Salam Atau Bismillah yang Lebih Dulu?

โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
๐Ÿ“ŒPertanyaan:
Assalamuallaikum wr wb. Mana lebih dulu salam atau bismillah pada saat pembukaan?                                
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ
(Mba Risya) member ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ.                                     
๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ
Jawaban nya ,
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah … Bismillah wal Hamdulillah ..
Secara umum membaca basmalah   dianjurkan pada awal setiap amal kebajikan, sebagaimana riwayat shahih tentang menjimaโ€™ istri, naik kendaraan, memulai makan, memulai majelis, memulai wudhu,   dan lainnya.  Ada sebuah riwayat:
ูƒู„ ุฃู…ุฑ ุฐูŠ ุจุงู„ ู„ุง ูŠุจุฏุฃ ููŠู‡ ุจ ( ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู… ) ูู‡ูˆ ุฃุจุชุฑ
โ€œSetiap urusan dalam kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka dia terputus.โ€
(Diriwayatkan oleh As Subki dalam Thabaqat As Syafiโ€™iyah, 1/6. Al Khathib dan Al Hafizh Abdul Qadir Ar Rahawi, hal. 5)
Namun riwayat ini dhaif (lemah), lantaran seorang perawi bernama Ahmad bin Muhammad bin โ€˜Imran Al โ€˜Atiqi, biasa dikenal Ibnu Al Jundi. Imam  Khathib Al Baghdadi mengatakan: โ€œRiwayat darinya dilemahkan dan madzhabnya telah dicela (karena dia tasyayyuโ€™ โ€“ terpengaruh syiโ€™ah). Aku bertanya kepada Az Zuhri tentang Ibnu Al Jundi, katanya: โ€œDia bukan apa-apa.โ€  (Tarikh Baghdad, 2/414)
Syaikh Al Albani menyatakan: dhaif jiddan โ€“ sangat lemah. (Lihat Irwaโ€™ul Ghalil, 1/29. Cet. 2. 1985M-1405H.  Al Maktab Al Islami. Beirut) 
 Sementara Imam Ibnu Katsir berhujjah dengan hadits ini, namun tidak berkomentar apa-apa tentang derajat hadits ini. (Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 1/120)
 Tertulis dalam Majmuโ€™ah Rasaโ€™il-nya Imam Hasan Al Banna, pada Bab Al Maโ€™tsurat, hal. 379. Penerbit Al Maktabah At Taufiqiyah, pada catatan kaki no. 3, bahwa Imam Abu Daud dan selainnya meriwayatkan dengan sanadnya, dari Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, bersabda:
 ูƒู„ ุฃู…ุฑ ุฐูŠ ุจุงู„ ู„ุง ูŠุจุฏุฃ ููŠู‡ ุจุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…  ูู‡ูˆ ุฃู‚ุทุน
  โ€œSetiap urusan kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka itu perputus.โ€
  Ini keliru dan tidak terdapat dalam Sunan Abu Daud. Justru dalam โ€˜Aunul Maโ€™bud Syarh Sunan Abi Daud disebutkan tentang riwayat ini: โ€œdikeluarkan oleh Ibnu Hibban melalui dua jalan/jalur. Ibnu Ash Shalah mengatakan:  hadits ini hasan. โ€ (Lihat โ€˜Aunul Maโ€™bud, 13/130)
  Ternyata, yang tertulis dalam โ€˜Aunul Maโ€™bud bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban juga keliru! Benar ada dua jalan, namun  tidak ada teks yang demikian. Dalam Shahih Ibnu Hibban, baik  No. 1 dan No. 2, (baik terbitan Muasasah Ar Risalah dengan tahqiq Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth, mau pun keluaran Mawqiโ€™ Ruh Al Islam) teks (matan) nya adalah:
ูƒู„ ุฃู…ุฑ ุฐูŠ ุจุงู„ ู„ุง ูŠุจุฏุฃ ููŠู‡ ุจุญู…ุฏ ุงู„ู„ู‡ ูู‡ูˆ ุฃู‚ุทุน
โ€œSetiap urusan kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan  Alhamdulillah, maka itu terputus.โ€
Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan bahwa isnad hadits ini dhaif, lantaran kedhaifan Ibnu Abdirrahman Al Muโ€™afiri Al Mishri, yang telah didhaifkan oleh Yahya bin Maโ€™in, Ahmad, Abu Zurโ€™ah, Abu Hatim, dan An Nasaโ€™i. (Tahqiq Shahih Ibnu Hibban, 1/173)
Dalam Sunan Abu Daud  tidak ada pula lafaz demikian. Yang benar adalah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
ูƒู„ู‘ู ูƒู„ุงู…ู ู„ุง ูŠูุจุฏุฃ ููŠู‡ ุจุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‘ู‡ ูู‡ูˆ ุฃุฌุฐู…
  โ€œSetiap ucapan yang di dalamnya tidak dimulai dengan Al Hamdulillah, maka dia terputus (fahuwa aj-dzam).โ€ 
(HR. Abu Daud No. 4840,  yang seperti ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 1894, juga diriwayatkan oleh ibnu majah no. 1894, al baihaqi dalam as sunan al kubra no. 5559, ad daruquthni, kitabus shalah no. 1,  ibnu hibban no. 1, ibnu abi syaibah dalam al mushannaf, 6/263, semua dengan lafaz: fa huwa aqthaโ€™. namun ini pun juga dhaif. lantaran kedhaifan ibnu abdirrahman al muโ€™afiri al mishri, yang telah didhaifkan para ulama seperti ibnu maโ€™in, abu zurโ€™ah, an nasaโ€™i, abu hatim, dll. syaikh al albani mendhaifkan semuanya dalam berbagai kitabnya, seperti dhaiful jamiโ€™ no. 4216, tahqiq misykah al mashabih no. 3151, dhaif at targhib wat tarhib no. 958, dan lainnya. sedangkan imam abu thayyib syamsul โ€˜azhim abadi mengatakan riwayat ini hasan, baik diriwayatkan secara maushul dan mursal, dan yang maushul (bersambung) sanadnya jayyid (baik). lihat โ€˜aunul maโ€™bud, 13/130).
 wallahu aโ€™lam
  sehingga dari sini, ada yang menggandengkan menjadi:  bismillah wal hamdulillah …., dalam pembukaan khutbahnya. ada pula yang langsung alhamdulillah atau tahmid yang semisal, bukan bismillah, karena dhaifnya mengawali segala sesuatu dengan โ€œbismillah.โ€
ada pun assalamu โ€˜alaikum, secara khusus tidak kita jumpai dalam as sunnah di awal khutbah kecuali khutbah jumat. oleh karena itu sebagian orang ada yang membidโ€™ahkannya. sebab yang menjadi kebiasaan nabi ๏ทบ adalah memulai semua khutbahnya (selain khutbah jumat)  dengan membaca pujian seperti innal hamdalillah atau yang sejenis. 
  imam ibnu taimiyah mengatakan:
ู‡ูˆ ุงู„ุตูˆุงุจุŒ ู„ุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…
ู‚ุงู„: (ูƒู„ ุฃู…ุฑ ุฐูŠ ุจุงู„ ู„ุง ูŠุจุฏุฃ ููŠู‡ ุจุงู„ุญู…ุฏ ูู‡ูˆ ุฃุฌุฐู…)   ูˆูƒุงู† ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูุชุชุญ ุฎุทุจู‡ ูƒู„ู‡ุง ุจุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡
  itulah yang benar, karena nabi ๏ทบ bersabda: โ€œsemua hal yang tidak dimulai dengan pujian (al hamdu) maka terputus.โ€ dahulu, nabi ๏ทบ membuka semua khutbahnya dengan al hamdu. (fiqhus sunnah, 1/322)
  bahkan memulai makan pun, juga didahului al hamdulillah dan bismillah, sebagaimana riwayat:
  namun pihak yang membolehkan mengucapkan salam di awal memiliki beberapa alasan:
1 . mengqiyaskan dengan khutbah jumat
2. hadits:  
ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู‚ููŠุชูŽู‡ู ููŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู
  jika berjumpa dengan seorang muslim maka ucapkanlah salam. (hr. muslim no. 2162). umumnya, orang berkhutbah memang baru berjumpa dengan pendengarnya.
3. keumuman hadits perintah sebarkan salam:
 ู„ูŽุง  ุชูŽุฏู’ุฎูู„ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูุคู’ู…ูู†ููˆุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูุคู’ู…ูู†ููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุญูŽุงุจู‘ููˆุงุŒ ุฃูŽูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุฏูู„ู‘ููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽูŠู’ุกู ุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ู’ุชูู…ููˆู‡ู ุชูŽุญูŽุงุจูŽุจู’ุชูู…ู’ุŸ ุฃูŽูู’ุดููˆุง ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’
 kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidaklah beriman sampai kalian saling mencintai. maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? yaitu sebarkan salam di antara kalian. (hr. muslim no. 54, dari abu hurairah)
4. walau sebelumnya si khatib sudah salam dalam pertemuan, boleh beliau mengulangi salamnya ketika khutbah. berdasarkan hadits:
ุฅุฐุง ู„ู‚ูŠูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŽูƒูู…ู’ ุฃุฎุงู‡ ููŽู„ู’ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ููŽุฅู†ู’ ุญุงู„ูŽุชู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุดูŽุฌูŽุฑูŽุฉูŒ ุฃูˆ ุฌูุฏูŽุงุฑูŒ ุฃูˆู’ ุญูŽุฌูŽุฑูŒ ุซูู…ู‘ูŽ ู„ูŽู‚ููŠูŽู‡ู ููŽู„ู’ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡
jika salah seorang kamu berjumpa saudaranya maka ucapkanlah salam kepadanya, jika di antara keduanya terhalang oleh pohon, atau dinding, atau batu, lalu berjumpa dengannya lagi maka salamlah kepadanya. (hr. abu daud no. 5202, shahih) 
jadi, masalah ini sangat luwes. bisa memilih mana yang lebih dahulu, semua memiliki dasar yang kuat.
 Wallahu A’lam
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Seputar Pembagian Waris

โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐Ÿƒ๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamualaikum.
saya mau bertanya urgent yang harus di selesaikan. tentang  warisan.
Bapak sudah meninggal 7 tahun yang lalu dan meninggalkan rumah di taksir 6 milyar. Ibu tinggal di rumah tersebut. Baiknya menunggu ibu meninggal, apa di jual dan di bagi kepada ahli warisnya?
Mengingat ahli waris ada yang ingin cepat di bagikan,  ada juga yang ingin nanti bila ibu sudah meninggal. mohon jawabannya segera. Ahli waris: Ibu (istri dari yang meninggal), 3 anak laki laki, 7 anak perempuan.

 (Tuti A12)

JAWABAN:

Wa ‘alaikumussalam, ya sebaiknya disegerakan agar jangan ada ahli waris yang terzalimi, tapi bersabar juga karena menjual rumah tidak mudah.

Lalu, setelah terjual bayarkan dulu semua hutang almarhum kalau ada. Kemudian, sisanya itu yang diwariskan.

Untuk ibu dapat 1/8, anak2 dapet sisanya ..

Ibu = 1/8 bagian
Anak laki-laki masing-masing
= 7/52 bagian
–> 3 anak = 21/52 bagian

Anak perempuan masing-masing
= 7/104 bagian
–> 7 anak = 49/104 bagian

1/8 + 21/52 + 49/104 = 1

Demikian. Wallahu a’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐Ÿƒ๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Adab Mandi

โœUstadzah Dra.Indra Asih

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐ŸŒป๐Ÿƒ๐ŸŒน๐ŸŒท

๐ŸŒผPertanyaan dari Korma 3

๐ŸšฆSaya mau tanya tentang adab-adab mandi di dalam kamar mandi. Ada yang bilang katanya kita tidak boleh (maaf) telanjang bulat ya?

JAWABAN:

Sebagian orang merasa ragu tentang hukum mandi dalam keadaan membuka seluruh aurat, apakah boleh ataukah tidak. Di antara hal yang menyebabkan keraguan ini adalah sebuah hadits dari Muโ€™awiyah bin Haidah radhiallahu โ€˜anhu, dia berkata:
 ู‚ู„ุช: ูŠุง ู†ุจูŠ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุนูˆุฑุงุชู†ุงุŒ ู…ุง ู†ุฃุชูŠ ู…ู†ู‡ุง ูˆู…ุง ู†ุฐุฑุŸ ู‚ุงู„: ุงุญูุธ ุนูˆุฑุชูƒ ุฅู„ุง ู…ู†ุฒูˆุฌุชูƒ ุฃูˆ ู…ุง ู…ู„ูƒุช ูŠู…ูŠู†ูƒ. ู‚ู„ุช: ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ู‚ูˆู… ุจุนุถู‡ู… ููŠุจุนุถุŸ ู‚ุงู„: ุฅู† ุงุณุชุทุนุช ุฃู† ู„ุง ูŠุฑุงู‡ุง ุฃุญุฏ ูู„ุง ูŠุฑุงู‡ุง. ู‚ุงู„: ู‚ู„ุช: ูŠุง ู†ุจูŠ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุฅุฐุงูƒุงู† ุฃุญุฏู†ุง ุฎุงู„ูŠุงุŸ ู‚ุงู„: ูุงู„ู„ู‡ ุฃุญู‚ ุฃู† ูŠุณุชุญูŠูŠ ู…ู†ู‡ ู…ู† ุงู„ู†ุงุณ

โ€œSaya bertanya: โ€œWahai Nabi Allah, aurat kita, manakah yang harus kita tutup dan manakah yang boleh kita tampakkan?โ€ Nabi menjawab: โ€œJagalah auratmu kecuali terhadap istrimu atau budak (wanita)mu.โ€ Saya bertanya: โ€œWahai Rasulullah, apabila sekelompok orang sedang berkumpul bersama?โ€ Nabi menjawab: โ€œJika engkau mampu agar auratmu tidak bisa dilihat oleh seorangpun maka (usahakan) jangan sampai ada orang yang bisa melihatnya.โ€ Saya bertanya: โ€œWahai Nabi Allah, apabila salah seorang dari kita sendirian?โ€ Nabi menjawab: โ€œAllah lebih pantas bagi dia untuk malu terhadap-Nya daripada (malu) terhadap manusia.โ€ [HR At Tirmidzi (2794). Hadits hasan.]

Hadits di atas menerangkan bahwa jikalau kita malu untuk menampakkan aurat di hadapan orang lain, maka tentunya kita lebih patut lagi untuk malu kepada Allah jika kita membuka aurat ketika mandi.

Penjelasan yang benar dalam masalah ini, insya Allah, adalah bolehnya bagi seseorang untuk mandi dalam keadaan menyingkap seluruh aurat asalkan dilakukan di tempat yang tertutup atau jauh dari pandangan manusia agar mereka tidak dapat melihat kepada auratnya. Ada beberapa dalil yang menunjukkan bolehnya seseorang untuk mandi telanjang. Di antara dalilnya adalah:

1. Kisah Nabi Musa AS Dari Abu Hurairah radhiallahu โ€˜anhu, bahwasanya Rasulullah  Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:
 ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุจูŽู†ููˆ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ููˆู†ูŽ ุนูุฑูŽุงุฉู‹ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถูุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู…ููˆุณูŽู‰ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู. ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง: ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ู…ูŽุง ูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนู ู…ููˆุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ู…ูŽุนูŽู†ูŽุงุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุขุฏูŽุฑู. ููŽุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู‹ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ููŽูˆูŽุถูŽุนูŽ ุซูŽูˆู’ุจูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูŽุฌูŽุฑู. ููŽููŽุฑู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฌูŽุฑู ุจูุซูŽูˆู’ุจูู‡ู. ููŽุฎูŽุฑูŽุฌูŽู…ููˆุณูŽู‰ ูููŠ ุฅูุซู’ุฑูู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู: ุซูŽูˆู’ุจููŠ ูŠูŽุง ุญูŽุฌูŽุฑู! ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู†ูŽุธูŽุฑูŽุชู’ ุจูŽู†ููˆ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ู…ููˆุณูŽู‰ุŒููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง: ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ู…ูŽุง ุจูู…ููˆุณูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุจูŽุฃู’ุณู. ูˆูŽุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุซูŽูˆู’ุจูŽู‡ู ููŽุทูŽููู‚ูŽ ุจูุงู„ู’ุญูŽุฌูŽุฑู ุถูŽุฑู’ุจู‹ุง. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ: ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู†ูŽุฏูŽุจูŒ ุจูุงู„ู’ุญูŽุฌูŽุฑู ุณูุชู‘ูŽุฉูŒ ุฃูŽูˆู’ ุณูŽุจู’ุนูŽุฉูŒ ุถูŽุฑู’ุจู‹ุง ุจูุงู„ู’ุญูŽุฌูŽุฑู

โ€œMasyarakat Bani Israil biasa mandi bersama dalam keadaan telanjang. Mereka saling melihat kepada (aurat) yang lainnya. Sedangkan Musa AS mandi sendirian. Berkatalah masyarakat Bani Israil: โ€œDemi Allah, Musa itu tidak mau mandi bersama kita pasti karena ada cacat pada nya.โ€ Pada suatu ketika, Musa pergi mandi. Dia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Lalu batu tersebut bergerak pergi sambil membawa pakaiannya. Musa pun mengejar batu tersebut di belakangnya sambil berkata: โ€œWahai batu, kembalikan bajuku!โ€ Kaum Bani Israil melihat kepada Musa dan berkata: โ€œDemi Allah, ternyata Musa tidak memiliki kelainan apapun.โ€ Lalu Musa mengambil bajunya dan langsung memukul batu tersebut.โ€ Abu Hurairah berkata: โ€œDemi Allah, pada batu tersebut terdapat enam atau tujuh tanda bekas pukulan.โ€ Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di dalam Shahih-nya  dan Imam Muslim di dalam Shahih-nya.

 2. Kisah Nabi Ayyub.
 ุจูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฃูŽูŠู‘ููˆุจู ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ุนูุฑู’ูŠูŽุงู†ู‹ุง ููŽุฎูŽุฑู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฌูŽุฑูŽุงุฏูŒ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจูุŒ ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุฃูŽูŠู‘ููˆุจู ูŠูŽุญู’ุชูŽุซููŠ ูููŠุซูŽูˆู’ุจูู‡ู. ููŽู†ูŽุงุฏูŽุงู‡ู ุฑูŽุจู‘ูู‡ู: ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ููˆุจูุŒ ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ุฃูŽูƒูู†ู’ ุฃูŽุบู’ู†ูŽูŠู’ุชููƒูŽ ุนูŽู…ู‘ูŽุง ุชูŽุฑูŽู‰ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุจูŽู„ูŽู‰ ูˆูŽุนูุฒู‘ูŽุชููƒูŽุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ู„ูŽุง ุบูู†ูŽู‰ ุจููŠ ุนูŽู†ู’ ุจูŽุฑูŽูƒูŽุชููƒูŽ

โ€œKetika (Nabi) Ayyub sedang mandi dalam keadaan telanjang, jatuhlah belalang-belalang dari emas di dekatnya. Lalu Ayyub menciduk (belalang-belalang emas itu) ke dalam pakaiannya. Maka Rabbnya memanggilnya: โ€œWahai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupkan (rizki) bagimu dari (selain) apa yang engkau lihat?โ€ Ayyub menjawab: โ€œBenar (wahai Allah) demi keagungan-Mu, akan tetapi tidak cukup bagiku untuk (tidak mengambil) keberkahan-Mu.โ€ Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di dalam Shahih-nya. Kedua hadits di atas menerangkan bahwa Nabi Musa dan Ayyub โ€˜alaihimas salam mandi dalam keadaan telanjang. Jika ada yang mengkritik bahwa ini adalah syariat umat terdahulu dan tidak lagi berlaku pada umat Muhammad, maka hal ini telah dijawab oleh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitab Fathul Bari bahwa Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam menceritakan kedua peristiwa kepada para sahabat tanpa ada catatan apapun dari beliau. Ini menunjukkan bahwa perbuatan kedua nabi tersebut diakui di dalam syariat kita. Kalau seandainya hal ini tidak diakui oleh syariat kita, maka pastilah Nabi  Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam  telah menerangkannya kepada kita.

3. Kisah Nabi Muhammad Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam  mandi bersama Aisyah radhiallahu โ€˜anha. Rasulullah Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam pernah mandi bersama istri beliau Aisyah di dalam satu ruangan pada waktu yang sama. Aisyah berkata: ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฅูู†ูŽุงุกู ูˆูŽุงุญูุฏู ุชูŽุฎู’ุชูŽู„ููู ุฃูŽูŠู’ุฏููŠู†ูŽุง ูููŠู‡ู โ€œSaya pernah mandi (janabah) bersama Nabi Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam dari satu bejana dan tangan kami saling bergantian (mengambil air) di dalamnya.โ€ [HR Al Bukhari dan Muslim]

4. Kisah Nabi Muhammad Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam  mandi bersama Maimunah radhiallahu โ€˜anha. Dari Abdullah ibnu Abbas radhiallahu โ€˜anhu, dia berkata:

 ุฃุฎุจุฑุชู†ูŠ ู…ูŠู…ูˆู†ุฉ ุฃู†ู‡ุง ูƒุงู†ุช ุชุบุชุณู„ ู‡ูŠ ูˆุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุฅู†ุงุกูˆุงุญุฏ

Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam   โ€œMaimunah telah mengabarkan kepada saya bahwa dia pernah mandi bersama Nabi  dari satu bejana.โ€ [HR Muslim (322)] Nabi salallahu โ€˜alaihi wasallam Walaupun kedua hadits di atas tidak secara jelas menyatakan bahwa Nabi   mandi telanjang, akan tetapi para ulama berdalil dengan hadits ini tentang bolehnya seorang suami melihat aurat istrinya ataupun sebaliknya. Silakan melihat kalam Ibnu Hajar di Fathul Bari. Adapun hadits-hadits yang melarang seseorang untuk melihat aurat istrinya, maka seluruhnya adalah lemah dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Lantas bagaimana dengan hadits Muawiyah bin Haidah radhiallahu โ€˜anhu di atas yang menerangkan bahwa kita harus malu kepada Allah ta’ala jika mandi dalam keadaan telanjang? Jawabannya adalah hadits Muawiyah bin Haidah menunjukkan bahwa mandi dalam keadaan menutup aurat adalah lebih utama dan lebih sempurna, bukan wajib. Al Munawi berkata: โ€œAsy Syafiโ€™iyyah membawa hadits ini kepada hukum an nadb (lebih utama).

Di antara yang mendukung pendapat mereka adalah Ibnu Jarir. Dia menafsirkan hadits ini di kitab Tahdzibul  Aatsar kepada hukum nadb. Dia berkata: โ€œKarena Allah taโ€™ala tidak tersembunyi darinya segala sesuatu dari makhluk-Nya, baik telanjang ataupun tidak telanjang.โ€  Pendapat ini juga didukung Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam kitab Fathul Bari.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa mandi dalam keadaan telanjang hukumnya adalah diperbolehkan dengan syarat auratnya tidak terlihat oleh orang lain selain istri. Akan tetapi, yang lebih utama dalam hal ini adalah mandi dengan menutup auratnya.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐ŸŒป๐Ÿƒ๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Dosakah Istri Siri yang Menyembunyikan Pernikahannya dengan Istri Pertama Suaminya?

โœUstadzah Dra.Indra Asih

 ๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

๐ŸƒPertanyaan dari Korma 3

Assalamualaikum…. Ustadz/ustadzah… terkait dengan pertanyaan dan jawaban tentang istri siri yang baru saja di share, saya jadi kepikiran diri saya sendiri.

1. Apakah saya termasuk orang yang berdosa karena menikah dengan suami orang ?
Pada saat mau menikah, saya tahu suami sudah punya istri. Tetapi mereka sampai sekarang  belum dikaruniai keturunan. Alasan ingin mendapatkan keturunan yang membuat suami mau menikahi saya. Pernikahan saya sah (ada buku nikah), tetapi sampai sekarang masih ditutupi dengan istri pertamanya. Saya menikah sudah 8 tahun lebih. Dan sudah dikaruniai 2 orang anak. Saya tidak pernah berusaha untuk membicarakan soal pernikahan saya dengan istrinya yang pertama. Karena suami melarang saya. Alhamdulillah dari awal keluarga suami merestui pernikahan kami.

2. Jika memang berdosa, bagaimana sebaiknya saya bersikap ? Apakah saya harus mengajukan cerai ?

JAWABAN:

๐ŸŒฟPertanyaan 1

Ketika memutuskan untuk mempertahankan Rumah Tangga, maka lebih baik membahas langkah-langkah yang bisa diambil agar rumah tangga uhty menjadi menyenangkan. Diantaranya:

1. Bersabarlah

2. Berlatih Untuk Mengutarakan Perasaan

Terkadang sulit sekali mengutarakan perasaan dan maksud hati kita pada suami. Untuk menghadapi suami yang demikian, maka sebagai istri kita dituntut untuk bisa sepintar mungkin mengutarakan maksud hati dan perasaan pada suami. Maksud pintar disini adalah istri dituntut untuk bisa menyampaikan maksud hatinya dengan baik tanpa menyinggung atau menyakiti perasaan suaminya. Jangan serta merta anda mengatakan suami anda egois jika perasaan dan keinginan anda tak pernah digubrisnya. Jika hal ini sampai terjadi, maka bukan saja anda tidak akan didengar justru pertengkaran akan semakin mudah tersulut dan terjadi dalam rumah tangga anda. Cukup katakan pada suami bahwa anda dan anak-anak membutuhkan perhatiannya. Contoh lain, mintalah suami untuk lebih memperhatikan kata-kata anda sewaktu anda dan suami mengobrol. Tidak perlu kata-kata kasar untuk mengungkapkan rasa kesal anda pada suami, sebaliknya ungkapkan dengan lembut tanpa membuat suami tersakiti.

3. Berbincang dengan suami dari hati ke hati.

Ingatkan dirinya bahwa rumah tangga akan lebih harmonis dan bahagia jika ia mau memperhatikan istri dan anak lebih banyak daripada memperhatikan pekerjaan semata

Pesan Rasulullah untuk para suami:

โ€œBertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allahโ€ (HR Muslim)

3. Cerdas Sewaktu Berkompromi

Pada saat anda membutuhkan bantuan suami namun mereka menolak melakukannya, maka hindari memarahi atau bahkan mengumpat suami. Sebaliknya lakukan kompromi bersama dengan suami. Misalkan, ketika anda sedang memasak dan anak anda menangis ingin digendong, sementara anda melihat suami sedang bersantai. Maka mintalah suami untuk mengajak anak dan menjaganya sementara anda memasak dan berikan pula kompensasi pada suami bahwa anda akan memasak menu yang disukainya. Dengan begitu, suami akan merasa lebih baik dan seolah tidak diperintah, melainkan lebih merasa tulus sewaktu membantu anda.

4. Usulkan Waktu Bersama

Usulkan waktu bersama untuk melakukan hal-hal positif yang menyenangkan yang bisa meningkatkan kesehatan mental anda dan pasangan. Seperti misalkan melakukan beberapa hal dengan jalan-jalan atau berolah raga bersama atau bisa juga dilakukan dengan melakukan kegiatan yang disukai suami.

5. Tumbuhkan Rasa Sayang

Permasalahan yang terjadi sehari-hari apalagi dilatarbelakangi oleh sifat suami yang kurang disukai seringkali membuat seorang istri lupa caranya menyenangkan suami. Hal ini mungkin saja disebabkan karena istri terlalu sibuk mengurus anak dan urusan rumah tangga dan mengelola keungan rumah tangga. Sehingga perhatian dan kasih sayang istri pada suami menjadi berkurang. Begitupun dengan suami saat mereka tak diberikan perhatian, mereka akan cenderung menganggap jika kita sudah tak lagi mencintainya. Untuk itulah, ketika anda ingin diperlakukan baik oleh suami maka perlakukan mereka seperti anda ingin diperlakukan. Suami yang makin sayang pada istrinya akan secara otomatis lebih peka dan lebih peduli pada sang istri, bahkan mereka lebih rela mengesampingkan lelahnya sekalipun.

Terkait masalah nafkah:

Allah SWT berfirman dalam surah an-Nisaaโ€™ ayat 34, โ€œKaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita). Dan karena mereka (laki-laki) menafkahkan sebagian harta mereka…โ€

Dalam ayat ini jelas disebutkan jika kewajiban memberi nafkah ada di pundak laki-laki. Seorang suami harus berusaha sekuat kemampuannya untuk memberi nafkah kepada istrinya. Meski kondisi sedang sulit, kewajiban ini tidak lantas gugur dengan sendirinya. Bahkan, jika ia sengaja tidak bekerja maka beberapa ulama menggolongkan perbuatannya masuk dosa besar.

Rasulullah SAW bersabda, โ€œCukuplah seseorang itu dikatakan berdosa jika menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya.โ€ (HR Muslim).

Di sisi lain baik seorang laki-laki itu bekerja atau tidak, ia tetap pemimpin dari istrinya. Artinya meski memiliki penghasilan, seorang wanita tidak boleh merendahkan atau menolak taat kepada suaminya. Sepanjang perintah sang suami tidak dalam bentuk kemaksiatan.

Harta yang dihasilkan dari pekerjaan istri sepenuhnya milik istri. Jika ia menggunakannya untuk menafkahi keluarga maka itu termasuk sedekah dan kemuliaan. โ€œApabila seorang Muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dan dia mengharap pahala darinya maka itu bernilai sedekah.โ€ (HR Bukhari)

๐ŸŒฟPertanyaan 2

Yang perlu dibahas adalah ketika pernikahan ke dua sudah terjadi

1.  Salah satu yang dituntut untuk dilakukan oleh suami yang melakukan poligami adalah bersikap adil secara materi dalam masalah nafkah lahir batin. Suami wajib memberikan nafkah yang memenuhi kelayakan yang sama kepada semua istrinya. Suami wajib memberikan jatah gilir waktu kunjungan yang sama. Jika tidak sanggup melakukan hal ini, Islam mengingatkan agar tidak melakukan poligami. Allah berfirman;

ููŽุฅูู†ู’ ุฎููู’ุชูู…ู’ ุฃูŽู„ูŽู‘ุง ุชูŽุนู’ุฏูู„ููˆุง ููŽูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู‹ ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุง ู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชู’ ุฃูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ููƒูู…ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽู„ูŽู‘ุง ุชูŽุนููˆู„ููˆุง

โ€œJika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahlah dengan seorang wanita saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada sikap tidak berbuat aniaya.โ€ (QS. An-Nisa: 3).

Bahkan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengancam sikap tidak adil semacam ini. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูŽุงู†ู ูŠูŽู…ููŠู„ู ู„ูุฅูุญู’ุฏูŽุงู‡ูู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰ ุฌูŽุงุกูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุฃูŽุญูŽุฏู ุดูู‚ูŽู‘ูŠู’ู‡ูู…ูŽุงุฆูู„ูŒ

โ€œSiapa yang memiliki dua istri, namun dia hanya mementingkan salah satunya, maka dia akan datang pada hari kiamat, sementara salah satu sisi badannya condong.โ€ (HR. Ahmad, An-Nasai, Ibn Majah).

2. Untuk mewujudkan semangat adil sebagaimana keterangan di atas, sebagian ulama mempersyaratkan bahwa suami yang hendak poligami harus diketahui oleh semua istrinya. Karena seseorang tidak mungkin bisa bersikap adil, sementara hubungan terhadap semua istrinya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dalam kenyataannya, mereka yang melakukan praktik poligami secara sembunyi-sembunyi, tidak diketahui istri pertama, sangat kesulitan untuk bisa bersikap adil. Jika tidak mementingkan istri pertama, dia lebih mengunggulkan istri kedua. Tentu saja, sikap sembunyi-sembunyi semacam ini telah menjerumuskan dia ke dalam jurang maksiat.

Meskipun, bukan syarat poligami harus diizinkan istri pertama. Dua hal yang perlu dibedakan, diketahui istri dan izin dari istri. Poligami harus diketahui istri, meskipun tidak diizinkan oleh istri.

3.  Untuk kasus ukhty sebaiknya kembalikan penyelesaian permasalahan pada suami.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒป๐Ÿƒ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Jadi …, Minum Sambil Berdiri Boleh Apa Enggak Sih?

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS

๐Ÿ“Œ Riwayat yang menunjukkan BOLEHnya minum sambil  berdiri

Berikut ini adalah keterangan bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pernah minum sambil berdiri.

โœ… Dari Nazzal, katanya:

ุฃูŽุชูŽู‰ ุนูŽู„ููŠูŒู‘ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุงุจู ุงู„ุฑูŽู‘ุญูŽุจูŽุฉู ููŽุดูŽุฑูุจูŽ ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ ู†ูŽุงุณู‹ุง ูŠูŽูƒู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽุงุฆูู…ูŒ ูˆูŽุฅูู†ูู‘ูŠ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ููŽุนูŽู„ูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู…ููˆู†ููŠ ููŽุนูŽู„ู’ุชู

    โ€œAli Radhiallahu โ€˜Anhu datang ke pintu Ar Rahabah, lalu dia minum sambil berdiri, lalu berkata: Sesungguhnya manusia membenci salah seorang mereka minum sambil berdiri. Sesungguhnya saya melihat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melakukan seperti yang kalian lihat terhadap perbuatanku.โ€ (HR. Bukhari No. 5292)

โœ… Dari Amru bin Syuโ€™aib, dari ayahnya, dari kakeknya, katanya:

ุฑุฃูŠุช ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุดุฑุจ ู‚ุงุฆู…ุง ูˆู‚ุงุนุฏุง

โ€œAku melihat Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam minum sambil berdiri dan duduk.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 1944, katanya: hasan shahih.  Syaikh Al Albani menyatakan hasan dalam Mukhtashar Asy Syamail Muhammadiyah No. 177)

โœ… Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ุณู‚ูŠุช ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ุฒู…ุฒู… ูุดุฑุจ ูˆู‡ูˆ ู‚ุงุฆู…

โ€œAku menuangkan air zamzam kepada Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, lalu dia meminumnya sambil berdiri.โ€ (HR. At Tirmidzi, Syaikh Al Albani menyatakan shahih dalam Mukhtashar Asy Syamail Muhammadiyah No. 178)

โœ… Dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุดุฑุจ ู…ู† ุฒู…ุฒู… ูˆู‡ูˆ ู‚ุงุฆู…ูŒ

    โ€œBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam minum zamzam sambil berdiri.โ€(HR. At Tirmidzi No. 1943, katanya: hasan shahih. Dishahihkan oleh Syaikh Al Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 1882)

โœ… Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, katanya:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจู ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุงุนูุฏู‹ุง

    โ€œAku melihat Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam minum sambil berdiri dan duduk.โ€ (HR. An Nasaโ€™i No. 1361, Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasaโ€™i No. 1361)

๐Ÿ“Œ Selanjutnya adalah keterangan bahwa Beliau MELARANG  minum sambil berdiri.

โœ–๏ธ Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู„ูŽุง ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจูŽู†ูŽู‘ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ููŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุณููŠูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽุณู’ุชูŽู‚ูุฆู’

โ€œJanganlah salah seorang kalian minum sambil berdiri, barang siapa yang lupa, maka muntahkanlah.โ€ (HR. Muslim No. 2026)

โœ–๏ธ Dari Anas bin Malik Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู†ู‡ู‰ ุฃู† ูŠุดุฑุจ ุงู„ุฑุฌู„ ู‚ุงุฆู…ุง ูู‚ูŠู„ ุงู„ุฃูƒู„ ู‚ุงู„: ุฐุงูƒ ุฃุดุฏ

    โ€œBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang seseorang minum sambil berdiri.โ€ Dikatakan: kalau makan? Beliau menjawab: lebih keras lagi larangannya.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 1940, Katanya: hadits ini shahih. Dalam riwayat Muslim No. 2024, lafaznya: lebih jelek dan lebih buruk lagi)

โœ–๏ธDari Anas bin Malik Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฒุฌุฑ ุนู† ุงู„ุดุฑุจ ู‚ุงุฆู…ุง.

โ€œBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri.โ€ (HR. Muslim No. 2024, juga dengan lafaz yang sama dari jalur Abu Said Al Khudri No. 2025)

โœ–๏ธ Dari Al Jarud bin Al โ€˜Ala Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:  

ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู†ู‡ู‰ ุนู† ุงู„ุดุฑุจ ู‚ุงุฆู…ุง

โ€œBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 1941, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 1880)

Kita lihat berbagai keterangan riwayat shahih ini, bahwa Beliau minum sambil berdiri dan disaksikan oleh beberapa sahabatnya. Dan,  beliau juga melarang minum sambil berdiri dan ini pun juga didengar dan diriwayatkan oleh beberapa sahabatnya.

Perbedaan ini membuat perselisihan pendapat di antara para ulama; ada yang mengharamkan, memakruhkan, dan membolehkan.  Tapi mereka sepakat, minum sambil duduk adalah afdhal. Ada sebagian ulama menganggap hadits-hadits ini musykil (bermasalah), bahkan dhaif (lemah), dan ada pula yang menganggap yang satu menasakh (menghapus) yang lain. Sem
ua ini dibantah oleh Imam An Nawawi dengan bantahan yang bagus. Beliau melakukan metode kompromi di antara riwayat yang nampaknya bertentangan ini. Baginya, semua riwayat ini terbukti shahih, tidak ada yang merevisi satu sama lain,  baik berdiri atau duduk, keduanya adalah boleh tetapi duduk adalah lebih utama dan sempurna.

Perhatikan  penjelasan Imam An Nawawi Rahimahullah:

  ุงูุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซ ุฃูŽุดู’ูƒูŽู„ูŽ ู…ูŽุนู’ู†ูŽุงู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุก ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽุงู„ู‹ุง ุจูŽุงุทูู„ูŽุฉ ุŒ ูˆูŽุฒูŽุงุฏูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽุฌูŽุงุณูŽุฑูŽ ูˆูŽุฑูŽุงู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุถูŽุนูู‘ู ุจูŽุนู’ุถู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽุงุฏูŽู‘ุนูŽู‰ ูููŠู‡ูŽุง ุฏูŽุนูŽุงูˆููŠ ุจูŽุงุทูู„ูŽุฉ ู„ูŽุง ุบูŽุฑูŽุถ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠ ุฐููƒู’ุฑู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูˆูŽุฌู’ู‡ ู„ูุฅูุดูŽุงุนูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุจูŽุงุทููŠู„ ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽู„ูŽุทูŽุงุช ูููŠ ุชูŽูู’ุณููŠุฑ ุงู„ุณูู‘ู†ูŽู† ุŒ ุจูŽู„ู’ ู†ูŽุฐู’ูƒูุฑ ุงู„ุตูŽู‘ูˆูŽุงุจ ุŒ ูˆูŽูŠูุดูŽุงุฑ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุชูŽู‘ุญู’ุฐููŠุฑ ู…ูู†ู’ ุงู„ูุงุบู’ุชูุฑูŽุงุฑ ุจูู…ูŽุง ุฎูŽุงู„ูŽููŽู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซ ุจูุญูŽู…ู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฅูุดู’ูƒูŽุงู„ ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูููŠู‡ูŽุง ุถูŽุนู’ู ุŒ ุจูŽู„ู’ ูƒูู„ู‘ู‡ูŽุง ุตูŽุญููŠุญูŽุฉ ุŒ ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ูˆูŽุงุจ ูููŠู‡ูŽุง ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ู‡ู’ูŠ ูููŠู‡ูŽุง ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉ ุงู„ุชูŽู‘ู†ู’ุฒููŠู‡ . ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุดูุฑู’ุจู‡ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ููŽุจูŽูŠูŽุงู† ู„ูู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุŒ ููŽู„ูŽุง ุฅูุดู’ูƒูŽุงู„ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุนูŽุงุฑูุถ ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุฐูŽูƒูŽุฑู’ู†ูŽุงู‡ู ูŠูŽุชูŽุนูŽูŠูŽู‘ู† ุงู„ู’ู…ูŽุตููŠุฑ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ู…ูŽู†ู’ ุฒูŽุนูŽู…ูŽ ู†ูŽุณู’ุฎู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุบูŽูŠู’ุฑู‡ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุบูŽู„ูุทูŽ ุบูŽู„ูŽุทู‹ุง ููŽุงุญูุดู‹ุง ุŒ ูˆูŽูƒูŽูŠู’ู ูŠูุตูŽุงุฑ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุณู’ุฎ ู…ูŽุนูŽ ุฅูู…ู’ูƒูŽุงู† ุงู„ู’ุฌูŽู…ู’ุน ุจูŽูŠู’ู† ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซ ู„ูŽูˆู’ ุซูŽุจูŽุชูŽ ุงู„ุชูŽู‘ุงุฑููŠุฎ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‰ ู„ูŽู‡ู ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ . ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู… . ููŽุฅูู†ู’ ู‚ููŠู„ูŽ : ูƒูŽูŠู’ู ูŠูŽูƒููˆู† ุงู„ุดูู‘ุฑู’ุจ ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง ู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ููŽุนูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุŸ ููŽุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุจ : ุฃูŽู†ูŽู‘ ููุนู’ู„ู‡ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูŽูŠูŽุงู†ู‹ุง ู„ูู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ู„ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู† ู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ู‹ุง ุŒ ุจูŽู„ู’ ุงู„ู’ุจูŽูŠูŽุงู† ูˆูŽุงุฌูุจ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุŒ ููŽูƒูŽูŠู’ู ูŠูŽูƒููˆู† ู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุซูŽุจูŽุชูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุชูŽูˆูŽุถูŽู‘ุฃูŽ ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉ ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉ ูˆูŽุทูŽุงููŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนููŠุฑ ู…ูŽุนูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุน ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ูˆูุถููˆุก ุซูŽู„ูŽุงุซู‹ุง ูˆูŽุงู„ุทูŽู‘ูˆูŽุงู ู…ูŽุงุดููŠู‹ุง ุฃูŽูƒู’ู…ูŽู„ ุŒ ูˆูŽู†ูŽุธูŽุงุฆูุฑ ู‡ูŽุฐูŽุง ุบูŽูŠู’ุฑ ู…ูู†ู’ุญูŽุตูุฑูŽุฉ ุŒ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูู†ูŽุจูู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽูˆูŽุงุฒ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุก ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉ ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุฑูŽู‘ุงุช ุŒ ูˆูŽูŠููˆูŽุงุธูุจ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽูู’ุถูŽู„ ู…ูู†ู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽู‡ูŽูƒูŽุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑ ูˆูุถููˆุฆูู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซ ุซูŽู„ูŽุงุซู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑ ุทูŽูˆูŽุงูู‡ ู…ูŽุงุดููŠู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑ ุดูุฑู’ุจู‡ ุฌูŽุงู„ูุณู‹ุง ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุงุถูุญ ู„ูŽุง ูŠูŽุชูŽุดูŽูƒูŽู‘ูƒ ูููŠู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ู†ูุณู’ุจูŽุฉ ุฅูู„ูŽู‰ ุนูู„ู’ู… . ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู… .

    โ€œKetahuilah, hadits-hadits ini menurut sebagian ulama dinilai musykil (bermasalah) maknanya, sampai-sampai di antara mereka terdapat pendapat-pendapat yang batil, ditambah lagi sampai berani melemparkan anggapan sebagian hadits-hadits tersebut adalah  dhaif. Mereka mengklaim dengan vonis yang batil tapi kami tidak bermaksud membahasnya di sini, dan tidak akan menyebarkan kebatilan dan kekeliruan penafsiran mereka terhadap sunah. Tetapi kami akan sampaikan kebenaran tentang ini, bahwa larangan tersebut bermakna makruh tanzih (makruh  mendekati mubah, yang sebaiknyantidak dilalukan). Ada pun minumnya Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam secara berdiri merupakan penjelasan atas kebolehannya. Tidak ada musykil dan tidak ada pula kontradiksi, inilah yang telah kami sebutkan maknanya. Ada pun barangsiapa menyangka adanya nasakh (amandemen)  atau lainnya, maka itu merupakan kesalahan yang buruk. Bagaimana bisa terjadi nasakh, padahal masih bisa dimungkinkan jamโ€™u (kompromi) antara hadits-hadits yang ada.  Wallahu Aโ€™lam. Jika dikatakan: โ€œBagaimana bisa minum berdiri adalah makruh padahal Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melakukannya?โ€ Jawabnya: โ€œSesungguhnya perbuatan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam jika sebagai penjelas atas kebolehan sesuatu, maka tidaklah itu menjadi makruh, bahkan penjelasan itu adalah wajib atasnya (untuk menjelaskan), bagaimana hal itu menjadi makruh, padahal telah shahih darinya bahwa beliau berwudhu pernah sekali-sekali, thawaf  dengan menunggang  Unta, sedangkan ijmaโ€™ menyebutkan bahwa wudhu hendaknya tiga kali-tiga kali, dan thawaf dengan berjalan kaki adalah lebih sempurna. Pandangan-pandangan ini tidaklah dibatasi, sebab dahulu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mengabarkan kebolehan sesuatu sekali atau berkali-kali, dan beliau
menegaskan pula mana yang afdhalnya. Demikian juga, bahwa kebanyakan wudhu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tiga kali-tiga kali, dan lebih banyak thawaf dengan berjalan kaki, dan lebih banyak minum dengan cara duduk. Dan, ini sangat jelas, tanpa ada keraguan lagi bagi orang-orang yang menyerukan dirinya kepada ilmu. Wallahu Aโ€™lam.โ€ (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/62. Mawqiโ€™ Al Islam)

    Kesimpulannya, menurut Imam An Nawawi pendapat yang paling kuat dalam memahami perbedaan hadits-hadits ini adalah menunjukkan kebolehan minum sambil berdiri, tetapi dengan cara duduk adalah lebih utama, sebab itu yang lebih ditekankan.  Dalam kitab Riyadhushshalihin Beliau pun membuat Bab Bayan Jawaz Asy Syurb Qaa-iman wa Bayan An Al Akmal wal Afdhal Asy Syurb Qaaโ€™idan. (Penjelasan Bolehnya Minum Berdiri dan Penjelasan Bahwa Lebih Sempurna dan Utama Minum adalah Sambil Duduk)

   ๐Ÿ“Œ Tarjih Imam An Nawawi ini diperkuat oleh perilaku para sahabat, bahwa mereka pun pernah minum berdiri.

๐Ÿ“•  Umar, Ali, dan Utsman Radhiallahu โ€˜Anhum

ุนู† ู…ุงู„ูƒ ุฃู†ู‡ ุจู„ุบู‡ ุฃู† ุนู…ุฑ ุจู† ุงู„ุฎุทุงุจ ูˆุนู„ูŠ ุจู† ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจ ูˆุนุซู…ุงู† ุจู† ุนูุงู† ูƒุงู†ูˆุง ูŠุดุฑุจูˆู† ู‚ูŠุงู…ุง

    Dari Malik,  sesungguhnya telah sampai kepadanya, bahwa Umar bin Al Khathab, Ali bin Abi Thalib, dan Utsman bin Affan, mereka minum sambil berdiri. (Al Muwaththaโ€™ No. 1651)

๐Ÿ“˜  Zubeir bin Awwam Radhiallahu โ€˜Anhu

Dari Abdullah bin Az Zubier, dari Ayahnya (yakni Zubeir bin Awwam):

ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุดู’ุฑูŽุจู ู‚ูŽุงุฆูู…ู‹ุง

โ€œBahwa dia (ayahnya) minum sambil berdiri.โ€ (HR. Malik, Al Muwaththaโ€™ No. 1654)

๐Ÿ“™   โ€˜Aisyah dan Saad bin Abi Waqqash Radhiallahu โ€˜Anhuma

    Dari Ibnu Syihab, katanya:

ุฃู† ุนุงุฆุดุฉ ุฃู… ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูˆุณุนุฏ ุจู† ุฃุจูŠ ูˆู‚ุงุต ูƒุงู†ุง ู„ุง ูŠุฑูŠุงู† ุจุดุฑุจ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ูˆู‡ูˆ ู‚ุงุฆู… ุจุฃุณุง

    โ€œBahwa Ummul Muโ€™minin โ€˜Aisyah dan Saโ€™ad bin Abi Waqqash menganggap tidak apa-apa manusia minum sambil  berdiri.โ€ (HR. Malik, Al Muwaththaโ€™ No. 1652. Abdurrazzaq, Al Mushannaf, No. 19591. Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 5/514,  No. 5)

๐Ÿ“”   Abdullah bin Umar Radhiallahu โ€˜Ahuma

    Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ูƒู†ุง ู†ุฃูƒู„ ุนู„ู‰ ุนู‡ุฏ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู†ุญู† ู†ู…ุดูŠ ูˆู†ุดุฑุจ ูˆู†ุญู† ู‚ูŠุงู…ูŒ

    โ€œKami makan pada zaman Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sambil berjalan dan minum sambil berdiri.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 1942, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 3301,  Ahmad No. 5607. Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf , 5/515, No. 16)

    Selain itu juga dari Abu Hurairah, Said bin Jubeir, Al Hasan, dan lainnya. Wallahu Aโ€™lam

Berwudhu dengan Air yang Tercampur Bahan Kimia

โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
๐Ÿ–Assalamualaikum wr wb.                                      
___________________

Pertanyaan nya.      

Boleh gak  ya pake air buat wudhu  ยฅฤ…ษฒวฅ sudah tercampur…

saya tinggal dikomplek perkebunan jauh dr kota yg asal airnya berasal dari satu sumber tampungan kolam besar. air disini keruh, karna berlumpur. jadi untuk menjernihkan, dipakai bahan kimia.

yg saya tanyakan, bagaimana hukumnya memakai air tersebut untuk bersuci…?
terimakasih.
Pertanyaan dari ukhti Endah ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ8โƒฃ

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Jawaban nya.                      

Jika diberikan zat kimia, lalu air tersebut tetap dan bahan kimianya tidak merubahnya, maka boleh wudhu di situ. Walau berlumpur atau keruh. Di daerah tanah gambut memang begitulah airnya, tidak apa-apa. Al Maa’u thahuurun laa yunajjisuhu syai’un – air itu suci dan tdk ada apa pun yg menajiskannya …

Tp jika merubah aroma dan rasa, walau air tersebut menjadi bening, maka air tersebut telah menjadi air thahir, suci tapi tidak mensucikan. Seperti soda, air kuah, sirup, dan semisalnya. (Lihat penjelasannya dalam Syarah Bulughul Maram yang pertama).

Menurut ijma, jika sudah ada perubahan salah satu dr 3 unsur tsb, maka sudah tidak bisa dipakai bersuci, walau dia suci, istilahnya air thahir.

Wallahu a’lam…

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Mencari Kedudukan yang Tinggi (AL Manzilatul โ€˜Ulya)

๐Ÿ“† Rabu,  14 Jumadil Akhir 1437H / 23 Maret 2016

๐Ÿ“š Motivasi

๐Ÿ“ Ustadzah Rochma Yulika

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐ŸŒทKatakanlah, โ€œJika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.โ€
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq. (Q.S. At-Taubah: 24).

๐Ÿ’ฆBeban kehidupan dunia yang kita hadapi, apapun bentuknya, jangan sampai membuat kita kehilangan kepekaan dan kesigapan memenuhi seruan dakwah dan jihad. Masalah-masalah yang menhampiri pun jangan membuat merasa enggan menapaki jalan kebaikan yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita. Mereka tak kenal lelah, mereka pantang menyerah, dan mereka tak pernah mudah berkeluh kesah.

๐Ÿ’ฆMaka kita patut bertanya dan mengevaluasi diri. Seberapa kuatkah hakikat kehidupan abadi di akhirat telah tertanam dalam hati sehingga kita berhak mendapatkan riโ€™ayah rabbaniyyah tersebut yang membuat ruhul istijabah menjadi karakter dalam diri kita?

๐ŸŒทSeberapa kuat hakikat ini mewarnai atau men-shibghah (QS 2:138) diri dan perilaku kita sehingga segala resiko duniawi dalam dakwah dan jihad fi sabililillah menjadi kecil di mata kita?

Tak mudah kita berkaca dari sejarah di masa lalu. Perjuangan para sahabat yang selalu sigap dalam menjalankan amanah dakwah dan jihad. Juga para salafusshalih yang senantiasa menghabiskan waktunya untuk berkarya demi agama ini.

Waktu demi waktu dijalani tanpa sebuah kesia-siaan. Usia mereka memanjang lantaran kiprah besarnya di jalan dakwah ini. Jasad mereka telah tiada namun kebaikan yang mereka renda akan ada hingga dunia tutup usia.

Kehidupan mereka menjadi amat berarti dan berharga karena mereka sigap menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Kesigapan itu bukanlah suatu hal yang muncul begitu saja, melainkan adalah buah keimanan kepada Allah sebagai Pemberi dan Pencipta kehidupan, buah keimanan yang kokoh kepada hari akhir saat terwujudnya kehidupan dan kebahagiaan hakiki. Kesigapan itu lahir dari hati yang tidak lalai dari hakikat ini berkat taufiq dan riโ€™ayah rabbaniyah.

๐Ÿ’ฆOleh sebab itu, Allah SWT berfirman: โ€œโ€ฆdan ketahuilah bahwa Allah membentengi antara seseorang dengan hatinya, dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (di mahsyar).

๐ŸŒทDakwah dan jihad adalah dua kata yang selamanya harus ada dan terpatri dalam diri seorang Muslim yang menghendaki al-manzilah al-โ€˜ulya (kedudukan tinggi) di sisi Allah SWT.

Setiap mukmin yang memahami dan menghayati hakikat kehidupan pasti akan menempuh jalan kebahagiaan abadi di sisi Allah SWT. Ia akan mendekat, berlari, dan terbang menuju keridhaan-Nya โ€œfafirruu ilallaahโ€ (Q.S. Adz-Dzaariyaat/51/50).

Dan setiap diri yang di dalam relung hatinya terhunjam keyakinan bahwa kematian itu kepastian yang cuma terjadi sekali, maka ia akan memilih seni kematian yang paling mulia di sisi Allah.

๐Ÿ’ฆImam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah mengungkapkan bahwa umat yang dapat memilih seni kematian dan memahami bagaimana mencapai kematian yang mulia, maka pasti Allah berikan kepada mereka kemuliaan hidup di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat (Risalah Jihad-Majmuโ€™ah Rasail Al-Banna).

๐Ÿ’งAdakah jalan yang lebih mulia dan dapat membawa kita menuju puncak kebahagiaan selain jalan dakwah yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan yang beliau nyatakan menjadi jalan pengikutnya?

๐Ÿ’งDan adakah kematian yang lebih terpuji di sisi-Nya yang selalu didambakan oleh hamba-hamba yang beriman sejak dulu hingga hari kiamat selain mati dalam jihad fii sabiililllah?

TIDAK!!!

๐Ÿ’ฆJalan menuju surga hanya ditempuh dengan perjuangan dan pengorbanan dalam dakwah dan jihad.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

puasa Tiga Hari Setiap Bulan

โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒน๐ŸŒท

Assalamualaikum wr wb.
Ustadz/ustadzah…,
Mohon penjelasan dari materi di bawah ini yang saya dapat dari group sebelah…,
Apa hadistnya, apa manfaatnya selain yang di sebutkan di bawah ini?
Terima kasih
Wassalamualaikum wr wb.

Jangan Lupa Besok Puasa Tiga Hari..

Disunnahkan puasa tiga hari setiap bulan, yaitu setiap tanggal 13, 14 dan 15 bulan-bulan Hijriyyah.

Namanya puasa Ayyaamul Bidl atau hari-hari terang ketika Bulan Purnama.

Niatnya, puasa sunnah Ayyaamul Bidl.

Bulan ini (Jumadal Tsaniyah) bertepatan dengan hari Selasa, Rabu dan Kamis tanggal 22, 23 dan 24 Maret 2016

Keutamaannya banyak, diantaranya sebagai bekal akhirat, seperti puasa sebulan [kalau dikerjakan rutin setiap bulan, seperti puasa setahun] dan baik untuk kesehatan..

Diantara Dalil-Dalilnya:

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam berwasiat kepada tiga orang Sahabat Beliau supaya puasa tiga hari setiap bulan, yaitu; Abu Hurairah, Abu Darda’ dan Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhum.
[HR. Bukhari, Muslim, dll]

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda kepada Sahabat โ€˜Abdullah bin โ€˜Amr Radhiyallahu โ€˜Anhuma,
“Dan berpuasalah tiga hari pada setiap bulan. Karena sesungguhnya kebaikan itu akan (dilipatkan) dengan sepuluh (kali) lipat. Oleh karenanya engkau seolah-olah berpuasa selama sebulan penuh.โ€
[HR. Bukhari dan Muslim]

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda kepada Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu โ€˜Anhu tentang pelaksanaannya:
โ€œWahai Abu Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari dalam setiap bulannya maka berpuasalah pada (tanggal) 13, 14 dan 15 (maksudnya bulan hijriyyah).โ€
[HR. Tirmidzi dengan sanad hasan].

Jawaban:

๐ŸŒปโ˜˜Puasa Ayyamul Bidh (Tgl 13,14,15 tiap bulannya di bulan-bulan Hijriyah)โ˜˜๐ŸŒป

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ

Ayyamul bidh artinya hari-hari yang putih terang, karena saat itu hari di waktu bulan sedang purnama. Ini juga hari-hari istimewa dalam Islam.

1โƒฃ Saat itu dianjurkan bagi kita untuk berpuasa

Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu berkata:

ุฃูŽูˆู’ุตูŽุงู†ููŠ ุฎูŽู„ููŠู„ููŠ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุจูุซูŽู„ูŽุงุซู ุตููŠูŽุงู…ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ู…ูู†ู’ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽู‡ู’ุฑู ูˆูŽุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ ุงู„ุถูู‘ุญูŽู‰ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุฃููˆุชูุฑูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุงู…ูŽ

Kekasihku (Nabi) Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku tiga hal: berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat dua rakaat ketika Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.(HR. Bukhari No. 1981, Muslim No. 721. Lafaz ini adalah milik Bukhari)

Kapankah tiga hari itu? Dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู†ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ู†ูŽุตููˆู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ุดูŽู‘ู‡ู’ุฑู ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŽ ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ุงู„ู’ุจููŠุถูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ูˆูŽุฎูŽู…ู’ุณูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk berpuasa dalam satu bulannya sebanyak tiga hari, ayyamul bidh: tanggal 13, 14, dan 15.

(HR. An Nasaโ€™i No. 2422, 2423, lihat juga dalam As Sunan Al Kubranya An Nasaโ€™i No. 2730, Al Baihaqi dalam Syuโ€™abul Iman No. 3848, Ibnu Hibban No. 943, lihat Mawarid Azh Zhamโ€™an. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jamiโ€™ No.673)

2โƒฃ Nilai puasanya jika dilakukan tiap bulan sama seperti puasa Ad Dahr (sepanjang tahun)

Dari Jarir bin Abdullah Radhiallahu โ€˜Anhu, dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, Beliau bersabda:

ุตููŠูŽุงู…ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ู…ูู†ู’ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽู‡ู’ุฑู ุตููŠูŽุงู…ู ุงู„ุฏูŽู‘ู‡ู’ุฑู ูˆูŽุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ุงู„ู’ุจููŠุถู ุตูŽุจููŠุญูŽุฉูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ูˆูŽุฎูŽู…ู’ุณูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ

Berpuasa tiga hari setiap bulannya, adalah puasa sepanjang tahun, dan hari ayyamul bidh yang terang benderang itu adalah pada hari 13, 14, dan 15. (HR. An Nasaโ€™i No. 2420. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam At Taโ€™liq Ar Raghib, 2/84)

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒน๐ŸŒท

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Bolehkah Mewarnai Rambut?

โœUstadzah Dra.Indra Asih

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaikum mbak, saya Risma dari grup manis 12 mau tanya
Kalau kita mewarnai rambut boleh/tidak? Apa hukumnya?
Terima kasih.

Jawaban:

1. Mewarnai atau menyemir rambut (Arab: khidob; shibgoh) hukumnya boleh dalam Islam dengan syarat asal bahan yang dibuat mengecat rambut suci, tidak najis dan tidak membahayakan.

2. Karena mewarnai rambut itu boleh, maka wudhu, mandi junub dan shalatnya sah.

Dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi dan Nasai Nabi bersabda:

ุบูŽูŠู‘ูุฑููˆุง ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุจูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุดูŽุจู‘ูŽู‡ููˆุง ุจูุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏู

Artinya: Rubahlah (warna) uban dan jangan serupakan dirimu dengan Yahudi.

Dalam menjelaskan hadits ini Al-Mubarakpuri dalam kitab Tuhfadzul Ahwadzi hlm. /354 menjelaskan bahwa mewarnai rambut yang sudah uban itu sunnah sebagaimana dilakukan oleh sebagian Sahabat seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab; sedang sebagian yang lain seperti Ali bin Abu Thalib tidak melakukannya.

Adapun warna yang dipakai hendaknya selain warna hitam karena ada larangan dari Nabi. Dalam hadits sahih riwayat Muslim dan lainnya (selain Bukhari dan Tirmidzi) diriwayatkan:

ุฌูŠุก ุจุฃุจูŠ ู‚ุญุงูุฉ ูŠูˆู… ุงู„ูุชุญ ุฅู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆูƒุฃู† ุฑุฃุณู‡ ุซุบุงู…ุฉ ูู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… : ุงุฐู‡ุจูˆุง ุจู‡ ุฅู„ู‰ ุจุนุถ ู†ุณุงุฆู‡ ูู„ุชุบูŠุฑู‡ ุจุดูŠุก ูˆุฌู†ุจูˆู‡ ุงู„ุณูˆุงุฏ

Artinya: tatkala Abubakar membawa ayahnya Abu Kuhafah ke hadapan Nabi pada hari penaklukan Makkah, sedang Nabi melihat rambutnya bagaikan pohon tsaghamah yang serba putih buahnya maupun bunganya, maka Nabi bersabda: … ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam.

Dalam menanggapi larangan cat rambut warna hitam dalam hadits tersebut, ulama berbeda pendapat: ada yang menghukumi haram seperti Imam Nawawi ada juga yang menghukumi makruh (Lihat: Nailul Autar, 1/152).

Dalam kitab Al-Halal wal Haram fil Islam, Yusuf Qardhawi sepakat dengan pendapat yang makruh terutama bagi mereka yang usianya belum terlalu tua. Namun ia menganjurkan pada orang yang sudah sangat tua agar menghindari warna hitam. Qardhawi berkata: “Termasuk yang membolehkan menyemir dengan warna hitam ini ialah segolongan dari ulama salaf termasuk para sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir dan lain-lain.”

Adapun warna yang disunnahkan adalah merah atau merah kehitaman sesuai dengan hadits Nabi Riwayat Tarmizi dan Ashabussunan yang menganjurkan mewarnai rambut dengan bahan inai atau katam.

PENDAPAT ULAMA FIKIH EMPAT MAZHAB TENTANG SEMIR RAMBUT

๐ŸŒฟ1. SEMIR RAMBUT DENGAN WARNA SELAIN HITAM

Ulama 4 mazhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hambali) sepakat atas bolehnya menyemir atau mewarnai rambut dengan warna coklat atau merah baik dengan bahan inai, katam, atau lainnya. Imam Nawawi (mazhab Syafi’i) dalam Al-Majmuk, hlm. 1/293-294, menyatakan:
ูŠุณู† ุฎุถุงุจ ุงู„ุดูŠุจ ุจุตูุฑุฉูุŒ ุฃูˆ ุญูู…ุฑุฉูุŒ ุงุชูู‚ ุนู„ูŠู‡ ุฃุตุญุงุจู†ุงุŒ ูˆู…ู…ู† ุตุฑู‘ูŽุญ ุจู‡ ุงู„ุตูŠู…ุฑูŠุŒ ูˆุงู„ุจุบูˆู‰ุŒ ูˆุขุฎุฑูˆู†

Artinya: Sunnah mewarnai rambut uban dengan warna kuning atau merah, ulama mazhab Syafi’i sepakat atas hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Shaiari, Al-Baghawi dan yang lain.

Pendapat mazhab lain lihat: Mazhab Hanafi dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah 44/45 dan Ad-Durrul Mukhtar 6/422. Mazhab Maliki dalam Al-Fawakih Ad-Dawani ala Risalati Abi Zaid Al-Qairuwani 8/191 dan Al-Istidzkar 8/439. Mazhab Hambali dalam Al-Mughni 1/105 dan Kashaful Qinak ala Matnil Iqnak 1/204.

๐ŸŒฟ2. SEMIR RAMBUT DENGAN WARNA HITAM

A. BOLEH UNTUK TUJUAN JIHAD MELAWAN KAFIR

Ulama empat mazhab sepakat atas bolehnya semir rambut dengan warna hitam dalam keadaan jihad (perang membela agama). Imam Syarwani (mazhab Syafi’i) dalam Hawasyi As-Syarwani 9/375 berkata:
ูˆู‡ูˆ (ุฃูŠ ุตุจุบ ุงู„ุดู‘ูŽุนุฑ) ุจุงู„ุณู‘ูŽูˆุงุฏ ุญุฑุงู…ูŒุŒ ุฅู„ุง ู„ู…ุฌุงู‡ุฏู ููŠ ุงู„ูƒูุงุฑุŒ ูู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡

Artinya: Mengecat rambut dengan warna hitam adalah haram kecuali bagi mujahid (pelaku jihad) atas kaum kafir maka boleh.

Pendapat serupa dari literatur klasik mazhab Syafi’i lihat dalam kitab Mughnil Muhtaj 4/293; Raudhah Talibin 1/364; Tuhfatul Muhtaj 41/203.

Pendapat dari mazhab lain atas bolehnya cat rambut warna hitam bagi mujahid lihat: Mazhab Hanafi dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah 44/45; Mazhab Maliki dalam Al-Fawakih Ad-Dawani 8/191; Mazhab Hambali

B. HARAM SEMIR WARNA HITAM DENGAN TUJUAN PENIPUAN

Ulama sepakat atas haramnya menyemir rambut dengan tujuan menipu. Seperti seorang lelaki tua menyemir rambut saat hendak menikah agar disangka masih muda oleh wanita yang akan dinikahinya. Ini juga berlaku bagi wanita yang menyemir rambut dengan tujuan agar dikira masih muda oleh lelaki yang akan menikahinya. Rerensi lihat: Mazhab Hanafi dalam Al-Fatawa Al-Hindiyah 44/45; Mazhab Maliki dlam Al-Fawakih Ad-Dawani 8/191; Mazhab Hambali dalam Matolib Ulin Nuha 1/195.

C. MAKRUH SEMIR RAMBUT WARNA HITAM DENGAN TUJUAN BUKAN PENIPUAN

Mayoritas ulama mazhab empat berpendapat makruh mengecat rambut uban dengan warna hitam dengan tujuan bukan penipuan (kalau penipuan haram). Ini adalah pendapat mazhab Hanafi, Maliki, dan sebagian ulama Syafi’i (sebagian lain mengharamkan), dan Hambali. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk 1/294 menjelaskan perbedaan ulama mazhab Syafi’i dalam soal ini:

ุงุชูู‚ูˆุง ุนู„ู‰ ุฐู… ุฎุถุงุจ ุงู„ุฑุฃุณ ุฃูˆ ุงู„ู„ุญูŠุฉ ุจุงู„ุณู‘ูŽูˆุงุฏุŒ ุซู… ู‚ุงู„ ุงู„ุบุฒุงู„ูŠ ููŠ ุงู„ุฅุญูŠุงุกุŒ ูˆุงู„ุจุบูˆู‰ ููŠ ุงู„ุชู‡ุฐูŠุจุŒ ูˆุขุฎุฑูˆู† ู…ู† ุงู„ุฃุตุญุงุจุŒ ู‡ูˆ ู…ูƒุฑูˆู‡ุŒ ูˆุธุงู‡ุฑ ุนุจุงุฑุงุชู‡ู…: ุฃู†ู‡ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชู†ู€ุฒูŠู‡

Artinya: Ulama Syafi’iyah sepakat mencela semir rambut kepala atau jenggot dengan warna hitam. (Tapi) Al-Ghazali berkata dalam Ihya Ulumiddin dan Al-Baghawi dalam At-Tahdzib dan ulama Syafi’i yang lain bahwa hukumnya makruh tanzih.

Pendapat mazhab lain lihat: Mazhab Hanafi dalam Hasyiyah Ibnu Abidin 6/422; Mazhab Maliki dalam Al-Istidzkar 8/439; Mazhab Hambali dalam As-Syarhul Kabir 1/133.

D. SEMIR RAMBUT WARNA HITAM BOLEH

Sebagian ulama non-mazhab menyatakan bahwa semir rambuat warna hitam hukumnya boleh sebagaimana dikutip oleh Yusuf Qardhawi di atas.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒน๐ŸŒท

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Haid Tidak Normal

โœUstadzah Dra.Indra Asih
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒน๐ŸŒท
 Assalaamu’alaikum wrwb..
Mau nanya dong ustadzah.. saya bingung ini termasuk darah apa.. 
Sepertinya lagi gangguan hormon (note:menggunakan KB spiral).
Awal bulan sudah haid 4 hari cuma flek saja ( yg biasanya sampe 7 hari dan ada yg derasnya).
Tapi sekarang (tgl 21) keluar flek lagi.. 
Apa saya harus batalkan shaum saya? Dan masih wajib sholat tidak ya?
Terima kasih.
(Member A13)
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Batasan masa haid, biasanya memang menjadi persoalan tersendiri bagi wanita, karena ini berhubungan dengan darah istihadhah. Jika melewati batasan ini, maka akan dianggap darah penyakit.
Tidak ada batasan waktu yang pasti, baik batasan minimal atau maksimalnya 
Ada ulama yg mempertegas memberikan, yaitu:
Batasan minimal haid adalah 24 jam dan maksimalnya 15 hari. Umumnya wanita siklus haid 6-7 hari. Untuk dihukumi haid, ia harus berusia minimal 9 tahun dan darah keluar bisa secara terus menerus atau terputus-putus dalam rentang waktu itu. Jika darah keluar kurang dari 24 jam dan lebih dari 15 hari, maka bukan dihukumi darah haid melainkan darah istihadhah.
Hitungan ini memang sebenarnya mudah, makanya jika muslimah haid lebih dari maksimal haidnya, maka lebih afdolnya memeriksakan kepada tenaga kesehatan untuk memastikan apakah itu darah haid atau istihadhah, apalagi sudah melewati masa 15 hari.
Untuk mengecek apakah darah tersebut sudah suci atau belum bisa dengan cara mudah, yakni tempelkan tisu atau kapas bersih, atau pembalut di kemaluan wanita. Apabila masih ada bercak darah, maka harus dipastikan terlebih dahulu apakah itu darah haid (jika belum melebihi masa kebiasaan haid), atau darah penyakit, jika lebih dari 15 hari.
Jika haid tidak teratur, bagaimana cara menetapkan batas sucinya?
Siklus wanita haid memanglah tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan dalam sebulan ada 28-31 hari dengan siklus 1-15 hari dan rata-rata 6-7 hari waktu haid. Karena hal demikian, tentu masa suci (tanggal dan masanya) tiap wanita berbeda-beda dan bisa berubah-ubah.
Bila wanita yang haid mulai ragu-ragu, maka hendaklah menetapkan mana yang pasti. Berpegangan pada apa yang diyakini, bukan yang membuat ragu saat menetapkan masa suci.
Dalam kaidah fiqh menyebutkan sesuatu yang yakin (pasti), tidak dapat dihilangkan dengan sesuatu yang meragukan.
Untuk kasus ukhty tsb, dari masanya mencirikan haid. Apalagi kalau darahnya tidak merah segar.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒน๐ŸŒท
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…