masalah

Akhir Jalan Mendaki – Tadabbur QS. Al-Balad (Bag-2)

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

Dua Jalan, Dua Konsekuensi

“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?” (QS. 90: 11-12)

Jalan kebaikan tidaklah mudah. Karena itu ia sukar dan sulit ditempuh dan menanjak. Hanya orang-orang sabar saja yang mampu dan mau melakukannya. Jalan-jalan sulit berikut ini tak lain merupakan jawaban sekaligus pelurusan misspersepsi tentang harta:

“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan”(QS. 90: 13)”

Karena Allah hanya menginginkan penghambaan yang sempurna kepada Dzat-Nya saja. Bukan perbudakan sesama manusia. Karena itulah salah satu misi utama agama Islam adalah menghapus dan menghilangkan perbudakan.

“Atau memberi makan pada hari kelaparan”(QS. 90: 14)”

Memberi pertolongan pada saat dibutuhkan adalah sesuatu yang mulia. Dan hal tersebut tidaklah mudah. Apalagi jika tidak didahului oleh permintaan tolong dari pihak yang memerlukan bantuan, sungguh hal tersebut menjadi berat. Hanya orang tertentu saja yang memiliki kepekaan hati dan diringankan untuk membantu.

Pemilihan kata yang sangat teliti ini menandakan bahwa pada hari itu kelaparan dijumpai di mana-mana. “hari yang memiliki orang-orang lapar di mana-mana”. Ini adalah hari paceklik dan kelaparan yang menimpa banyak orang.

“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat” (QS. 90: 15)

Memuliakan dan menolong anak yatim adalah salah satu amal yang utama. Apalagi jika sang yatim tersebut masih ada hubungan kekerabat-an, tentu akan menambah nilai plus. Membantu dan sekaligus menjaga tali kekerabatan (silaturrahmi).

“Atau kepada orang miskin yang sangat fakir” (QS. 90: 16)

Orang-orang yang miskin dan tertekan kemiskinannya adalah orang yang berada diprioritas pertama untuk dibantu. Jiwa mereka tertekan karena lidah mereka tak lagi sanggup mengungkapkan permintaan tolong. Hati mereka juga sakit menanggung malu. Mereka juga miris melihat nasib orang-orang yang berada dalam tanggungannya. Tapi mereka memiliki iman yang menahan dari menghalalkan segala cara.

Orang yang seperti inilah yang sangat perlu diutamakan untuk ditolong. Abu Ubaidah mengungkapkan rahasia pemilihan kata “dzâ matrabah” yang berarti terlempar di atas tanah atau pasir. Ini menandakan ia benar-benar hanya memiliki badan yang lemah hingga membuatnya tersungkur di atas pasir. Tak ada yang menahan badannya karena sangat lapar dan lemah.

“Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang” (QS. 90: 17)

Orang-orang yang mampu bersabar dan sanggup menempuh jalan yang sukar seperti di atas adalah orang-orang pilihan yang dirahmati Allah selalu.

“Mereka adalah golongan kanan”. (QS. 90: 18)

Ini adalah sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi tanggung jawab. Namun, hal tersebut tidaklah sia-sia, karena Allah telah menyediakan balasan dan ganjaran yang melebihi bayangan seseorang, bahkan dengan sesuatu yang belum terbayang-kan sebelumnya.

Sebaliknya pilihan jalan yang salah akan membuahkan konsekuensi yang tidak sesuai harapan pula. Sebagaimana tak ada paksaan dalam memilih jalan, mereka juga tak bisa memaksa Allah untuk memberikan balasan sesuai keinginan mereka. Orang-orang yang berbaris di golongan kiri tersebut akan digiring ke neraka Allah yang tak ada celah bagi siapapun untuk lari dan menghindar darinya.

“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, mereka itu adalah golo-ngan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat” (QS. 90: 19-20)

Penutup: Pilihan Orang Cerdas dan Tenang

Jika dalam surat sebelumnya Allah memanggil jiwa-jiwa yang tenang untuk bergabung dalam kafilah orang-orang sukses yang beruntung dan berbahagia, itu karena mereka tepat dalam memilih jalan yang disediakan Allah di dunia. Tanpa paksaan. Rela dan ridha, maka kelak mereka juga diridhai.

Hanya orang-orang yang cerdas saja yang mau dan sanggup menyiapkan dirinya dengan bekal-bekal berharga untuk sebuah perjalanan yang jauh. Semoga Allah terus menjaga kita sehingga kita bisa tsabat dan istiqamah dalam berbuat baik dan membekali diri untuk menghadap Allah dalam keadaan yang ridha dan diridhai. Amin.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Membaca al-Qur’an bagi yang Haidh dan Nifas

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

Darah haidh sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Qasim al-Ghazzi (w. 918 H) di dalam Fath al-Qarib al-Mujib fi Syarh Alfazh at-Taqrib adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita pada usia haidh, yaitu usia sembilan tahun atau lebih, dalam keadaan sehat, yaitu tidak karena sakit, tetapi pada batas kewajaran, bukan pula karena melahirkan. Sementara darah nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita setelah melahirkan, sehingga darah yang keluar bersamaan dengan bayi atau sebelumnya tidaklah disebut sebagai nifas.

Di dalam madzhab Syafi’i, haram hukumnya membaca al-Qur’an bagi wanita yang haidh dan nifas, sama seperti haram hukumnya bagi orang yang dalam keadaan junub. Abu Yahya Zakariyya al-Anshari (w. 926 H) di dalam Asna’ al-Mathalib fi Syarh Raudh ath-Thalib mengatakan: “Dan tidak dihalalkan seorang wanita untuk digauli saat haidh, begitu juga percumbuan yang diharamkan, serta melafazhkan al-Qur’an serta menyentuh mushafnya.”

Di antara dalilnya adalah sebagaimana yang penulis kemukakan sebelumnya, yaitu dari Ibn “Umar ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda: “Tidak boleh orang yang haidh dan junub membaca al-Qur’an.” Dalil ini sebenarnya juga bisa mencakup hukum bagi wanita yang nifas, walaupun memang tidak disebutkan secara langsung. Abu al-Hasan al-Mawardi (w. 450 H) di dalam al-Iqna’ fi al-Fiqh asy-Syafi’i mengatakan: “Diharamkan pula kepada wanita yang nifas sesuatu yang diharamkan kepada yang haidh.”

Memang ada ulama lain yang menyebutkan bahwa riwayat tersebut dinilai dhaif karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Isma’il ibn ‘Ayyasy. Namun, banyak juga yang justru menyebutnya sebagai perawi yang tsiqah. Asy-Syaukani (w. 1250 H) di dalam as-Sail al-Jarar al Mutadaffiq ‘ala Hada’iq al Azhar bahkan mengatakan: “Penilaian lemah terhadap Isma’il ibn ‘Ayyasy adalah penilaian yang tertolak, karena haditsnya diriwayatkan pula melalui jalur periwayatan lainnya, dan ia juga tidak dapat dinilai cacat yang menjadikan haditsnya tidak layak dijadikan hujjah. Al Mundziri mengatakan: (Hadits ini adalah hadits hasan. Isma’il ibn ‘Ayyasy memang diperbincangkan oleh para ulama, namun banyak para imam yang memujinya.” Penjelasan yang sama juga dapat kita temukan di dalam Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj yang ditulis oleh Syamsuddin ar-Ramli (w. 1004 H).

‘Abdul Karim ar-Rafi’i (w. 623 H) di dalam Fath al-‘Aziz bi Syarh al-Wajiz mengatakan: “Sebagaimana haramnya membaca al-Qur’an bagi yang junub, maka haram pula membacanya bagi wanita yang haidh, karena hadatsnya justru lebih berat, sehingga keharaman hukumnya pun lebih utama.”

Ulama lain memang ada yang membolehkan bagi wanita haidh untuk tetap membaca al-Qur’an jika ditakutkan membuat ia lupa akan hafalannya. Namun, dalam hal ini an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab mengatakan: “Masa haidh yang berlangsung beberapa hari biasanya tidak sampai bisa membuat orang lupa pada hafalannya. Adapun jika tetap khawatir lupa hafalannya, maka cukuplah ia mengulang hafalan al-Qur’annya di dalam hatinya.”

Sebagai tambahan, hal yang paling sering menjadi pertanyaan terkait wanita haidh di antaranya adalah tentang boleh atau tidaknya ia mengajarkan al-Qur’an dalam keadaan haidh. Maka dalam hal ini, di dalam Bughyah al-Mustarsyidin, ‘Abdurrahman ibn Muhammad Ba’alawi (w. 1320 H) memberikan penjelasan bahwa yang junub dan semisalnya, termasuk yang haidh, maka boleh hukumnya mengajarkan al-Qur’an asalkan tujuannya bukan membaca, juga tidak bertujuan mengajar sambil membaca, tetapi hanya bertujuan mengajar saja.Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : manis.id

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678l

tawadhu

Bagaimana Kita Mengukur

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

Meski engkau orang yang kaya, pejabat, tokoh atau sekalipun engkau orang yang berpengaruh. Atau juga Guru, Ustadz, Ajengan dan bahkan Kyai (afwan) sekalipun. Maka sungguh suatu kesombongan, terlalu mentakjubi diri jika menganggap setiap orang yang datang kepadamu itu memerlukan atau membutuhkanmu. Jangan lakukan itu. Tawadhu’lah dan muliakan dirimu.

Boleh jadi justru sebaliknya. Karena sungguh kita sama sekali tidak tahu siapa diantara kita yang lebih mulia di mata makhluk langit. Apalagi di ‘mata’ Allah Swt. Umbaran jumawa atau merasa paling hanya akan mengundang bencana dan kesusahan dikemudian hari.

Biarkan orang lain yang menganggap, atau bahkan engkau melarang mereka untuk beranggapan yang berlebihan. Betapa sakit ketika engkau ‘kejlungup’ (baca; jatuh yang tak sengaja) saat engkau merasa di ketinggian. Maka sebaik engkau adalah orang kaya yang rendah hati dan mau peduli mau berbagi. Maka sebaik engkau adalah menjadi punggawa pejabat yang mencerminkan khadimul ummat. Maka sebaik engkau menjadi maha guru, ustadz maupun Kyai yang mau mengayomi dan meneduhkan ummat. Maka sebaik engkau menjadi orang yang mau menyapa dan berdoa kepada siapa saja meski tidak dimintanya.

Karena sifat tawadhu adalah sifat hamba Allah (QS. Al-Furqan: 63); sebagaimana Rasulullah Nabi dan hamba terbaik mentauladankan kepada kita. Suatu hari sahabat Abu Hurairah RA memasuki pasar bersama Rasulullah SAW. Beliau kemudian membeli beberapa barang dan Abu Hurairah bergegas ingin membantu Rasulullah, akan tetapi Rasulullah berkata: “Pemilik barang lebih berhak membawa barangnya sendiri”. Begitulah ketawadhu’an baginda Nabi. Semua aktivitas di rumah dilakukannya sendiri dan tidak menyuruh orang lain (dan hanya beberapa hal saja beliau menyuruh orang lain).

Begitupun dulu, saat terjadi peristiwa pembukaan Kota Makkah, Rasulullah SAW bersama tentara muslim berjumlah puluhan ribu, Beliau masuk ke dalamnya dalam keadaan menundukan kepalanya yang mulia hingga hampir jenggot beliau menyentuh pelana kendaraan. Rasulullah tidak pernah berbusung dada atau berbangga diri meski dirinya seorang pemimpin pasukan bahkan pemimpin umat ini. Beliau memasuki Kota Makkah dalam keadaan tawadhu’ kepada pemiliknya Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan semesta Alam.

Bagaimana dengan kita?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

surat yasin

Membaca Al-Qur’an bagi yang Junub

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

Para ulama sepakat bahwa orang yang dalam keadaan junub tidak boleh membaca al-Qur’an. Dalam hal ini, Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab mengatakan: “Menurut madzhab kami, haram hukumnya membaca al-Qur’an bagi yang haidh dan junub, baik sedikit maupun banyak, bahkan walaupun hanya sebagian ayat. Pendapat inilah yang dipegang oleh kebanyakan ulama. ”Namun, di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, ia mengemukakan bahwa meski demikian, boleh seseorang yang junub untuk membayangkan ayat-ayat al-Qur’an di dalam hatinya tanpa melafazhkannya.

Di dalam Bughyah al-Mustarsyidin, dapat juga kita temukan penjelasan Abdurrahman ibn Muhammad Ba’alawi (w. 1320 H) yang mengatakan bahwa memang haram hukumnya membaca al-Qur’an yang junub dengan tujuan membacanya walaupun dibarengi dengan tujuan lainnya. Namun, tidak haram jika tanpa adanya tujuan membacanya seperti dalam rangka membenarkan bacaan yang keliru, mengajarkannya, mencari keberkahan atau dengan tujuan berdoa. Demikian juga yang dikemukakan oleh ‘Abdul Karim ar-Rafi’i (w. 623 H) di dalam Fath al-Aziz bi Syarh al-Wajiz: asy-Syarh al-Kabir, yaitu jika membacanya bukan dengan bermaksud membaca al-Qur’an, maka hukumnya tetap boleh, seperti mengucapkan basmalah dalam rangka mengharap keberkahan atau ketika memulai sesuatu, membaca hamdalah ketika selesai mengerjakan suatu pekerjaan, atau misalnya mengucapkan kalimat dzikir ketika menaiki kendaraan sebagaimana yang disunnahkan Nabi saw., yaitu membaca ‘subhanal-ladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin’.

Di antara dalil yang menunjukkan keharaman membaca al-Qur’an bagi yang junub adalah sebagaimana riwayat dari “Ali ibn Abi Thalib ra. yang penulis sampaikan ketika menjelaskan hukum membaca al-Qur’an bagi yang berhadats [lihat disini https://goo.gl/pyn7DM]. Ada juga riwayat yang disampaikan oleh Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) di dalam Sunannya dari Ibn ‘Umar ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda: “Tidak boleh orang yang haidh dan junub membaca al-Qur’an.”

Riwayat lainnya, disampaikan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, dari Abu al-Gharif al-Hamdani yang mengatakan: “Ali ibn Abi Thalib berwudhu, ia berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung sebanyak tiga kali, mencuci wajah tiga kali, mencuci kedua tangan hingga hasta sebanyak tiga kali, kemudian membasuh kepala, lalu mencuci kedua kakinya. Beliau kemudian mengatakan: ‘Seperti inilah wudhu yang aku lihat dari Rasulullah saw.’ Lalu ia membaca sesuatu dari al-Qur’an, kemudian mengatakan: ‘Ini bagi siapa yang tidak junub, adapun yang junub, maka janganlah ia membacanya, tidak pula satu ayat’.”

Ad-Daruquthni (w. 385 H) di dalam Sunannya juga menyampaikan riwayat dari (Abdullah ibn Rawahah yang mengatakan: “Rasulullah saw. melarang salah seorang di antara kami untuk membaca al-Qur’an sedangkan ia dalam keadaan junub.”[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mukmin yang Paling Baik dan Cerdas

Menjadi Keluarga Cerdas Melalui Virus Corona

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

Pandemi covid19 ini luar biasa menyerang manusia, apalagi di hari-hari terakhir ini. Begitu cepatnya menyebar sehingga kita menyaksikan begitu banyak yang hàrus dirawat di rumah sakit atau harus isolasi mandiri . Alhamdulillah banyak yang sembuh dan kembali sehat, tetapi tidak sedikit juga yang wafat dan bernilai syahid. Semoga yang pernah sakit diampuni dosa-dosanya dan diberi pahala oleh Allah atas keikhlasan, kesabaran dan ikhtiarnya. Sedangkan yang wafat semoga diampuni semua dosanya, dilipatgandakan pahalanya, digolongkan menjadi para syuhada dan ahli surga.

Keluarga yang cerdas itu selalu bersiap siap untuk hari akhirat, sehingga mereka terus menjaga pola hidup yang sehat dan menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan pandai mengambil peringatan dari pandemi ini bahwa ketetapan ajal setiap hamba di sisi Allah pasti terjadi , tidak bisa ditolak atau berlari darinya sekalipun bersembunyi di balik tembok yang tinggi dan kokoh ( Surat Annisa ; 78 ).

Karena itu, jika keluarga cerdas sering mengingat kematian maka akan terus bersiap-siap menambah bekal untuk hari setelah kematiannya dengan memperbanyak ibadah dan amal shaleh. Sebab jika malakul maut menjemput maka tiada waktu sedikitpun untuk bertaubat dan beramal. Sedangkan bekal yang kita bawa setelah kematian untuk kehidupan selanjutnya di dalam kubur, di hari qiamat dan hari hisab serta hari akhirat hanya amal shaleh yang kita siapkan selama hidup.

Pantaslah Umar bin Abdul Aziz setiap malam mengundang para ulama untuk saling memberikan taushiyah tentang kematian, kemudian setelah itu mereka menangis karena merasa masih sedikit amalnya . Tangis mereka seperti suasana menangis di depan jenazah

Tidak heran jika Umar bin Abdul Aziz benar-benar bertanggung jawab dan berhasil menegakkan keadilan dan kesejahteraan kpd rakyatnya. Beliau menjadi khalifah yang zuhud terhadap dunia, jauh dari kemewahan dan sangat cinta terhadap hari akhirat karena dia yakin hari akhirat jauh lebih baik dan kekal selama-lamanya , sedangkan dunia ini hina dan fana. Allah berfirman :

” Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” ( Al-A’la :

Belajarlah dari para salafus shalih, mereka banyak merenung tentang kematian yang membuat mrreka bisa menjadikan hidup ini lebih bermakna untuk akhiratnya. Misalnya :

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata : ” Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hatimu menjadi lembut ” .

Abu Hazim berkata : ” Perhatikanlah setiap amal yang membuat kamu benci kematian, maka tinggalkanlah niscaya kamu tidak akan mendapatkan bahaya saat kematianmu tiba”.

Hasan Al-Bashri berkata : ” Barang siapa yang sudah mengenal kematian, maka musibah dunia menjadi ringan baginya”.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seruan Untuk Memakmurkan Masjid

Saksikanlah! Dia termasuk mukmin!

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إذا رأيتم الرجل يتعاهد المسجد فاشهدوا له بالإيمان فإن الله تعالى يقول ( إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر وأقام الصلاة وآتى الزكاة ) الآية

Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang biasa ke masjid maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman.

Allah ‘azza wajalla berfirman : Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menegakkan shalat dan menunaikan zakat.

(HR. At Tirmidzi No. 2617, Ibnu Majah No. 802, Ahmad No. 11725)

Hadits ini dihasankan oleh: Imam At Tirmidzi, Imam An Nawawi, Syaikh Muhammad Ibrahim, Syaikh Ibnu Jibrin, dan lainnya.

– Tapi SHAHIH, menurut Imam Al Hakim (Al Mustadrak No. 3280), juga Imam Adz Dzahabi Talkhishnya.

– Imam Ibnu Hibban, Imam Ibnu Khuzaimah juga memasukkanya dalam kitab Shahih mereka. (Ibnu Hibban No. 1721, Ibnu Khuzaimah No. 1502).

– Dishahihkan oleh Imam Al Munawi. (At Taysir, 1/198),

– juga Imam As Sakhawi (Maqashid Al Hasanah Hal. 87),

– Imam Al ‘Ajluni (Kasyful Khafa, 1/90), dan Syaikh Ahmad Mushthafa Al A’zhami dalam Tahqiq Ibni Khuzaimah. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 54303)

– Tapi Syaikh Al Albani mendhaifkannya, tapi menurutnya secara makna tetap shahih. (Tahqiq Riyadhishshalihin, 1067)

Wa Shallallahu ‘Alaihi wa aalihi wa Shahbihi wa Salam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tidak Akan Masuk Surga Orang yang Suka Mengadu Domba

Terkutuknya Orang Yang Suka Mengadu Domba Dan Memecah Belah

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ (رواه احمد)

Dari Abdurrahman bin Ghanam ra, dan sampai kepada Rasulullah Saw, beliau bersabda “Sebaik-baik hamba Allah ialah hamba-hamba yang apabila mereka dilihat, maka orang-orang (yang melihatnya) akan (berdzikir) mengingat Allah Swt. Dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang suka mengadu domba yang suka memecah belah antara orang-orang yang saling mengasihi, orang yang aniaya, yang suka mencari-cari keburukan orang yang tidak bersalah.” (HR. Ahmad)

©️ Takhrij Hadits ;

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambali dalam Musnadnya, dalam Hadits Abdirrahman bin Ghanam Al-Asy’ary, hadits no 17312.

®️ Hikmah Hadits;

1. Hamba-hamba Allah Swt terbaik adalah mereka-mereka yang apabila kita bertemu dan melihat wajah mereka, maka akan menjadikan kita berdzikir ingat kepada Allah Swt, lantaran pancaran keimanan dan keikhlasan yang membuncah dari dalam hati dan diri mereka. Maka tidak jarang, nasehatnya akan membuat hati menjadi lunak, membuat mata menjadi basah, dan membuat jiwa menjadi semakin semangat untuk beramal shaleh. Bahkan membayangkan wajah mereka saja akan menambah semangat untuk beramal shaleh.

Imam Hasan Al-Bashri, dahulu digambarkan demikian. Apabila ada seseorang yang memiliki banyak masalah dan menginginkan nasehat dari Imam Hasan Al-Bashri, maka baru bertemu dan menatap wajah beliau saja sudah meneduhkan hati, dan membuat lisan menjadi termotivasi berdzikir menyebut nama Allah Swt, sehingga seolah segala problematika yang akan disampaikan kepada beliau telah berguguran dari hati. Masya Allah…

2. Sebaliknya, seburuk-buruk manusia ternyata adalah manusia yang memilik perangai buruk, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas, yaitu ;

a) ( المشاؤون بالنميمة المفرقون بين الأحبة )

“Orang yang suka mengadu domba, yang suka memecah belah diantara orang-orang yang saling mengasihi.”

b) ( الباغون البرآء العنت )

“Orang yang aniaya, suka mencari-cari keburukan orang lain yang tidak bersalah.”

3. Bahwa orang yang melakukan praktik mengadu domba (namimah) seperti ini, maka kelak ia akan mendapatkan dosa besar, diantaranya adalah sebagai berikut ;

a). Akan dimasukkan oleh Allah Swt ke dalam golongan seburuk-buruknya manusia (syirarun nas) sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.

b). Tidak akan pernah masuk surga. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Saw;

عَنْ حُذَيْفَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ (رواه مسلم)

Dari Hudzaifah ra berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim, no 151)

c). Mendapatkan azab di dalam kubur. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ…(رواه مسلم)

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan, beliau lalu bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa. Dan mereka berdua disiksa bukan karena melakukan dosa besar. Salah seorang di antara mereka disiksa karena suka mengadu-domba sedangkan yang lainnya disiksa karena tidak memasang satir saat kencing…” (HR. Muslim, no 439)

d) Allah Swt akan menghempaskannya ke dalam api neraka. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits ;

عن أبي ذر الغفاري : مَنْ أَشَاعَ عَلَى مُسْلِمٍ كَلِمَةً يُشِيْنُهُ بِهَا بِغَيْرِ حَقٍّ، شَانَهُ اللهُ بِهَا فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه البيهقي)

Dari Abi Dzar ra “Barangsiapa menyiarkan berita buruk seorang Muslim untuk memburukkannya dengan berita itu secara tidak haq, maka dengan itu Allah akan memburukkannya di dalam api Neraka pada hari Kiamat.” (HR. Al-Baihaqi)

4. Maka terhadap orang yang seperti ini, Allah Swt memerintahkan kita agar hati-hati, agar jauhi dan jangan sekali-kali mengikutinya. Allah Swt berfirman ;

(وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافࣲ مَّهِینٍ, هَمَّازࣲ مَّشَّاۤءِۭ بِنَمِیمࣲ, مَّنَّاعࣲ لِّلۡخَیۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِیم)

“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, Suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah, Yang merintangi segala yang baik, yang melampaui batas dan banyak dosa.” (QS. Al-Qalam 10 – 12)

5. Mudah-mudahan Allah Swt hindarkan kita semua dari keburukan dan kebusukan orang-orang seperti ini, yang selalu berjalan di tengah-tengah manusia, diantara anak bangsa dan negara untuk memecah belah, mengadu domba, membuat kekacauan, menebar fitnah, demi ambisinya semata.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Lebih Sesat dari Hewan Ternak

Fa’tabiruu Ya Ulil Abshaar !!

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

📌 Ada manusia mengolok-olok cadar, gamis, jenggot, dan jidat hitam, tp dia membiarkan pakaian seksi dan umbar aurat … Fa’tabiruu ya ulil Abshaar!!

📌 Ada manusia habis waktunya mendebatkan sampaikah bacaan Al Fatihah kepada mayit, tapi dia tidak pernah menyampaikan bacaan doa untuk saudaranya terzalimi di Palestina, Rohingnya, Uighur, dan lainnya … Fa’tabiruu ya Ulil Abshaar !!

📌 Ada manusia yang rajin mengoleksi kesalahan saudaranya yang sudah mau shalat setelah lama dia meninggalkannya, tp dia mendiamkan keluarganya sendiri yang tidak mau shalat di depan hidungnya … Fa’tabiruu ya Ulil Abshaar!!

📌 Ada orang yang meributkan hukum membunuh cicak, nyamuk, dan lalat, tp tidak pernah sibuk terhadap tertumpahnya darah kaum muslimin di daerah minoritas di berbagai belahan dunia … Fa’tabiruu Ya Ulil Abshaar !!

📌 Semua ini terjadi karena gagal fahamnya terhadap Fiqih Aulawiyat (Fiqih Prioritas) .. Fa’tabiruu ya ulil Abshaar!!

Wallahul Muwaffiq Ilaa aqwamith Thariq

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Tuhan Alam

Berhala Salah Satu Tempat Jin, Salahkah Pernyataan ini?

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Dalam Shahih Bukhari tertulis:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، «صَارَتِ الأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوحٍ فِي العَرَبِ بَعْدُ أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الجَنْدَلِ، وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ، وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ، ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ، عِنْدَ سَبَإٍ، وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ، وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الكَلاَعِ، أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ، أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ، فَفَعَلُوا، فَلَمْ تُعْبَدْ، حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ العِلْمُ عُبِدَتْ

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma bahwanya; Berhala-berhala yang dahulu di agungkan oleh kaum Nabi Nuh, di kemudian hari tersebar di bangsa Arab. Wadd menjadi berhala untuk kamu Kalb di Daumah Al Jandal. Suwa’ untuk Bani Hudzail. Yaghuts untuk Murad dan Bani Ghuthaif di Jauf tepatnya di Saba`. Adapun Ya’uq adalah untuk Bani Hamdan. Sedangkan Nashr untuk Himyar keluarga Dzul Kala’. Itulah nama-nama orang Shalih dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, SYETAN membisikkan kepada kaum mereka untuk mendirikan berhala pada majelis mereka dan menamakannya dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukan hal itu, dan saat itu berhala-berhala itu belum disembah hingga mereka wafat, sesudah itu, setelah ilmu tiada, maka berhala-berhala itu pun disembah.”

(HR. Bukhari no. 4920)

Imam Ibnu Katsir menyebutkan tentang Jin wanita yang keluar dari berhala ‘Uzza yang disembah di sebuah rumah, dan jin wanita itu dibunuh oleh Khalid bin Walid Radhiyallahu’ Anhu.

Berikut ini kisahnya:

وَقَدْ رَوَى الْوَاقِدِيُّ وَغَيْرُهُ أَنَّهُ لَمَّا قَدِمَهَا خَالِدٌ لِخَمْسٍ بَقِينَ مِنْ رَمَضَانَ فَهَدَمَهَا
وَرَجَعَ فَأَخْبَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” مَا رَأَيْتَ؟ ” قَالَ: لَمْ أَرَ شَيْئًا.
فَأَمَرَهُ بِالرُّجُوعِ، فَلَمَّا رَجَعَ خَرَجَتْ إِلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْبَيْتِ امْرَأَةٌ سَوْدَاءُ نَاشِرَةٌ شَعْرَهَا تُوَلْوِلُ فَعَلَاهَا بِالسَّيْفِ وَجَعَلَ يَقُولُ: يَا عزى كُفْرَانَكِ لَا سُبْحَانَكِ إِنِّي رَأَيْتُ اللَّهَ قَدْ أَهَانَكِ ثُمَّ خَرَّبَ ذَلِكَ الْبَيْتَ الَّذِي كَانَتْ فِيهِ، وَأَخَذَ مَا كَانَ فِيهِ مِنَ الْأَمْوَالِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ، ثُمَّ رَجَعَ فَأَخْبَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” تِلْكَ الْعُزَّى وَلَا تعبد أبدا “

ِAl Waqidi dan lainnya meriwayatkan bahwa saat Khalid mendatangi berhala (patung) ‘Uzza di lima hari sisa bulan Ramadhan, dia menghancurkannya, lalu dia pulang dan mengabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu, Rasulullah bertanya:

“Apa yang kamu lihat?”

Khalid menjawab: “Aku tidak lihat apa-apa.”

Maka, Rasulullah memerintahkannya untuk kembali, saat dia kembali ke rumah itu, dari rumah tersebut keluar seorang wanita hitam yang rambutnya berantakan lalu Khalid membunuhnya dengan pedang dan berkata: “Wahai ‘Uzza kami kafir kepadamu dan kau bukan maha suci. Aku melihat Allah menghinakanmu.”

Lalu rumah itu dirubuhkan yang mana wanita itu ada di dalamnya, lalu Khalid menyelamatkan harta yang ada di dalamnya, lalu mengabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , lalu beliau bersabda: “Itulah ‘Uzza dan tidak akan lagi disembah selamanya.”

(Imam Ibnu Katsir, Sirah An Nabawiyah, jilid. 3, hal. 597)

Maka, menyebut berhala atau patung tempat bertenggernya jin apakah sebuah kesalahan atau penistaan?

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berbuat Kebajikan

Masa Depan Milik Umat Ini

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai, dan setelah itu menggantikan rasa takut mereka dengan rasa aman.

(QS. An-Nur, Ayat 55)

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّينِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ فِي الْأَرْض

Dari Ubay bin Ka’b dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan kejayaan, kemuliaan, agama, pertolongan dan kekuasaan di muka bumi.”

(HR. Ahmad no. 20273, Al Hakim dalam Al Mustadrak no. 7862, beliau berkata: Shahih. Disepakati keshahihannya oleh Imam Adz Dzahabi)

ِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ أُمَّتِي مَثَلُ الْمَطَرِ لَا يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ

Dari Anas berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan umatku seperti hujan, tidak diketahui (apakah) yang baik pada permulaannya ataukah akhirnya.”

(HR. At Tirmidzi no. 2869, At Tirmidzi berkata: hasan)

Beberapa Pelajaran:

1. Orang beriman dan beramal shalih adalah pewaris sah kekuasaan di muka bumi, yang melalui mereka Allah Ta’ala memberikan manusia kesejahteraan dan keamanan, serta menghilangkan rasa takut.

2. Iman yang benar dan kuat, dan amal shalih yang benar, menjadi syarat yang tidak bisa ditawar untuk kejayaan umat Islam.

3. Iman di sini adalah keimanan yang memunculkan rasa cinta kepada Allah, Rasul, Islam, jihad, dan sesama muslim secara mendalam yang memunculkan pribadi yang rela mati demi kejayaannya, dan menjadikan akhirat adalah tujuan, dunia adalah persinggahan.

4. Amal shalih di sini tidak terhenti pada ibadah ritual, berakhlak baik, dan menghidupkan sunnah, tetapi juga mengumpulkan segenap “sebab-sebab” sunnatullah yang nyata untuk terwujudnya kejayaan. Seperti penguasaan pada ekonomi, militer, media, dan politik.

5. Kekuasaan dan kejayaan pernah dialami umat ini dalam kurun waktu satu milenium, hampir meliputi dua pertiga luas daratan bumi. Tidak ada satu pun tanah melainkan di sana berkumandang adzan. Kita punya peluang dan seperangkat sumber daya yang sama untuk mengembalikan masa-masa itu.

6. Benar bahwa sebaik-baiknya zaman adalah zaman Rasulullah ﷺ dan para sahabat, lalu tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Namun, itu tidak berarti umat ini diajarkan pesimis. Sebab, walau kita tidak sehebat mereka tetapi Rasulullah ﷺ memberitakan kejayaan tetap bagi umat ini.

7. Umat ini diumpamakan bagaikan hujan, maksudnya adalah dari sisi manfaatnya kepada manusia. Ada pun keutamaan (afdhaliyah) maka umat terdahulu jelas lebih utama. (Lihat Tuhfah al Ahwdzi, jilid. 8, hal. 305). Itulah yang tidak diketahui mana yang lebih baik generasi awal atau akhir.

8. Tidak ragu lagi, umat terdahulu berjuang dalam peletakan batu pertama dan awal pembangunan, lalu umat setelahnya berkorban dalam menyebarkan dan mengokohkan. Semua yg mereka lakukan patut diapresiasi, semoga Allah Ta’ala berikan ampunan atas kesalahannya dan membalas dengan pahala atas kebaikannya.

Demikian. Wallahul Muwaffiq Ilaa aqwamith Thariq

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678