Hubud dunia, Fasiq & Munafiq

Ustadz Farid Nu’man

Assalamualaikum ustadz/ah..  minta tolong di jelaskan tentang hubuddunia, beda fasiq & munafiq…terima kasih
🐝🐝🐝

Jawaban
—————

Wa’alaikumsalam wr wb
Hubbud Dunia, cinta dunia yaitu sikap mental yg mendahulukan dunia dibanding akhirat. Itu sederhanya. Dunia menjadi pertimbangan utama dlm hal apa pun.

Milih jodoh, dunia yg dipikirkan
Milih sekolah, dunia yg dipikirkan
Milih perumahan, dunia yg dipertimbangkan
Mau dakwah dan jihad, dunia yg jd halangan
Milih pemimpin, dunia yg jd pertimbangan
Dll

Fasiq lebih umum, dia perilaku merusak, tau hukum tp tdk menjalankan, bs dialami oleh muslim dan kafir.

Sedangkan munafiq, zahirnya muslim tp hatinya kafir. Di akhirat mereka neraka, sebagaimana ayat:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ

“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.” (Qs. At Taubah: 68)

Wallahu a’lam

SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Lanjutan)

Ustadzah Prima Eyza

_Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh_

Apa kabar adik-adik ?  Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan iman dan Islam, dalam limpahan kenikmatan dan rahmat Allah SWT, dalam semangat dan kesungguhan di jalan Allah SWT… Aamiin..
Hari ini mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita mengenai syarat-syarat diterima syahadat yang pada kesempatan lalu telah selesai membahas syarat yang keempat.

Kali ini kita masuk pada syarat yang kelima.

*SYARAT KELIMA:*

اَلْمَحَبَّةُ اَلْمُنَافِيَةُ لِلْبُغْضِ

*(KECINTAAN YANG MENGHILANGKAN KEMARAHAN/KEBENCIAN)*

Orang yang bersyahadat harus memiliki cinta yang sempurna kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam menyatakan syahadat tersebut, ia harus mendasarkan pernyataannya itu dengan cinta. Cinta ialah rasa suka yang melapangkan dada. Cinta merupakan ruh dari ibadah, sedangkan syahadatain merupakan ibadah yang paling utama. Dengan berlandaskan rasa cinta, segala beban akan terasa ringan, sehingga segala tuntutan syahadatain akan dapat dilaksanakan dengan mudah.

Cinta kepada Allah yang teramat sangat merupakan sifat utama orang beriman. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah (2) ayat 165 :
 وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
_”Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”_

💠 Mencintai Allah dengan kecintaan yang sama terhadap sesuatu selain Allah saja tidak boleh, apalagi mencintai Allah dengan kecintaan yg lebih kecil dibanding kecintaan kepada sesuatu selain-Nya.

💠 Orang-orang yang beriman mencintai Allah dengan cinta yang amat sangat bersangatan, bukan dengan kecintaan yang biasa-biasa saja, bukan dengan cinta yang tipis dan sekedarnya saja.

💠 Yang dimaksud dengan orang-orang yang berbuat zhalim adalah orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan Allah (mempersekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya).

Demikian pula firman Allah dalam QS. At Taubah (9) ayat 24 :
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
_“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”_

💠 Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya haruslah diatas segalanya (bapak-bapak, anak-anak, istri, kaum keluarga, harta, perniagaan, dan rumah tempat tinggal).

Jadi, mencintai Allah itu haruslah dengan cinta yang sempurna (كَمَالُ الحُبِّ). Yakni bahwa Allah SWT kemudian Rasul-Nya lebih dicintai daripada yang lain.
Artinya:
🔹Tidak boleh SAMA CINTAnya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan kecintaan kepada yang lain.
(orang yang menyembah selain Allah →  يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ   “mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah”) [QS. Al Baqarah : 165]

🔹 Tidak boleh LEBIH CINTA kepada yang lain dibandingkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
(orang yang lebih mencintai selain Allah dan Rasul-Nya →  أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ   “adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya”) [QS. At Taubah : 24]

🔹 Harus AMAT SANGAT CINTAnya kepada Allah.
(orang-orang beriman →  أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ   “amat sangat cintanya kepada Allah”) [QS. Al Baqarah : 165]

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menyebabkan datangnya halawatul iman (manisnya/lezatnya keimanan), sebagaimana sabda Rasulullah saw :
قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
_”Ada tiga perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat perkara itu akan mendapatkan manisnya iman; (pertama) Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selainnya. (kedua) Mencintai seseorang atau membencinya karena Allah. (ketiga) Dan benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke neraka.”_ (Muttafaq Alaihi)

Syaikh Sa’id Hawwa dalam bukunya Tazkiyatun Nafs menulis, Imam Ghazali mengatakan bahwa sesuatu yang berhak dicintai hanyalah Allah SWT. Jika puncak-puncak kecintaan seseorang diberikan kepada selain Allah, maka hal itu merupakan suatu kebodohan dan tanda ketidaktahuannya akan hakikat Allah.

Mencintai selain Allah yang ada hubungannya dengan kecintaan kepada-Nya merupakan cinta yang juga dibenarkan, seperti halnya cinta kepada Rasulullah, para ulama yang sholeh, orang-orang yang bertaqwa. Karena hal itu merupakan buah kecintaan kepada Allah.

Maka kecintaan kita kepada Allah kemudian Rasul-Nya yang menempati tingkatan kecintaan yang tertinggi, akan menghilangkan segala ketidaksukaan/kebencian kita kepada segala apa yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya. Segala apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perintah, larangan, arahan, pengajaran, aturan-aturan, semuanya akan kita terima dengan penuh kecintaan dan kemudian dilaksanakan/diamalkan dengan penuh kecintaan pula.

Saat ini banyak sekali kita saksikan fenomena-fenomena kebencian terhadap Islam, yang notabene itu sebenarnya menunjukkan kebencian pula terhadap Allah dan Rasul-Nya. Hal ini yang kita kenal dengan istilah “Islamophobia”.  Misal, kalangan musuh-musuh Islam yang sangat antipati terhadap Islam. Kebencian mereka kepada Islam diwujudkan dengan berbagai tuduhan, seperti menyebut Islam sebagai terorisme, fundamentalisme, kelompok radikal garis keras, dan berbagai cap buruk lainnya dan bahkan mereka memerangi Islam dengan peperangan fisik (Irak, Somalia, Afghanistan, Palestina, dll). Dan sikap ini pun banyak ditiru oleh orang-orang Islam yang ikut-ikutan tidak suka dengan Islam dan umat Islam, padahal mereka sendiri muslim.
Bagaimana jika orang yang bersyahadat tapi tidak menyukai syariat Islam, membenci ajaran-ajaran Islam, curiga terhadap umat Islam sendiri, bahkan ikut mengelompokkan Islam ke dalam terorisme misalnya? Bagaimana syahadatnya?

Maka jangan sampai kita terikut seperti demikian, sebab hal itu adalah salah satu fenomena yang disebutkan dalam Al Quran yakni senang kepada kemusyrikan:
وَإِذَا ذُكِرَ اللهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
_“Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.”_ (QS. Az Zumar [39] : 45)

Maka, janganlah kita merasa berat dan tidak bersuka hati terhadap Allah dan agama-Nya. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Salah satu contoh kecil misalnya, janganlah malu menyebut “الله”, lalu menggantinya dengan sebutan “Yang Di atas”, seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang saat ini.

Banggalah kita dengan Islam kita, cintalah kita kepada Allah dan Rasul-Nya dengan kecintaan yang sempurna. Sehingga dengan demikian syahadat kita diterima di sisi Allah dan semoga menjadi kunci pembuka pintu surga. Aamiiin…

_Wallaahu a’lam bishshowab_

Bersambung…

Akibat Banyak Bersumpah Karena Dunia Dan Enggan Berbagi

Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

A. HADITS:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِم؛ْ رَجُلٌ حَلَفَ عَلَى سِلْعَةٍ لَقَدْ أَعْطَى بِهَا أَكْثَرَ مِمَّا أَعْطَى وَهُوَ كَاذِب،ٌ وَرَجُلٌ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ كَاذِبَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِم،ٍ وَرَجُلٌ مَنَعَ فَضْلَ مَاءٍ فَيَقُولُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْيَوْمَ أَمْنَعُكَ فَضْلِي كَمَا مَنَعْتَ فَضْلَ مَا لَمْ تَعْمَلْ يَدَاكَ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bersabda:
“Ada tiga golongan yang Allah tidak mengajak mereka bicara pada hari kiamat dan Allah juga tidak akan memandang mereka; (yaitu) 1. Seseorang yang bersumpah dalam dagangannya sehingga bisa diberi lebih banyak daripada biasanya, dan ia dusta dalam sumpahnya.
2. Seseorang yang melakukan sumpah dusta setelah ‘ashar dengan ambisi bisa mendapatkan harta orang muslim lainnya.
3. Dan seseorang yang menahan kelebihan air (tidak berbagi), sehingga Allah pada hari kiamat berfirman ‘Saya sekarang menahan kurnia-Ku sebagaimana engkau pernah menahan kelebihan air yang kedua tanganmu tidak bekerja karenanya.” (HR. Bukhari)

B. HIKMAH HADITS:

1. Hadits di atas menggambarkan adanya tiga amalan yang menyebabkan kemurkaan Allah Swt, sehingga Allah tiada sudi untuk berbicara dan tidak sudi untuk memandang mereka di hari kiamat.

Oleh karena itu, ketiga perkara ini harus dihindari dan dijauhi sebisa mungkin, agar kita terhindar dari kemurkaan Allah Swt.

2. Ketiga perbuatan tersebut adalah

🔹Pertama, banyak bersumpah dengan nama Allah dalam bisnis, demi mendapatkan keuntungan duniawi.

Umumnya hal ini dilakukan dalam rangka mendapatkan simpati dan kepercayaan dari mitra dagangnya dan atau berharap mendapatkan keuntungan berlipat.

🔹Kemudian yang kedua adalah melakukan bersumpah palsu, juga demi mendapatkan keuntungan duniawi dan atau merampas hak orang lain, seperti bersumpah bahwa suatu barang adalah miliknya, agar ia bisa menguasai barang tersebut, sementara barang itu sebenarnya milik orang lain.

Ia mengambilnya secara bathil, dengan bersumpah menggunakan nama Allah Swt.

🔹Kemudian yang terakhir adalah seseorang yang tidak mau memberi dan tidak peduli pada sekitarnya, ia bakhil dan tidak mau berbagi pada orang dan masyarakat yang kekurangan di sekitarnya. Seperti tidak mau berbagi air sementara ia memiliki kelebihan air yang melebih dari kebutuhannya.

Maka kelak di hari kiamat, Allah pun enggan memberikan karunia-Nya kepadanya, na’udzubillahi min dzalik…

Semoga Allah Swt hindarkan kita dari ketiga sifat tercela tersebut.

Wallahu A’lam bis shawab

Dana Shubhat

Ustadzah Nurdiana

Assalamualaikum ustadz/ah..
boleh nggak ya jika uang syubhat diberikan utk rehab WC masjid?

Jawaban :
—————-

Wa’alaikumsalam wr wb
Secara Bahasa (Lughah) arti syubhat adalah Al Mitsl (serupa, mirip) dan iltibas (samar, kabur, tidak jelas, gelap, sangsi). Maka, sesuatu yang dinilai syubhat belum memiliki hukum yang sama dengan haram atau sama dengan halal. Sebab mirip halal bukanlah halal, dan mirip haram bukanlah haram. Maka, tidak ada kepastian hukum halal atau haramnya, masih samar dan gelap.

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Radhiallahu ‘Anhu menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam mengkategorikan perkara syubhat:

1. Kelompok yang memasukan syubhat sebagai perkara yang haram. Alasan mereka adalah ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barangsiapa yang menghindar dari yang samar maka dia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara yang samar maka dia telah terjatuh dalam perkara yang haram.”

2. Kelompok yang memasukan syubhat sebagai perkara yang halal. Alasan mereka adalah ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “seperti penggembala yang berada dekat di pagar milik orang lain.” Ini menunjukkan dia belum masuk keharaman, namun   sebaiknya kita bersikap wara’ (hati-hati) untuk meninggalkannya.

3. Kelompok yang mengatakan bahwa syubhat bukanlah halal dan bukan pula haram, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyebutkan bahwa halal dan haram adalah jelas, maka hendaknya kita bersikap seperti itu. Tetapi meninggalkannya adalah lebih baik, dan hendaknya bersikap wara’. (Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 44. Maktabah Al Misykah)

Pendapat kelompok ketiga inilah yang nampaknya lebih kuat. Hal ini diperkuat lagi oleh ucapan Nabi:

لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاس

Banyak manusia yang tidak mengetahuinya

Berkata Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah:

وفيه دليل على أن الشبهة لها حكم خاص بها يدل عليه دليل شرعي يمكن أن يصل إليه بعض الناس.

“Hal ini menunjukkan bahwa masalah syubhat mempunyai hukum tersendiri yang diterangkan oleh syari’at sehingga sebagian orang ada yang berhasil mengetahui hukumnya dengan benar.” (Syarhul Arba’in An Nawawiyah, Hal. 47)

Contoh Perkara Syubhat:

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari ‘Aisyah, ia berkata : “Sa’ad bin Abu Waqash dan ‘Abd bin Zam’ah mengadu kepada Rasulullah tentang seorang anak laki-laki. Sa’ad berkata : Wahai Rasulullah anak laki-laki ini adalah anak saudara laki-lakiku.’Utbah bin Abu Waqash. Ia (‘Utbah) mengaku bahwa anak laki-laki itu adalah anaknya. Lihatlah kemiripannya” sedangkan ‘Abd bin Zam’ah berkata; “ Wahai Rasulullah, Ia adalah saudara laki-lakiku, Ia dilahirkan ditempat tidur ayahku oleh budak perempuan milik ayahku”, lalu Rasulullah memperhatikan wajah anak itu (dan melihat kemiripannya dengan ‘Utbah) maka beliau Rasulullah bersabda : “Anak laki-laki ini untukmu wahai ‘Abd bin Zam’ah, anak itu milik laki-laki yang menjadi suami perempuan yang melahirkannya dan bagi orang yang berzina hukumannya rajam. Dan wahai Saudah, berhijablah kamu dari anak laki-laki ini” sejak saat itu Saudah tidak pernah melihat anak laki-laki itu untuk seterusnya.

Abd bin Zam’ah adalah Saudara laki-laki dari Saudah (istri Nabi). Dan, Rasulullah menetapkan bahwa anak laki-laki tersebut adalah hak (saudara) dari Abd bin Zam’ah. Tetapi, ternyata Rasulullah memerintahkan Saudah untuk berhijab (menutup aurat) di depan laki-laki tersebut, padahal Saudah juga saudara dari Abd bin Zam’ah. Perintah ini disebabkan kesamaran (syubhat) pada masalah ini dan ini menunjukan kehati-hatian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di dalam hadits yg diriwayatkan oleh Imam Bukhori .Rasulullah bersabda:

فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، ‏كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يقع فيه

Barangsiapa  yang takut syubhat maka dia telah membebaskan diri dari agama dan harga dirinya. Barang siapa yang terjatuh pada perkara syubhat, maka ia jatuh pada perkara haram. Sebagaimana penggembala yang menggebmlala di sekitar pagar, maka dia hampir mengenai pagar itu.

Menyimak hadits diatas ,hal  syubhat tidak sama dengan hal yang haram, dan sebagai kehati hatian sebaiknya jauhi hal yang syubhat. Penggunaan dana syubhat untuk  rehab Wc silahkan saja. Asalkan disampaikan ke pengurus masjid bahwa dana ini khusus tuk rehab wc.

Wa Allahu A’lam Biss shawab.

Nabi Nuh AS (Part 4)

Ustadzah Ida Faridah

Assalamu’alaikum adik-adik….
Apa kabarnya hari ini? Semoga kita semua masih dalam lindungan Allah SWT, kali ini kita bahas tentang Nabi Nuh as. Lagi

*Sikap Kaumnya Atas Pribadi dan Dakwahnya*

Sikap Kaumnya terhadap pribadi dakwanya adalah takdzib (mendustakan) dan menyebutnya dengan sebutan yang tidak patut baginya. Mereka menyebutnya Dhalal/sesat yang tidak ada lagi kesesatan sesudahnya. Seperti firman Allah:

“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: ‘sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”. (Al-A’araf:60)

Tidak mengakuinya sebagai rasul karena manusia biasa seperti mereka. Mereka beranggapan kalau rasul itu harus berupa malaikat. Firman Allah:

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan sebagai seorang manusia biasa seperti kami,….(Huud:27)

“Maka pemuka-pemuka orang yang kafir diantaranya menjawab: ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat. belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. (Al-Mukminun: 24)

Mereka menganggapnya gila yang harus disikapi dengan sabar sampai datang ajalnya. Allah swt berfirman menceritakan ucapan mereka:

“La tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, Maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu”. (Al-Mukminun:25)

“Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba kami (Nuh) dan mengatakan: ‘Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman”. (Al-Qamar:9)

Bahwa ia tidak diikuti kecuali oleh orang-orang terhina. Allah berfirman
“….dan kami tidak melihat orang-orang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. (Huud:27)

Sampai pada tingkat penolakan total, tidak mau mendengar ucapan Nabi Nuh as, istikbar (sombong) dan bahkan ajakan untuk mempertahankan sesembahnya dan tidak meninggalkanya untuk selama-lamanya. Allah berfirman:

“Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”. (Nuh: 7)

Dan mengancamnya jika tidak menghentikan da’wahnya maka akibatnya adalah pembunuhan dengan cara dirajam (dilempar dengan batu). Allah berfirman

“Mereka berkata: sungguh jika kamu tidak mau berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar akan termasuk orang-orang dirajam”. (Asy-syu’ara:116)

Mengghibah Terhadap Penista Al Quran

Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.*

Bismillah wal Hamdulillah

Ghibah adalah dosa besar, yaitu membicarakan keburukan saudara sesama muslim yang dia tidak suka jika dirinya dibicarakan.

Ada pun meng-ghibahi penista Al Quran, bukanlah ghibah tapi _nahi munkar_, agar manusia tahu kemungkarannya dan kejahatannya. Jangankan kepada non muslim, jika pelakunya muslim saja boleh dibicarakan. Sebagaimana para ulama hadits sering berkata kepada perawi hadits:

_Dia pembohong … dia pemalsu hadits … dia hapalannya lemah .. dll_

Apalagi dengan non muslim yang berkali kali menyakiti umat Islam.

Ada beberapa ghibah yang diperbolehkan, sebagaimana yang tertera dalam _Riyadhus Shalihin_-nya Imam An Nawawi Rahimahullah. Saya  ringkas sebagai berikut: (Hal. 366-367, Maktabatul Iman, Al Manshurah)

*1. Mengadukan kepada hakim, tentang kejahatan  orang yang zalim*

2. Minta tolong supaya menasehati orang yang berbuat mungkar kepada orang yang dianggap sanggup menasehatinya.

*3. Karena minta fatwa: fulan menganiaya saya, bagaimana cara menghindarinya?*

4. Bertujuan menasehati, agar orang lain tidak terpedaya oleh orang tersebut.

*5. Terhadap orang yang terang-terangan melakukan kejahatan, maka yang demikian bukan ghibah, sebab ia sendiri yang menampakannya.*

6. Untuk memperkenalkan orang dengan gelar yang sandangnya, seperti Al A’masy (buram matanya), Al A’raj (Si Pincang), Al A’ma (Si Buta), Al ‘Asham (Si Tuli), Al Ahwal (si Juling), semua ini adalah gelar yang pernah disandang oleh sebagian ulama hadits.

Sekian. Wallahu A’lam

Hadist Arba’in ke – 4

Ustadzah Nurdiana

Assamu’alaykum.Wr.Wb..Mhn dijelaskan ttg hadist arba’in ke -4.Anak saya yg di SMP berkesimpulan… kita cukup sekedarnya saja beribadah&beramal shalih.Toh,kita sdh kenceng2 pun kl ternyata akhir hidup kita adalah ahli neraka,apa lah gunanya.Saya sudah coba menjelaskan bhw setiap takdir manusia itu msh jd rahasia,karena yg penting adlh selalu ikhtiar dlm kebaikan.Tp jawaban itu blm cukup memuaskannya.Mohon bantuan para Ustadz/ah utk menjelaskan secara lbh gamblang.jazakillah

✍🏽✍🏽✍🏽✍🏽✍🏽✍🏽✍🏽✍🏽
 Wa alaikum salam wr wb,
Bismillah..
HADITS KEEMPAT

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا                            
[رواه البخاري ومسلم]

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.
(Riwayat Bukhori dan Muslim).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

1.Sebagian ulama dan orang bijak berkata  bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.

2.   Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya karena Allah maha mengetahui masa lalu.sekarang dan yang akan datang.sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan. Allah menetapkan semuanya secara adil dan tidak mendzolimi hambanya.

3.   Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk surga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan salah satu sebab untuk memasuki keduanya.

4.   Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).

5. Disunnahkan  selalu berazam/bertekad memperbakki niat untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.

6     Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karena Allah

7.    Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya dan Allah sudah mencukupkan rezqinya.

8. Dengan memahami hadits tersebut diatas harusnya menjadi motivasi kita untuk selalu memurnikan ketaatan kita kepada Allah, bagaimana setiap jam, setiap menit, setiap detik, setiap desah nafas kita untuk selalu ingat Allah. berdzikir memuji dan memohon taufiq dan hidayah Nya agar kita di kelompokkan bersama orang-orang yang di ridhoi Allah

9.Apa yang disampaikan dalam hadits adalah qodho sehingga sebelum ia menjadi sebuah taqdir atau kenyataan ,Setiap manusia punya peluang besar untuk merubahnya dengan cara berdoa, bersedekah, menuntut ilmu agama sehingga bisa memahami dan mengamal kan amal sholeh sesuai yang di syariatkan Allah.

10. Selalu berikhtiar. Semangat dan berhuznudzon kepada Allah karena semua  yang Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik buat kita.

 Catatan tambahan, kalau ada seorang yang nampak baik di mata manusia tapi di akhir kehidupannya  mengerjakan amal buruk dan akhirnya wafat dalam kemaksiatan atau suul khotimah ,ini bukan karena Allah dzolim tapi justru Allah ingin menyingkap tabir kebenaran bagi yang hidup bahwa amal kebaikan yang dilakukannya bukan ikhlas karena Allah.

Wallahu A’lam

Apa Setelah 212 ?

Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.*

📌 Telah berlalu 212 tapi kisahnya masih hangat dibicarakan

📌 Sejuta kisah menakjubkan yang jarang kita dengar dan saksikan dalam kehidupan

📌 Tidak pernah terjadi sebelumnya kecuali pada umat ini

📌 Kisah keikhlasan, pengorbanan, persaudaraan, kebersamaan, … yang pernah kita baca pada sirah kenabian dan para sahabat kembali menjadi nyata

📌 Peristiwa ini telah mengembalikan lagi ghirah Islamiyah banyak kaum muslimin di semua kalangan; ulama, santri, pejabat, pegawai, orang kaya, miskin, pedagang, pebisnis, pengusaha, artis, mahasiswa, dosen, guru, pelajar, dan banyak lapisan masyarakat dengan berbagai profesinya.

📌 Beruntunglah yang menjadi bagiannya, merugilah yang nyinyir terhadap mereka

📌 Tapi kehidupan tetap harus berjalan, tidak cukup larut dalam kisahnya saja  … spirit 212 tidak boleh hilang

📌 Kesadaran menjaga ukhuwah dan persatuan umat,  membelanjakan harta fisabilillah, mengorbankan waktu dan tenaga untuk agama, kepekaan untuk membela agama, kedisiplinan dalam berjamaah, ketaatan antara jundi dan qiyadah, kebersamaan para ulama dan tokoh umat, dan banyak lagi nilai yang diwariskan dari spirit 212 yang mesti dipelihara

📌 Penista memang mesti dipenjara, tapi PR umat Islam masih banyak yang belum diselesaikan; persoalan umat Islam seperti kemiskinan, kebodohan, perselisihan madzhab dan politik, dan sebagainya

📌 Adanya musuh bersama sangat efektif untuk menjadikan kita kuat, tetapi untuk kuat apakah selalu harus menunggu memiliki musuh bersama dulu? Sepertinya kita mampu kuat dan lebih kuat walau tanpa menunggu adanya penista agama

📌 Maka, mari kobarkan semangat 212 .. semangat Indonesia bertauhid .. menuju negara Indonesia yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala

Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Barang Temuan

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamu’alaikum ustadz…
Begini, saya suka bingung kalau sudah menemukan barang yang hilang. Seperti beberapa kasus di bawah ini:

1. Kasus satu, misal ayah saya menemukan hp yang jatuh di jalan. Misalnya ayah saya tidak terlalu paham hukumnya, tetapi saya takut kalau tidak dikembalikan, padahal kita bisa kembalikan dengan mencari informasi pemilik hp tsb. Saya sudah hubungin temennya pemilik hp tsb. Tetapi  tidak ada balasan. Padahal saya ingin mengembalikan.Akhirnya dibiarkan aja hp tsb sampai sekarang. Terkadang digunakan oleh ayah saya. Yang saya tanyakan, bagamana sebaiknya yang saya lakukan?

2. Kasus 2, saya menemukan anting sebelah di tempat wudhu kampus, sepertinya punya anak kecil. Cukup sulit kalau anak tersebut bukan mahasiswa. Lalu saya simpan. Saya menulis pengumuman di papan informasi, tetapi tidak ada yg merasa kehilangan. Akhirnya saya berpikir tidak  mungkin tunggu 1 tahun. Saya pikir dijual saja dan uangnya diinfaqkan. Apakah diperbolehkan tindakan saya seperti itu?

3. Kasus 3, misalnya ayah saya menemukan seperangkat plastik kiloan lumayan 2/3 pak dan 1/2 pack tusuk gigi yang jatuh di jalan. Itu kan tidak mungkin dilacak pemiliknya, karena bingung dan mubadzir kalau tidak dipakai. Akhirnya (saya/ayah saya) berpikir untuk dipakai sendiri (mencari keuntungan sendiri misalnya).  Padahal bisa diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan, seperti penjual yang keliahatannya kurang mampu. Namun, ternyata tidak, malah digunakan sendri. Bagaimana hukumnya? Berdosakan saya/ayah saya?

4.Ada tman Saya yang mungut uang lalu dia pkai berbelanja🍫 dengan niat ingin mgemmbalikannya nanti saat dia punya uang ..nah pertanyaannya! haramkah uang itu?? Dan kalau mau d kembalikan mau di kembalikan kemana?? Apakah ke tempat yang d pungut itu??
Jazakumullah Ustadz…
A 03
___________________________

JAWABAN

Wa ‘alaikumussalam …, Bismillah wal Hamdulillah wash shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Apa yang ditanyakan itu, dalam fiqih namanya LUQATHAH yaitu barang temuan.

Ada dua jenis:
1⃣ Barang temuannya sesuatu yg dianggap sudah tidak berharga atau tidak diharapkan pemiliknya lagi, maka ini boleh dimiliki. Seperti sebutir kurma, kain usang, botol minuman, bangku reot, dll. Ini biasa kita saksikan dilakukan pemulung. Ini dibenarkan oleh syara’ dan tradisi manusia umumnya.

2⃣ Barangnya sesuatu yang diminati banyak orang, pemiliknya pun masih berharap, baik dia masih mencari atau pasif saja. Seperti jam, dompet dan isinya, perhiasan, dll.

Maka, ini mesti diumumkan selama 1 tahun,  Jika yang punya datang, maka kembalikan, jika tidak maka boleh bagi penemunya memanfaatkannya sebagaimana perintah nabi dalam hadits riwayat Al Bukhari. Boleh juga menyedekahkannya, tapi jika  suatu saat ada orang yang mengaku sebagai pemiliknya, maka tetap kita mengembalikannya.

Wallahu a’lam

Adab B.A.K (buang air kecil)

Ustadzah Ida Faridah

Assalamualaykum Ustadz..
Mohon penjelasan tentang adap B.A.K (buang air kecil), terutama untuk para ikhwan berikut dalil2nya.

JAWABAN:
—————————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Adab membuang hajat :
1. Jangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. Rosulullah saw bersabda

“janganlah seseorang di antara kamu menyentuh kemaluanya dengan tangan kanan saat kencing dan janganlah cebok (istinja) dengan tangan kanannya.” (HR. Bukhori dan muslim)

2. Jangan menghadap kiblat atau membelakangi kiblat saat buang air. Rosulullah saw bersabda

” dan janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya saat berak atau kencing, tetapi menghadaplah ketimur atau kebarat.” (HR. Tujuh ahli hadist)

3. Jangan berbicara saat buang air. Rosulullah saw bersabda

“apabila dua orang buang air besar maka hendaklah tiap-tiap  seseorang dari mereka berlindung dari teman nya dan janganlah mereka berbicara karena Allah murka kepada yang demikian itu.”  (HR. Muslim)

4. Janganlah buang air di jalan atau d tempat berteduh.
Rosulullah saw bersabda

“jauhilah perbuatan dua orang yg menyebabkan laknat, yaitu buang air di jalan atau di perteduhan mereka.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam