Kitab Ath Thaharah (bersuci) (2) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits 2:

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –   إِنَّ اَلْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ – أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ  وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ

                Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu dia berkata, Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu yang bisa menajiskannya.” Dikeluarkan oleh Ats Tsalatsah (tiga imam: Abu Daud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i), dan dishahihkan oleh Imam Ahmad.

Takhrij:

–          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 66, 67

–          Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 66

–          Imam An Nasa’i dalam Sunannya No. 326

–          Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya, 1/29

–          Imam Ahmad dalam Musnadnya No.11119

–          Imam Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 2155

–          Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 1513

–          Imam ‘Abdurrazzaq dalam Al MushannafNo. 255

–          Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 2/61

–          Imam Ibnu Jarud dalam Al Muntaqa No. 47

–          Imam Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 2051

Status Hadits:

–          Imam Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini dishahihkan oleh  Imam Ahmad bin Hambal, Imam Yahya bin Ma’in, dan Imam Ibnu Hazm.”  (Talkhish Al Habir, 1/125-126)

–          Imam At Tirmidzi mengatakan: “hasan.”(Sunan At Tirmidzi No. 66)

–          Imam Al Baghawi mengatakan: “hasan shahih.” (Syarhus Sunnah, 2/61)

–          Imam An Nawawi mengatakan:“shahih.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/82)

–          Imam Al Bushiri mengatakan: “hasan.”(Ittihaf Al Khairah No. 416)

–          Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri berkata:“sanadnya jayyid.”(Tuhah Al Ahwadzi, 1/170)

–          Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Shahih bithuruqihi wa syawahidihi – shahih karena banyak jalan dan penguatnya.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 11119)

–          Syaikh Al Albani mengatakan: ”shahih.”(Al Irwa’ No. 14, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 67, Shahihul Jami’ No. 1925, dll)

Latar Belakang Hadits:

                Disebutkan dalam Sunan Abi Daud dan lainnya, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

         

📌Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apakah kami boleh berwudhu dari sumur budhaa’ah, yaitu sumur yang kemasukan  Al Hiyadh, daging anjing, dan An Natnu (bau tidak sedap).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Air itu adalah suci, tidak ada sesuatu yang menajiskannya.” (HR. Abu Daud No. 67, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf  No. 1513, Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah, 2/61, dll)

Kandungan Hadits:

1.       Tentang Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu. Imam Adz Dzahabi Rahimahullah bercerita –kami ringkas- sebagai berikut:

“Dia adalah Al Imam Al Mujahid, muftinya kota Madinah, namanya Sa’ad bin Malik bin Sinan bin Tsa’alabah bin ‘Ubaid bin Al Abjar bin ‘Auf bin Al Haarits bin Al Khazraj. Ayahnya (Malik) mati syahid ketika perang Uhud, dan dirinya sendiri ikut perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan (Bai’at di bawah pohon). Dia adalah salah satu ahli fiqih dan mujtahid.

Hanzhalah bin Abi Sufyan meriwayatkan dari guru-gurunya, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui hadits-hadits para sahabat nabi dibanding Abu Sa’id Al Khudri.

Al Waqidi dan jamaah mengatakan, Abu Sa’id Al Khudri wafat tahun 74 H. Ismail Al Qadhi berkata: Aku mendengar Ali bin Al Madini mengatakan bahwa Abu Sa’id wafat tahun 63 H.

Musnad Abu Sa’id terdapat 1170 hadits. Pada Bukhari dan Muslim terdapat 43 hadits. Pada Bukhari saja ada 16 hadits, pada Muslim saja ada 52 hadits.”  (Selengkapnya lihat Siyar A’lamin Nubala, 3/168-172)

2.       Ada beberapa istilah khusus yang perlu dijelaskan.

Pertama. Al Hiyadh – الْحِيَضُ  adalah –sebagaimana dijelaskan Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullah:

الحيضُ- بكسر الحاء، وفتح الياء-: جمع حيْضة- بكسر الحاء، وسكون الياء-، وهي: خرقة الحيض، ويقال لها أيضاً المحيضة، وتجمع على المحايض

Al Hiyadh –dengan huruf ha dikasrahkan dan huruf ya difathahkan adalah jamak dari hiidhah –dengan ha dikasrahkan dan ya disukunkan- itu adalah harqatul haidh (pembalut haid).  Juga disebutkan artinya adalah Al Mahiidhah, dan dijamakkan menjadi Al Mahaayidh. (Imam Al ‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud, 1/198. Maktabah Ar Rusyd)

Kedua. An Natnu  –النَّتْنُ – artinya:

” والنتْنُ ” الرائحة الكريهة، ويقع أيضاً على كل مستقْبح

                An Natnu adalah Ar Raa-i-ah Al Kariihah (aroma yang tidak sedap), dan juga bisa berarti setiap hal yang buruk. (Ibid)

               Ketiga. Istilah  أخرجه الثلاثة –dikeluarkan/diriwayatkan oleh tiga orang imam.Apa maksudnya?

                Imam Ash Shan’ani Rahimahullahmengatakan:

هم أصحاب السنن، ما عدا ابن ماجه

                Mereka adalah ashhabus sunan (para penyusun kitab As Sunan), selain Ibnu Majah.(Subulus Salam, 1/16. Maktabah Mushthafa Al Baabi Al Halabi)

                Mereka adalah Abu Daud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya.

3.       Pada hadits ini menyebutkan bahwa hukum dasar bagi air adalah suci, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya menjadi najis, walau dia terkena benda-benda yang dianggap najis seperti daging anjing, darah haid, dan sesuatu yang berbau, selama tidak mengubah sifat-sifat kesuciannya. Tentunya, apalagi ketika tidak diketahui adanya benda-benda yang mencampurinya, maka kesuciannya bisa dipastikan lagi. Dan, ini menjadi pendapat Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu.

Berikut ini keterangannya:

وبهذا الحديث استدل مالك على أن الماء لا يتنجس بوقوع النجاسة- وإن كان قليلاً- ما لم تتغير أحد

أوصافه.

📌Dengan hadits ini, Imam Malik berdalil bahwa sesungguhnya air tidak menjadi najis dengan terkenanya dia dengan najis –jika air itu sedikit- selama salah satu sifatnya belum berubah. (Ibid)

             

4.       Sebagian ulama mengatakan bahwa, hadits ini hanya berlaku khusus bagi sumur Budhaa’ah, tidak bagi lainnya, karena latar belakang hadits ini memang sedang membicarakan sumur tersebut. Hal ini disebabkan banyaknya air pada sumur Budhaa’ah yang melebihi dua qullah.

Berkata Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri:

فتأويله إن الماء الذي تسألون عنه وهو ماء بئر بضاعة فالجواب مطابقى لا عموم كلي كما قاله الامام مالك انتهى وإن كان الألف واللام للجنس فالحديث مخصوص بالإتفاق كما ستقف ( لا ينجسه شيء ) لكثرته فإن بئر بضاعة كان بئرا كثيرا الماء يكون ماؤها أضعاف قلتين لا يتغير بوقوع هذه الأشياء والماء الكثير لا ينجسه شيء ما لم يتغير

          📌      Ta’wilnya adalah bahwa air yang kalian tanyakan adalah air sumur Budhaa’ah, maka jawabannya adalah bukan untuk umum  sebagaimana dikatakan Imam Malik. Selesai. Jika Alif dan Lam (pada kata Al Maa’/air) menunjukkan jenis, maka hadits ini adalah spesifik (khusus) menurut kesepakatan sebagaimana  Anda lihat (tidak ada sesuatu yang menajiskannya) karena banyaknya, sesungguhnya sumur budhaa’ah adalah sumur yang banyak airnya, lebih dari dua qullah, maka terkena semua hal ini tidaklah merubahnya, dan air yang banyak tidaklah  menjadi najis karena sesuatu selama belum terjadi perubahan. (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/170. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *