Setiap Kedzaliman, akan Menjadi Perkara Besar Di Hari Kiamat

๐Ÿ“† Rabu, 27 Rajab 1437 H / 4 Mei 2016 M

๐Ÿ“š MUAMALAH

๐Ÿ“ Ustadz Rikza Maulan, Lc, M.Ag

๐Ÿ“‹ Setiap Kedzaliman, Akan Menjadi Perkara Besar Di Hari Kiamat

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ู…ูŽุธู’ู„ูู…ูŽุฉูŒ ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุญูŽู„ูŽู‘ู„ู’ู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุซูŽู…ูŽู‘ ุฏููŠู†ูŽุงุฑูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฏูุฑู’ู‡ูŽู…ูŒ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุคู’ุฎูŽุฐูŽ ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ู ู…ูู†ู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู‡ู ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูŒ ุฃูุฎูุฐูŽ ู…ูู†ู’ ุณูŽูŠูู‘ุฆูŽุงุชู ุฃูŽุฎููŠู‡ู ููŽุทูุฑูุญูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang berbuat satu kedzaliman kepada saudaranya, maka hendaklah ia meminta untuk dihalalkan.

Karena pada Hari Kiamat kelak, tidak akan bermanfaat (banyaknya) dinar dan dirham.

Dan (pada hari tersebut), setiap kezaliman akan dibalas dengan cara diberikan kebaikan (amal shalehnya) kepada saudaranya (yg didzaliminya).

Jika ia tidak mempunyai kebaikan lagi, maka kejahatan saudaranya (yang didzaliminya) akan diambil dan dipikulkan kepada dirinya.” (HR. Bukhari)

๐Ÿ“šHikmah Hadits :

โฃ1. Pentingnya beramal shaleh dalam hal menjaga hubungan baik, terutama terkait interaksi dengan sesama muslim.

Karena setiap muamalah dengan sesama muslim yang baik, kelak akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat, demikian juga sebaliknya setiap keburukan atau kedzaliman terhadap orang lain, kelak akan dibalas dengan dengan keburukan yang bisa jadi kelak menjadi penghalang besar dalam menggapai keridhaan Allah Swt.

โฃ2. Seperti gambaran perbuatan dzalim dalam hadits di atas, yang harus dibayar oleh pelakunya dengan pahala amal shaleh yang dimilikinya.

Kelak amal shalehnya akan diambil oleh Allah Swt dan diberikan kepada orang yang didzaliminya.

Semakin banyak kedzaliman nya, maka akan semakin banyak pula pahala amal shalehnya yang diambil darinya.

Dan ketika pahala amal shalehnya habis, dan ia tidak lagi bisa membayar kedzalimannya, maka yang terjadi adalah dosa-dosa orang yang didzaliminya akan diambil oleh Allah Swt lalu dipikulkan ke atas pundaknya.

โฃ3. Maka setiap kedzaliman yang telah dilakukan terhadap saudaranya, hendaknya minta dihalalkan.

Apakah kedzaliman terkait hutang piutang, urusan bisnis dan perniagaan, mencederai kehormatan, atau dalam segala urusan lainnya, hendaknya ia menyelesaikannya, atau minta dimaafkan.

Karena setiap muslim terhadap muslim lainnya adalah haram; darahnya, hartanya dan kehormatan nya.

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Tadabbur Surat An-Nabaโ€™

๐Ÿ“† Senin, 2 Sya’ban 1437H / 9 Mei 2016 M
๐Ÿ“š Tadabbur Al-Qur’an

๐Ÿ“ Dr. Saiful Bahri, M.A

๐Ÿ“‹ Tadabbur Surat An-Nabaโ€™

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š  *Mukaddimah: Jawaban Atas Berbagai Keraguan*

 Dalam surat ini Allah lebih banyak menjelaskan tentang hari kebangkitan dan kemudian pembalasan bagi para manusia sesuai amal dan perbuatannya. Hari yang didustakan oleh banyak orang sejak para rasul sebelum Nabi Muhammad _Sholallohu ‘alayhi wa Sallam_  menyampaikannya pada kaum mereka.

Dengan hal inilah Allah menyampaikan pesan dalam surat  _An-Naba’_ (Berita Besar) di awal juz 30. Juz terakhir dari al-Qurโ€™an yang didalamnya terdapat 37 surat. Sebagian besar surat tersebut diturunkan Allah di masa kenabian pertama yang dikenal dengan periode Makkah. Hanya dua saja โ€“yang disepakati oleh para ulama- merupakan surat  _madaniyah_ , yaitu surat al-Zalzalah dan surat An-Nashr yang turun pada periode Madinah.

Surat an-Nabaโ€™ diturunkan setelah surat al-Maโ€™arij([1]). Surat ini memuat sebuah berita besar yang dipertanyakan dan didustakan oleh orang-orang kafir([2]). Yaitu berita tentang hari kiamat yang selalu membuat manusia penasaran dan mencari tahu kapan datangnya([3]).

๐Ÿ“š *Hari Kiamat: Misteri Yang Takkan Pernah Terkuak Waktunya*

            Siapapun orangnya takkan pernah mengetahui kapan tiba masanya hari kiamat; bahkan Nabi Muhammad _Sholallohu ‘alayhi wa Sallam_ sekalipun. Karena itu bila ada yang mengaku-aku mengetahui kapan datangnya hari kiamat, sudah bisa dipastikan bahwa orang tersebut adalah seorang pendusta, hanya pembual yang bermulut besar.

  ๐Ÿ“Œ          _โ€Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahuiโ€_. (QS. 78: 1-5)

            Imam al-Alusy menyebutkan bahwa kata ganti ketiga yang berbentuk plural di sini tanpa didahului penyebutan mereka sebelumnya bisa jadi dimaksudkan untuk menghinakan mereka yang mendustakan hari kiamat. Yaitu orang-orang  _kuffar quraisy_ . Sehingga mereka perlu dihadirkan dalam kesempatan ini. Atau bisa jadi justru merekalah yang meneror kaum muslimin dengan pertanyaan yang bernada penghinaan. Pada hakikatnya mereka bukanlah bertanya, karena sikap mereka sudah sangat jelas. Mendustakan adanya hari kiamat([4]). Apapun maksud mereka Allah sudah menegaskan bahwa penentuan hari kebangkitan sudah dilakukan Allah dan tak seorang makhluk-Nya pun yang mengetahui rahasia tersebut. Tidak juga orang terdekat-Nya, baginda Rasulullah _Sholallohu ‘alayhi wa Sallam_  atau malaikat Jibril

Dengan ini Allah sekaligus mengancam para pendusta tersebut bahwa kelak yang mereka olok-olokkan akan menjadi kenyataan. Cepat atau lambat mereka akan segera mengetahui dan menyesal saat itu. Dan penyesalan seperti ini tidaklah berguna, karena mereka telah menyia-nyiakan kesempatan yang sebelumnya terbuka luas ketika di dunia.

๐Ÿ“š *Tanda-tanda Kekuasaan Allah*

            Sejenak Allah memalingkan pembicaraan tentang hari kebangkitan. Para pendusta itu โ€“khususnya- dan para manusia secara umum melalui Rasulullah dan orang-orang mukmin, diajak berpikir, melihat berbagai fenomena alam yang diciptakan Allah. Dengan pikiran jernih, dapat menghantarkan manusia untuk sampai pada keyakinan kebenaran hari kiamat.

๐Ÿ“Œ            _โ€œBukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Dan kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Dan kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Dan kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), Dan kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, Supaya kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, Dan kebun-kebun yang lebat?โ€_ (QS. 78; 6-16)

Ayat-ayat di atas โ€“sebagaimana tutur Imam Qatadah- merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang sekaligus sebagai pembuka pembicaraan yang lebih serius tentang hari kebangkitan([5]).

Bumi yang terhampar luas ini pada hakikatnya tidaklah seberapa jika dibanding dengan luasnya alam semesta ciptaan Allah. Gunung-gunung yang dipasang sebagai pasaknya kelak akan dicabut bagaikan bulu-bulu ringan. Allah jualah yang menciptakan apapun serba berpasangan. Menjadikan sebuah perbedaan yang bahkan sangat mencolok, menjadi sebuah keserasian. Ia juga yang sanggup menentukan hari kehancuran bagi apa saja.

            Menariknya Allah menyebut tidur sebagai sebuah nikmat istirahat bagi manusia. Sekaligus sebagai tanda hari kebangkitan. Bahwa tidurnya manusia di malam hari bagaikan sebuah kematian. Dan ketika ia terbangun di pagi hari Allah telah membangkitkannya dari sebuah kematian. Maka kelak hari kebangkitan yang sesungguhnya setelah mati juga demikian. Hanya saja tiada yang tahu kapan terjadinya.

๐Ÿ“Œ            _โ€Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakanโ€_. (QS. 6: 60)

Dalam surat al-Anโ€™am ini, Allah menggunakan kata _โ€yatawaffรขkumโ€_ (mematikan kalian), yaitu menidurkan di malam hari. Ibnu al-Anbary mengatakan, โ€œtidur disetarakan seperti kematian karena semua kegiatan manusia terputusโ€ ([6]). Allah juga menjadikan malam seperti halnya pakaian yang menutupi. Karena pada malam hari manusia beristirahat, dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk privasi diri dan tak ingin diketahui oleh orang lain. Sedangkan siang Allah jadikan sebagai waktu bagi manusia untuk beraktivitas. Keduanya berpasangan dan diganti Allah secara bergiliran untuk kepentingan manusia. Siapakah yang menggilir kedua waktu tersebut secara bergantian? Bagaimana seandainya sepanjang waktu menjadi malam yang gelap? Atau menjadi terang selamanya, menjadi siang tanpa malam. Itulah hikmah penciptaan pergantian waktu. Dzat yang mampu melakukannya tentu juga mampu membangkitkan manusia setelah kematiannya.

Dialah sang pencipta tujuh lapis langit tanpa tiang yang berada di atas bumi secara kokoh. Pernahkah manusia membayangkan satu saja dari tujuh lapis langit tersebut terjatuh dan menimpa bumi, tempat manusia berada dan melangsungkan kehidupannya.

Allah juga yang menjadikan pelita sangat terang, yaitu matahari. Tanpa pernah padam sejenak pun. Semua manusia merasakannya dengan kadar yang berbeda-beda. Semua telah di tentukan Allah sehingga sesuai untuk manusia. Pernahkah kita bayangkan seandainya jarak antara matahari dan bumi tempat kita berada dijauhkan Allah sedikit saja. Mungkin dunia ini akan segera membeku kedinginan. Atau sebaliknya jaraknya didekatkan sedikit saja, maka semua yang ada di bumi akan terbakar kepanasan. Dzat yang sangat detil memperhitungkan hal tersebut tentu saja mudah dalam membangkitkan makhluk-Nya setelah kematian.

Allah juga yang menurunkan dari awan-awan yang membawa air menjadi hujan yang mengguyur bumi. Dari air yang satu itu kemudian diterima oleh tanah yang bermacam-macam jenisnya. Dari sana kemudian tumbuh berbagai jenis biji-bijian dan tumbuhan yang macamnya sangat beragam dan sangat banyak, sebagian diantaranya menjadi perkebunan dan taman-taman yang indah dan lebat. Dan setiap waktu selalu saja ditemukan jenis tanaman dan tumbuhan baru. Semuanya berasal dari satu jenis air. Yaitu air dari awan. Dzat yang bisa melakukannya tentu saja mampu membangkitkan manusia setelah kebinasaannya.

๐Ÿ“š *Hari yang Ditunggu-Tunggu*
๐Ÿ”นBersambung๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Cinta (bag-2)

๐Ÿ“† Sabtu, 30 Rajab 1437H / 7 Mei 2016

๐Ÿ“š KELUARGA

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha

๐Ÿ“‹ CINTA ( bag-2)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒฟ

Bag-1 http://www.iman-islam.com/2016/05/cinta-bag-1.html?m=1

๐Ÿ”†Seorang ulama besar yang lahir di Bashrah pada pertengahan tahun ke-2 abad ke-2 Hijriyah, Al-Imam Abu โ€˜Abdullah al-Harits bin Asad al-Muhasibi (wafat 243 H), memiliki wawasan yang luas dan keilmuan mendalam di bidang fikih, hadits, sekaligus seorang ahli kalam yang meninggalkan karya tulis dengan jumlah yang sangat banyak membahas tentang zuhud, akhlak, pendidikan dan kelembutan hati (ar-raqaโ€™iq), sehingga ia pun dijuliki dengan al-Muhasibi karena banyaknya ber-muhasabah(introspeksi diri), menulis bahwa sesungguhnya permulaan cinta adalah taโ€™at, dan taโ€™at itu terlahir dari cinta kepada Allah Jalla wa โ€˜Ala, karena Dialah yang memulai hal tersebut, dan karena Dia memperkenalkan diriNya kepada mereka, menunjukkan kepada mereka untuk menaati-Nya, dan memperlihatkan kasih sayang kepada mereka dengan mencukupi mereka. Lalu Dia menjadikan kecintaan terhadap diri-Nya itu sebagai titipan dalam hati para pecinta-Nya, kemudian Dia memakaikan mereka cahaya yang terang dalam lafazh-lafazh mereka karena kuatnya cahaya kecintaan-Nya dalam hati mereka. Ketika Allah melakukan hal tersebut kepada mereka, Dia memperlihatkan mereka โ€“ sebagai bentuk kegembiraan pada mereka, kepada para malaikatnya, hingga seluruh penduduk langitpun mencintai mereka. [5]

Lebih lanjut, Abu โ€˜Abdullah al-Muhasibi berkata bahwa yang paling memberikan manfaat bagi seorang mukmin untuk mengobati diri dalam urusan agamanya adalah memutus rasa cintanya terhadap dunia dari hatinya. Apabila dia melakukan itu, maka ringan untuk meninggalkan dunia[6], dan mudah untuk menggapai akhirat, namun dia tidak dapat berada di atas keadaan tersebut kecuali dengan berbagai perlengkapannya. Yang menjadi pangkal perlengkapannya adalah pikiran, pendek angan-angan, mengulangi tobat dan kesucian, mengeluarkan rasa mulia dalam hati, senantiasa bersikap rendah hati, membangun hati dengan ketakwaan, mengekalkan kesedihan dan banyaknya kegelisahan yang datang padanya. Betapa banyak orang yang beramal dengan amal yang telah dipaparkannya sementara kecintaannya terhadap dunia dalam hatinya pun bertambah, dan banyak orang yang tidak memperbanyak amal-amal tersebut, namun cintanya kepada dunia semakin berkurang, karena dia mengambilnya melalui jalannya. Maka di dalam Adab an-Nufus (hlm. 136) beliau mengatakan, โ€œKarena sesungguhnya hati yang disertai dengan berpikir akan menjadi hidup jika memikirkan akhirat, dan akan menjadi mati jika memikirkan dunia.โ€

๐Ÿ”†Seorang ulama fikih bermadzhab Hambali yang juga seorang penasihat, ahli tafsir, ahli hadits dan budayawan yang digelari Jamaluddin (Keindahan Agama) yang bernama Abul al-Faraj, Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali al-Qurasyi at-Taimi al-Bakri (lahir 511 H, wafat 597M), atau ia juga dikenal dengan nama Ibn al-Jauzi (panggilan yang dinisbatkan pada salah satu kakeknya yang dikenal dengan al-Jauzi karena menjualjauzah (jenis buah di daerahnya) pernah berkata, โ€œBersihkanlah hatimu dari berbagai kotoran karena cinta itu tidak akan diberikan kecuali dalam hati yang bersih. Apakah kamu tidak melihat seorang petani memilih tanah yang baik, menyiraminya dan mengairinya, kemudian membajaknya dan mengawasinya. Setiap dia menemukan batu di dalamnya, maka dia akan melemparkannya, dan setiap dia melihat yang dapat merusak tanahnya, maka dia menyingkirkannya, kemudia dia menaburkan benih ke dalamnya dan menjaganya dari berbagai hal yang dapat merusaknya. Begitu pula dengan Allah Jalla wa โ€˜Ala.โ€

Lebih lanjut beliau berkata, โ€œJika seorang hamba ingin dicintai oleh-Nya, maka hendaknya dia memangkas berbagai duri kesyirikan dari hatinya, lalu membersihkannya dari kotoran-kotoran riya dan keraguan, kemudian menyiraminya dengan air tobat daninabah, lalu membajaknya dengan seretan rasa takut dan ikhlas, lalu menyamakan batin dan zhahirnya dalam ketakwaan, kemudian meletakkan benih hidayah di dalamnya, maka berbuahlah benih-benih cinta.โ€ [7]

๐Ÿ”†Berkata al-Muhaqqiq al-Hafizh Syamsuddin Abu โ€˜Abdullah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Saโ€™d bin Harits az-Zarโ€™i ad-Dimasqy yang terkenal dengan Ibn Qayyim al-Jauziyyah (lahir 691 H, wafat 751 H, namanya dinisbatkan kepada sekolah yang didirikan oleh Yusuf bin Abdurrahman al-Jauzi karena ayahnya turut mendirikannya), โ€œSetiap kesalahan yang terjadi di jagat raya ini, pangkalnya adalah cinta dunia. Janganlah engkau melupakan kesalahan kedua nenek moyang kita dahulu, karena sebabnya adalah cinta kekekalan di dunia. Janganlah engkau melupakan dosa iblis, karena sebabnya adalah cinta kepada kekuasaan, yang rasa cintanya lebih buruk daripada cinta dunia. Dengan sebab itu pula Firโ€™aun, Haman serta bala tentaranya, Abu Jahal serta kaumnya dan bangsa Yahudi menjadi kufur.โ€

Lebih lanjut beliau berkata, โ€œCinta dunia dan kepemimpinan yang menyebabkan manusia masuk ke dalam neraka, sedangkan zuhud terhadap dunia dan kekuasaan yang menyebabkan manusia masuk ke dalam surga. Mabuk sebab cinta dunia lebih berbahaya dibandingkan mabuk meminum khamr. Pemabuk cinta dunia tidak akan sadar hingga dia berada dalam kegelapan liang lahat. Anda saja penutupnya dibuka dalam memandang dunia, maka dia pasti mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah kemabukan, dan itu lebih berbahaya dibandingkan mabuk khamr.โ€ [8]

โœ… Maka marilah kita hadirkan cinta dalam seluruh kerja-kerja besar kita agar melahirkan harmoni. Cinta yang tidak bertujuan duniawi akan tetapi ukhrawi, karena hanya cinta seperti ini yang akan melahirkan energi besar untuk berkarya di dunia, karena hanya di dunia tempat bertanam cinta untuk merasakan semaiannya kelak.

[1] Persis seperti judul sebuah buku yang ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim

[2] Shalih Ahmad asy-Syami, Nasihat Ulama Salaf, hlm. 133

[3] Ibid, hlm. 139

[4] Ibn Jauzi, Al-Hasan al-Bashri, hlm. 38-39

[5] Tahdzib Hilyah al-Auliya (3/273)

[6] Maksudnya meninggalkan ketamakan terhadap harta dunia, dan menjadikannya hanya sebagai perantara dan bukanlah sebuah tujuan

[7] Lihat al-Yawaqit al-Jauziyah fi al-Mawaโ€™izh an-Nabawiyah, tahqiq Sayyid bin Abdul Maqshud, Muassasah al-Kutub ats-Tsaqafiyah (hlm. 139)

[8] Lihat Iddatush Shabirin, cetakan Darul Kitab al-Arabi (hlm. 266)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kesungguhan Menghadapi Ramadhan

๐Ÿ“† Jumat, 29 Rajab 1437H / 6 Mei 2016

๐Ÿ“š MOTIVASI

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. Umar Hidayat M. Ag.

๐Ÿ“ Kesungguhan Menghadapi Ramadhan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ’ŽKita adalah para pemburu surga sekaligus buronan neraka. Maka sungguh teramat menakjubkan jika masih bias bersantai, bermalas dalam keinsyafan atasnya. ๐Ÿ’Ž
(Imam Asy-Syafii)

๐ŸŒทKetika kita menyambut untaian kata itu dengan bisikan halus dalam hati, “Ah.. itu kan Imam Asy Syafii. Ya iyalah, pantas. “
Lalu akal kita menyambut nya,
“Coba kalau Imam Asy Syafii hidup di zaman sekarang. Mungkin lain ceritanya. “

๐ŸŒตMasya Allah. Subhanallah. Astaghfirullah.

Kesadaran yang sesat dan tersesatkan. Engkau letakan di bagian mana Allah dalam hatimu.. ?
Naudzubillah stumma naudzubillah.

๐ŸŒทAl-Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : Barangsiapa yang memperbaiki batinnya, maka akan tersebarlah keutamaannya yang banyak dan hati akan terus menebarkan kebaikannya.

๐ŸŒตMaka hati-hatilah, jagalah batin kalian, karena jika batin telah rusak maka tidak akan bermanfaat lagi kebaikan amaliah yang tampak. (Shaidul Khathir I/206).

Berbincang tentang kesungguhan, kita harus memulai dari hati.

๐ŸŒทHai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.  (Qs. Al Baqarah ayat 183)

๐ŸŒตSetiap puasa Ramadhan datang setiap kita berbanyak ibadah mencari ridlo Allah dan puncaknya berharap mendapatkan ketaqwaan, sebagai tujuan puasa kita.

๐ŸŒทMari sejenak berhitung untuk membandingkan puasa kita. Tentang keseriusan kita mendapatkan puncak pengalaman (peak experience) spiritual, yakni taqwa.

๐ŸŒตMaka dalam persoalan ini, sungguh rasa mendalam begitu malu bila puasa kita disandingkan dengan makhluk Allah yang bernama hewan.

๐ŸŒทUmur kita sudah 40 th (ups.ada yang lebih muda yah). Lalu dikurangi masa baligh 15 th, maka kita sudah bertemu dengan puasa Ramadhan 25 kali.
Atau 25 x 30 hari = 750 hari.

๐ŸŒตJika diukur secara kuantitas kita kalah dengan puasanya hewan.

๐Ÿ”นAyam betina hanya dengan 21 hari telah sampai puncak kejayaannya menetaskan telur-telurnya. dan selama itupula seluruh potensinya berpuasa bahkan tidak kemana-mana, dikerahkan semata-mata menetaskan telur.

๐Ÿ”นUlar hanya butuh 21-40 hari dapat sampai pada titik pembaharuan ke awal kehidupannya.

๐Ÿ”นUlat cukup 14-16 hari berpuasa melakukan metamorphosis menjadi kupu-kupu nan indah yang dikagumi manusia.

๐ŸŒทCoba kita sudah berpuasa Ramadhan berapa kali?
Apa yang telah kita hasilkan dari puasa?
Sudahkah kita mencapai puncak pengalaman spiritual sebentuk taqwa?
Maka hendak mengatakan apa kita semua& dihadapan Allah kelak????

๐ŸŒตMaka apakah puasa Ramadan kita selama ini sungguh karena (perintah) Allah, atau hanya karena ia sudah menjadi tradisi (yang begitu kuat terinternalisasi sejak kita kanak-kanak)???

๐ŸŒทSeperti layaknya anak sekolah tidak mau bolos sekolah, karena sejak PAUD kita diajarkan untuk selalu masuk sekolah?

๐ŸŒตAtau bahkan seperti otomatis ritmik kehidupan bangun tidur lalu mandi, karena sejak TK diajarkan lagu bangun tidur kuterus mandi? entahlah..

๐ŸŒทNah ini dia bila itu semua sungguh terjadi. Tak salahlah kita melihat disebagian kaum Muslimin yang seakan berpuasa tapi tidak lebih dari sekedar kebiasaan.

๐ŸŒตMaka ada seseorang yang tetap berpuasa padahal ia asyik menggosip atau menggunjingkan orang, teman, atau ‘ngrasani’ dalam bathin mbatin.

๐ŸŒทMereka akan tetap bukber, tarawih, dan mengaji tiap malam, sahur dan berpuasa hingga magrib, walau mata dan telinganya melihat dan mendengar hal tak senonoh, pikiran kita mengotori akal sehat, bahkan mengutil rezeki orang lain hingga mencuri uang negara alias korupsi, lalu mendermakan sebagian kecilnya untuk infak, zakat, sumbangan masjid, panti asuhan, atau sekadar takjil gratis. Masya Allah.

๐Ÿ”นApa makna puasa bagi kita dan mereka?
๐Ÿ”นApa kesungguhan yang telah kita siapkan (targhib)?

๐ŸŒทMari Temukan Kesungguhan Diri Dalam Ramadhan-NYA.

Tentang kesungguhan (jiddiyah). Syekh Abdullah Al Azzam pernah memberikan contoh tentang istilah semampunya (mastato’tum) yang mencerminkan sepenuh-penuh kesungguh an.
Semampunya yang merupakan daya upaya yang kita kerjakan sampai Allah sendiri yang menghentikannya.

๐ŸŒตSuatu ketika sang syekh ditanya oleh seorang muridnya, โ€œYa syekh apa yang dimaksud dengan semampumu (mastato’tum). Syekh pun membawa muridnya kelapangan dan meminta mereka mengelilingi lapangan semampu mereka.
Startnya sama tapi finish dan jumlah putaran masing-masing berbeda.

๐ŸŒทAda yang 3 kali putaran sudah kecapean dan menyerah ada yang lebih dari itu. Setelah muridnya sudah menepi untuk istirahat. Syekh pun gantian berlari.

๐ŸŒตPara murid pun kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua lari mengelilingi lapangan, mereka berupaya menahan apa yang akan dilakukan syekh tapi tidak berhasil. Sang murid sudah melihat muka syeikhnya pucat pasi tanda kelelahan tapi sang murid hanya bisa berteriak dan memohon, Yaa syekh cukup!!!!,โ€  Saya tidak tega melihat yang syekh lakukan. Saya takut terjadi apa-apa sama syekh. โ€œHentikan syekh……Hentikan syekh.

๐ŸŒทTapi syekh Abdullah al-azzam terus berlari dan pada akhirnya syekh pun jatuh pingsan. Para muridnya tambah panik dan berusaha membuat syekh Abdullah al-azzam terbangun.

Beliau pun akhirnya siuman dan sadar. Beliau langsung mengatakan..
๐Ÿ’ŽInilah yang dinamakan semampu kita (mastato’ tum).
Kita berusaha maksimal sampai Allah sendiri yang akan menghentikan perjuangan kita.๐Ÿ’Ž

Subhanallah.Allahu akbar

๐ŸŒทPuasa Ramadhan itu taklif (beban). Sejarah puasa ramadhan pertama kali dilakukan Rasulullah pada 2 hijriyah.

๐ŸŒตPerintah puasa ini diturunkan, QS. 2:183, setelah 15 tahun lamanya Rasulullah mendakwahkan Islam ini. 13 di Makah 2 th di Madinah. 15 tahun Rasul menyiapkan iman yang luar biasa. Karena itu QS. 2:183 dimulai dengan kalimat , tidak langsung  Ini mengandung pelajaran yang sangat mahal bagi kita, bahwa 15 tahun Rasulullah menyiapkan iman yang mendewasa bagi para sahabatnya, sehingga siap menerima syariat. Taklif. Beban.

Sehingga saat dipanggil langsung nyaut (istijabah Al Fauriyah/ istijabah littanfidz; merespon dengan segera). Dan hasilnya elok menakjubkan.

๐ŸŒทBagaimana dengan kita???

๐Ÿ”นBersambung hari Ahad insya Allah๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

BERSEGERA DALAM DAKWAH

๐Ÿ“† Jumat, 29 Rajab 1437H / 6 Mei 2016

๐Ÿ“š DAKWAH ISLAM

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. Imantoko Riyanto

๐Ÿ“ BERSEGERA DALAM DAKWAH

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐ŸƒSetiap umat yang ingin hancur dan roboh pilar-pilarnya, hilang pengaruhnya, hilang eksistensinya pasti berawal dari diamnya para daโ€™inya, lirih suaranya, rancu risalahnya, kehilangan tujuan utamanya, hancur peninggalannya.

๐ŸDan umat manapun yang ingin naik dan tinggi maka harus memahami kebenaran daโ€™wahnya, kesucian tujuan utamanya, keagungan risalahnya, para daโ€™inya memiliki titik tolak di muka bumi untuk membangun pilar dan daโ€™wahnya, memiliki suara bergaung, dan syiโ€™ar (slogan) yang bergema, para daโ€™i yang vokal, mulut yang lancar bicara, pena yang lancar menulis, informasi yang merata, propaganda yang menguasai telinga, pemikiran yang menguasi akal fikiran, pengetahuan yang mengendalikan akal dan pemahaman.

๐ŸƒSetiap umat yang ingin kekal, abadi dan berkelanjutan maka ia harus mampu memperbaharui diri, menghidupkan nilai idealismenya, membersihkan langkah-langkahnya, memperbaiki bengkokan-bengkokannya.

๐ŸHarus cerdas mendeteksi penyakit-penynakitnya, mencari obat kesembuhan nya. Menjaga dan melindungi fisiknya dari hal-hal yang membahayakan dan membinasakan.

๐ŸƒHal ini semua tidak akan ada kecuali jika umat ini memiliki sistem yang lurus dan kuat, para daโ€™i yang ikhlas, terlatih, faham, mengimani risalah dan ghayah (tujuan utamanya).

๐ŸUmat Islam adalah umat risalah, umat daโ€™wah. Datang dengan tujuan, ada karena ada sasaran dalam hidup ini.

๐ŸƒUmat ini pernah dipimpin oleh Rasulullah yang diutus untuk membawa rahmat bagi alam semesta, membawa cahaya penerang bagi mereka yang tersesat dalam kebingungan.

๐ŸDaโ€™wah dalam umat tidak hanya menjadi amalan sunnah tetapi menjadi landasan utama risalahnya, salah satu pilar dalam membina masyarakat muslim, membersihkannya, dan meluruskannya pertama kali, sebelum menjadi penuntun dan pembimbing, merahmati dan membahagiakan alam semesta.

๐Ÿ’Ž”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” ๐Ÿ’Ž
QS. Ali Imran: 110

๐ŸƒTidak diragukan lagi bahwa daโ€™wah kepada Allah, amar maโ€™ruf nahi munkar adalah sisi utama dalam agama, tugas penting utusan Allah yang menjadi penutup para nabi dan rasul, dan jika tidak karena daโ€™wah maka hilanglah tujuan risalah, dan hangus tujuan pengangkatannya, kehancuran menyebar luas, kesesatan merata di mana-mana, kebaikan dan kebenaran terhalang.

๐ŸSesungguhnya seorang daโ€™i ketika melaksanakan risalahnya, komitmen dengannya, berjanji kepada Allah untuk mengamalkannya, akan diminta pertanggung jawaban dari banyak hal, dari janjinya, ilmunya tentang apa yang dilakukan orang-orang yang tergelincir menjadi pengikut kebatilan.

๐ŸƒDari itulah kewajiban daโ€™wah atas para faqihin (yang faham) dan mengetahui kesalahan umatnya menjadi suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar bagi kebangkitan umat yang memiliki risalah.

๐ŸMaka ketika para daโ€™i mengkhianati amanahnya, para faqihin tidak berperan dalam umatnya, maka ini pertanda buruk bagi kehidupan dan masyarakat.

๐ŸƒUmat Islam adalah umat risalah, umat daโ€™wah, maka tidak ada manfaatnya tanpa menunaikan risalahnya, tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan tanpa daโ€™wah. Dari itulah umat ini sejak dahulu sampai hari ini menjadi yang terdepan dalam mengajarkan kebaikan dan nilai kemuliaan. Dan yang sudah terbiasa bahwa keimanan akan menghindar dari kemunkaran, melawan dosa.

๐ŸUmat ini menghabiskan hidupnya untuk risalah itu, mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membebaskan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju ke cahaya Islam.

๐ŸƒMelakukan perbuatan munkar adalah kehinaan dan lemah kepribadian, jauh dari istiqamah, merendahkan diri sendiri, membuat manusia bertentangan dengan fitrahnya sendiri, membunuh kehormatannya.

๐ŸPerbuatan maksiat, dosa dan pelanggaran kadang terjadi di suatu masyarakat, kadang menjadi kebiasaan orang-orang jahat, perusak dan menyimpang.
Bumi ini tidak akan pernah sepi dari keburukan, dan masyarakat tidak akan pernah sepi dari keanehan.

๐ŸƒAkan tetapi karakter
masyarakat shalih tidak memberikan ruang bagi keburukan dan kemunkaran untuk menjadi kebiasaan, gaya hidup dan perbuatan yang mudah dikerjakan siapa saja.

๐ŸMasyarakat shalih akan menjadi benteng kuat di hadapan kerusakan, penyimpangan, kejahatan dengan memberikan hukuman, peringatan, dan penolakan. Ketika itulah keburukan akan menyingkir, pendorongnya akan merugi.

๐ŸƒMasyarakat akan semakin solid sehingga tidak bisa ditembus celahnya.

๐ŸOrang-orang atau umat yang sehari-hari hidup dengan kemunkaran, merasa nyaman dengannya, meridhai manhajnya, sudah tidak ada masalah dengannya, ia telah menutupi hatinya, meracuni fikirannya, kehinaan telah menelannya sepotong-sepotong, sehingga menjadi habitatnya, dan tidak merasa ada apa-apa dengan keberadaan dan hegomoninya, maka dengan itu ia tidak akan mampu menyuruh yang baik dan mencegah yang buruk, sebab seleranya telah berubah, hilang petunjuk, cahaya, pertolongan dan ridha Allah.

โฃAkhi fillah…

๐ŸƒKita telah melihat kerusakan yang dahsyat akhir-akhir ini. Keburukan demi keburukan silih berganti didendangkan, dipertontonkan dan diperjual belikan bahkan sebagian gratis didistribusikan.

๐ŸBangsa ini, tanah yang kita berpijak diatasnya, telah begitu sesak dengan sampah peradaban. Airnya keruh dan membahayakan karena asam kejahatan menumpuk, mengotorinya.
Udaranya menyesakkan dengan aneka kesesatan yang menyebar, mematikan.

โฃWahai para daโ€™i, yang telah menginfakkan diri, hidupkan malam dan bersegeralah menyambut seruan.

๐ŸƒTidak ada pilihan lain kecuali bersegera. Jadilah dari bagian yang sedikit, yakni mereka yang senantiasa menunggu janji Rabb semesta alam.

๐ŸTerlalu kecil jika kita berharap pada yang fana dan meninggalkan bahagia yang tak berbatas.

๐Ÿ’ŽAtas nama cinta, mari kita datangi manusia. Di jalan dakwah yang bertaburan berkah kita harus bertahan.
Dan tiadalah akhir dari semuanya kecuali hari raya yang setiap hari, di kampung akherat yang abadi.

Akhukum fillah…

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Bolehkah Menghadiri Pernikahan Teman Yang Hamil Diluar Nikah ?

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB ๐Ÿ‘ณ
โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S

๐Ÿ“†Kamis, 05 Mei 2016 M
                  28 Rajab 1437H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒบ๐ŸŒธ๐Ÿ

Assalamualaikum ustadz/ah…
saya punya teman,hamil di luar nikah, setelah 4 bulan baru menikah, nah bagaimana hukumnya kita menghadiri pernikahan tersebut? Bukan kah sama saja kita memberi restu ia hamil di luar nikah karena menghadiri pernikahannya? Sedangkan kita pun baru tau beberapa hari sebelum nikah dan kami datang ke pernikahannya, mohon pencerahannya ust..

๐Ÿ’กJawaban๐Ÿ’ก
=============

Bismillah wal hamdulillah ..

Tentang sah atau tidak pernikahan wanita yang sudah hamil duluan, para ulama berbeda pendapat. Antara yang membolehkan seperti Imam Asy Syafiโ€™i dan Imam Abu Hanifah, dan ada yang melarang dan tidak sah, seperti Imam Malik dan Imam Ahmad.  Selengkapnya lihat tulisan saya di:
http://www.dakwatuna.com/2014/11/26/60687/hukum-menikahi-wanita-hamil/#axzz47eoc4Gqc

Sehingga hal ini berdampak pada hukum menghadiri pernikahannya. Bagi yang menyatakan boleh, tentu boleh pula menghadiri pernikahannya. Sebaliknya, pihak yang melarang tentu melarang pula menghadirinya, sebab itu sama juga menghadiri pernikahan yang tidak sah dan  meridhai perzinahan.

Pilihan bijak nampaknya adalah sikap yang paling minim melahirkan fitnah. Silahkan dikalkulasi sendiri, ditimbang-timbang, sebab masing-masing kasus, keuarga, dan masyarakat tidak sama.

Jika memang TIDAK DATANG melahirkan permusuhan, maka lebih baik datang. Jika TIDAK DATANG tidak berdampak apa-apa, baik-baik saja, maka silahkan tidak datang.
Wallahu Aโ€™lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Tiga Kali Khutbah dalam Dua Hari, Di Tempat Tempat Berbahaya

๐Ÿ“† Kamis, 28 Rajab 1437H / 5 Mei 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Tiga Kali Khutbah dalam Dua Hari, Di Tempat-tempat Berbahaya

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Sultan Mehmed II Ingin Selalu Berada Ditengah Balatentaranya

Catatan Awal April, Antara Tahun 2016 dan 1453

Ada tiga kejadian besar dua-tiga hari kemarin, 9-10 April. Namun utk mengaksesnya kita perlu menengok bilangan tahun 1453. Memang sudah berselang 563 tahun yang lalu, namun apa yang dilakukan oleh Sultan Mehmed II masih menggelora dalam catatan pecinta sejarah. Sultan generasi ketujuh khilafah Turki Utsmani ini menggelar tiga khutbah dalam dua hari di tiga tempat berbahaya.

โ›ตPertama, sultan belia yang baru ditinggal wafat ayahnya 2 tahun silam harus mengumpulkan segenap kekuatan diri untuk membakar semangat para pelautnya di dermaga Diplokionion. Sebuah pelabuhan yang tidak begitu jauh dari koloni Galata; masih dalam jangkauan para assassin Genoa yang tersohor ฤฑtu.

Di tempat berbahaya itu, Sultan Mehmed II melepas mereka berlayar dengan 100 kapal perang menuju muara Haliรง (“teluk” dalam bahasa Arab –  khalij).  Sebuah akses laut strategis yang memisahkan antara kota Constantinople dan koloni Galata. Para pejuang laut Turki Utsmani itu dipimpin oleh nakhoda BaltaoฤŸlu dengan sasaran memutus rantai laut yang membentang menghalangi jalur masuk menuju Haliรง, populer dikenal sebagai “Tanduk Emas” atau “Golden Horn.” Jika Rantai itu berhasil diputus maka kota Konstantinopel diperkirakan akan lebih mudah jatuh.

๐Ÿ”†Lesson #1: strategi yang biasa-biasa saja jika dieksekusi dengan kecepatan yang luar biasa akan manjur paling tidak dalam dua hal; menguras energi lawan dan menutupi strategi andalan sebenarnya.

๐Ÿ‡๐Ÿฟ Kedua, kemudian sultan yang gemar berkuda perang sejak kecil ini bergerak cepat di atas tunggangannya menaiki bukit di sebelah barat Selat Bosphorus. Ia menyempatkan untuk menyemangati unit zeni yang sedang berjuang memindahkan kanon melalui pinggir lereng-lereng yg curam. Sebuah wilayah pebukitan lagi berhutan lebat yang belum sepenuhnya steril dari para pemburu Byzantium yang disegani ketepatan panah jarak jauhnya.

Di tempat berbahaya itu, Sultan Mehmed II menitipkan belasan kanon Urbanus ukuran sedang kepada panglima Zaganos PaลŸa. Kepadanya dipundakkan sasaran merebut benteng Byzantium di Therapia untuk menggenapkan “cekikan” atas kota Konstantinopel. Jatuhnya benteng ini bakal menutup semua akses lawan ke arah utara.

๐Ÿ”†Lesson #2: lewati rute dan prosedur yang tidak biasa, maka hasilnya bisa luar biasa; ketidak-terdugaan adalah ancaman yang dibenci lawan.

๐Ÿ‡๐Ÿฟ Ketiga, setelah itu sultan penghapal al-Qur’an sejak usia 12 tahun ini mengendarai kudanya sepanjang malam dan menyeberangi Haliรง dekat titik hulunya. Beliau harus kembali ke tenda kesultanan di Bukit Maltepe sebelum waktu subuh. Sultan Mehmed II ingin subuh berjamaah dengan kesatuan bengkel dan perbaikan Turki Utsmani. Tempat di garis belakang, namun zonanya berhadapan langsung dengan gerbang Santo Romanus yang dipadati oleh sniper bayaran Byzantium.

Di tempat ini ia merasa akrab karena ia dapat menyaksikan langsung perbaikan atas kanon-kanon Urbanus terbesarnya. Sultan Mehmed II amat menyukai teknologi terapan dan untuk itu ia langsung turun tangan. Khutbahnya kini lebih berupa tindakan daripada kata-kata. Beberapa kanon dirombak ulang untuk mendapatkan kaliber yang lebih kecil namun diharapkan meningkat frekuensi tembaknya. Hal ini sejalan dengan catatan beliau untuk mengatasi sigapnya zeni konstruksi Byzantium dalam memperbaiki benteng kota. sudah diperbaiki dan diposisikan ulang.

๐Ÿ”†Lesson #3: beradaptasilah dalam kesunyian, maka ia dapat melonjakkan daya saing dalam keramaian.

Bagian Ketiga, Latuftahanna
Menyongsong Napak Tilas Fatih, 22-31 Mei 2016
Royal Indonesia Travel

Menjelang waktu dhuha,
Jakarta, 11 April 2016
Agung Waspodo

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Sujud Kepada Manusia, Bolehkah???

๐Ÿ“†Rabu, 04 Mei 2016 M
                27 Rajab 1437 H

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab๐Ÿ‘ณ
โœ’Ust Farid Nu’man Hasan
===================
๐ŸŒบโ˜˜๐ŸŒธ๐Ÿ€๐Ÿ‚๐Ÿ๐ŸŒน๐Ÿƒ

Pertanyaan
 Assalamu’alaikum wr wb.
Afwan. Ana mau bertanya; apakah boleh seorg muslim bersujud kepada muslim lain dalam rangka penghormatan (bukan dalam rangka menyembah)? Mhn penjelasannya. Syukran
Wassalamu’alaikum wr wb

๐Ÿ’กJawaban๐Ÿ’ก
============
Wa’alaikumussalam wr wb, tdk boleh, walau bukan dalam rngka menyembah. Sebab nabi melarang seseorg membungkukan badan ke kpd org lain, padahal dia tdk maksud menyembah, apalagi sujud?

Wallahu a’lam

๐ŸŒบโ˜˜๐ŸŒน๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿ‚

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan dan Raih Pahala…

Tata Cara Sholat Jamak & Qashar

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
โœ’Ustadzah Ida Faridah

๐Ÿ“†Rabu, 04 Mei 2016 M
                27 Rajab 1437 H
๐ŸŒบโ˜˜๐ŸŒธ๐Ÿ€๐Ÿ‚๐Ÿ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒธ๐Ÿ

 Assalamualaikum wrwb.
Ust/zah tolong paparkan mengenai tata cara shalat jamak, dan qashar  yg detail berikut tata cara, jarak, rakaat, dan shalat apa saja yang bisa di jama dan qashar.
A36

==========

Jawaban

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,

Shalat jamak adalah sholat yang dilaksanakan dengan mengumpulkan dua sholat fardu dalam satu waktu, baik dikerjakan pada waktu sholat pertama maupun pada sholat kedua.

Sholat yang bisa di jamak hanyalah sholat dzuhur dengan asar dan sholat maghrib dengan isya. Adapun sholat subuh tidak dapat dijamak dengan sholat fardu manapun.

Sholat boleh dijamak karena beberapa alasan:
1. Berada di arafah dan muzdalifah pada saat melakukan ibadah haji
2. Musyafir ( sedang mengadakan perjalanan)
3. Karena hujan
4. Karena sakit dan udzur
5. Karena ada keperluan penting yang bukan menjadi kebiasaan

Sholat jamak ada dua macam, yakni jamak takdim dan jamak takhir. Sholat jamak takdim adalah sholat dzuhur dan asar dikerjakan pada waktu dzuhur atau maghrib dan isya dikerjakan pada waktu maghrib. Adapun jamak takhir yaitu sholat dzuhur dan asar dikerjakan pada waktu asar atau sholat maghrib dan isya dikerjakan pada waktu isya.

Dalam melakukan sholat jamak takdim ada beberapa syarat yang harus dipenuhi,
1. Tertib yaitu mengerjakan sholat pertama terlebih dahulu, misalnya: dzuhur dahulu kemudian asar atau maghrub dahulu baru isya.
2. Niat menjamak sholat dilakukan pada saat takbiratulihram
3. Langsung melaksanakan sholat berikutnya yaitu setelah salam langsung ikamah dan kemudian melaksanakan sholat asar atau isya tanpa diselingi sholat sunna.

Adapun syarat-syarat sholat jamak takhir adalah sebagai berikut:
1. Niat menjamak takhir dilakukan pada waktu sholat pertama; jika waktu masuk sholat pertama, maka niat jamak takhir harus dilakukan tanpa langsung sholat karena sholat dilakukan pada waktu sholat berukutnya
2. Masih dalam perjalanan disaat datangnya waktu yang kedua (hal ini khusus bagi yang melakukan sholat jamak karena musyafir

Dalam menjamak sholat dapat dilakukan pemendekkan bilangan rakaat sholat, yaitu dari empat menjadi dua. Sholat jamak yang bilangan rakaatnya dipendekkan ini disebut shokat Qasar.

Ada beberapa pendapat mengenai hukum sholat jamak qasar : wajib menurut madzhab Hanafi, sunnah muakad menurut madzhab syaf’i dan Hanbali.

Sholat fardu yang boleh di jamak qasar hanyalah sholat yang terdiri atas empat raka’at, yaitu sholat dzuhur, asar, dan isya. Sholat jamak qasar boleh dilakukan oleh musyafir bila syarat-syarat berikut terpenuhi, yaitu:
1. Perjalanannya jauh (memakan waktu dua hari)
2. Niat qasar dilakukan pada waktu takbiratul ihram
3. Tidak bermakmum pada orang yang bukan musyafir yang tidak mengerjakan sholat qasar

Khusus mengenai batas jarak perjalanan yang menyebabkan musafir dibolehkan mengqasar sholat, para ulama berbeda pendapat.
1. Menurut imam syafe’i dan imam malik beserta para pengikut keduanya, batas minimal jarak bepergian (safar) untuk dapat mengqasar sholat ialah dua marhalal (48 mil)
2. Menurut abu hanifah dalam salah satu riwayat, mengqasar sholat baru boleh dilakukan apabila jarak perjalanan yang ditempuh mencapai tiga marhalah (72 mil) atau sekitar 24 farsakh (1 farsakh = 5.541 m).
Wallahu a’lam.

๐ŸŒบโ˜˜๐ŸŒน๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿ‚

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan dan Raih Pahala…

Selintas Sejarah dan Kutamaan Ka’bah

๐Ÿ“† Selasa,  26 Rajab 1437 H / 3 Mei 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹ Selintas Sejarah dan Kutamaan Ka’bah

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šMasjid Tertua

Abu Dzar Radhiallahu Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูŠู‘ู ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ูˆูุถูุนูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูู„ู’ุชู ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุตูŽู‰ ู‚ูู„ู’ุชู ูƒูŽู…ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููˆู†ูŽ ุณูŽู†ูŽุฉู‹

๐Ÿ“Œโ€œWahai Rasulullah, masjid apa yang dibangun pertama kali di muka bumi? Beliau menjawab: Masjidil Haram. Aku (Abu Dzar) berkata: lalu apa lagi? Beliau menjawab: Masjidi Aqsha. Aku bertanya lagi: berapa lama jarak keduanya? Beliau menjawab: empat puluh tahun. (HR. Bukhari No. 3186, Muslim No. 520, Ibnu Majah No. 753, Ibnu Hibban No. 1598, 6228, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4061, Ibnu Khuzaimah No. 787)

Yang dimaksud “dibangun” dalam hadits ini adalah fondasi dari kedua masjid itu. Sebab jika makna keduanya adalah masjid yang utuh, maka ada musykil.

 Berkata Imam Ibnul Jauzi:

ููŠู‡ ุฅุดูƒุงู„ุŒ ู„ุฃู† ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุจู†ู‰ ุงู„ูƒุนุจุฉ ูˆุณู„ูŠู…ุงู† ุจู†ู‰ ุจูŠุช ุงู„ู…ู‚ุฏุณ ูˆุจูŠู†ู‡ู…ุง ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุฃู„ู ุณู†ุฉ ุงู†ุชู‡ู‰

๐Ÿ“Œ โ€œDalam hadits ini terdapat musykil, karena Ibrahim membangun Kaโ€™bah dan Sulaiman membangun Baitul Maqdis, padahal  antara keduanya terpaut  jarak lebih dari seribu tahun. Selesai.” (Fathul Bari, 6/408)

 Ya, karena memang di beberapa riwayat shahih disebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam  membangun Ka’bah dan Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam yang membangun Masjidil Aqsha. Maka, hadits di atas harus  dipahami bahwa yang dibangun saat itu adalah fondasinya.

 Kemusykilan ini dijawab oleh Imam Ibnu  Al Jauzi dengan jawaban yang memuaskan. Katanya:

ูˆุฌูˆุงุจู‡ ุฃู† ุงู„ุฅุดุงุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุฃูˆู„ ุงู„ุจู†ุงุก ูˆูˆุถุน ุฃุณุงุณ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆู„ูŠุณ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุฃูˆู„ ู…ู† ุจู†ู‰ ุงู„ูƒุนุจุฉ ูˆู„ุง ุณู„ูŠู…ุงู† ุฃูˆู„ ู…ู† ุจู†ู‰ ุจูŠุช ุงู„ู…ู‚ุฏุณุŒ ูู‚ุฏ ุฑูˆูŠู†ุง ุฃู† ุฃูˆู„ ู…ู† ุจู†ู‰ ุงู„ูƒุนุจุฉ ุขุฏู… ุซู… ุงู†ุชุดุฑ ูˆู„ุฏู‡ ููŠ ุงู„ุฃุฑุถุŒ ูุฌุงุฆุฒ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุจุนุถู‡ู… ู‚ุฏ ูˆุถุน ุจูŠุช ุงู„ู…ู‚ุฏุณ ุซู… ุจู†ู‰ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุงู„ูƒุนุจุฉ ุจู†ุต ุงู„ู‚ุฑุขู†

๐Ÿ“Œ โ€œJawabannya adalah bahwa isyaratnya menunjukkan yang dibangun adalah fondasinya masjid, Ibrahim bukanlah yang pertama membangun Ka’bah, dan Sulaiman bukanlah yang pertama kali membangun Baitul Maqdis. Kami telah meriwayatkan bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah ADAM, kemudian anak-anaknya menyebar di muka bumi. Maka, boleh saja sebagian mereka membangun Baitul Maqdis, kemudian Ibrahim yang membangun Ka’bah menurut Nash Al Quran.  (Ibid)

 Imam Al Qurthubi Rahimahullah juga mengatakan hal yang sama:

ูˆูƒุฐุง ู‚ุงู„ ุงู„ู‚ุฑุทุจูŠ: ุฅู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ู„ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ูˆุณู„ูŠู…ุงู† ู„ู…ุง ุจู†ูŠุง ุงู„ู…ุณุฌุฏูŠู† ุงุจุชุฏุง ูˆุถุนู‡ู…ุง ู„ู‡ู…ุงุŒ ุจู„ ุฐู„ูƒ ุชุฌุฏูŠุฏ ู„ู…ุง ูƒุงู† ุฃุณุณู‡ ุบูŠุฑู‡ู…ุง.

๐Ÿ“ŒDemikian juga yang dikatakan oleh Al Qurthubi: sesungguhnya hadits ini tidaklah menunjukkan bahwa Ibrahim dan Sulaiman ketika  mereka berdua   membangun dua masjid sebagai yang mengawali, tetapi mereka hanya memperbarui apa-apa yang telah difondasikan oleh selain mereka berdua. (Ibid)

๐Ÿ“šMasjid Al Haram Termasuk Di antara Tiga Masjid Yang Paling Dianjurkan Untuk Dikunjungi

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ู„ูŽุง ุชูุดูŽุฏู‘ู ุงู„ุฑู‘ูุญูŽุงู„ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ูˆูŽู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุตูŽู‰

๐Ÿ“Œโ€œJanganlah bertekad kuat untuk melakukan perjalanan kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Masjidil Aqsha. (HR. Bukhari
No. 1132, 1139, Muslim No. 1338, Ibnu Majah No. 1409, 1410, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 19920)

Maksudnya adalah berkunjung untuk berniat shalat, janganlah terlalu bertekad kecuali ke tiga masjid ini. Ada pun sekedar, kunjungan biasa, silaturrahim, maka tentu tidak mengapa mengunjungi selain tiga masjid ini; seperti mengunjungi orang shalih, silaturrahim ke rumah saudara dan family, ziarah kubur, mengunjungi ulama, mendatangi majelis ilmu, berdagang, dan perjalanan kebaikan lainnya. Semua ini perjalanan kebaikan yang dibolehkan bahkan dianjurkan.

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:

ุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ู…ุฎุตูˆุต ุจู…ู† ู†ุฐุฑ ุนู„ู‰ ู†ูุณู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ููŠ ู…ุณุฌุฏ ู…ู† ุณุงุฆุฑ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ุบูŠุฑ ุงู„ุซู„ุงุซุฉ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌุจ ุงู„ูˆูุงุก ุจู‡ ู‚ุงู„ู‡ ุงุจู† ุจุทุงู„.

๐Ÿ“Œโ€œBahwa larangan dikhususkan bagi orang yang bernazar  atas dirinya untuk shalat di masjid selain tiga masjid ini, maka tidak wajib memenuhi nazar tersebut, sebagaimana dikatakan Ibnu Baththal.โ€ (Fathul Bari, 3/65)

Imam Al Khathabi Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฃู†ู‡ ู„ุง ุชุดุฏ ุงู„ุฑุญุงู„ ุฅู„ู‰ ู…ุณุฌุฏ ู…ู† ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ู„ู„ุตู„ุงุฉ ููŠู‡ ุบูŠุฑ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุซู„ุงุซุฉุ› ูˆุฃู…ุง ู‚ุตุฏ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ู„ุฒูŠุงุฑุฉ ุตุงู„ุญ ุฃูˆ ู‚ุฑูŠุจ ุฃูˆ ุตุงุญุจ ุฃูˆ ุทู„ุจ ุนู„ู… ุฃูˆ ุชุฌุงุฑุฉ ุฃูˆ ู†ุฒู‡ุฉ ูู„ุง ูŠุฏุฎู„ ููŠ ุงู„ู†ู‡ูŠุŒ ูˆูŠุคูŠุฏู‡ ู…ุง ุฑูˆู‰ ุฃุญู…ุฏ ู…ู† ุทุฑูŠู‚ ุดู‡ุฑ ุจู† ุญูˆุดุจ ู‚ุงู„: ุณู…ุนุช ุฃุจุง ุณุนูŠุฏ ูˆุฐูƒุฑุช ุนู†ุฏู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ููŠ ุงู„ุทูˆุฑ ูู‚ุงู„: ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: “ู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู„ู…ุตู„ูŠ ุฃู† ูŠุดุฏ ุฑุญุงู„ู‡ ุฅู„ู‰ ู…ุณุฌุฏ ุชุจุชุบู‰ ููŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุงู„ุญุฑุงู… ูˆุงู„ู…ุณุฌุฏ ุงู„ุฃู‚ุตู‰ ูˆู…ุณุฌุฏูŠ”

๐Ÿ“Œโ€œBahwa sesungguhnya janganlah bertekad kuat mengadakan perjalanan menuju masjid untuk shalat di dalamnya selain tiga masjid ini. Ada pun bermaksud selain masjid-masjid ini untuk berziarah kepada orang shalih, kerabat, sahabat, menuntut ilmu, berdagang, atau berwisata, maka tidaklah termasuk dalam larangan. Hal yang menguatkan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalan Syahr bin Hausyab, dia berkata: aku mendengar Abu Said, dan aku menyebutkan padanya tentang shalat di Ath thur, dia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Hendaknya janganlah orang yang shalat itu bersungguh-sungguh mengadakan perjalanan untuk shalat menuju masjid  selain Masjidil Haram, Masjid Al Aqsha, dan masjidku (Masjid nabawi). (Ibid)

๐Ÿ“šTempat Terjadinya Peristiwa Isra

Surat Al Isra’ ayat pertama di atas menunjukkan bahwa Al Aqsha bersama Masjidil Haram-  merupakan tempat terjadinya  peristiwa Isra’  (perjalanan di malam hari). Hal ini menunjukkan kedudukannya yang tinggi  sehingga dia dipilih sebagai titik tolak  Isra di dunia.

๐Ÿ“š Kiblat Kedua  Umat Islam

Allah Taโ€™ala berfirman:

ุณูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ุณู‘ูููŽู‡ูŽุงุกู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู…ูŽุง ูˆูŽู„ุงู‡ูู…ู’ ุนูŽู†ู’ ู‚ูุจู’ู„ูŽุชูู‡ูู…ู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูƒูŽุงู†ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู‚ูู„ู’ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽุดู’ุฑูู‚ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ุฅูู„ูŽู‰ ุตูุฑูŽุงุทู ู…ูุณู’ุชูŽู‚ููŠู…ู (142) ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุณูŽุทู‹ุง ู„ูุชูŽูƒููˆู†ููˆุง ุดูู‡ูŽุฏูŽุงุกูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุดูŽู‡ููŠุฏู‹ุง ูˆูŽู…ูŽุง ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฅูู„ุง ู„ูู†ูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽุจูุนู ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูŽู„ูุจู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู‚ูุจูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู„ูŽูƒูŽุจููŠุฑูŽุฉู‹ ุฅูู„ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู‡ูŽุฏูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ููŠูุถููŠุนูŽ ุฅููŠู…ูŽุงู†ูŽูƒูู…ู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู„ูŽุฑูŽุกููˆููŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ (143) ู‚ูŽุฏู’ ู†ูŽุฑูŽู‰ ุชูŽู‚ูŽู„ู‘ูุจูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ููƒูŽ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ููŽู„ูŽู†ููˆูŽู„ู‘ููŠูŽู†ู‘ูŽูƒูŽ ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู‹ ุชูŽุฑู’ุถูŽุงู‡ูŽุง ููŽูˆูŽู„ู‘ู ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽูƒูŽ ุดูŽุทู’ุฑูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ูˆูŽุญูŽูŠู’ุซูู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ููŽูˆูŽู„ู‘ููˆุง ูˆูุฌููˆู‡ูŽูƒูู…ู’ ุดูŽุทู’ุฑูŽู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฃููˆุชููˆุง ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ู„ูŽูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ู…ูู†ู’ ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูุบูŽุงููู„ู ุนูŽู…ู‘ูŽุง ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ (144)

๐Ÿ“ŒOrang-orang yang kurang akalnya  diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.  Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al Baqarah (2): 142-144)

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Baitul Maqdis telah menjadi kiblat selama 16 atau 17 bulan lamanya. (HR. Bukhari No. 4488)

Ada beberapa hikmah dari ayat-ayat tahwilul qiblah (perubahan kiblat) di atas:

โœ…Ujian Keimanan dan Ketaatan untuk kaum mukminin (para sahabat saat itu).

โœ…Simbol persatuan dan  kebersamaan seluruh  kaum muslimin.

โœ…Keseragaman arah ibadah kaum muslimin

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

ุฅู†ู…ุง ุดุฑุนู†ุง ู„ูƒ -ูŠุง ู…ุญู…ุฏ -ุงู„ุชูˆุฌู‡ ุฃูˆู„ุง ุฅู„ู‰ ุจูŠุช ุงู„ู…ู‚ุฏุณุŒ ุซู… ุตุฑูู†ุงูƒ ุนู†ู‡ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ูƒุนุจุฉุŒ ู„ูŠุธู‡ุฑ ุญุงู„ู ู…ู† ูŠูŽุชู‘ูŽุจุนูƒ ูˆูŠูุทูŠุนูƒ ูˆูŠุณุชู‚ุจู„ ู…ุนูƒ ุญูŠุซู…ุง ุชูˆุฌู‡ุชูŽ ู…ูู…ู‘ูŽู† ูŠู†ู‚ู„ุจ ุนู„ู‰ ุนูŽู‚ุจูŽูŠู’ู‡ุŒ ุฃูŠ: ู…ูุฑู’ุชูŽุฏู‘ุงู‹ ุนู†   ุฏูŠู†ู‡

๐Ÿ“Œ โ€œSesungguhnya syariat kami  untukmu โ€“wahai Muhammad- pertama-tamanya adalah mengarah  ke Baitul Maqdis, kemudian merubahmu darinya kearah Ka’bah, untuk menampakkan/memenangkan   keadaan orang yang mengikutimu, mentaatimu, dan berkiblat bersamamu di mana saja kamu  menghadap, terhadap orang-orang yang murtad dari agamanya. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 1/457. Dar Lin Nasyr wat Tauzi)

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…