Zakat, Infaq, Dan Shadaqoh Bagaimana seharusnya???

👳Ustadz Menjawab👳
✏Ustadz Farid Nu’man

📆Rabu, 15 Juni 2016 M
                 11 Ramadhan 1437 H
🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹

Assalamu ‘alaikum wrwb..
Bagaimana seharusnya menurut syari’at tentang pembayaran infaq, sedekah dan zakat apakah setelah pemotongan kebutuhan tiap bulan atau disisihkan dl untuk infaq, sedekah dan zakat?
Member MANIS A23

🍃🍃Jawaban🌾🌾

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
📌 Sedekah dan Infaq ada sedikit perbedaan.

📌Sedekah itu ibadah harta dan non harta

📌 Utk yg harta, seperti ayat:
“khudz min amwaalihim shadaqatan – ambillah dr harta mereka sedekahnya (zakat) ..”

📌Dalam hadits Abu Daud, Ahmad, dll, dari Sa’ad bin ‘Ubadah, “Beliau bertanya: ayyu shadaqah afdhal? – sedekah apa yang paling baik?, nabi menjawab: saqiyul maa’ – memberikan air.”

📌 untuk yg non harta, sebagaimana dalam beberapa hadits, misal

dlm Shahih Muslim:
“inna fi budh’i ahadikum shadaqah – dikemaluan kalian ada sedekah.”

 Atau dalam Shahih Bukhari:
“kalimatuth thayyibah shadaqah – perkataan yang baik adalah sedekah.”

📌 Sedangkan infaq adalah ibadah harta saja. Seperti ayat:
“wa mimma razaqnaahum yunfiquun – dan orang2 yang menginfakan apa yang Kami rezekikan …”

📌atau hadits doa malaikat:
“Allahumma a’thi munfiqan khalafa – Ya Allah, berikanlah ganti bagi org yg berinfaq.” (HR. Bukhari)

📌 Persamaannya adalah pada keduanya ada yang *WAJIB* dan *SUNNAH*.

📌 Yang Wajib seperti zakat dan belanja dari suami kepada istri, juga sedekah yg  dinadzarkan, kaffarat, dan semisalnya.

📌 yang Sunnah, seperti sedekah dan infaq kepada org yang sedang kesulitan, sumbangan membangun masjid, dll.

📌 mana yang di dahulukan? Maka yg wajib didahulukan dibanding yang sunnah

📌 Jika sama2 wajib, seperti zakat dan nafkah kpd keluarga, maka zakat didahulukan, sebab sedekah yang membawa manfaat pribadi dan org banyak secara bersamaan didahulukan dibanding sedekah yg bermanfaat utk diri sndiri. TAPI ini terjadi jika sudah *NISHAB dan HAUL*,  jika belum maka kebutuhan keluarga didahulukan.
Wallahu a’lam

🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia…

Ummu Qur'an – Al Fatihah

Sabti, 13 Ramadhan 1437H/ 18 Juni 2016
Al-qur’an
Ustadz Noorahmat
 _*Ummu Qur’an – Al Fatihah*_
=============================

Alhamdulillah kita bertemu kembali. Bagaimana shaum-nya? Semoga Allah Azza wa Jalla menerima shaum kita. Aamin.
Dari QS Al Fatihah….mari kita mulakan dengan Basmallah…

*بسم الله الرحمن الرحيم*
Ulama berbeda pendapat mengenai waktu turunnya Surah Al Fatihah. Namun mayoritas ulama menyepakati bahwa Al Fatihah termasuk surah yang _diturunkan di Makkah_ (Makkiyyah) dan tergolong kelompok surah yang pertama diturunkan Allah Azza wa Jalla kepada Rasulullah SAW

Diantara dalil yang memastikan bahwa surah ini adalah Makkiyyah adalah firman Allah Azza wa Jalla dalam *QS Al Hijr ayat 87*

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ سَبْعًۭا مِّنَ ٱلْمَثَانِى وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْعَظِيمَ

Dan sesungguhnya telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang Agung.

Abu Hurairah r.a berkata bahwa pada saat Ubay bin Ka’ab membacakan Ummul Qur’an (Al Fatihah) dihadapan Rasulullah SAW maka Rasulullah SAW pun bersabda “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, Allah tidak menurunkan semisal surah ini di dalam Taurat, Injil, Zabur dan Al Qur’an. Sesungguhnya surah ini adalah As-Sab’ul Matsani (tujuh kalimat pujian) dan Al Qur’an Al ‘Adzhim yang diberikan kepadaku”.

Maka mari kita mulai dengan basmallah…

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Adik-adik…

Dalam ayat ini, terdapat lafadz الله yang merupakan Nama-Nya yang paling agung dan mencakup semua sifat.

Terdapat pula kata الرحمن dan الرحيم yang merupakan dua kata sifat yang terbentuk dari kata رحمة (rahmah) yang berarti kasih sayang. Masing-masing dari keduanya memiliki penekanan tersendiri.

Kata الرحمن (Ar Rahmaan) berarti yang sangat besar Rahmah-Nya karena memiliki pola *fa’laan*, sebuah kata mubalaghoh yang maknanya menunjukkan _banyaknya dan besarnya sesuatu_.

Sedangkan kata الرحيم (Ar-Rahiim) berarti yang langgeng Rahmah-Nya….ajeg dan terus menerus tanpa pernah berakhir karena memiliki pola *fa’il*, sebuah bentuk kata mubalaghah yang menunjukkan kepada _sifat-sifat yang langgeng_.

Dalam hal ini, Al Khaththabi mengatakan bahwa _”Kata Ar Rahmaan berarti yang Rahmah-Nya meliputi semua makhluk terkait rezeki dan kebutuhan mereka baik mu’min maupun kafir. Sedangkan kata Ar Rahiim berarti yang Rahmah-Nya langgeng dan khusus bagi mu’min”_

Kenapa khusus bagi mu’min saja? Karena Allah Azza wa Jalla berfirman

هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ *وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًۭا*

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). *Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman*. [QS Al Ahzab 33:43]

Nah adik-adik…

Kalimat Basmallah ini merupakan pembuka dari Surah Al Fatihah yang merupakan Ummul Qur’an. Maka bisa kita sadari betapa luar biasanya posisi lafadz basmallah ini bagi kita. Maka, sebagai mu’min, basmallah itu haruslah selalu menjadi awal bagi kita setiap akan memulai semua aktifitas. Karena dengan membaca basmallah berarti kita menghadirkan Allah Azza wa Jalla dalam tiap aktifitas kita.

Jadi….
Ucapkanlah basmallah setiap kita akan memulai segala sesuatu ya…. 

Wallahua’lam.

Sampai bertemu kembali pekan depan untuk kelanjutan tafsir Al Fatihah-nya…

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala

"Bila tdk bs menjadi pena yg menulis kebaikan. Maka jadilah penghapus yg akan menghilangkn keburukan"

Jumat, 12 Ramadhan 1437H/ 16 Juni 2016
Judul:
“Bila tdk bs menjadi pena yg menulis kebaikan. Maka jadilah penghapus yg akan menghilangkn keburukan”
By Ukasyah

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Bagaimana kabar semuanya semoga selalu dalam perlindungan Allah dan diberikan Rahmat oleh Allah pula….
Btw kata kata mutiara yang tertulis di atas garapan salah satu member manis lho….. 
berkarya itu memang bikin keren 
❓Sudah dapet materi tentang adab2 berinteraksi dengan guru belum?
Sudah dunk….
Kali ini kita coba bahas lebih dalam deh…terutama jika dikaitkan dengan berita belakangan ini yang menyebutkan bahwa ada beberapa murid yang melaporkan tindakan guru ke polisi…perlu sampe segitunya gak sih??!!!
Padahal bagaimanapun juga dari merekalah kita dapet ilmu,dari cucuran keringat merekalah kita bisa memperoleh ijazah…
Sudah tahu belum kerja guru bagaimana?
Sini sini…..dikasih gambaran bagaimana kerja guru. 
Mereka itu dipantau lhoo oleh Mendiknas bagaimana kinerjanya selama mengajar. Kemudian mereka harus melaporkan kegiatan siswa ke dinas pendidikan setempat. ✍Menjelang raportan mereka dengan sukarela mengisi raport kalian sampe malam…bahkan anak2 mereka sendiri terkadang harus di nomor duakan.
Kalau ada diantara kalian yang ortunya bekerja sbg guru atau dosen akan lebih paham tentang kondisi ini.

Mari kita pikir bersama tentang hal ini
❓Gak ada guru apa mungkin ada yang kasih ilmu?
❓Gak ada guru apa mungkin ijazah bisa keluar?
❓Gak ada guru apa mungkin kita bisa tahu dunia?
❓Gak ada guru apa mungkin kita bisa tahu berhitung,bahasa,alam sekitar dll?
❓Gak ada guru apa mungkin kita bisa bermimpi sekolah favorit bahkan berkeliling ke luar negeri?
❓Gak ada guru apa mungkin sekolah berdiri di sekiling kita?
❓Apa yang terjadi jika tak ada Guru di dunia ini?
Haruskah kita mengedepankan emosi diri hanya karena kebencian sesuatu?
Think this!!樂樂樂樂
Ada saran nihh…buat kalian semua ketika bertemu dengan guru/dosen
Begini…..邏邏邏邏
1⃣ketika berbeda pendapat dengan guru cari waktu yang tepat untuk berdiskusi dengan guru tersebut
2⃣jika guru menginginkan tindakan atau hal2 yang buruk bahkan melanggar syariat Islam… *Tolaklah dengan ucapan baik* contohnya:” maaf pak saya gak nyaman dengan itu”.
3⃣jika guru masih memaksa untuk *mengajak ke hal2 yang melanggar syariat islam* mintalah bala bantuan saudara,ortu atau pihak2 berwenang yang bisa melindungi diri.
4⃣senyum adalah ibadah bahkan termasuk shodaqoh,bertemu dengan guru dan tersenyum bisa menambah nilai kebaikan.
5⃣ada baiknya perlu menjaga diri bila bertemu dengan guru yang berlawan jenis..
Simak ayat berikut ini 
يٰبُنَيَّ اِنَّهَاۤ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ   ؕ  اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
(Luqman berkata),  “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.
[QS. Luqman: Ayat 16]
Allah akan selalu membalas kebaikan kita,sekalipun itu keciiillll….kenapa Allah yang membalas❓❗ Karena hanya Allah yang tahu isi hati manusia dan adil dalam pembalasan…
Soo…..kita perlu berbuat baik kepada Guru/dosen bahkan siapapun yang ada di sekeliling kita..
Tapi ingat, berbuat BAIK pun harus tetap dgn pemahaman yang cukup dan kehati²an.
Jangan sampai kebaikan kamu malah jadi kesempatan buat oranglain berbuat jahat sama kamu.
Menjadi org baik bukan berarti mengikuti semua keinginan orang lain lho! Always think first before doing something.
So, be nice and good, but always smart and survive.
Wallahu alam
biswab…

Dipersembahkan oleh :
Www.manis-islam.com
✈ Sebarkan!  Raih pahala..

Fikih I’tikaf (Bag. 5)

📆 Kamis,  11 Ramadhan 1437 H / 16 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Fikih I’tikaf (Bag. 5)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 _*I’tikaf Wajib di Masjid; Masjid yang bagaimanakah ?*_

 Di masjid adalah syarat sahnya I’tikaf sesuai petunjuk Al Quran Al Baqarah ayat 187, juga contoh dari sunah Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 Disebutkan dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah:

أَجْمَعَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ لاَ يَصِحُّ لِلرَّجُل أَنْ يَعْتَكِفَ إِلاَّ فِي الْمَسْجِدِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى : { وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ } ، وَلأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَعْتَكِفْ إِلاَّ فِي الْمَسْجِدِ .
وَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَقَدْ ذَهَبَ الْجُمْهُورُ إِلَى أَنَّهَا كَالرَّجُل لاَ يَصِحُّ أَنْ تَعْتَكِفَ إِلاَّ فِي الْمَسْجِدِ ، مَا عَدَا الْحَنَفِيَّةَ فَإِنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّهَا تَعْتَكِفُ فِي مَسْجِدِ بَيْتِهَا لأَِنَّهُ هُوَ مَوْضِعُ صَلاَتِهَا ، وَلَوِ اعْتَكَفَتْ فِي مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ جَازَ مَعَ الْكَرَاهَةِ التَّنْزِيهِيَّةِ .

  “Fuqaha telah ijma’ bahwa tidak sah bagi laki-laki yang beri’itikaf kecuali di masjid, sesuai firmanNya Ta’ala: sedang kalian sedang   I’tikaf di masjid. (QS. Al Baqarah : 187), dan  karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak beri’tikaf kecuali di masjid.

  Ada pun wanita, jumhur ulama mengatakan bahwa mereka sama dengan laki-laki; tidak sah I’tikaf kecuali di masjid, kecuali menurut Hanafiyah, mereka mengatakan bahwa waita I’tikaf di masjid di rumahnya, karena di sanalah tempat shalat mereka, dan seandainya mereka I’tikaf   di masjid, boleh saja namun makruh tanzih (makruh yang mendekati boleh).” (Al Mausu’ah, 37/213)

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah:

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى مَشْرُوطِيَّة الْمَسْجِدِ لِلِاعْتِكَافِ ، إِلَّا مُحَمَّدَ بْن عُمَر اِبْن لُبَابَةَ الْمَالِكِيَّ فَأَجَازَهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ ، وَأَجَازَ الْحَنَفِيَّةُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَعْتَكِفَ فِي مَسْجِدِ بَيْتِهَا وَهُوَ الْمَكَان الْمُعَدُّ لِلصَّلَاةِ فِيهِ

“Ulama telah sepakat atas pensyaratan masjid untuk I’tikaf, kecuali Muhammad bin Umar bin Lubabah Al Maliki yang membolehkan di setiap tempat. Kalangan Hanafiyah membolehkan kaum wanita I’tikaf di masjid rumahnya, yaitu tempat yang dipersiapkan untuk shalat di dalamnya.” (Fathul Bari, 4/272. Darul Fikr)

Demikian kesepakatannya, ada pun adanya pendapat yang menyendiri yang bertabrakan dengan mainstream dalam hal ini, tidaklah dianggap. Namun walau mereka bersepakat tentang keharusan di masjid, mereka berselisih pendapat tentang jenis masjidnya.

Beliau melanjutkan:

وَذَهَبَ أَبُو حَنِيفَة وَأَحْمَد إِلَى اِخْتِصَاصه بِالْمَسَاجِدِ الَّتِي تُقَام فِيهَا الصَّلَوَات ، وَخَصَّهُ أَبُو يُوسُف بِالْوَاجِبِ مِنْهُ وَأَمَّا النَّفْل فَفِي كُلّ مَسْجِد ، وَقَالَ الْجُمْهُور بِعُمُومِهِ مِنْ كُلّ مَسْجِد إِلَّا لِمَنْ تَلْزَمهُ الْجُمُعَةُ فَاسْتَحَبَّ لَهُ الشَّافِعِيّ فِي الْجَامِع ، وَشَرَطَهُ مَالِكٌ لِأَنَّ الِاعْتِكَافَ عِنْدهمَا يَنْقَطِعُ بِالْجُمُعَةِ ، وَيَجِبُ بِالشُّرُوعِ عِنْد مَالِك ، وَخَصَّهُ طَائِفَةٌ مِنْ السَّلَف كَالزُّهْرِيِّ بِالْجَامِعِ مُطْلَقًا وَأَوْمَأَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيّ فِي الْقَدِيم ، وَخَصَّهُ حُذَيْفَةُ بْن الْيَمَانِ بِالْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَة ، وَعَطَاءٌ بِمَسْجِدِ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ وَابْنُ الْمُسَيِّبِ بِمَسْجِدِ الْمَدِينَةِ ، وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ لَا حَدَّ لِأَكْثَرِهِ

“Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad  berpendapat dikhususnya I’tikaf hanya pada *masjid yang di dalamnya dilaksanakan berbagai shalat, Imam Abu Yusuf mengkhususkan pada shalat wajib saja, ada pun shalat sunah bisa di semua masjid. Mayoritas (jumhur) berpendapat sesuai keumumannya pada semua masjid, kecuali bagi orang yang juga sekalian shalat Jumat, maka kalangan Imam Asy Syafi’i menyunnahkan di masjid Jami’, ada pun Imam Malik mensyaratkan hal itu (Masjid Jami’) karena menurut mereka berdua, I’tikaf menjadi terputus karena shalat Jumat. Imam Malik mewajibkan hal itu (keberadaan di masjid Jami’) sejak permulaan I’tikaf. Sebagian salaf seperti Az Zuhri mengkhususkan masjid jami’ secara mutlak, hal itu juga diisyaratkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat lamanya.

Sedangkan Hudzaifah bin Yaman mengkhususkan di tiga masjid saja (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha), Atha’ mengkhususkan pada masjid di Mekkah dan Madinah, Said bin Al Musayyib mengkhususkan masjid di Madinah, dan mereka sepakat tidak ada batasan dalam hal banyaknya.” (Ibid)

Dari penjelasan Al Hafizh, kita bisa simpulkan, bahwa para fuqaha berselisih tentang jenis masjid yang boleh dilakukan i’tikaf di dalamnya:

1⃣.  Sahnya I’tikaf hanya di masjid yang di dalamnya dilakukan shalat yang lima dan shalat Jumat (Istilahnya: masjid jami’). Inilah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, Abu Tsaur, Malik, dll

2⃣.  I’tikaf sah di lakukan di semua masjid, termasuk masjid yang tidak mendirikan shalat Jumat. (istilahnya: masjid ghairu Jami’ – surau), inilah pendapat, Syafi’i, Daud,   dll. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama).   Imam Bukhari juga mengikuti pendapat ini, beliau menulis dalam Shahihnya:

بَاب الِاعْتِكَافِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَالِاعْتِكَافِ فِي الْمَسَاجِدِ كُلِّهَا

  Bab I’tikaf di 10 Hari terakhir dan I’tikaf Masjid-Masjid Seluruhnya. (lalu beliau mengutip Al Baqarah 187)

3⃣.  I’tikaf hanya sah dilakukan di tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Ini pendapat Hudzaifah bin Yaman Radhiallahu ‘Ahu, ini yang nampak dari  pendapat Syaikh Al Albani Rahimahullah, dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 2786.

4⃣.  Hanya  masjid di Mekkah dan Madinah, apa pun masjid itu. Ini pendapat ‘Atha

5⃣  Hanya masjid di Madinah, apa pun masjid itu. Ini pendapat Sa’id bin Al Musayyib

Nampak bahwa pendapat jumhur adalah pendapat yang lebih kuat, sebagaimana penjelasan Syaikh Ibnul Utsaimin pada pembahasan selanjutnya.

Bersambung

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

BERBAKTI KEPADA ORANGTUA

 Kamis, 11 Ramadhan 1437 H/ 15 Juni 2016
Fiqih Ibadah
Ustadzah Suci Susanti S.SoS.I
 *BERBAKTI KEPADA ORANGTUA*
===================================

Assalammualaykum adik-adik…
Bagaimana puasanya ?
Jelang sepuluh hari pertama Ramadhan, semoga puasanya semakin semangat ya. Juga ibadah-ibadah lainnya seperti zikir, membaca alquran, mendalami ilmu agama, semoga terus meningkat. Aamiin…
Adik-adik, biasanya bulan puasa seperti ini yang paling sibuk di rumah siapa ? …. kalian atau ibu ? ayo… jawab yang jujur J biasanya yang sibuk banget adalah ibu.
Coba adik-adik perhatikan. Ketika seisi rumah terlelap, ibu sudah bangun untuk menyiapkan makanan sahur. Begitupun jelang berbuka puasa. Ketika yang lainnya sedang asyik menonton televisi, membaca, atau bermain bersama teman, ibu kembali sibuk di dapur untuk menyiapkan menu terbaiknya.
Belum lagi urusan-urusan rumah tangga lainnya. Seperti menjaga kebersihan rumah, menjaga anggota rumah dari serangan penyakit, merawat anggota rumah yang sakit, dan masih banyak lagi. Luar biasa ya pekerjaan seorang ibu.
Bagaimana dengan ayah ?
Peran seorang ayah ngga kalah besar dengan peran ibu. Jika seorang ibu menjaga rumah dan seisinya, maka tugas seorang ayah adalah menjamin seluruh anggota keluarga dalam keadaan baik.
Luar biasa ya adik-adik tugas orangtua kita. Nah, besarnya tugas ayah dan ibu sering kali tidak sebanding dengan apa yang sudah kita lakukan untuk mereka.
Coba deh ingat-ingat lagi. Kapan kita tidak mau mendengar nasehat mereka ? tadi pagi jelang sahur ?… atau tadi pagi subuh ?… atau setelah dhuhur?
Saat dinasehati ayah ibu, seringkali kita berucap dalam hati ;
 Mama cerewet banget sih
Papa ngga ngerti anak jaman sekarang
Masa gitu aja ngga boleh, apa-apa dilarang
 Males deh kalau sering dimintain tolong sama mama
Dan masih banyak lagi… ayo… siapa yang sering dalam hatinya ngedumel saat dinasehatin atau dimintain tolong sama ayah ibu.
Dalam QS Luqman : 14, Allah swt berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
_”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”_
Mujahid berkata, “ Yang dimaksud dengan وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ adalah, _“Dalam keadaan penuh penderitaan saat mengandung sang anak.”_
Sedangkan Qatadah berkata, _“ Dalam keadaan kepayahan di atas kepayahan.”_
‘Atha’ al-Khusarani berkata, _“ Maksudnya, ‘Kelemahan di atas kelemahan.’”_
Sengaja, Allah menyebutkan perjuangan seorang ibu dalam mengurus anaknya. Penderitaan dan pengorbanan seorang ibu dalam melindungi anaknya di antaranya tidak bisa tidur dengan nyaman sepanjang siang dan malam, semata-mata agar seorang anak senantiasa mengingat jasa-jasa ibunya.
Adik-adik yang dicintai Allah swt, hak paling tinggi dan paling agung yaitu hak Allah swt untuk senantiasa diibadahi dan tidak disekutukan dengan sesuatupun. Kemudian setelah itu hak sesama makhluk. Dan hak sesama makhluk yang paling utama adalah hak kedua orangtua. Oleh karena itu dalam QS Luqman : 14, Allah swt memadukan antara hak-Nya denga hak kedua orangtua.
Hadits tentang keuatamaan berbakti kepada orangtua pun begitu banyak. Salah satunya adalah ;

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

_“Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berjihad di jalan Allah’._

Lalu Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal-hal tadi kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, pasti beliau akan menambahkan (jawabannya).”_ (HR. Bukhari dan Muslim)
Ternyata luar biasa ya kedudukan orangtua. Setelah kita menunaikan hak Allah swt, maka kita harus menunaikan hak orangtua. Ngga ada yang lebih tinggi dari kedua hal tersebut. Bahkan jika ada panggilan jihad, sementara kita masih mempunyai orangtua, Rasulullah saw memerintahkan untuk menjaga orangtua. Dan ternyata amalan berbakti kepada orangtua merupakan amalan utama setelah shalat tepat waktu.
Adik-adik yang dirahmati Allah swt, mulai sekarang yuk kita berbakti kepada ayah ibu, abi ummi, ayah bunda. Dengarkan nasehat-nasehat mereka. Ikut perintah-perintah mereka, agar kita selamat dunia akhirat.
===================
Maraji : Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala

Hadist Dibelenggunya Syaithan Di Bulan Ramadhan

🎀Ustadzah Menjawab🎀
📝Ustadzah Ida Faridah
=================

📆Kamis, 9 Juni 2016 M
                  4 Ramadhan 1437 H
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Assalamu’alaikum Ustadz.Mhn maaf saya menanyakan tentang hadits yg isinya dibelenggu para setan di bulan Romadhon. Maksudnya apa, krn pd kenyataannya di bulan Romadhon masih banyak kemaksiyatan.
Terimakasih.  A34

===========
Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Suasana maksiat masih sangat terasa di bulan Ramadhan. Tidak hanya di lingkungan, termasuk diri kita sendiri, untuk menghindari maksiat, terasa masih sangat susah. Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

_“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.”_ (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

_“Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.”_ (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079).

Selanjutnya, kita kembali ke pertanyaan di atas. Mengapa masih ada maksiat, jika setan telah dibelenggu?

Ada beberapa pendekatan yang disampaikan ulama dalam memahami kasus ini,

📝 Sumber maksiat tidak hanya setan. Karena hawa nafsu manusia di sana berperan.

Keterangan disampaikan Imam as-Sindi dalam Hasyiyah-nya (catatan) untuk sunan an-Nasai. Beliau mengatakan,

ولا ينافيه وقوع المعاصي، إذ يكفي وجود المعاصي شرارة النفس وخبائثها، ولا يلزم أن تكون كل معصية بواسطة شيطان، وإلا لكان لكل شيطان شيطان ويتسلسل، وأيضاً معلوم أنه ما سبق إبليس شيطان آخر، فمعصيته ما كانت إلا من قبل نفسه، والله تعالى أعلم
“Hadis ‘setan dibelenggu’ tidak berarti meniadakan segala bentuk maksiat. Karena bisa saja maksiat itu muncul disebabkan pengaruh jiwa yang buruk dan jahat. Dan timbulnya maksiat, tidak selalu berasal dari setan. Jika semua berasal dari setan, berarti ada setan yang mengganggu setan (setannya setan), dan seterusnya bersambung. Sementara kita tahu, tidak ada setan yang mendahului maksiat Iblis. Sehingga maksiat Iblis murni dari dirinya. Allahu a’lam.” (Hasyiyah Sunan an-Nasai, as-Sindi, 4/126).

📝 Setan dibelenggu tapi dia masih bisa mengganggu. Hanya saja, dia tidak sebebas ketika dilepas. Karena makhluk yang dibelenggu hanya terikat bagian tangan dan lehernya. Sementara kakinya, lidahnya masih bisa berkarya.

Kita simak keterangan Imam al-Baji – ulama Malikiyah – dalam Syarh Muwatha’,

قوله وصفدت الشياطين يحتمل أن يريد به أنها تصفد حقيقة، فتمتنع من بعض الأفعال التي لا تطيقها إلا مع الانطلاق، وليس في ذلك دليل على امتناع تصرفها جملة، لأن المصفد هو المغلول العنق إلى اليد يتصرف بالكلام والرأي وكثير من السعي

“Sabda beliau, ‘Setan dibelenggu’ bisa dipahami bahwa itu dibelenggu secara hakiki. Sehingga dia terhalangi untuk melakukan beberapa perbuatan yang tidak mampu dia lakukan kecuali dalam kondisi bebas.”
Dan hadis ini bukan dalil bahwa setan terhalangi untuk mengganggu sama sekali.  Karena orang yang dibelenggu, dia hanya terikat dari leher sampai tangan. Dia masih bisa bicara, membisikkan ide maksiat, atau banyak gangguan lainnya.

📝 Sejatinya setan tidak dibelenggu secara hakiki. Sifatnya hanya kiasan. Mengingat keberkahan bulan ramadhan, dan banyaknya ampunan Allah untuk para hamba-Nya selama ramadhan. Sehingga setan seperti terbelenggu.

Masih kita lanjutkan keterangan al-Baji,

ويحتمل أن هذا الشهر لبركته وثواب الأعمال فيه وغفران الذنوب تكون الشياطين فيه كالمصفدة، لأن سعيها لا يؤثر، وإغواءها لا يضر…

“Bisa juga kita maknai, bahwa mengingat bulan ini bulan pernuh berkah, penuh pahala amal, banyak ampunan dosa, menyebab setan seperti terbelenggu selama ramadhan. Karena upaya dia menggoda tidak berefek, dan upaya dia menyesatkan tidak membahayakan manusia…” (al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’, al-Baji, 2/75)

📝 yang dibelenggu tidak semua setan. Tapi hanya setan kelas kakap (maradatul jin). Sementara setan-setan lainnya masih bisa bebas. Terjadi maksiat, disebabkan bisikan setan-setan kelas biasa.

Dalam fatwa  syabakah islamiyah dinyatakan,

وقد ذهب بعض أهل العلم إلى أن الذين يصفدون من الشياطين مردتهم، فعلى هذا فقد تقع المعصية بوسوسة من لم يصفد من الشياطين

“Sebagian ulama berpendapat bahwa setan yang dibelenggu hanyalah setan kelas kakap. Berdasarkan pendapat ini, adanya maksiat, disebabkan bisikan setan yang belum dibelenggu.” (Fatwa  Syabakah Islamiyah, no. 40990).

Yang lebin penting adalah kita berupaya untuk menghindari maksiat sebisa yang kita lakukan. Agar puasa kita semakin berkualitas.
Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala…

Ber jima Disiang Hari Saat Ramadhan, Bagaimana Hukumnya??

🎀Ustadzah Menjawab🎀
📝Ustadzah Ida Faridah
=================

📆Rabu, 8 Juni 2016 M
                3 Ramadhan 1437 H
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Assalamu’alaikum Ustadz/ustadzah saya mau tanya. bilamana ada sepasang suami-istri yang baru menikah menjelang bulan ramadhan. kemudian karena alasan safar/perjalanan mereka tidak berpuasa dan dalam safar tersebut melakukan jimak di siang hari bulan ramadhan. bagaimana kah hukumnya. afwan. jazakumullah khoir.
🌿A14

===========
Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Menurut jumhur ulama batalnya puasa yang mewajibkan qadha’ dan kifarat, hanyalah yang disebabkan bersetubuh disiang hari pada bulan ramadhan, hal ini berdasarkan hadist nabi yang berbunya:
_”Dari Abu Hurairah ra. Berkata: seorang lelaki datang kepada Nabi saw lalu berkata: “Celakalah sayan ya rasulullah!”. Kenapa kamu celaka?”tanya Rasul. Lai-laki itupun menjawa! “Saya telah bersetubuh dengan isteriku pada siang hari di bulan ramadhan!”. Rasul bertanya: Sanggupkah kamu memberi memerdekakan seorang budak? “Tidak! Jawab laki-laki itu. “Kuatkah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut? Tanya Rasul pula. “Tidak!” Jawabnya. “Sanggupkah kamu memberi makan kepada enam puluh orang miskin?” tanya Rasul. Dan laki-laki itu pun tetap menjawab: “Tidak!” Kemudian ia pun duduk, maka datanglah Nabi saw membawa sebakul tamar lalu seraya berkata: “Sedekahkanlah kurma ini! “Kata beliau. “Apakah kepada orang yang lebih fakir dari kami? Padahal dikampung tidak ada satu keluargapun yang lebih melarat selain kami! “Kata laki-laki itu menerangkan. Dan Nabi saw pun tertawa sampai kelihatan gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Pulanglah, berikan kurma ini kepada keluargamu!”._

Dalam soal hukum syar’i, laki-laki muslim dan wanita muslimah mendapat porsi yang sama. Mereka sama-sama wajib membeyar kifarat, bila kedua-duanya sama-sama sengaja bersetubuh disiang hari pada bulan ramadhan, tanpa dipaksa oleh siapapun, sedang mereka berdua telah berniat puasa pada hari itu.

Dengan demikian, apabila persetubuhan itu terjadi karena lupa, atau karena dipaksa bukan karena kehendak sendiri, atau pada hari itu mereka memang tidak berniat puasa, maka *kifarat pun tidak wajib dilakukan*oleh siapapun, baik oleh lelaki maupun yang perempuan.

Dalam madzhab Maliki untuk menentukan apakah batalnya puasa itu disertai wajib kifarat atau tidak yakni melalui beberapa syarat, salah satunya: Batalnya itu disengaja. Akan tetapi kalau batalnya itu karena lupa, atau tidak sengaja, atau karena udzur seperti sakit atau bepergian, maka *yang wajib hanya qadha*.
Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala

Fiqih I’tikaf (Bag. 4)

📆 Rabu,  10 Ramadhan 1437 H / 15 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Fiqih I’tikaf (Bag. 4)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Bolehkah I’tikaf Selain Ramadhan dan Tanpa Puasa?*

Dalam hal ini terjadi khilafiyah, Syaikh Utsaimin berkata:

فالذي يظهر لي أن الإنسان لو اعتكف في غير رمضان، فإنه لا ينكر عليه بدليل أن الرسول صلّى الله عليه وسلّم أذن لعمر بن الخطاب أن يوفي بنذره ولو كان هذا النذر مكروهاً أو حراماً، لم يأذن له بوفاء نذره، لكننا لا نطلب من كل واحد أن يعتكف في أي وقت شاء، بل نقول خير الهدي هدي محمد صلّى الله عليه وسلّم، ولو كان الرسول صلّى الله عليه وسلّم يعلم أن في الاعتكاف في غير رمضان، بل وفي غير العشر الأواخر منه سنة وأجراً لبينه للأمة حتى تعمل به

“Yang nampak benar bagi saya, bahwa manusia jika i’tikaf pada selain Ramadhan, hal itu tidaklah   diingkari berdasarkan dalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengizinkan Umar bin Al Khathab menepati nazarnya.

Seandainya nazar tesebut makruh atau haram, niscaya Beliau tidak akan mengizinkan memenuhi nazarnya. Tetapi, kami tidak menuntut setiap orang untuk beri’tikaf pada bulan apa saja semaunya dia, bahkan kami katakan sebaiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Seandainya Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan I’tikaf selain Ramadhan, bahkan diluar 10 hari terakhir adalah sunah dan berpahala, niscaya Beliau akan menjelaskan kepada umat sehingga umat mengerjakannya.” (Syarhul Mumti’, 6/164. Mawqi’ Ruh Al Islam)

    Hadits yang dimaksud oleh Syaikh Utsaimin, yakni Dari Ibnu Umar, bahwa Umar bin Khatab berkata:

يا رسول الله إني نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة في المسجد الحرام. فقال: أوف بنذرك

“Wahai Rasulullah, saya bernazar pada masa jahiliyah untuk i’tikaf pada malam hari di masjidil haram.” Beliau bersabda: “Penuhi nazarmu.” (HR. Bukhari No. 1927, 1937,1938)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ففى أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم له بالوفاء بالنذر دليل على ان الصوم ليس شرطا في صحة الاعتكاف، إذ أنه لا يصح الصيام في الليل.

Maka, pada perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepadanya  (Umar) untuk memenuhi nazar, merupakan dalil bahwa berpuasa bukanlah syarat bagi sahnya i’tikaf, mengingat bahwa tidak sahnya berpuasa malam hari. (Fiqhus Sunnah, 1/478)

Inilah pendapat Ali, Ibnu Mas’ud, Al Hasan Al Bashri, Asy Syafi’i, dll. Sedangkan ‘Aisyah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Sa’id bin Al Musayyib,  Urwah bin Zubeir, Az Zuhri,  Al Auza’i, Malik, Abu Hanifah, menyatakan bahwa I’tikaf tidak sah tanpa berpuasa. (Ibid, 1/479)

Faktanya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah I’tikaf pada bulan Syawwal, yaitu 10 hari terakhir bulan Syawwal, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam kitab Shahihnya:
بَاب الِاعْتِكَافِ فِي شَوَّالٍ

  Bab I’tkaf Pada Bulan Syawwal

Maka, pandangan yang lebih kuat adalah bahwa I’tikaf tetap sah dilakukan tanpa puasa dan sah pula di luar Ramadhan. Jika ditambah puasa maka itu afdhal.

Wallahu A’lam

🔹Bersambung 🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Fiqih I’tikaf (Bag. 3)

📆 Selasa,  9 Ramadhan 1437 H / 14 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Fiqih I’tikaf (Bag. 3)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *I’tikaf Kaum Wanita*

Dari ‘Aisyah Radiallahu ‘Anha:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

📌Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan Allah, kemudian istri-istrinya pun I’tikaf setelah itu.(HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Syaikh Al Albani Rahimahullah mengomentari hadits ini:

وفيه دليل على جواز اعتكاف النساء أيضا ولا شك أن ذلك مقيد بإذن أوليائهن بذلك وأمن الفتنة والخلوة مع الرجال للأدلة الكثيرة في ذلك والقاعدة الفقهية : درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

📌Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya I’tikaf bagi wanita juga, dan tidak ragu bahwa kebolehan itu terikat dengan izin para walinya, atau aman dari fitnah, dan aman dari berduaan dengan laki-laki lantaran banyak dalil yang menunjukkan hal itu, juga kaidah fiqih: menolak kerusakan lebih diutamakan dibanding mengambil maslahat. (Qiyamur Ramadhan, Hal. 35. Cet. 2. Maktabah Islamiyah, ‘Amman. Jordan)

  Selain itu, hendaknya wanita I’tikaf di masjid yang memungkinkan dan kondusif bagi mereka.

 Berkata Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah:

وإذا اعتكفت المرأة في المسجد، استحب لها أن تستتر بشيء؛ لأن أزواج النبي صلّى الله عليه وسلم لما أردن الاعتكاف أمرن بأبنيتهن، فضربن في المسجد، ولأن المسجد يحضره الرجال، وخير لهم وللنساء ألا يرونهن ولا يرينهم.

  📌“Jika wanita I’tikaf di masjid, dianjurkan dia membuat penutup dengan sesuatu, karena para isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika hendak i’tikaf, Beliau memerintahkan mereka untuk menjaga diri, lalu mereka mendirikan kemah di masjid, karena masjid dihadiri kaum laki-laki, dan itu lebih baik bagi mereka (kaum laki-laki) dan bagi wanita, sehingga kaum laki-laki   tidak melihat mereka dan sebaliknya.” (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 3/125)

📚 *Keutamaannya*

  Tidak ada riwayat shahih yang mendefinitkan keutamaan I’tikaf secara khusus. Namun, adanya berita shahih bahwa nabi, para isterinya, dan para sahabat yang senantiasa melakukannya setiap Ramadhan menunjukkan keutamaan I’tikaf. Sebab, tidak mungkin mereka merutinkan amalan yang dianggap ‘biasa saja.’

  Syaikh Sayyid Sabiq  Rahimahullah menulis sbb:

قال أبوداود: قلت لاحمد رحمه الله: تعرف في فضل الاعتكاف شيئا؟ قال: لا، إلا شيئا ضعيفا.

📌  Berkata Abu Daud: Saya berkata kepada Ahmad Rahimahullah: “Apakah engkau mengatahui tentang keutamaan I’tikaf?” Beliau berkata: “Tidak, kecuali suatu riwayat yang dhaif.” (Fiqhus Sunnah, 1/475)

📚 *Syarat-Syarat I’tikaf*

ويشترط في المعتكف أن يكون مسلما، مميزا طاهرا من الجنابة والحيض والنفاس، فلا يصح من كافر ولا صبي غير مميز ولاجنب ولاحائض ولا نفساء.

📌Syarat bagi orang yang beri’tikaf adalah: muslim, mumayyiz (sudah mampu membedakan salah benar, baik buruk), suci dari junub, haid, dan nifas, tidak sah jika kafir, anak-anak yang belum mumayyiz, junub, haid, dan nifas. (Fiqhus Sunnah, 1/477)

📚 *Rukun-Rukun I’tikaf*

Berikut ini keterangannya:

أركانه: حقيقة الاعتكاف المكث في المسجد بنية التقرب إلى الله تعالى، فلو لم يقع المكث في المسجد أو لم تحدث نية الطاعة لا ينعقد الاعتكاف.

📌Rukun-rukunnya: hakikat dari I’tikaf adalah tinggal di masjid dengan niat taqarrub ilallah Ta’ala. Seandainya tidak menetap di masjid atau tidak ada niat melaksanakan ketaatan, maka tidak sah disebut i’tikaf . (Ibid)

🔑Jadi, ada dua rukun: niat untuk ibadah dan menetap di masjid.

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

SALMAN AL FARISI

Rabu, 10 Ramadhan 1437 H/ 15 Juni 2016
Ustadzah Sumaryani, SE
 *SALMAN AL FARISI*
=========================

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum Sahabat MFT yang Sholeh/h….
Tahukah sahabat Siapakah sosok *Salman Al Farisi* ???
Salman Al Farisi adalah contoh pemudah tangguh dan teguh dalam mencari kebenaran sejati….gigih dalam menggapai Hidayah dari Robbnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang Salman al-Farisiradhiyallahu ‘anhu:
*لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا، لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلَاءِ*
*_“Seandainya keimanan itu berada (jauh) di bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari mereka ini telah meraihnya.” Muttafaq ‘alaih_*
Banyak hati yang tergerak untuk mencari kebenaran. Tak sedikit orang yang mengayunkan langkah, menelusuri jalan panjang demi sebuah hidayah. Namun, sering kali mereka goyah didera badai ujian, sementara tak jarang jemari melemah melepas hidayah yang sempat digenggam.
Inilah Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia. Kegigihannya dalam mencari kebenaran adalah teladan. Kekokohannya menggenggam hidayah adalah bukti kebenaran iman.
Salman adalah salah seorang penduduk Persia (dalam bahasa Arab, Faris), karena itulah beliau disebut dengan al-Farisi. Dari sanalah beliau berasal, tepatnya di sebuah desa bernama Jayy, bagian dari kota Asbahan (kota Isfahan, Iran). Ketika itu, beliau dikenal dengan nama aslinya, Ruziyah. Setelah memeluk Islam beliau bergelar Abu Abdillah, masyhur dengan julukan Salman al-Khair atau Salman bin al-Islam.
Ayahnya adalah seorang pembesar di desanya. Kecintaan yang sangat kepada Salman membuat sang ayah menahan puteranya di dalam rumah layaknya gadis pingitan. Salman menjalani hari-harinya  sebagai penjaga api, sesembahan pemeluk agama Majusi.
Ayah Salman memiliki sebuah ladang yang amat luas. Suatu ketika, dia tersibukkan oleh bangunan miliknya dan menyuruh Salman pergi ke ladang. Di tengah perjalanan, Salman melewati sebuah gereja Nasrani. Salman kemudian masuk dan mendapati orang-orang Nasrani yang sedang beribadah. Rasa kagum meliputi hati Salman. Dari mereka, Salman mengetahui bahwa agama Nasrani itu berasal dari Syam (Palestina dan sekitarnya).
Salman mengisahkan peristiwa itu dan mengungkapkan kekagumannya kepada ayahnya. Kekhawatiranpun meliputi diri sang ayah. Karenanya, ayah Salman kemudian membelenggu kedua kaki Salman dan menahannya di rumah.
Namun inilah Salman Al Farisi, sesuatu telah berkecamuk di dalam hatinya. Saatnya mencari kebenaran yang selama ini terhalang dari dirinya. Meskipun rintangan pertama justru datang dari ayahnya sendiri.
Suatu hari tersiar kabar kedatangan rombongan pedagang dari Syam. Kesempatan yang tak disia siakan oleh Salman, ketika urusan mereka telah selesai dan hendak pulang ke Syam, Salman melepaskan belenggu dari kedua kakinya dan berangkat bersama mereka ke Syam.
Sesampainya di Syam, Salman segera mencari tahu tentang orang yang paling utama di antara pengikut agama Nasrani. Bertemulah Salman dengan seorang uskup yang ada di gereja. Salman tinggal bersama uskup tersebut dan melayaninya di dalam gereja. Ternyata, uskup itu seorang yang jelek perangainya. Dia memerintahkan orang-orang agar bersedekah, namun harta sedekah tersebut disimpannya untuk dirinya sendiri.
Tak lama, uskup itu pun mati. Salman memberitahukan perbuatan uskup tersebut kepada orang-orang Nasrani dan menunjukkan kepada mereka simpanannya berupa tujuh tempayan yang penuh dengan emas dan perak. Mereka pun menyalib uskup tersebut dan tidak menguburkannya.
Kemudian ditunjuklah pengganti sang uskup tadi, dia adalah seorang yang tekun beribadah dan zuhud terhadap dunia. Salman sangat mencintainya lebih dari siapapun sebelumnya. Salman tinggal bersamanya hingga tiba saatnya uskup yang baik tersebut didatangi tanda-tanda kematian.
Salman mendatanginya dan meminta wasiat untuk dirinya, kepada siapa ia harus pergi. Dia pun berpesan, “Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mendapati seorang pun yang berada di atas agama yang aku peluk. Orang-orang telah binasa. Mereka telah mengubah agama Nasrani dan meninggalkan kebanyakan agama mereka, kecuali seseorang di Maushil (kota Mosul, Irak). Dia adalah Fulan, ia berada di atas agama yang aku peluk, maka temuilah dia!”
Sepeninggalnya, Salman menemui orang yang disebutkan. Salman tinggal bersamanya dan mendapatinya sebagai sebaik-baik orang di atas agama temannya. Sampai ketika tanda-tanda kematian mendatanginya, Salman kembali meminta wasiat untuk dirinya. Senada dengan ucapan temannya yang terdahulu, lelaki baik ini mewasiatkan kepada Salman untuk menemui seorang lelaki di Nashibin (kota Nusaybin, Turki).
Singkat cerita, Salman mengalami kisah sebagaimana masa-masa di Maushil. Sampai dia mendapatkan petunjuk untuk menemui seorang di ‘Ammuriyyah (kota Amorium, Turki).
Sebagaimana sebelumnya, menjelang kematiannya, lelaki itu pun berpesan, “Wahai anakku, aku tidak mengetahui ada seorang pun yang berada di atas agama kami yang aku memerintahkanmu untuk mendatanginya. Tetapi telah dekat masa pengutusan seorang nabi. Dia diutus dengan agama Nabi Ibrahim yang muncul dari jazirah Arab, kemudian hijrah ke sebuah negeri di antara dua tanah yang berbatu hitam, di antaranya ada pohon-pohon kurma (kota Madinah).”
Lelaki itu lalu melanjutkan, “Pada orang itu ada tanda-tanda yang tidak tersembunyi, dia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Di antara kedua pundaknya ada tanda kenabian. Jika engkau mampu untuk mendatangi negeri tersebut, maka lakukanlah!” Tak lama, lelaki itu pun meninggal.
Suatu hari di ‘Ammuriyyah, lewat sekumpulan pedagang dari suku Kalb. Salman meminta mereka untuk membawanya ke jazirah Arab dengan membayarkan sapi-sapi dan kambing-kambing miliknya. Mereka pun setuju. Namun sesampainya di Wadil Qura, mereka justru menjual Salman kepada seorang Yahudi sebagai budak. Tinggallah Salman bersama Yahudi tersebut.
Allah Maha mengetahui kesungguhan hati Salman. Suatu ketika, anak paman si Yahudi datang dan membeli Salman darinya. Kemudian dia membawa Salman ke Madinah. Salman bisa mengetahuinya dengan ciri-ciri yang disebutkan sahabatnya. Sejak saat itu, Salman tinggal di Madinah.
Sementara itu, tiba masanya Allah mengutus Rasul-Nya. Salman tak mengetahui hal ini sampai ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Pada suatu hari, Salman berada di atas pohon kurma, sementara tuannya sedang duduk. Datanglah anak paman tuannya menceritakan tentang datangnya seorang dari Mekkah di Quba. Orang-orang mengira bahwa dia seorang nabi. Mendengar cerita tersebut Salman gemetar karenanya. Dia berusaha bertanya, namun justru membuat marah tuannya hingga memukulnya dengan keras.
Salman tak putus asa dan berusaha mencari tahu tentang jati diri orang yang dikira nabi tersebut. Berbekal ciri-ciri yang dia ketahui, Salman beberapa kali mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pertama, Salman mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sesuatu sebagai sedekah. Ternyata beliau menyuruh para sahabat memakannya, sementara beliau sendiri menahan diri darinya. Satu bukti bagi Salman.
Kedatangan kedua, Salman kembali membawa sesuatu. Kali ini dia menghadiahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memakannya dan memerintahkan para sahabat untuk makan. Inilah bukti yang kedua bagi Salman.
Ketiga kalinya, Salman mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang mengiringi jenazah seorang sahabat di pekuburan Baqi’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua pakaian sejenis jubah. Salman mengucapkan salam, kemudian berkeliling untuk mencari cap kenabian di bagian punggung Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyadari hal ini, lalu melepaskan selendang dari punggung beliau. Salman pun bisa melihat tanda kenabian itu.   Seketika itu dia tertelungkup di hadapan Rasululloh,lalu mencium beliau, dan menangis. Salman akhirnya masuk Islam. Kesungguhannya dalam mencari kebenaran, mengantarkannya  kepada hidayah yang selama ini dia cari.
Setelah Salman masuk Islam,Salman masih dalam perbudakan, sehingga tidak mengikuti perang Badar dan Uhud. Dengan bantuan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Salman berhasil membebaskan diri dari perbudakan. Sejak saat itu, Salman tak pernah terluput dari mengikuti peperangan bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,serta peperangan di masa Khulafa’ Rasyidin.
Pada peristiwa perang Khandaq tahun 5 H, Salman menyumbangkan ide yang cemerlang berupa pembuatan parit besar sebagai strategi pertahanan kaum muslimin. Dengan cara inilah kota Madinah selamat dari upaya penyerangan pasukan gabungan musyrikin Quraisy dan Yahudi saat itu.
Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Abu Darda’ dengan Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu. Mereka menjalani kehidupan di dunia ini dengan kecintaan karena Allah. Hingga mereka berdua terpisahkan karena menjalani tugas masing-masing.
Abu Darda’ menjadi seorang Qadhi (hakim) di Damaskus. Adapun Salman, beliau menjadi gubernur di Madain, Irak. Suatu hari, Abu Darda’ mengirim surat untuk Salman, yang isinya, “Marilah menuju bumi yang suci (Syam)”. Maka Salman membalas surat tersebut, “Sesungguhnya bumi itu tidak bisa menyucikan diri seseorang. Hanyalah amalan yang bisa menyucikan seorang hamba.”
Sebagian ulama menyebutkan adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa umur beliau mencapai 250 tahun, adapun yang menyebutkan lebih dari itu telah terjadi silang pendapat.
Setelah melalui perjalanan panjangnya, beliau wafat dan dimakamkan di Madain, Irak pada tahun 36 H. Beliau telah meninggalkan banyak pelajaran berharga bagi kaum muslimin. Semoga Allah meridhainya.
Sahabat MFT…..
Pelajaran/Ibroh yang bisa kita ambil adalah  perjuangan Salman Al Farisi

Radhiallahu’anhu dalam mencari hidayah dan kebenaran. Demikian
Juga usaha dari Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu untuk menjaga
hidayah tersebut. Kalau kita tidak mensyukuri hidayah yang telah ada, maka mungkin sekali Allah SWT akan mencabut hidayah itu. 
Sahabat MFT….Tugas kita yang paling utama adalah menjaga
hidayah ini dengan mempertebal bersemangat Tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu )
Wallahu a’lam bish shawab.
———–
Maraji : Dari berbagai sumber
——————————-

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…..