Silaturahim Hanya Dengan Saudara Satu Nasab?

Assalaamu’alaikum Wr Wb

Terkait dengan materi ustadz Wido Supraha tentang silaturahmi,
Saya pernah mendengar seorang ustadz lulusan Timur Tengah mengatakan bahwasanya silaturahim itu untuk saudara senasab, saudara yang mungkin ketemu di kakeknya atau ternyata saudara karena sama kakek buyutnya dst.

Dan apabila menjalin hubungan dengan yang bukan senasab tidaklah dikatakan sebagai silaturahim namun hanya berbuat baik sesama muslimin dan mu’minin.

Bagaimana menurut ustadz?

Jazaakumulloh khoiron

[Manis_A22] ————–

JAWABAN:

Ibu. Betul saya sependapat, dan dalam tulisan saya (http://supraha.com/?p=535) telah saya sebutkan makna aslinya dan kemudian mengapa saat ini banyak digunakan untuk selain nasab, karrna karena manusia mengambil inspirasi dan keteladanan dari kuatnya silaturrahim senasab. Sehingga saya tuliskan, ‘…. dan menjadi sumber inspirasi untuk dikembangkan kepada umat manusia secara umum.’

Maka manusia yang tidak senasab tiba-tiba terbangun ikatan ukhuwah yang sangat berkualitas karena mengambil ruh shilaturrahim.

Wassalam.
supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Bolehkah Merayakan Ulang Tahun?

Assalamualaikum.. Ustad. Saya mau tanya.. Apa hukumnya merayakan ulang tahun? Apakah dalam Islam ada perayaan ulang tahun? Syukron atas jawaban ustad.

[Manis_A] ———–

JAWABAN:

Ibu.

Ulang tahun tidak dikenal dalam tradisi Islam, karena hakikatnya tambah tahun. Bahkan setiap detik sejatinya usia bertambah, yg berarti kesempatan peluang hidup berkurang. Maka korelasinya seharusnya adalah kesedihan karena kesempatan persiapannya untuk akhirat semakin sedikit. Kalaupun ia bergembira lebih karena waktu pertemuan dengan Allah Swt yang dirindukannya semakin dekat.

Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa muhasabah, introspeksi, dan kemudian beramal lebih baik lagi.

Tentunya ini berbeda dengan sebagian manusia yang merayakan pertambahan tahunnya dengan hura-hura dan jauh dari upaya muhasabah, bahkan tidak sedikit yang diisi dengan kemaksiatan dan menghamburkan uang. Tentunya ini berbeda dengan makna bersyukur atas seluruh rizqi yang telah diterimanya.

Oleh itu, hendaknya kita bangun tradisi introspeksi diri daripada definisi ulang tahun dalam perspektif masyarakat kebanyakan.

Wassalam,
wido@supraha.com

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

NEGERI TANPA AYAH

Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN

1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola

2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar ‘membuat’ anak

3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi

4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja

5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah

6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?

7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab

8| AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya

9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya

10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya

11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country

12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?

13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi

14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya

15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli

16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH

17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak

18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya

19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi

20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.

21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut

22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid

23| Harus ada sosok AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH

24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan

25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid

26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya

27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya

28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH ‘kepala sekolah’ tapi AYAH ‘penjaga sekolah’

29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya

30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak

31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika

32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama

33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi

34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH

35| Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan.

Salam bahagia
(bendri jaisyurrahman, Twitter @ajobendri)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

UNTUKMU & UNTUKKU (Memahami Hak dan Kewajiban Dalam Rumah Tangga)

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Laki-laki dan Perempuan..
Dua insan mulia yang memiliki kedudukan sama dihadapan Maha Pencipta dipertemukan dan disatukan dalam satu ikatan pernikahan.

Laki-laki dan Perempuan.. Keduanya memiliki hak dan tanggung jawab. Sebagaimana keduanya memiliki hakikat, perasaan, sensitivitas, akal pikiran, kecerdasan, dan sisi-sisi lain dari nilai kemanusiaan yang sama.

Laki-laki dan Perempuan..
Allah ciptakan untuk menjadi pasangan. Ya…hanya laki-laki dan perempuan yang bisa berpasangan, selain itu tidak bisa berpasangan. Karena berpasangan akan melahirkan konsekuensi. Karena berpasangan berdampak pada hak dan kewajiban, pada tugas dan tanggung jawab.
Karena semua keputusan kita akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT kelak.

Mari kita fahami dan hayati bagaimana para ulama soleh memaknai kata hak dan kewajiban.

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Perempuan-perempuan yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan kaum perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah : 228)

Bagian akhir dari ayat ini yang menjadi sumber pemaknaan.

Imam At-Thabari mengatakan : yang dimaksud dengan kalimat “Dan kaum perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.“ yaitu masing-masing dari suami istri melaksanakan kewajiban bagi pasangannya untuk meninggalkan madharat, yang artinya masing-masing memenuhi hak pasangannya. Bisa saja terjadi intervensi dari satu hak terhadap hak yang lainnya sebagaimana juga terjadi dalam kewajiban. Karena Allah SWT menyebutkan bahwa Ia telah menjadikan hak bagi kedua pihak atas pasangannya. Maka masing-masing dari pasangan itu harus menunaikan hak pasangannya sebagaimana pasangannya menunaikan haknya. Akan tetapi dalam masalah penunaian hak para suami memiliki derajat tersendiri atas istrinya.”

Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar menyatakan : “Dan kaum perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.“ Kalimat ini adalah kalimat yang sangat istimewa. Kalimat yang mengandung makna sangat luas, jika penjelasannya dituliskan secara detail akan membutuhkan lembaran-lembaran yang banyak. Kalimat dalam ayat itu merupakan kaidah menyeluruh yang ingin menyatakan bahwa seorang perempuan memiliki kesamaan dengan laki-laki dalam semua hak-haknya kecuali dalam satu hal yang disebutkan Allah dalam lanjutan ayat tersebut “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.”

Makna ma’ruf terhadap istri mengacu pada  ma’ruf secara umum yang terjadi di masyarakat. Bagaimana cara berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain dan keluarganya. Mengikuti kebiasaan umum dalam hal aturan, adab, adat dan sopan santun.
Kalimat pada ayat diatas juga menunjukan bahwa hendaknya seorang laki-laki memiliki keistimewaan dalam berinteraksi dengan istrinya pada setiap situasi dan kondisi. Seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas RA : “Sesungguhnya aku berhias untuk istriku sebagaimana ia berhias untukku karena aku memahami ayat ini.”. Dan yang dimaksud oleh ayat ini juga adalah bahwa hak-hak suami istri berlaku secara timbal balik dan keduanya sekufu/setara. Tidak ada satupun tugas yang dilakukan seorang istri untuk suaminya kecuali suami memiliki kewajiban yang harus ia tunaikan untuk istrinya. Jika tugas/kewajiban itu tidak sama dalam bentuknya akan tetapi ia sama dalam jenisnya. Maka suami istri memiliki kesamaan dalam hak dan kewajibannya, sebagaimana mereka memiliki kesamaan dalam dzat, rasa, perasaan, dan akal. Masing-masing suami istri adalah manusia sempurna yang memiliki akal untuk berfikir tentang kebaikan-kebaikannya, memiliki hati yang menyukai segala sesuai yang sesuai dan menyenangkan baginya, membenci segala sesuatu yang tidak menyenangkan dan menjauhinya. Maka tidak adil jika ada salah satu dari suami istri merasa lebih hebat, lebih berkuasa, lebih memiliki hak sehingga menjadikan satu pihak sebagai budak yang harus melayani segala kebutuhan dan keinginan pasangannya. Kebahagiaan suami istri tidak akan tercapai kecuali jika masing-masing saling menghormati dan menunaikan hak-haknya.” (Tafsir Al-Manaar, Jilid 2 hal 299)

Sedangkan mengenai makna kalimat “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.”, didalam tafsir Ath-Thabary disebutkan beberapa pendapat, diantaranya :
pendapat Mujahid yang menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah keutamaan dalam jihad dan waris.
Sementara Qatadah menyebutkan bahwa keutamaan laki-laki atas perempuan dalam kepemimpinan dan tha’at. Dan Ibnu Zaid menyebutkan dalam hal tha’at, yaitu istri mentha’ati suami bukan suami mentha’ati istri.

Tentang bagaimana Rasulullah SAW menunaikan hak-hak istrinya, Aisyah RA berkata dalam sebuah riwayat bahwa hal pertama yang dilakukan Rasulullah SAW saat masuk ke rumah istri-istrinya adalah segera bersiwak. Beliau tidak ingin istri-istrinya terganggu atau merasa tidak nyaman  karena aroma kurang sedap yang berasal dari tubuhnya.
Maka penunaian hak suami istri harus dilakukan dengan penuh kesadaran secara bersama-sama sehingga tidak ada satu pihak yang merasa dirugikan. Masing-masing suami dan istri dapat sama-sama mengatakan “ini untukmu dan ini untukku”.

Wallohu a’lam bis showwab

Referensi :
Kitab Mitsaqul Usroh Fil Islam, LK3I
Kitab Al-Baitul Muslimul Qudwah, LK3I
Tafsir At-Thabary, Daarul Fikr
Tafsir Al-Manaar, Daarul Fikr

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Kejujuran Dalam Kepemimpinan

Oleh: Ustadz Noorahmat Abu Mubarak

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ عَادَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ الْمُزنِيَّ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ قَالَ مَعْقِلٌ إِنِّي مُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ لِي حَيَاةً مَا حَدَّثْتُكَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Abu Ja’la (ma’qil) bin Jasar r.a berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti allah mengharamkan baginya surga. (HR Bukhari, Muslim)

Kejujuran adalah modal yang paling mendasar dalam sebuah kepemimpinan. Tanpa kejujuran, kepemimpinan ibarat bangunan tanpa fondasi, dari luar nampak megah namun di dalamnya rapuh dan tak bisa bertahan lama.

Demikian pula bila kepemimpinan tidak didasarkan pada kejujuran orang-orang yang dekat dan terlibat di dalamnya, maka jangan harap kepemimpinan itu akan berjalan dengan baik.

Kejujuran di sini tidak bisa hanya mengandalkan pada satu orang saja, kepada pemimpin saja. Akan tetapi semua komponen yang terlibat di dalamnya, baik itu pemimpinnya, pembantunya, staf-stafnya, hingga struktur yang paling bawah dalam kepemimpnan ini, mulai dari menterinya, pendukungnya hingga tukang sapunya, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Hal itu karena tidak sedikit dalam sebuah kepemimpinan, atau sebuah organisasi, terdapat pihak yang jujur namun juga terdapat pihak yang tidak jujur. Bila pemimpinnya jujur namun staf-stafnya tidak jujur, maka kepemimpinan itu juga akan rapuh. Begitu pula sebaliknya.

Kejujuran itu juga meliputi kejujuran dalam menyampaikan apa adanya terkait kondisi ataupun kebijakan ketata negaraan. Menyatakan salah bila memang pemimpin melakukan kesalahan. Sikap cari muka atau cari selamat yang dilakukan oleh siapapun di dalam sistem kepemimpinan akan merusak kepemimpinan itu sendiri.

Secara garis besar, yang sangat ditekankan dalam hadits ini adalah seorang pemimpin harus memberikan keteladanan yang baik kepada siapapun yang dipimpinnya. Konsisten dan komitmen kepada sumpah jabatannya dan berhati-hati dalam upaya ketaqwaannya kepada Allah Ta’ala.

Keteladanan ini tentunya harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan serta keputusan-keputusan penuh perhitungan, tidak menipu dan tidak melukai hati rakyatnya yang membayar pajak.

Pemimpin yang menipu dan melukai hati rakyat, dalam hadits ini disebutkan, diharamkan oleh Allah untuk menginjakkan kaki di syurga. Meski hukuman ini tampak kurang kejam, namun sebenarnya hukuman “haram masuk syurga” ini mencerminkan betapa murkanya Allah terhadap pemimpin dan sistem kepemimpinan yang tidak jujur dan suka menipu rakyat.

Semoga negeri ini dilindungi dari keberadaan pemimpin-pemimpin buruk yang dilaknat Allah Azza wa Jalla. Bilapun pemimpin lterlaknat itu ada di sekitar kita, maka mari segera kita ingatkan pemimpin tersebut. Jauhi sikap cari muka atau cari jalan aman agar negeri ini tidak dipenuhi oleh orang-orang yang diharamkan masuk syurga

Jakarta, 10 Jumadil Ula 1437

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Menyegarkan Kembali Tema Silaturrahim

Oleh: Ustadz DR. Wido Supraha (wido@supraha.com)

Islam adalah agama kasih, agama yang dibangun dengan kasih sayang, agama yang diturunkan untuk melahirkan kasih dan cinta, agama yang hadir untuk memuliakan manusia.

Maka menjadi fahamlah mengapa seluruh ajaran Islam mengandung dorongan untuk mengasihi setulus hati tanpa henti hanya untuk meraih ridho Ilahi Rabbi.

Silaturrahim sejatinya berasal dari dua akar kata, silah yang berarti hubungan, dan rahim yang berarti rahmah yaitu lembut dan kasih sayang.

Istilah rahim juga berarti tempat janin bertumbuh, sebelum dilahirkan, sehingga menjalin tali kasih sayang kepada orang-orang dzu rahim, yang memiliki hubungan nasab, baik mewariskannya atau tidak, baik memiliki hubungan mahram atau tidak,  mendapatkan prioritas lebih utama, dan menjadi sumber inspirasi untuk dikembangkan kepada umat manusia secara umum.

Secara bahasa,
tarahamal qaumu artinya saling berkasih sayang, istarhama berarti meminta rahmat,
rajulun aw imra’atun rahumun berarti laki-laki atau wanita penyayang.

Islam diawali dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan kedua sifat ini adalah bagian takhalluq umatnya untuk juga mampu melahirkan sifat Kasih dan Sayang.

Islam yang dibangun di atas pondasi tauhid, meng-Esa-kan Allah, meng-Ahad-kan Allah, tidak menjadikan sesembahan selain Dzat Tuhan yang Satu (Ahad atau Esa), tidak berprilaku Syirik kepada yang Satu itu sebagai bagian adab dari hablun min Allah, ternyata kemudian mendorong umatnya untuk mempererat hubungan masyarakat dalam sistem Rabbani untuk melahirkan persatuan, kasih sayang, dan tolong-menolong di antara manusia tanpa pernah sekalipun dalam bab hablun min an-nas, Islam memisahkan antara Muslim dan Non-Muslim, karena hakikat Islam adalah menjadi Kasih untuk Semesta Alam.

Sementara di dunia, kedudukan manusia bercampur mulai dari orang tua, kerabat sanak saudara, yatim, miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, sahabat sejawat baik dalam sebuah perjalanan maupun tidak, orang-orang yang sedang dalam perjalanan, dan hamba sahaya, atau juga para asisten yang menghabiskan banyak waktunya untuk membantu manusia yang lain (Lihat Q.S. An-Nisa/4:36).

Rasulullah Saw dalam banyak khutbahnya sentiasa mengawali diantaranya dengan mengingatkan manusia untuk bertakwa kepada Allah, berdo’a dengan asma-Nya, dan memelihara hubungan Silaturrahim (Lihat Q.S. An-Nisa/4:1).

Kehadiran Nabi Saw melahirkan standar-standar suatu kebaikan dan kebenaran dalam Islam, standar-standar yang akan membawa pemeluknya ke Surga (Jannah), standar-standar yang akan membawa kebaikan kehidupan di dunia menuju Akhirat kelak. Muslim kemudian diingatkan bahwa ber-Islam berarti yakin, ibadah, dan amal shalih. Kehilangan satu dari tiga unsur tersebut menyebabkan kehilangan pondasi iman pada dirinya.

Tidak berhenti pada mengingatkan akan pentingnya menghidupkan Silaturrahim, Nabi Saw kemudian menjelaskan ragam aspeknya, kualitasnya, memberikan keteladanan, dan mengingatkan umatnya untuk tidak pernah sekali-kali meninggalkannya, apalagi memutuskannya!

Di saat Allah Swt memerintahkan manusia untuk menyambung silaturrahim (lihat Q.S. Ar-Ra’d/13:21), Dia juga menjanjikan umatnya yang bersabar dalam menjalankan perintah ini kelak mendapatkan salam penghormatan di Surga ‘And (salaamun ‘alaikum bimaa shabartum, fa ni’ma ‘uqbaddaar).

Prioritas silaturrahim kemudian dihadirkan yaitu menjaga hubungan baik dengan orang tua (lihat Q.S. Al-Isra/17:23-24), dilanjutkan dengan saudara-saudara orang tua, dan teman-teman karibnya.

Kebiasaan manusia menjaga sifat kasih dan sayangnya, akan melahirkan sebuah karakter bahkan akhlak yang terinternalisasi dengan baik sebagai ciri unik seorang Muslim kaffah, Muslim yang mampu menjaga semangat kasihnya tidak saja kepada manusia yang ada di sekitarnya, namun juga manusia yang berada jauh dari penglihatannya, seperti mereka yang mendapatkan ujian kehidupan di Rohingya, Palestina, Mesir, CAR, dan negeri-negeri lainnya, karena silaturrahim tidak mengenal sekat-sekat wilayah, persis seperti pesan Nabi Saw untuk sentiasa memberikan perlindungan dan hak kekerabatan kepada bangsa Mesir.

Manusia yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, ia pasti mencintai silaturrahim. Manusia yang mencintai silaturrahim di atas pondasi Iman kepada Allah, dijanjikan Surga, sebaliknya yang senang memutuskan silaturrahim, dijanjikan Neraka. Maka ar-rahmu tetap bergantung di ‘Arsy, bereaksi kepada bagaimana cara manusia berkasih sayang kepada sesamanya.

Maka fahamilah mengapa Rasulullah Saw memberikan posisi yang mulia kepada mereka yang berinisiatif memulai terlebih dahulu untuk menyambung tali silaturrahim yang terputus atau bahkan diputus secara menghinakan oleh saudaranya, karena dalam hal ini, fokus manusia hanya kepada berlomba-lomba berbuat kebajikan bukan menahan egoisme yang akan meruntuhkan martabatnya di hadapan Allah Swt.

Muslim disebut beriman kepada Allah dan Hari Akhir jika ia mampu memberikan yang terbaik untuk saudaranya, sekali lagi tanpa melihat suku, agama, ras, dan adat istiadat, ketika mereka bertamu, menjadi tetangga, dan menjadi relasi bisnis, dan mengajarkan untuk pintar menggunakan kata-kata yang terbaik yang enak didengar sebagai hak sesama manusia.
Islam hanya memberikan pandusan skala prioritas dalam sebuah amal shalih.

Tatkala manusia diberikan perlakuan yang buruk, Islam juga mendorong umatnya untuk membalasnya dengan cara yang lebih baik, sehingga tiba-tiba antara keduanya yang sebelumnya bermusuhan menjadi sahabat sejati nan-setia.

Begitu banyak kemuliaan silaturrahim, maka janganlah sekali-kali manusia memutuskannya bahkan senang dan berbahagia di atas pemutusannya, karena perbuatan ini adalah perbuatan yang sangat dibenci.

Memutuskan tali silaturrahim disejajarkan dengan keburukan membuat kerusakan di muka bumi (lihat Q.S. Muhammad: 22-23), dan kepada mereka dijanjikan tempat kembali yang buruk (lihat Q.S. Ar-Ra’d:25).

Terkadang manusia menjauhi sahabatnya yang senang mengingatkannya dalam kebaikan padahal itulah di antara sahabat yang paling prioritas untuk ia jadikan sahabat sejati, sahabat yang akan bersamanya di kala duka.

Terkadang manusia menjauhi keluarganya untuk mendapatkan kesenangan hidup, padahal hanya keluarganya yang sentiasa siap menjaganya tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Maka demikian juga kepada Dzat yang Menciptakan manusia, adalah lebih pantas bagi manusia untuk menunaikan amanah-Nya untuk menjaga kerusakan bumi ini, di antaranya disebabkan ditinggalkannya kasih dan sayang di atas tali silaturrahim, sehingga lahirlah permusuhan dan kebencian, padahal pada saat itu kalangan syaithan sedang tertawa-tawa di atas kebodohan manusia yang tidak mengetahui rahasia dan keutamaan menyambung tali silaturrahim.

Hadanallaahu wa iyyaakum ajma’in.

 (supraha.com)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Memberi Hadiah Terhadap Hutang Piutang

Assalaamu’alaikum wrwb.

Mohon maaf para asatidz, saya ingin bertanya.

1. Saya memberikan modal kerja ke kawan untuk usaha pakaian. Dengan waktu yang disepakati dia mengembalikan. Di awal akad meminjam tidak ada perjanjian harus mengembalikan dengan tambahan nilai tertentu. Akan tetapi saat dia mengembalikan uang modal tanpa saya minta pun di pasti memberi tambahan. Apakah itu termasuk riba..??

2. Seseorang menjaminkan bilyet Giro sebagai pengganti pembayaran utangnya kepada saya. Dia memberikan hadiah untuk saya berupa sejumlah uang dengan cara potongan pinjaman dimuka karena yang mencairkan Bilyet Giro adalah saya nantinya (nilai pinjaman lebih kecil dari nominal Bilyet Giro). Adapun hadiah yang diberikan terserah dari peminjam. Apakah ini termasuk riba yang diharamkan tsb?

-A13-

jawabannya:
1. Bukan termasuk riba.

2. Bukan termasuk riba yang diharamkan.

Dalam hal perkara diatas, tambahan uang yang diberikan dengan sukarela bukan sebagai syarat pemberian modal pinjaman maka bukan termasuk riba.

Pada dasarnya islam melarang seorang muslim untuk memakan riba, hal ini seperti yang tercantum di dalam surat Al-Baqarah ayat 278 yang artinya: “Hai orang –orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut), jika kamu orang yang beriman” (Q.S. Al Baqarah: 278) Allah melarang seseorang memakan riba dikarenakan akan diberikannya siksaan yang amat pedih bagi orang-orang yang memakan riba. Hal ini sudah disampaikan oleh Firman Allah dalam Al-Quran salah satunya di dalam surat An-Nisa ayat 161, yaitu: “Dan disebabkan karena mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami menyediakan untuk orang-orang kafir diantara mereka itu siksa yang amat pedih” (Q.S An-Nisa: 161)

Riba menurut bahasa berarti ziyadah (tambahan). Menurut Yusuf al-Qardawi, setiap pinjaman yang mensyaratkan didalamnya tambahan adalah riba.

Wallahu A’lam Bishshawab

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Ketika Dunia Bahari Sudah Dikuasai Turki Utsmani

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pertempuran di Pulau Ponza – 5 Agustus 1552

Pertempuran laut ini terjadi di lepas pantai Pulau Ponza, tidak jauh dari daratan Semenanjung Italia. Pertempuran ini mempertemukan armada Perancis dan Khilafah Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Turgut Reis (Dragut) menghadapi armada Genoa di bawah pimpinan Andrea Doria. Pada akhir pertempuran, pihak Genoa kalah dengan 7 galley mereka tertawan Turki Utsmani. Kemenangan ini memudahkan armada Turki Utsmani berikutnya untuk menyerbu pantai Sisilia, Sardinia, dan Italia selama tiga tahun.

Kekuatan Yang Berhadapan

Armada yg digelar Turki Utsmani terdiri dari sekitar 100 galley khusus untuk mempenetrasi laut Mediterranean bagian barat. Pengerahan ini diputuskan dengan mempertimbangkan bahwa Raja Henry II berperang melawan Raja Charles V pada Perang Italia 1551-59.

Mencari “kesempatan dalam kesempitan” dalam dunia percaturan politik regional maupun global itu sdh ada sejak dahulu kala, maksimalkan!

Armada Turki Utsmani ini mendapatkan bantuan sejumlah 3 galley Perancis di bawah dutabesarnya untuk İstanbul yg bernama Gabriel de Luetz d’Aramon yg juga menyertai serbuan-serbuan berikutnya sepanjang pesisir Calabria di bagian selatan Italia hingga ke keberhasilan menguasai kota Reggio.

Armada Genoa terdiri dari 40 galley di bawah pimpinan Andrea Doria. Dua puluh diantaranya merupaka milik pribadi Doria, enam milik Antonio Doria, serta 2 lagi milik Keluarga Grimaldi dari Monako.

Pertempuran

Pertempuran laut antara kedua armada ini terjadi pada hari Jum’at 14 Sya’ban 959 Hijria berlangsung antara pulau Ponza dan Terracina di dekat pesisir Italia. Armada Turki Utsmani sedemikian gesitnya sehingga tidak hanya mengalahkan lawan namun mereka juga berhasil menawan 7 galley yg berisi perbekalan pasukan Genoa.

Seperti apa sekolah laut atau akademi maritim khilafah pada waktu itu adalah sebuah penelusuran yg menarik!

Setelah pertempuran ini selesai, gabungan armada Turki Utsmani dan Perancis itu menyerbu hingga ke Pulau Majorca pada 13 Agustus 1552; tidak jauh dari Bumi Andalusia yg sudah terhapus dari pentas sejarah. Pihak Turki Ustamni terus menekankan betapa perlunya Perancis ikut serta dalam penyerbuan ke arah barat serta menjelaskan ancaman laten dari Persia.

Tidak semua mitra aliansi itu dapat dipercaya; semua kepentingan politik itu sementara dan hanya tujuan yg utama yg abadi.

Setelah pertempuran ini, armada Turki Utsmani melewatkan musim dingin tahun itu dengan merapat ke dermaga di Pulau Chios. Di pelabuhan inilah armada Perancis turut merapat dan bergabung. Armada gabungan ini selalu disiagakan untuk mengantisipasi hal-hal yg tidak diinginkan. Doria sekali lagi mencoba untuk menghentikan laju serbuan Turgut di Pertempuran Djerba, namun kembali ia mengalami kegagalan pada tahun 1560. Turgut terus aktif menyerbu pesisir negeri-negeri kaum nasrani hingga 5 tahun sebelum ia wafat.

Agung Waspodo, berusaha mengangkat tema hari bersejarah bagi pahlawan tidak dikenal maupun yang masyhur, 463 tahun kemudian, kurang satu hari.

Depok, 4 Agustus 2015.. mulai mendekati tengah malam dan berjuang menangkis serangan kantuk.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Kemuliaan dan Harga Diri Ummat yang Dulu Pernah Ada, Sekarang Sudah Hilang!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pengepungan Kota Pelabuhan Nice, 6-22 Agustus 1543

Pengepungan ini adalah bagian dari Italian War tahun 1542–46 dimana Raja Francis I dan Sultan Suleiman I Kanuni bekerja sama dalam suatu aliansi Perancis-Turki Utsmani melawan Emperor Charles V dari Holy Roman Empire bersama Raja Henry VIII dari Inggris. Pada waktu itu, kota pelabuhan Nice sedang berada di bawah kendali Charles III pangeran Savoy yg juga sekutu dari Charles V. Peristiwa ini juga merupakan bagian dari kampanye militer Khairuddin Barbarossa di Laut Mediterranean periode 1543-44.

Latar Belakang

Di Laut Mediterranean, telah terjadi kolaborasi angkatan laut antara Perancis dan Khilafah Turki Utsmani berhadaoan dengan kekuatan Spanyol. Kolaborasi ini merupakan permintaan dari Francis I yg disampaikan melalui utusam khusus Antoine Escalin des Aimars. Angkatan laut Perancis dipimpin oleh François de Bourbon sedangkan angkatan laut Turki Utsmani dipimpin oleh Khairuddin Barbarossa. Mereka berdua pertama kali bertemu di Marseilles pada bulan Agustus 1543.

Walaupun Duchy Savoy yg menguasai kota Nice pernah menjadi wilayah protektorat Perancis selama seabad, Francis I tetap menyerangnya – konon – dengan alasan bahwa Charles III menikahi Beatrixe dari Portugal sehingga otomatis menjadi sekutu Dinasti Habsburg.

Admiral François de Bourbon pernah mencoba menyerbu Nice secara mendadak tetapi gagal akibat perlawanan dan pertahanan sengit dari admiral Andrea Doria.

Kedatangan Armada Laut Turki Utsmani

Berdasarkan kesepakatan antara Francis I dan Suleiman I, armada berkekuatan 110 galley di bawah Khairuddin Barbarossa telah berangkat meninggalkan Laut Marmara oada pertengahan bulan Mei 1543. Dalam perjalanan menuju Nice, armada itu telah menyerbu pesisir Sisilia dan Italia selatan sampai bulan Juni. Bahkan armada ini buabg sauh tidak jauh dari kota Roma di daerah hilir Sungai Tiber pada hari Kamis Rabi’ul Awwal 950 Hijriah (28 Juni). Duta besar Perancis yg bernama Polin sampai perlu menulis surat kepada Paus memberikan jaminan bahwa Roma tidak akan diserang.

Demikian harga diri serta kedigdayaan ummat Islam pada waktu itu sedemikian tinggi sehingga kaum lain segan kepadanya.

Khairuddin Barbarossa tiba dengan armadanya, didampingi dubes Polin, di Île Saint-Honorat pada hari Kamis 2 Rabi’uts Tsani 950 Hijriah (5 July). Pihak Perancis benar-benar tidak siap dengan keseriusan armada Khilafah Turki Utsmani ini, sehingga Polin diutus menemui Francis I untuk membicarakan tentang logistik di Marolles (?) serta dukungan lainnya. Sementara itu Khairuddin Barbarossa bergeran menuju pelabuhan kota Toulon lima hari setelah itu dan armada tersebut diterima dengan hormat di Marseilles pada 21 Juli. Di pelabuhan kota Marseilles inilah kedua angkatan laut bergabung secara resmi. Armada gabungan inj bergerak keluar dari Marseilles pada hari Ahad tanggal 4 Jumadil Awwal 950 Hijriah (5 Agustus).

Pengepungan

Armada Turki Utsmani pertama kali mendarat di Villefranche, sekitar 6 mm sebelah timur Nice, dan demi strategi perang kota tersebut direbut dan dihancurkan pertahanannya. Setelah itu armada Perancis dan Turki Utsmani melakukan serangan gabungan ke kota Nice pada keesokan harinya, Senin tanggal 5 Junadil Awwal 950 Hijriah (6 Agustus 1543), dengan dibantu oleh 50 galley Perancis.

Aliansi ini mendapatkan perlawanan yg sengit dari kota Nice yg juga melahirkan legenda Catherine Ségurane. Konflik ini bereskalasi menjadi perang besar pada tanggal 15 Agustus, namun kota tersebut baru menyerah pada 22 Agustus. Dalam kesempatan ini pihak Perancis menghalangi perusakan kota dari tangan balatentara Turki Utsmani. Lebih dari itu, aliansi ini pun tidak mampu merebut benteng kota yg dikenal sebagai Château de Cimiez. Konon kabarnya, kegagalan ini disebabkan oleh keterbatasan mesium yg dapat diperbantukan Perancis kepada Turki Utsmani.

Perang Lainnya

Pertempuran lain yg berlangsung tidak jauh dari benteng kota terjadi pada tanggal 8 September, namun pasukan aliansi tersebut mundur setelah memoeroleh infirmasi intelijen tentang datangnya balatentara Habsburg untuk membantu perlindungan kota tersebur. Kekuatan yang sedang disiapkan untuk bergerak ke arah Nice dikonsolidasikan oleh Duke Charles III dari Savoy di kota Piedmont.

Pada malam terakhir sebelum mundur, Barbarossa menyempatkan diri untuk meratakan kota tersebut, merebut persediaannya, membakar bangunan strategis, serta memperoleh sekitar 5 ribu tawanan. Pasukan bala-bantuan yg dikirim via laut menggunakan armada Andrea Doria baru merapat ke Villefranche sebelum berbaris menuju benteng pertahanan di Nice.

Selama kampanye militer ini, Khairuddin Barbarossa sering mengajukan keberatannya kepada kapal perang Perancis atas ketidaksiapan kapal perang dan persediaannya. Bahkan tercatat ia mengatakan “apakah pelau-pelautmu justru memenuhi stok kapal dengan anggur dan bukan bubuk mesiu?” Barbarossa terlihat enggan menyerang Andrea Doria bahkan ketika yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan menggantikan 4 galley yg terkena badai. Sebagian sejarawan ada yg mengatakan bahwa antara Barbarossa dan Doria telah terjadi kesepakatan tidak tertulis.

Armada Turki Utsmani Berlindung dari Musim Dingin di Toulon

Setelah pengepungan itu diangkat tanpa hasil yg bermakna, Francis I menawarkan Barbarossa untuk berdiam di Toulon selama musim dingin. Hal ini juga dengan pertimbangan bahwa kedua sekutu itu akan memiliki banyak kesempatan untuk menyerbu berbagai eikayah Holy Roman Empire yg terisolir. Sasaran lain tentunya pesisir selatan Spanyol dan Italia dengan meningkatnya efektivitas komunikasi antar keduanya. Selain itu, Khairuddin Barbarossa juga mendapatkan janji bantuan dalam upayanya merebut kembali Tunis dari tangan Spanyol.

Selama musim dingin, armada Turki Utsmani dengan 120 galley dan 39 ribu pasukan mendapatkan rumah-pangkalan sementara di Toulon. Dari Toulon, Khairuddin Barbarossa menugaskan Salih Reis untuk memanfaatkan situasi ini guna menyerang secara sistemik target-target di pantai Barcelona di Spanyol, Sanremo, Borghetto, Santo Spirito, Cerialein di Italia, and mematahkan serangan-serangan Italia dan Spanyol via laut.

Barbarossa kemudian menggerakan seluruh armadanya ke Genoa untuk menegosiasikan pelepasan Turgut Reis dari penjaranya. Perancis menyediakan sekitar 19 juta kg roti untuk menunjang balatentara Khilafah Turki Utsmani selama di Toulon, sekaligus persediaan untuk melanjutkan kampanye militer pada musim panas berikutnya, hingga logistik yg memungkinkan mereka kembali ke İstanbul.

Sepertinya keterlibatan Francis I pada aliansi bersama Turki Utsmani ini hanya setengah-hati karena banyaknya negeri Eropa berpenduduk kaum nasrani yg menolak serta merendahkan aliansi tersebut. Mereka tidak dapat menerima adanya aliansi yg mengadu sesama kekuatan nasrani. Hubungan antar keduanya selalu dalam suasana tegang lagi curiga.

Kesudahan

Perjanjian antara Perancis dan Habsburg akhirnya ditanda-tangani antara pemimpin Perancis dan Habsburg di kota Crépy pada hari Kamis 1 Rajab 951 (18 September 1554). Perjanjian damai jugs berhasil disepakati antara Turki Utsmani dan Kerajaan Habsburg pada 10 November 1545 dimana emperor Charles V menyetujui wilayah-wilayah yg sudah ditaklukkan Khilafah Turki Utsmani. Perdamaian semu ini terus berlangsunh hingga terjalinnya perjanjian perdamaian resmi setelah Francis I wafat pada 1547.

Agung Waspodo, melihat vitalitas yg begitu tinggi pada pemimpin ummat pada periode tersebut, 472 tahun setelah itu.. minus 1 hari.

Depok, 5 Agustus 2015, menyicil artikel untuk besok.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Bab Larangan Jual Beli Hutang Dengan Hutang (bag. 1)

Oleh: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

باب النهي عن بيع الدين بالدين

Hadits #1

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ (رواه النسائي في الكبرى والحاكم والدارقطني)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hutang dengan hutang.
(HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, Daruquthni dan Al-Hakim dalam Mustadraknya)

Hadits #2

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَبِيعُ اْلإِبِلَ بِالْبَقِيعِ فَأَبِيعُ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ وَأَبِيعُ بِالدَّرَاهِمِ وَآخُذُ الدَّنَانِيرَ آخُذُ هَذِهِ مِنْ هَذِهِ وَأُعْطِي هَذِهِ مِنْ هَذِهِ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي بَيْتِ حَفْصَةَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رُوَيْدَكَ أَسْأَلُكَ إِنِّي أَبِيعُ اْلإِبِلَ بِالْبَقِيعِ فَأَبِيعُ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ وَأَبِيعُ بِالدَّرَاهِمِ وَآخُذُ الدَّنَانِيرَ آخُذُ هَذِهِ مِنْ هَذِهِ وَأُعْطِي هَذِهِ مِنْ هَذِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَهَا بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ (رواه النسائي وأبو داود وأحمد والحاكم)

Dari Ibnu Umar, dia berkata; ‘Aku pernah menjual unta di Baqi‘, aku menjualnya dengan beberapa dinar, dan aku mengambil beberapa dirham, dan menjual dengan beberapa dirham dan mengambil beberapa dinar.

Kemudian aku datang menemui Nabi SAW di rumah Hafshah ra, lalu aku berkata; “Wahai Rasulullah, aku ingin bertanya. Sesungguhnya aku menjual unta di Baqi’, aku menjualnya dengan dinar dan mengambil dirham, dan menjualnya dengan dirham dan mengambil dinar. Aku mengambil ini sebagai ganti dari ini dan memberi ini sebagai ganti dari ini.’

Kemudian Beliau bersabda: “Tidak mengapa engkau mengambilnya dengan harga pada hari itu, selama kalian berdua belum berpisah sementara (ketika itu) di antara kalian ada sesuatu.”
(HR. Nasa’i, Abu Daud, Ahmad dan Al-Hakim)

Takhrij Hadits

1. Hadits pertama diriwayatkan oleh:

Imam Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra nya, dalam Jama’ Abwab Ar-Riba, Bab Ma Ja’a fin Nahyi an Bai’ ad-Dayn bi ad-Dayn, Juz V, hal 716.

Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya, Kitab Al-Buyu’, Bab Wa Amma Hadits Ma’mar bin Rasyid, hadits no 2302.

Imam Daruquthni dalam Kitab Al-Buyu’, hadits no 3105, Juz VII, hal 351.

2. Hadits kedua diriwayatkan oleh :

Imam Abu Daud dalam sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab fi Iqtidha’ ad-Dahahab Minal Waraq, hadits no 2911.

Imam Tirmidzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a fi as-Sharf, hadits no 1163.

Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab bai al-fidhah bid ad-dzhab wa bai’ ad-dzahab bi al-fiddhah, hadits no 4506.

Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab at-Tijarat, Bab Iqtidha’ ad-Dzahab mi al-waraq wa al-Waraq min ad-Dzahab, hadits no 2253.

Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dalam Musnad Abdullah bin Umar bin Khattab, hadits no 5296, 5300, 5959 dan 6139.

Makna Umum

Hadits pertama secara umum menggambarkan tentang larangan jual beli hutang dengan hutang, atau jual beli barang yang masih tangguh yang belum diterima dengan uang yang juga masih tangguh atau belum diterima.

Larangan jual beli hutang dengan hutang, adalah sama seperti larangan jual beli ma’dum (yaitu jual beli yang objek barangnya tidak ada) dengan uang atau harga yang juga ma’dum (uangnya belum ada atau belum diterima).

Adapun hadits kedua menggambarkan tentang bolehnya menukar harga yang berada dalam jaminan seseorang dengan mata uang lain. Namun kebolehannya bersyarat, dengan adanya taqabudh (saling menggemgam barang saat transaksi, sebagai bukti bahwa transaksinya memiliki objek akad)
Karena emas dan perak keduanya merupakan barang-barang ribawi yang tidak boleh ditukarkan kecuali dengan cash pada saat transaksi.

Pembahasan Fiqh Bai’ Dain

Dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Syekh Wahbah Al-Zuhaily memberikan pembahasan tentang bai’ ad-dain (بيع الدين) sebagai berikut (4/432):

#1. بيع الدين نسئة –

1. Menjual hutang dengan hutang (tunggakan pembayaran)

Dalam fiqh dikenal dengan bai’ ad-dain by ad-dayn atau dalam hadits disebut bai’ al-kali bil kali (بيع الكالئ بالكالئ).
Bentuk jual beli seperti ini adalah dilarang secara syariah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ
(رواه النسائي في الكبرى والحاكم والدارقطني)

Dari Ibnu Umar ra bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hutang dengan hutang.
(HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra, Daruquthni dan Al-Hakim)

Contoh jual beli hutang dengan hutang adalah sebagai berikut :

‘Saya beli dari kamu satu mud gandum dengan harga satu dinar dengan serah terima dilakukan setelah satu bulan.’

Atau seseorang membeli barang yang akan diserahkan pada waktu tertentu lalu ketika jatuh tempo, penjual tidak mendapatkan barang untuk menutupi utangnya, lantas berkata kepada pembeli,

‘Juallah barang ini kepadaku dengan tambahan waktu lagi dengan imbalan tambahan barang’.

Lalu pembeli menyetujui permintaan penjual dan kedua belah pihak tidak saling sarah terima barang.

Atau dengan bentuk lain yang melibatkan pihak ketiga:
‘Saya jual kepadamu 20 mud gandum milikku yang dipinjam oleh fulan dengan harga sekian dan kamu bisa membayarnya kepadaku setelah satu bulan.’

Jual beli seperti ini adalah jual beli yang terlarang, dan ulama sepakat akan keharamannya.

#2. بيع الدين نقدا في الحال –

2. Menjual hutang secara tunai pada saat transaksi.

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com