Manajemen Diri di 10 Hari Terakhir Ramadhan* ⏳

 19 Ramadhan 1437 H/ 24 Juni 2016
Pengembangan Diri dan Motivasi
Ustadzah Wiwit, Ustadzah Dina, Ustadzah Heni
 *Manajemen Diri di 10 Hari Terakhir Ramadhan* ⏳
=====================

Assalamu’alaikum bro n sist.. how are you?
Seneng banget bs ngobrol bareng lg di Manis 4 teens.
Kali ini kita akan icip² materi soal manajemen diri.
Nah, ngomongin manajemen diri so pasti berkaitan sama manajemen waktu ya! ^_^
Temen2 pasti udah sering denger pepatah tentang waktu.
Pepatah Arab mengatakan waktu ibarat pedang. Bila tidak bisa digunakan dengan baik maka dia akan menebasmu.
Simak yuukk ayat ini
وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيْنِ فَمَحَوْنَاۤ اٰيَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَاۤ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ  ؕ  وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيْلًا
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang-benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.
[QS. Al-Isra’: Ayat 12]
Itu semua menunjukkan betapa pentingnya waktu. Waktu berjalan terus dg cepat dan tidak pernah bisa kembali. Jadi alangkah ruginya kita bila waktu tidak kita manfaatkan untuk mencari karunia Allah.
Kita sendiri sudah merasakan kan? Perhatikan juga orang-orang di sekitar kita. Bandingkan antara orang yang memanfaatkan waktu dengan yang tidak memanfaatkannya.
Orang yg dpt memanfaatkan waktu untuk hal yg positif dan produktif akan terlihat lebih sukses. Baik di dunia maupun akhirat, dan menjadi org yg beruntung, bukan org yg merugi.
Ngomongin soal untung-rugi, jd inget bahwa saat ini kita sdh akan memasuki 10 hr terakhir Ramadhan. Pastinya ngga mau rugi kan?? Pastinya pengen dapet promo² di akhir Ramadhan kan??
Siapa yg mau dapet lailatul qodar? 
Menurut mu siapa yg akan lebih sukses saat Ramadhan? Anak yg memanfaatkan waktu untuk banyak beribadah? Atau yang membiarkan waktu berlalu hanya dengan
nongkrong/ main/bengong?
Salah satu Contoh orang bs memanfaatkan waktu dg baik adalah sahabat Rasul yg bernama Usamah bin Haritsah. Di usia remaja  dia sudah menjadi panglima perang. Cari deh cerita tentang Usamah bin Haritsah
So.. bgm memanfaatkan akhir Ramadhan dengan baik?
1. Buatlah jadwal kegiatanmu secara rinci:
-harian
– mingguan
– bulanan
Agar kamu bs mengontrol waktu dengan efektif
2. Pilih kegiatan yg memberi manfaat, seperti membaca buku, membantu orang tua, merapikan peralatan pribadi dll.
3. Perbanyak amalan  yang dianjurkan di bln Ramadhan, spt Tilawah Qur’an, infaq, sholat, do’a dan dzikir.
4.  Hindari dan kurangi kegiatan yg Laghwi atau menyia-nyiakn waktu /tidak bermanfaat, seperti bermain game, chatting, ngerumpi dll
5. Berlatih utk mengontrol emosi dan disiplin.
Semoga dengan demikian kita bisa mendapat kemenangan di akhir ramadhan.
……

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…

LAILATUL QADR

18 Ramadhan 1437 H/ 23 Juni 2016
 Fiqih Ibadah
 Ustadzah Suci Susanti S.SoS.I
 *LAILATUL QADR*
==============================


Assalammualaykum adik-adik…

Alhamdulillah… tidak lama lagi kita akan memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagian besar muslim biasanya ramai membicarakan tentang malam _Lailatul Qqadr_.
Sebenarnya apa sih malam _Lailatul Qadr_ itu ? ada yang sudah tau ?
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
_*“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”*_ (QS. Al Qadr: 1-5).

Rasulullah saw bersabda,
“….. Di dalam bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikan malam tersebut, maka sungguh ia tidak mendapatkannya.” HR Bukhari (no. 1901) dan Muslim (no. 760)

Jadi adik-adik, malam _Lailatul Qadr_ adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jika dihitung berdasarkan umur manusia, maka seribu bulan sama dengan delapan puluh tiga tahun.
MasyaAllah… luar biasa ya adik-adik. Padahal tidak banyak manusia yang bisa mencapai usia tersebut. Dan belum tentu juga selama usia yang diberikan Allah swt kepada kita, kita bersih suci tanpa dosa. Bersih tanpa kesalahan. Namanya manusia, pasti pernah berbuat khilaf dan dosa. Karena itulah Allah swt memberikan malam _Lailatul Qadr_ kepada kita semua, agar kita bisa memanfaatkan malam tersebut untuk betul-betul memohon ampunan pada Allah swt.

Lalu kapan sih terjadinya malam _lailatul qadr_ itu ?

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata,
“Rasulullah saw melakukan i’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan, dan kami pun melakukan i’tikaf bersama beliau. Lalu Malaikat Jibril mendatangi beliau seraya berkata, ‘Sesungguhnya apa yang engkau inginkan itu ada di depanmu.’ Maka beliau meneruskan i’tikaf pada sepuluh hari di pertengahan bulan Ramadhan, dan kami pun melakukan i’tikaf bersama beliau. Lalu malaikat Jibril mendatangi beliau, seraya berkata, ‘Yang engkau inginkan masih ada di depanmu.’
Kemudian keesokan harinya, tepat pada hari keduapuluh Ramadhan, Nabi saw memberikan khutbah. Beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang ber i’tikaf bersamaku, maka boleh pulang, karena sesungguhnya aku telah melihat _Lailatul Qadr_ , namun aku lupa kapan tepatnya. _Lailatul Qadr_ ini berada pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Dan sesungguhnya aku bermimpi seolah-olah aku sedang sujud di atas tanah yang basah.’
Ketika itu atap masjid terbuat dari pelepah kurma, sedangkan kami tidak melihat apa-apa di langit. Lalu tiba-tiba datang awan gelap hingga turun hujan. Lalu Nabi saw melaksanakan shalat bersama kami hingga kami melihat bekas tanah basah di dahi baginda Rasulullah saw sebagai bukti atas kebenaran mimpi beliau saw.”
( HR Muslim (no.1167) dan Bukhari (no.8130)
Adik-adik yang dirahmati Allah swt, banyak ulama yang menafsirkan bahwa malam _Lailatul Qadr_ terjadi pada malam-malam ganjil di bulan Ramadhan, dan pendapat inilah yang lebih jelas dan populer. Ada pula yang menafsirkan bahwa malam _Lailatul Qadr_ ada pada malam keduapuluh tujuh. Beberapa pendapat tersebut tidak salah dan semuanya mempunyai dalil yang kuat.
Jadi… tunggu apalagi ? Yuk kasih tanda di kalender, kapan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan tahun ini. Ajak keluarga, saudara dan teman untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.
Oya adik-adik, jangan lupa perbanyak doa seperti yang diajarkan Rasulullah saw,

Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah ra berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya aku baca bila bertepatan dengan malam Lailatul Qadar?”Rasulullah bersabda: “Bacalah:
اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

_”Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan menyukai orang yang memohon ampunan, maka ampunilah aku.”_ (HR: At-Tirmidzi 3760, Ibnu Majah 3850, Ahmad VI/171, Al-Hakim I/530 dan An-Nasa’i dalam Amalul Yaum wal Lailah, silahkan lihat Shahih Jami’ At-Tirmidzi).
—————-
Maroji :
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Indahnya Ramadhan di Rumah Kita, DR. Akram Ridha

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala

Fiqih Shalat Witir (Bag. 1)

📆 Selasa,  16 Ramadhan 1437 H / 21 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Fiqih Shalat Witir (Bag. 1)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Definisi*

  Secara bahasa artinya Al ‘Adad Al Fardi (angka ganjil), seperti 1, 3, 5, 7, dst. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/289) .

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لِلهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا لَا يَحْفَظُهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُوَ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ

📌Allah memiliki 99 nama, seratus dikurang satu. Tidak ada yang menghafalnya melainkan dia akan masuk surga. Dia adalah witir (ganjil), menyukai yang ganjil. (HR. Al Bukhari No. 6410, Muslim No. 2677)

 Secara syariat, Shalat Witir adalah:

وهي صلاة تفعل ما بين صلاة العشاء وطلوع الفجر ، تختم بها صلاة الليل ، سميت بذلك لأنها تصلى وترا ، ركعة واحدة ، أو ثلاثا ، أو أكثر ، ولا يجوز جعلها شفعا

📌Dia adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya dan terbitnya fajar, dengannya shalat malam ditutup. Dinamakan witir karena shalatnya dlakukan secara witir (ganjil), 1 rakaat, atau tiga, atau lebih, dan tidak boleh menjadikannya genap. (Al Mausu’ah, 27/289)

Dari definisi ini kita dapat memahami bahwa durasi untuk melaksanakan witir adalah setelah shalat Isya sampai menjelang fajar (subuh).

📚 *Hukumnya*

  Hukumnya sunnah muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan). Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

الوتر سنة مؤكدة حث عليه الرسول صلى الله عليه وسلم ورغب فيه

📌  Shalat witir adalah sunnah muakadah, Rasulullah ﷺ sangat mendorongnya  dan begitu menyukainya. (Fiqhus Sunnah, 1/191)

  Namun, Imam Abu Hanifah mewajibkannya, dan tidak ada ulama yang menyetujuinya. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menceritakan:

وما ذهب إليه أبو حنيفة من وجوب الوتر فمذهب ضعيف. قال ابن المنذر: لا أعلم أحدا وافق أبا حنيفة في هذا.

📌  Apa yang menjadi pendapat Abu Hanifah bahwa witir adalah wajib merupakan pendapat yang lemah. Ibnul Mundzir berkata: “Tidak aku ketahui seorang pun yang sepakat dengan Abu Hanifah dalam hal ini.” (Ibid, 1/192)

  Dengan sanad yang shahih, Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu berkata:

الْوَتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ مِثْلَ الصَّلَاةِ وَلَكِنَّهُ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

📌  Witir bukanlah kewajiban seperti shalat wajib, tetapi itu adalah sunnah yang dibiasakan oleh Rasulullah ﷺ. (HR. At Tirmidzi No. 453, Musnad Ahmad No. 652, 786, 1220)

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Fiqih I’tikaf (Bag. 9)

📆 Senin,  15 Ramadhan 1437 H / 20 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Fiqih I’tikaf (Bag. 9)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📖 *‘Ibrah dari I’tikaf*
  Pelajaran yang bisa kita petik dari I’tikaf adalah:

📌 Menegaskan kembali posisi Masjid sebagai sentral pembinaan umat

📌 Sesibuk apa pun seorang muslim harus menyediakan waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala secara fokus dan totalitas

📌 Hidup di dunia hanya persinggahan untuk menuju keabadian  akhirat

Selesai. Wallahu A’lam wa ilaihi musytaka

📚 *Refensi:*

–  Al Quran Al Karim
–  Shahih Bukhari, karya Imam Al Bukhari
–  Shahih Muslim, karya Imam Muslim
–  Shahih Ibnu Hibban, karya Imam Ibnu Hibban
–  Shahih Ibnu Khuzaimah, karya Imam Ibnu Khuzaimah
–  Sunan Abi Daud, karya Imam Abu Daud
–  Sunan At Tirmidzi. Karya Imam Abu Isa At Tirmidzi
–  Sunan Ibnu Majah, karya Imam Ibnu Majah
–  Sunan Ad Darimi, karya Imam Ad Darimi
–  Musnad Ahmad, karya Imam Ahmad
–  Musnad Abu Ya’la, karya Imam Abu Ya’la Al Maushili
–  As Sunan Al Kubra, karya Imam Al Baihaqi
–  Akhbar Ashbahan, karya Imam Abu Nu’aim
–  Syarhus Sunnah, karya Imam Al Baghawi
–  Syarh Musykilul Atsar, karya Imam Abu Ja’far Ath Thahawi
–  Al Mushannaf, karya Imam Ibnu Abi Syaibah
–  Al Mustadrak ‘Ala Ash Shahihain, karya Imam Al Hakim
–  Al Jami’ Li  Ahkamil Quran, karya Imam Al Qurthubi
–  Fathul Qadir, karya Imam Asy Syaukani
–  Madarik At Tanzil wa Haqaiq At Ta’wil, karya Imam An Nasafi
–  Fathul Bari, karya Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani
–  As Silsilah Ash Shahihah, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani
–  Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, departemen Waqaf Kuwait
–  Fiqhus Sunnah, karya Syaikh Sayyid Sabiq
–  Fiqhul Islami wa Adillatuhu, karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili
–  Syarhul Mumti’, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin
–  Qiyamur Ramadhan, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani
–  Atsarul ‘Ulama fi Tahqiqi Risalatil Masjid, karya Syaikh Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Fikih I’tikaf (Bag. 7)

📆 Ahad,  14 Ramadhan 1437 H / 19 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Fikih I’tikaf (Bag. 7)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Makna Masjid dan Batasannya*

*Secara bahasa (lughah)* masjid adalah:

بَيْتُ الصَّلاَةِ ، وَمَوْضِعُ السُّجُودِ مِنْ بَدَنِ الإِْنْسَانِ وَالْجَمْعُ مَسَاجِدُ

  Rumah untuk shalat, dan tempat sujud bagi badan manusia, jamaknya adalah masajid. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 37/194)

  Sedangkan, *secara istilah* terdapat pendefinisian yang banyak dari para ulama, di antaranya:

 أَنَّهَا الْبُيُوتُ الْمَبْنِيَّةُ لِلصَّلاَةِ فِيهَا لِلَّهِ فَهِيَ خَالِصَةٌ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلِعِبَادَتِهِ

  “Rumah-rumah yang yang dibangun untuk shalat di dalamnya, ikhlas hanya untuk Allah semata dan untuk mengibadahi Nya.” ( *Imam An Nasaf*i, Madarik At Tanzil, 4/1-3. Darl Kutub Al ‘Arabi, Beirut)

وَكُل مَوْضِعٍ يُمْكِنُ أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ فِيهِ وَيُسْجَدَ لَهُ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : جُعِلَتْ لِي الأَْرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

  “Setiap tempat yang memungkinkan di dalamnya untuk menyembah Allah dan bersujud kepadaNya, sebab sabdanya Shallallahu ‘Alaihiwa Sallam: “Dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan suci.”   ( *Imam Al Qurthubi*, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 2/78. Darul Kutub Al Mishriyah)

Berkata *Syaikh Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql* Hafizhahullah, sebagai berikut:

المسجد هو مكان الصلاة للجماعة وللجمعة ، وكل ما اتخذه الناس مصلى فهو مسجد ؛ لأن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال : « وجُعلَت لي الأرض مسجدا وطهورا » ، وإن كان مسمى المسجد صار أخص من سائر الأرض . والمسجد في الإسلام ، وكما كان في عهد النبي -صلى الله عليه وسلم- ليس مكان إقامة الصلاة فحسب ، بل كان منطلق أنشطة كثيرة . . . فكان النبي -صلى الله عليه وسلم- يعقد فيه الاجتماعات ، ويستقبل فيه الوفود ، ويقيم فيه حلق الذكر والعلم والإعلام ، ومنطلق الدعوة والبعوث ، ويبرم فيه كل أمر ذي بال في السلم والحرب . وأول عمل ذي بال بدأه النبي -صلى الله عليه وسلم- حين قدم المدينة مهاجرا أن شرع في بناء المسجد ، وكان النبي -صلى الله عليه وسلم- إذا قدم أن سفر بدأ بالمسجد ، كما ورد في الصحيح .

“Masjid adalah tempat shalat bagi (shalat) jamaah dan shalat jumat, dan setiap tempat yang dijadikan oleh manusia sebagai tempat shalat maka itu adalah masjid.

Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Dijadikan untukku bumi sebagai masjid yang suci.” Sesungguhnya penamaan masjid merupakan sesuatu yang lebih khusus dibanding semua bagian bumi. Dan, masjid dalam Islam, sebagaimana pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukanlah hanya tempat shalat semata, bahkan di sana menjadi titik tolak aktifitas yang banyak …

Dahulu Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengikat (mengadakan) berbagai perkumpulan, menerima utusan, dan mendirikan berbagai halaqah dzikir, ilmu, dan informasi, mengirim da’i dan utusan, memperkuat segala urusan yang terkait hal perdamaian dan perang.

Aktifitas pertama yang dimulai oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika datang hijrah ke Madinah adalah menetapkan pembangunan masjid, dan Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam, jika datang dari berpergian juga mampir ke masjid dulu, sebagaimana diriwayatkan dari hadits shahih.” ( *Syaikh Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql*, Atsarul ‘Ulama fi Tahqiqi Risalatil Masjid, Hal. 12. Mawqi’ Al Islam)

Ada pun yang menjadi batasan masjid telah terjadi perbedaan para ulama, namun pandangan yang lebih mengena adalah ruang apa pun yang padanya jamaah sudah layak melakukan shalat tahiyatul masjid, maka dia termasuk bagian masjid.

Maka, taman masjid, parkiran, ruang perpustakaan, aula yang disewakan, bukanlah termasuk masjid walau mereka di lingkungan sekitar atau area masjid.

Sebab, tempat-tempat ini tidak lazim digunakan untuk tahiyatul masjid, dan biasanya manusia tidak akan berfikir tahiyatul masjid di dalamnya. Sehingga jika mu’takif (orang yang I’tikaf) ke tempat-tempat ini tanpa hajat yang syar’i, maka I’tikafnya terputus.

Wallahu A’lam

🔹Bersambung🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Fikih I’tikaf (Bag. 8)

📆 Sabtu,  13 Ramadhan 1437 H / 18 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Fikih I’tikaf  (Bag. 8)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *_Aktifitas Yang Diperbolehkan Selama I’tikaf_*

  Berikut ini aktifitas yang diperbolehkan selama I’tikaf (diringkas dari Fiqhus Sunnah):

1⃣.  Tawdi’  (melepas keluarga yang mengantar), sebagaimana yang nabi lakukan thdp Shafiyyah

 2⃣.    Menyisir dan mencukur rambut, sebagaimana yang ‘Aisyah lakukan terhadap nabi

4⃣.  Keluar untuk memenuhi hajat manusiawi, seperti buang hajat

4⃣.  Makan, minum, dan tidur ketika I’tikaf di masjid, atau mencuci pakaian, membersihkan najis, dan perbuatan lain yang tidak mungkin dilakukan di masjid.

   Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan shalat jumat bagi yang I’tikafnya di masjid ghairu jami’, antara yang membolehkan dan yang mengatakan batal I’tikafnya. Wallahu A’lam

📚 *_Pembatal-Pembatal I’tikaf_*

  Pembatal-pembatal tersebut antara lain:
1⃣. Secara sengaja Keluar dari masjid tanpa ada keperluan walau sebentar
 2⃣.  Murtad
 3⃣. Hilang akal
 4⃣. Gila
 5⃣. Mabuk
 6⃣. Jima’  (hubungan badan). (Lihat semua dalam Fiqhus Sunnah, 1/481-483)

📚 *_Aktifitas Selama I’tikaf_*

Hendaknya para mu’takifin memanfaatkan waktunya selama I’tikaf untuk aktifitas ketaatan, seperti membaca Al Quran, dzikir dengan kalimat yang ma’tsur,  muhasabah, shalat sunnah mutlak,  boleh saja diselingi dengan kajian ilmu.
Berbincang dengan tema yang membawa manfaat juga tidak mengapa, namun hal itu janganlah menjadi spirit utama. Tidak sedikit orang yang I’tikaf berjumpa kawan lama, akhirnya mereka ngobrol urusan dunianya; nanya kabar, jumlah anak, kerja di mana, dan seterusnya, atau disibukkan oleh SMS, WA, telegram, yang keluar masuk tanpa hajat yang jelas, akhirnya membuatnya lalai dari aktifitas ketaatan.

Syaikh Ibnul Utsaimin Rahimahullah mengomentari hal ini, katanya:

وقوله: «لطاعة الله» اللام هنا للتعليل، أي: أنه لزمه لطاعة الله، لا للانعزال عن الناس، ولا من أجل أن يأتيه أصحابه ورفقاؤه يتحدثون عنده، بل للتفرغ لطاعة الله عزّ وجل.
وبهذا نعرف أن أولئك الذين يعتكفون في المساجد، ثم يأتي إليهم أصحابهم، ويتحدثون بأحاديث لا فائدة منها، فهؤلاء لم يأتوا بروح الاعتكاف؛ لأن روح الاعتكاف أن تمكث في المسجد لطاعة الله ـ عزّ وجل ـ، صحيح أنه يجوز للإنسان أن يتحدث عنده بعض أهله لأجل ليس بكثير كما كان الرسول صلّى الله عليه وسلّم يفعل ذلك

“Perkataannya (untuk ketaatan kepada Allah) huruf Lam di sini adalah untuk menunjukkan sebab (‘ilat- istilahnya lam ta’lil), yaitu bahwa dia menetap di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah, bukan untuk memisahkan diri dari manusia, bukan pula karena ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya, kerabatnya, lalu berbincang dengan mereka, tetapi untuk memfokuskan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Dengan inilah kita tahu bahwa mereka sedang i’tikaf di masjid. Lalu, datang kepada mereka sahabat-sahabat mereka, dan ngobrol dengan tema pembicaraan yang tidak berfaidah, mereka ini datang tidak dengan ruh (spirit) untuk beri’tikaf, karena ruh yang ingin beri’tikaf, berdiamnya di masjid adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar, bahwa manusia boleh saja berbincang kepada sebagian anggota keluarganya  tetapi tidaklah memperbanyaknya, sebagaimana yang dilakukan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Ada pun untuk menuntut ilmu di majelis I’tikaf, beliau berkata:

لا شك أن طلب العلم من طاعة الله، لكن الاعتكاف يكون للطاعات الخاصة، كالصلاة، والذكر، وقراءة القرآن، وما أشبه ذلك، ولا بأس أن يَحضر المعتكف درساً أو درسين في يوم أو ليلة؛ لأن هذا لا يؤثر على الاعتكاف، لكن مجالس العلم إن دامت، وصار يطالع دروسه، ويحضر الجلسات الكثيرة التي تشغله عن العبادة الخاصة، فهذا لا شك أن في اعتكافه نقصاً، ولا أقول إن هذا ينافي الاعتكاف.

“Tidak ragu bahwa menuntut ilmu termasuk ketaatan kepada Allah, tetapi i’tikaf terdapat ketaatan khusus, seperti shalat, dzikir, membaca Al Quran, dan yang serupa itu. Tidak apa-apa mu’takif menghadiri satu pelajaran atau dua dalam sehari atau malam, sebab itu tidak mempengaruhi I’tikafnya, tetapi jika majelis ilmu diadakan terus menerus, akan membuatnya mengkaji materinya, menghadiri berbagai majelis yang memalingkannya dari ibadah khusus, ini tidak ragu lagi membuatMajelis Ilmu Farid Nu’man:
I’tikafnya berkurang, di sini saya tidak katakan menganulir I’tikafnya. (Lihat semua dalam Syarhul Mumti’,  6/163)

🔸Bersambung🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Fikih I’tikaf (Bag. 8)

📆 Sabtu,  13 Ramadhan 1437 H / 18 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Fikih I’tikaf  (Bag. 8)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *_Aktifitas Yang Diperbolehkan Selama I’tikaf_*

  Berikut ini aktifitas yang diperbolehkan selama I’tikaf (diringkas dari Fiqhus Sunnah):

1⃣.  Tawdi’  (melepas keluarga yang mengantar), sebagaimana yang nabi lakukan thdp Shafiyyah

 2⃣.    Menyisir dan mencukur rambut, sebagaimana yang ‘Aisyah lakukan terhadap nabi

4⃣.  Keluar untuk memenuhi hajat manusiawi, seperti buang hajat

4⃣.  Makan, minum, dan tidur ketika I’tikaf di masjid, atau mencuci pakaian, membersihkan najis, dan perbuatan lain yang tidak mungkin dilakukan di masjid.

   Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan shalat jumat bagi yang I’tikafnya di masjid ghairu jami’, antara yang membolehkan dan yang mengatakan batal I’tikafnya. Wallahu A’lam

📚 *_Pembatal-Pembatal I’tikaf_*

  Pembatal-pembatal tersebut antara lain:
1⃣. Secara sengaja Keluar dari masjid tanpa ada keperluan walau sebentar
 2⃣.  Murtad
 3⃣. Hilang akal
 4⃣. Gila
 5⃣. Mabuk
 6⃣. Jima’  (hubungan badan). (Lihat semua dalam Fiqhus Sunnah, 1/481-483)

📚 *_Aktifitas Selama I’tikaf_*

Hendaknya para mu’takifin memanfaatkan waktunya selama I’tikaf untuk aktifitas ketaatan, seperti membaca Al Quran, dzikir dengan kalimat yang ma’tsur,  muhasabah, shalat sunnah mutlak,  boleh saja diselingi dengan kajian ilmu.
Berbincang dengan tema yang membawa manfaat juga tidak mengapa, namun hal itu janganlah menjadi spirit utama. Tidak sedikit orang yang I’tikaf berjumpa kawan lama, akhirnya mereka ngobrol urusan dunianya; nanya kabar, jumlah anak, kerja di mana, dan seterusnya, atau disibukkan oleh SMS, WA, telegram, yang keluar masuk tanpa hajat yang jelas, akhirnya membuatnya lalai dari aktifitas ketaatan.

Syaikh Ibnul Utsaimin Rahimahullah mengomentari hal ini, katanya:

وقوله: «لطاعة الله» اللام هنا للتعليل، أي: أنه لزمه لطاعة الله، لا للانعزال عن الناس، ولا من أجل أن يأتيه أصحابه ورفقاؤه يتحدثون عنده، بل للتفرغ لطاعة الله عزّ وجل.
وبهذا نعرف أن أولئك الذين يعتكفون في المساجد، ثم يأتي إليهم أصحابهم، ويتحدثون بأحاديث لا فائدة منها، فهؤلاء لم يأتوا بروح الاعتكاف؛ لأن روح الاعتكاف أن تمكث في المسجد لطاعة الله ـ عزّ وجل ـ، صحيح أنه يجوز للإنسان أن يتحدث عنده بعض أهله لأجل ليس بكثير كما كان الرسول صلّى الله عليه وسلّم يفعل ذلك

“Perkataannya (untuk ketaatan kepada Allah) huruf Lam di sini adalah untuk menunjukkan sebab (‘ilat- istilahnya lam ta’lil), yaitu bahwa dia menetap di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah, bukan untuk memisahkan diri dari manusia, bukan pula karena ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya, kerabatnya, lalu berbincang dengan mereka, tetapi untuk memfokuskan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Dengan inilah kita tahu bahwa mereka sedang i’tikaf di masjid. Lalu, datang kepada mereka sahabat-sahabat mereka, dan ngobrol dengan tema pembicaraan yang tidak berfaidah, mereka ini datang tidak dengan ruh (spirit) untuk beri’tikaf, karena ruh yang ingin beri’tikaf, berdiamnya di masjid adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar, bahwa manusia boleh saja berbincang kepada sebagian anggota keluarganya  tetapi tidaklah memperbanyaknya, sebagaimana yang dilakukan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Ada pun untuk menuntut ilmu di majelis I’tikaf, beliau berkata:

لا شك أن طلب العلم من طاعة الله، لكن الاعتكاف يكون للطاعات الخاصة، كالصلاة، والذكر، وقراءة القرآن، وما أشبه ذلك، ولا بأس أن يَحضر المعتكف درساً أو درسين في يوم أو ليلة؛ لأن هذا لا يؤثر على الاعتكاف، لكن مجالس العلم إن دامت، وصار يطالع دروسه، ويحضر الجلسات الكثيرة التي تشغله عن العبادة الخاصة، فهذا لا شك أن في اعتكافه نقصاً، ولا أقول إن هذا ينافي الاعتكاف.

“Tidak ragu bahwa menuntut ilmu termasuk ketaatan kepada Allah, tetapi i’tikaf terdapat ketaatan khusus, seperti shalat, dzikir, membaca Al Quran, dan yang serupa itu. Tidak apa-apa mu’takif menghadiri satu pelajaran atau dua dalam sehari atau malam, sebab itu tidak mempengaruhi I’tikafnya, tetapi jika majelis ilmu diadakan terus menerus, akan membuatnya mengkaji materinya, menghadiri berbagai majelis yang memalingkannya dari ibadah khusus, ini tidak ragu lagi membuatMajelis Ilmu Farid Nu’man:
I’tikafnya berkurang, di sini saya tidak katakan menganulir I’tikafnya. (Lihat semua dalam Syarhul Mumti’,  6/163)

🔸Bersambung🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Fikih I’tikaf (Bag. 6)

📆 Jumat,  12 Ramadhan 1437 H / 17 Juni 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 *Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.*

📋 *Fikih I’tikaf (Bag. 6)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Tentang Hadits Todak ada I’tikaf selain di tiga masjid*

❣ *Bunyi hadits:*

لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة

“Tidak ada i’tikaf kecuali pada 3 masjid.” (HR. Ath Thahawi, Syarh Musykilul Atsar No. 2771. Al Baihaqi , 4/316) yaitu masjidil haram, masjid nabawi, dan masjidil aqsha

Syaikh Utsaimin mengatakan: hadits ini dhaif (lemah). (Syarhul Mumti’, 6/164).

Sementara Syaikh Al Albani mengatakan:

و هذا إسناد صحيح على شرط الشيخين

Isnad hadits ini shahih sesuai syarat syaikhain (Bukhari-Muslim). (As Silsilah Ash Shahihah No. 2786)

 Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu memaknai bahwa hadits di atas, hanya mengingkari kesempurnaan I’tikaf saja, tidak sampai mengingkari keabsahan I’tikaf di masjid lain.

 Syaikh Al Albani mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud mentakwil demikian, Katanya:

لا اعتكاف كاملا ، كقوله صلى الله عليه وسلم : ” لا إيمان لمن لا أمانة له ، و لا دين لمن لا عهد له ” و الله أعلم

“I’tikafnya tidak sempurna, sebagaimana Sabdanya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Tidak ada iman bagi yang tidak menjaga amanah, dan tidak beragama bagi yang tidak menepati janji.” Wallahu A’lam (Ibid)

Syaikh Utsaimin Rahimahullah juga memahami demikian, katanya:

إن صح هذا الحديث فالمراد به لا اعتكاف تام، أي أن الاعتكاف في هذه المساجد أتم وأفضل، من الاعتكاف في المساجد الأخرى، كما أن الصلاة فيها أفضل من الصلاة في المساجد الأخرى. ويدل على أنه عام في كل مسجد قوله تعالى: {{وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ}} [البقرة: 187] .فقوله تعالى: {{فِي الْمَسَاجِدِ}} (الـ) هنا للعموم….

Jika hadits ini shahih, maka maksudnya adalah I’tkafnya tidak sempurna, yaitu sesungguhnya I’tikaf di masjid-masjid ini adalah lebih sempurna dan afdhal dibanding I’tikaf di masjid lain sebagaimana shalat di dalamnya lebih afdhal dibanding shalat di masjid lain.

Hal yang menunjukkan bahwa ini berlaku untuk semua masjid adalah firmanNya: (Janganlah kalian mencampuri mereka sedangkan kalian I’tikaf di masjid-masjid), firman Allah fil Masajid (di masjid-masjid), Al (alif lam) di sini menunjukkan umum … (Ibid)

Beliau melanjutkan:

ثم كيف يكون هذا الحكم في كتاب الله للأمة من مشارق الأرض ومغاربها، ثم نقول: لا يصح إلا في المساجد الثلاثة؟! فهذا بعيد أن يكون حكم مذكور على سبيل العموم للأمة الإسلامية، ثم نقول: إن هذه العبادة لا تصح إلا في المساجد الثلاثة، كالطواف لا يصح إلا في المسجد الحرام. فالصواب أنه عام في كل مسجد، لكن لا شك أن الاعتكاف في المساجد الثلاثة أفضل، كما أن الصلاة في المساجد الثلاثة أفضل.

Lalu, bagaimana bisa hukum yang terdapat dalam kitabullah yang berlaku bagi umat di timur dan barat, lalu kita mengatakan kepada mereka: tidak sah kecuali di tiga masjid?

Ini adalah sangat jauh, jika hukum tersebut diterapkan secara umum bagi semua umat Islam. Kemudian kita mengatakan ibadah ini tidak sah kecuali di tiga masjid, seperti thawaf tidak sah kecuali di masjidil haram.

Yang benar adalah bahwa ini berlaku umum pada setiap masjid, tetapi tidak ragu lagi I’tikaf di tiga masjid tersebut lebih utama, sebagaimana shalat di dalamnya lebih utama. (Ibid)

Hanya saja Syaikh Utsaimin menegaskan, bahwa yang disebut masjid adalah yang di dalamnya ditegakkan shalat berjamaah dan shalat Jumat, jika tidak ada shalat Jumat, maka itu bukan masjid.

Dengan kata lain, beliau sebenarnya berada pada kelompok pertama, yaitu hanya membolehkan I’tikaf pada masjid jami’, hanya saja beliau tidak mengistilahkannya dengan masjid jami’

🔹Bersambung🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Masih Mau Jadi Manusia Biasa Saja?

📆Selasa, 16 Ramadhan 1437H/ 21 Juni 2016
📒Shirah
📝
-Ustadz Wido Supraha
-TB Tedyansyah
📚Masih Mau Jadi Manusia Biasa Saja?
🍃🌸🌸🍃🌸🌸🍃🌸🌸🍃
Setiap kali dalam kesempatan saya memberikan pelatihan atau seminar, saya selalu bertanya-tanya kepada setiap peserta dengan ajuan pertanyaan yang sederhana : ‘Maukah kita menjadi manusia-manusia yang biasa saja?’.
Jawaban dari sebagian peserta pelatihan saya pun beragam, ada yang dengan lantang menjawab tidak mau, ada yang diam bahkan ada yang hanya mengangguk-anggukan kepala yang saya pun tidak tahu apa yang ada didalam kepala peserta pelatihan saya tersebut.. hehehe..😀
❓Pertanyaan sederhana diatas memang mampu menggelitik benak setiap siapa pun yang mendengarnya tak terkecuali saya pribadi. Saya pun kadang merenung dan berfikir :
❓❓❓
* Kenapa ALLAH SWT menciptakan saya?
* Apa maksud ALLAH SWT meniupkan ruh kedalam jasad sewaktu berada dikandungan orang tua kita?
* Apa tujuan kita hidup di dunia?
* Mau kemana dan hendak seperti apa kita menjalani hidup di dunia ini?
* Apakah kita akan menjadi manusia-manusia biasa saja? Hanya sekedar lahir, besar, menikah, bekerja lalu mati?
* Apa yang akan dibanggakan dari diri kita?
* Apa hasil karya kita di dunia ini?
❓Ya pertanyaan-pertanyaan tersebut memang butuh perenungan yang mendalam untuk menemukan jawabannya.
Butuh waktu khusus untuk mengurai setiap pertanyaan tersebut dengan jawaban yang akan memuaskan diri kita.
❓Apakah kita akan menjadi orang-orang biasa saja tanpa ada sesuatu yang dapat dikenang atau dapat diceritakan oleh orang lain dari diri kita? Hasil karya apa yang akhirnya setiap orang mengapresiasinya? Kambali lagi kepada kita, kita lah yang memutuskan arah hidup kita.
👳Jika kita berkaca dari generasi-generasi hebat terdahulu, banyak orang-orang besar yang memutuskan bahwa hidup mereka tidak boleh disia-siakan. Hidup ini terlalu berarti jika dihabiskan hanya untuk kesenangan yang bersifat sementara dan tak abadi. Bahkan ‘kesadaran’ tersebut sudah mereka dapatkan semenjak mereka kecil, sebut saja kegigihan yang dijalani oleh Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu,Al-Quran dihafalkan, Hadits/Sunnah pun didalami yang akhirnya beliau menjadi seorang ulama besar.
👳Di generasi lain kita dapat melihat bagaimana hebatnya Muhammad Al-Fatih membentuk dirinya menjadi pejuang sedari muda.Waktu nya dihabiskan untuk menuntut ilmu dan menantang diri nya menjadi mujahid hebat yang akhirnya fakta sejarah bercerita bahwa beliau berhasil membebaskan Konstantinopel dari cengkraman bangsa Romawi.
📖Jika kita bercerita tentang orang-orang hebat tersebut, saya yakin tak akan habis berlembar-lembar kertas untuk menuliskan kisah hebat mereka.
Bagaimana orang-orang tersebut bisa menjadi manusia-manusia luar biasa?. Padahal secara fitrah mereka juga manusia biasa seperti kita yang hidup, menikah, belajar danbergaul dengan orang lain.
Saya pun mencoba mencari jawabannya, mudah-mudahan dengan sedikit tulisan ini, kita semua dapat mencontoh pribadi-pribadi hebat diatas dan mampu menjadi luar biasa,
Mau tau caranya??
Wait, kita tunggu sambungannya 😉🙏
🍃🌸🌸🍃🌸🌸🍃🌸🌸🍃
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
👆�Sebarkan! Raih pahala

Bagaimana Perhitungan Zakat Profesi???

👳Ustadz Menjawab👳
✏Ust. Rikza Maulana Lc.M.Ag

📆Kamis, 17 Juni 2016 M
                  12 Ramadhan 1437H

🌿🌺🍂🍀🌼 🍄🌷🍁🌹

Assalamuallaikum wr wb Ustadz,
Apakah zakat profesi harus dikeluarkan dengan perhitungan :

A. 2.5% × gross income

Atau

B.  2.5%× gross – hutang?

Mungkin memang ada perbedaan pendapat yang boleh di share untuk pengetahuan kami.Jazakumullah khairan katsiran. 🅰0⃣8⃣
       
🌿 Jawabannya  

 و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Zakat dikeluarkan setelah dikurangi hutang.Namun hutang yang dimaksud adalah hutang yg jatuh tempo pada saat tersebut,bukan akumulasi hutang secara keseluruhan. Misal,punya cicilan pembiayaan rumah, perbulan Rp 3 Juta. Maka,dikurangi dulu dari penghasilan brutonya,utk membayar hutangnya. Lalu baru sisanya di kalikan 2,5%.
Wallahu A’lam                        

——————–

🌏Ustadzah Menjawab
✏Ustadzah Ida Faridah, S.Pd.I

🌿🌺🍁🌸🍄🌻🍀🌷🌹

Assalaamu ‘alaikum wrwb…
Mohon materi pencerahan tentang zakat profesi.
Syukron bapak/ibu ustadz/ustadzah..

[A13] ——

JAWABAN:

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Zakat profesi termasuk zakat mal, yaitu al-mal al-mustafaad (kekayaan yg d peroleh oleh seorang muslim melalu bentuk usaha baru yang sesuai dengan syari’at islam). Adapun profesi baru yang d maksud adalah dokter, insinyur, dan pengacara. Para ulama sepakat bahwa harta pendapatan wajib di keluarkan zakatnya apabila mencapai batas nisab. Adapun nisabnya sama dengan nisab uang, dengan kadar zakat 2,5%

Dalam harta profesi ini, para ulama berbeda pendapat dalam hasil pendapatan.

✒Abu Hanifah mengatakan, harta pendapatan itu di keluarkan zakatnya apabila mencapai masa setahun penuh kecuali jika pemiliknya mempunyai harta sejenis. Untuk itu harta penghasilan di keluarkan pada permulaan tahun dengan syarat sudah mencapai batas nisab

✒Imam Malik berpendapat bahwa zakat dari harta penghasilan tidak di keluarkan sampai satu tahun penuh, baik harta itu sejenis dengan harta pemiliknya atau tidak sejenis.

✒Imam Syafe’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa zakat dari harta penghasilan itu di keluarkan bila mencapai waktu satu tahaun meskipun ia memiliki harta sejenis yang sudah cukup nisab.
Wallahu a’lam.

🌿🌺🍁🌸🍄🌻🌼🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…