Yasinan & Tahlilan…Bagaimana Hukumnya???

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ€Ustadzah Indra Asih

๐Ÿ“†Kamis, 19 Mei 2016 M
                  12 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamualaikum ustadzah saya mau bertanya…
Sebenarnya bagaimana hukumnya yasinan dan tahlilan…
Karena ada saudara kita yang kalau ada undangan untuk yasinan tidak mau datang..dengan alasan yasinan dan tahlilan itu tidak ada.. Maaf karena ada saudara kita yang islamnya maaf islam wahabi… Mohon pencerahannya ustadzah..
Syukron๐Ÿ™๐Ÿฝ  ๐Ÿ…ฐ3โƒฃ8โƒฃ

Jawaban
————-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Kalau sekedar mengatakan bahwa perayaan tahlilan atau yasinan tidak ada ajaran atau anjurannya dari Rasulullah SAW, sepertinya semua pihak pasti sepakat. Nyatanya memang tidak ada satu pun hadits shahih, bahkan tidak juga hadits palsu, yang menyebutkan bahwa ada  ritual seperti urusan tahilan 3 hari kematian, 7 hari atau 40 hari. Semua itu memang tidak kita temui contoh langsung dari Rasulullah SAW.

Tapi masalahnya, bagaimana cara mensosialisasikan pengertian ini di tengah saudara2 yang sudah dicecoki doktrin tahlilan dan praktek sejenisnya? Padahal mereka sudah berpikir demikian sejak dahulu?

Memang benar bahwa yang menjadi masalah adalah tinggal tehnik berdakwah.

Masalahnya, saudara-saudara kita justru tidak pernah sepakat dalam tehnik berdakwah. Ada yang cenderung dengan jurus sekali sikat, pokoknya bid’ah, sesat dan masuk neraka, titik dan habis perkara

Memang harus diakui bahwa masalah yasinan, tahlilan dan maulidan ini memang mencakup wilayah perbedaan pendapat yang sangat ekstrim. Di tengah masyarakat berkembang beberapa pandangan yang berbeda. Ada yang yang mewajibkan, menyunnahkan, memubahkan, memakruhkan hingga yang mengharamkan.

Tentu saja masing-masing pihak datang tidak sekedar dengan kesimpulan akhirnya. Mereka bahkan datang dengan sekian banyak hujjah, istidlal, argumentasi serta latar belakang manhaj fiqihnya.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia…

Khitan Untuk Wanita

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab๐Ÿ‘ณ
โœUstadz Farid Nu’man Hasan SS

๐Ÿ“†Kamis, 19 Mei 2016 M
                   12 Sya’ban 1437 H

*Khitan Untuk Wanita*
————————————-

Assalamualaikum…saya mau bertanya tentang masalah hukum khitan untuk anak perempuan. Bagaimana hukum sebenarnya? karena ada beberapa negara islam seperti pakistan tidak ada khitan u perempuan tp hanya u lelaki saja.. sedangkan di indonesia khitan u anak perempuan masih ada… bagaimana hukumnya ustadz… terima kasih
 ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ              

 Jawaban:
—————

Wa Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu Ala Rasulillah wa Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah wa bad:

Khitan merupakan salah satu millah (ajaran) Nabi Ibrahim Alaihis Salam, yang Allah Taala perintahkan agar kita mengikutinya. Allah Taala berfirman:

ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู’ุญูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฃูŽู†ู ุงุชู‘ูŽุจูุนู’ ู…ูู„ู‘ูŽุฉูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ุญูŽู†ููŠูู‹ุง ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ

โ€œKemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An Nahl (16): 123)

Maka, khitan baik laki-laki dan wanita adalah perbuatan yang memiliki tempat dalam syariat Islam. Dia bukan barang asing, bukan pula bidah yang menyusup ke dalam ajaran Islam, sebagaimana yang dituduhkan sebagian orang.

*_๐Ÿ“ŒApanya Yang Dikhitan?_*

Pada wanita, yang dipotong adalah kulit yang menyembul dibagian atas saluran kencing, yang mirip dengan jengger ayam (Urf ad Dik). (Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 19/28) Biasa kita menyebutnya klitoris.

Bagian ini adalah bagian luar yang paling sensitif pada genital wanita, oleh karena itu khitan wanita bertujuan untuk menstabilkan libido mereka. Tetapi, tidak dibenarkan memotong semua, atau sebagian besarnya sebagaimana dilakukan di negeri-negeri Afrika. Bahkan ada yang memotong bagian labia minora (bibir kecil). Ini tentu cara yang bertentangan dengan khitan wanita  menurut Islam.

Sedangkan, pada laki-laki yang dipotong adalah kulit yang menutupi  hasyafah (glans), kulit itu dinamakan Qulfah (Kulup), sehingga seluruh hasyafah terlihat. (Ibid)

Bagian ini adalah kumpulan bakteri dan najis, oleh karena itu tujuan khitan pada laki-laki adalah  agar najis yang ada padanya menjadi hilang, tak lagi terhalang oleh qulfah tersebut.

*_๐Ÿ“ŒDalil-Dalil Pensyariatannya_*

Ada beberapa dalil yang biasa dijadikan alasan kewajiban dan kesunnahan khitan bagi wanita. Tetapi, hadits hadits tersebut tak satu pun yang selamat dari cacat.  Di antaranya sebagai berikut:

1โƒฃ Dari Ummu Athiyah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa ada seorang wanita yang dikhitan di Madinah, maka Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

ู„ูŽุง ุชูู†ู’ู‡ููƒููŠ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุญู’ุธูŽู‰ ู„ูู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุญูŽุจู‘ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุจูŽุนู’ู„ู

โ€œJangan potong berlebihan, karena itu menyenangkan bagi wanita dan disukai oleh suami.”
(HR. Abu Daud No. 5271. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 8/324. Juga Syuabul Iman, No. 8393. Ath Thabarani, Al Mujam Al Kabir, No. 8062, juga dalam Al Awsath, No. 2343, dan dalam Ash Shaghir No. 122,  Abu Nuaim, Marifatush Shahabah, No. 3450)

Hadits ini menurut lafaz Imam Abu Daud. Sedangkan dari Imam yang lainnya, ada tambahan diawalnya dengan ucapan: Asyimmi dan Ikhfidhi yang berarti rendahkan/pendekkan. Sedangkan Laa Tanhiki artinya jangan berlebihan dalam memotong.

Hadits ini menurut Imam Abu Daud- sanadnya tidak kuat, dan hadits ini mursal, sedangkan Muhammad bin Hassan  adalah majhul (tidak dikenal). Dan, hadits ini dhaif (lemah). (Sunan Abi Daud No. 5271)

Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim Abadi mengatakan bahwa hadits ini idhthirab (guncang). (Aunul Mabud, 14/126)

2โƒฃ Dari Abdullah bin Umar secara marfu:

ูŠูŽุง ู†ูุณูŽุงุกูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ุงูุฎู’ุชูŽุถูุจู’ู†ูŽ ุบูŽู…ู’ุณู‹ุง ูˆูŽุงุฎู’ููุถู’ู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูู†ู’ู‡ููƒู’ู†ูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุญู’ุธูŽู‰ ุนูู†ู’ุฏ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูู†ู‘ูŽ
       
โ€œWahai wanita Anshar, celupkanlah dan potonglah, jangan banyak-banyak, karena itu membuat senang suami kalian.โ€
(HR. Al Bazzar dan Ibnu โ€˜Adi)

Dalam sanad hadits  Al Bazzar terdapat Mandal bin Ali dan dia dhaif. Sedangkan, ri wayat Ibnu โ€˜Adi terdapat Khalid bin โ€˜Amru Al Kursyi, dia lebih dhaif dari Mandal. (Ibid)

3โƒฃ Hadits lain:

ุงู„ู’ุฎูุชูŽุงู† ุณูู†ู‘ูŽุฉ ู„ูู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ู…ูŽูƒู’ุฑูู…ูŽุฉ ู„ูู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู

โ€œKhitan adalah sunah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi wanita.โ€
(HR. Ahmad)

Hadits ini juga dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Hajaj bin Arthaโ€™ah. Imam Adz Dzahabi mengatakan: Hajaj bin Arthaโ€™ah adalah dhaif dan tidak boleh berhujjah dengannya.

Imam Ath Thabarani juga meriwayatkan yang seperti ini dari Syaddad binAus, dari Ibnu Abbas. Imam As Suyuthi mengatakan sanadnya hasan. Sedangkan Imam Al Baihaqi mengatakan dhaif dan sanadnya munqathi (terputus), dan ditegaskan pula kedhaifannya oleh Imam Adz Dzahabi.

Al Hafizh Al Iraqi mengatakan: sanadnya dhaif. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: Hajaj bin Arthaah adalah seorang mudallis (suka menggelapkan sanad), dan dalam hal ini terjadi idhthirab (keguncangan).  Imam Abu Hatim mengatakan: ini adalah kesalahan Hajaj atau perawi yang meriwayatkan darinya.

Imam Al Munawi mengatakan dalam At Taisir : sanad hadits ini dhaif, berbeda dengan yang dikatakan As Suyuthi yang mengatakan hasan.  (Ibid,  14/125. Lihat juga At Talkhish Al Habirnya Imam Ibnu Hajar)

*_๐Ÿ“ŒBenarkah Seluruh Hadits Khitan Wanita Adalah Cacat dan Dhaif ?_*

Hal ini ditegaskan para Imam muhaqqiq (peneliti). Berkata Imam Abu Thayyib Abadi:

ูˆุญุฏูŠุซ ุฎุชุงู† ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฑูˆูŠ ู…ู† ุฃูˆุฌู‡ ูƒุซูŠุฑุฉ ูˆูƒู„ู‡ุง ุถุนูŠูุฉ ู…ุนู„ูˆู„ุฉ ู…ุฎุฏูˆุดุฉ ู„ุง ูŠุตุญ ุงู„ุงุญุชุฌุงุฌ ุจู‡ุง ูƒู…ุง ุนุฑูุช.ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ: ู„ูŠุณ ููŠ ุงู„ุฎุชุงู† ุฎุจุฑ ูŠุฑุฌุน ุฅู„ูŠู‡ ูˆู„ุง ุณู†ุฉ ูŠุชุจุน. ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุจุฑ ููŠ ุงู„ุชู…ู‡ูŠุฏ: ูˆุงู„ุฐูŠ ุฃุฌู…ุน ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู…ุณู„ู…ูˆู† ุฃู† ุงู„ุฎุชุงู† ู„ู„ุฑุฌุงู„ ุงู†ุชู‡ู‰

โ€œDan hadits tentang khitannya wanita diriwayatkan oleh banyak jalur, semuanya dhaif, memiliki ilat (cacat), dan tidak sah berdalil dengannya sebagaimana yang telah anda ketahui. Berkata Ibnul Mundzir: Tentang khitan (wanita) tidak ada riwayat yang bisa dijadikan rujukan dan tidak ada sunah yang bisa diikuti. Berkata Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid: Dan yang di-ijmakan kaum muslimin adalah bahwa khitan itu bagi laki-laki.” (Aunul Mabud, 14/126)

Tetapi, Syaikh Al Albani menshahihkan hadits riwayat Abu Daud di atas (hadits pertama). Beliau mengakui sanad hadits ini sebenarnya dhaif, tetapi banyak riwayat lain yang menguatkannya sehingga menjadi shahih. (Selengkapnya lihat di kitab As Silsilah Ash Shahihah 2/353, No. 722, dan Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 5271, lihat juga Shahih Al Jamiush Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/1244-1245)

Oleh karena itu, Syaikh Al Albani termasuk ulama yang mewajibkan khitan bagi wanita, karena keshahihan riwayat ini.

Tetapi, benarkah semua hadits tentang khitannya wanita adalah dhaif ?  Jika kita lihat secara seksama, tidaklah demikian.

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅุฐุง ุงู„ุชู‚ู‰ ุงู„ุฎุชุงู†ุงู† ูู‚ุฏ ูˆุฌุจ ุงู„ุบุณู„

โ€œJika bertemu dua khitan maka wajiblah untuk mandi.โ€
(HR. At Tirmidzi No. 109, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 608, Ahmad No. 26067, Ath Thahawi dalam Syarh Maani Al Aatsar No. 332, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 1041, Asy Syafii dalam Musnadnya No. 102 (disusun oleh As Sindi), Ath Thabarani dalam Musnad Syamiyyin No. 2754, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 961 dari Asiyah. Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 954)

Hadits ini shahih. (Syaikh Al Albani, Irwaul Ghalil No. 80. Juga Syaikh Syuaib Al Arnauth,  Taliq Musnad Ahmad No. 26067)

Hadits lainnya:

ุฅุฐุง ุฌู„ุณ ุจูŠู† ุดุนุจู‡ุง ุงู„ุฃุฑุจุน ูˆู…ุณ ุงู„ุฎุชุงู† ุงู„ุฎุชุงู† ูู‚ุฏ ูˆุฌุจ ุงู„ุบุณู„

โ€œJika seserang duduk diantara empat cabang anggata badan, dan khitan bersentuhan dengan khitan, maka wajiblah dia mandi.โ€
(HR. Muslim, No. 349, Abu Daud No. 216, dan At Tirmidzi, katanya: hasan shahih. Ibnu Khuzaimah No. 227,  Abu Yaala No. 4926)

Riwayat seperti ini cukup banyak, dan secara makna, hadits-hadits ini menunjukkan bahwa yang dikhitan bukan hanya laki-laki tetapi wanita. Sebab, maksud bertemunya dua khitan adalah bertemunya dua kemaluan laki-laki dan wanita yang sudah dikhitan. Maksud bertemu di sini bukan sekedar bersentuhan, tetapi terbenamnya kemaluan l aki-laki pada kemalaun wanita, sebagaimana telah disepakati oleh madzhab yang empat. (Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 16/50).

Dan, Imam Ahmad mengatakan: Dari hadits ini, bahwa bagi wanita juga dikhitan.  Tetapi menurutnya khitan wanita adalah sunah.  (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 134. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ูุทุฑุฉ ุฎู…ุณูŒุŒ ุฃูˆ ุฎู…ุณูŒ ู…ู† ุงู„ูุทุฑุฉ: ุงู„ุฎุชุงู†ุŒ ูˆุงู„ุงุณุชุญุฏุงุฏุŒ ูˆู†ุชู ุงู„ุฅูุจุทุŒ ูˆุชู‚ู„ูŠู… ุงู„ุฃุธูุงุฑุŒ ูˆู‚ุตู‘ู ุงู„ุดุงุฑุจ

โ€œFitrah itu ada lima, atau lima hal yang termasuk fitrah: (diantaranya) โ€œKhitan โ€ฆ.โ€ (HR. Bukhari No. 5550, Muslim No. 257)

Hadits ini umum, bukan hanya bagi laki-laki tetapi juga wanita, kecuali memendekkan kumis yang memang khusus untuk laki-laki. Nah, riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa khitan bagi wanita memang ada dalam Islam. Tetapi, memang tidak ada hadits shahih yang khusus menceritakan khitan wanita. Yang ada adalah hadits tentang khitan secara umum, dengan penyebutan untuk laki-laki dan perempuan.

*_๐Ÿ“ŒLalu, Apa Hukumnya Khitan Wanita?_*

Keterangan di atas telah jelas, bahwa khitan wanita adalah masyru (disyariatkan) dalam Islam. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum kemasyruannya. Ada yang mewajibkan, menyunnahkan, membolehkan, bahkan ada yang melarangnya dalam kedaan tertentu.
Pihak yang mewajibkan seperti Imam Asy Syafii dan mayoritas pengikutnya. Juga Imam Ibnul Qayyim dan Syaikh Al Albani Rahimahumulullah Taala.
Sedangkan,  Imam Malik dan Imam Abu Hanifah menyatakan sunah secara mutlak (laki-laki dan wanita), dan Imam Ahmad mengatakan wajib buat laki-laki namun sunah buat wanita. (Aunul Mabud, 14/125),

Imam Ibnu Qudamah mengatakan wajib bagi laki-laki, dan kemuliaan bagi wanita,  serta tidak wajib bagi mereka. (Al Masuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 19/28).

Pihak yang mewajibkan berdalil dengan ayat An Nahl 123 (agar mengikuti millah Ibrahim), dan hadits sunah fitrah ada lima.

Alasan ini ditolak, sebab ayat tersebut memerintahkan kita mengikuti agama Ibrahim secara Global dan pokoknya yaitu Tauhid.

Sedangkan, hadits tersebut juga tidak bisa dijadikan dalil,  dan tidak menunjukkan wajibnya khitan, sebab jika khitan wajib, maka empat hal lainnya dalam hadits itu juga wajib seperti bersiwak, memendekkan kumis, mencukur bulu kemaluan, dan ketiak. Sedangkan kita tahu, tak ada yang mengatakan bersiwak , mencukur ketiak, bulu kemaluan adalah wajib, semua adalah sunah!
Selain itu, hadits tentang bertemunya dua khitan, juga bukan menunjukkan wajibnya khitan wanita, melainkan hanyalah informasi tentang khitan wanita. Ditambah lagi, lemahnya riwayat yang memerintahkan khitan khusus wanita. Maka, pendapat yang paling rajih (kuat) adalah khitan wanita adalah sunah. Inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin, Syaikh Al Qaradhawi, dan lain-lain.

*Tapi, hukum ini bisa berubah jika:*

๐Ÿ’ข Bagi wanita tertentu jika membahayakan maka sebaiknya dilarang. Syaikh Ali Jumah mufti Mesir saat ini- pernah memfatwakan haramnya khitan wanita lantaran kasus tewasnya seorang gadis setelah dikhitan.

๐Ÿ’ข Tekstur genital wanita tidaklah sama satu sama lain. Jika klitorisnya pendek dan kecil, yang justru akan mendatangkan frigid jika dikhitan, maka tidak wajib dan tidak sunah, sebab akan membawa mudharat pada kehidupan seksualnya. Tetapi, jika ada wanita yang klitorisnya panjang, maka sangat dianjurkan untuk dikhitan, agar tidak terjadi mudharat berupa tidak stabilnya libido.

Ketentuan-ketentuan ini sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter yang berkompeten. Sekian.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Bagaimana mensikapi keluarga yg turut mengatur Rumah Tangga kita??

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ“ Ustadzah Nurdiana

๐Ÿ“†Kamis, 19 Mei 2016 M
                  12 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Assalamu’alaikum ustadz/ustadzah… mau tanya, bagaimana hukumnya seorang istri memprotes suami yang masih terpengaruh oleh bude & pakdenya yang masih suka ikut campur mengatur keuangan rumah tangga suami-istri tsb?
Padahal sang istri dalam kehidupan sehari2 sudah berusaha mengikuti (taat dan qonaah) aturan suami untuk hidup irit/hemat. Dan istri tdk pernah menghalangi suami ketika mendapat rizki utk berbagi kepada mertua kandung dan angkat (bude-pakde) bahkan tak jarang istri turut mengingatkan suami ketika mendapat rizki supaya memberi/ berbagi rizki kepada mereka.
Tetapi istri gelisah, merasa tidak terima ketika masalah pengeluaran yg notabene untuk kebutuhan rumah tangga suami & istri, bude-pakde sering ikut mengatur (memprotes) jika menurut mereka misal barang yang dibeli kemahalan. Puncaknya kini istri tidak terima ketika akan melahirkan di RS dikarenakan resiko perdarahan, sedangkan bude-pakde memprotes dan menginginkan si istri (menantu) melahirkan di klinik bidan daerah perkebunan (tempat tinggal bude-pakde) karena harga melahirkan disana masih murah dibawah 1 juta rupiah.
Si istri minta melahirkan di rumah sakit karena peralatan RS lebih lengkap serta penanganan lebih cepat, dikarenakan juga menurut dokter ada indikasi perdarahan. *biayanyapun ada dari uang penghasilan suami.

*Sejarahnya : dalam hal ini bude & pakdenya adalah saudara yg mengangkat anak sang suami sejak bayi dikarenakan adat, yaitu kepercayaan mengambil (mengangkat) anak yg bukan anak kandungnya (kebetulan saat itu mengambil anak adeknya) utk memancing supaya memiliki anak dari rahim sendiri.  ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ

Jawaban:
—————

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Menyimak dari cerita penanya berarti posisi pak de/bu de bagi suami penanya adalah orang tua, karena merekalah suami penanya jadi seperti sekarang, kalau dari sisi fiqh anak laki-laki milik ibunya dan wajib taat sepanjang tidak mengajak pada kemaksiatan.
Dan istri milik suaminya dan wajib taat dgn Suami.

Saran saya masalah ini tidak usah di bawa kepada fiqh, hukumnya gmn? Sebaiknya yang harus dilakukan adalah bagaimana bisa berdamai dan memahami mereka. Berlapang dadalah dan selalu berprasangka baik, karena di hadits qudsi Allah berfirman,

*”Aku seperti persangkaan hambaku”*

tunjukkan sikap baik kepada pak de atau bu de karena posisi mereka seperti orang tua buat suami anda. Jalin komunikasi yang baik dengan suami, kalaupun tidak merasa cocok dgn keputusan suami coba pahami alasan-alasannya dengan positif thinking.

Kalau dari cerita di atas ,contohnya saat mau melahirkan ternyata pak de/bu de ikut campur, coba di pahami ini sebagai bentuk perhatian, dan kenapa disarankan di klinik? Mereka kan tidak paham kondisi kesiapan keuangan suami anda, mungkin bu de mengukur dengan dirinya sendiri, supaya hemat, dll. Jadi untuk hal-hal hubungan sesama tidak harus selalu di bawah ke ranah fiqih, jauh lebih baik kita juga memahami sisi muamalah dan sisi humanis sebagai sesama hamba Allah.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Wudhu…Bagaimana seharusnya?

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐ŸŒธUstadzah Nurdiana

๐Ÿ“†Rabu, 18 Mei 2016 M
                11 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamu’alaikum..
Apakah ada hadist yg melarang mengelap anggota tubuh kita jika sdh berwudhu? Misalnya mengelap muka,, tangan, kaki.

Bagaimana jika seseorang berwudhu tanpa menutup kemaluan (auratnya)? Misalnya setelah mandi langsung dan blm menggunakan handuk, trus berwudhu. ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ

Jawaban :
————

 ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
sejauh yang saya baca hadits tentang wudhu, saya belum menemukan keterangan itu.

Jadi menurut saya disaat kita berwudhu sesuai sunnah, dimana sangat dianjurkan tidak berlebih-lebihan dalam memakai air, maka setelah wudhu tidak perlu di elap, kalaupun di elap boleh.

Wudhunya sah,tapi hendaklah kita memperhatikan adab dan malu kepada Allah.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Bagaimana Khusyu Dalam Sholat?

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ’Ustadzah Sri Wisnu Karang Seto

๐Ÿ“†Rabu, 18 Mei 2016 M
                11 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamualaikum. Bagaimana hukum bagi orang yang dalam sholatnya kurang khusyu? [Manis A40] —-

Jawaban:

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Pendapat pertama, menurut jumhur ulama khusyuโ€™ bukan syarat sah shalat atau rukunnya. Ia hanya sunnah dalam shalat. Jika tidak ada khusyuโ€™ di dalam shalat, maka tidak ada kewajiban menggantinya (mengqadla) atau mengulangnya. Namun pahalanya berkurang. Jadi tidak khusyuโ€™ itu tidak membatalkan shalat.

Menurut Imam Nawawi, ijma ulama menyatakan khusyuโ€™ tidak wajib, karena tidak ada ulama yang menyatakan wajibnya khusyuโ€™. Ibnu Hajar menambahkan, khusyuโ€™ merupakan penyempurna shalat dan sunnah dalam shalat.

Ada juga pendapat cabang dari pendapat jumhur yakni Ar-Razi yang menyatakan, khusyuโ€™ adalah syarat sah dan bukan syarat diterimanya.

Pendapat kedua, menurut Imam Al-Ghazali, Ibnu Hamid (pengikut Imam Ahmad), Ibnu Taimiyah, khusyuโ€™ hukumnya wajib dalam shalat.  Pendapat ini berdasarkan sejumlah dalil:๏ฟผ

Firman Allah,

{ุฃูู„ุง ูŠุชุฏุจุฑูˆู† ุงู„ู‚ุฑุขู†} (ุงู„ู†ุณุงุก: 82)

โ€œMaka apakah mereka tidak mentadabburkan (memperhatikan) Al-Quran? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya,โ€
(QS An-Nisaโ€™: 82).

Tadabbur hanya bisa dengan khusyuโ€™.

{ุฃู‚ู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุฐูƒุฑูŠ} (ุทู‡: 14).

โ€œSesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku,โ€ (QS Thaha: 14).

Tujuan shalat adalah untuk mengingat Allah dan itu hanya bisa dicapai dengan khusyuโ€™.

{ูˆู„ุง ุชูƒู† ู…ู† ุงู„ุบุงูู„ูŠู†} (ุงู„ุฃุนุฑุงู: 205)

โ€œDan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai,โ€(QS Al-Aโ€™raf: 205).

Dalam ayat ini Allah melarang Rasulullah agar tidak menjadi orang yang lalai, terutama dalam shalat. Sementara lalai notabene bertentangan dengan khusyuโ€™. Dalil lain adalah beberapa hadits Nabi. Di antaranya;

ุฑูˆูŠ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ( ุตู„ูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ) ู…ุณู†ุฏุง :ยซุฅู† ุงู„ุนุจุฏ ู„ูŠุตู„ูŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุง ูŠูƒุชุจ ู„ู‡ ุณุฏุณู‡ุง ูˆู„ุง ุนุดุฑู‡ุงุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ูŠูƒุชุจ ู„ู„ุนุจุฏ ู…ู† ุตู„ุงุชู‡ ู…ุง ุนู‚ู„ ู…ู†ู‡ุง

Rasulullah bersabda, โ€œSungguh seorang hamba shalat dengan satu shalat, tidak ditulis baginya (pahala) seperenam atau sepersepuluhnya. Namun shalatnya ditulis apa yang dipahaminya,โ€  (Hilyatul auliyaโ€™).

ุนู† ู…ุนุงุฐ ุจู† ุฌุจู„: ู…ู† ุนุฑู ู…ู† ุนู„ู‰ ูŠู…ูŠู†ู‡ ูˆุดู…ุงู„ู‡ ู…ุชุนู…ุฏุงู‹ ูˆู‡ูˆ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู„ุง ุตู„ุงุฉ ู„ู‡

Dari Muadz bin Jabal, ia berkata,โ€œBarangsiapa yang mengetahui orang di sebelah kanan atau kirinya dalam shalat secara sengaja maka dia tidak shalat.โ€

ุนู† ุงู„ุญุณู† ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: โ€ ูƒู„ ุตู„ุงุฉ ู„ุง ูŠุญุถุฑ ููŠู‡ุง ุงู„ู‚ู„ุจ ูู‡ูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนู‚ูˆุจุฉ ุฃุณุฑุน โ€œ.

Hasan Al-Bashri berkata, โ€œSetiap shalat yang tidak ada hati yang hadir di dalamnya, maka dia lebih cepat mendapatkan siksa.โ€

 ูˆู‚ุงู„ ุนุจุฏ ุงู„ูˆุงุญุฏ ุจู† ุฒูŠุฏ: โ€ ุฃุฌู…ุนุช ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ู„ู„ุนุจุฏ ู…ู† ุตู„ุงุชู‡ ุฅู„ุง ู…ุง ุนู‚ู„โ€

Abdul Wahid bin Zaid, โ€œUlama sepakat bahwa seseorang tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali yang dia pahami.โ€

๏ฟผIbnu Taimiyah menegaskan,

 โ€œ({ ูˆุงุณุชุนูŠู†ูˆุง ุจุงู„ุตุจุฑ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุฅู†ู‡ุง ู„ูƒุจูŠุฑุฉ ุฅู„ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุงุดุนูŠู† )

โ€œDan mintalah tolong dengan kesabaran dan shalat karena sesungguhnya itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuโ€™,โ€
(QS Al-Baqarah: 45).

Ayat ini menyatakan celaan bagi orang yang tidak khusyuโ€™, seperti halnya celaan dalam ayat lainnya tentang kiblat.

  {ูˆู…ุง ุฌุนู„ู†ุง ุงู„ู‚ุจู„ุฉ ุงู„ุชูŠ ูƒู†ุช ุนู„ูŠู‡ุง ุฅู„ุง ู„ู†ุนู„ู… ู…ู† ูŠุชุจุน ุงู„ุฑุณูˆู„ ู…ู…ู† ูŠู†ู‚ู„ุจ ุนู„ู‰ ุนู‚ุจูŠู‡ ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ู„ูƒุจูŠุฑุฉ ุฅู„ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฐูŠู† ู‡ุฏู‰ ุงู„ู„ู‡ },

โ€œDan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah,โ€
(QS Al-Baqarah: 143).

Celaan dalam ayat ini terjadi karena mereka meninggalkan hal yang wajib. Ayat lain menegaskan,

 {ู‚ุฏ ุฃูู„ุญ ุงู„ู…ุคู…ู†ูˆู† * ุงู„ุฐูŠู† ู‡ู… ููŠ ุตู„ุงุชู‡ู… ุฎุงุดุนูˆู†  โ€œ

“Sungguh bahagia orang-orang beriman yang mereka dalam shalatnya khusyuโ€™,โ€
(QS Al-Mukminun: 1-2).

Artinya, surga Firdaus hanya diwarisi oleh mereka yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan di antaranya khusyuโ€™ dalam shalat. Surga diperoleh dengan hal-hal yang wajib bukan yang mustahab
 (dianjurkan).โ€

Selain itu menurut pendapat ini, dalil khusyuโ€™ itu ada dua: lahir dan batin. Karenanya, Umar pernah melihat seseorang yang mempermainkan sesuatu dalam shalatnya, maka beliau mengatakan, โ€œJika hatinya khusyuโ€™ maka organnya juga khusyuโ€™.โ€

Dalil Khusyuโ€™ Hanya Sunnah Bukan Wajib

Rasulullah
memerintahkan orang yang lupa shalat untuk sujud sahwi dan tidak memerintahkan untuk mengulang.

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏูŽ ู„ูŽูŠูŽู†ู’ุตูŽุฑููู ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู , ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ุนูุดู’ุฑูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุชูุณู’ุนูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุซูู…ู’ู†ูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุณูุจู’ุนูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุณูุฏู’ุณูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุฎูู…ู’ุณูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุฑูุจู’ุนูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุซูู„ูุซูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ู†ูุตู’ููู‡ูŽุง

Rasulullah Sallallu โ€˜Alaihi wa Sallambersabda,
โ€œSesungguhnya seorang hamba selesai dari shalatnya dan dia tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, atau setengahnya,โ€ (Musykilul atsar).

Selain itu, ijmaโ€™ ulama menyatakan bahwa khusyuโ€™ bukan syarat shalat.๏ฟผ

Dalam hadits lain ditegaskan,

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: โ€ ุฅูุฐูŽุง ู†ููˆุฏููŠูŽ ุจูุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ุฃูŽุฏู’ุจูŽุฑูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ูˆูŽู„ูŽู‡ู ุถูุฑูŽุงุทูŒุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูุถููŠูŽ ุฃูŽู‚ู’ุจูŽู„ูŽุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุซููˆู‘ูุจูŽ ุจูู‡ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุจูŽุฑูŽุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูุถููŠูŽ ุฃูŽู‚ู’ุจูŽู„ูŽุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุฎู’ุทูุฑูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ูˆูŽู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูุŒ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ู: ุงุฐู’ูƒูุฑู’ ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุงุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุฑููŠูŽ ุฃูŽุซูŽู„ุงูŽุซู‹ุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽู…ู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุงุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฏู’ุฑู ุซูŽู„ุงูŽุซู‹ุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุงุŒ ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู ุงู„ุณู‘ูŽู‡ู’ูˆู โ€œ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Sallallu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda,โ€œJika adzan shalat dikumandangkan, setan mundur dengan terkentut-kentut sehingga dia tidak mendengar adzan. Jika adzan selesai, dia datang lagi. Jika diiqamati dia mundur lagi. Jika selesai iqamah, dia datang lagi sehingga mengganggu antara manusia dengan dirinya. Setan berkata, โ€œIngat ini ingat itu.โ€ Sampai dia (manusia) tidak ingat hingga berapa rakaat dia shalat. Jika seseorang mendapatkan seperti itu, maka hendaklah dia sujud dua kali pada saat dia dalam keadaan duduk,โ€(HR Bukhari, Muslim dll).

Karena itu, dalam Al-Minhaj dan sharahnya oleh Ibnu Hajar ditegaskan, disunnahkan khusyuโ€™ dalam shalat dengan hatinya dimana tidak menghadirkan apapun selain shalat.

Jadi shalat tetap sah dan cukup, dan ini bukan masalah pahala dan diterimanya. Ar-Razi berkata, โ€œKehadiran hati menurut kami adalah syarat kecukupan sahnya (ijzaโ€™) dan bukan syarat diterimanya. Yang dimaksud ijzaโ€™adalah tidak wajib diqadla dan yang dimaksud syarat diterima adalah hukum pahalanya.โ€

Al-Alusi berkata, โ€œBerdasarkan pendapat ini maka khusyuโ€™ adalah syarat sah namun hanya di sebagian shalat. Jika tidak bisa sama sekali maka shalatnya batal. Sebab ruh shalat adalah khusyuโ€™. Jika shalat tidak ada ruhnya, maka dia ditolak.โ€

Perkataan Al-Alusi ini agaknya merupakan usaha kompromi dari kedua pendapat antara yang mewajibkan dan menyunnahkan. Pernyataan itu juga berusaha menekan pentingnya khusyuโ€™ dalam shalat.

Terdapat banyak kesimpulan yang kita dapat dari keterangan Al Quran dan Hadits diatas yang pada hakekatnya adalah Islam adalah agama yang mudah dan sangat memudahkan , tidak berat dan memberatkan , karena itu permudahlah jangan kamu persulit , berilah sesuatu yang menggembirakan dan jangan membuat mereka lari.
Wallahu aโ€™lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Nadzar….Bagaimana melaksanakannya??

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB ๐Ÿ‘ณ
โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S

๐Ÿ“†Rabu, 18 Mei 2016 M
                 11 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaikum Wr wb
Mohon izin bertanya..
Ada seorang wanita yg dahulu ketika masih pelajar bernazar akan puasa 2 pekan jika diterima masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Tapi nazar tersebut belum sempat dilaksanakan hingga sekarang sudah menikah dan punya anak. (Sekarang sedang masa menyusui).

Pertanyaannya : apakah nazar tersebut bisa digantikan dengan membayar kafarat? Mengingat keadaan sekarang yg belum mampu melaksanakan puasa karena sedang menyusui. Khawatir jika tidak ada umur, maka apakah diperkenankan membayar kafarat?
Mohon penjelasannya. Jazakalloh khoiron.Wassalamu’alaikum.wr.wb.
#i 09

Jawaban :
—————-

 _Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:_

Sebaiknya nadzar  dengan yang mudah dan mungkin dilaksanakan seperti menyembelih qurban, hindari dengan yang berat dan menyulitkan,  tetapi jika dia merasa mampu menjalankannya silahkan saja.

Hal ini sesuai riwayat berikut:

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – – ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงูŽู„ู’ููŽุชู’ุญู: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู! ุฅูู†ู‘ููŠ ู†ูŽุฐูŽุฑู’ุชู ุฅูู†ู’ ููŽุชูŽุญูŽ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ู…ูŽูƒู‘ูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู’ ุฃูุตูŽู„ู‘ููŠูŽ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชู ุงูŽู„ู’ู…ูŽู‚ู’ุฏูุณู, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุตูŽู„ู‘ู ู‡ูŽุง ู‡ูู†ูŽุง” . ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ู, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุตูŽู„ู‘ู ู‡ูŽุง ู‡ูู†ูŽุง”. ููŽุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ู, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุดูŽุฃู’ู†ููƒูŽ ุฅูุฐู‹ุง” – ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู, ุฃูŽุจููˆ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ, ูˆูŽุตูŽุญู‘ูŽุญูŽู‡ู ุงูŽู„ู’ุญูŽุงูƒูู…ู

Dari Jabir Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata pada hari Fathul Makkah: โ€œWahai Rasulullah, aku telah bernadzar jila Allah menaklukan kota Mekkah untukmu, aku akan shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha).โ€ Nabi bersabda: โ€œShalat di sini saja.โ€ Orang itu meminta lagi. Nabi menjawab: โ€œShalat di sini saja.โ€ Orang itu masih meminta lagi. Maka Nabi menjawab: โ€œKalau begitu terserah kamu.โ€
*(HR. Ahmad, Abu Daud, dan dishahihkan oleh Al Hakim)*

Jika akhirnya tidak mampu melaksanakan nadzarnya, dia boleh membatalkan nadzarnya dengan melakukan _Kaffarat Nadzar_ sebagaimana kaffarat sumpah, sebagaimana hadits:

ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุฐู’ุฑู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ุงู„ู’ูŠูŽู…ููŠู†ู

_Kaffarat nadzar itu sama dengan kaffarat sumpah._
(HR. Muslim No. 1645)

*๐Ÿ“ŒBagaimana caranya?*

1. Dengan memberikan makan kepada 10 fakir miskin masing-masing sebanyak satu mud gandum (atau disesuaikan dengan makanan dan takaran masing-masing negeri), atau mengundang mereka semua dalam jamuan makan malam atau siang sampai mereka puas dan kenyang, dengan makanan yang biasa kita makan.

2. Atau memberikan pakaian yang sah untuk shalat. jika fakir miskin itu seorang wanita, maka sebagusnya mesti dengan kerudungnya juga.

3. Atau memerdekakan seorang budak

4. Jika semua tidak sanggup, maka shaum selama tiga hari, boleh berturut-turut atau tidak.

Ketetapan ini sesuai firman Allah Taโ€™ala sebagai berikut:

 _Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)._ (QS. Al Maidah: 89)

Kaffarat ini bukan hanya bagi orang yang tidak sanggup menjalankan nadzarnya, tetapi juga bagi orang yang masih bingung menentukan nadzarnya mau ngapain lalu dia putuskan membatalkannya, juga bagi yang  nadzar dengan maksiat.

Hal ini sebagaimana hadits berikut dari Ibnu Abbas secara marfuโ€™:

ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุณูŽู…ู‘ูู‡ูุŒ ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ูููŠ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉูุŒ ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ู„ูŽุง ูŠูุทููŠู‚ูู‡ู ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ู ูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุฉู ูŠูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุฐูŽุฑูŽ ู†ูŽุฐู’ุฑู‹ุง ุฃูŽุทูŽุงู‚ูŽู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽูู ุจูู‡ูยป

Barang siapa yang bernadzar dan dia belum tentukan, maka kafaaratnya sama dnegan kaffarat sumpah. Barang siapa yang bernadzar dalam hal maksiat, maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, *_dan barang siapa yang nadzar dengan hal yang dia tidak sanggup maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah_*, dan siapa yang nadzarnya dengan sesuatu yang dia mampu, maka hendaknya dia penuhi nadzarnya.
(HR. Abu Daud No. 3322. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3322. Sementara Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Maram: โ€œIsnadnya shahih, hanya saja para huffazh lebih menguatkan bahwa ini hanyalah mauquf.โ€ Mauquf maksudnya terhenti sebagai ucapan sahabat nabi saja, yakni Ibnu Abbas, bukan marfuโ€™ /ucapan nabi.  )
Wallahu Aโ€™lam

๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒธ

www.iman-islam.com

๐ŸŽ’Sebarkan! Raih pahala….

Wanita Menopause Sudah Tidak Wajib Berjilbab. Benarkah Demikian?

๐Ÿ“Ustadzah Menjawab
๐ŸŒนUstadzah Nurdiana

๐ŸŒฟ๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒนโ˜˜๐Ÿ๐ŸŒท

Assalamu’alaikum Ustadzah….                Saya pernah baca artikel tentang Jilbab, bahwa wanita menopause sudah tidak wajib berjilbab. Benarkah demikian?

Jawaban
—————

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
 Memang ada yang berpendapat seperti yang Anda sebutkan. Pendapat ini merujuk pada ayat berikut. Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan berhenti mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak bermaksud menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. An-Nur 23: 60)

Apabila ayat ini dijadikan alasan untuk membolehkan wanita yang sudah menopause untuk tidak menutup aurat maka pendapat tersebut terlalu dipaksakan, sebab yang dimaksud ayat di atas bukan ditujukan pada wanita yang sudah menopause semata, tetapi dimaksudkan untuk kaum wanita menopause yang sudah sangat tua dan pikun, karenanya di ayat itu ada penegasan … mereka tidak bermaksud menampakkan perhiasan..

Kalimat ini menunjukkan bahwa wanita tersebut melakukannya karena pikun. Menurut hemat saya, untuk zaman sekarang, sangat banyak wanita yang sudah menopause tapi penampilannya masih fresh dan tidak pikun.

Dengan demikian, wanita yang sudah menopause tapi masih berakal sehat alias tidak pikun, bahkan masih berpenampilan fresh masih tetap wajib menutup aurat sesuai ketentuan yang termaktub dalam Surat Al Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31 walaupun mereka sudah tua.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al Ahzab 33: 59)

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya… โ€ (Q.S. An-Nur 24: 31).  
Wallahu a’lam.
 
 ๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

Penjelasan Do’a Sebelum Makan

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB 
โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน
Assalamualaikum ,saya mau minta penjelasan tentang do’a sebelum makan, apakah ada hadisnya? Karena ketika anak saya makan dan saya suruh baca do’a,dibantah oleh adik saya yg ikut pengajian SALAFI, katanya do’a sebelum makan itu tdk ada,cukup baca bismillah saja.
Tolong dijelaskan dalil2nya. *-A36-*
๐Ÿƒ๐ŸƒJawaban๐Ÿƒ๐Ÿƒ
Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah .., Bismillah wal Hamdulillah ..
Doa hendak makan yang diterkenal itu, ada beberapa versi, dan semuanya  tidak ada yang sah dari Nabi ๏ทบ, akan kami sampaikan dua versi saja. 
*Versi Pertama: Allahumma Baarik Lana Fiimaa razaqtanaa wa qinaa โ€˜adzaaban naar*
Dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa: Selamanya tidaklah dia diberikan makanan, minuman, bahkan obat, melainkan dia kan membaca: (lalu disebut dzikir yang cukup panjang …, dan kalimat akhirnya adalah:
ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠู…ูŽุง ุฑูŽุฒูŽู‚ู’ุชูŽู†ูŽุง ูˆูŽู‚ูู†ูŽุง ุนูŽุฐูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู
โ€œAllahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa โ€˜azaaban naar.โ€ (HR. Malik,   no.1672, riwayat Yahya Al Laitsi.  Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, No. 25000, 30184)
Disebutkan dari Abdullah bin Amr Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Nabi ๏ทบ jika mendekati makanan dia berdoa: (maka disebut doa di atas). (Al Kaamil fidh Dhuโ€™afa, 6/206, Lisanul Mizan, 5/165)
Tapi, hadits ini munkar sebagaimana kata Imam Al Bukhari. Imam Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:
ูˆุงู„ุตูˆุงุจ ู‚ุงู„ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ู…ู†ูƒุฑ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฌุฏุงู‹
โ€œYang benar, menurut Imam Bukhari hadits ini sangat munkar.โ€ (Imam Ibnu Hajar al Asqalani,  Lisanul Mizan, 5/165)
Apakah hadits mungkar itu? Secara ringkas, hadits mungkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang buruk hafalannya, banyak salah dan lalainya, dan nampak kefasikannya, serta bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh orang terpercaya, dan termasuk kelompok hadits dhaโ€™if jiddan (sangat lemah). (Syaikh Dr. Mahmud Ath Thahhan, Taisir al Mushthalah al Hadits, Hal. 80-81)
Sedangkan Prof.Dr. Ali Mushthafa Yaโ€™qub, MA, Rahimahullah  mengatakan bahwa hadits mungkar adalah hadits paling buruk peringkat ketiga, setelah hadits maudhuโ€™ (palsu) dan hadits matruk (semi palsu). Demikianlah.
Berkata Syaikh Ayman Shalih Syaโ€™ban tentang doa versi ini: 
ุฃุฎุฑุฌู‡ ู…ุงู„ูƒ ููŠ ุงู„ู…ูˆุทุฃ  ุนู† ู‡ุดุงู… ุจู† ุนุฑูˆุฉ ุนู† ุฃุจูŠู‡ ุŒ ูุฐูƒุฑู‡. ูˆู„ู… ุฃู‚ู ุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฑูˆุงูŠุฉ ู…ุฑููˆุนุฉ ุŒ ูˆุฅุณู†ุงุฏ ุงู„ุฃุซุฑ ุตุญูŠุญ.
Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha, dari Hisyam bin โ€˜Urwah, dari ayahnya, lalu disebutkan kalimat itu. Dan aku belum temukan riwayat ini secara marfuโ€™ (dari nabi), dan isnad atsar ini SHAHIH.โ€ (Jaamiโ€™ Al Ushul, 4/309)
Jadi, yang shahih doa seperti ini ada, tapi bukan dari Nabi, melainkan dari seorang tabiโ€™in bernama โ€˜Urwah, yaitu โ€˜Urwah bin Az Zubeir bin Awwam Radhiallahu โ€˜Anhuma. 
Sedangkan Imam Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa doa ini juga diucapkan oleh โ€˜Amru bin Al Ash, ketika Beliau hendak makan. (Asy Syukr, No. 169)
*Versi Kedua: Bismillah, Allahumma baarik lanaa fiima razaqtanaa*
Ini juga bukan dari Nabi ๏ทบ tapi dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu โ€˜Anhu.
Ibnu Aโ€™bud berkata: Berkata kepadaku Ali bin Abi Thalib: โ€œWahai Ibnu Aโ€™bud, tahukah kamu apa itu hak makanan?โ€ Aku bertanya: โ€œApa itu wahai Ibnu Abi Thalib?โ€ Beliau berkata:
ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠู…ูŽุง ุฑูŽุฒูŽู‚ู’ุชูŽู†ูŽุง
Bismillah, Allahumma baarik lanaa fiima razaqtanaa. (HR. Ahmad,  No.  1313, Teks riwayat  Ibnus Sunni agak berbeda:โ€ Allahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa โ€˜azaaban naar, bismillah.โ€)
Hadits ini didhaifkan para ulama. Sebab, Ibnu Aโ€™bud adalah seorang yang majhul (tidak dikenal), hanya dikenal namanya saja. Ali bin Al Madini berkata: โ€œTidak dikenal.โ€ Adz Dzahabi berkata: โ€œDia adalah Ali Al Laitsi.โ€ (Imam Adz Dzahabi, Mizanul Iโ€™tidal,  No. 10755) 
Ali bin Al Madini berkata: โ€œIbnu Aโ€™bud tidak dikenal, aku tidak mengetahuinya kecuali pada hadits ini saja.โ€ (Imam Ibnu Abi Hatim Ar Razi, Al Jarh wat Taโ€™dil, No. 1369)
Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: โ€œHadits ini dhaif, karena ke-majhul-an Ibnu Aโ€™bud.โ€ (Taโ€™liq Musnad Ahmad, No. 1313)
*Kalau Begitu Mana Yang Shahih?*
  
Jika doa hendak makan yang seperti itu dhaif, maka dengan apa kita membaca doa hendak makan?
Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah Radhiallahu โ€˜Anhu:
ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุง ุบูู„ูŽุงู…ู ุณูŽู…ู‘ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽูƒูู„ู’ ุจููŠูŽู…ููŠู†ููƒูŽ ูˆูŽูƒูู„ู’ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽู„ููŠูƒูŽ
โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, โ€œWahai anak! sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang terdekat denganmu.โ€ (HR. Bukhari, No. 5062, 5063. Muslim,  No. 2022. Ibnu Majah, No. 3267. Ahmad, No. 15740)
Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha:
ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽูƒูŽู„ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ููŽู„ู’ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑู’ ุงุณู’ู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ููŽุฅูู†ู’ ู†ูŽุณููŠูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑูŽ ุงุณู’ู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูููŠ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽู‡ู ูˆูŽุขุฎูุฑูŽู‡ู
โ€œBeliau bersabda: โ€œJika salah seorang kalian hendak makan, maka sebutlah nama Allah Taโ€™ala, jika lupa menyebut nama Allah di awalnya, maka katakanlah: โ€œBismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah di awal dan di akhirnya.โ€ (HR. Abu Daud,  No. 3767.  At Timidzi,  No. 1858. Dalam teks Imam At Tirmidzi agak berbeda yakni: โ€œJika salah seorang kalian hendak makan, maka katakanlah, โ€œBismillah,โ€ jika lupa membaca di awalnya, maka bacalah, โ€œBismillahi fi awalihi wa akhirihi.โ€ Beliau berkata: hadits ini hasan shahih. Dengan teks serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah,  No. 3264.  Ahmad,   No. 23954. Al Hakim dalam Mustadrak โ€˜Alas Shahihain, Juz. 16, No. 412, No. 7087, katanya sanad hadits ini shahih, tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)  
Dalam hadits lain:
ูƒุงู† ุฅุฐุง ู‚ุฑุจ ุฅู„ูŠู‡ ุงู„ุทุนุงู… ูŠู‚ูˆู„ : ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุŒ ูุฅุฐุง ูุฑุบ ู‚ุงู„ : ุงู„ู„ู‡ู… ุฃุทุนู…ุช ูˆ ุฃุณู‚ูŠุช ูˆ ุฃู‚ู†ูŠุช ูˆ ู‡ุฏูŠุช ูˆ ุฃุญูŠูŠุช ุŒ ูู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ ุนู„ู‰ ู…ุง ุฃุนุทูŠุช 
โ€œAdalah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, jika disuguhkan kepadanya makanan, dia membaca: โ€œBismillah,โ€ setelah makan ia membaca,โ€Allahumma Athโ€™amta, wa asqaita, wa aqnaita, wa hadaita, wa ahyaita, falillahil hamdi โ€˜ala maa aโ€™thaita.โ€ (HR. Ahmad, hadits ini shahih, seluruh periwayatnya tsiqah (kredibel) sesuai syarat Imam Muslim, Lihat Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, hal. 70, pembahasan hadits no.71)
Inilah doa yang shahih, yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam jika kita hendak menyantap makanan atau minuman. *TAPI APAKAH HANYA INI? TIDAK!*
Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma berkata:
ู…ู† ุฃุทุนู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุทุนุงู… ูู„ูŠู‚ู„ ุงู„ู„ู‡ู… ุจุงุฑูƒ ู„ู†ุง ููŠู‡ ูˆุฃุทุนู…ู†ุง ุฎูŠุฑุง ู…ู†ู‡ ูˆู…ู† ุณู‚ุงู‡ ุงู„ู„ู‡ ู„ุจู†ุง ูู„ูŠู‚ู„ ุงู„ู„ู‡ู… ุจุงุฑูƒ ู„ู†ุง ููŠู‡ ูˆุฒุฏู†ุง ู…ู†ู‡
Siapa yang diberikan makan oleh Allah dengan sebuah makanan, maka hendaknya berdoa: ALLAHUMMA BARIK LANAA FIIHI WA ATHโ€™AMANA KHAIRAN MINHU, dan barang siapa yang diberikan oleh Allah susu maka hendaknya membaca: ALLAHUMMA BAARIK LANA FIIH WA ZIDNAA MINHU.
(HR. At Tirmdzi No. 3455, Imam At Tirmidzi berkata: hasan. Syaikh Al Albani mengatakan hasan diberbagai kitabnya seperti Al Misykah, Shahih Ibni Majah, dan Ash Shahihah)
*Bagaimana Sikap Para Ulama?*
Para ulama berbeda dalam menyikapi penggunaan doa ini. Di antara mereka ada yang  tidak mempermasalahkan, karena pada prinsipnya berdoa itu boleh saja dengan kalimat kebaikan apa pun, bahkan walau dengan untaian sendiri, selama tidak menyandarkannya kepada Nabi ๏ทบ. Bahkan ada yang menyunnahkan tambahan Allahumma barik lana dst.
Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah berkata, ketika menjelaskan doa makan dan minum:
ูˆุงู„ุฏุนุงุก ูƒุซูŠุฑ ู„ุง ูŠูƒุงุฏ ูŠุญุตู‰ ูˆุฎูŠุฑู‡ ู…ุง ูƒุงู† ุงู„ุฏุงุนูŠ ุจู†ูŠุฉ ูˆูŠู‚ูŠู† ุจุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ูˆูŠูƒููŠ ู…ู† ุฐู„ูƒ ู‚ูˆู„ู‡ ููŠ ุฃูˆู„ ุงู„ุทุนุงู… ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู… ูˆููŠ ุขุฎุฑู‡ ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† ุงู„ู„ู‡ู… ุจุงุฑูƒ ู„ู†ุง ููŠ ู…ุง ุฑุฒู‚ุชู†ุง ูˆู‚ู†ุง ุนุฐุงุจ ุงู„ู†ุงุฑ
Doa itu banyak dan tidak terhitung. Dan yang terbaik adalah orang yang berdoa mesti memiliki niat dan keyakinan bahwa doanya dikabulkan, dan cukup baginya ketika di awal makan membaca: โ€œBISMILLAHIRRAHMANIRRAHIMโ€ dan di akhirnya ALHAMDULILLAHI RABBIL โ€˜ALAMIN ALLAHUMMAH BAARIK LANA FI MAA RAZAQTANA WA QINAA โ€˜ADZAABAN NAAR. (Al Istidzkaar, No. 39885)
Sementara, Imam Abul Barakat Ad Dardiri Rahimahullah mengatakan hal itu adalah dianjurkan (mandub/sunnah):
ูˆู†ุฏุจ ุฒูŠุงุฏุฉ: ุงู„ู„ู‡ู… ุจุงุฑูƒ ู„ู†ุง ููŠู…ุง ุฑุฒู‚ุชู†ุง ูˆุฒุฏู†ุง ุฎูŠุฑุง ู…ู†ู‡
Disunahkan membaca tambahan (ketika hendak makan): Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa zidnaa khairan minhu. (Asy Syarh Al Kabir, 1/ 103)
Hal serupa dikatakan oleh Imam Ad Dasuqi dalam Hasyiyahnya. (Hasyiyah Ad Dasuqi, 1/103)
Syaikh Al โ€˜Allamah Sulaiman Al Jamal mengatakan tambahan itu adalah sunnah, yakni bismillah Allahumma barik lana fiima razaqtana wa qinaa โ€˜adzaaban naar. (Hasyiyah Al Jamal, 1/357). Dan, masih *sangat-sangat banyak* para ulama menganjurkan tambahan doa bukan hanya BISMILLAH, dalam kitab-kitab empat madzhab. Oleh karena itu, jangan tergesa-gesa melarangnya atau mengingkarinya.
Sementara ulama lain ada yang menolak pemakaian tambahan pada doa tersebut. DI antaranya Imam As Suyuthi dan Syaikh Al Albani. Berikut ini kutipannya:
ูˆ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฃู† ุงู„ุชุณู…ูŠุฉ ููŠ ุฃูˆู„ ุงู„ุทุนุงู… ุจู„ูุธ ” ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ” ู„ุง ุฒูŠุงุฏุฉ ููŠู‡ุง ุŒูˆ ูƒู„ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญุฉ ุงู„ุชูŠ ูˆุฑุฏุช ููŠ ุงู„ุจุงุจ ูƒู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ุŒ ูˆ ู„ุง ุฃุนู„ู…ู‡ุง ูˆุฑุฏุช ููŠ ุญุฏูŠุซ ุŒ ูู‡ูŠ ุจุฏุนุฉ ุนู†ุฏ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุจู…ุนู†ู‰ ุงู„ุจุฏุนุฉ ุŒ ูˆ ุฃู…ุง ุงู„ู…ู‚ู„ุฏูˆู† ูุฌูˆุงุจู‡ู… ู…ุนุฑูˆู : ” ุดูˆ ููŠู‡ุง ุŸ ! ” . ูู†ู‚ูˆู„ : ููŠู‡ุง ูƒู„ ุดูŠุก ูˆ ู‡ูˆ ุงู„ุงุณุชุฏุฑุงูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ุดุงุฑุน ุงู„ุญูƒูŠู… ุงู„ุฐูŠ ู…ุง ุชุฑูƒ ุดูŠุฆุง ูŠู‚ุฑุจู†ุง
ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุฅู„ุง ุฃู…ุฑู†ุง ุจู‡ ูˆ ุดุฑุนู‡ ู„ู†ุง ุŒ ูู„ูˆ ูƒุงู† ุฐู„ูƒ ู…ุดุฑูˆุนุง ู„ูŠุณ ููŠู‡ ุดูŠุก ู„ูุนู„ู‡ ูˆ ู„ูˆ ู…ุฑุฉ ูˆุงุญุฏุฉ ุŒ ูˆ ู‡ู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ุฅู„ุง ูƒุฒูŠุงุฏุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ุงู„ุนุงุทุณ ุจุนุฏ ุงู„ุญู…ุฏ .ูˆ ู‚ุฏ ุฃู†ูƒุฑู‡ุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูƒู…ุง ููŠ ” ู…ุณุชุฏุฑูƒ ุงู„ุญุงูƒู… ” ุŒ ูˆ ุฌุฒู…
ุงู„ุณูŠูˆุทูŠ ููŠ ” ุงู„ุญุงูˆูŠ ู„ู„ูุชุงูˆูŠ ” ( 1 / 338 ) ุจุฃู†ู‡ุง ุจุฏุนุฉ ู…ุฐู…ูˆู…ุฉ  
โ€œDalam hadits ini menunjukkan bahwa doa tasmiyah pada awal makan dengan lafaz โ€œbismillahโ€ tanpa ada tambahan apa-apa, semua hadits shahih yang membicarakan bab ini juga demikian tanpa ada tambahan, dan saya tidak mengetahui adanya tambahan itu dalam hadits, dan tambahan itu menurut istilah para fuqaha (ahli fiqih) adalah bidโ€™ah, namun bagi orang-orang yang sudah terlanjur menggunakannya akan mengatakan perkataan yang sudah bisa diketahui: โ€œBukankah doa ini telah banyak dipakai?!โ€
Kami katakan: โ€œSegala tambahan yang diberikan kepada pembuat syariat, berupa amalan yang jika memang benar itu bisa mendekatkan kita kepada Allah Taโ€™ala, pastilah akan diperintahkan oleh syariat, seandainya itu disyariatkan pasti hal itu dilakukan oleh Rasulullah walau cuma sekali.  Hal ini seperti menambahkan shalawat kepada Nabi, bagi orang yang membaca Alhamdulillah setelah bersin.
Abdullah bin Umar Radhiallahu โ€˜Anhu telah mengingkari tambahan ini sebagaimana dijelaskan dalam Al Mustadrak-nya Imam al Hakim, dan ditegaskan oleh Imam as Suyuthi dalam Al Hawi Lil Fatawa (1/338), bahwa tambahan itu adalah bidโ€™ah tercela.โ€ (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Ash Shahihah, No. 71)
๐Ÿ“š Kesimpulan:
– Tidak mengapa tambahan selain BISMILLAH, sebagaimana hadits Imam At Tirmidzi, dan sanadnya hasan. Sebagaimana dihasankan oleh Imam at Tirmidzi dan Syaikh Al Albani sendiri.
– Tersebar di kitab para ulama 4 madzhab tentang tambahan itu, dan mereka membolehkan bahkan ada yang menyunnahkan.
– Tidak mengapa mengikuti pihak yang membatasi hanya BISMILLAH, sebab itu juga ada dalam khazanah ulama Islam.
– Yang salah adalah yang hendak makan tapi tidak baca doa, justru ketawa-ketawa atau bernyanyi.
Demikian. 
Wallahu Aโ€™lam
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป
Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Menunda Qodha Puasa

๏‘ณUSTADZ MENJAWAB
โœUstad Farid Nu’man Lc
*๏ƒ๏Œป Menunda Qadha Puasa ๏Œป๏ƒ*
Assalamu’alaikum.
Ustadz, Apa hukumnya seorang wanita yang meng qada puasa di bulan sya’ban?
Saya dengar katanya tidak di perolehkan. ๏…ฐ1โƒฃ3โƒฃ
๏ƒ๏ƒ๏ƒ๏ƒ
Jawaban:
_Waโ€™Alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah .._
Mengqadha puasa sampai berjumpa bulan syaโ€™ban selanjutnya tidak apa-apa, sebagaimana riwayat berikut:
โ€˜Aisyah _Radhiallahu โ€˜Anha_ berkata:
ู…ุง ูƒู†ุช ุฃู‚ุถูŠ ู…ุง ูŠูƒูˆู† ุนู„ูŠ ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ุฅู„ุง ููŠ ุดุนุจุงู† ุญุชู‰ ุชูˆููŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู…
“Aku tidak pernah mengqadha apa-apa yang menjadi kewajiban atasku dari Ramadhan, kecuali di bulan syaโ€™ban, sampai wafatnya Rasulullah ๏ทบ. “
(HR. At Tirmidzi No. 783, katanya: hasan shahih)
Hadits ini jelas bahwa โ€˜Aisyah _Radhiallahu โ€˜Anha_, mengqadha shaum Ramadhan di bulan Syaโ€™ban selanjutnya. Itu tidak mengapa.
Bahkan sebagian ulama membolehkan kapan saja waktunya tanpa batasan, berdasarkan ayat berikut:
ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูŽุฑููŠุถู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽููŽุฑู *ููŽุนูุฏู‘ูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูุฎูŽุฑูŽ*
“Maka barang siapa di antara kamu yang sakit atau dalam keadaan perjalanan (lalu ia berbuka), *maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu _pada hari-hari yang lain_*.”
(QS. Al Baqarah: 184)
Dalam ayat ini, tidak dibatasi kapankah _โ€œhari-hari lain itu,โ€_ sehingga bagi mereka boleh sampai kapan pun.
Syaikh Sayyid Sabiq _Rahimahullah_ mengatakan:
ู‚ุถุงุก ุฑู…ุถุงู† ู„ุง ูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ููˆุฑุŒ ุจู„ ูŠุฌุจ ูˆุฌูˆุจุง ู…ูˆุณุนุง ููŠ ุฃูŠ ูˆู‚ุชุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ุงู„ูƒูุงุฑุฉ. ูู‚ุฏ ุตุญ ุนู† ุนุงุฆุดุฉ: ุฃู†ู‡ุง ูƒุงู†ุช ุชู‚ุถูŠ ู…ุง ุนู„ูŠู‡ุง ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ููŠ ุดุนุจุงู† (1) ูˆู„ู… ุชูƒู† ุชู‚ุถูŠู‡ ููˆุฑุง ุนู†ุฏ ู‚ุฏุฑุชู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุถุงุก.
“Mengqadha shaum Ramadhan tidak wajib bersegera, tapi ini kewajiban yang waktunya lapang kapan saja waktunya, begitu juga kafarat. Telah shahih dari โ€˜Aisyah bahwa Beliau mengqadha kekewajiban Raamadhan di bulan Syaโ€™ban, dia tidak menyegerakannya pada dia mampu melakukannya.”
*( _Fiqhus Sunnah_, 1/470)*
Hanya saja menurut mayoritas ulama, jika seseorang menunda qadha tanpa adanya โ€˜udzur, bukan karena sakit, hamil, menyusui, tapi karena *sengaja* menunda-nunda maka bukan hanya qadha tapi juga fidyah.
Syaikh Wahbah Az Zuhaili _Rahimahullah_ menjelaskan:
ูˆุฃู…ุง ุฅุฐุง ุฃุฎุฑ ุงู„ู‚ุถุงุก ุญุชู‰ ุฏุฎู„ ุฑู…ุถุงู† ุขุฎุฑุŒ ูู‚ุงู„ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ: ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุจุนุฏ ุตูŠุงู… ุฑู…ุถุงู† ุงู„ุฏุงุฎู„ ุงู„ู‚ุถุงุก ูˆุงู„ูƒูุงุฑุฉ (ุงู„ูุฏูŠุฉ). ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุญู†ููŠุฉ: ู„ุง ูุฏูŠุฉ ุนู„ูŠู‡ ุณูˆุงุก ุฃูƒุงู† ุงู„ุชุฃุฎูŠุฑ ุจุนุฐุฑ ุฃู… ุจุบูŠุฑ ุนุฐุฑ.
“Jika menunda qadha sampai masuk Ramadhan selanjutnya, maka mayoritas ulama mengatakan: wajib baginya setelah puasa Ramadhan dia melakukan qadha dan kafarat sekaligus (yaitu fidyah). Ada pun Hanafiyah mengatakan: โ€œTidak ada fidyah baginya, sama saja apakah dia menundanya karena ada โ€˜udzur atau tidak ada โ€˜udzur.โ€
*( _Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu_ , 3/108)*
Kita lihat, apa yang dilakukan oleh โ€˜Aisyah _Radhiallahu โ€˜Anha_, dia tanpa fidyah hanya qadha. Sedangkan mewajibkan fidyah membutuhkan dalil, jika tidak ada maka, cukup qadha saja tanpa fidyah sebagaimana pendapat Imam Abu Hanifah, juga Hasan Al Bashri, Ibrahim An Nakhaโ€™i, dan lainnya.
Wallahu Aโ€™lam. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam
Farid Nu’man Hasan
๏Œฟ๏Œบ๏๏Œธ๏Œผ๏€๏Œป๏Œท๏Œน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๏’ผsebarkan! raih pahala…

Terkait Amalan di Bulan Rojab

👳Ustadz Menjawab
✏Ustadz Abdullah Haidir
🌿🌺🍁🌸🌼🍀🌻🌷🌹
Assalamu’alaikum ustadz/ah..
Saya mau bertanya tentang amalan rajab yang di baca pada jum’at terakhir bulan rajab diantara dua kutbah..
“ahmadurrasulullah muhammadurasulullah”. Apakah ada dalilnya.. Mohon penjelasan. Jazakallah.  🅰2⃣8⃣
JAWABAN:
Semua amalan yang dikhususkan di bulan Rajab tidak ada dalilnya…..
wallahu a’lam
🌿🌺🍁🌸🌼🍀🌻🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih pahala…