QS. Al-Qiyamah (Bag. 3)

๐Ÿ“† Senin, 25 Rajab 1437H / 2 Mei 2016 M
๐Ÿ“š Tadabbur Al-Qur’an

๐Ÿ“ Dr. Saiful Bahri, M.A

๐Ÿ“‹ QS. Al-Qiyamah (Bag. 3)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

materi sebelumnya

http://www.iman-islam.com/2016/04/qs-al-qiyamah-bag-2.html?m=1

๐Ÿ“šTanda-Tanda Dari Allah

Sebagaimana pada kekuasaan-Nya terdapat tanda-tanda, demikian pula pada makhluk ciptaan-Nya, Allah berikan tanda padanya agar ia mau mengingat Allah. Demikian halnya menjelang kematian Allah tak jarang memberikan tanda pada kita. Saat kita sakit, semestinya kita segera menyadarinya bahwa Allah mengirimkan sebuah tanda agar kita lebih siap lagi. Saat melihat atau mendengar kabar tentang kematian, itu juga sebuah tanda. Baik dia beriman pada Allah ataupun mengingkarinya

Ini adalah tanda-tanda kiamat kecil (sughrรข) yaitu kematian yang pasti dialami oleh semua makhluk-Nya yang bernafas. Sebelum kiamat besar (kubrรข) benar-benar datang. Yaitu hari kiamat yang meluluhlantakan apa saja. Bukan hanya yang hidup tapi apa saja dan siapa saja, saat itu menjumpai kebinasaannya. Karena kekekalan dan kehidupan hari itu hanya milik-Nya. Seorang saja. โ€œSemua yang ada di bumi itu akan binasaโ€[11].

๐Ÿ“Œโ€œSekali-kali jangan, apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): โ€œSiapakah yang dapat menyembuhkan?โ€ Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)โ€. (QS. 75: 26-28)

Saat sakaratul maut dihadapinya ia benar-benar tak memiliki daya apapun. Yang ia tau bahwa saat perpisahan dengan segala yang dicintainya akan segera terjadi. Semua sangkaannya akan menjadi sia-sia. Hari yang ia takuti akan segera datang. Saat yang paling ia benci akan menyambanginya. Segala keangkuhan dan kekuasaannya, juga uangnya tak akan mampu menggantikan suasana ketakutan itu sirna dan menjahuinya, โ€œSiapakah yang dapat menyembuhkan?โ€. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ia tahu jawabannya. Tapi ia tak mampu mengatakannya, karena taubat di detik-detik itu tidak diterima Allah.

Simaklah satu lagi penggambaran Allah terhapat peristiwa menjelang kematian ini,

๐Ÿ“Œโ€œDan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan)โ€ (QS.75: 29).

Ia benar-benar menggigil ketakutan, dua betisnyapun mengatup. Tergambar didepannya segala bentuk kengerian dan kesendirian yang akan dijumpainya. Saat itu dua masalah bertemu. Adh-Dhahรขk mengatakan,

๐Ÿ“Œโ€œYaitu urusan jasad dan ruhnya. Keluarganya mengurus jasadnya. Sedang malaikat mengurus ruhnya. Ia bahkan tak tahu kemana jasad dan ruhnya dibawa oleh masing-masing merekaโ€ [12].

Mereka seolah lupa bahwa ini semua merupakan implikasi dan dampak dari apa yang mereka perbuat di dunia.

๐Ÿ“Œ โ€œDan ia tidak mau membenarkan (rasul dan al-Qurโ€™an) dan tidak mau mengerjakan shalat. Tetapi ia mendustakan (rasul) dan berpaling (dari kebenaran). Kemudian ia pergi kepada keluarganya dengan berlagak (sombong)โ€. (QS.75โ€ 31-33)

Ringkasannya ia melakukan empat dosa besar:

1โƒฃ .       Mendustakan Rasul Allah dan al-Qurโ€™an

Mendustakan Rasul berarti tidak menerima segala hal yang dibawa olehnya. Termasuk al-Qurโ€™an, wahyu Allah yang dimandatkan padanya untuk disampaikan isi dan redaksinya secara utuh kepada umatnya.

2โƒฃ .       Tidak mau mengerjakan shalat

Sebagaimana disinggung sebelumnya dalam surat al-Mudatsir ayat 43. Mereka tidak mengerjakan shalat, dan ini merupakan simbol keengganan untuk menundukan hati kepada Allah. Sebuah simbol keangkuhan, simbol kesombongan yang sangat dimurkai oleh Allah, karena kebesaran hanya milik-Nya.

3โƒฃ .       Berpaling dari kebenaran karena ego dan gengsinya

Sebagai akibat ia tak mau lagi mendengarkan nasihat dan masukan konstruktif. Ia abaikan kebenaran. Ia palingkan dirinya menjauhi kebenaran, demi gengsi dan egonya, apalagi jika kebenaran itu datang dari orang yang tidak disukainya atau karena ancaman polularitasnya atau karena takut kehilangan pengaruh di tengah kaumnya.

4โƒฃ .       Sombong di depan manusia

Di ayat 33 ini secara spesifik justru Allah mengambarkan ia berlaku sombong di depan keluarganya. Jika ia sudah berani berlaku sombong dan angkuh di depan keluarganya apalagi di depan orang lain. Selaiknya ia bela dan sayangi keluarganya. Ia tunjukkan keramahan, cinta dan keteduhan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ia berinteraksi dengan kasar dan keras demi menunjukan keangkuhannya.

Maka jatuhlah vonis celaka terhadap mereka dan apa yang mereka lakukan.

๐Ÿ“Œโ€œKecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaan bagimu. Kemudia Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaan bagimuโ€. (QS.75: 34-35).

Kutukan ini diulang sampai empat kali. Sekali saat ia merenggang nyawa menghadapi kematian. Kedua, saat ia berada dalam kesendirian tanpa daya mendapatkan siksa kubur. Ketiga, saat ia dibangkitkan setalah hari kehancuran. Dan keempat kalinya, saat vonis terakhir benar-benar ia terima. Mendekam dalam kekekalan di neraka jahannam. Sepanjang masa yang hanya Allah saja tahu takarannya.

๐Ÿ“šPetaka, Bermula Dari Kelalaian yang Berkelanjutan

๐Ÿ“Œโ€œApakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa bertanggung jawab)?โ€.

Manusia lupa, bahwa ia diciptakan dengan misi memakmurkan bumi Allah dan membawa misi penghambaan yang benar pada Allah semata. Dan semua itu ada pertanggungjawabannya kelak dihadapan Allah. Lantas apa yang membuatnya berkeyakinan bahwa ia akan hidup dan kemudia mati serta berakhir segalanya? Sebagaimana ia diperintahkan untuk beribadah dan dilarang untuk membangkang serta mendustakan agama-Nya, maka semua ada saatnya manusia diganjar atas perbuatannya. Tentunya sebelum itu ia akan diminta terlebih dahulu tanggung jawab atas amal-amalnya.

Sebenarnya yang membuat lupa, karena ia melalaikan asal kejadiannya. Dan ia tak pernah merasakan bahwa wujud serta eksistensinya di dunia ini adalah sebuah kenikmatan yang Maha Agung.

๐Ÿ“Œโ€œBukankah dia dulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya. Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuanโ€. (QS. 75: 37-39)

Jika manusia mau mengingat asal kejadiannya ia akan segera sadar dan tahu bahwa Allah mampu membangkitkannya setelah dia mematikan semua makhluk-Nya,

๐Ÿ“Œโ€œBukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?โ€ (QS. 75: 40). Mahasuci Allah, Engkau Maha Besar.

Ibnu Katsir menukil sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud Shรขhibussunan. Ibunda Aisya ra menuturkan sebuah riwayat,

๐Ÿ“Œโ€œAda seorang laki-laki shalat di atas rumahnya. Dan ketika ia menbaca โ€ฆ.. ia berkata: Subhรขnaka fa balรข (mahasuci Engkau maka benarlah). Kemudian  saat ia ditanya, ia menjawab aku mendengarnya dari Rasulullah sawโ€. Namun, Ibnu Katsir melemahkan hadits yang hanya diriwayatkan oleh Abu Dawud ini[13]. Sebagaimana pendapat Ibnu Jarir ath-Thabary, โ€œhadits ini mursal dan saya tak menemukan satu pun yang marfuโ€ [14]. Namum jika dibaca diluar shalat maka hal tersebut tidak ada perbedaan pendapat. Karena Ibnu Abbas dan Said bin Jubair juga mengajurkannya demikian [15].

Mahasuci Allah. Jika manusia tak lalai dan mau mengingat asal usulnya, tentu ia akan jauh dari petaka dan azab Allah sejak berada di dunia. Sebagai gantinya kelak di akhirat akan Allah berikesempatan yang sangat mahal, yaitu bertemu langsung dengan-Nya dan mendapatkan pentulan cahaya-Nya yang menerangi segala kegelapan. Allรขhumma Amin.

โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€”โ€“
                                                                                   
[1]  Imam Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqรขn fi โ€˜Ulumi al-Qurโ€™an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hal.22, dan lihat Imam Badruddin az-Zarkasyi, al_Burhan fi Ulumi al-Qurโ€™an, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.I, hal 249

[2] Prof Dr. Jumโ€™ah Ali Abd Qader, Maโ€™รขlim Suar al-Qurโ€™an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004 M/1424 H, Vol.2, hal .732

[3]  Lihat: Abu Zakaria al-Farrรข, Maโ€™aniy al-Qurโ€™an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 2002 M/1423 H, Vol.III,hal.100, juga lihat: Imam az-Zamakhsyary, al-Kasysyรขf โ€˜an Haqรขโ€™iqu at-Tanzil, Cairo: Maktabah Musthafa al-Halaby, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hal.163

[4]  Imam al-Qurthuby, al-Jamiโ€™ li Ahkami al-Qurโ€™an Cairo: Darul Hadits, 2002 M / 1422 H, Vol.X, hal.83

[5]  QS. Annur (24): 24

[6]  Imam al-Hakim at-Trimidzi, Nawadir al-Ushul fi Maโ€™rifai Ahadits ar-Rasul, Cairo: Dar ar-Rayyan, Cet.I, 1988 M / 1413 H, Vol.2, hal.457

[7]  Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Kaifa Nataโ€™ รขmal maโ€™a al-Qurโ€™an, Beirut: Darusysyuruq, Cet.I, 1999 M/1419 H, hal 28

[8]  HR. Al-Bukhary dalam kitab Tauhid, hadits nomer: 7435 (Ibnu Hajar al-โ€˜Asqalany, Fathul Bรขri bi Syarhi Shahih al-Bukhary, Cairo: Darul Hadits, Cet.1, 1998 M / 1419 H, Vol.XIII, hal.497)

[9] HR. Al-Bukhary dalam kitab Tauhid, hadits nomer: 7436 (Fathul Bรขri, Ibid, hal.499)

[10] Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, al-Imรขn wa al-Hayรขh, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet.16, 2007 M /1428 H,hal.160

[11]  QS. Ar-Rahmรขn (55): 26

[12]  Imam Ibnu Jarir at-Thabary, Jรขmiโ€™ al-Bayรขn, Beirut: Dar Ihya Turats a-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, Vol.29,hal.233

[13]  Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurโ€™an al-Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah Vol.IV, hal.586

[14] Imam Ibnu Jarir ath Thabary, Jรขmiโ€™ al-Bayรขn, Ibid,Vol.XXIX. hal.29, lihat juga tesis penulis , Kitab Lawamiโ€™ al-Burhan wa Qawathiโ€™ al-Bayan fi Maโ€™any al-Qurโ€™an li al-Maโ€™iny, Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II, hal.758

[15]  Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurโ€™an al-Azhim, Ibid
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Bagaimana Menutup Aurat Yang Benar???

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ“Ustadzah Eko Yuliarti

๐Ÿ“†Kamis, 28 April 2016 M
                  21 Rajab 1436 H
๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ‚๐ŸŒป๐Ÿƒ๐ŸŒน๐ŸŒพ๐ŸŒธ

Assalaamualaikuum..
Saya Atika, kalau boleh ingin mengajukan pertanyaan .

“Saya mendapat banyak pemahaman yg berbeda ttg menutup aurat. Ada yg mengatakan harus menggunakan gamis (pakaian yg bersambung). ada jga yang mengatakan tidak apa2 menggunakan rok utk bawahan, dan baju panjang utk atasan. Dgn ctatan baju dan rok tsb tdk ketat, tdk tipis, dsb. Jadi saya ingin menanyakan pendapat manakah yg benar menurut islam ?”
#A 36

๐ŸŒนJawaban๐ŸŒน
    ————–

Wa’alaikumsalam wr wb
Pedoman kita dalam hal menutup aurat adalah surat Annur ayat 31
 “Katakanlah kepada wanita yang beriman, โ€œHendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, ……”

Dan Al-ahzab ayat 59 :
Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !โ€ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allรขh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sementara hadits menjelaskan :
Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjidโ€ฆ
[HR. Muslim, no. 3028]

Ayat dan hadits tidak menjelaskan “model” atau “rupa” tertentu untuk pakaian. Akan tetapi memberikan batasan2 saja. Hal ini tentu dikarenakan masalah pakaian erat hubungannya dengan budaya. Sehingga tidak mungkin diseragamkan untuk seluruh dunia. Karena adat/budaya banyak menimbang/memperhatikan unsur kepatutan.

Oleh karenanya para ulama merumuskan batasan2 pakaian perempuan dengan poin2 berikut :
– Menutup seluruh aurat
– Tidak transparan
– Tidak membentuk lekuk2 anggota tubuh/tidak ketat
– Tidak menyerupai pakaian laki2.

Bila pakaian perempuan sudah memenuhi batasan2 diatas, maka pakaian itu boleh dipakai. Jadi titik tekannya bukan pada model akan tetapi pada memenuhi batasan yg telah ditentukan para ulama.
Wallohu a’lam bis showwab

๐ŸŒบ๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒป๐Ÿ‚๐Ÿ๐ŸŒธ

Dipersembahkan oleh:
www.iman-manis.com

โœ’Sebarkan! Raih Pahala….

Bagaimana Investasi Saham Dalam Islam

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab๐Ÿ‘ณ
โœUst. Rikza Maulana Lc. M.Ag

๐Ÿ“†Kamis, 28 April 2016 M
                  21 Rajab 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท

Assalamualaikum ustadz/ah…
mau tanya dong, kalo kita investasikan uang kita ke suatu PT finance, terus dpt keuntungan (kaya main saham gitu). Itu secara  hukumnya apaa yaa? apakah itu samaa dgn judi ? A12

Jawaban
————

Wa’alaikumsalam wr wb..
Saham  yg dijalankan secara syariah diperbolehkan. Adapun saham yg tidak syariah, maka bertransaksinya adalah haram, krn mengandung unsur maisir (gambling).
Wallahu A’lam.

 ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Memanggil Istri Dengan Sebutan Ummi,Bolehkah??

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab๐Ÿ‘ณ
โœUst. DR.H. Saiful  Bahri M.A

๐Ÿ“†Kamis, 28 April 2016 M
                  21 Rajab 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Assalamualaikum ustadz mohon penjelasannya.
bagaimana hukumnya memanggil istri dengan sapaan ummi, bunda. apa hal tersebut sama dengan menzihar istri? karena saat ini banyak pasangan suami istri yg memanggil pasangannya dg sapaan abi-ummi, ayah bunda, dsb. ๐Ÿ…ฐ1โƒฃ0โƒฃ

๐Ÿ€.Jawaban nya๐Ÿ€

Alaikumsalam.
Panggilan tersebut (abi umi, ayah bunda, papa mama dsb) dibolehkan, karena diniatkan untuk mendidik anak-anak cara memanggil orang tua mereka. Kecuali, jika diniatkan zhihar (disamakan ibu atau siapa saja dari mahramnya) maka harus membayar kafaratnya (denda).
1. Memerdekakan budak (setara dg nilai harga 10 unta)
2. Atau puasa dua bulan berturut-turut
3. Atau memberi makan 60 fakir miskin.
Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Mempertahankan Mahligai Rumah Tangga

๐Ÿ“† Sabtu, 23 Rajab 1437H / 30 April 2016

๐Ÿ“š KELUARGA

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

๐Ÿ“‹ Mempertahankan Mahligai Rumah Tangga

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ ๐ŸŒฟ

Jika cinta bersemi di awal-awal pernikahan, itu wajar; tapi ketika perasaan saling menyayangi dan memahami bertahan untuk selamanya, itu luar biasa!
Di masyarakat, keluarga yang kandas di tengah jalan jumlahnya makin banyak saja. Kasus perceraian dari tahun ketahun meningkat tajam. Rumah tangga yang kelihatannya baik-baik saja, tiba-tiba berakhir di pengadilan. Terkesan, mengakhiri cinta dengan pasanganitu mudah sekali. Semudah membalik telapak tangan. Istilah True love (cinta sejati) atau endlesslove (cinta yang tiada akhir) seolah hanya menjadi impian

Data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA), kurun 2010 ada 285perkararumahtangga.184 perkara berakhir dengan perceraian ke Pengadilan Agama se-Indonesia. Angka tersebut merupakan angka tertinggi sejak 5 tahun terakhir. Dari data Ditjen Badilag 2010, kasus tersebut dibagi menjadi beberapa aspek yang menjadi pemicu munculnya perceraian. Misalnya, ada 10.029 kasus perceraian yang dipicu masalah cemburu. Kemudian, ada 67.891 kasus perceraian dipicu masalah ekonomi. Sedangkan perceraian karena masalah ketidakharmonisan dalam rumah tangga mencapai 91.841 perkara.

Adapun secara geografis, perkara perceraian paling banyak terjadi di Jawa Barat yakni 33.684 kasus, disusul Jawa Timur dengan 21.324 kasus. Di posisi ketiga adalah Jawa Tengah dengan 12.019 kasus. Sedangkan, dalam Proyek Transisi Institut Perceraian Australia, mayoritas laki-laki dan perempuan menyatakan penyebab perceraian mereka antara lain adalah masalah komunikasi, ketidakcocokan, perubahan nilai dan gaya hidup, serta perselingkuhan. Alasan yang cukup mendominasi juga adalah meningkatnya harapan kepuasan diri dalam pernikahan dan penurunan toleransi (Reynolds dan Mansfield 1999; Amato dan Booth 1997, Coontz 1997, Dewan Keluarga di Amerika 1.995 ).

Meskipun mengakhiri pernikahan tidak mudah dan mungkin menimbulkan trauma atau merugikan bagi salah satu atau kedua pasangan dan anak-anak mereka (Waite 1995; Amato dan Booth 1997), sebagian besar perempuan dan laki-laki, apa pun alasan perceraian mereka, menyatakan bahwa merasa mereka tidak ingin kembali dengan mantan pasangan mereka. Bagi wanita, alasa yang paling kuat untuk perceraian adalah perilaku kasar pasangan.

Ternyata, untuk mempertahankan mahligai rumah tangga, tidak harus melalukan hal-hal besar dan sulit. Dari studi tentang pernikahan jangka panjang (Kaslow dan Robinson 1996, Levenson et al 1993; Wallerstein dan Blakeslee 1995) diidentifikasi beberapa karakteristik hubungan pasangan yang sehat, yaitu rasa hormat dan merasa dihargai, kepercayaan dan kesetiaan, hubungan seksual yang baik, komunikasi yang baik, berbagi, kerjasama dan saling mendukung serta kebersamaan, rasa spiritualitas, dan kemampuan masing-masing untuk fleksibel ketika dihadapkan dengan suasana transisi dan perubahan.

Para peneliti juga menggambarkan karakteristik sebuah keluarga yang kuat (Schlesinger 1998, Curran 1983). Menurut Stinnett dan Defrain (1985), keluarga yang kuat memiliki semangat untuk memajukan kesejahteraan dan kebahagiaan masing-masing, menunjukkan penghargaan satu sama lain, memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan berbicara satu sama lain, menghabiskan waktu bersama-sama, memiliki rasa spiritualitas, dan menggunakan krisis sebagai kesempatan untuk tumbuh.

Jadi bisa disimpullkan, mahligai rumah tangga dapat dipertahankan dengan suasana hubungan yang sehat dan penuh cinta, melalui beberapa hal berikut:

๐ŸŒท 1. Yakinlah pada kekuatan kebersamaaan. Salah satu kekuatan yang sangat penting adalah bekerja sama dengan baik. Tidak ada beban yang terlalu berat saat mengangkatnya bersama.

๐ŸŒท 2. Ingatlah selalu hal-hal yang menyenangkan dari pasangan Anda. Ketika istri sedang melipat baju suami, bayangkankan etos kerja, kesabaran, dan kemurahan hatinya. Suami, tersenyumlah dengan meingat-ingat lelucon dan humoristri. Dengan menghabiskan waktu untuk selalu merenungkan sifat-sifat baik dari pasangan Anda, cinta, kasih sayang, pemujaan terhadap satu sama lain akan terus tumbuh.

๐ŸŒท 3.Tertarik dan berbagilah tentang dunia masing-masing. Tetap terhubung dan berkomunikasi ketika Anda terpisah.

๐ŸŒท 4. Saling menghormati dan menghargai. Jangan pernah merendahkan pasangan. Perhatikan nada suara ketika Anda berkomunikasi satu sama lain. Belajarlah untuk menyenandungkan pujian. Jangan memiliki harapan yang berlebihan. Berlatihlah untuk menerima apa adanya.

๐ŸŒท 5.Saling mendorong dan meningkatkan semangat untuk maju. Jangan meragukan kemampuan pasangan. Memberikan dorongan, saran dan kebijaksanaan dengan cara yang penuh kasih.

๐ŸŒท 6. Siap jika dibutuhkan pada saat-saat penting terutama melewati saat-saat sulit dalam hidup

๐ŸŒท 7. Membuat kejutan-kejutan untuk pasangan. Hindari kehidupan rutin.Ya, bila Anda bosan sesuatu cobalah sesuatu yang berbeda dengan pasangan. Kesempatan tidak terbatas!

๐ŸŒท 8. Kenalilah apa-apa yang pasangan Anda suka dan tidak suka. Semakin banyak Anda tahu dan memahami dunia pribadi masing-masing, maka persahabatan Anda akan makin terjalin kuat.

๐ŸŒท 9. Terus mensyukuri apa yang sudah dijalani dan mengandalkan kekuatan doa. Milikilah keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatu akan selesai dengan baik dan menyenangkan.

Perlu terus dikuatkan keyakinan bahwa pernikahan adalah karunia dari Allah swt. Ya, pernikahan adalah ibadah dan hal itu adalah motivasi paling kuat bagi kaum muslim sehingga kita mampu bersabar atas kekurangan pasangan masing-masing.

Referensi:
-Amato, P. & Booth, A. (1997), A Generation at Risk: Growing Up in an Era of Family Disheaval, Harvard University Press, Cambridge.
-Coontz, S. (1997), The Way We Really Are, Basic Books, New York.
-Curran, D. (1983), Traits of a Healthy Family: Fifteen Traits Commonly Found in Healthy Families by Those Who Work With Them, Winston Press, Minneapolis.
-Kaslow, R. & Robinson, J. (1996), ‘Long-term satisfying marriages: perceptions of contributing factors’, American Journal of Family Therapy, vol. 24, no. 2, pp. 69 78.
-Levenson, R., Carstenson, L. & Gottman, J. (1993), ‘Long-term marriage: age, gender and satisfaction’, Psychology and Aging, vol. 8, no. 2, pp. 310-313
-Reynolds, J. & Mansfield, P. (1999), ‘The effect of changing attitudes to marriage on its stability’, in Simons, J. (ed.) High Divorce Rates: The State of the Evidence on Reasons and Remedies: Reviews of Evidence on the Causes of Marital Breakdown and the Effectiveness of Policies and Services Intended to Reduce its Incidence, Research Series, vol. 1, pp. 1-38, Lord Chancellor’s Department, London.
-Schlesinger, B. (1998), ‘Strong families: a portrait’, Transition, June, pp. 4-15.
-Stinnett, N. & DeFrain, J. (1985), Secrets of Strong Families, Little Brown, Boston.
-Waite, L. (1995), ‘Does marriage matter?’, Demography, vol. 32, no. 4, pp. 483 507.
-Wallerstein, J. & Blakeslee, S. (1995), The Good Marriage, Warner Books, New York.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Pelajaran Fiqih Dakwah dari Nabi Harun & Nabi Musa ‘Alaihimassalam

๐Ÿ“† Ahad, 24 Rajab 1437H / 1 Mei 2016

๐Ÿ“š DAKWAH ISLAM

๐Ÿ“ Ust. A Sahal Hasan, Lc

๐Ÿ“‹ PELAJARAN FIQIH DAโ€™WAH dari NABI HARUN & NABI MUSA โ€˜alaihimassalam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š Pelajaran Fiqih Daโ€™wah dari Nabi Harun โ€˜alaihissalam:

1โƒฃ Nasihat Nabi Harun kepada kaumnya menunjukkan urutan tema daโ€™wah yang sangat indah:

โœ… Sesungguhnya kamu hanya diuji dengan anak lembu itu: ini merupakan bentuk ุฅุฒุงู„ุฉ ุงู„ุดุจู‡ุงุช (upaya melenyapkan syubhat aqidah dan pemahaman) dengan mengingatkan mereka agar jangan mudah terperosok kepada kesesatan hanya oleh seorang Samiri, padahal mereka telah meilhat berbagai muโ€™jizat dan niโ€™mat Allah melalui Nabi Musa alaihissalam.

โœ… Dan sesungguhnya Rabb kalian ialah Ar-Rahman: mengingatkan mereka dengan ู…ุนุฑูุฉ ุงู„ู„ู‡ (maโ€™rifatullah), sebagai asas iman yang benar.

โœ… Maka ikutilah aku: mengingatkan mereka dengan ู…ุนุฑูุฉ ุงู„ู†ุจูˆุฉ mengenal kenabian agar dibimbing oleh utusan Allah.

โœ… Dan taatilah perintahku: mengingatkan mereka untuk ุงุชุจุงุน ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ (mengikuti syariat) sebagai jalan hidup yang lurus. (Lihat Mafatih Al-Ghaib, Al-Razi: 22/92).

2โƒฃ Ucapan Nabi Harun โ€œWahai putra ibu..โ€ menunjukkan posisi seorang ibu yang amat penting bagi kedekatan anak-anaknya dengan kasih sayangnya yang melebihi seorang ayah. Nabi Harun mengingatkan Nabi Musa dengan ibu mereka berdua untuk meredakan kemarahan Nabi Musa kepadanya, meskipun mereka berdua adalah saudara kandung seayah dan seibu.

3โƒฃ Nabi Harun โ€˜alaihissalam mengetahui kapasitas dirinya sehingga ia tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan akibat lebih buruk. Akan berbeda akibatnya jika yang melakukannya adalah Nabi Musa, karena ia lebih memiliki kharisma dari pada Nabi Harun. Ini tersirat dari ucapannya: โ€œSesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah.โ€

4โƒฃ Ada fiqih muwazanat (timbangan maslahat & madharat) dan fiqih awlawiyat (prioritas) yang diperhatikan oleh Nabi Harun yang terlihat dari jawabannya atas teguran Nabi Musa (Thaha: 94).

Menurut Nabi Harun:

โœ… Maslahat tetap membersamai ummat yang tersesat lebih besar dari pada maslahat meninggalkan mereka untuk menyusul Nabi Musa.

โœ… Madharat perpecahan ummat jauh lebih besar dari pada madharat tidak berlaku keras atau tidak memerangi kelompok yang menyimpang, meskipun peyimpangan dan kesesatan mereka sangat nyata, dan meskipun beliau juga seorang nabi yang memiliki legalitas dan wewenang tinggi untuk berlaku keras.

Artinya Nabi Harun memprediksi akan terjadi perpecahan bahkan perang saudara jika ia dan orang-orang yang tetap beriman bersikap keras. Kesesatan mereka bisa diatasi saat Musa kembali sehingga Nabi Harun lebih memilih sabar. Sedangkan nyawa yang hilang tak dapat dikembalikan, juga keutuhan ummat sulit dipulihkan setelah cerai berai oleh perang meskipun Nabi Musa telah kembali.

Tentu, muwazanah seperti muwazanah Nabi Harun lebih layak diperhatikan terhadap hal-hal yang “penyimpangannya” masih diperdebatkan.

๐Ÿ“š Pelajaran Fiqih Daโ€™wah dari Nabi Musa โ€˜alaihissalam

1โƒฃ Kemarahan karena Allah tatkala melihat kemunkaran yang jelas dan tak ada perbedaan pendapat tentang status munkarnya. Ini adalah sikap yang wajib dimiliki oleh setiap juru da’wah dan organisasi da’wah. Meskipun ekspresi kemarahan itu harus dikontrol dengan berbagai fiqih, seperti fiqih awlawiyat, fiqih muwazanat, fiqih ma-alat…

2โƒฃ Nabi Musa melakukan empat hal berurutan yang menunjukkan kapasitas dan ketegasannya sebagai seorang pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah:

โœ… Berdialog dengan kaumnya yang tersesat untuk mengetahui masalah dan meluruskan mereka, karena mereka yang paling bertanggung jawab atas diri mereka sendiri, dan mereka punya kehendak untuk tetap istiqamah.

โœ… Berbicara kepada saudaranya, Nabi Harun, yang telah diamanahkan memimpin mereka.

โœ… Menyelesaikan urusan dengan Samiri, sebagai penyebab kesesatan kaumnya dan memberikan hukuman diusir dan dikucilkan dari pergaulan hingga akhir hayatnya (lihat: Thaha: 95-97).

โœ… Membakar patung anak sapi dan membuang abunya ke laut (lihat: Thaha: 97-98).

Sayid Quthb rahimahullah berkata:

ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽูˆูŽุฌูŽู‘ู‡ู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูู†ู’ุฐู ุงู„ู’ุจูŽุฏู’ุกูุŒ ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู‚ูŽูˆู’ู…ูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฆููˆู„ููˆู†ูŽ ุฃูŽู„ูŽู‘ุง ูŠูŽุชูŽู‘ุจูุนููˆุง ูƒูู„ูŽู‘ ู†ูŽุงุนูู‚ูุŒ ูˆูŽู‡ูŽุงุฑููˆู†ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฆููˆู„ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุญููˆู„ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงุชูู‘ุจูŽุงุนูู‡ู ุฅูุฐูŽุง ู‡ูŽู…ูู‘ูˆุง ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽุงุฆูุฏูู‡ูู…ู’ ุงู„ู’ู…ูุคู’ุชูŽู…ูŽู†ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’. ููŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ุณูŽู‘ุงู…ูุฑููŠู‘ ููŽุฐูŽู†ู’ุจูู‡ู ูŠูŽุฌููŠุกู ู…ูุชูŽุฃูŽุฎูู‘ุฑู‹ุง ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูู’ุชูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู’ู‚ููˆูŽู‘ุฉูุŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุถู’ุฑูุจู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูู‚ููˆู„ูู‡ูู…ู’ุŒ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุฃูŽุบู’ูˆูŽุงู‡ูู…ู’ ููŽุบูŽูˆูŽูˆู’ุงุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ููˆุง ูŠูŽู…ู’ู„ููƒููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุซู’ุจูุชููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูุฏูŽู‰ ู†ูŽุจููŠูู‘ู‡ูู…ู ุงู„ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู ูˆูŽู†ูุตู’ุญู ู†ูŽุจููŠูู‘ู‡ูู…ู ุงู„ุซูŽู‘ุงู†ููŠ. ููŽุงู„ุชูŽู‘ุจูŽุนูŽุฉู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู‹ุง ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุงุนููŠู‡ูู…ู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุซูู…ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุตูŽุงุญูุจู ุงู„ู’ููุชู’ู†ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽูˆูŽุงูŠูŽุฉู ุฃูŽุฎููŠุฑู‹ุง.

Nabi Musa tidak langsung mengarahkan kemarahannya kepada Samiri, karena kaumnyalah yang bertanggung jawab (atas diri mereka sendiri) untuk tidak mengikuti semua seruan penyesat.

Sedangkan Harun dialah mas-ul yang bertanggung jawab menghalangi mereka dari keinginan mengikuti kesesatan, dan ia adalah pemimpin yang diamanahi atas mereka.

Adapun Samiri, dosanya datang belakangan karena ia tidak menyesatkan mereka dengan kekuatan (paksaan), juga tidak menghilangkan akal mereka. Tetapi ia hanya mengajak mereka lalu mereka menyambut kesesatannya. Mereka tetap memiliki pilihan untuk tsabat (teguh) di atas petunjuk Nabi mereka yang pertama dan mengikuti nasihat Nabi mereka yang kedua.

Jadi tanggung jawab tetap pada mereka pertama kali, kemudian di pundak pemimpin mereka, kemudian terakhir adalah tanggung jawab pemilik (ide) kerusakan dan kesesatan (Samiri). (Fi Zhilal Al-Quran: 4/2348).

Wallahu a’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Pelajaran Fiqih Dakwah dari Nabi Harun & Nabi Musa ‘alihimassalam

๐Ÿ“† Ahad, 24 Rajab 1437H / 1 Mei 2016

๐Ÿ“š DAKWAH ISLAM

๐Ÿ“ Ust. A Sahal Hasan, Lc

๐Ÿ“‹ PELAJARAN FIQIH DAโ€™WAH dari NABI HARUN & NABI MUSA โ€˜alaihimassalam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š Tak lama setelah Bani Israil diselamatkan dengan ditenggelamkannya Firaun, dan setelah Allah menurunkan rizki kepada mereka berupa manna dan salwa, Nabi Musa alaihissalam meninggalkan kaumnya untuk bergegas memenuhi janji bertemu dengan Allah di bukit Thursina selama 40 malam, yaitu 30 malam di bulan Dzul Qaโ€™dah dan 10 malam awal Dzulhijjah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari (13/86-87).

๐Ÿ“Œ Sebelum berangkat Nabi Musa telah berpesan kepada saudara kandungnya, Nabi Harun alaihissalam, untuk menggantikannya memimpin Bani Israil selama ia pergi.

ูˆูŽูˆูŽุงุนูŽุฏู’ู†ูŽุง ู…ููˆุณูŽู‰ ุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู‹ ูˆูŽุฃูŽุชู’ู…ูŽู…ู’ู†ูŽุงู‡ูŽุง ุจูุนูŽุดู’ุฑู ููŽุชูŽู…ูŽู‘ ู…ููŠู‚ูŽุงุชู ุฑูŽุจูู‘ู‡ู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู†ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู‹ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ููˆุณูŽู‰ ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ู ู‡ูŽุงุฑููˆู†ูŽ ุงุฎู’ู„ููู’ู†ููŠ ูููŠ ู‚ูŽูˆู’ู…ููŠ ูˆูŽุฃูŽุตู’ู„ูุญู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุชูŽู‘ุจูุนู’ ุณูŽุจููŠู„ูŽ ุงู„ู’ู…ููู’ุณูุฏููŠู†ูŽ

Dan telah Kami janjikan kepada Musa tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabb-nya: empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Aโ€™raf: 142).

๐Ÿ“Œ Singkat cerita, setelah Nabi Musa pergi, Samiri berhasil menyesatkan sebagian besar Bani Israil dengan penyembahan patung anak sapi. Nabi Harun menjalankan tugas daโ€™wah sebagai Nabi dan pemimpin mereka, sekaligus menunaikan pesan Nabi Musa dengan mencegah mereka dari kesesatan dan berusaha membimbing mereka kembali ke jalan yang lurus:

ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ู‡ูŽุงุฑููˆู†ู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ูŠูŽุงู‚ูŽูˆู’ู…ู ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ููุชูู†ู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ู ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุฑูŽุจูŽู‘ูƒูู…ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ููŽุงุชูŽู‘ุจูุนููˆู†ููŠ ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุฃูŽู…ู’ุฑููŠ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูŽู†ู’ ู†ูŽุจู’ุฑูŽุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุนูŽุงูƒููููŠู†ูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุฑู’ุฌูุนูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู…ููˆุณูŽู‰

Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Rabb kalian ialah Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah), maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.” Mereka menjawab: “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.” (QS. Thaha: 90-91).

๐Ÿ“Œ Mereka tidak menaati nasihat Nabi Harun, bahkan mereka hampir membunuh beliau:

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ูŽ ุงุณู’ุชูŽุถู’ุนูŽูููˆู†ููŠ ูˆูŽูƒูŽุงุฏููˆุง ูŠูŽู‚ู’ุชูู„ููˆู†ูŽู†ููŠ

Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku. (QS. Al-Aโ€™raf: 150).

๐Ÿ“Œ Nabi Musa marah saat melihat kesesatan kaumnya, lalu mendatangi mereka untuk meluruskan mereka kembali (lihat surat Thaha: 86-89).
Setelah itu, barulah ia menegur Nabi Harun:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุงู‡ูŽุงุฑููˆู†ู ู…ูŽุง ู…ูŽู†ูŽุนูŽูƒูŽ ุฅูุฐู’ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽู‡ูู…ู’ ุถูŽู„ูู‘ูˆุง ุฃูŽู„ูŽู‘ุง ุชูŽุชูŽู‘ุจูุนูŽู†ู ุฃูŽููŽุนูŽุตูŽูŠู’ุชูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑููŠ

Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku? (QS. Thaha: 92-93).

๐Ÿ“Œ Para ulama tafsir menyebutkan maksud teguran Nabi Musa kepada Nabi Harun (ุฃู„ุง ุชุชุจุนู†) โ€œMengapa kamu tidak mengikuti aku?โ€:

โœ… Mengapa kamu tidak segera pergi menyusulku bersama kelompok yang tetap beriman untuk memberitahuku tentang kesesatan mereka? (Ath-Thabari: 18/359; Ibnu Katsir: 5/312).

โœ… Mengapa engkau tidak perangi mereka, karena engkau tahu kalau aku ada saat itu, pasti aku akan perangi mereka. (Zad Al-Masir: 3/172, Al-Baghawi: 3/272-273).

โœ… Mengapa engkau tidak mengikutiku dengan mengingkari kemunkaran mereka? (Zad Al-Masir: 3/172, Fath Al-Qadir: 3/451). Jika yang dimaksud adalah mengingkari dengan lisan, maka Nabi Harun telah melakukannya seperti yang disebutkan oleh surat Thaha ayat 90. Berarti yang dituntut Nabi Musa adalah pengingkaran dengan tangan.

๐Ÿ“Œ Atas pertanyaan saudara kandungnya, Nabi Harun menjawab:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุจู’ู†ูŽุคูู…ูŽู‘ ู„ูŽุง ุชูŽุฃู’ุฎูุฐู’ ุจูู„ูุญู’ูŠูŽุชููŠ ูˆูŽู„ูŽุง ุจูุฑูŽุฃู’ุณููŠ ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฎูŽุดููŠุชู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽู‚ููˆู„ูŽ ููŽุฑูŽู‘ู‚ู’ุชูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุจูŽู†ููŠ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฑู’ู‚ูุจู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ููŠ

“Hai putera ibu, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara (memperhatikan) ucapanku.” (QS. Thaha: 94)

๐Ÿ“š Pelajaran Fiqih Daโ€™wah dari Nabi Harun โ€˜alaihissalam:

๐Ÿ”นBersambung๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

CINTA (bag-1)

๐Ÿ“† Sabtu, 23 Rajab 1437H / 30 April 2016

๐Ÿ“š KELUARGA

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha

๐Ÿ“‹ CINTA (bag-1)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Cinta adalah nikmat Allah Jalla wa โ€˜Ala yang dianugerahkan kepada setiap hamba-Nya. Begitu besar perhatian manusia sepanjang sejarah kehidupan tentang cinta sejalan dengan perhatian manusia yang besar terhadap hati mereka, sebuah perwujudan pengagungan atau perhatian atau luapan kecintaan kepadanya, yang seperti singa dan pedang, atau seperti bencana besar atau seperti arak yang memabukkan, dan tiga pengertian ini menyatu di dalam cinta.

Maka wajar begitu banyak istilah yang disematkan kepada kata cinta hingga hari ini, bahkan melebih 50 istilah. Di antaranya kasih sayang (al-mahabbah), hubungan (al-โ€˜alaqah), hasrat (al-hawa), kerinduan (as-shabwah), kerinduan yang halus (ash-shibabah), cinta mendalam (asy-syaghaf), cinta (al-miqats), cinta disertai rasa sedih (al-wajdu), cinta mendalam (al-kalafu), penghambaan (at-tatayyamu), cinta yang meluap-luap (al-โ€˜isyq), cinta membara (al-jawa), sakit karena cinta (ad-danfu), cinta yang berakhir kegelisahan dan kesedihan (asy-syajwu), rindu (asy-syawaq), cinta yang mengecoh (al-khilฤbah), cinta yang gelisah (al-balฤbil), cinta yang memuncak (at-tabฤrฤซh), cinta yang berakhir dengan sesal (as-sidam), lalai dan mabuk (al-ghamarฤt), takut (al-wahal), membutuhkan (asy-syajan), hangus (al-lฤโ€™ij), merana karena sedih (al-aktiฤb), derita cinta (al-washab), kesedihan (al-huzn), kesedihan yang terpendam di dalam hati (al-kamadu), terbakar api (al-ladzโ€™u), gejala cinta (al-huraqu), sulit tidur (al-araqu), sedih (al-lahfu), belas kasih (al-hanฤซn), tunduk (al-istikฤnah), derita cinta (at-tabฤlah), terbakar kerinduan (al-lauโ€™ah), ujian cobaan (al-futลซn), tidak waras (al-junลซn), setengah gila (al-lamamu), binasa (al-khablu), teguh (ar-rasฤซs), penyakit yang merasuk (ad-dฤ al-mukhฤmiru), kasih yang tulus (al-wuddu), satu cinta (al-khullah), sahabat (al-khilmu), cinta yang dibutuhkan (al-gharamu), sangat dahaga (al-huyamu), linglung (at-tadliyah), bingung (al-walahu), penghambaan (at-taโ€™abbud), dan banyak lagi istilah-istilah lainnya. Namun istilah yang telah disebutkan ini adalah yang paling tepat dimasukkan ke dalam kategori cinta, sebagaimana Ibn Qayyim al-Jauziyyah di dalam Raudhah al-Muhibbฤซn wa Nuzhah al-Musytaqฤซn.

Cinta dapat hadir karena ada motif dan pendorongnya, jika belum ada, maka munculkanlah motif dan pendorong cinta. Hal ini selaras dengan sabda Nabishallallaahu โ€˜alai wa sallam, โ€œJika salah seorang di antara kalian hendak melamar seorang wanita, maka hendaklah dia memandang apa yang mendorongnya untuk menikahinya, karena yang demikian itu lebih layak untuk merukunkan di antara keduanya.โ€ (HR. Abu Daud).

Maka sepasang suami-isteri yang telah melalui ikatan pernikahan sekian lamanya, hendaknya bersama-sama melakukan introspeksi dan menghadirkan apa motif dan pendorong terlahirnya cinta yang akan menguatkan bahtera dalam sakinah, mawaddah, rahmah dan daโ€™wah. Pernikahan yang tercipta karena kerinduan meraih cinta kepada Allah akan melahirkan aktifitas turunan yang bertemakan cinta, seperti mendidik anak dengan cinta, membimbing istri dengan cinta, suami bekerja mencari nafkah karena cinta, dan ayah mengajarkan ilmu kepada anaknya dengan cinta, bahkan seorang suami dapat mengatakan kepada isterinya, โ€œDisebabkan oleh Cinta, kupercayakan rumahku padamu.โ€ [1]

Cinta yang hadir di antara orang-orang beriman bisa menjadi begitu kuat karena mereka merasakan ikatan yang sama, kecocokan dalam satu keadaan, perbuatan dan tujuan yang sama, menyatukan hati mereka laksana satu tubuh, satu tubuh yang amat besar. Telah bersabda Rasulullah shallallaahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€œPerumpamaan orang-orang Mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan mereka laksana satu tubuh. Jika ada satu anggotanya yang sakit, maka semua anggota tubuhnya akan mengeluh karena demam dan tidak bisa tidur (HR. Muslim).

Kecintaan yang begitu mendalam akan melahirkan konsentrasi yang tinggi terhadap sesuatu dan meniadaan sesuatu yang lain secara sempurna, sebagaimana sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€œKecintaanmu kepada sesuatu bisa membuat buta dan tuli. (HR. Ahmad).

Ketika seseorang mencintai ilmu, maka ia tidak lagi merasakan penting selainnya. Al-Hasan al-Bashri berkata, โ€œSatu bab mempelajari ilmu lebih aku cintai daripada dunia dan segala isinya.โ€[2]

Ketika seseorang mencintai Allah maka ia pun ingin ada sekian banyak saudaranya dalam tubuh yang besar itu juga mencintai Allah dan aktifitas apapun akan dilakukannya untuk melahirkan satu tubuh besar yang mencintain Allah. Berkata al-Hasan al-Bashri, โ€œHamba yang paling dicintai Allah adalah hamba yang membuat Allah dicintai hamba lainnya dan mengamalkan nasihat di muka bumi ini.โ€[3]

Benar bahwa ia saat ini hidup di dunia sehingga realistis baginya untuk mengupayakan kebaikan untuk hidupnya di dunia, namun ia sama sekali tidak mencintainya kecuali bersungguh-sungguh menjadikan aktifitasnya di dunia untuk meraih cinta yang hakiki di akhirat. Nasihat besar dari al-Hasan al-Bashri dalam hal ini, โ€œTidak ada yang lebih membuatku tercengang daripada rasa kagetku melihat orang yang menganggap mencintai dunia adalah dosa besar. Sungguh mencintai dunia adalah perbuatan dosa besar. Sebab, semua dosa besar bersumber dari mencintai dunia, penyembahan berhala dan bermaksiat kepada Allah terjadi karena mencintai dunia serta perilaku lebih mengutamakannya?โ€[4]

Bersambung …

[1] Persis seperti judul sebuah buku yang ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim

[2] Shalih Ahmad asy-Syami, Nasihat Ulama Salaf, hlm. 133

[3] Ibid, hlm. 139

[4] Ibn Jauzi, Al-Hasan al-Bashri, hlm. 38-39

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Hubungan Yang Tak Jelas

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
โœUstadzah Dra Indra Asih

๐Ÿ“†Kamis, 28 April 2016 M
                  21 Rajab 1437 H
๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamu’alaikum Wr. Wb.Ustadz/Ustadzah..
Begini Ustadz/Ustadzah , saya punya teman dan kebetulan dia sudah pernah menikah dan kenal dengan seorang laki2. Berjalannya waktu hubungan mereka semakin dekat tapi pada akhirnya si laki2 tadi memutuskan hubugan dengan teman saya karena katanya dia mau dijodohkan dengan saudara dekatnya dan mereka katanya sudah saling sayang juga. Tapi yang laki2 tadi msih sering menghubungi teman saya masih suka bilang masih sayang jadi teman saya itu kayak tidak mau lepas sedangkan laki2nya sudah bilang milih saudaranya. Bagaimana solusi yang terbaik untuk teman saya.
Jazakumullah.

Jawaban
————

Wa’alaikumsalam wr wb..
Solusinya tidak ada lain, tinggalkan laki-laki itu. Karena hubungan yang tidak jelas seperti itu bisa mengarahkan pada maksiat pada Allah. Maksiat dalam pikiran, hati dan perbuatan

Berdoa dan memohon pada Allah agar Alllah ganti yang lebih baik dari dia.

Orang yang beriman dan percaya akan pertolongan  Allah insya Allah mampu mengatasi masalah itu. Bersama Allah tidak ada masalah yang tidak mungkin diselesaikanNya. Allah sudah menjanjikan  dalam surat At Thalaq ayat 2-3 :

โ€œโ€ฆBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. 3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs.At Thalaq : 2-3)

Allah hanya memberikan pertolongan seperti yang disebutkan diatas kepada orang yang bertakwa dan yakin akan pertolonganNya.  Kebanyakan  kita sulit untuk keluar dari berbagai masalah karena kurang bertakwa dan yakin akan pertolongan Allah. Kebanyakan kita hanya mengandalkan akal dan kemampuan diri, enggan bergantung dan memohon pada Allah. Bahkan beranggapan berdoa dan memohon pada Allah sebagai usaha yang sia sia saja.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
( Qs.Al Hadid : 22-23)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa tidak ada satu bencanapun yang menimpa kita melainkan sudah tertulis dalam kitab (lauhilmahfuz) sebelum terjadinya. Allah mengabarkan hal ini agar kita jangan sedih atas apa yang luput dari kita dan jangan sombong dan bangga atas apa nikmat yang diberikan Allah pada kita. Kita sadar sepenuhnya bahwa semua itu sudah ada dalam perencanaan Allah, tanpa izin dan kehendak Allah semua itu tidak akan terjadi dan menimpa kehidupan kita. Rasa ikhlas dan ridho akan melapangkan dada kita, sehingga kita tidak diliputi rasa gelisah, panik, dan tertekan dengan demikian kita bisa berfikir dengan tenang untuk berusaha mengatasi masalah tersebut.

Orang yang tidak ikhlas selalu bertanya kenapa ini terjadi, kemudian protes pada Allah dan lingkungan, menyalahkan berbagai pihak, menyesal berkepanjangan. Rasa panik, gelisah, menyesal, tertekan, menyebabkan fikiran jadi buntu , bagaiamana dia akan mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Ia akan terpuruk bertambah dalam pada kesulitan yang dihadapinya.

“Katakanlah: โ€œSekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.โ€      
(Qs. At Taubah : 51)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa tidak akan menimpa kita sesuatu melainkan dengan izin dan kehendak Allah. Dialah pelindung dan pemimpin kita, dan hanya kepada Allah saja orang yang beriman bertawakal.

Tanpa izin dan kehendakNya semua itu mustahil terjadi. Keyakinan ini akan menimbulkan rasa ikhlas dan ridho akan segala ketetapanNya.

Dalam ayat ini Allah mengingatkan bahwa Allahlah pelindung dan pemimpin orang yang beriman, hanya pada Allah orang yang beriman bertawakal dan berserah diri. Ayat ini akan menimbulkan keyakinan bahwa Allah akan melindungi kita dari berbagai efek buruk kejadian yang menimpa kita. Rasa ikhlas dan ridho akan membangkitkan rasa tawakal dan berserah diri pada Allah. Rasa ikhlas dan tawakal inilah yang menjadi sebab datangnya pertolongan Allah sebagaiman disebutkan dalam surat at Thalaq ayat 2-3.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Suami Perokok Berat, Tak Nyaman Berhubungan Intim

๐ŸŽ€ Ustadzah Menjawab ๐ŸŽ€
โœ Ustadzah Dra Indra Asih

๐Ÿ“†Kamis, 28 April 2016 M
                  21 Rajab 1437 H
๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ‚๐ŸŒป๐ŸŒฟ๐ŸŒน๐ŸŒท๐Ÿ„

Assalamualaikum ustadz/ah..
Apakah berdosa jika saya tidak melayani suami dengan maksimal dikarenakan ada beberapa faktor yang menjadi kendala. Suami saya adalah seorang perokok berat, padahal sebagaimana yang kita tahu merokok adalah hukumnya haram. Sementara saat ini saya menderita bronkhitis dan beberapa keluhan penyakit lainnya. Saya melihat suami saya juga mulai batuk2 dan nafasnya sangat bau karbon akibat rokok sehingga kalau berhubungan suami istri saya kurang maksimal dan tdk semangat, bahkan kadang saya menolak. Saya sudah menyuruh suami berhenti tapi beliau menolak bahkan sampai kadang terbersit dipikiran saya untuk minta cerai tapi saya memikirkan banyak kemudharatan jika kami bercerai. Bagaimana saya harus bersikap dalam hal ini ustad/ustadzah? Mohon pencerahannya. Jazakumullah

Jawaban :
—————

Wa’alaikumsalam wr wb..
Selama berkomitmen untuk bertahan menjadi istri, maka berlaku bahwa:

Menolak suami yang mengajak berhubungan intim tentu saja adalah perbuatan yang haram dilakukan oleh seorang istri. Allah dan Rasul-Nya tidak mencintai seorang wanita berlaku seperti itu kepada suaminya.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Apabila laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidurnya kemudian ia menolak untuk datang lalu laki-laki itu tidur semalam dalam keadaan marah kepadanya, maka ia dilaknat oleh malaikat sampai subuh.”
(HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Dari Abdullah bin Abu Aufa, ia berkata: Tatkala Muadz tiba dari Syam, maka sujudlah ia kepada nabi saw.Lalu Nabi bertanya,
“Apakah ini hai Muadz?
Muadz menjawab, “Aku telah datang ke Syam kemudian kujumpai mereka pada sujud kepada uskup-uskup dan panglima-panglima mereka, lalu aku ragu-ragu dalam hatiku untuk berbuat seperti itu terhadapmu.”
Kemudian Rasulullah saw bersabda,”Janganlah engkau lakukan itu, karena sesungguhnya kalau seandainya aku (boleh) menyuruh seseorang sujud kepada selain Allah, tentu aku suruh perempuan sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang diri Muhammad dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang perempuan menunaikan hak Tuhannya sehingga ia menunaikan hak suaminya dan kalau seandainya suaminya menghendaki dirinya sedang ia di atas kendaraan, maka ia tidak boleh menolaknya.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Melaksanakan ketaatan kepada Allah dalam melayani suami memang tidak selamanya menyenangkan dan mulus-mulus saja. Ada kesulitan dan kelemahan-kelemahan sang istri ketika menjalankannya. Namun, jika seorang istri meniatkannya untuk beribadah hanya kepada Allah, lalu dia memohon kepada Allah agar diberi kemudahan dalam ketaatan tersebut, niscaya Allah akan memberikan kemudahan dan keberkahan dalam hubungan suami istri tersebut. Istri akan melayani suami dengan sukacita dan bersungguh-sungguh hingga membuat suami puas terhadap dirinya. Maka Surga menjadi hak bagi sang istri.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐Ÿ„๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.imas-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih pahala…