Sekilas Seputar Zakat (Bag. 5)

๐Ÿ“† Kamis,  25 Ramadhan 1437 H / 30 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Sekilas Seputar Zakat (Bag. 5)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

*E.  Zakat Rikaz dan Barang Tambang (Maโ€™din)*

Definisi Rikaz sebagai berikut:

 ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุงู„ููƒ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู„ูŽุง ุงุฎู’ุชูู„ูŽุงููŽ ูููŠู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽู†ูŽุง ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฑู‘ููƒูŽุงุฒูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฏููู’ู†ูŒ ูŠููˆุฌูŽุฏู ู…ูู†ู’ ุฏููู’ู†ู ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุทู’ู„ูŽุจู’ ุจูู…ูŽุงู„ู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽูู’ ูููŠู‡ู ู†ูŽููŽู‚ูŽุฉูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูƒูŽุจููŠุฑู ุนูŽู…ูŽู„ู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽุฆููˆู†ูŽุฉู ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ู…ูŽุง ุทูู„ูุจูŽ ุจูู…ูŽุงู„ู ูˆูŽุชููƒูู„ู‘ูููŽ ูููŠู‡ู ูƒูŽุจููŠุฑู ุนูŽู…ูŽู„ู ููŽุฃูุตููŠุจูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุฃูุฎู’ุทูุฆูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู‹ ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูุฑููƒูŽุงุฒู

Berkata Imam Malik: โ€œPerkara yang tidak lagi diperselisihkan bagi kami dan yang saya dengar dari para ulama, bahwa mereka mengatakan rikaz adalah harta terpendam yang dipendam sejak masa jahiliyah, untuk menemukannya tidak membutuhkan ongkos, tidak juga upaya keras dan tenaga besar untuk mencarinya. Sedangkan yang ditemukan dengan menggunakan ongkos dan bersusah payah mencarinya, yang kadang bisa berhasil, waktu lain bisa gagal, maka itu bukan rikaz.โ€  (Al Muwaththaโ€™ No. 585, riwayat Yahya Al Laitsi)

Sedangkan Maโ€™din (barang tambang) adalah: diambil dari kata yaโ€™danu โ€“ โ€˜ad-nan yang artinya menetap pada suatu tempat.

Menurut Imam Abu Hanifah   zakat  maโ€™din hanya pada barang yang lebur dan bisa dicetak, seperti: emas, perak, besi dan tembaga. Sedangkan yang tidak cair seperti yaqut dan intan, tidak wajib zakat. Tidak ada nishab pada zakat maโ€™din, dan wajib dikeluarkan 1/5 (khumus), baik menemukannya sedikit atau banyak
Menurut Imam Malik dan Imam Asy Syafiโ€™i zakat maโ€™din hanya pada emas dan perak saja, dengan aturan main yang sudah dibahas pada zakat emas dan perak di atas.

Menurut Imam Ahmad zakat maโ€™din adalah semua hasil bumi yang  berharga dan terbentuk di dalamnya seperti: emas, perak, besi, tembaga, timah, permata, yaqut, zabarjad, jamrud, intan, pirus, berlian, โ€˜aqik, batu bara, granit, aspal, minyak bumi, belerang, dan lainnya.

Menurut tiga madzhab, yang dikeluarkan  dari zakat tambang adalah 1/40, sebagaimana zakat emas dan perak. Sedangkan Imam Abu Hanifah menetapkan 1/5, sebagaimana harta rampasan perang. Pandangan mayoritas lebih benar, karena memang memiliki dalil khususnya, yakni:
Nishab zakat emas adalah jika telah mencapai 20 Dinar dan selama satu tahun kepemilikan, maka zakatnya 1/40-nya, yakni setengah Dinar. (HR. Abu Daud No. 1573, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7325, dishahihkan Syaikh Al Albani. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1573)

Nishab zakat perak adalah jika telah mencapai 200 Dirham selama setahun kepemilikan sebanyak 1/40-nya, yakni 5 dirham. (HR.  Abu Daud No. 1574, At Tirmdizi No. 620,  Ahmad No. 711, 1232,  Al Bazar No. 679, dan lainnya. Imam At Tirmidzi bertanya kepada Imam Bukhari, apakah hadits ini shahih? Beliau menjawab: โ€œshahih.โ€ Lihat Sunan At Tirmidzi No. 620)

Dalil wajibnya zakat rikaz adalah:
ูˆููŠ ุงู„ุฑูƒุงุฒ ุงู„ุฎู…ุณ

Dan pada rikaz zakatnya adalah seperlima (khumus). (HR. Bukhari No. 1499, Muslim No. 1710)

Hadits ini menunjukkan wajibnya zakat rikaz, dan berapa yang mesti dikeluarkan, yakni 1/5, atau 20 %.

Rikaz yang mesti dikeluarkan zakatnya adalah:

ุงู„ุฑูƒุงุฒ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฌุจ ููŠู‡ ุงู„ุฎู…ุณุŒ ู‡ูˆ ูƒู„ ู…ุง ูƒุงู† ู…ุงู„ุงุŒ ูƒุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉุŒ ูˆุงู„ุญุฏูŠุฏุŒ ูˆุงู„ุฑุตุงุตุŒ ูˆุงู„ุตูุฑุŒ ูˆุงู„ุงู†ูŠุฉุŒ ูˆู…ุง ุฃุดุจู‡ ุฐู„ูƒ.ูˆู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุงุญู†ุงูุŒ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉุŒ ูˆุฅุณุญู‚ุŒ ูˆุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑุŒ ูˆุฑูˆุงูŠุฉ ุนู† ู…ุงู„ูƒุŒ ูˆุฃุญุฏ ู‚ูˆู„ูŠ ุงู„ุดุงูุนูŠ.ูˆู„ู‡ ู‚ูˆู„ ุขุฎุฑ: ุฃู† ุงู„ุฎู…ุณ ู„ุง ูŠุฌุจ ุฅู„ุง ููŠ ุงู„ุงุซู…ุงู†: ุงู„ุฐู‡ุจ ูˆุงู„ูุถุฉ

Rikaz yang wajib dikeluarkan zakatnya seperlima adalah semua yang berupa harta seperti emas, perak, besi, timah, tembaga,  bejana, dan yang semisalnya. Inilah pendapat Hanafiyah, Hanabilah, Ishaq, Ibnul Mundzir, satu riwayat dari Malik, salah satu pendapat dari Asy Syafiโ€™i. Pendapat yang lain: bahwa seperlima tidaklah wajib kecuali pada mata uang: yaitu emas dan perak.  (Fiqhus Sunah, 1/374)

๐Ÿ“ŒKepada siapa diwajibkan?

 Siapa saja yang menemukan rikaz, wajib mengeluarkan zakatnya, baik dewasa atau anak-anak, berakal atau gila, bahkan kafir dzimmi sekali pun. Ada pun untuk anak-anak dan orang gila yang mengurus pengeluaran zakatnya adalah walinya.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mennyebutkan:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุฐูุฑู : ุฃูŽุฌู’ู…ูŽุนูŽ ูƒูู„ู‘ู ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุญ

ู’ููŽุธู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฐู‘ูู…ู‘ููŠู‘ู ูููŠ ุงู„ุฑู‘ููƒูŽุงุฒู ูŠูŽุฌูุฏูู‡ู ุงู„ู’ุฎูู…ู’ุณูŽ .
ู‚ูŽุงู„ูŽู‡ู ู…ูŽุงู„ููƒูŒ ุŒ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู ุŒ ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุฑููŠู‘ู ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽูˆู’ุฒูŽุงุนููŠู‘ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูุฑูŽุงู‚ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ุฑู‘ูŽุฃู’ูŠู ุŒ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ .
ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู : ู„ูŽุง ูŠูŽุฌูุจู ุงู„ู’ุฎูู…ู’ุณู ุฅู„ู‘ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุฌูุจู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉู ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŒ .
ูˆูŽุญููƒููŠูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽุจููŠู‘ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽู…ู’ู„ููƒูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ููƒูŽุงุฒูŽ .

Semua ulama yang telah saya ketahui telah sepakat, bahwa orang dzimmi juga wajib mengeluarkan zakat rikaz yang ditemukannya sebesar 1/5. Ini menjadi pendapat Malik, penduduk Madinah, Ats Tsauri, Al Awzaโ€™i, penduduk Iraq, ashhab ar raโ€™yi (pengikut Imam Abu Hanifah), dan selain mereka. Imam Asy Syafiโ€™i berkata: tidak wajib seperlima kecuali kepada orang yang wajib berzakat, karena zakat adalah zakat. Diceritakan darinya, bahwa anak-anak dan wanita tidaklah memiliki rikaz. (Al Mughni, 5/400)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah mengatakan:

ู‡ูˆ ูƒู„ ู…ู† ูˆุฌุฏู‡ ู…ู† ู…ุณู„ู… ูˆุฐู…ูŠ ูˆุญุฑ ูˆุบูŠุฑู‡ ูˆูƒุจูŠุฑ ูˆุตุบูŠุฑ ูˆุนุงู‚ู„ ูˆู…ุฌู†ูˆู†ุŒ ูˆู‡ูˆ ุฑุฃูŠ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู„ุนู…ูˆู… ุญุฏูŠุซ ยซูˆููŠ ุงู„ุฑูƒุงุฒ ุงู„ุฎู…ุณยป

  Dia adalah kewajiban bagi siapa saja yang menemukannya, baik muslim, dzimmi, merdeka, budak, dewasa, anak-anak, berakal, dan gila, ini adalah pendapat jumhur, sesuai keumuman hadits: (Pada rikaz zakatnya adalah seperlima). (Al Fiqhul Islami wa Adilatuhu, 3/223)

  Zakat rikaz dikeluarkan tanpa menunggu haul, tapi dikeluarkan ketika menemukannya, juga tidak ada nishab. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas).

*F.  Zakat Profesi/Penghasilan/Mata Pencaharian*

Ini adalah jenis zakat yang diperselisihkan para ulama sat ini. Sebagaimana dahulu ulama juga berselisih tentang adanya sebagian zakat lainnya, seperti zakat sayur-sayuran, buah-buahan selain kurma, dan zakat perdagangan.

Sebagian kalangan ada yang bersikap keras menentang zakat profesi, padahal perbedaan semisal ini sudah ada sejak masa lalu, ketika mereka berbeda pendapat tentang ada tidaknya zakat sayuran, buah, dan perdagangan tersebut. Seharusnya perbedaan pendapat yang disebabkan ijtihad seperti ini tidak boleh sampai lahir sikap keras apalagi membidโ€™ahkan dan menuduh sesat segala.

๐Ÿ“Œ *Pihak Yang Mendukung*

Mereka yang mendukung pendapat ini seperti Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Abdul Wahhab Khalaf, Syaikh Abdurrahman Hasan, dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, memandang  ada beberapa alasan keharusan adanya zakat profesi:

–  Profesi yang dengannya menghasilkan uang, termasuk kategori harta dan kekayaan.

–  Kekayaan dari penghasilan bersifat berkembang dan bertambah, tidak tetap, ini sama halnya dengan barang yang dimanfaatkan untuk disewakan.  Dilaporkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau  berpendapat tentang seseorang yang menyewakan rumahnya mendapatkan uang sewaan yang cukup nisab, bahwa orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya ketika menerimanya tanpa persyaratan setahun. Hal itu pada hakikatnya menyerupai mata pencaharian, dan wajib dikeluarkan zakatnya bila sudah mencapai satu nisab, walau tanpa haul.

–  Selain itu, hal ini juga diqiyaskan dengan zakat tanaman, yang mesti dikeluarkan oleh petani setiap memetik hasilnya. Bukankah petani juga profesi? Sebagian ulama menolak menggunakan qiyas dalam masalah ini, tetapi pihak yang mendukung mengatakan bukankah zakat fitri dengan beras ketika zaman nabi juga tidak ada? Bukankah nabi hanya menyontohkan dengan kurma dan gandum? Saat ini ada zakat fitri dengan beras karena beras adalah makanan pokok di Indonesia, tentunya ini juga menggunakan qiyas, yakni mengqiyaskan dengan makanan pokok negeri Arab saat itu, kurma dan gandum. Jadi,   makanan apa saja yang menjadi makanan pokok-lah yang dijadikan alat pembayaran zakat.  Jika mau menolak, seharusnya tolak pula zakat fitri dengan beras yang hanya didasarkan dengan qiyas sebagai makanan pokok.

–  Dalam perspektif keadilan Islam, maka adanya zakat profesi adalah keniscayaan. Bagaimana mungkin Islam mewajibkan zakat kepada petani yang pendapatannya tidak seberapa, namun membiarkan para pengusaha kaya, pengacara, dokter, dan profesi  prestise lainnya menimbun harta mereka? Kita hanya berharap mereka mau bersedekah sesuai kerelaan hati?

–  Dalam perspektif maqashid syariโ€™ah (tujuan dan maksud syariat), adanya zakat profesi adalah sah. Sebab lebih mendekati keadilan dan kemaslahatan, serta sesuai ayat:
โ€œHai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (keluarkan zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.โ€œ (QS. Al Baqarah (2): 267)

  Bukankah zakat penghasilan diambil dari hasil usaha yang baik-baik saja?

–   Mereka berpendapat bahwa zakat profesi ada dua jenis pelaksanaan, sesuai jenis pendapatan manusia. Pertama, untuk orang yang gajian bulanan, maka pendekatannya dengan zakat tanaman, yaitu nishabnya adalah 5 wasaq, senilai dengan 653 Kg gabah kering giling, dan dikeluarkan 2,5%, yang dikeluarkan  ketika menerima hasil (gaji), tidak ada haul. Kedua, bagi yang penghasilannya bukan bulanan, seperti tukang jahit, kontraktor, pengacara, dokter, dan semisalnya,   menggunakan pendekatan zakat harta, yakni nishab senilai dengan 85gr emas setelah diakumulasi dalam setahun, setelah dikurangi hutang konsumtif, dikeluarkan sebesar 2,5%. Untuk jenis yang ini sebenarnya juga diakui oleh pihak yang menentang Zakat Profesi, bahwa zakat harta penghasilan itu ada jika sudah satu haul dan nishabnya 85gr emas itu dan dikeluarkan 2,5%-nya.

๐Ÿ“Œ *Dasar Pemikiran Zakat Profesi*

  Zaman ini kebanyakan manusia membiayai hidupnya dengan dua cara, bekerja sendiri (wiraswasta) seperti penjahit, tukang kayu, dokter praktek, arsitek, dll,  atau kepada orang lain (baik swasta atau pegawai negara), seperti guru, menteri, anggota dewan, dll. Penghasilan pekerjaan seperti itu disebut gaji atau upah, kadang juga disebut honor. Bahkan dibeberapa tempat petani pun menggunakan sistem gajian, yakni mereka bekerja pada perusahaaan yang memiliki lahan luas, bibitnya, lalu petanilah sebagai pekerjanya, sebulan sekali pendapat gaji. Contoh Salim Group terhadap petani Sawit di Kabupaten Sambas.

  Wacana zakat profesi (penghasilan) telah bergulir lebih dari setengah abad yang lalu. Para ulama, seperti Abdurrahman Hasan, Muhammad Abu Zahrah, dan Abdul Wahab Khalaf telah mengemukakan wacana ini di Damaskus pada tahun 1952. Adapun Syaikh al Qaradhawy baru menguatkan hal ini pada awal tahun 1970-an (tepatnya 1973 ketika dia menyusun kitab Fiqih Zakatnya). Jadi, sangat aneh dan serampangan, dan bernilai fitnah,  jika ada yang mengatakan bahwa zakat profesi merupakan pemikiran bidโ€™ahnya Syaikh al Qaradhawy seorang diri.  Berikut teks para ulama tersebut (Halaqah Dirasah al Islamiyah, Hal. 248):

  โ€œPencarian dan profesi dapat diambil zakatnya bila sudah setahun dan cukup senisab. Jika kita berpegang pada pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad (bin Hasan), bahwa nisab tidak perlu harus tercapai sepanjang tahun, tapi cukup tercapai penuh antara dua ujung tahun tanpa kurang di tengah-tengah, kita dapat menyimpulkan bahwa penafsiran tersebut memungkinkan untuk mewajibkan zakat atas hasil pencarian setiap tahun, karena hasil itu jarang terhenti sepanjang tahun bahkan kebanyakan mencapai kedua sisi ujung tahun tersebut. Berdasarkan hal itu, kita dapat menetapkan hasil pencarian (profesi) sebagai sumber zakat, karena terdapatnya โ€˜illat (penyebab), yang menurut ulama-ulama fiqih sah, dan nisab, yang merupakan landasan wajib zakat.

  Untuk bisa dianggap kaya bagi seseorang, Islam memiliki ukurannya yakni 12 Junaih emas menurut ukuran Junaih Mesir lama, maka ukuran itu harus terpenuhi pula buat seseorang untuk terkena kewajiban zakat, sehingga jelas perbedaan antara orang kaya yang wajib zakat dan miskin penerima zakat.

  Dalam hal ini madzhab Hanafi lebih jelas, yaitu bahwa jumlah senisab itu cukup terdapat pada awal dan akhir tahun saja tanpa harus terdapat di pertengahan tahun. Ketentuan ini harus diperhatikan dalam mewajibkan zakat atas hasil pencarian dan profesi ini, supaya dapat jelas siapa yang tergolong kaya dan siapa yang tergolong miskin, seorang pekerja profesi jarang tidak memenuhi ketentuan tersebut.โ€

  Mengenai besar zakat, mereka mengatakan, โ€œPencarian dan profesi, kita tidak menemukan contohnya dalam fikih, selain masalah khusus mengenai penyewaan yang dibicarakan Imam Ahmad. Ia dilaporkan berpendapat tentang seseorang yang menyewakan rumahnya mendapatkan uang sewaan yang cukup nisab, bahwa orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya ketika menerimanya tanpa persyaratan setahun. Hal itu pada hakikatnya menyerupai mata pencaharian, dan wajib dikeluarkan zakatnya bila sudah mencapai satu nisab.

  Hal itu sesuai dengan apa yang kita tegaskan lebih dahulu, bahwa jarang seseorang pekerja yang penghasilannya tidak mencapai nisab seperti yang telah kita tetapkan, meskipun tidak cukup dipertengahan tahun tetapi cukup diakhir tahun. Ia wajib mengeluarkan zakat sesuai dengan nisab yang telah berumur setahun.โ€  (Ibid)

๐Ÿ“Œ *Gaji dan Upah adalah Harta Pendapatan*

  Akibat dari  tafsiran itu, kecuali bagi yang menentang, – adalah bahwa zakat wajib dipungut dari gaji atau sejenisnya sebulan dari dua belas bulan. Karena ketentuan wajib zakat adalah cukup nisab penuh pada awal tahun dan akhir tahun.

_Yang menarik adalah pendapat guru-guru besar tentang hasil pencarian dan profesi dan pendapatan dari gaji atau lain-lainnya di atas, bahwa mereka tidak menemukan persamaannya dalam fikih selain apa yang dilaporkan tentang pendapat Imam Ahmad tentang sewa rumah di atas. Tetapi sesungguhnya persamaan itu ada yang perlu disebutkan di sini, yaitu bahwa kekayaan tersebut dapat digolongkan kepada kekayaan penghasilan, โ€œyaitu kekayaan yang diperoleh seorang muslim melalui bentuk usaha baru yang sesuai syariat agama. Jadi pandangan fikih tentang bentuk penghasilan itu adalah, bahwa ia adalah โ€œharta penghasilan.โ€_

  Sekelompok sahabat berpendapat bahwa kewajiban zakat kekayaan tersebut langsung, tanpa menunggu batas waktu setahun (Haul). Di antara mereka adalah Ibnu Abbas, Ibnu Masโ€™ud, Muโ€™awiyah, Shadiq, Baqir, Nashir, Daud, dan juga diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz, Hasan, Az Zuhri, dan Al Auzaโ€™i.

Di dalam penelitiannya, Syaikh al Qaradhawy menilai lemah hadits-hadits tentang ketentuan satu tahun, baik hadits dari Ali, Ibnu Umar, Anas, dan Asiyah. Bukan hanya beliau yang mempermasalahkan, juga Imam Ibnu Hazm, dan Imam Ibnu Hajar. Inilah yang menurutnya tidak ada haul dalam zakat profesi tapi dikeluarkan saat mendapatkan hasil.

๐Ÿ“Œ *Pihak yang menolak*

Pihak yang menolak, umumnya para ulama Arab Saudi dan yang mengikuti mereka, berpendapat tidak ada zakat profesi. Sebab Al Quran dan As Sunnah secara tekstual tidak menyebutkannya, dan hendaknya mencukupkan diri dengannya.

Mereka menganggap, aturan main zakat profesi tidaklah konsisten. Kenapa nishabnya diqiyaskan dengan zakat tanaman (5 wasaq), tetapi yang dikeluarkan bukan dengan ukuran zakat tanaman pula? Seharusnya dikeluarkan adalah 5% atau 10% sebagaimana zakat tanaman, tetapi zakat profesi mengeluarkan zakatnya adalah 2,5% mengikuti zakat emas.

Sementara Syaikh Ibnul โ€˜Utsaimin, Syaikh Shalih Al Munajjid  dan lainnya mengatakan bahwa zakat penghasilan itu ada, tetapi seperti zakat lainnya, mesti mencapai nishab, dan menunggu selama satu haul. Dengan kata lain, tidak diwajibkan zakat penghasilan pada gaji bulanan. Hanya saja nishabnya itu adalah setara 85 gram emas dan dikeluarkan 2,5% setelah satu haul, sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Demikianlah perselisihan ini.

Selesai.
Wallahu a’lam.

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Sekilas Seputar Zakat (Bag. 4)

๐Ÿ“† Rabu,  24 Ramadhan 1437 H / 29 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Sekilas Seputar Zakat (Bag. 4)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

*C.  Zakat Hasil Tanaman dan Buah-Buahan*

Para fuqaha sepakat atas kewajiban zakat tanaman dan buah-buahan. Tetapi mereka berbeda pendapat dalam jenis tanaman dan buah apa saja yang dizakatkan.

๐Ÿ“ŒSecara ringkas sebagai berikut:

_a.  Zakat tanaman dan buah-buahan hanya pada yang disebutkan secara tegas oleh syariat, seperti gandum, padi, biji-bijian, kurma dan anggur, selain itu tidak ada zakat. Ini pendapat Imam Al Hasan Al Bashri, Imam Sufyan Ats Tsauri, dan Imam Asy Syaโ€™bi. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Asy Syaukani._

Pendapat ini berdasarkan wasiat Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam kepada Muadz bin Jabal dan Abu Musa Al Asyโ€™ari ketika mereka diutus ke Yaman:

ู„ุง ุชุฃุฎุฐูˆุง ุงู„ุตุฏู‚ุฉ ุฅู„ุง ู…ู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ ุงู„ุดุนูŠุฑ ูˆุงู„ุญู†ุทุฉ ูˆุงู„ุฒุจูŠุจ ูˆุงู„ุชู…ุฑ

โ€œJanganlah kalian ambil zakat kecuali dari empat macam: biji-bijian, gandum, anggur kering, dan kurma. โ€œ (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1459, katanya: shahih. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7242 , Ad Daruquthni No. 15)

Secara khusus tidak adanya zakat sayur-sayuran (Al Khadharawat), Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

 ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฎูุถู’ุฑูŽูˆูŽุงุชู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ.

Pada sayur-sayuran tidak ada zakatnya. (HR. Al Bazzar No. 940, Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 5921. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jamiโ€™ No. 5411)

Maka, tidak ada zakat pada semangka, jambu, durian, sayur-sayuran, dan lainnya yang tidak disebutkan oleh nash. Kecuali jika buah-buahan dan tanaman ini diperdagangkan, maka masuknya dalam zakat tijarah.

_b.  Sayur-sayuran dan semua yang dihasilkan oleh bumi (tanah) wajib dizakati, ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, juga Imam Ibnul โ€˜Arabi, dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan umumnya ulama kontemporer._

Dasarnya keumuman  firman Allah Taโ€™ala:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุฃูŽู†ู’ููู‚ููˆุง ู…ูู†ู’ ุทูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ู…ูŽุง ูƒูŽุณูŽุจู’ุชูู…ู’ ูˆูŽู…ูู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌู’ู†ูŽุง ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu .. (QS. Al Baqarah (2): 267)

 Juga keumuman hadits:
ููŠู…ุง ุณู‚ุช ุงู„ุณู…ุงุก ุงู„ุนุดุฑ

Apa saja yang disirami air hujan maka zakatnya sepersepuluh.  (Hadits yang semisal ini diriwayatkan oleh banyak imam diantaranya: Al Bukhari, At Tirmidzi, An Nasaโ€™i, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Al Baihaqi, Ath Thabarani, Ad Daruquthni, Al Baghawi, Al Bazzar, Ibnu Hibban, Ath Thahawi, dan Ibnu Khuzaimah)

Maka, hasil tanaman apa pun mesti dikelurkan zakatnya, baik yang dikeluarkan adalah hasilnya itu, atau harganya.

_c.  Pendapat Al Qadhi Abu Yusuf yang mengatakan semua yang tumbuh dari bumi mesti dizakatkan, selama yang bisa bertahan dalam setahun. Ada pun yang tidak bisa bertahan dalam setahun seperti mentimun, sayur-sayuran, semangka, dan yang apa saja yang akan busuk dalam waktu sebelum setahun, maka itu tidak ada zakat._

_d.  Kalangan Malikiyah berpendapat, hasil bumi yang dizakatkan memiliki syarat yaitu yang bertahan (awet) dan kering, dan ditanam oleh orang, baik sebagai makanan pokok seperti gandum dan padi, atau bukan makanan pokok seperti jahe dan kunyit. Mereka berpendapat tidak wajib zakat pada buah tin, delima, dan sayur-sayuran._

_e.  Kalangan Syafiโ€™iyah berpendapat, hasil bumi wajib dizakatkan dengan syarat sebagai makanan pokok dan dapat disimpan, serta ditanam oleh manusia, seperti padi dan gandum. Tidak wajib zakat pada sayur-sayuran._

_f.  Imam Ahmad berpendapat, hasil bumi wajib dizakatkan baik  biji-bijian dan buah-buahan, yang bisa kering dan tahan lama, baik yang ditakar dan ditanam manusia, baik makanan pokok seperti gandum dan padi,  atau bukan seperti jahe dan kunyit. Juga wajib zakat buah-buahan yang punya ciri di atas seperti kurma, anggur, tin, kenari, dan lainnya. Sedangkan yang tidak bisa dikeringkan tidak wajib zakat seperti semangka, pepaya, jambu, dan semisalnya._

Kita lihat, para ulama sepakat tentang wajibnya zakat tanaman hanya pada kurma, padi, gandum, biji-bijian, dan anggur.  Tetapi mereka tidak sepakat tentang wajibnya zakat  pada tanaman  yang bukan menjadi makanan pokok, seperti jahe, kunyit, buah-buahan selain anggur dan kurma, dan sayur-sayuran,  sebagian mengatakan wajib, sebagian lain tidak. Masing-masing alasan telah dipaparkan di atas.

Nishabnya adalah jika hasilnya sudah mencapai 5 wasaq, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠู…ูŽุง ุฃูŽู‚ูŽู„ู‘ู ู…ูู†ู’ ุฎูŽู…ู’ุณูŽุฉู ุฃูŽูˆู’ุณูู‚ู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ

Tidak ada zakat pada apa-apa yang kurang dari lima wasaq. (HR. Bulhari No. 1484, Muslim No. 979)

Lima wasaq adalah enam puluh shaโ€™ berdasarkan ijmaโ€™, dan satu shaโ€™ adalah empat mud, lalu satu mud adalah seukuran penuh dua telapak tangan orang dewasa. Dr. Yusuf Al Qaradhawi telah membahas ini secara rinci dalam kitab monumental beliau, Fiqhuz Zakah, dan menyimpulkan bahwa lima wasaq adalah setara dengan +/- 653 Kg.

*D.  Zakat Ternak*

Zakat hewan ternak (Al Anโ€™am) pada Unta, Sapi, Kerbau dan Kambing (dengan berbagai variannya) adalah ijmaโ€™ , tidak ada perbedaan pendapat.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:

ุฌุงุกุช ุงู„ุงุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญุฉุŒ ู…ุตุฑุญุฉ ุจุฅูŠุฌุงุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠ ุงู„ุงุจู„ุŒ ูˆุงู„ุจู‚ุฑุŒ ูˆุงู„ุบู†ู…ุŒ ูˆุฃุฌู…ุนุช ุงู„ุงู…ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุนู…ู„.
ูˆูŠุดุชุฑุท ู„ุงูŠุฌุงุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠู‡ุง:   ุฃู† ุชุจู„ุบ ู†ุตุงุจุง   ูˆุฃู† ูŠุญูˆู„ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุญูˆู„ ูˆุฃู† ุชูƒูˆู† ุณุงุฆู…ุฉุŒ ุฃูŠ ุฑุงุนูŠุฉ ู…ู† ุงู„ูƒู„ุง ุงู„ู…ุจุงุญ ุฃูƒุซุฑ ุงู„ุนุงู…

  Telah datang berbagai hadits shahih yang menjelaskan kewajiban zakat pada Unta, Sapi, dan Kambing, dan umat telah ijmaโ€™ (sepakat) untuk mengamalkannya. Zakat ini memiliki syarat: sudah sampai satu nishab, berlangsung selama satu tahun, dan hendaknya hewan tersebut adalah hewan yang digembalakan, yaitu memakan rumput yang tidak terlarang sepanjang tahun itu. (Fiqhus Sunnah, 1/363)

  Sedangkan, selain hewan Al Anโ€™am tidak wajib dizakatkan, seperti kuda, keledai, ayam, ikan, bighal, kecuali jika semua dijual, maka masuknya dalam zakat tijarah (perniagaan). Wallahu Aโ€™lam

  Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ู„ุง ุฒูƒุงุฉ ููŠ ุดุฆ ู…ู† ุงู„ุญูŠูˆุงู†ุงุช ุบูŠุฑ ุงู„ุงู†ุนุงู….ูู„ุง ุฒูƒุงุฉ ููŠ ุงู„ุฎูŠู„ ูˆุงู„ุจุบุงู„ ูˆุงู„ุญู…ูŠุฑุŒ ุฅู„ุง ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู„ู„ุชุฌุงุฑุฉ

  Tidak ada zakat pada hewan-hewan selain Al Anโ€™am, maka tidak ada zakat pada kuda, bighal (peranakan kuda dan keledai), keledai, kecuali jika untuk diperdagangkan. (Fiqhus Sunnah, 1/368)

  Namun demikian, tidak semua Al Anโ€™am bisa dizakatkan, ada syarat yang mesti dipenuhi:

1.  Sampai nishabnya
2.  Sudah berlangsung satu tahun (haul)
3.  Hendaknya hewan ternak itu adalah hewan yang digembalakan, yang memakan rumput yang tidak terlarang dalam sebagian besar masa setahun itu.

Tiga syarat ini merupakan pendapat mayoritas ulama, kecuali Imam Malik dan Imam Laits bin Saโ€™ad. Menurut mereka berdua, hewan ternak yang makanannya disabitkan (bukan digembalakan) juga boleh dizakatkan.

Syaikh Sayyid Sabiq mengomentari:

ู„ูƒู† ุงู„ุงุญุงุฏูŠุซ ุฌุงุกุช ู…ุตุฑุญุฉ ุจุงู„ุชู‚ูŠูŠุฏ ุจุงู„ุณุงุฆู…ุฉุŒ ูˆู‡ูˆ ูŠููŠุฏ ุจู…ูู‡ูˆู…ู‡: ุฃู† ุงู„ู…ุนู„ูˆูุฉ ู„ุง ุฒูƒุงุฉ ููŠู‡ุงุŒ ู„ุงู†ู‡ ู„ุง ุจุฏ ู„ู„ูƒู„ุงู… ุนู† ูุงุฆุฏุฉุŒ ุตูˆู†ุง ู„ู‡ ุนู† ุงู„ู„ุบูˆ.

Tetapi hadits-hadits yang ada dengan gamblang mengkhususkan dengan hewan yang digembalakan, dan hal itu membawa pengertian: bahwa yang disabitkan rumputnya tidaklah wajib zakat, karena penyebutan tersebut mesti ada faidahnya, agar ucapan itu tidak sia-sia.  (Ibid, 1/364)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan:

ูˆู„ุง ุฃุนู„ู… ู…ู† ู‚ุงู„ ุจู‚ูˆู„ ู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ู„ูŠุซ ู…ู† ูู‚ู‡ุงุก ุงู„ุฃู…ุตุงุฑ

Saya tidak ketahui ada fuqaha sepenjuru negeri yang setuju dengan pendapat Malik dan Al Laits. (Imam Az Zarqani, Syarh  โ€˜Alal Muwaththaโ€™, 2/154)

โ–ถ๏ธ *Zakat Unta*, berikut rincian dalam Fiqhus Sunnah:

โ€ข  Nishabnya 5 ekor, mesti dikeluarkan 1 ekor kambing biasa yang sudah berusia setahun lebih, atau kambing benggala (dhaโ€™n), seperti kibas, biri-biri,  berusia setahun.

โ€ข  Jika 10 ekor, maka yang dikeluarkan 2 ekor kambing betina, dan seterusnya jika bertambah  lima bertambah pula zakatnya satu ekor kambing betina.

โ€ข  Jika banyaknya 25 ekor, maka zakatnya 1 ekor anak unta betina umur 1-2 tahun, atau 1 ekor anak unta jantan umur 2-3 tahun.

โ€ข  Jika 36 ekor, zakatnya 1 ekor anak unta betina usia 2-3 tahun

โ€ข  Jika 46 ekor, zakatnya 1 ekor unta betina berumur 3-4 tahun

โ€ข  Jika 61 ekor, zakatnya 1 ekor unta betina 4-5tahun

โ€ข  Jika 76 ekor, zakatnya 2 ekor anak unta betina umur 2-3 tahun

โ€ข  Jika 91 ekor sampai 120 ekor,   zakatnya 2 ekor anak unta betina umur 3-4 tahun

โ–ถ๏ธ *Zakat Sapi*

โ€ข  Tidak wajib zakat jika belum sampai 30 ekor, dalam keadaan digembalakan, dan sudah satu haul, zakatnya 1 ekor sapi jantan atau betina berumur 1 tahun

โ€ข  Jika 40 ekor, zakatnya 1 ekor sapi betina berumur 2 tahun

โ€ข  Jika 60 ekor, zakatnya 2 ekor sapi berumur 1 tahun

โ€ข  Jika 70 ekor, zakatnya 1 ekor sapi betina umur 2 tahun dan 1 ekor sapi jantan berumur 1 tahun

โ€ข  Jika 80 ekor, zakatnya 2 ekor sapi betina umur 2 tahun

โ€ข  Jika 90 ekor, zakatnya 3 ekor sapi umur 1 tahun

โ€ข  Jika 100 ekor, zakatnya 1 ekor sapi betina umur 2 tahun, serta 2 ekor sapi jantan umur 1 tahun

โ€ข  110 ekor, zakatnya 2 ekor sapi betina umur 2 tahun, dan 1 ekor sapi jantan umur 1 tahun

โ€ข  120 ekor, zakatnya 3 ekor sapi betina berumur 2 tahun, atau 4 ekor sapi umur 1 tahun.

Dan seterusnya, jika  banyaknya bertambah, maka setiap 30 ekor adalah 1 ekor sapi umur 1 tahun, dan setiap 40 ekor adalah 1 ekor sapi betina berumur 2 tahun.

โ–ถ๏ธ *Zakat kambing*

โ€ข  Tidak dizakatkan kecuali sudah mencapai 40 ekor. Jika berjumlah antara 40-120 ekor dan sudah cukup satu haul, maka zakatnya 1 ekor kambing betina.

โ€ข  Dari 121-200 ekor, zakatnya adalah 2 ekor kambing betina

โ€ข  Dari 201-300 ekor, zakatnya adalah 3 ekor kambing betina. Dan seterusnya, tiap tambahan 100 ekor, dikelurkan 1 ekor kambing betina. Dari domba berumur 1 tahun, dari kambing biasa 2 tahun.

Jika kambingnya hanya ada yang jantan, maka boleh dikeluarkan yang jantan. Jika sebagian jantan dan sebagian betina, atau semuanya betina, ada yang membolehkan jantan, ada juga hanya betina yang dizakatkan.

๐Ÿ”นBersambung …๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Sekilas Seputar Zakat (Bag. 3)

๐Ÿ“† Selasa,  23 Ramadhan 1437 H / 28 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Sekilas Seputar Zakat (Bag. 3)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

2โƒฃ *Zakat Mal (Zakat Harta)*

Zakat Mal mencakup beberapa jenis harta, yakni:

*A.  Zakat Emas dan Perak*

Kewajiban zakat emas dan perak, diperintahkan dalam Al Quran:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุฅูู†ู‘ูŽ ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุญู’ุจูŽุงุฑู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูู‡ู’ุจูŽุงู†ู ู„ูŽูŠูŽุฃู’ูƒูู„ููˆู†ูŽ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุจูุงู„ู’ุจูŽุงุทูู„ู ูˆูŽูŠูŽุตูุฏู‘ููˆู†ูŽ ุนูŽู†ู’ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽูƒู’ู†ูุฒููˆู†ูŽ ุงู„ุฐู‘ูŽู‡ูŽุจูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููุถู‘ูŽุฉูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูู†ู’ููู‚ููˆู†ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽุจูŽุดู‘ูุฑู’ู‡ูู…ู’ ุจูุนูŽุฐูŽุงุจู ุฃูŽู„ููŠู…ู (34) ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูุญู’ู…ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูููŠ ู†ูŽุงุฑู ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ูŽ ููŽุชููƒู’ูˆูŽู‰ ุจูู‡ูŽุง ุฌูุจูŽุงู‡ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฌูู†ููˆุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุธูู‡ููˆุฑูู‡ูู…ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุง ูƒูŽู†ูŽุฒู’ุชูู…ู’ ู„ูุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ููŽุฐููˆู‚ููˆุง ู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽูƒู’ู†ูุฒููˆู†ูŽ (35)

34. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,
35. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At Taubah (9): 34-35)

Khadimus Sunnah  Asy Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ูˆุงู„ุฒูƒุงุฉ ูˆุงุฌุจุฉ ููŠู‡ู…ุงุŒ ุณูˆุงุก ุฃูƒุงู†ุง ู†ู‚ูˆุฏุงุŒ ุฃู… ุณุจุงุฆูƒุŒ ุฃู… ุชุจุฑุฃุŒ ู…ุชู‰ ุจู„ุบ ู…ู‚ุฏุงุฑ ุงู„ู…ู…ู„ูˆูƒ ู…ู† ูƒู„ ู…ู†ู‡ู…ุง ู†ุตุงุจุงุŒ ูˆุญุงู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุญูˆู„ุŒ ูˆูƒุงู† ูุงุฑุบุง ุนู† ุงู„ุฏูŠู†ุŒ ูˆุงู„ุญุงุฌุงุช ุงู„ุงุตู„ูŠุฉ.

๐Ÿ“ŒZakat diwajibkan atas keduanya (emas dan perak), sama saja apakah berupa mata uang, kepingan, atau masih gumpalan, pada saat dimiliki keduanya sudah mencapai nishab dan sudah se-haul (satu tahun) kepemilikannya, dan pemiliknya bebas dari hutang dan berbagai kebutuhan mendasar. (Lihat Fiqhus Sunnah, 1/339. Darul Kitab Al โ€˜Arabi)

Nishab zakat emas adalah jika telah mencapai 20 Dinar dan selama satu tahun kepemilikan, maka zakatnya 1/40-nya, yakni setengah Dinar. (HR. Abu Daud No. 1573, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7325, dishahihkan Syaikh Al Albani. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1573)

Satu Dinar adalah 4,25 gram emas. Jadi, jika sudah memiliki 85 gram emas, maka dikeluarkan zakatnya 2,125 gram.

Nishab zakat perak adalah jika telah mencapai 200 Dirham selama setahun kepemilikan sebanyak 1/40-nya, yakni 5 dirham. (HR.  Abu Daud No. 1574, At Tirmdizi No. 620,  Ahmad No. 711, 1232,  Al Bazar No. 679, dan lainnya. Imam At Tirmidzi bertanya kepada Imam Bukhari, apakah hadits ini shahih? Beliau menjawab: โ€œshahih.โ€ Lihat Sunan At Tirmidzi No. 620)

Satu Dirham adalah 2,975 gram perak. Jadi, jika sudah memiliki 595 gram perak, maka dikeluarkan zakatnya 14,875 gram.

*B.  Zakat Tijarah (Perniagaan)*

Ini adalah pandangan jumhur ulama sejak zaman sahabat, tabiโ€™in, dan fuqaha berikutnya, tentang wajibnya zakat harta perniagaan, ada pun kalangan zhahiriyah mengatakan tidak ada zakat pada harta perniagaan.

Zakat ini adalah pada harta apa saja yang memang diniatkan untuk didagangkan, bukan menjadi harta tetap dan dipakai sendiri.

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah mengatakan tentang batasan barang dagangan:

ูˆู„ูˆ ุงุดุชุฑู‰ ุดูŠุฆู‹ุง ู„ู„ู‚ู†ูŠุฉ ูƒุณูŠุงุฑุฉ ู„ูŠุฑูƒุจู‡ุงุŒ ู†ุงูˆูŠู‹ุง ุฃู†ู‡ ุฅู† ูˆุฌุฏ ุฑุจุญู‹ุง ุจุงุนู‡ุงุŒ ู„ู… ูŠุนุฏ ุฐู„ูƒ ู…ุงู„ ุชุฌุงุฑุฉ ุจุฎู„ุงู ู…ุง ู„ูˆ ูƒุงู† ูŠุดุชุฑูŠ ุณูŠุงุฑุงุช ู„ูŠุชุงุฌุฑ ููŠู‡ุง ูˆูŠุฑุจุญ ู…ู†ู‡ุงุŒ ูุฅุฐุง ุฑูƒุจ ุณูŠุงุฑุฉ ู…ู†ู‡ุง ูˆุงุณุชุนู…ู„ู‡ุง ู„ู†ูุณู‡ ุญุชู‰ ูŠุฌุฏ ุงู„ุฑุจุญ ุงู„ู…ุทู„ูˆุจ ููŠู‡ุง ููŠุจูŠุนู‡ุงุŒ ูุฅู† ุงุณุชุนู…ุงู„ู‡ ู„ู‡ุง ู„ุง ูŠุฎุฑุฌู‡ุง ุนู† ุงู„ุชุฌุงุฑุฉุŒ ุฅุฐ ุงู„ุนุจุฑุฉ ููŠ ุงู„ู†ูŠุฉ ุจู…ุง ู‡ูˆ ุงู„ุฃุตู„ุŒ ูู…ุง ูƒุงู† ุงู„ุฃุตู„ ููŠู‡ ุงู„ุงู‚ุชู†ุงุก ูˆุงู„ุงุณุชุนู…ุงู„ ุงู„ุดุฎุตูŠ: ู„ู… ูŠุฌุนู„ู‡ ู„ู„ุชุฌุงุฑุฉ ู…ุฌุฑุฏ ุฑุบุจุชู‡ ููŠ ุงู„ุจูŠุน ุฅุฐุง ูˆุฌุฏ ุฑุจุญู‹ุงุŒ ูˆู…ุง ูƒุงู† ุงู„ุฃุตู„ ููŠู‡ ุงู„ุงุชุฌุงุฑ ูˆุงู„ุจูŠุน: ู„ู… ูŠุฎุฑุฌู‡ ุนู† ุงู„ุชุฌุงุฑุฉ ุทุฑูˆุก ุงุณุชุนู…ุงู„ู‡. ุฃู…ุง ุฅุฐุง ู†ูˆู‰ ุชุญูˆูŠู„ ุนุฑุถ ุชุฌุงุฑูŠ ู…ุนูŠู† ุฅู„ู‰ ุงุณุชุนู…ุงู„ู‡ ุงู„ุดุฎุตูŠุŒ ูุชูƒููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู†ูŠุฉ ุนู†ุฏ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู„ุฅุฎุฑุงุฌู‡ ู…ู† ู…ุงู„ ุงู„ุชุฌุงุฑุฉุŒ ูˆุฅุฏุฎุงู„ู‡ ููŠ ุงู„ู…ู‚ุชู†ูŠุงุช ุงู„ุดุฎุตูŠุฉ ุบูŠุฑ ุงู„ู†ุงู…ูŠุฉ

๐Ÿ“ŒSeandainya seseorang membeli sesuatu untuk dipakai sendiri seperti mobil yang akan dikendarainya, dengan niat apabila mendatangkan keuntungan nanti dia akan menjualnya, maka itu juga bukan termasuk barang tijarah  (artinya tidak wajib zakat,  ). Hal ini berbeda dengan jika seseorang membeli beberapa buah mobil memang untuk dijual dan mengambil keuntungan darinya, lalu jika dia mengendarai dan menggunakan mobil itu untuk dirinya, dia menemukan adanya keuntungan dan menjualnya, maka apa yang dilakukannya yaitu memakai kendaraan itu tidaklah mengeluarkan status barang itu sebagai barang perniagaan. Jadi, yang jadi prinsip adalah niatnya. Jika membeli barang untuk dipakai sendiri, dia tidak meniatkan untuk menjual dan mencari keuntungan, maka hal itu tidak merubahnya menjadi barang tijarah walau pun akhirnya dia menjualnya dan mendapat keuntungan. Begitu juga sebaliknya jika seorang berniat merubah barang dagangan  menjadi barang yang dia pakai sendiri,  maka niat itu sudah cukup menurut pendapat mayoritas fuqaha (ahli fiqih) untuk mengeluarkan statusnya sebagai barang dagangan, dan masuk ke dalam kategori milik pribadi yang tidak berkembang. (Fiqhuz Zakah, 1/290)

Contoh si A membeli barang-barang meubel untuk dipakai dan ditaruh di rumah, maka ini tidak kena zakat, sebab tidak ada zakat pada harta yang kita gunakan sendiri seperti rumah, kendaraan, pakaian, walaupun berjumlah banyak kecuali jika itu diperdagangkan . Nah, jika si A membeli  barang-barang tersebut untuk dijual, maka barang tersebut wajib dikeluarkan zakatnya jika sudah mencapai nishabnya dan jika sudah satu haul (setahun), yaitu dengan cara ditaksir harganya dan dikeluarkan dalam bentuk harganya itu, sebanyak 1/40 harganya.

Abu Amr bin Himas menceritakan, bahwa ayahnya menjual kulit dan alat-alat yang terbuat dari kulit, lalu Umar bin Al Khathab berkata kepadanya:

ูŠูŽุง ุญูู…ูŽุงุณู ุŒ ุฃูŽุฏู‘ู ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ู…ูŽุงู„ูŽูƒ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุง ู„ููŠ ู…ูŽุงู„ูŒ ุŒ ุฅู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฃูŽุจููŠุนู ุงู„ุฃูŽุฏูŽู…ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฌูุนูŽุงุจูŽ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ู‚ูŽูˆู‘ูู…ู’ู‡ู ูˆูŽุฃูŽุฏู‘ู ุฒูŽูƒูŽุงุชูŽู‡ู.

๐Ÿ“Œโ€œWahai Himas, tunaikanlah zakat hartamu itu.โ€ Beliau menjawab: โ€œDemi Allah, saya tidak punya harta, sesungguhnya saya cuma menjual kulit.โ€ Umar berkata: โ€œPerkirakan harganya, dan keluarkan zakatnya!โ€ (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 10557, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No.  7099, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7392)

Dari kisah ini, Imam Ibnu Qudamah mengatakan adanya zakat tijarah adalah ijmaโ€™, sebab tidak ada pengingkaran terhadap sikap Umar bin Al Khathab Radhiallahu โ€˜Anhu.

Beliau mengatakan:

ูˆูŽู‡ูŽุฐูู‡ู ู‚ูุตู‘ูŽุฉูŒ ูŠูŽุดู’ุชูŽู‡ูุฑู ู…ูุซู’ู„ูู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ุชูู†ู’ูƒูŽุฑู’ ุŒ ููŽูŠูŽูƒููˆู†ู ุฅุฌู’ู…ูŽุงุนู‹ุง

๐Ÿ“ŒKisah seperti ini masyhur (tenar), dan tidak ada yang mengingkarinya, maka hal ini menjadi ijmaโ€™. (Lihat Al Mughni, 5/414. Mawqiโ€™ Al Islam)

Yang termasuk kategori ini, adalah hasil dari sewa menyewa. Tanah, kios, kebun, rumah, tidaklah ada zakatnya, tetapi jika disewakan maka harga sewa itu yang dizakatkan.

Syaikh Muhammad Khaathir Rahimahullah (

mufti Mesir pada zamannya) berkata:

ู„ุง ุชุฌุจ ูู‰ ุงู„ุฃุฑุถ ุงู„ู…ุนุฏุฉ ู„ู„ุจู†ุงุก ุฒูƒุงุฉ ุฅู„ุง ุฅุฐุง ู†ูˆู‰ ุงู„ุชุฌุงุฑุฉ ุจุดุฃู†ู‡ุง

๐Ÿ“ŒTanah yang dipersiapkan untuk didirikan bangunan tidak wajib dizakati, kecuali diniatkan untuk dibisniskan dengan mengembangkannya. (Fatawa Al Azhar, 1/157. Fatwa 15 Muharam 1398)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah (Mufti Arab Saudi pada zamannya)  ditanya:

ุณ : ุฅุฐุง ูƒุงู† ู„ุฏู‰ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู‚ุทุนุฉ ุฃุฑุถ ูˆู„ุง ูŠุณุชุทูŠุน ุจู†ุงุกู‡ุง ูˆู„ุง ุงู„ุงุณุชูุงุฏุฉ ู…ู†ู‡ุง ุŒ ูู‡ู„ ุชุฌุจ ููŠู‡ุง ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุŸ
ุฌ : ุฅุฐุง ุฃุนุฏู‡ุง ู„ู„ุจูŠุน ูˆุฌุจุช ููŠู‡ุง ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุŒ ูˆุฅู† ู„ู… ูŠุนุฏู‡ุง ู„ู„ุจูŠุน ุฃูˆ ุชุฑุฏุฏ ููŠ ุฐู„ูƒ ูˆู„ู… ูŠุฌุฒู… ุจุดูŠุก ุŒ ุฃูˆ ุฃุนุฏู‡ุง ู„ู„ุชุฃุฌูŠุฑ ูู„ูŠุณ ุนู„ูŠู‡ ุนู†ู‡ุง ุฒูƒุงุฉ ุŒ ูƒู…ุง ู†ุต ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุ› ู„ู…ุง ุฑูˆู‰ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุนู† ุณู…ุฑุฉ ุจู† ุฌู†ุฏุจ -ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡- ู‚ุงู„ : ยซ ุฃู…ุฑู†ุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฃู† ู†ุฎุฑุฌ ุงู„ุตุฏู‚ุฉ ู…ู…ุง ู†ุนุฏู‡ ู„ู„ุจูŠุน ยป .

๐Ÿ”นPertanyaan:

  Jika manusia punya sebidang tanah dan dia tidak mampu mendirikan bangunan dan tidak pula bisa memanfaatkannya, apakah tanah itu wajib dizakati?

๐Ÿ”นJawaban:

   Jika dia mempersiapkannya untuk dijual maka wajib dikelurkan zakat, jika tidak untuk dijual atau ragu-ragu dan belum pasti, atau  tidak untuk disewa, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya. Sebagaimana ulama katakan tentang hal itu, karena telah diriwayatkan oleh Abu Daud Rahimahullah, dari Samurah bin Jundub Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya: โ€œKami diperintah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam untuk mengeluarkan zakat dari apa-apa yang diperdagangkan.โ€    (Majalah Al Buhuts Al Islamiyah, 56/124)

 Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah ditanya:

ุณ ู€ ุฃู…ุชู„ูƒ ู‚ุทุนุฉ ุฃุฑุถ ุŒ ูˆู„ุง ุฃุณุชููŠุฏ ู…ู†ู‡ุง ุŒ ูˆุฃุชุฑูƒู‡ุง ู„ูˆู‚ุช ุงู„ุญุงุฌุฉ ุŒ ูู‡ู„ ูŠุฌุจ ุนู„ูŠ ุฃู† ุฃุฎุฑุฌ ุฒูƒุงุฉ ุนู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุฑุถ ุŸ .. ูˆุฅุฐุง ุฃุฎุฑุฌุช ุงู„ุฒูƒุงุฉ ู‡ู„ ุนู„ูŠ ุฃู† ุฃู‚ุฏุฑ ุซู…ู†ู‡ุง ููŠ ูƒู„ ู…ุฑุฉ ุŸ
ุฌ ู€ ู„ูŠุณ ุนู„ูŠูƒ ุฒูƒุงุฉ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุฑุถ ู„ุฃู† ุงู„ุนุฑูˆุถ ุฅู†ู…ุง ุชุฌุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠ ู‚ูŠู…ุชู‡ุง ุŒ ุฅุฐุง ุฃุนุฏุช ู„ู„ุชุฌุงุฑุฉ ุŒ ูˆุงู„ุฃุฑุถ ูˆุงู„ุนู‚ุงุฑุงุช ูˆุงู„ุณูŠุงุฑุงุช ูˆุงู„ูุฑุด ูˆู†ุญูˆู‡ุง ุนุฑูˆุถ ู„ุง ุชุฌุจ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠ ุนูŠู†ู‡ุง ุŒ ูุฅู† ู‚ุตุฏ ุจู‡ุง ุงู„ู…ุงู„ ุฃุนู†ูŠ ุงู„ุฏุฑุงู‡ู… ุจุญูŠุซ ุชุนุฏ ู„ู„ุจูŠุน ูˆุงู„ุดุฑุงุก ูˆุงู„ุงุชุฌุงุฑ ุŒ ูˆุฌุจุช ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠ ู‚ูŠู…ุชู‡ุง . ูˆุฅู† ู„ู… ุชุนุฏ ูƒู…ุซู„ ุณุคุงู„ูƒ ูุฅู† ู‡ุฐู‡ ู„ูŠุณุช ููŠู‡ุง ุฒูƒุงุฉ .

๐Ÿ”นPertanyaan:

  Saya mempunyai sebidang tanah, namun tidak menghasilkan apa-apa dan saya biarkan begitu saja.  Wajibkah saya mengeluarkan zakat tanah tersebut ? Jika dikeluarkan zakatnya, wajibkah saya memperhitungkan zakatnya ?
๐Ÿ”นJawaban:

Tanah seperti ini tidak wajib dizakati. Semua barang wajib dizakati saat diperdagangkan. Pada dasarnya tanah, berbagai tanah milik (โ€˜aqarat), kendaraan atau barang-barang lainnya, maka semuannya termasuk harta pemilikan dan tidak wajib dizakati kecuali jika dimaksudkan memperoleh uang, yakni diperjualbelikan atau diperdagangkan. (Fatawa Islamiyah, 2/140. Disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnad)

Nishab zakat perniagaan adalah sama dengan zakat emas yakni jika sudah senilai dengan 85 gram emas. Besaran zakatnya 2,5 %. Zakat tijarah yang dikeluarkan adalah modal yang masih diputar plus keuntungan, lalu dikurangi hutang (kalau punya) dan pajak (kalau ada), lalu dikalikan 2,5%.

๐Ÿ”นBersambung …๐Ÿ”น
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Sekilas Seputar Zakat (Bag. 2)

๐Ÿ“† Senin,  22 Ramadhan 1437 H / 27 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Sekilas Seputar Zakat (Bag. 2)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Pembagian Jenis Zakat Menurut Macam-Macam Harta*

  Tentang zakat, secara global ada dua macam.

1โƒฃ Zakat Fitri

Beberapa waktu lalu sudah saya bahas. Saya ulangi sedikit.

Zakat Fitri atau Fitrah Yaitu zakat yang dikeluarkan pada saat menjelang hari raya, paling lambat sebelum shalat Idul Fitri, untuk mengenyangkan kaum fakir miskin saat hari raya, dan hukumnya wajib.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:

ุฃูŠ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุงู„ุชูŠ ุชุฌุจ ุจุงู„ูุทุฑ ู…ู† ุฑู…ุถุงู†. ูˆู‡ูŠ ูˆุงุฌุจุฉ ุนู„ู‰ ูƒู„ ูุฑุฏ ู…ู† ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†ุŒ ุตุบูŠุฑ ุฃูˆ ูƒุจูŠุฑุŒ ุฐูƒุฑ ุฃูˆ ุฃู†ุซู‰ุŒ ุญุฑ ุฃูˆ ุนุจุฏ

๐Ÿ“ŒYaitu zakat yang diwajibkan karena berbuka dari Ramadhan (maksudnya: berakhirnya Ramadhan). Dia wajib bagi setiap pribadi umat Islam, anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak. (Fiqhus Sunnah, 1/412)

Beliau juga mengatakan:

ุชุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุญุฑ ุงู„ู…ุณู„ู…ุŒ ุงู„ู…ุงู„ูƒ ู„ู…ู‚ุฏุงุฑ ุตุงุนุŒ ูŠุฒูŠุฏ ุนู† ู‚ูˆุชู‡ ูˆู‚ูˆุช ุนูŠุงู„ู‡ุŒ ูŠูˆู…ุง ูˆู„ูŠู„ุฉ. ูˆุชุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุŒ ุนู† ู†ูุณู‡ุŒ ูˆุนู…ู† ุชู„ุฒู…ู‡ ู†ูู‚ุชู‡ุŒ ูƒุฒูˆุฌุชู‡ุŒ ูˆุฃุจู†ุงุฆู‡ุŒ ูˆุฎุฏู…ู‡ ุงู„ุฐูŠู† ูŠุชูˆู„ู‰ ุฃู…ูˆุฑู‡ู…ุŒ ูˆูŠู‚ูˆู… ุจุงู„ุงู†ูุงู‚ ุนู„ูŠู‡ู….

๐Ÿ“Œ  Wajib bagi setiap muslim yang merdeka, yang memiliki kelebihan satu shaโ€™    makanan bagi dirinya dan keluarganya satu hari satu malam. Zakat itu wajib,  bagi dirinya, bagi orang yang menjadi tanggungannya, seperti isteri dan anak-anaknya, pembantu yang melayani urusan mereka, dan itu merupakan nafkah bagi mereka. (Ibid, 1/412-413)

 Harta yang dikeluarkan adalah makanan pokok di negeri masing-masing, kalau di negeri kita sebanyak (+/-) 2,5 Kg beras. Ini pandangan jumhur (mayoritas) imam madzhab seperti Imam Malik, Imam Syafiโ€™i, dan Imam Ahmad bin Hambal. Mereka menolak pembayaran zakat fitri dengan nilai harganya (uang), karena hal itu dianggap bertentangan dengan sunah nabi. Ini juga menjadi pandangan sebagian besar ulama kerajaan Arab Saudi, dan yang mengikuti mereka.

Dasarnya adalah:
  ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ
ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽุฑูŽุถูŽ ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ู†ูŽูู’ุณู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ุญูุฑู‘ู ุฃูŽูˆู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุฃูŽูˆู’ ุฑูŽุฌูู„ู ุฃูŽูˆู’ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ุตูŽุบููŠุฑู ุฃูŽูˆู’ ูƒูŽุจููŠุฑู ุตูŽุงุนู‹ุง ู…ูู†ู’ ุชูŽู…ู’ุฑู ุฃูŽูˆู’ ุตูŽุงุนู‹ุง ู…ูู†ู’ ุดูŽุนููŠุฑู

๐Ÿ“ŒDari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri pada bulan Ramadhan untuk setiap jiwa kaum muslimin, baik yang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, anak-anak atau dewasa, sebanyak satu shaโ€™ kurma atau satu shaโ€™  biji-bijian. (HR. Muslim No. 984)

Hadits ini menunjukkan bahwa yang mesti dikeluarkan dalam zakat fitri adalah makanan pokok pada sebuah negeri, sebagaimana contoh dalam hadits ini. Maka, menggunakan nilai atau harga dari makanan pokok merupakan pelanggaran terhadap sunah ini.

Sedangkan Imam Abu Hanifah, menyatakan bolehnya zakat fitri dengan uang. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

 ูˆุฌูˆุฒ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ุฅุฎุฑุงุฌ ุงู„ู‚ูŠู…ุฉ

๐Ÿ“ŒAbu Hanifah membolehkan mengeluarkan harganya. (Fiqhus Sunnah, 1/413)

Ini juga pendapat Imam Sufyan Ats Tsauri, Imam โ€˜Atha, Imam Al Hasan Al Bashri,  Imam Bukhari, Imam Muslim, dan juga sahabat nabi, seperti Muawiyah Radhiallahu โ€˜Anhu dan Mughirah bin Syuโ€™bah Radhiallahu โ€˜Anhu, membolehkannya dengan nilainya, sebab yang menjadi prinsip  adalah terpenuhi kebutuhan fakir miskin pada hari raya dan agar mereka tidak meminta-minta pada hari itu. Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma:

ูุฑุถ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุฒูƒุงุฉ ุงู„ูุทุฑ ูˆู‚ุงู„ ุฃุบู†ูˆู‡ู… ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ูŠูˆู…

๐Ÿ“ŒRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri, Beliau bersabda: โ€œPenuhilah kebetuhan mereka pada hari ini.โ€ (HR. Ad Daruquthni, 2/152)

Dalam riwayat lain:

ุฃูŽุบู’ู†ููˆู‡ูู…ู’ ุนูŽู†ู’ ุทูŽูˆูŽุงูู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู
๐Ÿ“ŒPenuhilah kebutuhan mereka, jangan sampai mereka berkeliling (untuk minta-minta) pada hari ini. (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No.  7528)

Dari riwayat ini, bisa dipahami bahwa yang menjadi substansi adalah terpenuhinya kebutuhan mereka ketika hari raya dan jangan sampai mereka mengemis.  Pemenuhan kebutuhan itu bisa saja dilakukan dengan memberikan  nilai dari kebutuhan pokoknya, atau juga  dengan barangnya. Apalagi untuk daerah pertanian, bisa jadi mereka lebih membutuhkan uang

dibanding makanan pokok, mengingat daerah seperti itu biasanya tidak kekurangan makanan pokok.

Ini juga menjadi pendapat dari Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah:

ูˆูŽุงู„ู’ุฅูุบู’ู†ูŽุงุกู ู‚ูŽุฏู’ ูŠูŽูƒููˆู†ู ุจูุฏูŽูู’ุนู ุงู„ู’ู‚ููŠู…ูŽุฉู ุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู†ู ุจูุฏูŽูู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽุตู’ู„

๐Ÿ“ŒMemenuhi kebutuhan dapat terjadi dengan membayarkan harganya, sama halnya dengan membayarkan yang asalnya. (Imam Abul Hasan Al Mawardi, Al Hawi fi Fiqh Asy Syafiโ€™i, 3/179)

Sebagaian ulama kontemporer, seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullahu Taโ€™ala membolehkan dengan uang, jika memang itu lebih membawa maslahat dan lebih dibutuhkan oleh mustahiq, tapi jika tidak, maka tetaplah menggunakan makanan pokok. Ini juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hanya saja Beliau membicarakannya bukan dalam konteks zakat fitri tapi zakat peternakan, bolehnya dibayarkan dengan uang jika memang itu lebih membawa maslahat, jika tidak ada maslahat, maka tetap tidak boleh menggunakan uang (harganya). Wallahu Aโ€™lam  

Kepada siapa dibagikan zakat fitri? Tidak ada bedanya dengan zakat lain, bahwa zakat fitri hendaknya diberikan kepada delapan ashnaf yang telah dikenal. Tetapi, untuk zakat fitri penekanannya adalah kepada fakir miskin, sebagaimana riwayat di atas, agar mereka terpenuhi kebutuahnya dan tidak mengemis.

Syaikh Sayyid Sabiq berkata:

ูˆุงู„ูู‚ุฑุงุก ู‡ู… ุฃูˆู„ู‰ ุงู„ุงุตู†ุงู ุจู‡ุง
๐Ÿ“ŒOrang-orang fakir, mereka adalah ashnaf yang lebih utama untuk memperoleh zakat fitri.  (Fiqhus Sunnah, 1/415)

Dasarnya adalah hadits:

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฑูŽุถูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู ุทูู‡ู’ุฑูŽุฉู‹ ู„ูู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู„ู‘ูŽุบู’ูˆู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽููŽุซู ูˆูŽุทูุนู’ู…ูŽุฉู‹ ู„ูู„ู’ู…ูŽุณูŽุงูƒููŠู†ู
๐Ÿ“ŒDari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri, untuk mensucikan orang yang berpuasa dari hal-hal yang sia-sia,  perbuatan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. (HR. Abu Daud No. 1609, Ibnu Majah No. 1827. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1488, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari. Imam Ibnu Mulqin mengatakan:  hadits ini shahih. Lihat Badrul Munir, 5/618.)

Bersambung …
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Sekilas Seputar Zakat (Bag. 1)

๐Ÿ“† Ahad,  21 Ramadhan 1437 H / 26 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

๐Ÿ“‹ *Sekilas Seputar Zakat (Bag. 1)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐Ÿ€

๐Ÿ“š *Muqadimah*

Zakat termasuk ibadah maaliyah (harta) yang paling pokok di antara ibadah maaliyah lainnya. Perintah zakat termaktub dalam Al Quran, dan kewajibannya sering digandeng dengan shalat sebanyak di 82 ayat. (Fiqhus Sunnah, 1/327).

Di antaranya:
ูˆูŽุฃูŽู‚ููŠู…ููˆุง ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุขูŽุชููˆุง ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูŽ

   Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. (QS. Al Baqarah (2): 110)

  Ayat lainnya:

ู„ูŽุฆูู†ู’ ุฃูŽู‚ูŽู…ู’ุชูู…ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุขูŽุชูŽูŠู’ุชูู…ู ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุขูŽู…ูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุจูุฑูุณูู„ููŠ ูˆูŽุนูŽุฒู‘ูŽุฑู’ุชูู…ููˆู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุถู’ุชูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู‚ูŽุฑู’ุถู‹ุง ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ู„ูŽุฃููƒูŽูู‘ูุฑูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ูƒูู…ู’ ุณูŽูŠู‘ูุฆูŽุงุชููƒูู…ู’

Sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. (QS. Al Maidah (5): 12) dan berbagai ayat lainnya.

๐Ÿ“š *Definisi Zakat*

Az Zakah โ€“ ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉู secara bahasa berarti – ุงู„ุทู‡ุงุฑุฉ  – Ath Thaharah (kesucian).

Allah Taโ€™ala berfirman:

ุฎูุฐู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูู‡ูู…ู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู‹ ุชูุทูŽู‡ู‘ูุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุชูุฒูŽูƒู‘ููŠู‡ูู…ู’ ุจูู‡ูŽุง
โ€œAmbillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan  dan mensucikan  mereka.โ€ (QS. A Taubah (9): 103)

Definisi zakat telah diuraikan oleh Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah sebagai berikut:

ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุงุณู… ู„ู…ุง ูŠุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุงู†ุณุงู† ู…ู† ุญู‚ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฅู„ู‰ ุงู„ูู‚ุฑุงุก.
ูˆุณู…ูŠุช ุฒูƒุงุฉ ู„ู…ุง ูŠูƒูˆู† ููŠู‡ุง ู…ู† ุฑุฌุงุก ุงู„ุจุฑูƒุฉุŒ ูˆุชุฒูƒูŠุฉ ุงู„ู†ูุณ ูˆุชู†ู…ูŠุชู‡ุง ุจุงู„ุฎูŠุฑุงุช. ูุฅู†ู‡ุง ู…ุฃุฎูˆุฐุฉ ู…ู† ุงู„ุฒูƒุงุฉุŒ ูˆู‡ูˆ ุงู„ู†ู…ุงุก ูˆุงู„ุทู‡ุงุฑุฉ ูˆุงู„ุจุฑูƒุฉ.

โ€œZakat adalah benda yang dikeluarkan manusia berupa hak Allah Taโ€™ala kepada para fuqara. Dinamakan zakat karena di dalamnya terdapat pengharapan terhadap berkah, mensucikan jiwa, dan mengembangkannya dengan kebaikan-kebaikan.  Dia diambil dari Az Zakah yaitu tumbuh, suci, dan berkah.โ€ (Fiqhus Sunnah, 1/327. Dar Al Kitab Al โ€˜Arabi)

Dalam Lisanul โ€˜Arab disebutkan tentang definisi zakat:

ูˆุฃูŽุตู„ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠ ุงู„ู„ุบุฉ ุงู„ุทู‡ุงุฑุฉ ูˆุงู„ู†ู‘ูŽู…ุงุก ูˆุงู„ุจูŽุฑูƒุฉู ูˆุงู„ู…ูŽุฏู’ุญ ูˆูƒู„ู‡ ู‚ุฏ ุงุณุชุนู…ู„ ููŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ

โ€œAsal dari zakat menurut bahasa adalah suci,  tumbuh, berkah, dan terpuji. Semua ini telah digunakan dalam Al Quran dan Al Hadits.โ€ (Ibnu manzhur, Lisanul โ€˜Arab, 14/358. Dar Shadir)

Dari definisinya ini, kita bisa memahami bahwa fungsi zakat bagi harta adalah agar menjadi berkah dan tumbuh. Sedangkan bagi muzakkinya sebagai pensuci dirinya dan mencapai pribadi nyang terpuji.

๐Ÿ“š *Kapan Zakat Diwajibkan?*

Zakat sudah diwajibkan sejak sebelum masa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Allah Taโ€™ala berfirman kepada kaum Bani Israel:

ูˆูŽุฃูŽู‚ููŠู…ููˆุง ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงุฉูŽ ูˆูŽุขุชููˆุง ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุงุฑู’ูƒูŽุนููˆุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงูƒูุนููŠู†

โ€œDan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’  (QS. Al Baqarah (2): 43)

Pada masa Islam zakat justru diperkuat bahkan menjadi salah satu rukun Islam. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah  mengatakan, bahwa zakat diwajibkan pada masa awal Islam secara mutlak, yakni tidak ada batasan pada harta tertentu dan belum ada ukuran takaran yang mesti dikeluarkan. Lalu, pada tahun kedua hijriyah โ€“menurut pendapat yang masyhur- zakat  barulah tetapkan pada harta tertentu saja dan dengan takaran tertentu pula. (Fiqhus Sunnah, 1/328)

๐Ÿ“š *Hukumnya*

Menurut Al Quran, As Sunah, dan ijmaโ€™, zakat adalah kewajiban bagi setiap muslim yang merdeka dan  berakal  1]  dan memiliki harta yang telah cukup nishabnya. 2]

Ada pun tentang hukum orang yang menolak menunaikannya karena dia mengingkari kewajibannya, maka dia kafir dan murtad menurut ijmaโ€™ (konsensus) ulama. Sedangkan menolak membayar zakat namun masih mengakui kewajibannya, maka Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu โ€˜Anhu telah memeranginya.  Beliau Radhiallahu โ€˜Anhu mengatakan:

ุฃู†ุง ู„ุงู‚ุงุชู„ ู…ู† ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุฒูƒุงุฉ ุŒ ูˆุงู„ู„ู‡ ู„ุงู‚ุงุชู„ู† ู…ู† ูุฑู‚ ุจูŠู†ู‡ู…ุง ุญุชู‰ ุฃุฌู…ุนู‡ู…ุง

  โ€œSaya benar-benar akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, demi Allah benar-benar akan saya perangi orang yang memisahkan keduanya sampai mereka kembali menyatukannya.โ€ (Imam Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 6/14. Darul Fikr)

Dari sinilah segenap ulama mengatakan bahwa penguasa boleh mengambil paksa orang kaya  yang tidak mengeluarkan zakat, lantaran ia telah menahan hak fakir miskin yang telah Allah Taโ€™ala titipkan melalui dirinya.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ุฃู…ุง ู…ู† ุงู…ุชู†ุน ุนู† ุฃุฏุงุฆู‡ุง – ู…ุน ุงุนุชู‚ุงุฏู‡ ูˆุฌูˆุจู‡ุง – ูุฅู†ู‡ ูŠุฃุซู… ุจุงู…ุชู†ุงุนู‡ ุฏูˆู† ุฃู† ูŠุฎุฑุฌู‡ ุฐู„ูƒ ุนู† ุงู„ุงุณู„ุงู…ุŒ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ุญุงูƒู… ุฃู† ูŠุฃุฎุฐู‡ุง ู…ู†ู‡ ู‚ู‡ุฑุง ูˆูŠุนุฒุฑู‡ุŒ ูˆู„ุง ูŠุฃุฎุฐ ู…ู† ู…ุงู„ู‡ ุฃุฒูŠุฏ ู…ู†ู‡ุงุŒ ุฅู„ุง ุนู†ุฏ ุฃุญู…ุฏ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ููŠ ุงู„ู‚ุฏูŠู…ุŒ ูุฅู†ู‡ ูŠุฃุฎุฐู‡ุง ู…ู†ู‡ุŒ ูˆู†ุตู ู…ุงู„ู‡ุŒ ุนู‚ูˆุจุฉ ู„ู‡

  โ€œAda pun orang yang tidak berzakat โ€“dan dia masih mengakui kewajibannya- maka dia berdosa karena namun tidak sampai mengeluarkannya dari Islam, dan Hakim wajib mengambilnya secara paksa dan mentaโ€™zirnya, dan diambilnya sesuai kadarnya tidak boleh lebih, kecuali menurut Ahmad dan Asy Syafiโ€™i dalam pendapatnya yang lama, bahwa mesti diambil lebihnya sebanyak setengah hartanya, sebagai  hukuman baginya.โ€ (Fiqhus Sunnah, 1/333)

๐Ÿ“š *Ancaman Buat Orang Yang Tidak Mengeluarkan Zakat*

Dalam Al Quran Allah Taโ€™ala mengancam mereka dengan azab yang pedih. Hal ini disebabkan sifat kikir mereka dan pembangan atas kewajiban yang diembankan kepada mereka.

Allah Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽูƒู’ู†ูุฒููˆู†ูŽ ุงู„ุฐู‘ูŽู‡ูŽุจูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููุถู‘ูŽุฉูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูู†ู’ููู‚ููˆู†ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽุจูŽุดู‘ูุฑู’ู‡ูู…ู’ ุจูุนูŽุฐูŽุงุจู ุฃูŽู„ููŠู…ู   ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูุญู’ู…ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูููŠ ู†ูŽุงุฑู ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ูŽ ููŽุชููƒู’ูˆูŽู‰ ุจูู‡ูŽุง ุฌูุจูŽุงู‡ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฌูู†ููˆุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุธูู‡ููˆุฑูู‡ูู…ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุง ูƒูŽู†ูŽุฒู’ุชูู…ู’ ู„ูุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ููŽุฐููˆู‚ููˆุง ู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽูƒู’ู†ูุฒููˆู†ูŽ

 โ€œ โ€ฆ dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At Taubah (9):34-35)

Ayat lainnya:

ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุญู’ุณูŽุจูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุจู’ุฎูŽู„ููˆู†ูŽ ุจูู…ูŽุง ุขูŽุชูŽุงู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ูู‡ู ู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุจูŽู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุดูŽุฑู‘ูŒ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุณูŽูŠูุทูŽูˆู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุจูŽุฎูู„ููˆุง ุจูู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ู…ููŠุฑูŽุงุซู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ

 โ€œSekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.โ€ (QS. Ali Imran (3): 180)

Ada pun dari Al Hadits, dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃู…ุฑุช ุฃู† ุฃู‚ุงุชู„ ุงู„ู†ุงุณ ุญุชู‰ ูŠุดู‡ุฏูˆุง ุฃู† ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฃู† ู…ุญู…ุฏุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆูŠู‚ูŠู…ูˆุง ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ ูˆูŠุคุชูˆุง ุงู„ุฒูƒุงุฉุŒ ูุฅุฐุง ูุนู„ูˆุง ุฐู„ูƒ ุนุตู…ูˆุง ู…ู†ูŠ ุฏู…ุงุกู‡ู… ูˆุฃู…ูˆุงู„ู‡ู… ุฅู„ุง ุจุญู‚ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ุŒ ูˆุญุณุงุจู‡ู… ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡

โ€œAku diutus untuk memerangi manusia hingga mereka  bersaksi (bersyahadat), bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan jika mereka telah melakukan ini maka mereka terjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam, dan atas Allah-lah perhitungan mereka.โ€ (HR. Bukhari No. 25 dan Muslim  No. 36)

  Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุขุชูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽุงู„ู‹ุงุŒ ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุคูŽุฏู‘ู ุฒูŽูƒูŽุงุชูŽู‡ูุŒ ู…ูุซู‘ูู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุงู„ูู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุดูุฌูŽุงุนู‹ุง ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุนูŽ ุŒ ู„ูŽู‡ู ุฒูŽุจููŠุจูŽุชูŽุงู†ู

  โ€œBarang siapa yang Allah berikan harta, dan dia tidak mengeluarkan zakatnya, maka dia akan dicincang pada hari kiamat nanti oleh ular berkepala botak yang memiliki dua bisa (racun).โ€ (HR. Ahmad No. 8661. Hadits ini shahih. Lihat Musnad Ahmad dengan tahqiq Syaikh Syuโ€™aib Al Arnaโ€™uth. Muasasah Ar Risalah)

  Bahkan ada ancaman secara khusus bagi yang tidak mengeluarkan zakat perhiasan, dari Amr bin Syuโ€™aib, dari ayahnya, dari kakeknya, katanya:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽุชูŽุชูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽูููŠ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠู‡ูู…ูŽุง ุณููˆูŽุงุฑูŽุงู†ู ู…ูู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽุชูุคูŽุฏู‘ููŠูŽุงู†ู ุฒูŽูƒูŽุงุชูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽุชูŽุง ู„ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุชูุญูุจู‘ูŽุงู†ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุณูŽูˆู‘ูุฑูŽูƒูู…ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูุณููˆูŽุงุฑูŽูŠู’ู†ู ู…ูู†ู’ ู†ูŽุงุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽุชูŽุง ู„ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฃูŽุฏู‘ููŠูŽุง ุฒูŽูƒูŽุงุชูŽู‡ู

  โ€œDatang dua wanita kepada Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan di tangan mereka berdua terdapat gelang emas. Maka Beliau bersabda kepada keduanya: โ€œApakah kalian telah menunaikan zakatnya?โ€ mereka berdua menjawab: โ€œTidak.โ€ Lalu Beliau Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berkata kepada mereka: โ€œApakah kalian mau Allah akan menggelangkan kalian dari gelang api neraka?โ€ Mereka berdua menjawab: โ€œTidak.โ€ Maka Nabi bersabda: โ€œTunaikanlah zakatnya!โ€  (HR. At Tirmidzi No. 637, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 637)

๐Ÿ“š *Hikmah Zakat*

  Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari amal zakat ini.

1.  Agar muzakki mampu mengontrol harta kekayaannya, sehingga dia tidak dilalaikan dengan hartanya tersebut.

2.  Agar harta tidak berputar hanya pada orang kaya saja.

3.  Meminimkan kesenjangan  dan kecemburuan sosial sehingga mampu mendekatkan hubungan antara muzakki dan mustahiq, sehingga ukhuwah islamiyah dapat terwujud dengan harmonis. Bahkan jika dikelola dengan profesional, zakat bisa menjadi sarana pengentasan kemiskinan.

4.  Melatih dan melahirkan sifat dermawan dan cinta kebaikan bagi muzakki.

Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿ“š *Notes:*

[1]   Para ulama berbeda pendapat tentang ini. Sebagian ada yang tetap mewajibkan bahwa anak-anak dan orang gila wajib berzakat sesuai keumuman perintah zakat, yakni melalui wali mereka.  Berkata Imam At Tirmdzi dalam As Sunannya:

ุงุฎุชู„ู ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ููŠ ู‡ุฐุง: ูุฑุฃู‰ ุบูŠุฑ ูˆุงุญุฏ ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ู…ุงู„ ุงู„ูŠุชูŠู… ุฒูƒุงุฉุŒ ู…ู†ู‡ู… ุนู…ุฑุŒ ูˆุนู„ูŠุŒ ูˆุนุงุฆุดุฉุŒ ูˆุงุจู† ุนู…ุฑุŒ ูˆุจู‡ ูŠู‚ูˆู„ ู…ุงู„ูƒุŒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุญู…ุฏุŒ ูˆุฅุณุญู‚. ูˆู‚ุงู„ุช ุทุงุฆูุฉ: ู„ูŠุณ ููŠ ู…ุงู„ ุงู„ูŠุชูŠู… ุฒูƒุงุฉุŒ ูˆุจู‡ ูŠู‚ูˆู„ ุณููŠุงู† ูˆุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ.

  โ€œPara ulama berbeda pendapat dalam hal ini: lebih dari satu sahabat nabi berpendapat bahwa pada harta anak yatim ada zakatnya, mereka adalah Umar. Ali, โ€˜Aisyah, dan Ibnu Umar. Ini juga pendapat Malik, Syafiโ€™i, Ahmad, dan Ishaq. Segolongan lain mengatakn tidak ada zakat pada harta anak yatim, ini adalah pendapat Sufyan dan Ibnul Mubarak.โ€ (Sunan At Tirmidzi No. 641)

[2] Untuk zakat rikaz (harta terpendam pada masa lalu), kalangan syafiโ€™iyah mensyaratkan adanya nishab. Sementara Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hambal tidak mensyaratkannya, karena sesuai keumuman hadits:  โ€œPada rikaz zakatnya adalah 20%.โ€ (Kifayatul Akhyar, 1/191-192. Maktabah Al Misykah)

๐Ÿ”นBersambung ๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Memahami dan Menggapai LAILATUL QADR

๏“† Sabtu,  20 Ramadhan 1437 H / 25 Juni 2016 M
๏“š Fiqih dan Hadits
๏“ *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*
๏“‹ *Memahami dan Menggapai LAILATUL QADR*
๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏ ๏€
๏“š *Maknanya*
Lailatul Qadar adalah malam agung yang penuh kemuliaan, saat itu diturunkannya Al Quran, dan memiliki nilai lebih utama dibanding seribu bulan, para malaikat serta malaikat jibril dengan izin Allah Taโ€™ala turun untuk mengatur segala urusan, dan suasana malam itu penuh kesejahteraan hingga terbitnya fajar.
Definisi Lailatul Qadar, Allah Taโ€™ala sendiri yang menjelaskan dengan sangat gamblang dalam salah satu surat Al Quran Al Karim yakni:
{ ุฅูู†ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ุฒู„ู’ู†ูŽุงู‡ู ูููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู (1) ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุฑูŽุงูƒูŽ ู…ูŽุง ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู (2) ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู„ู’ูู ุดูŽู‡ู’ุฑู (3) ุชูŽู†ุฒู„ู ุงู„ู’ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ููˆุญู ูููŠู‡ูŽุง ุจูุฅูุฐู’ู†ู ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุฃูŽู…ู’ุฑู (4) ุณูŽู„ุงู…ูŒ ู‡ููŠูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู…ูŽุทู’ู„ูŽุนู ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู (5) }
โ€œ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.โ€ (QS. Al Qadr (97): 1-5)
Kenapa disebut Lailatul Qadar? Tentu jawaban pastinya hanya Allah Taโ€™ala yang tahu. Namun para ulama memberikan jawaban bedasarkan qarinah (korelasi) berdasarkan ayat tersebut. Di antaranya tersebut dalam Al Muntaqaโ€™ Syarh Al Muwaththaโ€™, ketika mengomentari hadits tentang โ€˜Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhirโ€™:
ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูŠูŽุญู’ุชูŽู…ูู„ู ุฃูŽู†ู’ ุชูุณูŽู…ู‘ูŽู‰ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูุนูุธูŽู…ู ู‚ูŽุฏู’ุฑูู‡ูŽุง ุฃูŽูŠู’ ุฐูŽุงุชู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู…ู ูˆูŽูŠูุญู’ุชูŽู…ูŽู„ู ุฃูŽู†ู’ ุชูุณูŽู…ู‘ูŽู‰ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุงุฑููŠูŽ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูŠูู†ูŽูู‘ูุฐู ูููŠู‡ูŽุง ู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู‘ูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูููŠู‡ูŽุง ูŠููู’ุฑูŽู‚ู ูƒูู„ู‘ู ุฃูŽู…ู’ุฑู ุญูŽูƒููŠู…ู ุฃูŽู…ู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุนูู†ู’ุฏูู†ูŽุง ุฅู†ู‘ูŽุง ูƒูู†ู‘ูŽุง ู…ูุฑู’ุณูู„ููŠู†ูŽ ูˆูŽูŠูุญู’ุชูŽู…ูŽู„ู ุบูŽูŠู’ุฑู ุฐูŽู„ููƒูŽ .
โ€œ Dan ucapannya โ€˜Lailatul Qadriโ€™, ada kemungkinan dinamakan demikian lantaran keagungan  qadar (ukuran/ketentuan) malam itu, yakni malam yang memiliki ukuran yang agung. Ada kemungkinan juga dinamakan demikian karena pada malam itu Allah Taโ€™ala melaksanakan apa-apa yang telah ditentukan (qaddara) dalam firmanNya,  โ€œPada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,โ€  dan ada juga kemungkinan selain itu.โ€ (Imam Abu Sulaiman Al Walid Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwaththaโ€™, Juz. 2, Hal. 227. Mawqiโ€™ Al Islam) 
Seorang ahli tafsir pada masa tabiโ€™in, yakni Mujahid, mengartikan Lailatul Qadr adalah:
ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ุญูƒู….
โ€œMalam penuh hikmah.โ€ (Imam Abu Jaโ€™far bin Jarir Ath Thabari, Jamiโ€™ul Bayan Fi Taโ€™wilil Quran, 24/532. Muasasah Ar Risalah)
๏“š *Keutamaannya*
Tentang keutamaannya, dalam surat Al Qadr juga sudah disebutkan, yakni: โ€œMalam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.โ€
Mujahid berkata tentang ayat tersebut:
ุนู…ู„ู‡ุง ูˆุตูŠุงู…ู‡ุง ูˆู‚ูŠุงู…ู‡ุง ุฎูŠุฑ ู…ู† ุฃู„ู ุดู‡ุฑ.
โ€œAmal pada malam itu, puasanya, dan qiyamul lailnya, lebih baik (nilainya) dari seribu bulan.โ€
Mujahid juga menjelaskan:
ูƒุงู† ููŠ ุจู†ูŠ ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ ุฑุฌู„ ูŠู‚ูˆู… ุงู„ู„ูŠู„ ุญุชู‰ ูŠุตุจุญุŒ ุซู… ูŠุฌุงู‡ุฏ ุงู„ุนุฏูˆู‘ ุจุงู„ู†ู‡ุงุฑ ุญุชู‰ ูŠูู…ู’ุณููŠูŽุŒ ููุนู„ ุฐู„ูƒ ุฃู„ู ุดู‡ุฑุŒ ูุฃู†ุฒู„ ุงู„ู„ู‡ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูŠุฉ:( ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู„ู’ูู ุดูŽู‡ู’ุฑู ) ู‚ูŠุงู… ุชู„ูƒ ุงู„ู„ูŠู„ุฉ ุฎูŠุฑ ู…ู† ุนู…ู„ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฑุฌู„.
โ€œDahulu pada Bani Israil ada seorang laki-laki yang shalat malam hingga pagi hari, kemudian dia pergi jihad melawan musuh pada siang harinya hingga sore, dan dia melakukan itu hingga seribu tahun. Maka Allah Taโ€™ala menurunkan ayat ini: (Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan) , qiyamul lail pada malam itu lebih baik dibanding amal laki-laki tersebut.โ€ (Ibid)
Sementara Amru bin Qais Al Malaโ€™i berkata:
ุนู…ู„ูŒ ููŠู‡ุง ุฎูŠุฑ ู…ู† ุนู…ู„ ุฃู„ู ุดู‡ุฑ.
โ€œAmal pada malam itu (nilainya) lebih baik dari amal seribu bulan.โ€ (Imam Abu Jaโ€™far bin Jarir Ath Thabari, Jamiโ€™ul Bayan Fi Taโ€™wilil Quran,  24/ 533)
Imam Ibnu Jarir Rahimahullah   sendiri menguatkan tafsiran ini, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, bahwa Imam Ibnu Jarir mengatakan:
ูˆู‡ูˆ ุงู„ุตูˆุงุจ ู„ุง ู…ุง ุนุฏุงู‡
โ€œInilah yang benar, bukan selainnya.โ€ (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Azhim, Juz. 8, Hal. 443 )
๏“š *Lailatul Qadr, Kapan datangnya?*
Dia ada pada bulan Ramadhan, namun kepastian harinya hanya Allah Taโ€™ala yang tahu. Sedangkan Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam hanya memberikan petunjuk dan perintah untuk mengintainya.
๏“•  *Sepuluh malam terakhir atau tujuh malam terakhir*
Secara spesifik, Lailatul Qadar ada pada sepuluh malam terakhir  atau tujuh  malam terakhir. Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽุญูŽุฑู‘ููŠู‡ูŽุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู
โ€œMaka, barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada sepuluh malam terakhir.โ€ (HR. Bukhari    No.  1158)
Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูุฌูŽุงู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูุฑููˆุง ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽู†ูŽุงู…ู ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑูŽู‰ ุฑูุคู’ูŠูŽุงูƒูู…ู’ ู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูˆูŽุงุทูŽุฃูŽุชู’ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽุญูŽุฑู‘ููŠู‡ูŽุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู
โ€œSesungguhnya seorang laki-laki dari sahabat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melihat Lailatul Qadr pada mimpinya pada tujuh hari terakhir. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œSaya melihat mimpi kalian  telah bertepatan pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada tujuh malam terakhir.โ€  (HR. Bukhari No. 2015, 6991, Muslim No.1165)
Bagaimanakah maksud tujuh malam terakhir? Tertulis penjelasannya dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, sebagai berikut:
ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ู‡ุฐุง ุงู„ุฎุจุฑ ูŠุญุชู…ู„ ู…ุนู†ูŠูŠู† ุฃุญุฏู‡ู…ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ูู…ู† ูƒุงู† ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู…ุง ุนู„ู… ุชูˆุงุทุฃ ุฑุคูŠุง ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฃู†ู‡ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃุฎูŠุฑ ููŠ ุชู„ูƒ ุงู„ุณู†ุฉ ุฃู…ุฑู‡ู… ุชู„ูƒ ุงู„ุณู†ุฉ ุจุชุญุฑูŠู‡ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ูˆุงู„ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุซุงู†ูŠ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅู†ู…ุง ุฃู…ุฑู‡ู… ุจุชุญุฑูŠู‡ุง ูˆุทู„ุจู‡ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ุฅุฐุง ุถุนููˆุง ูˆุนุฌุฒูˆุง ุนู† ุทู„ุจู‡ุง ููŠ ุงู„ุนุดุฑ ูƒู„ู‡
Berkata Abu Bakar: Khabar ini memiliki dua makna. Pertama, pada malam ke tujuh terakhir karena Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tatkala mengetahui adaya kesesuaian dengan mimpi sahabat bahwa Lailatul Qadr terjadi pada tujuh malam terakhir pada tahun itu, maka beliau memerintahkan mereka pada tahun itu untuk mencarinya pada tujuh malam terakhir. Kedua, perintah Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam kepada para sahabat untuk mencari pada tujuh malam terakhir dikaitkan jika mereka lemah dan tidak kuat mencarinya pada sepuluh hari semuanya. (Lihat Shahih Ibnu Khuzaimah No. 2182)
Makna  ini diperkuat lagi oleh hadits yang menunjukkan alasan kenapa  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan mengintai tujuh hari terakhir.
Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma:
ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู’ุชูŽู…ูุณููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ููŽุฅูู†ู’ ุถูŽุนูููŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽูˆู’ ุนูŽุฌูŽุฒูŽ ููŽู„ูŽุง ูŠูุบู’ู„ูŽุจูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุจูŽูˆูŽุงู‚ููŠ
Bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œCarilah dia pada sepuluh malam terakhir (maksudnya Lailatul Qadar) jika kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai dikalahkan oleh tujuh hari sisanya.โ€ (HR. Muslim No. 1165, 209)
๏“— *Kemungkinan besar adalah pada malam ganjilnya*
 
Kemungkinan lebih besar adalah Lailatul Qadr itu datangnya pada malam ganjil sebagaimana hadits berikut:
Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
ููŽุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูุฑููŠุชู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูˆูŽุฅูู†ู‘ููŠ ู†ูุณู‘ููŠุชูู‡ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ูููŠ ูˆูุชู’ุฑู
โ€œSeseungguhnya Aku diperlihatkan Lailatul Qadar, dan aku telah dilupakannya, dan saat itu pada sepuluh malam terakhir, pada malam ganjil.โ€ (HR. Bukhari No. 813, 2036)
Dalam riwayat lain:
ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง
ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽูˆู’ุง ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูููŠ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ
โ€œDari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œCarilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.โ€ (HR. Bukhari No. 2017)
Ada dua pelajaran dari dua hadits yang mulia ini. Pertama, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sendiri tidak tahu persis kapan datangnya Lailatu Qadar karena dia lupa. Kedua, datangnya Lailatul Qadar adalah pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir.
๏“˜  *Malam ke 24,  25, 27 dan 29?*
  Imam Bukhari meriwayatkan, dari Ibnu โ€˜Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:
ุงู„ุชู…ุณูˆุง ููŠ ุฃุฑุจุน ูˆุนุดุฑูŠู†
  โ€œCarilah pada malam ke 24.โ€ (Atsar sahabat dalam Shahih Bukhari No. 2022)
Imam Bukhari juga meriwayatkan, dari โ€˜Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu โ€˜Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
ููŽุงู„ู’ุชูŽู…ูุณููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุชู‘ูŽุงุณูุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽุงุจูุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽุงู…ูุณูŽุฉู
  โ€œMaka carilah Lailatul Qadar pada malam ke sembilan, tujuh, dan lima (pada sepuluh malam terakhir, pen).โ€ (HR. Bukhari No. 2023)
  Berkata seorang sahabat mulia, Ubay bin Kaโ€™ab Radhiallahu โ€˜Anhu:
ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ููŠ ู„ูŽุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽูŠู‘ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู‡ููŠูŽ
ู‡ููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู†ูŽุง ุจูู‡ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูู‚ููŠูŽุงู…ูู‡ูŽุง ู‡ููŠูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุตูŽุจููŠุญูŽุฉู ุณูŽุจู’ุนู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุงุฑูŽุชูู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุทู’ู„ูุนูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ูููŠ ุตูŽุจููŠุญูŽุฉู ูŠูŽูˆู’ู…ูู‡ูŽุง ุจูŽูŠู’ุถูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ุดูุนูŽุงุนูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง
 
โ€œDemi Allah, seseungguhnya aku benar-benar mengetahui malam yang manakah itu, itu adalah malam yang pada saat itu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk shalat malam, yaitu malam yang sangat cerah pada malam ke 27, saat itu tanda-tandanya hingga terbitnya matahari, pada pagi harinya putih terang benderang, tidak ada panas.โ€ (HR. Muslim No. 762)
Bukan hanya Ubay bin Kaโ€™ab, tapi juga sahabat yang lain.  Salim meriwayatkan dari ayahnya Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:
ุฑูŽุฃูŽู‰ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุณูŽุจู’ุนู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑูŽู‰ ุฑูุคู’ูŠูŽุงูƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽุงุทู’ู„ูุจููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง
  โ€œSeorang laki-laki melihat Lailatul Qadr pada malam ke 27. Maka, Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: Aku melihat mimpi kalian pada sepuluh malam terakhir, maka carilah pada malam ganjilnya.โ€ (HR. Muslim No. 1165)
  Inilah riwayat yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama, bahwa kemungkinan besar Lailatul Qadr adalah pada malam ke 27. Namun, perselisihan tentang kepastiannya sangat banyak, sehingga bisa dikatakan bahwa jawaban terbaik dalam Kapan Pastinya  Lailatul Qadr  adalah wallahu aโ€™lam.
  Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Al โ€˜Asqalani Rahimahullah:
ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุงูุฎู’ุชูŽู„ูŽููŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุก ูููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑ ุงูุฎู’ุชูู„ูŽุงูู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง . ูˆูŽุชูŽุญูŽุตู‘ูŽู„ูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูŽุฐูŽุงู‡ูุจู‡ู…ู’ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู†ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ู‹ุง
  โ€œPara ulama berbeda pendapat tentang Lailatul Qadr dengan perbedaan yang banyak. Kami menyimpulkan bahwa di antara pendapat-pendapat mereka ada lebih 40 pendapat.โ€ (Fathul Bari, 4/262. Darul Fikr)
 
๏“š *Amalan Apa yang kita lakukan pada Lailatul Qadar?*
โœ… Ada beberapa amalan yang dituntun dalam sunah ketika kita mengetahui atau seandainya bertepatan dengan lailatul qadar.
๏“• *Pertama. Membaca: Allahumma Innaka โ€˜afuwun karim tuhibbul โ€˜afw faโ€™fuโ€™anni*
ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’
ู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุฅูู†ู’ ุนูŽู„ูู…ู’ุชู ุฃูŽูŠู‘ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ู…ูŽุง ุฃูŽู‚ููˆู„ู ูููŠู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ููˆู„ููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุนููููˆู‘ูŒ ูƒูŽุฑููŠู…ูŒ ุชูุญูุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽูู’ูˆูŽ ููŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ู‘ููŠ
  Dari โ€˜Aisyah dia berkata โ€œAku berkata: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa pada suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang aku katakan?โ€ Beliau menjawab: โ€œUcapkanlah, *โ€˜Allahumma innaka โ€˜afuwwun karim tuhibbul โ€˜afwa faโ€™fuโ€™anni.โ€* (HR. At Tirmidzi No. 3513, At Tirmidzi berkata: hasan shahih. Ibnu Majah No. 3850. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 3337, Shahihul Jamiโ€™ No. 4423, dan lainnya)
๏“— *Kedua. Melakukan Shalat Malam*
  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู…ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุฅููŠู…ูŽุงู†ู‹ุง ูˆูŽุงุญู’ุชูุณูŽุงุจู‹ุง ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู†ู’ุจูู‡ู
โ€œDan barangsiapa shalat pada Lailatul Qadar karena Iman dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.โ€ (HR. Bukhari No. 35, 38, 1802. Muslim No. 760)
๏“˜ *Ketiga. Iโ€™tikaf*
  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam selalu iโ€™tikaf pada sepuluh malam terakhir, bahkan diakhir hayatnya dua puluh hari Ramadhan.  Tentunya diantara malam itu terdapat Lailatul Qadar.
  Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha:
ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุนู’ุชูŽูƒููู ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽูˆูŽูู‘ูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุงุนู’ุชูŽูƒูŽููŽ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌูู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‡ู
โ€œSesungguhnya Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dahulu Iโ€™tikaf pada sepuluh hari terakhir dri bulan Ramadhan, beliau selalu melakukannya sampai Allah mewafatkanya. Kemudian para isterinya beriโ€™tikaf setelah beliau wafat.โ€   (HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)
โœ… *Lailatul Qadr bisa diraih oleh siapa pun yang mengintainya. Baik mereka yang i’tikaf, atau mereka yg sdg sakit di rumah tapi tetap beribadah, wanita haid tetap berzikir atau muraja’ah hapalan Al Qurannya. Jadi, bukan hanya bagi yg sedang i’tikaf.*
_Sedangkan amalan yang paling banyak dilakukan para salaf pada saat iโ€™tikaf adalah membaca Al Quran sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Az Zuhri. Demikian._
Wallahu Aโ€™lam
 
๏Œฟ๏Œบ๏‚๏€๏Œผ๏„๏Œท๏๏Œน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๏’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Memahami dan Menggapai LAILATUL QADR

๐Ÿ“† Sabtu,  20 Ramadhan 1437 H / 25 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

๐Ÿ“‹ *Memahami dan Menggapai LAILATUL QADR*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ ๐Ÿ€

๐Ÿ“š *Maknanya*

Lailatul Qadar adalah malam agung yang penuh kemuliaan, saat itu diturunkannya Al Quran, dan memiliki nilai lebih utama dibanding seribu bulan, para malaikat serta malaikat jibril dengan izin Allah Taโ€™ala turun untuk mengatur segala urusan, dan suasana malam itu penuh kesejahteraan hingga terbitnya fajar.

Definisi Lailatul Qadar, Allah Taโ€™ala sendiri yang menjelaskan dengan sangat gamblang dalam salah satu surat Al Quran Al Karim yakni:

{ ุฅูู†ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ุฒู„ู’ู†ูŽุงู‡ู ูููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู (1) ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุฑูŽุงูƒูŽ ู…ูŽุง ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู (2) ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู„ู’ูู ุดูŽู‡ู’ุฑู (3) ุชูŽู†ุฒู„ู ุงู„ู’ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ููˆุญู ูููŠู‡ูŽุง ุจูุฅูุฐู’ู†ู ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุฃูŽู…ู’ุฑู (4) ุณูŽู„ุงู…ูŒ ู‡ููŠูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู…ูŽุทู’ู„ูŽุนู ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู (5) }

 โ€œ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.โ€ (QS. Al Qadr (97): 1-5)

 Kenapa disebut Lailatul Qadar? Tentu jawaban pastinya hanya Allah Taโ€™ala yang tahu. Namun para ulama memberikan jawaban bedasarkan qarinah (korelasi) berdasarkan ayat tersebut. Di antaranya tersebut dalam Al Muntaqaโ€™ Syarh Al Muwaththaโ€™, ketika mengomentari hadits tentang โ€˜Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhirโ€™:

ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูŠูŽุญู’ุชูŽู…ูู„ู ุฃูŽู†ู’ ุชูุณูŽู…ู‘ูŽู‰ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูุนูุธูŽู…ู ู‚ูŽุฏู’ุฑูู‡ูŽุง ุฃูŽูŠู’ ุฐูŽุงุชู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู…ู ูˆูŽูŠูุญู’ุชูŽู…ูŽู„ู ุฃูŽู†ู’ ุชูุณูŽู…ู‘ูŽู‰ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุงุฑููŠูŽ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูŠูู†ูŽูู‘ูุฐู ูููŠู‡ูŽุง ู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู‘ูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูููŠู‡ูŽุง ูŠููู’ุฑูŽู‚ู ูƒูู„ู‘ู ุฃูŽู…ู’ุฑู ุญูŽูƒููŠู…ู ุฃูŽู…ู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุนูู†ู’ุฏูู†ูŽุง ุฅู†ู‘ูŽุง ูƒูู†ู‘ูŽุง ู…ูุฑู’ุณูู„ููŠู†ูŽ ูˆูŽูŠูุญู’ุชูŽู…ูŽู„ู ุบูŽูŠู’ุฑู ุฐูŽู„ููƒูŽ .

โ€œ Dan ucapannya โ€˜Lailatul Qadriโ€™, ada kemungkinan dinamakan demikian lantaran keagungan  qadar (ukuran/ketentuan) malam itu, yakni malam yang memiliki ukuran yang agung. Ada kemungkinan juga dinamakan demikian karena pada malam itu Allah Taโ€™ala melaksanakan apa-apa yang telah ditentukan (qaddara) dalam firmanNya,  โ€œPada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,โ€  dan ada juga kemungkinan selain itu.โ€ (Imam Abu Sulaiman Al Walid Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwaththaโ€™, Juz. 2, Hal. 227. Mawqiโ€™ Al Islam)

Seorang ahli tafsir pada masa tabiโ€™in, yakni Mujahid, mengartikan Lailatul Qadr adalah:
ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ุญูƒู….

 โ€œMalam penuh hikmah.โ€ (Imam Abu Jaโ€™far bin Jarir Ath Thabari, Jamiโ€™ul Bayan Fi Taโ€™wilil Quran, 24/532. Muasasah Ar Risalah)

๐Ÿ“š *Keutamaannya*

Tentang keutamaannya, dalam surat Al Qadr juga sudah disebutkan, yakni: โ€œMalam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.โ€

 Mujahid berkata tentang ayat tersebut:

ุนู…ู„ู‡ุง ูˆุตูŠุงู…ู‡ุง ูˆู‚ูŠุงู…ู‡ุง ุฎูŠุฑ ู…ู† ุฃู„ู ุดู‡ุฑ.

โ€œAmal pada malam itu, puasanya, dan qiyamul lailnya, lebih baik (nilainya) dari seribu bulan.โ€

Mujahid juga menjelaskan:

ูƒุงู† ููŠ ุจู†ูŠ ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ ุฑุฌู„ ูŠู‚ูˆู… ุงู„ู„ูŠู„ ุญุชู‰ ูŠุตุจุญุŒ ุซู… ูŠุฌุงู‡ุฏ ุงู„ุนุฏูˆู‘ ุจุงู„ู†ู‡ุงุฑ ุญุชู‰ ูŠูู…ู’ุณููŠูŽุŒ ููุนู„ ุฐู„ูƒ ุฃู„ู ุดู‡ุฑุŒ ูุฃู†ุฒู„ ุงู„ู„ู‡ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูŠุฉ:( ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู„ู’ูู ุดูŽู‡ู’ุฑู ) ู‚ูŠุงู… ุชู„ูƒ ุงู„ู„ูŠู„ุฉ ุฎูŠุฑ ู…ู† ุนู…ู„ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฑุฌู„.

โ€œDahulu pada Bani Israil ada seorang laki-laki yang shalat malam hingga pagi hari, kemudian dia pergi jihad melawan musuh pada siang harinya hingga sore, dan dia melakukan itu hingga seribu tahun. Maka Allah Taโ€™ala menurunkan ayat ini: (Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan) , qiyamul lail pada malam itu lebih baik dibanding amal laki-laki tersebut.โ€ (Ibid)

Sementara Amru bin Qais Al Malaโ€™i berkata:

ุนู…ู„ูŒ ููŠู‡ุง ุฎูŠุฑ ู…ู† ุนู…ู„ ุฃู„ู ุดู‡ุฑ.

โ€œAmal pada malam itu (nilainya) lebih baik dari amal seribu bulan.โ€ (Imam Abu Jaโ€™far bin Jarir Ath Thabari, Jamiโ€™ul Bayan Fi Taโ€™wilil Quran,  24/ 533)

Imam Ibnu Jarir Rahimahullah   sendiri menguatkan tafsiran ini, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, bahwa Imam Ibnu Jarir mengatakan:

ูˆู‡ูˆ ุงู„ุตูˆุงุจ ู„ุง ู…ุง ุนุฏุงู‡

โ€œInilah yang benar, bukan selainnya.โ€ (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Azhim, Juz. 8, Hal. 443 )

๐Ÿ“š *Lailatul Qadr, Kapan datangnya?*

Dia ada pada bulan Ramadhan, namun kepastian harinya hanya Allah Taโ€™ala yang tahu. Sedangkan Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam hanya memberikan petunjuk dan perintah untuk mengintainya.

๐Ÿ“•  *Sepuluh malam terakhir atau tujuh malam terakhir*

Secara spesifik, Lailatul Qadar ada pada sepuluh malam terakhir  atau tujuh  malam terakhir. Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽุญูŽุฑู‘ููŠู‡ูŽุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู

โ€œMaka, barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada sepuluh malam terakhir.โ€ (HR. Bukhari    No.  1158)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

 ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูุฌูŽุงู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูุฑููˆุง ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽู†ูŽุงู…ู ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑูŽู‰ ุฑูุคู’ูŠูŽุงูƒูู…ู’ ู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูˆูŽุงุทูŽุฃูŽุชู’ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽุญูŽุฑู‘ููŠู‡ูŽุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู

โ€œSesungguhnya seorang laki-laki dari sahabat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melihat Lailatul Qadr pada mimpinya pada tujuh hari terakhir. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œSaya melihat mimpi kalian  telah bertepatan pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, maka carilah pada tujuh malam terakhir.โ€  (HR. Bukhari No. 2015, 6991, Muslim No.1165)

Bagaimanakah maksud tujuh malam terakhir? Tertulis penjelasannya dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, sebagai berikut:

ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ู‡ุฐุง ุงู„ุฎุจุฑ ูŠุญุชู…ู„ ู…ุนู†ูŠูŠู† ุฃุญุฏู‡ู…ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ูู…ู† ูƒุงู† ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู…ุง ุนู„ู… ุชูˆุงุทุฃ ุฑุคูŠุง ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฃู†ู‡ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃุฎูŠุฑ ููŠ ุชู„ูƒ ุงู„ุณู†ุฉ ุฃู…ุฑู‡ู… ุชู„ูƒ ุงู„ุณู†ุฉ ุจุชุญุฑูŠู‡ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ูˆุงู„ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุซุงู†ูŠ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅู†ู…ุง ุฃู…ุฑู‡ู… ุจุชุญุฑูŠู‡ุง ูˆุทู„ุจู‡ุง ููŠ ุงู„ุณุจุน ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ุฅุฐุง ุถุนููˆุง ูˆุนุฌุฒูˆุง ุนู† ุทู„ุจู‡ุง ููŠ ุงู„ุนุดุฑ ูƒู„ู‡

Berkata Abu Bakar: Khabar ini memiliki dua makna. Pertama, pada malam ke tujuh terakhir karena Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tatkala mengetahui adaya kesesuaian dengan mimpi sahabat bahwa Lailatul Qadr terjadi pada tujuh malam terakhir pada tahun itu, maka beliau memerintahkan mereka pada tahun itu untuk mencarinya pada tujuh malam terakhir. Kedua, perintah Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam kepada para sahabat untuk mencari pada tujuh malam terakhir dikaitkan jika mereka lemah dan tidak kuat mencarinya pada sepuluh hari semuanya. (Lihat Shahih Ibnu Khuzaimah No. 2182)

Makna  ini diperkuat lagi oleh hadits yang menunjukkan alasan kenapa  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan mengintai tujuh hari terakhir.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู’ุชูŽู…ูุณููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ููŽุฅูู†ู’ ุถูŽุนูููŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽูˆู’ ุนูŽุฌูŽุฒูŽ ููŽู„ูŽุง ูŠูุบู’ู„ูŽุจูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุจูŽูˆูŽุงู‚ููŠ

Bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œCarilah dia pada sepuluh malam terakhir (maksudnya Lailatul Qadar) jika kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai dikalahkan oleh tujuh hari sisanya.โ€ (HR. Muslim No. 1165, 209)

๐Ÿ“— *Kemungkinan besar adalah pada malam ganjilnya*

 Kemungkinan lebih besar adalah Lailatul Qadr itu datangnya pada malam ganjil sebagaimana hadits berikut:

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ููŽุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูุฑููŠุชู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูˆูŽุฅูู†ู‘ููŠ ู†ูุณู‘ููŠุชูู‡ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ูููŠ ูˆูุชู’ุฑู

โ€œSeseungguhnya Aku diperlihatkan Lailatul Qadar, dan aku telah dilupakannya, dan saat itu pada sepuluh malam terakhir, pada malam ganjil.โ€ (HR. Bukhari No. 813, 2036)

Dalam riwayat lain:
ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง
ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽูˆู’ุง ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูููŠ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ

โ€œDari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œCarilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.โ€ (HR. Bukhari No. 2017)

Ada dua pelajaran dari dua hadits yang mulia ini. Pertama, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sendiri tidak tahu persis kapan datangnya Lailatu Qadar karena dia lupa. Kedua, datangnya Lailatul Qadar adalah pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir.

๐Ÿ“˜  *Malam ke 24,  25, 27 dan 29?*

  Imam Bukhari meriwayatkan, dari Ibnu โ€˜Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ุงู„ุชู…ุณูˆุง ููŠ ุฃุฑุจุน ูˆุนุดุฑูŠู†
  โ€œCarilah pada malam ke 24.โ€ (Atsar sahabat dalam Shahih Bukhari No. 2022)

Imam Bukhari juga meriwayatkan, dari โ€˜Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu โ€˜Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
ููŽุงู„ู’ุชูŽู…ูุณููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุชู‘ูŽุงุณูุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽุงุจูุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽุงู…ูุณูŽุฉู

  โ€œMaka carilah Lailatul Qadar pada malam ke sembilan, tujuh, dan lima (pada sepuluh malam terakhir, pen).โ€ (HR. Bukhari No. 2023)

  Berkata seorang sahabat mulia, Ubay bin Kaโ€™ab Radhiallahu โ€˜Anhu:

ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ููŠ ู„ูŽุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽูŠู‘ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู‡ููŠูŽ
ู‡ููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู†ูŽุง ุจูู‡ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูู‚ููŠูŽุงู…ูู‡ูŽุง ู‡ููŠูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุตูŽุจููŠุญูŽุฉู ุณูŽุจู’ุนู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุงุฑูŽุชูู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุทู’ู„ูุนูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ูููŠ ุตูŽุจููŠุญูŽุฉู ูŠูŽูˆู’ู…ูู‡ูŽุง ุจูŽูŠู’ุถูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ุดูุนูŽุงุนูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง

โ€œDemi Allah, seseungguhnya aku benar-benar mengetahui malam yang manakah itu, itu adalah malam yang pada saat itu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk shalat malam, yaitu malam yang sangat cerah pada malam ke 27, saat itu tanda-tandanya hingga terbitnya matahari, pada pagi harinya putih terang benderang, tidak ada panas.โ€ (HR. Muslim No. 762)

Bukan hanya Ubay bin Kaโ€™ab, tapi juga sahabat yang lain.  Salim meriwayatkan dari ayahnya Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฑูŽุฃูŽู‰ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุณูŽุจู’ุนู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑูŽู‰ ุฑูุคู’ูŠูŽุงูƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽุงุทู’ู„ูุจููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง

  โ€œSeorang laki-laki melihat Lailatul Qadr pada malam ke 27. Maka, Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: Aku melihat mimpi kalian pada sepuluh malam terakhir, maka carilah pada malam ganjilnya.โ€ (HR. Muslim No. 1165)

  Inilah riwayat yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama, bahwa kemungkinan besar Lailatul Qadr adalah pada malam ke 27. Namun, perselisihan tentang kepastiannya sangat banyak, sehingga bisa dikatakan bahwa jawaban terbaik dalam Kapan Pastinya  Lailatul Qadr  adalah wallahu aโ€™lam.

  Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Al โ€˜Asqalani Rahimahullah:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุงูุฎู’ุชูŽู„ูŽููŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุก ูููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑ ุงูุฎู’ุชูู„ูŽุงูู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง . ูˆูŽุชูŽุญูŽุตู‘ูŽู„ูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูŽุฐูŽุงู‡ูุจู‡ู…ู’ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู†ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ู‹ุง
  โ€œPara ulama berbeda pendapat tentang Lailatul Qadr dengan perbedaan yang banyak. Kami menyimpulkan bahwa di antara pendapat-pendapat mereka ada lebih 40 pendapat.โ€ (Fathul Bari, 4/262. Darul Fikr)

๐Ÿ“š *Amalan Apa yang kita lakukan pada Lailatul Qadar?*

 โœ… Ada beberapa amalan yang dituntun dalam sunah ketika kita mengetahui atau seandainya bertepatan dengan lailatul qadar.

๐Ÿ“• *Pertama. Membaca: Allahumma Innaka โ€˜afuwun karim tuhibbul โ€˜afw faโ€™fuโ€™anni*

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’
ู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุฅูู†ู’ ุนูŽู„ูู…ู’ุชู ุฃูŽูŠู‘ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ู…ูŽุง ุฃูŽู‚ููˆู„ู ูููŠู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ููˆู„ููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุนููููˆู‘ูŒ ูƒูŽุฑููŠู…ูŒ ุชูุญูุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽูู’ูˆูŽ ููŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ู‘ููŠ

  Dari โ€˜Aisyah dia berkata โ€œAku berkata: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa pada suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang aku katakan?โ€ Beliau menjawab: โ€œUcapkanlah, *โ€˜Allahumma innaka โ€˜afuwwun karim tuhibbul โ€˜afwa faโ€™fuโ€™anni.โ€* (HR. At Tirmidzi No. 3513, At Tirmidzi berkata: hasan shahih. Ibnu Majah No. 3850. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 3337, Shahihul Jamiโ€™ No. 4423, dan lainnya)

๐Ÿ“— *Kedua. Melakukan Shalat Malam*

  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู…ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุฅููŠู…ูŽุงู†ู‹ุง ูˆูŽุงุญู’ุชูุณูŽุงุจู‹ุง ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู†ู’ุจูู‡ู

โ€œDan barangsiapa shalat pada Lailatul Qadar karena Iman dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.โ€ (HR. Bukhari No. 35, 38, 1802. Muslim No. 760)

๐Ÿ“˜ *Ketiga. Iโ€™tikaf*

  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam selalu iโ€™tikaf pada sepuluh malam terakhir, bahkan diakhir hayatnya dua puluh hari Ramadhan.  Tentunya diantara malam itu terdapat Lailatul Qadar.

  Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุนู’ุชูŽูƒููู ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽูˆูŽูู‘ูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุงุนู’ุชูŽูƒูŽููŽ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌูู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‡ู

โ€œSesungguhnya Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dahulu Iโ€™tikaf pada sepuluh hari terakhir dri bulan Ramadhan, beliau selalu melakukannya sampai Allah mewafatkanya. Kemudian para isterinya beriโ€™tikaf setelah beliau wafat.โ€   (HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

โœ… *Lailatul Qadr bisa diraih oleh siapa pun yang mengintainya. Baik mereka yang i’tikaf, atau mereka yg sdg sakit di rumah tapi tetap beribadah, wanita haid tetap berzikir atau muraja’ah hapalan Al Qurannya. Jadi, bukan hanya bagi yg sedang i’tikaf.*

_Sedangkan amalan yang paling banyak dilakukan para salaf pada saat iโ€™tikaf adalah membaca Al Quran sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Az Zuhri. Demikian._

Wallahu Aโ€™lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Fiqih Shalat Witir (Bag. 4)

๐Ÿ“† Jumat,  19 Ramadhan 1437 H / 24 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

๐Ÿ“‹ *Fiqih Shalat Witir (Bag. 4)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐Ÿ€

๐Ÿ“š *Doa Qunut Dalam Witir*

 Telah terjadi perbedaan pendapat ulama tentang qunut secara umum, berkata Imam Ibnu Rusyd Al Maliki Rahimahullah :

ุงุฎุชู„ููˆุง ููŠ ุงู„ู‚ู†ูˆุชุŒ ูุฐู‡ุจ ู…ุงู„ูƒ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ู‚ู†ูˆุช ููŠ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุตุจุญ ู…ุณุชุญุจุŒ ูˆุฐู‡ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ุณู†ุฉ ูˆุฐู‡ุจ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ู‚ู†ูˆุช ููŠ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุตุจุญุŒ ูˆุฃู† ุงู„ู‚ู†ูˆุช ุฅู†ู…ุง ู…ูˆุถุนู‡ ุงู„ูˆุชุฑ ูˆู‚ุงู„ ู‚ูˆู…: ุจูŠู‚ู†ุช ููŠ ูƒู„ ุตู„ุงุฉุŒ ูˆู‚ุงู„ ู‚ูˆู…: ู„ุง ู‚ู†ูˆุช ุฅู„ุง ููŠ ุฑู…ุถุงู†ุŒ ูˆู‚ุงู„ ู‚ูˆู…: ุจู„ ููŠ ุงู„ู†ุตู ุงู„ุงุฎูŠุฑ ู…ู†ู‡ ูˆู‚ุงู„ ู‚ูˆู…: ุจู„ ููŠ ุงู„ู†ุตู ุงู„ุงูˆู„ ู…ู†ู‡.

  โ€œMereka berselisih tentang qunut, Malik berpendapat bahwa qunut dalam shalat shubuh adalah sunah, dan Asy Syafiโ€™i juga mengatakan sunah, dan Abu Hanifah berpendapat tidak boleh qunut dalam shalat subuh, sesungguhnya qunut itu adanya pada shalat witir.

Ada kelompok yang berkata: berqunut pada setiap shalat. Kaum lain berkata: tidak ada qunut kecuali pada bulan Ramadhan. Kaum lain berkata: Adanya pada setelah setengah bulan Ramadhan. Ada juga yang mengatakan: bahkan pada setengah awal Ramadhan.โ€  (Imam Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, 1/107-108. Darul Fikr)

Ada pun tentang qunut saat witir,  Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah berkata:

ู„ุง ูŠุตุญ ููŠู‡ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุดูŠุก

Tidak ada yang shahih sedikit pun dari Nabi ๏ทบ tentang hal ini (Talkhish Al Habir, 2/18)

Imam Ibnu Khuzaimah berkata:

ูˆู„ุณุช ุฃุญูุธ ุฎุจุฑุงู‹ ุซุงุจุชุงู‹ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุงู„ู‚ู†ูˆุช ููŠ ุงู„ูˆุชุฑ

  Aku tidak hafal adanya hadits yang shahih dari Nabi ๏ทบ tentang qunut saat witir. (Shahih Ibni Khuzaimah, 2/151)

 โฃTETAPI, qunut saat witir ADA pada masa para sahabat Nabi ๏ทบ.

Imam โ€˜Atha bin Abi Rabah ditanya tentang qunut witir, Beliau menjawab:

ูƒุงู† ุฃุตุญุงุจ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูุนู„ูˆู†ู‡

  Dahulu para sahabat Nabi ๏ทบ melakukannya. (Mukhtashar Qiyam Al Lail, Hal. 66)

  Syaikh Al Mujahid, Sulaiman bin Nashir Al โ€˜Alwan Rahimahullah berkata:

ูˆุฌุงุก ุนู† ุจุนุถ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠู‚ู†ุช ุฅู„ุงู‘ ููŠ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุฑู…ุถุงู† . ุตุญ ู‡ุฐุง ุนู† ุงุจู†  ุนู…ุฑ

  Telah datang riwayat dari sebagian sahabat nabi bahwa tidak ada qunut kecuali pada separuh Ramadhan. Hal ini shahih dari Ibnu Umar. (Ahkam Qiyam Al Lail, Hal. 28)

  Jadi, para ulama sepakat sunahnya saat witir di setengah Ramadhan sampai akhir.

ูˆุงุชูู‚ูˆุง ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ู‚ู†ูˆุช ููŠ ุงู„ูˆุชุฑ ู…ุณู†ูˆู† ููŠ ุงู„ู†ุตู ุงู„ุซุงู†ูŠ ู…ู† ุดู‡ุฑ ุฑู…ุถุงู† ุฅู„ู‰ ุขุฎุฑู‡ .

  Para ulama sepakat  tentang berqunut dalam shalat witir itu sunnah saat separuh bulan Ramadhan sampai akhir. (Al Wazir Ibnu Hubairah, Ikhtilaf Al Aimmah Al โ€˜Ulama, 1/138)

  Hanya saja mereka berbeda apakah qunut dalam witir juga sunnah pada witir-witir selain paruh akhir bulan Ramadhan?

ุซู… ุงุฎุชู„ููˆุง ููŠ ู…ูˆุถุนู‡ . ูู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ : ู‚ุจู„ ุงู„ุฑูƒูˆุน . ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุญู…ุฏ : ุจุนุฏู‡ . ุซู… ุงุฎุชู„ููˆุง ู‡ู„ ู‡ูˆ ู…ุณู†ูˆู† ููŠ ุจู‚ูŠุฉ ุงู„ุณู†ุฉ ุŸ ูู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุฃุญู…ุฏ : ู‡ูˆ ู…ุณู†ูˆู† ููŠ ุฌู…ูŠุน ุงู„ุณู†ุฉ . ูˆู‚ุงู„ ู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ : ู„ุง ูŠุณู† ุฅู„ุง ููŠ ู†ุตู ุดู‡ุฑ ุฑู…ุถุงู† ุงู„ุซุงู†ูŠ .

  Kemudian mereka berbeda pendapat tentang tempatnya qunut. Abu Hanifah mengatakan: sebelum ruku. Asy Syafiโ€™i dan Ahmad mengatakan: setelahnya. Lalu mereka juga berselisih apakah disunahkan pada shalat sunnah lainnya? Abu Hanifah dan Ahmad berkata: Hal itu sunah di semua sunah. Malik dan Asy Syafiโ€™i mengatakan: โ€œTidak sunnah kecuali hanya pada paruh kedua bulan Ramadhan.โ€ (Ibid)

  Maka, janganlah ingkari jika sebagian masjid ada qunut saat shalat witirnya sejak separuh akhir Ramadhan. Itu sunah yang disepakati para ulama, tetapi mereka berbeda apakah itu juga sunnah di luar Ramadhan.

Wallahu A’lam wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Fiqih Shalat Witir (Bag. 3)

๐Ÿ“† Kamis,  18 Ramadhan 1437 H / 23 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

๐Ÿ“‹ *Fiqih Shalat Witir (Bag. 3)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐Ÿ€

๐Ÿ“š *_Bolehkah Shalat Lagi Setelah Witir?_*

  Banyak yang menyangka witir sebagai penutup shalat, sehingga tidak boleh lagi shalat. Yang benar adalah BOLEH, karena Nabi ๏ทบ melakukannya, dan anjuran menjadikan witir sebagai penutup shalat malam sifatnya sunah saja.
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุซูŽุจูŽุชูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ( ยซูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุฌูŽุงู„ูุณู‹ุง ุชูŽุงุฑูŽุฉู‹ุŒ ูˆูŽุชูŽุงุฑูŽุฉู‹ ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุฃู ูููŠู‡ูู…ูŽุง ุฌูŽุงู„ูุณู‹ุงุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฑู’ูƒูŽุนูŽุŒ ู‚ูŽุงู…ูŽ ููŽุฑูŽูƒูŽุนูŽยป ุŒ ูˆูŽูููŠ “ุตูŽุญููŠุญู ู…ุณู„ู… ” ุนูŽู†ู’ ุฃุจูŠ ุณู„ู…ุฉ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซ (ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุนุงุฆุดุฉ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: (ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉู‹ุŒ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุซูŽู…ูŽุงู†ูŽ ุฑูŽูƒูŽุนูŽุงุชูุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠููˆุชูุฑูุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฌูŽุงู„ูุณูŒุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฑู’ูƒูŽุนูŽุŒ ู‚ูŽุงู…ูŽ ููŽุฑูŽูƒูŽุนูŽุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูุฏูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ุตู‘ูุจู’ุญู) ยป ูˆูŽูููŠ “ุงู„ู’ู…ูุณู’ู†ูŽุฏู” ุนูŽู†ู’ ุฃู… ุณู„ู…ุฉ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ( ยซูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุฎูŽูููŠููŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฌูŽุงู„ูุณูŒ  (
ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ: ุฑููˆููŠูŽ ู†ูŽุญู’ูˆู ู‡ูŽุฐูŽุง ุนูŽู†ู’ ุนุงุฆุดุฉุŒ ูˆุฃุจูŠ ุฃู…ุงู…ุฉุŒ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑู ูˆูŽุงุญูุฏู ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ.
ูˆูŽูููŠ “ุงู„ู’ู…ูุณู’ู†ูŽุฏู” ุนูŽู†ู’ ุฃุจูŠ ุฃู…ุงู…ุฉุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ( ยซูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฌูŽุงู„ูุณูŒุŒ ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุฃู ูููŠู‡ูู…ูŽุง ุจูู€ {ุฅูุฐูŽุง ุฒูู„ู’ุฒูู„ูŽุชู} [ุงู„ุฒู„ุฒู„ุฉ: ูก] ูˆูŽ {ู‚ูู„ู’ ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููˆู†ูŽ} [ุงู„ูƒุงูุฑูˆู†: ูก  [ูˆูŽุฑูŽูˆูŽู‰ ุงู„ุฏู‘ูŽุงุฑูŽู‚ูุทู’ู†ููŠู‘ู ู†ูŽุญู’ูˆูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุซู ุฃู†ุณ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู.

Telah SHAHIH dari Nabi  ๏ทบ   bahwa:   (Beliau shalat lagi setelah witir sebanyak dua rakaat kadang sambil duduk). Dalam kesempatan lain, Beliau pernah membaca dua rakaat itu sambil duduk dan ketika hendak ruku Beliau berdiri untuk ruku.

Disebutkan dalam SHAHIH MUSLIM dari Abu Salamah, dia berkata:  Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang Shalat Rasulullah ๏ทบ, lalu dia memjawab:

 “Beliau ๏ทบ   biasanya melakukan shalat 13 rakaat. Menunaikan 8 raka’at, lalu witir, kemudian shalat 2 raka’at lagi dengan duduk, dan apabila hendak ruku beliau berdiri lalu ruku. Kemudian, Beliau nantinya shalat lagi antara azan dan iqamah shubuh.”

Di dalam Musnad disebutkan dari Ummi Salamah Radhiallahu ‘Anha, “Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalat 2 rakaat ringan dengan duduk setelah shakat witir.” (HR. Ahmad, No. 26553, Ibnu Majah No. 1195. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dan Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth)
Kata Imam At Tirmidzi: “Hadits seperti ini juga diriwayatkan oleh Aisyah, Abu Umamah, dan tidak hanya satu sahabat Nabi ๏ทบ.”

Dalam Musnad juga disebutkan, dari Abu Umamah: “Bahwa setelah shalat witir, Rasulullah ๏ทบ   melakukan shalat 2 rakaat dengan duduk dan membaca surat Al Zalzalah dan Al Kafirun.” (HR. Ahmad,  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5018, Ath Thabarani dalam Al Muโ€™jam Al Kabir No. 8065. Sanadnya hasan)

Imam Ad Daruquthni meriwayatkan hadits yang sama dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu. (Selesai)

Lalu Imam Ibnul Qayyim mengutip dari para ulama:

 ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ููŽุนูŽู„ูŽ ู‡ูŽุงุชูŽูŠู’ู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ูุŒ ู„ููŠูุจูŽูŠู‘ูู†ูŽ ุฌูŽูˆูŽุงุฒูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑูุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ููุนู’ู„ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุทูŽุนู ุงู„ุชู‘ูŽู†ูŽูู‘ูู„ูŽุŒ ูˆูŽุญูŽู…ูŽู„ููˆุง ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽู‡ู: ( ยซุงุฌู’ุนูŽู„ููˆุง ุขุฎูุฑูŽ ุตูŽู„ูŽุงุชููƒูู…ู’ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูุชู’ุฑู‹ุงยป ) ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ูุงุณู’ุชูุญู’ุจูŽุงุจูุŒ ูˆูŽุตูŽู„ูŽุงุฉูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู.

Sesungguhnya dilakukannya dua rakaat ini hanyalah untuk menjelaskan BOLEHNYA SHALAT SETELAH WITIR, bahwasanya shalat witir itu tidaklah memutuskan shalat. Mereka memaknai maksuda hadits Nabi : “Jadikankah akhir shalat kalian pada malam hari adalah witir”, itu menunjukkan sunah saja, dan shalat dua rakaat setelahnya itu dibolehkan.” (Lihat semua dalam Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibaad, 1/321-323)

๐Ÿ“š *_Tidak Boleh Dua Kali Witir Dalam Semalam_*

Ada sebuah hadits yang melarang dua kali shalat witir dalam satu malam. Dari Qais bin Thalq, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู„ูŽุง ูˆูุชู’ุฑูŽุงู†ู ูููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉ

โ€œTidak ada dua witir dalam satu malam.โ€ (HR.  At Tirmidzi No. 470, katanya: hasan, Abu Daud No. 1439, An Nasaโ€™i No. 1679, juga dalam As Sunan Al Kubra-nya No.  No. 1388, Ahmad No. 16339, Ibnu Hibban No. 2449, Ibnu Khuzaimah No. 1101, dll. Imam Ibnul Mulqin mengatakan: hasan. Lihat Badrul Munir, 4/317. Al Hafizh Ibnu Hajar juga menghasankannya. Lihat Fathul Bari, 2/488)

    Para ulama berbeda pendapat tentang orang yang sudah witir di awal malam, apakah di akhir malam witir lagi?  berkata Imam At Tirmidzi:

ูˆูŽุงุฎู’ุชูŽู„ูŽููŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูููŠ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠููˆุชูุฑู ู…ูู†ู’ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู…ู ู…ูู†ู’ ุขุฎูุฑูู‡ู ููŽุฑูŽุฃูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ูู…ู’ ู†ูŽู‚ู’ุถูŽ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ูŠูุถููŠูู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉู‹ ูˆูŽูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ู…ูŽุง ุจูŽุฏูŽุง ู„ูŽู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ูŠููˆุชูุฑู ูููŠ ุขุฎูุฑู ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูˆูุชู’ุฑูŽุงู†ู ูููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฅูุณู’ุญูŽู‚ู

  Para ulama berbeda pendapat tentang orang yang witir pada awal malam, lalu dia mendirikan lagi pada akhir malam. Sebagian ulama dari kalangan sahabat nabi dan setelah mereka menyatakan witir tersebut (yang akhir, pen) batal. Mereka mengatakan: hendaknya dia menambahkan witirnya itu satu rakaat lagi lalu dia shalat seperti permulaan kemudian barulah dia witir pada akhir shalatnya, hal ini karena tidak ada dua witir pada satu malam. Ulama yang berpendapat seperti ini adalah Ishaq. (Sunan At Tirmidzi No. 470) Hal ini dilakukan oleh para sahabat  Radhiallahu โ€˜Anhum, seperti Utsman, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Saโ€™ad bin Malik. (Tuhfah Al Ahwadzi, 2/469)

  Jadi tidak boleh dua kali witir, jika dilakukan juga maka witir yang kedua adalah batal. Namun jika setelah bangun dia  memulai dengan satu rakaat untuk menggenapkan witir sebelumnya, lalu shalat lagi seperti awal dia shalat, barulah dia boleh witir, karena witir sebelumnya sudah digenapkan dengan satu rakaat tadi. Maka, witir yang dilakukan terakhir itulah witir yang sebenarnya.

  Imam At Tirmidzi Rahimahullah berkata tentang pendapat kedua:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽูˆู’ุชูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุซูู…ู‘ูŽ ู†ูŽุงู…ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุขุฎูุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ู…ูŽุง ุจูŽุฏูŽุง ู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ู‚ูุถู ูˆูุชู’ุฑูŽู‡ู ูˆูŽูŠูŽุฏูŽุนู ูˆูุชู’ุฑูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุณููู’ูŠูŽุงู†ูŽ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุฑููŠู‘ู ูˆูŽู…ูŽุงู„ููƒู ุจู’ู†ู ุฃูŽู†ูŽุณู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ูƒููˆููŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏูŽ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุฃูŽุตูŽุญู‘ู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ุฑููˆููŠูŽ ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู

  Sebagian ulama dari sahabat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan selain mereka mengatakan bahwa jika seorang melakukan witir di awal malam kemudian dia tidur lalu shalat lagi di akhir malam, maka dia shalat sebagaimana awal dia melakukan, hal itu tidak membatalkan witirnya itu dan tidak usah dia tinggalkan witir yang sudah dia lakukan. Inilah pendapat Sufyan Ats Tsauri, Malik bin Anas, Ibnul Mubarak, Asy Syafiโ€™i, penduduk Kufah, dan Ahmad, inilah pendapat yang lebih shahih.  Diriwayatkan dari jalan lain bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam   melakukan shalat setelah dia witir. (Sunan At Tirmidzi No. 470)

                Berkata Syaikh Abdurrahman  Mubarkafuri Rahimahullah:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูุจู’ู†ู ุงู„ู’ุนูŽุฑูŽุจููŠูู‘ ูููŠ ุนูŽุงุฑูุถูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุญู’ูˆูŽุฐููŠูู‘ : ู…ูŽุนู’ู†ูŽุงู‡ู ุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูˆู’ุชูŽุฑูŽ ูููŠ ุขุฎูุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ู ุซูู…ูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽุง ูŠูุนููŠุฏู ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑูŽ ุงูู†ู’ุชูŽู‡ูŽู‰ .

โ€œBerkata Ibnul โ€˜Arabi dalam โ€˜Aridhah Al Ahwadzi: Artinya adalah bahwa barangsiapa yang shalat witir pada akhir malam kemudian shalat setelahnya, maka hendaknya dia tidak mengulangi witir, selesai. โ€œ (Syaikh Abdurrahman Mubarakafuri, Tuhfah al Ahwadzi,  2/469)

  Jadi, pendapat kedua adalah ketika telah melakukan shalat witir di awal malam, lalu tidur, maka ketika bangun, hendaknya shalat malam dilakukan seperti biasa saja tidak susah membatalkan witir sebelumnya dengan menambahkan satu rakaat. Selesainya tidak usah lagi ada witir, karena witirnya sudah dilakukan pada awal malam. Inilah pendapat yang benar menurut Imam At Tirmidzi.

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Fiqih Shalat Witir (Bag. 2)

๐Ÿ“† Rabu,  17 Ramadhan 1437 H / 22 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Fiqih Shalat Witir (Bag. 2)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Jumlah Rakaat*

  Boleh dilakukan sebanyak 1, 3, 5,7, 9, 11 dan maksimal 13 rakaat.

  Dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ุญูŽู‚ู‘ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ู…ูุณู’ู„ูู…ู ููŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠููˆุชูุฑูŽ ุจูุฎูŽู…ู’ุณู ููŽู„ู’ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠููˆุชูุฑูŽ ุจูุซูŽู„ูŽุงุซู ููŽู„ู’ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠููˆุชูุฑูŽ ุจููˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู ููŽู„ู’ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู’

“Witir adalah sebuah hak atas setiap muslim, barang siapa yang hendak melakukan witir lima raka’at maka hendaknya ia melakukankannya dan barang siapa yang hendak melakukan witir tiga raka’at maka hendaknya ia melakukannya, dan barang siapa yang hendak melakukan witir satu raka’at maka hendaknya ia melakukannya.” (HR. Abu Daud No. 1420, An Nasaโ€™i No. 1712, Ibnu Hibban No. 2407. Dishahihkan oleh Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth, Syaikh Al Albani, Syaikh Ayman Shalih Syaโ€™ban, dll)

Berkata Ibnu Abi Malikah:

ู‚ูŠู„ ู„ุงุจู† ุนุจุงุณ: ู‡ู„ ู„ูƒ ููŠ ุฃู…ูŠุฑ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ู…ุนุงูˆูŠุฉุŒ ูุฅู†ู‡ ู…ุง ุฃูˆุชุฑ ุฅู„ุง ุจูˆุงุญุฏุฉุŸ ู‚ุงู„: ุฃุตุงุจุŒ ุฅู†ู‡ ูู‚ูŠู‡.

โ€œDikatakan kepada Ibnu Abbas: Apa pendapat anda tentang Amirul Muโ€™minin Muawiyah, bahwa dia tidaklah melakukan witir melainkan satu rakaat? โ€œ Ibnu Abbas menjawab: โ€œDia benar, dia adalah seorang yang faqih (faham agama).โ€ (HR. Bukhari No. 3554)

  Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

 ….ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุฃูŽูˆู’ุชูุฑููˆุง ุจูุฎูŽู…ู’ุณู ุฃูŽูˆู’ ุจูุณูŽุจู’ุนู ุฃูŽูˆู’ ุจูุชูุณู’ุนู ุŒ ุฃูŽูˆู’ ุจูุฅูุญู’ุฏูŽู‰ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉู‹ ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ

  … Tetapi berwitirlah dengan lima rakaat, atau tujuh, atau sembilan, atau sebelas, atau lebih dari itu. (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5011, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1137. Imam Ibnu Mulaqin berkata: โ€œPara perawinya terpercaya semuanya. Imam Al Hakim mengatakan: shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.โ€ Lihat Badrul Munir, 4/302)

  ‘Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha berkata:
 …ูˆูŽู„ุงูŽ ุจูุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ

  … Dan Nabi tidak pernah shalat witir lebih banyak dari 13 rakaat. (HR. Abu Daud No. 1364. Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: shahih. Lihat Badrul Munir, 4/302)

  Ummu Salamah Radhiallahu โ€˜Anha berkata:

ูƒุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ูŠูˆุชุฑ ุจุซู„ุงุซ ุนุดุฑุฉ ุฑูƒุนุฉ  ูู„ู…ุง ูƒุจุฑ ูˆุถุนู ุฃูˆุชุฑ ุจุณุจุน

  Dahulu Nabi ๏ทบ shalat witir sebanyak 13 rakaat, ketika sudah tua dan lemah beliau witir tujuh rakaat. (HR. At Tirmidzi No. 457, Beliau berkata: hasan. Imam Al Hakim mengatakan: shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Al Mustadrak No. 1149)

  Pandangan  Syafiโ€™iyah dan Hambaliyah maksimal adalah 11 rakaat, dalam satu pendapat Syafiโ€™iyah maksimal adalah 13 rakaat. Sementara Hanafiyah  tiga rakaat, tidak lebih dan tidak kurang. Malikiyah mengatakan satu rakaat saja. (Al Mausuโ€™ah, 27/294)

  Demikianlah.

๐Ÿ“š *Pembagian dan Pola Rakaat*

  Jika shalat witir tiga rakaat, maka ada dua pola, yaitu dua rakaat lalu salam, lalu bangun lagi satu rakaat dan salam lagi. (ringkasnya: Pola 2-1, dengan 2 kali salam)

Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, ia berkata:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูŠูุตูŽู„ู‘ูู‰ ููู‰ ุงู„ู’ุญูุฌู’ุฑูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ููู‰ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ููŽูŠูŽูู’ุตูู„ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูู’ุนู ูˆูŽุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ุจูุชูŽุณู’ู„ููŠู…ู ูŠูุณู’ู…ูุนูู†ูŽุงู‡ู.

โ€œRasulullah ๏ทบ  shalat di dalam kamar ketika saya berada di rumah dan beliau ๏ทบ  memisah antara rakaโ€™at yang genap dengan yang witir (ganjil) dengan salam yang beliau ๏ทบ   perdengarkan kepada kami.โ€ (HR. Ahmad No. 24539,  Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Nafiโ€™, ia berkata mengenai shalat witir dari Ibnu โ€˜Umar:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ูŽ ุนูู…ูŽุฑูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ููู‰ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑูŽ ุจูุจูŽุนู’ุถู ุญูŽุงุฌูŽุชูู‡ู

Ibnu Umar biasa mengucapkan salam ketika satu rakaat dan dua rakaat saat witir sampai ia memerintah untuk sebagian hajatnya.โ€ (HR. Bukhari no. 991).

  Yang kedua, yaitu langsung tiga rakaat, sekali duduk tasyahud, dan sekali salam.

Dari Abu Ayyub Al Anshari, ia berkata, Rasulullah ๏ทบ   bersabda,
ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠููˆุชูุฑูŽ ุจูุซูŽู„ุงูŽุซู ููŽู„ู’ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู’

โ€œSiapa yang suka lakukan witir tiga rakaat, maka lakukanlah.โ€  (HR. Abu Daud No. 1420, An Nasaโ€™i No. 1712, Ibnu Hibban No. 2407. Dishahihkan oleh Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth, Syaikh Al Albani, Sya

ikh Ayman Shalih Syaโ€™ban, dll)

Dari โ€˜Aisyah, ia berkata:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูŠููˆุชูุฑู ุจูุซูŽู„ุงูŽุซู ู„ุงูŽ ูŠูŽู‚ู’ุนูุฏู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ููู‰ ุขุฎูุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ.

โ€œRasulullah ๏ทบ  biasa berwitir tiga rakaโ€™at sekaligus, beliau tidak duduk (tasyahud) kecuali pada rakaโ€™at terakhir.โ€ (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4998. Imam Al Hakim mengatakan: shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Lihat Badrul Munir, 4/308)

Bahkan Rasulullah ๏ทบ pernah lima rakaat dengan sekali duduk di akhirnya. (HR. Ibnu Hibban No. 2439, shahih kata Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth)

Juga pernah tujuh rakaat dengan sekali duduk di akhirnya. (HR. An Nasaโ€™i No. 1718, sanadnya shahih)

Atau bisa juga dengan pola 4-3 (2 rakaat, 2 rakaat, lalu 3), pola 6-3 (2,2,2,3), pola 8-3 (2,2,2,2,3), atau 10-3 (2,2,2,2,2,3).

Hal ini berdasarkan hadits:

ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠููˆุชูุฑู ุจูุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ูˆูŽุซูŽู„ุงูŽุซู ูˆูŽุณูุชู‘ู ูˆูŽุซูŽู„ุงูŽุซู ูˆูŽุซูŽู…ูŽุงู†ู ูˆูŽุซูŽู„ุงูŽุซู ูˆูŽุนูŽุดู’ุฑู ูˆูŽุซูŽู„ุงูŽุซู

  Dahulu nabi berwitir dengan 4 dan 3, 6 dan 3, 8 dan 3, serta 10 dan 3. (HR. Abu Daud No. 1364, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

๐Ÿ”นBersambung ๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…