Allah Maha Berkehendak

Akhir Jalan Mendaki (Tadabbur QS. Al-Balad) (Bag 1)

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Meluruskan Persepsi

Menurut jumhur ulama dan ahli tafsir surat Al-Balad diturunkan Allah di Makkah setelah Surat Qâf.

Tema surat-surat  makkiyah sangat menonjol dalam surat ini. Apalagi secara eksplisit Allah bersumpah dengan negeri kelahiran Nabi Muhammad saw yang tak lain adalah Makkah. Dalam surat ini juga Allah menceritakan kondisi penduduk Makkah yang masih mendustakan agama Allah. Mereka silau dengan kekuatan yang mereka miliki. Mereka mengira dengan harta yang mereka kerahkan dan orang-orang yang mereka himpun akan mampu membendung kehendak Allah. Mereka takkan pernah mampu membungkam risalah kebenaran yang dibawa putra terbaik Kabilah Quraisy ini.

Seperti beberapa surat makkiyah yang lainnya, surat ini ditutup dengan pembicaraan kedahsyatan hari kiamat terutama hal-hal yang berkaitan dengannya yaitu hari pembalasan. Akhir dari nasib yang akan diterima orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir.

Yang menarik dari pembahasan dalam surat ini adalah merupakan kelanjutan dari surat sebelumnya. Jika dalam surat Al-Fajr banyak pembahasan mengenai harta, terutama yang berkaitan dengan kesalahan persepsi mengenai harta yang berakibat pada kesalahan berikutnya yaitu: memakan harta anak yatim, harta warisan, enggan menolong fakir miskin, serta berlebihan dalam mencintai dunia, maka dalam surat ini mereka digambarkan Allah juga salah dalam menginvestasikan harta. Harta yang mereka kumpulkan dengan susah payah tersebut malah digunakan untuk menghalangi agama Allah. Maka Allah menjelaskan investasi-investasi yang beruntung, seperti: memerdeka-kan budak, memberi makan orang yang kelaparan, menyantuni fakir miskin dan anak yatim serta menyambung silaturrahmi dan menebar kasih sayang.

Harta yang diinvestasikan dalam urusan dan hal-hal tersebut akan Allah jamin keuntungannya. Mereka akan dimasukkan ke dalam golongan kanan yang dimuliakan Allah.

Sumpah dan Janji Allah

“Aku benar-benar bersumpah dengan kota Ini (Mekah)” (QS. 90: 1)

Hampir semua ulama sepakat bahwa yang dimaksud negeri yang digunakan sumpah dalam ayat di atas adalah negeri kelahiran Nabi Muhammad saw, yaitu kota Makkah. Setidaknya seperti demikian pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Atha’ dan Ibnu Zaid, seperti dituturkan Ibnu Jarir ath-Thabary.
Ibnu Katsir menambahkan  bahwa Ikrimah juga berpendapat demikian.

“Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini”. (QS. 90: 2)

Meskipun Rasulullah saw lahir dan tinggal di Makkah, namun yang dimaksud alam ayat ini adalah bahwa kelak Nabi Muhammad akan bisa memasuki Makkah dengan tenang. Karena itu lafzah yang dipakai adalah “hillun” yang berarti halal. Karena keberadaan Rasulullah di tempat kelahirannya pun selalu identik dengan penderitaan, tekanan dan kesusahan-kesusahan yang diakibatkan dari perbuatan orang-orang kuffar Quraisy. Seolah-olah beliau “diharamkan” atau terhalang dari menikmati hidup di kampong halamannya. Bahkan dalam salah satu riwayat, beliau menangis ketika meninggalkan Makkah saat hendak berhijrah.

Pada hakikatnya beliau sangat mencintai Makkah, namun penduduknya lah yang menyia-nyiakannya dan menyakitinya bahkan mengusirnya.

Namun Allah Maha Mendengar, maka Dia kabulkan impian Rasulullah kembali ke tempat kelahirannya. Dalam keadaan tenang, terhormat dan takkan ada lagi yang mengharam-kannya dari melakukan apapun di tempat itu kecuali hanya Allah. Ini merupakan berita gembira bagi Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Janji Allah tersebut akan terealisasi secara sempurna kelak pada tahun ke tujuh hijriyah melalui sebuah peristiwa akbar yang diabadikan sejarah, Fathu Makkah.

Pada hari itu beliau melindungi dan memuliakan orang-orang tertentu. Beliau memaafkan kesalahan dan kejahatan musuh-musuhnya yang sebagian juga merupakan keluarganya. Tak ada dendam sedikitpun di hatinya. Namun, beliau juga memerintahkan kepada umat Islam untuk membunuh beberapa orang yang hari itu darahnya dihalalkan karena kejahatan yang tak lagi bisa ditolerir. Seperti Abdullah bin Khathl, bukan hanya karena berkhianat dengan pura-pura masuk Islam untuk memperoleh amanah Rasulullah saw tapi dia juga bersekongkol dengan musyrikin Makkah dan kembali menjadi musyrik serta membunuh seorang Anshar yang waktu itu diutus bersamanya.

Muqis bin Dhababah juga termasuk dalam daftar orang yang dicari untuk dibunuh dengan dua kesalahan yang serupa: murtad dan berkhianat serta membunuh utusan Rasulullah saw. Juga beberapa nama lain diantaranya Ikrimah bin Abu Jahal yang kemudian melarikan diri dan bersembunyi di Yaman. Akhirnya beliau masuk Islam setelah Rasul saw wafat dan setelah itu beliau menebus semua kesalahannya dengan mendermakan kemampuannya untuk membela Islam. Ikrimah pun menjadi salah seorang ulama tabi’in yang disegani.

“Dan demi bapak dan anaknya”. (QS. 90: 3)

Sebagian mufassirin berpendapat bahwa yang dimaksud bapak di sini adalah Adam. Ada juga yang mengatakannya Nuh atau Ibrahim as. Sedangkan Imam al-Mawardi mengatakan bahwa yang dimaksud “bapak” di sini adalah Nabi Muhammad saw dan “anak” adalah umatnya.
Hal tersebut karena ada konsideran yang disebut di dua ayat sebelumnya yang membicarakan tentang beliau.

Namun, Imam al-Alusy lebih memilih penafsiran umum terhadap ayat ini yaitu setiap bapak dan keturunannya. Ini untuk menujukkan kekuasaan Allah. Bapak hanyalah merupakan salah satu sebab keberadaan anaknya, namun pada hakikatnya yang menjadi penentu dan pencipta hanyalah Allah Yang Maha Kuasa.

Akibat Salah Persepsi

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”. (QS. 90: 4).

Yang dimaksud dengan “كبد” adalah kesulitan dan kesusahan yang ditemui manusia dalam kehidupannya. Baik yang berupa kepayahan fisik yang bisa dirasakan oleh tubuh manusia dan penyakit-penyakit yang dideritanya, ataupun kepayahan psikis yang hanya bisa dirasakan seperti rasa sedih dan takut.

Dalam Surat al-Insyiqaq Allah juga menjelaskan makna lain dari kepayahan ini, yaitu kerja dan usaha yang keras.

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS. 84: 6)
karena ketika di dunia manusia telah berusaha bekerja keras untuk memenuhi segala keperluan hidupnya.

Sebagian di antara mereka bahkan berlebihan hingga melupakan hak jasadnya untuk beristirahat. Sebagian lagi bahkan melupakan Allah, Dzat yang membuatnya berkecukupan dalam kehidupannya.

Sebagian manusia menyadari kekeliruannya, sehingga ia pun semakin bekerja dan berusaha keras untuk memenuhi hak-haknya, keluarganya, masyarakat sekelilingnya, dan tentunya Allah.

Dalam keadaan payah seperti yang dijelaskan di atas, sebagian manusia juga memiliki orientasi hidup yang salah dan persepsi yang tidak benar tentang kehidupannya.

“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”. (QS. 90: 5-7)

Setidaknya ada tiga kesalahan persepsi orang-orang kafir yang kemudian bisa menyebabkan mereka memusuhi Rasulullah dan ajaran yang dibawanya.

Kesombongan yang melampaui batas sehingga ia merasa menjadi orang yang berkuasa. Dengan kedudukan dan posisi sosial serta harta yang melimpah menyebabkan seseorang lupa bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa.

Bahwa yang mereka namakan “kebaikan” adalah mempertahankan posisi mereka meskipun dengan menghabiskan harta. Maka tak masalah jika harta yang mereka peroleh baik dengan jalan baik atau tidak benar mereka mubadzirkan karena tak mengerti prioritas investasi yang benar.

Dengan merasa bahwa tak seorang pun bisa mengawasi gerak-geriknya, maka ia bisa seenaknya berbuat, meskipun itu melawan hati nurani dan menzhalimi diri sendiri serta orang lain.

Sadarkah ia, bahwa harta yang ia cari dan kemudian mereka mubadzirkan kelak akan ditanya oleh Allah dari mana ia mendapatkannya dan ke mana saja ia habiskan?

Seharusnya orang-orang yang salah persepsi di atas sadar akan karunia Allah yang luar biasa yang dalam surat ini hanya disinggung beberapa saja, yang berkaitan dengan misi besar surat ini.

“Bukankah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata. Lidah dan dua buah bibir. Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. (QS. 90: 8-10)

Dua mata, lidah, dua bibir adalah sekian dari nikmat Allah yang melekat dalam jasad manusia. Bahkan ia bisa melihatnya sendiri dengan berdiri di depan cermin, maka ia akan segera mendapatinya.

Seharusnya ia bisa melihat. Dengan dua mata. Bahkan seandainya satu matanya ditutup pun ia masih akan tetap bisa melihat nikmat Allah swt. Lantas apa yang membuatnya buta dan tak mampu melihat karunia Allah yang sangat tak terbatas ini. Lidah dan bibirnya pun tak digunakan dalam koridor syukur terhadap Allah.

Justu ia menggunakan untuk melawan Allah. Mobilisasi massa untuk melawan ajaran Allah.

Bukan hanya itu, Allah juga telah menyediakan dua jalan; yaitu jalan kebaikan dan jalan kegelapan. Masing-masing jalan dengan gamblang dijelaskan Allah ujung serta konsekuensi yang akan diterima bagi setiap penempuh jalan tersebut. Jalan kebenaran dan kebaikan akan dipilih oleh orang-orang yang cerdas yang tahu prioritas amal dan kerja.

Sebaliknya, yang mengamblil jalan pintas karena hati mereka tertutup

Dua Jalan, Dua Konsekuensi

(Bersambung bag2)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Berkehendak

Kehadiran Anak Kita Menjaga Kelangsungan Hidup Manusia

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

📝 Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Sos., M.Si.

☘️ Setiap manusia melalui fase kehidupannya di mulai dari menjadi seorang anak. Selain Nabi Adam AS, ibunda Hawa dan Nabi Isa AS, setiap anak terlahir dari dua orang tua lengkap laki-laki dan perempuan. Itulah sebabnya ketika berbicara tentang anak, maka dalam waktu yang sama kita berbicara tentang orang tua.

🍀 Islam memberikan perhatian penuh kepada anak, sejak awal pembentukan sebuah keluarga. Setiap muslim dan muslimah perlu memiliki wawasan yang luas mengenai nilai kehadiran seorang anak dalam keluarga. Siapapun pada tahap kehidupan manapun, secara sadar perlu menempatkan dirinya sesuai dengan tuntunan syari’ah dalam memandang dan berinteraksi dengan anak-anak.

🌿 Islam mengenalkan filosofi kehadiran anak dalam kehidupan keluarga. Islam menegaskan bahwa mengupayakan keturunan berarti menjaga kelangsungan hidup manusia.

Secara detail poin-poinnya diurai sebagai berikut:

✨ Anak adalah anugerah Ilahi

– لِّلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ وْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَٰثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُۥ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS Asy-Syuro: 49-50).

Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa anak adalah anugerah Allah SWT yang diberikan kepada manusia sesuai kehendak Allah SWT. Ayat ini juga menjadi teguran bagi siapapun yang merasa bahwa kehadiran anak adalah beban, derita, kerepotan, dsb. Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa anak adalah anugerah Ilahi. Tidak hanya menganugerahkan anak begitu saja, bahkan Allah SWT telah menetapkan bagi setiap pasangan anugerah anak laki-laki maupun anak perempuan. Itulah sebabnya, Islam melarang kita membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Karena penentuan jenis kelamin adalah hak mutlak Allah SWT. Pun Ketika pasangan suami istri ditakdirkan tidak memiliki keturunan. Semua itu berada dalam kendali Allah SWT. Penutup ayat yang menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Kuasa, seolah menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak merasa lebih tahu dari Allah SWT dalam memberi komentar tentang kehadiran anak-anak di keluarga kita.

✨ Kehadiran anak, kebutuhan fitrah manusia

ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلً

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al-Kahfi: 46).

Sebagaimana manusia mencintai harta, demikian juga fitrah manusia mencitai anak-anak. Semua orang akan merasa senang melihat anak-anak dengan anugerah fisik seperti apapun. Secara fitrah, anak kecil itu menyenangkan. Dalam ayat ini, fitrah manusia untuk mencintai anak disandingkan oleh Allah SWT dengan fitrah manusia mencintai harta. Tidak ada manusia yang rela kehilangan harta, sebagaimana tidak ada manusia yang rela kehilangan anaknya. Ayat ini juga mengisyaratkan kebalikannya. Jika kita kehilangan gairah untuk memiliki anak, maka sesungguhnya kita sedang kehilangan fitrah kemanusiaan kita. Jika terjadi hal seperti itu, kita perlu bertanya kepada diri kita, ada apa dengan fitrah diri ini sehingga fitrah yang Allah jelaskan secara gamblang dalam Al-Qurán, menjadi hilang lenyap dari diri kita.

✨ Kehadiran anak, untuk menjaga entitas manusia

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَٰلِحًا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS Huud: 61).

Memakmurkan bumi, tidak bisa dilakukan kecuali dengan adanya kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik di bangun dengan adanya entitas manusia dan regenerasinya. Sejarah membuktikan negara-negara di dunia sangat khawatir dengan kelangsungan hidup negaranya, ketika pertumbuhan penduduk mereka stagnan bahkan menurun. Beberapa negara di dunia bahkan membuka lebar-lebar pintu untuk para pendatang karena menurunnya pertumbuhan penduduk di negara mereka dan mulai banyaknya ranah kehidupan yang kosong. Itulah hikmah dari hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA ia berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mandiri dan melarang tabattul (konsentrasi beribadah sehingga tidak menikah). Beliau bersabda: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur. Sesungguhnya aku akan berbangga dengan jumlah umatku yang banyak di hadapan para nabi kelak di hari kiamat.” (HR Ahmad).

Mengingat betapa pentingnya menjaga entitas manusia dan merawat berlangsungnya kehidupan, Islam melarang upaya sengaja pemandulan laki-laki maupun perempuan, melakukan aborsi dan segala bentuk upaya menghambat kelangsungan hidup manusia. Tentu dengan pengecualian keadaan darurat menurut tinjauan medis.

✨ Kehadiran anak dari pernikahan sah antara seorang laki-laki dan perempuan adalah penegasan akan hak anak

Para ulama merumuskan dan mencantumkan hal ini dalam Deklarasi Kairo (Tentang Hak Asasi Manusia Dalam Pandangan Islam) yang dikeluarkan oleh KTT Dunia Islam tahun 1990, sebagaimana diatur dalam dua paragraf (b) dan (c) pada pasal kedua yang menegaskan haram kembali kepada cara-cara yang menyebabkan musnahnya manusia dan syariát mewajibkan penjagaan kelangsungan hidup manusia. Selain itu, deklarasi ini juga menetapkan bahwa keluarga adalah pondasi utama dalam membangun masyarakat, dan pernikahan adalah asas pembentuknya.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Puasa Daud

Serba Serbi Puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Apakah Ini Termasuk Sunnah?

Ya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkannya, sebagaimana dalam hadits:

صُمْ أَفْضَلَ الصَّوْمِ صَوْمَ دَاوُدَ

Berpuasalah! Dan sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud. (HR. Bukhari no. 5052)

Bukankah ini syariat Nabi Daud ‘Alaihissalam? Apakah berlaku bagi kita juga?

Ya, syariat nabi atau umat terdahulu (syar’u man qablana), ada yang sudah dihapus oleh syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ada juga yang tidak dan tetap dihidupkan di syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satu yang tetap ada dan tidak dihapus adalah puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam.

Imam Abu Sulaiman Walid Al Baji, seorang tokoh madzhab Maliki, berkata:

ذَهَبَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابنَا وَأَصْحَابِ أَبي حَنِيفَةَ وَأَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ إِلَى أَنَّ شَرِيعَةَ مَنْ قَبْلَنَا لاَزِمَةٌ لَنَا إِلاَّ مَا دَلَّ الدَّلِيلُ عَلَى نَسْخِهِ

Segolongan sahabat kami (Malikiyah), dan para sahabat Abu Hanifah (Hanafiyah), serta para sahabat Asy Syafi’i (Syafi’iyah), mengatakan bahwa syariat kaum sebelum kita tetaplah menjadi syariat kita, kecuali ada dalil yang menunjukkan sudah dihapus. (Al Inarah Syarh Kitab Al Isyarah, hal. 272)

Bagaimana caranya?

Caranya seperti yang dijelaskan dalam hadits:

صِيَامَ يَوْمٍ وَإِفْطَارَ يَوْمٍ

Sehari puasa, sehari tidak. (HR. Bukhari no. 5052)

Bagaimana kedudukannya?

Ini adalah puasa terbaik setelah puasa Ramadhan. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:

يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ الْأَفْضَلَ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ صَوْمَ دَاوُدَ أَنْ يَصُومَ يَوْمًا وَيُفْطِرَ يوما دائما

Dari hadits ini bisa diambil pelajaran, bahwa yang paling utama bagi yang ingin berpuasa adalah puasa Daud, yaitu sehari puasa, sehari tidak, secara konstan. (Fathul Bari, jilid. 9, hal. 96)

Wajar jika dianggap puasa terbaik, karena ini puasa yang sangat berat. Imam At Tirmidzi berkata:

قَالَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ أَنْ تَصُومَ يَوْمًا وَتُفْطِرَ يَوْمًا، وَيُقَالُ: هَذَا هُوَ أَشَدُّ الصِّيَامِ

Sebagian ulama mengatakan: sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud, yaitu sehari puasa, sehari tidak. Dikatakan: “Ini adalah puasa yang paling berat.” (Sunan At Tirmidzi no. 770)

Apakah harus seumur hidup?

Tidak ada petunjuk yang menyebut puasa Daud itu mesti muabbad (seumur hidup tanpa berhenti). Siapa yang mampu melakukannya setahun atau beberapa tahun, silahkan. Siapa yang mampu dan kuat sepanjang hidupnya, juga silahkan.

Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan puasa Daud juga?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melakukannya. Para ulama menyebutkan beberapa kemungkinan atau alasan kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan amal-amal utama:

– Dalam rangka meringankan umatnya, walau amal itu memiliki keutamaan besar, dan Beliau mampu melakukannya.

– Agar tidak dianggap kewajiban, sebagaimana saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan shalat Tarawih di malam ke-4 Ramadhan.

– Disibukkan oleh hal-hal yang lebih utama, atau yang benar-benar wajib. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 224307)

Ketika puasa Daud, apakah tidak boleh puasa sunnah lainnya?

Para ulama menegaskan, tidak dianjurkan berpuasa sunnah lainnya, bagi yang sudah konstan puasa Nabi Daud, walau dia kuat melakukan lebih. (Tidak dianjurkan bukan berarti tidak boleh, bagi yang benar-benar mampu)

Hal ini berdasarkan nasihat Nabi kepada Abdullah bin Amr bin al ‘Ash yang sangat semangat puasa sunnah, dan meminta “lebih” dari puasa Daud:

صُمْ صَوْمَ نَبِيِّ اللهِ دَاوُدَ، وَلَا تَزِدْ عَلَيْهِ

Berpuasalah dengan puasa Nabi Daud, dan jangan kamu tambahkan lagi.

(HR. Ahmad no. 6867. Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Syuaib al Arnauth mengatakan: Shahih)

Knp tidak dianjurkan dan tidak usah ditambah lagi, walau seseorang kuat melakukannya ? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

لا أفضل من ذلك

Tidak ada yang lebih utama dari itu. (HR. Bukhari no. 1976)

Di masa tuanya, Abdullah bin Amr bin al Ash berkata:

يَا لَيْتَنِي قَبِلْتُ رُخْصَةَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Duh andaikata dulu saya mau menerima keringanan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. (HR. Bukhari no. 1975)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah menjelaskan:

وهذا صريح في أن الزيادة عليه غير مستحبة، وأن الاكتفاء بهذا النوع من الصوم يغني صاحبه عن تكلف الزيادة، ويجعل الزيادة مفضولة غير مستحبة

Ini menjelaskan bahwa puasa tambahan baginya tidaklah mustahab (sunnah), sesungguhnya mencukupkan diri dengan puasa ini (puasa Daud) bagi pelakunya sudah mencukupi baginya dibanding dia membebani diri dengan menambah shaum sunnah lainnya, shgga membuat shaum sunnah tersebut tidak dianjurkan baginya. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 297278)

Demikian. Wallahul Muwaffiq Ilaa aqwamith Thariq

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

surat yasin

Mengenal Karakter Ayat

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Kosakata bahasa Arab yang terdiri dari huruf ha fa zha dan sering merujuk pada hafal Alquran mengandung makna memelihara. Hafid Alquran berarti orang yang memelihara hafalan al-qur’an di dalam hatinya. Berdasarkan surat Al Baqarah ayat 238, kami terinspirasi menggunakan thermal muhafadhoh untuk memelihara Alquran,sebagaimana memelihara salat yang terdapat pada ayat tersebut.

Muhafadzoh adalah wazan dari mu fa’alah, yang bermakna saling. Jika hifdzun artinya memelihara maka muhafadhoh adalah saling memelihara. Subjek merangkap menjadi objek dan sebaliknya.Allah menjadikan kata muhafadzoh untuk memerintahkan kita menjaga salat.karena akan ada timbal balik apabila kita bisa menjaga Salat kita, yaitu mengerjakan tepat waktu, sesuai dengan syarat dan rukun, serta dikerjakan dengan khusu’. Maka salat itu juga akan menjaga kita dari perbuatan keji dan mungkar,serta menyelesaikan persoalan-persoalan hidup yang kita hadapi.

Begitu juga dengan Al Quran. Kami lebih tertarik menggunakan kata muhafadhoh untuk memelihara Alquran. Sebagaimana salat, apabila seorang penghafal Alquran bisa memelihara hafalannya dengan baik, ya itu murojaah nya sesuai porsi, dengan bacaan yang baik dan khusuk.insya Allah Alquran yang dijaga tersebut akan menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, jatuh kedalam masalah dan memberikan syafaat.

Memelihara dan menjaga hafalan tidak hanya dilakukan ketika kita sedang menghafal, akan tetapi sampai akhir hayat. Selancar apapun hafalan kita pasti akan lupa apabila tidak dipelihara dengan baik.jika pada bab sebelumnya kita pernah membahas tentang daya simpan dan daya tampung, seorang penghafal Alquran juga perlu mengetahui karakter ayat yang dihafalnya. Karena ini akan membantu dirinya mengetahui cara memelihara ayat tersebut.

Karakter ayat ditinjau dari sudut pandang menghafal adalah.
1. Mudah hafal sulit lupa
2. Mudah hafal mudah lupa
3. Sulit hafal sulit lupa
4. Sulit hafal mudah lupa

Keempat karakter ayat tersebut biasanya dipengaruhi oleh strukturnya atau kondisi penghafal yang tidak stabil. Namun apapun penyebabnya sebagaimana dikatakan dalam hadis Alquran akan lebih cepat terlepas dari pada unta dalam ikatannya. Jadi apabila hafalan al-qur’an tidak segera diulang sesuai dengan daya simpan seorang penghafal, sudah pasti hafalan tersebut akan hilang kembali, apalagi jika hafalan itu belum begitu lancar. Oleh karena itu keseimbangan menambah dan mengulang harus benar-benar seimbang. Bahkan mengulang harus lebih banyak dan lebih serius. Bukan karena lebih sulit dari menambah tetapi untuk mencari keseimbangan dengan daya simpan.

Jika anda merasa mengulang hafalan lebih berat daripada menambah, waspada. Itu pertanda anda sedang over kapasitas. Maka hentikan menambah dan gandakan porsi mengulang. Sebab menambah hafalan dengan over kapasitas hanya akan mempercepat kita lupa hafalan yang sedang dihafal dan yang sudah dihafal.

Dengan mengetahui karakter ayat yang kita hafal kan, kita akan lebih mudah menyeimbangkan porsi menambah dan mengulang hafalan. Kita tidak perlu panik,karena panik hanya akan membuat hafalan kita semakin over kapasitas. Prioritaskan mengulang ayat yang mudah lupa dengan kelipatan 2 3 4 dan seterusnya sesuai daya imbangnya.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Kenikmatan Waktu Luang dan Sehat

Kemana Waktumu Berlalu? (Harishun Ala Waqtihi)

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Betapa bahagianya bila amal kita bermanfaat melintasi umur dan usia kita.

“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya, Dia menolongnya dengan waktu dan membuat waktunya sebagai penolong baginya.’(Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah)

Bukankah kewajiban kita jauh lebih banyak yang harus dilakukan dari pada waktu yang tersedia? Di sinilah kita betul-betul membutuhkan pengelolaan waktu dengan baik. Bukankah Waktu yang telah hilang tidak akan pernah Anda temukan lagi karena waktu tak bisa kembali lagi.

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA bahwasanya dia berkata: “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas suatu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.”

Jika engkau tak disibukan dengan kebaikan, maka yakinlah engkau sedang bergelut dalam keburukan. Lalu kita baru sadar setelah semuanya terjadi. Dan penyesalan selalu datang terlambat mengunjungi. Tentu Kita menyadari, bahwa kita adalah orang yang ingin selalu berubah menjadi lebih baik dalam hidup ini…..

Jika mau berubah, hal pertama yang harus dilakukan adalah rubah kebiasaanmu. Dan untuk mengubah kebiasaan itu kita wajib merubah cara memanfaatkan waktu yang selama ini dilakukan. Inilah uniknya waktu, dengan segala sifat yang melekat di dalamnya. Sehingga sedemikian rupa kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Di siniah sukses dan bangrut kita pertaruhkan. Untung dan rugi kita ujikan.

Inilah alasannya, Allah secara khusus mengungkap tentang waktu ini dalam Al-Qur’anul Karim Surat Al-Ashr (103): 1-3, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Hanya individu-individu yang beriman dan kemudian mengamalkannyalah yang tidak termasuk orang yang merugi, serta mereka bermanfaat bagi orang banyak dengan melakukan aktivitas dakwah dalam banyak tingkatan.

Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia.Waktu kita sama. Tapi isinya bisa berbeda. Satu hari sama 24 jam, tapi hasil seseorang bisa jauh berbeda. Kesempatan kita sama 24 jam dalam sehari, tapi yang mengisinya dengan amal sholih, tidak semua kita bisa. Tentu bukan tanpa sebab Allah secara khusus ngebahasnya dalam al Qur’an. Lebih lanjut, dalam Al-Qur’an surat Al-Imran (3) ayat 104, Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
Dengan demikian, hanya orang-orang yang mengerjakan yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkarlah orang-orang yang memperoleh keuntungan. Sukses. Berkejayaan. Berhasil. Sesungguhnya, jika mengelola waktu (harishun Ala Waqtihi) adalah kunci keberhasilan, maka mengelola diri (jiwa) itu adalah kunci mengelola waktu.

Setiap muslim yang memahami ayat di atas, tentu saja berupaya secara optimal mengamalkannya. Dalam kondisi kekinian dimana banyak sekali ragam aktivitas yang harus ditunaikan, ditambah pula berbagai kendala dan tantangan yang harus dihadapi. Seorang muslim haruslah pandai untuk mengatur segala aktivitasnya agar dapat mengerjakan amal shalih setiap saat, baik secara vertikal maupun horizontal.

Secara vertikal, dirinya menginginkan sebagai ahli ibadah, dengan aktivitas qiyamullail, shaum sunnah, bertaqarrub illallah, dan menuntut ilmu-ilmu syar’i. Dalam hubungannya secara horizontal, ia menginginkan bermuamalah dengan masyarakat, mencari maisyah bagi keluarganya, menunaikan tugas dakwah di lingkungan masyarakat, maupun di tempat-tempat lainnya.

Hanya orang-orang ‘hebat’ dan mendapatkan taufik dari Allah, yang mampu mengetahui urgensi waktu lalu memanfaatkanya seoptimal mungkin. Dalam hadits, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang (HR. Bukhari).

Semua itu tentu saja harus diatur secara baik, agar apa yang kita inginkan dapat terlaksana secara optimal, tanpa harus meninggalkan yang lain. Misalnya, ada orang yang lebih memfokuskan amalan-amalan untuk bertaqarrub ilallah, tanpa bermu’amalah dengan masyarakat. Ada juga yang lebih mementingkan kegiatan muamalah dengan masyarakat, tetapi mengesampingkannya kegiatan amalan ruhiyahnya.

Sebagai muslim, tentu tidak ada yang patut kita teladani selain peri kehidupan nabi Muhammad S.A.W. dalam segala aspek kehidupan. Tidak hanya dalam hal ritual tetapi dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Begitupun dengan para sahabat Rasulullah. Mus’ab bin Umair misalnya. seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makanan sudah ada di hadapannya.

Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.” (al-Jabiri, 2014: 19).

Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat. Sejak itu seluruh waktu kehidupannya ia persembahkan di jalan dakwah bersama Rasulullah, hingga akhir hidupnya. Rasulullah Saw mengenang Mus’ab dalam bersabdanya,

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Sedang kita……………..?
kita kadang masih tertukar, menjual akhiratnya untuk dunianya. Kejar dunia, lupa akhirat. Waktu habis untuk urusan dunia, akhirat tak kebagian adanya. Meredupkan akhirat untuk alas an dunia. Bangsa Arab mengenal waktu adalah pedang. Sedangkan Bangsa Barat menetapkan waktu adalah uang. Tentu efeknya akan berbeda antara keduanya.

Benarlah kiranya nasehat Al-Hasan Basri; “Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa kaum, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu mereka daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham”

Coba kita saksikan episode singkat Rasulullah dan para salafush sholih dalam memanfaatkan waktunya:
Rasulullah SAW : Dalam waktu 23 tahun bisa membangun peradaban Islam yang tetap ada sampai sekarang. Ikut 80 peperangan dalam tempo waktu kurang dari 10 tahun, santun terhadap fakir miskin, menyayangi istri dan kerabat, dan yang luar biasa adalah beliau seorang pemimpin umat yang bisa membagi waktu untuk umat dan keluarga secara seimbang!

Zaid bin Tsabit RA : Sanggup menguasai bahasa Parsi hanya dalam tempo waktu 2 bulan! Beliau dipercaya sebagai sekretaris Rasul dan penghimpun ayat Quran dalam sebuah mush’af

Abu Hurairah : Masuk Islam usia 60 tahun. Namun ketika meninggal di tahun 57 H, beliau meriwayatkan 5374 Hadits! (Subhanallah!)

Anas bin Malik : Pelayan Rasulullah SAW sejak usia 10 tahun, dan bersama rasul 20 tahun. Meriwayatkan 2286 Hadits.

Abul Hasan bin Abi Jaradah (548 H) : Sepanjang hidupnya menulis kitab-kitab penting sebanyak tiga lemari.

Abu Bakar Al-Anbari : Setiap pekan membaca sebanyak sepuluh ribu lembar.Syekh Ali At-Thantawi : Membaca 100-200 halaman setiap hari. Kalkulasinya, berarti dengan umurnya yang 70 tahun, beliau sudah membaca 5.040.000 halaman buku. Artikel yang telah dimuat di media massa sebanyak tiga belas ribu halaman. Dan yang hilang lebih dari itu.

Ibnu Jarir Ath-Thabari, beliau menulis tafsir Al-Qur’an sebanyak 3.000 lembar, menulis kitab Sejarah 3.000 lembar.Setiap harinya beliau menulis sebanyak 40 lembar selama 40 tahun.Total karya Ibnu Jarir 358.000 lembar.

Ibnu Aqil menulis kitab yang paling spektakuler yaitu Kitab Al-Funun, kitab yang memuat beragam ilmu, adz-Dzahabi mengomentari tentang kitab ini, bahwa di dunia ini tidak ada karya tulis yang diciptakan setara dengannya. Menurut Ibnu Rajab, sebagian orang mengatakan bahwa jilidnya mencapai 800 jilid.

Al-Baqqilini tidak tidur hingga beliau menulis 35 lembar tulisan.

Ibnu Al Jauzi senantiasa menulis dalam seharinya setara 4 buah buku tulis. Dengan waktu yang dimilikinya, beliau mampu menghasilkan 2.000 jilid buku. Bekas rautan penanya Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, bahkan masih ada sisanya.

Iman An-Nawawi setiap harinya berlajar 12 mata pelajaran, dan memberikan komentar dan catatan tentang pelajarannya tersebut. Umur beliau singkat, wafat pada umur 45 tahun, namun karya beliu sangat banyak dan masih dijadikan sumber rujukan oleh umat muslim saat sekarang ini.

Al Biruni, (362H—440H), seorang ahli ilmu falak dan ilmu eksakta, ahli sejarah, dan menguasai lima bahasa yaitu bahasa Arab, Suryani, Sanskerta, Persia dan India. Saat detik-detik terakhir hidup beliau, tetap mempelajari masalah faraidh (waris). Lalu seorang berkata kepada beliau, layakkah engkau bertanya dalam kondisi seperti ini? Beliau menjawab, kalau aku meninggalkan dunia ini dalam kondisi mengetahui ilmu dalam persoaalan ini, bukankah itu lebih baik dari pada aku hanya sekedar dapat membayangkannya saja, tidak tahu ilmu tentangnya. Tidak lama setelah itu beliau wafat.

Ibrahim bin Jarrah berkata, “Imam Abu Yusuf Al Qadli rahimahullah sakit. Saya Menjeguknya. Dia dalam keadaan yang tidak sadarkan diri. Ketika tersadar, dia berkata kepadaku, ‘hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?’ Saya menjawab, ‘Dalam kondisi ini seperti ini?’ Dia menjawab, ‘Tidak apa-apa, kita terus belajar. Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karenanya.’ Lalu aku pulang. Ketika aku baru sampai di pintu rumah, aku mendengar tangisan. Ternyata ia telah wafat.”

Syaikh Ibnu Taimiyah selalu menelaah dan memetapi pelajarannya saat beliau sakit atau berpergian. Ibnu Qayyim berkata, Syaikh kami Ibnu Taimiyah pernah menuturkan kepadaku, “Ketika suatu saat aku terserang sakit, maka dokter mengatakan kepadaku,‘Sesungguhnya kesibukan anda menelaah dan memperbincangkan ilmu justru akan menambah parah penyakitmu’. Maka saya katakan kepadanya, ‘Saya tidak mampu bersabar dalam hal itu. Saya ingin menyangkal teori yang engkau miliki. Bukankah jiwa merasa senang dan gembira, maka tabiatnya semakin kuat dan bias mencegah datanya sakit?’ Dokter itu pun menjawab, ‘Benar.’ Lantas saya katakan, ‘Sungguh jiwaku merasa bahagia dengan ilmu, dan tabiatku semakin kuat dengannya. Maka, saya pun mendapatkan ketenangan.’ Lalu dokter itu menmpali, ‘Hal ini diluar model pengobatan kami.’

Mempersingkat waktu makan, serta mengurangi makan agar tidak selalu sering ke WC

Kesungguhan genarasi salafus shalih umat ini dalam memanfaatkan waktu sampai pada tingkat bahwa mereka merasa sayang dengan waktu yang dipakai untuk makan, maka mereka mempersingkat sebisa mungkin.

Dawud At-Tha’i rahimahullah memakan alfatit(roti yang dibasahi dengan air). Dia tidak memakan roti kering (tanpa dibasahi). Pembantunya bertanya, “Apakah anda tidak berhasrat makan roti?” Dawud menjawab, “Saya mendapatkan waktu yang cukup untuk membaca 50 ayat antara memakan roti kering dan basah.” (Sifatus Shafwah, 3/92)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahmenceritakan kepada kita, Ibnu Aqil berkata, “Aku menyingkat semaksimal waktu-waktu makan, sehingga aku lebih memilih memakan kue kering yang dicelup ke dalam air (dimakan sambil dibasahi) dari pada memakan roti kering, karena selisih waktu mengunyahnya (waktu dalam mencelup kue dengan air lebih pendek daripada waktu memakan roti keringi) bisa aku gunakan untuk membaca dan menulis suatu faedah yang sebelumnya tidak aku ketahui.” (Dia melakukan hal itu supaya bisa memanfaatkan waktu lebih). (Dzailut Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab,1/177)

Asy-Syamsul Ashbahani, (674H—749 H), seorang tokoh mahzab Syafii, pakar fiqih dan tafsir. Apa yang diceritakan tentang beliau menunjukkan antusiasnya terhadap ilmu dan ‘pelitnya’ beliau untuk menyia-nyiakan waktu. Sebagian sahabatnya pernah menuturkan bahwa beliau sangat mengindari makan yang banyak, yang tentunya akan butuh banyak minum, dan selanjutnya butuh waktu masuk WC. Sehingga waktu pun banyak terbuang. Lihatlah! bagaimana mahalnya waktu dalam pandangan imam yang mulia ini. Dan tidaklah waktu itu mahal bagi beliau melainkan karena betapa sangat mahalnya ilmu tersebut.

Memanfaatkan waktu perjalanan dengan membaca buku, berzikir, menuntut ilmu, bahkan menyampaikan hadist

Said bin Jabir berkata, “Saya pernah bersama Ibnu Abbas berjalan disalah satu jalan di Mekah malam hari. Dia mengajari saya beberapa hadis dan saya menulisnya diatas kendaraan dan paginya saya menulisnya kembali diatas kertas.” (Sunan Ad-Darimi, Imam Ad-Darimi, 1/105)

Tentang Al-Fath bin Khaqan, beliau membawa kitab dalam kantong bajunya. Apabila beliau bangun dari tempat duduknya untuk shalat atau buang air kecil atau untuk keperluan lainnya, beliau membaca kitabnya hingga sampai ke tempat ingin dia tuju. Beliau juga melakukan hal tersebut ketika kembali dari keperluanya. (Taqyiidul ‘Ilm, Al Khatib Al-Baghdadi)

Imam An-Nawawi tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, baik di waktu siang atau pun malam, kecuali menyibukkan dirinya dengan ilmu. Hingga ketika beliau berjalan di jalanan, beliau mengulang-ngulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang telah ditelaahnya sambil berjalan. Beliau melakukan itu selama enam tahun. (Tadzkiratul Huffaz, Adz-Dzahabi, 4/1472)

Ibnu Khayyath An-Nahwi, wafat tahun 320 H. Konon, beliau belajar di sepanjang waktu, hingga saat beliau sedang berada di jalanan. Sehingga terkadang, beliau terjatuh ke seleokan, atau tertabrak binatang. (Al-Hatstsu ‘ala Thalabil ‘Ilm wal ijtihad fi jam’ihi, Abu Hilal Askari, hal. 77)

Mengurangi tidur, dan mengisi malamnya dengan menuntut ilmu dan ibadah

Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani tidak tidur malam kecuali sangat sedekit sekali. Beliau adalah seorang imam ahli fikih, ahli ijtihad dan ahli hadis. Beliau lahir tahun 132H, dan wafat 189H. Konon beliau sering tidak tidur malam. Beliau biasanya meletakkan beberapa jenis buku disisinya. Bila bosan membaca satu buku, beliau akan menelaah yang lain. Beliau menghilangkan rasa kantuk dengan air, sembari berujar, “Sesungguhnya tidur berasal dari panas”. (Miftahus Sa’adah wa Misbahus Siyadah, I:23)

Gurunya Imam An-Nawawi berkata tentang Al-Hafizh Al-Mundziri, “Saya belum pernah melihat dan mendengar seorang pun yang paling bersungguh-sungguh dalam menyibukkan diri dengan ilmu selain dirinya. Ia senantiasa sibuk di waktu malam dan siang hari. Saya pernah berdampingan dengannya di sebuah madrasah di Kairo. Selama 12 tahun, rumahku berada di atas rumahnya. Selama itu pula saya belum pernah bangun malam pada setiap jammya, melainkan cahaya lampu senantiasa menyala di rumahnya, sedangkan ia hanyut dalam ilmu. Bahkan ketika makan pun ia sibuk dengan ilmu.” (Bustanul Arifin, Imam Nawawi)

Dan kita…….??????????????
Apa yang sudah patut dibanggakan dari diri kita?

Kita adalah orang yang ingin manfaat amal kita bisa dinikmati melintasi usia dan umur kita.😭😭😭

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tanda husnul khatimah

Di Antara Tanda Husnul Khatimah

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّه كَانَ بِخُرَاسَانَ فَعَادَ أَخًا لَهُ وَهُوَ مَرِيضٌ فَوَجَدَهُ بِالْمَوْتِ وَإِذَا هُوَ يَعْرَقُ جَبِينُهُ فَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِينِ (رواه احمد)

Dari Buraidah ra, bahwa ketika ia berada di Khurasan, ia menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Saat tersebut ia menemuinya tengah sekarat dan dahinya berkeringat, ia berkata: Allaahu Akbar, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang mu`min meninggal dunia dengan (mengeluarkan) keringat didahinya.” (HR. Ahmad)

©️ Takhrij Hadits;

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dalam Baqi Musnad Al-Anshar, Hadits Buraidah Al-Aslamy, hadits no 21944.

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya, hadits no 904, juga Imam Nasa’i dalam sunannya hadits no 1805 dan Ibnu Majah hadits no 1442.

®️ Hikmah hadits ;

1. Setiap manusia dianjurkan untuk selalu berusaha dalam kehidupannya agar kelak saat diwafatkan oleh Allah Swt, ia mendapatkan husnul khatimah. Karena setiap orang tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari dan di negeri mana ia akan diwafatkan, termasuk juga tidak mengetahui bagaimana akhir dari Kehidupannya. Oleh karenanya, memperbaharui iman, memperbanyak amal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran merupakan amaliyah yang harus mengiringi perjalanan waktu manusia, agar akhir hayatnya diwarnai dengan kebahagiaan dan keridhaan Allah SWT, yaitu wafat dalam kondisi husnul khatimah.

2. Diantara ciri husnul khatimah adalah sebagai berikut ;

(1). Keringat di dahi saat wafat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Buraidah ra di atas, saat beliau di Khurasan menjenguk saudaranya yang sakit lalu wafat dan keluar keringat di dahinya. Maka beliau berakhir seraya menyampaikan hadits Nabi SAW bahwa seorang mu’min wafat dengan keringat di dahinya.

(2). Mengucapkan kalimat La Ilaha Illallah. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW;

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang akhir perkataannya (sebelum meninggal dunia) ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH” maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud)

(3) Wafat malam jumat atau hari jumat. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Dari Abdullah bin ‘Amr berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Tirmidzi)

(4). Syahid di medan jihad atau berniat wafat dalam kondisi syahid di medan jihad. Sebagaimana sabda Nabi SAW;

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ فِي حَدِيثِهِ بِصِدْقٍ

Barangsiapa mengharapkan mati syahid dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengangkatnya sampai ke derajat para syuhada’ meski ia meninggal dunia di atas tempat tidur.” (HR. Muslim)

(5). Wafat terkena wabah penyakit. Sebagaimana sabda Nabi SAW;

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mati karena penyakit sampar adalah syahid bagi setiap muslim.” (HR. Bukhari)

(6). Wafat karena penyakit di perut, sebagaimana sabda Nabi SAW;

وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌِ

“Barang siapa yg wafat karena penyakit di perut adalah syahid.” (HR. Muslim)

(7). Wafat karena tenggelam dan tertimpa reruntuhan dan longsoran. Sebagaimana sabda Nabi SAW

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ وَقَالَ الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika laki-laki sedang berjalan dan menemukan ranting berduri di tengah jalan, kemudian dia menyingkirkan ranting tersebut hingga Allah pun bersyukur kepadanya lalu mengampuni dosa-dosanya.” Lalu beliau bersabda: “Syuhada’ itu ada lima macam; meninggal karena penyakit kolera, orang yang meninggal karena sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang meninggal karena reruntuhan, dan orang yang syahid karena berjuang di jalan Allah ‘azza wajalla.” (HR. Muslim)

(8). Wanita yang wafat ketika melahirkan, sebagaimana sabda Nabi SAW;

وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدَةٌ

“Dan wanita yang mati bersama janinnya syahidah.” (HR. Ahmad)

(9). Wafat mempertahankan harta, keluarga, dan kehormatannya. Sebagaimana sabda Nabi SAW;

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Siapa yang wafat karena membela hartanya maka ia syahid, siapa yang wafat karena membela keluarganya maka ia syahid, atau karena membela darahnya, atau karena membela agamanya maka ia syahid.” (HR. Abu Daud)

(10). Wafat dalam beramal shaleh. Sebagaimana sabda Nabi SAW;

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أَسْنَدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى صَدْرِي فَقَالَ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ حَسَنٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Dari Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Aku sandarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam didadaku lalu beliau bersabda: “Barangsiapa mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH -berkata Hasan: karena mencari- wajah Allah dan ia mati dengannya, ia masuk surga, barangsiapa puasa sehari karena mencari wajah Allah dan ia mati dengannya, ia masuk surga dan barangsiapa mensedekahkan sesuatu karena mencari wajah Allah dan ia mati dengannya, ia masuk surga.” (HR. Ahmad)

(11). Wafat karena menjaga cintanya kepada seseorang dengan tidak berbuat dosa. Dalam riwayat disebutkan; “Barang siapa yang sangat mencintai seseorang kemudian ia tetap menjaga diri dari perbuatan dosa, dan menyimpan cintanya sampai ia wafat maka ia telah mati syahid.” (HR. Al-Hakim, Al-Khatib, Ibnu Asakir dan Ad-Dailamy).

3. Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kelak saat diwafatkan Allah Swt, kita diwafatkan dalam kondisi husnul khatimah.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihadlah

Kita Berjuang Bukan untuk Ketenaran Cukuplah Penduduk Langit Menjadi Saksi

Setelah beberapa kali ragu-ragu, akhirnya Ka’b ibn Malik Radhiyallahu’anhu tertinggal rombongan Nabi Muhammad ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam ke Perang Tabuk.

والمسلمون من تبع رسول الله صلى الله عليه وسلم كثير
لا يجمعهم كتاب حافظ، يعني بذلك الديوان

Ka’b menduga Rasulullah tidak mengetahui absennya dia karena banyaknya balatentara Kaum Muslimin yang berangkat menuju Tabuk. Begitu banyaknya sahabat yang antusias ikut sehingga tidak semuanya tercatat dalam diwan (register/manifest).

Dari sejak dahulu, para mujahid dan mujahidah tidak pernah berjuang agar tertulis namanya dalam suatu catatan atau prasasti.

وأخبر هم خبره فغزاها رسول الله صلى الله عليه وسلم في حرّ شديد واستقبل سفرًا بعيدًا واستقبل غزو عدوّ كثير 

[Sebagaimana diketahui, pra kondisi keberangkatan Tabuk berbeda dengan ekspedisi lainnya], Rasulullah menjelaskan bahwa perjalanan akan dilakukan pada musim panas/kering (lagi minim sumber air sepanjang rute perjalanan), jaraknya ekstra jauh, serta lawannya yang lebih banyak (daripada sebelumnya).

Rasulullah memberikan kesempatan yang cukup untuk bersiap dan saling membantu persiapan, ciri khas ummah yang shalihah.

فقلّ رجل يريد أن يتغيّب إلا ظنّ انه سيخفى له ذلك 

[Ternyata keadaan yg berat itu tidak mengurangi kesemangatan para sahabat untuk berangkat]. Hanya sedikit yang berniat untuk tidak ikut serta kecuali mereka yang menduga Rasulullah tidak mengetahui ketidakhadirannya.

Merupakan ciri mu’min ketika masalah mendera ummat dengan kekuatan besar, maka ia menyambutnya dengan kesemangatan yang lebih besar lagi.

يحزنني أني لا أرى إلا رجلًا مغموصًا عليه في النفاق، أو رجلًا ممّن عذر الله من الضعفاء

[Setelah benar-benar tertinggal dan tidak mungkin tersusul lagi, kini perasaan yang menghantui Ka’b adalah] sedih karena menilai dirinya sendiri tidak lebih dari seorang laki-laki yang tertancap penyakit nifaq (munafik) atau seorang laki-laki yang diberi udzur oleh Allah karena kelemahannya; [dua perasaan yang tidak dimiliki serta tidak pernah diinginkan Ka’b].

Sungguh menakjubkan para sahabat dahulu ketika melakukan kesalahan, mereka sibuk menghisab diri dan cemas dengan kekhilafannya serta tidak pernah mencari sebab pada orang lain.

Kemudian kita semua ketahui bahwa hanya Ka’b ibn Malik, Murarah ibn ar-Rabi, serta Hilal ibn Umayyah yang terus terang mengakui kesalahan mereka di hadapan Baginda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Taubat mereka diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah hampir dua bulan lamanya menerima sanksi berupa larangan dari Rasulullah untuk berbicara dengan ketiganya, sampai turun ketiga ayat:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka,

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman!

Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.

Surah At-Tawbah, Ayat 117-119

Agung Waspodo, beristighar panjang atas segala kelalaiannya, semoga Allah Ta’ala ampuni dirinya yang lemah itu.

Depok, 15 Syawwal 1439 Hijriyah


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iman Islam

RIYADHUS SHALIHIN: Muraqobah – Rukun Islam dan Iman​

​Al Hadits:​

وأما الأحاديث ، فالأول : عن عمر بن الخطاب – رضي الله عنه – ، قَالَ :

بَيْنَما نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – ذَاتَ يَومٍ ، إذْ طَلَعَ عَلَينا رَجُلٌ شَديدُ بَياضِ الثِّيابِ ، شَديدُ سَوَادِ الشَّعْرِ ، لا يُرَى عَلَيهِ أثَرُ السَّفَرِ ، وَلا يَعْرِفُهُ مِنَّا أحَدٌ ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيهِ إِلَى رُكْبتَيهِ ، وَوَضعَ كَفَّيهِ عَلَى فَخِذَيهِ،

وَقالَ : يَا مُحَمَّدُ ، أخْبرني عَنِ الإسلامِ ، فَقَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : الإسلامُ : أنْ تَشْهدَ أنْ لا إلهَ إلاَّ الله وأنَّ مُحمَّداً رسولُ الله ، وتُقيمَ الصَّلاةَ ، وَتُؤتِيَ الزَّكَاةَ ، وَتَصومَ رَمَضَانَ ، وَتَحُجَّ البَيتَ إن اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبيلاً

قَالَ : صَدَقْتَ . فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقهُ ! قَالَ : فَأَخْبرنِي عَنِ الإِيمَانِ

قَالَ : أنْ تُؤمِنَ باللهِ ، وَمَلائِكَتِهِ ، وَكُتُبهِ ، وَرُسُلِهِ ، وَاليَوْمِ الآخِر ، وتُؤْمِنَ بالقَدَرِ خَيرِهِ وَشَرِّهِ

قَالَ : صَدقت

​Artinya:​

​Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: “Pada suatu ketika kami semua duduk di sisi Rasulullah s.a.vv. yakni pada suatu hari, tiba-tiba muncullah seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam warna rambutnya, tidak tampak padanya bekas perjalanan dan tidak seorang pun dari kita semua yang mengenalnya, kemudian duduklah orang tadi di hadapan Nabi SAW. lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha sendiri dan berkata:​

​”Ya Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam.”​

​Rasulullah SAW. lalu bersabda:​

​”Islam, yaitu hendaknya engkau menyaksikan bahawa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, hendaklah pula engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melakukan haji ke Baitullah jikalau engkau mampu.”​

​Orang itu berkata: “Anda benar.”​

​Kita semua heran padanya, kerana dia yang bertanya dan juga membenarkan.​

​Ia berkata lagi: “Kemudian beritahukanlah padaku tentang Iman.”​

​Rasulullah SAW bersabda:​
​”yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari kemudian – kiamat – dan hendaklah engkau beriman pula kepada takdir, yang baik ataupun yang buruk – semuanya dari Allah.”​

​Orang itu berkata: “Anda benar.”​

-Bersambung-
☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO dari Web Manis berikut.

Klik disini


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dosa Menggelisahkan Jiwa

Sendal Pembawa Dosa

📝 Pemateri: Ustadz Solikhin Abu Izzuddin

© Dalam perjalanan ke masjid untuk mengisi pengajian sore ini aku teringat dengan sebuah kisah yang unik. Seorang ulama ahli ibadah seringkali memakai sandal bagus untuk mendukung dia pergi ke masjid dalam rangka bersyukur kepada Allah. Namun sandal tersebut ternyata diambil atau tepatnya dicuri orang yang membutuhkan.

▪Kemudian dia memakai sandal yang biasa agar tidak menarik minat dan selera orang untuk mengambil sandal tersebut. Eh ternyata hilang juga. Akhirnya beliau memutuskan untuk tidak memakai sandal. Orang-orang pun bertanya keheranan,  “Ya Syaikh mengapa Anda tidak mengenakan sandal?”

▪Dengan bijak beliau menjawab, “Aku memang sengaja tidak memakai sandal agar tidak ada orang yang mencuri sandalku sehingga aku tidak membuat mereka melakukan dosa gara-gara mencuri sandalku. Aku tidak ingin menjadi sebab bagi timbulnya dosa bagi orang lain.”

© Sahabatku…
Kisah ini sangatlah sederhana, seorang yang shalih tidak ingin menjadi sebab timbulnya dosa bagi orang lain. Sangat berbeda dengan orang-orang atau seseorang yang menyengaja membuat sebuah sensasi sehingga diomongin atau dikomentari orang lain yang bisa saja yang komen tersebut menjadi berdosa karenanya. Misalnya mancing malem sandal kemudian ramai ramai orang berkomentar. Bisa saja menjadi berdosa bila komentar termasuk ejekan. Dia pemicu komentar juga berdosa. Kita yang asal komentar juga hati-hati karena bisa jadi sedang memproduksi dosa.

▪Caranya gimana?
Orang yang memang tidak punya kapasitas selain sensasi yang menyebabkan dosa bagi orang lain nggak usah diberikan beban dan amanah yang berat apalagi pemimpin sebuah negara. Kasihan kalau dia banyak berdosa.

® Sahabatku
Mari tolonglah dia dengan tidak usah memilih lagi. Satu kali sudah cukup banyak bikin dosa kita dan dia juga,  apalagi kalau sampai dua periode. Terlalu berat.

Wallahu a’lam

 


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jujur

RIYADHUS SHALIHIN: Bab  Shiddiq – Jujur Dalam Jihad​

Hadits:

اعن أبي هريرةَ – رضي الله عنه – ، قَالَ :
قَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – :

غَزَا نبيٌّ مِنَ الأنْبِياءِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهمْ فَقَالَ لِقَومهِ : لا يَتْبَعَنِّي رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأةٍ وَهُوَ يُريدُ أنْ يَبْنِي بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا ، وَلا أحَدٌ بَنَى بُيُوتاً لَمْ يَرْفَعْ سُقُوفَهَا ، وَلا أحَدٌ اشْتَرَى غَنَماً أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ يَنْتَظِرُ أَوْلادَها . فَغَزا فَدَنَا مِنَ القَرْيَةِ صَلاةَ العَصْرِ أَوْ قَريباً مِنْ ذلِكَ ،

فَقَالَ لِلشَّمْسِ : إِنَّكِ مَأمُورَةٌ وَأنَا مَأمُورٌ ، اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَيْنَا ، فَحُبِسَتْ حَتَّى فَتَحَ اللهُ عَلَيهِ ، فَجَمَعَ الغَنَائِمَ فَجَاءتْ – يعني النَّارَ – لِتَأكُلَهَا فَلَمْ تَطعَمْها ،

فَقَالَ : إنَّ فِيكُمْ غُلُولاً، فَلْيُبايعْنِي مِنْ كُلِّ قَبيلةٍ رَجُلٌ ، فَلَزِقَتْ يد رجل بِيَدِهِ فَقَالَ : فِيكُمُ الغُلُولُ فلتبايعني قبيلتك ، فلزقت يد رجلين أو ثلاثة بيده ،

فقال : فيكم الغلول ، فَجَاؤُوا بِرَأْس مثل رأس بَقَرَةٍ مِنَ الذَّهَبِ ، فَوَضَعَهَا فَجاءت النَّارُ فَأكَلَتْها . فَلَمْ تَحلَّ الغَنَائِمُ لأحَدٍ قَبْلَنَا ، ثُمَّ أحَلَّ الله لَنَا الغَنَائِمَ لَمَّا رَأَى ضَعْفَنا وَعَجْزَنَا فَأحَلَّهَا لَنَا
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Rasulullah SAW. bersabda:

“Ada seorang Nabi dari golongan beberapa Nabi –Shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim- berperang, kemudian ia berkata kepada kaumnya:

“Jangan mengikuti peperanganku ini seorang lelaki baru nikah – dan berkeinginan  masuk tidur dengan isterinya itu, tetapi masih belum lagi masuk tidur dengannya,

Jangan pula mengikuti peperangan ini seorang yang membangun rumah dan belum lagi mengangkat atapnya – maksudnya belum selesai sampai rampung semuanya

Jangan pula seseorang yang membeli kambing atau unta yang sedang hamil tua yang ia sedang menantikan kelahiran anak-anak ternak yang dibelinya itu.

Nabi itu lalu berperang, kemudian mendekati sesuatu desa pada waktu shalat Ashar atau sudah dekat dengan itu, kemudian ia berkata kepada matahari: “Sesungguhnya engkau – hai matahari – adalah diperintahkan – yakni berjalan mengikuti perintah Tuhan – dan saya pun juga diperintahkan – yakni berperang ini pun mengikuti perintah Tuhan. Ya Allah, tahanlah jalan matahari itu di atas kita.”

Kemudian matahari itu tertahan jalannya sehingga Allah memberikan kemenangan kepada Nabi tersebut. Beliau mengumpulkan banyak harta rampasan. Kemudian datanglah api, untuk makan harta rampasan tadi, tetapi ia tidak suka memakannya. Nabi itu berkata:​ ​“Sesungguhnya di kalangan engkau semua itu ada yang menyembunyikan harta rampasan, maka dari itu hendaklah berbai’at padaku – dengan jalan berjabatan tangan – dari setiap kabilah seseorang lelaki.

Lalu ada seorang lelaki yang lekat tangannya itu dengan tangan Nabi tersebut. Nabi itu lalu berkata lagi: “Nah, sesungguhnya di kalangan kabilah-mu itu ada yang menyembunyikan harta rampasan. Oleh sebab itu hendaklah seluruh orang dari kabilahmu itu memberikan pembai’atan padaku.”

Selanjutnya ada dua atau tiga orang yang tangannya itu lekat dengan tangan Nabi itu, lalu beliau berkata pula: “Di kalanganmu semua itu ada yang menyembunyikan harta rampasan.” Mereka lalu mendatangkan sebuah kepala sebesar kepala lembu yang terbuat dari emas – dan inilah benda yang disembunyikan, lalu diletakkanlah benda tersebut, kemudian datanglah api terus memakannya – semua harta rampasan.

Oleh sebab itu memang tidak halallah harta-harta rampasan itu untuk siapapun ummat sebelum kita, kemudian Allah menghalalkannya untuk kita harta-harta rampasan tersebut, di kala Allah mengetahui betapa kedhaifan serta kelemahan kita semua. Oleh sebab itu lalu Allah menghalalkannya untuk kita.” (Muttafaq ‘alaih).

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO dari Web Manis berikut.

Silahkan menyimak dengan cara klik link dibawah ini:

http://www.manis.id/p/kajian.html?m=1