Jangan Pernah Lagi Mengatakan Mereka Hanya Berpangku Tangan!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Dimulainya Pengepungan Kota al-Jazīrah al-Khadra (Algeciras) – 3 Agustus 1342 – 26 Maret 1344

Pengepungan kota Algeciras adalah salah satu rangkaian peristiwa yg dikenal sebagai Reconquista atau usaha sistemik perebutan wilayah al-Andalus oleh berbagai kerajaan nasrani di Semenanjung Iberia. Pada pengepungan ini kekuatan Kerajaan Castile dibawah Alfonso XI mendapat bantuan dari Kerajaan Aragon dan Republik Genoa. Sasaran pengepungan adalah kota kaum muslimin al-Andalus yg diberi nama Al-Jazīra Al-Khadra atau disebut Algeciras oleh kaum nasrani. Ketika itu, kota tersebut merupakan kota pelabuhan utama milik Kesultanan Mariniyah (Maroko) di wilayah bagian Eropa.
Pengepungan itu berlangsung selama 21 bulan dimana sekitar 30.000 penghuni kota, termasuk penduduk sipil beserta pasukan pertahanan dari Suku Berber asal Afrika, menderita hidupnya akibat blokade darat dan laut yg menghambat masuknya bahan pangan. Emirat Granada pernah mengirim pasukan bantuan, namun mereka dikalahkan oleh koalisi kaum nasrani di Pertempuran Río Palmones. Setelah kekalahan itu, pada hari Jum’at, 10 Dzul Qa’dah 744 H (26 Maret 1344) kota Algeciras ini menyerah untuk kemudian diserap mejadi bagian dari Kerajaan Castile. Pertempuran ini kemungkinan besar adalah konflik militer pertama yg menggunakan bubuk mesiu dan meriam di Eropa.

al-Jazīrah al-Khadra pada awalnya adalah bagian dari Emirat Granada yang pada tahun 1329 diambil alih penjagaannya oleh Kesultanan Mariniyah (Maroko) yg menjadikannya ibukota untuk wilayahnya di Eropa. Dari kota ini, gabungan kekuatan Emirat Granada dan Kesultanan Mariniyah melancarkan serangan dan menguasai Jabal Tariq (Gibraltar) pada tahun 1333 sehingga timbul kesan seolah-olah pergerakan Reconquista telah terhenti.

Kemudian pada tahun 1338, Abdul Malik anak dari sultan Mariniyah yg diberi amanah memerintah kota al-Jazīrah al-Khadra dan Hisn ar-Rundah (Ronda) melancarkan serbuan-serbuan ke wilayah selatan Kerajaan Castile. Pada salah satu serbuan, ia gugur dan jenzahnya dibawa ke al-Jazīrah al-Khadra utk dikebumikan. Ayahnya, Abu al-Hasan ‘Ali ibn ‘Utsman, ketika mendengar berita itu bergegas menyeberangi selat pada tahun 1340, mengalahkan armada Castile serta mendarat di kota. Di pusara anaknya ia berjanji untuk mengalahkan raja Castile dengan mengepung kota Tarifa terlebih dahulu.

Mendapatkan begitu besar energi penyerangan yg dibawa dari Maroko, Raja Alfonso XI dari Castile yg merasa akan kehilangan kota Tarifa dari kendalinya segera meminta bantuan dari Raka Afonso IV dari Portugal. Kedua pasukan besar ini bertempur di Pantai Los Lances dekat Tarifa dalam sebuah pertempuran yg dikenal sebagai Rip Salado pada hari Senin, 8 Jumadil Awal 741 Hijriah (30 Oktober 1340). Kemenangan ini meyakinkan Alfonso XI utk segera menundukkan kota al-Jazīrah al-Khadra yg menjadi pintu masuk bagi pasukan kaum muslimin Maroko tersebut.

Pada hari Sabtu, 1 Rabi’ul Awwal 743 Hijriah (3 Agustus 1342), dan tenda-tenda sudah didirikan, Raja Castile menginstruksikan kesatuan zeni kerajaan untuk mempelajari wilayah setempat guna merumuskan posisi terbaik dalam menggelar kepungan. Tantangan utama mereka adalah menghalangi pasukan dari dalam kota untuk keluar serta menghambat pasukan dari luar untuk masuk ke dalam kota, khususnya yg berasal dari jalur Tarifa maupun Jabal Tariq. Direncanakan sedemikian rupa agar kota ini menyerah karena kelaparan bukan dengan serbuan militer yg diduga akan merenggut banyak korban.

Pasukan yg mengepung ternyata mebghadapi masalah yg lebih banyak dari perkiraan mereka. Pertama, pada awal bulan Oktober mereka terkena badai yg besar sehingga tenda-tenda mereka di bagian barat laut terendam banjir sehingga area tenda maupun garis kepung tersebut mendadak berubah menjadi rawa. Pasukan pertahanan kota mengambil peluang ini guna melancarkan serangan dadakan pada malam hari sehingga mengakibatkan kerugian yang banyak. Kedua, akibat dari badai dan banjir tersebut maka pasukan kaum nasrani terpaksa memindahkan markas besar berasama sebagian besar pasukannya ke muara Sungai Palmones sambil menghabiskan bulan Oktober 1342 di sana. Melihat perpindahan itu, pasukan dari dalam kota mengumpulkan sisa kekuatan mereka di Villa Vieja untuk mengirimkan serangan besar. Dalam serangan tersebut, para pemuka kaum muslimin berhasil menerobos hingga ke area tenda dan mengakibatkan banyak korban para pembesar kaum nasrani, antara lain Gutier Díaz de Sandoval, Lope Fernández de Villagrand, utusan vasal Joan Núñez, dan Ruy Sánchez de Rojas yg juga merupakan utusan dari ordo militer fanatik nasrani Master of Santiago.

Lambat laun, kondisi kedua belah pihak semakin memburuk. Bahan pangan juga sempat menjadi langka di pihak kaum nasrani setelah kebanjiran itu dan bahkan banyaknya pasukan yg terlibat dalam pengepungan berikut buruknya kebersihan area garis belakang menimbulkan banyak penyakit menular.

Pada bulan Mei 1343, pasukan yg dikirim oleh Emirat Granada melintasi Sungai Guadiaro dan bergerak menuju kota. Raja Alfonso XI mengirim detasemen pengintainya untuk menilai situasi dan tingkat ancaman. Dari hasil pengintaian tersebut, ia mengirimkan surat kepada Emir Granada bahwa ia bersedia melepas kepungan jika dibayar sejumlah upeti (tribute). Setelah menerima surat tersebut, Emir Granada hanya menawarkan gencatan senjata yg rupanya tidak cukup bagi pihak Castile yg memerlukan dana segar guna membayar pasukannya.

Andai saja upeti ini dibayar mungkin kejadian berikutnya bisa berubah, namun para pemimpin kaum muslimin pada era itu menganggap pembayaran upeti sebagai bentuk perendahan dan penghinaan yg tidak dapat diterima.

Pada bulan Januari 1344, Raja Alfonso XI memutuskan untuk membangun kembali rantai laut (chain sea-boom) guna menghambat bantuan yg datang dari Jabal Tariq menggunakan kapal-kapal kecil. Penghalang laut ini dibuat dari tambang kapal yg ditopang oleh drum yg diikat bersama membentuk pelampung pengikat. Posisi pelampung tersebut diperkuat dengan bekas tiang kapal yg dihujamkan ke dasar laut. Pembangunan rantai laut dan struktur penunjangnya membutuhkan waktu 2 bulan dimana selundupan bantuan tetap lolos lewat jalur laut hingga akhirnya terputus total pada awal bulan Maret. Kini dapat dipastikan bahwa tinggal menunggu waktu untuk kota tersebut menyerah dengan syarat yang lebih menguntungkan bagi pihak pengepung.

Pada hari Jum’at, 10 Dzul Qa’dah 744 Hijriah kota Algeciras menyerah dimana penduduknya bebas keluar kota dalam perlindungan, gencatan senjata selama 10 tahun, dan Emirat Granada membayar upeti 12 ribu doubloon setiap tahun. Raja Alfonso XI menerima ini walau para penasihat militernya mengajukan diteruskannya pengepungan hingga jatuhnya kota.

Jatuhnya kota Algeciras menandai masuknya masa penghujung Reconquista dan kini tinggal Jabal Tariq yg menjadi incaran kaum nasrani.

Agung Waspodo, melihat episode akhir kegigihan kaum muslimin al-Andalus yg tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Depok, 2 Agustus 2015, malam menjelang tanggal bersejarah itu 671 tahun kemudian..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Teruslah Berjuang Kawan, Kezaliman Harus Dilawan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Jika musuh makin kuat memerangimu,
Tak ada jalan lain kecuali kau Tambahkan kekuatan juangmu….
Selain itu adalah kekalahan!

Jika mereka dengan berbagai macam cara memerangi dakwah.
Kau akan dapatkan berbagai macam cara utk membelanya.

Kezaliman tidak punya nafas panjang…
Karena itu, yang sangat mereka takutkan adalah perlawanan yang punya nafas panjang…

Jangan pernah berhenti..!

Bergembiralah jika dapatkan mereka yang marah melihat dusta dan kezaliman,

Berhati-hatilah jika dapatkan mereka yang senyum penuh intrik dan permusuhan.

Jika kau marah dengan kezaliman dan dusta, pertanda akal dan jiwamu masih sehat.

Yang sakit, adalah mereka yang marah dengan kemarahanmu….

Jangan harap musuhmu habis…
Berharaplah agar semangatmu tidak habis

Jangan harap musuh berhenti….
Berharaplah agar perjuangnmu tak berhenti.

Wallahu a’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Mukmin Yang Kuat

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Materi hari ini VIDEO Motivasi, silahkan buka di link berikut:

https://youtu.be/o0OIAOW3ZTE
—————————-

Alhamdulillah Allah pertemukan kita di majelis ilmu, majelis yang mudah-mudahan menjadi indikasi bahwa Allah SWT menghendaki kita menjadi muslim yang baik.

Hadits:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.

Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.

Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan.

Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2664); Ahmad (II/366, 370); Ibnu Mâjah (no. 79, 4168); an-Nasâ-i dalam Amalul Yaum wal Lailah (no. 626, 627); at-Thahawi dalam Syarh Musykilil Aatsâr (no. 259, 260, 262); Ibnu Abi Ashim dalam Kitab as-Sunnah (no. 356).

Kehidupan kita adalah perjuangan kita.

Agar kita mampu berjuang, agar kita eksis dalam kehidupan, maka kita harus memiliki kekuatan.

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Meskipun keduanya baik, tapi yang kuat lebih baik dari yang lemah.

Bagaimana agar kita menjadi mukmin yang kuat? Mampu menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan dan mampu mengemban semua kewajiban ibadah dan dakwah yang Allah dan Rasulullah SAW berikan?

Rasulullah memberikan tips:

Berusahalah untuk selalu melakukan sesuatu yang beramanfaat.
Bermanfaat bagi kehidupan kita baik di dunia apalagi akhirat.

Jadi, jangan biasakan waktu dan potensi kita habis terbuang percuma melakuakn hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang sia-sia.

Jangankan melakukan hal-hal yang haram, hal-hal tidak bermanfaatpun sedapatnya kita hindari.

Jangan habiskan waktu kita hanya untuk nongkrong, bicara tanpa guna, hanya menghabiskan waktu kita di depan televisi berjam-jam untuk menonton sinetron. Itu semua tidak ada manfaat nya.

Lebih baik kita gunakan untuk membaca, belajar ilmu agama, atau lakukan bersilturrahim, mengambil ilmu dan nasihat dari ulama, itu akan jauh lebih manfaat.

Setiap melakukan kegiatan selalu tanyakan apakah ini ada manfaatnya atau tidak.

Selanjutnya Rasulullah SAW menyampaikan tips berikutnya:

Mintalah pertolongan dari Allah SWT. Mintalah petunjuk dan bantuan dari Allah. Sebab segala sesuatunya ada di tangan Allah.

Dialah yang menetapkan, yang menentukan. Jangan sampai kita hanya bersandar dan berpangku tangan pada usaha dan ikhtiar manusia saja.

Ikhtiar di perintahkan, tapi selanjutnya sebagai seorang muslim, kita harus memasrahkan hasilnya kepada Allah. Mohon kepada Allah SWT agar tiap usaha kita diberikan hidayah, taufik dan kemudahan dan jalan keluar.

Kemudian, jangan engkau merasa lemah.

Ini masalah mentalitas dan watak manusia. Dimana kadang seringkali langkah-langkah kebaikan kita terhalang oleh perasaan dan mentalitas bahwa kita tidak mampu, lemah dan tidak akan berhasil.

Yakini bahwa tidak ada yang Allah perintahkan, perbuatan baik yang menjadi tuntutan untuk kita lakukan, selain kita masih dapat melakukannya.

Sebab Allah mengatakan tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sesuai dengan atau di bawah kemampuannya.

Jadi sering kali kita tidak bisa berbuat baik bukan karena kita tidak punya tenaga, bukan karena tidak punya kemampuan…

Tapi sering kali itu semua terjadi karena kita tidak punya KEMAUAN.

Ingin ngaji, baca Al Quran, turut berdakwah, kita tidak melakukannya karena merasa tidak mampu, PADAHAL kita MAMPU.

Disinilah pentingnya motivasi dari dalam diri selalu kita bangun.
Maka jangan sekali-kali kita merasa lemah.

Demikianlah nasihat Rasulullah SAW agar kita dapat menjadi mukmin yang kuat.

Bersungguh-sungguhlah berusaha untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu.

Mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta

Yakinlah bahwa sesungguhnya kita memilki kekuatan, kita memiliki potensi untuk melakukan banyak hal apabila kita bersungguh-sungguh dan  melakukannya dengan sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Shalat Qabliyah & Ba’diyah Jum’at

Oleh: Ust Farid Nu’man Hasan SS.

Pertanyaan:
Salam, ana nambahin pertanyaan dong terkait shalat jum’at tlong d bantu t Tadz, hukumnya gmn y sholat sunnah qobliyah & ba’diyah shalat jum’at it. Jazakallah Tri Yuwono manis I 13

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

 Ada tiga shalat sunah yg dilakukan sebelum shalat Jumat.

1.       Shalat Sunah Tahiyatul Mesjid. Ini hukumnya sunah menurut mayoritas ulama.  Walau pun ketika sampai di mesjid khatib sedang berkhutbah, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam tetaplah menganjurkannya untuk dilakukan.

Dari Abu Qatadah
Radhiallahu ’Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

Jika salah seorang kalian masuk ke masjid maka hendaknya dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk. (HR. Bukhari No. 444, Muslim (69)  (714), At Tirmidzi No.  316, An Nasa’i dalam As Sunan Al KubraNo. 809, Ahmad No. 22576, 22582, 22631, Malik dalam Al Muwaththa’No. 275, dll)

Imam At Tirmidzi
Rahimahullah berkata:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَصْحَابِنَا اسْتَحَبُّوا إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ الْمَسْجِدَ أَنْ لَا يَجْلِسَحَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ عُذْرٌ

Para sahabat kami mengamalkan hadits ini, menurut mereka sunnah bagi seorang yang masuk ke masjid untuk tidak duduk dulu sampai dia menunaikan shalat dua rakaat, kecuali dia memiliki ‘udzur.(Lihat Sunan At Timridzi No. 316)

Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu, mengutip dari Imam Muhammad bin Hasan Radihiallahu ‘Anhu:

هذا تطوع وهو حسن وليس بواجب
               
“Ini sunah dan bagus, bukan wajib.”  (Al Muwaththa No. 275)[3]

Berkata Dr. Taqiyuddin An Nadwi –pentahqiq kitab Al Muwaththa’:

هو أمر ندب بالإجماع سوى أهل الظاهر فقالوا بالوجوب

“Ini adalah perkara sunah menurut ijma’, kecuali menurut kelompok Ahli Zhahir (tekstualist) , mereka mengatakan wajib.”

Lalu beliau mengomentari ucapan Imam Muhammad bin Hasan, “ … bukan wajib “:

وليس بواجب لأن النبي صلى الله عليه و سلم رأى رجلا يتخطى رقاب الناس فأمرهبالجلوس ولم يأمره بالصلاة كذا ذكره الطحاوي . وقال زيد بن أسلم : كان الصحابةيدخلون المسجد ثم يخرجون ولا يصلون وقال : رأيت ابن عمر يفعله وكذا سالم ابنهوكان القاسم بن محمد يدخل المسجد فيجلس ولا يصلي ذكره الزرقاني

“Bukan wajib ..” karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melihat seorang laki-laki yang melangkahi punggung  manusia, lalu Beliau memerintahkan laki-laki itu untuk duduk, dan dia tidak memerintahkannya untuk shalat. Demikian disebutkan oleh Ath Thahawi. Zaid bin Aslam mengatakan: “Dahulu  para sahabat memasuki masjid kemudian keluar lagi dan mereka tidak shalat.” Dia (Zaid) berkata: “Aku melihat Ibnu Umar melakukannya, demikian juga Salim – anaknya-, dan juga Al Qasim bin Muhammad memasuki masjid dia duduk dan tidak shalat. Ini disebutkan oleh Az Zarqani. (Lihat Al Muwaththa’ No. 275, Catatan kaki No. 10. Cet. 1. 1413H. Darul Qalam, Damaskus)

Kepada siapakah Tahiyatul Masjid Disunnahkan?
               
Tahiyatul masjid disunnahkan bagi yang masuk ke masjid dalam keadaan berwudhu, sebagain ulama menambahkan: serta bermaksud duduk di dalamnya, bukan sekedar lewat. Sebagian lain mengatakan walaupun cuma lewat, tetap sunah.
               
Tertulis dalam Al Mausu’ah sebagai berikut:

يَرَى جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُ يُسَنُّ لِكُل مَنْ يَدْخُل مَسْجِدًا غَيْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ – يُرِيدُالْجُلُوسَ بِهِ لاَ الْمُرُورَ فِيهِ ، وَكَانَ مُتَوَضِّئًا – أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَكْثَرَ قَبْل الْجُلُوسِ .وَالأَْصْل فِيهِ حَدِيثٌ رَوَاهُ أَبُو قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ قَال : إِذَا دَخَل أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ   وَمَنْ لَمْ يَتَمَكَّنْمِنْهُمَا لِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ يَقُول نَدْبًا : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُأَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْل وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ . فَإِنَّهَا تَعْدِل رَكْعَتَيْنِ كَمَا فِي الأَْذْكَارِ
             
Mayoritas  ahli fiqih berpendapat bahwa  disunnahkan bagi siapa saja yang masuk ke dalam masjid selain masjidil haram –yang berkehendak duduk bukan cuma lewat[4] dan dia dalam keadaan berwudhu- untuk shalat dua rakaat atau lebih[5] sebelum duduk.  Dasarnya adalah hadits diriwayatkan Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu:bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Jika salah seorang kalian masuk ke masjid maka hendaknya dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk. Dan, siapa saja yang terhalang melakukan keduanya (shalat dan duduk) disebabkan hadats atau selainnya, disunahkan mengucapkan: Subhanallah wal hamdulillah wa laailaha illallah wallahu akbar wa laa haulaa wa laa quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Azhim.[6] Sesungguhnya itu sebanding dengan dua rakaat tersebut sebagaimana disebutkan dalam Al Adzkar. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 10/305)

Walaupun Sudah Duduk Tetap Sunah
           
Di antara kita mungkin pernah lupa tahiyatul masjid, lalu langsung duduk. Sering kali hal itu membuat sebagian kita ragu-ragu; bolehkah tahiyatul masjid dilakukan padahal kita sudah duduk
             
Jawabnya: boleh, dan tetap sunah. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, dari Abu Dzar Al GhifariRadhiallahu ‘Anhu katanya

دخلت المسجد فإذا رسول الله صلى الله عليه وسلم جالس وحده قال يا أبا ذر إنللمسجد تحية وإن تحيته ركعتان فقم فاركعهما قال فقمت فركعتهما
               
Saya masuk ke masjid ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk sendirian. Beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya untuk masjid itu sambutannya, sambutan bagi masjid adalah shalat dua rakaat. Maka bangunlah dan shalatlah dua rakaat!” Abu Dzar berkata: “Maka saya bangun dan shalat dua rakaat.” (HR. Ibnu Hibban No. 361)
             
Hadits ini sangat lemah, lantaran dalam sanadnya terdapatIbrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya Al Ghathafani . Imam Abu Zur’ah mengatakan tentang dia: Kadzdzaab (pembohong). (Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin No. 133. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
             
 Imam Abu Hatim dan lainnya mengatakan: laisa bitsiqah(bukan orang yang bisa dipercaya). (Imam Adz Dzahabi, Al Mughni fi Adh Dhu’afa no. 201)
               
Imam Abu hatim juga mengatakan tentang Ibrahim bin Hisyam: Kadzdzaab (pembohong). Lalu Ali bin Al Husain bin Al Junaid berkata: “Abu Hatim benar, hendaknya jangan mengambil hadits darinya (Ibrahim bin Hisyam).” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal No. 244
               
Namun dalam riwayat lain, diriwayatkan secara shahih dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

 جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ يَافُلَانُ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ            

Datang seorang laki-laki dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamsedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jumat. Beliau bersabda: “Wahai fulan, apakah engkau sudah shalat?” orang itu menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Bangunlah dan shalatlah dua rakaat.” (HR. Bukhari No. 930, dan Muslim No. 875)
               
Perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Bangunlah ..”menunjukkan bahwa sebelumnya orang tersebut telah duduk lebih dahulu.
               
Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa terlanjur“duduk” tidaklah membuat kesunahan tahiyatul masjid menjadi gugur.(Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/228)

2. Shalat Sunah mutlak. Ini juga sunah hukumnya, tak ada perselisihan ulama. Shalat sunah mutlak adalah shalat yang dilakukan tanpa terikat oleh waktu atau peristiwa. Misalnya, sambil menunggu adzan Jumat, anda mengisi kekosongan waktu dengan melakukan shalat sunah, itulah shalat sunah mutlak dengan dilakukan dua rakaat, dan boleh berulang-ulang, hingga kita sendiri yang memutuskan untuk berhenti, atau karena khatib sudah naik mimbar.

3. Shalat Sunah Qabliyah Jumat setelah adzan pertama. Para ulama berselisih faham tentang ini. Ada yang  menilainya tidak disyariatkan, sebab menurut mereka memang tak ada satu pun keterangan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau pernah melakukannya setelah adzan berkumandang. Dalam masalah ibadah ritual seperti shalat, harus memiliki dalil. Justru yang Nabi ﷺ contohkan adalah ketika  setelahke mimbar, lalu adzan,  kemudian  khutbah.

Dalam Shahih Bukhari, diriwayatkan:

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ

Saib bin Yazid berkata, “Adalah azan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘anhuma. Maka pada masa UtsmanRadhiallahu ‘Anhu dan orang-orang sudah banyak, ia menambahkan azan yang ketiga diatas Zaura’. Berkata Abu Abdillah, Zaura’ adalah suatu tempat di pasar di kota Madinah. (HR. Al Bukhari No. 912)
             
Bagi mereka, masalah ini tidak boleh diqiyaskan dengan shalat qabliyah zhuhur, sebab dalam ibadah tidak boleh ada qiyas, berbeda dengan masalah muamalah.  Tidak disyariatkannya qabliyah Jumat merupakan pendapat Imam Malik dan umumnya pengikut Imam Ahmad bin Hambal.
               
Sementara ulama lain yang mengatakan qabliyah jumat adalah sunah, inilah pandangan Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’i. Mereka beralasan dengan beberapa hadits berikut:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثَلَاثًا لِمَنْ شَاءَ

Di antara setiap dua adzan hendaknya ada shalat (sunah), (nabi mengatakan tiga kali), bagi yang menghendaki. (HR. Al Bukhari No. 624, 627, Muslim No. 838)
             
 Maksud dari ‘antara dua adzan’ adalah di antara adzan dan iqamah. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Zubeir bahwa Rasulullah ﷺ   bersabda:

ما من صلاة مفروضة إلا وبين يديها ركعتان

“Tiada satu shalat fardhu (wajib) pun, melainkan pasti sebelumnya ada dua rakaat sunah.”  (HR. Ibnu Hibban No. 2455, 2488. Syaikh Syu’aib Al Arnauth: isnadnya kuat. Ath Thabarani, Musnad Asy Syamiyyin, 3/282. Syaikh Hamdi bin Abdul Majid mengatakan: shahih)
               
Nah, bagi mereka, karena Shalat Jumat juga shalat fardhu sebagimana yang fardhu yang lain, maka ia termasuk keumuman hadits di atas. Yakni yang namanya  shalat fardhu, pasti sebelumnya ada dua rakaat sunah.
               
Demikian, semoga bermanfaat, dan tidak menjadikan masalah khilafiyah sebagai sumber perpecahan. Wallahu A’lam

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Jual Beli Indent

Oleh: Ust Dr. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

Pertanyaan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

1. Semoga Ustadz Ust Rikza senantiasa dlm lindungan Allah.. آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Begini Ustadz.. saat ini sedang marak penjualan Online biasanya Buku/ Tools Online. Penjualnya menggunakan strategi PreOrder dengan iming iming diskon misal 50% dr Harga Normal. Setelah tanggal habis masa promo pre order harga menjdi Normal.

Pre order biasanya Barang tersebut belum selesai proses percetakannya atau belum dalam bentuk finish good.

Pertanyaan saya bolehkah strategi tsb dilakukan pebisnis tsb?

2. Sekarang sdg marak para pebisnis Travel Umroh yang menawarkan UMROH untuk 1-2 tahun kedepan dgn iming iming harga bisa di bawah harga pasar umumnya $2300 dijual 13jt.

Ada juga oknum Travel yg menggunakan uang tsb utk diinvestasikan slm forex atau bisnis penggemukan sapi dengan harapan owner tersebut mdapat margin yg jauh lebih besar lagi.

Apakah hal tsb diperbolehkan, baik praktek tsb dana umrohnya di investasikan atau tidak diinvestasikan ?

Mojon pencerahannya ya Ustadz…

Jazakumullah khairan katsir..

Jawaban:

 Waalaikumsalam wr wb.

1 Secara umum, dalam Islam ada namanya bai’ salam, yaitu jual beli inden, dimana uang dibayarkan dimuka dan barang diserahkan kemudian.

Namun terdapat persyaratan dalam jual beli salam sebagaimana digambarkan di atas, yaitu:

1. Objek barang harus jelas, jenis, bentuk, kualitas dan kuantitasnya.

2. Waktu serah terima barang juga harus jelas. Tidak sah apabila tidak ada kejelasan waktu penyerahan barang.

3. Pembayaran dilakukan pada saat akad secara tunai, bukan hutang.

Apabila kriteria tersebut dipenuhi, maka hikumnya boleh saja.

Wallahu A’lam

2. Umrah dengan harga pembayaran lebih rendah dibandingkan dengan harga normal dengan waktu pemberangkatan 1 atau 2 tahun yang akan datang, harus memperhatikan hal2 berikut :

1. Harus jelas akadnya di awal. Karena pada dasarnya paket umrah itu merefleksikan dari akad ijarah, yaitu jasa.

Selama jasa yg ditawarkan benar, dan sesuai antara yg ditawarkan dgn realitanya, maka boleh saja.

Dan perlu dipastikan, bahwa pembayaran yg dilakukan adalah untuk pembayaran paket umrah, bukan untuk inveatasi.

2. Karena akadnya adalah untuk paket umrah, maka harus ada jaminan pemberangkatan umrah. Jaminan diatas materai lebih baik.

3. Apabila dana pembayaran umrah tersebut akan diinvestasikan oleh penyelenggara (travel), maka pastikan bahwa investasinya harus halal secara syariah.

Karena dari hasil investasi itulah akan ditambahkan pada dana awal umrah yg telah dibayarkan. Sehingga halal haramnya harus jelas.

Apabila tercampur dengan yang haram, maka bisa jadi ibadahnya tidak diterima oleh Allah Swt.

Wallahu A’lam

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (2) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits 2:

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –   إِنَّ اَلْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ – أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ  وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ

                Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu dia berkata, Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu yang bisa menajiskannya.” Dikeluarkan oleh Ats Tsalatsah (tiga imam: Abu Daud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i), dan dishahihkan oleh Imam Ahmad.

Takhrij:

–          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 66, 67

–          Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 66

–          Imam An Nasa’i dalam Sunannya No. 326

–          Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya, 1/29

–          Imam Ahmad dalam Musnadnya No.11119

–          Imam Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 2155

–          Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 1513

–          Imam ‘Abdurrazzaq dalam Al MushannafNo. 255

–          Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 2/61

–          Imam Ibnu Jarud dalam Al Muntaqa No. 47

–          Imam Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 2051

Status Hadits:

–          Imam Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini dishahihkan oleh  Imam Ahmad bin Hambal, Imam Yahya bin Ma’in, dan Imam Ibnu Hazm.”  (Talkhish Al Habir, 1/125-126)

–          Imam At Tirmidzi mengatakan: “hasan.”(Sunan At Tirmidzi No. 66)

–          Imam Al Baghawi mengatakan: “hasan shahih.” (Syarhus Sunnah, 2/61)

–          Imam An Nawawi mengatakan:“shahih.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/82)

–          Imam Al Bushiri mengatakan: “hasan.”(Ittihaf Al Khairah No. 416)

–          Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri berkata:“sanadnya jayyid.”(Tuhah Al Ahwadzi, 1/170)

–          Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Shahih bithuruqihi wa syawahidihi – shahih karena banyak jalan dan penguatnya.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 11119)

–          Syaikh Al Albani mengatakan: ”shahih.”(Al Irwa’ No. 14, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 67, Shahihul Jami’ No. 1925, dll)

Latar Belakang Hadits:

                Disebutkan dalam Sunan Abi Daud dan lainnya, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

         

📌Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apakah kami boleh berwudhu dari sumur budhaa’ah, yaitu sumur yang kemasukan  Al Hiyadh, daging anjing, dan An Natnu (bau tidak sedap).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Air itu adalah suci, tidak ada sesuatu yang menajiskannya.” (HR. Abu Daud No. 67, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf  No. 1513, Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah, 2/61, dll)

Kandungan Hadits:

1.       Tentang Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu. Imam Adz Dzahabi Rahimahullah bercerita –kami ringkas- sebagai berikut:

“Dia adalah Al Imam Al Mujahid, muftinya kota Madinah, namanya Sa’ad bin Malik bin Sinan bin Tsa’alabah bin ‘Ubaid bin Al Abjar bin ‘Auf bin Al Haarits bin Al Khazraj. Ayahnya (Malik) mati syahid ketika perang Uhud, dan dirinya sendiri ikut perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan (Bai’at di bawah pohon). Dia adalah salah satu ahli fiqih dan mujtahid.

Hanzhalah bin Abi Sufyan meriwayatkan dari guru-gurunya, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui hadits-hadits para sahabat nabi dibanding Abu Sa’id Al Khudri.

Al Waqidi dan jamaah mengatakan, Abu Sa’id Al Khudri wafat tahun 74 H. Ismail Al Qadhi berkata: Aku mendengar Ali bin Al Madini mengatakan bahwa Abu Sa’id wafat tahun 63 H.

Musnad Abu Sa’id terdapat 1170 hadits. Pada Bukhari dan Muslim terdapat 43 hadits. Pada Bukhari saja ada 16 hadits, pada Muslim saja ada 52 hadits.”  (Selengkapnya lihat Siyar A’lamin Nubala, 3/168-172)

2.       Ada beberapa istilah khusus yang perlu dijelaskan.

Pertama. Al Hiyadh – الْحِيَضُ  adalah –sebagaimana dijelaskan Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullah:

الحيضُ- بكسر الحاء، وفتح الياء-: جمع حيْضة- بكسر الحاء، وسكون الياء-، وهي: خرقة الحيض، ويقال لها أيضاً المحيضة، وتجمع على المحايض

Al Hiyadh –dengan huruf ha dikasrahkan dan huruf ya difathahkan adalah jamak dari hiidhah –dengan ha dikasrahkan dan ya disukunkan- itu adalah harqatul haidh (pembalut haid).  Juga disebutkan artinya adalah Al Mahiidhah, dan dijamakkan menjadi Al Mahaayidh. (Imam Al ‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud, 1/198. Maktabah Ar Rusyd)

Kedua. An Natnu  –النَّتْنُ – artinya:

” والنتْنُ ” الرائحة الكريهة، ويقع أيضاً على كل مستقْبح

                An Natnu adalah Ar Raa-i-ah Al Kariihah (aroma yang tidak sedap), dan juga bisa berarti setiap hal yang buruk. (Ibid)

               Ketiga. Istilah  أخرجه الثلاثة –dikeluarkan/diriwayatkan oleh tiga orang imam.Apa maksudnya?

                Imam Ash Shan’ani Rahimahullahmengatakan:

هم أصحاب السنن، ما عدا ابن ماجه

                Mereka adalah ashhabus sunan (para penyusun kitab As Sunan), selain Ibnu Majah.(Subulus Salam, 1/16. Maktabah Mushthafa Al Baabi Al Halabi)

                Mereka adalah Abu Daud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya.

3.       Pada hadits ini menyebutkan bahwa hukum dasar bagi air adalah suci, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya menjadi najis, walau dia terkena benda-benda yang dianggap najis seperti daging anjing, darah haid, dan sesuatu yang berbau, selama tidak mengubah sifat-sifat kesuciannya. Tentunya, apalagi ketika tidak diketahui adanya benda-benda yang mencampurinya, maka kesuciannya bisa dipastikan lagi. Dan, ini menjadi pendapat Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu.

Berikut ini keterangannya:

وبهذا الحديث استدل مالك على أن الماء لا يتنجس بوقوع النجاسة- وإن كان قليلاً- ما لم تتغير أحد

أوصافه.

📌Dengan hadits ini, Imam Malik berdalil bahwa sesungguhnya air tidak menjadi najis dengan terkenanya dia dengan najis –jika air itu sedikit- selama salah satu sifatnya belum berubah. (Ibid)

             

4.       Sebagian ulama mengatakan bahwa, hadits ini hanya berlaku khusus bagi sumur Budhaa’ah, tidak bagi lainnya, karena latar belakang hadits ini memang sedang membicarakan sumur tersebut. Hal ini disebabkan banyaknya air pada sumur Budhaa’ah yang melebihi dua qullah.

Berkata Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri:

فتأويله إن الماء الذي تسألون عنه وهو ماء بئر بضاعة فالجواب مطابقى لا عموم كلي كما قاله الامام مالك انتهى وإن كان الألف واللام للجنس فالحديث مخصوص بالإتفاق كما ستقف ( لا ينجسه شيء ) لكثرته فإن بئر بضاعة كان بئرا كثيرا الماء يكون ماؤها أضعاف قلتين لا يتغير بوقوع هذه الأشياء والماء الكثير لا ينجسه شيء ما لم يتغير

          📌      Ta’wilnya adalah bahwa air yang kalian tanyakan adalah air sumur Budhaa’ah, maka jawabannya adalah bukan untuk umum  sebagaimana dikatakan Imam Malik. Selesai. Jika Alif dan Lam (pada kata Al Maa’/air) menunjukkan jenis, maka hadits ini adalah spesifik (khusus) menurut kesepakatan sebagaimana  Anda lihat (tidak ada sesuatu yang menajiskannya) karena banyaknya, sesungguhnya sumur budhaa’ah adalah sumur yang banyak airnya, lebih dari dua qullah, maka terkena semua hal ini tidaklah merubahnya, dan air yang banyak tidaklah  menjadi najis karena sesuatu selama belum terjadi perubahan. (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/170. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

QS. Nuh (Bag. 1)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Orang-Orang Pilihan

Menjadi orang-orang pilihan yang dihargai karena prestasi adalah merupakan sebuah kebahagiaan. Sebuah kepuasan psikis. Sangat manusiawi. Lantas, bagaimana jika orang-orang pilihan tersebut dipilih dan dinobatkan langsung oleh Allah serta diabadikan dalam kalam sucinya dan dibaca oleh jutaan bahkan milyaran manusia.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (QS. 3:33)

Rahasia apakah yang membuat mereka terangkat dalam lembaran sejarah sebagai orang-orang pilihan. Adam dan Nuh mewakili dua teladan individu secara personal. Dan keluarga Ibrahim serta keluarga Imran menjadi sebuah prototipe keluarga yang layak untuk diikuti jejaknya.

Dalam kesempatan kali ini kita akan menelusuri jejak-jejak dakwah Nabi Nuh as. Sebagai salah satu individu yang difigurkan serta layak untuk diteladani. Khususnya kisah beliau yang terangkum dalam Surat Nûh yang diturunkan Allah di Makkah setelah Surat an-Nahl ([1]) . Seorang dai dan nabi yang menyeru kepada kalimat Allah hampir sepuluh abad lamanya, namun hanya segelintir orang saja pengikutnya. Bahkan istri dan anaknya termasuk orang-orang yang menghalangi, memusuhi dan melawan dakwahnya. Namun, hal tersebut tak membuat beliau surut berdakwah.

”Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): ”Berilah kaummu peringatan sebelum datang adzab yang pedih”. (QS. 71: 1))

Dan tugas utama seorang nabi dan utusan Allah adalah menyampaikan risalah-Nya. Risalah pengesaan dan totalitas penghambaan kepada Allah.

”Nuh berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”. (QS. 71: 2-4)

Keangkuhan dan Gengsi Sosial

Bukan bunga yang ditaburkan, bukan pula pujian yang diterima, dan tidak pula orang-orang berbondong-bondong mendengarkan dakwah Nabi Nuh as. Yang terjadi justru sebaliknya. Dengarlah saat dengan penuh kepasrahan beliau mengadu kepada Allah,

”Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka masukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajah) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (QS. 71: 5-9)

Nabi Nuh. As menyeru kaumnya siang dan malam. Dilakukan dengan cara diam-diam dan terang-terangan. Justru respon mereka sangat menyakitkan hati. Mereka menyumpal telinga dengan jari-jari. Jika Nabi Nuh meneruskan dakwahnya mereka pun mengangkat kain untuk menutupi wajah mereka. Agar mereka tidak melihat beliau menyampaikan dakwahnya, tidak juga mendengar apa yang dikatakannya ([2]).

Namun, Nabi Nuh as. tetap melanjutkan dakwahnya sampai kemudian datang ketentuan Allah.

”Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS. 11: 36)

Nabi Nuh pun mematuhi titah-Nya yang kemudian memerintahkan kepada-nya membuat perahu di tengah padang pasir. Sebuah perintah yang kemudian dilecehkan kaum-kaumnya. Mereka menertawakannya, menganggapnya gila bahkan berusaha merusaknya.

Icon Kesabaran yang Luar Biasa

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Mencabut Uban, Bolehkah?

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

pertanyaan dari I-18:

Assalamu’alaikum. Afwan ustadz.
Saya mohon izin bertanya.. bagaimana hukumnya kalau kita mencabut uban yg ada dikepala kita. Apakah diperbolehkan atau dilarang. Kebetulan saya kmrn berbincang2 sm teman bahwa mencabut uban itu dilarang oleh Rasulullah SAW. Mohon penjelasannga ustadz. Demikian ustadz, jazakallah.

Jawaban Ustad Farid Nu’man:

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah ..
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Beruban? Jangan dicabut! Karena …..

1. Spesial bagi seorang muslim, dia cahaya baginya, bukan bagi non muslim.

Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, katanya:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نتف الشيب، وقال ((هو نور المؤمن)).

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang mencabut uban,” dan katanya: “Itu adalah cahaya bagi seorang mu’min.” (HR. Ibnu Majah No. 3721, Syaikh Al Albani mengatakan Hasan Shahih, dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3721)

Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya:

“أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن نتف الشيب وقال إنه نور المسلم”. هذا حديث حسن وقد رواه عبد الرحمن بن الحارث وغير واحد عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang mencabut uban, dan bersabda: bahwa itu adalah cahaya bagi seorang muslim.”(HR. At Tirmidzi No. 2975, katanya: Hadits ini hasan. Abdurrahman bin Al Harits dan  selain dari satu orang telah meriwayatkannya dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 14604. Syaikh Al Albani mengatakan Shahih, dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2821)

2. Beruban itu bisa mendatangkan pahala dan Menghapus dosa

Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, katanya: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“لاتنتفوا الشيب ما من مسلمٍ يشيب شيبةً في الإِسلام” قال عن سفيان “إلاَّ كانت له نوراً يوم القيامة” وقال في حديث يحيى “إلا كتب اللّه [تعالى وجل] له بها حسنةً وحطَّ عنه بها خطيئةً”.

“Janganlah kalian mencabut uban, tidaklah seorang muslim beruban  satu saja di dalam Islam.” (Beliau berkata, dari Sufyan): “Melainkan baginya cahaya di hari kiamat nanti.” (Dia bersabda dalam hadits Yahya): “melainkan Allah Ta’ala catat baginya satu kebaikan dan menghapuskan untuknya satu kesalahan.” (HR. Abu Daud No. 4202, Syaikh Al Albani mengatakan Hasan Shahih, dalamShahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4202. Lihat juga Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 14605)

3. Uban Itu Kewibawaan

Imam Abul ‘Abbas Al Qurthubi mengatakan:

إنَّما كان لأنه وقارٌ ، كما قد روى مالك : (( أن أوَّل من رأى الشيب إبراهيم ـ صلى الله عليه وسلم ـ ، فقال : يا رب ! ما هذا ؟ فقال : وقار . قال : يا رب زدني وقارًا )) ، أو لأنه نورٌ يوم القيامة

   Sesungguhnya  uban adalah kewibawaan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Malik: Bahwa yang pertama kali melihat uban adalah Ibrahim Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia berkata: Ya Rabb, apa ini?! Tuhan menjawab: Waqar (kewibawaan/mahkota),” Dia berkata: “Ya Rabb, tambahkan untukku kewibawaan.” Atau juga karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. (lalu Imam Abul Abbas menyebut hadits tentang itu). (Lihat Al Mufhim, 19/56. Maktabah Misykah)

4. Mencabutnya terlarang

             Hadits-hadits di atas secara zahir menunjukkan larangan mencabut uban, dan hukum dasar dari larangan  menunjukkanharam. Berkata Syaikh Abdul Muhsin Hamd Al ‘Abbad Al BadrHafizhahullah:

فهذا يدل على منع أو تحريم نتف الشيب

“Maka, ini menunjukkan larangan atau keharaman mencabut uban.” (Syarh Sunan Abi Daud No. 472. Maktabah Al Miyskah)

Tetapi, tertulis dalam  berbagai kitab tentang  riwayat dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu:

عن عبد الله بن مسعود أن نبي الله صلى الله عليه وسلم كان يكره الصفرة يعني الخلوق وتغيير الشيب يعني نتف الشيب وجر الإزار والتختم بالذهب…

Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakruhkan shafrah yakni wangi-wangian, merubah uban yakni mencabutnya, menjulurkan kain, dan memakai cincin emas …”(HR. Abu Daud No. 4222, An Nasa’i No. 5088, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 15464)

Keterangan dari Ibnu Mas’ud ini menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ‘hanya’ memakruhkan mencabut uban. Tetapi hadits ini memiliki redaksi yang musykil sebab menyebutkan bahwa memakai cincin emas (buat laki-laki) adalah makruh, padahal telah ijma’ (konsensus) bahwa cincin emas adalah haram untuk laki-laki, bukan makruh. Dan, secara sanad hadits ini pun munkar (LihatShahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, No. 4222),   oleh karena itu menurut para ulama, hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah kemakruhannya. Maka, mesti kembali kepada hukum asal larangan yaitu haram.

Namun, ada riwayat lain yang dijadikan alasankemakruhannya, Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

يكره أن ينتف الرجل الشعرة البيضاء من رأسه ولحيته.

“Dimakruhkan bagi seorang laki-laki mencabut rambut kepalanya yang memutih dan juga janggutnya.” (HR. Muslim No. 2341,  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 14593)

Apa yang dikatakan Anas bin Malik ini menjadi penjelas, sekaligus dalil yang kuat makruhnya mencabut uban baik di kepala atau di janggut. Dan, ini menjadi pendapat madzhab Syafi’i dan Maliki bahwa mencabut uban adalah makruh, tidak haram.  Inilah pandangan yang lebih kuat. Wallahu A’lam

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

قَالَ أَصْحَابنَا وَأَصْحَاب مَالِك : يُكْرَه وَلَا يَحْرُم .

“Sahabat-sahabat kami (syafi’iyah) dan sahabat-sahabat Malik (Malikiyah) mengatakan: dimakruhkan, dan tidak diharamkan.”(Al Minhaj Syah Shahih Muslim, 8/59. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Beliau juga menambahkan bahwa kemakruhan ini bukan hanya bagi rambut di kepala, tapi juga lainnya. Katanya:

ولا فرق بين نتفه من اللحية والرأس والشارب والحاجب والعذار من الرجل والمرأة.

“Tidak ada perbedaan antara mencabut rambut janggut, kepala, kumis, alis, dan pipi, baik pada laki-laki dan wanita.” (Lihat Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 4/227)

Imam Abul Abbas Al Qurthubi Rahimahullah juga mengatakan:

وكراهته ـ صلى الله عليه وسلم ـ نَتْف الشيب إنَّما كان لأنه وقارٌ ، كما قد روى مالك : (( أن أوَّل من رأى الشيب إبراهيم ـ صلى الله عليه وسلم ـ ، فقال : يا رب ! ما هذا ؟ فقال : وقار . قال : يا رب زدني وقارًا )) ، أو لأنه نورٌ يوم القيامة

  “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakruhkan mencabut uban, karena dia adalah kewibawaan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Malik: Bahwa yang pertama kali melihat uban adalah Ibrahim Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia berkata: Ya Rabb, apa ini?! Tuhan menjawab: Waqar (kewibawaan/mahkota),” Dia berkata: “Ya Rabb, tambahkan untukku kewibawaan.” Atau juga karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. (lalu Imam Abul Abbas menyebut hadits tentang itu). (Lihat Al Mufhim, 19/56. Maktabah Misykah)

Maka lebih tepat dikatakan bahwa larangan tersebut adalah makruh, sebagaimana langsung  dikatakan oleh salah seorang Sahabat Nabi, dan pernah menjadi pelayan di rumahnya, yakni Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu. Ada pula sebagian ulama yang mengatakan boleh mencabut uban, tetapi berbagai riwayat shahih di atas, dan juga fatwa sahabat ini sudah cukup mengoreksi pendapat mereka.

Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbhi Ajma’in.

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Menjual Barang yang Tidak Dimiliki

Oleh: Ust Dr. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

Pertanyaan:
Ust. yang saya ketahui,ada bbrp yg seperti itu.misal…saya upload barang via foto, pdhal barang tsb milik temen…jk ada yg tertarik-nego dan deal-dia.transfer…br saya uruskan…saya belikan barang temen tsb, kmdian saya kirimkan. gimana yg sprti ini.mhon pncrrahannya agar jelas pkerjaan kami.nuwun

Atau sistem dropship bgmn hukumnya?

جزاك اللهُ خيرًا ya uStadz


Jawaban :

Ya, metode seperti itu termasuk yg tidak diperbolehkan. Karena menjual barang yg tidak dimiliki. Jika model dropshopnya seperti itu, maka juga tidak boleh.
Solusinya dgn cara menjalin kerja sama dengan pihak yg punya stok barang tsb, bahwa kita menjualkan produk atau barang miliknya di web kita. Adapun harga dan keuntungannya bisa disepakati bersama. Apabila metodenya spt ini maka diperbolehkan.
Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Jual Beli Sesuatu Yang Tidak Dimiliki (Bai’ Ma’dum) (bag. 2)

Pemateri: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Materi sebelumnya bisa dibuka di tautan berikut ini:

http://www.iman-islam.com/2016/02/larangan-jual-beli-sesuatu-yang-tidak.html?m=1

Jenis-Jenis Bai’ Ma’dum
dan Hukumnya.

1. Jenis (المعدوم الموصوف في الذمة)

Yaitu jual beli barang yang belum ada, namun spesifikasinya jelas dan keberadaannya dalam jaminan penjual.

Ulama sepakat bai’ ma’dum jenis yang pertama, diperbolehkan, selama secara kebiasaan umum keberadaan objek yang diperjualbelikan bisa dipastikan keberadaannya.

Contohnya adalah seperti jual beli kendaraan secara inden, jual beli elektronik, gadget, secara inden, dsb.

Dalam timbangan syariah, jual beli seperti ini disebut dengan bai’ salam.

Atau contoh bentuk lainnya adalah jual beli dengan pesanan pembuatan terlebih dahulu, seperti jas yang dijahit sesuai ukuran pembeli, jual beli lemari dengan ukuran dan model tertentu, renovasi rumah, dsb.

Dalam syariah  jual beli seperti ini disebut dengan bai’ istishna’.

2. Jenis  (بيع معدوم تبع للموجود وإن كان أكثر منه)

Yaitu jual beli yang objeknya tidak ada, namun mengikuti yang sudah ada, meskipun kemungkinan tidak adanya lebih banyak dari keberadaannya.

Nah dalam hal ini, ulama berbeda pendapat sebagian membolehkannya namun sebagian lainnya tidak memperbolehkannya.

Yang memperbolehkan karena beranggapan masih bisa masuk dalam kategori bai’ salam, seperti membeli buah-buahan setelah melihat hasil buah yang pertama dan secara logika umumnya, dapat menghasilkan buah-buahan dengan kualitas yang sama.

Yang tidak memperbolehkan adalah karena menganggap, unsur ghararnya lebih dominan dan apabila diterapkan dalam objek lainnya, maka akan tererumus pada bai’ gharar yang diharamkan.

Contohnya seperti jual beli anak hewan, yang belum lahir dan belum ada dalam kandungan induknya.

3. Jenis (بيع المعدوم الذي لا يدرى يحصل أو لا يحصل)

Yaitu jual beli yang objeknya tidak ada, dan tidak diketahui apakah keberadaannya akan ada atau tidak ada.

Ulama sepakat akan haramnya jual beli ma’dum jenis yang ketiga ini. Karena sudah jelas ke ghararannya dan juga karena tidak bisa diserah terimakan serta berpotensi besar menimbulkan unsur penipuan di dalamnya.

Termasuk di dalamnya adalah jual beli sebagaimana digambarkan di dalam hadits utama di atas, yaitu seorang penjual datang lalu membeli barang yang tidak dimilikinya, kemudian ia pergi ke pasar untuk membelinya, lalu ia menjualnya kepada pembeli tersebut.

Jual beli seperti ini adalah termasuk yang dilarang, berdasarkan nash hadits di atas.

Illat (Penyebab) Larangan Dalam Bai’ Ma’dum

Ulama sepakat, bahwa illat atau musabab pelarangan bai’ ma’dum adalah karena adanya unsur gharar (ketidakjelasan), pada objek akad yang ditransaksikan, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian pada salah satu pihak atau bahkan kepada kedua belah pihak yang berakad.

Dan sebagai catatannya, ternyata ulama memandang pelarangannya adalah bukan karena tidak beradaannya, namun karena ghararnya.

Karena bisa jadi barang yang ditransaksikan belum ada, namun keberadaannya bisa dipastikan secara logika umum dan ada jaminan dari keberadaannya.

Jika demikian maka hukumnya menjadi boleh.

Jika kita melihat jenis-jenis ba’i al ma’dum yang dilarang dan jenis ba’i al ma’dum yang diperbolehkan, maka akan dapat disimpulkan bahwa segala objek yang dilarang diperjual-belikan, pada umumnya keberadaan objeknya tidak pasti dan tidak diketahui; apakah akan ada atau tidak ada.

Sedangkan sebaliknya segala objek yang diperbolehkan dalam bai’ ma’dum ini, umumnya keberadaannya lebih bisa dipastikan, walaupun terkadang tidak ada pada saat akad.

Sehingga kaidah yang berlaku dalam ba’i al ma’dum adalah:

Segala yang tidak ada dan tidak dapat direalisasi kan keberadaannya di masa datang maka tidak boleh diperjual-belikan.

Dan segala yang tidak ada namun keberadaannya dapat direalisasikan di masa datang, sesuai dengan kebiasaan maka boleh diperjual-belikan.🔑🌟

Maraji’

Al-Syaukani, Al-Alamah Muhammad bin Ali. Nailul Authar, Min Ahadits Sayyidil Akhyar, 1996. Beirut : Dar Al-Khair.

Al-Zuhayli, Syekh Wahbah. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1996. Damaskus ; Dar Al-Fikr

والله تعالى أعلى وأعلم بالصوبا
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…