Apakah Anak Masih Disebut Yatim Jika zibu Menikah Lagi?

โœUstdzh indra asih

๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ

Apakah seorang anak msh disebut yatim, kl ibunya menikah lg?

Bpk kandungnya sdh meninggal sejak 6 thn lalu dan skg ibunya menikah lg. Skrg usia anaknya 11 thn.

โฌ† Pertanyaan dari 07

Jawaban :
Secara bahasa, yatim
artinya alfardu (sendirian) dan segala  
sesuatu yang di  tinggal oleh sesuatu yang serupa dengannya.
(As-Shihah fi Al-Lughah, kata: ูŠุชู…)

Secara istilah,para ulama mendefinisikan yatim sebagai berikut:

ุงู„ู’ูŠูŽุชููŠู…ูŽ ุจูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ุฃูŽุจููˆู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฏููˆู†ู ุงู„ู’ุจูู„ููˆุบู. ู„ูุญูŽุฏููŠุซู: โ€ ู„ุงูŽ ูŠูุชู’ู…ูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงุญู’ุชูู„ุงูŽู…ูโ€

Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati bapaknya, ketika dia belum baligh. Berdasarkan hadis: โ€œTidak ada status yatim setelah mimpi basah)

(diriwayatkan oleh At-Thabrani, dalam Muโ€™jam Al-Kabir, dari sahabat Handzalah bin Hudzaim).

Jadi penentuannya bukan usia tapi sudah baligh atau belum.

Jika memiliki ayah tiri

ูƒูŽุงููู„ู ุงู„ู’ูŠูŽุชููŠู…ู ู„ูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู„ูุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูƒูŽู‡ูŽุงุชูŽูŠู’ู†ู ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงูˆููŠู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุงู„ููƒู ุจู’ู†ูุฃูŽู†ูŽุณู ุจูุงู„ุณู‘ูŽุจู‘ูŽุงุจูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ูˆูุณู’ุทูŽู‰

โ€œPemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia (kedudukannya) seperti dua jari ini di surga nanti.โ€ Dan perawi, yaitu Malik bin Anas berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnyaโ€. (HR Muslim)

โ€œMakna (ู„ูŽู‡ู ุฃูˆู’ ู„ูุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ) adalah kerabatnya ataupun ajnabi (orang lain). Sedangkan (yang termasuk) kerabat di sini,ialah ibu sang yatim,atau saudara laki-lakinya ataupun pihak-pihak selain mereka yang memiliki kekerabatan dengannya,bisa juga ayah tiri.
Wallahu aโ€™lam.โ€

๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ

Dipersembahkan Oleh :
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebatkan! Raih pahala

Mengintip Facebook Orang Lain

โœUstadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

โญ•Pertanyaan:

1โƒฃ Assalaamualaykum sy ada pertanyaan, bolehkah kita buka dan masuk dalam facebook seseorang,sedangkan orang tsb tdk tahu kita buka fb nya, apa hukumnya?Kadang kalau kita mau add seseorang, sy akan lihat dulu/ buka fbnya, apakah ada manfaat kalau sy add dia,..maksudnya menambah ilmu atau tidak,Tau asal usul, latar blakang pendidikannya
๐Ÿ…ฐ3โƒฃ1โƒฃ

2โƒฃ Boleh minta saran,saya ingin mengajarkan anak-anak untuk sholat berjamaah dimasjid anak-anak saya si kakak 4th adik 2th (dua2nya laki2 ) sering saya ajak untuk berjamaah di rumah tapi saya juga ingin menanamkan cinta masjid. Namun keinginan saya menemui hambatan yaitu saya dilarang oleh sebagian jamaah untuk membawa anak-anak ke masjid dengan alasan mengganggu ketenangan dan kehusyukan jamaah lain. Terus bagaimana cara saya menanamkan agar kelak anak-anak saya suka berjamaah di masjid.
๐Ÿ…ฐ3โƒฃ1โƒฃ

๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“Jawaban๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

1โƒฃ Informasi di dunia maya adalah informasi yang terbuka, informasi yang disampaikan oleh pemiliknya memang dengan niat untuk diketahui oleh orang lain, kecuali liputan orang/pihak lain atas seseorang. Demikian juga dengan Facebook, seluruh informasi yang diperoleh dari laman pribadinya tentunya dihadirkan oleh pemiliknya untuk diketahui orang lain, kecuali liputan orang lain yang ditautkan kepada laman pribadinya.

Di sisi yang lain, memprioritaskan sahabat yang layak dijadikan teman satu group di laman pribadi seseorang tentunya memiliki dalil keutamaan di dalam agama, kecuali memiliki tujuan yang lain seperti bertukar pikiran, diskusi, dakwah, dan sejenisnya. Maka di antara cara untuk menilai apakah seseorang itu layak menjadi sahabat Ibu di laman pribadi Facebook dapat melakukan verifikasi dan identifikasi, terutama benarkah laman itu benar milik seseorang, dan benarkah ia sahabat yang layak dan dapat memberikan faidah buat Ibu.

2โƒฃPada dasarnya seorang anak baru diajarkan shalat pada usia 7 tahun, namun adab dan pembiasaan dapat dimulai di umur sebelumnya, selama tidak mengganggu kepentingan umat yang lebih besar. Membawa anak usia 2 dan 4 tahun tentunya memiliki beberapa resiko seperti mengganggu kekhusyu’an shalat, keluarnya najis daripadanya tanpa disadari, serta mengganggu kenyamanan jama’ah secara umum dengan suaranya.

Buatlah komitmen dengan anak sebelum berangkat ke Masjid. Boleh menjanjikan hadiah jika ia mampu memberikan adab yang terbaik buat Masjid. Iman dan Adab adalah dua hal pertama yang harus kita tanamkan kepada anak-anak, agar mereka tidak sekedar dekat dengan Masjid, namun juga mencintai dan menghormati Masjid sebagai Rumah Allah yang suci dan disucikan. Berikutnya, dekatkan pula anak ke Masjid dalam aktivitas lainnya seperti membaca Al-Qur’an, Shalat Sunnah, Qiyamullail dan sejenisnya.

Wallaahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
(Channel: https://goo.gl/idAe1M)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Dosa Suami pada Istri

๐ŸŒฟDra. Indra Asih

๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamu’alaikum wrwb.
Afwan ustadzah ,  Ini Pertanyaan dari korma 5

Ada suami istri yang ke 2 nya adlh karyawan swasta, lalu ketika istri cuti melahirkan, gaji si istri dititipkan pada suami via teman kerja si istri, namun suami tidak pernah menyampaikan gaji itu, baik berupa ucapan atau pun uangnya, krn sangat percaya pd suami dn krn tdk mengetahui hukum2nya maka istri tdk prnah membicarakan atau mempertanyakannya

Lalu suatu hari, suami istri ini menitipkan sejumlah uang pada ayah suami utk dibelikan tanah, yg uang itu dikumpulkan dari gaji dan upah lembur istri
Ternyata tanah itu dijual oleh ayah suami tanpa sepengetahuan suami istri ini

Ketika, istri merasa membutuhkan uang untuk melanjutkan sklh anaknya, istri mempertanyakan ttng tanah itu pd suami, dan suami malah marah2 pada istri
Krn merasa tidak enak dn jg telah bnyak merepotkan mertua, istri ini mengikhlaskan perkara tanah yg dijual sepihak oleh mertuanya

Kemudian lagi, swkt istri mengundurkan diri dari perusahaan, istri dpt pesangon, dan pesangon itu dibayarkan utk DP  KPR dan juga diputar sbg modal usaha utk suami, cicilan perbulannya (KPR) dibyr melalui gaji suami,

Stlh rmh itu lunas, suami mengajukan KPR lagi ( walaupun istri tdk setuju, krn tdk mau lagi terlibat dg cicilan bank)
Dan  ternyata, suami istri ini tidak panjang jodoh, mereka bercerai krn suami menikah diam2 dan setelah ketahuan oleh istri, istri meminta agar suami berpoligami dg benar, tapi suami tdk mau, malahan suami dan istri mudanya selalu menghina dn menggibah istri pertama, yang akhirnya membuat istri pertama mengambil keputusan untuk mundur

Diproses PA, istri memang tidak menuntut soal harta, krn sdh ada kesepakatan tertulis dan bermaterai dari suami ttng pembagian harta, yaitu :

Rmh yg sdh lunas, dijual dn hasilnya dibagi 2
Rmh yg msh dicicil, diteruskan oleh suami dn dihitung brp uang dp dn  cicilan  slma ini yg sdh masuk, lalu dibagi 2,
Adapun motor dn isi yang ada d rmh ( yg memang tdk seberapa) tdk dibagi, istri hny membawa pakaian..

Stlh dihitung2 istri mendapatkan bagian 80 jt, dn suami baru memberikan 20 jt, itupun dipakai utk beli tiket pesawat 4 org (mantan suami/ istri, dn 2 anak)  kurleb 3 jt, krn istri plng ke rmh ortu, dn mantan suami mengantar anak2nya
Sisanya akan ditransfer olh mantan suami

Ternyata..mantan suami mentransfer dg 2x cicilan dan hanya mentransfer 55 jt, yg 5 jt sengaja ditahan dg alasan yg selalu berubah2
Smpai hr ini ( sdh  hmpr 2 th), kekurangan  5 jt itu tdk dibayarkan olh suami, malahan pernh mengirim SMS pd mantan istri utk minta dibebaskan dg banyak alasan

Pertanyaannya..
1. Apakah mantan suami berdosa atas semua kecurangan yg dia lakukan dari awal?

2. Apakah mantan istri ini termasuk dlm golongan ” orang2 yg diharamkan utk mencium bau syurga?”, krn dia meminta cerai pada suaminya?

Jazakillaah ustadzah
=========================

Jawabanya :

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

1. Ada beberapa kesalahan/dosa suami terhadap istrinya, yaitu:

โœ’Tidak mengajar agama dan hukum syariat kepada Isteri.

Betapa sukarnya untuk menjadikan seorang isteri yang benar-benar solehah. Malah, istri menjadi satu ujian besar bagi seorang lelaki untuk mencari dan membentuk pasangan menjadi seorang isteri yang mempunyai sifat yang terpuji dan kriteria pegangan agama yang kuat.

Berbahaya jika ada di antara isteri masih tidak tahu bagaimana untuk menunaikan solat dengan betul, hukum haid dan nifas, melayani suami dan mendidik anak mengikuti Islam.

โœ’Mencari-cari kekurangan dan kesalahan isteri.

Jika seorang suami terus mencari kekurangan dan kelemahan istrinya, dikhuatirkan akan menimbulkan perasaan kurang senang pada isterinya. Dan barang siapa mencari aib saudaranya sendiri, Allah juga akan mencari aibnya. Maka, hendaklah seorang suami itu bersabar dan menahan diri dari kekurangan yang ada pada isterinya.

โœ’Menghukum tidak sesuai kesalahan.

Hal ini termasuk kezaliman terhadap isteri. Di antara bentuk hukuman yang zalim itu adalah:

๐Ÿ–Memukul di tahap awal pemberian hukuman. Padahal Allah SWT telah berfirman,โ€œWanita-wanita yang kamu khuatirkan nusyuz-nya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka.โ€( An Nisaโ€™:34)

๐Ÿ–Mengusir isteri dari rumah tanpa ada sebab secara syarโ€™i. Allah SWT berfirman yang artinya: โ€œJanganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang .โ€ (Ath Thalaq:1)

๐Ÿ–Memukul wajah, mencela dan menghina. Ada seseorang yang datang bertanya kepada Rasulullah, apakah hak isteri ke atas suaminya? Baginda menjawab, โ€œDia (suami) memberinya makan jika dia makan, memberinya pakaian jika dia berpakaian, tidak memukul wajah, tidak memburuk-burukkan dan tidak memboikot kecuali di dalam rumah.โ€ (Riwayat Ibnu Majah,)

โœ’Pelit memberi nafkah.

Sesungguhnya kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada isteri, sepertimana yang ditetapkan di dalam al-Quran. Isteri berhak mendapat nafkah, kerana dia telah menjadi halal untuk disenangi, dia telah menaati suaminya, tinggal di rumahnya, mengatur rumahnya, mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

โœ’Sikap keras, dan kasar.

Rasulullah SAW bersabda: โ€œMukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isteri-isterinya.โ€ (Riwayat Tirmidzi). Maka hendaknya seorang suami itu berakhlak baik terhadap isterinya, dengan bersikap lembut, dan menjauhi sikap kasar.

โœ’Berpoligami mengikut nafsu

Memang tidak dinafikan, menikah untuk kali kedua, ketiga dan keempat merupakan satu perkara yang disyariatkan. Akan tetapi ramai di kalangan lelaki yang mengamalkan poligami tidak memenuhi kewajipan-kewajiban terhadap isteri dengan benar. Terutamanya isteri yang pertama dan anak-anaknya. Padahal Allah SWT telah berfirman, โ€œKemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kahwinilah) seorang saja.โ€ (An Nisa: 3). Suami boleh bernikah lagi tetapi sekiranya ia tidak mampu untuk berlaku adil, dan tidak boleh memikul tanggungjawab, lebih baik melupakan niat untuk menikah lagi demi kebahagiaan bersama.

2. Ada dua hadis yang terkesan berlawanan.

Pertama dalam sebuah hadits sahih riwayat Abu Dawud Tirmidzi, Ibnu Hibban dari Tsauban, Nabi bersabda:

ุฃูŽูŠู‘ูู…ูŽุง ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ุณูŽุฃูŽู„ูŽุชู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽู‡ูŽุง ุทูŽู„ุงู‚ู‹ุง ูููŠ ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณู ููŽุญูŽุฑูŽุงู…ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฑูŽุงุฆูุญูŽุฉู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉ

Artinya: Perempuan yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab maka haram baginya bau surga.

Hadits kedua juga hadis sahih riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas:

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉูŽ ุซูŽุงุจูุชู ุจู’ู†ู ู‚ูŽูŠู’ุณู ุฃูŽุชูŽุชู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ : ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุซูŽุงุจูุชู ุจู’ู†ู ู‚ูŽูŠู’ุณู ู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ุชูุจู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูููŠ ุฎูู„ูู‚ู ูˆูŽู„ุงุฏููŠู†ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ููŠ ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู‡ู ุงู„ู’ูƒููู’ุฑูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: (ุฃูŽุชูŽุฑูุฏู‘ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุญูŽุฏููŠู‚ูŽุชูŽู‡ู ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ : ู†ูŽุนูŽู…ู’ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ุงู‚ู’ุจูŽู„ู’ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠู‚ูŽุฉูŽ ูˆูŽุทูŽู„ู‘ูู‚ู’ู‡ูŽุง ุชูŽุทู’ู„ููŠู‚ูŽุฉู‹).

Artinya: Dari Ibnu Abbas r.a. diceritakan: Istri Tsabit bin Qais datang menemui Rasulullah dan ia berkata: โ€œWahai Rasulullah, aku tidak mencela suamiku Tsabit bin Qais baik dalam hal akhlak maupun agamanya. Hanya saja aku khawatir akan terjerumus ke dalam kekufuran setelah (memeluk) Islam (karena tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri)โ€. Rasulullah bersabda:โ€ Apakah kamu bersedia mengembalikan kebun itu kepada suamimu? Wanita itu menjawab: โ€œSaya bersediaโ€, lalu Rasulullah berkata kepada suaminya: โ€œAmbilah kebun itu dan ceraikan istrimuโ€

Dalam hadits pertama Nabi melarang istri meminta cerai tanpa sebab yang dapat dibenarkan. Sedangkan dalam hadis kedua, seorang Sahabat wanita meminta cerai dari suaminya tanpa menyebutkan sebab apapun bahkan ia memuji akhlak dan agama suaminya dan Nabi mengijinkan dan menyuruh suaminya menceraikannya.

Kesimpulan yang dapat diambil dari hadis di atas adalah bahwa memang betul tidak boleh istri meminta cerai pada suami tanpa sebab yang dibenarkan syariah. Artinya, kalau istri melakukan gugat cerai karena sebab yang syar’i, maka itu dibolehkan. Dan termasuk sebab atau alasan yang dibolehkan bagi seorang istri untuk meminta cerai pada suami adalah apabila tidak ada lagi rasa cinta dan sayang yang dimiliki istri pada suaminya sebagaimana secara jelas digambarkan dalam hadis kedua. Termasuk sebab yang syar’i adalah istri tidak suka karena perilaku suami yang tidak taat agama, atau tidak suka pada kepribadiannya, atau istri merasa tidak mampu tinggal bersamanya walaupun suami bagus pekertinya dan taat pada agama.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia

Anggota Keluarga NonMuslim, Apakah Masih Saudara Kita?

โœUstadzah Dra.Indra Asih.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐Ÿ’๐ŸŒน๐ŸŒท

Pertanyaan dari Member A20:

Saya ingin bertanya apakah benar kalau dalam satu keluarga ada yang beda aqidah itu bukan saudara lagi karena sudah kafir. Kalau iya apakah ada ayat-ayatnya. Dan kita tidak boleh silaturrahim dengan orang beda agama walau orang tersebut masih kakak atau adik dalam keluarga. Wassalam.

Jawaban:

Non-muslim (baik keluarga maupun tidak) terbagi menjadi:

– Kafir harbi atau kafir muharib, yaitu orang kafir yang berada dalam peperangan dan permusuhan terhadap kaum muslimin

– Kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang hidup di tengah kaum muslimin di bawah pemerintah muslim dan mereka membayar jizyah setiap tahun

– Kafir muโ€™ahhad, yaitu orang kafir yang sedang berada dalam perjanjian dengan kaum muslimin dalam jangka waktu tertentu

– Kafir mustaโ€™man, yaitu orang kafir yang dijamin keamanannya oleh kaum muslimin

Masing-masing jenis orang kafir ini memiliki hukum dan sikap yang berbeda-beda. Namun secara garis besar, jika kita kelompokkan lagi, maka terbagi menjadi 2 kelompok besar sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu โ€˜Abbas radhiallahuโ€™anhuma: โ€œDahulu kaum musyrikin terhadap Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam dan kaum mukminin, mereka terbagi menjadi 2 kelompok: musyrikin ahlul harbi, mereka memerangi kami dan kami memerangi mereka dan musyrikin ahlul โ€˜ahdi, mereka tidak memerangi kami dan kami tidak memerangi merekaโ€ (HR. Bukhari).

Toleransi terhadap orang kafir ahlul โ€˜ahdi

Islam agama yang samahah (toleran), Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: โ€œSesungguhnya agama Allah (Islam) itu hanifiyyah dan samahahโ€ (HR. Bukhari secara muโ€™allaq, Ahmad, Ath Thabrani). Hanifiyyah maksudnya lurus dan benar, samahah maksudnya penuh kasih sayang dan toleransi. Bahkan terhadap orang kafir yang tidak memerangi Islam telah diatur adab-adab yang luar biasa, diantaranya:

1. Dianjurkan berbuat baik dalam muamalah

Setiap muslim hendaknya bermuamalah dengan baik dalam perkara muamalah dengan non-muslim, serta menunjukkan akhlak yang mulia. Baik dalam jual-beli, urusan pekerjaan, urusan bisnis, dan perkara muamalah lainnya. Sebagaimana termaktub dalam Al Qurโ€™an (artinya), โ€œAllah tiada melarang kamu untuk berbuat baik (dalam urusan dunia) dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adilโ€ (QS. Al-Mumtahanah :8).

Ayat ini juga merupakan dalil bolehnya berjual-beli dan berbisnis dengan orang kafir selama bukan jual beli atau bisnis yang haram. Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wasallam dan para sahabat juga dahulu berbisnis dengan orang kafir.

2. Tidak boleh menyakiti mereka tanpa hak              

Haram menyakiti dan mengganggu orang kafir tanpa hak, apalagi meneror atau sampai membunuh mereka. Bahkan doa orang kafir yang terzhalimi itu mustajab.

Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: โ€œBerhati-hatilah terhadap doanya orang yang terzalimi, walaupun ia non-muslim. Karena tidak ada penghalang antara Allah dengannyaโ€ (HR. Ahmad, shahih).

Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam juga bersabda: โ€œBarangsiapa yang membunuh seorang kafir muโ€™ahad tanpa hak, ia tidak mencium bau surgaโ€ (HR. Ibnu Hibban, shahih).

3. Dianjurkan berbuat baik kepada tetangga kafir

Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: โ€œJibril senantiasa mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai aku mengira ia akan mendapatkan warisan darikuโ€ (Muttafaqun โ€˜alaihi). Kata tetangga di sini bermakna umum, baik tetangga yang muslim maupun kafir.

Batasan toleransi terhadap orang kafir

Toleransi tentu ada batasannya. Dalam hal ibadah dan ideologi tentu tidak ada ruang untuk toleransi. Bahkan jika kita mau jujur, seluruh agama tentu tidak memberi ruang kepada pemeluknya untuk meyakini aqidah agama lain, atau beribadah dengan ibadah agama lain. Demikian pula Islam, bahkan bagi kaum muslimin telah jelas termaktub dalam Al Qurโ€™an (artinya): โ€œUntukmu agamamu, dan untukku, agamakuโ€ (QS. Al Kafirun: 6).

Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berinteraksi dengan non-muslim (termasuk keluarga tentunya):

1. Wajib membenci ajaran kekufuran dan orang kafir

Hakekat dari Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat terhadap perintahnya-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang musyrik. Dan ini adalah konsekuensi dari laailaaha illallah. Tidak mungkin seseorang menetapkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang haq, namun secara bersamaan itu mengakui dan berlapang dada terhadap ajaran yang menyatakan ada sesembahan tandingan selain Allah. Tidak mungkin ada orang yang beriman kepada Allah dan mentauhidkan Allah, namun tidak membenci kekafiran dan tidak membenci ajaran kekafiran dan kemusyrikan. Allah Taโ€™ala berfirman (artinya) : โ€œTidak akan kamu dapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka berkasih-sayang kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nyaโ€ (QS. Al Mujadalah: 22).

2. Tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai auliya

Auliya dalam bentuk jamak dari wali yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan (Aysar At Tafasir, 305). Dalam Al Qurโ€™an, banyak sekali ayat yang melarang kita menjadikan orang kafir sebagai auliya. Diantaranya Allah Taโ€™ala berfirman (artinya): โ€œJanganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)โ€ (QS. Al Imran: 28).

Maka anjuran berbuat baik dan ihsan kepada tetangga kafir, keluarga kafir atau orang kafir secara umum, hanya sebatas perbuatan baik yang wajar, tidak boleh sampai menjadikan mereka orang yang dekat di hati, sahabat, orang kepercayaan atau yang dicenderungi untuk diberikan kasih sayang, apalagi menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Wallahul mustaโ€™an.

3. Tidak boleh menyerupai orang kafir

Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: โ€œOrang yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum tersebutโ€ (HR. Abu Daud, hasan). Yang terlarang di sini adalah menyerupai mereka dalam hal-hal yang menjadi kekhususan mereka, baik dalam ibadah, cara berpakaian, kebiasaan, adat dan perkara lainnya. Karena ini menunjukkan tidak adanya baraโ€™ah (kebencian) terhadap ajaran kufur dan orangnya. Selain itu meniru mereka dalam perkara zhahir akan menyeret kita untuk meniru mereka dalam perkara batin yaitu aqidah.

Termasuk juga dalam hal ini, tidak boleh memakai atribut-atribut agama lain. Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ketika melihat Adi bin Hatim radhiallahuโ€™anhu yang mengenakan kalung salib, beliau mengatakan, โ€œWahai โ€˜Adi buang berhala yang ada di lehermuโ€ (HR. Tirmidzi, hasan). Juga, termasuk dalam hal ini, tidak boleh ikut merayakan perayaan orang kafir. Khalifah Umar bin Khathab radhiallahuโ€™anhu pernah mengatakan, โ€œJanganlah kalian memasuki peribadatan non muslim di gereja-gereja mereka di hari raya mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allahโ€ (HR. Abdurrazaq).

4. Muslim dan kafir bukan saudara dan tidak saling mewarisi

Seorang kafir bukanlah saudara bagi seorang muslim dalam agamanya.

Ingatlah perkataan Nabiyullah Nuh dalam Al Qurโ€™an (artinya) :โ€œYa Rabb, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnyaโ€œ Allah berfirman : โ€œโ€Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamuโ€โ€ (QS. Hud: 45-46)โ€.

Dan seorang muslim tidak mendapatkan bagian waris dari keluarganya yang meninggal dalam keadaan kafir, serta sebaliknya. Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: โ€œSeorang muslim tidak memberikan warisan kepada orang kafir dan orang kafir tidak memberikan warisan kepada muslimโ€ (Muttafaqun โ€˜alaih).

Yang tidak kalah penting adalah kita berharap dan mengusahakan keluarga kita  yang kafir mendapatkan hidayah.

Sabda Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam: โ€˜Barangsiapa yang menunjukkan kepada hidayah maka ia mendapat pahala semisal pelakunyaโ€™ (HR. Muslim)โ€

๐ŸŒฟ๐ŸŒธ๐Ÿ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐Ÿ’๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Bagaimana Zakat Profesi?

โœUst. Rikza Maulana Lc.M.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

๐Ÿ“ŒAssalamuallaikum wr wb

 Ustadz,๐Ÿ˜Š ini ada pertanyaan dari ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ

Apakah zakat profesi harus dikeluarkan dengan perhitungan :

A. 2.5% ร— gross income

Atau

B.  2.5%ร— gross – hutang?

Mungkin memang ada perbedaan pendapat yang boleh di share untuk pengetahuan kami.

Jazakumullah khairan katsiran            

Jawabannya

Zakat dikeluarkan setelah dikurangi hutang.Namun hutang yang dimaksud adalah hutang yg jatuh tempo pada saat tersebut,bukan akumulasi hutang secara keseluruhan. Misal,punya cicilan pembiayaan rumah, perbulan Rp 3 Juta. Maka,dikurangi dulu dari penghasilan brutonya,utk membayar hutangnya. Lalu baru sisanya di kalikan 2,5%.
Wallahu A’lam                          

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kewajiban Baiat, Bagaimana?

โœUstadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamualaikum. Mau tanya penjelasan ttg hadits ini: “Barangsiapa yang mati namun di pundaknya belum ada baiat maka ia mati dalam keadaan jahiliah”, ini shahih atau tidak, lalu maksud haditsnya bagaimana?
Kalau di negara yang belum ditegakkan hukum Islam, kita harus berbaiat pada siapa?

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Hadits dimaksud ada dalam Shahih Muslim, dan tentunya derajatnya shahih.

Saat ini di tengah kondisi tidak ada khalifah dunia yang bisa menyatukan kepemimpinan di bawah panji tunggal, maka hendaknya setiap muslim dan mukmin dapat berbaiat kepada pemimpin yang sah di negerinya masing-masing, pemimpin yang memiliki ketaatan kepada agamanya, tidak pernah meninggalkan shalat, tidak pernah meminum khamar, dan tidak berbuat kemungkaran yang menyengsarakan masyarakat.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Seputar Hutang

โœUstadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Pertanyan dari korma 3:

Asswrwb..ana mau tanya.. bagaimana kalau orang Islam mempunyai/menanggung hutang untuj proyek kerja…menurut perjanjiannya bagi hasil nantinya.. sampek ratusan juta kepada sesama orang
 Islam.. Yang mempunyai hutang bersedia akan membayarnya tapi sudah melewati batas waktu yang dijanjikan dan selalu ingkar terhadap janjinya itu..trus sekarang yang punya hutang itu sakit.. Ini bagaimana ustadz? Apakah yang punya hutang harus tetap membayarnya.. trus yang punya piutang kalo menagihnya apa salah atau berdosa? mohon penjelasannya.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah Ibu,

Pada dasarnya seorang muslim dan mukmin harus menjaga dirinya untuk tidak terlilit dengan hutang. Memilih untuk hidup apa adanya jauh lebih utama dibandingkan hidup dengan memiliki hutang. Di sisi lain, seorang muslim dan mukmin pun dituntut untuk selalu membawa manfaat kepada sesama manusia, selalu berkasih sayang, dan mengejar maqam terbaik.

Bagi manusia yang berhutang, jika pada akhirnya ia harus berhutang, maka janganlah sepelekan hutang, sekecil apapun nilainya, apalagi jika nilainya hingga ratusan juta rupiah, tentulah nilai yang amat besar. Sedikitnya saja, jika tidak sepelekan dikhawatirkan akan menjadikan penghalang memasuki Jannah, terlebih jika sejatinya yang berhutang sebenarnya mampu untuk membayarnya namun ia tidak memiliki itikad baik untuk membayarnya, maka ini adalah sebuah wujud kezhaliman besar.

Dalam hal in, Nabi Muhammad ๏ทบ telah bersabda,

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ูŠููˆุณูููŽ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ู…ูŽุงู„ููƒูŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุฒู‘ูู†ูŽุงุฏู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ุฑูŽุฌู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุทู’ู„ู ุงู„ู’ุบูŽู†ููŠู‘ู ุธูู„ู’ู…ูŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูุชู’ุจูุนูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู„ููŠู‘ู ููŽู„ู’ูŠูŽุชู’ุจูŽุนู’

Telah menceritakan kepada kami [‘Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Abu Az Zanad] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda: “Menunda membayar hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman dan apabila seorang dari kalian hutangnya dialihkan kepada orang kaya, hendaklah dia ikuti”. (HR. Bukhari No. 2125)

ู†ูŽูู’ุณู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ู…ูุนูŽู„ู‘ูŽู‚ูŽุฉูŒ ุจูุฏูŽูŠู’ู†ูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูู‚ู’ุถูŽู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู

Jiwa seorang mukmin akan bergantung-gantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya. (HR. Tirmidzi)

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุงู„ู†ู‘ูููŽูŠู’ู„ููŠู‘ู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒู ุนูŽู†ู’ ูˆูŽุจู’ุฑู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุฏูู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ู…ูŽูŠู’ู…ููˆู†ู ุนูŽู†ู’ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุงู„ุดู‘ูŽุฑููŠุฏู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽูŠู‘ู ุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุฏู ูŠูุญูู„ู‘ู ุนูุฑู’ุถูŽู‡ู ูˆูŽุนูู‚ููˆุจูŽุชูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒู ูŠูุญูู„ู‘ู ุนูุฑู’ุถูู‡ู ูŠูุบูŽู„ู‘ูŽุธู ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุนูู‚ููˆุจูŽุชูŽู‡ู ูŠูุญู’ุจูŽุณู ู„ูŽู‡ู

Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Muhammad An Nufaili] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] dari [Wabr bin Abu Dulailah] dari [Muhammad bin Maimun] dari [‘Amru bin Asy Syarid] dari [Ayahnya] dari Rasulullah ๏ทบ beliau bersabda: “Orang mampu yang menunda pembayaran hutangnya, maka kehormatan dan hukuman telah halal untuknya.” Ibnu Al Mubarak berkata, “Halal kehormatannya maksudnya boleh untuk mengeraskan suara (mencela), dan halal hukumannya maksudnya adalah memenjarakannya.” (HR. Abu Daud No. 3144)

ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ููŠ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ู‚ูุฏูŽุงู…ูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุฌูŽุฑููŠุฑูŒ ุนูŽู†ู’ ู…ูŽู†ู’ุตููˆุฑู ุนูŽู†ู’ ุฒููŠูŽุงุฏู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ู‡ูู†ู’ุฏู ุนูŽู†ู’ ุนูู…ู’ุฑูŽุงู†ูŽ ุจู’ู†ู ุญูุฐูŽูŠู’ููŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู…ูŽูŠู’ู…ููˆู†ูŽุฉู ุชูŽุฏู‘ูŽุงู†ู ูˆูŽุชููƒู’ุซูุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ูŽุง ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽุงู…ููˆู‡ูŽุง ูˆูŽูˆูŽุฌูŽุฏููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽุง ุฃูŽุชู’ุฑููƒู ุงู„ุฏู‘ูŽูŠู’ู†ูŽ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฎูŽู„ููŠู„ููŠ ูˆูŽุตูŽูููŠู‘ููŠ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุญูŽุฏู ูŠูŽุฏู‘ูŽุงู†ู ุฏูŽูŠู’ู†ู‹ุง ููŽุนูŽู„ูู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูุฑููŠุฏู ู‚ูŽุถูŽุงุกูŽู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽุฏู‘ูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง

Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Qudamah] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Manshur] dari [Ziyad bin ‘Amru bin Hindun] dari [Imran bin Hudzaifah], dia berkata; ” [Maimunah] adalah orang yang banyak berhutang, keluarganya memperingatkan akan hal itu, mencelanya dan marah kepadanya. Dia lalu berkata; “Aku tidak akan meninggalkan hutang, sungguh aku telah mendengar kekasihku dan pilihanku ๏ทบ bersabda: “Tidaklah seseorang yang banyak berhutang dan Allah mengetahui bahwa ia ingin membayarnya kecuali Allah akan membayarkannya di dunia.”

Dan banyak lagi hadits lain yang akan menjadi panduan kita dalam bertindak, dan tentunya sakit tidak menegasikan kewajiban membayar hutang, bahkan justru perlu diingatkan untuk membayarnya, agar sekaligus dapat menggugurkan dosa-dosanya bersama penyakit yang dideritanya.

Dalam hal ini, maka saya menyarankan kepada Ibu untuk :
1โƒฃ Memusyawarahkan secara khusus dan serius kepada sahabat dan keluarga yang berhutang terkait komitmennya dalam membayarkan hutang. Jagalah musyawarah dengan adab terbaik, dan jangan terpancing emosi karena Ibu insya Allah sedang meniti jalan menuju maqam terbaik.

2โƒฃ Jika hasil musyawarah menyimpulkan secara jelas bahwa dari pihak keluarga sebenarnya memiliki kemampuan untuk membayarkannya namun memang tidak berniat dan bahkan tidak mau membayarkannya, maka dalam hal ini hendaknya Ibu dapat mengingatkan mereka akan nasihat dari Nabi yang mulia akan bahayanya ancaman bagi kalangan manusia yang menyepelekan hutang-hutang mereka. Selanjutnya, Ibu dapat memilih antara mengikhlaskannya ataupun mengambil jalur hukum, dan keduanya adalah pilihan yang baik.

3โƒฃ Jika dari hasil musyawarah diketahui bahwa ternyata keluarga ini tidak memiliki kemampuan untuk membayar namun masih memiliki itikad baik untuk membayarkannya, maka lahirkanlah kasih sayang kepada mereka. Bantulah mereka, mudahkanlah mereka, diskusikanlah bagaimana mekanisme teknisnya. Kalaupun Ibu pada keputusan untuk mengikhlaskan seluruh hutang-hutang yang ada, sungguh ini adalah amalan yang akan sangat mendekatkan Ibu ke Jannah.

Allah berfirman,

ู…ูŽู†ู’ ุฐูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูู‚ู’ุฑูุถู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู‚ูŽุฑู’ุถู‹ุง ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ููŽูŠูุถูŽุงุนูููŽู‡ู ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุถู’ุนูŽุงูู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑูŽุฉู‹ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู‚ู’ุจูุถู ูˆูŽูŠูŽุจู’ุณูุทู ูˆูŽุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุชูุฑู’ุฌูŽุนููˆู†ูŽ (245)
โ€œSiapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.โ€ (QS. Al-Baqarah: 245)

Yassirlana wa lakum,

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Wanita Berjamaah di Masjid

โœUstadz Dr.Wido Supraha
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท
Pertanyaan dari Korma 3:
Assalamualaikum mohon pencerahan bagaimana hukumnya wanita yang shalat berjamaah di mesjid dengan harapan mendapat tambahan ilmu karena biasanya ada kultum /tausiah setelah shalat, dan mengenalkan anak2 ke mesjid  (karena saya pernah dengar yang utama adalah shalat dirumah bagi wanita)…terimakasih banyak sebelumnya
Jawaban:
Assalamu ‘alaikum warahmatullah,
Ibu, wanita tidak pernah dilarang untuk ke Masjid, bahkan hadirnya di Masjid akan menambah ilmu baginya, dikarenakan ia memiliki waktu lebih banyak untuk mendidik anak-anaknya, dan ini semua membutuhkan ilmu, termasuk ilmu untuk dirinya sendiri sehingga pandai menjaga adab baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Hal ini menjadi lebih utama ketika seorang suami tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk memberikan ilmu bagi istri-istrinya.
Larangan kepada wanita muncul dikarenakan alasan kekhawatiran munculnya fitnah dari kehadirannya di Masjid, maka jika ini alasannya, maka alasan ini tidak dibatasi pada Masjid, namun pada seluruh tempat pada umumnya. Bagaimana mungkin seorang wanita dilarang shalat di Masjid, tempat yang paling mulia, namun dihalalkan untuk ke Pasar, tempat yang paling banyak syaithannya. Oleh karenaya, adab apa saja yang hendaknya dijaga oleh seorang wanita? Di antaranya adalah,
1โƒฃ Tidak mengenakan parfum yang mengundang perhatian orang-orang disekitarnya, terlebih dalam radius yang cukup jauh.
2โƒฃ Tidak mengenakan pakaian yang menggambarkan lekuk tubuhnya, transparan, dan hal-hal lain yang mengundang perhatian banyak mata manusia.
3โƒฃ Jika ia berparas cantik, diutamakan menutupi wajahnya dengan niqab, agar tidak melalaikan mata manusia yang memandangnya.
4โƒฃ Keluar bersama suami atau keluarganya, dan tidak berjalan sendirian.
Demikian, wallaahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Percuma Sholat Kalau Kelakuan Masih Belum Baik, Betulkah?

โœUstadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamu’alaikum.
1. Bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbicara pada kita ‘percuma sholat kalau kelakuan masih belum baik’ padahal setahu saya sholat itu tiang agama??
2. Apakah ketika kita membicarakan kejelekan orang lain maka amalan kebaikan kita akan berpindah ke orang itu.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

1. Shalat adalah sesuatu hal, dan Kelakuan adalah sesuatu yang lain. Ia laksana kalimat, “Percuma minum teh kalau tidak pakai garam”, karena antara teh dan garam ada pokok pembahasannya masing-masing. Kesalahan dalam membandingkan dua hal berawal dari tidak lengkapnya metodologi studi Islam seseorang, sehingga akan hadir pula kalimat lain, “Percuma pakai jilbab, kalau kelakuan tidak baik”, atau “Lebih baik pemimpin kafir tapi adil, daripada pemimpin muslim tapi korupsi”, atau perbandingan lainnya yang tidak pada tempatnya.

Logikanya kemudian adalah, apakah standar bahwa seseorang itu telah memiliki kelakukan yang baik? Bukankah tidak maunya seseorang untuk shalat pertanda kelakuannya belum baik? Karena seseorang yang berkelakuan baik, pastilah ia Shalat. Maka kalau kelakuannya belum baik dengan ciri dia belum mau Shalat, maka sampai kapan kelakuannya bisa bisa, dan bagaimana caranya agar kelakuannya bisa baik? Bukankah Shalat disediakan Allah Swt untuk menjadi sarana perbaikan kelakukan? Maka kalau seseorang tidak pernah mau Shalat, bagaimana kelakukannya bisa menjadi baik?

Sejumlah pertanyaan di atas, saya kemukakan untuk menjadi bahan dialog Ibu kepada sahabatnya, karena seluruh ajaran agama Islam didasarkan atas dialog penuh hikmah, gabungan antara kecerdasan akal logika, qalbu dan indra. Diskusikanlah hal ini kepadanya, sebelum masuk kepada pelajaran penting bahwa Shalat adalah amalan kunci, ia amalan yang pertama dihisab, dan kunci dihisabnya amalan yang lain.

2. Jika pembicaraan akan kejelekan seseorang itu tidak kepada orang yang tepat, orang yang mampu memberikan solusi, orang yang diharapkan berkontribusi membawa perbaikan, maka pada dasarnya ia sedang melakukan ghibah, dan ini merupakan perbuatan yang amat buruk yang mendatangkan dosa bagi pelakunya.

Wallahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Haruskah Mengadakan Walimatus Safat Sebelum ke Tanah Suci?

โœUstadz Dr. Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamu’ alaikum. Maaf mau bertanya, ustadz..
Apakah ada keharusan seseorang yang akan berangkat umroh/ haji mengadakan pengajian/ walimatus safar?
Mohon penjelasan tentang dalil atau penegasan tentang hal-hal yang dilakukan Rasulullah/ sahabat ketika akan menunaikan umroh/ haji. Terima kasih sebelumnya.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Pada hakikatnya, menegakkan rukun Islam ke-5 ini hendaklah dalam kondisi suci dan bersih dari seluruh urusan dunia, dengan tujuan agar konsentrasi bisa maksimal selama di tanah suci, bahkan kalaupun Allah ๏ทป berkehendak mewafatkannya, ia pun telah siap.

Atas dasar hal di atas, bagi yang hendak menunaikan ibadah haji, dalam pengertian ia akan meninggalkan anak atau keluarganya di rumah, maka pada dasarnya yang perlu dilakukannya ada beberapa hal, sebagaimana juga pernah ditulis Syaikh Sa’id bin Abdul Qadir Salim Basyanfar dalam kitabnya, Al-Mughnie.

1โƒฃ Luruskan niat karena Allah ๏ทป semata, bukan karena tujuan mendapatkan gelar ‘Haji’, atau posisi di masyarakat.

2โƒฃ Menjaga niat yang telah ditanamkan dari faktor perusaknya seperti riya dan sum’ah

3โƒฃ Bertaubat dari segala bentuk kemakiatan

4โƒฃ Mintalah maaf kepada keluarga, sanak saudara, dan sahabat atas seluruh kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.

5โƒฃ Mendata dan menuliskan harta kekayaannya

6โƒฃ Mendata harta orang lain yang ada pada dirinya, juga kemungkinan daftar hutang dan piutangnya. Melunasi hutang-hutang di dunia adalah sebuah keutamaan yang teramat besar.

7โƒฃ Memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara, dan seluruh manusia yang ia pernah bermuamalah denganya

8โƒฃ Menyiapkan perbekalan selama perjalanan dengan perbekalan yang dipastikan kehalalannya

9โƒฃ Menambahkan bekal tambahan yang lebih dari kebutuhannya untuk persiapan dan cadangan akan hal-hal yang ada di luar perhitungannya

๐Ÿ”Ÿ Siapkan perbekalan yang lebih dari cukup bagi keluarga, gabungan antara kebutuhan dasar, dan cadangan

Di samping itu, mintalah sahabat terdekat untuk dititipi keluarga, dan mintalah tetangga terdekat untuk membantu melihat-lihat rumah dan keluarga yang ditinggalkan.

Lakukanlah hal-hal di atas dengan penuh kesungguhan dan detail. Kalaupun ia harus melakukan walimatussafar (perayaan perjalanan), maka pada hakikatnya ini bukanlah sebuah pesta perayaan, namun boleh jadi untuk tujuan efektifitas dan lebih mempererat silaturrahim di antara manusia dan hukumnya mubah, selama tetap menjaga seluruh hal-hal di atas, terutama perkara niat sebagai landasan beramal.

Wallahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…