Wanita Berjamaah di Masjid

✏Ustadz Dr.Wido Supraha
🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷
Pertanyaan dari Korma 3:
Assalamualaikum mohon pencerahan bagaimana hukumnya wanita yang shalat berjamaah di mesjid dengan harapan mendapat tambahan ilmu karena biasanya ada kultum /tausiah setelah shalat, dan mengenalkan anak2 ke mesjid  (karena saya pernah dengar yang utama adalah shalat dirumah bagi wanita)…terimakasih banyak sebelumnya
Jawaban:
Assalamu ‘alaikum warahmatullah,
Ibu, wanita tidak pernah dilarang untuk ke Masjid, bahkan hadirnya di Masjid akan menambah ilmu baginya, dikarenakan ia memiliki waktu lebih banyak untuk mendidik anak-anaknya, dan ini semua membutuhkan ilmu, termasuk ilmu untuk dirinya sendiri sehingga pandai menjaga adab baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Hal ini menjadi lebih utama ketika seorang suami tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk memberikan ilmu bagi istri-istrinya.
Larangan kepada wanita muncul dikarenakan alasan kekhawatiran munculnya fitnah dari kehadirannya di Masjid, maka jika ini alasannya, maka alasan ini tidak dibatasi pada Masjid, namun pada seluruh tempat pada umumnya. Bagaimana mungkin seorang wanita dilarang shalat di Masjid, tempat yang paling mulia, namun dihalalkan untuk ke Pasar, tempat yang paling banyak syaithannya. Oleh karenaya, adab apa saja yang hendaknya dijaga oleh seorang wanita? Di antaranya adalah,
1⃣ Tidak mengenakan parfum yang mengundang perhatian orang-orang disekitarnya, terlebih dalam radius yang cukup jauh.
2⃣ Tidak mengenakan pakaian yang menggambarkan lekuk tubuhnya, transparan, dan hal-hal lain yang mengundang perhatian banyak mata manusia.
3⃣ Jika ia berparas cantik, diutamakan menutupi wajahnya dengan niqab, agar tidak melalaikan mata manusia yang memandangnya.
4⃣ Keluar bersama suami atau keluarganya, dan tidak berjalan sendirian.
Demikian, wallaahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M
🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia..

Percuma Sholat Kalau Kelakuan Masih Belum Baik, Betulkah?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamu’alaikum.
1. Bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbicara pada kita ‘percuma sholat kalau kelakuan masih belum baik’ padahal setahu saya sholat itu tiang agama??
2. Apakah ketika kita membicarakan kejelekan orang lain maka amalan kebaikan kita akan berpindah ke orang itu.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

1. Shalat adalah sesuatu hal, dan Kelakuan adalah sesuatu yang lain. Ia laksana kalimat, “Percuma minum teh kalau tidak pakai garam”, karena antara teh dan garam ada pokok pembahasannya masing-masing. Kesalahan dalam membandingkan dua hal berawal dari tidak lengkapnya metodologi studi Islam seseorang, sehingga akan hadir pula kalimat lain, “Percuma pakai jilbab, kalau kelakuan tidak baik”, atau “Lebih baik pemimpin kafir tapi adil, daripada pemimpin muslim tapi korupsi”, atau perbandingan lainnya yang tidak pada tempatnya.

Logikanya kemudian adalah, apakah standar bahwa seseorang itu telah memiliki kelakukan yang baik? Bukankah tidak maunya seseorang untuk shalat pertanda kelakuannya belum baik? Karena seseorang yang berkelakuan baik, pastilah ia Shalat. Maka kalau kelakuannya belum baik dengan ciri dia belum mau Shalat, maka sampai kapan kelakuannya bisa bisa, dan bagaimana caranya agar kelakuannya bisa baik? Bukankah Shalat disediakan Allah Swt untuk menjadi sarana perbaikan kelakukan? Maka kalau seseorang tidak pernah mau Shalat, bagaimana kelakukannya bisa menjadi baik?

Sejumlah pertanyaan di atas, saya kemukakan untuk menjadi bahan dialog Ibu kepada sahabatnya, karena seluruh ajaran agama Islam didasarkan atas dialog penuh hikmah, gabungan antara kecerdasan akal logika, qalbu dan indra. Diskusikanlah hal ini kepadanya, sebelum masuk kepada pelajaran penting bahwa Shalat adalah amalan kunci, ia amalan yang pertama dihisab, dan kunci dihisabnya amalan yang lain.

2. Jika pembicaraan akan kejelekan seseorang itu tidak kepada orang yang tepat, orang yang mampu memberikan solusi, orang yang diharapkan berkontribusi membawa perbaikan, maka pada dasarnya ia sedang melakukan ghibah, dan ini merupakan perbuatan yang amat buruk yang mendatangkan dosa bagi pelakunya.

Wallahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Haruskah Mengadakan Walimatus Safat Sebelum ke Tanah Suci?

✏Ustadz Dr. Wido Supraha

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamu’ alaikum. Maaf mau bertanya, ustadz..
Apakah ada keharusan seseorang yang akan berangkat umroh/ haji mengadakan pengajian/ walimatus safar?
Mohon penjelasan tentang dalil atau penegasan tentang hal-hal yang dilakukan Rasulullah/ sahabat ketika akan menunaikan umroh/ haji. Terima kasih sebelumnya.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Pada hakikatnya, menegakkan rukun Islam ke-5 ini hendaklah dalam kondisi suci dan bersih dari seluruh urusan dunia, dengan tujuan agar konsentrasi bisa maksimal selama di tanah suci, bahkan kalaupun Allah ﷻ berkehendak mewafatkannya, ia pun telah siap.

Atas dasar hal di atas, bagi yang hendak menunaikan ibadah haji, dalam pengertian ia akan meninggalkan anak atau keluarganya di rumah, maka pada dasarnya yang perlu dilakukannya ada beberapa hal, sebagaimana juga pernah ditulis Syaikh Sa’id bin Abdul Qadir Salim Basyanfar dalam kitabnya, Al-Mughnie.

1⃣ Luruskan niat karena Allah ﷻ semata, bukan karena tujuan mendapatkan gelar ‘Haji’, atau posisi di masyarakat.

2⃣ Menjaga niat yang telah ditanamkan dari faktor perusaknya seperti riya dan sum’ah

3⃣ Bertaubat dari segala bentuk kemakiatan

4⃣ Mintalah maaf kepada keluarga, sanak saudara, dan sahabat atas seluruh kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.

5⃣ Mendata dan menuliskan harta kekayaannya

6⃣ Mendata harta orang lain yang ada pada dirinya, juga kemungkinan daftar hutang dan piutangnya. Melunasi hutang-hutang di dunia adalah sebuah keutamaan yang teramat besar.

7⃣ Memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara, dan seluruh manusia yang ia pernah bermuamalah denganya

8⃣ Menyiapkan perbekalan selama perjalanan dengan perbekalan yang dipastikan kehalalannya

9⃣ Menambahkan bekal tambahan yang lebih dari kebutuhannya untuk persiapan dan cadangan akan hal-hal yang ada di luar perhitungannya

🔟 Siapkan perbekalan yang lebih dari cukup bagi keluarga, gabungan antara kebutuhan dasar, dan cadangan

Di samping itu, mintalah sahabat terdekat untuk dititipi keluarga, dan mintalah tetangga terdekat untuk membantu melihat-lihat rumah dan keluarga yang ditinggalkan.

Lakukanlah hal-hal di atas dengan penuh kesungguhan dan detail. Kalaupun ia harus melakukan walimatussafar (perayaan perjalanan), maka pada hakikatnya ini bukanlah sebuah pesta perayaan, namun boleh jadi untuk tujuan efektifitas dan lebih mempererat silaturrahim di antara manusia dan hukumnya mubah, selama tetap menjaga seluruh hal-hal di atas, terutama perkara niat sebagai landasan beramal.

Wallahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Bolehkan Ikut BPJS?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Pertanyaan dari A29

Assalamu’alaikum.. Kalau BPJS itu hukumnya bagaimana, dibolehkankah kita masuk dalam keanggotaannya dan memanfaatkannya?

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Ibu, hukum BPJS agar kembali kepada hukum akad apa yang digunakan dalam asuransi yang digunakan, dan di bank mana dana disimpan, serta pada investasi seperti apa dana diinvestasikan. Dari keseluruhan pertanyaan itu baru akan terjawab status kehalalan ‘Asuransi’ BPJS. Inilah alasan utama mengapa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah pernah memberikan nasihatnya kepada pemerintah agar memastikan seluruh instrumennya berbasis syariah.

Jika pemerintah tidak menggunakan instrumen syariah, dan jelas misalkan dihukumi bahwa ia Riba, maka hendaknya rakyat berlepas diri dan menjauhi akad muamalah ribawi, hal ini karena di yaumul akhir, pemerintah tidak akan bisa menolong rakyatnya, karena masing-masing sibuk dengan hisabnya sendiri.

Namun begitu, jika tidak ada alternatif lain yang dibuka oleh pemerintah, dan pemerintah bersikukuh hanya mau membantu rakyatnya dengan akad ribawi, dan sementara rakyat sangat membutuhkan pertolongan medis, maka dalam hal ini, pilihan untuk bergabung dalam BPJS masuk dalam kaidah darurat, sembari rakyat berupaya untuk melahirkan pemimpin Islam yang senang menghidupkan nilai-nilai Islam.

Wallahu a’lam,
Dr. Wido Supraha
Channel: https://goo.gl/idAe1M

🌿🌺🍁🌸🌼🍄🌻🌹🌷

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

MENYEGARKAN KEMBALI MAKNA SHIDQ

📆 Ahad, 18 Jumadil Akhir 1437H / 27 Maret 2016

📚 TAZKIYATUNNAFS

📝 Pemateri: Ustadz Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌿

Allah Swt., telah kita ketahui bahw ALlah Swt telah berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 119,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan jadilah kalian orang-orang beriman yang membersamai orang-orang SHIDQ karena kalian pun mengamalkan SHIDQ.

Begitu pentingnya maqam SHIDQ ini, sehingga Allah menggunakan terma ini dalam ragam bentuknya dalam 155 tempat di dalam Al-Qur’an.

▶ Nabi kita, Muhammad صلی اللہ علیہ وسلم, jauh sebelum menjadi Nabi telah gemar dengan sifat SHIDQ, sehingga ia pun digelari masyarakat sebagai The Trust Man (Al-Amin). Ini karena keyakinannya bahwa menjadi SHIDQ adalah bagian dari jalan kebenaran.

▶ Manusia terbaik pelanjut estafet kepemimpinan Nabi, tidak lain tidak bukan adalah Abu Bakar رضي الله عنه, yang sentiasa berada dalam garda terdepan membenarkan yang benar, dan jujur bahwa sesuatu itu jika benar maka layak dibenarkan. Maka masyarakat menggelarinya dengan gelar puncak: ASH-SHIDDIQ.

▶ Di dalam salah satu karya Al Imam Ibn Qayyim al-Jauziyah, Madarij as-Salikin, beliau mensifati SHIDQ sebagi maqam kaum teragung, sumber segala maqam salikin, jalan yang lurus yang menghindarkan dari kebinasaan. Jalan yang akan membedakan manusia dari sifat munafik, dan tempat akhir hidup manusia: Jannah atau Nar.

🌿 Inilah rahasia mengapa Nabi صلی اللہ علیہ وسلم, mengingatkan kita semuanya untuk menjaga SHIDQ karena SHIDQ pangkal ragam kebaikan yang banyak. Dalam Hadits Riwayat Imam Muslim No. 2067, beliau bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

Selalulah kalian bersifat SHIDQ, karena sesungguhnya SHIDQ akan membawa manusia pada AL-BIRR dan sesungguhnya AL-BIRR akan membawa manusia kepada AL-JANNAH. Jika manusia selalu bersifat SHIDQ dan berusaha untuk SHIDQ, maka dia akan dicatat di sisi Allah dari kalangan SHIDQ.

▶ Di antara nasihat para sahabat, seperti Ibn ‘Abbas رضي الله عنه, bahwa 4 sifat (SHIDQ, AL-HAYA, HUSNUL KHULQ, dan SYUKR) jika ada pada setiap manusia, maka beruntunglah ia.

▶ Ulama hikmah menasihati kita agar menjadikan SHIDQ sebagai kendaraan, AL-HAQQ sebagai pedang, dan Allah sebagai puncak pencarian.

🌿 Namun sejatinya, orang-orang SHIDQ hanya dapat ditemukenali juga oleh pribadi SHIDQ. Pribadi SHIDQ lah yang mengetahui siapa orang yang SHIDQ di sekitarnya.

🌿 Maka secara terma, dalam SHIDQ termuat makna Jujur akan Kebenaran, membenarkan kejujuran, jujur di jalan yang benar, benar-benar jujur, atau jujur untuk selalu benar. Begitu kuatnya perpaduan makna ini dikarenakan sejatinya kebenaran itu hanya satu, yang akan membawa kebahagian hakiki yang sejati, di dalam naungan cahaya yang satu. Maka terasa bagi kita pondasi bangunan Ad-Din dalam pribadi kita berawal dari SHIDQ.

▶ Sebagian manusia bergantung kepada selain Allah karena ia tidak jujur dengan realita kebenaran Wujud. Sebagian lainnya merasakan kesempitan hidup dan penuh tekanan karena ia meninggalkan kejujuran. Sebagian lainnya memutuskan hidup dalam pencitraan, manipulasi, dan terjebak dalam keculasan karena ia malas duduk sejenak untuk berpikir realitas kebenaran.

🌿 Maka Allah Jalla wa ‘Ala memerintakan Nabi-nya untuk mengajarkan kepada kita semua untuk mengambil pribadi-pribadi terbaik yang pernah ada dalam sejarah manusia dalam bab SHIDQ, di antaranya Nabi Ibrahim عليه السلام, Nabi Isma’il عليه السلام, dan Nabi Idris عليه السلام. Lihat Surat Maryam ayat 41, 54, 56.

🌷 Nabi Ibrahim عليه السلام, menjadi teladan dalam bab SHIDQ, karena hati nuraninya mampu jujur sehingga menemu kenali bahwa sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, bahkan tidak mampu menolong, tidak layak dijadikan sesembahan. Bahkan syaithan pun haram diminta pertolongan bagi beliau, sesuatu yang hari in dipuja-puji dan menjadi tempat bergantung sebagian manusia yang pendek akalnya karena kemalasan berpikir mendalam.

📌 Nabi Isma’il عليه السلام, menjadi teladan dalam bab SHIDQ, karena ia mampu jujur untuk mengikuti nuraninya yang membutuhkan Tuhan Yang Benar untuk disembah dengan car penyembahan yang benar, sehingga ia perintahkan keluarganya untuk rajin Shalat dan Zakat. Sementara di saat itu bahkan hingga hari ini banyak di antara manusia yang menyia-nyiakan shalat dan senang mengikuti hawa nafsunya. Lihat ayat 59 dari Surat At-Taubah.

▶ Ketika berbicara SHIDQ, sebagian manusia langsung berpikir bahwa yang dimaksud adalah kejujuran dalam lisan. Tentu hal ini tidaklah salah, namun ternyata ini baru tingkat pertama menuju maqam SHIDDIQ. Sa’id Hawwa mengatakan bahwa tingkatan SHIDQ sejatinya memiliki 6 (Enam) tingkatan, yakni,

1⃣ Shidq dalam Lisan
Kesuksesannya menerapi dirinya dalam tingkatan ini, akan memudahkannya terbebas dari sifat Munafiq.

2⃣ Shidq dalam Niat
Kesuksesannya menerapi dirinya dalam tingkatan ini, akan memudahkannya terbebas dari sifat pendusta.

3⃣ Shidq dalam Tekad Kebaikan
Kesuksesannya menerapi dirinya dalam tingkatan ini, akan memudahkannya dari kemalasan dari kemauan kuat untuk mencintai kebaikan.

4⃣ Shidq dalam Merealisasikan Tekad Kebaikan
Kesuksesannya menerapi dirinya dalam tingkatan ini, akan memudahkannya terhindar dari Kebakhilan. Sebagai ilustrasi ALlah turunkan ayat 74-76 dari surat At-Taubah sebagai contoh kegagalan manusia dalam tingkatan ini.

5⃣ Shidq dalam Amal
Kesuksesannya menerapi dirinya dalam tingkatan ini, akan memudahkannya untuk mencapai Ihsan, karena seluruh amal-nya bukan lagi untuk makhluk tapi untuk sang Khalik.

6⃣ Shidq dalam Seluruh Maqam
Kesuksesannya menerapi dirinya dalam 5 tingkatan pertama akan memudahkannya mencapai kesempurnaan SHIDQ, karena ia menemukan korelasi antar ragam Maqam seperti Khauf, Raja’, Tawakkal, Qana’ah dan seterusnya.

💦 Maka Allah Jalla wa ‘Ala sebagaimana Surat Al-Ahzab ayat 23-24 dan Az-Zumar 32-33 akan memberikan balasan dari upaya terapi yang terus-menerus kita lakukan, berjibaku dengan seluruh tribulasi untuk mencapai tingkatan yang paling tinggi dari Maqam SHIDQ.

Semoga Allah Swt memudahkan langkah-langkah kita.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Suami/Istri Bercerai, Status Mahram Mertua Bagaimana?

✏Ust. Farid Nu’man Hasan

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹📌

Assalamu’alaykum ustadz, ada  ¥ąɲǥ
Titip prtanyaan untuk ustadz Farid Nu’man : Klw suami/istri meninggal, apakah ayah/ibu mertua kembali menjadi non mahram? Syukron, jazakumullohu khayron katsiroo atas jawabannya.😊Soalnya kan klw kasus cerai berarti suami/istri bukan mahrom atau kembali mnjadi non mahrom lg, bgitu pun dgn ayah/ibu mertua, nah gimana dgn kasus kematian, apakah sm hukumnya? Syukron..

🍃🍃🍃

Wa ‘alaikumussalam wa Rahmatullah …

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Status mertua adalah TETAP mahram, walau seseorg sudah tidak lagi bersama anak mertuanya,  baik karena wafat atau cerai. Sebab orang tersebut sudah menggaulinya, maka mertuanya telah menjadi mahramnya.

Allah Ta’ala berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; IBU-IBU ISTRIMU(mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu)  ISTRI-ISTRI ANAK KANDUNGMU(menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisa: 23)

Kecuali, jika dia bercerai atau istrinya wafat, dalam keadaan belum pernah jima’, maka mertuanya boleh dinikahinya, alias bukan mahram.

Berikut ini, tertera dalam Tafsir Al Quran Al ‘Azhim-nya Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:

وقال ابن جرير: حدثنا ابن بشار، حدثنا ابن أبي عدي وعبد الأعلى، عن سعيد عن قتادة، عن خِلاس بن عَمْرو، عن علي، رضي الله عنه، في رجل تزوج امرأة فطلقها قبل أن يدخل بها، أيتزوج أمها؟ قال: هي بمنزلة الربيبة.
وحدثنا ابن بشار حدثنا يحيى بن  سعيد، عن قتادة، عن سعيد بن المسيب، عن زيد بن ثابت قال: إذا طلق الرجل امرأته قبل أن يدخل بها فلا بأس أن يتزوج أمها.

Berkata Ibnu Jarir: berkata kepada kami Ibnu Basyar, berkata kepada kami Ibnu Abi ‘Adi, berkata kepada kami Abdul A’la, dari  Sa’id, dari Qatadah, dari Khilas bin ‘Amr dari ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu, tentang seorang yang menikahi wanita lalu dia menceraikamnya tapi belum menggaulinya, apakah dia boleh menikahi ibunya? ‘Ali menjawab: “Ibu mertua (dalam hal ini) kedudukannya sama dengan anak tiri.”

Berkata kepada kami Ibnu Basyar, berkata kepada kami Yahya bin Sa’id, dari Qatadah, dari  Sa’id bin Al Musayyib, dari Zaid bin Tsabit, katanya:

“Jika seseorang menceraikan istrinya dan dia belum  menggaulinya, maka tidak apa-apa dia menikahi ibunya (ibu dari istrinya).”

(Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/250)

Dekian. Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Sumbangan Masjid dari Non Muslim

✏Ust Farid Nu’man Hasan

🐝🍃🌴🌿🌷🍂🌻

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum…..
Sy mau bertanya ustadz. Prtanya’an ini masih diperrdebatkan disini.
Bagaimana hukumnya menerima sumbangan masjid dr orang nonmuslim?
Mhon pnjlasannya…! Trimaksih bnyak… syukron…
I-15

Jawaban:
Wa ‘alaikumussalam

BOLEH menerima hadiah atau sumbangan dr non muslim selama berasal dr harta halal, baik berupa uang dan barang. Hal ini ditegaskan para ulama baik  Syafi’iyah dan lainnya. Dalilnya:

– Nabi menerima hadiah dr romawi yg nasrani berupa jubah yg sempit.  Hr. Abu Daud

– Nabi menerima bantuan juga dari musyrikin Bani Khuzaah saat akan perang melawan musyrikin lainnya

– Tentunya bantuan paman nabi baik materil dan moril kepada dakwah Islam. Walau Beliau wafat dalam keadaan kafir.

Wallahu a’lam

🍂🍃🌹🌺🌾🌸🌷

Dipersembahkan :
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala

Mangapa Bisa Terjadi Proses Perkawinan Sedarah (di awal generasi anak Adam)?

✏Ust Farid Nu’man Hasan

🐝🍃🌴🌿🌷🍂🌻

Assalamu’alaikum
Saya mau bertanya ustadz
Ketika di awal penciptaan manusia, mangapa bisa terjadi proses perkawinan sedarah (di awal generasi anak Adam ‘alayhissalam)?

Jawaban:
 Wa ‘alaikumussalam, itu keistimewaan orang2 zaman itu. Sesuai dg kehendak Allah. Dan tdk terjadi kecacatan fisik spt halnya hal itu terjadi di masa sekarang. Dan pada zaman itu blm ada aturan syariat pernikahan spt pada masa sekarang.
Wallahu a’lam.

🍂🍃🌹🌺🌾🌸🌷

Dipersembahkan :
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala

Tugas Malaikat Jibril Saat Ini

✏Ust Saiful Bahri

🐝🍃🌴🌿🌷🍂🌻

Apakah tugas malaikat jibril sekarang ini?

⬆ Pertanyaan dari member 07

Jawaban :

 عليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Malaikat Jibril setelah purna wahyu kpd Nabi Muhammad SAW.

Malaikat Jibril dan malaikat lainnya bertasbih siang dan malam. Mendoakan kaum mukminin dan para aulia Allah. Dan turun ke bumi di setiap malam lailatul qadar (QS. Al-Qadr:4). Wallahu a’lam.

🍂🍃🌹🌺🌾🌸🌷

Dipersembahkan :
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala

Tembok Ya’juj dan Ma’juj

✏Ustadz Agung waspodo

 Assalamu’alaikum afwan ukhti, ana mau titip pertanyaan tentang tembok ya’juj dan ma’juj.mohon penjelasannya

⬆ Pertanyaan dari member 07

Jawaban :

 Temboknya dibangun oleh Dhu’l Qarnain, Letaknya di sebelah timur kota Madinah, tetapi tidak ditentukan khusus oleh Rasulullah SAW.

Wallahu’alam

🍁🍂🌴🌺🌼🌿🌻

Dipersembahkan : www.iman – islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala