QS. Nuh (Bag. 1)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Orang-Orang Pilihan

Menjadi orang-orang pilihan yang dihargai karena prestasi adalah merupakan sebuah kebahagiaan. Sebuah kepuasan psikis. Sangat manusiawi. Lantas, bagaimana jika orang-orang pilihan tersebut dipilih dan dinobatkan langsung oleh Allah serta diabadikan dalam kalam sucinya dan dibaca oleh jutaan bahkan milyaran manusia.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (QS. 3:33)

Rahasia apakah yang membuat mereka terangkat dalam lembaran sejarah sebagai orang-orang pilihan. Adam dan Nuh mewakili dua teladan individu secara personal. Dan keluarga Ibrahim serta keluarga Imran menjadi sebuah prototipe keluarga yang layak untuk diikuti jejaknya.

Dalam kesempatan kali ini kita akan menelusuri jejak-jejak dakwah Nabi Nuh as. Sebagai salah satu individu yang difigurkan serta layak untuk diteladani. Khususnya kisah beliau yang terangkum dalam Surat Nûh yang diturunkan Allah di Makkah setelah Surat an-Nahl ([1]) . Seorang dai dan nabi yang menyeru kepada kalimat Allah hampir sepuluh abad lamanya, namun hanya segelintir orang saja pengikutnya. Bahkan istri dan anaknya termasuk orang-orang yang menghalangi, memusuhi dan melawan dakwahnya. Namun, hal tersebut tak membuat beliau surut berdakwah.

”Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): ”Berilah kaummu peringatan sebelum datang adzab yang pedih”. (QS. 71: 1))

Dan tugas utama seorang nabi dan utusan Allah adalah menyampaikan risalah-Nya. Risalah pengesaan dan totalitas penghambaan kepada Allah.

”Nuh berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”. (QS. 71: 2-4)

Keangkuhan dan Gengsi Sosial

Bukan bunga yang ditaburkan, bukan pula pujian yang diterima, dan tidak pula orang-orang berbondong-bondong mendengarkan dakwah Nabi Nuh as. Yang terjadi justru sebaliknya. Dengarlah saat dengan penuh kepasrahan beliau mengadu kepada Allah,

”Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka masukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajah) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (QS. 71: 5-9)

Nabi Nuh. As menyeru kaumnya siang dan malam. Dilakukan dengan cara diam-diam dan terang-terangan. Justru respon mereka sangat menyakitkan hati. Mereka menyumpal telinga dengan jari-jari. Jika Nabi Nuh meneruskan dakwahnya mereka pun mengangkat kain untuk menutupi wajah mereka. Agar mereka tidak melihat beliau menyampaikan dakwahnya, tidak juga mendengar apa yang dikatakannya ([2]).

Namun, Nabi Nuh as. tetap melanjutkan dakwahnya sampai kemudian datang ketentuan Allah.

”Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS. 11: 36)

Nabi Nuh pun mematuhi titah-Nya yang kemudian memerintahkan kepada-nya membuat perahu di tengah padang pasir. Sebuah perintah yang kemudian dilecehkan kaum-kaumnya. Mereka menertawakannya, menganggapnya gila bahkan berusaha merusaknya.

Icon Kesabaran yang Luar Biasa

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *