Hendaknya Satu Kubur Untuk Satu Mayit

Mengubur Mayit Satu Lubang Lebih Dari Satu Mayat

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bismillahirrahmanirrahim…

Hal ini pada prinsipnya terlarang karena tidak sesuai dengan cara penguburan Islam, KECUALI dalam kondisi darurat atau alasan yang dibenarkan.Seperti sama sekali ketiadaan lahan atau mayit yg sangat banyak dan tidak mungkin diurus satu persatu.

Syaikh Muhammad bin Umar Al Jawi Rahimahullah berkata:

وَلَا يجوز جمع اثْنَيْنِ فِي قبر وَاحِد بل يفرد كل وَاحِد بِقَبْر وَقَالَ الْمَاوَرْدِيّ بِالْكَرَاهَةِ عِنْد اتِّحَاد الْجِنْس أَو الْمَحْرَمِيَّة أَو الزَّوْجِيَّة

Tidak boleh menggabungkan dua mayit dalam satu kubur, tapi hendaknya satu kubur untuk satu orang. Al Mawardi berkata bahwa makruh menyatukan jenis, mahram, dan pasangan suami istri. [1]

Syaikh Sulaiman Al Jamal Rahimahullah menjelaskan:

أما دواما بأن يفتح على الميت ويوضع عنده ميت آخر فيحرم، ولو مع اتحاد الجنس أو مع محرمية ونحوها هذا والمعتمد أن جمع اثنين بقبر حرام مطلقا ابتداء ودواما اتحد الجنس أو لا

Ada pun membuka kubur mayit lalu meletakkan mayit lain di situ secara permanen adalah haram. Walau sesama jenis, atau mahramnya, dan semisalnya. Inilah pendapat yang mu’tamad ( pendapat resmi dalam madzhab Syafi’i), bahwa mengumpulkan dua mayit dalam satu kubur HARAM secara mutlak, baik dipermulaan saja atau terus menerus baik yg sesama jenis atau tidak. [2]

Larangan ini, baik yang mengatakan haram atau makruh, telah final dan disepakati. Imam Ibnu al Haj Rahimahullah berkata:

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْمَوْضِعَ الَّذِي يُدْفَنُ فِيهِ الْمُسْلِمُ : وَقْفٌ عَلَيْهِ ، مَا دَامَ شَيْءٌ مِنْهُ مَوْجُودًا فِيهِ ، حَتَّى يَفْنَى ، فَإِنْ فَنِيَ فَيَجُوزُ حِينَئِذٍ دَفْنُ غَيْرِهِ فِيهِ ، فَإِنْ بَقِيَ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ عِظَامِهِ فَالْحُرْمَةُ بَاقِيَةٌ لِجَمِيعِهِ ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُحْفَرَ عَنْهُ ، وَلَا يُدْفَنَ مَعَهُ غَيْرُهُ ، وَلَا يُكْشَفَ عَنْهُ اتفاق

Para ulama sepakat bahwa tempat dikuburkannya seorang muslim adalah tempatnya yang terakhir, selama masih ada bagian dari tubuhnya maka dia masih di situ, sampai dia fana (lenyap), jika mayat itu sudah tidak ada maka saat itu boleh bagi mayat lain di kubur di situ. Seandainya ada sisa tulangnya maka semua itu tetap dihormati, tidak boleh menggalinya dan menguburkan mayat lain bersamanya, dan tidak boleh dibongkar berdasarkan kesepakatan ulama. [3]

Namun, jika kondisinya darurat, jumlah mayat sangat banyak dan tidak tertangani satu persatu, maka tidak apa-apa mereka dikubur satu lubang. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. sendiri terhadap mayat para sahabat saat perang Uhud.

Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ يَقُولُ: «أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ»، فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah menggabungkan dua mayat yang terbunuh saat Uhud dalam satu kain, lalu Beliau bersabda: “Siapa di antara mereka yang lebih banyak hapal al Quran”, jika ditunjuk salah satunya maka dia didahulukan yang dimasukkan ke liang lahad. [4]

Dari Hisyam bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

احْفِرُوا، وَأَوْسِعُوا، وَأَحْسِنُوا، وَادْفِنُوا الاِثْنَيْنِ وَالثَّلاَثَةَ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ، وَقَدِّمُوا أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا

Galilah lubang, buatlah yang luas, dan berbuat ihsanlah,[5] kuburkanlah dua atau tiga orang di dalam satu kubur, dan dahulukan dalam penguburan yang paling banyak hapal Al Quran. [6]

Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri Rahimahullah berkata tentang hadits ini:

فيه جواز الجمع بين جماعة في قبر واحد، ولكن إذا دعت إلى ذلك حاجة، كما في مثل هذه الواقعة وإلا كان مكروهاً، كما ذهب إليه أبوحنيفة والشافعي وأحمد

Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya menggabungkan sekelompok orang dalam satu kubur, tetapi itu jika ada kebutuhan, sebagaimana realita dalam hadits ini, tapi jika tidak ada kebutuhan maka itu makruh sebagaimana pendapat Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad. [7]

Imam ash Shan’ani Rahimahullah juga mengatakan:

جواز جمع جماعة في قبر وكأنه للضرورة

Bolehnya mengumpulkan sekelompok (mayat) dalam satu kubur, itu jk kondisi darurat. [8]

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

«إلا لضرورة»، وذلك بأن يكثر الموتى، ويقل من يدفنهم، ففي هذه الحال لا بأس أن يدفن الرجلان والثلاثة في قبر واحد. ودليل ذلك: «ما صنعه النبي صلّى الله عليه وسلّم في شهداء أحد حيث أمرهم أن يدفنوا الرجلين في قبر واحد، ويقول: انظروا أيهم أكثر قرآناً فقدموه في اللحد» وذهب بعض أهل العلم إلى كراهة دفن أكثر من اثنين كراهة تنزيه

(Kecuali darurat) ini terjadi karena banyaknya mayat sementara petugas yang menguburkan sedikit, dalam kondisi seperti ini tidak apa-apa menguburkan dua orang laki-laki atau tiga orang dalam satu kubur. Dalilnya adalah apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap syuhada Uhud ketika Beliau memerintahkan menguburkan dua orang laki-laki dalam satu kubur, dan bersabda: “Lihat, siapa di antara mereka yang paling banyak hapal Al Quran maka dahulukan di liang lahad.” Sebagian ulama berpendapat makruhnya menguburkan lebih dari dua orang, makruh tanzih. [9]

Demikian, maka menguburkan dalam satu kubur untuk sekumpulan mayat adalah dibolehkan hanya jika memang ada hajat atau darurat. Wallahu A’lam


Notes:

[1] Syaikh Muhammad bin Umar al Jawi, Nihayatu az Zain, 1/163

[2] Syaikh Sulaiman al Jamal, Hasyiyah Al Jamal, 2/203

[3] Imam Ibnu al Haj al Maliki, al Madkhal, Hal. 18

[4] HR. Bukhari no. 1343

[5] Imam Ali al Qari mengatakan, ada yang mengartikan berbuat baiklah kepada mayat yang akan dikubur, ada pula yang mengartikan perbaguslah kuburannya baik kedalamannya, meratakan bagian bawahnya, dan lainnya. (Imam Ali al Qari, Mirqah al Mafatih, 3/1219)

[6] HR. At Tirmidzi no. 1813, katanya: hasan shahih

[7] Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri, Mir’ah al Mafatih, 5/437

[8] Imam ash Shan’ani, Subulussalam, 1/547

[9] Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Asy Syarh al Mumti’, 5/368

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Barzakh

Ketika Langit Terbelah – Tadabbur Surat al-Infithar

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Mukaddimah: Kepemilikan yang Sempurna

Surat al-Infithar diturunkan di kota Makkah setelah surat an-Nâzi’ât.

Tak jauh berbeda dengan surat-surat sebelumnya, surat ini memuat dan menjelaskan kondisi alam saat terjadinya hari kiamat dan mengupas keadaan manusia yang tidak mampu dan tahu berterimakasih sedikit pun kepada Dzat Yang Maha Pemurah. Ia mendurhakai-Nya, kafir terhadap ajaran-Nya, serta mendustakan kebenaran hari kiamat. Bahkan ia mengajak sebanyak-banyak manusia untuk berbuat seperti dirinya.

Nantinya, di hari penentuan itu semua akan menjadi gamblang. Ada dua golongan besar yang masing-masing akan menuju tempat akhirnya, sesuai amal perbuatannya.

Pada hari itu semua titah dan kekuasaan hanya milik Allah semata. Siapapun orangnya takkan mampu menolong orang lain atau bahkan dirinya sendiri.

Semuanya hanya bisa menunggu keputusan terakhir yang akan diberikan Allah untuk mereka. Keputusan yang seadil-adilnya.

Hari Kiamat: Keniscayaan Hancurnya Alam Semesta.

“Apabila langit terbelah. Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. Dan apabila lautan menjadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar” (QS. 82: 1-4).

Langit yang batas luasnya hanya diketahui Allah pada hari kiamat akan dihancurkan. Demikian juga bintang-bintang yang dijadikan penghias langit, yang jumlahnya juga hanya diketahui Allah akan berjatuhan ke bumi. Dan air laut yang telah memanas akan bergejolak karena goncangan yang sangat dahsyat dan kemudian batas-batasnya menjadi sirna dan bercampurlah semua yang ada di dalamnya.

Hal-hal tersebut benar-benar terjadi saat itu.

Dan pada saat hari kebangkitan datang, semua orang takkan mampu bersembunyi di manapun juga.

Karena semua yang mati akan dibangkitkan oleh Dzat yang mampu menghidupkan yang mati dan mengubah yang tak ada menjadi ada.

Inilah takwilan pembongkaran kuburan yang relevan dengan susunan kata-kata sebelumnya. Kata yang digunakan untuk mengekspresikan kebangkitan kali ini adalah “bu’tsirat” yang berarti pembongkaran. Aslinya berasal dari “al-ba’tsarah” yaitu membuat tanah berantakan karena ada sesuatu di bawahnya yang dikeluarkan.

Ini berarti menggabungkan antara menyatukan ruh dan jasad kemudian mengeluarkannya dari kuburan masing-masing dengan cara yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.
“Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya” (QS. 82: 5)

Semua orang saat itu sudah merasa apa saja yang telah ia perbuat dari amal-amal kebaikan atau sebaliknya perbuatan-perbuatan jahat, serta apa-apa saja yang ia lalaikan dan tunda-tunda dari pekerjaan baik. Ibnu Abbas, demikian juga Ibnu Mas’ud dan Qatadah memberikan penafsiran yang spesifik. Manusia akan menyesal saat itu, karena ia tahu apa-apa yang telah ia kerjakan terdapat banyak perbuatan yang tidak baik. Serta ia melalaikan serta suka menunda-nunda untuk berbuat baik dan bertaubat.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Kelalaian Manusia

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah”. (QS. 82: 6)

Bagaimana mungkin manusia lupa dan lalai terhadap Tuhan yang sangat pemurah. Dia memberi rizki siapa saja, baik yang taat atau yang bejat dan durhaka pada-Nya.

Dia tak pernah menunda rahmat-Nya kepada makhluk-Nya. Semuanya takaran takdir telah ditentukannya. Karena ketaatan dan kemaksiatan makhluk-Nya sama sekali tidaklah mempengaruhi wibawa ketuhanan-Nya. Karena itu sangat pas jika kata yang dipakai di sini adalah “al-karim” dan bukan yang lainnya.

Atau apakah kelalaian itu justru disebabkan oleh kemurahan yang diberikan Allah serta kemudahan-kemudahan hidup serta fasilitas yang semuanya diperuntukkan oleh Allah demi kemaslahatan manusia, seperti tutur Yahya bin Mu’adz.

Sangat pantas jika kemudian Allah menyatakan bahwa hanya sedikit dari hamba-Nya yang mampu mengingat-Nya dan bersyukur atas segala karunia dan limpahan nikmat-Nya. Itupun hanya sebagian kecil saja yang bisa disyukuri. Sangat pantas jika kemudian manusia dicap sebagai makhluk yang bodoh dan zhalim.

Padahal Allahlah yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.  Dalam bentuk apa saja yang dia kehendaki, dia menyusun tubuhmu”. (QS. 82: 7-8)

Apakah manusia lupa dari mana ia berasal dan bagaimana ia diciptakan? Bukankah ia berasal dari ketiadaan dan tidak pernah disebut sekalipun oleh siapapun sebelumnya.
Kemudian Allah jadikan ia ada. Dijadikan dari sel kecil yang berada dalam satu tetes air mani yangtelah ditakar kejadiannya. Diberi dan dikaruniakan kepadanya tubuh yang sempurna, namun ia tak pernah merasa bahwa itu adalah pemberian dari Tuhan-Nya. Dia –bahkan- lupa padahal hampir setiap saat ia bercermin.

Pernahkah ia berpikir, siapa yang menjadikan susunan wajahnya seperti sekarang ini. Mata, hidung, telinga, mulut, lidah semuanya pada posisi yang sudah sangat pas.

Demikian juga anatomi tubuhnya. Baik bagian luar maupun dalam, siapakah yang menyusunnya. Tengkorak kepalanya yang melindungi otak yang didalamnya ada jutaan sel, siapakah yang sanggup membuatnya dengan demikian detil. Dia juga yang menjadikannya sesuai dengan kehendak-Nya; apakah ia mirip dengan ibunya atau bapaknya, cantik rupawan atau ada bagian tubuhnya yang kurang sempurna fungsinya.

Namun secara umum, Allah telah membaguskan bentuk manusia) jauh lebih bagus dan sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk- Nya yang lain.

Dan yang menjadikan manusia sangat keterlaluan dan melampaui batas adalah sikap angkuh dan durhakanya yang tak berhenti namun menjadi-jadi bertambah. Seperti ungkap Allah dalam ayat selanjutnya,

“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan”
(QS. 82: 9)

Itulah–kebanyakan- manusia. Lalai dan tak pandai berterima kasih. Naifnya, bukan hanya itu sifat jeleknya, ia menambahnya dengan pendustaan terhadap kebenaran terjadinya hari pembalasan. Padahal jelas-jelas setiap manusia selalu diikuti oleh malaikat pencatat amal yang tak pernah lalai sedikitpun merekam semua amal perbuatan yang dilakukannya untuk kelak diberikan balasannya sesuai dengan perbuatannya.

Tidakkah ia malu, dalam setiap detiknya ada yang selalu memperhatikannya, merekam amal perbuatannya, yang besar dan kecil.

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 82: 10-12).

Para pencatat amal itu bukan sembarang utusan Allah. Mereka adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah swt dan penduduk langit. Mereka juga sangat disiplin dalam merekam dan membukukan amal perbuatan anak adam dengan teliti. Mereka juga tidak bisa ditipu dan dikelabuhi. Tak heran, jika kemudian Imam al-Bazzar meriwayatkan sebuah hadits yang didengar oleh sahabat Ibnu Abbas ra. Yaitu tentang larangan bertelanjang, karena ada para malaikat Allah yang selalu menyertai manusia kecuali dalam tiga keadaan: sedang buang hajat, mandi dan ketika berkumpul dengan istrinya).

Balasan yang Setimpal

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan” (QS. 82: 13)

Setelah semua buku dan catatan amal diberikan kemudian dipersaksikan kepada masing-masing manusia seluruh anggota tubuhnya yang berbicara sebagai saksi atas titah Sang Maha Kuasa. Tak seorang pun mampu memungkiri perbuatannya. Hanya sesallah yang ada saat itu. Baik ia seorang yang baik ataupun ia seorang yang buruk akhlaknya.

Dan orang-orang yang baik yang ketika di dunia selalu takut akan adzab Allah serta bertakwa kepada-Nya, maka Allah sediakan bagi mereka berbagai kenikmatan yang belum ada tandingannya sebelum dan sesudahnya. Karena itu ungkapan ”la fî na’îm” sangat relevan. Karena mereka benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang tiada tara. Di ayat lain bahkan digambarkan tenggelam dalam kesibukan menikmati karunia Allah. Dan mereka memang benar layak demikian setelah jerih payah dan usahanya di dunia.

Setelah ia menahan hawa nafsunya untuk menaati ajaran Allah dan tunduk pada titah-Nya.

Sementara itu sebaliknya orang-orang yang melampaui batas tadi sebagaimana diceritakan di atas. “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” (QS. 82: 14)

Orang-orang durhaka dan para pendusta tadi akan benar-benar sengsara. Berada dalam keabadian adzab yang pedih di neraka. Hari yang mereka dustakan juga akan menjadi saksi kebenaran kejadiannya. Saat itulah mereka benar-benar terpanggang dalam panas dan pedihnya siksa neraka, “Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan” (QS. 82: 15). Dan begitu mereka masuk, “mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu” (QS. 82: 16). Mereka benar-benar celaka. Hari yang mereka dustakan sekaligus mereka takuti kebenarannya kini telah benar-benar ada di depannya. Bahkan mereka takkan pernah keluar sejenak pun untuk menghirup udara segar atau beristirahat melepas penat. Sebagaimana yang digambarkan dalam surat an-Naba. “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,  selain air yang mendidih dan nanah” (QS. 78: 24-25)

Sekali-kali takkan pernah mereka merasakan kenyamanan dan kesejukan. Al-Farra’ menafsirkan ayat 24 surat An-naba dengan kenyamanan beristirahat dari panasnya hawa neraka sehingga disebut dengan ”la bardan”, takkan ada kesejukan dan kenyamanan dari siksa neraka yang tak kenal ampun. Bahkan sekedar mendapatkan hembusan angin pun tidak, seperti tutur Az-Zajjaj dalam tafsirnya. Tidak juga mereka mendapatkan sesuatu yang bisa mengusir dahaga dan haus karena menahan panas yang sangat luar biasa. Tak ada air. Kecuali air yang menggelegak atau nanah yang sangat menjijikkan dan baunya menyengat.

Mungkin gambaran ini tak pernah terdetik dalam hati para pendusta itu. Atau jika mereka sempat percaya, ditutupi oleh gengsi untuk mengungkapkan iman dan mengikutinya dengan perbuatan baik.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Kebenaran Hari Pembalasan

“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. 82: 17-18)

Sebenarnya seperti apakah hari pembalasan itu? Sampai Allah perlu mengulang pertanyaan dua kali di akhir surat ini. Ini memberikan indikasi, betapapun jelas tanda dan bukti kebenaran hari pembalasan pasti tetap akan banyak yang mendustakan dan tidak memperca-yainya. Padahal dengan adanya hari pembalasan seseorang akanmendapatkan haknya dengan adil. Ketidakadilan yang terjadi di dunia akan diselesaikan pada hari itu dengan sangat transparan dan profesional. Tak ada yang dizhalimi hari itu. Tak ada yang menzhalimi orang pada hari itu kecuali zhalim pada dirinya sendiri di masa lalu dengan tidak mengindahkan ajakan dan titah Allah.

Hari pembalasan ini menjadi pembuktian janji Allah yang tak sedikit pun mengambil manfaat dari ketaatan manusia, juga tidak merugi sedikit pun karena kemaksiatan yang terus menerus dilakukan manusia.

Sudah demikian jelasnya kebenaran hari pembalasan ini, manusia tetap tidak menggubrisnya. Sebagian karena hatinya tertutup oleh kedustaan, sebagian karena menjadi manusia matrealis, sebagian lagi lalai yang diperturutkan dan suka menunda-nunda taubat dan amal baik.

Dengarkan penuturan Allah tentang maksud dari hari pembalasan itu, “(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah” (QS. 82: 19)

Jangankan untuk menolong orang lain, hari yang sangat menegangkan dan menakutkan itu benar-benar membuat manusia lupa  terhadap siapapun. “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”. (QS. 80: 34-37).

Dan karena sebenar-benar kekuasaan hanya dimiliki Allah, tanpa tandingan dan saingan oleh siapapun.

Keangkuhan dan kesombongan yang pernah didengungkan didunia seketika sirna dan tak berkutik. Karena semuanya semu dan hanya fatamorgana, ketika bertemu dengan kekuasaan dan kebenaran yang sesungguhnya. Hari itu sepenuhnya dimiliki oleh Allah.

Tentunya, sebagaimana hari-hari sebelumnya. Hanya saja selama ini manusia tak menganggapnya demikian. Saat itulah kebenaran terungkap dan tak seorang pun mampu membantahnya.

Penutup
Semoga saat langit benar-benar terbelah dan bintang berjatuhan serta batas-batas laut disirnakan, serta penghuni-penghuni kubur dibangkitkan, kita berharap semoga berada dalam golongan orang-orang yang selalu berada dalam kenikmatan surga dan keridhoan Allah. Amin

(Selesai)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersuci Istinja Cebok Bersih Najis

Wudhu Dengan Air Seukuran Bak atau Gayung, Bolehkah? Apakah dikucurkan atau bolehkah dikobok ke dalamnya?

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bismillahirrahmanirrahim al Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Wudhu dengan air di bak mandi, selama air tersebut suci dan mensucikan adalah Boleh dan SAH. Hal ini berdasarkan beberapa hadits berikut:

Pertama. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ أَوْ كَانَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ

Nabi ﷺ membasuh, atau mandi dengan satu sha’ hingga lima mud, dan berwudhu dengan satu mud. [1]

Satu mud itu tidak banyak, Imam Al ‘Ainiy mengatakan 1,3 Rithl Iraq (Rithl itu bukan liter), sebagaimana pendapat Imam Asy Syafi’i dan ulama Hijaz. Ada yang mengatakan 2 Rithl yaitu Imam Abu Hanifah dan ulama Iraq.[2]

Sementara Imam Ash Shan’ani menjelaskan dengan lebih sederhana yaitu sepenuh dua telapak tangan manusia berukuran sedang dengan telapak tangan yang dibentangkan (madda), dari sinilah diambil kata mud.[3]

Satu mud ini adalah cukup, jangan dikurangi lagi. Imam Al Munawiy mengatakan: “Maka, sunahnya adalah tidak kurang dari itu dan jangan ditambah bagi orang yang ukuran badannya seperti badannya (Rasulullah ﷺ). [4]

Ini menunjukkan air seukuran gayung pun boleh dipakai dan sah, selama suci dan mensucikan.

Kedua. Hadits lainnya adalah:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah kami boleh berwudhu dari sumur budhaa’ah, yaitu sumur yang kemasukan Al Hiyadh (pembalut wanita), daging anjing, dan An Natnu (bau tidak sedap).” Lalu Rasulullah ﷺ menjawab: “Air itu adalah suci, tidak ada sesuatu yang menajiskannya.” [5]

Hadits ini menunjukkan hukum dasar air adalah suci, dan tidak ada apa pun yang dapat menajiskannya. Bahkan Imam Malik Rahimahullah mengatakan walau airnya sedikit, selama sifat sucinya belum berubah, baik warna, aroma, dan rasa.

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan: “Dengan hadits ini, Imam Malik berdalil bahwa sesungguhnya air tidak menjadi najis dengan terkenanya air itu dengan najis –walau air itu sedikit- selama salah satu sifatnya belum berubah.” [6] Tapi, para ulama mengoreksi pendapat Imam Malik, bahwa hadits tersebut adalah khusus untuk sumur Budhaa’ah yang memang berukuran besar, sebagaimana keterangan Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuriy berikut:

“Ta’wilnya adalah bahwa air yang kalian tanyakan adalah tentang air sumur Budhaa’ah, maka jawabannya adalah itu khusus, bukan untuk umum sebagaimana pertanyaan Imam Malik. Selesai. Jika Alif dan Lam (pada kata Al Maa’/air) menunjukkan jenis, maka hadits ini adalah spesifik (khusus) menurut kesepakatan sebagaimana Anda lihat (tidak ada sesuatu yang menajiskannya) karena banyaknya, sesungguhnya sumur budhaa’ah adalah sumur yang banyak airnya, lebih dari dua qullah, maka terkena semua hal ini tidaklah merubahnya, dan air yang banyak tidaklah menjadi najis karena sesuatu selama belum terjadi perubahan.” [7]

Ummu ‘Umarah bercerita:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ فَأُتِىَ بِإِنَاءٍ فِيهِ مَاءٌ قَدْرُ ثُلُثَىِ الْمُدِّ

Bahwa Nabi ﷺ berwudhu dengan dibawakan untuknya di bejana berisi air seukuran 2/3 mud. [8]

Ketiga, Hadits lainnya:

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ لَقَدْ رَأَيْتُنِي أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا فَإِذَا تَوْرٌ مَوْضُوعٌ مِثْلُ الصَّاعِ أَوْ دُونَهُ فَنَشْرَعُ فِيهِ جَمِيعًا فَأُفِيضُ عَلَى رَأْسِي بِيَدَيَّ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَمَا أَنْقُضُ لِي شَعْرًا

Dari ‘Ubaid bin ‘Umair, bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata, “ Aku menyaksikan diriku mandi bersama Rasulullah ﷺ dari ini, – yaitu sebuah bejana kecil tempat yang berukuran satu shaa’ atau lebih kecil- kami menyelupkan tangan kami seluruhnya, aku mencelupkan dengan tanganku pada kepalaku tiga kali dan aku tidak menguraikan rambut.” [9]

Maka, dari hadits-hadits ini dapat disimpulkan bahwa wudhu dengan air seukuran bak mandi adalah sah, begitu pula dengan memakai gayung, yang penting tetap pada prinsip “suci dan mensucikan”, tidak ada perubahan sifat dasar sucinya, walau volume bak itu tidak sampai dua qullah. Ada pun jika sudah ternoda najis dan merubah salah satu sifat dasarnya maka tidak boleh wudhu dengannya.

Namun, dalam madzhab Syafi’i, wudhu dengan air di wadah yang sedikit (misal gayung) tidaklah dengan mencelupkan (mengkobok) tangan ke wadah tersebut, tetapi hendaknya dikucurkan, agar tidak menjadi air musta’mal.

Syaikh Wahbah Az Zuhailiy Rahimahullah menyebutkan tentang pendapat Syafi’iyyah:

“Kesimpulannya, tidak sah bersuci dengan air musta’mal yang sedikit untuk keperluan menghilangkan hadats dan membersihkan najis. Jika seorang yang berwudhu memasukkan tangannya ke air yang sedikit (misal di gayung, pen) setelah mencuci wajahnya, maka air yang tersisa tersebut adalah musta’mal.” [10]

Bersuci dengan air musta’mal tidaklah sah menurut madzhab Syafi’i, Hanafi, dan Hambali. Sebab air tersebut suci tapi tidak mensucikan. Namun sah bagi Maliki dan Zhahiri.

Imam Ibnu Mundzir Rahimahullah mengatakan: “Para ulama telah ijma’ bahwa air yang sedikit dan banyak, jika terkena najis lalu berubah rasa, atau warna, atau aroma, maka dia menjadi najis selama seperti itu.” [11]

Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar Rahimahullah mengatakan: “Para ulama telah ijma’ bahwa air yang telah berubah salah satu sifatnya yang tiga itu, maka menjadi najis, walau air itu sebanyak lautan.” [12]

Kesimpulan:

– Berwudhu dengan volume air sebesar bak mandi atau gayung adalah SAH selama air tersebut tetap suci dan mensucikan, tidak ada perubahan baik rasa, warna, dan aroma.

– Ada pun berwudhu dengan air di wadah kecil, misal gayung, hendaknya dikucurkan, dialirkan, bukan dikobok. Sebab hal itu menjadikannya sebagai air musta’mal. Dalam madzhab Syafi’i, Hanafi, dan Hambali, air musta’mal tidak boleh digunakan untuk bersuci, ada pun madzhab lainnya membolehkan wudhu dengan air musta’mal.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

[1] HR. Bukhari no. 201

[2] Imam Badruddin Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 4/433

[3] Imam Ash Shan’aniy, Subulus Salam, 1/49

[4] Imam Al Munawiy, At Taysir, 2/545

[5] HR. Abu Daud No. 67, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 1513, Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah, 2/61, dll. Imam Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Imam Yahya bin Ma’in, dan Imam Ibnu Hazm.” (Talkhish Al Habir, 1/125-126), Imam An Nawawi mengatakan: “shahih.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/82)

[6] Imam Ash Shan’aniy, Subulus Salam, 1/16

[7] Imam Abul ‘Ala Al Mubarkafuriy, Tuhfah Al Ahwadzi, 1/170. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

[8] HR. Abu Daud no. 94, Dishahihkan oleh Abu Zur’ah, dan dihasankan oleh Imam An Nawawi dan Imam Al ‘Iraqiy. Lihat Shahih Abi Daud, 1/158

[9] HR. An Nasa’iy, no. 416

[10] Syaikh Wahbah Az Zuhailiy, Al Fiqhu Asy Syafi’iyyah Al Muyassar, 1/82

[11] Imam Ibnul Mundzir, Al Ijma’, Hal. 35

[12] Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar, Mishbahuzh Zhalam, 1/35

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Mengulang Bacaan al-Fatihah dalam Shalat Supaya Khusyu’

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Memang terkadang ada saja orang yang shalat, namun ia ragu dalam hal bacaannya, terutama dalam hal ini adalah bacaan al-Fatihah, apakah ada ayat-ayat yang tertinggal ataukah tidak, bisa saja terjadi keraguan di dalamnya. Namun di dalam kasus lain, mungkin ada juga orang yang mengulang bacaan al-Fatihahnya hanya karena bacaan sebelumnya dirasa tidak khusyu’ sehingga ia merasa perlu untuk mengulangi bacaan al-Fatihahnya lagi.

Mengenai hal ini, ada sebuah penjelasan dari Abu Ishaq asy-Syairazi (w. 476 H) di dalam al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam asy-Syafi’i yang juga kemudian dijelaskan oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam Syarhnya, yaitu jika seseorang mengulangi bacaan al-Fatihahnya karena lupa, maka hal itu tidak membahayakan shalatnya. Namun jika ia dengan sengaja mengulangi bacaan al-Fatihahnya tersebut dan bukan karena sebab lupa, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, yaitu pendapat yang paling shahih, adalah bahwa shalatnya tetap tidak batal, sama seperti ketika seseorang mengulangi bacaan al-Qur’an setelah al-Fatihah. Pendapat satu lagi mengatakan bahwa shalatnya batal, karena mengulangi al-Fatihah sebagai salah satu rukun shalat, sama saja dengan mengulangi rukun-rukun lainnya, seperti mengulangi rukuk dan sujud. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berpaling dari dunia

Jika Dunia Mengejarmu

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Diuji dengan kemiskinan, banyak manusia yang bisa lolos dari bahayanya. Diuji dengan kekayaan, banyak manusia yang lupa diri karenanya. Oleh karena itu jika dunia terbentang dihadapanmu, begitu mudah dia kau kuasai, maka cepat pejamkanlah mata.. Agar hatimu tidak menggila!

Umar bin Khathab Radhiallahu ‘Anhu berkata:

أغمض عن الدّنيا عينك، وولّ عنها قلبك

“Tutuplah matamu dari dunia niscaya hatimu berpaling darinya.”

Maka berkumpul dengan manusia yang obsesinya dunia membuat hatimu gelisah dan tersiksa, selalu ingin seperti mereka..

Ingin jadi raja? Maka puaslah dengan apa yang sudah Allah Ta’ala berikan..

Imam Asy Syafi’i Rahimahullah dalam salah satu syairnya berkata:

إِذَا مَا كُنْـتَ ذَا قَلْبٍ قَنُـوعٍ
فَأَنْـتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَـوَاءُ

“Jika kamu memiliki hati yang puas, maka kamu dan rajanya dunia adalah sama.”

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seribu Kebaikan

Pahala Seribu Kebaikan Akan Didapatkan Dalam Sehari, Hanya Dengan Membaca Dzikir ini

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ سَعْدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ فِي الْيَوْمِ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ؟ قَالَ يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ وَتُمْحَى عَنْهُ أَلْفُ سَيِّئَةٍ (رواه احمد)

Dari Sa’d bin Abi Waqash ra berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bersabda, “Apakah kalian tidak mampu untuk mendapatkan seribu kebaikan dalam sehari?” Sahabat bertanya, “Siapakah diantara kami yang sanggup untuk melakukannya?” Maka beliau bersabda, “Bertasbih seratus kali (membaca dzikir subhabalallah), akan ditulis baginya seribu kebaikan dan dihapuskan darinya seribu kesalahan.” (HR. Ahmad)

©️ Takhrij Hadits;

1. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, pada Musnad Sa’d bin Abi Waqqash, hadits no 1414.

2. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, hadits no 4966 dan Imam Tirmidzi dalam Sunannya, hadits no 3385.

®️ Hikmah Hadits ;

1. Mendapatkan kebaikan yang besar tidak selalu harus dilakukan dengan amalan yang besar, namun kebaikan yang besar dapat juga dilakukan dengan amalan-amalan yang ringan dan sederhana. Oleh karenanya jangan meremehkan suatu amal kebaikan pun, karena kita tidak mengetahui amal kebaikan manakah yang kita lakukan yang dapat mengantarkan pada ridha Allah Swt dan dapat mengetuk pintu surga. Bisa jadi sebuah amalan ringan justru yang akan mengantarkan seseorang masuk ke dalam surga, jika dilakukan dengan baik, benar dan ikhlas.

2. Bahwa nahkoda dalam amal perbuatan manusia adalah hati. Hati lah yang akan menggerakkan anggota badan untuk melakukan suatu amalan kebaikan. Hati pula lah yang akan dapat menentukan bobot dan timbangan suatu amal perbuatan, apakah memiliki nilai yg mulia di sisi Allah SWT atau tidak? Karena hanya amal yg ikhlas sajalah yg akan mendapatkan nilai yang mulia di sisi Allah SWT. Sedangkan pelabuhan dalam keikhlasan adalah hati seseorang. Oleh karenanya, salafuna shaleh mengingatkan agar senantiasa menyibukkan hati dengan hal-hal yang baik, agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik ;

إن القلوب إذا لم تشغلها بالذكر، شغلتها الصغائر

Sesungguhnya hati itu jika tidak disebutkan dengan dzikir, maka ia akan disibukkan dengan shagha’ir.

3. Bahwa diantara amalan ringan yang memiliki balasan kebaikan yang sangat besar adalah berdzikir menyebut nama Allah Swt, khususnya dengan mengucapkan lafadz tasbih, yaitu “Subhanallah” (Mahasuci Allah Swt). Karena lafadz dzikir yang ringan ini, jika dibaca sebanyak seribu kali oleh seorang muslim, maka ia akan mendapatkan dua keutamaan sekaligus, yaitu :

1). Akan mendapatkan seribu kebaikan, berupa balasan pahala kebIkan dari Allah Swt.

2). Akan dihapuskan seribu kesalahan, yaitu berupa ampunan dari dosa yang telah dilakukannya.

4. Maka di sela-sela keseharian dan aktivitas serta pekerjaan yang kita lakukan, mari perbanyak dzikir dengan mengucapkan “Subhanallah” (Maha Suci Allah Swt). Dan jika memungkinkan dibaca hingga seribu kali dalam satu hari, dengan harapan bahwa dengan dzikir tersebut akan menambah seribu kebaikan bagi kita dan juga menggugurkan seribu kesalahan dari diri kita.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Jihad bagi Mereka yang Lelah Hati

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Bersyukurlah masih punya hati, di zaman ketika banyak orang yang tidak peduli lagi. Bahkan kehilangan hatinya. Tepatnya hatinya telah mati. Mungkin karena hatinya lelah. Istirahatlah.

Lelahnya hati, lebih banyak disebabkan hidupmu ingin selalu memenuhi semua keinginan orang lain. Kamu lelah sebab kehilangan dirimu sendiri, dan terus berjuang agar hidupmu seperti mereka. Dan akan semakin lelah dengan semua itu.

Berburu untuk sesuatu yang tidak ada habisnya. Kamu jadi mudah mengeluh. Gelisah. Urakan. Hilang rasa pedemu. Hilang rasa syukurmu. Padahal setiap kita punya kapling takdirNya. Setiap kita ada keunggulan dan pasti ada kekurangannya. Berburu agar menuruti setiap keinginan semua orang adalah mustahil. Hati jadi lelah tak berkesudahan.

Lelahnya hatimu, sebanding dengan keridhloanmu pada apa yang Dia beri. Tidak ridho artinya tidak mau menerima. Mungkin tak rela. Hidup pinginnya seperti seenaknya sendiri. Hari ini A, besok B, lusa D, dst. Ingat boleh jadi kamu ingin tetapi belum tentu baik bagimu. Kamu suka itu, tetapi sebetulnya tidak kamu butuhkan. Lelahlsh hatimu.

Tak perlulah kamu menggadaikan hidupmu hanya untuk memenuhi harapan mereka. Apalagi kamu tak akan kuasa untuk itu. Berhentilah. Lebih baik jadilah diri sendiri. Meskipun itu sederhana. Dianggap biasa. Bahkan remeh menurut sebagian mereka. Yang penting kamu merdeka, berdiri di kaki sendiri. Mungkin yang perlu kamu lakukan adalah upaya untuk selalu melakukan yang terbaik di setiap keadaan.

Mungkin kamu sedang lupa, atau kamu sedang dikuasai emosi (ingin seperti mereka), bahwa Dia telah memberimu yang terbaik. Itulah kapling takdirmu. Hatimu akan lebih lega jika menerimanya. Pasti apa yang Dia beri untukmu tak akan menyiakanmu. Tugasmu hanya mencegah yang buruk dan memupuk kebaikan.

Belajar menerima apa yang terjadi dengan penerimaan yang baik, memang tidak mudah. Butuh perjuangan dan so pasti pengorbanan. Dan kesungguhan itulah yang akan mengantarkanmu pada harapanNya. Inilah makna sesungguhnya jihad bagi diri sendiri, mujahidunn linafsih, bagi meeka gang lelah hati.

Semoga…

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

MEMBUAT SUAMI DAN ISTRI BETAH DI RUMAH

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Rumah itu tempat yang paling tepat untuk dihuni oleh suami istri , tempat beristirahat yang paling nyaman, tempat yang paling menyenangkan untuk berkumpul bersama keluarga, tempat yang sangat menghibur, bisa berbagi cinta dan sayang, serta tempat untuk menyempurnakan separuh agama dan berfungsi sebagai madrasah utama untuk mendidik ana-anak menjadi generasi terbaik.

Karena itu, suami dan istri hendaknya saat tiba dirumah melakukan hal-hal yang bisa membuat pasangannya merasa betah dan nyaman. Adapun hal-hal yang harus dilakukan adalah :

1. Menyambut dengan wajah ceria.
2. Menyapa dengan lemah lembut.
3. Memberikan perhatian.
4. Menyiapkan waktu untuk bersamanya.
5. Berbincang-bincang dan bersenda gurau bersama pasangan.
7. Menghibur dan menggembirakan pasangan.
6. Menjaga rumah yang bersih dan rapih.
7. Melaksanakan kewajiban masing-masing.
8. Tidak menuntut lebih dari kemampuan pasangan.
9. Istri melayani kebutuhan suami dengan ikhlas dan dengan wajah yang ceria.
10. Istri memberikan kesempatan kepada suami untuk istirahat.
11. Suami dan istri pandai memberikan apresiasi dan saling menggembirakan pasangan.
12. Bekerjasa dalam mendidik anak-anak.

Rasulullah SAW bersabda : ” Ada 3 di antara kebahagiaan manusia dan ada 3 di antara kesengsarasn manusia. Adapun di antara kebahagiaan manusia adalah istri yang shalihah, rumah yang baik dan kendaraan yang baik. Sedangkan di antara kesengsaraan manusia adalah istri yang buruk, rumah yang buruk dan kendaraan yang buruk ”

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhlaq Islam

Jangan Menyakiti Jika Tidak Ingin Disakiti

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

أحب للناس ما تحب لنفسك

Dari Yasid bin Azid Perlakukanlah manusia dengan baik sebagaimana engkau suka di perlakukan dengan baik ( Hadist sahih Riwayat Tirmidzi )

Penjelasan :

1. Setiap manusia akan mencintai orang yang melakukan kebaikan kepadanya, ini adalah isyarat agar kita juga melakukan hal yang sama kepada sesama.

2. Jika tidak suka di zhalimi, maka jangan menzhalimi seorangpun, jika hatimu tersakiti dengan kata–kata yang kasar, maka ucapkanlah kata-kata yang baik dan lembut kepada manusia karena ucapan itu bisa menembus apa yang tidak bisa di tembus oleh jarum.

3. Tidak ada yang tertukar dari sebuah kebaikan, semuanya akan kembali kepada pelakunya, karenanya ketika seseorang melakukan kebaikan kepada orang lain sebenarnya ia sedang berbuat baik kepada dirinya sendiri, Allah berfirman

“إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا “

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri (QS Al Isra 7)

Prof Dr Wahbah Zuhaili berkata tentang makna ayat di atas “Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,” karena manfaat dari perbuatan baik kalian kembali kepada kalian sendiri (bukan kepada orang lain), bahkan saat kalian masih berada di dunia, seperti yang telah kalian saksikan, berupa kemenangan kalian terhadap musuh-musuh kalian “dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,” kepada diri kalian sendirilah bahaya itu berbalik arah, sebagaimana yang telah Allah perlihatkan kepada kalian berupa penguasaan musuh atas kalian.

4. Di riwayatkan dari Thabrani Dari Yazid bin Asid : Rasulullah saw berkata kepadaku “Apakah engkau ingin masuk surga ? Iya ya Rasulullullah,
Beliau berkata “Perlakukan manusia dengan baik sebagaimana engkau suka di perlakukan dengan baik.”

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

Ikhlas itu Berat, Namun Harus Tetap Diusahakan

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

وقَد صَامَ بَعضُ السَّلفِ أربَعِين سَنةً لَا يَعلَمُ بِه أحدٌ، كَانَ يَخرُج مِن بَيتِهِ إلَى سُوقِهِ ومَعَهُ رَغِيفَان، فَيَتَصدَّقُ بِهِمَا ويَصُومُ؛ فَيَظُنُّ أهلُهُ أنَّهُ أكلَهُمَا، ويَظُنُّ أهلُ سُوقِهِ أنَّه أكلَ فِي بَيتِه

“Sebagian Salaf ada yang berpuasa selama 40 tahun dalam keadaan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, dia keluar dari rumahnya menuju pasarnya dengan membawa dua potong roti, namun roti tersebut dia sedekahkan dan dia berpuasa. Maka keluarganya menyangka bahwa dia telah makan roti, sedangkan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah makan di rumahnya.”

📚 Lathaiful Ma’arif, hlm. 252

Penjelasan:

1. Sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu.

2. Menampakkan kebaikan tidak selalu bermakna pamer karena semua perbuatan tergantung niatnya, maka tidak boleh lisan ini mudah menuduh bahwa seseorang telah melakukan riya dalam amalnya.

3. Kita harus baik sangka kepada niat seseorang dan buruk sangka kepada niat sendiri, agar kita selalu berusaha melakukan tajdidun niyyah (memperbaiki niat)

4. Jika aku bisa menyembunyikan shalatku dari malaikat maka pasti aku akan melalukannya karena takut akan riya, demikian khawatirnya para salafus shalih akan salahnya niat mereka.

5. Di antara salafus shalih ada yang mengatakan kepada temannya “betapa parahnya flu yang aku derita”
padahal saat itu ia sedang menangis karena takut kepada Allah, tetapi ia berusaha menyembunyikan tangisannya.

6. Ada perbuatan yang tidak termasuk riya di antaranya adalah:

A. Semangat beribadah jika bersama ahli ibadah padahal ia tidak melakukannya saat sendirian.

Ibnu Qudamah mengatakan:
“Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud (shalat malam), lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini”

B. Menyembunyikan dosa.

Di antara nikmat yang Allah berikan kepada hambaNya adalah nikmat assatru (di tutupinya keburukan diri kita) seorang muslim hendaknya tidak membeberkan dosa yang ia lakukan dan orang lain tidak tahu karena itu adalah kesempatan dari Allah agar ia memperbaiki dirinya.

C. Memakai pakaian yang bagus.

Memakai pakaian yang bagus bukanlah sebagai bentuk pamer selama masih dalam batas kewajaran, ia adalah bentuk rasa syukur kepada Allah, karena Allah suka jika Ia memberikan nikmat kepada hambaNya lalu ia perlihatkan.

Dan karena Allah itu indah dan menyukai keindahan.

D. Melakukan Ibadah yang bersifat Syiar seperti: shalat berjamaah, haji atau umrah dan berkurban.

Karena ibadah ibadah yang saya sebutkan di atas tidak mungkin di lakukan dalam kamar sendirian walau demikian kita tetap selalu menjaga keikhlasan dalam melakukannya.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678