Umat Mulia Karena Islam

MELEJITKAN POTENSI DIRI DENGAN ZIKIR

Oleh: Ust. Dr. Abas Mansur Tamam

Hadits:

عن أبي مُوسَى رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم: (مَثَلُ الذي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ) (البخاري 5/6044؛ مسلم 1/779)

Diriwayatkan dari Abu Musa, Nabi saw. bersabda: “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berzikir adalah seperti perbandingan antara hidup dan mati” (Bukhari, 5/6044; Muslim, 1/779).

Andai kualitas hidup hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, posisi manusia tentu sangat kecil di jagat ini.

Beruntung Allah memberikan al-asma’a kullaha, yaitu seluruh ilmu pengetahuan dasar kepada Adam. Dengan bekal ilmu pengetahuan, Adam menjadi makhluk yang lebih mulia dibanding semua makhluk yang ada, termasuk malaikat.

Kini kita berkewajiban mewarisi dan mengembangkan ilmu itu dalam berbagai spesialisasi. Karena itu keunggulan berpikir menjadi parameter kemuliaan manusia setelah iman.

Firman Allah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Al-Mujadilah [58]: 11).

Tetapi akal bukan satu-satunya inti kemanusiaan. Ada yang lain, yaitu ruh. Dua-duanya harus terberdayakan. Olah pikir dan olah zikir menjadi dua sisi mata uang.
Ali Syariati menyebutnya kesatuan antara rausan fikir dan rausan zikir.

Tetapi ada yang unik dari rausan zikir. Bahwa kecanggihan di bidang ini bisa mempercepat pemberdayaan dimensi haraki (pisik) dan fikri (akal). Dalam zikir terdapat energi besar.

Banyak fakta yang bisa direfleksikan terkait dengan persoalan ini. Dalam penelitian Napoleon Benavarte, prajurit-prajurit yang taat beragama jauh lebih unggul:
“Perbandingan antara tentara yang tidak bermoral dengan tentara yang bermoral adalah 1:2”.
Gambaran yang mirip juga ada dalam Alquran. Dalam kondisi lemah, perbandingan tentara kafir dengan tentara Mukmin adalah 1:2.
Dalam kondisi normal perbandingan itu adalah 1:10 (Al-Anfal [8]: 65-66). Itu perbandingan rata-rata.

Ada perbandingan yang lebih dahsyat. Dalam ekspansinya ke Mesir, Jenderal Amr bin Ash meminta bantuan 4000 tentara kepada Khalifah Umar bin Khattab. Anehnya, beliau hanya mengirimkan 4 orang sahabat. Dalam suratnya Umar berkata: wahid fi alfi rajul, satu sebanding seribu orang.

Abu Bakar pernah menggambarkan seorang sahabat yang tidak terkenal, tapi punya energi hidup yang sangat besar: “Sebuah pasukan tidak akan dikalahkan jika di situ ada Qo’qo bin Amr”.
Energi itu juga yang membuat Khalid bin Walid mampu mengikuti 100 peperangan. Dalam perang Yarmuk saja, dengan pedangnya ia membunuh 5 ribu dan mematahkan 9 pedang musuh.

Kebetulan saja ilustrasi ini diawali dari tesis Napoleon, jadi data-datanya lebih banyak tentang perang.

Tetapi sungguh zikir bisa menjadi energi untuk seluruh aktifitas kemanusiaan, termasuk diantaranya kegiatan ilmiah dan akademik. Banyak fakta sejarah yang bisa kita angkat untuk ilustrasi yang terakhir ini.

Ibn Taimiyah, dalam sehari menghabiskan 4 kurasah (± 48 lembar) untuk menulis. Beberapa bukunya ditulis sekali duduk. Dan buku-buku yang beliau tulis lebih dari 1000 judul. Kebanyakan manuskripnya tidak sampai kepada kita.

Ibn Jarir Al-Thabari menulis sebanyak 100 ribu halaman dalam hidupnya. Tentu pula tidak semuanya sampai ke tangan kita.

Muhammad Abduh dalam sekali duduk sebelum tidur sanggup menulis sanggahan terhadap Gabriel Hanotox, seorang orientalis yang menjadi menteri luar negeri Prancis pada masanya. Tulisan itu kurang lebih setengah dari buku Al-Islam Din al-Ilmi wa al-Madaniyah yang terbit dalam 227 halaman.

Banyak ulama menghasilkan produk ilmiahnya bahkan pada usia yang ralatif muda. Misalnya, buku-buku Sibawaih di bidang nahwu umumnya ditulis pada usia 30 tahun. Dan Imam Nawawy yang meninggal dalam usia 45 tahun telah meninggalkan khazanah yang sangat besar dalam fiqih Syafi’iyyah.

Apa rahasia mereka? Hemat saya, rahasianya ada pada kualitas zikir.

Bahwa kecanggihan ruhiyah bisa mengangkat potensi-potensi kemanusiaan sehingga bisa melakukan sesuatu yang mirip adimanusiawi, jauh di luar kemampuhan manusia rata-rata. Hal itu karena yang telah berperan dalam diri mereka tidak murni dimensi kemanusiaannya.

Ada energi besar yang diserap dengan keluhuran ruhiyahnya. Energi itu berasal dari Allah swt. Hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah mendukung tesis ini.

Rasulullah saw. bersabda:

قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ قال: من عَادَى لي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلي عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إلي مِمَّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلي بِالنَّوَافِلِ حتى أُحِبَّهُ، فإذا أَحْبَبْتُهُ كنت سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ التي يَبْطِشُ بها، وَرِجْلَهُ التي يَمْشِي بها، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شَيْءٍ أنا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وأنا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Artinya:
“Siapa yang memusuhi Aku, maksudnya memusuhi wali-Ku, maka Aku akan mengumumkan perang kepadanya.
Tidaklah hamba-Ku taqarrub kepada-Ku lebih Aku cintai dari jenis ibadah yang telah Aku fardukan.

Jika hamba-Ku terus bertaqarrub dengan nawafil, maka Aku akan mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya ketika dia mendengar. Akulah matanya ketika dia melihat. Akulah tangannya ketika dia merangkak. Dan akulah kakinya yang dia pakai untuk melangkah.

Jika dia meminta sesuatu pada-Ku, pasti akan Aku kabulkan. Jika ia meminta perlindungan, pasti akan Aku lindungi.  Dan Aku tidak ragu melakukan suatu perbuatan seperti keraguan-Ku untuk mewafatkan seorang mukmin, dia belum mau mati sedangkan Aku tidak mau menyakitinya”  (Bukhari, 5/6137).

Kematangan ruhiyah bukan hanya akan mempercepat produktifitas dengan kualitas adiluhung, juga akan membuat manusia bertahan menghadapi pekerjaan besar dalam waktu yang lama.

Misalnya, Ibn Asakir bertahan menulis Tarikh Dimasyq dalam rentang waktu 60 tahun. Semua orang penting dari kaum cendekia, sastrawan, penyair, bahkan orang-orang linglung terkenal di Damaskus ditulis dalam bukunya.

Ibn Khaldun, bertahan menyendiri di sebuah benteng untuk menulis tarikhnya, Tarikh Ibn Khalidun.

Begitu pula Imam Ghazali. Ia menyendiri di sebuah kamar di Baitul Maqdis, menulis Ihya Ulumuddin.

Apa yang telah membuat mereka mampu bertahan? Lagi-lagi adalah kematangan ruhiyah, kualitas dzikir.

Sebuah ilustrasi yang amat qudus, Allah swt. menceritakan diri-Nya tentang penciptaan langit dan bumi. Orang-orang Yahudi dan Nasrani menyebut, Tuhan letih setelah bekerja enam hari. Maka di hari ketujuh Ia beristirahat.

Tetapi Allah swt. membantah:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

Artinya: “Sesungguhnya telah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan” (Qaf [50]: 38).

Yang unik ayat itu diteruskan dengan perintah agar Rasulullah Saw bersabar, bertasbih di pagi hari dan petang, solat malam dan bertasbih seusai sholat. Agar ia bertahan dalam menjalankan tugas besar dengan tantangan yang berat.

Firman Allah:

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ. وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ

Artinya: “Maka bersabarlah engkau terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam. Dan bertasbihlah engkau kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang” (Qaf [50]: 39-40).

Allah swt. telah menjadikan hidup manusia dengan beban yang cukup berat. Semakin tinggi kedudukan agama, sosial dan politiknya semakin berat lagi beban yang ada di pundaknya.

Dengan bekal taqorrub, tilawah, salat dan tasbih, semua beban itu dengan izin Allah akan mudah dihadapi.

Dengan bekal zikir semangat hidup akan terus menyala, aktifitas mengalir deras, kesabaran akan tak kenal batas, dan proyek-proyek besar akan sukses dijalankan.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Agungkan Allah Ketika Ruku dan Sujud

Sujud Sahwi; Apa dan Bagaimana?

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Definisi (Tarif)

Secara bahasa (etimologi), sahwi diambil dari kata sahaa  yashuu – sahwan  suhuwwan artinya lupa, lalai. Sahaa fil amri artinya lupa terhadap sesuatu.

Secara istilah (terminologi), sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dikerjakan karena lupa terhadap suatu hal penting dalam shalat.

Kaifiyat (cara)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

كيفيته: سجود السهو سجدتان يسجدهما المصلي قبل التسليم أو بعده

Caranya: sujud sahwi sebanyak dua kali sujud dilakukan oleh orang yang shalat sebelum salam atau sesudahnya. (Fiqhus Sunnah, 1/225)

Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah pada sujud sahwi terdapat tasyahud dan salam atau tidak. Atau tanpa tasyahud tapi dengan salam? Atau dibedakan antara sebelum salam dan sesudahnya? Atau bagaimanakah ..?

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah meringkas perbedaan tersebut sebagai berikut:

واختلفوا في التشهد في سجدتي السهو والسلام منهما فقالت طائفة لا تشهد فيهما ولا تسليم وروي ذلك عن أنس بن مالك والحسن البصري ورواية عن عطاء وهو قول الأوزاعي،والشافعي لأن السجود كله عندهما قبل السلام فلا وجه لإعادة التشهد عندهما وقد روي عن عطاء إن شاء تشهد وسلم وإن شاء لم يفعل.
وقال آخرون يتشهد فيهما لا يسلم قاله يزيد بن قسيط ورواية عن الحكم وحماد والنخعي وقتادة والحكم وبه قال مالك وأكثر أصحابه والليث بن سعد والثوري وأبو حنيفة وأصحابه. وقال أحمد بن حنبل إن سجد قبل السلام لم يتشهد وإن سجد بعد السلام تشهد وبهذا قال جماعة من أصحاب مالك وروي أيضا عن مالك.
وقال ابن سيرين يسلم منهما ولا يتشهد فيهما

Mereka berbeda pendapat tentang bertasyahud dan salam pada dua sujud sahwi. Sekelompok ulama mengatakan tidak ada tasyahud dan tidak ada salam, pendapat ini diriwayatkan dari Anas bin Malik, Al Hasan Al Bashri, dan riwayat dari Atha, dan ini merupakan pendapat Al Auzai dan Asy Syafii, karena menurut mereka berdua semua sujud dilakukan sebelum salam, maka tidak ada alasannya mengulangi tasyahud bagi dua sujud itu. Diriwayatkan dari Atha: jika mau silahkan tasyahud dan salam, jika tidak maka jangan lakukan.

Ulama lain berpendapat, tasyahud dilakukan pada dua sujud itu namun tidak salam, ini pendapat Zaid bin Qasith, dan merupakan riwayat dari Al Hakam, Hammad, An Nakhai, Qatadah, dan ini pendapat Malik dan kebanyakan para sahabatnya,  Al Laits bin Saad, Ats Tsauri, Abu Hanifah dan para sahabatnya.

Berkata Ahmad bin Hambal, jika sujudnya sebelum salam maka tidak ada tasyahud, jika sujudnya sesudah salam maka bertasyahud. Dengan ini pula pendapat segolongan ulama dari sahabat Malik, dan diriwayatkjan dari Malik pula. Ibnu Sirin mengatakan: salam pada kedua sujud itu tapi tanpa tasyahud.  (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 10/207-208)

Apa yang dibaca ketika sujud sahwi?

Sebagian fuqaha menyebutkan dalam kitab-kitab mereka bahwa disunahkan bacaan dalam sujud sahwi adalah:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَسْهُو وَلَا يَنَامُ

Subhana man laa yashuu wa laa yanaam – Maha Suci Yang tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur.

Doa ini berserakan dalam kitab-kitab fiqih induk  madzhab Hanafi dan syafii seperti:

Madzhab Hanafi
Imam Ahmad bin Muhamamd bin Ismail Ath Thahawi, Miraqi Al Falah, Hal. 298

Madzhab Syafii
Imam An Nawawi, Raudhatuth Thalibin, 1/315
Imam Sulaiman bin Muhammad Al Bujirumi, Hasyiyah Al Bujirumi Alal Minhaj, 3/106.
Imam Zakariya Al Anshari,  Asna Al Mathalib, 3/156.
Imam Ar Rafii, Syarh Al Kabir, 4/180.
Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, 7/136.
Imam Sulaiman bin Umar Al Jumal, Hasyiyah Al Jumal, 4/236.
Imam Syihabudin Al Qalyubi dan Imam Ahmad Amirah, Hasyiyah  Qalyubi wa Amirah, 3/97
Imam Ibnu Ruslan, Syarh Kitab Ghayah Al Bayan, 1/ 209
Imam Zainuddin Al Malibari, Fathul Muin, 1/97
Imam Muhammad Al Khathib Asy Syarbini, Mughni Muhtaj, 3/93
Imam Syihabuddin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5/233

Namun bacaan ini tidak shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tidak ada keterangan yang sah tentang ucapan yang mesti dibaca dalam sujud sahwi.

Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah mengomentari bacaan di atas:

لا يصح تقييد هذا التسبيح في سجود السهو

Tidak benar mengkaitkan tasbih ini pada sujud sahwi. (Muhadzdzab Mu’jam Al Manahi Al Lafzhiyah, Hal. 89)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah juga telah menjelaskan:

قَوْلُهُ سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ قُلْت لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا

Ucapannya (Ar Rafi’i): aku mendengar sebagian imam menceritakan bahwa disunahkan membaca pada dua sujud itu: Subhana man laa yanaam wa laa yashuu, yaitu pada dua sujud sahwi. Aku (Imam Ibnu Hajar) berkata: Saya tidak temukan asal usul ucapan ini.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 2/14. Cet. 1, 1989M-1419H. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Oleh karenanya sebagian ulama seperti Imam Ibnu Qudamah- menyebutkan bahwa bacaan sujud sahwi adalah sama dengan sujud biasa. Inilah yang lebih baik.

Berkata Syaikh Abu Thayyib Ali Hasan faraaj:

والصواب: أن يقول في سجود السهو مثل ما يقول في سجود الصلاة

Yang benar adalah membaca pada sujud sahwi seperti membaca pada sujud shalat. (Tanbih As Saajid, Hal. 10)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

وبعض الفقهاء يستحب أن يقول في سجود السهو ( سبحان من لا يسهو ولا ينام ) ، ولكن لا دليل عليه ، فالمشروع هو الاقتصار على ما يذكر في سجود الصلاة، ولا يعتاد ذكرا غيره

Sebagian fuqaha menganjurkan membaca pada sujud sahwi (subhana man laa yashuu wa laa yanaam), tetapi ini tidak ada dalilnya, maka yang disyariatkan adalah bacaan sebagaimana dibaca dalam sujud shalat, dan tidak ada pembiasaan dzikir selain itu. (Fatawa Islamiyah Su’al wa Jawab, No. 77430)

Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

قول في سجود السهو كما يقول في سجود الصلاة لعموم قول الرسول صلى الله عليه وسلم في قوله تعالى (سبح اسم ربك الأعلى) قال (اجعلوها في سجودكم) فهو يقول كما يقول في سجود الصلاة وكذلك في الجلسة بين السجدتين يقول فيها كما يقول في الجلسة بين السجدتين في صلب الصلاة ولا ينبغي أن يقول سبحان من لا ينسى سبحان من لا يسهو أو ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا لأن هذا لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم

Ucapan pada sujud sahwi adalah sama seperti sujud shalat, karena keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang firman Allah Ta’ala: (sabbihisma rabbikal ala) jadikanlah ia pada   sujud kalian. Maka, bacaannya sebagaimana bacaan pada sujud shalat, begitu juga ketika duduk di antara dua sujud, bacaannya adalah sama dengan bacaan duduk di antara dua sujud dalam shalat. Semestinya tidak membaca: subhana man laa yansaa subhana man laa yashuu atau rabbanaa laa tuakhidzna innaa siina aw akhthanaa, karena bacaan ini tidak ada riwayatnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. (Syaikh Ibnul Utsaimin, Fatawa Nur Alad Darb,  Bab Shalat No. 1531)

Sebab Apakah sujud sahwi terjadi?

Sebab-sebab terjadinya sujud sahwi adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Berkata Imam Daud Azh Zhahiri:

لا يسجد أحد للسهو إلا في المواضع التي سجد فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم

Tidak seorang pun sujud sahwi kecuali pada tempat yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sujud padanya. (At Tamhid, 10/207)

Sujud Sahwi terjadi dalam beberapa keadaan berikut:

1. Memberi salam padahal shalat belum sempurna.

Dalilnya adalah: Dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ سَمَّاهَا أَبُو هُرَيْرَةَ وَلَكِنْ نَسِيتُ أَنَا قَالَ فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ إِلَى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَاتَّكَأَ عَلَيْهَا كَأَنَّه غَضْبَانُ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ وَوَضَعَ خَدَّهُ الْأَيْمَنَ عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَخَرَجَتْ السَّرَعَانُ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالُوا قَصُرَتْ الصَّلَاةُ وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ وَفِي الْقَوْمِ رَجُلٌ فِي يَدَيْهِ طُولٌ يُقَالُ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتْ الصَّلَاةُ قَالَ لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ فَقَالَ أَكَمَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالُوا نَعَمْ فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى مَا تَرَكَ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وكبر. فربما سألوه: ثم سلم؟ فيقول: نبئت أن عمران بن حصين قال: ثم سلم.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat bersama kami pada suatu shalat siang.” Demikianlah Abu Hurairah menamakannya tetapi saya telah lupa. Dan Abu Hurairah berkata: Lalu Beliau shalat bersama kami dua rakaat lalu salam. Kemudian Beliau bangun menuju sebuah kayu yang terbentang di masjid dan bersandar padanya seakan dia sedang marah. Lalu Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dan merekatkan jari-jarinya, dan meletakan pipi kanannya pada punggung telapak tangan kirinya. Manusia bergegas keluar melalui pintu masjid dan mengatakan: Shalat diqashar! Pada mereka terdapat Abu Bakar dan Umar. Keduanya segan untuk menanyakan hal itu. Pada mereka ada seseorang bertangan panjang yang dinamakan   Dzulyadain, dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kau lupa atau kau mengqashar shalat? Beliau menjawab: Aku tidak lupa dan tidak juga qashar. Maka nabi bertanya: Apakah benar apa yang dikatakan Dzulyadain? Mereka menjawab Benar. Maka beliau maju dan shalat melanjutkan yang tertinggal, lalu dia takbir dan sujud sebagaimana sujudnya atau lebih panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir, kemudian takbir dan sujud sebagaimana sujudnya  atau lebih panjang, kemudian dia mengangkat kepalanya lagi dan bertakbir. Barangkali mereka bertanya: Kemudian salam? Dikabarkan kepadaku bahwa Imran bin Hushain berkata: Kemudian salam.  (HR. Bukhari   No. 482 dan Muslim No. 573)

Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam Bab As Sahwi fis Shalah was Sujud Lahu (Bab Lupa Dalam Shalat dan Sujud Karenanya)

Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sujud sahwi setelah salam, Beliau melakukannya tanpa tasyahud, tetapi ditutup dengan salam lagi sebagaimana ditegaskan oleh Imran bin Hushain. Inilah petunjuk yang sangat jelas tentang cara sujud sahwi.

2. Kelebihan jumlah rakaat shalat.

Ini juga menyebabkan seseorang wajib menjalankan sujud sahwi. Dalilnya adalah:

Dari Abdullah bin Masud Radhiallahu Anhu, katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ صَلَّيْتَ خَمْسًا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat zhuhur lima rakaat. Lalu ada orang yang berkata kepadanya: Apakah memang rakaat shalat ditambah? Beliau bersabda: Memang kenapa? orang itu menjawab: Engkau shalat lima rakaat. Maka Nabi pun sujud dua kali setelah salam. (HR. Bukhari No. 1168 dan Muslim No. 572)

Riwayat ini, menunjukkan sujud sahwi Beliau lakukan setelah salam. Sujud sahwi setelah salam dilakukan karena kesalahan tersebut diketahui dan diingat setelah usai shalat (setelah salam).

3. Lupa melakukan tasyahhud awal atau meninggalkan sunah-sunah dalam shalat.

Dalilnya adalah, dari Ibnu Buhainah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ فَسَبَّحُوا فَمَضَى فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat, beliau bangun pada rakaat kedua, maka jamaah mengucapkan ‘subhanallah’  maka beliau tetap melanjutkannya, lalu ketika selesai shalat, Belia sujud dua kali lalu salam.” (HR. An Nasa’i No. 1177, 1178,  Ibnu Majah No. 1206, 1207. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasai No. 1177, 1178, dan Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1206, 1207)

Menurut hadits ini jika sudah terlanjur tegak berdiri, maka imam tidak usah duduk lagi, dia lanjutkan saja tetapi setelah selesai shalat dia sujud dua kali (sahwi) lalu salam. Tetapi, jika berdirinya belum sempurna tegaknya, maka boleh baginya untuk duduk lagi untuk tasyahhud awal, dan akhirnya tanpa melakukan sujud sahwi.

Hal ini ditegaskan dalam riwayat dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ

“Jika salah seorang kalian berdiri ketika rakaat kedua tetapi belum sempurna, maka hendaknya duduk, jika sudah sempurna maka janganlah duduk. Lalu sujudlah dua kali sebagai sahwi.” (HR. Abu Daud No. 949, 950, Ibnu Majah No. 1208. Hadits ini shahih. Lihat Al Misykah Al Mashabih No. 1020, As Silsilah Ash Shahihah No. 341)

Riwayat ini menunjukkan bahwa sujud sahwi juga bisa dilakukan sebelum salam, yakni ketika kesalahan tersebut diketahui dan diingat masih di dalam shalat.

Hadits-hadits ini  juga menunjukkan bahwa meninggalkan sunah-sunah shalat mengharuskan pelakunya untuk sujud sahwi.

Bagaimana meninggalkan qunut shubuh?

Bagi yang meyakini qunut shubuh adalah sunah, tentu mereka meyakini jika meninggalkannya  atau salah dalam menempatkannya, maka hendaknya sujud sahwi. Inilah keyakinan  masyhur  ulama madzhab Asy Syafi’i.

Berkata Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu:

ولذلك لو أطال القيام ينوى به القنوت كان عليه سجود السهو لان القنوت عمل معدود من عمل الصلاة فإذا عمله في غير موضعه أوجب عليه السهو

“Oleh karena itu, jika seseorang memperlama berdiri, dengan itu dia meniatkan sebagai qunut, maka wajib baginya sujud sahwi, sebab qunut adalah amalan tertentu di antara amalan  shalat lainnya, jika dia melakukannya bukan pada tempatnya, maka wajib baginya sahwi.” (Imam Asy Syafi’i, Al Umm, 1/136, Darul Fikr)

Maka, bagi yang berkeyakinan sebagaimana madzhab Asy Syafi’i bahwa qunut itu adalah sunah, sedangkan meninggalkan sunah adalah termasuk sebab terjadinya sujud sahwi, maka sangat wajar dia melakukan sujud sahwi itu. Tetapi, bagi seseorang yang tidak meyakini adanya qunut shubuh, bahkan membid’ahkannya, karena dia mengikuti pendapat Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Hanifah dan lainnya, maka tidak mungkin dia sujud sahwi karena meninggalkannya, sebab menurutnya qunut shubuh adalah bid’ah dan keliru, tidak mungkin sujud sahwi gara-gara meninggalkan bid’ah dan kekeliruan. Maka, hal yang menjadi aneh jika ada orang yang tidak meyakini adanya qunut, tetapi dia sujud sahwi gara-gara meninggalkan sesuatu yang dianggapnya bid’ah itu. Begitu pula jika dia menjadi makmum bagi imam yang berqunut,  ketika imam sujud sahwi karena meninggalkan qunut, maka makmum seperti itu tidak perlu ikut sahwi, sebab dia tidak meyakini syariat qunut. Imam meyakini sunah, maka wajar dia sahwi jika meninggalkannya, sedangkan makmum meyakininya bid’ah, maka menjadi tidak wajar jika dia sahwi karena meninggalkannya.
Tetapi, kami menganjurkan, apalagi di daerah yang rawan dan sensitif, hendaknya makmum bersikap bijak untuk mengikuti dan mengaminkan imam yang qunut. Bukan karena membenarkannya, tetapi untuk menjaga kesatuan hati dan rapatnya shaf kaum muslimin.    Inilah sikap yang diambil oleh Imam Ahmad bin Hambal, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, para ulama di Lajnah Daimah, dan lainnya. (Lihat Tulisan saya: Sikap Bijak Para Imam Ahlus Sunnah Menghadapi Persoalan Qunut)
Wallahu A’lam

4. Ragu-Ragu Dalam Shalat.  Hal ini juga membuat wajib seseorang untuk sujud sahwi.

Dalilnya:
Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي الْوَاحِدَةِ وَالثِّنْتَيْنِ فَلْيَجْعَلْهُمَا وَاحِدَةً وَإِذَا شَكَّ فِي الثِّنْتَيْنِ وَالثَّلَاثِ فَلْيَجْعَلْهُمَا ثِنْتَيْنِ وَيَسْجُدْ فِي ذَلِكَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Jika  di antara kalian ragu, apakah rakaat pertama dan kedua, maka jadikanlah itu sebagai rakaat pertama saja. Jika kalian ragu pada rakaat kedua dan ketiga, maka jadikanlah itu sebagai rakaat kedua. Oleh karena itu, sujudlah dua kali sebelum salam.” (HR. At Tirmidzi No. 396, Ibnu Majah No. 1204. Hadits ini shahih. Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 396. Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1204)

Dari hadits ini –dan hadits lain yang serupa- Jumhur ulama mengatakan bila seseorang ragu-ragu terhadap jumlah rakaat shalat, maka hendaknya dia meyakinikan rakaat yang lebih sedikit, kemudian dia melakukan sahwi.

Tetapi ada juga ulama yang mengatakan bahwa ragu-ragu dalam shalat,  seseorang yang tidak tahu sudah berapa rakaat shalatnya,  bukan diselesaikan dengan sahwi, tetapi harus diulang shalatnya. Hal ini diinformasikan oleh Imam At Tirmidzi berikut ini:

و قال بعض أهل العلم إذا شك في صلاته فلم يدر كم صلى فليعد

“Berkata sebagian ulama: jika seseorang ragu di dalam shalatnya, dia tidak tahu sudah berapa rakaat shalatnya, maka hendaknya dia mengulangi shalatnya.” (Sunan At Tirmidzi No. 396)

Dan, pendapat jumhur ulama yang menyatakan sujud sahwi adalah pendapat yang lebih kuat dan telah diterangkan dalam berbagai hadits shahih.

Wa akhiru da’wana an alhamdulillahi rabbil ‘alamin …..

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

SURAT AL-IKHLAS (Bag-1)

Oleh: Ahmad Sahal Hasan, Lc

بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

1. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa
2. Allah adalah Ash-Shamad (yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4. Dan tidak ada yang setara dengan Dia, siapapun/apapun.

NAMA SURAT

Dinamakan Surat Al-Ikhlash karena surat ini berbicara tentang ikhlas (pemurnian) dalam beribadah kepada Allah atau tentang tauhid terutama dalam Nama dan Sifat kesempurnaanNya. Oleh karena itu kalimat tauhid “Laa ilaaha illallaah” disebut juga dengan kalimat ikhlas, seperti dalam salah satu lafal dzikir:

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ، وَكَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ (رواه الإمام أحمد وصححه الألباني)

Kami berpagi hari di atas fitrah Islam, kalimat ikhlas (laa ilaaha illallaah), di atas agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, dan sekali-kali ia tidak termasuk orang-orang yang berbuat syirik. (HR. Imam Ahmad dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Ikhlas merupakan lawan dari syirik besar maupun syirik kecil, sehingga ia mengandung dua makna sekaligus:

1. Memurnikan ibadah hanya kepada Allah untuk menghindarkan kaum muslimin dari syirik besar yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang menyembah selain Allah dan tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau mengingkari salah satu rukun iman, sehingga Dia memberitahukan di dalam Al-Quran bahwa seluruh amal baik mereka tidak diterima. (Lihat surat At-Taubah ayat 17, Ibrahim ayat 18, Al-Kahfi ayat 105, An-Nur ayat 39-40, Al-Furqan ayat 23, Muhammad ayat 8, 9,28).

2. Memurnikan niat hanya untuk Allah dalam amal yang dilakukan seorang muslim sehingga ia terhindar dari syirik kecil yaitu riya yang membatalkan pahala amal yang dikotori olehnya.

SABAB NUZUL (SEBAB TURUN) SURAT AL-IKHLAS

Surat Al-Ikhlas menurut mayoritas ulama adalah MAKIYAH (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/611), yakni diturunkan SEBELUM HIJRAH Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, sebagai jawaban dari pertanyaan musyrikin Quraisy:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ} (رواه الترمذي)

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya kaum musyrikin berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jelaskan kepada kami nasab Rabb-mu !” Maka Allah menurunkan: “Qul Huwallahu Ahad Allahush-Shamad..” (HR. Tirmidzi – hadits hasan).

KEUTAMAANNYA

Selain sebagai salah satu dari tiga surat perlindungan (mu’awwidzat) bersama surat Al-Falaq dan An-Nas, surat Al-Ikhlas memiliki keutamaan lain, diantaranya:

SETARA DENGAN SEPERTIGA AL-QURAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta para sahabat untuk berkumpul karena beliau akan membacakan sepertiga Al-Quran. Setelah mereka berkumpul beliau membaca surat Al-Ikhlas, kemudian bersabda:

«إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ، أَلَا إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ»

Sesungguhnya aku telah berkata kepada kalian bahwa aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Quran, ingatlah sesungguhnya ia setara dengan sepertiga Al-Quran. (HR. Muslim).

Yang dimaksud dengan setara sepertiga Al-Quran adalah setara dengan pahala membaca sepertiga Al-Quran, namun tidak menggantikan fungsi sepertiga Al-Quran, baik dalam penyucian jiwa, kandungan petunjuk maupun syarat sah amal.

Misalnya orang yang membaca surat Al-Ikhlas tiga kali di dalam shalat maka pahalanya berdasarkan hadits di atas sama dengan pahala membaca seluruh Al-Qur’an (termasuk Al-Fatihah), akan tetapi surat Al-Ikhlas yang dibaca tiga kali itu tidak dapat menggugurkan kewajiban membaca surat Al-Fatihah itu sendiri. Artinya shalatnya tetap tidak sah jika ia tidak membaca surat Al-Fatihah walaupun ia telah membaca Al-Ikhlas tiga kali.

Dari sudut pandang temanya, para ulama berupaya menjelaskan maksud keutamaan surat Al-Ikhlas setara sepertiga Al-Quran, diantaranya penjelasan Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah:

“Fungsi utama Al-Quran adalah menjelaskan ma’rifatullah (mengenal Allah), ma’rifatul akhirah (mengenal akhirat) dan ma’rifatush-shirathil mustaqim (mengenal jalan yang lurus). Tiga hal ini adalah fungsi utama, sedangkan yang lain adalah turunan. Surat Al-Ikhlas berisi salah satu dari tiga fungsi tersebut, yaitu ma’rifatullah…”  (Dikutip oleh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsirnya Mahasin At-Ta’wil 9/572 dari kitab Jawahir Al-Quran karya Al-Imam Al-Ghazali).

CINTA SURAT AL-IKHLAS MENJADI SEBAB DICINTAI ALLAH

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلاَتِهِمْ فَيَخْتِمُ بِـ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟»، فَسَأَلُوهُ، فَقَالَ: لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ» (رواه البخاري)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutus seorang laki-laki memimpin pasukan perang. Ia mengimami shalat para sahabatnya dan menutup bacaan surat (setelah surat Al-Fatihah) dengan Qul HuwaLlahu Ahad. Ketika kembali, mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Tanyakan padanya, mengapa ia berbuat seperti itu? Maka merekapun bertanya kepadanya, lalu ia menjawab: Karena ia adalah sifat Ar-Rahman, dan aku cinta membacanya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Beritahukan padanya bahwa Allah mencintainya. (HR. Al-Bukhari).

DIBANGUNKAN RUMAH DI SURGA BAGI PEMBACANYA

عَنْ سَهْلِ بنِ مُعَاذِ بن أَنَسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَن رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ قَرَأَ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} عَشْرَ مَرَّاتٍ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ»، فَقَالَ عُمَرُ بن الْخَطَّابِ: إِذنْ نَسْتَكْثِرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «اللَّهُ أَكْثَرُ وَأَطْيَبُ». (رواه الإمام أحمد، وصححه الألباني)

Dari Sahal bin Mu’adz bin Anas, dari ayahnya, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa membaca “Qul Huwallahu ahad” sepuluh kali, Allah akan membangun untuknya rumah di surga. Maka Umar bin Khathab berkata: Kalau begitu, kita perbanyak Ya Rasulullah ? Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah lebih banyak dan lebih baik (karuniaNya daripada amal yang dilakukan hambaNya). (HR. Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Umat Mulia Karena Islam

Pengantar Memahami Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Bag. 1)

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Asal Muasal Istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ ah

Sebenarnya, tidak ada riwayat dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Istilah ini baru ada dan diperkenalkan oleh seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Abbas  Radhiallahu ‘Anhuma.

Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

النظر إلى الرجل من أهل السنة يدعو إلى السنة وينهى عن البدعة ، عبادة

“Melihat seseorang dari Ahlus Sunnah merupakan ajakan menuju sunnah, dan mencegah bid’ah merupakan ibadah.” (Imam Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 1/29.

Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, Al Wajiz fi ‘Aqidah As Salaf Ash Shalih, Hal. 159. Imam Abul Faraj Al Jauzi, Talbis Iblis, Hal.10.
Semua menyebutkan atsar ini tanpa sanad)

Ketika menafsirkan surat Ali Imran ayat 106:

 يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram…” (QS. Ali Imran (3): 106)

Berkata Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:

 تبيض وجوه أهل السنة والجماعة وتسود وجوه أهل البدعة

“Putih berseri wajah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan hitam muram wajah ahli bid’ah.” ( Imam Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkamil Quran, 4/167. Tafsir Ibnu Abi Hatim, 3/124. Imam Al Baghawi, Ma’alimut Tanzil, 2/87. Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 2/10. Imam Ibnul Jauzi, Zaadul Masir, 1/393. Imam As Suyuthi, Ad Durul Mantsur, 2/407)

Namun dalam Shahih Muslim, disebutkan bahwa Imam Muhammad bin Sirin Radhiallahu ‘Anhu menyebut nama “Ahlus Sunnah”, dan ini merupakan riwayat yang lebih valid dibanding sebelumnya

 حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنْ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتْ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

Berkata kepada kami Ja’far  Muhammad bin Shabbah, berkata kepada kami Ismail bin Zakariya, dari ‘Ashim, dari  Ibin Sirin, katanya: Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad.

Ketika terjadi fitnah mereka mengatakan: “Sebutlah nama periwayat kalian kepada kami, maka jika dilihat  dari Ahli Sunnah  maka diambil hadits mereka, dan jika dilihat dari  Ahli Bid’ah maka jangan ambil hadits darinya.” (Shahih Muslim, Bab Bayan Annal Isnaad minad Diin)

Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Berkata Syaikh Muhammad Khalil Hiras:

وَالْمُرَادُ بِالسُّنَّةِ : الطَّرِيقَةُ الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصَحْابُهُ قَبْلَ ظُهُورِ الْبِدَعِ وَالْمَقَالَاتِ
وَالْجَمَاعَةُ فِي الْأَصْلِ : الْقَوْمُ الْمُجْتَمِعُونَ ، وَالْمُرَادُ بِهِمْ هُنَا سَلَفُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ ، الَّذِينَ اجْتَمَعُوا عَلَى الْحَقِّ الصَّرِيحِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Maksud dari As Sunnah adalah jalan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya ada di atasnya, sebelum nampaknya bid’ah dan perkataan-perkataan menyimpang.

Sedangkan Al Jama’ah pada asalnya, bermakna: Kaum yang berkumpul, tetapi yang dimaksud di sini adalah pendahulu umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang berkumpul di atas kebenaran yang jelas dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Syaikh Muhammad Khalil Hiras, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah, Hal. 26)

Berkata Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu tentang makna Al Jama’ah:

الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الَحَقّ ، وَإِن كُنْتَ وَحْدَكَ

“Al Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan kebenaran, walau pun kau seorang diri.” (Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, Al Wajiz fi ‘Aqidah As Salaf Ash Shalih, Hal.25)

Sementara dalam kitab lain, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu pula:

إنما الجماعة ما وافق طاعة الله وإن كنت وحدك

“Sesungguhnya Al Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan ketaatan kepada Allah, walau kau seorang diri.” (Imam Al Lalika’i,  Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 1/63)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri menjelaskan makna Al Jama’ah:

ما أنا عليه وأصحابي

“Apa-apa yang Aku dan sahabatku berada di atasnya.” (HR. At Tirmidzi No. 2641. Syaikh Al Albani mengatakan: hasan. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2641)

Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, memberikan kesimpulan tentang makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagai berikut:

فَأهلُ السُّنَّةِ والجماعة :
هم المتمسكون بسُنٌة النَّبِيِّ- صلى اللّه عليه وعلى آله وسلم- وأَصحابه ومَن تبعهم وسلكَ سبيلهم في الاعتقاد والقول والعمل ، والذين استقاموا على الاتباع وجانبوا الابتداع ، وهم باقون ظاهرون منصورون إِلى يوم القيامة فاتَباعُهم هُدى ، وخِلافهم ضَلال

“Maka, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang berpegang teguh dengan sunnah (jalan) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka dalam perkara aqidah, ucapan, dan perbuatan, dan orang-orang yang istiqamah dalam ittiba’ (mengikuti sunnah) dan menjauhkan bid’ah, merekalah orang-orang yang menang dan mendapat pertolongan pada hari kiamat.

Maka mengikuti mereka adalah petunjuk, dan berselisih dengan mereka adalah sesat.” (Al Wajiz …, Hal. 25)

Jadi, ada dua kata kunci dalam memahami istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah:

1. Apa yang mereka jalankan?
Yakni thariqah (metode/jalan) yang pernah dilakoni oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sahabat, dan tabi’in.

2. Siapa sajakah mereka?
Yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, bersama  kebenaran yang mereka bawa.

Sehingga, siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, manusia yang mengikuti jalan yang pernah ditempuh mereka, maka itulah Ahlus Sunnah wal Jamaah, walaupun dia seorang diri.

Nama Lain Dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki beberapa nama lain, yakni:

1. Al Firqah An Najiyah ( Golongan yang Selamat)

Di berbagai kitab, para Ulama mengistilahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan nama Al Firqah An Najiyah.

Pengistilahan ini terinspirasi dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang perpecahan umat (hadits iftiraq), yang menyebutkan hanya ada satu kelompok yang yang selamat dan masuk surga.

Sementara Imam Muhammad bin Abdil Wahhab menyebutnya dengan istilah Al Millah An Najiyyah. (Ushulul Iman, Hal. 173)

Dari ‘Auf bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, satu di surga, yang 70 di neraka. Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, satu di surga, 71 di neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu di surga, 72 di neraka.”

Rasulullah ditanya: “Ya Rasulullah, siapakah mereka?”

Beliau menjawab: Al Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah No. 3992. Ath Thabarani, Al Kabir No. 129, juga Musnad Asy Syamiyin No. 988.   Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3992)

Hadits perpecahan umat, juga diriwayatkan dari beberapa sahabat selain ‘Auf bin Malik di atas, di antaranya:

Jalur Abu Hurairah, tetapi hanya menyebut jumlah perpecahan, tanpa menyebut “Satu Yang di Surga” dan tanpa menyebut Al Jama’ah. (HR. Abu Daud No. 4596.  Ibnu Hibban No. 1834 (Mawarid Azh Zham’an). Abu Ya’la No. 5910.
Imam Al Hakim mengatakan shahih sesuai syarat Imam Muslim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 1/426/405)

Jalur Anas bin Malik, tetapi hanya menyebut perpecahan Bani Israel (71 kelompok, semua neraka kecuali satu), dan perpecahan Umat Islam saja (72 kelompok, semua neraka kecuali satu, yakni Al Jama’ah), tanpa menyebut perpecahan Nasrani. (HR. Ibnu Majah No. 3993. Al Baihaqi, Dalail An Nubuwwah, 7/42/2545.

Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2042).

Secara zhahir, hadits ini bertentangan dengan  hadits dari ‘Auf bin Malik di atas, yang menyebut umat Islam terpecah menjadi 73.

Ini hanya sebagian saja dari hadits tentang iftiraqul ummah (perpecahan umat), yang menjadi dasar bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah Al Firqah An Najiyah.

Catatan:
Sebagaian ulama ada yang meragukan validitas (keshahihan) hadits-hadits di atas. Seperti Imam Abu Muhammad bin Hazm, Imam Ibnul Wazir Al Yamani, dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi hafizhahullah. Ada beberapa alasan yang mereka utarakan, di antaranya:

1. Hadits ini sangat penting, bahkan Imam Al Hakim menyebutnya dengan: Ushulul Kabir (dasar-dasar yang agung).

Namun, Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya. Betul bahwa hadits shahih juga banyak tersebar di kitab-kitab selain Bukhari-Muslim, tetapi mereka tidaklah meninggalkan dalam kitabnya masalah-masalah sepenting ini.

2. Perpecahan umat Islam ada 73, kenapa umat terbaik perpecahaannya koq lebih banyak?

3. Kalimat yang menyebutkan pengecualian yang selamat, yakni kata-kata: “Kecuali satu yang surga,” atau kata “Al Jama’ah” berpotensi disalahgunakan oleh sebagian orang untuk membenarkan kelompoknya, dan menyalahkan kelompok yang lain.

Bahkan Imam Ibnul Wazir, dalam Kitab Al ‘Awashim, mendhaifkan hadits-hadits ini secara keseluruhan, termasuk tambahannya, “Kecuali satu yang surga,” atau kata, “Al Jama’ah.”  Beliau berkata:

وإياك والاغترار بـ “كلها هالكة إلا واحدة” فإنها زيادة فاسدة، غير صحيحة القاعدة، ولا يؤمن أن تكون من دسيس الملاحدة. قال: وعن ابن حزم: إنها موضوعة، عير موقوفة ولا مرفوعة

“Hati-hatilah anda, jangan tertipu dengan kata – semua binasa kecuali satu – karena itu adalah tambahan yang rusak, tidak shahih, dan direkayasa oleh orang mulhid (atheis).  Berkata Ibnu Hazm: hadits ini palsu, tidak mauquf di sahabat), dan tidak pula marfu’ (sampai Rasulullah).” (Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Ash Shahwah Al Islamiyah Baina Al Ikhtilaf Al Masyru’ wat Tafarruq Al Madzmum, Hal. 27)

4. Dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama: Muhammad bin Amr bin Al Qamah bin Al Waqqash Al Laitsi. Para ulama berkata tentang dia:

صدوق، له أوهام

“Orang jujur, tapi banyak keraguan.” (Imam Ibnu Hajar, Taqribut Tahdzib, 1/763. Imam Badruddin Al ‘Aini, Maghani Al Akhyar, 6/63/527)

Tetapi Imam Adz Dzahabi memberikan penilaian positif tentang dia:

وكان حسن الحديث، كثير العلم، مشهوراً

“Dia hasan (bagus) haditsnya, banyak ilmu, dan terkenal.” (Imam Ad Dzahabi, Al ‘Ibar fi Khabar min Ghabar, Hal. 38)

Juga Imam An Nasa’i dan lainnya, berkata tentang dia: “Laisa bihi ba’san” (Dia tidak apa-apa) (Imam Adz Dzahabi, Man Lahu Ar Riwayah fi Kutub As Sittah, 2/207)

Namun demikian yang menshahihkan hadits ini, dari kalangan pakar dan imam hadits lebih banyak dibanding yang mendhaifkan. Seperti Imam Al Hakim, Imam At Tirmidzi, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Hajar, dan lain-lain. Sedangkan Imam Ibnu Hazm, telah masyhur dikalangan ulama bahwa dia adalah orang yang sangat ketat dalam menjarh (menilai cacat) perawi hadits, sampai-sampai ulama sekaliber Imam At Tirmidzi di katakannya: majhul (tidak dikenal)!! Wallahu A’lam

2. Ath Thaifah Al Manshurah (Kelompok yang mendapat pertolongan)

Ini juga sebutan lain untuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana yang tersebar di berbagai kitab para ulama.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Al Ghafir (40): 51)

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ (171) إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ (172) وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (173)

“Dan Sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) Sesungguhnya mereka Itulah yang pasti mendapat pertolongan, dan Sesungguhnya tentara Kami Itulah yang pasti menang.” (QS. Ash Shaffat (37): 171-173)

Dari Tsauban Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Ada sekelompok umatku yang senantiasa di atas kebenaran, tidaklah memudharatkan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka, sampai Allah datangkan urusannya (kiamat), dan mereka tetap demikian.” (HR. Muslim No. 1920)

Sementara dari jalur Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu, teksnya: … senantiasa berperang di atas kebenaran … (HR. Muslim No. 1923,  Ahmad No. 14762)

3. As Sawadul A’zham (Kelompok besar/mayoritas)

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

POTRET KASIH SAYANG RASULULLAH ﷺ DALAM PENDIDIKAN ANAK I (1): MENCIUM DAN MEMELUK ANAK

Oleh: Ustzh. Dra. Indra Asih

Anas Bin Malik ra berkata :

«مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»، قَالَ: «كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ، فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيُدَّخَنُ، وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا، فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ، ثُمَّ يَرْجِعُ»

“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putra Nabi (yang bernama) Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah Awaali di kota Madinah. Maka Nabipun berangkat dan kami bersama beliau. lalu beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan penuh asap. Suami Ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabipun mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali” (HR Muslim)

Dari ‘Aisyah ra ia berkata :

جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ

“Datang seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?, kami tidak mencium mereka”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa rahmat/sayang dari hatimu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah ra berkata :

قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits di atas diperlihatkan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan hal yang mendatangkan rahmat Allah.
“Barangsiapa yang tidak merahmati maka tidak dirahmati”, yaitu barangsiapa yang tidak merahmati manusia maka ia tidak akan dirahmati oleh Allah Azza wa Jalla.

Mencium anak-anak kecil sebagai refleksi dari rahmat dan sayang kepada mereka, apakah mereka anak-anak kita ataukah cucu-cucu kita dari putra dan putri kita atau anak-anak orang lain. Dan hal ini akan mendatangkan rahmat Allah dan menjadikan orang tua memiliki hati yang menyayangi anak-anak.

Semakin seseorang rahmat/sayang kepada hamba-hamba Allah maka ia semakin dekat dengan rahmat Allah.

Jika Allah menjadikan rasa rahmat/kasih sayang dalam hati seseorang maka itu merupakan pertanda bahwa ia akan dirahmati oleh Allah…”

“Maka hendaknya seseorang menjadikan hatinya lembut, ramah, dan sayang (kepada anak-anak).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik dan mulia akhlak dan adabnya. Suatu hari beliau sedang sujud maka datanglah Hasan bin Ali bin Abi Tholib, lalu Hasanpun menaiki pundak Nabi yang dalam kondisi sujud. Nabipun melamakan/memanjangkan sujudnya. Para sahabat heran. Mereka berkata :

هَذِهِ سَجْدَةٌ قَدْ أَطَلْتَهَا، فَظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ، أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ

“Wahai Rasulullah, engkau telah memperpanjang sujudmu, kami mengira telah terjadi sesuatu atau telah diturunkan wahyu kepadamu”,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka,

ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

“Bukan, tetapi cucuku ini menjadikan aku seperti tunggangannya, maka aku tidak suka menyegerakannya hingga ia menunaikan kemauannya” (HR Ahmad dan An-Nasaai)

Pada suatu hari yang lain Umamah binti Zainab putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih kecil dibawa oleh Nabi ke masjid. Lalu Nabi sholat mengimami para sahabat dalam kondisi menggendong putri mungil ini. Jika beliau sujud maka beliau meletakkannya di atas tanah, jika beliau berdiri maka beliau menggendongnya. Semua ini beliau lakukan karena sayang kepada sang cucu mungil. Padahal bisa saja Nabi memerintahkan Aisyah atau istri-istrinya yang lain untuk memegang cucu mungil ini, akan tetapi karena rasa kasih sayang beliau. Bisa jadi sang cucu hatinya terikat senang dengan kakeknya shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi ingin menenangkan hati sang cucu mungil.

Pada suatu hari Nabi sedang berkhutbah, lalu Hasan dan Husain (yang masih kecil) datang memakai dua baju. Baju keduanya tersebut kepanjangan, sehingga keduanya tersandung-sandung jatuh bangun tatkala berjalan. Maka Nabipun turun dari mimbar lalu menggendong keduanya di hadapan beliau (di atas mimbar) lalu beliau berkata:

صَدَقَ اللهُ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ نَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيْعْثُرَانِ فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ حَدِيْثِي وَرَفَعْتُهُمَا

“Maha benar Allah. Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah”, aku melihat kedua anak kecil ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak sabar hingga akupun memutuskan khutbahku dan aku menggendong keduanya” (HR At-Thirmidzi)
Kemudian beliau melanjutkan khutbah beliau (lihat HR Abu Dawud)

Hendaknya kita membiasakan diri kita untuk menyayangi anak-anak dan membiasakan mengekspresikan rasa sayang tersebut berupa ciuman dan pelukan dan tentu saja,  pelukan kita…ciuman kita….akan mendatangkan pahala dan rahmat Allah.

Selain itu, banyak penelitian telah membuktikan betapa besar pengaruh dari sentuhan, pelukan dan ciuman orang tua terhadap tumbuh kembang anak termasuk kecerdasan anak.

1. Sentuhan dari orang yang kita sayangi akan meningkatkan jumlah hemoglobin di dalam darah.   Hemoglobin merupakan salah satu bagian dari tubuh yang membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk jantung dan otak. Suplai hemoglobin yang meningkat ini dipercaya secara ilmiah akan mempercepat proses penyembuhan setelah sakit.

2. Pada bayi prematur, pelukan dari sang ibu bisa membuatnya lebih kuat dan mempercepat perkembangan tubuh serta otak. Penelitian dari Bliss Hospital di Montreal, bayi prematur yang dipeluk ibu jadi lebih cepat kuat, sehat dan besar ketimbang hanya ditempatkan di inkubator.

3. Penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Epidemiology and Community Health mengungkapkan fakta bahwa bayi yang sedari lahir selalu diberi sentuhan (pelukan, ciuman, belaian) pertanda kasih sayang oleh orangtuanya tumbuh menjadi pribadi yang tak mudah stres.

4. Dr. Coolam yang melakukan penelitian kepada ribuan orang membuktikan bahwa ciuman di pagi hari melahirkan keistimewaan dan susunan kimiawi tertentu, seperti memberikan perasaan senang dan lapang.

5. Penelitian yang dilakukan psikolog Edward R. Christopherson. Ph.D,  menemukan bahwa pelukan lebih efektif daripada pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai serta memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak.

6. Dalam bukunya ‘The Hug Therapy’, psikolog Kathleen Keating menyebutkan bahwa pelukan juga dapat meningkatkan kecerdasan otak dan IQ anak serta dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres.

Tidak hanya itu, sentuhan penuh kasih sayang yang diberikan orang tua juga dapat berdampak secara kognitif pada anak. Sambil memeluk dan membelai kepala anak, orang tua dapat memberi masukan mengenai hal-hal baik yang perlu dilakukan olehnya. Masukan-masukan dalam situasi positif semacam itu akan lebih mudah diproses dalam pikirannya.

Semoga Allah memperkuat kesabaran kita sebaga orang tua dalam mendidik anak-anak kita hingga mampu untuk menjadi orang tua yang mendidik penuh dengan ekspresi kasih sayang.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Malu dan Iman

Malu Sebagai Bagian Dari Keimanan (Bag. 1)

Pemateri: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Hadits:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرُو اْلأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ” (متفق عليه)

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amru Al-Anshari Al-Badri ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

‘Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah, ‘Jika kamu tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.’

(HR. Bukhari Muslim)

Takhrij Hadits

1. Hadits ini merupakan hadtis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya, dalam beberapa tempat, diantaranya adalah dalam :

a. Kitab Ahaditsul Anbiya’, Bab Hadits Al-Ghar, hadits no 3224 & 3225.

b. Kitab Al-Adab, Bab Idza Lam Tastahyi Fashna’ Ma Syi’ta, hadits no 5655.

2.  Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya Sunan Ibni Majah, dalam Kitab Az-Zuhud, Bab Al-Haya’, hadits no 4137.

3.  Hadits ini diriwayat kan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad As-Syamiyin, Bab Baqiyati Hadits Abi Mas’ud Al-Badri Al-Anshari ra, dalam tiga tempat, yaitu pada hadits no 16470, 16478 & 16485.

Catatan Takhrij Hadits :

Hadits ini memiliki syahid (hadits dengan matan yang sama namun diriwayatkan melalui jalur periwayatan yang berbeda) yang menguatkan riwayat Abu Mas’ud di atas, yaitu riwayat lain dari  Hudzaifah bin Yaman dengan matan yang sama seperti riwayat Abu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad Al-Anshar, Bab Hadits Hudzaifah bin Yaman, hadits no 22170 & 22344

Makna Hadits Secara Umum

Hadits singkat dan sederhana ini menggambarkan sebuah nilai yang demikian luhur, yang ternyata juga merupakan nilai yang ditanamkan oleh para nabi dan Rasul radhiallahu anhum ajma’in sebelum nabi Muhammad SAW, yang apabila nilai ini menghiasi diri dan hati setiap muslim, maka insya Allah ia akan terjaga dari segala bentuk perbuatan buruk dan tercela atau dengan kata lain, akan terjaga keimanannya.

Nilai yang luhur tersebut adalah sebuah sifat yang disebut dengan al-haya’, yaitu sifat malu yang didasari oleh keimanan kepada Allah yang akan melahirkan sebuah sikap untuk senantiasa menjaga diri dari segala perbuatan dosa dan mungkar, bahkan senantiasa memotivasinya untuk senantiasa beramal shaleh dan beretika (berakhlakul karimah), terhadap siapapun dan dimanapun ia berada.

Sifat ini merupakan buah dari keimanan yang tertanam di dalam hati sanubari setiap muslim, yang tercermin dalam implementasi untuk senantiasa memiliki rasa malu, bila mengerjakan perbuatan yang tidak sesuai dengan ruh Islam serta mendorongnya untuk melakukan segala amalan yang terkait dengan keimanan kepada Allah SWT.

Sifat al-haya’ ini menjadi pelajaran yang sangat berharga yang diajarkan dari masa kenabian yang pertama (yaitu masa kenabian sebelum nabi Muhammad SAW) yang ‘wajib’ menghiasi bagi setiap muslim.

Artinya bahwa para Nabi dan Rasul as sepakat untuk menanamkan nilai ini ke dalam hati sanubari umatnya, bahkan sifat ini seolah menjadi sifat wajib atau sifat utama bagi para Nabi dan Rasul ra sendiri.

Oleh karena itulah, kita mendapatkan sabda dari Rasulullah SAW,

‘Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah,

‘Jika kamu tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.’ (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Barinya mengemukakan bahwa makna dari sabda nabi ( كلام النبوة ) ‘ungkapan kenabian’, yang dimaksud adalah ( مما اتفق عليه الأنبياء ) sesuatu yang disepakati oleh para nabi.

Artinya para nabi sepakat dengan nilai ini.

Kemudian makna dari ( النبوة الأولى ) maksudnya adalah dari para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.

Maka sejatinya, sifat ini juga menjadi sifat wajib bagi setiap muslim, khususnya bagi para du’at (baca ; aktivis da’wah), khususnya dalam mengemban amanah da’wah di muka bumi ini.

Pelajaran Hadits

Ada beberapa hikmah atau pelajaran penting yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantaranya adalah sebagai berikut :

1.  Sebagai agama yang universal, Islam tidak hanya mengedepankan aspek pemenuhan pelaksanaan hukum syariat kepada pemeluknya hanya dari sisi pendekatan penegakan aturan semata; siapa melanggar mendapatkan hukuman dan siapa melaksanakan mendapatkan pahala.

Namun Islam sangat mengedepankan sisi al-wa’yu ( الوعي ) atau kesadaran dan penghayatan ketika melaksanakan suatu aturan tersebut.

Dalam artian bahwa syariah atau hukum dan perundangan yang terdapat dalam Dinul Islam yang mengatur seluruh dimensi kehidupan, pada hakekatnya tidaklah bertujuan untuk membatasi kaum muslimin, namun hukum tersebut substansinya adalah untuk menjaga nilai-nilai yang sudah mengakar menjadi satu dengan keimanan, agar terjaga dengan baik dan tidak rusak.

Oleh karena itulah, Islam juga menumbuhkan sebuah sikap dan mentalitas yang memotivasi umatnya untuk mentaati hukum syariah, tanpa ada rasa keberatan atau ketrepaksanaan untuk mengikuti hukum tersebut.

Dan salah satu bentuk penumbuhan sikap tersebut adalah dengan cara memperkaya hati dengan sikap al-haya’, yaitu sikap malu yang didasari karena keimanan kepada Allah SWT.

Karena dengan sikap al-haya’ ini, setiap muslim akan malu apabila tidak melaksanakan hukum Allah  SWT, atau akan malu apabila melanggar aturan Allah SWT, bahkan akan malu apabila tidak beretika sebagaimana diajarkan dalam ajaran dinul Islam (baca; berakhlakul karimah).

Sehingga apabila diibaratkan dengan sifat al-haya’ ini, tanpa adanya hukum pun, setiap muslim tidak akan melakukan pelanggaran hukum atau tidak akan melakukan tindakan yang tercela.

Walaupun apabila ditinjau dari sisi kehidupan sosial, hukum tetap perlu diadakan untuk menjaga keharmonian kehidupan sosial.

2.  Bahwa ajaran para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah SWT ke muka bumi, pada dasarnya memiliki persamaan prinsip dan intisari yang terkandung dalam nilai-nilai yang diajarkan oleh mereka.

Karena pada dasarnya semua yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul ra tersebut, merupakan wahyu yang bersumber dari Allah SWT.

Maka jika kita perhatikan, semua Nabi dan Rasul ra tanpa terkecuali mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mentauhidkan Allah SWT, beriman kepada hari akhir, berbudi pekerti yang luhur, melakukan amal shaleh, dsb.

Dan salah satu nilai utama yang terkandung dalam ajaran semua Nabi dan Rasul ra dan disepakati oleh mereka adalah anjuran untuk senantiasa memiliki sifat al-haya’, yaitu rasa malu yang lahir dari adanya keimanan kepada Allah SWT.

3.  Sikap al-haya’ atau malu, didefinisikan oleh Syekh Mustafa Dieb Al-Bugha dengan ‘menjauhkan diri dari perbuatan yang tercela dan menahan diri dari mengerjakan sesuatu atau juga meninggalkan sesuatu karena khawatir mendapatkan celaan dan cacian yang bertentangan dengan keimanan.’

Namun yang perlu digaris bawahi dari sifat al-haya’ atau malu adalah bahwa al-haya’ merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan.

Ia lahir dan tumbuh bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya keimanan dalam diri seseorang.

Semakin tebal keimanan nya kepada Allah SWT, maka akan semakin tinggi pula sifat al-haya’nya. Oleh karena itulah dalam beberapa hadits kita mendapatkan Nabi Muhammad SAW mengaitkan antara iman dengan al-haya’.

Diantaranya adalah dalam riwayat berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اْلإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ اْلإِيمَانِ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Iman itu memiliki enam puluh sekian cabang.
Dan rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan.’ (HR.Bukhari)

Ibnu Qayim Al-Jauzi dalam Tahdzib Madarijis Salikin mengemukakan, bahwa sifat al-haya’ dilihat dari akar katanya berasal dari ( الحياة ) al-hayah (kehidupan).

Ia berarti pula al-haya ( الحيا ) yang berarti hujan. Sementara dilihat dari sisi ‘kehidupan hati’, sifat al-haya’ merupakan kekuatan akhlak; dan orang yang sedikit al-haya’nya (rasa malunya), adalah tanda ‘matinya hati dan ruhnya.

Dan semakin hati seseroang itu hidup, maka akan semakin tinggi pula sifat al-haya’ nya.

Penulis melihat (terkait dengan apa yang dikemukakan oleh Syekh Ibnu Qayim Al-Jauzzi di atas, bahwa keterkaitan antara al-haya’ (malu) dengan al-hayah (kehidupan) dan al-haya (hujan), adalah bahwa orang yang memiliki rasa malu, maka pada hakekatnya ia adalah orang yang ‘mawas’ ketika menjalani kehidupan.

Artinya sifat malu merupakan sifat yang sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan di dunia.

Insya Allah rasa malu tersebut akan menyelematkannya dari segala bentuk kemungkaran dan kebathilan. Dan rasa malu itu apabila telah menghiasi pribadi seorang muslim, maka ia akan seperti hujan yang menyirami dan meneduhkan serta menumbuhkan segala kebaikan dalam hatinya dan akan terimplementasi kehidupan, sebagaimana hujan juga akan menumbuhkan berbagai tumbuhan dan meneduhkan bumi atau dengan kata lain, ia akan menjadi energy untuk mendapatkan keridhaan Ilahi.

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

Setiap Negeri Memiliki Pengkhianatnya, Setiap Negeri Memiliki Para Boneka Asingnya!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Pertempuran Kandahar – 19 Mei s/d 1 September 1880

Pertempuran ini adalah yanh terakhir pada era Perang Anglo-Afghan Kedua. Pertempuram di bagian selatan Afghanistan ini mempertemukan antara kekuatan Inggris dibawah Jend. Roberts dan kekuatan Afghan dibawah Ayub Khan yang berakhir dengan kemenangan telak Inggris yang menelan 3.000 korban.

Latar Belakang

Pada bulan Mei tahun 1879, setelah wafatnya Amir Sher Ali Khan maka Sir Louis Cavagnari memulai sebuah negosiasi yang berujung pada penandatanganan Perjanjiam Gandamak dengan penerusnya yaitu Mohammad Yaqub Khan. Perjanjian ini memaksa pihak Afghan mengakui kekuasaan residen-gubernur militer Inggris di Kabul. Cavagnari sendiri yang nantinya menduduki posisi tersebut pada bulan Juli. Namun, pada tanggal 3 September terjadinya gerakan angkat senjata di Kabul yang berbuntut pada tewasnya Cavagnari beserta anggota misi asal Eropa lainnya.

Setelah Yaqub Khan digulingkan dari kekuasaan seeta diasingkan karena diduga berada di balik pembantaian di Kabul. Dua orang kandidat penggantinya adalah adiknya Ayub Khan yang menjabat gubernur di Herat atau seouounya Abdur Rahman Khan. Namun, pada bulan Mei 1880 pergantian pemerintahan di Inggris ke arah kebijakan liberal memanggil pulang Viceroy untuk India yaitu Lord Lytton serta menggantikannya dengan Lord Ripon. Viceroy yang baru ini ditugaskan untuk menarik seluruh pasukan Inggris keluar dari Afghanistan. Namun rencana penarikan pasukan ini terhambat oleh gangguan anti-Inggris yang dibakar oleh Ayub Khan bersama 10.000 pengikutnya keluar dari Herat. Untuk mengatasi ini, dibentuklah sebuah kekuatan gabungan Inggris dan India berjumlah 1.500 personil bersama wamil (wajib militer) lokal.

Pasukan Inggris dibawah Brig. Jend. George Burrows berhadapan dengan Ayub Khan dan pengikutnya di Maiwand pada hari Selasa 19 Sya’ban 1297 Hijriah (27 Juli 1880). Namun, banyak dari pasukan India pada kesatuan Inggris yang baru direkrut ternyata tidak dilatih secara memadai sehingga kocar-kacir di bawah tekanan. Wamil lokal bahkan sudah berpindah sisi karena enggan memerangi bangsanya sendiri. Walau Resimen Ke-66 sudah berdiri tegap dan menimbulkan korban sebanyak 2.500 personil lawan, namun Jend. Burrows tetap kalah dari lawan yang bersemangat.

Permulaan

Setelah kekalahan di Maiwand, sisa pasukan Burrows yang babak-belur itu memulai perjalanan mundur ke kota Kandahar. Serangan fsri milisi lokal, dicampur rasa letih dan haus yang berkepanjangan membuat disiplin pasukan merosot jauh. Jika bukan karena keberanian Kapten Slade dalam menjaga keutuhan barisan belakang maka lebih sedikit lagi pasukan yang berhasil menyelamatkan diri ke Kandahar. Dari 1.500 pasukan yang ikut ke Maiwand, hanya 960 personil yang menjadi korban pada pertempuran maupun ketika mundur; hanya 161 personil yang cidera sampai kembali kr Kandahar.

Pengepungan Kandahar

Sisa-sisa pasukan dari berbagai lokasi sampai ke Kandahar sehingga mencapai total  4.360 personil di kota tersebut; penduduk lokal Afghan yang berjumlah 12.000 itu diusir keluar. Setelah pengosongan tersebut seluruh pasukan Inggris menempati posisi bertahan di dalam dinding perlindungan kota sembari menyusun titik pertahanan yang terbaik. Perbaikan itu meliputi sistem komunikasi antar pos di sepanjang dinding pertahanan, menutupi celah-celah dinding, menciptakan lubang-lubang tembak, serta meletakkan kawat berduri di luar benteng. Selama prosea perbaikan tersebut mereka diganggu oleh milisi dari penduduk lokal Afghan.

Pada hari Ahad 1 Ramadhan 1297 Hijriah (8 Agustus 1880), Ayub Khan yang baru daja menang di Maiwand mulai menembaki benteng kota dari arah Bukit Picquet di sebelah barat lauy Kandahar. Beberapa hari kemudian, artileri Afghan mulai menyalak dari dua desa Deh Khoja dan Deh Khati yang berada pada lokasi timur dan selatan Kandahar. Inggris mengirimkan pasukan dibawah Brig. Jend. Brooke untuk menetralisir kedua desa itu pada tanggal 16 namun tidak berhasil, bahkan dalam proses mundur Brooke dan Kapten Cruickshank gugur sehingga menambah jumlah korban menjadi 100 lebih.

Pasukan Bantuan

Pada pagi, hari Selasa 24 Ramadhan 1297 Hijriah  (31 Agustus 1880) pasukan bantuan berhasil mencapai Kandahar. Namun pada etape terakhir perjalanannya, Jend. Roberts jatuh sakit karena demam sehingga ditandu menggunakan dhooly. Ketika hampir sampai Kandahar, ia memaksakan diri menunggangi kudanya demi meningkatkan moral juang pasukan yang bertahan di kota.

Posisi Ayub Khan

Di belakang jurang yang memisahkan antara Kandahar dan Arghandab terdapat kampung Mazra dimana Ayub Khan mendirikan tenda bersama pasukannya; daerah ini dikenal sebagai Bukiy Pir Paimal. Dalam posisi ini pihak Afghan memiliki keunggulan lain dimana Bukit Kharoti di belakangnya memberikan laoang tembak yang nyaris sempurna ditambah adanya ceruk irigasi yang juga membantu pertahanan sekaligus penyamaran.

Sayangnya, posisi mereka ini sudah diintai pada sore harinya oleh kesatuan Jend. Gough dan Kol. Chapman dan diberikan perhatian khusus. Namun ketika kesatuan ini hendak meninggalkan area mereka mendapatkan serangan dari berbagai arah. Begitu kuatnya tekanan dari serangan pasukan Afghan regular dan milisi tersebut sehingga kesatuan infanteri Sikh terpaksa melepas brigade ke-1 dan ke-3 untuk memberikan perlawanan.

Rencana Penggelaran Tempur

Berbekal informasi penting itu, Jend. Roberts memutuskan untuk menyerang keesokan harinya, pagi 1 September 1880. Serangan yang didahului dengan tembakan artileri ini mengarah pada sasaran tenda Afghan di kampung Mazra. Celah-celah gununh di Murcha dan Babawali telah diawasi oleh elemen kavaleri Jend. Primrose yang didukung oleh kesatuan infanteri dan artileri.

Pertempuran Berlangsung Cepat

Setelah pukul 0900 dimulailah serangan artileri pada Crlah Babawali yanv dibalas oleh 3 seksi meriam lapangan Afghan. Sebelum Roberts dapat maju secara frontal, perkampungan di Gundi Mulla Sahibdad di kanan dan Gundigan di kiri harus diamankan terlebih dahulu. Jend. MacPherson menyerbu ke arah Gundi Mulla Sahibdad sedangkan Jend. Baker ke arah Gundigan dengan formasi Highlanders Ke-72 dan Sikh Ke-2 di barisan terdepan. Pertempuran yang dihadapi keduanya berat dimama kekuatan Afghan bertahan habis-habisan dan baru bisa didesak mundur dengan serangan dari berbagai penjuru. Pasukan Inggris dihujani tembakan artileri dari Bukit Pir Paimal dan serangan balasan dari kesatuan elit Ghazi sebelum berhasil menguasai kampung Mazra.

Kedua brigade tersebut kini dapat meneruskan gerak lajunya walau menghadapi perlawanan sengit dari para penembak jitu Afghan pada posisi bukit Pir Paimal. Pertempuran jarak dekat tidak dapat dihindari dan pasukan Afghan mundur setelah diserbu pasukan Inggris dengan bayonet terpasang. Kesatuan dibawah Kolonel Money berhasil menduduki bukit Kharoti dan dari puncaknya ia dapat mengamati bahwa Ayub Khan mulai berkemas meninggalkan tendanya di Mazra; serangan pasukan MacPherson dan Baker ternyata dirasakan terlalu berat. Pasukan Inggris akhirnya menduduki kampung Mazra sekitar pukul 1300; sedikit lamban karena mereka mengisi ulang peluru terlebih dahulu.

Kini balatentara Ayub Khan mundur secara tak beraturan. Walau rencana semula dimana kavaleri Jend. Gough ditugaskan untuk memotong jalur mundur pasukan lawan ternyata gagal, namun secara keseluruhan kemenangan suda diraih Inggris.

Kesudahan

Pertempuran Kandahar ini menutup Perang Anglo-Afghan Kedua dimana Ayub Khan terkalahkan secara telak. Ia kehilangan seluruh elemen artileri, tenda dan logistik, amunisi dalam jumlah yanh banyak, serta 1.000 personil yang terbunuh. Ayub Khan sendiri kini menjadi buron bersama beberapa pengawalnya, sefangkan Abdur Rahman menggantikan posisinya sebagai boneka bagi Inggris. Tidak lama setelah itu, balatentara Inggris menarik diri keluar Afghanistan. Konon ia wafat di India pada tahun 1914 setelah sebelumnya gagal menggulingkan Abdur Rahman karena kurangnya dana serta dukungan dari mantan prajuritnya. Perang ketiga meletus kembali pada tahun 1919.

Jend. Roberts meninggalkan Kandahar pada tanggal 9 September menuju Quetta dengan sebagian pasukannya serta meletakkan jabatannya di Sibi pada 15 Oktober. Ia berlayar kembali ke Inggris pada tanggal 30 Oktober dari Bombay. Perjalanannya yanv legendaris diabadikan pada sebuah patung di Kelvingrove Park di kota Glasgow. Tertulis di sana motto “virtute et valore” atau “dedikasi dan keberanian.”

Agung Waspodo, mencatat setelah 135 tahun berlalu bahwa setiap negeri pasti ada pengkhianatnya, paling tidak pasti selalu bisa didapatkan orang atau kelompok yang siap menjadi boneka negeri lain..

Depok, 11 September 2015, masuk waktu Isya’.. waduh sudah lewat 10 Hari (dari tgl aslinya sumbernya)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Tenang Dalam Kemenangan, Tenang Dalam Kekalahan (Bagaimana Shalahuddin Mengelola Emosi Pasukannya) bag-2

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Bag-1 :

Tenang Dalam Kemenangan, Tenang Dalam Kekalahan (Bagaimana Shalahuddin Mengelola Emosi Pasukannya) (bag-1)

Pertempuran

Dalam rangka menghancurkan kohesivitas serta menjatuhkan semangat juang lawannya, Shalahuddin mengerahkan kesatuan musik beranggotakan pemukul gong dan cymbal, peniup terompet, serta para peneriak semboyan perang serta pekik Takbir.

Serangan berulang-ulang Ayyubi memiliki prosedur yang baku: suku Badui ‘Arab dan Nubia melesatkan hujan panah dan lembing ke arah barisan lawan, mereka kemudian bergeser dalam interval untuk memberikan celah bagi pasukan panah berkuda maju sebagai serangan gelombang kedua, hingga pasukan ini kemudian bermanuver ke samping dan semuanya diulang kembali. Jika memungkinkan, maka pasukan crossbow Richard membalasa tembakan walaupun sebenarnya tugas utama mereka adalah menjaga keutuhan formasi barisan menghadapi provokasi lawan.

Ketika serbuan ini tidak membuahkan hasil maka serangan besar diarahkan kr bagian belakang kolom Pasukan Salib yang menjadi tanggung-jawab kesatuan fanatik Katholik dari ordo Hospitaller. Sayap kanan kavaleri pasukan Shalahuddin menyerang dengan dukungan infanterinya dari samping dan belakang; pasukan infanteri Hospitaller bahkan harus berjalan mundur guna menghadapi serbuan dari dua arah tersebut. Sultan Shalahuddin sendiri ikut turun dalam serbuan didampingi kedua asistennya lengkap dengan membawa kuda cadangan; beliau turun guna menyemangati pasukannya. Syaifuddin, adik sultan, juga turun tangan untuk menyemangati pasukannya; keduanya mengambil resiko besar untuk turun langsung berhadapan dengan tembakan crossbow lawan yang bertenaga.

Hospitaller Melepas Formasi

Seluruh usaha yang dilakukan Shalahuddin sepertinya tidak juga mampu membuyarkan formasi tempur lawan maupun menghentikan lajunya menuju Arsuf. Richard bertekad untuk terus menjaga kerapatan barisannya dan berharap lawan akan kehabisan tenaga dalam serangan bertubi-tubi itu. Richard juga menyiagakan pasukan kavaleri beratnya dalam barisan cadangan untuk balas menyerang pada momen yang terbaik. Lamanya ujian ketahanan itu sudah hampir tak terbendung lagi ketika mulai banyak kesatria (knight) berkuda yang kehilangan tunggangannya akibat serangan bertubi-tubi Shalahuddin; mereka ini terpaksa bergabung dengan barisan infanteri.

Ketika elemen terdepan Pasukan Salib sudah mencapai Arsuf sekitar tengah hari, sementara itu pasukan crossbow dari kesatuan Hospitaller sedang mengisi ulang anak panahnya sambil berjalan mundur. Kecapaian yang memuncak itu akhirnya membuka celah yang langsung menjadi sasaran serbuan pasukan Shalahuddin. Pada saat itu, Garnier de Nablus, Master Hosputaller, berkali-kali memohon izin untuk melancarkan serangan balasan. Ia berkali-kali ditolak dan diingatkan untuk menyerang secara serentak nanti pada aba-aba terompet yang ditiup keras enam kali.

Richard sadar bahwa untuk menjamin efektivitas serangan kavaleri beratnya maka harus menunggu sampai seluruh balatentara Shalahuddin sudah dikeluarkan ke medan laga, sudah dalam jarak dekat, dan kavaleri berpanah sudah melesatkan tembakannya. Tiga syarat yang membutuhkan nyali besar untuk tahan mendapatkannya.

Ketika pasukan berkuda Shalahuddin memperlihatkan tanda-tanda kelelahan, maka Baldwin de Carron dan master Hospitaller sudah tidak tahan lagi dan serta-merta menerobos barisan infanterinya sendiri untuk melancarkan serbuan sambil memekik “Santo George!” Melihat ini seluruh barisan berkuda Hospitaller menyusulnya, juga pasukan kavaleri Perancis yang berada satu lini di belakang Hospitaller maju menerjang tak ingin ketinggalan.

Serangan Balik Pasukan Salib

Tindakan emosional Hospitaller ini dapat mengancam rencana Richard secara keseluruhan. Semarah-marahnya Richard ia menyadari bahwa serangan balik harus didukung penuh walau waktunya tidak sesuai perencanaan. Oleh karena itu ia mengeluarkan aba-aba serangan umum. Tanpa serangan umum ini maka sudah jelas bahwa kavaleri Hospitaller dan Perancis tadi akan lumat ditelan kekuatan Shalahuddin yanh jauh lebih besar. Bahauddin mencatat perubahan postur Pasukan Salib dari pasif menuju aktif ini menimbulkan kegagapan dalam barisan kaum Muslimin seolah melihat rencana mereka dibalas rencana yang tidak terduga.

Pasukan sayap kanan Shalahuddin yang sudah terlibat kontak sejata jara dekat tidak mungkin lagi menghindari serangan umum ini; sebagian mereka bahkan turun dari tunggangannya agar dapat melesatkan panah secara lebih efektif. Tindakan ini tentu saja menimbulkan korban besar pada pasukan Shalahuddin yang seharusnya bertempur dalam jarak tembak yang cukup. Bahauddin mencatat bahwa kekalahan itu cukup telak karena ia menyaksikan langsung dari lini tengah bagaimana sayap kanan mundur dengan cepat diikuti sayap kiri.

Richard menahan laju kejaran setelah sekitar 1.6 km dilewati kavalerinya karena ia sangat paham bahwa ini semua busa jadi hanyalah tipuan belaka. Pasukan Salib kembali menyusun formasi bersandarkan pada bekas sayap kanan yang masih segar karena belum terlibay kontak senjata. Melihat sebagian besar kavaleri lawan berhenti mengejar maka kavaleri Shalahuddin balas menghantam sedikit pasukan berkuda yang terbawa emosi memacu kudanya menjauh dari barisan umum. Diantara mereka yang menjadi korban adalah James d’Avesnes komandan dari kavaleri Perancis. Diantara komandan Shalahuddin yang sigap menyusun barisannya adalah Taqiuddin, sepupu sultan. Ia memimpin 700 pasukan dari kesatuan kawal suktan untuk menyerang balas lini sayap kiri Pasukan Salib. Serbuan balasan kaum Muslimin ini kesuksesannya tidak menyeluruh karena Richard segera kembali dengan sayao kanannya dan pasukan Shalahuddin terpaksa mundur.

Kesudahan

Sejarawan dari kalangan Kristen mengatakan bahwa Shalhuddin kehilangan 32 amir dan 7.000 personil walau angka ini tidak boleh ditelan begitu saja. Dari pasukan Richard yang terbunuh tidak lebih dari 700 personil termasuk diantaranya James d’Avesnes.

Arsuf adalah sebuah kemenangan penting bagi Pasukan Salib, namun balatentara Ayyubi tidaklah hancur walau sudah kehilangan cukup banyak di sana. Namin ada perasaan malu bagi kalangan Muslimin menderita kekalahan tersebut; ada kebanggaan di kalangan Pasukan Salib. Analisis sejarawan militer menilai bahwa jika saja Richard menahan serangannya beberapa saat lagi maka kemenangan yanh lebih besar mungkin dicapai. Shalahuddin berhasil menyusun ulang pasukannya dan memberikan serangan balasan namun ia berhati-hati untuk tidak terjebak pada serangan frontal yang emosional. Secara reputasi Shalahuddin sedikit tercoreng pada kekalahan di Arsuf, sedangkan nama Richard menjadi terkenal apalagi setelah ia bethasil merebut, mempertahankan, serta menjadikan Jaffa basis kekuatannya.

Shalahuddin terpaksa meninggalkan dan menghancurkan sebagian besar benteng di wilayah selatan Palestina seperti di Ascalon, Gaza, Blanche-Garde, Lydda, dan Ramleh karena ia sadar tidak mungkin mempertahankannya semua. Menghancurkannya merupakan pilihan terbaik daripada dibiarkan jatuh ke tangan lawan yang akan memperkuatnya sebagai basis perlawanan di kemudian hari. Ketika benteng di Darum berhasil direbut oleh pasukan kawal Richard saja, hal ini cukup menggambarkan betapa semangat juang pasukan Shalahuddin sedang jatuh. Hilangnya kota-kota penting di selatan Palestina benar-benar mengancam keberadaan al-Quds (Jerusalem) daei kekuasaan Shalahuddin.

Walaupun Perang Salib Ketiga pada akhirnya gagal merebut kembali Jerusalem namun tercapai gencatan senjata antara Richard dan Shalahuddin yang dikenal sebagai Perjanjian Jaffa. Perjanjian ini mengamankan jalur ziarah bagi kaum Nasrani ke tempat-tempat suci di Jerusalem. Perjanjian itu juga menegaskan pengakuan Shalahuddin atas wilayah kendali Pasukan Salib di selatan Palestina.

Richard kembali ke Eropa untuk mengurus masalah internal kerajaannya yang sedang berperang melawan Raja Philip dari Perancis. Pulangnya Richard ke Eropa merupakan awal kemerosotan wilayahnya di Palestina dan awal dari kemerosotan Pasukan Salib secara keseluruhan.

Agung Waspodo, mencatat bagaimana kedisiplinan dan kestabilan emosi adalah kunci kemenangan menghadapi berbagai konflik. Shalahuddin sudah memberikan contoh yang kendali diri yang terbaik dalam mengelola kemenangan maupun kekalahan sekitar 824 tahun yang lalu.

Depok, 15 September 2015.. lewat tengah hari dan telat 8 hari dari tanggal bersejarahnya, sangat berat untuk menuliskan semua peperangan kaum Muslimin persis pada hari kejadiannya…


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Umat Mulia Karena Islam

TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT. (bag. 2)

Pemateri: Ust. DR. Abas Mansur Tamam

Materi sebelumnya bisa dilihat di link berikut:

TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT (Bag-1)

BERWAWASAN LUAS (ULIL ABSHAR):

Sifat unggulan manusia pilihan Allah yang kedua adalah memiliki wawasan yang luas (ulil abshar).

Ulil abshar artinya punya pandangan atau pengetahuan yang luas.

Sifat ini berhubungan erat dengan sifat terampil (ulil aidi). Karena antara ilmu dan amal tidak bisa dipisahkan satu sama lain, seperti dua sisi mata uang.

Seseorang disebut ulil abshar jika memiliki lima indikator sebagai berikut:

1. CERDAS (al-‘Aqlu):

Indikator paling dasar adalah cerdas (al-‘aqlu), demikian menurut Mujahid.
Ada dua jenis kecerdasan yang saling berhubungan dalam diri manusia: kecerdasan instingtif (al-aqlu al-garizi), dan
kecerdasaan hasil belajar dan pengalaman (al-aqlu al-muktasab).

A. Kecerdasaan Instingtif

Kecerdasaan instingtif artinya kecerdasaan bawaan, dimana seseorang akan mengerti tentang berbagai hal, sesuai dengan usia perkembangan kognitifnya.

Ukuran standarnya adalah memiliki kecerdasan yang normal, sehingga pada usia mumayyiz (5 sampai 7 tahun) seseorang mulai mengerti persoalan-persoalan dasar  dalam hidupnya, baik-buruk, halal-haram, perintah-larangan dan sebagainya.

Kecerdasan normal ini menjadi sebab mendapatkan beban taklif setelah seseorang beranjak dewasa.

Yaitu status hukum dimana ketentuan-ketentuan agama berlaku kepadanya serta bertanggung jawab penuh atas dirinya.

Diatas kecerdasan normal ada kecerdasan instingtif di atas rata-rata. Yaitu orang yang memiliki kecerdasan melampaui usia perkembangan kognitifnya.

Misalnya, suatu waktu Umar bin Khattab berjalan melewati kerumunan anak-anak yang sedang bermain di jalan, diantara mereka ada Abdullah bin Az-Zubair.
Anak-anak itu segera lari, tetapi Abdullah tetap diam di pinggir jalan.

Umar bertanya: “Mengapa engkau tidak ikut lari seperti teman-temanmu?”

Abdullah menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak punya salah sehingga takut kepadamu, dan jalan cukup luas” (Al-Mawardi, Adabud Dunya, 12).

Contoh lain adalah Al-Ashma’i (w. 215 H) dengan seorang anak gembala padang pasir (Badwi).

Al-Ashma’i, ulama nahwu dari Basrah, bertanya kepadanya tentang bukti adanya Allah swt.

Dia menjawab dengan logika yang lugas:

”Tapak kaki unta menunjukkan ada unta yang telah lewat.
Tapak kaki manusia menunjukkan ada orang yang telah lewat.

Langit yang memiliki bintang-gemintang, bumi yang memiliki jalan-jalan, lautan yang bergelombang, tidakkah semua itu menunjukkan Sang Maha Mengetahui dan Bijaksana telah menciptakannya?” (Al-Izi, Al-Mawāqif, 1/151).

B. Kecerdasan Hasil Belajar

Kecerdasan instingtif jika diberdayakan dengan belajar dan pengalaman hidup akan berkembang menjadi akal muktasab.

Orang yang tidak punya kecerdasan bawaan, tidak akan cerdas untuk selamanya.

Alquran menggambarkan nya seperti seekor keledai yang membawa buku  (Al-Jumuah [62]: 5).

Meskipun telah melewati pengalaman hidup yang panjang, seorang yang safih, ideot, atau gila tetap tidak akan pintar.

Orang yang mendapatkan pembinaan yang intensif dalam hidupnya, serta melewati perjalanan hidup yang menantang, kecerdasan bawaannya akan terasah dengan baik.

Pepatah Arab mengatakan:
“Orang yang panjang usianya, kekuatan badannya berkuran kemampuhan akalnya bertambah”

Tetapi orang yang tidak mau belajar dan tidak mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya akan menjadi seorang yang bodoh (ahmaq). Yaitu orang yang usianya sudah dewasa, tapi masih kekanak-kanakan.

Orang tua seperti ini diibaratkannya oleh Wahab bin Munabbih seperti tembikar yang pecah: tidak bisa ditambal, tidak bisa diperbaiki, dan tidak bisa dikembalikan menjadi tanah kembali (Abu Hatim, Raudatul Uqala, 122).

C. Fungsi Kecerdasan

Kecerdasan memiliki dua fungsi:

Pertama, fungsi pengetahuan (kognitif) yang akan membuat seseorang mengetahui berbagai hal.
Dalam hal ini akal ibarat cahaya yang membuat seseorang mengenali kebaikan dan keburukan.

Kedua, fungsi sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik) yang akan membuatnya berhenti melakukan keburukan dan semangat dalam melakukan kebaikan.

Terkait dengan fungsinya ini, orang Arab menyebut kecerdaasn itu sebagai akal (aql). Makna generiknya adalah tali yang mengendalikan seekor unta.

Karena itu tidak disebut cerdas kecuali jika daya pikirnya mampu untuk mengendalikan dirinya dari terjerat hawa nafsu.

Amir bin Abdul Qais berkata:
“Jika kecerdasan engkau mengekang engkau dari melakukan perkara yang tidak senonoh, maka engkau orang cerdas” (Al-Mawardi, Adabud Dunya, 11).

Rasulullah saw. bersabda:

الْكَيِّسُ من دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ من أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى على اللَّهِ

Artinya: “Orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya dan berbuat untuk bekal setelah mati.
Orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, kemudian berangan-angan menadapatkan ampunan dari Allah swt.”
(Tirmizi, 4/2459, hadits hasan).

Karena itu orang yang cerdas akan membuatnya semakin dekat dengan Allah swt.

Dia mengetahui berbagai ajaran agamanya seperti perintah dan larangan Allah, mampu mengendalikan dirinya dan beramal saleh.

Di dunia mendapatkan ketinggian derajat, dan di akhirat akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah swt.

Firman Allah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat” (Al-Mujadilah [58]: 11).

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa” (Al-Hujurat [48]: 13).

Indikator-indikator lain dari seorang ulil albab yang akan dibahas berikutnya, seperti memiliki wawasan Alquran, wawasan keislaman, kecerdasan dalam beragama, serta wawasan ilmu pengetahuan; semuanya memberdayakan akal muktasab ini dari berbagai aspeknya.

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sutrah

Sutrah (pembatas) ketika Shalat dan Pembahasannya

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

A. Dalil-Dalil Sutrah

Menggunakan sutrah di depan mushalli (orang yang shalat) ketika shalat memiliki pensyariatan yang kuat. Berikut adalah sebagian saja dari dalil-dalilnya:

Pertama. Dari Sahl bin Abi Hatsmah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعْ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ

“Jika salah seorang kalian shalat menghadap sutrah (pembatas) maka hendaklah dia mendekatinya, niscaya shalatnya tidak akan diputus oleh syetan.” (HR. Abu Daud, Kitab Ash Shalah Bab Ad Dunuwwi min As Sutrah, Juz. 2, Hal. 349, No hadits. 596. An Nasa’i, Kitab Al Qiblah Bab Ad Dunuwwi min As Sutrah, Juz. 3, Hal. 196, No hadits. 740. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain, Juz. 2, Hal. 433, No hadits. 877. Katanya: “Hadits ini shahih sesuai syarat Syaikhain (Bukhari-Muslim) tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Al Maktabah Asy Syamilah)
Imam Nuruddin al Haitsami Rahimahullah mengatakan:

رواه الطبراني في الكبير ورجاله موثقون

“Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Kabir-nya, dan para rijalnya (periwayatnya) bisa dipercaya.”(Majma’ Az Zawaid, Juz. 2, Hal. 59. Al Maktabah Asy Syamilah)

Syaikh al Albany Rahimahullah menyatakan shahih.(Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud, Juz. 2, Hal. 195. Al Maktabah Asy Syamilah)

Kedua.  Dari Abu Said al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa  Sallam bersabda:

 إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

“Jika salah seorang kalian shalat, maka shalatlah dengan menggunakan sutrah, dan mendekatlah kepadanya.” (HR. Abu Daud, Kitab Ash Shalah Bab Ma Yu’maru al Mushalli An Yadra’a ‘An al Mamarru Al baina Yadaih, Juz. 2, hal. 235, no hadits. 598. Ibnu Majah, Kitab Iqamatush Shalah was Sunnah Fiiha Bab Idra’ Mastatha’ta, Juz. 3, Hal. 215, No hadits. 944. Syaikh al Albany menyatakan hasan shahih. Lihat Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud, Juz. 2, Hal. 198. Al Maktabah Asy Syamilah)

Ketiga. Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيدِ أَمَرَ بِالْحَرْبَةِ فَتُوضَعُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا وَالنَّاسُ وَرَاءَهُ وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السَّفَرِ فَمِنْ ثَمَّ اتَّخَذَهَا الْأُمَرَاءُ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika keluar menuju lapangan pada shalat hari raya, dia memerintahkan untuk mengambil tombak dan meletakkan di hadapannya, lalu dia shalat menghadap ke arahnya, dan manusia melihat  hal itu. Demikian itu dilakukannya ketika safar, maka untuk selajutnya hal itu diikuti oleh para pemimpin umat.” (HR. Bukhari, Kitab Ash Shalah Bab Sutratul Imam Sutrah Man Khalfahu, Juz. 2, Hal. 297, No hadits. 464. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Sutratul Mushalli, Juz. 3, Hal. 63, No hadits. 773. Abu Daud, Kitab Ash Shalah Bab Ma Yasturu al Mushalliya, Juz. 2, Hal. 337, No hadits. 589. Al Maktabah Asy Syamilah)

Keempat. Dari Musa bin Thalhah, dari Ayahnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda;

 إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ وَلَا يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ

“Jika salah seorang kalian meletakkan di hadapannya setinggi pelana kuda, maka shalatlah dan janganlah dia peduli dengan apa-apa yang ada di belakangnya.” (HR. Muslim, Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, Juz. 2, hal. 251, No hadits. 769. Al Maktabah Asy Syamilah)

Kelima. Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 لا تصلوا إلا إلى سترة ، ولا تدع أحدا يمر بين يديك ، فإن أبى  فقاتله ، فإن معه القرين

“Janganlah kalian shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seorang pun melewati di hadapanmu, jika dia bersikeras lewat maka bunuhlah, karena sesungguhnya dia memiliki qarin (kawan dekat dari kalangan syetan).” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, Juz. 2, Hal. 432, No hadits. 876. Al Maktabah Asy Syamilah)

Demikian beberapa dalil saja, dari sekian banyak dalil tentang menggunakan pembatas ketika shalat.

B. Perselisihan Pendapat Ulama Tentang Hukumnya

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meletakkan sutrah (pembatas) di depan orang shalat. Di antara mereka ada yang menyunnahkan, ada pula yang mewajibkan.

Para Ulama yang Menyunahkan Sutrah

Kelompok ini berpendapat bahwa memasang sutrah hanyalah sunah, sebab perintah tidak selamanya bermakna wajib apalagi ada riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat tidak menggunakan sutrah (pembatas).

Berkata Asy Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

 ستحب للمصلي أن يجعل بين يديه سترة تمنع المرور أمامه وتكف بصره عما وراءها

“Disukai (sunah) bagi orang yang shalat meletakkan di depannya sebuah pembatas untuk mencegah orang lewat di depannya, dan menghalanginya melihat hal-hal dibelakang pembatas itu.” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 255. Al Maktabah Asy Syamilah)

Beliau berdalil dengan hadits  dari Ibnu Abbas berikut:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي فَضَاءٍ لَيْسَ بَيْنَ يَدَيْهِ شَيْءٌ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di lapangan dan dihadapannya tidak ada apa-apa.” (HR. Ahmad, Juz.4, Hal. 396, No hadits. 1864. Al Maktabah Asy Syamilah)

Hanya saja hadits ini dha’if. Berkata Imam Al Haitsami Rahimahullah:

وفيه الحجاج بن أرطأة وفيه ضعف

“Dalam (sanad) hadits ini terdapat Al Hijaj bin Artha’ah, dan dia dha’if.” (Majma’ az Zawaid, Juz.2, Hal. 63. Al Maktabah Asy Syamilah)

Namun ada hadits lain yang serupa dengan ini, dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu:

أن المصلى كان فضاء ليس فيه شيء يستتر به

“Bahwa saat itu, orang yang shalat dilapangan tidaklah di depannya ada sesuatu yang menjadi pembatas.” (HR. Ibnu Majah, Kitab Iqamatush Shalah was Sunnah fiha Bab Maa Ja’a fil Harbah Yaumal ‘Id, Juz. 4, Hal. 190, No hadits. 1294.  Syaikh al Albany mengatakan hadits ini shahih. Irwa’ Al Ghalil, Juz.2, Hal. 284 No hadits. 504. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata, ketika mengomentari hadits sutrah  setinggi ‘pelana kuda’:

وَفِي هَذَا الْحَدِيث النَّدْب إِلَى السُّتْرَة بَيْن يَدَيْ الْمُصَلِّي وَبَيَان أَنَّ أَقَلّ السُّتْرَة مُؤْخِرَة الرَّحْل وَهِيَ قَدْر عَظْم الذِّرَاع

“Hadits ini menunjukkan sunah-nya meletakkan sutrah (pembatas) di depan orang shalat, dan juga terdapat penjelasan tentang ukuran minimal sutrah sebesar pelana kuda, yaitu kira-kira sepanjang satu  hasta.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, Juz. 2, hal. 251, No hadits. 769. Al Maktabah Asy Syamilah)

Bagi  mayoritas madzhab Asy Syafi’i, tidak menjadi masalah jika sutrah adalah garis saja. Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

وَقَالَ جُمْهُور أَصْحَابه بِاسْتِحْبَابِهِ ، وَلَيْسَ فِي حَدِيث مُؤْخِرَة الرَّحْل دَلِيل عَلَى بُطْلَان الْخَطّ . وَاَللَّه أَعْلَم

“Menurut mayoritas sahabat-sahabatnya (Asy Syafi’i) sutrah adalah sunah, dan hadits tentang setinggi pelana kuda itu tidak menunjukkan kesalahan dengan membuat  garis. Wallahu A’lam” (Ibid)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah berkata:

وَفِي الْحَدِيثِ نَدْبٌ لِلْمُصَلِّي إلَى اتِّخَاذِ سُتْرَةٍ ، وَأَنَّهُ يَكْفِيهِ مِثْلُ مُؤَخِّرَةِ الرَّحْلِ

“Hadits ini menunjukkan sunah-nya bagi orang shalat menggunakan pembatas, dan sudah cukup baginya seumpama ukuran pelana kuda.” (Subulus Salam, Juz.1, Hal. 497. Al Maktabah Asy Syamilah)
Diriwayatkan dari Khalid bin Abu Bakar, bahwa Al Qasim dan Salim, pernah shalat di gurun tanpa menggunakan sutrah.

Dari Jabir: aku pernah melihat Ja’far dan Amir shalat tanpa menggunakan pembatas. Dari Hisyam, bahwa: aku pernah melihat ayahku shalat tanpa sutrah. Mahdi bin Maimun mengatakan: aku pernah melihat Al Hasan shalat tanpa menggunakan sutrah. (Al Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah, Juz. 1 Hal. 312. Al Maktabah Asy Syamilah)

Demikian para imam kaum muslimin yang tidak mewajibkan sutrah.

Para Ulama yang mewajibkan Sutrah

Bagi kelompok ini, hadits-hadits yang memerintahkan memasang pembatas menunjukkan kewajibannya, sebab hukum asal dari perintah adalah menunjukkan wajib selama belum ada dalil lain yang membelokkan kewajiban tersebut.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah tentang hadits:

“Hendaklah dia shalat menggunakan pembatas.”

 فِيهِ أَنَّ اتِّخَاذَ السُّتْرَةِ وَاجِ

“Di dalam hadits ini menunjukkan wajibnya menggunakan sutrah.” (Nailul Authar, Juz. 4, Hal. 204. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Al Qadhi ‘Iyadh membantah kebolehkan membuat batas (sutrah) sekedar garis.

وَاسْتَدَلَّ الْقَاضِي عِيَاض رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى بِهَذَا الْحَدِيث عَلَى أَنَّ الْخَطّ بَيْن يَدَيْ الْمُصَلِّي لَا يَكْفِي

“Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah berdalil dengan hadits ini  bahwa membuat garis tidaklah mencukupi bagi orang yang shalat.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, Juz. 2, hal. 251, No hadits. 769. Al Maktabah Asy Syamilah)

Sebab hadits yang menyebutkan sutrah hanya sekedar garis adalah dha’if. Berikut keterangan dalam Syarh An Nawawi  ‘ala Muslim:

 وَلَمْ يَرَ مَالِك رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى وَلَا عَامَّة الْفُقَهَاء الْخَطّ . هَذَا كَلَام الْقَاضِي ، وَحَدِيث الْخَطّ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَفِيهِ ضَعْف وَاضْطِرَاب

“Imam Malik dan kebanyakan fuqaha tidaklah berpendapat tentang garis.” Demikianlah ucapan Al Qadhi. Dan hadits tentang garis diriwayatkan oleh Abu Daud, sanadnya idhtirab (goncang)” (Ibid).

Namun Imam Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram-nya membantah anggapan bahwa hadits tersebut idhtirab (goncang).

Demikian Para Imam yang mewajibkan sutrah.

C. Makmum Tidak Perlu Sutrah

Pembahasan di atas adalah kaitannya dengan shalat sendiri, dan bagi imam shalat. Adapun bagi makmum dalam shalat berjamaah, maka bagi mereka sutrah imam adalah sutrah bagi mereka juga. Imam Ibnu Hajar telah membahasnya secara detil dalam Fathul Bari-nya, pada Bab Sutratul Imam Sutratul Man Khalfahu, Bab: Sutrah Imam adalah Sutrah bagi orang di belakangnya. (Juz. 2, Hal.  237. Al Maktabah Asy Syamilah)

Tertulis dalam Fathul Bari:

وَقَالَ اِبْن عَبْد الْبَرّ : حَدِيثُ اِبْن عَبَّاس هَذَا يَخُصُّ حَدِيثٌ أَبِي سَعِيد ” إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَدَعُ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ ” فَإِنَّ ذَلِكَ مَخْصُوص بِالْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِد ، فَأَمَّا الْمَأْمُومُ فَلَا يَضُرُّهُ مَنْ مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ لِحَدِيثِ اِبْن عَبَّاس هَذَا ، قَالَ : وَهَذَا كُلُّهُ لَا خِلَافَ فِيهِ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ

Berkata Ibnu Abdil Bar: “Hadits Ibnu Abbas ini menjadi takhsis (pembatas) bagi hadits Abu Said yang berbunyi ‘Jika salah seorang kalian shalat maka janganlah membiarkan seorang pun lewat di hadapannya,’ sebab hadits ini dikhususkan untuk imam dan shalat sendiri. Adapun makmum maka tidak ada yang memudharatkannya siapa pun yang lewat di hadapannya, sebagaimana yang ditegaskan oleh hadits Ibnu Abbas ini. Semua ini tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama.” (Ibid)

Hadits Ibnu Abbas  Yang dimaksud adalah sebagai berikut:

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
 أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى أَتَانٍ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلَامَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاس بِمِنًى فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ الصَّفِّ فَنَزَلْتُ فَأَرْسَلْتُ الْأَتَانَ تَرْتَعُ وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Aku datang dengan mengendarai keledai betina, saat itu aku telah bersih-bersih dari mimpi basah dan Rasulullah Shallallahu “Alaihi wa Sallam shalat di Mina, maka aku lewat di depan shaf lalu aku turun dari kendaraan keledai betina, lalu aku masuk ke shaf dan tak ada satu pun yang mengingkari perbuatan itu.” (HR. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Sutratul Mushalli, Juz. 3, Hal. 70, No hadits. 780. Al Maktabah Asy Syamilah)

Hadits ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas berjalan di depan shaf makmum, dan tidak seorang pun  mencegahnya. Artinya, larangan melewati (berjalan) di depan orang shalat, hanya berlaku jika melewati imam dan orang yang shalatnya sendiri menurut keterangan riwayat ini,  melewati di depan makmum (karena ada keperluan) tidaklah mengapa.  Wallahu A’lam

D. Apa sajakah Sutrah itu?

Benda-benda yang bisa dijadikan sebagai pembatas (sutrah) adalah benda suci apa pun yang minimal setinggi pelana kuda. Bisa tiang mesjid, punggung manusia, dinding mesjid, batu besar, tas koper, dan lain-lain.

عن نافع أن ابن عمر كان يقعد رجلا فيصلي خلفه والناس يمرون بين يدي ذلك الرجل

Dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar sedang duduk lalu ada seorang laki-laki yang shalat di belakangnya, dan manusia lalu lalang di depan laki-laki tersebut. (Al Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah Juz. 1, hal. 313. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Anas bahwa para sahabat mendekati tiang mesjid ketika hendak shalat maghrib. Wallahu A’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678