Seputar Waris

Oleh: Ustadzah Dra. Indra Asih

Assalamu’alaikum ustadzah,,

Semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan dalam kehidupan ustadzah dan keluarga,,,Aaminn

Mohon maaf mengganggu waktunya,

Saya ingin bertanya sesuatu hal mengenai sikap terhadap seorang ibu,

Sebelumnya perkenankan saya menceritakan kronologisnya

Saya istri dari suami dengan 1 kakak laki-laki dan 2 adik perempuan.
Bapak mertua saya meninggal beberapa tahun yang lalu, meninggalkan tanah puluhan meter, ratusan juta uang kematian mobil dan rumah.

Semua harta sepeninggalan almarhum tidak dibagikan karena di hak semua oleh ibu mertua, awalnya suami saya tidak mempermasalahkan harta waris karena memang sifat mamah mertua selalu kasar dan marah berapi-api kalo membahas masalah harta waris.

Waktupun berlalu dari tahun ketahun dan akhirnya semua harta habis kecuali rumah yang ditinggali sekarang.

Harta waris yang habis itu tidak jelas diperuntukkan kemaslahatannya, malah dominan kepada foya-foya dan mamah mertua selalu mendatangi orang pintar, bayaran orang pintar itu juta-jutaan bahkan sampai puluhan juta (itu informasi yang di dapat).

Sekarang rencana mamah mertua itu mau menjual rumah yang ditinggali, selanjutnya mau beli rumah yang lebih  kecil dari sekarang dan sisa dari hasil jual rumah mau diperuntukkan biaya hidup mamah mertua..

Sebelumnya  mamah mertua pernah tertipu sama pacar brondongnya sampai menggadaikan SK JHT, jadi penghasilan bulanannya terpotong oleh cicilan dan sebagian biaya hidup mamah mertua dibantu oleh anak-anaknya.

Kalo menurut analisa saya penghasilan mamah mertua lebih dari cukup hanya karena gaya hidup yang menjadikan kurang dan kurang (mohon tegur saya apabila saya lancang menganalisa orang tua)

Dari kronologis diatas,
suami saya rencananya mau meminta mamah untuk membagikan hasil dari penjualan rumah tersebut sesuai dengan aturan agama, apapun reaksi mamah dengan dasar ingin meluruskan dan melindungi harta waris agar tidak dipakai yang tidak jelas.

Hanya saja, saya menahan keputusan suami ini karena beberapa hal.

Sebelumnya pernah timbul konflik mengenai harta waris ini,,,
Sampai mamah mencak-mencak,  memaki, sumpah serapah bahkan mengeluarkan kata anak durhaka..

Karena mamah punya pikiran: “ini semua punya mamah, kalo anak-anak mau harta waris kudu nunggu mamah meninggal”.

Bagaimana menurut ustadzah kalo kondisinya seperti ini?

Apa suami saya tetep lanjut untuk meminta dibagikan? Atau diam saja seperti yang sudah-sudah?

Mohon sarannya sangat ditunggu..

Jazzakillah khairan khatsira sebelumnya..sudah mau meluangkan waktu untuk membaca curhatan saya..

Wassalamu’alaikum

[Manis_A13] ————–

JAWABAN:

1. Sebaiknya penerapan syariat dilakukan karena semua yang terkait paham.

2. Langkah yang didahulukan adalah memberikan pemahaman. Semaksimal mungkin.

3. Hindari keburukan yang lebih besar dibandingkan mengambil manfaat.

4. Kewajiban anak untuk menyayangi dan menyantuni orang tua (apalagi untuk anak laki-laki) tetap prioritas apapun kondisinya.

5. Usaha menyayangi dan menyantuni dilakukan dengan cara terus menasehati dan mendekati, hingga dengan izin Allah, mudah-mudahan kesadaran dan hidayah ibu muncul.

6. Semoga Allah mudahkan usaha birrul walidain kita, hingga menjadi sarana ibu kita mendapatkan hidayah, siap menjalankan syariat dan ketaatan di usia tuanya dan husnul khotimah.

Allahu A’lam Bisshawab

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (3) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits 3:

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ اَلْبَاهِلِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ – صلى الله عليه وسلم –  إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ, إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ, وَلَوْنِهِ – أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ وَضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمٍ

                Dari Abu Umamah Al BaahiliRadhiallahu ‘Anhu, katanya: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya air itu tidak ada sesuatu pun yang menajiskannya, kecuali yang bisa mengubah baunya, rasanya, dan warnanya.” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, dan didhaifkan oleh Abu Hatim.

Takhrij Hadits:

–          Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 521

–          Imam At Thabari dalam Tahdzibul AtsarNo.  2078

–          Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 26652

–          Imam Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah No. 1856

Status Hadits:

–          Sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Hajar hadits ini didhaifkan oleh Imam Abu Hatim.

–          Imam An Nawawi berkata: “Dhaif, tidak sah berhujjah (berargumentasi) dengannya, mereka (para ulama) telah sepakat atas kelemahannya.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/110)

–          Imam Ibnul Mulqin berkata: “Pada sanadnya terdapat Risydin bin Sa’ad, para ulama mendhaifkannya, tetapi Ahmad berkata: saya harap dia shalihul hadits (haditsnya baik).” (Tuhfatul Muhtaj, 1/144)

–          Imam Asy Syafi’i juga mengisyaratkan kedhaifan hadits ini. (Khulashah Al Badru Al Munir, 1/8)

–          Imam Al Haitsami mengatakan: “Dalam sanadnya terdapat Risydin bin Sa’ad, dan dia dhaif. “ (Majma’ Az Zawaid, 1/502)

–          Imam Az Zaila’i mengatakan: “Hadits ini dhaif.” (Nashbur Rayyah, 1/94)

Kandungan Hadits:

1.       Tentang Abu Umamah Al Bahili Radhiallahu ‘Anhu.

 Imam Amir Shan’ani Rahimahullah menjelaskan:

Namanya Shudda, ayahnya adalah ‘Ajlan. Al Baahili dinisbatkan kepada Al Baahilah yang artinya kaum. Ibnu Abdil Bar mengatakan tidak ada perbedaan pendapat tentang nama Beliau dan ayahnya. Beliau tinggal di Mesir, lalu pindah ke Himsh. Beliau termasuk yang banyak meriwayatkan hadits dari NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Disebutkan bahwa dia wafat usia 86 tahun. Disebutkan pula bahwa Beliau adalah sahabat yang terakhir yang wafat di Syam. (Lihat Subulus Salam, 1/18)

2.       Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Imam Abu Hatim mendhaifkan hadits ini. Maka, ada dua keterangan yang mesti diketahui:

1. Pertama, siapakah Imam Abu Hatim? Berkata Imam Adz DzahabiRahimahullah –kami ringkas:

Dia adalah Al Imam, Al Haafizh, An Naaqid (ahli kritik), gurunya para ahli hadits, Al Hanzhali (keturunan Hanzhalah), Al Ghatafani (suku Ghatafan), dia berasal dari Tamim bin Hanzhalah bin Yarbu’. Disebutkan juga, dikenal  Al Hanzhali karena dahulu dia tinggal di daerah Hanzhalah, di kota Ar Ray.

Dia adalah lautan ilmu, lahir tahun 195H. Al Khathib berkata: “Abu Hatim adalah salah satu imam di antara para Huffaazh yang kokoh.”  Ali bin Ibrahim Al Qaththan mengatakan: “Aku belum pernah melihat yang seperti Abu Hatim.” Imam An Nasa’i mengatakan: “terpercaya.” Hibbatullah Al Lalika’i mengatakan: “Abu Hatim adalah imam, hafizh, dan tsabit (kokoh).” (Lengkapmya lihat Siyar A’lamin Nubala, 13/247-266)

2. Kedua, apakah hadits dhaif? Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:

وهو ما لم يجتمع فيه صفات الصحيح، ولا صفات الحسن المذكور

Yaitu hadits yang tidak terkumpul di dalamnya sifat-sifat hadits shahih, tidak pula hadits hasan, sebagaimana disebutkan. (Al Baa’its Al Hatsits, Hal. 5)

Hadits dhaif memiliki berbagai jenis:maudhu’ (palsu), matruk (ditinggalkan), maqlub (terbalik), munqathi’ (terputus sanadnya), syadz (janggal), mudhtharib (guncang), mursal (serupa dengan munqathi’), mu’allaq (tidak disebutkan sanadnya), dan lainnya. Semua ini dibahas dalam kitab-kitab musthalahul hadits atau‘ulumul hadits. Wallahu A’lam

3.       Hadits ini menunjukkan bahwa air pada awalnya suci sebagaimana penjelasan hadits kedua, kecuali jika air  itu terkena benda najis yang bisa mengubah sifat-sifat air suci, maka dia menjadi najis.

Bukankah hadits ini dhaif dan tidak bisa dijadikan dalil? Dalilnya adalah ijma’, bukan karena hadits ini. Hal ini dijawab oleh Imam Ash Shan’ani Rahimahullah:

وقال النووي: اتفق المحدثون على تضعيفه، والمراد تضعيف ورواية الاستثناء، لا أصل الحديث، فإنه قد ثبت في حديث بئر بضاعة، ولكن هذه الزيادة قد أجمع العلماء على القول بحكمها. قال ابن المنذر: قد أجمع العلماء: على أن الماء القليل والكثير إذا وقعت فيه نجاسة فغيرت له طعماً، أو لوناً، أو ريحاً فهو نجس، فالإجماع هو الدليل على نجاسة ما تغير أحد أوصافه، لا هذه الزيادة.

Berkata An Nawawi: “Para muhadditsin telah sepakat atas kelemahan hadits ini,” yang dimaksud lemah adalah riwayat yang menunjukkan pengecualiannya (yaitu kalimat: kecuali yang bisa mengubah baunya, rasanya, dan warnanya, pen), bukan hadits asalnya, sebab telah shahih hadits tentang sumurBudhaa’ah (hadits kedua, pen), tetapi tentang tambahan ini, para ulama telah ijma’ (konsensus) untuk berpendapat dengan hukum yang ada padanya.  Berkata Ibnul Mundzir: “Para ulama telah ijma’ bahwa air yang sedikit dan banyak, jika terkena najis lalu berubah rasa, warna, dan aroma, maka dia menjadi najis.” Maka, ijma’ adalah merupakan dalil atas kenajisan sesuatu yang telah berubah salah satu sifat-sifatnya, bukan berdalil pada kalimat tambahan hadits ini. (Subulus Salam, 1/19)

Jadi, pendapat tentang najisnya air yang telah berubah rasa, warna, dan aroma, adalah bukan berdasarkan hadits ini karena dia dhaif, tetapi berdasarkan ijma’, dan ijma’ merupakan salah satu sumber hukum Islam.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضَلَالَةٍ

Sesungguhnya Allah tidak akan meng-ijma’kan umatku –atau dia berkata: umat Muhammad- di atas kesesatan. (HR. At Tirmidzi No. 2167. Al Hakim No. 397,  Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 1848)

Oleh karenanya berkata Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

 الْإِجْمَاعُ وَهُوَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ الْفُقَهَاءِ وَالصُّوفِيَّةِ وَأَهْلِ الْحَدِيثِ وَالْكَلَامِ وَغَيْرِهِمْ فِي الْجُمْلَةِ وَأَنْكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنْ الْمُعْتَزِلَةِ وَالشِّيعَةِ

                “Ijma’ telah menjadi kesepakatan antara umumnya kaum muslimin, baik dari kalangan ahli fiqih, sufi, ahli hadits, dan ahli kalam, serta selain mereka secara global, dan yang mengingkarinya adalah sebagian ahli bid’ah seperti mu’tazilah dan syi’ah.” ( Majmu’ Fatawa, 3/6. Mawqi’ Al Islam)

  Al Imam  Al Hafizh  Al Khathib Al Baghdadi Rahimahullah beliau berkata:

“Ijma’ ahli ijtihad dalam setiap masa adalah satu di antara hujjah-hujjah Syara’ dan satu di antara dalil-dalil hukum yang dipastikan benarnya”. (Al Faqih wal Mutafaqih, 1/154)

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Larangan Rasulullah Tentang Istinja

Seputar Madzi dan Mani

Pertanyaan

Assalaamu ‘alaikum Ust.
Utk bahasan ttg mani ini ada bbrp yg ana mau usulkan:

1. Seingat ana Ali bin Abi Thalib ra. yg ‘digelari abu madza’ prnh bbrp kali ditanya ttg hal d atas. (Dan dijawab bliau …, mgkn ada haditsny)

2. Alangkah baikny utk bahasan terkait seputar hal2 semacam bahasan ini terkait tubuh manusia, jg diberikan (dalil aqli selain naqli) & didiskusikan kpd ahli medis (dokter) yg tentu bnyk mnjd sahabat2 Ust. penulis d Depok.

Krn bahasan ttg masalah ini sdh tuntas di bidang anatomi tubuh manusia. Bhw mani walaupun di-ekskresi-kan (dikeluarkan melalui qubul) tp diproduksi oleh bagian tubuh yg berbeda.
Jalan keluar yg sama hny bermuara di uretra.
Bahkan ALLah SWT telah menciptakan bhw bila seseorang mengeluarkan mani maka tdk akan bisa mengeluarkan air kencing pd saat yg sama. (Hikmah bisa bnyk diambil dari hal tsb).

3. Bila kedua poin bahasan di atas sdh dilakukan maka akan semakin menguatkn bahwa mani adlh suci, namun memang perlu dibersihkan dgn sapuan yg berbeda dgn najis.  Membersihkn utk najis mnrt hadits kalau tdk salah “Menjadi tidak bernoda, tidak berbau.”

Wal ‘afwu minkum. #mohon tanggapan (I-17)


Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

Jazakallah khairan atas masukan dan usulnya …

1. Mungkin yang antum maksud adalah MADZI, bukan mani. Ali disebut Abu Madza karena Ali sering keluar madzi.

Ali Radhiallahu ‘Anhu :

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ ? فَسَأَلَهُ فَقَالَ فِيهِ الْوُضُوءُ

Aku adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku suruh Al Miqdad bin Al Aswad menanyakan kepada Nabi? Lalu Beliau menanyakannya dan Nabi bersabda: “Padanya wajib berwudhu.” (HR. Al Bukhari No. 132)

Pada hadits ini menunjukkan madzi itu hadats kecil, yaitu cukup baginya berwudhu, Nabi ﷺ tidak memerintahkannya untuk mandi junub.

Dalam riwayat lain:

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ ? لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ (فَسَأَلَهُ) فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ

Aku adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku suruh seseorang  untuk menanyakan kepada Nabi hal itu, karena posisi anaknya terhadap diriku (maksudnya Fatimah adalah istrinya, Ali malu bertanya langsung ke nabi, pen).  Lalu Beliau menanyakannya dan Nabi bersabda: “ Berwudhulah dan cuci kemaluanmu.” (HR. Al Bukhari No. 132)

Pada hadits ini menunjukkan bahwa madzi itu najis, karena Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencucinya kemaluannya. Kenajisannya telah disepakati ulama, tidak ada khilafiyah.

Syaikh Sayyid Sabiq berkata:

وهو ماء أبيض لزج يخرج عند التفكير في الجماع أو عند الملاعبة، وقد لا يشعر الانسان بخروجه، ويكون من الرجل والمرأة إلا أنه من المرأة أكثر،وهو نجس باتفاق العلماء

Itu adalah air berwarna putih yang merembas keluar ketika memikirkan jima’ atau ketika bercumbu. Manusia tidak merasakan apa-apa ketika itu keluar. Hal ini terjadi pada pria dan wanita, hanya saja wanita lebih banyak, dan dia (madzi) najis menurut kesepakatan ulama. (Fiqhus Sunnah, 1/26)

Apa beda Mani dan Madzi?

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْمَنِيِّ أَنَّ الْمَنِيَّ يَخْرُجُ بِشَهْوَةٍ مَعَ الْفُتُورِ عَقِيبَهُ ، وَأَمَّا الْمَذْيُ فَيَخْرُجُ عَنْ شَهْوَةٍ لاَ بِشَهْوَةٍ وَلاَ يَعْقُبُهُ فُتُورٌ

Perbedaan antara madzi dan mani adalah, bahwa mani keluar dibarengi dengan syahwat dan keadaan lemas setelah keluarnya, ada pun madzi bisa keluar dengan syahwat dan tanpa syahwat, dan tidak membuat lemas setelah keluarnya. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/141,Fathul Qadir, 1/42)

2. Jazakallah khairan masukannya.

Hal-hal seperti ini yang paling utama adalah dalil naqli dulu, lalu kemudian dalil ‘aqli sebagai penguat dan penyempurna, apalagi dalam hal-hal yang baru terkuak hikmahnya belakangan, bagi masyarakat modern dan rasional hal itu sangat penting.  Mendahului naqli di atas ‘aqli, itulah yang ditempuh para ulama baik dahulu dan kontemporer. Ada atau tidak ada penemuan-penemuan modern tersebut tentu tidak akan mengalihkan kita dari dalil-dalil naqli. Dalil ‘aqli (akal), ketika terdapat dalil naqli (Al Quran dan As Sunnah), sifatnya hanya mengkonfirmasi dan menguatkan. Hal ini penting, untuk menghindari kesan ilmu “cocoklogi” antara ayat dan hadits dengan penemuan modern, apalagi ilmu pengetahuan modern itu dinamis dan berkembang, bisa saling menafikan. Apa yang ditemukan hari ini, bisa dibantah esok hari.

Jika penemuan hari ini sesuai Al Quran dan As Sunnah, lalu besok ada penemuan lain yang berbeda tentu ini menjadi masalah yang tidak sederhana; bisa saja ada manusia yang menuduh Al Quran dan As Sunnah tidak sesuai penemuan modern. Oleh karena itu tidak semua ulama setuju metodogi perangkaian dalil Naqli dan ‘Aqli sekaligus, karena yang satu dogmatis, yang satu lagi dinamis. Dalil-dalil ‘aqli sangat diperlukan ketika berhadapan dengan kaum rasionalis ekstrim dan free thinkers.

3. Kesucian mani, memang tidak berarti kita membiarkan ketika menodai pakaian kita, mesti dibersihkan.  Sebagaimana penjelasan lalu.

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

QS. Nuh (Bag. 2)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

Materi sebelumnya:
http://www.iman-islam.com/2016/02/qs-nuh-bag-1.html?m=1

Dengan Dialog dan Bukan Dengan Doktrin

Nabi Nuh as dalam berdakwah tidaklah pernah memaksa, tidak juga menggunakan doktrin yang tidak masuk akal. Beliau berdakwah dengan penuh hikmah. Bahkan kaumnya diajak berdialog dengan membaca ayat-ayat kauniah Allah.

”Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal dia sesungguhnya telah menciptakanmu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. Kemudian dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkanmu (ke hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan. Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”. (QS. 71: 13-20)

1. Pertama, Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk mengenal penciptaan manusia yang bertingkat-tingkat. Siapakah yang menjadikan hal tersebut. Dari setetes air mani yang mengandung sperma yang membuahi ovum kemudian berubah melalui berbagai fase hingga kemudian membentuk janin yang sempurna sampai kemudian keluar dari rahim ibunya. Siapa yang mampu menciptakan hal seperti itu.

2. Kedua, Alam sekeliling manusia. Langit, bintang dan jagad raya yang ada terhampar begitu luas. Tak ada yang tahu seberapa luasnya. Di mana batas-batasnya. Siapakah yang menciptakannya. Dan siapakah yang menjadikan bumi menghampar sebagai tempat hidup manusia yang bisa berjalan ke mana saja untuk menjemput rizki dan karunia Allah.

Tapi, nihil. Hati kaum Nabi Nuh benar-benar tertutup. Lebih keras dari batu. Maka Nabi Nuh pun mengeluhkan pada Allah,
📌”Nuh berdoa: Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku” (QS. 23: 26)

Dalam surat ini Nabi Nuh lebih jelas berdoa,
📌”Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka., dan melakukan tipu-daya yang amat besar.” (QS. 71: 21-22)

Kukuh Dalam Kesalahan

Lihatlah bagaimana mereka bersikukuh pada ego mereka. Para pemuka kaum menyeru tak henti-henti pada semua orang. Anehnya perkataan mereka lebih didengar daripada perkataan Nabi Nuh as. Padahal mereka jelas-jelas menjerumuskan kepada kesesatan.

”Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (QS. 71: 23)

Wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr adalah nama-nama berhala yang mereka sembah.

Imam Bukhary meriwayatkan perkataan sahabat Ibnu Abbas ra.,”Tuhan-tuhan mereka ini kemudian disembah orang-orang di semenanjung Arab . Wadd disembah kabilah al-Kalb yang bertempat di Daumah al-Jandal, Suwwa’ disembah oleh Hudzail, Yaghuts oleh Murad dan Bani Ghutaif, Ya’uq disembah Kabilah Hamdan serta Nasr disembah Kabilah Hamir di Yaman …” ([6]).

Dulunya mereka adalah orang-orang shalih yang baik yang kemudian dikultuskan secara berlebihan oleh orang-orang yang datang setelah mereka. Syaitan pun bermain di sana untuk menyesatkan manusia.

📌”Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka. Maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah”. (QS. 71: 24-25)

Karena itu, sebagai pamungkas Nabi Nuh memohon yang terbaik. Menyerahkan ketentuan kepada Allah. Supaya Allah menghukum mereka.

📌” Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. 71: 26-27)

Dan sebagaimana kita tahu, air pun melimpah dari segala arah.

📌”Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan”. (QS. 54: 11-12)

Keluarga yang Dibanggakan

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Menangis Bukan Karena Kita Lemah

Penulis : Ustadzah Rochma Yulika

Sahabat Surgaku…
Pernahkah kita menangis?
Sudahkah kita menangis hari ini?

Atau….
Betapa sulitnya kita menangis?

Atau….
Kita malu jika harus menangis?

Apakah hati kita mudah disentuh oleh keagungan Nya?

Apakah hati kita mudah trenyuh kala merasakan betapa besar kasih sayang Nya?

Menangislah karena mampu merasakan cinta kepada Nya.
Menangislah karena telah sering melalaikan Nya.
Dan menangislah karena kita mendurhaka pada Nya.

Menangis itu perlu, karena banyak hal yg harus kita tangisi.

Teringat kata yang terlontar hingga datang petaka.
Terlintas sikap tak layak ada hingga datangkan lara di jiwa.
Terbersit sesal kala berperilaku yang jauh dari norma.

Sentuh hatimu dengan mengingat khilafmu.
Sentuh hatimu dengan mengingat dosamu
Dan sentuh hatimu dengan mengingat segala alpamu.

Menangislah…
Curahkanlah segala rasa bersalahmu hanya pada Rabbmu.

Kita perlu menangis bukan karena lemahnya diri kita, namun kita menangis karena kita punya hati.

Dalam Al Isra ayat 109 Allah menyampaikan pesan,”Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'”.

Dengan menangis akan menghadirkan kekhusyu’an.
Rasulullah pun menganjur kan kita menangis di banyak tempat dan momen.

1. Pertama, pada saat membaca Al Quran.
Beliau bersabda,”Bacalah Al Quran dan menangislah. Jika engkau tidak menangis maka berpura-puralah menangis.” (HR. Tiemidzi)

2. Kedua, pada saat rasa takut kita kepada Allah itu hadir.
Karena tangis kita akan memberi keselamatan. Beliau bersabda,”Dua jenis mata yang tidak disentuh oleh api neraka, mereka yang menangis karen takut kepada Allah dan mata yang piket malam di sabilillah.”

3. Ketiga, pada saat menyebut nama Nya dan menyendiri bersama Nya.
Rasulullah menyebutkan, bahwa satu golongan yg akan mendapat naungan Allah kelak pd hari kiamat adalah orang yg menyebut Allah dalam kesendirian, lalu kedua matanya berlinang air mata. (Mutafaq alaih)

4. Keempat, saat kita mendapat nasihat-nasihat keimanan.
Seperti kata ‘irbadh bin Sariyah ra,”Rasulullah saw menasihati hati kami dengan sebuah nasihat yang membuat mata kami berderai air mata dan hati kami pun bergetar.”

5. Kelima, ketika berada di waktu sore, setelah melampaui perjalanan hari dengan segala aktivitas.
Sepertin Adh Dhahhak bin Mazahim yg selalu menangis jika ia telah berada di sore hari. Saat ditanya,”Apa yang membuatmu menangis?”
Ia menjawab,”Aku tidak tahu, manakah diantara amalku yang terangkat ke langit hari ini.”

Dan kita wahai saudariku…
Pernahkah kita khawatir atas amal kita. Atau kita sudah merasa cukup dengan bekal yang akan kita bawa?

Merenungi sejenak sejarah perjalanan kita. Yakinkah kita dengan apa yang sudah kita lakukan? Sehingga kita bersantai dan berpangku tangan.

Bersegeralah kita mengevaluasi diri. Dan selalu memperbaharui niat karena Allah swt.

Keenam, saat kita tertinggal amalan utama. Sebagaimana Sa’ad bin Abdul Aziz rahimahumullah yg selalu menangis kala ketinggalan sholat berjamaah.

Kita menangis karena kita punya hati.
Kita menangis karena kita punya rasa empati.
Kita menangis karena ada duka dalam hati.
Kita menangis karena ada rasa takut pada Ilahi
Dan kita menangis lantaran beban berat yang tak mampu ditanggung sendiri.

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang mampu mendekat pada Ilahi Rabi.

Dengan kerendahan hati kita mengabdi. Dan dengan air mata yang hadir karena cinta hakiki.

Begitulah Menanda cinta dengan Air mata lantaran besarnya cinta pada yang Maha Pecinta.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Bila Pohon Semakin Meninggi

Penulis : Ustadzah Rochma Yulika
Serial motivasi diri di jalan Ilahi (1)
Bila pohon semakin meninggi, kan bersua dengan angin yang merobohkannya. 
Bila pohon semakin meninggi, kan bersua dengan hujan menderas yang kan menghanyutkan nya. 
Bila pohon semakin meninggi, akan bersua dengan teriknya matahari yang akan mengerontangkan nya. 
Bila pohon semakin meninggi, kan bersua dengan badai yang akan memporak-porandakannya
Namun menjadilah pohon yang tak hanya meninggi namun harus menghunjam kan akarnya agar tak mudah ditumbangkan, meski sedahsyat apapun kekuatan yang akan menyerangnya. 
Akar yang menghunjam itulah iman yang teguh, keyakinan yang penuh totalitas sehingga apa pun yang terjadi tak pernah lepas dari kehendak Allah. 
Batangnya yang kokoh dan menjulang tinggi menunjukkan ketangguhan dan kekokohan prinsipnya yakni untuk menegakkan kalimatullah. 
Itulah pohon yang baik. 
Kala meninggi hadirkan keteduhan dan kebermanfaatan bagi orang banyak. 
Daunnya pun semakin rimbun hingga hadirkan sepoi-sepoinya angin.  
Mari kita kuatkan motivasi dan azam  dalam bekerja mengusung amanah maka bagaikan pohon yang semakin kokoh akarnya. 
Dalam kondisi yang sulit, kita masih dapat bekerja dan terus tumbuh dengan amal kebaikan, itu menunjukkan kekuatan iman dan niat kita hanya untuk Allah. 
Pelajaran yang bisa dipetik adalah…..
Terkadang kesuksesan kita itu menjadi sandungan bagi orang lain. 
Keberuntungan-keberuntung an yang kita dapatkan dari Allah bisa membuat orang lain tidak rela. Entah apa pun namanya
Namun perlu disadari bahwa yang namanya angin, hujan, badai, terik matahari adalah sunatullah. Dan semua pasti akan berlalu. 
Kesabaranlah serta kesyukuran yang menjadi penjaga hati kita agar tetap melangkah tanpa terjeda sedikitpun. 
Asshobru minassayajaah… Sabar itulah wujud dari keberanian kita dalam menghadapi masalah. 
Begitu pula ungkapan syukur yang akan semakin meninggikan derajat kita di hadapan Allah. 
Allah telah berfirman: “Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?” (QS Al-Ankabut:2-3).
Sebuah keberuntungan bila diri kita menjadi terpilih melalui berbagai ujian. Karena itulah jembatan yang akan mengantarkan kita menuju surga. 
Skenario Allah kadang tidak kita pahami lantaran keterbatasan kita sebagai manusia. 
Jika manusia mau menyadari bahwa Rasulullah mengingatkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bermaksud: 
“Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian dan ujian bagi umatku ialah harta kekayaan.”
 
Masya Allah, Walhamdulillah, 
Wallahu Akbar,
Wallahu musta’an. 
Biarlah Allah yang atur skenario terbaiknya hingga beri keajaiban. Insya Allah.
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

AYAH YANG DIRINDUKAN (AWASSS!! INI TULISAN SERIUS, GAK NYANTAI)

Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN (twitter :@ajobendri)

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Yusuf : 4-5)

Lihatlah dialog yang terjadi antara ayah dan anak dalam ayat di atas. Sungguh adalah dialog yang indah. Dialog yang menggambarkan begitu dekatnya hubungan antara anak dan ayah. Sesuatu yang sekarang begitu jarang kita lihat. Ayah dan anak seringkali merasa asing. Bertegur sapa sebatas perlu. Layaknya orang yang sedang menunggu antrean busway. Isinya pun seputar PR anak, makan dan biaya kuliah.  Fisik mereka serumah namun jiwa mereka terpisah lain dunia.

Yusuf, dalam ayat tersebut diceritakan mendatangi ayahnya. Bertanya tentang sesuatu yang sangat pribadi. Yakni tentang mimpi yang dialaminya. Sebuah hal yang menunjukkan ia hanya akan tanyakan sesuatu kepada orang yang paling ia percaya. Dan ayahnya pun memahami arti mimpi tersebut bahwa itu adalah kabar gembira dari Allah untuknya. Dan demi menjaga hal yang tidak diinginkan, maka ia pun menasehati anaknya agar berhati-hati dengan mimpinya terutama tak menceritakan kepada saudaranya.

Yang menarik dari dialog di atas adalah panggilan Yusuf kepada ayahnya menggunakan sebutan  يا أبت, seolah-olah orang yang dipanggil, yakni Ya’qub ayahnya, berada di tempat yang jauh, padahal dia ada di depannya. Orang yang ada di depannya dibuat seakan-akan berada di tempat yang jauh menandakan ia dinantikan kehadirannya, karena yang dimaksudkan adalah menghadirkan hatinya dan perhatian terhadap sesuatu yang akan diceritakan (Hiwarul Aba’ Ma’al Abna fiil Qur’anil Kariim wa Tathbiqotuhut Tarbawiyah, Sarah Binti Halil Ad Dakhili)

Dari sinilah kita bisa mengambil dua pelajaran penting dalam konteks pengasuhan saat ini :
1. Adakah AYAH menjadi figur yang dirindukan oleh anaknya
2. Sejauh mana anak menaruh kepercayaan terhadap sang ayah

Ayah yang dirindukan. Ini menunjukkan ikatan hati yang terjalin sedemikian erat. Kesibukan ayah dalam mencari nafkah tak menghalanginya untuk menjalin ikatan batin kepada anaknya. Sehingga tiap pertemuan dirasa begitu berharga oleh anak. Kadang hanya singkat namun memberi makna. Ada kesan mendalam yang digoreskan dalam batin anak. Tentu hal ini terjadi jika ayah betul-betul menjalankan fungsinya sebagai pengasuh sekaligus pengasih.

Ketidakmampuan ayah menghadirkan kerinduan dalam jiwa anak berakibat kepada beralihnya perhatian anak kepada sosok-sosok lain diluar sana. Televisi dan segala perangkat digital menjadi rujukan mereka sekaligus pengisi kekosongan jiwa anak akan hadirnya ayah. Jiwa mereka telah terikat oleh pahlawan-pahlawan rekayasa buatan media. Dampaknya, kepulangan ayah ke rumah tak lagi dianggap istimewa. Ucapan salam ayah di depan teras rumah tak menggetarkan jiwa mereka untuk menyambut. Kalah dengan teriakan tukang bakso yang kadang membuat sebagian anak histeris menyambutnya.

Ketidakrinduan anak kepada ayah ini menjadikan fungsi ayah terbatas hanya kepada dua hal :
1. Memberi nafkah
2. Memberi izin untuk menikah

Tanpa sadar, anak menganggap ayah sebatas mesin ATM. Didatangi saat kehabisan uang belanja. Kehadiran ayah dirasa ada dan tiada. Bahkan banyak yang merasa sudah yatim sebelum waktunya meski sang ayah masih ada di sekitarnya. Wal’iyadzubillah…

Jika ini dibiarkan terjadi, maka hilanglah rasa kepercayaan anak kepada sang ayah. Dan ini ditandai dengan banyaknya ayah yang tak tahu kapan pertama kali anak lelakinya mimpi basah. Kenapa demikian? Sebab anak merasa sungkan untuk bertanya akan masalah seksualitas yang dialaminya. Bayangkan! Ayah menuntut anaknya untuk sholat subuh ke mesjid. Sementara anaknya baru saja mengalami mimpi basah dan tak tahu harus mandi junub. Sholat si anak tidak sah. Tentu ayah lah sebagai penanggung jawabnya.

Menjadi ayah yang dirindukan memang tak mudah. Layaknya menanam benih hingga menjadi tanaman padi yang bernas, butuh ketekunan, keseriusan dan kesabaran. Namun kelak ayah akan memanen hasilnya. Yakni berupa kepercayaan dari anak. Saat anak betah berlama-lama bercerita di hadapan ayah akan kegiatan sehari-harinya. Menjadikan ayah rujukan informasi pertama. Bahkan saat anak hadapi suatu masalah, ia tahu kepada siapa ia mencari solusi. Tak lain adalah ayahnya.

Bagi anak yang telah timbul rasa kepercayaan kepada ayahnya, sang ayah telah menjelma menjadi ‘super hero’ pertamanya. Memberi inspirasi di sepanjang perjalanan usia anak. Bahkan hingga ia berusia dewasa dan menua.
Tidakkah ini menjadi hal yang begitu menggembirakan bagi sang ayah? Saat petuah dan nasehat ayah senantiasa didengarkan dan dipatuhi anak. Bahkan saat ayah meninggal dunia, tak henti-hentinya anak mendoakannya seraya memohon ampun bagi sang ayah. Dan hal ini berdampak kepada kebahagiaan ayah di akherat. Perhatikanlah hadits berikut ini :
إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول : أنى لي هذا ؟ فيقال : باستغفار ولدك لك . ‌
“Sesungguhnya ada seorang AYAH yang diangkat derajatnya di surga, maka iapun heran dan berkata : Bagaimana ini bisa untukku? Maka dikatakan : disebabkan anakmu beristighfar (memohonkan ampun) untukmu” (HR. Ahmad, Al Baihaqi)

Subhanallah. Maka, jadilah ayah yang dirindukan. Ayah yang tak sekedar mengurus kebutuhan fisik anak namun juga jiwanya. Luangkan waktu untuk berbincang mesra bersama mereka. Tak boleh ada media lain yang membuat kekhidmatan obrolan menjadi rusak. Abaikan dulu HP, laptop dan segala jenis media yang selalu menempel di dekat ayah. Sebab anak juga punya perasaan. Tak ingin diduakan.

Kelak ayah akan menjadi sosok layaknya Ya’qub. Yang begitu dekat dengan anak-anaknya. Menjadi figur yang utama dalam kehidupan mereka. Mengiringi perjalanan hidup anak hingga mereka dewasa. Meski raga terpisah namun hati terikat dalam jalinan cinta. Seraya berharap terkumpul bersama di surga.

Ya, negeri ini sedang darurat ayah. Dengan kata lain anak-anak kita butuh hadirnya sosok ayah. Ayah yang siap mengorbankan kesenangannya menonton bola di malam hari untuk membacakan cerita sebelum anak tidur. Ayah yang siap mengeluarkan segala jurus untuk mengikat hati anaknya. Ayah yang menjadi pahlawan pertama bagi mereka. Agar tak ada lagi anak-anak yang begitu ditanya : dimana ayahmu? Mereka cuma bisa menjawab ‘tau’ ah gelap’.

Ayah, pulanglah!

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

KARENA KEBERSIHAN HATI PENGHUNINYA, SURGA BISA TERASA DALAM RUMAH KITA (Bag-2)

Pemateri: Ustadzah Dra. INDRA ASIH

Materi sebelumnya ….
(Bag 1 & 2) http://bit.ly/1RdrwWs

Agar surga ada di rumah kita :
3. Perbanyak membaca Al-Qur’an, jangan sampai hari dalam rumah kita terlewatkan tanpa membaca dan memahami kalam-kalam Allah. Al-Quran di turunkan bukan hanya untuk mencari berkah dengannya, tetapi Allah turunkan sebagai pelajaran, nasihat, obat, dan pedoman hidup.

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِ نِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat/pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus: 57).

 وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk peringatan/pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?” (QS al-Qamar: 17).

4. Perbanyak dalam rumah kita mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dzikrullah, karena dengan berdzikir kita akan senantiasa merasa diawasi oleh Allah, sehingga hati dan pikiran lebih terkontrol untuk berhati-hati dalam berniat dan beramal.

 الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَََّّ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالَِْرْ ضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau ducom
 atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’.” (QS. Ali ‘Imran: 181)

5. Berlatihlah untuk berbahagia dengan kebahagiaan orang lain. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidaklah (sempurna) iman seseorang diantara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Sehingga penting bagi kita untuk pandai-pandai menata hati. Ketika melihat tetangga beli mobil baru, maka biasanya syubhat mengganggu hati dengan berpikiran su’udzon. Maka hendaklah dengan lapang dada kita berpikiran bahwa ketika tetangga beli mobil baru, adalah suatu kebahagian pula untuk kita karena (Alhamdulillah) kita nanti bisa numpang, kita bisa merasakan pula nyamannya mobil tersebut. Subhanallah, betapa tentram hati kita sekeluarga ketika kita mampu menata hati dengan baik, maka semua yang terjadi akan terasa sebagai nikmat, nikmat dan nikmat. وَإِذْ تَأذََّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لََِزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

6. Bila kita dilempari batu, maka tangkaplah batu itu, kumpulkan dan bangunlah dengannya sebuah rumah yg indah. Ketika ada yang mengkritik, terima kritikan tersebut dengan sebuah senyuman disertai ucapan “terima kasih”. Dua hal ini akan membuat si pengritik langsung tahu bahwa yang dikritik bukanlah orang sembarangan. Mengucapkan “terima kasih” plus senyum pada saat dihujani kritik adalah sebuah sinyal bahwa kita sudah dewasa dan matang. Kata “terima kasih” dan senyum juga bisa menjadi “serangan balik” yang baik bagi mereka yang mengkritik karena biasanya mereka belum tentu akan melakukan hal yang sama pada saat dirinya yang kena kritik.

7. Janganlah menangisi nasi yang telah menjadi bubur, karena itu hanyalah akan menyia-nyiakan waktu.

Bangkitlah dan bersemangatlah untuk membuat sebab takdir Allah menjadi lebih baik. Jangan pernah mengucapkan kata-kata yang mengundang syubhat dari syaithan, seperti mengatakan, “Seaindainya aku melakukan itu, pastilah akan terjadi begini.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mengucapkan “Seandainya demikian maka demikian” karena ucapan itu akan membuka celah munculnya hal-hal tersebut. Orang yang tabah menyadari bahwa semuanya sudah ditakdirkan, dia tidak menyesali kesungguhan dan upaya yang sudah ditempuhnya. Oleh karenanya Nabi memerintahkan kita untuk berkata, “QaddarAllahu wa maa syaa’a fa’ala”. Biarlah terjadi karena memang itulah yang sudah ditakdirkan Allah. Tiada gunanya mengeluh dan berandai-andai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllahu wa maa syaa’a fa’ala’ (Allah telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya), Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim).

8. Tata hati dengan gemar berbagi. Anas bin Malik mengisahkan, “Dahulu Abu Thalhah adalah orang Anshar di Madinah yang paling banyak harta kebun kurmanya. Kebun yang paling dicintainya adalah “Bairuha”, kebun itu ada di depan masjid yang Nabi selalu memasukinya untuk minum airnya yang bagus.” Anas mengisahkan,

“Ketika turun ayat ‘Kalian tidak akan memperoleh kebaikan hingga kalian menginfakkan sesuatu yang kalian cintai.’ Abu Thalhah bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan memperoleh kebaikan hingga kalian menginfakkan sesuatu yang kalian cintai.’ Sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah “Bairuha”, harta itu aku sedekahkan di jalan Allah, aku harapkan kebaikan dan pahalanya di sisi Allah, berikanlah wahai Rasulullah sebagaimana Allah perlihatkan kepada engkau. Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam kemudian bersabda, “Itu harta yang baik, aku telah mendengar apa yang kamu katakan. Menurutku engkau berikan saja harta itu kepada kerabat-kerabatmu.” Abu Thalhah berkata, “Aku akan melakukannya wahai Rasulullah.” Lalu ia bergegas membagikan harta itu kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).

9. Kunjungilah fakir miskin dan seringlah mengingat kematian, karena dengan itu kita menjadi sadar bahwa dunia ini benar-benar hina, hidup di dunia tidaklah lama, dan hidup di dunia hanyalah untuk mencari bekal menghadap Allah Rabbul ‘alamin. Sehingga keluarga kita akan tumbuh menjadi orang-orang yang qana’ah, zuhud, dan suka berbagi kebahagiaan.

 الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَ بِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi : 46).

 وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَََّّ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal : 28).

Harta bukanlah tujuan, namun tidak lebih hanya sebagai salah satu sarana dan bekal untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala telah berfirman dalam salah satu ayat-Nya,

 انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَ بِيلِ اللََِّّ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah : 41).

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender)

Pemateri: Dr. Wido Supraha (wido@supraha.com)

LGBT mulai ramai digunakan sekitar tahun 90-an di media-media Amerika untuk menggantikan istilah Gay untuk dapat meliputi cakupan penyimpangan seksual yang lebih luas.

Keberanian untuk membuka pembicaraan tentang hal yang tabu ini telah ditemukan dimulai sekitar tahun 50 atau 60-an dengan mengganti istilah homoseksual dengan homophile, kemudian dirubah menjadi gay di tahun 70-an. Terdapat istilah lain tapi tidak terlalu populer seperti sexual minority.

Komunitas dengan gejala penyakit kejiwaan ini, kemudian mengkonsolidasikan kekuatan mereka, sekaligus memanfaatkan berbagai celah di banyak negara, khususnya negara-negara yang telah melepaskan agama sebagai ruh negara dan politik, untuk menampilkan diri mereka di tengah alam kebebasan yang kebablasan.

Lahirlah kemudian beragam syubhat, pemikiran-pemikiran baru yang mencoba untuk semakin menguatkan eksistensi mereka, sekaligus mendorong tingkat penerimaan masyarakat religius sekalipun khususnya masyarakat yang tidak memprioritaskan ilmu dalam kehidupan mereka. Namun benarkah syubhat tersebut?

Mari kita kumpulkan sebagian di antara syubhat mereka tersebut, dan kita coba menjawabnya bersama-sama.

Nabi Luth a.s. tidak pernah berdakwah kepada kaum LGBT, dan bahkan kaum Nabi Luth a.s. bukanlah kaum LGBT

Al-Qur’an menggunakan bahasa yang sangat tinggi untuk menggambarkan betapa bejatnya kebiasaaan kaum nabi Luth bin Haran bin Azar a.s., putra dari saudara laki-laki Nabi Ibrahim a.s., sang Kekasih Allah itu. Telah hilang dari jiwa mereka rasa ketertarikan kepada wanita dikarenakan kebiasaan mereka mengikuti hawa nafsu syaithan dalam mencintai sesama jenis.

Bahkan kemudian, tamu Nabi Luth a.s. yang tentunya sangat layak untuk dihormati, tidak kurang menjadi target yang paling menarik bagi mereka. Inilah diantara yang dapat dipahami ketika Allah Swt berfirman,

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ

“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” (QS. Huud: 78)

Sebagai seorang Nabi, Luth a.s. telah berdakwah dengan berbagai upaya untuk mengobat penyakit yang diderita akal mereka. Ia mengingatkan sentiasa agar umatnya bertaubat, khususnya dari perilaku LGBT. Ini pemahaman yang jelas ketika Allah Swt berfirman,

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al A’raf: 80-81)

Bahkan kemudian Allah Swt menguatkan ayat tersebut dengan firman-Nya,

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ , وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’ara: 165-166)

Dalam setiap rencana strategis dakwah Nabi Luth a.s. selalu telah diketahui terlebih dahulu oleh lingkungan eksternal, hal ini karena pengkhianatan isterinya, sebuah pengkhianatan ideologis. Namun kita melihat bahwa LGBT tidak pernah ditoleransi oleh Nabi Luth a.s., tapi selalu dicarikan solusi penyembuhannya.

LGBT adalah karunia dari Tuhan

Faktanya hingga hari ini, seluruh penelitian tidak mampu membuktikan teori tersebut. Peneliti pertama yang memperkenalkan adanya gen gay adalah Magnus Hirscheld dari Jerman (1899), berikutnya ada Dr. Michael Bailey dan Dr. Richard Pillard di tahun 1991, dan dilanjutkan oleh Dean Hamer (seorang gay) di tahun 1993. Berbekal penelitian Dean Hamer, Prof. George Rice (Universitas Western Ontarion, Kanada) kembali riset di tahun 1999, dan Prof. Alan Sanders (Universitas Chicago) diketahui juga meneliti masalah gay di tahun 1998-1999, dan tidak menemukan apapun.

Lihat : trueorigin.org/gaygene01.php

“Kami menerima bahwa lingkungan mempunyai peranan membentuk orientasi seksual … Homoseksualitas secara murni bukan karena genetika. Faktor-faktor lingkungan berperan. Tidak ada satu gen yang berkuasa yang menyebabkan seseorang menjadi gay … kita tidak akan dapat memprediksi siapa yang akan menjadi gay.”

“Silsilah keluarga gagal menghasilkan apa yang kami harap temukan yaitu sebuah hukum warisan Mendelian yang sederhana. Faktanya, kami tidak pernah menemukan dalam sebuah keluarga bahwa homoseksualitas didistribusikan dalam rumus yang jelas seperti observasi Mendel dalam tumbuhan kacangnya.” (Dean Hamer. Mengenal pemikiran beliau dapat klik: https://www.youtube.com/watch?v=qJVkOKslXnQ)

Pencarian sebuah gen gay bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks.

Ada berbagai komponen genetik dalam semua yang kita lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat. Tapi saya tidak berpikir gen-gen itu menentukan.” (Ruth Hubbard, pengurus “The Council for Responsible Genetics”, penulis buku “Exploding the Gene Myth”).
Saksikan wawancara bersama Ruth Hubbard di http://gender.eserver.org/exploding-the-gene-myth.html)

American Psychiatric Association (APA) menerbitkan buku panduan psikologi berjudul Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” (DSM). Di Indonesia, ada buku saku yang merupakan rangkuman singkat DSM bernama (Pedoman Penggolongan & Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). Namun 5 (lima) dari 7 (tujuh) orang tim pembuat DSM adalah homo dan lesbian. Anggota task force APA terdiri dari Judith M Glassgold Psy. D sebagai ketua (Lesbian), Jack Dreschers MD (Homoseksual), A. Lee Beckstead Ph.D (Homoseksual), Beverly Grerne merupakan Lesbian, Robbin Lin Miler Ph.D (Bisexual), Roger L Worthington (Normal) tapi pernah mendapat “Catalist Award” dari LGBT Resource Centre, dan Clinton Anderson Ph.D (Homoseksual). (Lihat Rita Soebagyo dalam wawancara dengan Hidayatullah Online.)

Kecenderungan LGBT juga perlu diwaspadai dari pemilihan faktor makanan dengan banyak 3P (Pewarna, Pengawet dan Perasa) dan diperburuk semakin banyaknya radikal bebas seperti Polusi Udara dan Asap Rokok. Hal ini di antara yang memicu lahirnya penyakit degeneratif, maka kita menyaksikan adanya pria di usia 40 tahun yang telah memiliki anak dan istri kemudian diketahui bersifat transgender.

Gay bukan penyakit menular

66% faktor lingkungan sangat mempengaruhi jiwa seseorang menjadi Gay (Pandangan NiklasLangstrom, seorang Professor di Karolinska institutet, Senior Researcher, Correctional Services, Twitter: @NiklasLangstrom)

Para pendukung gay kemudian mencoba menularkan mereka dengan ragam aktifitas. Di dunia pendidikan, mereka mendorong konsep baru yakni bahwa orang tua harus memposisikan dirinya sebagai fasilitator bagi anak sejak kecil dalam menentukan pilihan gendernya, dan agama tidak boleh berperan mengintervensi.

Maka kemudian jangan terkejut jika ada seorang anak yang telah tertular pemikiran ini dengan tanpa berdosa berbicara di depan publik bahwa gender adalah anugerah dari Tuhan dan tidak boleh ada yang mengecam mereka yang berbeda gender.

Pakar Kedokteran Jiwa, Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater menyebutkan bahwa suara-suara yang menghalalkan perkawinan sejenis (homoseksual dan lesbian) sebenarnya lebih bersumber dari jiwa yang sakit, emosi yang tidak stabil dan nalar yang sakit.

Penyakit homo/lesbi ini bisa diobati. Kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, terutama faktor pendidikan keluarga di rumah dan pergaulan sosial.

Homoseksual dapat dicegah dan diubah orientasi seksualnya, sehingga seorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar lagi (heteroseksual). (Dadang Hawari, Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual)

Sebagian dokter banyak menceritakan pengalaman mereka. Misalkan bagaimana seorang penderita gay baru datang ke dokter ketika duburnya sudah rusak. Ia kemudian tidak jadi berobat setelah melihat sendiri bagaimana tingkat kerusakan duburnya yang sangat parah.

Sebagian gay mungkin baru tersadarkan setelah nasi menjadi bubur, bahwa ternyata para pendukung LGBT tidak akan membersamai mereka di saat kondisi mereka semakin kritis.

Ketika para dokter dan perawat pun sangat berhati-hati memegang tubuh mereka yang mengidap banyak penyakit menjijikan, namun pada saat itu, hanya orang tua merekalah yang penuh ikhlas merawat mereka, meski sebelumnya merekalah orang tua yang paling keras mengecam perilaku anaknya.

Gay tidak bisa disembuhkan karena bukan penyakit

Sebagian psikiatri ketika merewind masa kecil seorang pengidap gay, menemukan bahwa kebanyakan biseksual memiliki trauma masa kecil dengan ibu atau bapaknya, sehingga ia lebih nyaman berbicara dengan selain orang tuanya.

Seorang anak yang tumbuh dengan kecenderungan ‘melambai’, mungkin karena ia dibesarkan di lingkungan dengan jumlah wanita lebih banyak (keluarga dekat atau teman sekolah), berpotensi akan terus menguat jika orang tua dan lingkungannya tidak segera meluruskan perilakunya atau pilihan-pilihan hidupnya.

Misalkan ketika seorang anak laki-laki lebih memilih penjepit rambut dan boneka, maka orang tua harus segera memberikan alternatif atas pilihannya.

Dalam hal ini peran ayah tidak boleh hilang. Sebagus apapun seorang ibu menceritakan kisah kepahlawanan pria, tidak akan sama jika ayah yang menceritakan dan meneladankannya.

Seorang anak yang terbiasa menonton media massa akan perilaku pria-pria yang sengaja ‘melambai’ dan tidak didampingi orang tuanya berpotensi untuk meniru, atau minimal menjadi sosok yang menerima keadaan.

Maka orang tua harus selalu menemani dan memberikan pelajaran positif bagi anaknya agar tetap tegas dalam kelelakiannya dan memandang bahwa apa yang disaksikannya adalah bentuk penyimpangan kejiwaan. Yang patut disayangkan film kartun Ipin dan Upin pun masih terdapat tokoh Bang Saleh yang dapat mengganggu perkembangan identitas anak.

Dalam konteks tumbuh kembang anak, terapi terhadap orang tua jauh lebih penting agar dapat lebih optimal membersamai anak-anaknya, sehingga wabah penyakit tidak keburu menjadi kronis dan sulit disembuhkan.

Sebagai penutup, mari kita cegah berkembangnya pemikiran dan nafsu LGBT minimal melalui cara berikut ini:

1.  Meningkatkan peran dan kualitas orang tua

2. Menguatkan pendidikan agama

3. Memperhatikan asupan makanan

4. Memperhatikan lingkungan pendukung

5. Memperhatikan bahaya informasi media

Wallahu A’lam.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

JEBAKAN DI ATAS JEBAKAN

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pengepungan dan Penyerbuan Szigetvár
6 Agustus s/d 8 September 1566

Pengepungan ini dieja sebagai [ˈsiɡɛtvaːr] dalam bahasa Hungaria dalam istilah Szigetvár ostroma, dalam istilah Kroasia sebagai: Bitka kod Sigeta atau Sigetska bitka, dan dalam istilah Turki sebagai: Zigetvar Kuşatması.

Pengepungan terhadao kota Szigetvár menjadi sebuah keharusan karena ia adalah titik itu berada pada jalur keberangkatannya menuju pengepungan kota Wina (Vienna) pada tahun 1566. Pertempuran yg terjadi bersamaan dengan pengepungannya mempertemukan antara kekuatan Kerajaan Habsburg Austria yang dipimpin oleh Ban-Kroasia yg bernama Nikola Šubić Zrinski (dalam bahasa Hungari: Zrínyi Miklós) melawan Khilafah Turki Utsmani yang dipimpin langsung oleh Sultan Suleiman I Kanuni  (the Magnificent).

Latar Belakang

Setelah kekalahan di Mohács tahun 1526, yg mengakibatkan hilangnya kedaulatan Kerajaan Hungaria, Ferdinand I diangkat menjadi raja oleh para bangsawan Hungaria dan Kroasia. Setelah itu terjadilah serangkaian konflik yang menimpa Kerajaan Habsburg beserta sekutunya melawan Turki Utsmani. Pada Perang Pendek (Little War) kedua pihak kehabisan energi akibat besarnya korban yg jatuh. Kampante militer Turki Utsmani mereda hingga dimulainya penyerangan terhadap Szigetvár ini.

Pada bulan Januari 1566, tanoa disadarinya, Sultan Suleiman I berangkat perang untuk yang terakhir kalinya. Pengepungan Szigetvár yg berlangsung dari 5 Agustus hingga 8 September 1566 walau berakhir pada kemenangan Turki Utsmani namun kedua pihak kembali mengalami jatuhnya korban yg besar. Kedua pemimpinnya juga wafat dalam kejadian ini, Zrinski gugur pada serbuan terakhirnya sedangkan Suleiman wafat di tendanya karena sakit.

Lebih dari 20 ribu pasukan Turki Utsmani yang gugur dalam beberapa kali serbuan sedangkan hampir seluruh pasukan pertahanan Zrinski yg berjumlah 2.300 orang itu gugur semua. Sebagian besar barisan pertahanan terkahir yang gugur pada hari terakhir mencapai jumlah 600 orang. Pengepungan dan pertempuran itu kembali menghentikan langkah Suleiman menuju Vienna tahun itu. Setelah beliau wafat, Vienna aman dari ancaman hingga ke pengepungan berikutnya tahun 1683.

Pentingnya Arti Pertempuran Ini

Pertempuran ini penting artinya sampai-sampai seorang pemuka agama Perancis, Cardinal Richelieu, sempat menjelaskan bahwa “pertempuran ini telah menyelamatkan peradaban [barat].” Pertempuran ini masih populer dalam kesejarahan bangsa Kroasia dan Hungaria.

Pergerakan Pasukan

Pada bulan Januari 1566, Suleiman I Kanuni telah memerintah Khilafah Turki Utsmani selama 46 tahun dan usianya telah mencapai 76 tahun. Ia menderita penyakit asam urat (gout) sehingga keberangkatannya ke medan perang yg ketigabelas ini harus ditandu. Pada tanggal 1 Mei 1566, beliau berangkat dari İstanbul mengepalai balatentara Turki Utsmani terbesar yg pernah dipimpinnya.

Sedangkan lawannya, Ban Nikola Šubić Zrinski adalah pemiliki tanah paling luas di seluruh Kerajaan Kroasia, seorang komandan tempur yg berpengalaman, dan menjadi kepala para bangsawan (Ban) seKroasia selama periode 1542-1556. Pada awal karir hidupnya ia pernah merasakan pertempuran Vienna dan status kemiliterannya cemerlang.

Pasukan Turki Utsmani mencapai kota Belgrade pada 27 Juni setelah long-march selama 49 hari. Di sini Suleiman I bertemu dengan John II Sigismund Zápolya yg pernah ia janjikan utk menjadi pemimpin seluruh wilayah Hungaria. Sesampainya di Belgrade, Suleiman I mengetahui bahwa Zrinski sudah berhasil merebut pemukiman Turki di Siklós. Atas perkembangan ini beliau memutuskan untuk menunda rencana penyerangannya atas Eger/Erlau dan mengalihkan perhatiannya pada benteng Szigetvár guna melenyapkan ancaman ini sebelum meneruskan rencana besarnya.

Pertempuran

Elemen intai terdepan dari balatentara Turki Utsmani sampai di pinggir kota Szigetvár pada tgl 2 Agustus dan, diluar dugaan, pasukan Hungaria menyerang lebih awal dan sempat mengakibatkan kerugian yg tidak sedikit. Namun keadaan kacau ini segera diredakan sebelum akhirnya sultan tiba dengan pasukan utamanya pada hari Senin 19 Muharam 974 Hijriah. Tenda kebesarannya dibangun di atas bukit Similehov dimana ia dapat melihat keseluruhan pandan medan tempur. Dihambat mobilitas oleh penyakitnya, maka sultan menerima laporan harian di tendanya langsung dari Menteri Utamanya yg dijabat oleh Sokollu Mehmed Pasha. Sokollu merupakan panglima di lapangan.

Pengepungan itu dimulai keesokan harinya ketika sultan mengeluarkan perintah utk menyerbu parit pertahanan; gelombang pertama ini dihentikan setelah sultan mempelajari pola bertahan lawannya. Walaupun pertahanan di Szigetvár sebenarnya kurang personil dan kalah jumlah berkali lipat, namun mereka sampai akhir pertempuran tidak pernah dikirimi bantuan apapun dari Vienna.

Setelah beberapa bulan dikepung dengan penuh nestapa, sedikit personil pertahanan yg tersisa terpaksa mundur ke dalam pertahanan kota tua untuk mempersiapkan garis mundur terakhir jika bala bantuan tidak kunjung datang. Sebenarnya sultan telah memberikan peluang kepada Zrinski untuk menyerah dengan tawaran sebagai penguasa Kroasia dibawah Turki Utsmani namun sang Ben tidak pernah menjawab dan berniat untuk terus bertahan.

Benteng terkahir inipun sudah menunjukkan tanda-tanda kejatuhan namun para pemimpin kesatuan Turki Utsmani di lapangan tetap menunjukkan keraguan. Pada hari Jum’at 21 Safar 974 Hijriah (6 September 1566) sultan Suleiman I Kanuni – cucu Sultan Mehmed II Fatih – ini wafat di dalam tendanya. Kewafatannya dirahasiakan sedemikian rupa oleh lingkar satunya dan dengan segera kurir diperintahkan untuk mengantarkan surat tsrsegel kepada calon penerusnya, Selim II, untuk bersiap-siap. Sang kurir pun tidak mengetahui isi berita yg ia bawa menuju kediaman sang penerus yg berada jauh di sebelah timur Anatolia. Perjalanan jauh ini hanya ditempuh dalam 8 hari saja.

Pertempuran Terakhir & Jebakan

Babak terakhir terjadi keesokan harinya dimana benteng tersebut sudah tinggal puing-puing yg berserakan serta api yg menyala, dengan drum mesium menebarkan bau yg menyengat di sana-sini. Pada pagi hari dikeluarkanlah perintah serbuan terakhir dimana pasukan terdepan dibekali dengan “Api Yunani” setelah titik-titik pertahanan terakhir dihujani mortir terlebih dahulu. Dampaknya adalah, bangunan terakhir itu rubuh dan menimpa kamar-kamar imperial dan bekas barak.

Zrinski tetap bertaham dan tidak membiarkan pasukan Turki Utsmani utk menerobos ke bagian dalam istana. Kini lautan pasukan Turki Utsmani itu merangsek memenuhi jembatan kecil yang menghubungkan dengan istana bagian dalam. Tiba-tiba gerbangnya terbuka dan meriam kaliber besar Hungaria yg sudah disiapkan pun menyalak dan memuntahkan ratusan patahan besi yg menyambar nyawa sekitar 600 pasukan lawan terdepan tanpa ampun.

Setelah itu Zrinski memimpin serbuan balasan dari arah dalam istana menuju barisan pasukan Turki Utsmani yg masih terkesima dengan kejutan tadi. Keenam-ratus pasukan yg dipimpin oleh Zrinski itu mendapati pasukan lawannya tidak bergeming dan bentrokan jarak dekatpun tak terelakkan. Zrinski terkena tembakan musket dua kali tepat di dada dan panah tepat di kepala sebelum roboh. Sisa-sisa pasukannya mundur kembali ke istana bagian dalam.

Akhirnya pasukan Turki Utsmani berhasil merebut istana bagian dalam itu dan seluruh personilnya dieksekusi kecuali segelintir yg dibiarkan hidup oleh kesatuan Janisari atas kesalutan terhadap mereka. Tercatat hanya 7 orang pasukan Hungaria yg lolos atau dibiarkan lolos. Jasad Zriski dilepaskan dari kepalanya, jasadnya dikebumikan dengan penghormatan militer penuh, sedangkan kepalanya dibawa sebagai bukti kemenangan di hadapan pasukan.

Jebakan Lagi

Sebelum istana bagian dalam itu berhasil direbut oleh pasukan Turki Utsmani dan bahkan sebelum serbuan terakhir yg dipimpin oleh Zrinski, ia telah memerintahkan agar tumpukan mesiu di basement istana tersebut sdh dinyalakan dengan sumbu yg lambat. Benar saja, setelah semua personil pertahanan ditaklukkan maka pasukan Turki Utsmani berhamburan ke dalam istana dalam tersebut tanpa menyadari adanya jebakan lagi.

Ledakan tiba-tiba itu merenggut lebih banyak lagi pasukan terbaik Turki Utsmani!

Nyawa sang menteri utama nyaris terancam jika ia tidak diberi peringatan oleh pelayan Zrinski tentang jebakan itu ketika ia dan pengawalnya sedang memeriksa kamar pribadi Zrinski. Pelayan yg sama itu mengatakan bahwa harta pribadi Zrinski tekah tergadaikan semua untuk memperbaiki benteng tersebut. Mendengar dan mempercayai berita jebakan tersebur membuat Sokollu beserta pasukan pengawal berkudanya bergegas meninggalkan istana dalam bersama pasukan lainnya.. waktu yg demikian pendek menyebabkan tidak cukup waktu untuk mengevakuasi selurunya. Ledakan tersebut membawa serta hampir 3.000 pasukan terdepan Turki Utsmani wafat secara mengenaskan.

Akhir Pengepungan

Korban di pihak Turki Utsmani sangat besar sejumlah 7.000 Janisari, 28.000 pasukan infanteri lainnya, 3 orang berpangkat pasha, dengan total keseluruhan sekitar 20-35 ribu pasukan.

Setelah pertempuran itu Sokollu memalasukan cap kesultanan utk mengirimkan berita kememangan tersebut agar wafatnya Suleiman tidak diketahui dahulu. Surat tersebut juga menjelaskan kepada para komandan lapangan mengapa ekspedisi ke Vienna dibatalkan. Kondisi kesehatan sultan juga dijadikan alasan ia tidam dapat menemui pasukan yg menang itu secara langsung. Jenazah sultan dibawa balik ke İstanbul dan para pemimpin lingkar-1 bersandiwara seolah-olah terus berkomunikasi dengannya. Kerahasiaan tersebut dijaga selama 3 pekan lamanya dan dokter istana pun terpaksa diamankan untuk tetap menjaga kerahasiaan tersebut.

Letihnya perjalanan yang panjang dan taqdir juga yang mewafatkan sultan sehingga misi ke Vienna terpaksa dibatalkan. Sokollu harus kembali ke İstanbul utk menerima perintah berikutnya dari Sultan Selim II. Kalaupun sultan masih hidup, serbuan ke Vienna pun harus ditunda karena masa akhir penyerbuan ke Szigetvár sangat dekat dengan awal musim dingin. Pertahanan yg “bandel” di Szigetvár ternyata menjadi “penyelamat” basib kota Wina.

Agung Waspodo, kali ini tidak perlu menyimpulkan apa2 karena seluruhnya merupakan kesimpulan bagi mereka yg bersedia berpikir setelah 449 tahun kemudian, kurang satu hari..

Depok, 6 Agustus 2015, pas masuk waktu maghrib.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com