Rezeki Sudah Pasti

Empat Hal yang Melancarkan Rizqi

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan:

وأربعة تجلب الرزق :
❶ قيام الليل
❷) وكثرة الإستغفار بالأسحار
❸) وتعاهد الصدقة !!
❹) والذكر أول النهار وآخره .

Ada empat hal yang bisa menjadi sebab datangnya rezki:

● Shalat malam

● Memperbanyak istighfar di waktu sahur (sebelum shubuh)

● Membiasakan sadaqah

● Membiasakan berdzikir di awal siang (pagi) dan di akhirnya (petang).

Penjelasan:

1. Yang menyebabkan lancarnya rizqi tentunya tidak hanya empat, di sebutkan hanya empat di sini untuk membatasi saja dan intinya bertaqwa itu mendatangkan rizqi.

2 . Ketika anda melakukan 4 hal ini, maka insya Allah anda akan di kejar kejar oleh rizqi.

3. Jangan langsung menyimpulkan bahwa anda tidak mendapatkan rizqi ketika sudah mengamalkan 4 hal di atas dan uang tidak kunjung datang.

4. Setelah mengamalkan resep di atas, insya Allah anda akan tenang lebih, sehat, dan keluarga lebih harmonis, itu semua adalah rizqi yang tidak boleh di pungkiri.

5. Istighfar membuat yang gundah gulana menjadi gembira, yang sempit dadanya menjadi lapang dan ia akan di beri rizqi dari jalan yang tidak pernah ia duga demikian janji Rasulullah saw.

6. Shalat malam melancarkan rizqi dan mendatangkan cinta Allah karena ia beribadah ketika manusia dalam keadaan lalai.

7. Orang yang berani bersedekah adalah orang yang berani untuk menjadi kaya dan orang yang kikir adalah orang yang merencanakan kemiskinan untuk dirinya.

8. Allah bersama seorang hamba ketika bibirnya basah bergerak menyebut asmanya dan Allah pun memberkahi rizqi untuknya, bisa jadi rizqi nya tidak tetapi cukup ,karena yang banyak belum tentu membuat cukup dan puas.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dialog Ayah Anak

Mengasuh Anak Ketika Orang Tua Sibuk Bekerja

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Menurut pandangan Islam dalam kehidupan sehari-hari, orang tua tidak bisa menghindar dari tanggung jawab dan amanahnya sebagai seorang ayah-ibu terhadap anak-anaknya yang kondisinya di era saat ini orang tua selalu sibuk bekerja. Sementara tanggung jawab untuk mendidik anak akan dihisab kelak di Hari Kiamat di hadapan Allah SWT.

Bukan berarti pekerjaan bisa dipakai sebagai alasan untuk membiarkan atau menelantarkan anak-anak kita. Karena menelantarkan anak-anak adalah termasuk perbuatan dzolim dari orang tuanya yang menyebabkan Allah murka kepada orang tuanya.

Dalam Hadits Shahih Rasulullah saw bersabda: “Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan orang yang dibawah tanggungannya”.

Artinya, disebut berdosa kalau menelantarkan (tidak peduli) kepada anak-anaknya dan orang -orang yang ada di bawah tanggungannya. Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dalam kitabnya Tifatul Maulud Bi Ahkamil Maulud menyebutkan bahwa salah satu orang yang dzolim, orang tua yang menyengsarakan anaknya di Akhirat, beliau menyatakan: “Betapa banyaknya orang tua yang menyengsarakan anaknya di dunia dan Akhirat”.

Padhal tidak ada satu orang tua pun yang berniat ingin menyengsarakan anaknya. Ada tiga macam orang yang menyengsarakan anaknya di dunia dan Akhirat:
1. Tidak peduli terhadap urusan anaknya. Anaknya bisa makan atau tidak, anaknya sekolah atau tidak, dibiarkan, tidak diperhatikan.
2. Dia (orang tua itu) tidak mendidiknya
3. Dia (orang tua) memfasilitasi syahwat anaknya.

Memfasilitasi syahwat anak, misalnya dengan membelikan anaknya PS (Play Station), padahal ia tidak tahu bahwa dalam Game PS itu banyak yang merusak dan meracuni jiwa anak. Atau orangtua tidak mau diganggu di akhir-pekan, lalu anak dipinjami HP padahal dalam HP itu ada program-program yang tidak boleh dilihat oleh anak-anak. Apalagi anak-anak difasilitasi kamar ber-AC, gadget di tangannya, maka ketika anak mengunduh film porno dalam kamarnya, orang tua tidak akan tahu.

Karena itulah maka jangan sampai kita disebut sebagai orang tua yang dzolim. Di tengah kesibukan kita, maka Allah SWT kelak di Akhirat akan menanyakan dan diminta pertanggungjawaban kita terutama dalam mendidik (mengasuh) anak.

Dalam Hadits shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Khususnya seorang ayah ia bertanggungjawab atas keluarganya. Dan ia akan ditanya di Akhirat tentang pertanggungjawaban-nya”.

Maka anda sebagai kepala keluarga, yang sibuk bekerja, jangan sampai tidak bisa mempertanggungjawabkan ketika ditanya di Akhirat kelak. Menurut ulama Syaikh Abdullah Nasihu dalam Kitab Tarbitul ‘Alam Islam mengatakan: “Nanti akan banyak para ayah yang mula-mula melangkahkan kakinya menuju Surga dengan percaya-diri (PD), karena membawa pahala sedekah, pahala Sholat Malam, pahala membaca AlQur’an, tetapi sampai di pintu Surga ada seseorang yang mencegatnya (menundanya) dengan mengadu kepada Allah subhanahu wata’ala: “Ya Allah, tahanlah orang ini, aku menuntut hakku”.

Ternyata orang itu adalah anaknya sendiri ketika di dunia. Kemudian ditanyakan: “Apa hak yang engkau tuntut dari orang ini?”. Maka jawab orang (anaknya) itu: “Dia tidak kurang-kurang ibadahnya, rajin Sholat Malam, dan ia rajin beribadah kepada Allah ketika di dunia, tetapi sebagai anak aku tidak pernah diurusi ketika aku masih dalam pengasuhannya. Aku menuntut hakku, aku menjadi anak yang melawan, anak yang sering berbuat dzolim karena tidak dididik oleh ayahku. Aku sering melanggar perintah-Mu karena aku tidak pernah mendapat pengajaran tentang Engkau, ya Allah”.

Maka Allah memanggil orang (si ayah) tersebut, seluruh pahalanya diambil oleh Allah dan diberikan kepada anaknya dan dosa si anak diberikan kepada ayahnya itu. Maka orang (si ayah) itu terlantar kelak di Akhirat.
Artinya, pertanggungjawaban tetap akan dipertanyakan oleh Allah SWT di Akhirat. Karena anak merupakan amanah dari Allah SWT.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Demikian pula harus kita pahami bahwa prinsip orang tua bekerja, bukan hanya dirinya saja yang sibuk. Karena para Nabi terdahulu adalah manusia-manusia yang sibuk berkerja. Padahal ketika itu para Nabi bekerja tidak difasilitasi dengan dengan sarana teknologi maju untuk berinteraksi dengan anaknya.
Contoh: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hanya satu tahun sekali pulang menemui anaknya. Demikian pula Nabi-Nabi yang lain, jarang sekali berinteraksi dengan anak-anaknya. Tetapi kepedulian tehadap anak-anak mereka tetap mereka lakukan. Mereka tetap menjalankan tugas terhadap anak-anaknya.

Misalnya seperti yang diceritakan dalam Kitab Sir’alam An Nubala ada seorang ayah yang bernama Faruh, pulangnya 30 tahun sekali. Faruh adalah seorang Mujahid yang berangkat ke medan perang, ingin mati syahid, ternyata selama 30 tahun tidak juga mati syahid, dengan tubuh yang sudah renta karena usia tua ia pulang kepada keluarganya.

Tetapi ada satu hal yang mengagumkan bagi anaknya, sehingga anaknya tetap meneruskan cita-citanya. Meskipun 30 tahun ayahnya tidak pulang, tetapi bila anaknya ditanya: “Aku ingin meneruskan cita-cita ayahku. Kalau ayahku berjuang di medan perang dengan pedang, maka aku berjuang dengan pena”.
Nama anaknya itu yang kemudian kita kenal sebagai Ulama, yaitu Syaikh Robi’ah Ar Ro’yi. (Kata “Ar Ro’yi” artinya orang yang pandai ber-argumentasi, banyak Argumentasi).

Beliau adalah guru dari Imam Malik, Imam Sofyan Ats Tsauri dan Imam Abu Hanifah. Memang di Masjid Nabawi ketika itu ada Majlis yang dihadiri oleh para Ustadz. Para Ustadz itu belajar dan mendalami agama Islam.
Dan guru para Ustadz itulah yang bernama Syaikh Robi’ah Ar Ro’yi, anak dari Faruh yang tidak pulang selama 30 tahun.

Adakah di antara kita saat ini yang tidak pulang selama 30 tahun karena tugas, adakah yang 10 tahun, atau satu tahun tidak pulang karena bekerja? Ternyata ada yang lebih parah (lama) dibanding kita.
Sementara di zaman sekarang kita difasilitasi sarana komunikasi maju, sehingga tidak pulang satu tahun-pun masih bisa terkoneksi. Ada telepon, ada HP, social media dan sebagainya. Bagaimana halnya dahulu Nabi Ibrahim a.s. dengan anaknya Ismail a.s.?

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Lalu bagaimana dengan kondisi kita saat ini sebagai orangtua yang sibuk tetapi tetap bisa mendidik anak-anak kita?

Ada dua yang harus kita pahami dalam prinsip pengasuhan:

1. Menanamkan persepsi tentang ayah (orangtua) kepada anak secara positif.

Persepsi bahwa ketiadaan ayah secara fisik bukan berarti ketiadaan ayah secara psikis (kejiwaan). Sehingga anak-anak yang tidak mendapatkan sosok ayah dan ibu secara fisik, mereka tetap mendapatkan ayah-ibu secara psikis. Mereka bisa mengatakan: Ayahku seorang yang peduli, ia berjuang di jalan Allah. Persepsi demikian yang harus dibangun dalam keluarga.

Dalam Kitab Sirrah Wal Manaqib disebutkan bahwa Umar bin Abdul’Aziz bin Marwan, mendapatkan tugas dari Khalifah untuk menjadi Gubernur di Mesir, sedangkan ia berasal dari Madinah. Karena ditugaskan di Mesir, ia tidak sempat mendidik anaknya. Saking pedulinya kepada anaknya, maka ia mencari seorang guru untuk mendidik dan mengajarkan ilmu kepada anaknya, sebagai pelaksana tugas dari fungsi dan missi yang ia miliki.

Bedanya dengan kita di Indonesia pada umumnya, bila seorang mencarikan guru untuk anaknya, maka pesan orangtua itu kepada guru anaknya: “Terserah Pak Ustad, yang penting anaknya saya menjadi baik”. Sedangkan Umar bin Abdul ‘Azis bin Marwan mencari guru untuk anaknya dengan menyebutkan visi dan misinya sebagai orangtua: “Ya Syaikh, aku ingin anakku belajar kepada anda, pertama belajar bahasa Arab dengan baik dan benar, kedua ajarkan kepada anakku agar ia sholat tepat waktu”.

Sebelum berangkat tugas di Mesir, Umar bin Abdul ‘Azis berkata kepada guru anaknya: “Selama aku di Mesir, tolong kirimkan laporan perkembangan anakku sebulan sekali”.
Maka guru-anaknya itu setiap hari menulis perkembangan anak didiknya itu untuk dilaporkan sebulan sekali kepada ayahnya (Umar bin Abdul ‘Azis) di Mesir. Bayangkan, ketika itu belum ada alat komunikasi yang canggih seperti sekarang. Maka Umar bin Abdul ‘Aziz selama bertugas di Mesir sebagai Gubernur, beliau menerima setumpuk surat laporan perkembangan anaknya. Maka setiap beliau membaca laporan itu, beliau tahu betul perkembangan anaknya, sampai pada suatu laporan yang tidak mengenakkan hatinya.

Isi surat laporan itu: Hari ini anak Tuan terlambat sholatnya, hari ini anak Tuan tertinggal sholatnya satu rakaat dalam sholat berjama’ah, hari ini anak Tuan tidak sempat sholat berjama’ah, dst., dst.
Di situlah Umar bin Abdul ‘Azis merasa khawatir karena selama tugas di Mesir, dengan meninggalkan anaknya di Madinah, beliau tahu bahwa sholat anaknya berantakan.

Maka diminta guru anaknya itu berangkat ke Mesir, untuk dimintai pertanggungjawabannya dan ketika sampai di Mesir, guru anaknya itu ditanya: “Kenapa anakku sering terlambat sholat? Bukankah sudah aku pesankan agar mendidik anakku agar sholat tepat waktu dan belajar bahasa Arab dengan baik?”. Maka dengan cepat guru anaknya itu menjawab: “Anak Tuan sekarang sudah berbeda, sekarang anak Tuan sudah menjadi ABG, sekarang ia berambut gondrong, dan ketika hendak sholat ia menyisir rambutnya lama, ia berdandan lama sekali”.

Anak Umar bin Abdul Aziz memang dikenal di Madinah sebagai anak-muda Metro-seksual, senang berdandan, menghias diri. Karena oleh ayahnya ia selalu dikirim uang dari Mesir sebanyak 1000 Dinar (Bila dikurs sekarang = Rp 2 milyar). Maka anak itu membeli parfumnya yang paling mahal, tumpah sedikit saja langung ganti, membeli lagi. Bajunya selalu paling bagus, beberapa kali pakai langsung ganti baru. Dan masih banyak lagi kemewahan dan pemborosan lainnya.

Dengan laporan lisan dari gurunya itu, ayahnya (Umar bin Abdul ‘Azis) menjadi tahu, bahwa karena dandan telalu lama sholatnya menjadi telat. Maka ditulislah surat kepada anaknya, isi suratnya : Bersama surat ini aku utus seorang tukang cukur khusus dari Mesir untuk mencukur gundul kepalamu. Agar kamu tidak lagi terlambat sholat. Ketika anak Umar dicukur gundul (habis), ia berkata: “Ayahku memang jauh di mata tetapi dekat di hati”.

Itulah yang tidak dimiliki orangtua zaman sekarang. Karena anak merasa tidak diperhatikan oleh orangtuanya. Karena sibuk bekerja, sampai mengakibatkan orangtua tidak peduli kepada anak. Sampai tidak tahu perkembangan anak.

Padahal seharusnya, bila sibuk bekerja, sampai harus mencarikan guru untuk anaknya, pastikan guru itu selalu memberikan laopran secara periodik tentang perkembangan anaknya.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Imam Sahid Hasan Al Banna dalam Kitab yang ditulis oleh Lili Nur Aulia dengan judul: Ada Cinta Di Rumah Hasan Al Banna. Sebagaimana orang mengetahui bahwa Sahid Hasan Al Banna adalah seorang Muaziz Dakwah di Mesir, jamaahnya ratusan ribu bahkan jutaan antara lain adalah Jamaah Al Ihwanul Muslimin di Mesir. Sampai beliau mendidik Calon Da’i di Indonesia termasuk Hizbut Tahrir awalnya dulu dipimpin oleh Syaikh Taqiudin Al Nabhani yang merupakan murid dari Sahid Hasan Al Banna. Karena lalu berbeda pandangan dengan gurunya, kemudian Syaikh Taqiudin mendirikan Hizbut Tahrir di Indonesia.

Syaikh Sahid Hasan Al Banna selalu sibuk berdakwah, kemana-mana beliau menenteng map, isi map itu adalah laporan perkembangan anaknya dari isterinya yang sehari-hari mendidik anaknya. Sehingga suaminya (Syaikh Sahid Hasan Al Bani) tahu dari laporan isterinya: Anakmu yang bernama Saiful Islam yang berumur satu tahun lima bulan sekarang sudah bisa bejalan. Anakmu sudah bisa mengucap ini dan itu, anakmua senang sekali main bola, dst.dst. Semua ditulis dalam laporan surat dalam map itu.

Sehingga setiap kali bertemu dengan anaknya, Syaikh Sahid Hasan Al Banna bertanya: “Bagaimana dengan main Futsalmu, nak?”. Maka si anak dengan heran kembali bertanya: “Kok Papa tahu, dari mana?”. Itulah yang menyebabkan si anak merasa selalu diperhatikan. Maka persepsikan oleh anda sebagai orangtua seperti itu.

Persepsi: Anak tahu bahwa ayahnya sibuk, tetapi peduli kepadanya.

Jangan sampai seperti yang terjadi di negeri kita:

1. Anak merasa tidak dipedulikan oleh orangtuanya.

2. Anak dititipkan di pesantren, tetapi orangtua tidak tahu siapa nama teman akrab-nya

3. Orangtua tidak tahu anaknya sudah kelas berapa, dst.dst.

Bagaimana caranya agar anak punya persepsi sebagaimana tersebut di atas ?

Caranya :

1. Konfirmasi setiap hari, bahwa Bapak tetap peduli kepada anak-anaknya,

2. Ibu tetap menunjukkan kasih-sayangnya.

Memang banyak bapak-bapak yang mengatakan: Saya tetap sayang kepada anak-anak saya. Semua kebutuhan anak saya cukupi, dst.

Bapak-bapak itu lupa bahwa yang dimaksud sayang bukanlah apa yang mereka berikan kepada anak-anak mereka, melainkan: Apa yang anak-anak terima dari bapak-ibunya. Sebab banyak orangtua yang mengaku mencintai anak-anaknya, tetapi si anak tidak pernah merasa dicintai oleh orangtuanya.

Maka sering terjadi dialog, ketika si anak ditanya: Bagaimana dengan Bapakmu? Anak itu menjawab: Bapak jahat. Bagaimana dengan mama-mu? Anak menjawab: Mama bawel, dst. Orangtua merasa mencintai anak-anaknya, tetapi si anak menganggap orangtuanya tidak sayang, bawel, cuek, dst.

Sepertinya ada yang “hilang” di sini. Itulah mengapa, bukan banyaknya cinta yang orangtua berikan melainkan: Apa yang anak-anak terima dari orangtuanya.

Kita bisa melihat kisah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam dengan anak-anaknya dalam AlQur’an. Disebutkan dalam AlQur’an Surat Yusuf ayat 8 :

إِذۡ قَالُواْ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا وَنَحۡنُ عُصۡبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ (٨)

[Yaitu] ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya [Bunyamin] lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita [ini] adalah satu golongan [yang kuat]. Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. (8)

(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

Nabi Ya’qub ‘alaihissalam bila ditanya apakah beliau sayang kepada anak-anak beliau. Pasti jawabannya: Aku sayang kepada semua anakku. Tetapi lihat kata-kata anak-anak Nabi Ya’qub a.s. : Yusuf dan Bunyamin lebih disayang oleh ayah kita dibanding kepada kita.

Itulah persepsi anak. Orangtua sering lupa bahwa masalah cara kasih-sayang kepada anak adalah keliru. Keliru cara

nya. Masalah inilah yang membuat anak menolak. Sehingga salah satu rahasia kesuksesan orang-orangtua terdahulu di tengah kesibukannya, anak-anak mereka memiliki gambaran dalam diri mereka tentang ayahnya: Ayahku adalah sosok yang hebat, penyayang, peduli kepadaku, walaupun jarang pulang tetapi ia adalah pahlawanku.

Itulah tugas kita sebagai orangtua, caranya:

1. Pastikan pengasuh utamanya yang orangtua amanahkan selalu menceritakan hal-hal yang positif tetang diri orangtua si anak.

2. Pastikan bagi Bapak-bapak yang pulangnya jarang-jarang, bahwa isteri bapak tidak pernah bercerita negatif tentang Bapak kepada anak.

3. Jangan sampai isteri menumpahkan kekesalan tentang bapaknya kepada anak, karena akibatnya anak tidak akan hormat kepada bapaknya.

4. Agar pengasuh selalu menceritakan orangtua adalah sosok yang hebat, berikan sikap yang baik kepada pengasuh anak.

5. Jadikan pengasuh utama dari anak kita adalah juru penerang yang baik bagi anak-anak kita.

6. Katakan oleh ibunya, bahwa ayah sedang berjuang.

2. Jaga nama baik keluarga di lingkungan luar.

Karena zaman sekarang anak sulit tercegah dari informasi tentang keluarganya. Banyak anak-anak yang kecewa dan kesal serta malu sekali karena mendapat informasi bahwa di kantor bapaknya terkenal sebagai penggoda wanita. Ada lagi anak yang mendengar bahwa bapaknya “tukang kawin”, dst. Ada lagi anak yang merasa malu sekali karena mendengar bahwa ayahnya adalah seorang penipu.
Nama buruk orangtua menyebabkan anak tidak punya nilai terhadap orangtuanya.

Sebaliknya ada anak yang bangga karena mendengar cerita dari orang bahwa ayahnya adalah pekerja yang rajin, jujur, cerdas, dan sangat dipercaya oleh perusahaan dimana ia bekerja.

Nama baik dan buruk zaman seakarang sangat mudah diperoleh bagi anak-anak kita melalui Medsos, Internet, dst. Maka bila pernah berbuat buruk, berusahalah untuk menutupinya terutama kepada anak-anak. Dan berusahalah untuk memperbaikinya. Bila seorang ayah dahulunya perokok, maka hentikan kebiasaan merokok. Yang demikian akan memberi dampak positif terhadap anak-anak dan keluarga.

Kesimpulan, bahwa untuk mendidik anak maka buatlah persepsi kepada anak:

1. Persepsi ditanamkan melalu pengasuh/pendidik.

2. Persepsi ditanamkan melalui dedikasi di luar (umum),

3. Persepsi dikaitkan dengan usaha memperbaiki diri (orangtua), dan menjaga nama (kehormatan) keluarga,

4. Persepsi memunculkan dengan memasang di rumah piagam-piagam perhargaan dari Pemerintah atau Perusahaan tempat orangtua bekerja, bisa membuat isnpirasi bagi anak-anak. Bisa juga dengan foto-foto ketika orangtua bertugas, dst.

5. Persepsi dengan mensiasati merebut peluang Emas (Golden Moment) yaitu ayah – ibu yang selalu sibuk tetapi bisa membuat peluang (kumpul keluarga). Usahakan bersama anak ketika anak sedang membuat prestasi. Misalnya anak sedang berlomba, atau sedng pentas, ayah-ibunya bisa mendampingi.

Salah satu yang diajarkan oleh Islam, ada tiga waktu dimana seorang ayah (ibu) harus hadir secara fisik dan psikis ditengah kesibukan, untuk menjaga persepsi keadaan kita, yaitu:

1. Hendaknya orangtua hadir saat anak sedang sedih. Orangtua yang cepat merespon dengan baik ketika anak sedang sedih, akan memberikan dampak anak merasa nyaman.

2. Hendaknya orangtua hadir ketika anak sedang sakit. Karena anak sakit sedang membutuhkan jiwanya ingin disentuh dengan perhatian orangtuanya.

3. Hendaknya orangtua hadir ketika anak sedang unjuk-prestasi, sedang pentas, sedang ikut perlombaan, ulang tahun. dst.

Sekian bahasan mudah-mudahan bermnafaat.

Wallahu a’lam bish showab

Wasalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Tadhiyah di Jalan Dakwah

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Tadhiyah adalah sunatullah kehidupan.
Apalagi bila sudah mengazamkan dirinya untuk menegakkan kebenaran maka apapun rasa yang hadir tentu akan diabaikan.
Baginya itulah romantisme yang menjadi bagian dari perjalanan.
Dan akan membawanya menuju indahnya hidup di keabadian.

Lelah, letih, sakit, bahkan sakit akan dirasakan.
Panas, dingin, bahkan terik matahari pun tak dihiraukan.
Semangat yang membara ada dalam jiwa mereka.
Hingga langkahnya pun senantiasa gegap gempita.

“Sekali lagi…
Amanah terembankan pada pundak yang semakin lelah. Bukan sebuah keluhan, ketidakterimaan..
keputusasaan!
Terlebih surut ke belakang.
Ini adalah awal pembuktian. Siapa diantara kita yang beriman.
Wahai diri sambutlah seruanNya…
Orang-orang besar lahir karena beban perjuangan…
Bukan menghindar dari peperangan.“
(K.H. Rahmat Abdullah)

Malu lah jika diri mudah mengeluh.
Malu lah jika jiwa tak lagi meneguh.
Malu lah jika kemalasan mulai tumbuh.
Dan malu lah jika Tekad mulai meluruh.

Bangkitlah untuk menjadi pejuang.
Jangan pernah mundur dari medan perang.
Lawan musuh agar tunggang langgang.
Berhasratlah untuk menjadi pemenang.

Yakinlah Allah bersama orang beriman.
Mati syahid atau pulang membawa kemuliaan.
‘Isy karimah aw muth syahidan.

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Rizki Halal

Bisnis Sebagai Youtuber

📝 Pemateri: Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Pihak-pihak yang terkait adalah Youtube sebagai broker iklan, advertiser (pengusaha) sebagai pemasang iklan, youtuber sebagai publisher iklan. Jasa youtuber adalah jasa mem-publish iklan dalam videonya karena produk advertiser terpublikasi melalui video dan popularitas youtuber.

Perlu ditegaskan bahwa sebagai sebuah fitur media, Youtube adalah media netral yang bisa digunakan untuk positif atau negatif tergantung konten yang digunakannya. Selain netral, media ini strategis karena video dan tayangan Youtuber mudah diakses dan disaksikan (melalui gadget) serta lebih digemari daripada tulisan atau audio.

Oleh karena itu, sebagai media netral, strategis, dan pilihan, video youtuber memiliki poin tersendiri, yaitu selain sebagai lahan berbisnis juga bisa dijadikan sebagai sarana menyampaikan pesan kebaikan dengan tetap komitmen pada rambu-rambu Islami berikut ini.

Pertama, konten video tersebut legal, halal, serta tidak berisi konten yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, seperti konten tidak mendidik dan konten tidak laik lainnya. Sebagaimana salah satu kriteria jasa yang diperjualbelikan itu halal dan bernilai (mubah mutaqawam). Maka setiap konten video yang tidak memenuhi kriteria ini tidak bisa menjadi objek transaksi. Terlebih lagi, efek video tersebut berpengaruh besar terhadap para pengunjung karena bisa disaksikan dan mudah ditiru.

Selanjutnya, tayangan tersebut dikemas sebaik mungkin sehingga menjadi video yang menarik dan bermanfaat. Dalam fikih, membuat produk dengan kemasan dan bahasa yang menarik dan mudah dipahami oleh pengunjung, disertai popularitas youtuber itu menjadi salah satu tuntutan ihsan dalam bekerja dan membuat produk.

Sebagaimana hadis dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan (mewajibkan) berbuat ihsan atas segala hal ….” (HR Muslim).

Sebagaimana penegasan Ali bin Abi Thalib RA, “Berbicaralah kepada manusia dengan yang mereka pahami. Apakah kalian suka apabila Allah dan Rasul-Nya didustakan?\” (HR Bukhari, Shahih Bukhari, bab “Man khoshshobil ‘ilmi qauman duuna qaumin, karohiyata allaayafhamu” no 127).

Kedua, produk dan konten iklan yang ditayangkan dalam video juga halal dan legal karena dipublikasikan melalui video youtuber. Maka, iklan tersebut tidak memasarkan produk yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, seperti produk lembaga keuangan konvensional, minuman keras, barang ilegal, produk yang merusak kesehatan, dan produk merusak akhlak anak-anak.

Oleh karena itu, youtuber hanya memilih (menyaring) produk dan konten iklan yang sesuai dengan kriteria tersebut. Misalnya, fitur filtering iklan di adsense Youtubememungkinkan iklan-iklan nonhalal tidak tampil di video youtuber. Misalnya, youtuber juga bisa memastikan bahwa pengunjung videonya tidak terkena iklan-iklan retargeting dari produk nonhalal.

Ketiga, ada kejelasan hak dan kewajiban antara para pihak, di antaranya youtuber sebagai penjual jasa dengan perusahaan sebagai pembeli jasa yang dilakukan sesuai kesepakatan.

Misalnya, jika fee yang didapatkan oleh youtuber itu tidak didasarkan pada jumlah yang mengunjungi tayangan iklan perusahaan dalam video tersebut, maka transaksi antara youtuber dan Youtube dikategorikan sebagai jual beli jasa memasarkan produk dalam iklan melalui video youtuber.

Tetapi, jika fee yang didapatkan oleh youtuber itu didasarkan pada jumlah yang mengunjungi tayangan iklannya maka dikategorikan sebagai jualah atau fee (reward atau success fee) yang diberikan berdasarkan prestasi. Selanjutnya, seluruh hak dan kewajiban, serta hal-hal lain, dituangkan dalam perjanjian sebagai referensi transaksi jual beli tersebut.

Semoga Allah SWT memudahkan dan memberkahi setiap ikhtiar kita. Amin.

Wallahu a’lam.

================

Follow And Join

📲Fb, IG, Telegram: @onisahronii
📲 Twitter : @onisahroni

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

Tanyakan Kepada Ulama

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:

إذا كان عند الرجل الكتب المصنفة فيها قول رسول الله – صلى الله عليه وسلم – واختلاف الصحابة والتابعين فلا يجوز أن يعمل بما شاء ويتخير فيقضي به ويعمل به حتى يسأل أهل العلم ما يؤخذ به فيكون يعمل على أمر صحيح

Jika seseorang memiliki berbagai buku, yang didalamnya terdapat hadits Rasulullah ﷺ, perselisihan para sahabat, dan tabi’in, maka tidak diperkenankan seenaknya saja baginya memilih pendapat lalu dia menetapkan perkaranya dengan itu, dan mengamalkannya, sampai dia bertanya dulu kepada ulama ttg apa yang dijadikan olehnya sebagai pegangan itu, agar itu menjadi perkara yang benar.

(Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, 1/35)

Al Hafizh Abul Hasan Al Maimuni Rahimahullah berkata: Imam Ahmad bin Hambal berkata kepadaku:

يا ابا الحسن إياك أن تتكلم أن مسألة ليس لك فيها امام

Wahai Abu Hasan, hati-hatilah kamu berbicara tentang permasalahan yang seorang imam tidak membicarakan permasalahan itu.

(Imam Ibnul Jauzi, Manaqib al Imam Ahmad, Hal. 178)

Ada pun mereka yang meremehkan fiqihnya para ulama, dgn alasan langsung berhukum kepada Al Quran dan As Sunnah, hakikatnya mereka tidak mengerti fiqih. Kita lihat keterangan Imam Adz Dzahabi berikut tentang Ibnu Syahin:

قال الخطيب: وسمعت محمد بن عمر الداوودي يقول:
ابن شاهين ثقة، يشبه الشيوخ إلا أنه كان لحانا، وكان أيضا لا يعرف من الفقه لا قليلا ولا كثيرا، وإذا ذكر له مذاهب الفقهاء كالشافعي وغيره، يقول: أنا محمدي المذهب

Al Khathib Al Baghdadi berkata: Saya mendengar Muhammad bin Umar Ad Dawudi berkata:

Ibnu Syahin adalah seorang tsiqah dan mirip para syaikh, hanya saja ia sering keliru. Dia juga tidak mengerti tentang fikih sama sekali baik sedikit atau banyak, dan kalau disebutkan kepadanya ttg mazhab-mazhab para fuqaha (ahli fiqih) seperti Asy Syafi’i dan lainnya, ia berkata: “Madzhab saya Muhammadi (pengikut nabi Muhammad).”

(Siyar A’lam An Nubalaa’ 15/32, Muassasah Ar Risalah)

Apa yang dikatakan Ibnu Syahin, mirip perkataan sebagian orang saat ini. Di mana perkataan ini dikritik sebagai ucapan yang disebabkan ketidaktahuan ilmu fiqih sama sekali. Ini ulama sekelas Ibnu Syahin, lalu bagaimana dengan orang awam saat ini yang berkata demikian?

Laa haula walaa quwwata illa billah

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Lafazh lsti’adzah yang Dianjurkan

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bacaan isti’adzah yang lebih dipilih oleh Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) sebagaimana disampaikannya di dalam al-Umm adalah a’udzu billahi minasy-syaithanir-mjim. Lafazh isti’adzah inilah yang paling masyhur. Dalilnya tiada lain sebagaimana redaksi asli dari firman-Nya: “Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl [16]: 98).

Abu al-Hasan al-Mawardi (w. 450 H) di dalam al-Hawi al-Kabir fi Fiqh Madzhab al-Imam asy-Syafi’i yang merupakan penjelasan dari kitab Mukhtashar al-Muzanni mengemukakan bahwa selain lafazh isti’adzah a’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim, bisa juga isti’adzah dengan lafazh a’udzu billahis-sami’il-‘alimi minasy-syaithanir-rajim atau dengan lafazh a’udzu billahil-‘aliyyi minasy-syaithanilghawiyy. Namun, menurutnya, yang lebih utama adalah dengan lafazh yang pertama dibandingkan dengan yang kedua dan ketiga, karena ia diambil dari al-Qur’an. Isti’adzah dengan lafazh yang kedua lebih utama dari isti’adzah yang ketiga karena adanya riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri ra. mengenainya, yaitu dalam hal ini salah satunya sebagaimana disampaikan oleh Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) di dalan Sunannya di mana Abu Sa’id bercerita: “Adalah Rasulullah saw. jika beliau melakukan shalat malam, maka beliau bertakbir, kemudian mengucapkan ‘Subhanaka allahumma wa bi hamdika, wa tabarakasmuka, wa tahta jadduka, wa la ilaha ghairuka’, lantas mengucapkan Allahu akbaru kabira’, kemudian mengucapkan ‘audzu billahis-sami’il‘alimi minasy-syaithanir-rajim, min hamzihi, wa nafkhihi, wa nafatsihi’.

Isti’adzah dengan lafazh a’udzu billahis-sami’il-‘alimi minasy-syaithanir-mjim ini sebagaimana dapat kita baca penjelasan Sulaiman al-Bujairami (w. 1221 H) di dalam Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khathib atau yang dikenal juga dengan Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khathib, sebenarnya adalah dengan menggabungkan redaksi dalam dua ayat al-Qur’an, masing-masing dari QS. An-Nahl [16]: 98 dan QS. Fushshilat [41]: 36. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Perbaiki Niat

Pelajaran dari kisah perkawinan Rasulullah saw dengan Hafshah binti Umar bin Khattab Radhiallahu anhuma

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab (ayahnya) berkata,

“Hafshah menjanda setelah suaminya Khunais bin Huzafah wafat, dia adalah salah seorang shahabat yang turut serta dalam perang Badar, lalu meninggal di Madinah.

Maka aku segera menemui Utsman bin Affan, lalu aku tawarkan kepadanya agar menikahi Hafshah. Aku katakan kepadanya, “Jika engkau bersedia, Hafshah akan aku nikahkan denganmu.” Namun Utsman bin Affan berkata, “Aku pikir-pikir dahulu.”

Lalu aku tunggu beberapa malam hingga akhirnya dia (Utsman) menemuiku seraya berkata, “Saat-saat sekarang ini, saya belum berencana untuk menikah.” Lalu Umar berkata, “Lalu aku menemui Abu Bakar dan aku katakan kepadanya, ‘Kalau mau, aku akan nikahkan Hafshah denganmu” Namun tidak ada respon, sehingga aku merasa bahwa keadaannya seperti Utsman. Setelah beberapa hari berlalu, ternyata Hafshah dilamar oleh Rasulullah saw, akhirnya Hafshah aku nikahkan dengan beliau saw.

Kemudian (setelah pernikahan tersebut) Abu Bakar menemuiku seraya berkata, “Tampaknya ada sesuatu yang engkau simpan saat engkau menawarkan Hafshah kepadaku dan aku tidak menjawabnya?” Aku katakan, “Ya” Lalu dia berkata, ‘Tidak ada yang menghalangiku untuk menerima tawaranmu sedikit pun kecuali aku mendengar bahwa Rasulullah saw menyebut namanya (untuk menikahinya) dan aku tidak berani menyebarkan rahasia Rasulullah saw. Seandainya beliau membatalkannya, niscaya aku bersedia menikahinya.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Abu Bakar dan Utsman tidak merespon tawaran Umar bin Khattab untuk menikahi Hafshah, beliau mendatangi Rasulullah saw untuk menyampaikan hal tersebut. Maka Rasulullah saw bersabda,

يَتَزَوَّجُ حَفْصَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْ عُثْمَانَ ; وَيَتَزَوَّجُ عُثْمَانُ مَنْ هِيَ خَيْرٌ مِنْ حَفْصَةَ (رواه أبو يعلى)

“Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Utsman dan Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih baik dari Hafshah.” (HR. Abu Ya’la)

Ternyata benar. Tak lama kemudian Rasulullah saw melamar Hafshah untuk dirinya, sedangkan Utsman menikahi puteri Rasulullah saw; Ummu Kultsum, setelah isteri beliau sebelumnya yang juga puteri Rasulullah saw; Ruqoyyah, meninggal dunia.

Pernikahan Rasulullah saw dengan Hafshah terjadi pada tahun ketiga hijriah. Maka dengan demikian, Hafshah menikah dengan Rasulullah saw pada usia 20 tahun.

———————————–

Pelajaran:

– Seorang ayah sebaiknya aktif mencarikan calon suami yang saleh bagi puterinya.

– Kedua belah pihak hendaknya merahasiakan proses pencarian tsb dan tidak dipublikasikan.

– Seraya berikhtiar, tetap meyakini bahwa pilihan Allah baginya adalah yang terbaik.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhlaq Islam

Akan Kukatakan Siapa Dirimu

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

قل لى من تعاشر اقول لك من أنت

“Katakanlah kepadaku dengan siapa engkau bergaul, maka akan ku katakan siapa dirimu.”

Hati hatilah memilih teman karena teman adalah gambaran tentang siapa diri kita sebenarnya.

Kita memang boleh berteman dengan siapa saja, namun untuk menjadikannya teman akrab haruslah di seleksi terlebih dahulu.

Akrab itu terambil dari bahasa Arab yaitu أقرب” ”Lebih dekat“ dari kata “قريب” yang berarti dekat.

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”

(HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Seorang yang baik baik bisa di jadikan tersangka koruptor karena berteman dengannya, begitu juga seorang yang shaleh bisa saja menjadi pudar kebaikannya karena terlalu sering berbaur dengan mereka yang buruk perangainya.

Memilih teman yang baik baik saja bukanlah berarti kita memusuhi mereka yang masih bergelimang dalam dosa dan maksiat, untuk mereka yang masih berada dalam jalan yang kelam tugas kita adalah mendakwahi jika kita memilki ilmu dan imunitas yang kuat untuk membentengi diri kita dari kemaksiatan mereka.

Adapun jika kita belum memilki ilmu untuk mendakwahi mereka, maka tugas kita adalah mencari juru dakwah yang dapat memperbaiki keadaan mereka dan setelah mereka kembali dalam kebaikan, barulah kita dekati mereka untuk semakin menguatkannya dalam keta’atan.

Sebelum kita berteman ada baiknya kita perhatikan tips dari umar bin Khattab tentang bagaimana mengenal karakter teman, beliau berkata:
“Kau tidak mengenal sahabatmu kecuali dengan tiga hal:

1. Engkau berjalan seharian dengannya,
2. Engkau bermalam dirumahnya,
3. Dan engkau berhubungannya dalam masalah uang.

Semoga kita semua bisa memilih sahabat sahabat yang baik untuk bisa saling mengisi dan mengingatkan dalam kebaikan dan semoga kita bisa meraih teman teman kita yang masih terjerembab dalam jurang dosa yang hina dina itu.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Islam Rahmatan lil Alamin

Mengembalikan Makna Rahmatan Lil Alamin

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Beberapa kali saya ikuti acara yang terkait pembinaan bagi para dai yang diadakan oleh lembaga formal. Nyaris isunya tidak pernah keluar dari peringatan soal bahaya radikalisme dan intoleransi. Seakan cap radikal dan intoleran sudah menjadi cap asli bagi sebagian kaum muslimin, khususnya para dai.

Jarang di antara para pembicara itu, yang notabene berasal dari lembaga yang khusus membidangi masalah dakwah, mengingatkan agar para dai kuat komitmennya dalam berdakwah, bersungguh-sungguh menyampaikan ajaran Allah, agar masyarakat mengamalkan Islam secara utuh dan bersemangat melindungi masyarakat dari bahaya kekufuran, kemusyrikan, kemaksiatan dan dekadensi moral.

Biasanya yang jadi andalan adalah ayat 107 surat Al-Anbiya

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Seakan ayat ini khusus ditujukan untuk bab toleransi dan menangkal bahaya radikalisme, khususnya terkait dengan sikap kita dengan orang-orang di luar Islam. Maka keluarlah ajakan untuk bersikap baik kepada orang kafir, tidak menyakiti dan memusuhi mereka.

Sampai disini sebenarnya tidak bermasalah, karena pada dasarnya Islam memang mengajarkan demikian. Tapi oleh pihak-pihak tertentu, khususnya Islam liberal, tidak jarang ayat ini digiring agar kita mengendurkan sikap tegas dan kuat pada tempat-tempat dimana kita harus tegas dan kuat, khususnya soal aqidah dan ibadah, juga soal perkara halal haram. Atau dengan kata lain, sikap menghormati orang kafir dengan keyakinannya mereka giring menjadi bagaimana agar kaum muslimin dengan sikapnya dapat menyenangkan orang kafir. Padahal tidak ada yang paling mereka senangi kecuali seorang muslim menjauh dari ajaran agamanya dan mengikuti langkah-langkah mereka (QS. 2: 120).

Maka kadang keluarlah sikap-sikap yang aneh, bershalawat di gereja, ikut ritual mereka, sampai pada sikap lebih dapat akrab dengan mereka ketimbang sesama elemen muslim. Memang ini bukan fenomena umum, tapi gejalanya mulai tumbuh.

Bagaimanakah pemahaman ayat di atas? Dalam banyak tafsir disebutkan, bisa dilihat dalam Tafsir Ath-Thabari atau Ibnu Katsir, bahwa diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan syariatnya tak lain sebagai rahmat bagi seluruh alam ini, baik muslim maupun kafir. Bagi kaum muslimin menjadi rahmat, karena orang beriman menjadi tahu syariat dan jalan Allah untuk menuju surgaNya. Bagi orang kafir juga menjadi rahmat sebab diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membuat mereka tidak diazab langsung di dunia sebagaimana menimpa umat terdahulu. Karena di antara kekhususan umat ini adalah tidak adanya azab masal seperti menimpa umat sebelumnya.

Ada juga penafsiran, bahwa Islam ini adalah rahmat jika mereka mau menerimanya, karena di dalamnya tidak terdapat kecuali kebaikan. Maka jika mereka menolak Islam, pada dasarnya mereka tidak menghendaki rahmat dan kebaikan yang Allah berikan.

Di antara penafsiran lain dari ayat ini juga adalah penolakan nabi ketika diminta untuk melaknat bangsa Arab yang menolak seruan dakwahnya, maka dia katakan ‘Saya adalah rahmat yang diberi petunjuk’ di riwayat lain dia mengatakan, ‘Aku tidak diutus untuk menjadi tukang laknat’.

Maka secara umum, makna rahmatan lil aalamin adalah bahwa ajaran Islam ini merupakan rahmat bagi semesta alam. Karenanya, ayat ini harus mendorong kita untuk mengimani Islam, mengamalkannya dan berikutnya mendakwahkannya.

Orang-orang yang mengamalkan Islam dan menyampaikan dakwah Islam mestinya disuport, karenanya sejatinya mereka sedang menebarkan rahmat dan kebaikan bagi masyarakat, bangsa dan negara. Bukan selalu dicurigai apalagi diintai dengan anggapan sebagai pemicu sikap radikal, intoleran dan ancaman bagi negara. Kata kuncinya adalah, siapa yang mengamalkan dan mendakwahkan Islam dengan segenap ajarannya, berarti dia sedang menebarkan rahmat di tengah masyarkat.

Soal toleransi, kaum muslimin di negeri ini dan umumnya di negeri-negeri mayoritas Islam, insyaAllah sudah khatam dengan bab toleransi dalam bentuk menghormati keyakinan agama orang lain dengan tidak mengganggunya dan menyakitinya serta berbuat baik secara sosial kepada mereka. Kalau tidak, non muslim di negeri ini akan bernasib sama seperti muslim minoritas di beberapa negara, seperti muslim Rohingya di Myanmar, bangsa Kashmir di India, Uighur di Cina, dll.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa mendapatkan anak yang salih

KIAT PRAKTIS PENDIDIKAN ANAK BAGI ORANG TUA TUNGGAL

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Jika suami istri masih sama-sama berumur panjang , maka pendidikan anak akan terasa lebih ringan, karena mereka sebagai ayah dan ibu bisa berperan masing-masing dalam menjalankan proses pendidikan anak. Bahkan mereka bisa bekerja sama dan bersinergi untuk memberikan pendidikan yang terbaik hingga dapat mencapai visinya.

Namun , ada orang tua tunggal yang ditakdirkan harus menjalankan proses pendidikan anak sendirian, karena telah terjadi perceraian atau karena suami telah wafat dan kembali ke rahmat Allah.

Walaupun ibu hanya sendirian menjalankan proses pendidikan anak , namun ibu harus tetap semangat, optimis dan selalu berbesar hati untuk sukses.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh ibu tunggal dalam proses pendidikan anak agar tidak banyak masalah, di antaranya sebagai berikut :

1. Meningkatkan iman dan takwa kepada Allah agar bisa selalu bergantung kepada Allah.

2. Mengokohkan jiwa dan mental sehingga bisa menjaga keluarga tetap ceria, tidak stress, ikhlas pada takdir, sabar dan berbaik sangka kepada Allah.

3. Meningkatkan ibadah kepada Allah agar hati selalu tenang dan dekat dengan rahmat-Nya.

4. Membangun kemandirian anak dan menghilangkan ketergantungan kepada ayahnya almarhum.

5. Melakukan berbagai ikhtiar yang sungguh – sungguh, disertai semangat dan optimis terhadap pertolongan Allah.

6. Mengingat kembali apa yang sudah dilakukan oleh suami untuk dilanjutkan dalam proses pendidikan anak.

7. Membangun kemandirian setiap anak dalam berbagai aktifitas agar tidak merepotkan ibunya.

8. Meminta bantuan keluarga suami agar bisa membantu proses pendidikan anak karena paman dan om atau uwanya menjadi wali pengganti baginya.

9. Mendekatkan anak dengan para ustadz atau guru yg shaleh agar bisa mempelajari karakter, ilmu dan pengalamannya.

10. Diikut sertakan dalam kegiatan yang bisa melengkapi potensi mereka yang tidak bisa diberikan oleh ibunya.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678