Gemar Berbuat Baik

Banyak Jalan Menuju Kebaikan

Oleh: Ust. DR. Wido Supraha M.Si

Pepatah “Banyak Jalan Menuju Roma” mengandung persoalan filosofis. Mungkin yang paling tepat adalah “Banyak Jalan Menuju Penaklukan Roma”, dikarenakan Rasul Saw. telah memberitakan akan penaklukan kota tersebut di kemudian hari, setelah Konstantinopel ditaklukan 800 tahun kemudian oleh Sultan ke-7 Turki ‘Utsmani, Sultan Muhammad al-Fatih.

Adapun Banyak Jalan Menuju Kebaikan menjadi sebuah keniscayaan di tengah keberagaman jalan yang ternyata telah disiapkan untuk kelanggengan aktivitas umat manusia dalam mencari kemuliaan yang hakiki.

Sungguh, Allah Swt. ternyata begitu memudahkan kita mencapai kemuliaan daripada kehinaan, keagungan daripada kerasukan, keberuntungan daripada kerugian, dan kebaikan daripada keburukan. Tentunya kebaikan yang sesuai dengan kehendak Rabbnya, bukan sesuai dengan kehendak pribadi manusia belaka.

Maka menjadi terang setelah Allah Swt. memastikan bahwa kebaikan apa pun yang dikerjakan, maka sesungguhnya Allah pasti mengetahuinya (Q.S. 2:197, 215). Sekecil apapun kadar kebaikan di mata manusia, Allah tetap akan memberikan balasannya (Q.S. 99:7). Dalam hal ini, setiap manusia perlu berlomba-lomba mencari kebaikan dari Allah untuk dirinya sendiri, karena kemudian ketaqwaannya sajalah yang akan menyampaikan kebaikan (shalihan) yang diperbuatnya kepada Rabb-nya (Q.S. 45:15).

Berbicara tentang semangat mencari kebaikan, alangkah luar biasanya kalau kita berkaca kepada para sahabat Nabi Saw., radhiyallaahu ‘anhum ajma’in, bagaimana setiap waktunya digunakan untuk mencari – melaksanakan segala bentuk kebaikan, seakan-akan mereka tidak pernah merasa cukup dengan kebaikan yang telah mereka lakukan dan dawam­kan, seakan-akan energi mereka tak pernah habis untuk mengejar kebaikan.

Pada saat itu, apakah mungkin mereka masih sempat untuk sekedar berfikir untuk berbuat keburukan? Bahkan apakah mungkin mereka masih sempat untuk beraktivitas yang boleh jadi hukumnya mubah-mubah saja?

Sepertinya, mereka terus menerus hidup untuk menghidupkan sunnah agar terus hidup di kehidupan.

Jangan pernah malu untuk berbuat kebaikan, atau bahkan menganggap kecil sebuah kebaikan.

Satu bentuk hadian kepada manusia mungkin karena dibatasi kemampuan menjadi kecil secara nilai dan upaya, tapi yakinlah, sangat besar di sisi Allah Swt.

Senantiasa menunjukkan wajah terbaik penuh kesejukan dan keramahan kepada manusia (Lihat Shahih Muslim No. 2626), menghadiahkan sekedar kikil kambing, (Lihat Fathul Bari V/197), atau sup sayur yang lebih banyak air daripada isinya, apabila dilakukan dengan mengharap ridha Allah Swt. akan meninggalkan bekas mendalam yang mengeratkan persaudaraan, atau meluaskan syi’ar Islam.

Setiap mukmin selalu ada saja yang ingin ia perbuat untuk saudaranya, ia ingin selalu bermanfaat untuk saudaranya, karena ia yakin itu adalah kebaikan.

Nabi Saw. menyaksikan bagaimana seseorang bisa berpindah-pindah tempat menikmati Surga karena ia berupaya memotong pohon yang menghalangi jalanan saudaranya (Lihat Shahih Muslim No. 1914), sehingga membuat Allah memujinya dan memberikan ampunan kepadanya.

Bahkan tidak hanya kepada manusia, kasih sayang mukmin kepada segala makhluk yang memiliki limpa, seperti seekor anjing yang kehausan, sehingga rela bersusah payah untuk menghilangkan penderitaan anjing tersebut pun mendapatkan balasan yang sama dari Allah Swt. (Lihat Fathul Bari V/40-41).

Luar biasa, bentuk kebaikan yang menunjukkan keluasan rahmat Allah Swt, sekaligus menunjukkan dimanapun mukmin berada, niscaya melahirkan peradaban yang mulia di sekitarnya.

Sesungguhnya setiap kebaikan yang kita perbuat akan menjadi sedekah yang luar biasa di sisi Allah Swt (Lihat Shahih Muslim No. 1005).

Sebagai misal, seorang manusia yang senang menanam tanaman, karena ia yakin Islam adalah agama yang ramah lingkungan, dan mencintai lingkungan hidup, hutan di rumahnya sendiri, maka jika ada burung yang memakan tanamannya, manusia yang mencuri buahnya, itu semua tidak akan mengurangi apa yang ia miliki selain menjadi sedekah yang begitu besar di sisi Allah Swt. (Lihat Shahih Muslim No. 1552).

Dalam bentuk lain, seandainya seorang mukmin tidak diberikan kemampuan untuk membantu kesulitan saudaranya, atau sekedar berbuat sesuatu untuk meringankannya, maka akan menjadi sedekah baginya manakala ia mampu mencegah dirinya dari berbuat keburukan kepada orang lain (Lihat Shahih Muslim No. 84).

Dalam bahasa sederhana, kalau tidak mampu menjadi bagian dari solusi masyarakat, maka tidak menjadi bagian dari problematika masyarakat adalah solusi terbaik.

Begitupun jangan lupakan kekuatan dzikir sebagai bagian dari sedekah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha illallaah, kekuatan amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai sedekah, Shalat Sunnah Dhuha dua rakaat pun sedekah. (Lihat Shahih Muslim No. 720).

Sekalangan sahabat Rasulullah Saw. yang miskin pernah mengeluhkan karena kemampuan orang-orang kaya yang dapat dengan mudah bersedekah dengan harta mereka untuk mendapatkan pahala yang besar. Kemudian Rasul Saw. mengingatkan akan kemudahan sedekah yang dapat dilakukan oleh siapapun, termasuk tidak melupakan kekuatan dzikir dan do’a sebagai bagian dari sedekah, tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil, amar makruf dan nahi mungkar, bahkan berhubungan suami istri (jima’) adalah sedekah yang sangat mulia (Lihat Shahih Muslim No. 1006).

Bukankah ternyata sedekah itu mudah sekali bagi mukmin, lantas apa yang kemudian membuat kita sulit untuk bersedekah?

Bersedekah adalah wujud syukur kepada Allah Swt. atas beragam nikmat dan perlindungan-Nya dari malapetaka.

Tiga ratus enam puluh persendian manusia harus dikeluarkan shadaqahnya setiap hari tatkala terbit matahari. Ini menunjukkan bahwa manusia harus terus bergerak untuk melahirkan kebaikan-kebaikan yang akan menjadi sedekah baginya.

Mendamaikan dua orang yang bersengketa, membantu menaikkan atau mengangkat barang saudaranya ke atas kendaraannya, senantiasa memilih kata-kata yang baik dalam bertutur kata, menyingkirkan berbagai potensi gangguan di jalanan, bahkan langkah kaki menuju masjid adalah bagian dari bentuk-bentuk sedekah lainnya yang dapat kita lakukan sebagai penyempurna sedekah kita (Lihat Fathul Bari V/309).

Bersedakahlah sesuai kadar kemampuan, jangan pernah merendahkan keutamannya, meskipun hanya dengan separuh biji kurma saja (Lihat Shahih Muslim No. 2734).

Seandainya ia tidak memiliki apapun untuk disedekahkan secara materi, maka bekerja dengan kedua tangannya sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan untuk dirinya dan bahkan kemudian bersedekah, adalah kebaikan yang sempurna (Lihat Shahih Muslim No. 1008).

Shalat sebagai amal utama dan penentu baiknya semua kebaikan yang dilahirkan menjadi aktivitas rutin dan kunci.

Keseriusan di dalam menjaganya akan melahirkan kebersihan kebaikan dari hal-hal yang dapat merusaknya. Lima kali sehari memotivasi kita untuk terus berkreasi dalam kebaikan.

Kebiasaan kita memelihara shalat berjama’ah di Masjid, seperti Subuh, Ashar dan Isya’, tidak hanya mendapatkan balasan Surga, akan tetapi menjadi terapi yang baik bagi penyakit kemunafikan dalam jiwa manusia (Lihat Fathul Bari II/52).

Manakala sifatnifaq hilang dari jiwa kita, maka tidak akan lahir kecuali kebaikan yang sempurna di atas cahaya tauhid.

Shalat lima waktu berjama’ah di masjid yang terus menerus kita lakukan, Shalat Jum’at yang terus menerus tidak pernah kita tinggalkan, Ibadah Suci Ramadhan yang terus menerus kita giatkan, akan menjadi penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara waktu-waktu pelaksanaan nya, dimana kita terus menerus mencintai dan mengembangkan kebaikan dengan tetap menjauhi dosa-dosa besar (Lihat Shahih Muslim No. 233).

Oleh karenanya, khusus berbicara tentang shalat Jum’at, mengawali dengan wudhu yang sempurna, dan kemudian mendatangi masjid, mendengarkan khutbahnya, tidak berbicara sepatah kata pun, tidak memain-mainkan sesuatu di tangannya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya antara Jum’at ditambah tiga hari lagi (sepuluh hari), subhanallah(Lihat Shahih Muslim No. 857).

Begitupun wudhu yang sempurna yang dilakukannya dengan menghemat air wudhu’, tidak boros dalam penggunaan nya, penuh niat yang bersih mengharapkan terhapusnya dosa, melahirkan kebaikan yang sempurna.

Saat ia membasuh wajahnya, keluar dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan oleh kedua matanya karena melihat sesuatu yang diharamkan bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air yang terakhir.

Tatkala ia membasuh kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang diperbuat oleh kedua tangannya itu bersama air atau bersama-sama tetesan air yang terakhir sehingga dia akan keluar dalam keadaan bersih dari dosa.

Kemudian ketika ia membasuh kedua kakinya, maka akan keluar dosa yang diperbuat oleh kedua kakinya, bersama-sama dengan air atau bersama-sama dengan tetesan air yang terakhir, maka ia menyelesaikan wudhunya penuh dengan kebaikan, bersih dari dosa (Lihat Shahih Muslim No. 244).

Maka sempurnakanlah wudhu itu dengan memberikan hak dari setiap anggota tubuh, meskipun sulit terasa, karena derajat kebaikan manusia akan semakin tinggi dengannya (Lihat Shahih Muslim No. 215).

Masjid harus menjadi pusaran kebaikan manusia, maka seluruh manusia harus mencintai masjid, gemar memakmurkan masjid, dan memuliakannya dengah hadir pada waktu-waktu yang telah ditetapkan.

Dalam hal ini tidak perlu berharap memiliki rumah dekat dengan masjid, karena kebaikan justeru lebih banyak akan mengalir kepada mereka yang memiliki rumah yang lebih jauh dari masjid, sebagaimana dahulu Rasulullah Saw. pernah mengingatkan Bani Salimah untuk tidak melanjutkan rencana mereka untuk memindahkan pemukimannya lebih dekat ke masjid. Hal ini karena potensi kebaikan dari setiap langkah kakinya begitupun syi’ar selama perjalanannya akan menjadi berkurang (Lihat Shahih Muslim No. 665).

Maka sebagaimana disaksikan Abul Mundzir, Ubay bin Ka’ab r.a., tatkala ada seorang sahabat yang rumahnya terjauh dari masjid di masanya ditawari seekor keledai untuk memudahkannya ke masjid di waktu gelap dan terik matahari, ia mengatakan bahwa ia tidak menyenangi kalau rumahnya dekat ke masjid.

Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Qad jama’allaahu laka dzaalika kullahu”, Sesungguhnya Allah telah mencatat semua kebaikan itu bagimu (Shahih Muslim No. 663).

Biasakanlah merutinkan kebaikan yang telah kita mulai dengan kesungguhan niat, karena niscaya tatkala mengalami kesulitan yang dibenarkan syari’at (udzur syar’i) di suatu masa untuk melaksanakan kebaikan tersebut, Allah Swt. akan segera mengenalinya, dan tetap mencatatnya sebagai kebaikan, hanya karena ia terbiasa melakukannya di kala penuh kemudahan (Lihat Fathul Bari VI/136).

Wallahu A’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhlaq Islam

Seorang Mu’min Adalah Cermin

Oleh: Ust. Abdullah Haidir, Lc

Hadits:

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِِنِ

“Seorang mu’min, adalah cermin bagi orang beriman (lainnya),” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini mengandung pesan berharga dalam upaya membangun kepribadian.

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik dari ungkapan Rasulullah saw tersebut;

Seorang mu’min adalah cermin, itu artinya kita dapat melihat saudara-saudara di sekeliling kita sebagai bahan bercermin.

Jika cermin yang sering kita gunakan bersih dari noda, maka kita akan cepat menangkap segala kekurangan yang kita miliki.
Namun, jika cermin yang sering kita gunakan buram, maka sulitlah kita menangkap dan menyadari kekurangan dan aib pada kita.

Bahkan bisa jadi kekurang an tersebut justeru dianggap sebagai penghias diri.

Seseorang yang sering berinteraksi dengan mereka yang dekat dengan Al-Quran, misalnya, baik dalam hal membaca atau memahaminya, maka dia akan segera menyadari kekurangannya jika interaksinya dengan Al-Quran minim.
Tapi lain halnya jika interaksinya dengan orang yang jauh dari Al-Quran, bisa-bisa dia sudah merasa paling hebat dengan ‘keminimannya’ tersebut.

Begitulah hal tersebut berlaku untuk kasus lainnya.

Di sini, kita dapat menangkap salah satu makna pesan Rasulullah saw lainnya UNTUK SELALU DEKAT DENGAN ORANG-ORANG SALEH.

Agar mudah mendapatkan cermin yang jernih untuk melihat kekurangan diri.

Seorang mu’min adalah cermin, itu artinya dia dapat menjadi cermin bagi orang lain.

Maka kebaikan atau keburukan yang dia lakukan bukan hanya dinilai untuk dirinya sendiri, tapi juga dinilai dari sejauh mana perbuatan tersebut menjadi cermin dan panutan yang lain.

Jika dia berbuat dosa dan maksiat, jangan hanya dilihat dari sisi besarnya dosa tersebut, tapi juga dilihat dari sisi bahwa hal tersebut akan menjadi panutan dan contoh bagi yang lainnya, khususnya jika dia merupakan figure yang diikuti, seperti orang tua, guru, pejabat, atasan, dll.
Sebaliknya pula dengan kebaikan.

Intinya adalah, gemarlah berbuat baik, dan jauhilah perbuatan buruk, karena anda adalah cermin!

Seorang mu’min adalah cermin. Itu artinya, kita dapat menilai kualitas diri kita dari sikap dan tindakan orang lain kepada kita.

Seberapa besar pengaruh kebaikan yang kita pancarkan, sebesar itu pula kurang lebih sikap dan tindakan orang lain kepada kita.

Sebaliknya yang terjadi jika pancaran keburukan yang kita tebarkan. Begitulah yang umumnya terjadi.

Meskipun tidak dipungkiri jika ada orang yang membenci kebaikan kita atau menyenangi keburukan kita, namun hal tersebut merupakan pengecualian.

Sering kita pandai menunjuk diri kita mana- kala kita mendapatkan perlakuan baik dari orang, tapi kita lupa menunjuk diri kita jika mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain.

Padahal sangat mungkin itu juga buah dari sikap kita, sedikit atau banyak, langsung atau tidak langsung.

Seorang ulama pernah berkata, “Jika isteri saya sudah mulai membangkang dan kuda saya sudah mulai sulit dikendalikan, saya segera merasa ketika itu, derajat ketakwaan saya sedang menurun.”

Wallahua’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doakan Selalu Orang Tua Kita

Mengusap Wajah Setelah Berdoa?

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Masalah ini telah diperlisihkan para imam kaum muslimin, bahkan sejak masa sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum. Sebagian membolehkan bahkan menyunnahkan karena ada riwayat yang bisa dipertanggungjawabkan dari sebagian sahabat seperti Ibnu Umar, Ibnu Az Zubeir, dan Al Hasan, yang melakukan hal itu. Sebagian lain melarang itu, bahkan menyebutnya bid’ah dan kebodohan, karena tidak memiliki dasar yang kuat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Masalah perbedaan ini tidak boleh dijadikan sebab berpecahnya umat Islam, karena memang telah terjadi perselisihan ini sejak masa-masa terdahulu.

Kali ini yang kami lakukan adalah hanya memaparkan saja fatwa-fatwa para imam tersebut, tidak pada posisi menguatkan atau melemahkan salah satunya. Sebagian di antara imam ini ada yang menyunahkan dan membolehkan, ada pula yang tidak menganjurkan bahkan membid’ahkan mengusap wajah setelah doa. Jika Anda melakukannya, maka para salaf ada yang melakukannya. Jika Anda meninggalkannya maka para salaf juga ada yang meninggalkannya.

Kami bagi menjadi dua bagian, bagian pertama adalah pihak yang tidak menganjurkan bahkan membid’ahkan. Lalu bagian kedua adalah pihak yang membolehkan bahkan menyunnahkan.

Para ulama yang tidak menganjurkan bahkan membid’ahkan

1. Imam Sufyan Ats Tsauri Radhiallahu ‘Anhu

Tertulis dalam kitab Mukhtashar Kitab Al Witr:

وسئل عبد الله رضي الله عنه عن الرجل يبسط يديه فيدعو ثم يمسح بهما وجهه فقال كره ذلك سفيان

Abdullah -yakni Abdullah bin Al Mubarak- ditanya tentang seorang laki-laki menengadahkan kedua tangannya dia berdoa, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Beliau menjawab: “Sufyan memakruhkan hal itu.” (Mukhtashar Kitab Al Witr, Hal. 162)

2. Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu

Imam Ahmad bin Ali Al Muqrizi menceritakan:

وسئل مالك رحمه الله تعالى عن الرجل يمسح بكفيه وجهه عند الدعاء فأنكر ذلك وقال: ما علمت

Imam Malik Rahimahullah ditanya tentang seorang laki-laki yang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya ketika berdoa, lalu dia mengingkarinya, dan berkata: “Aku tidak tahu.” (Mukhtashar Kitab Al Witri, Hal. 152)

3. Imam Abdullah bin Al Mubarak Radhiallahu ‘Anhu

Imam Al Baihaqi meriwayatkan dalam As Sunan Al Kubra:

عَلِىُّ الْبَاشَانِىُّ قَالَ : سَأَلَتُ عَبْدَ اللَّهِ يَعْنِى ابْنَ الْمُبَارَكِ عَنِ الَّذِى إِذَا دَعَا مَسَحَ وَجْهَهُ ، قَالَ : لَمْ أَجِدْ لَهُ ثَبَتًا. قَالَ عَلِىٌّ : وَلَمْ أَرَهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ. قَالَ : وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَقْنُتُ بَعْدَ الرُّكُوعِ فِى الْوِتْرِ ، وَكَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ

Ali Al Basyani berkata: Aku bertanya kepada Abdullah –yakni Abdullah bin Al Mubarak- tentang orang yang jika berdoa mengusap wajahnya, Beliau berkata: “Aku belum temukan riwayat yang kuat.” Ali berkata: “Aku tidak pernah melihatnya melakukannya.” Aku melihat Abdullah melakukan qunut setelah ruku dalam witir, dan dia mengangkat kedua tangannya. (As Sunan Al Kubra No. 2970)

Imam Ibnul Mulaqin mengutip dari Imam Al Baihaqi sebagai berikut:

ثمَّ رَوَى بِإِسْنَادِهِ عَن ابْن الْمُبَارك أَنه سُئِلَ عَن مسح الْوَجْه إِذا دَعَا الْإِنْسَان قَالَ : لم أجد لَهُ شَاهدا . هَذَا آخر كَلَام الْبَيْهَقِيّ

Kemudian Beliau (Al Baihaqi) meriwayatkan dengan isnadnya, dari Ibnul Mubarak bahwa dia ditanya tentang mengusap wajah jika manusia berdoa, Beliau menjawab: “Saya belum temukan syahid-(hal yang menguatkan)nya.” Inilah akhir ucapan Al Baihaqi (Imam Ibnul Mulqin, Al Badrul Munir, 3/640)

4. Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu

Imam Ibnul Mulaqin Rahimahullah menuliskan:

وَقَالَ أَحْمد : لَا يعرف هَذَا أَنه كَانَ يمسح وَجهه بعد الدُّعَاء إِلَّا عَن الْحسن

Berkata Imam Ahmad: “Tidak diketahui hal ini, tentang mengusap wajah setelah doa, kecuali dari Al Hasan.” (Ibid, 3/639)

5. Imam Al Baihaqi Rahimahullah

Beliau berkata:

فأما مسح اليدين بالوجه عند الفراغ من الدعاء فلست أحفظه عن أحد من السلف في دعاء القنوت وإن كان يروي عن بعضهم في الدعاء خارج الصلاة وقد روي فيه عن النبي صلى الله عليه و سلم حديث فيه ضعف وهو مستعمل عند بعضهم خارج الصلاة وأما في الصلاة فهو عمل لم يثبت بخبر صحيح ولا أثر ثابت ولا قياس فالأولى أن لا يفعله ويقتصر على ما فعله السلف رضي الله عنهم من رفع اليدين دون مسحهما بالوجه في الصلاة وبالله التوفيق

Ada pun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai doa, maka tak ada satu pun yang saya hafal dari kalangan salaf yang melakukan pada doa qunut, kalau pun ada adalah riwayat dari mereka pada doa di luar shalat. Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hadits dhaif tentang masalah ini. Sebagian mereka menggunakan hadits ini untuk berdoa di luar shalat, ada pun dalam shalat itu adalah perbuatan yang tidak dikuatkan oleh riwayat yang shahih, tidak pula atsar yang kuat, dan tidak pula qiyas. Maka, yang lebih utama adalah tidak melakukannya, dan hendaknya mencukupkan dengan apa yang dilakukan para salaf –Radhiallahu ‘Anhum- berupa mengangkat kedua tangan tanpa mengusap wajah dalam shalat. Wa billaahit taufiq. (As Sunan Al Kubra No. 2968)

6. Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam Rahimahullah

Imam Al Munawi Rahimahullah menyebutkan dari Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam, kata Beliau:

لا يمسح وجهه إلا جاهل

Tidak ada yang mengusap wajah melainkan orang bodoh. (Faidhul Qadir, 1/473. Lihat juga Mughni Muhtaj, 2/360)

7. Imam An Nawawi Rahimahullah

Imam An Nawawi menyatakan yang benar adalah berdoa mengangkat kedua tangan tetapi tanpa mengusap wajah, berikut ini ucapannya:

والحاصل لاصحابنا ثلاثة أوجه (الصحيح) يستحب رفع يديه دون مسح الوجه (والثاني) لا يستحبان (والثالث) يستحبان وأما غير الوجه من الصدر وغيره فاتفق أصحابنا علي أنه لا يستحب بل قال ابن الصباغ وغيره هو مكروه والله أعلم

Kesimpulannya, para sahabat kami (Syafi’iyah) ada tiga pendapat; (yang shahih) disunnahkan mengangkat kedua tangan tetapi tanpa mengusap wajah, (kedua) tidak disunnahkan keduanya, (ketiga) disunnahkan keduanya. Ada pun selain wajah, seperti dada dan selainnya, para sahabat kami sepakat bahwa hal itu tidak dianjurkan, bahkan Ibnu Ash Shabagh mengatakan hal itu makruh. Wallahu A’lam (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/501)

8. Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Beliau berkata:

وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ: فَقَدْ جَاءَ فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ، وَأَمَّا مَسْحُهُ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ فَلَيْسَ عَنْهُ فِيهِ إلَّا حَدِيثٌ، أَوْ حَدِيثَانِ، لَا يَقُومُ بِهِمَا حُجَّةٌ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Ada pun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangan ketika berdoa, hal itu telah diterangkan dalam banyak hadits shahih, sedangkan mengusap wajah dengan kedua tangannya, maka tidak ada yang menunjukkan hal itu kecuali satu hadits atau dua hadits yang keduanya tidak bisa dijadikan hujjah. Wallahu A’lam (Al Fatawa Al Kubra, 2/219, Majmu’ Al Fatawa, 22/519, Iqamatud Dalil ‘Ala Ibthalit Tahlil, 2/408)

9. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah

Berikut fatwa ini Beliau:

السؤال: ذكرتم حكم رفع اليدين في الدعاء، فما القول في مسح الوجه بهما؟ الجواب: لم يثبت، وقد ورد فيه أحاديث ضعيفة، والسنة أن ترفع الأيدي ثم تنزل بدون مسح

Pertanyaan:

Anda telah menyebutkan hukum tentang mengangkat kedua tangan ketika doa, lalu apa pendapat Anda tentang mengusap wajah dengan keduanya?

Jawaban:

Tidak shahih, hadits-hadits yang ada tentang hal itu adalah lemah, dan sunnahnya adalah Anda mengangkat kedua tangan kemudian menurunkannya dengan tanpa mengusap wajah. (Syarh Sunan Abi Daud, 15/145)

Pada halaman lain juga tertulis demikian:

السؤال: هل ننكر على من يمسح وجهه بعد الدعاء؟ الجواب: لم ترد في هذا سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فيبين لمن يعمل ذلك أنه ما ثبت في هذا شيء، إنما الثابت هو رفع اليدين، وأما مسح الوجه باليدين بعد الدعاء فقد وردت فيه أحاديث ضعيفة

Pertanyaan:

Apakah kita mesti mengingkari orang yang mengusap wajahnya setelah berdoa?

Jawaban:

Tidak ada sunah yang valid dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang masalah ini, maka hendaknya dijelaskan kepada orang yang melakukannya bahwa hal itu tidak ada satu pun yang kuat haditsnya. Yang kuat adalah mengangkat kedua tangan, ada pun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa telah ada hadits-hadits lemah yang membicarakannya. (Ibid, 15/474)

10. Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah

Beliau berkata:

وأما مسح الوجه عقب الدعاء فلم يثبت فيه حديث صحيح ، بل إن بعض أهل العلم نصوا على بدعيته انظر معجم البدع (ص 227)

فلا تفعل أنت البدعة ولا تُشارك فيها ولكن انصح وأمر بالسنّة وذكّر النّاس وأخبرهم بالحكم الشّرعي

Ada pun mengusap wajah setelah berdoa, tidak ada hadits kuat lagi shahih tentang hal itu, bahkan sebagian ulama ada yang menyebutkan bid’ahnya hal itu. Lihat Mu’jam Al Bida’ (Hal. 227).

Maka, jangan Anda lakukan bid’ah, dan jangan berpartisipasi di dalamnya, tetapi hendaknya menasihatkan dan memerintahkan dengan sunah, serta mengingatkan manusia dan mengabarkan mereka terhadap hukum-hukum syar’i. (Fatawa Al Islam Sual wa Jawab, Hal. 5538)

11. Fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah

Beliau berkata:

وأما مسح الوجه بعد الدعاء فمسألة خلافية بين العلماء، منهم من استحبه ومنهم من منعه، والأمر واسع في ذلك وإن كنا نرجح من باب الورع عدم المسح، لأن الحديث الوارد في المسح لا يخلو من كلام، ولعدم اشتهار ذلك عند السلف. والله أعلم

Ada pun mengusap wajah setelah doa, maka ini adalah persoalan yang diperselisihkan para ulama. Di antara mereka ada yang menyunahkannya dan ada pula yang melarangnya. Dan, masalah ini adalah masalah yang lapang. Sedangkan kami menguatkan diri sisi kehati-kehatian untuk tidak mengusap, karena hadits-hadits yang ada dalam masalah ini tidak kosong dari perbincangan para ulama, serta tidak ada yang masyhur dari kalangan salaf yang melakukan hal ini. Wallahu A’lam (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 36932)

12. Fatwa Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi Rahimahullah

Berikut ini fatwanya:

سئل الشيخ : ما حكم مسح الوجه باليدين بعد الانتهاء من الدعاء وهل ورد فيه حديث عن النبى صلى الله عليه وسلم ؟

فقال الشيخ – رحمه الله – : ليس مسح الوجه بعد الدعاء من السنة بل هو بدعة لان مسح الوجه باليدين عقب دعاء يعتبر نسك وعبادة وهو لم يثبت ان النبي صلى الله عليه وسلم فعله فيكون بدعة فى الدين والحديث الذى ورد فى هذا ضعيف ولم يصح

Syaikh ditanya: Apa hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa, apakah ada hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang ini?

Syaikh Rahimahullah menjawab:

Mengusap wajah setelah berdoa bukan termasuk sunah, bahkan itu adalah bid’ah, karena mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa telah dianggap sebagai ibadah. Hal itu tidak ada yang shahih dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka itu adalah bid’ah dalam agama. Sedangkan hadits yang membicarakan ini adalah lemah dan tidak shahih. (Fatawa Asy Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, Hal. 315)

13. Fatwa Syaikh Sulaiman bin Wail At Tuwaijiri

Beliau berkata:

مسح الوجه بعد الدعاء ورد فيه أحاديث، ورجال الجرح والتعديل طعنوا فيها، فهي لا ترتقي إلى درجة العمل بها، ويبقى الأمر على ما هو الأصل فيه وهو عدم المسح؛ لأن الأحاديث الواردة في المسح ليست بصحيحة، ولا ترتقي إلى درجة الاحتجاج بها. انظر مثلاً ما رواه أبو داود (1485)، وابن ماجة (1181) من حديث ابن عباس -رضي الله عنهما- بإسناد ضعيف

Telah datang sejumlah hadits tentang mengusap wajah setelah doa, dan para ulama Al Jarh wat Ta’dil telah mengkritiknya, sehingga hadits tersebut tidak terangkat mencapai derajat yang layak diamalkan, jadi masalah ini dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu tidak mengusap wajah, karena hadits-hadits tentang mengusap wajah tidak ada yang shahih, dan tidak terangkat sampai derajat yang bisa dijadikan hujjah. Lihat misalnya riwayat Abu Daud (1485), Ibnu Majah (1181) dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, dengan isnad yang dhaif. (Fatawa Istisyaraat Al Islam Al Yaum, 14/224)

Para Ulama Yang Membolehkan dan Menyunahkan

1. Sahabat nabi, Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Zubeir Radhiallahu ‘Anhuma

Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Adabul Mufrad:

عن أبى نعيم وهو وهب قال : رأيت بن عمر وبن الزبير يدعوان يديران بالراحتين على الوجه

Dari Abu Nu’aim –dia adalah Wahb, berkata: “Aku melihat Ibnu Umar dan Ibnu Az Zubeir mereka mengusap wajah dengan telapak tangannya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 609. Dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Amali Al Adzkar. Lihat Al Fatawa Al Haditsiyah, Hal. 55. Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkannya. Lihat Dhaif Adabil Mufrad No. 609)

2. Imam Al Hasan bin Abil Hasan Radhiallahu ‘Anhu

Disebutkan dalam Mukhtashar Kitab Al Witr:

وعن المعتمر رأيت أبا كعب صاحب الحرير يدعو رافعا يديه فإذا فرغ من دعائه يمسح بهما وجهه فقلت له من رأيت يفعل هذا فقال الحسن

Dari Al Mu’tamar: aku melihat Abu Ka’ab pengarang Al Harir berdoa dengan mengangkat kedua tangannya, lalu ketika dia selesai berdoa, dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu aku bertanya kepadanya: “Siapa orang yang kau lihat melakukan ini?” Beliau menjawab: “Al Hasan.” (Imam Ahmad bin Ali Al Muqrizi, Mukhtashar Kitab Al Witr, Hal. 152)

Imam As Suyuthi mengatakan: “isnadnya hasan.” (Lihat Fadhul Wi’a, No. 59)

3. Imam Ishaq bin Rahawaih Radhiallahu ‘Anhu

Beliau termasuk yang menganggap baik menggunakan hadits-hadits tentang mengusap wajah setelah doa sebagai dalilnya. Berikut ini keterangannya:

قال محمد بن نصر ورأيت إسحاق يستحسن العمل بهذه الأحاديث

Berkata Muhammad bin Nashr: Aku melihat Ishaq menganggap baik beramal dengan hadits-hadits ini. (Ibid)

4. Imam Al Khathabi Rahimahullah

Beliau mengomentari perkataan yang menyebut “bodoh” orang yang mengusap wajah setelah berdoa, katanya:

وَقَوْل بَعْضِ الْفُقَهَاءِ فِي فَتَاوِيهِ : وَلاَ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ عَقِبَ الدُّعَاءِ إِلاَّ جَاهِلٌ ، مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَطَّلِعْ عَلَى هَذِهِ الأْحَادِيثِ

Pendapat sebagian fuqaha dalam fatwa mereka adalah tidaklah mengusap wajah dengan kedua tangannya setelah berdoa melainkan orang bodoh, bisa jadi bahwa dia belum menelaah masalah ini dalam banyak hadits. (Al Futuhat Ar Rabbaniyah ‘Alal Adzkar, 7/258)

5. Imam Az Zarkasyi Rahimahullah

Beliau juga mengomentari perkataan Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam dengan komentar yang mirip dengan Imam Al Khathabi. Katanya:

وأما قول العز في فتاويه الموصلية: مسح الوجه باليد بدعة في الدعاء لا يفعله إلا جاهل, فمحمول على أنه لم يطلع على هذه الأحاديث وهي وإن كانت أسانيدها لينة لكنها تقوى باجتماع طرقها

Ada pun perkataan Al ‘Izz dalam fatwanya: mengusap wajah dengan tangan adalah bid’ah dalam doa, dan tidak ada yang melakukannya kecuali orang bodoh, maka dimungkinkan bahwa dia belum mengkaji hadits-hadits yang berkenaan masalah ini, walaupun sanad-sanadnya lemah tetapi menjadi kuat dengan mengumpulkan banyak jalurnya. (Al Juz’u fi mashil wajhi, Hal. 26)

6. Imam Amir Ash Shan’ani Rahimahullah

Beliau berkata:

وعن عمر رضي الله عنه قال: “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا مد يديه في الدعاء لم يردهما حتى يمسح بهما وجهه” أخرجه الترمذي وله شواهد منها حديث ابن عباس عند أبي داود وغيره ومجموعها يقضي بأنه حديث حسن وفيه دليل على مشروعية مسح الوجه باليدين بعد الفراغ من الدعاء

Dari Umar Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika mengangkat kedua tangannya dalam berdoa, dia tidak akan mengembalikannya sampai mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.” Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan memiliki beberapa syawahid (saksi penguat), di antaranya adalah hadits dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya. Kumpulan semuanya mencukupi hadits ini dihukumi hasan. Pada hadits ini terdapat dalil disyariatkannya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan setelah selesai shalat. (Subulus Salam, 4/219, Maktabah Mushthafa Al Baabi Al Halabi)

7. Lajnah Ulama penyusun kitab Al Fatawa Al Hindiyah

Mereka mengatakan:

قِيل مَسْحُ الْوَجْهِ بِالْيَدَيْنِ لَيْسَ بِشَيْءٍ ، وَكَثِيرٌ مِنْ مَشَايِخِنَا اعْتَبَرُوا مَسْحَ الْوَجْهِ هُوَ الصَّحِيحَ وَبِهِ وَرَدَ الْخَبَرُ

Dikatakan bahwa mengusap wajah dengan kedua tangan adalah bukan apa-apa. Banyak guru-guru kami yang menyebutkan bahwa mengusap kedua tangan adalah benar adanya, dan telah ada riwayat tentang itu. (Al Fatawa Al Hindiyah, 5/318)

8. Syaikh Abul ‘Ala Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri Rahimahullah

Beliau berkata dalam kitabnya Tuhfah Al Ahwadzi:

أي لم يضعهما ( حتى يمسح بهما وجهه ) قال بن الملك وذلك على سبيل التفاؤل فكأن كفيه قد ملئتا من البركات السماوية والأنوار الإلهية

Yaitu Beliau tidak meletakkan kedua tangannya (sampai Beliau mengusap wajahnya dengan keduanya) berkata Ibnul Malak hal itu menunjukkan rasa optimis yang kuat seakan kedua telapak tangannya telah dipenuhi oleh keberkahan dari langit dan cahaya ketuhanan. (Tuhfah Al Ahwadzi, 9/232. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

9. Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah:

Fatwa pertama:

والسؤال هو : ما حكم مسح الوجه باليدين بعد الدعاء وخاصة بعد دعاء القنوت وبعد النوافل ؟ حفظكم الله وأثابكم ، والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

ج : وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

بعده : حكمه أنه مستحب ؛ لما ذكره الحافظ في البلوغ في باب الذكر والدعاء ، وهو آخر باب في البلوغ أنه ورد في ذلك عدة أحاديث مجموعها يقضي بأنه حديث حسن ، وفق الله الجميع والسلام عليكم.

Pertanyaan:

Apa hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa, khususnya setelah doa qunut dan setelah nawafil (shalat sunah)? Semoga Allah menjaga dan memberikan ganjaran buat Anda. Wassalamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Jawaban:

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Hukumnya adalah sunah, sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafizh (Ibnu Hajar) dalam Bulughul Maram pada Bab Adz Dzikr wad Du’a, yaitu pada bab terakhir kitab Bulughul Maram, bahwasanya terdapat beberapa hadits tentang itu yang jika dikumpulkan semuanya mencapai derajat hasan. Semoga Allah memberi taufiq. Wassalamu ‘Alaikum.

(Lihat Majmuu’ Fatawaa Ibni Baaz, 26/148)

Fatwa kedua: (Jawaban Syaikh Ibnu Baaz agak berbeda dengan fatwa pertama)

وأما مسح الوجه فلم يحفظ في الأحاديث الصحيحة، ولكن جاء في أحاديثها ضعف فذهب بعض أهل العلم بأنه لا مانع من ذلك؛ لأنها يشد بعضها بعضا ، ويقوي بعضها بعضا إذا مسحه، فلا بأس، لكن الأفضل والأولى الترك؛ لأن الأحاديث الصحيحة ليس فيها مسح بعد الدعاء

Ada pun mengusap wajah, tidak ada yang terekam dalam hadits-hadits shahih, tetapi adanya dalam hadits-hadits dhaif. Pendapat sebagian ulama adalah bahwa hal itu tidak terlarang, karena hadits tersebut satu sama lain saling menguatkan, jadi jika dia mengusapnya tidak apa-apa, tetapi lebih utama dan pertama adalah meninggalkannya, karena hadits-hadits shahih tidak menyebutkan mengusap wajah setelah doa. (Lihat Majmuu’ Fatawaa Ibni Baaz, 30/43-44)

Sebelumnya beliau menyatakan sunah, namun yang ini menyatakan tidak apa-apa, tetapi lebih baik ditinggalkan.

10. Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

Fatwa pertama:

هل يسن مسح الوجه باليدين بعد الدعاء أم أن هذا بدعة؟

فأجاب رحمه الله تعالى: اختلف أهل العلم في هذا فمنهم من قال إنه ينبغي إذا فرغ من الدعاء وهو رافعٌ يديه أن يمسح بهما وجهه واستدلوا بحديث ضعيف لكن قال ابن حجر رحمه الله له طرقٌ يقوي بعضها بعضاً ومجموعها يقضي بأنه حديثٌ حسن ومن العلماء من قال إنه لا يمسح وجهه بيديه والأحاديث في هذا ضعيفة فيكون مسحه بيديه بدعة وإلى هذا ذهب شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله وأرى أنه لا ينكر على من مسح ولا يؤمر بمسح من لم يمسح

Apakah disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa ataukah itu perbuatan bid’ah?

Jawaban Syaikh Rahimahullah:

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Di antara mereka ada yang menganjurkan jika selesai doa dan dia dalam keadaan mengangkat kedua tangannya, hendaknya mengusap wajahnya dengan keduanya. Mereka berdalil dengan hadits dhaif tetapi Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan bahwa hadits tersebut memiliki beberapa jalan yang saling menguatkan satu sama lain, dan kumpulan semuanya telah mencukupi hadits itu menjadi hasan.

Di antara ulama ada yang mengatakan tidak usah mengusap wajah dengan kedua tangan, dan hadits-hadits dalam masalah ini dhaif, maka mengusap wajah dengan kedua tangan adalah bid’ah. Inilah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Saya berpendapat hendaknya jangan diingkari orang yang mengusap wajahnya, dan tidak pula diperintahkan untuk mengusap wajah bagi orang yang tidak mengusapnya. (Selesai fatwa pertama).

Fatwa kedua:

ما حكم مسح اليدين على الوجه بعد الدعاء؟

فأجاب رحمه الله تعالى: الصحيح أنه لا يسن مسح الوجه بهما لأن الأحاديث الواردة في ذلك ضعيفة جدا لا تقوم بها حجة ولا يلتئم بعضها ببعض فالصواب أن مسح الوجه باليدين بعد الدعاء ليس بسنة ولكن الإنسان لا يفعله ولا ينكر على من فعله لأن بعض العلماء استحبه

Apakah hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa?

Jawaban Syaikh Rahimahullah:

Yang benar adalah tidak disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan, karena hadits-hadits yang berkenaan hal itu sangat lemah (dhaif jiddan). Tidak bisa berhujjah dengannya dan tidak dapat dikumpulkan satu sama lainnya. Jadi, yang benar adalah mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa adalah bukan sunah. Tetapi manusia tidak melakukannya, dan jangan diingkari orang yang melakukannya, karena sebagian ulama ada yang menyunahkannya. (selesai fatwa kedua)

(Lihat keduanya dalam Fatawaa Nuur ‘Alad Darb Lil Utsaimin, Kitab Fatawa Mutafariqaat, Bab Ad Du’a, Hal. 50)

Fatwa ketiga:

السؤال

ما حكم مسح الوجه باليدين بعد الدعاء؟

الجواب

يرى بعض أهل العلم أنه من السنة، ويرى شيخ الإسلام أنه من البدعة، وهذا بناءً على صحة الحديث الوارد في هذا، والحديث الوارد في هذا قال شيخ الإسلام : إنه موضوع.

يعني: مكذوب على الرسول صلى الله عليه وسلم.

والذي أرى في المسألة: أن من مسح لا ينكر عليه، ومن لم يمسح لا ينكر عليه، وهو أقرب إلى السنة ممن مسح.

Pertanyaan:

Apa hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa?

Jawaban:

Sebagian ulama berpendapat hal itu sunah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat itu adalah bid’ah. Perbedaan ini terjadi karena terkait keshahihan hadits yang ada tentang masalah ini. Hadits yang ada menurut Syaikhul Islam adalah palsu (maudhu’), yakni dusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Saya berpendapat dalam masalah ini bahwa mengusap wajah jangan diingkari, dan orang yang tidak mengusap wajah juga jangan diingkari, inilah sikap yang lebih dekat dengan sunah terhadap orang yang mengusap wajahnya. (Selesai fatwa ketiga)

(Lihat Liqaa’ Al Baab Al Maftuuh, 197/27)

11. Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin Rahimahullah

Beliau berkata ketika ditanya hukum mengusap wajah setelah berdoa:

أما مسألة مسح الوجه فقد ورد فيها أحاديث لا تخلو من مقال، وإن كان مجموعها حسناً، فقد حسنها الحافظ ابن حجر ، بمجموعها لا بأفرادها، يقول الحافظ رحمه الله: إنها تبلغ درجة الحسن كما نبه على ذلك في آخر بلوغ المرام، لكن ورد العمل بها عن الصحابة وعن الأئمة وعن التابعين وعلماء الأمة، فورد أنهم كانوا يرفعون أيديهم ثم يمسحون بها وجوههم، فأصبح العمل بها من الصحابة دليل على أنهم تأكدوا من مشروعية ذلك

Adapun pertanyaan tentang mengusap wajah, telah terdapat beberapa hadits tentang hal itu namun tidak sepi dari pembicaraan ulama, yang jika semuanya dikumpulkan hadits tersebut menjadi hasan. Al Hafizh Ibnu Hajar telah menghasankannya, dengan terkumpulnya hadits itu bukan secara satu-satu. Berkata Al Hafizh Rahimahullah: “Sesungguhnya hadits tersebut telah sampai derajat hasan,” sebagaimana yang Beliau kabarkan pada akhir kitab Bulughul Maram. Namun, telah sampai kabar bahwa hal itu dilakukan oleh para sahabat, para imam, para tabi’in, dan ulama umat. Telah warid (datang) berita bahwa mereka mengangkat kedua tangan lalu mengusap wajah mereka dengan kedua tangan mereka. Maka, para sahabat telah melakukan perbuatan ini, dan itu menjadi dalil bahwa mereka menguatkan disyariatkannya perbuatan ini. (Syarh ‘Umdatul Ahkam, 21/37)

Demikian. Semoga bermanfaat.

Wa Shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

SURAT AL-IKHLAS (Bag-2)

Oleh: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

materi sebelumnya bisa dilihat di 👇🏻

SURAT AL-IKHLAS (Bag-1)

TEMA

Tema surat Al-Ikhlas adalah:

تَفَرُّدُ اللهِ تَعَالَى بِالْكَمَالِ وَالْأُلُوْهِيَّةِ، وَتَنَزُّهُهُ عَنِ النَّقْصِ

Keesaan Allah ta’ala dalam segala sifat kesempurnaan dan uluhiyah, dan kesucianNya dari segala kekurangan.

AYAT 1

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa

Diawalinya surat ini dengan “Qul” (Katakanlah) merupakan isyarat bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan firman-Nya apa adanya.

Ada lima surat di dalam Al-Quran yang diawali dengan “Qul” yaitu: Surat Al-Jin, Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Tiga surat pertama terkait hal-hal khusus yang harus disampaikan, dan dua surat terakhir terkait permohonan perlindungan khusus yang harus dilafalkan. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/580-581).

Kata “Allah” adalah nama-Nya subhanahu wata’ala yang menghimpun segala Nama dan Sifat kesempurnaan-Nya, serta tidak boleh digunakan sebagai nama makhluk, seperti juga Ar-Rahman. Oleh karena itu, Dia menggunakan Nama Agung ini saat memperkenalkan diri-Nya kepada Nabi Musa alaihissalam:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (QS. Thaha: 14).

Setelah perintah untuk memperkenalkan nama-Nya yang teragung, Allah menyebutkan Nama-Nya yang menafikan persekutuan dan segala bentuk keberbilangan, yaitu Ahad.

Makna Al-Ahad adalah:

اَلْمُنْفَرِدُ بِالْكَمَالِ

Yang Esa dalam segala kesempurnaan.

Maha Esa secara mutlak dalam segala kesempurnaan, baik dalam Dzat, hakikat Nama, Sifat dan Perbuatan-Nya, semua Maha Sempurna. (Tafsir As-Sa’di, Abdurrahman As-Sa’di, hlm 937)

AYAT 2

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Ash-Shamad.

Kata “Allah” diulang – tanpa kata ganti – untuk menunjukkan bahwa hanya Allah yang memiliki sifat Al-Ahadiyah, maka yang tidak memiliki sifat keesaan mutlak ini tidak berhak disembah dan diibadahi.

Ayat pertama dan kedua tidak dipisahkan dengan kata sambung apapun, karena ayat kedua bagaikan natijah (buah/konsekuensi) dari ayat pertama, maksudnya: Allah yang memiliki sifat Al-Ahadiyah dan Al-Uluhiyah pastilah memiliki sifat Ash-Shamadiyah. (Fath Al-Qadir, Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, 5/634).

Makna Ash-Shamad adalah:

الْمَقْصُودُ فِي الْحَوَائِجِ عَلَى الدَّوَامِ

Yang dituju oleh semua makhluk dalam memenuhi segala keperluan mereka terus menerus tanpa henti. (Tafsir Al-Jalalain, Jalaluddin Al-Mahalli & Jalaluddin As-Suyuthi, hlm 826).

Penjelasan seperti ini dengan redaksi yang sedikit berbeda juga diriwayatkan oleh Ikrimah dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. (Tafsir Ibnu Katsir, Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir, 8/528).

Sedangkan Allah tak sedikitpun memerlukan makhluk-Nya karena Dia Maha Mengetahui yang sempurna pengetahuan-Nya, Maha Kaya yang sempurna kekayaan-Nya, Maha Pengasih dan Penyayang yang sempurna kasih sayang-Nya, Maha Kuat dan Perkasa yang sempurna kekuatan dan keperkasaan-Nya…

Karena itulah, Dia menjadi satu-satunya yang berhak disembah dan diibadahi.

Diantara ulama, ada yang berpendapat bahwa ayat berikutnya adalah penjelasan makna Ash-Shamad, yakni Ikrimah, Abul ‘Aliyah, Muhammad bin Ka’ab, dan Ar-Rabi’ bin Anas rahimahumullah. (Tafsir Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, 24/691-692; Tafsir Ibnu Katsir, 8/528).

AYAT 3

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

Diantara tanda keesaan-Nya adalah Dia tidak beranak, karena beranak menandakan ada zat yang berpisah dari Zat-Nya berupa keturunan. Anak pasti satu jenis dengan induk dan itu menunjukkan adanya kesamaan. Keturunan maupun kesamaan keduanya bertentangan dengan sifat keesaan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Allah juga mustahil dilahirkan, karena sesuatu yang dilahirkan berarti membutuhkan induk dan hal ini bertentangan dengan sifat Ash-Shamadiyah.

Mustahil Allah mempunyai anak karena Dia adalah Al-Ahad.

Dan mustahil Allah dilahirkan karena Dia adalah Ash-Shamad.

Ungkapan “tidak beranak” didahulukan dari pada “tidak dilahirkan”, karena penyimpangan keyakinan umat manusia adalah keyakinan mereka bahwa “Allah mempunyai anak”, dan tidak ada informasi berarti yang memberitakan ada keyakinan ummat beragama bahwa Allah itu dilahirkan. (Fath Al-Qadir, 5/634).

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?! (QS. At-Taubah: 30).

Allah subhanahu wata’ala tidak hanya menolak kebohongan bahwa Dia melahirkan, tetapi juga menolak anggapan bahwa Dia mengambil hamba-Nya – yang shalih sekalipun – sebagai anak, sebagaimana firman-Nya dalam kisah kelahiran Nabi Isa alaihissalam: bahwa kelahirannya tanpa ayah hanya untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang tiada batas, bahwa kekuasaan-Nya sama sekali tak terikat dengan hukum kausalitas (sebab akibat) yang biasa berlaku di alam yang diciptakanNya. Nabi Isa alaihissalam bukanlah anak-Nya dan tidak pula diangkat sebagai anak-Nya.

ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (34) مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (35) وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (36)

Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mengambil anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (QS. Maryam: 34-36).

Begitu pula firman-Nya dalam hadits qudsi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: قَالَ اللَّهُ: «كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لاَ أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ، فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ، فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا» (رواه البخاري)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
Allah berfirman: Anak Adam (manusia) telah mendustakanKu padahal ia tidak berhak atas hal itu, dan ia juga telah mencaciKu padahal ia tidak berhak atas hal itu. Ia mendustakanKu yaitu menganggap bahwa sesungguhnya Aku tak sanggup mengembalikannya seperti semula (setelah ia mati). Adapun caciannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku punya anak. Mahasuci Aku dari perbuatan mengambil istri atau anak. (HR. Al-Bukhari).

AYAT 4

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada untuk-Nya yang setara, siapapun/apapun.

Makna al-kufu adalah:

النَّظِيرُ

Yang setara atau sebanding.

“Tak ada untuk-Nya yang setara, siapapun/apapun”

Begitulah terjemahannya sesuai urutan kata pada ayat. Kata “kufu” (yang setara) didahulukan daripada kata “ahad” (siapapun atau apapun), karena yang ingin dinegasikan adalah kesetaraan itu sendiri, sementara siapapun atau apapun yang dianggap setara dengan Allah, apalagi yang menganggap dirinya setara dengan Allah tidak terlalu penting.

Ayat terakhir ini sebagai kesimpulan dari ayat-ayat sebelumnya. Bahwa Allah yang memiliki semua sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan yang disebutkan di ayat 1 sampai ayat 3, pastilah tidak dapat disetarakan dengan siapapun atau apapun dari ciptaan-Nya. (Fath Al-Qadir, 5/635).

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. Asy-Syura: 11).

KESIMPULAN

Surat Al-Ikhlas MENEGASKAN semua sifat kesempurnaan untuk Allah ta’ala dan MENEGASIKAN semua kekurangan.

1. Ayat pertama menegaskan sifat Al-Ahadiyah (keesaan mutlak) dan menegasikan keberbilangan.

2. Ayat kedua menegaskan sifat Ash-Shamadiyah (kesempurnaan kekayaan-Nya dalam segala hal) dan menegasikan keperluan-Nya kepada makhluk.

3. Ayat ketiga menegasikan bahwa Dia melahirkan untuk menegaskan sifat baqa-Nya (kekal).
Juga menegasikan kelahiran-Nya untuk menegaskan sifat azali-Nya (tak bermula).

4. Ayat keempat menegasikan kemiripan apalagi kesamaan dengan makhluk dalam hal apapun untuk menegaskan kembali keesaan-Nya, disamping keagungan dan keperkasaan-Nya.

والله أعلم بالصواب


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iman Islam

Pengantar Memahami Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Bag. 2)

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan SS.

Materi sebelunnya bisa dilihat di tautan berikut:

Pengantar Memahami Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Bag. 1)

3. As Sawadul A’zham (Kelompok besar/mayoritas)

Ini juga nama lain dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Imam Ibnu Rajab Rahimahullah dalam Fathul Bari, menuliskan:

وحكاه ابن شاهين عَن عامة أهل السنة ، قَالَ : وهم السواد الأعظم

“Ibnu Syahin menghikayatkan tentang semua Ahlus Sunnah, dia berkata: mereka adalah Sawadul A’zham.” (Imam Ibnu Rajab, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 5/200)

Nama ini ditegaskan langsung dalam beberapa hadits. Dari  Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا يجمع الله هذه الأمة على الضلالة  أبدا   وقال :   يد الله على الجماعة فاتبعوا السواد    الأعظم ، فإنه من شذ شذ في النار

“Tidaklah Allah kumpulkan umat ini dalam kesesatan selamanya.”

Dan beliau juga bersabda: “Tangan Allah atas jamaah, maka ikutilah As Sawadul A’zham, maka barangsiapa yang menyempal, maka dia menyempal ke neraka.” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, No. 391)

Hadits lain, dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اختلفت اليهود على احدى وسبعين فرقة سبعون فرقة في النار وواحدة في الجنة واختلف النصارى على اثنتين وسبعين فرقة إحدى وسبعون فرقة في النار وواحدة في الجنة وتختلف هذه الامة على ثلاثة وسبعين فرقة اثنتان وسبعون فرقة في النار وواحدة في الجنة فقلنا انعتهم لنا قال السواد الاعظم

“Yahudi berselisih menjadi 71 kelompok, 70 ke neraka dan satu ke surga. Nasrani juga berselisih menjadi 72 kelompok, 71 ke neraka dan satu ke surga. Dan Umat ini juga berselisih mejadi 73 kelompok, 72 ke neraka dan satu ke surga.”
Kami berkata: “Sifatkanlah mereka untuk kami?” Beliau bersabda: “As Sawadul A’zham”. (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabi No. 8051. Imam Al Haitsami mengatakan: rijal (perawi) hadits ini tsiqat (kredibel), Majma’ Az Zawaid, 6/234)

4. As Salafiyah (Yang Terdahulu)

Ini adalah istilah paling tenar setelah Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu sendiri.

Istilah ini diinspirasikan dari hadits Aisyah Radhiallahu ‘Anha berikut, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

وَنِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

“Aku adalah sebaik-baiknya salaf (pendahulu) bagimu.” (HR. Muslim No. 2450. Ibnu Majah No. 1621,  Ahmad No.  26413)

Dalam Al Quran pun ada istilah ‘salaf’ namun tidak ada kaitan sama sekali dengan ‘komunitas’ dan pemikiran aqidah yang sedang kita bahas.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلا

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (QS. An Nisa (4): 22)

Dalam ayat lain:

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi Sesungguhnya akan Berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu “. (QS. Al Anfal (8): 38)

Namun makna ‘salaf’ yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah sebagaimana yang tertera dalam kitab I’tiqad Ahlis Sunnah Syarh Ashhabil Hadits, dalam bab Ittiba’us Salaf (mengikuti salaf):

من أصول مذهب أهل الحديث اتباع أقوال الصحابة والتابعين لهم بإحسان من أئمة الدين في أصول العقيدة خاصة وفي الدين عامة

“Di antara dasar-dasar madzhab ahli hadits adalah mengikuti perkataan para sahabat dan tabi’in (pengikut) mereka dengan baik dari para imam-imam agama, dalam perkara aqidah secara khusus, dan perkara agama secara umum.” (Syaikh Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais, I’tiqad Ahlis Sunnah Syarh Ashhabil Hadits, Hal. 134)

Jadi, salafiyah adalah mengikuti salafush shalih (pendahulu yang baik), yakni Rasulullah, para sahabat,  tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari No. 2652, Muslim No. 2533)

Tidak mengapa seseorang mengaku mengikuti jejak salafus shalih, namun yang penting adalah kesesuaian antara pengakuan dan perbuatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

لَا عَيْبَ عَلَى مَنْ أَظْهَرَ مَذْهَبَ السَّلَفِ وَانْتَسَبَ إلَيْهِ وَاعْتَزَى إلَيْهِ بَلْ يَجِبُ قَبُولُ ذَلِكَ مِنْهُ بِالِاتِّفَاقِ . فَإِنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ لَا يَكُونُ إلَّا حَقًّا

“Tidak aib bagi siapa saja menampakkan madzhab salaf dan menyandarkan diri dengannya, dan berbangga dengannya, bahkan wajib menerimanya (madzhab salaf) menurut kesepakatan ulama. Sebab madzhab salaf tidaklah ia melainkan kebenaran semata.” (Majmu’ Fatawa, 1/321)

Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah juga berkata ketika mengunggulkan madzhab salaf tentang masalah sifat-sifat Allah Ta’ala, mengatakan:

ونحن نعتقد أن رأي السلف من السكوت وتفويض علم هذه المعاني إلى الله تبارك وتعالى أسلم وأولى بالاتباع ، حسما لمادة التأويل والتعطيل ، فإن كنت ممن أسعده الله بطمأنينة الإيمان ، وأثلج صدره ببرد اليقين ، فلا تعدل به بديلا

“Kami meyakini bahwa pendapat salaf yakni diam dan menyerahkan ilmu makna-makna ini kepada Allah Ta’ala adalah lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti, dengan memangkas habis takwil dan ta’thil (pengingkaran), maka jika Anda adalah termasuk orang yang telah Allah bahagiakan dengan ketenangan iman, dan disejukkan dadanya dengan salju embun keyakinan, maka janganlah mencari gantinya (salaf).” (Al Imam Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 368. Al Maktabah At Taufiqiyah)

Menghidupkan Manhaj Salaf Bukan Komunitasnya

Tidak dibenarkan mengaku-aku mengikuti salaf tapi tidak dibarengi dengan perilaku sebagaimana salafus shalih, dan membuat ‘gaya’ dan ‘komunitas’ sendiri yang tidak sesuai salaf itu sendiri, karena salafiyah adalah manhaj, bukan komunitas.

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin Rahimahullah:

ولا شك أن الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السلف لا الانتماء إلى حزب معين يسمى السلفيين، والواجب أن تكون الأمة الاسلامية مذهبها مذهب السلف الصالح لا التحزب إلى من يسمى ( السلفيون) فهناك طريق السلف وهناك حزب يسمى (السلفيون) والمطلوب اتباع السلف

“Tidak ragu lagi, bahwa wajib bagi seluruh kaum muslimin menjadikan mazdhab mereka adalah madzhab salaf, bukan terikat dengan kelompok tertentu yang dinamakan Salafiyyin.

Wajib bagi umat Islam menjadikan madzhab mereka adalah madzhab salafus shalih, bukan berkelompok kepada siapa-siapa yang dinamakan Salafiyyun. Maka, di sana ada jalan salaf, dan ada juga hizb (kelompok) yang dinamakan Salafiyun, dan yang dituntut adalah mengikuti salaf.”
(Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsamin, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 263. Al Mausu’ah Asy Syamilah)

Sedangkan Syaikh Shalih Fauzan Hafizhahullah berkata:

“Ada  orang yang mengklaim bahwa dirinya  di atas madzhab salaf, tetapi mereka menyelisihinya, mereka melampaui batas (ghuluw) dan menambah-nambahkan, dan keluar dari metode As Salaf.

Di antara mereka juga ada yang mengaku bahwa dirinya di atas madzhab salaf, tetapi mereka menggampangkan dan meremehkan, hanya cukup menyandarkan diri (intisab).

Orang yang di atas manhaj salaf itu adalah lurus dan pertengahan antara melampaui batas (ifrath) dan meremehkan (tafrith), demikianlah thariqah salaf, tidak melampaui batas atau meremehkan.

Untuk itulah Allah Ta’ala berfirman: “ …dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik ….”
Maka, jika engkau hendak mengikuti jejak salaf, maka engkau harus mengenal jalan (thariqah) mereka, tidak mungkin mengikuti mereka kecuali jika engkau telah mengenal jalan mereka, dan itqan dengan manhaj mereka lantaran engkau berjalan di atasnya.

Adapun bersama orang bodoh, engkau tidak mungkin berjalan di atas thariqah mereka (salaf), dan engkau tidak mengetahuinya dan tidak mengenalnya, atau menyandarkan kepada mereka apa-apa yang tidak pernah mereka katakan atau yakini.

Engkau berkata: ‘Ini madzhab salaf,’ sebagaimana yang dihasilkan oleh sebagian orang bodoh saat ini, orang-orang yang menamakan diri mereka dengan salafiyyin, kemudian mereka menyelisihi kaum salaf, mereka amat keras, mudah mengkafirkan, memfasiq-kan, dan membid’ahkan.

Kaum salaf, mereka tidaklah membid’ahkan, mengkafirkan, dan memfasiq-kan kecuali dengan dalil dan bukti, bukan dengan hawa nafsu dan kebodohan.

Sesungguhnya engkau menggariskan sebuah ketetapan: “Barangsiapa yang menyelisihinya, maka dia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan sesat,” Tidak  yaa akhi, ini bukanlah manhaj salaf.

Manhaj salaf adalah ilmu dan amal, ilmu adalah yang pertama, kemudian beramal di atas petunjuk.

Jika engkau ingin menjadi salafi sejati (salafiyan haqqan), maka wajib bagimu mengkaji madzhab salaf secara itqan (benar, profesional), mengenal dengan bashirah (mata hati), kemudian mengamalkannya dengan tanpa melampau batas dan tanpa meremehkan.

Inilah manhaj salaf yang benar, adapun mengklaim dan sekedar menyandarkan dengan tanpa kebenaran, maka itu merusak dan tidak bermanfaat.”

Demikian perkataan Syaikh Shalih Fauzan. (Syaikh Mut’ab bin Suryan Al ‘Ashimi, Kasyful Haqaiq Al Khafiyah ‘Inda Muda’i As Salafiyyah, Hal. 15-16. Dar Ath Tharafain)

Anjuran Mengikuti Ahlus Sunnah wal Jamaah

Dari Irbadh bin Sariyah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Barang siapa di antara kalian hidup setelah aku, maka akan melihat banyak perselisihan, maka hendaknya kalian berada di atas sunahku, dan sunah khulafa’ur rasyidin yang yang mendapat petunjuk, maka berpegang teguhlah padanya dan gigitlah dengan geraham kalian.”
(HR. Abu Daud No. 4607,  At Tirmidzi  No. 2676, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 42,   Ahmad No. 17142, 17144,  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 20215, Al Hakim, Al Mustadrak No. 329,  katanya: hadits ini shahih tak ada cacat. Syaikh Al Albani mengatakan: sanadny shahih. As Silsilah Ash Shahihah No. 2735)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ

“Hendaknya kalian bersama jamaah, dan hati-hatilah terhadap perpecahan.” (HR. At Tirmidzi No.2165, Katanya: hasan shahih gharib. An Nasa’i, As Sunan Al Kubra, 5/389. Syaikh Al Albani menshahihkan, lihat Irwa’ul Ghalil, 6/215)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullsh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فمن أراد منكم بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد

“Barang siapa di antara kalian menghendaki tamannya surga, maka berpeganglah pada jama’ah, sebab syaitan itu bersama orang yang sendirian, ada pun bersama dua orang, dia menjauh.” (HR. At Tirmidzi No. 2165, katanya: hasan shahih gharib. Ahmad No. 177, Ibnu Hibban No. 4576. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain No. 387,  katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 430)

Para  salaf juga banyak memberikan nasihat agar kita mengikuti jalan para pendahulu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Berkata Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu:

عليكم بالسبيل والسنة فإنه ليس من عبد على سبيل وسنة ذكر الرحمن ففاضت عيناه من خشية الله فتمسه النار وإن اقتصادا في سبيل وسنة خير من اجتهاد في إخلاف

“Hendaknya kalian bersama jalan kebenaran dan As Sunnah, sesungguhnya tidak akan disentuh neraka, orang yang di atas kebenaran dan As Sunnah dalam rangka mengingat Allah lalu menetes air matanya karena takut kepada Allah Ta’ala.

Sederhana mengikuti kebenaran dan As Sunnah adalah lebih baik, dibanding bersungguh-sungguh dalam perselisihan.”

Dari Abul ‘Aliyah, dia berkata:

عليكم بالأمر الأول الذي كانوا عليه قبل أن يفترقوا قال عاصم فحدثت به الحسن فقال قد نصحك والله وصدقك

“Hendaknya kalian mengikuti urusan orang-orang awal, yang dahulu ketika  mereka belum terpecah belah.” ‘Ashim berkata: “Aku menceritakan ini kepada Al Hasan, maka dia berkata: ‘Dia telah menasihatimu dan membenarkanmu.’ “

Dari Al Auza’i, dia berkata:

اصبر نفسك على السنة وقف حيث وقف القوم وقل بما قالوا وكف عما كفوا عنه واسلك سبيل سلفك الصالح فانه يسعك ما وسعهم

“Sabarkanlah dirimu di atas As Sunnah, berhentilah ketika mereka berhenti, dan katakanlah apa yang mereka katakan, tahanlah apa-apa yang mereka tahan, dan tempuhlah jalan pendahulumu yang shalih, karena itu akan membuat jalanmu lapang seperti lapangnya jalan mereka.”

Dari Yusuf bin Asbath, dia berkata:

قال سفيان يا يوسف إذا بلغك عن رجل بالمشرق أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام وإذا بلغك عن آخر بالمغرب أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام فقد قل أهل السنة والجماعة

“Berkata Sufyan: Wahai Yusuf, jika sampai kepadamu seseorang dari Timur bahwa dia seorang pengikut As Sunnah, maka kirimkan salamku untuknya. Jika datang kepadamu dari Barat bahwa dia seorang pengikut As Sunnah, maka kirimkan salamku untuknya, sungguh, Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu sedikit.”

Dari Ayyub, dia berkata:

إني لأخبر بموت الرجل من أهل السنة فكأني أفقد بعض أعضائ

“Sesungguhnya jika dikabarkan kepadaku tentang kematian seorang dari Ahlus Sunnah, maka seakan-akan telah copot anggota badanku.”

Dan masih banyak lagi nasihat yang serupa. (Lihat semua ucapan salaf ini dalam Talbisu Iblis, hal. 10-11, karya Imam Abul Faraj bin Al Jauzi )

Sementara Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah menegaskan tentang fikrah dakwahnya:

دعوة سلفية : لأنهم يدعون إلى العودة بالإسلام إلى معينه الصافي من كتاب الله وسنة رسوله. وطريقة سنية : لأنهم يحملون أنفسهم علي العمل بالسنة المطهرة في كل شيء ، وبخاصة في العقائد والعبادات ما وجدوا إلى ذلك سبيلا

“Da’wah Salafiyah: karena mereka menyeru kembali kepada Islam dengan maknanya yang murni dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya.

Thariqah  sunniyah: karena mereka membawa jiwa untuk beramal dengan sunnah yang suci dalam segala hal, khususnya dalam hal aqidah dan ibadah, sejauh yang mereka mampu.” (Al Imam  Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 183. Al Maktabah At Taufiqiyah)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

LAPIS-LAPIS TUJUAN PENDIDIKAN (TUJUAN PENDIDIKAN )

Oleh: Ustzh. Wulandari Eka Sari

Ketika membahas tentang pendidikan anak, maka sejatinya kita adalah sedang membahas tentang Pendidikan Keluarga. Kenapa keluarga? Karena pendidikan itu berlaku madal hayah, seumur hidup. Pelakunya dalam keluarga inti adalah orang tua dan anak. Ketika orang tua menuntut anak untuk belajar, maka orang tua pun perlu belajar. Hakikat wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasul saw ‘iqro bismirobbika aladzi kholaq’ merupakan prinsip bahwa pendidikan itu akan berlangsung sepanjang ruh masih melekat di raga.

Merangkai tujuan pendidikan di keluarga sama dengan menggali hakikat keberadaan manusia di bumi ini. Mengapa kita diciptakan? Apa tujuan penciptaan kita? Dari sanalah kita kemudian membuat turunan apa saja yang menjadi langkah demi langkah tujuan hidup kita. Sementara proses pendidikan adalah tools atau alat untuk menuju ke sana.

Seringkali dalam menjalani proses, kita kebingungan di tengah jalan. Berhenti dan bertanya, sebenarnya kita mau apa sih? Mau ke mana? Kita sudah melakukan ini dan itu, tapi mengapa begini jadinya? Trus habis ini apa lagi? Dan seabrek teka teki lainnya..

Ketika setiap hari kita berdoa “Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qinaa ‘adzabannar” sebenarnya kita pun setiap hari sudah mengucapkan tujuan hidup kita dan dengannya kita melakukan hal-hal untuk bisa meraihnya. Tujuan itu perlu diucapkan, diceritakan, disampaikan bahkan dituliskan.

Sekelumit kisah mimpi besar khalifah Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemuda yang sangat kuat bercita-cita. Ia memiliki mimpi-mimpi besar dalam hidupnya. Saat masih lajang, cita-citanya adalah menikahi Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan, gadis cantik putri seorang khalifah. Ia persiapan dirinya dengan serius hingga cita-citanya terkabul. Mimpi besarnya yang lain adalah ingin menjadi Gubernur Madinah. Sebuah posisi prestius saat itu yang menjadi idaman keluarga besar Bani Umayah. Ia pun berusaha dengan kuat dan terwujudlah cita-citanya. Kemudian ia pun ingin menjadi seorang khalifah. Tekad yang kuatnya pun membawanya menjadi seorang khalifah. Masya Allah. Hingga ketika ia sampai pada cita-cita tertinggi yaitu masuk surga Allah. Maka upaya terkuatnya adalah dengan memilih gaya hidup baru yaitu : Zuhud. Itu ia lakukan semasa menjadi khalifah.

Umar bin Abdul Aziz muda tak segan mengurai mimpi besarnya. Semua itu mampu ia lakukan karena ia yakin kuasa Allah mampu mewujudkan mimpinya. Maka ketika kita merangkai tujuan-tujuan hidup kita, setinggi apapun, langkah selanjutnya sandarkan semuanya pada Allah. Karena hanya Allah yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk kita.

Lalu apa tujuan keluarga kita? Tujuan kita memiliki keluarga? Tujuan kita memiliki anak? Tujuan pendidikan di keluarga kita?

Saya membagi tahapan tujuan pendidikan keluarga dalam lima lapis.

1. Lapis pertama

Tujuan Pendidikan Keluarga sesuai doa yang biasa kita haturkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang tersurat pada surah al Furqon : 74.

للمتقين اماما

Dalam doa tersebut kita meminta kepada Allah untuk menjadikan kita pemimpin bagi umat. Secara bahasa kata imam berarti al mu’tammu bih (orang yang diikuti) yaitu yang diteladani ucapan dan perbuatannya baik dalam kebaikan maupun kebatilan. Pengertian itulah diambil para mufassir dalam menafsirkan ayat ini. Ibnu ‘Abbas, al Hasa, al Sudi, Qatadah dan al Rabi’ bin Anas berkata : Mereka menjadi para pemimpin yang diteladani dalam kebaikan. Ibnu ‘abbas sebagimana dikutip al Qurthubi, ayat ini berarti “Jadikanlah kami sebagai pemimpin yang memberi petunjuk”. Sebagaimana gambaran Allah ‘Azza wa Jalla pada surah as Sajdah : 24″Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk degan perintah Kami ketika mereka sabar”. Juga sebagaimana sabda Rasul saw bahwa setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya, maka visi melahirkan pemimpin yang mulia adalah tujuan besar dalam pendidikan keluarga.

2. Lapis ke dua

Ketika hamil anak ke dua, saya pernah membaca sebuah bait doa dari seorang syaikh dari Kuwait. Doa ini untuk ibu hamil yang ditujukan untuk janinnya. Di antara bait doa ada yang bertuliskan

اللهم اجعلنا من المجددين لدينك ومن المحيين للسنة رسولك محمد صلي الله عليه و سلم

“Ya Allah, jadikan kami bagian dari para mujadid untuk agamaMu dan bagian dari para penghidup sunnah RasulMu Muhammad saw”

Doa itu menjadi inspirasi saya dalam mengukuhkan pendidikan keluarga. Makna mujadid atau pembaharu bukan berarti membuat hal-hal baru dalam agama. Mujadid berarti menjadi orang yang selalu menghidupkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari seakan-akan hal itu adalah hal yang baru dan selalu bergelora dalam menjalankannya. Sementara aplikasi dalam kehidupan tidak akan bisa berjalan baik tanpa kita mengenal dan memahami sunnah Rasulullah Muhammad saw.

Lapis ini akan membuat kita memahami mengapa mempelajari dinuLlah baik melalui Al Quran, sunnah Rasulullah saw dan ayat-ayat kauniyah Allah perlu selalu dan selalu terus diulang. Kehidupan yang berputar, inti sejarah yang berulang, masalah yang terjadi pun berulang. Pedoman hidup yang tidak pernah berubah membuat kita mampu mengurai masalah umat dan memberinya solusi.

3. Lapis ke tiga

Anggota keluarga dengan kepribadian seperti apa yang ingin kita lahirkan sebagai persembahan kita untuk peradaban Robbani? Allah al Hadi menggambarkan dalam surah Ali Imron : 110 bahwa kita adalah umat terbaik yang dilahirkan ke muka bumi ini untuk kebaikan manusia.
Bayangan saya mengenai kepribadian umat terbaik seperti yang termaktub dalam surah al Ahzab : 35. Pemimpin itu adalah :
1.  Seorang Muslim yang kaafah dengan keIslamannya (al Muslim)
2.  Seorang Mukmin yang benar dalam keimanannya (Al Mukmin)
3.  Seorang yang tetap dalam ketaatan (al Qonit)
4.  Seorang yang menjaga integritas atau kejujuran dalam kebenaran (as Shodiq)
5.  Seorang yang sabar dalam menjalani proses (as Shobir)
6.  Seorang yang khusyu’ sehingga mampu tuma’ninah dalam bersikap (al Khosyi’)
7.  Seorang yang bersedekah baik dalam keadaan lapang dan sempit (al Mutashodiq)
8.  Seorang yang berpuasa sehingga mampu mengendalikan hawa nafsunya (as Shoim)
9.  Seorang yang menjaga harga diri dan kehormatannya (al Hafidz farjihi)
10. Seorang yang selalu ingat kepada Allah (adz DzakiruLlah)

Apa yang terjabar di atas, membuat kita memiliki gambaran pribadi manusia seperti apa yang akan kita wujudkan dalam keluarga kita.

4. Lapis ke empat

Setelah terwujud gambaran pada lapis ke tiga, selanjutnya saya memerlukan tools dalam upaya mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Tools yang saya gunakan adalah 10 model pembentuk kepribadian muslim. Model tersebut adalah :

1. Aqidah Salimah (عقيدة سليمة)
Aqidah yang selamat. Hal ini meliputi pengenalan dan pemahaman terhadap Allah, RasulNya dan Islam secara jelas dan menyeluruh.

2. Shohihul ibadah (صحيح العبادة)
Pelaksanaan kemurnian aqidah ada pada ibadah yang benar yang sesuai tuntunan Rasulullah Muhammad saw.
3. Matiinul Khuluq (متين الخلق)
Akhlaq yang kokoh sebagai upaya mewujudkan Islam rohmatan lil alamin
4. Mutsaqoful fikri (مثقف الفكر)
Akal yang berwawasan luas
5. Qowiyul jismi (قوي الجسم)
Tubuh yang sehat dan kuat
6. Harishun ‘ala waqtihi (حريص على وقته)
Pandai menjaga dan menghargai waktu
7. Munadzhom fi syu-unihi (منظم فى شؤونه)
Teratur dalam urusan
8. Qodirun ‘ala kasbi (قادرعلى كسب)
Mandiri secara ekonomi
9. Mujahidun linafsihi (مجاهدلنفسه)
Mampu melawan hawa nafsu dalam kesungguhan amal
10. Nafi’un lighoirihi (نافع لغيره)
Bertekad untuk mampu memberi manfaat bagi manusia dan alam seisinya

Model tersebut di atas saya buat turunannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Disesuaikan dengan usia, kapasitas dan kemampuannya.

5. Lapis ke lima

Inilah adalah lapis terakhir. Di mana lapis ini suami dan saya membuat 10 pilar keluarga kami sebagai gambaran yang mengokohkan kami, inilah keluarga yang kami bangun. Poin-poinnya tertulis Pada 10 Pilar keluarga yang kami bangun.
1.Keluarga ini kami bangun dengan atas landasan cinta kami kepada Allah, Rasul Nya dan perjuangan di jalanNya

2.Keluarga ini kami bangun dengan cita-cita mendapat ridho Allah serta dipertemukanNya kami kembali di tempat pertemuan terbaik yaitu Syurga

3.Keluarga yang kami bangun adalah keluarga Robbani yang berbahagia karena kedekatan kami kepada Allah SWT dengan sunnah-sunnah Rasulullah saw dan dengan aktivitas-aktivitas dakwah

4.Setiap anggota keluarga kami senang mengkaji dan menghafal Al Qur’an, Al Hadits serta kajian-kajian tentang Islam secara keseluruhannya sebagai bekal kami dalam beribadah, beramal shalih dan berdakwah

5.Setiap anggota keluarga kami memancarkan cahaya akhlaq terpuji, terlihat dalam perbuatan, perkataan maupun pakaian kami

6.Setiap anggota keluarga kami senang mengembangkan wawasan intelektual dan emosional, memiliki keahlian dalam belajar dan berkomunikasi, senantiasa melakukan penelitian dan memproduksi karya-karya intelektual

7.Keluarga yang kami bangun sangat memperhatikan pendidikan yang berkualitas bagi setiap anggotanya

8.Keluarga yang kami bangun mencintai hidup sehat. Setiap anggota keluarga kami mengerti dan memperhatikan keseimbangan gizi, mengerti dan memelihara dan mengembangkan kesehatan tubuh dan lingkungan

9.Setiap anggota keluarga kami peduli sanak saudara, teman, tetangga dan seluruh anggota masyarakat pada umumnya. Keluarga kami menyadari fungsi kami sebagai contoh, pembina dan anggota masyarakat yang baik

10.Keluarga yang kami bangun adalah keluarga yang merdeka secara keuangan. Setiap anggota keluarga kami senang menabung, berbisnis, berinvestasi dan mengembangkan kekayaan

Semoga Allah SWT memberikan limpahan rahmat dan ridho Nya serta memberi kekuatan dan kemudahan kepada kami sekeluarga.

Lapis-lapis yang terangkai adalah upaya kita melahirkan generasi Robbani yang akan membangun peradaban umat dalam pondasi kebenaran. Insya Allah

* Setiap keluarga dapat merumuskan tahapan pendidikan anak secara aplikatif, menyesuaikan dengan karakter keluarga masing-masing.

Allahu ma’ana
Nashrun minaLlah wa fathun qoriib

***

Sharing session dari ummahat yang atas ijin Allah menghantarkan anak-anaknya huffazh Qur’an dengan Metode home schooling.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Malu dan Iman

Malu Sebagai Bagian Dari Keimanan (Bag. 2 – habis)

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc., M.Ag.

Materi sebelumnya bisa dilihat di tautan berikut:

Malu Sebagai Bagian Dari Keimanan (Bag. 1)

4.  Berkenaan dengan sifat al-haya’ ini, dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW menggambarkan tentang hakekat dari sifat al-haya’ sekaligus sebagai bentuk penggambaran dari buah yang akan didadapatkan seseorang aapabila menghiasi diri dengan sifat ini.

Riwayat tersebut adalah sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ اْلإِسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ (رواه الترمذي)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Malulah kalian kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.’

Sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah malu dan Alhamdulillah.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Bukan seperti itu, akan tetapi malu kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya adalah bahwa engkau menjaga kepala dan apa yang di dalamnya, engkau menjaga perut dan apa yang ada di sekitarnya (kemaluan), engkau senantiasa mengingat kematian dan kefanaan.

Dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat, ia akan meninggalkan perhiasan kehidupan dunia. Dan barang siapa yang melakukan itu semua, sungguh ia telah malu kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.’ (HR. Turmudzi)

5. Terdapat perbedaan pendapat berkenaan dengan hukum bersifat al-haya’, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas; apakah hukumnya wajib (menjadi suatu keharusan), ataukah tidak?

Perbedaan pendapat ini berpangkal dari pemahaman terhadap hadits di atas sebagai berikut :

a. Pendapat pertama adalah pendapat yang mengatakan bahwa sifat al-haya’ merupakan suatu keharusan (wajib).

Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW dalam hadits di atas, “Jika kamu tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.”.

Ulama mengatakan bahwa ungkapan tersebut
bertujuan sebagai teguran keras dan celaan terhadap orang yang tidak memiliki rasa malu. Karena jika orang sudah tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendaknya; baik atau buruk, bermanfaat atau justru bermadharat, dsb.

Dan berbuat sesuai kehendak hati yang diiringi dengan hawa nafsu sudah barang tentu menjadi perbuatan dosa. Karena salah satu fungsi iman adalah mengontrol hawa nafsu.

b. Pendapat kedua adalah pendapat yang memengatakan bahwa sifat al-haya’ adalah tidak wajib.

Hal ini juga didasarkan pada hadits di atas, hanya saja mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi SAW ‘berbuatlah sesukamu’; maksudnya adalah mubah (boleh) untuk berbuat sekehendaknya. Dan selama perbuatan sekehdaknya tersebut tidak melanggar syariah, maka hukumnya masih boleh-boleh saja.

Dari kedua pendapat tersebut, baik Ibnu Qayim al-Jauzi dalam Tahdzib Madarijis Salikin maupun Syekh Musthafa Dieb Al-Bugha dalam Al-Wafi, merajihkan pendapat yang pertama; yaitu bahwa sabda nabi SAW “berbuatlah sekehendakmu” sebagai sebuah teguran keras dan celaan.

Oleh karenanya, setiap muslim harus menghiasi dirinya dengan sifat al-haya’ ini.

6. Sifat Malu ternyata memiliki beragam bentuk dan warnanya.

Adalah Ibnu Qayim Al-Jauzi membagi sifat malu ini menjadi sepuluh macam, sebagaimana yang beliau kemukakan dalam Tahdzib Madarijis Salikin, yaitu sebagai berikut :

a. Malu karena berbuat salah, yaitu seperti malunya Nabi Adam as yang melarirkan diri dari Allah SWT saat di surga.

Allah SWT bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau lari dari-Ku wahai Adam?’

Adam as menjawab, ‘Tidak wahai Tuhanku, tetapi karena aku merasa malu terhadap-Mu.’

b. Malu karena keterbatasan diri, yaitu seperti rasa malunya para Malaikat yang senantiasa bertasbih di waktu siang dan malam dan tidak pernah sesaatpun berhenti bertasbih.

Namun begitu hari kiamat tiba, mereka berkata, ‘Maha Suci Engkau, kami belumlah menyembah kepada-Mu dengan penyembahan yang sebenar-benar-Nya.

c. Malu karena bentuk pengagunggan atau malu karena memiliki ma’rifat kepada Allah SWT, yaitu bentuk malu karena mengagungkan Allah SWT.

Dan sejauh ia semakin ma’rifat kepada Allah, maka sejauh itu pula rasa malunya terhadap Allah SWT.

d. Malu karena kehalusan budi, yaitu seperti rasa malunya Rasulullah SAW saat mengundang orang-orang pada acara walimah Zainab.
Karena mereka tidak segera pulang, maka beliau bangkit dari duduknya dan merasa malu untuk mengatakan kepada mereka, ‘Pulanglah kalian.’

e. Malu karena menjaga kesopnan, seperti malunya Ali bin Abi Thalib ketika hendak memnta baju besi kepada Rasulullah SAW karena dia menjadi suami dari putri beliau; Fatimah.

f. Malu karena merasa diri terlalu hina di hadapan Allah SWT, yaitu seperti malunya hamba yang memohon berbagai mecam keperluan kepada Allah, dengan menganggap dirinya terlalu hina untuk permohonan tersebut.

g. Malu karena cinta, yiatu rasa malunya orang yang mencintai di hadapan orang yang dicintainya. Bahkan tatkala terlintas sesuatu di dalam hatinya saat berjauhan dengan orang yang dicintainya, dia tetap marasa malu, tanpa diketahui apa sebabnya, apalagi jika orang yang dicintainya muncul secara tiba-tiba di hadapannya.

h. Malu karena ubudiyah (penghambaan diri kepada Allah), yaitu rasa malu yang bercampur dengan cinta dan rasa takut.

Seorang hamba merasa penghambannya kepada Allah kurang, sementara kekuasaan Dzat yang disembahnya terlalu agung, sehingga penghambaannya dirinya yang penuh kekurangan menjadikannya malu dihadapan Allah SWT.

i. Malu karena kemuliaan, yaitu rasa malu seorang hamba yang memiliki jiwa yang agung tatkala berbuat kebaikan atau memberikan sesuatu kepada orang lain.
Sekalipun dia sudah berkorban dengan mengeluarkan sesuatu, toh dia masih merasa malu karena kemuliaan jiwanya.

j. Malu terhadap diri sendiri, yaitu rasa malu seseorang yang memiliki jiwa besar dan mulia, sekiranyapun dirinya merasa ridha terhadap kekurangan dirinya dan merasa puas melihat kekurangan orang lain.

Dia merasa malu terhadap dirinya sendiri, sehingga seakan-akan dia mempunyai dua jiwa, yaitu yang satu merasa malu terhadap yang lainnya. Ini meupkana rasa malu yang paling sempurna. Sebab jika seorang hamba merasa malu terhadap diri sendiri, maka dia lebih layak untuk merasa malu terhadap orang lain.

7. Selain sebagai sifat yang harus menghiasi hati setiap muslim, Al-Haya’ juga memiliki fadhilah atau benefit yang mulia.

Adapun diantara benefit dari sifat al-haya’ adalah:

a. Akan mendatangkan segala kebaikan.

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat berikut :

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ (متفق عليه)

Dari Imran bin Hushain ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah sifat al-haya’ (malu karena Allah SWT) itu datang, melainkan dengan (membawa) kebaikan.’ (Muttafaqun Alaih)

b. Al-Haya’ merupakan sunnah para Rasul utusan Allah SWT.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ الْحَيَاءُ وَالتَّعَطُّرُ وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاحُ (رواه الترمذي)

Dari Abu Ayyub ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada 4 hal yang menjadi sunnah para Rasul, yaitu; al-haya’, memakai wewangian, bersiwak dan nikah.’ (HR. Turmudzi)

c. Al-Haya’ akan menjadi penghias pribadi bagi setiap muslim.

Hal ini sebagaimana disabdakan6 dalam hadits berikut :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ (رواه الترمذي)

Dari Anas ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah perbuatan keji itu dikerjakan dalam sesuatu, melainkan akan mengotorinya. Dan tidaklah sifat al-haya’ (malu karena Allah SWT) dilakukan dalam sesuatu, melainkan ia akan menghiasinya.’
(HR. Turmudzi)

d. Al-Haya’ akan mengantarkan seseorang ke dalam surga.

Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ مِنْ اْلإِيمَانِ وَاْلإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ (رواه الترمذي)

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Sifat Al-Haya’ (malu karena Allah SWT) adalah dari iman. Dan iman itu (tempatnya) adalah di surga. Sementara al-badza’ (perkataan yang kotor dan keji) adalah dari kerasnya hati. Dan kerasnya hati (tempatnya) adalah di neraka.’
(HR. Turmudzi).

e. Al-haya’ merupakan sebuah sifat yang dicintai oleh Allah SWT.

Hal ini sebagaimana digambarkan dalam hadits :

عَنْ عَطَاءٍ عَنْ يَعْلَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يَغْتَسِلُ بِالْبَرَازِ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ (رواه الترمذي)

Dari Ya’la ra bahwasanya Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki sedang mandi dengan memakai sarung. Setelah itu beliau naik ke mimbar lalu memuji Allah SAW dan bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT Maha Pemurah, Maha Hidup (kekal), Maha Suci, mencintai sifat al-haya dan mencintai orang yang menutup auratnya. Maka apabila salah seorang diantara kalian mandi, hendaklah ia menutupi auratnya.’ (HR. Turmdzi)

f. Al-Haya’ merupakan intisari akhlak dalam Islam.

Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam hadtis berikut :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ (رواه ابن ماجه)

Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak dinul Islam adalah al-haya’.’ (HR. Ibnu Majah)

Wallahu A’lam bis Shawab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihadlah

Kekalahan yang Berawal Dari Perselisihan Internal (Dari Seorang Buronan hingga Menjadi Admiral) bag-1

Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Sekelumit Kisah Kapten Selman

Serbuan Mamluk ke kota Aden – 17 September 1516

Selman Reis (kapten Selman) lahir di Pulau Lesbos, Laut Aegean, dan meniti karir hingga menjadi seorang admiral pada angkatan laut Turki Utsmani. Pada awalnya ia pernah aktif dalam kedinasan angkatan laut Mamluk yang berkuasa di Mesir dan mendapat kesempatan untuk berhadapan dengan kepentingan Portugis di Laut Merah, Laut Arab, Teluk Parsi, hinhga ke Samudera Hindia. Setelah Kesultanan Mamluk digantikan oleh Turki Utsmani maka Selman Reis pun kembali aktif dalam kedinasan angkatan laut negerinya dan kembali memimpin melawan Portugis pada awal abad ke-16.

Hidup memang tak diketahui lika-likunya; namun tekad bulat untuk melakukan yang terbaik tidak akan mudah dihentikan oleh permasalahan yang menghadang.

Pelaut Bayaran bagi Mamluk

Selman Reis masuk dalam dinas kelautan Mamluk dan memimpin 2.000 personil non-Mesir di region Samudera Hindia. Masa kedinasannya di angkatan laut Mamluk diduga tidak mendapat restu dari angkatan laut Kesultanan Turki Utsmani. Ia bahkan mendapatkan hukuman sebagai tahanan ketika Mesir dikuasai oleh Turki Utsmani pada masa Sultan Selim I Yavuz.

Selman Reis mendapatkan tugas untuk mengacaukan blokade laut yang diterapkan oleh Portugis atas akses laut Mamluk di Mesir. Blokade ini berhasil menghentikan suplai rempah-rempah dari Asia dan membuat penghasilan melalui jalur perdagangan yang melintasi Mesir menjadi terganggu. Selman Reis dibekali 19 kapal perang untuk beroperasi di Samudra Hindia pada tahun 1515.

Selman Reis bertolak dari pangkalan laut Suez, Mesir, bersama armadanya pada hari Ahad 21 Sya’ban 921 Hijriah (30 September 1515) dengan kekuatan 3.000 personil diantaranya 1.300 dari bangsa Turki. Armada ini membawa suplai yang cukup untuk membangun sebuah benteng di Kamaran tetapi gagal untuk menguasai pelabuhan Aden dan wilayah Yaman pada hari Rabu 20 Sya’ban 922 Hijriah (17 September 1516).

Pada tahun 1517 ia memimpin pertahanan atas pelabuhan Jeddah yang diserang oleh armada Portugis tidak lama sebelum Kesultanan Mamluk dikalahkan oleh Turki Utsmani. Selman Reis sempat mendekam dalam tahanan di İstanbul atas dugaan desersi; ia baru bebas pada tahun 1520.

Memang pernah kedua tanah suci Haramain berada dalam jarak jangkauan Portugis dan Jeddah menjadi pelabuhan yang sepi karena para pelaut kaum Muslimin enggan melintasi Laut Merah yang tidak aman pada waktu itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa Turki Utsmani lebih memiliki gagasan tentang kedaulatan wilayah yang lebih luas daripada Mamluk sebelumnya. Gagasan ini didukung secara politik serta diberikan sumber daya yang cukup untuk merealisasikannya.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihadlah

Ulama yang Tidak Segan Meluruskan Sang Pemimpin, ‘Ulama yang juga Panglima’

Oleh: Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Pengepungan Syracuse – Musim Gugur 827 s/d Musim Panas/Gugur 828

Pengepungan kota Syracuse pada tahun 827-828 adalah upaya pertama Daulah Aghlabiyah atas kota tersebut di Pulau Sisilia ketika ia masih merupakan provinsi Kekaisaran Byzantium. Balatentara Aghlabiyah telah mendarat beberapa bulan sebelumnya dalam rangka membantu panglima Euphemius yang terusir.

Setelah berhasil mengalahkan pasukan lokal dan menguasai benteng di Mazara (bisa melihat artikel saya sebelumnya), mereka menuju Syracuse yang merupakan ibukota pulau ini pada masa Byzantium.

Pengepungan ini berlangsung selama musim dingin antara tahum 827-828 hingga awal musim panas berikutnya. Pasukan Aghlabiyah yang mengepung menderita kerugian akibat menipisnya logistik serta menjalarnya penyakit menular; bahkan merenggut nyawa pemimpin ekspedisi tersebut yang bernama Asad ibn al-Furat.

Asad ibn al-Furat

Asad ibn al-Furat (أسد بن الفرات; 759-828) adalah seorang ahli fiqih dan tauhid yang lahir di Ifriqiyah. Keluarganya berimigrasi dari daerah Harran, Irak. Ia berkesempatan belajar dari Malik ibn Anas sang pendiri madzhab Maliki di Madinah dan belajar dari Abu Hanifah sang pendiri madzhab Hanafi di Kufah.

Setelah beliau kembali ke Ifriqiyah ia diangkat menjadi hakim di al-Qayrawan. Ia pernah konflik dengan Amir Ziyadatullah I (817-838) yang memimpin dalam kehidupan yang berlimpah. Banyak yang mengira bawha Asad ibn al-Furat mendapatkan tugas memimpin ekspedisi militer ke Sisilia ini guna menghilangkan kritik pedasnya.

Muhammad ibn Abi-l Jawari

Pimpinan ekspedisi beralih ke Mihammad ibn Abi-l Jawari setelah wafatnya Asad. Melihat posisi pasukan tidak menguntungkan setelah dihantam wabah penyakit, maka al-Jawari mengangkat kepungan atas Syracuse dan mundur ke bagian selatan pulau. Dari posisi baru itu balatentara Aghlabiyah bertahan dan melancarkan penguasaan atas pulan secara bertahap; Syracuse baru jatuh ke tangan al-Jawari setelah kembali dikepung lama antara tahun 877-878 ditandai dengan jatuhnya kota Taormia pada tahun 902.

Agung Waspodo, kembali mencatat bahwa ulama dulu berani tegas kepada umara untuk hal prinsipil, disamping itu para ulama juga adalah komandan militer yang mumpuni; tidak ada dikotomi antara ulama dan profesi-profesi lain. Telah berlalu 1.187 tahun sejak itu.

Depok, 5 September 2015.. lewat waktu isya’


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ilmu

Ayo Ngaji…

Oleh: Ust. Abdullah Haidir Lc.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan jalan baginya menuju surga.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dll)

Perhatikan, penekanan nya bukan pada ‘ilmunya’ tapi ‘mencari ilmunya’.

Keutamaan ilmu memang tinggi. Tapi yang tidak kalah tingginya adalah proses mencari ilmunnya.

Seseorang yang merasa dirinya bodoh, lalu tanpa bosan dia terus mencari ilmu, lebih baik daripada orang yang sudah merasa berilmu lalu dia berhenti untuk menuntut ilmu.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ، فَارْتَعُوا “، قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ  (رواه الترمذي وقال حديث حسن غريب، وأحمد، وقال الأرنؤوط: إسناده ضعيف)

“Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah.”

Mereka bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?”

Beliau menjawab, “Halaqah-halaqah zikir.”

(HR. Tirmizi, dia berkata haditsnya hasan gharib, Ahmad. Al-Arnauth berkata: sanadnya lemah)

Atha bin Abi Rabah berkata:
Halaqah-halaqah zikir adalah majelis (yang menjelaskan) halal haram, bagaimana engkau membeli, bagaimana engkau shalat, bagaimana engkau zakat, bagaimana engkau haji, bagaimana engkau menikah, bagaimana engkau mencerai dan semacamnya.

Ibnu Ruslan berkata dalam syairnya,

وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ أَعْمَالُهُ مَرْدُودَةٌ لاَ تُقْبَلُ

“Siapa yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tertolak tak diterima.”

Seorang ulama berkata dalam syairnya,

فَإِنَّ فَقِيهاً وَاحِدًا مُتَوَرِّعاً     أَشَدُّ علَىَ الشَّيْطَان مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

“Satu orang yang paham agama dan dia wara’ (takut melanggar dan maksiat), maka itu lebih berat bagi setan dari seribu ahli ibadah (tanpa ilmu).”

Seorang ulama berkata,
“Siapa yang mendatangi ulama dan duduk di majelisnya, lalu dia tidak dapat merekam ilmu yang disampaikan, Allah tetap memberinya tujuh karomah (kemuliaan):

1. Dia mendapatkan keutamaan orang yang mengaji.

2. Selagi dia tertahan di majelis tersebut, maka selama itu dia terhalang dari dosa dan maksiat.

3. Jika dia keluar dari rumahnya, rahmat Allah diturunkan kepadanya.

4. Jika dia singgah di majelis tersebut, rahmat Allah akan diturunkan kepada ulama tersebut dan dia mendapatkan barokahnya.

5. Dicatatkan untuknya kebaikan-kebaikan selama dia mendengarkannya.

6. Dia dikelilingi malaikat yang membentangkan sayap-sayapnya.

7. Setiap langkah kaki yang dia ayunkan dapat menjadi kafarat (penghapus) dosa dan pengangkat derajat serta penambah pahala.

Ini bagi yang tidak dapat merekam apa yang disampaikan. Bagaimana dengan mereka yang mengaji dan dapat merekam apa yang dia sampaikan. Kebaikan berlipat-lipat akan dia dapatkan.

Yang sudah rutin dan aktif di suatu pengajian, tekunilah dan istiqamahlah, jangan mudah goyah dan lemah.

Yang belum, segera cari tempat mengaji yang dia percaya lurus pemahamannya dan mungkin dia hadiri.

Kalau bukan kita siapa lagi,
Kalau tidak sekarang, kapan lagi…


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678