Pernikahan, Cara Allah SWT memuliakan Wanita (bag-1)

Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

Di masa jahiliyah, wanita tidak diposisikan sebagai manusia. Mereka diperjualbelikan, dan dijadikan komoditas nafsu. Kelemahan wanita yang tidak dilahirkan untuk berperang dengan fisiknya, menjadi pembenaran bagi sebagian kaum jahiliyah untuk lebih memilih membunuh mereka semasa kecil daripada menjadi aib bagi keluarga karena tertawannya mereka di medan perang. Wanita digambarkan sebagai laki-laki yang belum lengkap, ia direndahkan dan dinistakan, tidak memiliki hak memilih sama sekali, termasuk dalam hal warisan, dan siapa pasangan hidupnya, maka secara keseluruhan wanita jauh dari martabat mulia.

Kehadiran Islam secara perlahan merevisi ragam pemikiran, adat istiadat, kepercayaan orang tua, keyakinan keghaiban, yang tidak sejalan dengan tujuan diciptakannya manusia, termasuk dalam hal ini, merevisi secara total cara pandangan manusia terhadap wanita. Islam kemudian mengembalikan wanita kepada derajat dan martabat sebenarnya sebagai sesama hamba Allah Swt yang sejajar dan setara dalam pandangan Allah Swt.[1]

Ketika Islam hadir, standar kebaikan wanita berganti dari yang bersifat fana menjadi iman,[2] maka menikahi wanita dari kalangan budak jauh lebih mulia daripada menikahi wanita musyrik meski cantiknya luar biasa.[3] Bersama iman, wanita diposisikan sebagai kesenangan hidup di dunia bagi setiap lelaki yang mencari ridho Allah semata[4] yang telah memerintahkan kaum lelaki untuk berlaku seadil-adilnya kepada wanita, sekaligus jaminan dan keamanan untuk hidup wanita dalam tanggung jawabnya.[5]

Wanita yang menjadi perhiasan dunia itu sejatinya adalah wanita yang mampu menjaga kehormatan dirinya hingga hari akad pernikahannya,[6] dan Allah Swt sudah mendidiknya langsung dengan membiasakannya untuk menutup auratnya secara benar.[7] Wanita telah dididik untuk terbiasa menjaga lisannya dari ucapannya kepada sesama wanita pada khususnya[8] dan juga kepada lawan jenisnya. Wanita pun dididik untuk tidak merusak aqidahnya dengan ragam keyakinan terhadap hal-hal khurafat seperti zodiak, ramalan tangan, ramalan perbintangan, dan keyakinan lainnya.[9]Wanita juga diajarkan untuk menjadi ‘akuntan’ yang kredibel di rumah tangganya sehingga menjadi kepercayaan seisi rumah.[10]

Wanita yang terbiasa hidup dalam tarbiyah Allah Swt akan termudahkan untuk mampu menta’ati dan memposisikan suaminya sebagai imam dalam ketaatan kepada Allah,[11] dan kebiasaannya itu memudahkannya untuk memelihara dirinya dalam kesendirian di rumah suaminya.[12]Wanita yang mulia adalah yang membantu suaminya meraih setengah agama.[13] Seorang suami tidak lagi memiliki celah untuk berlaku keji kepada istrinya dengan bentuk tuduhan tanpa bukti nyata nan zhahir,[14] menyamakan istri dengan ibunya,[15] sehingga lahirlah kehatian-hatian dalam mengarungi tangga pernikahan menuju maqam yang lebih tinggi, dan berhati-hati untuk mengucapkan kalimat-kalimat buruk seperti sumpah tidak menyentuh,[16]kalimat ‘perpisahan’ yang dibenci itu.[17]Bahkan Islam menjaga wanita yang telah dinikahi namun belum disentuh.[18]

Islam menghadirkan sosok-sosok wanita terbaik untuk dijadikan teladan oleh para wanita, seperti Maryam bin ‘Imran a.s.,.[19] anak-anak wanita Syu’aib a.s.,[20]istri Ibrahim a.s,[21] istri Fir’aun,[22] istri ‘Imran a.s.,[23] istri-istri Nabi Muhammad Saw,[24] sebagaimana dihadirkan juga sosok-sosok wanita durhaka yang tidak layak dijadikan teladan seperti Istri Luth a.s.[25] dan istri al-‘Aziz yang kelak bertaubat.[26]

Dalam hal menjalani kehidupan rumah tangga, wanita diingatkan akan ketidaksamaannya dengan pria,[27] dan bahwa penciptaannya yang setingkat lebih rendah dari pria, sehingga tidak layak wanita dipaksa bekerja di luar rumah.[28] Islam mendorong pemisahan antara harta pria dan wanita dalam kehidupan rumah tangga,[29] Untuk tujuan kesucian, kesehatan dan keselamatan jiwa, seorang suami pun tidak lagi diizinkan ‘menyentuh’ wanita di kala haidh,[30] sebagaimana untuk tujuan kebaikan nasab, Islam mengatur wanita mana yang boleh dinikahi dan mana yang tidak, seperti menikahi wanita yang telah dinikahi ayah,[31]wanita bersuami,[32] atau wanita-wanita tertentu.[33] Untuk tujuan ridho Allah, seluruh perselisihan dalam rumah tangga pun diarahkan untuk diperoleh solusinya dengan cara-cara yang baik.[34]

Pernikahan kemudian mengingatkan para pengamalnya untuk memperbanyak generasi penyembah Allah Swt, dengan seluruh pelajaran dan hikmah yang telah diwariskannya.[35]Mengandung dan melahirkan menjadi sebuah aktivitas yang sangat dimuliakan dengannya.[36] Demikian pula dengan memperhatikan seluruh asupan yang baik untuk tumbuh kembangnya dengan baik,[37] hingga waktu yang ditetapkan Allah Swt.[38] __________________________

Rujukan :

[1] Lihat Q.S. Al-Maidah [5] ayat 38, At-Taubah [9] ayat 71, 72, An-Nahl [16] ayat 97, An-Nur [24] ayat 2, Al-Ahzab [33] ayat 35, 36, 73, Al-Mukmin [40] ayat 40, Asy-Syuro [42] ayat 49, 50, Al-Fath [48] ayat 5, 6, 25, Al-Hadid [57] ayat 18

[2] Lihat Q.S. Al-Mumtahanah [60] ayat 10-12

[3] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 221

[4] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 14

[5] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 3

[6] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 25

[7] Lihat Q.S. An-Nur [24] ayat 31, Al-Ahzab [33] ayat 59

[8] Lihat Q.S. Al-Hujuran [49] ayat 11

[9] Lihat Q.S. Al-Falaq [113] ayat 4

[10] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 282

[11] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 34

[12] Lihat Q.S. Hud [11] ayat 72

[13] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 187, 223, Al-A’raf [7] ayat 189, An-Nahl [16] ayat 72, Al-Furqon (25) ayat 74, Ar-Rum [30] ayat 21

[14] Lihat Q.S. An-Nur [24] ayat 6, 23, Al-Ahzab [33] ayat 4

[15] Lihat Q.S. Al-Mujadilah [58] ayat 2

[16] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 226

[17] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 229-232

[18] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 236-237, Al-Ahzab [33] ayat 49

[19] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 42

[20] Lihat Q.S. Al-Qashash [28] ayat 25

[21] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 32

[22] Lihat Q.S. Al-Qashash [28] ayat 9

[23] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 35-36

[24] Lihat Q.S. Al-Ahzab [33] ayat 28-32

[25] Lihat Q.S. Hud [11] ayat 81, An-Naml [27] ayat 57

[26] Lihat Q.S. Yusuf [12] ayat 23-34

[27] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 1

[28] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 228

[29] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 32

[30] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 222

[31] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 22

[32] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 24

[33] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 23

[34] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 35

[35] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 32, Al-Hujurat[49] ayat 13

[36] Lihat Q.S. Fathir [35] ayat 11, Fushshilat [41] ayat 47

[37] Lihat Q.S. Ath-Thalaq [65] ayat 6

[38] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 234

(bersambung ke bag-2)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

POTRET KASIH SAYANG RASULULLAH S.A.W DALAM PENDIDIKAN ANAK(2): BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK

Pemateri: Ustzh. INDRA ASIH
Di tengah kesibukan mengurusi umat, perang, keluarga, dan masalah-masalah duniawi, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam selalu memberi dan menakar sesuatu sesuai dengan haknya. Beliau memberikan anak-anak kecil haknya untuk disayang dan dimanja. Beliau seringkali bermain dan bercanda bersama mereka, untuk membuat mereka ceria dan senang.
Abu Hurairah Ra pernah menceritakan bagaimana Nabi Saw bermain dan bercanda dengan cucu beliau, Al-Hasan. “Rasulullah Saw pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali Ra. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira”.
Anas bin Malik Ra menuturkan, bahwa beliau juga senang bercanda dengan Zainab. “Rasulullah sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu Salamah Ra, beliau memanggilnya dengan: Ya Zuwainab, Ya Zuwainab, berulang kali”. Zuwainab artinya Zainab kecil.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Mereka (anak-anak itu) berkata, “Ya Rasulullah, mengapa engkau bercanda dengan kami?” Kemudian Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam pun menjawab,
“Ya, akan tetapi aku selalu berkata benar, walau dalam senda gurau.” (HR Ahmad)
Di antara candaan beliau adalah apa yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa beliau memanggilnya dengan sebutan, “wahai orang yang berkuping dua.” (HR Abu Daud).
Seorang anak kecil bernama Abu Umair adalah anak Ummi Sulaim yang sering diajak bercanda oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Pada suatu hari, terlihat wajah anak ini kelihatan murung. Rupanya dia sedang bersedih karena burung pipit peliharaannya mati. Kemudian Rasulullah pun menghampirinya dan mencoba untuk menghiburnya dengan berkata, “Hai Abu Umair, apa yang dilakukan burung pipitmu?” (Muttafaq ‘alaih)
Pada kesempatan lain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam nampak asyik saat bercanda dengan anak-anak (kedua cucunya), sering kali Rasulullah digelantungi oleh mereka berdua. 
Al-Barra berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam digelantungi Hasan, dan Beliau berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah ia.” 
(HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).
Al-Barra’ juga mengatakan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memperhatikan Hasan dan Husain, lalu berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.”
(HR Tirmidzi)
Sebagai imam masjid, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sangat memaklumi perilaku anak-anak, meskipun mereka agak “menganggu”. Beliau memaklumi, dunia anak-anak memang demikian dan kecintaan anak-anak kepada masjid harus ditumbuhkan dengan dibiasakan mendatangi masjid dan dibina agar berlaku baik ketika berada di masjid. Hal tersebut nampak pada kejadian berikut,
Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sedang berjalan menuju masjid guna menunaikan shalat berjamaah, di tengah jalan didapati beberapa anak-anak yang sedang bermain.
Saat mereka melihat kedatangan beliau, anak-anak itu langsung mengerubunginya, bahkan memegang dan menarik-narik baju beliau.
Diantara mereka bahkan sampai mengatakan:
“Jadilah engkau untaku.”
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melayani ajakan anak-anak itu sehingga beliau agak terlambat datang ke masjid dari biasanya.
Bilal bin Rabah yang sudah menunggu kedatangan Rasul di masjid akhirnya harus mencari dimana Rasulullah ber shalallahu ‘alaihi wassalam ada. Ternyata ia mendapati, beliau sedang bermain dan dikerubungi anak-anak itu.
Bilal mendatangi mereka dan bermaksud menjewer telinga anak-anak itu agar mau melepaskan Rasul. Tetapi Rasul mencegah Bilal dengan mengatakan:
“Sempitnya waktu shalat lebih kusukai daripada harus menyakiti anak-anak ini.”
Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam kemudian memerintahkan Bilal untuk mencari makanan di rumah beliau agar bisa diberikan kepada anak-anak.
Bilal segera kembali kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dengan membawa kacang. 
Beliau kemudian mengatakan: 
“Apakah kalian mau menjual unta kalian dengan kacang ini?”
Anak-anakpun bergembira dengan mengambil kacang-kacang itu dan melepaskan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang melanjutkan perjalanan menuju masjid yang diikuti oleh anak-anak itu. Bilal terharu menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
Penelitian yang dilakukan Rana Esseily dari Paris West University Nanterre La Defense dan teman-temannya menunjukkan bahwa bercanda bersama anak membantu mereka menjadi lebih bahagia dan hal tersebut akan meningkatkan perhatian, motivasi, persepsi, daya ingat, yang pada gilirannya meningkatkan pembelajaran mereka.
Mereka melakukan penelitian tentang hubungan antara humor dengan kemampuan balita dalam belajar.
Penelitian tersebut melibatkan bayi berusia 18 bulan dengan menemukan bahwa anak-anak yang sering bercanda atau tertawa karena tingkah laku orang tua atau orang dewasa mampu mengulangi sebuah tindakan dibandingkan mereka yang tidak tertawa
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rana ini akan menyimpulkan bahwa kecerdasan anak dalam belajar ternyata berkaitan dengan kebahagiaan anak. Dengan kata lain, mental anak yang bahagia mendukung anak-anak untuk mencoba sesuatu yang baru dan berhasil ketika mempelajari sesuatu.
Berikut cara yang dilakukan oleh Rana Esseily dan teman-teman dalam mengetahui bahwa bercanda bisa membuat anak lebih cerdas:
Dalam satu kelompok, orang dewasa hanya bermain dengan mainan; tetapi pada kelompok lain, orang dewasa melemparkan mainan di lantai, yang membuat separuh anak-anak dalam kelompok tertawa. Hasilnya, anak-anak yang tertawa karena tingkah laku orang dewasa mampu mengulangi sebuah tindakan daripada mereka yang tidak tertawa.
Kesimpulan:
Nabi shalallhu ‘alaihi wassalam senang bercanda dengan anak-anak. Bermain dan bercanda dengan anak ini merupakan salah satu hal yang penting untuk diperhatikan oleh orang tua. 
Sebagian orang tua merasa malu dan gengsi untuk bermain dan bercanda bersama anak-anaknya. Padahal cara ini merupakan salah satu cara yang sangat jitu dan manjur untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tuanya. Ketika orang tua sudah akrab dengan anak-anaknya, maka pada saat itu anak akan lebih terbuka untuk menceritakan apa yang dia hadapi kepada orang tuanya.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Ketika seseorang berada di tengah-tengah keluarganya, hendaklah ia menjadi seperti anak kecil; penuh kasih sayang, bercanda dan bermain-main dengan anaknya. Tapi, ketika kehorrmatannya dilecehkan, ia menjadi lelaki sejati.”
Orang tua hendaklah menyempatkan waktu untuk bermain-main dengan anak-anak. Dalam mendidik anak, bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah bermain dan belajar bersama anak-anak. Betapa senang anak-anak apabila orang tua mau bermain-main dan bergembira bersama mereka. Para orang tua jangan menganggap bermain-main dengan anak sebagai sesuatu yang tidak penting. Penelitian telah menunjukkan, orang tua yang memiliki waktu untuk bermain dengan anak-anak, memberikan pengaruh yang positif bagi perkembangan anak.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Siapa memiliki anak kecil, hendaklah ia bercanda dan bermain dengan mereka.” (HR. Ad-Dailami dan Ibnu ‘Asakir)
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…

SURAT AL-KAFIRUN (Bag-3)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.
Pembahasan sebelumnya bisa dilihat tautan di bawah ini..
Penjelasan tentang ayat-ayat Surat Al-Kafirun berikut ini semoga memperkuat motivasi kita semua untuk mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan terus mendalaminya.
AYAT 1⃣

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
📌Katakanlah: “Hai orang-orang kafir”
“Qul” (Katakanlah wahai Rasul-Ku): adalah perintah Allah kepada beliau untuk merespon negosiasi yang dilakukan oleh Al-Walid bin Al-Mughirah dan rekan-rekannya agar Rasulullah mau melakukan kompromi dan pencampuran ibadah. Sebuah respon negatif untuk mereka dan jawaban tegas berupa penolakan.
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa seruan ayat ini berlaku umum untuk semua orang kafir di muka bumi, meskipun seruan saat ayat ini diturunkan ditujukan untuk kafir Quraisy. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/507).
Beberapa ulama tafsir lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-kafirun dalam ayat ini adalah orang-orang kafir yang tetap dalam kekafiran mereka hingga akhir hayat, seperti yang terjadi pada Al-Walid bin Mughirah dan rekan-rekannya yang menjadi sebab turunnya ayat ini. Mereka semua tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggal dalam kekafiran. (Tafsir Al-Qurthubi, Syamsuddin Al-Qurthubi, 20/226; Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 5/619; Nazhm Ad-Durar, Al-Biqa’i, 22/3012; At-Tafsir Al-Munir, Az-Zuhaili, 30/440).
Orang-orang Quraisy di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dinyatakan kafir oleh Allah meskipun mereka mengakui dan menyatakan Allah sebagai pencipta langit dan bumi, dan biasa menyebut kata Allah dalam pembicaraan mereka.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
📌Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Al-Ankabut: 61).
Hal ini menegaskan bahwa sekadar percaya bahwa Allah adalah Maha Pencipta, apalagi sekadar percaya bahwa alam ini diciptakan tanpa keyakinan yang jelas siapa Penciptanya, maka semua itu tidak cukup untuk dikatakan beriman kepada Allah dengan benar.
Keimanan dan beragama yang benar bagi manusia yang lahir setelah diutusnya Nabi Muhammad adalah dengan beribadah hanya kepada Allah dengan tata cara yang dijelaskan oleh wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui Al-Quran dan Hadits dan membenarkan semua informasi yang bersumber dari keduanya.
Dalam konteks Quraisy, awal kekafiran mereka adalah pengingkaran mereka kepada kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Seruan kepada mereka oleh Rasulullah menggunakan isim fa’il (kata sifat, pelaku) “kafirun” untuk menghinakan mereka dan mengisyaratkan bahwa:
1⃣ Rasulullah tidak pernah takut kepada mereka meskipun beliau memanggil mereka dengan “orang-orang kafir”, sebuah panggilan yang mereka pasti tidak suka. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/581).
2⃣ . Bahwa negosiasi yang mereka lakukan adalah upaya pencampuran tauhid dengan syirik tanpa keraguan sedikitpun, dan momen menjawab negosiasi mereka adalah momen ketegasan, sehingga diperlukan bahasa yang tegas tentang al-furqan (garis pemisah) antara iman dengan kafir yang tidak menimbulkan kesan keraguan atau kelemahan.
3⃣ Seruan dakwah Rasulullah menggunakan bahasa yang sesuai situasi dan kondisi, termasuk dalam memanggil objek dakwah. Beliau menggunakan panggilan umum seperti “Ya Ayyuhan-Nas” (wahai manusia), atau panggilan yang mengandung penghormatan misalnya dengan menyebut suku atau kabilah mereka yang terhormat seperti “Ya Ma’syara Quraisy” (Wahai masyarakat Quraisy) atau “Ya Bani ‘Abdi Manaf” (Wahai anak keturunan Abdu Manaf), .. demi maslahat dakwah yang ingin diwujudkan tanpa melanggar larangan.
AYAT 2⃣ sampai dengan 5⃣

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
Beberapa ulama tafsir memaparkan dengan penjelasan yang berbeda. Apakah AYAT 4 adalah sekadar taukid (penguat) bagi AYAT 2, begitu juga AYAT 5 bagi AYAT 3, ataukah ada fungsi dan manfaat lainnya?
📚PENJELASAN IBNU ‘ASYUR
Ada yang memandang bahwa rangkaian AYAT dari 2 sampai 5 ini memiliki fungsi yang berbeda.
Diantaranya Ibnu ‘Asyur rahimahullah yang menyimpulkan bahwa:
AYAT 2⃣ menjelaskan situasi MASA DEPAN, bahwa Rasulullah tidak akan menyembah sesembahan mereka DI WAKTU MENDATANG.
🔹 Dalilnya adalah:
Dalil bahasa Arab, bahwa huruf nafi/negasi لا (tidak) yang masuk ke dalam fi’il mudhari’ (أعبد) mengandung makna negasi di MASA DEPAN. 
Juga dapat disimpulkan dari salah satu riwayat sabab nuzul surat ini bahwa mereka menawarkan untuk lebih dahulu beribadah kepada Allah selama setahun, baru setelah itu Rasulullah beribadah menyembah berhala mereka DI TAHUN BERIKUTNYA.
Sehingga maknanya menjadi:
“Aku tidak akan (di masa datang) beribadah kepada apa yang kalian ibadahi.”
AYAT 3⃣ mengandung negasi untuk SAAT SEKARANG, bahwa kalian orang-orang kafir tidak menjadi pelaku ibadah kepada Allah SAAT INI.
🔹 Dalilnya:
Dalil bahasa: Negasi atas kalimat yang berbentuk JUMLAH ISMIYAH adalah negasi untuk keadaan SAAT INI. Jumlah ismiyah adalah kalimat yang intinya diawali dengan isim (kata benda), di AYAT 3 ini isimnya adalah dhamir (kata ganti) – أنتم dimana “antum” (kalian) adalah mubtada (kata yang diterangkan), dengan KHABARnya (yang menerangkan) juga ISIM yaitu عابدون.
Juga dapat disimpulkan dari sabab nuzul bahwa mereka siap mulai menyembah Allah SAAT INI dengan syarat tahun berikutnya Rasulullah menyembah berhala mereka.
Maksudnya: kalian wahai tokoh-tokoh Quraisy tidak perlu SAAT INI menjadi pelaku ibadah menyembah Allah jika hal itu kalian lakukan dengan tujuan mencampur adukan keyakinan dan peribadatan, dan supaya tahun depan aku bergantian menyembah berhala kalian. Karena perbuatan itu tidaklah benar.
Sehingga terjemahannya akan menjadi:
“Dan kalian (saat ini) tidak menjadi pelaku ibadah kepada Tuhan yang aku ibadahi.”
AYAT 4⃣ merupakan athaf bagi AYAT 3 (keduanya berkedudukan sejajar, dipisahkan dengan huruf wau) dan sama-sama berbentuk JUMLAH ISMIYAH, sehingga juga mengandung negasi untuk SAAT SEKARANG.
Sehingga maknanya menjadi:
Dan aku (saat ini) tidak menjadi pelaku ibadah kepada apa yang kalian ibadahi.
AYAT 5⃣ merupakan athaf bagi AYAT 4: berfungsi sebagai penegasan perbedaan 180 derajat antara Rasulullah dengan mereka.
AYAT 5 sebagai pengulangan dari AYAT 3: sebagai isyarat bahwa Allah dengan pengetahuan-Nya yang tak dibatasi oleh apapun telah mengetahui bahwa tokoh-tokoh Quraisy yang datang kepada Rasulullah untuk menawarkan negosiasi ini tidak akan pernah sama sekali menyembah Allah sampai akhir hayat mereka. Sekaligus ini menjadi salah satu tanda kenabian atau mu’jizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
(At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/581-583).
📚PENJELASAN ASY-SYAUKANI
🔹(Bersambung)🔹
Dipersembahkan:
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Bab Larangan Upah Kawin Pejantan

Pemateri: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Taujih Nabawi

Hadits #1

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَسْبِ الْفَحْلِ (رواه البخاري والنسائي وأبو داود)

Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang menjual air mani pejantan. (HR. Bukhari, Nasa’i dan Abu Daud)

Takhrij Hadits

Dengan sanad dari Ali bin Hakam, dari Nafi’, dari Ibnu Umar ra, diriwayatkan oleh :
Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Ijarah, Bab ‘Ashbil Fahl, hadits no 2123.

Imam Turmudzi, dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a fi Karahiyati Asbil Fahl, hadits no 1194.

Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Bai’ Dhirabil Jamal, hadits no 4592.

Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Asbil Fahl, hadits no 2975.

Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad Al-Muktsirin Minas Shahabah, dalam Musnad Abdullah bin Umar bin Khattab , hadits no 4402.

Hadits #2

وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ ضِرَابِ الْفَحْلِ (رواه مسلم والنسائي)

Dari Jabir ra bahwa Nabi SAW melarang upah (kawin) hewan jantan.’ (HR. Muslim & Nasa’i)

Takhrij Hadits

Dengan sanad dari Ibnu Jubair, dari Abu Zubai dari Jabir bin Abdillah ra, diriwayatkan oleh :

Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Musaqah, Bab Tahrim bai’ fadhlil maa’illadzi yakunu bil falati wa yuhtaju ilaihi, hadits no 2926.

Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Dhirabil Jamal, hadits no 4591.

Catatan :

Namun riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim dan Sunan Nasa’i, tidak menggunakan redaksi ( ضراب الفحل ) akan tetapi menggunakan redaksi ( ضراب الجمل ).

Gambaran Takhrij Hadits

Kesimpulan Hukum Riwayat Hadits

Hadits #1 merupakan hadits shahih, sesuai syarat Imam Bukhari, dan ditakhrij oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya.

Hadits ke #2 adalah hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya, dan sebagaimana dikemukakan juga oleh Imam Al-Hakim dalam Mustadraknya, :

وهذه أسانيد كلها صحيحة على شرط مسلم ولم يخرجاه

Sanad hadits ini semuanya shahih sesuai syarat Imam Muslim, namun beliau tidak mentakhrij dalam Shahihnya.
Makna Hadits

Gambaran Hadits Secara Umum

Secara umum, hadits ini menggambarkan tentang hukum jual beli sperma hewan pejantan, atau upah kawin hewan pejantan, yaitu bahwa hadits tersebut melarang transaksi dimaksud.

Maksud dari jual beli sperma hewan pejantan atau upah kawin hewan pejantan adalah seseorang memiliki hewan pejantan dari jenis-jenis hewan yang boleh dimakan seperti kambing, sapi, kerbau dan unta, kemudian ia memperjual belikan sperma pejantannya untuk ditanamkan dalam rahim hewan betina milik pembeli.

Atau seseorang yang memiliki hewan pejantan menyewakannya kepada penyewa, untuk mengawani hewan milik si penyewa.

Adapun tujuan dari jual beli sperma pejantan atau sewa/ upah kawin hewan pejantan adalah agar hewan tersebut bisa membuahi hewan betina milik si pembeli atau si penyewa.

Makna ( عسب الفحل ) Asbil Fahl

Makna ( عسب ) secara bahasa, asb berarti keturunan atau anak
Makna ( فحل ) secara bahasa, fahl berarti hewan jantan atau pejantan
Dalam Nailul Authar disebutkan, bahwa fahl adalah jenis jantan dari semua hewan, kuda, unta atau kambing, atau hewan lainnya.

Apabila digandeng, ( عسب الفحل ) memiliki beberapa pengertian, diantaranya :

Air pejantan, maksudnya sperma yang berasal dari hewan pejantan.

Upah perkawinan dari hewan pejantan.

Pandangan Ulama Tentang Hukum Upah Kawin Pejantan

Pandangan Pertama:

Pandangan yang berpegang pada dzahir nash hadits, yaitu bahwa menjual sperma hewan pejantan, atau menyewakan hewan pejantan untuk mengawini hewan betina, atau upah kawin hewan pejantan, adalah haram.

Dalam nailul authar disebutkan :

قال الشافعي وأبو حنيفة وأبو ثور وآخرون استئجاره لذلك باطل وحرام ولا يستحق فيه عوض ولو أنزاه المستأجر لا يلزمه المسمى من أجره ولا أجرة مثل ولا شئ من الأموال قالوا لأنه غرر مجهول وغير مقدور على تسليمه

As-Syafii, Abu Hanifah, dan Abu Tsaur, serta beberapa ulama lainnya mengatakan bahwa menyewakan hewan jantan untuk dikawinkan statusnya tidak sah dan haram.

Pemiliknya tidak berhak mendapatkan ganti biaya. Meskipun penyewa itu mengawinkan hewan jantan (milik orang lain) dengan betina miliknya, dia tidak berkewajiban membayar upah yang telah dinyatakan di awal, tidak pula upah yang semisal atau harta apapun.

Pandangan Kedua

Pendapat yang mengatakan bahwa larangan dalam hadits di atas bukanlah menunjukkan keharaman (tahrimi), melainkan larangan yang dimaksudkan agar dihindari (tanzihi).

Atau dengan kata lain, larangannya adalah bersifat makruh, bukan haram.

Dalam syarah shahih Muslim disebutkan

وقال جماعة من الصحابة والتابعين ومالك وآخرون يجوز استئجاره لضراب مدة معلومة أو لضربات معلومة لأن الحاجة تدعو إليه وهي منفعة مقصودة وحملوا النهي على التنزيه والحث على مكارم الأخلاق…

”Beberapa sahabat, tabiin, Imam Malik, dan beberapa ulama lainnya berpendapat, boleh menyewakan pejantan untuk dikawinkan dalam masa yang disepakati, atau untuk beberapa kali proses mengawini.

Karena ada kebutuhan untuk melakukan proses itu, danmengawinkan binatang merupakan manfaat utamanya.

Illat Dilarangnya Jual Beli Sperma Pejantan

Adapun illat (sebab/ alasan) dilarangnya jual beli sperma pejantan, atau upah kawin pejantan adalah karena adanya dua hal berikut

Jahalah (ketidaktahuan) kadar, jenis, kuantitas dan kualitasnya

Adamul qudrah alat taslim (tidak bisa diserah terimakan).

Ibnu Qayim Al-Jauzi mengatakan ;

أن ماء الفحل لا قيمة له ولا هو مما يعاوض عليه ولهذا لو نزا فحل الرجل على رمكة غيره فأولدها فالولد لصاحب الرمكة اتفاقا لأنه لم ينفصل عن الفحل إلا مجرد الماء وهو لا قيمة له

Sperma adalah benda yang tidak memiliki nilai, bukan pula benda yang layak dijual belikan. Karena itu, ketika ada hewan pejantan seseorang yang mengiwini hewan betina milik orang lain, kemudian menghasilkan anak. Maka anak hewan ini menjadi milik si pemilik hewan betina dengan sepakat ulama. Karena anak ini tidak ada hubunganya dengan si jantan, selain sebatas sperma dan itu tidak ada harganya.

Hukum Meminjamkan Hewan Pejantan Kepada Pemilik Betina

Ulama sepakat, bahwa hukum meminjamkan hewan pejantan kepada pemilik hewan betina, dengan maksud supaya hewan pejantan tersebut mengawini hewan betina, tanpa adanya konpensasi upah apapun, adalah boleh.

Hal ini sebagaimana dalam hadits :

عن أبي كبشة الأنماري ، أنه أتاه فقال : أطرقني (1) فرسك ، فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : « من أطرق فرسا فعقب له الفرس كان له كأجر سبعين فرسا حمل عليها في سبيل الله ، وإن لم تعقب كان له كأجر فرس حمل عليه في سبيل الله (رواه ابن حبان)

Dari Abi Kabsyah Al-Anmari ra, berkata ‘Pinjamkanlah kudamu padaku, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa yang meminjamkan kuda pejantannya secara cuma-cuma, lalu kuda betina yang dibuahi itu berketurunan, maka pemilik kuda jantan tersebut akan mendapatkan pahala tujuh puluh kuda yang dijadikan sebagai binatang tunggangan di jalan Allah.

Jika tidak berketurunan maka pemilik kuda pejantan akan mendapatkan pahala seekor kuda yang digunakan sebagai hewan tunggangan di jalan Allah.” (HR. Ibnu Hibban)

Memberikan Hadiah, sebagai konpensasi peminjaman hewan pejantan.

Namun bagaimana hukumnya, apabila si peminjam memberikan hadiah kepada pemilik hewan pejantan, sebagai rasa terimakasihnya telah dipinjami hewan pejantan dan mengawini hewan betinanya?

Ulama berpendapat bahwa hukumnya boleh, dengan syarat bahwa hadiah tersebut bukanlah sewa, namun benar-benar hadiah yang diberikan tanpa adanya perjanjian pemberiah imbalan dengan besaran tertentu.

Hal ini di dasarkan pada hadits dari Anas bin Malik ra dari Rasulullah SAW :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلاً مِنْ كِلاَبٍ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَسْبِ الْفَحْلِ، فَنَهَاهُ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نُطْرِقُ الْفَحْلَ فَنُكْرَمُ؟ فَرَخَّصَ لَهُ فِي الْكَرَامَةِ (رواه الترمذي)

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa seseorang dari kabilah Kilab bertanya kepada Nabi SAW perihal upah kawin pejantan.

Lalu Nabi SAW melarangnya. Kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami meminjamkan hewan pejantan (untuk tujuan pengawinan), lalu kami mendapatkan hadiah?’ lalu Nabi SAW memperbolehkannya hadiah tersebut.’ (HR. Turmudzi)

Konsekwensi Jual Beli Sperma Pejantan, atau upah kawin pejantan.

Oleh karena hukum jual beli sperma atau upah kawin pejantan adalah dilarang, maka upah atau harga jual belinya adalah juga terlarang juga.

Karena ketika Allah SWT mengharamkan sesuatu, maka Allah haramkan juga harga atau keuntungan dari proses jual beli sesuatu tersebut.

Jadi, keuntungan atau upah kawin pejantan adalah tidak sah secara syariah, karena termasuk usaha yang dilarang secara syariah.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala..

Kemenangan Tanpa Pengokohan, Mungkin Kroasia Sudah Terlalu Jauh dari İstanbul

Pemateri: Ust. Agung Waspodo SE,6 MPP

Pertempuran di Lapangan Krbava – 9 September 1493

Pertempuran ini dalam sejarah Kroasia disebut “Bitka na Krbavskom polju,” dalam bahasa Hungaria dikenal sebagai “Korbávmezei csata,” dan dalam istilah Turki adalah “Krbava Muharebesi” yang mempertemukan antara Khilafah Turki Utsmani yang dipimpin oleh Sultan Bayezid II melawan balatentara Kerajaan Kroasia ketika masih bersatu dengan Kerajaan Hungaria di Lapangan Krbava, bagian dari wilayah Lika di Kroasia.

Pasukan Turki Utsmani berada dibawah pimpinan Hadım Yakup Pasha, seorang Sancak-Bey dari Sancak Bosnia sedangkan pasukan Kroasia dipimpin oleh Emerik Derenčin, seorang Ban dari Kroasia yang loyal kepada Raja Vladislaus II Jagiello.

Pada awalnya di musim panas tahun 1493, pasukan Turki Utsmani menyerbu melintasi Kroasia hingga ke Carniola dan Styria ketika perseteruan antara keluarga Frankopan dan Ban Kroasia sedang memuncak. Namun, kehadiran pasukan Turki Utsmani ini memaksa kedua belah pihak untuk meredam konfliknya.

Para bangsawan Kroasia memobilisasi pasukan dalam jumlah yang besar dan mencegat pasukan Turki utsmani yang sedang dalam perjalanan pulang ke Sancak Bosnia. Namun, taktik yang lemah serta pemilihan lapangan yang datar yang memberikan kesempatan emas bagi kavaleri Turki Utsmani untuk bermanuver sesuai keahliannya menjadikan kekalahan memukul pihak Kroasia. Memang tidak ada konsekuensi kehilangan daerah bagi Kroasia, namun kekalahan ini memudahkan Turki Utsmani untuk masuk ke wilayah selatan Kroasia pada dekade berikutnya.

Latar Belakang

Setelah masuknya Kerajaan Bosnia menjadi bagian dari kekhilafahan Turki Utsmani pada tahun 1463, maka perluasan pengaruhnya menyebar luas ke arah barat. Perkembangan ini menjadi ancaman bagi bagian selatan dan tengah dari Kerajaan Kroasia. Setelah ketegangan itu, semakin sering serbuan Turki Utsmani dirasakan di perbatasan Kroasia. Serbuan ini dilaksanakan oleh kesatuan Akıncı, yaitu kavaleri ringan Turki Utsmani, yang memilih musim semi dan panas untuk melancarkan serbuannya. Oleh karena itu penduduk setempat meninggalkan lahan di perbatasan sehingga menyebabkan benteng-benteng di wilayah itu kehilangan sumber logistiknya.

Salah satu serbuan pada bulan September 1491 bahkan sampai melintasi sungai Kupa hingga mrncapai ke Carniola. Dalam perjalanan pulang, pasukan inj disergap oleh kesatuan pimpinan Ban Ladislav dari Egervár dan Count Bernardin Frankopan dekat kota Udbina; pada Pertempuran Vrpile ini pihak Turki Utsmani terkalahkan. Kekalahan ini memaksa Turki Utsmani menghentikan penyerbuannya pada tahun 1492. Setelah Hadım Yakup Pasha diangkat menjadi Sancak-Bey utk Sancak Bosnia, maka serbuan rutin itu dimulai kembali.

Persiapan

Pada musim panas tahun 1493, Hadım Yakup Pasha memobilisir pasukan berkekuatan 8.000 kavaleri ringan Akıncı dan menyerang kota Jajce namun gagal menguasai bentengnya. Dari situ mereka bergerak menuju utara dan memasuki wilayah Carniola dan Styria serta menyerbu wilayah pinggirannya. Pada tahun yang sama terjadi lagi perseteruan antara Ban Kroasia yang dijabat oleh Emerik Derenčin (dalam bahasa Hungaria dikenal sebagai Imre Derencsényi) melawan kekuarga Frankopan yang bersekutu dengan Karlo Kurjaković; mereka memoerebutkan kendali atas wilayah Senj dan beberapa kota lainnya.

Pada pertengahan bulan Juli 1493, Count Bernardin Frankopan dan Ivan VIII (Anž) Frankopan berada di atas angin pada perang terbuka tersebut pada pengepungan Senj. Kepungan itu terpaksa diangkat ketika didatangi oleh pasukan pimpinan Ban Derenčin. Pasukan Frankopan mundur ke Sokolac serta dituduh bekerja sama dengan Turki Utsmani walau sebenarnya daerah Frankopan juga menderita serangan Turki Utsmani. Kedatangan pasukan Turki Utsmani kembali memaksa kedua pihak untuk bersatu.

Pada perjalanan pulangnya, pasukan Turki Utsmani menyerang kota Modruš di sebelah utara Lika; wilayah yang dimiliki oleh kekuarga Frankopan sebenarnya. Kedua seteru Kroasia itu mengumpulkan 3.000 pasukan berkuda beserta 8.000 pasukan infanteri dari berbagai penjuru Kroasia. Namun, sebagiannya berasal dari para petani yang menggarap ladang di Krbava. Pasukan ini memutuskan untuk menghadapi lawannya di medan terbuka; walau sempat tercetus ide untuk menjebaknya di lembah oleh Ivan Frankopan Cetinski.

Pertempuran

Pasukan Turki Utsmani memasuki palagan Krbava melalui titik terendah dan tersempit dari celah gunung di Gorcia; mereka menghindari jalur celah Vrpile yang berakhir pada kekalahan dua tahun sebelumnya. Mendapatkan informasi intelijen akan adanya pergolakan tawanan ketika perang nanti berkecamuk memaksa Hadım Yakup Pasha untuk mengeluarkan perintah eksekusi terhadap tawanan mereka di dekat Jelšani (Jošan modern sekarang) untuk meminimalisir resiko pemberontakan. Setelah itu ia berunding dengan para komandan dan menyetujui untuk mengirimkan 3.000 kavalerinya untuk membuat jebakan di hutan dekat Lapangan Krbava.

Walaupun pada mulanya rencana Kroasia adalah menyerang lawannya di padang terbuka, namun posisi awalnya mereka menempati lereng bukit dekat desa Visuć. Balatentara ini diposisikan menghadap lawan sexara frontal dalam 3 lini; pertama terdiri dari prajurit Slavonia dibawah Franjo Berislavić, kedua dipimpin Ivan Frankopan Cetinski, dan ketiga dibawah Nikola VI Frankopan dan Bernardin Frankopan. Setiap lini mendapatkan porsi infanteri dan kavaleri yang seimbang. Panglima umum balatentara Kroasia dipimpin oleh Ban Emerik Derenčin.

Balatentara Turki Utsmani juga terbagi tiga; pertama dibawah İsmail Bey Sancak-Bey dari Sncak Kruševac, kedua dibawah Mehmed Bey dari Sancak Üsküp (Skopje), dan ketiga yang berada di lini tengah dibawah Hadım Yakup Pasha. Perlu juga dicatat bahwa İshak Bey Kraloğlu (Sigismund dari Bosnia), anak dari Raja Bosnia, Stephen Thomas (w. 1461) juga ikut serta berperang pada pihak Khilafah Turki Utsmani.

Pertempuran di Lapangan Krbava – 9 September 1493

*Rencana Turki Utsmani

Rencana balatentara Turki Utsmani adalah menarik pergerakan pasukan Kroasia menjauh ke arah barat ke dekat hutan dimana sudah dipersiapak suatu jebakan. Sayap kiri İsmail melakukan gerakan pertama menyerbu ke sisi kiri Kroasia. Serangan ini membuat lawan terpancing dan mereka meninggalkan posisi lereng bukit dan balik menyerang pasukan Turki Utsmani dan perang terbuka tak terelakkan lagi.

Pertempuran pada hari Senin 27 Dzul Qa’dah 898 Hijriah (9 September 1493) itu dipertarungkan menggunakan pedang tanpa sempat ada anak panah yang dilesatkan.

Pada awalnya Turki Utsmani yang terdesak dan mulai mundur, namun ini justru menjadi awal terjebaknya pasukan Kroasia karena mereka lengah dan membiarkan sayap belakangnya diserbu olrh 3.000 kavaleri yang sedari tadi bersembunyi di hutan Krbava. Setelah pendadakan itu barulah pasukan utama dibawah Hadım Yakup Pasha yang juga bersembunyi di huta keluar dan melancarkan serangan umum terhadap lini depan, kanan, dan belakang pasukan Kroasia. Sayap kiri pasukan Kroasia dibawah Bernardin Frankopan yang menerima hantaman serangan itu tidak dapat lama bertahan serta mulai mundur. Sebagian besar infanteri Kroasia terkurung dan tidak dapat melarikan diri. Kekalahan telak ini hanya menyisakan sedikit pasukan Kroasia yang berlindung di dalam perlindungan dinding kota Udbina.

Pertempuran yang dimulai sekitar jam 0900 itu berakhir pada sore hari. Ban Derenčin tertawan dan dieksekusi atas kekejaman sebelumnya. Saudaranya yang bernama Pavao terbunuh dalam pertempuran. Nikola VI Frankopan Tržački yang juga tertawan berhasil lolos dari maut setelah ditebus oleh keluarganya. Diantara para bangsawan yang gugur pada pertempuran itu termasuk Ivan Frankopan Cetinski, Petar II Zrinski, Juraj Vlatković, dan Ban dari Jajce qyaitu Mihajlo Pethkey. Count Bernardin Frankopan dan Franjo Berislavić berhasil lolos dari kekalahan di Krbava.

Kesudahan

Walaupun para bangsawan elit Kroasia menderita kekalahan telak hingga Kerajaan Kroasia menjadi terhapus dari sejarah, namun khilafah Turki Utsmani tidak mendapatkan pertambahan wilayah sebagai hasilnya. Karena kekalahan yang begitu besar maka dalam sejarah Kroasia pertempuran ini dikenang sebagai Palagan Berdarah atau “Field of Blood”. (dalam bahasa Kroasia: Krvavo polje).

Perdamaian antara koalisis Kroasia-Hungaria dan Turki Utsmani disepakati pada bulan April 1495. Ekspedisi Turki Utsmani besar berikutnya terjadi pada tahun 1512-1513 yang dimrnangi oleh Kroasia di Pertempuran Dubica. Zona perang ini kemudian dikosongkan dan penduduk migrasi menjauhinya ke area barat-laut Kroasia, pantai Laut Adriatik, dan bahkan keluar dari wilayah Kroasia. Franjo Berislavić menjadi Ban untuk Jacjr pada tahun 1494.

Agung Waspodo mencatat bahwa ada beberapa kemenangan di medan perang Turki Utsmani yang tidak membawa pada perluasan wilayah sehingga tidak menopang perkembangan kebudayaan  Islam pada fase selanjutnya; bahkan kemudian lepas dari orbit. Pelajaran lagi dari 522 tahun yang lalu.

Depok, Jumat 18 September 2015, hawa pagi beranjak panas, peristiwanya telah lewat 9 hari

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT. (Bag. 3)

Pemateri: Ust. DR. Abas Mansur Tamam

Materi sebelumnya bisa d lihat di tautan berikut ini:

Bag. 1: http://goo.gl/CrOkHT
Bag. 2: http://goo.gl/5zg3rd

2. BERWAWASAN LUAS (ULIL ABSHAR):

1. Cerdas (al-‘Aqlu):

2. Pengetahuan Tentang Kitab Allah (al-Ilmu bi Kitabillah):

Indikator kedua dari orang yang memiliki wawasan luas adalah memiliki pengetahu an tentang Alquran (al-ilmu bikitabillah), demikian menurut Qatadah.

Membuat batasan operasional dari indikator ini sedikit sulit, karena Alquran itu sendiri merupakan kitab pengetahuan.

Allah swt. berfirman:

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

Artinya: “Jika engkau mengikuti kemauan mereka (Yahudi dan Nasrani) setelah ilmu (Alquran) datang kepadamu, maka Allah tidak akan lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (Al-Baqarah [2]: 120).

Menurut pengertian ini, memiliki wawasan Alquran mengindikasikan keharusan menguasai kajian Alquran, dan itu tidak bisa dijangkau oleh umumnya kita.

Indikator ini akan menjadi operasional jika kita membagi penguasaan terhadap ilmu-ilmu Alquran kedalam dua bagian: tataran ideal dan tataran praktis.

a. Tataran Ideal:

Gambaran ideal dari orang yang memiliki indikator ini adalah seorang ahli tafsir. Karena seorang mufassir dituntut untuk menguasai semua disiplin ilmu Alquran (ulumul Quran) yang diperlukan untuk menafsir kannya.

Dahulu di antara sejumlah sahabat yang paling berprestasi di bidang ini adalah Ubai bin Ka’ab.

Rasulullah saw. mengumumkan: “Wa aqrauhum Ubay” (Tirmizi, 5/3790, hadits hasan).

Kata aqra dalam hadits di atas bukan hanya ahli membaca, tetapi ahli dalam semua aspek yang berhubungan dengan penguasaan Kitab Allah.

Itu sebabnya Ubai menjadi pendiri Mazhab Madinah dalam kajian Alquran. Sebagaimana Ibn Abbas telah melahirkan Mazhab Makkah, dan Ibn Mas’ud melahirkan Mazhab Kuffah dalam kajian Alquran.

Karena itu idealnya kita harus menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan untuk memahami Alquran dengan baik.

Ilmu-ilmu itu seperti:
– sejarah pengumpulan Alquran,
– kodifikasi dan urutan surat-surat Alquran,
– tata cara turunnya Alquran, – sebab-sebab turunnya Alquran (asbabun nuzul),
– surat-surat atau ayat-ayat yang diturunkan di Makkah (Makiyyah) dan yang diturunkan di Madinah (Madaniyah),
– ayat-ayat yang menghapus dan dihapus (nasikh-mansukh),
– ayat-ayat yang memiliki makna-makna yang lugas (muhkam) dan yang tidak lugas (mutasyabih),
– mazhab-mazhab dan syarat-syarat tafsir,
– kemukjizatan Alquran,
– kisah-kisah Alquran dan tujuan-tujuannya,
– hukum-hukum yang dikandung di dalam Alquran, dan
– ilmu-ilmu lain-lain yang berhubungan erat dengan Alquran.

Meskipun penguasaan terhadap ilmu-ilmu di atas sangat sulit untuk dicapai, tetapi orang yang bercita-cita menjadi manusia unggulan di sisi Allah dan Rasul-Nya tidak boleh menganggapnya mustahil, untuk kemudian berhenti menapaki dan mencarinya.

Sebaliknya, orang yang mempunyai obsesi untuk itu tetap menjadikannya sebagai target yang terus diupayakan sedikit demi sedikit, dengan cara menambah wawasan kita tentang Alquran.

Syiar kita adalah seperti yang diajarkan oleh Alquran:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Artinya: “Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (Thoha [20]: 114).

b. Tataran Praktis:

Adapun tataran praktis yang harus dicapai oleh setiap muslim adalah wawasan yang merupakan kewajiban muslim terhadap Alquran.

Hal itu bisa disederhanakan menjadi empat aspek yang wajib dilakukan setiap muslim terhadap Kitab sucinya, yaitu:

Aspek Keimanan:

Maksudnya setiap muslim wajib mengetahui hal-hal paling dasar dalam keimanannya kepada Alquran. Bahwa Alquran adalah wahyu Allah dalam lafal-lafal berbahasa Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang sampai kepada kita dengan mutawatir (Syaltout, Al-Islam, 471).

Pengetahuan ini wajib dimiliki hingga menyampaikan kita pada keimanan bahwa Alquran merupakan kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Firman Allah:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Artinya: ”Itulah Kitab Allah yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah [2]: 2).

Seseorang tidak disebut sebagai orang beriman kecuali dia meyakini sepenuhnya bahwa Alquran mengandung ajaran kebenaran yang harus dijadikan pegangan dalam hidup manusia.

Alquran harus memandu kehidupan, hingga umat manusia mendapatkan kesejahteraan dan kebagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Kegagalan hidup manusia dalam pengertian yang sesungguhnya disebabkan karena ia berpaling dari Alquran. Sistem sosial apapun yang tidak bersumber dari Kitab Allah akan mengantarkan umat manusia pada kegagalan dan kesengsaraan dalam hidupnya.

Pemahaman ini membuat seorang mukmin siap untuk menerima setiap titah dan larangan Allah dalam Alquran.

Sehingga lahir trilogi: pengetahuan-iman-kesiapan melaksanakan ajaran Alquran.

Ibn Mas’ud mengatakan:
“Jika engkau mendengar Allah berfirman: wahai orang-orang yang beriman, maka pasanglah pendengaran engkau.

Karena ujaran setelah itu bisa merupakan perintah dimana engkau diperintah untuk melaksanakannya, atau merupakan larangan dimana engkau dilarang untuk melaksanakan nya” (Tafsir As-Samarqandi, 1/131).

Aspek Tilawah dan Tahfiz

Aspek tilawah maksudnya kemampuhan untuk membaca Alquran dengan tartil. Sedangkan tahfiz maksudnya adalah upaya menghapal sebagian atau keseluruhan Alquran.

Keharusan membacanya dengan tartil karena orang yang trampil dalam membacanya akan hidup bersama para rasul kelak di dalam surga.

Rasulullah saw. bersabda:

عن عَائِشَةَ قالت قال رسول اللَّهِ ﷺ الذي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وهو مَاهِرٌ بِهِ مع السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَؤُهُ وهو عليه شَاقٌّ فَلَهُ أَجْرَانِ

Artinya: “Orang yang membaca Alquran dengan lancar, dia bersama para rasul (atau malaikat) yang mulia. Sedangkan orang yang membacanya dengan susah, dia mendapatkan dua pahala” (Abu Daud 5/2904; Tirmidzi 5/2904, hadits hasan sahih).

Kemampuan ini harus dipraktikkan dengan cara membaca Alquran setidaknya SEJUZ dalam SEHARI, sehingga bisa khatam Alquran pada setiap bulan.

Rasulullah saw. menyuruh Abdullah bin Amr bin Ash untuk mengkhatamkan Alquran dalam sebulan (iqra’ Alqurana fi syahrin!).

Tetapi Abdullah menawar karena merasa mampu melakukan lebih dari itu. Rasulullah saw. memerintahkannya agar mengkhatamkan Alquran selama 20 hari. Ia masih menawar, maka Rasulullah saw. memerintahkannya agar mengkhatamkan Alquran dalam 15 hari.

Ia masih menawar, maka Rasulullah memerintahkan nya untuk mengkhatamkan nya dalam 10 hari.

Ia masih menawar, hingga Rasulullah memerintah kannya untuk mengkhatam kan Alquran dalam seminggu, dan melarang untuk mengkhatamkan Alquran lebih cepat dari seminggu (Abu Daud, 2/1388).

Dalam riwayat lain, ia masih terus menawar, hingga Rasulullah saw. memberikan dispensasi untuk mengkhatamkan Alquran dalam 3 hari dan tidak boleh lebih cepat darinya: “Tidak akan memahami Alquran orang yang membacanya kurang dari 3 hari” (Abu Daud, 2/1390).

Meskipun tidak sampai pada batas kelayakan sehari sejuz, sesibuk apapun orang yang ingin mendapatkan keunggulan di sisi Allah maka ia harus menyempatkan untuk membaca Alquran sebisa mungkin.

Demikian Umar bin Abdul Aziz ketika sangat sibuk dengan tugasnya sebagai khalifah. Dikabarkan bahwa beliau selalu menyempatkan untuk membaca mushaf Alquran dua atau tiga ayat agar tidak dikategorikan sebagai orang yang telah mengabaikan Alquran.

Keharusan untuk menghapalnya karena orang yang menghapal Alquran akan menjadi “keluarga” Allah dan orang yang dekat dengan-Nya.

Rasulullah saw. bersabda:

عن أَنَسِ بن مَالِكٍ قال قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ من الناس! قالوا يا رَسُولَ اللَّهِ: من هُمْ؟ قال: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Artinya: “Allah memiliki “keluarga” dari manusia. Siapa mereka wahai Rasulullah?
Beliau menjawab: mereka adalah ahlul Quran: “keluarga” Allah dan orang-orang dekat-Nya” (Ibn Majah 1/215).

Aspek Pemahaman dan Perenungan

Pemahaman artinya upaya memahami makna-makna serta ajaran yang dikandungnya. Sedangkan perenungan artinya merefleksikan  makna-makna dan ajarannya itu (tadabbur).

Aspek pemahaman karena hal yang melekat dengan tilawah adalah pemahaman. Itu sebabnya Rasulullah saw. melarang untuk mengkhatamkan Alquran kurang dari 3 hari.

Alasannya karena orang yang membaca Alquran dengan super cepat tidak akan disertai dengan upaya menangkap makna-makna yang dikandungnya.

Karena itu idealnya semua kita mengerti bahasa Alquran, sehingga setiap kalimat yang dibaca bisa ditangkap makna-makna yang dikandungnya. Setidaknya kita harus terus berusaha memberdayakan kemampuhan itu.

Di zaman ini banyak program atau cetakan mushaf Alquran yang bisa memberikan ketrampilan ini bagi umat Islam sekarang.
Abu Ja’far berkata:
“Aku heran dengan orang yang membaca Alquran tetapi tidak mengerti maknanya. Bagaimana mungkin dia bisa menikmati bacaannya?” (Yaqut Hamawi, Mu’jam Udaba, 5/256).

Aspek perenungan karena orang yang memahami saja belum tentu bisa terlibat secara emosi dan terpengaruh dengan makna dan ajaran Alquran.

Cara terpenting untuk hal itu adalah menerungkannya.
Alquran mengajarkan bahwa dengan merenungkan ayat-ayat Alquran akan membuat hati menjadi terbuka untuk menangkap hidayah Allah swt.
Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Artinya: “Apakah mereka tidak merenungkan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad [47]: 24).

Orang yang memahami dan merenungkan makna-makna Alquran akan terlibat secara emosi dengan pembicaraan Alquran.

Sehingga bisa menangis dan bahagia karena kesedihan dan kebahagiaan yang dibahas di dalam Alquran.

Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ هذا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ، فإذا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا! فَإِنْ لم تَبْكُوا، فَتَبَاكَوْا! وَتَغَنَّوْا بِهِ! فَمَنْ لم يَتَغَنَّ بِهِ فَلَيْسَ مِنَّا

Artinya: “Sesungguhnya Alquran ini diturunkan dengan kesedihan. Jika kalian membacanya, maka menangislah! Jika tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis! Dan lagukanlah bacaannya! Siapa yang tidak membacanya dengan indah, maka dia bukan bagian dari kami” (Ibn Majah, 1/1337).

Pada suatu malam, Umar bin Khattab mendengar seorang qari membaca Surat At-Thur (1-8). Ia mendengar firman Allah:
إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ. مَا لَهُ مِن دَافِعٍ

Artinya: “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi. Tidak seorangpun yang dapat menolaknya” (At-Thur [52]: 7-8).

Ketika itu Umar berujar: “Sumpah yang benar demi Allah Pemilik Ka’bah”, dan beliau pingsan, karena takut dengan azab yang akan terjadi. Seorang sahabatnya bernama Aslam membawa pulang ke rumahnya. Dan beliau sakit selama 30 hari, hingga orang-orang menengoknya.

Hal ini menjadi contoh bagaimasa seseorang terlibat secara emosi dengan pembicaraan Alquran.

Aspek Amal

Orang yang mengimani, membaca dan menghapalnya, memahami dan merenungkan makna-makna yang dikandung di dalamnya sampai pada tingkat terlibat secara emosi dengan pembicaran Alquran, maka dia pasti akan mampu mengamalkan ajarannya.

Demikian kebiasaan para sahabat dalam mempalajari Alquran, mereka belajar ilmu dan amal.

Abu  Abdirrahman as-Sulami berkata:
Para sahabat yang mengajarkan al-Quran kepadaku (Utsman bin Affan, Abdullah bin Ma’sud dan lain-lain) mengatakan: jika  mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi Saw. mereka tidak melewatinya sampai tuntas mempelajari kandungannya, baik ilmu maupun amal.

Mereka mengatakan: kami belajar ilmu dan amal” (Musnad Ahmad, 5/23529)

Demikian indikator kedua, yaitu memiliki wawasan Alquran sebagai kategori orang yang berwawasan

(Bersambung)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadz Menjawab: Mengambil Paksa Hak Kita

✏Ust. Farid Nu’man Hasan

Pertanyaan:

Assalamualaikum
Ustadz, mohon jawaban dan tanggapanya disertai hadits atau referensi shohi perihal kejadian berikut:
[06/12 18:22] SIP Doni: Bagaimana hukumnya mencuri uang hak kita sendiri?
Contoh: uang transport hak karyawan yg tidak diberikan, bolehkah karyawan mencuri uangnya sendiri?
[06/12 20:11] SIP Doni: Kasus ke-2, juga kisah nyata. Temen orang madura punya usaha rental mobil. Salah satu mobilnya dicuri. Karena ada GPSnya mobil ketemu diseorang penadah yg oknum TNI. Bukan ngembaliin mobil malah ngancam.
Teman saya pulang dgn tangan hampa tp tidak kehabisan akal. Dgn menggunakan kunci cadangan dia mengupah orang untuk mencuri mobilnya sendiri dari oknum TNI tsb.

Jawab:

Wa ‘alaikum salam, … afwan br sempet.
Mengambil hak kita sendiri yg telah dirampas orang lain, pada prinsipnya boleh. Atau, hak seorg yg ditahan pdhal sudah waktunya dia dapatkan sperti gaji karyawan yg ditunda2. Hal ini sbgmn dilakukan Hindun ketika mengambil uang belanja harian ke suaminya,  Abu Sufyan, tanpa sepengetahuan suaminya, lantaran Abu Sufyan bgtu bakhil kepadanya, dan nabi pun membolehkan karena itu haknya. Hanya saja, masalah ini juga ditimbang maslahat dan madharatnya.

Lalu, utk kasus korban pencurian yg punya kesempatan untuk mengambil kembali haknya, baik diam2 atau terang2an, ini juga tdk apa-apa. Sebab kezaliman yg dialaminya, jika dia mampu melawan lawanlah walau dgn tipu daya. Sebab, kata Nabi: Al Harbu khad’ah … perang itu tipu daya. Hr. Al Bukhari.

Wallahu a’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Dua Rakaat Ba’diyah Ashar; Antara Ada dan Tiada

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:
Wa ‘alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Dalil-Dalil Larangan Shalat Setelah Ashar

1. Riwayat berikut:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ العَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ

Janganlah shalat setetah subuh s ampai terbitnya matahari, dan janganlah shalat setelah ashar sampai terbenamnya matahari. (HR. Al Bukhari No. 586)

2. Dari Muawiyah Radhiallahu ‘Anhu:

إِنَّكُمْ لَتُصَلُّونَ صَلَاةً لَقَدْ صَحِبْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا رَأَيْنَاهُ يُصَلِّيهِمَا وَلَقَدْ نَهَى عَنْهُمَا يَعْنِي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْر

Kalian melakukan shalat, padahal kami telah bersahabat dengan Rasulullah ﷺ dan kami belum pernah melihatnya shalat tersebut, dan dia telah melarangnya, yakni dua rakaat setelah ashar. (HR. Al Bukhari No.  587)

Dan lainnya yang semisal.

Dalil-Dalil Bolehnya Shalat Setelah Ashar

1. Dari Aisyah Radhiallahun’Anha:

رَكْعَتَانِ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُهُمَا سِرًّا وَلاَ عَلاَنِيَةً: رَكْعَتَانِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ، وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ العَصْرِ

Dua rakaat yang Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkannya, baik secara diam-diam dan terang-terangan; yaitu dua rakaat sebelum shalat subuh, dan dua rakaat setelah shalat Ashar. (HR. Al Bukhari No. 592)

2. Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ عِنْدِي قطّ

Sedikit pun Belum pernah Rasulullah ﷺ meninggalkan shalat setelah ashar ketika bersamaku. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

3. Syuraih bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat setelah ashar, ‘Aisyah menjawab:

صَلِّ إِنَّمَا نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصَّلَاةِ إِذَا طلعت الشمس

Shalatlah (ba’da ashar), sesungguhnya yang Rasulullah ﷺ larang adalah shalat ketika matahari terbit. (HR. Ibnu Hibban No.1568. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Syuaib Al Arnauth, dan lainnya)

4. Dari Aisyah Radhiallahu “Anha:

عَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ العصر في بيتي حتى فارق الدنيا

 “Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan dua rakaat setelah Ashar di rumahku sampai meninggalkan dunia. (HR. Ibnu Hibban No. 1573, juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Syuaib Al Arnauth dan lainnya)

5. Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

مَا مِنْ يَوْمٍ كَانَ يَأْتِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا صَلَّى بَعْدَ العصر ركعتين

Tidaklah sehari pun kedatangan Rasulullah ﷺ melainkan dia shalat setelah ashar dua rakaat. (HR. Ibnu Hibban No. 1573, juga dishahihkan oeh para ulama)

6. Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كان عندي بعد العصر صلاهما.

 Dahulu Rasulullah ﷺ jika sedang bersamaku, Beliau shalat dua rakaat setelah ashar. (HR. An Nasa’i No. 576, Abu Daud No. 1160. SHAHIH)

Sikap Manusia Pada Zaman  Salaf

                Pada zaman awal Islam, mereka pun terbagi menjadi dua kelompok antara pro dan kontra.

Pihak Yang Membolehkan

                 ‘Atha bercerita:

أَنَّ عَائِشَةَ، وَأُمَّ سَلَمَةَ كَانَتَا تَرْكَعَانِ بَعْدَ الْعَصْرِ

Bahwa Aisyah dan Ummu Salamah shalat dua rakaat setelah ashar. (Abdurrazzaq, Al Mushannaf No. 3969)

                Dari Ashim bin Abi Dhamrah bahwa Ali Radhiallahu ‘Anhu shalat dua rakaat setelah ashar di tendanya. (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 7352)

Hisyam bin Urwah bercerita:

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ ابْنِ الزُّبَيْرِ الْعَصْرَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، فَكَانَ يُصَلِّي بَعْدَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ، وَكُنَّا نُصَلِّيهِمَا مَعَهُ نَقُومُ صَفًّا خَلْفَهُ

Kami shalat Ashar di masjidil haram bersama Abdullah bin Az Zubair, saat itu dia shalat dua rakaat setelah ashar. Kami shalat juga bersamanya dengan membuat shaf  dibelakangnya . (Abdurrazzaq, Al Mushannaf No.  3979)

Ibnu Aun bercerita, “Aku melihat Abu Burdah bin Abi Musa shalat dua rakaat setelah ashar.” (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 7347)

Selain Aisyah, Ali,  Abdullah bin Az Zubeir Radhiallahu ‘Anhum, masih banyak lagi generasi tabi’in yang shalat dua rakaat setelah Ashar, seperti Abu Sya’tsa, Al Aswad bin Yazid, Amru bin Husein, Abu Wail, Masruq, Syuraih,  dan lainnya. (Lihat dalam Al Mushannaf Ibni Ab Syaibah No. 7347, 7348, 7350)

Apakah mereka tidak tahu ada larangan shalat setelah Ashar? Di jelaskan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar:

فائدة فهمت عائشة رضي الله عنها من مواظبته صلى الله عليه وسلم على الركعتين بعد العصر أن نهيه صلى الله عليه وسلم عن الصلاة بعد العصر حتى تغرب الشمس مختص بمن قصد الصلاة عند غروب الشمس لا إطلاقه

            Faidah dari hadits ini,  bahwa Aisyah memahami dari seringnya Nabi ﷺ shalat dua rakaat setelah ashar, bahwa larangan tersebut berlaku khusus bagi mereka yang memaksudkan shalat sampai terbenam matahari bukan larangan secara mutlak. (Fathul Bari, 2/66)

Jadi, bagi Aisyah Radhiallahu ‘Anha, larangan tersebut berlaku untuk mereka yang bermaksud melakukan shalat sampai matahari terbenam, bukan larangan semata-mata ba’diyah ashar.

Pihak Yang Melarang

Abu Ghadiyah bercerita:

رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَضْرِبُ النَّاسَ عَلَى الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ

                Aku melihat Umar bin Al Khathab memukul orang yang shalat dua rakaat setelah ashar. (Abdurrazzaq,Al Mushannaf, No. 3966)

                Perbuatan Umar Radhiallahu ‘Anhu ini  juga diceritakan oleh Jabir dan Ibnu Abbas Radhialahu ‘Anhuma. (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, No. 7336, 7341)

                Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma juga membencinya. Thawus bertanya kepada Ibnu Abbas tentang shalat dua rakaat setelah Ashar, maka dia melarangnya, lalu kata Thawus “Tapi Aku tidak pernah meninggalkannya”, maka Ibnu Abbas mengutip ayat: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36). (Abdurrazzaq, Al Mushannaf No.3975)

                Apakah mereka tidak tahu adanya riwayat dari ‘Aisyah Radhiallahu “Anha, bahwa Nabi ﷺpernah melakukannya, bahkan sangat sering? Pastilah mereka tahu, tapi mereka memahami secara berbeda.  Bagi mereka shalatnya Nabi ﷺ dua rakaat setelah ashar adalah menqadha shalat ba’diyah zhuhur, bukan karena semata ingin shalat ba’diyah ashar.

            Al Hafizh Ibnu Hajar berkata:

  قول عائشة ما تركهما حتى لقي الله عز وجل وقولها لم يكن يدعهما وقولها ما كان يأتيني في يوم بعد العصر إلا صلى ركعتين مرادها من الوقت الذي شغل عن الركعتين بعد الظهر فصلاهما بعد العصر ولم ترد أنه كان يصلي بعد العصر ركعتين من أول ما فرضت الصلوات مثلا إلى آخر عمره بل في حديث أم سلمة ما يدل على أنه لم يكن يفعلهما قبل الوقت الذي ذكرت أنه قضاهما فيه

            Ucapan Aisyah “Nabi tidak pernah meninggalkannya sampai wafat”, “Dia tidak pernah meninggalkannya”, dan ucapannya “Tidaklah Beliau mendatangiku dalam sehari melainkan dia shalat dua rakaat setelah ashar”, maksudnya adalah pada saat nabi disibukkan oleh sesuatu yang membuatnya tidak melakukan ba’diyah zuhur, maka Beliau pun melakukannya setelah ashar. Beliau bukan bermaksud bahwa Nabi shalat dua rakaat setelah ashar sejak adanya awal kewajiban shalat sampai akhir umurnya. (Fathul Bari,  2/66)

            Ini juga dikatakan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:

إنما صلى النبي صلى الله عليه وسلم الركعتين بعد العصر لأنه أتاه مال فشغله عن الركعتين بعد الظهر فصلاهما بعد العصر ثم لم يعد

Sesungguhnya shalatnya Nabi ﷺ sebanyak dua rakaat setelah ashar hanyalah karena telah datang kepadanya harta yang membuatnya sibuk tidak sempat shalat rakaat dua rakaat ba’diyah zuhur, lalu dia melakukannya setelah ashar dan tidak mengulanginya. (HR. At Tirmidzi No. 184, katanya: hasan)

 Hal ini tegas sebagaimana riwayat Imam Al Bukhari Rahimahullah berikut:

وَقَالَ كُرَيْبٌ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ وَقَالَ شَغَلَنِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ

Kuraib berkata, dari Ummu Salamah: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat setelah ashar sebanyak dua rakaat. Beliau bersabda: “Orang-orang dari Abdul Qais telah menyibukkanku dari shalat dua rakaat setelah zhuhur.” (Shahih Bukhari, diriwayatkan secara mu’allaq dalam Bab Maa Yushalla Ba’dal ‘Ashri wa Minal Fawaa-it wa Nahwiha)

Imam Badruddin Al ‘Aini Rahmahullah berkata:

قال الكرماني وهذا دليل الشافعي في جواز صلاة لها سبب بعد العصر بلا كراهة

Berkata Al Karmani: “Ini adalah dalil bagi Asy Syafi’i tentang kebolehan shalat  setelah ‘Ashar jika memiliki sebab, sama sekali tidak makruh.” (‘Umdatul Qari, 8/19)

Imam Badruddin Al ‘Aini mengomentari pendapat ini:

قلت هذا لا يصلح أن يكون دليلا لأن صلاته هذه كانت من خصائصه كما ذكرنا فلا يكون حجة لذاك

Aku berkata: tidak benar menjadikan hadits ini sebagai dalil, karena shalatnya ini merupakan bagian dari kekhususan bagi Beliau, sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah atas hal itu. (Ibid)

Artinya Imam Al ‘Aini tetap melarang shalat setelah ashar, walau pun ada sebab. Dan menurutnya pembolehan di atas hanya khusus bagi Nabi ﷺ.

Imam Al Kisani Al Hanafi juga demikian, menurutnya shalatnya Nabi setelah Ashar adalah spesial baginya, bukan selainnya, dan itu dalam rangka qadha ba’diyah zhuhur sbgmn riwayat Ummu Salamah. (Lihat Bada’i Ash Shana’i, 1/296)

Namun, pendapat ini dianggap lemah, sebab kenyataannya para sahabat melakukannya shalat sunah, mereka shalat setelah Ashar yaitu shalat jenazah, dan tidak satu pun sahabat lain yang melarangnya. Sehingga menurut Imam An nawawi dan Imam Abul Hasan Al Mawardi telah ijma’ kebolehannya shalat sunah diwaktu terlarang jika ada sebab.  (Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 4/174. Juga Al Hawi Al Kabir, 3/48)

          Demikianlah pihak yang melarang; seperti Umar, Ibnu Abbas, Mu’awiyah, dan umumnya para ahli fiqih. Sekali pun mereka membolehkan, itu adalah konteks mengqadha shalat ba’diyah zhuhur, atau jika dilakukan karena sebab khusus, baik karena tahiyatul masjid, shalat jenazah, dan semisalnya sebagaimana pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik (Lihat Mukhtashar Al Inshaf, 1/161),  ini pun tidak semua setuju, seperti Atha, An Nakha’i, dan Abu Hanifah  mengingkari kebolehan itu berdasarkan hadits larangannya secara umum (Ibid, lihat juga Al Hawi Al Kabir, 3/48). Pengingkaran ini menganulir klaim ijma’ yang disampaikan oleh Imam An Nawawi dan Imam Al Mawardi sebelumnya.

Kenapa bisa terjadi perbedaan?

               Untuk hak ini, Imam Ibnu Rusyd Rahimahullah memiliki pandangan yang sederhana tapi jitu, katanya:

وَأَمَّا اخْتِلَافُهُمْ فِي الصَّلَاةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَسَبَبُهُ تَعَارُضُ الْآثَارِ الثَّابِتَةِ فِي ذَلِكَ، وَذَلِكَ أَنَّ فِي ذَلِكَ حَدِيثَيْنِ مُتَعَارِضَيْنِ: أَحَدُهُمَا حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ الْمُتَّفَقِ عَلَى صِحَّتِهِ ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «نَهَى عَنِ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، وَعَنِ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ» .

وَالثَّانِي: حَدِيثُ عَائِشَةَ قَالَتْ: «مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَاتَيْنِ فِي بَيْتِي قَطُّ سِرًّا وَلَا عَلَانِيَةً: رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ» .

فَمَنْ رَجَّحَ حَدِيثَ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بِالْمَنْعِ، وَمَنْ رَجَّحَ حَدِيثَ عَائِشَةَ أَوْ رَآهُ نَاسِخًا ; لِأَنَّهُ الْعَمَلُ الَّذِي مَاتَ عَلَيْهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ بِالْجَوَازِ.

                Ada pun perbedaan mereka tentang shalat setelah Ashar disebabkan oleh adanya atsar-atsar yang bertentangan. Dalam hal ini ada dua riwayat yang bertentangan.

 PERTAMA. Hadits Abu Hurairah yang disepakati keshahihannya bahwa: “Rasulullah ﷺ melarang shalat setelah Ashar sampai terbenamnya matahari dan melarang shalat setelah subuh sampai terbitnya matahari.”

  KEDUA. Hadits ‘Aisyah, Beliau berkata: “Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan dua shalat di rumahku sedikit pun baik diam-diam atau terang-terangan, yaitu dua rakaat sebelum Subuh, dan dua rakaat setelah Ashar.”

Maka, bagi siapa yang menguatkan hadits Abu Hurairah akan berpendapat hal itu terlarang, dan siapa yang menguatkan hadits ‘Aisyah atau menilainya hadits ini menghapus hadits sebelumnya, karena ini adalah perbuatan yang Beliau ﷺ lakukan sampai wafat, akan berpendapat ini boleh. (Bidayatul Mujtahid, 1/110)

Sikap Terbaik

        Sikap terbaik adalah seperti yang diajarkan oleh para imam, agar kita toleran atas perselisihan fiqih seperti ini.

Diceritakan dari Imam Ahmad bin Hambal tentang shalat sunah setelah Ashar, beliau berkata:

لا نفعله ولا نعيب فاعله

Kami tidak melakukannya tapi kami tidak juga menilai aib orang yang melakukannya. (Al Mughni, 2/87, Syarhul Kabir, 1/802)

Imam Abu Nu’aim mengutip ucapan Imam Sufyan Ats Tsauri, sebagai berikut:

سفيان الثوري، يقول: إذا رأيت الرجل يعمل العمل الذي قد اختلف فيه وأنت ترى غيره فلا تنهه.

“Jika engkau melihat seorang melakukan perbuatan yang masih diperselisihkan, padahal engkau punya pendapat lain, maka janganlah kau mencegahnya.” (Imam Abu Nu’aim al Asbahany, Hilyatul Auliya’,  3/ 133)

 Imam As Suyuthi berkata dalam kitab Al Asybah wa An Nazhair:
             
الْقَاعِدَةُ الْخَامِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ ” لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيهِ ، وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ

Kaidah yang ke-35, “Tidak boleh ada pengingkaran terhadap masalah yang masih diperselisihkan. Seseungguhnya pengingkaran hanya berlaku pada pendapat yang bertentangan dengan ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Imam As Suyuthi, Al Asybah wa An Nazhair, 1/285)

 Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

SURAT AL-KAFIRUN (Bag-1)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

SABAB NUZUL

Surat Al-Kafirun termasuk surat MAKIYAH, diturunkan terkait negosiasi yang dilakukan beberapa tokoh Quraisy kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau mau melakukan kompromi dan pencampuran aqidah dan ibadah. Mereka yang menawarkan kompromi ini, semuanya meninggal dalam kekafiran.

Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah dengan sanadnya meriwayatkan peristiwa ini:

لَقِيَ الْوَلِيْدُ بْنُ الْمُغِيْرَة وَ الْعَاصُ بْنُ وَائِلٍ وَ الأَسْوَدُ بْنُ الْمُطَّلِبِ وَ أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ رَسُوْلَ اللهِ فَقَالُوا: يَا مُحَمَّدُ، هَلُمَّ فَلْنَعْبُدْ مَا تَعْبُدُ، وَتَعْبُدْ مَا نَعْبُدُ، ونُشْرِككَ فِي أَمْرِنَا كُلِّهِ، فَإِنْ كَانَ الَّذِي جِئْتَ بِهِ خَيْرًا مِمَّا بِأَيْدِيْنَا، كُنَّا قَدْ شَرِكْنَاكَ فِيْهِ، وَأَخَذْنَا بِحَظِّنَا مِنْهُ، وَإِنْ كَانَ الَّذِي بِأَيْدِيْنَا خَيْرًا مِمَّا فِي يَدَيْكَ، كُنْتَ قَدْ شَرِكْتَنَا فِي أَمْرِنَا، وَأَخَذْتَ مِنْهُ بِحَظِّكَ. فَأَنْزَلَ اللهُ: {قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ} حَتَّى انْقَضَتِ السُّوْرَةُ. (تفسير الطبري، 24/662)

Al-Walid bin Al-Mughirah, Al-‘Ash bin Wa-il, Al-Aswad bin Al-Muthalib dan Umayah bin Khalaf telah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata: Wahai Muhammad, marilah (bersepakat), kami menyembah apa yang engkau sembah, dan engkau menyembah apa yang kami sembah dan kami akan melibatkanmu dalam semua urusan kami. Jika yang engkau bawa lebih baik daripada yang ada pada kami, berarti kami telah membersamaimu dan mengambil bagian kami darinya. Dan bila yang ada pada kami lebih baik dari yang ada padamu, berarti engkau telah membersamai kami dan mengambil bagianmu darinya. Maka Allah menurunkan “Qul Ya Ayyuha-l Kafirun” hingga akhir surat. (Tafsir Ath-Thabari, 24/662).

Cukup banyak riwayat seperti ini tentang sabab nuzul surat Al-Kafirun. Meskipun satu persatu dari riwayat-riwayat itu tidak sampai pada derajat shahih, namun secara keseluruhan saling menguatkan satu sama lain, sehingga disimpulkan bahwa substansi atau makna riwayat tersebut adalah shahih.

KEUTAMAAN SURAT AL-KAFIRUN

PELEPAS DIRI DARI KEMUSYRIKAN

عَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لِنَوْفَلٍ: «اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا، فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ» (رواه أبو داود – صحيح)

Dari Farwah bin Naufal dari ayahnya (Naufal) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Naufal: Bacalah Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun kemudian tidurlah setelah selesai membacanya, karena sesungguhnya ia adalah pembebasan dari kemusyrikan. (HR. Abu Dawud – Shahih).

SURAT AL-KAFIRUN SETARA SEPEREMPAT AL-QURAN

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضي الله عنهما – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «{قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ، وَ {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} تَعْدِلُ رُبُعَ الْقُرْآنِ» (رواه الترمذي وابن ماجه – حسن)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Qul Huwa-Llaahu Ahad setara sepertiga Al-Quran, dan Qul Yaa Ayyuhal-Kaafirun setara seperempat Al-Quran. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah – Hadits hasan).

Maksudnya setara pahalanya dengan membaca seperempat Al-Quran, seperti penjelasan tentang surat Al-Ikhlas di materi sebelum ini.

Syihabuddin Al-Alusi rahimahullah mencoba menemukan alasan mengapa surat Al-Kafirun setara dengan seperempat Al-Quran. Diantara penjelasannya:
Maksud kandungan Al-Quran ada empat, yaitu: penegasan kekhususan ibadah hanya untuk Allah, penegasan berlepas diri dari ibadah kepada selain Allah, penjelasan hukum-hukum syariat, dan penjelasan tentang keadaan akhirat. Surat Al-Kafirun berisi salah satunya yakni berlepas diri dari ibadah kepada selain Allah, sehingga ia setara dengan seperempat Al-Quran.
Atau karena Al-Quran berisi empat hal: ibadat, muamalat, jinayat (hukuman atas kejahatan), dan munakahat (hukum pernikahan), dan surat Al-Kafirun berbicara tentang yang pertama. (Ruh Al-Ma’ani, 15/485).

BACAAN PENUTUP MALAM DAN PEMBUKA PAGI

Surat Al-Kafirun adalah salah satu bacaan Al-Quran penutup malam karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat Al-Kafirun di dalam shalat witirnya bersama surat Al-A’la dan Al-Ikhlas:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُوتِرُ بـ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى} وَ {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} وَ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} (رواه ابن ماجه في السنن – إسناده صحيح)

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat witir dengan “Sabbihisma Rabbikal-A’laa”, “Qul Yaa Ayyuhal-Kaafirun” dan “Qul Huwa-Llahu Ahad”. (HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya – Isnadnya shahih).

Maksudnya: surat Al-A’la dibaca setelah Al-Fatihah pada rakaat pertama, Al-Kafirun pada rakaat kedua, dan Al-Ikhlas dibaca pada rakaat yang ketiga.

Dalam hadits shahih riwayat Ibnu Hibban dan Abu Dawud disebutkan juga bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selain membaca tiga surat itu, beliau membaca surat Al-Falaq dan An-Nas dalam shalat witir. (Shahih Mawarid Azh-Zham-an, Al-Albani, 1/309).

Maksudnya: surat Al-Falaq dan An-Nas dibaca pada rakaat ketiga setelah Al-Ikhlas.

Bacaan penutup malam dapat juga diartikan sebagai bacaan yang dibaca menjelang tidur, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan sahabatnya, Naufal radhiyallahu ‘anhu, untuk membaca surat Al-Kafirun sebelum tidur seperti hadits yang telah disebutkan sebelumnya.

Surat Al-Kafirun juga menjadi salah satu bacaan Al-Quran pembuka aktifitas menjelang pagi, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacanya dalam shalat sunnah qabliyah Subuh:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ}، وَ{قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ}. (رواه مسلم).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca di dua rakaat sunnah Fajar “Qul Yaa Ayyuhal-Kaafirun” dan “Qul Huwa-Llahu Ahad”. (HR. Imam Muslim)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Membaca Qul Ya Ayyuhal-Kaafirun dan Qul Huwa-Llahu Ahad di dua rakaat sunnah Fajar lebih aku sukai (daripada yang lain).” (Al-Umm, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, 1/170).

HIKMAHNYA

Surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dijadikan sebagai bacaan menjelang tidur atau penutup malam sekaligus pembuka hari. Hal ini merupakan isyarat bahwa seorang muslim harus selalui memperbarui tauhidnya dan melakukan aktifitas ibadah kepada Allah serta menjaga imannya sejak ia memulai sampai ia menutup harinya, serta menjauhkan diri dari kekafiran dan kemusyrikan.

Surat Al-Kafirun yang diawali dengan perintah “Qul” (katakanlah) dijadikan sebagai bacaan menjelang tidur atau penutup malam sekaligus pembuka hari. Hal ini juga isyarat bahwa aktifitas dakwah (mengajak manusia kepada iman dan kebaikan serta menyebarkannya) adalah kegiatan yang tak terpisahkan dari kegiatannya sehari-hari melalui berbagai media dan cara yang dibenarkan. Bahkan ia menjadi sesuatu yang selalu ia pikirkan baik menjelang tidur maupun setelah bangun tidur dan ketika memulai aktifitas di pagi hari.

HUBUNGAN YANG ERAT ANTARA SURAT AL-KAFIRUN DENGAN AL-IKHLAS

Surat Al-Ikhlas berisi pembebasan dari syirik ‘ilmi i’tiqadi (syirik di dalam keyakinan dan pemahaman), sedangkan surat Al-Kafirun mengandung pembebasan dari syirik ‘amali (syirik di dalam perbuatan). (Zad Al-Ma’ad, Ibnu Qayim Al-Jauziyah, 1/306).

Surat Al-Ikhlas menyucikan Allah dari semua yang tak laik bagi-Nya, sedangkan surat Al-Kafirun membebaskan hamba dari segala sesembahan selain Allah. (Mafatih Al-Ghaib, Fakhruddin Ar-Razi, 32/385).

TEMA SURAT AL-KAFIRUN

تَقْرِيْرُ التَّوْحِيْدِ بِالْبَرَاءَةِ مِنَ الشِّرْكِ، وَإِعْلاَنُ الفُرْقَانِ بَيْنَ الإِسْلاَمِ وَالْكُفْرِ.

Penetapan tauhid dengan berlepas diri dari syirik dan pernyataan sikap furqan (perbedaan) antara Islam dengan kekafiran.

Dr. Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah menyebutnya sebagai:

سُوْرَةُ الْبَرَاءَةِ مِنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ وَأَعْمَالِ الْمُشْرِكِيْنَ.

Surat pembebasan dari kemusyrikan, kekafiran dan perbuatan orang-orang musyrik. (At-Tafsir Al-Munir, 30/440).

🔹(Bersambung)🔹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Asma’ul Husna dan Shifat Al ‘Ulya (bag-1)

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan SS.


Secara umum, sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap nama-nama Allah dan sifat-saifatNya, terbagi atas tiga bagian, yakni:

Tatsbit (menetapkan apa adanya sesuai zhahir nash),

Tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala), dan

Ta’wil (memberikan maknanya).

Bukan
tahrif (menyimpangkan/merubah),
ta’thil (menafikan/mengingkari), dan
tasybih (menyerupakan dengan makhluk).

 Dalam Fathul Bari , Al Imam Ibnu Hajar mengutip ucapan Ibnul Munayyar sebagai berikut:

وَلِأَهْلِ الْكَلَام فِي هَذِهِ الصِّفَات كَالْعَيْنِ وَالْوَجْه وَالْيَد ثَلَاثَة أَقْوَال : أَحَدهَا أَنَّهَا صِفَات ذَات أَثْبَتَهَا السَّمْع وَلَا يَهْتَدِي إِلَيْهَا الْعَقْل ، وَالثَّانِي أَنَّ الْعَيْن كِنَايَة عَنْ صِفَة الْبَصَر ، وَالْيَد كِنَايَة عَنْ صِفَة الْقُدْرَة ، وَالْوَجْه كِنَايَة عَنْ صِفَة الْوُجُود ، وَالثَّالِث إِمْرَارهَا عَلَى مَا جَاءَتْ مُفَوَّضًا مَعْنَاهَا إِلَى اللَّه تَعَالَى

Bagi Ahli kalam, tentang sifat-sifat ini seperti ‘mata’, ‘wajah’, ‘tangan’, terdapat tiga pendapat:

Pertama, sifat-sifat Allah adalah dzat yang ditetapkan oleh pendengaran (wahyu) dan tidak mampu bagi akal untuk mengetahuinya.

Kedua, bahwa ‘mata’ adalah kinayah (kiasan) bagi penglihatan, ‘tangan’ adalah kinayah dari kekuatan, dan ‘wajah’ adalah kinayah dari sifat wujud.

Ketiga, melewatinya sebagaimana datangnya, dan menyerahkan (mufawwadha) maknanya kepada Allah Ta’ala. (Fathul Bari, 20/484)

Apa yang dikatakan Al Hafizh Ibnu Hajar ini, menunjukkan bahwa pada masa lalu, para ulama memaknai sifat-sifat Allah Ta’ala menjadi tiga metode: Pertama, tatsbit. Kedua, ta’wil. Ketiga, tafwidh.

Namun, di antara tiga metode ini, TA’WIL adalah metode yang PALING JARANG mereka lakukan, karena kehati-hatian kaum salaf pada saat itu.

Namun, sebagian kalangan mengklaim bahwa sikap Ahlus Sunnah yakni Salafus Shalih hanya satu yakni tatsbit (menetapkan apa adanya sesuai zhahir nash).

Ada pula yang mengatakan bahwa salaf itu melakukan tafwidh, dan ini masyhur kata mereka.

Ada pula yang mengatakan kaum salaf itu melakukan ta’wil, dan mereka punya bukti dan contoh dari para sahabat untuk itu.

Dan masing-masing mereka membela pemahamannya, sambil menyerang yang lainnya, bahkan sampai taraf tafsiq (saling memfasikan) dan takfir (saling mengkafirkan).

Mereka saling mengeluarkan yang lain telah keluar dari madzhab Ahlus Sunnah.

Kelompok tatsbit, menganggap para pelaku ta’wil telah melakukan bid’ah, dan mereka menjulukinya dengan kaum Asy’ariyah.

Sementara, para pelaku ta’wil menganggap bahwa pihak tatsbit telah  menganggap Allah Ta’ala serupa dengan makhluk (tasybih) dan memiliki jasad (tajsim) karena menetapkan (itsbat) bahwa Allah Ta’ala memiliki kaki, tangan, wajah, dan bersemayam. Sebab, ini semua layak disandarkan kepada makhluk, bukan khaliq.

Lalu –lucunya- keduanya sama-sama mengklaim memiliki sandaran dari para  salaf.

Padahal apa yang mereka pahami semua, sama-sama memiliki dasar dari para salafush shalih, serta memiliki tujuan mulia, yakni menghindari dan melindungi kesucian sifat-sifatNya dari  pemahaman menyimpang  orang-orang awam, setelah Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia yang tidak berbahasa Arab.

Perbedaan mereka seharusnya  tidaklah mencolok, tidak dibenarkan untuk saling mengkafirkan,  sebagaimana yang dikatakan oleh
Imam Ibnu Taimiyah,
Imam As Syathibi,
Imam Al Laqqani dan
 Imam Hasan Al Banna Rahimahumullah.

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengomentari fenomena saling mengkafirkan dan memfasikkan ini dengan mengatakan:

هَذَا مَعَ أَنِّي دَائِمًا وَمَنْ جَالَسَنِي يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنِّي : أَنِّي مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ نَهْيًا عَنْ أَنْ يُنْسَبَ مُعَيَّنٌ إلَى تَكْفِيرٍ وَتَفْسِيقٍ وَمَعْصِيَةٍ ، إلَّا إذَا عُلِمَ أَنَّهُ قَدْ قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ الرسالية الَّتِي مَنْ خَالَفَهَا كَانَ كَافِرًا تَارَةً وَفَاسِقًا أُخْرَى وَعَاصِيًا أُخْرَى وَإِنِّي أُقَرِّرُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ خَطَأَهَا : وَذَلِكَ يَعُمُّ الْخَطَأَ فِي الْمَسَائِلِ الْخَبَرِيَّةِ الْقَوْلِيَّةِ وَالْمَسَائِلِ الْعَمَلِيَّةِ . وَمَا زَالَ السَّلَفُ يَتَنَازَعُونَ فِي كَثِيرٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَائِلِ وَلَمْ يَشْهَدْ أَحَدٌ مِنْهُمْ عَلَى أَحَدٍ لَا بِكُفْرِ وَلَا بِفِسْقِ وَلَا مَعْصِيَةٍ

“Ini adalah selalu menjadi pendapat saya, dan orang yang bermajelis dengan saya pasti tahu itu:

“Sesungguhnya saya adalah termasuk manusia yang paling keras melarang untuk menyandarkan seseorang secara spesifik kepada hukum kafir, fasik, dan maksiat, kecuali jika telah diketahui bahwa dia telah diberikan hujjah Islam yang siapa pun berselisih dengannya maka dia kafir, fasik, dan telah bermaksiat.

Aku tekankan, sesungguhnya Allah telah mengampuni kesalahan umat ini: yang demikian itu kesalahan secara umum, baik itu permasalahan khabariyah (sifat-sifat Allah, pen), ucapan, atau perbuatan.

Para salaf senantiasa berselisih dalam banyak permasalahan ini. Namun tidaklah menyaksikan mereka terhadap yang lainnya saling mengkafirkan, memfasikan dan menyebut telah berbuat maksiat.”
(Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 1/258)

Imam Al Laqqani Rahimahullah mengatakan, sebagaimana dikutip oleh Imam Al Alusi:

قال اللقاني : أجمع الخلف ويعبر عنهم بالمؤولة والسلف ويعبر عنهم بالمفوضة على تنزيهه تعالى عن المعنى المحال الذي دل عليه الظاهر وعلى تأويله وإخراجه عن ظاهره المحال وعلى الإيمان به بأنه من عند الله تعالى جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم وإنما اختلفوا في تعيين محمل له معنى صحيح وعدم تعيينه بنا

 “Al Laqqani berkata:

“Kaum khalaf -sering disebut orang-orang yang melakukan takwil- dan kaum salaf- sering disebut sebagai orang yang melakukan tafwidh- telah sepakat untuk mensucikan  Allah dari lafaz literal (tekstual) yang mustahil bagi Allah, menakwil dan mengeluarkan dari lafaz literal yang mustahil, serta mengimani bahwa hal itu adalah dari Allah yang diturunkan kepada Rasulullah.

Mereka hanya berbeda dalam menentukan atau tidak menentukan mana yang benar. “ (Ruhul Ma’ani, 12/103)

Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah juga mengatakan seperti yang dikatakan Imam Ibnu Taimiyah, sebagai berikut:

ونعتقد إلى جانب هذا أن تأويلات الخلف لا توجب الحكم عليهم بكفر ولا فسوق ، ولا تستدعي هذا النزاع الطويل بينهم وبين غيرهم قديما وحديثا ، وصدر الإسلام أوسع من هذا كله .
وقد لجأ أشد الناس تمسكا برأي السلف ، رضوان الله عليهم ، إلى التأويل في عدة مواطن ، وهو الإمام أحمد بن حنبل رضي الله عنه ، من ذلك تأويله لحديث : (الحجر الأسود يمين الله في أرضه) وقوله صلى الله عليه وسلم :(قلب المؤمن بين إصبعين من أصابع الرحمن) وقوله صلى الله عليه وسلم : (إني لأجد نفس الرحمن من جانب اليمن) .

“Bersamaan ini, kami juga meyakini bawah ta’wil – ta’wil kaum khalaf tidaklah mengharuskan jatuhnya hukum kafir dan fasik kepada mereka, dan jangan sampai terjadi pertentangan berkepanjangan di antara mereka dan selain mereka, baik yang terdahulu dan sekarang, dada Islam lebih luas dari itu semua.

Orang yang paling kuat dalam memegang pendapat salaf –semoga Allah meridhai mereka- pun telah melakukan ta’wil pada beberapa tempat, dia adalah Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu.

Di antaranya adalah ta’wilnya terhadap hadts: “Hajar Aswad adalah Tangan Kanan Allah di muka bumi.” Dan hadits lainnya: “Hati seorang mu’min berada di antara dua jari dari jari-jari Ar Rahman.” Dan hadits: “Sesungguhnya saya mendapatkan Zat Ar Rahman dari arah Yaman.” (Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 368. Al Maktabah At Tafiqiyah)

1. Sikap pertama: Tatsbit (menetapkan apa adanya sesuai zhahir nash)

Berkata Al Ustadz Hasan Al Banna Rahima hullah:

أما السلف رضوان الله عليهم فقالوا: نؤمن بهذه الآيات والأحاديث كما وردت ، ونترك بيان المقصود منها لله تبارك وتعالى , فهم يثبتون اليد والعين والأعين والاستواء والضحك والتعجب… الخ , وكل ذلك بمعانٍ لا ندركها , ونترك لله تبارك وتعالى الإحاطة بعلمها , ولاسيما و قد نهينا عن ذلك في قول النبي صلى الله عليه وسلم : (تفكروا في خلق الله , و لا تتفكروا في الله , فإنكم لن تقدروا قدره ) .

“Ada pun salaf –semoga Allah meridhai mereka semua – mengatakan:
Kami mengimani ayat-ayat dan hadits-hadits ini sebagaimana datangnya, dan kami membiarkan maksud penjelasannya   kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, mereka itsbat (menetapkan) tangan, mata, bersemayam , tertawa, dan takjub .. dan seterusnya, dan semua ini dengan makna-makan yang kami tidak mampu mencapainya, dan kami serahkan kepada  Allah Tabaraka wa Ta’ala tentang cakupkan pengertianNya.

Dan apalagi kami telah dilarang dalam hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Berpikirlah tentang ciptaan Allah, jangan kalian berpikir tentang zat Allah, sesungguhnya kalian tidak akan mampu menjangkau nya.”
(Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 362. Al Maktabah At Taufiqiyah)

Syaikh Hasan Al Banna memberikan informasi kepada kita bahwa sikap salaf terhadap ayat dan hadits-hadits yang berbicara sifat-sifat Allah Ta’ala, adalah tatsbit yakni menetapkan maknanya apa adanya sesuai sebagaimana datangnya ayat. Hal ini juga ditetapkan oleh Imam lainnya.

Imam Ibnu Taimiyah mengutip dari Imam Al Baihaqi Rahimahullah sebagai berikut:

“Ada pun para pendahulu umat ini, mereka tidak menafsirkan apa yang kami tulis berupa ayat atau khabar (hadits) dalam masalah ini, begitu pula ayat tentang: “bersemayam di atas ‘arys” dan seluruh sifat khabariyah, “ beliau juga menceritakan ucapan sebagian ulama belakangan tentang masalah ini.

Al Qadhi Abu Ya’ala mengatakan dalam kitab Ibthalul Ta’wil:

“Tidak boleh menolak khabar (hadits) ini dan tidak disibukkan menta’wilnya dan wajib membawa (makna)nya kepada zhahirnya, sesungguhnya sifat-sifat Allah Ta’ala tidaklah serupa dengan semua sifat-sifat yang disandarkan kepada makhluk, dan tidak boleh meyakini di dalamnya terdapat tasybih, tetapi seperti apa yang diriwayatkan dari Imam Ahmad dan semua Imam lainnya.”

Beliau (Al Baihaqi) juga menyebut sebagian ucapan dari Az Zuhair, Mak-hul, Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Laits bin Sa’ad, Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, Sufyan bin  ‘Uyainah, Al Fudhail,  Al Waki, Abdurrahman bin Mahdi,  Al Aswad bin Salim, Ishaq bin Rahawaih,  Abu ‘Ubaidah, Muhammad bin Jarir Ath Thabari, dan lain-lain, tentang permasalahan ini.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 1/426)

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani mengutip dari Syaikh Syihabuddin As Sahrawardi sebagai berikut:

أَخْبَرَ اللَّه فِي كِتَابه وَثَبَتَ عَنْ رَسُوله الِاسْتِوَاء وَالنُّزُول وَالنَّفْس وَالْيَد وَالْعَيْن ، فَلَا يُتَصَرَّف فِيهَا بِتَشْبِيهٍ وَلَا تَعْطِيل ، إِذْ لَوْلَا إِخْبَار اللَّه وَرَسُوله مَا تَجَاسَرَ عَقْل أَنْ يَحُوم حَوْل ذَلِكَ الْحِمَى ، قَالَ الطِّيبِيُّ : هَذَا هُوَ الْمَذْهَب الْمُعْتَمَد وَبِهِ يَقُول السَّلَف الصَّالِح

Berkata Syaikh Syihabuddin As Sahrawardi dalam kitabnya ‘Al Aqidah’ :

“Allah telah mengabarkan dalam Al Quran dan Rasul juga telah menetapkan tentang  bersemayam, turun, jiwa, tangan, dan mata. Itu semua tidak boleh disikapi dengan penyerupaan dan tidak pula pengingkaran.

Jikalau tidak dikabarkan oleh Allah dan RasulNya, maka akal pun tidak boleh lancang untuk menerka-nerkanya.”

Berkata Ath Thayyibi: “Inilah madzhab yang kuat, yang merupakan pendapat salafus shalih.” (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 20/484)

Apa yang dikatakan Syaikh Syihabuddin As Sahrawardi ini mirip dengan apa yang dikatakan oleh Al Ustadz Hasan Al Banna.

Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu ditanya tentang hadits-hadits sifat, dia menjawab:

أمرها كما جاءت، بلا تفسير

“Biarkan saja sebagaimana datangnya, jangan tafsirkan.” (Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala, 8/105)

Imam Malik juga berkata:

 مَنْ وَصَفَ شَيْئًا مِنْ ذَاتِ اللَّهِ مِثْلَ قَوْلِهِ { وَقَالَتْ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ } فَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى عُنُقِهِ ، وَمِثْلُ قَوْلِهِ { وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } فَأَشَارَ إلَى عَيْنِهِ وَأُذُنِهِ أَوْ شَيْئًا مِنْ يَدَيْهِ قُطِعَ ذَلِكَ مِنْهُ لِأَنَّهُ شَبَّهَ اللَّهَ بِنَفْسِهِ ، ثُمَّ قَالَ مَالِكٌ : أَمَا سَمِعْت قَوْلَ الْبَرَاءِ حِينَ حَدَّثَ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَا يُضَحِّي بِأَرْبَعٍ مِنْ الضَّحَايَا وَأَشَارَ الْبَرَاءُ بِيَدِهِ كَمَا أَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ الْبَرَاءُ وَيَدَيَّ أَقْصَرُ مِنْ يَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ } فَكَرِهَ الْبَرَاءُ أَنْ يَصِفَ يَدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إجْلَالًا لَهُ وَهُوَ مَخْلُوقٌ فَكَيْفَ الْخَالِقُ الَّذِي لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ انْتَهَى .

“Barangsiapa yang mensifati Zat Allah Ta’ala dengan sesuatu, misal firmanNya:

“Orang Yahudi berkata tangan Allah terbelenggu” lalu dia mengisyaratkan tangannya ke lehernya, menyilangkan tangannya, dan demikian msalnya kata ‘Mendengar’, ‘Melihat’,  dia mengisyaratkan tangannya ke telinga, mata, atau sebagian dari kedua tangannya, maka ia telah melakukan kesalahan, karena dia telah menyerupakan Allah Ta’ala dengan dirinya.”

Lalu Malik berkata: “Tidakkah kau dengan ucapan Al Barra’ ketika dia berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah berkurban dengan empat kurban, dia mengisyaratkan dengan  tangannya sebagaimana Nabi mengisyaratkan dengan tangannya.

Al Barra berkata: Tanganku lebih pendek dari tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka, Al Barra tidak suka menyifati tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penghormatan terhadapnya, padahal Nabi adalah makhluk. Maka, bagaimana dengan Al Khaliq yang tiada satu pun yang serupa denganNya?” (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Al Fatawa Al Kubra, 10/122. Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 11/256.

Imam Abu Hayyan Muhamamd bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan, Al Bahr Al Muhith, 8/128)  
Berkata Imam  Ash Shabuni, dalam kitab Aqidah As Salaf wa Ashab Al Hadits, sebagaimana yang dikutip dalam catatan kaki kitab I’tiqad Aimmah Al Hadits:

وجاء ربك والملك صفا صفا ونؤمن بذلك كله على ما جاء

“Dan Datanglah Rabmu dan Malaikat bershaf-shaf,”  dan kami mengimaninya semuanya sebagaimana datangnya.
(Syaikh Abu Bakar Al Isma’ili, I’tiqad Aimmah Al Hadits, Hal. 13)

Ketika mengomentari surat Al A’raf ayat 54, “Tsummastawa ‘alal ‘arsy.” Imam Ibnu Katsir berkata:

وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل

Sesungguhnya cara yang ditempuh oleh madzhab salafus shalih dalam hal ini, seperti Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Al Laits bin Sa’ad, Asy Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan lain-lain, dari kalangan Imam muslimin baik dahulu maupun sekarang.

Mereka membiarkan  sebagaimana datangnya dengan tanpa bertanya bagaimana, tanpa menyerupakan, dan tanpa mengingkari. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/427)

Imam Abul Hasan Al Asy’ari sendiri mengikuti madzhab tatsbit sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah:

وَأَمَّا الْأَشْعَرِيُّ نَفْسُهُ وَأَئِمَّةُ أَصْحَابِهِ فَلَمْ يَخْتَلِفْ قَوْلُهُمْ فِي إثْبَاتِ الصِّفَاتِ الْخَبَرِيَّةِ وَفِي الرَّدِّ عَلَى مَنْ يَتَأَوَّلُهَا كَمَنْ يَقُولُ : اسْتَوَى بِمَعْنَى اسْتَوْلَى . وَهَذَا مَذْكُورٌ فِي كُتُبِهِ كُلِّهَا كَ ” الْمُوجَزِ الْكَبِيرِ ” وَ ” الْمَقَالَاتِ الصَّغِيرَةِ وَالْكَبِيرَةِ ” وَ ” الْإِبَانَةِ ” وَغَيْرِ ذَلِكَ . وَهَكَذَا نَقَلَ سَائِر النَّاسِ عَنْهُ حَتَّى الْمُتَأَخِّرُونَ كَالرَّازِيَّ وَالْآمِدِيَّ يَنْقُلُونَ عَنْهُ إثْبَاتَ الصِّفَاتِ الْخَبَرِيَّةِ وَلَا يَحْكُونَ عَنْهُ فِي ذَلِكَ قَوْلَيْنِ .

“Ada pun Al Asy’ari sendiri dan juga para imam yang mengikutinya, mereka tidaklah berbeda pendapat  dalam menetapkan (itsbat) sifat-sifat khabariyah dan dalam membantah orang-orang yang menta’wilkannya, seperti orang yang mengatakan: istawa (bersemayam) maknanya adalah istawla (menguasai).

Ini disebutkan dalam semua kitabnya, seperti Al Mujazi Al Kabir, Al Maqallat Ash Shaghirah wal Kabirah, dan Al Ibanah,  dan yang lainnya.

Dan seperti itulah semua manusia mengutip darinya, sampai generasi muta’akhirun (belakangan) seperti Ar Razi dan Al Amidi, mengutip  darinya tentang itsbat (penetapan) terhadap sifat-siifat khabariyah, dan tidak diceritakan darinya tentang hal ini adanya dua pendapat.”
(Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 3/94)

Sementara Imam Ibnu Furak, salah satu pengikut Imam Al Asy’ari,  juga melakukan tatsbit, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam.

فَصْلٌ هَذَا مَعَ أَنَّ ابْنَ فورك هُوَ مِمَّنْ يُثْبِتُ الصِّفَاتِ الْخَبَرِيَّةَ كَالْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ وَكَذَلِكَ الْمَجِيءُ وَالْإِتْيَانُ . مُوَافَقَةً لِأَبِي الْحَسَنِ فَإِنَّ هَذَا قَوْلُهُ وَقَوْلُ مُتَقَدِّمِي أَصْحَابِهِ

“Pembahasan ini tentang Ibnu Furak, dia termasuk diantara yang menetapkan sifat-sifat khabariyah seperti wajah, dua tangan, dan seperti itulah maknanya sebagaimana datangnya. Sesuai  dengan Abul Hasan, dan sesungguhnya ini adalah pendapatnya dan pendapat para pendahulu dari sahabat-sahabatnya.” (Ibid, 3/409)

Imam Muhammad bin Al Hasan Rahimahullah -beliau adalah murid Imam Abu Hanifah- mengatakan:

اتفق الفقهاء كلهم من المشرق إلى المغرب على الإيمان بالقرآن والأحاديث التي جاء بها الثقات في صفة الرب عز وجل من غير تفسير ولا وصف ولا تشبيه، فمن فسر اليوم شيئا من ذلك فقد خرج مما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وفارق الجماعة، فإنهم لم يصفوا ولم يفسروا ولكن أفتوا بما في الكتاب والسنة ثم سكتوا

“Seluruh ahli fiqih sepakat, baik timur dan barat, tentang keimanan terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat Allah ‘Azza wa Jalla yang telah diriwayatkan dari orang terpercaya, tanpa tafsir (interpretasi), washf (menyifati dengan sifat yang tidak layak), tasybih (merupai dengan makhluk), barang siapa yang hari ini melakukan penafsiran, maka dia telah keluar dari jalan yang tempuh oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berpisah dari jamaah.

Demikian itu, karena mereka tidak pernah mensifati, tidak menafsirkan, tetapi mereka menerangkan dengan apa-apa yang ada dalam Al Quran dan As Sunnah, lalu diam.” (Imam Ibnul Qayyim, Ijtima’ Al Juyusy Al Islamiyah, Hal. 64. Syaikh Dr Abdullah ‘Azzam, Aqidah wa Atsaruha fi Bina’ Al Jiil, Hal. 56. Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 20/494. Imam Abu Thayyb Syamsul Haq Al ‘Azhim, ‘Aunul Ma’bud, 10/245)

Al Khalal berkata: telah mengabarkanku Ali bin ‘Isa bahwa Hambal berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hambal) tentang hadits yang meriwayatkan bahwa ‘Allah Ta’ala turun ke langit dunia’, ‘Allah melihat’, ‘Allah meletakkan kakiNya’ , dan hadits-hadits semisalnya?

Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu menjawab:

نؤمن بها ونصدق بها، ولا نَرُدُّ منها شيئاً، ونعلم أن ما جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم حق إذا كانت أسانيد صحاح، ولا نرد على الله قوله، ولا يوصف بأكثر مما وصف به نفسه بلا حد ولا غاية ” لَيْسَ كَمِثْلِهِ شيءٌ وَهُوَ السّمِيع البَصيرُ

“Kami mengimaninya dan membenarkannya, kami tidak membantahnya sama sekali, dan kami mengetahui bahwa apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah benar, jika sanadnya shahih, dan kami tidaklah membantah firmanNya, dan kami tidaklah mensifatiNya lebih banyak dari Dia sifatkan terhadap diriNya, dengan tanpa batas, dan tanpa ujung.

“Tidak ada yang serupa denganNya, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Imam Ibnul Qayyim, Ijtima’ Al Juyusy Al Islamiyah, Hal. 61. Syaikh Dr. Abdullah ‘Azzam, Aqidah wa Atsaruha fi Bina’ Al Jiil, Hal. 57)

Apa yang dikatakan oleh Iman Ahmad bin Hambal ini mirip dengan yang dikatakan oleh Imam Hasan Al Banna, berikut:

ومعرفة الله تبارك وتعالى وتوحيده وتنزيهه أسمى عقائد الإسلام ، وآيات الصفات وأحاديثها الصحيحة وما يليق بذلك من التشابه , نؤمن بها كما جاءت من غير تأويل ولا تعطيل , ولا نتعرض لما جاء فيها من خلاف بين العلماء , ويسعنا ما وسع رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه (وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا) (آل عمران:7)

“Ma’rifah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan mengesakanNya, serta mensucikan zatNya merupakan setinggi-tingginya aqidah Islam. dan Ayat-ayat sifat serta hadits-hadits shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat tentangnya, kita mengimaninya sebagaimana datangnya tanpa ta’wil dan tanpa ta’thil (mengingkari), serta tidak mempertajam perselsihan yang terdapat pada ulama, kita telah melapangkan diri sebagaimana   Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam dan sahabatnya telah melapangkan.

“Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya,

Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” (QS. Ali Imran (3): 7) (Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 306. Al Maktabah At Taufiqiyah)

Oleh karena itu, jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang benar, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir berikut:

فمن أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك سبيل الهدى.

“Maka, siapa saja yang menetapkan Allah Ta’ala sebagaimana  yang dijelaskan oleh ayat-ayat yang terang dan hadits-hadits yang shahih, sesuai dengan hal yang  pantas bagi keagungan Allah Ta’ala, dan meniadakan kekurangan bagiNya, maka dia telah menumpuh jalan pentunjuk.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/427)

Abdul Aziz bin Abdullah bin Abi Salamah Al Majisyun mengatakan – sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Al Atsram, Abu Amr Ath Thalmanki, Abu Abdillah bin Baththah, dengan pembahasan yang cukup panjang, hingga akhirnya dia berkata:

فَمَا وَصَفَ اللَّهُ مِنْ نَفْسِهِ فَسَمَّاهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ سَمَّيْنَاهُ كَمَا سَمَّاهُ وَلَمْ نَتَكَلَّفْ مِنْهُ صِفَةَ مَا سِوَاهُ لَا هَذَا وَلَا هَذَا لَا نَجْحَدُ مَا وَصَفَ وَلَا نَتَكَلَّفُ مَعْرِفَةَ مَا لَمْ يَصِفْ .

  “Maka, apa saja yang Allah Ta’ala sifatkan untuk diriNya dan yang disifatkan oleh RasulNya, maka kami menamakannya sebagaimana Allah dan RasulNya telah namakan. Kami tidaklah membebani diri mensifatiNya dengan sifat-sifat lain, tidak yang ini tidak pula yang itu.

Kami tidak menolak kata yang dipakai untuk menyifati  dan tidak pula mencari-cari pengertian yang tidak dituturkan.” (Imam Ibnu Taimiyah, Al Fatawa Al Kubra, 10/122)

Demikianlaih madzhab tatsbit.

Sikap mereka terhadap ayat dan hadits-hadits sifat adalah, mereka diam, tidak membahas, membiarkan apa adanya, memahami sebagaimana datangnya, tanpa tafsir, ta’wil, tasybih, dan tahrif.

Namun, ada pula ulama ya!ng menganggap apa yang mereka lakukan ini bukanlah tatsbit (menetapkan apa adanya sesuai zhahir nash), tetapi tafwidh (menyerahkan makna dan pengetahuannya kepada Allah Ta’ala).

Oleh karena itu, jangan kaget jika sebagian Imam Ahlus Sunnah justru mengatakan tafwidh adalah madzhab salaf yang sesungguhnya. Walau  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mencela tafwidh dengan celaan yang sangat keras.

Wallahu A’lam

(Bersambung pekan depan : Sikap kedua, Tafwidh)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…