Haruskah Minta Izin Istri Jika Ingin Poligami?

Ustadzah Dra Indra Asih

๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamu’alaikum…ustad/ustadzah…sy mau tanya….
1. Bila ada seorang laki-laki yang sudah punya istri,tapi istrinya bermasalah tdk bisa hamil ,lalu si suami suka dgn wanita lain dan berhubungn atau berteman baik tanpa sepengetahuan istrinya, kemudian ingin menikahinya,asalnya mau poligami, tp dgn berjalannya waktu si laki-laki tadi mencerai istrinya dan menikah dgn wanita lain itu, berdosakah wanita yg dinikahi laki-laki tadi?
2. Bagaimana cara mengambil keputusan yg terbaik diantara beberapa pilihan?apakah dgn shalat istikharah? Ada yg bilang, klo sholat istikharah, yg sholat harus kondisi netral tdk ada kecenderungan yg besar ke salah satu pilihan ,apakah betul begitu?jika yg mau sholat sudah ada kecenderungan ke salah satu pilihan, bagaimana untuk menentukan apakah pilihannya itu sudah yg terbaik dari Allah?
โฌ† pertanyaan dr ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ7โƒฃ

———————–

Jawabannya :
1.Tidak ada larangan suami dalam hal ini terlebih lagi jika terdapat kebutuhan dan kemaslahatan di dalamnya, seperti : untuk mendapatkan keturunan, selama suami mampu untuk berlaku adil didalamnya.

ููŽุฅูู†ู’ ุฎููู’ุชูู…ู’ ุฃูŽู„ุงู‘ูŽ ุชูŽุนู’ุฏูู„ููˆุงู’ ููŽูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู‹

Artinya : โ€œKemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja.โ€ (QS. An Nisaa : 3)

Diriwayatkan oleh an Nasai dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda: โ€œBarang siapa yang memiliki dua orang isteri dan dia lebih condong kepada salah seorang di antara mereka maka dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan salah satu sisinya miring.โ€

Tidak ada keharusan bagi seorang suami yang ingin berpoligami untuk meminta izin atau mendapatkan restu terlebih dahulu dari istrinya baik lisan maupun tulisan. Namun lebih baik jika mengajak istri berbicara atau meminta pendapatnya dengan menceritakan sebab-sebab yang melatarbelakangi keinginan suami, kemaslahatan yang ada didalamnya serta tinjauan syariah dalam hal ini.

Yang jadi masalah adalah mengapa hubungan itu kemudian mengakibatkan ada perceraian? Kurang jelas/cukup datanya di sini

2.Dari Shahabat Jabir bin โ€˜Abdillah radhiyallahu โ€˜anhu, beliau berkata,

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠูุนูŽู„ูู‘ู…ูู†ูŽุง ุงู„ูุงุณู’ุชูุฎูŽุงุฑูŽุฉูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑู ูƒูู„ูู‘ู‡ูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูุนูŽู„ูู‘ู…ูู†ูŽุง ุงู„ุณูู‘ูˆุฑูŽุฉูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฅูุฐูŽุง ู‡ูŽู…ูŽู‘ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ููŽู„ู’ูŠูŽุฑู’ูƒูŽุนู’ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ููŽุฑููŠุถูŽุฉู ุซูู…ูŽู‘ ู„ููŠูŽู‚ูู„ู’

Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, mengajari kami shalat istikharah dalam  yang kami hadapi, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata, โ€œJika salah seorang di antara kalian  dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua rakaโ€™at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalahโ€ฆโ€. (HR. Al-Bukhari)

Ada 2 hal mendasar:

Yang pertama, Nabi mengajarkan shalat istikharah dalam setiap perkara / urusan. Jadi tidak benar ada anggapan bahwa shalat istikharah hanya dilakukan terbatas untuk urusan yang meragukannya, sehingga ia perlu melakukan shalat istikharah. Karena dalam bahasa Arab, kata  memiliki arti setiap / semua.

Kedua, sebagian orang salah paham dalam melaksanakan shalat istikharah. Sebagian dari mereka melakukan shalat istikharah ketika dihadapkan kepada pilihan yang sulit atau meragukannya. Padahal ini kurang tepat, karena yang tepat adalah ketika seseorang telah mantap hatinya dengan keputusan yang ia ambil dalam urusan yang dihadapinya.

Jika BERNIAT, sebagian orang mengartikannya dengan menghadapi, padahal jika diartikan demikian, maka shalat istikharah dilakukan sebelum hati mantap dengan keputusan. Padahal shalat istikharah dilakukan saat hati telah mantap dengan keputusan.

Apa hikmahnya ketika shalat istikharah dilakukan saat hati telah mantap.

1. Jika seseorang telah mantap dengan suatu urusan, maka ia memohon kepada Allah, apabila urusannya tersebut baik dan diridhai oleh Allah, maka Allah akan mempermudah jalannya untuk mendapatkan perkara tersebut.

2. Jika perkara tersebut tidaklah baik baginya, Allah akan datangkan penghalang dan pencegah baginya, sehingga ia akan dicegah untuk melaksanakan urusan tersebut.

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุนูŽุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูƒู’ุฑูŽู‡ููˆุง ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุนูŽุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ุชูุญูุจูู‘ูˆุง ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุดูŽุฑูŒู‘ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ

โ€œBoleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.โ€ (QS. Al-Baqarah: 216)

Melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istikhoroh karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Namun orang-orang awam masih banyak yang memiliki pemahaman semacam ini. Yang tepat, istikhoroh tidak mesti menunggu mimpi. Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan. Terserah apa yang ia pilih tadi, mantap bagi hatinya atau pun tidak, maka itulah yang ia lakukan karena tidak dipersyaratkan dalam hadits bahwa ia harus mantap dalam hati. Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.

 Cara Istikhoroh

Pertama: Ketika ingin melakukan suatu urusan yang mesti dipilih salah satunya, maka terlebih dahulu ia pilih di antara pilihan-pilihan yang ada.

Kedua: Jika sudah bertekad melakukan pilihan tersebut, maka kerjakanlah shalat dua rakaโ€™at (terserah shalat sunnah apa saja sebagaimana dijelaskan di awal).

Ketiga: Setelah shalat dua rakaโ€™at, lalu berdoโ€™a dengan doโ€™a istikhoroh:

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูู‰ ุฃูŽุณู’ุชูŽุฎููŠุฑููƒูŽ ุจูุนูู„ู’ู…ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽุฃูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุฏูุฑููƒูŽ ุจูู‚ูุฏู’ุฑูŽุชููƒูŽ ุŒ ูˆูŽุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ููƒูŽ ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุชูŽู‚ู’ุฏูุฑู ูˆูŽู„ุงูŽ ุฃูŽู‚ู’ุฏูุฑู ุŒ ูˆูŽุชูŽุนู’ู„ูŽู…ู ูˆูŽู„ุงูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุนูŽู„ุงู‘ูŽู…ู ุงู„ู’ุบููŠููˆุจู ุŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ููŽุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุฃูŽู…ู’ุฑูŽ โ€“ ุซูู…ู‘ูŽ ุชูุณูŽู…ู‘ููŠู‡ู ุจูุนูŽูŠู’ู†ูู‡ู โ€“ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู„ูู‰ ููู‰ ุนูŽุงุฌูู„ู ุฃูŽู…ู’ุฑูู‰ ูˆูŽุขุฌูู„ูู‡ู โ€“ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽูˆู’ ููู‰ ุฏููŠู†ูู‰ ูˆูŽู…ูŽุนูŽุงุดูู‰ ูˆูŽุนูŽุงู‚ูุจูŽุฉู ุฃูŽู…ู’ุฑูู‰ โ€“ ููŽุงู‚ู’ุฏูุฑู’ู‡ู ู„ูู‰ ุŒ ูˆูŽูŠูŽุณู‘ูุฑู’ู‡ู ู„ูู‰ ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูู‰ ูููŠู‡ู ุŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุดูŽุฑู‘ูŒ ู„ูู‰ ููู‰ ุฏููŠู†ูู‰ ูˆูŽู…ูŽุนูŽุงุดูู‰ ูˆูŽุนูŽุงู‚ูุจูŽุฉู ุฃูŽู…ู’ุฑูู‰ โ€“ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููู‰ ุนูŽุงุฌูู„ู ุฃูŽู…ู’ุฑูู‰ ูˆูŽุขุฌูู„ูู‡ู โ€“ ููŽุงุตู’ุฑููู’ู†ูู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽุงู‚ู’ุฏูุฑู’ ู„ูู‰ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุญูŽูŠู’ุซู ูƒูŽุงู†ูŽ ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุฑูŽุถู‘ูู†ูู‰ ุจูู‡ู

Allahumma inni astakhiruka bi โ€˜ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa taโ€™lamu wa laa aโ€™lamu, wa anta โ€˜allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta taโ€™lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii โ€˜aajili amrii wa aajilih (aw fii diini wa maโ€™aasyi wa โ€˜aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta taโ€™lamu annahu syarrun lii fii diini wa maโ€™aasyi wa โ€˜aqibati amrii (fii โ€˜aajili amri wa aajilih) fash-rifnii โ€˜anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

[Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya]

Keempat: Lakukanlah pilihan yang sudah dipilih di awal tadi, terserah ia merasa mantap atau pun tidak dan tanpa harus menunggu mimpi. Jika itu baik baginya, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka pasti ia akan palingkan.
Wallahu alam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (11) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐Ÿ“† Selasa,  20 Jumadil Akhir 1437H / 29 Maret 2016

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits ke 11:

Al Hafizh Ibnu Hajar menambahkan:

ูˆูŽู„ูุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู “ุงูŽู„ุณู‘ูู†ูŽู†ู”: – ุงูุบู’ุชูŽุณูŽู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู ุงูŽู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ูููŠ ุฌูŽูู’ู†ูŽุฉู, ููŽุฌูŽุงุกูŽ ู„ููŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู: ุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูู†ู’ุชู ุฌูู†ูุจู‹ุง, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุฅูู†ู‘ูŽ ุงูŽู„ู’ู…ูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ูŠูุฌู’ู†ูุจู” – ูˆูŽุตูŽุญู‘ูŽุญูŽู‡ู ุงูŽู„ุชู‘ูุฑู’ู…ูุฐููŠู‘ู, ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุฎูุฒูŽูŠู’ู…ูŽุฉูŽ

๐Ÿ“ŒDan diriwayatkan oleh para penyusun kitab Sunan: โ€œSebagian istri Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mandi di bak yang besar, maka Beliau datang untuk mandi memakai air darinya, lalu berkatalah istrinya kepadanya: โ€œSaya sedang junub.โ€ Lalu Beliau bersabda: โ€œSesungguhnya air tidaklah junub.โ€ Dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

๐Ÿ“šTakhrij Hadits:

๐Ÿ”น-          Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 65

๐Ÿ”น-          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 68

๐Ÿ”น-          Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 370

๐Ÿ”น-          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 859

๐Ÿ”น-          Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 1248

๐Ÿ”น-          Imam  Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 355

๐Ÿ“šStatus Hadits:

๐Ÿ”น-          Imam At Tirmidzi berkata: hasan shahih.(Sunan At Tirmidzi No. 65)

๐Ÿ”น-          Imam As Suyuthi mengatakan: shahih.(Al Jamiโ€™ Ash Shaghir No. 2097)

๐Ÿ”น-          Syaikh Al Albani juga menshahihkannya. (Shahihul Jamiโ€™ No. 1927)

๐Ÿ“šKandungan hadits:

๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan:

a.       Ashhabus Sunan, Al Hafizh menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ashhabus Sunan. Siapakah Ashhabus Sunan? Yaitu para pengarang kitab As Sunan, seperti Imam At Tirmidzi dengan Sunan At Tirmidzi (kadang juga disebut Jamiโ€™ At Tirmidzi), Imam Abu Daud dengan Sunan Abi Daud, Imam Ibnu Majah dengan Sunan Ibni Majah, dan Imam An Nasaโ€™i dengan Sunan An Nasaโ€™i. Inilah yang terkenal, walau kitab sunan masih ada lagi selain mereka.

b.      Jafnah, apa arti Jafnah?

Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah berkata:

ุจูุชุญ ุงู„ุฌูŠู… ูˆุณูƒูˆู† ุงู„ูุงุก ุฃูŠ ู‚ุตุนุฉ ูƒุจูŠุฑุฉ ูˆุฌู…ุนู‡  ุฌูุงู†

๐Ÿ“ŒDengan jim difathahkan dan fa disukunkan artinya adalah wadah yang besar dan jamaknya adalah jifaan.  (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/167)

๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Hadits ini menegaskan kebolehan bagi laki-laki (suami) untuk bersuci dengan air yang sudah digunakan mandi oleh wanita (istri), walau si istri dalam keadaan junub.

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฃู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ุบุณู„ ุงู„ุฑุฌู„ ุจูุถู„ ุงู„ู…ุฑุฃุฉุŒ ูˆูŠู‚ุงุณ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุนูƒุณ ู„ู…ุณุงูˆุงุชู‡ ู„ู‡ุŒ ูˆููŠ ุงู„ุฃู…ุฑูŠู† ุฎู„ุงูุŒ ูˆุงู„ุฃุธู‡ุฑ ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุฃู…ุฑูŠู†ุŒ ูˆุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ู…ุญู…ูˆู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุชู†ุฒูŠู‡.

๐Ÿ“ŒSesungguhnya dibolehkan seorang laki-laki mandi dengan air sisa wanita, dan qiyaskan kebalikannya karena adanya kesamaan, dan dua hal ini merupakan hal yang diperselisihkan, namun yang lebih benar adalah dua hal  ini dibenarkan, sedangkan larangannya menunjukkan tanzih[2] saja.(Subulus Salam, 1/22)

Bagaimana memadukan antara hadits ini dan semisalnya โ€“yang jelas-jelas membolehkan- dengan hadits lain yang menunjukkan bahwa justru Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang melakukannya?

Berikut ini ulasan Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah:

 ู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุงู„ุชู‘ูŽุทูŽู‡ู‘ูุฑู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ูˆูŽุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู’ุญูŽูƒูŽู…ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุงู„ู’ุบูููŽุงุฑููŠู‘ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูู…ู ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠู ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฌูู…ูุนูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠูŽ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุชูŽุณูŽุงู‚ูŽุทูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ุถูŽุงุกู ู„ููƒูŽูˆู’ู†ูู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ุตูŽุงุฑูŽ ู…ูุณู’ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ู‹ุง ูˆูŽุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุจูŽู‚ููŠูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุฌูŽู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ู ุŒ ูˆูŽุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠูŽ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุชู‘ูŽู†ู’ุฒููŠู‡ู ุจูู‚ูŽุฑููŠู†ูŽุฉู ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซู ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ู‚ููŠู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูู†ู’ุช ุฌูู†ูุจู‹ุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฅูุฑูŽุงุฏูŽุชูู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽูˆูŽุถู‘ูุคูŽ ุจูููŽุถู’ู„ูู‡ูŽุง ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูู…ู‹ุง ููŽุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ู†ูŽุงุณูุฎูŒ ู„ูุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู .

๐Ÿ“ŒHadits ini menunjukkan kebolehan bagi laki-laki bersuci dengan air sisa kaum wanita, sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakam bin Amru Al Ghifari pada pembahasan Bab sebelumnya justru menunjukkan larangannya. Keduanya telah dipadukan bahwasanya larangan tersebut dimaknai sebagai air yang menetes dari anggota badan sehingga membuat air tersebut menjadi mustaโ€™mal, sedangkan kebolehannya adalah pada air yang tersisa. Itulah kompromi yang dilakukan oleh Imam Al Khathabi, dengan memaknai bahwa larangan itu hanya bersifat tanzih semata, hal ini ditunjukkan oleh hadits-hadits yang membolehkannya. Ada juga yang mengatakan bahwa ucapan sebagian istri Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam ketika Beliau hendak berwudhu dengan air sisa mereka, menunjukkan bahwa larangan tersebut adalah telah lalu, sedangkan hadits yang membolehkan telah menghapus hadits yang melarang. Wallahu Taโ€™ala Aโ€™lam (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/167)

Selesai. Wallahu Aโ€™lam
ใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐ
[1] Tahnik adalah memasukkan kurma yang telah dilembutkan ke dalam mulut bayi, di bagian langit-langitnya, dilakukan tidak lama setelah lahirnya bayi.

[2] Tanzih adalah makruh yang mendekati boleh.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Apakah Anak Masih Disebut Yatim Jika zibu Menikah Lagi?

โœUstdzh indra asih

๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ

Apakah seorang anak msh disebut yatim, kl ibunya menikah lg?

Bpk kandungnya sdh meninggal sejak 6 thn lalu dan skg ibunya menikah lg. Skrg usia anaknya 11 thn.

โฌ† Pertanyaan dari 07

Jawaban :
Secara bahasa, yatim
artinya alfardu (sendirian) dan segala  
sesuatu yang di  tinggal oleh sesuatu yang serupa dengannya.
(As-Shihah fi Al-Lughah, kata: ูŠุชู…)

Secara istilah,para ulama mendefinisikan yatim sebagai berikut:

ุงู„ู’ูŠูŽุชููŠู…ูŽ ุจูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ุฃูŽุจููˆู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฏููˆู†ู ุงู„ู’ุจูู„ููˆุบู. ู„ูุญูŽุฏููŠุซู: โ€ ู„ุงูŽ ูŠูุชู’ู…ูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงุญู’ุชูู„ุงูŽู…ูโ€

Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati bapaknya, ketika dia belum baligh. Berdasarkan hadis: โ€œTidak ada status yatim setelah mimpi basah)

(diriwayatkan oleh At-Thabrani, dalam Muโ€™jam Al-Kabir, dari sahabat Handzalah bin Hudzaim).

Jadi penentuannya bukan usia tapi sudah baligh atau belum.

Jika memiliki ayah tiri

ูƒูŽุงููู„ู ุงู„ู’ูŠูŽุชููŠู…ู ู„ูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู„ูุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูƒูŽู‡ูŽุงุชูŽูŠู’ู†ู ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงูˆููŠู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุงู„ููƒู ุจู’ู†ูุฃูŽู†ูŽุณู ุจูุงู„ุณู‘ูŽุจู‘ูŽุงุจูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ูˆูุณู’ุทูŽู‰

โ€œPemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia (kedudukannya) seperti dua jari ini di surga nanti.โ€ Dan perawi, yaitu Malik bin Anas berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnyaโ€. (HR Muslim)

โ€œMakna (ู„ูŽู‡ู ุฃูˆู’ ู„ูุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ) adalah kerabatnya ataupun ajnabi (orang lain). Sedangkan (yang termasuk) kerabat di sini,ialah ibu sang yatim,atau saudara laki-lakinya ataupun pihak-pihak selain mereka yang memiliki kekerabatan dengannya,bisa juga ayah tiri.
Wallahu aโ€™lam.โ€

๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ

Dipersembahkan Oleh :
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebatkan! Raih pahala

Mengintip Facebook Orang Lain

โœUstadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

โญ•Pertanyaan:

1โƒฃ Assalaamualaykum sy ada pertanyaan, bolehkah kita buka dan masuk dalam facebook seseorang,sedangkan orang tsb tdk tahu kita buka fb nya, apa hukumnya?Kadang kalau kita mau add seseorang, sy akan lihat dulu/ buka fbnya, apakah ada manfaat kalau sy add dia,..maksudnya menambah ilmu atau tidak,Tau asal usul, latar blakang pendidikannya
๐Ÿ…ฐ3โƒฃ1โƒฃ

2โƒฃ Boleh minta saran,saya ingin mengajarkan anak-anak untuk sholat berjamaah dimasjid anak-anak saya si kakak 4th adik 2th (dua2nya laki2 ) sering saya ajak untuk berjamaah di rumah tapi saya juga ingin menanamkan cinta masjid. Namun keinginan saya menemui hambatan yaitu saya dilarang oleh sebagian jamaah untuk membawa anak-anak ke masjid dengan alasan mengganggu ketenangan dan kehusyukan jamaah lain. Terus bagaimana cara saya menanamkan agar kelak anak-anak saya suka berjamaah di masjid.
๐Ÿ…ฐ3โƒฃ1โƒฃ

๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“Jawaban๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

1โƒฃ Informasi di dunia maya adalah informasi yang terbuka, informasi yang disampaikan oleh pemiliknya memang dengan niat untuk diketahui oleh orang lain, kecuali liputan orang/pihak lain atas seseorang. Demikian juga dengan Facebook, seluruh informasi yang diperoleh dari laman pribadinya tentunya dihadirkan oleh pemiliknya untuk diketahui orang lain, kecuali liputan orang lain yang ditautkan kepada laman pribadinya.

Di sisi yang lain, memprioritaskan sahabat yang layak dijadikan teman satu group di laman pribadi seseorang tentunya memiliki dalil keutamaan di dalam agama, kecuali memiliki tujuan yang lain seperti bertukar pikiran, diskusi, dakwah, dan sejenisnya. Maka di antara cara untuk menilai apakah seseorang itu layak menjadi sahabat Ibu di laman pribadi Facebook dapat melakukan verifikasi dan identifikasi, terutama benarkah laman itu benar milik seseorang, dan benarkah ia sahabat yang layak dan dapat memberikan faidah buat Ibu.

2โƒฃPada dasarnya seorang anak baru diajarkan shalat pada usia 7 tahun, namun adab dan pembiasaan dapat dimulai di umur sebelumnya, selama tidak mengganggu kepentingan umat yang lebih besar. Membawa anak usia 2 dan 4 tahun tentunya memiliki beberapa resiko seperti mengganggu kekhusyu’an shalat, keluarnya najis daripadanya tanpa disadari, serta mengganggu kenyamanan jama’ah secara umum dengan suaranya.

Buatlah komitmen dengan anak sebelum berangkat ke Masjid. Boleh menjanjikan hadiah jika ia mampu memberikan adab yang terbaik buat Masjid. Iman dan Adab adalah dua hal pertama yang harus kita tanamkan kepada anak-anak, agar mereka tidak sekedar dekat dengan Masjid, namun juga mencintai dan menghormati Masjid sebagai Rumah Allah yang suci dan disucikan. Berikutnya, dekatkan pula anak ke Masjid dalam aktivitas lainnya seperti membaca Al-Qur’an, Shalat Sunnah, Qiyamullail dan sejenisnya.

Wallaahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
(Channel: https://goo.gl/idAe1M)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

QS. Al-Mudatsir (Bag. 1)

๐Ÿ“† Senin, 19 Jumadil Akhir 1437H / 28 Maret 2016

๐Ÿ“š Tadabbur Al-Qur’an

๐Ÿ“ Dr. Saiful Bahri, M.A

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šMukaddimah: Saatnya Mulai Bangkit

Surat al-Mudatsir diturunkan Allah di Makkah, setelah surat al-Muzammil sebagaimana urutannya dalam al-mushaf al-utsmรขnya [1]. Surat ini secara umum memiliki isi yang serupa dengan surat sebelumnya. Yaitu tentang perintah langsung Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk menyerukan dakwahnya. Menyampaikan dakwah kepada kaum beliau. Selain itu juga membicarakan tentang kondisi neraka dan orang-orang musyrik yang mengingkari dakwah Rasulullah saw[2].

Jika dalam surat al-Muzammil Allah lebih menitikberatkan pada persiapan mental dan bekal seorang dai atau nabi yang akan mengemban risalah dakwah-Nya, maka dalam surat ini Allah memberitahukan langkah praktis yang mesti diambil seorang pengemban risalah.

๐Ÿ“Œโ€œHai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan!โ€ (QS.74: 1-2)

Ini adalah sebuah seruan langsung. Untuk menanggalkan kemalasan dan melawat tabiat serta sesuatu yang disukai oleh manusia, yaitu bersantai-santai, tidur atau menjahui resiko dan bekerja keras.โ€œBangunlah. Lakukan sesuatu yang berarti. Peringatkan kaummu selagi masih ada kesempatanโ€ kira-kira seperti itulah pesan Allah pada kekasih-Nya.

Inilah saatnya segera bangkit. Menyampaikan risalah Allah, karena yang memerintahkannya adalah dzat yang kekuasaan-Nya tanpa batas dan sudah memiliki semua jaminan.

1โƒฃ Pertama, ๐Ÿ“Œโ€œDan Tuhanmu agungkanlah!โ€ (QS.74:3)

Seorang penyampai risalah, baik dia seorang dai atau nabi sekalipun, dia harus mengagungkan Allah yang mengutusnya. Jika ia memahami hal ini dan benar- benar ia jiwai maka segala bentuk kemegahan, kebesaran dan kemewahan dunia akan kecil dimatanya. Ia takkan tergiur oleh gemerlapnya dunia. Juga tidak akan silau dengan tipu kekuasaan dunia. Tidak pula takut oleh segala bentuk acaman yang datang dari selain Allah. Siapapun dia, raja atau penguasa dari belahan manapun. Kekuasaan dan kesombongannya tak akan ada yang bisa mengalahkan Yang Maha Perkasa dan Agung. Dan kelak Allah akan menghukum hamba-hamba-Nya yang berani menyombongkan diri. Sehingga tak akan ada kebesaran yang tersisa di dunia ini selain kebesaran dan keagungan-Nya [3].

2โƒฃ Kedua, ๐Ÿ“Œโ€œDan pakaianmu bersihkanlahโ€. (QS.74: 4)

Setelah itu, ia perlu memperhatikan penampilan fisiknya, bersih dan menarik. Karena ini merupakan salah satu strategi marketing, dengan performance yang meyakinkan setidaknya kesan pertama akan dikenali oleh masyarakat saat berhadapan dengan kita. Karena itulah risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw selalu sarat dengan kebersihan. Makin dalam dan matang keimanan seseorang maka ia akan semakin memelihara kebersihan. Pakaian yang suci menjadi syarat sahnya shalat.

3โƒฃ Ketiga, ๐Ÿ“Œโ€œDan perbuatan dosa tinggalkanlahโ€. (QS.74: 5)

Setelah ia memelihara kebersihan fisik, maka ia menyempurnakannya dengan kebersihan batin. Yaitu dengan menjahui serta meninggalkan segala macam bentuk dosa. Ini adalah bentuk penanggalan hal-hal yang negatif dari dalam diri seorang dai. Dosa dan maksiat akan mengakibatkan hati seseorang terkotori sehingga kata-katanya juga tak akan lagi memiliki kekuatan. Penafsiran ini senada dengan apa yang dikatakan Ikrimah dan Ibrahiman-Nakhaโ€™iy [4]. Dan idealnya memang penampilan fisik yang bagus dibarengi dengan kebersihan hati dan kejernihan jiwa. Hal tersebut akan mengundang pesona dan kharisma yang sangat kuat.

4โƒฃ Keempat, ๐Ÿ“Œโ€œDan Jangan kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyakโ€. (QS.74: 6)

Keikhlasan, juga merupakan penyempurnaan hati yang sudah dijauhkan dari dosa dan maksiat. Akhlak ini juga akan membuat seorang dai kuat dan tangguh. Kerja tanpa pamrih, dan kemurnian dakwah pun terjaga dengan jernihnya hati pelakunya. Larangan ini bertujuan supaya para dai penerus dakwah para nabi terus berbuat dan berbuat,  lebih gigih berusaha dan ringan berkorban serta mudah melupakannya setelah itu [5]. Juga tak terlalu menganggap dirinya sudah berbuat banyak sehingga ia merasa hebat dan berjasa bagi orang banyak. Karena hanya orang berjiwa kerdillah yang selalu merasa besar. Sehingga satu-satunya harapan yang ia inginkan hanya dari Dzat yang tak pernah habis kedermawanannya serta kepemilikannya tiada batas.

5โƒฃ Kelima, ๐Ÿ“Œโ€œDan untuk (memenuhi) perintah Tuhanmu, bersabarlahโ€. (QS.74: 7)

Pesan terakhir ini mengindikasikan dan memberi isyarat bahwa dakwah Rasulullah saw tidaklah berjalan mulus dan otomatis mendapat penerimaan yang baik. Kesabaran dan persiapan mental yang telah disinggung dalam surat al-Muzammil setidaknya diharapkan membuat Rasul makin siap menerima reaksi apapun terhadap dakwah yang diserunya. Dan benar, Rasul pun mendapat reaksi yang sangat berat. Teror fisik dan psikis dihadapinya. Juga para pengikutnya tak henti-hentinya menerima acaman dan teror.

Sekilas tujuh ayat pertama ini terkesan sederhana. Tapi kandungan pesannya sangat luar biasa. Berangkat dari pijakan normatif inilah Rasulullah semakin kuat dan gigih dalam berdakwah. Tak takut lagi atas ancaman apapun yang akan menimpa atau diarahkan pada beliau, karena beliau memiliki Sang Penolong yang sangat hebat dan tak terkalahkan.

๐Ÿ“šHari yang Dijanjikan

๐Ÿ”นBersambung๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Dosa Suami pada Istri

๐ŸŒฟDra. Indra Asih

๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamu’alaikum wrwb.
Afwan ustadzah ,  Ini Pertanyaan dari korma 5

Ada suami istri yang ke 2 nya adlh karyawan swasta, lalu ketika istri cuti melahirkan, gaji si istri dititipkan pada suami via teman kerja si istri, namun suami tidak pernah menyampaikan gaji itu, baik berupa ucapan atau pun uangnya, krn sangat percaya pd suami dn krn tdk mengetahui hukum2nya maka istri tdk prnah membicarakan atau mempertanyakannya

Lalu suatu hari, suami istri ini menitipkan sejumlah uang pada ayah suami utk dibelikan tanah, yg uang itu dikumpulkan dari gaji dan upah lembur istri
Ternyata tanah itu dijual oleh ayah suami tanpa sepengetahuan suami istri ini

Ketika, istri merasa membutuhkan uang untuk melanjutkan sklh anaknya, istri mempertanyakan ttng tanah itu pd suami, dan suami malah marah2 pada istri
Krn merasa tidak enak dn jg telah bnyak merepotkan mertua, istri ini mengikhlaskan perkara tanah yg dijual sepihak oleh mertuanya

Kemudian lagi, swkt istri mengundurkan diri dari perusahaan, istri dpt pesangon, dan pesangon itu dibayarkan utk DP  KPR dan juga diputar sbg modal usaha utk suami, cicilan perbulannya (KPR) dibyr melalui gaji suami,

Stlh rmh itu lunas, suami mengajukan KPR lagi ( walaupun istri tdk setuju, krn tdk mau lagi terlibat dg cicilan bank)
Dan  ternyata, suami istri ini tidak panjang jodoh, mereka bercerai krn suami menikah diam2 dan setelah ketahuan oleh istri, istri meminta agar suami berpoligami dg benar, tapi suami tdk mau, malahan suami dan istri mudanya selalu menghina dn menggibah istri pertama, yang akhirnya membuat istri pertama mengambil keputusan untuk mundur

Diproses PA, istri memang tidak menuntut soal harta, krn sdh ada kesepakatan tertulis dan bermaterai dari suami ttng pembagian harta, yaitu :

Rmh yg sdh lunas, dijual dn hasilnya dibagi 2
Rmh yg msh dicicil, diteruskan oleh suami dn dihitung brp uang dp dn  cicilan  slma ini yg sdh masuk, lalu dibagi 2,
Adapun motor dn isi yang ada d rmh ( yg memang tdk seberapa) tdk dibagi, istri hny membawa pakaian..

Stlh dihitung2 istri mendapatkan bagian 80 jt, dn suami baru memberikan 20 jt, itupun dipakai utk beli tiket pesawat 4 org (mantan suami/ istri, dn 2 anak)  kurleb 3 jt, krn istri plng ke rmh ortu, dn mantan suami mengantar anak2nya
Sisanya akan ditransfer olh mantan suami

Ternyata..mantan suami mentransfer dg 2x cicilan dan hanya mentransfer 55 jt, yg 5 jt sengaja ditahan dg alasan yg selalu berubah2
Smpai hr ini ( sdh  hmpr 2 th), kekurangan  5 jt itu tdk dibayarkan olh suami, malahan pernh mengirim SMS pd mantan istri utk minta dibebaskan dg banyak alasan

Pertanyaannya..
1. Apakah mantan suami berdosa atas semua kecurangan yg dia lakukan dari awal?

2. Apakah mantan istri ini termasuk dlm golongan ” orang2 yg diharamkan utk mencium bau syurga?”, krn dia meminta cerai pada suaminya?

Jazakillaah ustadzah
=========================

Jawabanya :

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

1. Ada beberapa kesalahan/dosa suami terhadap istrinya, yaitu:

โœ’Tidak mengajar agama dan hukum syariat kepada Isteri.

Betapa sukarnya untuk menjadikan seorang isteri yang benar-benar solehah. Malah, istri menjadi satu ujian besar bagi seorang lelaki untuk mencari dan membentuk pasangan menjadi seorang isteri yang mempunyai sifat yang terpuji dan kriteria pegangan agama yang kuat.

Berbahaya jika ada di antara isteri masih tidak tahu bagaimana untuk menunaikan solat dengan betul, hukum haid dan nifas, melayani suami dan mendidik anak mengikuti Islam.

โœ’Mencari-cari kekurangan dan kesalahan isteri.

Jika seorang suami terus mencari kekurangan dan kelemahan istrinya, dikhuatirkan akan menimbulkan perasaan kurang senang pada isterinya. Dan barang siapa mencari aib saudaranya sendiri, Allah juga akan mencari aibnya. Maka, hendaklah seorang suami itu bersabar dan menahan diri dari kekurangan yang ada pada isterinya.

โœ’Menghukum tidak sesuai kesalahan.

Hal ini termasuk kezaliman terhadap isteri. Di antara bentuk hukuman yang zalim itu adalah:

๐Ÿ–Memukul di tahap awal pemberian hukuman. Padahal Allah SWT telah berfirman,โ€œWanita-wanita yang kamu khuatirkan nusyuz-nya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka.โ€( An Nisaโ€™:34)

๐Ÿ–Mengusir isteri dari rumah tanpa ada sebab secara syarโ€™i. Allah SWT berfirman yang artinya: โ€œJanganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang .โ€ (Ath Thalaq:1)

๐Ÿ–Memukul wajah, mencela dan menghina. Ada seseorang yang datang bertanya kepada Rasulullah, apakah hak isteri ke atas suaminya? Baginda menjawab, โ€œDia (suami) memberinya makan jika dia makan, memberinya pakaian jika dia berpakaian, tidak memukul wajah, tidak memburuk-burukkan dan tidak memboikot kecuali di dalam rumah.โ€ (Riwayat Ibnu Majah,)

โœ’Pelit memberi nafkah.

Sesungguhnya kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada isteri, sepertimana yang ditetapkan di dalam al-Quran. Isteri berhak mendapat nafkah, kerana dia telah menjadi halal untuk disenangi, dia telah menaati suaminya, tinggal di rumahnya, mengatur rumahnya, mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

โœ’Sikap keras, dan kasar.

Rasulullah SAW bersabda: โ€œMukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isteri-isterinya.โ€ (Riwayat Tirmidzi). Maka hendaknya seorang suami itu berakhlak baik terhadap isterinya, dengan bersikap lembut, dan menjauhi sikap kasar.

โœ’Berpoligami mengikut nafsu

Memang tidak dinafikan, menikah untuk kali kedua, ketiga dan keempat merupakan satu perkara yang disyariatkan. Akan tetapi ramai di kalangan lelaki yang mengamalkan poligami tidak memenuhi kewajipan-kewajiban terhadap isteri dengan benar. Terutamanya isteri yang pertama dan anak-anaknya. Padahal Allah SWT telah berfirman, โ€œKemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kahwinilah) seorang saja.โ€ (An Nisa: 3). Suami boleh bernikah lagi tetapi sekiranya ia tidak mampu untuk berlaku adil, dan tidak boleh memikul tanggungjawab, lebih baik melupakan niat untuk menikah lagi demi kebahagiaan bersama.

2. Ada dua hadis yang terkesan berlawanan.

Pertama dalam sebuah hadits sahih riwayat Abu Dawud Tirmidzi, Ibnu Hibban dari Tsauban, Nabi bersabda:

ุฃูŽูŠู‘ูู…ูŽุง ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ุณูŽุฃูŽู„ูŽุชู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽู‡ูŽุง ุทูŽู„ุงู‚ู‹ุง ูููŠ ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณู ููŽุญูŽุฑูŽุงู…ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฑูŽุงุฆูุญูŽุฉู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉ

Artinya: Perempuan yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab maka haram baginya bau surga.

Hadits kedua juga hadis sahih riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas:

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉูŽ ุซูŽุงุจูุชู ุจู’ู†ู ู‚ูŽูŠู’ุณู ุฃูŽุชูŽุชู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ : ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุซูŽุงุจูุชู ุจู’ู†ู ู‚ูŽูŠู’ุณู ู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ุชูุจู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูููŠ ุฎูู„ูู‚ู ูˆูŽู„ุงุฏููŠู†ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ููŠ ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู‡ู ุงู„ู’ูƒููู’ุฑูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: (ุฃูŽุชูŽุฑูุฏู‘ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุญูŽุฏููŠู‚ูŽุชูŽู‡ู ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ : ู†ูŽุนูŽู…ู’ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ุงู‚ู’ุจูŽู„ู’ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠู‚ูŽุฉูŽ ูˆูŽุทูŽู„ู‘ูู‚ู’ู‡ูŽุง ุชูŽุทู’ู„ููŠู‚ูŽุฉู‹).

Artinya: Dari Ibnu Abbas r.a. diceritakan: Istri Tsabit bin Qais datang menemui Rasulullah dan ia berkata: โ€œWahai Rasulullah, aku tidak mencela suamiku Tsabit bin Qais baik dalam hal akhlak maupun agamanya. Hanya saja aku khawatir akan terjerumus ke dalam kekufuran setelah (memeluk) Islam (karena tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri)โ€. Rasulullah bersabda:โ€ Apakah kamu bersedia mengembalikan kebun itu kepada suamimu? Wanita itu menjawab: โ€œSaya bersediaโ€, lalu Rasulullah berkata kepada suaminya: โ€œAmbilah kebun itu dan ceraikan istrimuโ€

Dalam hadits pertama Nabi melarang istri meminta cerai tanpa sebab yang dapat dibenarkan. Sedangkan dalam hadis kedua, seorang Sahabat wanita meminta cerai dari suaminya tanpa menyebutkan sebab apapun bahkan ia memuji akhlak dan agama suaminya dan Nabi mengijinkan dan menyuruh suaminya menceraikannya.

Kesimpulan yang dapat diambil dari hadis di atas adalah bahwa memang betul tidak boleh istri meminta cerai pada suami tanpa sebab yang dibenarkan syariah. Artinya, kalau istri melakukan gugat cerai karena sebab yang syar’i, maka itu dibolehkan. Dan termasuk sebab atau alasan yang dibolehkan bagi seorang istri untuk meminta cerai pada suami adalah apabila tidak ada lagi rasa cinta dan sayang yang dimiliki istri pada suaminya sebagaimana secara jelas digambarkan dalam hadis kedua. Termasuk sebab yang syar’i adalah istri tidak suka karena perilaku suami yang tidak taat agama, atau tidak suka pada kepribadiannya, atau istri merasa tidak mampu tinggal bersamanya walaupun suami bagus pekertinya dan taat pada agama.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia

Anggota Keluarga NonMuslim, Apakah Masih Saudara Kita?

โœUstadzah Dra.Indra Asih.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐Ÿ’๐ŸŒน๐ŸŒท

Pertanyaan dari Member A20:

Saya ingin bertanya apakah benar kalau dalam satu keluarga ada yang beda aqidah itu bukan saudara lagi karena sudah kafir. Kalau iya apakah ada ayat-ayatnya. Dan kita tidak boleh silaturrahim dengan orang beda agama walau orang tersebut masih kakak atau adik dalam keluarga. Wassalam.

Jawaban:

Non-muslim (baik keluarga maupun tidak) terbagi menjadi:

– Kafir harbi atau kafir muharib, yaitu orang kafir yang berada dalam peperangan dan permusuhan terhadap kaum muslimin

– Kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang hidup di tengah kaum muslimin di bawah pemerintah muslim dan mereka membayar jizyah setiap tahun

– Kafir muโ€™ahhad, yaitu orang kafir yang sedang berada dalam perjanjian dengan kaum muslimin dalam jangka waktu tertentu

– Kafir mustaโ€™man, yaitu orang kafir yang dijamin keamanannya oleh kaum muslimin

Masing-masing jenis orang kafir ini memiliki hukum dan sikap yang berbeda-beda. Namun secara garis besar, jika kita kelompokkan lagi, maka terbagi menjadi 2 kelompok besar sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu โ€˜Abbas radhiallahuโ€™anhuma: โ€œDahulu kaum musyrikin terhadap Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam dan kaum mukminin, mereka terbagi menjadi 2 kelompok: musyrikin ahlul harbi, mereka memerangi kami dan kami memerangi mereka dan musyrikin ahlul โ€˜ahdi, mereka tidak memerangi kami dan kami tidak memerangi merekaโ€ (HR. Bukhari).

Toleransi terhadap orang kafir ahlul โ€˜ahdi

Islam agama yang samahah (toleran), Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: โ€œSesungguhnya agama Allah (Islam) itu hanifiyyah dan samahahโ€ (HR. Bukhari secara muโ€™allaq, Ahmad, Ath Thabrani). Hanifiyyah maksudnya lurus dan benar, samahah maksudnya penuh kasih sayang dan toleransi. Bahkan terhadap orang kafir yang tidak memerangi Islam telah diatur adab-adab yang luar biasa, diantaranya:

1. Dianjurkan berbuat baik dalam muamalah

Setiap muslim hendaknya bermuamalah dengan baik dalam perkara muamalah dengan non-muslim, serta menunjukkan akhlak yang mulia. Baik dalam jual-beli, urusan pekerjaan, urusan bisnis, dan perkara muamalah lainnya. Sebagaimana termaktub dalam Al Qurโ€™an (artinya), โ€œAllah tiada melarang kamu untuk berbuat baik (dalam urusan dunia) dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adilโ€ (QS. Al-Mumtahanah :8).

Ayat ini juga merupakan dalil bolehnya berjual-beli dan berbisnis dengan orang kafir selama bukan jual beli atau bisnis yang haram. Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wasallam dan para sahabat juga dahulu berbisnis dengan orang kafir.

2. Tidak boleh menyakiti mereka tanpa hak              

Haram menyakiti dan mengganggu orang kafir tanpa hak, apalagi meneror atau sampai membunuh mereka. Bahkan doa orang kafir yang terzhalimi itu mustajab.

Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: โ€œBerhati-hatilah terhadap doanya orang yang terzalimi, walaupun ia non-muslim. Karena tidak ada penghalang antara Allah dengannyaโ€ (HR. Ahmad, shahih).

Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam juga bersabda: โ€œBarangsiapa yang membunuh seorang kafir muโ€™ahad tanpa hak, ia tidak mencium bau surgaโ€ (HR. Ibnu Hibban, shahih).

3. Dianjurkan berbuat baik kepada tetangga kafir

Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: โ€œJibril senantiasa mewasiatkan aku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai aku mengira ia akan mendapatkan warisan darikuโ€ (Muttafaqun โ€˜alaihi). Kata tetangga di sini bermakna umum, baik tetangga yang muslim maupun kafir.

Batasan toleransi terhadap orang kafir

Toleransi tentu ada batasannya. Dalam hal ibadah dan ideologi tentu tidak ada ruang untuk toleransi. Bahkan jika kita mau jujur, seluruh agama tentu tidak memberi ruang kepada pemeluknya untuk meyakini aqidah agama lain, atau beribadah dengan ibadah agama lain. Demikian pula Islam, bahkan bagi kaum muslimin telah jelas termaktub dalam Al Qurโ€™an (artinya): โ€œUntukmu agamamu, dan untukku, agamakuโ€ (QS. Al Kafirun: 6).

Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berinteraksi dengan non-muslim (termasuk keluarga tentunya):

1. Wajib membenci ajaran kekufuran dan orang kafir

Hakekat dari Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat terhadap perintahnya-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang musyrik. Dan ini adalah konsekuensi dari laailaaha illallah. Tidak mungkin seseorang menetapkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang haq, namun secara bersamaan itu mengakui dan berlapang dada terhadap ajaran yang menyatakan ada sesembahan tandingan selain Allah. Tidak mungkin ada orang yang beriman kepada Allah dan mentauhidkan Allah, namun tidak membenci kekafiran dan tidak membenci ajaran kekafiran dan kemusyrikan. Allah Taโ€™ala berfirman (artinya) : โ€œTidak akan kamu dapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka berkasih-sayang kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nyaโ€ (QS. Al Mujadalah: 22).

2. Tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai auliya

Auliya dalam bentuk jamak dari wali yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan (Aysar At Tafasir, 305). Dalam Al Qurโ€™an, banyak sekali ayat yang melarang kita menjadikan orang kafir sebagai auliya. Diantaranya Allah Taโ€™ala berfirman (artinya): โ€œJanganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)โ€ (QS. Al Imran: 28).

Maka anjuran berbuat baik dan ihsan kepada tetangga kafir, keluarga kafir atau orang kafir secara umum, hanya sebatas perbuatan baik yang wajar, tidak boleh sampai menjadikan mereka orang yang dekat di hati, sahabat, orang kepercayaan atau yang dicenderungi untuk diberikan kasih sayang, apalagi menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Wallahul mustaโ€™an.

3. Tidak boleh menyerupai orang kafir

Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: โ€œOrang yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari kaum tersebutโ€ (HR. Abu Daud, hasan). Yang terlarang di sini adalah menyerupai mereka dalam hal-hal yang menjadi kekhususan mereka, baik dalam ibadah, cara berpakaian, kebiasaan, adat dan perkara lainnya. Karena ini menunjukkan tidak adanya baraโ€™ah (kebencian) terhadap ajaran kufur dan orangnya. Selain itu meniru mereka dalam perkara zhahir akan menyeret kita untuk meniru mereka dalam perkara batin yaitu aqidah.

Termasuk juga dalam hal ini, tidak boleh memakai atribut-atribut agama lain. Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ketika melihat Adi bin Hatim radhiallahuโ€™anhu yang mengenakan kalung salib, beliau mengatakan, โ€œWahai โ€˜Adi buang berhala yang ada di lehermuโ€ (HR. Tirmidzi, hasan). Juga, termasuk dalam hal ini, tidak boleh ikut merayakan perayaan orang kafir. Khalifah Umar bin Khathab radhiallahuโ€™anhu pernah mengatakan, โ€œJanganlah kalian memasuki peribadatan non muslim di gereja-gereja mereka di hari raya mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allahโ€ (HR. Abdurrazaq).

4. Muslim dan kafir bukan saudara dan tidak saling mewarisi

Seorang kafir bukanlah saudara bagi seorang muslim dalam agamanya.

Ingatlah perkataan Nabiyullah Nuh dalam Al Qurโ€™an (artinya) :โ€œYa Rabb, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnyaโ€œ Allah berfirman : โ€œโ€Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamuโ€โ€ (QS. Hud: 45-46)โ€.

Dan seorang muslim tidak mendapatkan bagian waris dari keluarganya yang meninggal dalam keadaan kafir, serta sebaliknya. Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: โ€œSeorang muslim tidak memberikan warisan kepada orang kafir dan orang kafir tidak memberikan warisan kepada muslimโ€ (Muttafaqun โ€˜alaih).

Yang tidak kalah penting adalah kita berharap dan mengusahakan keluarga kita  yang kafir mendapatkan hidayah.

Sabda Nabi shallallahuโ€™alaihi wasallam: โ€˜Barangsiapa yang menunjukkan kepada hidayah maka ia mendapat pahala semisal pelakunyaโ€™ (HR. Muslim)โ€

๐ŸŒฟ๐ŸŒธ๐Ÿ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐Ÿ’๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Bagaimana Zakat Profesi?

โœUst. Rikza Maulana Lc.M.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

๐Ÿ“ŒAssalamuallaikum wr wb

 Ustadz,๐Ÿ˜Š ini ada pertanyaan dari ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ

Apakah zakat profesi harus dikeluarkan dengan perhitungan :

A. 2.5% ร— gross income

Atau

B.  2.5%ร— gross – hutang?

Mungkin memang ada perbedaan pendapat yang boleh di share untuk pengetahuan kami.

Jazakumullah khairan katsiran            

Jawabannya

Zakat dikeluarkan setelah dikurangi hutang.Namun hutang yang dimaksud adalah hutang yg jatuh tempo pada saat tersebut,bukan akumulasi hutang secara keseluruhan. Misal,punya cicilan pembiayaan rumah, perbulan Rp 3 Juta. Maka,dikurangi dulu dari penghasilan brutonya,utk membayar hutangnya. Lalu baru sisanya di kalikan 2,5%.
Wallahu A’lam                          

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kewajiban Baiat, Bagaimana?

โœUstadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamualaikum. Mau tanya penjelasan ttg hadits ini: “Barangsiapa yang mati namun di pundaknya belum ada baiat maka ia mati dalam keadaan jahiliah”, ini shahih atau tidak, lalu maksud haditsnya bagaimana?
Kalau di negara yang belum ditegakkan hukum Islam, kita harus berbaiat pada siapa?

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Hadits dimaksud ada dalam Shahih Muslim, dan tentunya derajatnya shahih.

Saat ini di tengah kondisi tidak ada khalifah dunia yang bisa menyatukan kepemimpinan di bawah panji tunggal, maka hendaknya setiap muslim dan mukmin dapat berbaiat kepada pemimpin yang sah di negerinya masing-masing, pemimpin yang memiliki ketaatan kepada agamanya, tidak pernah meninggalkan shalat, tidak pernah meminum khamar, dan tidak berbuat kemungkaran yang menyengsarakan masyarakat.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Seputar Hutang

โœUstadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Pertanyan dari korma 3:

Asswrwb..ana mau tanya.. bagaimana kalau orang Islam mempunyai/menanggung hutang untuj proyek kerja…menurut perjanjiannya bagi hasil nantinya.. sampek ratusan juta kepada sesama orang
 Islam.. Yang mempunyai hutang bersedia akan membayarnya tapi sudah melewati batas waktu yang dijanjikan dan selalu ingkar terhadap janjinya itu..trus sekarang yang punya hutang itu sakit.. Ini bagaimana ustadz? Apakah yang punya hutang harus tetap membayarnya.. trus yang punya piutang kalo menagihnya apa salah atau berdosa? mohon penjelasannya.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah Ibu,

Pada dasarnya seorang muslim dan mukmin harus menjaga dirinya untuk tidak terlilit dengan hutang. Memilih untuk hidup apa adanya jauh lebih utama dibandingkan hidup dengan memiliki hutang. Di sisi lain, seorang muslim dan mukmin pun dituntut untuk selalu membawa manfaat kepada sesama manusia, selalu berkasih sayang, dan mengejar maqam terbaik.

Bagi manusia yang berhutang, jika pada akhirnya ia harus berhutang, maka janganlah sepelekan hutang, sekecil apapun nilainya, apalagi jika nilainya hingga ratusan juta rupiah, tentulah nilai yang amat besar. Sedikitnya saja, jika tidak sepelekan dikhawatirkan akan menjadikan penghalang memasuki Jannah, terlebih jika sejatinya yang berhutang sebenarnya mampu untuk membayarnya namun ia tidak memiliki itikad baik untuk membayarnya, maka ini adalah sebuah wujud kezhaliman besar.

Dalam hal in, Nabi Muhammad ๏ทบ telah bersabda,

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ูŠููˆุณูููŽ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ู…ูŽุงู„ููƒูŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุฒู‘ูู†ูŽุงุฏู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ุฑูŽุฌู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุทู’ู„ู ุงู„ู’ุบูŽู†ููŠู‘ู ุธูู„ู’ู…ูŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูุชู’ุจูุนูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู„ููŠู‘ู ููŽู„ู’ูŠูŽุชู’ุจูŽุนู’

Telah menceritakan kepada kami [‘Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Abu Az Zanad] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda: “Menunda membayar hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman dan apabila seorang dari kalian hutangnya dialihkan kepada orang kaya, hendaklah dia ikuti”. (HR. Bukhari No. 2125)

ู†ูŽูู’ุณู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ู…ูุนูŽู„ู‘ูŽู‚ูŽุฉูŒ ุจูุฏูŽูŠู’ู†ูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูู‚ู’ุถูŽู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู

Jiwa seorang mukmin akan bergantung-gantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya. (HR. Tirmidzi)

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุงู„ู†ู‘ูููŽูŠู’ู„ููŠู‘ู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒู ุนูŽู†ู’ ูˆูŽุจู’ุฑู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุฏูู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ู…ูŽูŠู’ู…ููˆู†ู ุนูŽู†ู’ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุงู„ุดู‘ูŽุฑููŠุฏู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽูŠู‘ู ุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุฏู ูŠูุญูู„ู‘ู ุนูุฑู’ุถูŽู‡ู ูˆูŽุนูู‚ููˆุจูŽุชูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒู ูŠูุญูู„ู‘ู ุนูุฑู’ุถูู‡ู ูŠูุบูŽู„ู‘ูŽุธู ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุนูู‚ููˆุจูŽุชูŽู‡ู ูŠูุญู’ุจูŽุณู ู„ูŽู‡ู

Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Muhammad An Nufaili] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] dari [Wabr bin Abu Dulailah] dari [Muhammad bin Maimun] dari [‘Amru bin Asy Syarid] dari [Ayahnya] dari Rasulullah ๏ทบ beliau bersabda: “Orang mampu yang menunda pembayaran hutangnya, maka kehormatan dan hukuman telah halal untuknya.” Ibnu Al Mubarak berkata, “Halal kehormatannya maksudnya boleh untuk mengeraskan suara (mencela), dan halal hukumannya maksudnya adalah memenjarakannya.” (HR. Abu Daud No. 3144)

ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ููŠ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ู‚ูุฏูŽุงู…ูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุฌูŽุฑููŠุฑูŒ ุนูŽู†ู’ ู…ูŽู†ู’ุตููˆุฑู ุนูŽู†ู’ ุฒููŠูŽุงุฏู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ู‡ูู†ู’ุฏู ุนูŽู†ู’ ุนูู…ู’ุฑูŽุงู†ูŽ ุจู’ู†ู ุญูุฐูŽูŠู’ููŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู…ูŽูŠู’ู…ููˆู†ูŽุฉู ุชูŽุฏู‘ูŽุงู†ู ูˆูŽุชููƒู’ุซูุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ูŽุง ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽุงู…ููˆู‡ูŽุง ูˆูŽูˆูŽุฌูŽุฏููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽุง ุฃูŽุชู’ุฑููƒู ุงู„ุฏู‘ูŽูŠู’ู†ูŽ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฎูŽู„ููŠู„ููŠ ูˆูŽุตูŽูููŠู‘ููŠ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุญูŽุฏู ูŠูŽุฏู‘ูŽุงู†ู ุฏูŽูŠู’ู†ู‹ุง ููŽุนูŽู„ูู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูุฑููŠุฏู ู‚ูŽุถูŽุงุกูŽู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽุฏู‘ูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง

Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Qudamah] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Manshur] dari [Ziyad bin ‘Amru bin Hindun] dari [Imran bin Hudzaifah], dia berkata; ” [Maimunah] adalah orang yang banyak berhutang, keluarganya memperingatkan akan hal itu, mencelanya dan marah kepadanya. Dia lalu berkata; “Aku tidak akan meninggalkan hutang, sungguh aku telah mendengar kekasihku dan pilihanku ๏ทบ bersabda: “Tidaklah seseorang yang banyak berhutang dan Allah mengetahui bahwa ia ingin membayarnya kecuali Allah akan membayarkannya di dunia.”

Dan banyak lagi hadits lain yang akan menjadi panduan kita dalam bertindak, dan tentunya sakit tidak menegasikan kewajiban membayar hutang, bahkan justru perlu diingatkan untuk membayarnya, agar sekaligus dapat menggugurkan dosa-dosanya bersama penyakit yang dideritanya.

Dalam hal ini, maka saya menyarankan kepada Ibu untuk :
1โƒฃ Memusyawarahkan secara khusus dan serius kepada sahabat dan keluarga yang berhutang terkait komitmennya dalam membayarkan hutang. Jagalah musyawarah dengan adab terbaik, dan jangan terpancing emosi karena Ibu insya Allah sedang meniti jalan menuju maqam terbaik.

2โƒฃ Jika hasil musyawarah menyimpulkan secara jelas bahwa dari pihak keluarga sebenarnya memiliki kemampuan untuk membayarkannya namun memang tidak berniat dan bahkan tidak mau membayarkannya, maka dalam hal ini hendaknya Ibu dapat mengingatkan mereka akan nasihat dari Nabi yang mulia akan bahayanya ancaman bagi kalangan manusia yang menyepelekan hutang-hutang mereka. Selanjutnya, Ibu dapat memilih antara mengikhlaskannya ataupun mengambil jalur hukum, dan keduanya adalah pilihan yang baik.

3โƒฃ Jika dari hasil musyawarah diketahui bahwa ternyata keluarga ini tidak memiliki kemampuan untuk membayar namun masih memiliki itikad baik untuk membayarkannya, maka lahirkanlah kasih sayang kepada mereka. Bantulah mereka, mudahkanlah mereka, diskusikanlah bagaimana mekanisme teknisnya. Kalaupun Ibu pada keputusan untuk mengikhlaskan seluruh hutang-hutang yang ada, sungguh ini adalah amalan yang akan sangat mendekatkan Ibu ke Jannah.

Allah berfirman,

ู…ูŽู†ู’ ุฐูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูู‚ู’ุฑูุถู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู‚ูŽุฑู’ุถู‹ุง ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ููŽูŠูุถูŽุงุนูููŽู‡ู ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุถู’ุนูŽุงูู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑูŽุฉู‹ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู‚ู’ุจูุถู ูˆูŽูŠูŽุจู’ุณูุทู ูˆูŽุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุชูุฑู’ุฌูŽุนููˆู†ูŽ (245)
โ€œSiapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.โ€ (QS. Al-Baqarah: 245)

Yassirlana wa lakum,

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒท

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…