Dosa Suami pada Istri

🌿Dra. Indra Asih

🌿🍁🌺🍄🍀🌷🌻🌹

Assalamu’alaikum wrwb.
Afwan ustadzah ,  Ini Pertanyaan dari korma 5

Ada suami istri yang ke 2 nya adlh karyawan swasta, lalu ketika istri cuti melahirkan, gaji si istri dititipkan pada suami via teman kerja si istri, namun suami tidak pernah menyampaikan gaji itu, baik berupa ucapan atau pun uangnya, krn sangat percaya pd suami dn krn tdk mengetahui hukum2nya maka istri tdk prnah membicarakan atau mempertanyakannya

Lalu suatu hari, suami istri ini menitipkan sejumlah uang pada ayah suami utk dibelikan tanah, yg uang itu dikumpulkan dari gaji dan upah lembur istri
Ternyata tanah itu dijual oleh ayah suami tanpa sepengetahuan suami istri ini

Ketika, istri merasa membutuhkan uang untuk melanjutkan sklh anaknya, istri mempertanyakan ttng tanah itu pd suami, dan suami malah marah2 pada istri
Krn merasa tidak enak dn jg telah bnyak merepotkan mertua, istri ini mengikhlaskan perkara tanah yg dijual sepihak oleh mertuanya

Kemudian lagi, swkt istri mengundurkan diri dari perusahaan, istri dpt pesangon, dan pesangon itu dibayarkan utk DP  KPR dan juga diputar sbg modal usaha utk suami, cicilan perbulannya (KPR) dibyr melalui gaji suami,

Stlh rmh itu lunas, suami mengajukan KPR lagi ( walaupun istri tdk setuju, krn tdk mau lagi terlibat dg cicilan bank)
Dan  ternyata, suami istri ini tidak panjang jodoh, mereka bercerai krn suami menikah diam2 dan setelah ketahuan oleh istri, istri meminta agar suami berpoligami dg benar, tapi suami tdk mau, malahan suami dan istri mudanya selalu menghina dn menggibah istri pertama, yang akhirnya membuat istri pertama mengambil keputusan untuk mundur

Diproses PA, istri memang tidak menuntut soal harta, krn sdh ada kesepakatan tertulis dan bermaterai dari suami ttng pembagian harta, yaitu :

Rmh yg sdh lunas, dijual dn hasilnya dibagi 2
Rmh yg msh dicicil, diteruskan oleh suami dn dihitung brp uang dp dn  cicilan  slma ini yg sdh masuk, lalu dibagi 2,
Adapun motor dn isi yang ada d rmh ( yg memang tdk seberapa) tdk dibagi, istri hny membawa pakaian..

Stlh dihitung2 istri mendapatkan bagian 80 jt, dn suami baru memberikan 20 jt, itupun dipakai utk beli tiket pesawat 4 org (mantan suami/ istri, dn 2 anak)  kurleb 3 jt, krn istri plng ke rmh ortu, dn mantan suami mengantar anak2nya
Sisanya akan ditransfer olh mantan suami

Ternyata..mantan suami mentransfer dg 2x cicilan dan hanya mentransfer 55 jt, yg 5 jt sengaja ditahan dg alasan yg selalu berubah2
Smpai hr ini ( sdh  hmpr 2 th), kekurangan  5 jt itu tdk dibayarkan olh suami, malahan pernh mengirim SMS pd mantan istri utk minta dibebaskan dg banyak alasan

Pertanyaannya..
1. Apakah mantan suami berdosa atas semua kecurangan yg dia lakukan dari awal?

2. Apakah mantan istri ini termasuk dlm golongan ” orang2 yg diharamkan utk mencium bau syurga?”, krn dia meminta cerai pada suaminya?

Jazakillaah ustadzah
=========================

Jawabanya :

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

1. Ada beberapa kesalahan/dosa suami terhadap istrinya, yaitu:

✒Tidak mengajar agama dan hukum syariat kepada Isteri.

Betapa sukarnya untuk menjadikan seorang isteri yang benar-benar solehah. Malah, istri menjadi satu ujian besar bagi seorang lelaki untuk mencari dan membentuk pasangan menjadi seorang isteri yang mempunyai sifat yang terpuji dan kriteria pegangan agama yang kuat.

Berbahaya jika ada di antara isteri masih tidak tahu bagaimana untuk menunaikan solat dengan betul, hukum haid dan nifas, melayani suami dan mendidik anak mengikuti Islam.

✒Mencari-cari kekurangan dan kesalahan isteri.

Jika seorang suami terus mencari kekurangan dan kelemahan istrinya, dikhuatirkan akan menimbulkan perasaan kurang senang pada isterinya. Dan barang siapa mencari aib saudaranya sendiri, Allah juga akan mencari aibnya. Maka, hendaklah seorang suami itu bersabar dan menahan diri dari kekurangan yang ada pada isterinya.

✒Menghukum tidak sesuai kesalahan.

Hal ini termasuk kezaliman terhadap isteri. Di antara bentuk hukuman yang zalim itu adalah:

🖍Memukul di tahap awal pemberian hukuman. Padahal Allah SWT telah berfirman,“Wanita-wanita yang kamu khuatirkan nusyuz-nya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka.”( An Nisa’:34)

🖍Mengusir isteri dari rumah tanpa ada sebab secara syar’i. Allah SWT berfirman yang artinya: “Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang .” (Ath Thalaq:1)

🖍Memukul wajah, mencela dan menghina. Ada seseorang yang datang bertanya kepada Rasulullah, apakah hak isteri ke atas suaminya? Baginda menjawab, “Dia (suami) memberinya makan jika dia makan, memberinya pakaian jika dia berpakaian, tidak memukul wajah, tidak memburuk-burukkan dan tidak memboikot kecuali di dalam rumah.” (Riwayat Ibnu Majah,)

✒Pelit memberi nafkah.

Sesungguhnya kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada isteri, sepertimana yang ditetapkan di dalam al-Quran. Isteri berhak mendapat nafkah, kerana dia telah menjadi halal untuk disenangi, dia telah menaati suaminya, tinggal di rumahnya, mengatur rumahnya, mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

✒Sikap keras, dan kasar.

Rasulullah SAW bersabda: “Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isteri-isterinya.” (Riwayat Tirmidzi). Maka hendaknya seorang suami itu berakhlak baik terhadap isterinya, dengan bersikap lembut, dan menjauhi sikap kasar.

✒Berpoligami mengikut nafsu

Memang tidak dinafikan, menikah untuk kali kedua, ketiga dan keempat merupakan satu perkara yang disyariatkan. Akan tetapi ramai di kalangan lelaki yang mengamalkan poligami tidak memenuhi kewajipan-kewajiban terhadap isteri dengan benar. Terutamanya isteri yang pertama dan anak-anaknya. Padahal Allah SWT telah berfirman, “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kahwinilah) seorang saja.” (An Nisa: 3). Suami boleh bernikah lagi tetapi sekiranya ia tidak mampu untuk berlaku adil, dan tidak boleh memikul tanggungjawab, lebih baik melupakan niat untuk menikah lagi demi kebahagiaan bersama.

2. Ada dua hadis yang terkesan berlawanan.

Pertama dalam sebuah hadits sahih riwayat Abu Dawud Tirmidzi, Ibnu Hibban dari Tsauban, Nabi bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّة

Artinya: Perempuan yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab maka haram baginya bau surga.

Hadits kedua juga hadis sahih riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلادِينٍ ، وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ ؟ قَالَتْ : نَعَمْ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً).

Artinya: Dari Ibnu Abbas r.a. diceritakan: Istri Tsabit bin Qais datang menemui Rasulullah dan ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela suamiku Tsabit bin Qais baik dalam hal akhlak maupun agamanya. Hanya saja aku khawatir akan terjerumus ke dalam kekufuran setelah (memeluk) Islam (karena tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri)”. Rasulullah bersabda:” Apakah kamu bersedia mengembalikan kebun itu kepada suamimu? Wanita itu menjawab: “Saya bersedia”, lalu Rasulullah berkata kepada suaminya: “Ambilah kebun itu dan ceraikan istrimu”

Dalam hadits pertama Nabi melarang istri meminta cerai tanpa sebab yang dapat dibenarkan. Sedangkan dalam hadis kedua, seorang Sahabat wanita meminta cerai dari suaminya tanpa menyebutkan sebab apapun bahkan ia memuji akhlak dan agama suaminya dan Nabi mengijinkan dan menyuruh suaminya menceraikannya.

Kesimpulan yang dapat diambil dari hadis di atas adalah bahwa memang betul tidak boleh istri meminta cerai pada suami tanpa sebab yang dibenarkan syariah. Artinya, kalau istri melakukan gugat cerai karena sebab yang syar’i, maka itu dibolehkan. Dan termasuk sebab atau alasan yang dibolehkan bagi seorang istri untuk meminta cerai pada suami adalah apabila tidak ada lagi rasa cinta dan sayang yang dimiliki istri pada suaminya sebagaimana secara jelas digambarkan dalam hadis kedua. Termasuk sebab yang syar’i adalah istri tidak suka karena perilaku suami yang tidak taat agama, atau tidak suka pada kepribadiannya, atau istri merasa tidak mampu tinggal bersamanya walaupun suami bagus pekertinya dan taat pada agama.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia

Anggota Keluarga NonMuslim, Apakah Masih Saudara Kita?

✏Ustadzah Dra.Indra Asih.

🌿🌺🍁🌼🍄🌻💐🌹🌷

Pertanyaan dari Member A20:

Saya ingin bertanya apakah benar kalau dalam satu keluarga ada yang beda aqidah itu bukan saudara lagi karena sudah kafir. Kalau iya apakah ada ayat-ayatnya. Dan kita tidak boleh silaturrahim dengan orang beda agama walau orang tersebut masih kakak atau adik dalam keluarga. Wassalam.

Jawaban:

Non-muslim (baik keluarga maupun tidak) terbagi menjadi:

– Kafir harbi atau kafir muharib, yaitu orang kafir yang berada dalam peperangan dan permusuhan terhadap kaum muslimin

– Kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang hidup di tengah kaum muslimin di bawah pemerintah muslim dan mereka membayar jizyah setiap tahun

– Kafir mu’ahhad, yaitu orang kafir yang sedang berada dalam perjanjian dengan kaum muslimin dalam jangka waktu tertentu

– Kafir musta’man, yaitu orang kafir yang dijamin keamanannya oleh kaum muslimin

Masing-masing jenis orang kafir ini memiliki hukum dan sikap yang berbeda-beda. Namun secara garis besar, jika kita kelompokkan lagi, maka terbagi menjadi 2 kelompok besar sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma: “Dahulu kaum musyrikin terhadap Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan kaum mukminin, mereka terbagi menjadi 2 kelompok: musyrikin ahlul harbi, mereka memerangi kami dan kami memerangi mereka dan musyrikin ahlul ‘ahdi, mereka tidak memerangi kami dan kami tidak memerangi mereka” (HR. Bukhari).

Toleransi terhadap orang kafir ahlul ‘ahdi

Islam agama yang samahah (toleran), Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya agama Allah (Islam) itu hanifiyyah dan samahah” (HR. Bukhari secara mu’allaq, Ahmad, Ath Thabrani). Hanifiyyah maksudnya lurus dan benar, samahah maksudnya penuh kasih sayang dan toleransi. Bahkan terhadap orang kafir yang tidak memerangi Islam telah diatur adab-adab yang luar biasa, diantaranya:

1. Dianjurkan berbuat baik dalam muamalah

Setiap muslim hendaknya bermuamalah dengan baik dalam perkara muamalah dengan non-muslim, serta menunjukkan akhlak yang mulia. Baik dalam jual-beli, urusan pekerjaan, urusan bisnis, dan perkara muamalah lainnya. Sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an (artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik (dalam urusan dunia) dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah :8).

Ayat ini juga merupakan dalil bolehnya berjual-beli dan berbisnis dengan orang kafir selama bukan jual beli atau bisnis yang haram. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabat juga dahulu berbisnis dengan orang kafir.

2. Tidak boleh menyakiti mereka tanpa hak              

Haram menyakiti dan mengganggu orang kafir tanpa hak, apalagi meneror atau sampai membunuh mereka. Bahkan doa orang kafir yang terzhalimi itu mustajab.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Berhati-hatilah terhadap doanya orang yang terzalimi, walaupun ia non-muslim. Karena tidak ada penghalang antara Allah dengannya” (HR. Ahmad, shahih).

Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda: “Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad tanpa hak, ia tidak mencium bau surga” (HR. Ibnu Hibban, shahih).

3. Dianjurkan berbuat baik kepada tetangga kafir

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jibril senantiasa mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai aku mengira ia akan mendapatkan warisan dariku” (Muttafaqun ‘alaihi). Kata tetangga di sini bermakna umum, baik tetangga yang muslim maupun kafir.

Batasan toleransi terhadap orang kafir

Toleransi tentu ada batasannya. Dalam hal ibadah dan ideologi tentu tidak ada ruang untuk toleransi. Bahkan jika kita mau jujur, seluruh agama tentu tidak memberi ruang kepada pemeluknya untuk meyakini aqidah agama lain, atau beribadah dengan ibadah agama lain. Demikian pula Islam, bahkan bagi kaum muslimin telah jelas termaktub dalam Al Qur’an (artinya): “Untukmu agamamu, dan untukku, agamaku” (QS. Al Kafirun: 6).

Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berinteraksi dengan non-muslim (termasuk keluarga tentunya):

1. Wajib membenci ajaran kekufuran dan orang kafir

Hakekat dari Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat terhadap perintahnya-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang musyrik. Dan ini adalah konsekuensi dari laailaaha illallah. Tidak mungkin seseorang menetapkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang haq, namun secara bersamaan itu mengakui dan berlapang dada terhadap ajaran yang menyatakan ada sesembahan tandingan selain Allah. Tidak mungkin ada orang yang beriman kepada Allah dan mentauhidkan Allah, namun tidak membenci kekafiran dan tidak membenci ajaran kekafiran dan kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Tidak akan kamu dapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka berkasih-sayang kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadalah: 22).

2. Tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai auliya

Auliya dalam bentuk jamak dari wali yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan (Aysar At Tafasir, 305). Dalam Al Qur’an, banyak sekali ayat yang melarang kita menjadikan orang kafir sebagai auliya. Diantaranya Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28).

Maka anjuran berbuat baik dan ihsan kepada tetangga kafir, keluarga kafir atau orang kafir secara umum, hanya sebatas perbuatan baik yang wajar, tidak boleh sampai menjadikan mereka orang yang dekat di hati, sahabat, orang kepercayaan atau yang dicenderungi untuk diberikan kasih sayang, apalagi menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Wallahul musta’an.

3. Tidak boleh menyerupai orang kafir

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Orang yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, hasan). Yang terlarang di sini adalah menyerupai mereka dalam hal-hal yang menjadi kekhususan mereka, baik dalam ibadah, cara berpakaian, kebiasaan, adat dan perkara lainnya. Karena ini menunjukkan tidak adanya bara’ah (kebencian) terhadap ajaran kufur dan orangnya. Selain itu meniru mereka dalam perkara zhahir akan menyeret kita untuk meniru mereka dalam perkara batin yaitu aqidah.

Termasuk juga dalam hal ini, tidak boleh memakai atribut-atribut agama lain. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat Adi bin Hatim radhiallahu’anhu yang mengenakan kalung salib, beliau mengatakan, “Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu” (HR. Tirmidzi, hasan). Juga, termasuk dalam hal ini, tidak boleh ikut merayakan perayaan orang kafir. Khalifah Umar bin Khathab radhiallahu’anhu pernah mengatakan, “Janganlah kalian memasuki peribadatan non muslim di gereja-gereja mereka di hari raya mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah” (HR. Abdurrazaq).

4. Muslim dan kafir bukan saudara dan tidak saling mewarisi

Seorang kafir bukanlah saudara bagi seorang muslim dalam agamanya.

Ingatlah perkataan Nabiyullah Nuh dalam Al Qur’an (artinya) :“Ya Rabb, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya“ Allah berfirman : “”Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu”” (QS. Hud: 45-46)”.

Dan seorang muslim tidak mendapatkan bagian waris dari keluarganya yang meninggal dalam keadaan kafir, serta sebaliknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim tidak memberikan warisan kepada orang kafir dan orang kafir tidak memberikan warisan kepada muslim” (Muttafaqun ‘alaih).

Yang tidak kalah penting adalah kita berharap dan mengusahakan keluarga kita  yang kafir mendapatkan hidayah.

Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam: ‘Barangsiapa yang menunjukkan kepada hidayah maka ia mendapat pahala semisal pelakunya’ (HR. Muslim)”

🌿🌸🍁🌼🍄🌻💐🌹🌷

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Bagaimana Zakat Profesi?

✏Ust. Rikza Maulana Lc.M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼 🍄🌷🍁🌹

📌Assalamuallaikum wr wb

 Ustadz,😊 ini ada pertanyaan dari 🅰0⃣8⃣

Apakah zakat profesi harus dikeluarkan dengan perhitungan :

A. 2.5% × gross income

Atau

B.  2.5%× gross – hutang?

Mungkin memang ada perbedaan pendapat yang boleh di share untuk pengetahuan kami.

Jazakumullah khairan katsiran            

Jawabannya

Zakat dikeluarkan setelah dikurangi hutang.Namun hutang yang dimaksud adalah hutang yg jatuh tempo pada saat tersebut,bukan akumulasi hutang secara keseluruhan. Misal,punya cicilan pembiayaan rumah, perbulan Rp 3 Juta. Maka,dikurangi dulu dari penghasilan brutonya,utk membayar hutangnya. Lalu baru sisanya di kalikan 2,5%.
Wallahu A’lam                          

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kewajiban Baiat, Bagaimana?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamualaikum. Mau tanya penjelasan ttg hadits ini: “Barangsiapa yang mati namun di pundaknya belum ada baiat maka ia mati dalam keadaan jahiliah”, ini shahih atau tidak, lalu maksud haditsnya bagaimana?
Kalau di negara yang belum ditegakkan hukum Islam, kita harus berbaiat pada siapa?

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Hadits dimaksud ada dalam Shahih Muslim, dan tentunya derajatnya shahih.

Saat ini di tengah kondisi tidak ada khalifah dunia yang bisa menyatukan kepemimpinan di bawah panji tunggal, maka hendaknya setiap muslim dan mukmin dapat berbaiat kepada pemimpin yang sah di negerinya masing-masing, pemimpin yang memiliki ketaatan kepada agamanya, tidak pernah meninggalkan shalat, tidak pernah meminum khamar, dan tidak berbuat kemungkaran yang menyengsarakan masyarakat.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia..

Seputar Hutang

✏Ustadz Dr.Wido Supraha

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Pertanyan dari korma 3:

Asswrwb..ana mau tanya.. bagaimana kalau orang Islam mempunyai/menanggung hutang untuj proyek kerja…menurut perjanjiannya bagi hasil nantinya.. sampek ratusan juta kepada sesama orang
 Islam.. Yang mempunyai hutang bersedia akan membayarnya tapi sudah melewati batas waktu yang dijanjikan dan selalu ingkar terhadap janjinya itu..trus sekarang yang punya hutang itu sakit.. Ini bagaimana ustadz? Apakah yang punya hutang harus tetap membayarnya.. trus yang punya piutang kalo menagihnya apa salah atau berdosa? mohon penjelasannya.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah Ibu,

Pada dasarnya seorang muslim dan mukmin harus menjaga dirinya untuk tidak terlilit dengan hutang. Memilih untuk hidup apa adanya jauh lebih utama dibandingkan hidup dengan memiliki hutang. Di sisi lain, seorang muslim dan mukmin pun dituntut untuk selalu membawa manfaat kepada sesama manusia, selalu berkasih sayang, dan mengejar maqam terbaik.

Bagi manusia yang berhutang, jika pada akhirnya ia harus berhutang, maka janganlah sepelekan hutang, sekecil apapun nilainya, apalagi jika nilainya hingga ratusan juta rupiah, tentulah nilai yang amat besar. Sedikitnya saja, jika tidak sepelekan dikhawatirkan akan menjadikan penghalang memasuki Jannah, terlebih jika sejatinya yang berhutang sebenarnya mampu untuk membayarnya namun ia tidak memiliki itikad baik untuk membayarnya, maka ini adalah sebuah wujud kezhaliman besar.

Dalam hal in, Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتْبَعْ

Telah menceritakan kepada kami [‘Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Abu Az Zanad] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Menunda membayar hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman dan apabila seorang dari kalian hutangnya dialihkan kepada orang kaya, hendaklah dia ikuti”. (HR. Bukhari No. 2125)

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang mukmin akan bergantung-gantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya. (HR. Tirmidzi)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ وَبْرِ بْنِ أَبِي دُلَيْلَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ يُحِلُّ عِرْضُهُ يُغَلَّظُ لَهُ وَعُقُوبَتَهُ يُحْبَسُ لَهُ

Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Muhammad An Nufaili] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] dari [Wabr bin Abu Dulailah] dari [Muhammad bin Maimun] dari [‘Amru bin Asy Syarid] dari [Ayahnya] dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda: “Orang mampu yang menunda pembayaran hutangnya, maka kehormatan dan hukuman telah halal untuknya.” Ibnu Al Mubarak berkata, “Halal kehormatannya maksudnya boleh untuk mengeraskan suara (mencela), dan halal hukumannya maksudnya adalah memenjarakannya.” (HR. Abu Daud No. 3144)

أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ عَمْرِو بْنِ هِنْدٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُذَيْفَةَ قَالَ كَانَتْ مَيْمُونَةُ تَدَّانُ وَتُكْثِرُ فَقَالَ لَهَا أَهْلُهَا فِي ذَلِكَ وَلَامُوهَا وَوَجَدُوا عَلَيْهَا فَقَالَتْ لَا أَتْرُكُ الدَّيْنَ وَقَدْ سَمِعْتُ خَلِيلِي وَصَفِيِّي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ أَحَدٍ يَدَّانُ دَيْنًا فَعَلِمَ اللَّهُ أَنَّهُ يُرِيدُ قَضَاءَهُ إِلَّا أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا

Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Qudamah] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Manshur] dari [Ziyad bin ‘Amru bin Hindun] dari [Imran bin Hudzaifah], dia berkata; ” [Maimunah] adalah orang yang banyak berhutang, keluarganya memperingatkan akan hal itu, mencelanya dan marah kepadanya. Dia lalu berkata; “Aku tidak akan meninggalkan hutang, sungguh aku telah mendengar kekasihku dan pilihanku ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang yang banyak berhutang dan Allah mengetahui bahwa ia ingin membayarnya kecuali Allah akan membayarkannya di dunia.”

Dan banyak lagi hadits lain yang akan menjadi panduan kita dalam bertindak, dan tentunya sakit tidak menegasikan kewajiban membayar hutang, bahkan justru perlu diingatkan untuk membayarnya, agar sekaligus dapat menggugurkan dosa-dosanya bersama penyakit yang dideritanya.

Dalam hal ini, maka saya menyarankan kepada Ibu untuk :
1⃣ Memusyawarahkan secara khusus dan serius kepada sahabat dan keluarga yang berhutang terkait komitmennya dalam membayarkan hutang. Jagalah musyawarah dengan adab terbaik, dan jangan terpancing emosi karena Ibu insya Allah sedang meniti jalan menuju maqam terbaik.

2⃣ Jika hasil musyawarah menyimpulkan secara jelas bahwa dari pihak keluarga sebenarnya memiliki kemampuan untuk membayarkannya namun memang tidak berniat dan bahkan tidak mau membayarkannya, maka dalam hal ini hendaknya Ibu dapat mengingatkan mereka akan nasihat dari Nabi yang mulia akan bahayanya ancaman bagi kalangan manusia yang menyepelekan hutang-hutang mereka. Selanjutnya, Ibu dapat memilih antara mengikhlaskannya ataupun mengambil jalur hukum, dan keduanya adalah pilihan yang baik.

3⃣ Jika dari hasil musyawarah diketahui bahwa ternyata keluarga ini tidak memiliki kemampuan untuk membayar namun masih memiliki itikad baik untuk membayarkannya, maka lahirkanlah kasih sayang kepada mereka. Bantulah mereka, mudahkanlah mereka, diskusikanlah bagaimana mekanisme teknisnya. Kalaupun Ibu pada keputusan untuk mengikhlaskan seluruh hutang-hutang yang ada, sungguh ini adalah amalan yang akan sangat mendekatkan Ibu ke Jannah.

Allah berfirman,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (245)
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)

Yassirlana wa lakum,

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Wanita Berjamaah di Masjid

✏Ustadz Dr.Wido Supraha
🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷
Pertanyaan dari Korma 3:
Assalamualaikum mohon pencerahan bagaimana hukumnya wanita yang shalat berjamaah di mesjid dengan harapan mendapat tambahan ilmu karena biasanya ada kultum /tausiah setelah shalat, dan mengenalkan anak2 ke mesjid  (karena saya pernah dengar yang utama adalah shalat dirumah bagi wanita)…terimakasih banyak sebelumnya
Jawaban:
Assalamu ‘alaikum warahmatullah,
Ibu, wanita tidak pernah dilarang untuk ke Masjid, bahkan hadirnya di Masjid akan menambah ilmu baginya, dikarenakan ia memiliki waktu lebih banyak untuk mendidik anak-anaknya, dan ini semua membutuhkan ilmu, termasuk ilmu untuk dirinya sendiri sehingga pandai menjaga adab baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Hal ini menjadi lebih utama ketika seorang suami tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk memberikan ilmu bagi istri-istrinya.
Larangan kepada wanita muncul dikarenakan alasan kekhawatiran munculnya fitnah dari kehadirannya di Masjid, maka jika ini alasannya, maka alasan ini tidak dibatasi pada Masjid, namun pada seluruh tempat pada umumnya. Bagaimana mungkin seorang wanita dilarang shalat di Masjid, tempat yang paling mulia, namun dihalalkan untuk ke Pasar, tempat yang paling banyak syaithannya. Oleh karenaya, adab apa saja yang hendaknya dijaga oleh seorang wanita? Di antaranya adalah,
1⃣ Tidak mengenakan parfum yang mengundang perhatian orang-orang disekitarnya, terlebih dalam radius yang cukup jauh.
2⃣ Tidak mengenakan pakaian yang menggambarkan lekuk tubuhnya, transparan, dan hal-hal lain yang mengundang perhatian banyak mata manusia.
3⃣ Jika ia berparas cantik, diutamakan menutupi wajahnya dengan niqab, agar tidak melalaikan mata manusia yang memandangnya.
4⃣ Keluar bersama suami atau keluarganya, dan tidak berjalan sendirian.
Demikian, wallaahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M
🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia..

Percuma Sholat Kalau Kelakuan Masih Belum Baik, Betulkah?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamu’alaikum.
1. Bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbicara pada kita ‘percuma sholat kalau kelakuan masih belum baik’ padahal setahu saya sholat itu tiang agama??
2. Apakah ketika kita membicarakan kejelekan orang lain maka amalan kebaikan kita akan berpindah ke orang itu.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

1. Shalat adalah sesuatu hal, dan Kelakuan adalah sesuatu yang lain. Ia laksana kalimat, “Percuma minum teh kalau tidak pakai garam”, karena antara teh dan garam ada pokok pembahasannya masing-masing. Kesalahan dalam membandingkan dua hal berawal dari tidak lengkapnya metodologi studi Islam seseorang, sehingga akan hadir pula kalimat lain, “Percuma pakai jilbab, kalau kelakuan tidak baik”, atau “Lebih baik pemimpin kafir tapi adil, daripada pemimpin muslim tapi korupsi”, atau perbandingan lainnya yang tidak pada tempatnya.

Logikanya kemudian adalah, apakah standar bahwa seseorang itu telah memiliki kelakukan yang baik? Bukankah tidak maunya seseorang untuk shalat pertanda kelakuannya belum baik? Karena seseorang yang berkelakuan baik, pastilah ia Shalat. Maka kalau kelakuannya belum baik dengan ciri dia belum mau Shalat, maka sampai kapan kelakuannya bisa bisa, dan bagaimana caranya agar kelakuannya bisa baik? Bukankah Shalat disediakan Allah Swt untuk menjadi sarana perbaikan kelakukan? Maka kalau seseorang tidak pernah mau Shalat, bagaimana kelakukannya bisa menjadi baik?

Sejumlah pertanyaan di atas, saya kemukakan untuk menjadi bahan dialog Ibu kepada sahabatnya, karena seluruh ajaran agama Islam didasarkan atas dialog penuh hikmah, gabungan antara kecerdasan akal logika, qalbu dan indra. Diskusikanlah hal ini kepadanya, sebelum masuk kepada pelajaran penting bahwa Shalat adalah amalan kunci, ia amalan yang pertama dihisab, dan kunci dihisabnya amalan yang lain.

2. Jika pembicaraan akan kejelekan seseorang itu tidak kepada orang yang tepat, orang yang mampu memberikan solusi, orang yang diharapkan berkontribusi membawa perbaikan, maka pada dasarnya ia sedang melakukan ghibah, dan ini merupakan perbuatan yang amat buruk yang mendatangkan dosa bagi pelakunya.

Wallahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Haruskah Mengadakan Walimatus Safat Sebelum ke Tanah Suci?

✏Ustadz Dr. Wido Supraha

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamu’ alaikum. Maaf mau bertanya, ustadz..
Apakah ada keharusan seseorang yang akan berangkat umroh/ haji mengadakan pengajian/ walimatus safar?
Mohon penjelasan tentang dalil atau penegasan tentang hal-hal yang dilakukan Rasulullah/ sahabat ketika akan menunaikan umroh/ haji. Terima kasih sebelumnya.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Pada hakikatnya, menegakkan rukun Islam ke-5 ini hendaklah dalam kondisi suci dan bersih dari seluruh urusan dunia, dengan tujuan agar konsentrasi bisa maksimal selama di tanah suci, bahkan kalaupun Allah ﷻ berkehendak mewafatkannya, ia pun telah siap.

Atas dasar hal di atas, bagi yang hendak menunaikan ibadah haji, dalam pengertian ia akan meninggalkan anak atau keluarganya di rumah, maka pada dasarnya yang perlu dilakukannya ada beberapa hal, sebagaimana juga pernah ditulis Syaikh Sa’id bin Abdul Qadir Salim Basyanfar dalam kitabnya, Al-Mughnie.

1⃣ Luruskan niat karena Allah ﷻ semata, bukan karena tujuan mendapatkan gelar ‘Haji’, atau posisi di masyarakat.

2⃣ Menjaga niat yang telah ditanamkan dari faktor perusaknya seperti riya dan sum’ah

3⃣ Bertaubat dari segala bentuk kemakiatan

4⃣ Mintalah maaf kepada keluarga, sanak saudara, dan sahabat atas seluruh kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.

5⃣ Mendata dan menuliskan harta kekayaannya

6⃣ Mendata harta orang lain yang ada pada dirinya, juga kemungkinan daftar hutang dan piutangnya. Melunasi hutang-hutang di dunia adalah sebuah keutamaan yang teramat besar.

7⃣ Memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara, dan seluruh manusia yang ia pernah bermuamalah denganya

8⃣ Menyiapkan perbekalan selama perjalanan dengan perbekalan yang dipastikan kehalalannya

9⃣ Menambahkan bekal tambahan yang lebih dari kebutuhannya untuk persiapan dan cadangan akan hal-hal yang ada di luar perhitungannya

🔟 Siapkan perbekalan yang lebih dari cukup bagi keluarga, gabungan antara kebutuhan dasar, dan cadangan

Di samping itu, mintalah sahabat terdekat untuk dititipi keluarga, dan mintalah tetangga terdekat untuk membantu melihat-lihat rumah dan keluarga yang ditinggalkan.

Lakukanlah hal-hal di atas dengan penuh kesungguhan dan detail. Kalaupun ia harus melakukan walimatussafar (perayaan perjalanan), maka pada hakikatnya ini bukanlah sebuah pesta perayaan, namun boleh jadi untuk tujuan efektifitas dan lebih mempererat silaturrahim di antara manusia dan hukumnya mubah, selama tetap menjaga seluruh hal-hal di atas, terutama perkara niat sebagai landasan beramal.

Wallahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Bolehkan Ikut BPJS?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Pertanyaan dari A29

Assalamu’alaikum.. Kalau BPJS itu hukumnya bagaimana, dibolehkankah kita masuk dalam keanggotaannya dan memanfaatkannya?

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Ibu, hukum BPJS agar kembali kepada hukum akad apa yang digunakan dalam asuransi yang digunakan, dan di bank mana dana disimpan, serta pada investasi seperti apa dana diinvestasikan. Dari keseluruhan pertanyaan itu baru akan terjawab status kehalalan ‘Asuransi’ BPJS. Inilah alasan utama mengapa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah pernah memberikan nasihatnya kepada pemerintah agar memastikan seluruh instrumennya berbasis syariah.

Jika pemerintah tidak menggunakan instrumen syariah, dan jelas misalkan dihukumi bahwa ia Riba, maka hendaknya rakyat berlepas diri dan menjauhi akad muamalah ribawi, hal ini karena di yaumul akhir, pemerintah tidak akan bisa menolong rakyatnya, karena masing-masing sibuk dengan hisabnya sendiri.

Namun begitu, jika tidak ada alternatif lain yang dibuka oleh pemerintah, dan pemerintah bersikukuh hanya mau membantu rakyatnya dengan akad ribawi, dan sementara rakyat sangat membutuhkan pertolongan medis, maka dalam hal ini, pilihan untuk bergabung dalam BPJS masuk dalam kaidah darurat, sembari rakyat berupaya untuk melahirkan pemimpin Islam yang senang menghidupkan nilai-nilai Islam.

Wallahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Suami/Istri Bercerai, Status Mahram Mertua Bagaimana?

✏Ust. Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹📌

Assalamu’alaykum ustadz, ada  ¥ąɲǥ
Titip prtanyaan untuk ustadz Farid Nu’man : Klw suami/istri meninggal, apakah ayah/ibu mertua kembali menjadi non mahram? Syukron, jazakumullohu khayron katsiroo atas jawabannya.😊Soalnya kan klw kasus cerai berarti suami/istri bukan mahrom atau kembali mnjadi non mahrom lg, bgitu pun dgn ayah/ibu mertua, nah gimana dgn kasus kematian, apakah sm hukumnya? Syukron..

🍃🍃🍃

Wa ‘alaikumussalam wa Rahmatullah …

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Status mertua adalah TETAP mahram, walau seseorg sudah tidak lagi bersama anak mertuanya,  baik karena wafat atau cerai. Sebab orang tersebut sudah menggaulinya, maka mertuanya telah menjadi mahramnya.

Allah Ta’ala berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; IBU-IBU ISTRIMU(mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu)  ISTRI-ISTRI ANAK KANDUNGMU(menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisa: 23)

Kecuali, jika dia bercerai atau istrinya wafat, dalam keadaan belum pernah jima’, maka mertuanya boleh dinikahinya, alias bukan mahram.

Berikut ini, tertera dalam Tafsir Al Quran Al ‘Azhim-nya Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:

وقال ابن جرير: حدثنا ابن بشار، حدثنا ابن أبي عدي وعبد الأعلى، عن سعيد عن قتادة، عن خِلاس بن عَمْرو، عن علي، رضي الله عنه، في رجل تزوج امرأة فطلقها قبل أن يدخل بها، أيتزوج أمها؟ قال: هي بمنزلة الربيبة.
وحدثنا ابن بشار حدثنا يحيى بن  سعيد، عن قتادة، عن سعيد بن المسيب، عن زيد بن ثابت قال: إذا طلق الرجل امرأته قبل أن يدخل بها فلا بأس أن يتزوج أمها.

Berkata Ibnu Jarir: berkata kepada kami Ibnu Basyar, berkata kepada kami Ibnu Abi ‘Adi, berkata kepada kami Abdul A’la, dari  Sa’id, dari Qatadah, dari Khilas bin ‘Amr dari ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu, tentang seorang yang menikahi wanita lalu dia menceraikamnya tapi belum menggaulinya, apakah dia boleh menikahi ibunya? ‘Ali menjawab: “Ibu mertua (dalam hal ini) kedudukannya sama dengan anak tiri.”

Berkata kepada kami Ibnu Basyar, berkata kepada kami Yahya bin Sa’id, dari Qatadah, dari  Sa’id bin Al Musayyib, dari Zaid bin Tsabit, katanya:

“Jika seseorang menceraikan istrinya dan dia belum  menggaulinya, maka tidak apa-apa dia menikahi ibunya (ibu dari istrinya).”

(Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/250)

Dekian. Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…