ini keterangan dari Syaikh Utsaimin:
السؤال
 ما هو الدعاء المأثور عن النبي صلى الله عليه وسلم عند الإفطار؟
الجواب
 الأدعية الواردة عن النبي صلى الله عليه وسلم في الإفطار لم تكن في الصحيحين ولا في أحدهما، لكنها في السنن، ومنها: ( اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت ) اللهم لك صمت: وهذا إخلاص، وعلى رزقك أفطرت: وهذا شكر لله عز وجل.

Pertanyaan: “Apakah doa yang berasal dari Nabi ﷺ saat berbuka puasa?
Jawaban: “Doa-doa yang berasal dari Nabi ﷺ saat berbuka, tidak dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim), tidak pula pada salah satunya, tetapi ada dalam kitab-kitab As Sunan, di antaranya: “ALLAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALA RIZQIKA AFTHARTU”. Maksud dari Allahumma Laka Shumtu (Ya Allah untukMu aku berpuasa): ini menunjukkan keikhlasan. Wa ‘Ala Rizqika Afthartu: ini menunjukkanrasa syukur. (Jalsaat Ramadhaniyah Lil ‘Utsaimin, 2/14)

Syaikh Utsaimin juga berkata dalam fatwanya yang lain:

لكن ورد ذكر إن صح عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم فإنه يكون بعد الإفطار: (ذهب الظمأ، وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله) هذا لا يكون إلا بعد الفطر، وكذلك ورد عن بعض الصحابة أنه كان يقول: (اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت) فأنت ادع الله بالدعاء المناسب الذي ترى أنك محتاج إليه.

Tetapi telah sampai dzikir yang jika shahih dari Nabi ﷺ dibacanya setelah berbuka: Dzahabazh zhama’u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru Insya Allah. Doa ini hanya saat setelah berbuka. Demikian juga telah sampai dari sebagaian sahabat Nabi bahwa Beliau membaca: ALLAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALA RIZQIKA AFTHARTU, maka anda bisa berdoa kepada Allah dengan doa-doa yang pas, yang anda anggap sesuai kebutuhan anda. (Al Liqa Asy Syahri, 8/18)

Dalam Fatawa-nya Beliau berkata:

والدعاء المأثور: «اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت» ومنه أيضاً قول النبي عليه الصلاة والسلام: «ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاءالله». وهذان الحديثان وإن كان فيهما ضعف لكن بعض أهل العلم حسنهما، وعلى كل حال فإذا دعوت بذلك أو بغيره عند الإفطار فإنه موطن إجابة.

Doa yang ma’tsur: (Allahumma Laka Shumtu wa ‘Ala Rizqika Afthartu), di antaranya juga ucapan Nabi ﷺ: Dzahabazh zhama’u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru Insya Allah. Dua hadits ini, jika di dalamnya ada kelemahan, tetapi sebagian ulama telah menghasankan keduanya. Bagaimana pun juga, jika And aberdoa dnegan doa ini atau selainnya saat menjelang berbuka, maka itu adalah momen dikabulkannya doa. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 19/363)

*2.   Penjelasan lain dari Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah:*

وهذا الحديث مرسل؛ لأنه قال: بلغه أن النبي صلى الله عليه وسلم كذا، فلم يذكر الواسطة، وعلى هذا فهو غير صحيح، ولكن الإنسان إذا دعا بهذا الدعاء أو بغيره من الأدعية التي لا يعتقد أنها سنة ولا يعتبر أنها ثابتة ولا يعتقد أنه حين يقولها يأتي بسنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وإنما يعتقد أنه يدعو بدعاء يرجو من الله تعالى قبوله عند أداء هذه العبادة، ويسأل الله تعالى له المغفرة فلا بأس بذلك، ولكن كونه يقول: هذه سنة ثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يجوز ذلك إلا بعد ثبوتها عن النبي عليه الصلاة والسلام، وهذا لم يثبت؛ لأنه جاء من طريق مرسلة غير ثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Hadits ini mursal, karena dia (Muadz bin Zuhrah) mengatakan bahwa telah sampai kepadanya bahwa Nabi ﷺ membaca seperti itu, Beliau tidak sebutkan siapa perantara yang membawa hadits ini, oleh karena itu hadits ini tidak shahih. Tetapi, jika manusia berdoa dengan doa ini, atau doa-doa selainnya, yang tidak diyakini bahwa itu dari sunah, tidak memastikan dari nabi, dan tidak meyakini ketika membacanya sebagai sunah yang datang dari Rasulullah ﷺ , dia hanya meyakini dengan doa ini harapan kepada Allah untuk mengabulkannya saat menunaikan ibadah ini, dan dia meminta kepada Allah ampunan, maka hal ini TIDAK APA-APA.
Namun, jika dia mengatakan bahwa ini adalah sunah yang pasti dari Rasulullah ﷺ MAKA ITU TIDAK BOLEH, kecuali setelah hadits ini shahih dari Nabi ﷺ , tapi hadits ini tidak shahih, sebab hadits ini datang secara mursal dari Nabi ﷺ. (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, 13/91)

*3.  Syaikh Abdurrahman Al Jazayri*

Beliau mengkategorikan membaca doa tersebut sebagai perbuatan yang disukai (mustahab):

يستحب للصائم أمور : منها تعجيل الفطر بعد تحقق الغروب وقبل الصلاة ويندب أن يكون على رطب فتمر فحلو فماء وأن يكون ما يفطر عليه من ذلك وترا ثلاثة فأكثر ومنها الدعاء عقب فطره بالمأثور كأن يقول : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت وعليك توكلت وبك آمنت ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر يا واسع الفضل اغفر لي الحمد لله الذي أعانني فصمت ورزقني فأفطرت ومنها السحور على شيء وإن قل ولو جرعة ماء لقوله صلى الله عليه و سلم : ” تسحروا فإن في السحور بركة “

  Disukai bagi orang yang berpuasa beberapa perkara:

–  Menyegerakan berbuka puasa setelah masuknya waktu maghrib dan sebelum shalat
–  Dianjurkan mulai dengan kurma basah, kurma kering, lalu manisan, lalu air. Dan melakukannya secara ganji, tiga kali atau lebih.
–  Juga diantaranya berdoa setelah berbuka dengan yang ma’tsur: Allahumma Laka Shumtu wa ‘Ala Rizkika afthartu wa ‘Alaika tawakkaltu wa bika aamantu dzahaba zhama’u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru … dst
–  Juga dianjurkan berahur, minimal seteguk air, karena Nabi ﷺ bersabda: “Bersahurlah karena pada sahur ada keberkahan.” (Al Fiqhu ‘Alal Madzaahib Al Arba’ah, 1/926)

*4.  Syaikh Dr Abdullah Al Faqih, mufti Asy Syabakah Al Islamiyah berkata:*

وبالنسبة للأدعية التي كان يدعو بها النبي صلى الله عليه وسلم في رمضان، فقد ثبت أنه كان يدعو عند الإفطار بما يلي:
– ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله . رواه أبو داود وغيره، وصححه الألباني .
– اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت . رواه أبو داود . ………

Dan yang terkait doa-doa yang dipakai oleh Nabi ﷺ saat Ramadhan, telah shahih bahwa Beliau berdoa saat berbuka dengan doa berikut:

–  dzahaba zhama’u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru Insya Allah
–  Allahumma Laka Shumtu wa ‘Ala Rizkika afthartu
–  …… (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah , 13/16174)

*Sementara Imam Al Munawi Rahimahullah berkata:*

( كان إذا أفطر قال الحمد لله الذي أعانني فصمت ورزقني فأفطرت ) فيندب قول ذلك عند الفطر من الصوم فرضا أو نفلا

(Dahulu saat berbuka Beliau membaca ALHAMDULILLAH A’ANANIY FASHUMTU WA RAZAQANIY FA AFTHARTU) Dianjurkan membaca doa ini saat berbuka baik puasa wajib dan sunnah. (At Taisir, 2/470)

Dan, masih banyak lagi ulama lainnya yang tidak mempermasalahkan menggunakan doa tersebut.

*📚Jalan Tengah*

Inilah jalan tengah yang tidak kontroversi karena disepakati validitasnya, yaitu ada tiga doa khusus dari Nabi ﷺ menjelang makan, dan ini dibaca saat makan kapan pun, termasuk makan ifthar.

1⃣.  Membaca Bismillah

  Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah Radhiallahu ‘Anhu:

فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

  “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Wahai anak! sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang terdekat denganmu.” (HR. Bukhari, No. 5062, 5063. Muslim,  No. 2022. Ibnu Majah, No. 3267. Ahmad, No. 15740)

  Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

قَالَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

  “Beliau bersabda: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala, jika lupa menyebut nama Allah di awalnya, maka katakanlah: “Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah di awal dan di akhirnya.” (HR. Abu Daud,  No. 3767.  At Timidzi,  No. 1858. Dalam teks Imam At Tirmidzi agak berbeda yakni: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka katakanlah, “Bismillah,” jika lupa membaca di awalnya, maka bacalah, “Bismillahi fi awalihi wa akhirihi.” Beliau berkata: hadits ini hasan shahih. Dengan teks serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah,  No. 3264.  Ahmad,   No. 23954. Al Hakim dalam Mustadrak ‘Alas Shahihain, Juz. 16, No. 412, No. 7087, katanya sanad hadits ini shahih, tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

  Dalam hadits lain:

كان إذا قرب إليه الطعام يقول : بسم الله ، فإذا فرغ قال : اللهم أطعمت و أسقيت و أقنيت و هديت و أحييت ، فلله الحمد على ما أعطيت

  “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika disuguhkan kepadanya makanan, dia membaca: “Bismillah,” setelah makan ia membaca,”Allahumma Ath’amta, wa asqaita, wa aqnaita, wa hadaita, wa ahyaita, falillahil hamdi ‘ala maa a’thaita.” (HR. Ahmad, hadits ini shahih, seluruh periwayatnya tsiqah (kredibel) sesuai syarat Imam Muslim, Lihat Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, hal. 70, pembahasan hadits no.71)

2⃣.  Membaca:
ALLAHUMMA BARIK LANAA FIIH WA ATH’IMNAA KHAIRAN MINHU ..

  Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

من أطعمه الله الطعام فليقل اللهم بارك لنا فيه وأطعمنا خيرا منه ومن سقاه الله لبنا فليقل اللهم بارك لنا فيه وزدنا منه

  Siapa yang diberikan makan oleh Allah dengan sebuah makanan, maka hendaknya membaca: ALLAHUMMA BARIK LANAA FIIH WA ATH’AMANA KHAIRAN MINHU, dan barang siapa yang diberikan oleh Allah susu maka hendaknya membaca: ALLAHUMMA BAARIK LANA FIIH WA ZIDNAA MINHU.

(HR. At Tirmdzi No. 3455, Imam At Tirmidzi berkata: hasan. Abu Daud No. 3732, Ahmad No. 1978, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 5641)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 1978), juga  Syaikh Al Albani mengatakan hasan diberbagai kitabnya. (Al Misykah, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3732, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3455, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3322, Mukhtashar Asy Syamail No. 176)

3⃣.  Membaca: Dzahabazh Zhama’au …dst

Berikut ini keterangannya:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

  “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika sedang berbuka puasa dia membaca: “Dzahaba Azh Zhama’u wab talatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” (HR. Abu Daud, Juz. 6, Hal. 308, No. 2010, As Sunan Al Kubra Lil Baihaqi, Juz. 4, Hal. 239, Al Hakim dalam Mustadrak ‘alas Shahihain, No. 1484)

Dishahihkan oleh Imam Al Hakim menurutnya sesuai syarat Bukhari-Muslim. Menurut Syaikh al Albany hadits ini hasan. (Misykat Al Mashabih, Juz.1, Hal. 450, No. 1993), juga dihasankan oleh Imam Ad Daruqthni, Imam Al Munawi, dan lainnya.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 2)

📆 Selasa,  2 Ramadhan 1437 H / 7 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Kumpulan Hadits-Hadits Shahih Tentang Shaum dan Ramadhan (Bag. 2)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

1⃣1⃣ *Anjuran bersahur*

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kalian, karena pada santap sahur itu ada keberkahan.”  (HR. Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095)

1⃣2⃣  *Keutamaan bersahur*

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

Makan sahur adalah berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walau kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah ‘Azza wa Jalla dan para malaikat mendoakan orang yang makan sahur. (HR. Ahmad No. 11086, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan:  sanadnya shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 11086)

Dari Amru bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السُّحُور

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah pada makan sahur.” (HR. Muslim No. 1096)

1⃣3⃣  *Disunnahkan menta’khirkan sahur:*

Dari ‘Amru bin Maimun Radhiallahu ‘Anhu,  katanya:

كان أصحاب محمد صلى الله عليه و سلم أعجل الناس إفطارا وأبطأهم سحورا

Para sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersegera dalam berbuka puasa, dan paling akhir dalam sahurnya. (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7916. Al Faryabi dalam Ash Shiyam No. 52. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 9025)
Imam An Nawawi mengatakan: “sanadnya shahih.” (Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 6/362), begitu pula dishahihkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar, bahkan menurutnya keshahihan hadits tentang bersegera buka puasa dan mengakhirkan sahur adalah mutawatir. (Lihat Imam Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 17/9. Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4/199)

1⃣4⃣  *Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertadarus Al Quran bersama Malaikat Jibril*

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menceritakan:

 وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

Jibril menemuinya (nabi) pada tiap malam malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril)  bertadarus Al Quran bersamanya.  (HR.  Bukhari No. 3220)

1⃣5⃣ *Kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama bulan Ramadhan melebihi hembusan angin*

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, menceritakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin menjadi-jadi saat Ramadhan apalagi ketika Jibril menemuinya. Dan, Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan dia bertadarus Al Quran bersamanya. Maka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar sangat dermawan dengan kebaikan melebihi angin yang berhembus. (HR. Bukhari No. 3220)

1⃣6⃣ *Memberikan makanan buat orang yang berbuka puasa*

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu. (HR. At Tirmidzi No. 807, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21676, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 3332. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3952. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6415. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan lighairih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 21676, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 3775)

1⃣7⃣ *Memperbanyak doa*

Dari AbuHurairah

Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوم

Ada tiga manusia yang doa mereka tidak akan ditolak: 1. Doa orang yang berpuasa sampai dia berbuka, 2. Pemimpin yang adil, 3. Doa orang teraniaya. (HR. At Tirmidzi No. 2526, 3598, katanya: hasan.  Ibnu Hibban No. 7387, Imam Ibnul Mulqin mengatakan: “hadits ini shahih.” Lihat Badrul Munir, 5/152. Dishahihkan oleh Imam Al Baihaqi. Lihat Shahih Kunuz As sunnah An Nabawiyah, 1/85. Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkannya. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2526)

1⃣8⃣  *Doa ketika berbuka puasa*

Berdoa diwaktu berbuka puasa juga diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Berikut ini adalah doanya:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika sedang berbuka puasa dia membaca: “Dzahaba Azh Zhama’u wab talatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” (HR. Abu Daud No. 2357, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7922, Ad Daruquthni, 2/185, katanya: “isnadnya hasan.”  An Nasa’i dalam As sunan Al Kubra No. 3329, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1536, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari- Muslim”. Al Bazzar No. 4395. Dihasankan Syaikh Al Albani dalam Shahihul  Jami’ No. 4678)

1⃣9⃣  *I’tikaf di-‘asyrul awakhir (10 hari tertakhir) Ramadhan*

Dari ‘Aisyah Radiallahu ‘Anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatka Allah, kemudian istri-istrinya pun I’tikaf setelah itu.(HR. Bukhari No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam I’tikaf di setiap Ramadhan 10 hari, tatkala pada tahun beliau wafat, beliau I’tikaf 20 hari. (HR. Bukhari No. 694, Ahmad No. 8662, Ibnu Hibban No. 2228,  Al Baghawi No. 839, Abu Ya’la No. 5843,  Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan, 2/53)

2⃣0⃣ *Tarawihnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam*

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di masjid, lalu manusia mengikutinya, keesokannya shalat lagi dan manusia semakin banyak, lalu pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul namun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak keluar bersama mereka, ketika pagi hari beliau bersabda:

قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

“Aku melihat apa yang kalian lakukan, dan tidak ada yang mencegahku keluar menuju kalian melainkan aku khawatir hal itu kalian anggap kewajiban.” Itu terjadi pada bulan Ramadhan. (HR. Bukhari No. 1129, Muslim No. 761)

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Prinsip -Prinsip Akhlak dalam QS Al Qolam

Sabtu, 06 Ramadhan 1437 H/ 11 Juni 2016
Al-Qur’an
Ustadz Noorahmat
Prinsip – Prinsip Akhlak dalam QS Al Qolam
===========================

 
Alhamdulillah…
Kita bertemu kembali di sesi Tafsir Al Qur’an MFT…
Setelah pekan lalu kita membahas ayat 2-3 dari QS Al Qolam, maka kali ini kita akan coba membahas ayat-ayat terkait akhlak dalam Surat yang juga memiliki nama lain Surat Nun…
Kita awali dengan ayat 4 untuk menghubungkan dengan materi pekan lalu.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
_”Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”_ (QS 68:4)
Budi pekerti yang agung tersebut merupakan akhlak terbaik Rasulullah SAW, yang diantaranya adalah:
1. *Mempraktikkan* apa yang diwahyukan Allah SWT kepada beliau.
2. Terbaik dalam hal *keyakinan* kepada Allah Azza wa Jalla.
3. *Hanya mengharapkan* keridhaan Allah Ta’ala dan tidak mengharapkan balasan dari yang lain.
4. *Sangat bershabar* ketika menghadapi kesulitan.
5. *Bertoleransi* terhadap siapapun di sisi beliau dengan selalu memperhatikan siapa saja yang ada di sekitar beliau.
6. Senantiasa *mempraktikkan keadilan* baik terhadap kawan maupun lawan.
7. *Penuh kepatuhan* kepada Allah Azza wa Jalla.
Pemaparan akhlak terpuji diawal surat ini sebagai pendahuluan dan penekanan mengenai arti penting menteladani akhlak Rasulullah SAW alam keseharian setiap muslim. Hal ini juga sebagai pendahuluan sebelum Allah Ta’ala kemudian memaparkan karakteristik akhlak-akhlak tidak terpuji yang Allah Azza wa Jalla sampaikan di bagian berikutnya dari QS Al Qalam…

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ * هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ * مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ
أَثِيمٍ * عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ * أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ

_”Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menyebarkan fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku serta kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya karena dia mempunyai banyak harta dan anak”_ (QS 68 10-14)
Dengan ayat-ayat tersebut diatas, Allah Azza wa Jalla ingin menunjukkan akhlak buruk sebagian manusia yang harus dihindari dan dijauhi sebisa mungkin. Mereka adalah:
1. *Orang yang mudah sekali mengucapkan sumpah*. Kita sama-sama bias melihat dan mendengar bahwa kawan-kawan di sekitar kita banyak diantaranya yang mudah sekali bersumpah dengan segala macam istilah….yang terkenal salah satu diantaranya dengan istilah _“Suwer”_. Sikap seperti ini perlu kita jauhi dan hindari sekuat tenaga.
2. *Sikap mudah mencela*. Sikap ini dalam keseharian bisa disamakan dengan sikap yang mudah mengumpat, berkata kotor dan kerusakan lisan lainnya. Sikap ini biasanya lahir karena isi hatinya sudah kotor dan penuh celaan.
3. *Yang suka menyebarkan fitnah*. Sikap tercela yang satu ini tidak hanya berkaitan dengan aktifitas gossip ala infotainment,  namun juga fitnah dalam bentuk lain berupa aktifitas merendahkan hingga mencela aktifitas da’wah beserta para da’i yang berda’wah fi sabilillah.
4. *Yang menghalangi perbuatan baik*. Sikap ini sebenarnya sudah banyak kita lihat dalam keseharian, hanya saja banyak diantara kita yang tidak menyadarinya karena mungkin kita sudah terbiasa melihatnya hingga kehilangan kepekaan kita. Contohnya adalah ketika ada upaya untuk membatasi materi kajian di masjid dan mushalla hanya sebatas materi Wudhu-Sholat-Puasa-Zakat-Haji dan ibadah mahdhah lainnya. Sedangkan ketika ada alim-ulama yang hendak membahas permasalahan muamalah seperti transaksi ekonomi, adab hubungan pria-wanita, pentingnya menutup aurat, hingga masalah kepemimpinan dalam Islam….tidak jarang diantara manusia ada yang menggerutu hingga kemudian mem _black list_ ustadz/ustadzah tersebut.
5. *Yang melampaui batas*. Sikap berlebih-lebihan apapun alasannya bukanlah merupakan akhlak yang terpuji.
6. *Yang kaku serta kasar*. Yang dimaksudkan adalah perangai kasar dalam bersikap. Tidak adanya karakter lemah lembut dalam manusia-manusia semacam itu karena jauhnya dari nilai-nilai Qur’aniyyah. Karena sesungguhnya Al Qur’an itu mampu melembutkan jiwa.
7. *Yang terkenal kejahatannya karena dia mempunyai banyak harta dan anak*. Maksudnya adalah sikap sewenang-wenang karena dengan banyaknya harta kekayaan yang dimilikinya ia merasa lebih mulia dibandingkan orang lain yang lebih miskin harta.
Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran untuk kemudian memperbaiki akhlak kita hingga bisa mengaplikasikan akhlak Rasulullah SAW sekaligus menjauhi perangai tidak terpuji yang dicantumkan dalam QS Al Qalam tersebut di atas.
Barakallahu fiikum ajma’iin.
*Referensi*
* Al Misbah Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Katsir
* Tafsir At Tabari
* Khowatir Qur’aniyyah – Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an
________________________

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahlaa

Sahabatku, Cermin diriku

Jum’at, 05 Ramadhan 1437 H/ 10 Juni 2016
Pengembangan Diri dan Motivasii
Ustadzah Wiwit, Ustadzah Dina, Ustadzah Heni
 Sahabatku, Cermin diriku
============================

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Hai sobat muda !!! how are you? may Allah bless you every time and every moment..aaminn 
Sob, kali ini materi kita msh nyambung dgn soal konsep diri, judulnya adalah…..
SAHABATKU, CERMIN DIRIKU
^Peran Sahabat dlm Pembentukan Konsep Diri^
 Nasehat ulama :
_Lisan mempunyai pengaruh yang sangat kuat, jika seseorang bergaul dengan orang-orang yang berkata-kata baik, maka ia akan terbiasa untuk berkata baik._
_Namun jika ia bergaul dengan orang-orang yang berkata buruk, maka ia pun akan terbiasa untuk berkata buruk._
_Oleh karenanya, perbaikilah lisanmu dengan memperbaiki lingkungan pergaulanmu._
*(Dr. Khalid Al Mushlih)*

Masih ingat materi sebelumnya??
Point utamanya adalah bahwa sangat penting bagi kita untuk membentuk konsep diri sebagai seorang MUSLIM.
menjadi seorang MUSLIM, berarti menjadikan Al Quran dan sunnah sbg panduan utama
membentuk konsep diri sbg muslim, berarti mengkondisikan DALAM dan LUAR diri kita, mendukung utk membentuk diri sbg Muslim
mengkondisikan DALAM diri yaitu memantapkan iman dalam hari, mengisi pikiran dan perasaan dgn pengetahuan yg menguatkan keislaman
mengkondisikan LUAR diri yaitu mengkondisikan diri untuk berada di lingkungan yang menguatkan keislaman
Lingkungan meliputi keluarga, tetangga, teman, sahabat, dst
Nah, point kita hari ini adalah tentang salah satu faktor lingkungan, yaitu TEMAN atau sahabat
Bro n sist, biasanya remaja cenderung lebih pro ke pendapat teman, drpd orgtua atau org dewasa lainnya. iyaa ngga sihh?? 
remaja cenderung tertarik utk punya aktifitas bareng temen²nya, dibanding ikut keg dgn orgtuanya
remaja cenderung lebih suka ikutan temen, daripada ngikutin apa kata orgtua
Nah, kebayang kan ya, kalau remaja berteman dgn “orang² seperti apa”; suka kumpul bareng, ngikutin kegiatan dan kebiasaannya, serba setuju pendapatnya …… maka,
seperti apa teman kita, bisa menjadi cerminan utk melihat seperti apa diri kita
So, penting banget ya Sob, utk mastiin bahwa kamu berteman dgn orang² yang tepat, yg bisa saling mengingatkan untuk jadi pribadi yg lebih baik
terus, apa kita jd pilih² temen harus yg udh baik banget sempurna gitu?? ya engga segitunya juga lah sob
setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan kan? dan perbaikan adalah sebuah proses yg perlu waktu
so, yg utama bukan soal punya temen yg udah “perfect”, tapi yg penting adl berteman dgn org yg mau dan mampu menjalankan proses perbaikan
simpelnya gini deh sob; pastiin dulu bahwa kamu adalah org yang mau dan mampu berubah, dan kamu layak jd teman yg baik
terus, untuk menentukan siapa teman yg tepat, kamu bisa cek poin² dibawah ini 
KRITERIA teman baik :
~ peduli
~ mau menerima kekurangan dan kelebihan
~ mengajak melakukan hal² positif
~ mengingatkan utk menjauhi hal² negatif
~ memberi dukungan saat kamu melakukan hal yg benar
~ Sungguh² mengingatkan saat kamu melakukan hal yg salah
~ mau diingatkan dan senang berbagi ilmu
~ dst…. mungkin kamu bisa tambahkan lagi kriteria berikutnya? 樂
SIMPULAN : Perbaiki DIRI supaya layak jadi TEMAN yang baik,,
Perbaiki TEMAN supaya bisa mjd diri yg lebih baik.
See You next time 
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…