Rizki Halal

Hukum Jual Beli Kucing

Pertanyaan

Assalamualaikum..
Ustadz, sya mau tnya ttg bagaimana hukum jual beli kucing. Karena saat ini utk memelihara kucing yg bagus, kbanyakan kita harus mmbelinya dgn uang yg tdk sedikit
Syukron
I5

Jawaban

✏ Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Wa ‘Alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh. BIsmillah wal hamdulillahirabbil ‘alamin, wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Man walah, wa ba’d:

Ada beberapa hadits yang menunjukkan larangan jual beli kucing. Di antaranya:

Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ثمن الكلب والسنور

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang harga dari Anjing dan Kucing.” (HR. At Tirmidzi No. 1279, Abu Daud No. 3479, An Nasa’i No. 4668, Ibnu Majah No. 2161, Al-Hakim No. 2244, 2245, Ad Daruquthni No. 276, Al-Baihaqi, As Sunan Al-KubraNo. 10749, Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, 54/4. Abu Ya’la No. 2275)

Imam At Tirmidzi mengatakan, hadits ini idhthirab(guncang), dan tidak shahih dalam hal menjual kucing. (Lihat Sunan At Ttirmidzi No. 1279) dan Imam An Nasa’i mengatakan hadits ini: munkar!(Lihat Sunan An Nasa’i No. 4668)

Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri Rahimahullah mengatakan:

وقال الخطابي: وقد تكلم بعض العلماء في إسناد هذا الحديث. وزعم أنه غير ثابت عن النبي صلى الله عليه وسلم. وقال أبو عمر بن عبد البر: حديث بيع السنور لا يثبت رفعه. هذا آخر كلامه

“Berkata Al-Khathabi: sebagian ulama membicarakan isnad hadits ini dan mengira bahwa hadits ini tidak tsabit (shahih) dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Berkata Abu Umar bin Abdil Bar: hadits tentang menjual kucing tidak ada yang shahih marfu’. Inilah akhir ucapannya.” (Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri, Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/501. Cet. 2, 1383H-1963M. Maktabah As Salafiyah. Lihat juga Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi,‘Aunul Ma’bud, 9/271. Darul Kutub Al-‘Ilmiyah)

Berkata Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah:

وليس في السنور شيء صحيح وهو على أصل الإباحة وبالله التوفيق

“Tidak ada yang shahih sedikit pun tentang kucing, dan dia menurut hukum asalnya adalah mubah (untuk dijual). (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 8/403. Muasasah Al-Qurthubah)

Pendhaifan yang dilakukan para imam di atas telah dikritik oleh Imam lainnya. Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

 وَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ الْخَطَّابِيّ وَأَبُو عَمْرو بْن عَبْد الْبَرّ مِنْ أَنَّ الْحَدِيث فِي النَّهْي عَنْهُ ضَعِيف فَلَيْسَ كَمَا قَالَا ، بَلْ الْحَدِيث صَحِيح رَوَاهُ مُسْلِم وَغَيْره . وَقَوْل اِبْن عَبْد الْبَرّ: إِنَّهُ لَمْ يَرْوِهِ عَنْ أَبِي الزُّبَيْر غَيْر حَمَّاد بْن سَلَمَة غَلَط مِنْهُ أَيْضًا ؛ لِأَنَّ مُسْلِمًا قَدْ رَوَاهُ فِي صَحِيحه كَمَا يُرْوَى مِنْ رِوَايَة مَعْقِل بْن عُبَيْد اللَّه عَنْ أَبِي الزُّبَيْر ؛ فَهَذَانِ ثِقَتَانِ رَوَيَاهُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْر ، وَهُوَ ثِقَة أَيْضًا . وَاَللَّه أَعْلَم

“Ada pun apa yang dikatakan Al-Khathabi dan Ibnu Abdil Bar, bahwa hadits ini dhaif, tidaklah seperti yang dikatakan mereka berdua, bahkan hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya. Sedangkan ucapan Ibnu Abdil Bar bahwa tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Az Zubair selain Hammad bin Salamah saja, itu merupakan pernyataan yang salah darinya juga, karena Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya sebagaimana diriwayatkan dari riwayat Ma’qil bin Abaidillah dari Abu Az Zubair, dan keduanya adalah tsiqah, dan dua riwayat dari Az Zubair juga tsiqah . ” (Imam An Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/420. Mawqi’ Ruh Al-Islam. Lihat juga Imam Al-Mula ‘Ali Al-Qari, Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Mashabih, Mawqi’ Ruh Al-Islam.)

Berkata Syaikh Al-Mubarakfuri Rahimahullah:

لا شك أن الحديث صحيح فإن مسلما أخرجه في صحيحه كما ستعرف

“Tidak ragu lagi, bahwa hadits ini adalah shahih karena Imam Muslim telah mengeluarkannya dalam kitab Shahihnya sebagaimana yang akan kau ketahui.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/500)

Imam Al-Mundziri Rahimahullah mengatakan:

والحديث أخرجه البيهقي في السنن الكبرى من طريقين عن عيسى بن يونس وعن حفص بن غياث كلاهما عن الأعمش عن أبي سفيان عن جابر ثم قال: أخرجه أبو داود في السنن عن جماعة عن عيسى بن يونس . قال البيهقي: وهذا حديث صحيح على شرط مسلم دون البخاري

“Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam As Sunan Al-Kubra dari dua jalan, dari ‘Isa bin Yunus dan dari Hafsh bin Ghiyats, keduanya dari Al-A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir. Kemudian dia berkata: Abu Dua mengeluarkannya dalam As Sunan, dari Jamaah dari ‘Isa bin Yunus. Berkata Al-Baihaqi: Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim tanpa Al-Bukhari.” (Tuhfah Al-Ahwadzi , 4/500-501, ‘Aunul Ma’bud , 9/270)

Syaikh Al-Albani Rahimahullah menshahihkan hadits ini, menurutnya hadits ini memiliki tiga jalur yang satu sama lain saling menguatkan. (As Silsilah Ash Shahihah, 6/1155, No. 2971)

Hadits Imam Muslim yang dimaksud adalah: dari Abu Az Zubair, dia berkata:

سألت جابرا عن ثمن الكلب والسنور؟ قال: زجر النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك

Aku bertanya kepada Jabir tentang harga anjing dan kucing? Beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang hal itu.” (HR. Muslim No. 1569, Ibnu Hibban No. 4940)

Hadits ini shahih. Dan, secara zhahir menunjukkan keharaman jual beli kucing, Imam An Nawawi menyebutkan:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَة وَطَاوُسٍ وَمُجَاهِد وَجَابِر بْن زَيْد أَنَّهُ لَا يَجُوز بَيْعه ، وَاحْتَجُّوا بِالْحَدِيثِ

Dari Abu Hurairah, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, bahwa tidak boleh menjual kucing. Mereka berhujjah dengan hadits ini. (Al Minhaj, 5/420)

Dalam Nailul Authar, Imam Asy Syaukani mengatakan:

وفيه دليل على تحريم بيع الهروبه قال أبو هريرة ومجاهد وجابر وابن زيد

“Dalam hadits ini terdapat dalil haramnya menjual kucing, inilah pendapat Abu Hurairah, Jabir, dan Ibnu Zaid.” (Nailul Authar, 5/145)

Nampak ada perbedaan dengan apa yang dikatakan Imam An Nawawi dan Imam Abu Thayyib yang menyebutkan Jabir bin Zaid (sebagai satu orang), sedangkan di sisi lain Imam Asy Syaukani dan Syaikh Al-Mubarakuri menyebut Jabir, lalu Ibnu Zaid, sebagai dua orang yang berbeda.

Perbedaan lain adalah tentang posisi Thawus. Beliau disebut oleh Imam An Nawawi (dalam Al-Minhaj) dan Imam Abu Thayyib (dalam ‘Aunul Ma’bud) termasuk yang mengharamkan, tetapi oleh Imam Asy Syaukani (dalam Nailul Authar) dan Syaikh Al-Mubarakfuri (Tuhfah Al-Ahwadzi)disebutkan bahwa Thawus membolehkan menjual kucing. Wallahu A’lam

Ada pun jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa menjual kucing adalah boleh, karena dhaifnya hadits tersebut. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/500). Namun, yang benar adalah hadits tersebut adalah shahih sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dan lainnya.

Tetapi, apakah makna pelarangan ini? Apakah bermakna haram? Demikianlah yang menjadi pandangan sebagian ulama. Namun sebagian lain mengartikan bahwa larangan ini menunjukkan makruh saja, yaitu makruh tanzih (makruh yang mendekati kebolehan) sebab menjual kucing bukanlah perbuatan yang menunjukan akhlak baik dan muru’ah (citra diri). (Ibid)

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan;

 وَأَمَّا النَّهْي عَنْ ثَمَن السِّنَّوْر فَهُوَ مَحْمُول عَلَى أَنَّهُ لَا يَنْفَع ، أَوْ عَلَى أَنَّهُ نَهْي تَنْزِيه حَتَّى يَعْتَاد النَّاس هِبَته وَإِعَارَته وَالسَّمَاحَة بِهِ كَمَا هُوَ الْغَالِب . فَإِنْ كَانَ مِمَّا يَنْفَع وَبَاعَهُ صَحَّ الْبَيْع ، وَكَانَ ثَمَنه حَلَالًا هَذَا مَذْهَبنَا وَمَذْهَب الْعُلَمَاء كَافَّة إِلَّا مَا حَكَى اِبْن الْمُنْذِر . وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَة وَطَاوُسٍ وَمُجَاهِد وَجَابِر بْن زَيْد أَنَّهُ لَا يَجُوز بَيْعه ، وَاحْتَجُّوا بِالْحَدِيثِ . وَأَجَابَ الْجُمْهُور عَنْهُ بِأَنَّهُ مَحْمُول عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ ، فَهَذَا هُوَ الْجَوَاب الْمُعْتَمَد

“Ada pun tentang larangan mengambil harga kucing, hal itu dimungkinkan karena hal itu tidak bermanfaat, atau larangannya adalah tanzih, sehingga manusia terbiasa menjadikannya sebagai barang hibah saja, ada yang menelantarkannya, dan bermurah hati, sebagaimana yang biasa terjadi. Jika dia termasuk yang membawa manfaat maka menjualnya adalah penjualan yang sah dan harganya adalah halal. Inilah pendapat madzhab kami dan madzhab semua ulama kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir. Bahwa dari Abu Hurairah, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, mereka tidak membolehkan menjualnya, mereka berhujjah dengan hadits tersebut. Jumhur menjawab bahwa hadits tersebut maknanya sebagaimana yang kami sebutkan, dan ini adalah jawaban yang dapat dijadikan pegangan.” (Al Minhaj, 5/420. Mawqi’ Ruh Al-Islam)

Demikian. Jadi menurut mayoritas ulama, larangan itu bukan bermakna haram tetapi masalah kepantasan dan adab, sebab memang kucing bukan hewan yang biasa diperjualbelikan sebab keberadaannya yang mudah didapat, dan manusia pun biasanya bisa seenaknya saja memeliharanya atau dia membiarkannya. Tetapi, bagi yang ingin berhati-hati dengan mengikuti pendapat yang mengharamkannya, tentu bukan pilihan yang salah. Perbedaan dalam hal ini sangat lapang, dan tidak boleh ada sikap keras dalam mengingkari. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Alihi wa Shahbihi ajma’in


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iddah Waktu Menunggu

Wanita Bekerja Saat Iddah

Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr wb
Ustadzah , misalnya masih dalam proses cerai, dan urusannya Belum selesai tapi  si istri memutuskan untuk pergi bekerja keluar negeri itu bagaimana masa iddah-nya, Ustadzah?

Jazakillah
Sumiati grup A85

✏Jawaban

Oleh: Ustadzah Indra Asih

Masih ada salah kaprah di masyarakat kita, yaitu ketika seorang suami menjatuhkan talak ra’jiy atau menceraikan istrinya. Maka statusnya langsung bukan suami istri. Maka baru saja talak terjadi dan belum habis masa iddah, semua sudah dipisahkan. Istri langsung pulang ke rumah orang tua, barang-barang punya istri langsung diangkat dan harta langsung dipisahkan.

Talak satu dan dua masih bisa balik rujuk (talak raj’iy)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

“Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikan dengan baik” (Al-Baqarah: 229)

Dan selama itu suami berhak merujuk kembali walaupun tanpa persetujuan istri.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (masa ‘iddah). Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu (masa ‘iddah), jika mereka (para suami) menghendaki ishlah” (Al Baqarah: 228).

Jangan segera berpisah

Suami istri bahkan diperintahkan tetap tinggal satu rumah. Demikianlah ajaran islam, karena dengan demikian suami diharapkan bisa menimbang kembali dengan melihat istrinya yang tetap di rumah dan mengurus rumahnya.

Demikian juga istri diharapkan mau ber-islah karena melihat suami tetap memberi nafkah dan tempat tinggal.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا النَّفَقَةُ وَالسُّكْنَى لِلْمَرْأَةِ إِذَاكَانَ لِزَوْجِهَا عَلَيْهَا الرَّجْعَةُ

“Nafkah dan tempat tinggal adalah hak istri, jika suami memiliki hak rujuk kepadanya.”

Allah Ta’ala berfirman,

لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ

“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.” QS. Ath Thalaq: 1.

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,

وَقَوْلُهُ: {لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ} أَيْ: فِي مُدَّةِ الْعِدَّةِ لَهَا حَقُّ السُّكْنَى عَلَى الزَّوْجِ مَا دَامَتْ مُعْتَدَّةً مِنْهُ، فَلَيْسَ لِلرَّجُلِ أَنْ يُخْرِجَهَا، وَلَا يَجُوزَ لَهَا أَيْضًا الْخُرُوجُ لِأَنَّهَا مُعْتَقَلَةٌ (3) لِحَقِّ الزَّوْجِ أَيْضًا

“Yaitu: dalam jangka waktu iddah, wanita mempunyai hak tinggal di rumah suaminya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi suaminya mengeluarkannya. Tidak bolehnya keluar dari rumah karena statusnya masih wanita yang ditalak dan masih ada hak suaminya juga (hak untuk merujuk).”

Istri yang ditalak raj’iy berdosa jika keluar dari rumah suami

Al-Qurthubi rahimahullah menafsirkan,

: أي ليس للزوج أن يخرجها من مسكن النكاح ما دامت في العدة ولا يجوز لها الخروج أيضاً الحق الزوج إلا لضرورة ظاهرة؛ فإن خرجت أثمت ولا تنقطع العدة

“yaitu tidak boleh bagi suami mengeluarkan istrinya dari rumahnya selama masih masa iddah dan tidak boleh bagi wanita keluar juga karena (masih ada) hak suaminya kecuali pada keadaan darurat yang nyata. Jika sang istri keluar maka ia berdosa dan tidaklah terputus masa iddahnya.”

WallahuA’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Halal Tanpa Thoyyib

Hukum Vaksinasi

Pertanyaan

Ustadz mau tanya diluar pembahasan diatas, terkait dengan vaksinasi/imunisasi utk bayi,bgmna hukumnya menurut syari’at islam? Mohon penjelasannya ust,..syukran (jupriadi-i44)

Jawaban:

✏Ust. Farid Nu’man Hasan

Ada dua pendapat dalam masalah ini:

1.       Mengharamkan

Jika terbukti ada unsur2 yang diharamkan, seperti Babi, baik minyak, daging, atau apa saja darinya. Dalilnya jelas yaitu keharaman Babi itu sendiri, dan  kaidah fiqih yang berbunyi:

إذَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ غَلَبَ الْحَرَامُ

“Jika Halal dan haram bercampur maka yang haramlah yang menang (dominan).”

Kaidah ini berasal dari riwayat mauquf dari Ibnu Mas’d sebagai berikut:

مَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ إلَّا غَلَبَ الْحَرَامُ الْحَلَالَ

“Tidakah halal dan haram bercampur melainkan yang haram akan mengalahkan yang halal.”

Imam As Suyuti Rahimahullah mengomentari riwayat ini, katanya:

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْفَضْلِ الْعِرَاقِيُّ : وَلَا أَصْلَ لَهُ ، وَقَالَ السُّبْكِيُّ فِي الْأَشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ نَقْلًا عَنْ الْبَيْهَقِيّ : هُوَ حَدِيثٌ رَوَاهُ جَابِرٌ الْجُعْفِيُّ، رَجُلٌ ضَعِيفٌ ، عَنْ الشَّعْبِيُّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ ، وَهُوَ مُنْقَطِعٌ . قُلْت : وَأَخْرَجَهُ مِنْ هَذَا الطَّرِيقِ عَبْدُ الرَّزَّاقِ فِي مُصَنَّفِهِ . وَهُوَ مَوْقُوفٌعَلَى ابْنِ مَسْعُودِ لَا مَرْفُوعٌ . ثُمَّ قَالَ ابْنُ السُّبْكِيّ : غَيْرِ أَنَّ الْقَاعِدَةَ فِي نَفْسِهَا صَحِيحَةٌ

Berkata Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iraqi: “Tidak ada asalnya.” As Subki berkata dalam Al Asybah wan Nazhair, mengutip dari Al Baihaqi: ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir Al Ju’fi, seorang yang dhaif, dari Asy Sya’bi, dari Ibnu Mas’ud, dan hadits ini munqathi’ (terputus). Aku (As Suyuthi) berkata: Abdurrazzaq dalamMushannaf-nya, telah mengeluarkannya dengan jalan ini. Itu adalah riwayat mauquf(terhenti) pada ucapan Ibnu Mas’ud, bukan marfu’(Sampai kepada Rasulullah). Kemudian, berkata Ibnu As Subki: ” “Namun, sesungguhnya kaidahnya sendiri,  yang ada pada hadits ini adalah shahih (benar). (Al Asybah wan Nazhair, 1/194)

Inilah yang dipilih oleh MUI kita, kalau pun mereka membolehkan karena dharurat saja, yaitu dalam keadaan memang tidak ada penggantinya yang halal, atau dalam konteks haji, hanya dibolehkan untuk haji yang wajib bukan haji sunah (haji kedua, ketiga, dst).

2.       Membolehkan.

Ini pendapat dari segolongan Hanafiyah, seperti Imam Abu Ja’far Ath Thahawi. Nampaknya ini juga diikuti oleh ulama kerajaan Arab Saudi.

Alasannya adalah karena ketika sudah menjadi vaksin, maka itu sudah menjadi wujud baru, tidak lagi dikatakan campuran. Sedangkan fiqih melihat pada wujud baru, bukan pada wujud sebelumnya. Dahulu ada sahabat Nabi ﷺ yang membuat cuka berasal dari nabidz anggur (wine). Ini menunjukkan bahwa benda haram, ketika sudah berubah baik karena proses alami atau kimiawi, maka tidak apa-apa dimanfaatkan ketika sudah menjadi wujud baru. Dianggap, unsur haramnya telah lenyap. Hal ini bagi mereka juga berlaku untuk alat-alat kosmetik dan semisalnya. Ini juga yang dipegang oleh Syaikh Al Qaradhawi Hafizhahullah.

Dari kedua pendapat ini, pendapat pertama nampak lebih hati-hati. Di sisi lain, tidaklah apple to apple menyamakan unsur Babi dalam vaksin dengan wine yang menjadi cuka. Sebab, wine berasal dari buah anggur yang halal, artinya memang sebelumna adalah benda halal. Beda dengan Babi, sejak awalnya memang sudah haram.

Pembolehan hanya jika terpaksa, belum ada gantinya yang setara, dan terbukti memang vaksin itu penting, dan pada haji pertama. Kalau ada cara lain, atau zat lain yang bisa menggantikan vaksin tersebut maka itulah yang kita pakai. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi ilmuwan muslim untuk menemukannya.

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iddah Waktu Menunggu

Bolehkah Wanita yang Sedang dalam Masa Iddah Bekerja?

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum …….. Ustazah  saya mau nitip pertanyaan dari teman istri.. begini pertanyaannya:
teman saya suami nya meninggal …..sementara dia terikat kerja dg perusahaan …bgmn dg masa iddah nya…
apakah benar2 tidak boleh keluar untuk bekerja slm ms iddah tsb atau bgm? mhn informasinya …jazakillah.

Jawaban

✏ Oleh: Ustadzah Indra Asih

Wanita yang dalam kondisi iddah dibolehkan keluar siang hari untuk bekerja. Kalau telah masuk     malam hari, maka dia harus berdiam diri di rumah.

Jadi  tidak mengapa dia bekerja, jika hal itu dilakukan hanya waktu siang saja.

Ibnu Qudamah rahimahullah di Mugni, 8/130 berkata, “Wanita yang masih dalam iddah dibolehkan keluar untuk memenuhi keperluannya waktu siang hari. Baik idddah karena dicerai atau karena meninggal dunia.

Sebagaimana diriwayatkan Jabir beliau berkata, ‘Bibiku dicerai tiga kali, kemudian beliau keluar  untuk memotong dan memetik kurmanya. Kemudian beliau bertemu dengan seorang  laki-laki yang melarangnya.

Beliau menceritakan hal itu kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda:

اخرجي , فجذي نخلك , لعلك أن تصدّقي منه , أو تفعلي خيرا (رواه النسائي وأبو داود)

 “Keluarlah dan rawatlah pohon kurmamu. Dengan itu engkau dapat bersadaqah darinya atau melakukan kebaikan.” (HR. Nasa’i dan Abu Daud)

وروى مجاهد قال : ( استشهد رجال يوم أحد فجاءت نساؤهم رسول الله صلى الله عليه وسلم وقلن : يا رسول الله صلى الله عليه وسلم ، نستوحش بالليل , أفنبيت عند إحدانا , فإذا أصبحنا بادرنا إلى بيوتنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تحدثن عند إحداكن , حتى إذا أردتن النوم , فلتؤب كل واحدة إلى بيتها )

Diriwayatkan oleh Mujahid berkata, ‘Beberapa lelaki mati syahid waktu perang Uhud, para para janda mereka mendatangi Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dan berkata,

‘Wahai Rasulullah, kami takut waktu malam hari. Apakah boleh kami tidur malam di salah seorang diantara kami. Kalau waktu pagi hari kami kembali ke rumah-rumah kami?

Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Berbincang-bincanglah di tempat salah seorang di antara kamu, kalau kalian ingin tidur, kembalilah masing-masing ke rumahnya.”

Seorang wanita tidak diperkenankan tidur malam di selain rumahnya. Tidak juga keluar malam kecuali darurat. Karena malam merupakan sumber kerusakan, berbeda dengan siang. Ia adalah tempat untuk memenuhi kebutuhan dan kehidupan, serta memenuhi keperluan.”


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Sesuatu Yang Boleh & Tidak Boleh Diperjualbelikan

Oleh: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

Taujih Nabawi

عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ﴿إنَّ اللَّهَ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَاْلأَصْنَامِ فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ، فَإِنَّهُ يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ ؟ فَقَالَ لاَ هُوَ حَرَامٌ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ : قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ﴾ (رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ)

Jabir bin ‘Abdullah ra, bahwasanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharam kan khamar, bangkai, babi dan patung-patung”.

Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak dari bangkai (sapi dan kambing) karena bisa dimanfaatkan untuk memoles sarung pedang atau meminyaki kulit-kulit dan sebagai bahan minyak untuk penerangan bagi manusia?

Beliau bersabda: “Tidak, dia tetap haram”. Kemudian saat itu juga Rasulullah SAW bersabda: Semoga Allah melaknat Yahudi, karena ketika Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu memperjual belikannya dan memakan uang jual belinya.” (HR. Jamaah)

Takhrij Hadits

Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ul Maitah wal Ashnam, hadits no 2082.

Hadits diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Musaqah, Bab Tahrim bai’ al-khamr wal maitah wal khinzir wal ashnam, hadits no 2960.

Hadits diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Tsamanil Khamri Wal Maitah, hadits no 3025.

Hadits diriwayatkan juga oleh Imam Turmudzi dalam Sunan/ Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a fi Bai’ Juludil Maitah wal ashnam, hadits no 1218.

Hadits diriwayatkan juga oleh Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Far’ wal Athirah, Bab An-Nahyu Al-Intifa’ bi Syuhumil Maitah, Hadits no 4183 dan dalam Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ al-Khinzir, Hadits no 4590.

Hadits diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah, dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab Ma La Yahillu Bai’uhu, Hadits No 2158.

Hadits diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, hadits no. 13971

Makna Umum

Secara umum hadits menggambarkan tentang hukum jual beli, terkait dengan objek jual beli yang diharamkan sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW.

Adapun objek-objek yang diharamkan untuk diperjual belikan sebagaimana yang terdapat dalam hadits di atas adalah :

Khamr; segala minuman yang memabukan dan yang mengandung unsur khamer.

Bangkai; segala hewan yang mati yang tidak disembelih dengan menyebut nama Allah SWT.

Babi; mencakup segala hal yang bersumber dari babi

Berhala; dan segala hal yang digunakan untuk kemusyrikan.

Kemudian selain hal tersebut, Nabi SAW juga melarang jual beli lemak bangkai (minyak yang berasal dari bangkai.

Kendatipun bisa dimanfaatkan untuk melumasi dan campuran cat, namun apabila bersumber dari yang haram maka hukumnya adalah haram untuk diperjual bel

Imam Syaukani mengemuka kan :
Hadits ini merupakan dalil haramnya jual beli lemak yang najis, yaitu lemak atau minyak yang bersumber dari bangkai yang tidak disembelih dengan nama Allah SWT, atau dari hewan yang mati (bangkai).

Haramnya hal tersebut, dikuatkan dengan hadits dari Ibnu Abbas ra :

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ﴿لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ حُرِّمَتْ عَلَيْهِمْ الشُّحُومُ فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا ، وَإِنَّ اللَّهَ إذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ﴾ (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah melaknati orang-orang Yahudi (diucapkan sebanyak tiga kali), (karena) Allah mengharamkan atas mereka lemak-lemak itu, tetapi mereka (tetap) menjualnya dan memakan hasil penjualannya.

Sesungguhnya apabila Allah mengharamkan sesuatu pada suatu kaum, maka Allah mengharamkan pula harga sesuatu itu.” (Shahih) Ahadits Al Buyu’.

Syarah Hadits

Haramnya Jual Beli Bangkai

Imam Syaukani mengemuka kan :
Sabda Nabi SAW ( والميتة ) ‘bangkai’. Yang dimaksud bangkai adalah segala hewan yang telah hilang nyawanya tanpa melalui proses penyembelihan yang sesuai syariat.

Dikemukakan oleh Ibnu Mundzir bahwa sudah menjadi ijma’ ulama tentang haramnya jual beli bangkai dan bahkan jual beli bagian tubuh binatang yang telah menjadi bangkai.

Namun dikecualikan dari jual beli bankai ini adalah, segala jenis hewan yang halal dimakan tanpa melalui proses penyembelihan, seperti ikan, cumi-cumi, belalang, dan yang sejenisnya.

Haramnya Jual Beli Babi

Imam Syaukani mengemuka kan :
Sabda Nabi SAW ( والخنزير ) dan babi; adalah dalil jual beli babi dan seluruh bagian dari babi.

Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan bahwa sudah menjadi ijma’ ulama akan haramnya jual beli babi beserta semua unsur babi.

Adapun illat (alasan) haramnya jual beli babi dan bangkai adalah karena faktor an-najasah (termasuk barang najis), maka hukumnya mencakup haramnya jual beli segala hal yang mengandung unsur najis.

Haramnya Jual Beli Patung

Imam Syaukani mengemuka kan :
Sabda Nabi SAW ( والأصنام ) adalah jama’ dari shanam (patung/ berhala).

Dalam ini terdapat perbedaan antara ( الوثن ) dengan ( الصنم ).
Al-Watsn adalah yang berbentuk atau memiliki tubuh, sedangkan shanam adalah yang berbentuk gambar.

Illat dalam haramnya jual beli patung adalah karena tidak ada manfaat yang mubah yang dapat diambil dari patung.

Namun sebagian ulama mengemukakan, bahwa apabila ada manfaatnya setelah dihancurkan/ pecah maka boleh diperjual belikan, karena sudah tidak lagi berwujud patung.

Haramnya Jual Beli Lemak Bangkai

Imam Syaukani mengemuka kan :
Riwayat ( أرأيت شحوم الميتة )

‘Bagaimana pendapatmu tentang lemak bangkai?’. Yaitu maksudnya, ‘apakah karena terdapat banyak manfaat pada lemak bangkai, menjadikannya boleh diperjualbelikan?

Kemudian pertanyaan sahabat ( ويستصبح بها الناس ) ‘sebagai bahan minyak untuk penerangan manusia?’

Menunjukkan bahwa lemak bangkai tersebut memiliki banyak manfaat, untuk melumasi sarung pedang, melumasi kulit-kulit, dan bahkan untuk bahan untuk menyalakan lantera sebagai penerang bagi manusia di kegelapan.

Kemudian Nabi SAW bersabda, ‘Tidak, itu haram ( لا، هو حرام ).

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa dhamir ( هو ) kembali kepada ( البيع ). Maksudnya adalah bahwa jual beli lemak bangkai adalah haram.

Artinya, kendatipun demikian banyaknya manfaat yang dihasilkan dari lemak bangkai tersebut, namun karena ia berasal dari sesuatu yang haram, maka hukumnya tetap haram.

Haramnya Hilah

Dalam hadits di atas juga disabdakan oleh Nabi SAW, bahwa Allah SWT melaknat orang-orang Yahudi, lantaran ketika mereka diharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu memperjualbelikannya dan memakan uang jual belinya.’

Iman Syaukani mengemuka kan bahwa hadits ini merupakan dalil haramnya hilah dan segala hal yang mengarah pada yang haram.

Maka segala hal yang Allah haramkan terhadap hamba-hamba-Nya, maka memperjualbelikannya juga haram.

Allah SWT bahkan melaknat orang Yahudi, lantaran hilah yang mereka lakukan; yaitu ketika Allah SWT mengharamkan lemak bangkai, mereka merubah wujudnya menjadi cair (minyak). Kemudian mereka menjualnya, lalu memakan keuntungan dari jual beli tersebut.

Secara bahasa, hilah adalah bentuk jama’ dari hiyal yang berarti sebuah upaya untuk mengelak dari ketentuan syariat (hukum agama) yangsecara teknik tidak dipandang sebagai melanggar hukum.

Sedangkan secara istilah, hilah adalah melakukan suatu amalan yang dzahirnya boleh untuk membatalkan hukum syar’i serta memalingkan kepada hukum yang lainnya.

Ibnu Qayim Al-Jauziyah mengatakan bahwa hilah adalah mencari jalan dengan cara yang licik untuk menyembunyikan kenyataan bahwa sebenarnya tujuannya adalah melakukan sesuatu yang diharamkan.

Hilah dalam rangka untuk menghalalkan segala apa yang diharamkan Allah SWT adalah tidak diperbolehkan, sebagaimana digambarkan oleh Nabi SAW dalam hadits di atas perihal dilaknatnya orang-orang Yahudi karena melakukan hilah, untuk menghalalkan lemak bangkai dengan cara, mengubah wujudnya dari lemak menjadi minyak.

Objek Lainnya Yang Haram Diperjual Belikan

1. Jual beli anjing.

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW

وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : { نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ } .رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ

Dari Abu Mas’ud ra, ia berkata; Nabi SAW melarang untuk memakan hasil keuntungan dari anjing, upah pelacur dan komisi dukun.

Menurut Jumhur Ulama; hukum jual beli anjing adalah haram; baik anjing yang terlatih (seperti untuk buruan), maupun anjing biasa yang tidak terlatih.

Namun menurut Imam Abu Hanifah, boleh memperjual belikannya. Demikian juga Imam Atha’ mengatakan boleh memperjualbelikan nya, apabila merupakan anjing untuk berburu yang terlatih.
Karena dalam riwayat disebutkan :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ إلاَّ كَلْبَ صَيْدٍ

Dari Jabir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW melarang harga jual beli anjing kecuali anjing buruan.’ (HR. Nasa’i dan Ahmad bin Hambal)

Menguatkan haramnya jual beli anjing adalah riwayat sebagai berikut :

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ { : نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَقَالَ : إنْ جَاءَ يَطْلُبُ ثَمَنَ الْكَلْبِ فَامْلَأْ كَفَّهُ تُرَابًا} رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: Rasulullah melarang kita dari harga anjing dan jika ada seseorang yang meminta harga anjing maka penuhilah telapak tangannya dengan debu. (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud)

2. Upah Pelacur & Komisi perdukunan.

Hadits di atas menyebutkan haramnya hasil upah pelacur dan komisi dari perdukunan.
Jumhur ulama juga sepakat haramnya upah pelacur dan komisi perdukunan. Karena kedua jenis usaha tersebut merupakan usaha yang haram, sehinga segala yang haram untuk dimakan, dilakukan dan diusahakan, maka haram pula hasil keuntungan dari usaha tersebut.

3. Jual beli darah.

Darah termasuk ke dalam objek yang haram untuk dimakan dan dimanfaatkan. Oleh karenanya, mentransaksikannya dalam jual beli juga menjadi haram. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW :

وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَرَّمَ ثَمَنَ الدَّمِ وَثَمَنَ الْكَلْبِ وَكَسْبَ الْبَغِيِّ وَلَعَنَ الْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَآكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرِينَ } .مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abu Juhaifah berkata bahwa “Rasulullah SAW telah melarang harga (uang hasil jual beli) darah, anjing, upah pelacuran budak wanita dan melarang orang yang membuat tato dan yang minta ditato dan pemakan riba’ dan yang meminjamkan riba, serta melaknat pembuat patung. (Muttafaqun Alaih)

4. Upah jasa pembuatan tato.

Karena tato merupakan sesuatu yang dilarang dalam syariah, bahkan Nabi SAW melaknat pembuat tato dan yang minta dibuatkannya. Oleh karena itulah, upah jasa pembuatan tato juga menjadi haram, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

5. Riba.

Riba diharamkan dalam syariah Islam, bahkan pengharamannya demikian “kerasnya” disebutkan dalam Al-Qur’an. Oleh karenanya, setiap transaksi yang di dalamnya terdapat unsur riba, menjadi haram hukumnya.

Dan keharamannya berlaku bagi yang membayar maupun yang menerimanya, atau bagi debitur maupun krediturnya.

6. Jasa pembuatan patung.

Karena patung merupakan sesuatu yang haram untuk dimanfaatkan, maka bukan hanya jual belinya; namun upah dari jasa pembuatan patungnya juga menjadi haram, karena substansi patungnya haram.

7. Jual beli kucing.

Dalam hadits disebutkan :

وَعَنْ جَابِرٍ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ } .رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَأَبُو دَاوُد

Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rasulullah SAW melarang harga anjing dan kucing (bagi umat Islam).”

Hadits ini menggambarkan tentang larangan jual beli kucing, sehinga memperjual belikannya menjadi haram, (menurut Abu Hurairah, Imam Mujahid dan Jabir bin Zaid. Mereka melihat dari dzahir riwayat di atas.

Namun menurut Imam Syaukani, kebanyakan ulama memperbolehkan jual beli kucing. Alasannya adalah bahwa riwayat yang melarang jual beli kucing adalah dhaif.

Lagi pula jenis pelarangan nya bukan tahrimi (pengharaman), namun lebih bersifat tanzihi (pemakruhan yang sebaiknya dihindari).

Kesimpulan Haramnya Jual Beli Objek Yang Haram

1. Barang yang Haram Dimakan

Segala jenis barang yang haram dimakan, maka haram ditransaksikan, seperti jual beli daging babi, daging anjing, kue yang mengandung rum, makanan mengandung arak, dsb

2. Barang Yang Haram Diminum

Segala jenis barang yang haram untuk diminum, maka haram pula ditransaksikan, seperti segala jenis khamr (minuman keras)

3. Barang yang haram dimanfaaatkan

Segala jenis barang yang haram dimanfaatkan secara syariah maka haram diperjualbelikan, seperti jual beli berhala, alat maksiat, konten porno, konten ramalan, dsb

4. Barang yang haram karena proses mendapatkannya

Segala jenis barang yang bersumber dari proses yang haram, maka haram diperjualbelikan. Misalnya seperti barang hasil curian, hasil usaha perampokan, dsb.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Berkehendak

Ustadz Menjawab: Hukum memakai Kalung / Gelang Kesehatan

Pertanyaan

Mau tanya ust.:hukum memakai kalung dan gelang kesehatan yg terbuat dari batu giok hitam,apakah termasuk perhuatan syrik  ?syukron…

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Memakai hukum kalung atau gelang untuk pengobatan memiliki rincian, sbb:

1. Jika dianggap benda2 ini memiliki kekuatan supranatural, bukan sebab medis ilmiah dan empirik, maka itu termasuk tamiimah/penangkal dan  syirik. Sebagaimana hadits Shahih, dr Abu Daud: innar ruqaa wat tamaaim wat tiwaalah syirk, sesungguhnya mantra, penangkal2, dan guna2 adalah syirik.

2. Jika benda2 itu tidak diyakini sbg benda yg memiliki kekuatan supranatural, melainkan obat biasa saja sbgmn refleksi dgn jarum, pijat listrik, tapi dia meyakini sbgai satu2nya penyebab kesembuhan, maka ini juga syirik. Sebab Allah berfirman: idza maridhtu fahuwa yasyfiin.. Jika aku sakit maka Allah yang menyembuhkan

3. Jika benda tersebut diyakini bukan benda supranatural, tapi diteliti secara medis dan ilmiah mengandung obat alamiah, baik krn gelombang elektromagnetiknya, gel listrik, istilah lain yg dipahami ilmu kedokteran modern, lalu kita memakainya sebagai sebab kauniyah saja, bukan penentu utama kesembuhan dan  meyakini kesembuhan dr Allah semata, maka ini boleh.

Wallahu a’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihadlah

Kekalahan yang Berawal Dari Perselisihan Internal (Dari Seorang Buronan hingga Menjadi Admiral) bag-2

Pemateri : Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Bagian -1 dapat dibaca dari tautan berikut

Kekalahan yang Berawal Dari Perselisihan Internal (Dari Seorang Buronan hingga Menjadi Admiral) bag-1

Prestasi Sebagai Admiral Turki Utsmani

Selman Reis mendapatkan kesempatan bebas atas permohonan İbrahim Pasha di Mesir pada tahun 1524 yang sangat menghargai pengalamannya. Ia melaporkan situasi di Samudera Hindia dan mengajukan proposal untuk menguasai Ethiopia, Yaman, pantai Swahili, serta mengusir Portugis dari Hormuz, Goa, dan Malaka. Pada tahun 1525 armada Portugis menyerbu pelabuhan di sepanjang pesisir Laut Merah dan berlayar hingga mendekati pangkalan angkatan laut Turki Utsmani di Suez, Mesir.

Pada tahun 1525 Selman Reis dipercayai sebagai admiral untuk memimpin 18 kapal perang Turki Utsmani berkekuatan 299 meriam; sebagian besar kapal ini diambil dari bekas armada Mamluk yang teronggok di Jeddah dan diperbaiki di Suez. Selman Reis berangkat bersama Hayreddin ar-Rumi yang membawa 4.000 pasukan infanteri dengan misi menaklukkan pedalaman Yaman. Armada ini meninggalkan Suez pada tahun 1526 dan setelah merapat di Jeddah baru sampai ke pelabuhan Mocha pada bulan Januari 1527. Keduanya memimpin balatentara Turki Utsmani bergerak ke pedalaman Yaman dan meredam pemberontakan serta mengeksekusi Mustafa Beg sang pemimpin. Balatentara ini tidak cukup kuat untuk merebut kota pelabuhan Aden; namun amirnya mengakui ketundukannya kepada gubernur Turki Utsmani di Mesir.

Catatan penting di sini adalah, hampir tidak pernah wilayah Yaman memberikan ketenteraman bagi administrasi Turki Utsmani di region Samudera Hindia ini. Pemberontakan serta insiden sering mewarnai pergolakan di Yaman pedalaman dan waktu terjadinya pun sering bertepatan dengan momen besar lainnya. Sumber daya yang dibutuhkan untuk memadamkan permasalahan di Yaman seringkali diambil dari alokasi untuk kemajuan wilayah perbatasan lainnya yang terpaksa mengalah.

Armada ini membangun pangkalan angkatan laut di Kamaran, dekat benteng yang pernah dibangunnya pada masa kedinasan di angkatan laut Mamluk. Keberadaan pangkalan ini memberikan kekuatan bagi Turki Utsmani untuk mengawal wilayah akses masuk ke Laut Merah. Untuk pertama kalinya tercatat dalam sejarah bahwa pada rahun 1527 armada Portugis tidak dapat masuk menyerbu ke Laut Merah.

Kesudahan

Setelah keberhasilan terbatas Selman Reis dan Hayreddin ar-Rumi di wilayah Yaman ini mulailah berdatangan permintaan perlindungan dari kesultanan di hampir seluruh pelosok Samudera Hindia atas agresi Portugis yang selama ini tidak terbendung. Bahkan pada tahun 1527 itu datang juga permohonan aliansi dari Wazir Hormuz dan Zamorin Calicut.

Pada tahun 1528 tercatat bahwa banyak pelaut dan pasukan berkebangsaan Turki yang bekerja untuk mengawaki pelayaran berbagai kesultanan di Samudera Hindia; bahkan sampai ke ujung Sumatera. Namun masa-masa gemilang hampir selalu berakhir dengan perpecahan sebagaimana kerjasama yang apik antara Selman dan Hyreddin pun kandas akibat persaingan antar keduanya. Dengan musibah ini maka posisi terjepit yang dialami Portugis berangsur melonggar; bahkan bantuan dari Portugal kembali mengalir untuk menguatkan posisi Estado da Índia.

Pada ujung masanya, Selman Reis terus aktif membantu perlawanan berbagai kesultanan Muslim untuk menghadapi serangan gabungan antara Portugis dan kerajaan-kerajaan Hindu yang menjadi sekutu barunya. Selman Reis juga berhasil menguatkan posisi Diu dengan menempatkan Hoca Sefer sebagai penerusnya.

Agung Waspodo, kembali mencatat bahwa kekalahan kaum Muslimin selalu karena kelemahan diantara pemimpinnya, pelajaran yang terus berulang walau telah berlalu 499 tahun.

Depok, Rabu 23 September 2015, menjelang maghrib.. 6 hari telat dari tanggal bersejarahnya, masih berjuang mengejar catatan-catatan sejarah militer yang begitu banyak tercecer dari kemampuan kelola saya.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keutamaan Salat Shubuh

Bermakmum pada Imam yang Tidak Mumpuni

Pertanyaan

Assalamualaikum.
Izin bertanya soal ibadah sholat berjamaah.
‘Suatu ketika saya dapati ada yg sedang berjamaah sholat wajib dmasjid yaitu sholat maghrib, kmudian saya mendatangi sbgai makmum yg masbuq, saya tertinggal 1 rakaat kmudian sya mengikuti imam, pada rakaat ke dua saya memperhatikan bacaan imam (bacaan Al Fatihah) kurang fasih atau dlam tajwid masih bnyak terdpat kesalahan.’
Pertanyaan saya, Apakah hukum berjamaah y sah dlm ilmu fiqih?
Kemudian apa yg harus dilakukan ketika menemukan hal yg spt ini, apakah mmbatalkan sholat kmudian sholat sendirian/membuat jamaah baru?
Mohon jwaban y…
Sukron Katsiron.
Fatih I-43 :


Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

ketahuilah kekurangan imam, atau bahkan kesalahan fatal imam, semuanya ditanggung oleh imam itu sendiri, dan tidaklah ditanggung oleh makmum. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut:
Allah Ta’ala berfirman:

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An Najm : 38-39)

Ayat lain:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al Mudatsir (74): 38)

Dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلُّونَ بِكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mereka shalat sebagai imam bagi kalian, maka jika mereka benar, pahalanya bagi kalian dan mereka, dan jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian, dosanya ditanggung mereka.”    (HR. Bukhari No. 694)

Sahl berkata:

إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِمَامُ ضَامِنٌ فَإِنْ أَحْسَنَ فَلَهُ وَلَهُمْ وَإِنْ أَسَاءَ يَعْنِي فَعَلَيْهِ وَلَا عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya aku mendengar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Imam itu adalah penanggung jawab, jika dia benar, maka pahalanya bagi dia dan bagi makmum, jika dia salah, maka tanggung jawabnya adalah kepadanya, bukan kepada makmum.”    (HR. Ibnu Majah No. 981, Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat  Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 981)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

تصح إمامة من أخل بترك شرط أو ركن إذا أتم المأموم وكان غير عالم بما تركه الامام

“Bermakmum kepada orang yang tertinggal syarat dan rukun shalat adalah sah, dengan syarat makmum tidak tahu kesalahan tersebut dan dia menyempurnakan apa-apa yang ditinggalkan oleh imam.”   (Fiqhus Sunnah, 1/241)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ciri Penghuni Surga

Tanyakan, Pahami, Maafkan, dan Doakan

Pemateri : Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Sekitar bulan Oktober 630 M pasukan yg berangkat dari Madinah sudah tiba dan menetap beberapa waktu di Tabuk.

Rasūl SAW menerima kedatangan Abu Khaytsamah RA yg menyusul meninggalkan kedua isterinya, kebun yang siap dipanen, bejana-bejana yang dipenuhi air dingin, tenda-tenda yangsejuk, serta makanan yang cukup.

Pertanyaan Rasūl SAW kepadanya adalah “awlā laka yā Abā Khaytsamah?” / “Mengapa engkau tidak berangkat lebih awal, wahai Abā Khaytsamah?”

Abu Khaytsamah (ra) menjelaskan semua duduk perkaranya dengan menahan rasa malu dan khawatir. Namun, apa yg beliau temukan dari reaksi Rasūl SAW sungguh mencengangkan, dicatat dalam Sīrah Nabawiyyah Ibn Hisyām hal.402 vol.4 bahwa “faqāla lahu Rasūlullāh SAW khairan wa da’ā lahu bi khairin” / Rasūl SAW berkata kepadanya dgn baik dan mendoakannya dengan kebaikan..

Betapa terkadang terlalu mudah utk menghukum dan terlalu sulit utk memaafkan dan mendoakan.

Izin rekan-rekan untuk mengangkat ulang tulisan pendek ini.. karena ternyata baru saya disadarkan Allah Ta’ala bahwa Abu Khaytsamah (ra) yang diterima alasannya oleh Nabi (saw) ketika beliau telat menyusul rombongan kaum Muslimin yg berangkat ke Tabuk itu adalah..

Abu Khaytsamah (ra) yang juga dipercayai Rasul (saw) menjadi penunjuk jalan bagi kaum Muslimin dari Utum Syaikhayn menuju Uhud. Berkat kepengetahuannya atas medan sebelah utara Madinah itulah kemudian pasukan lawan menjadi kehilangan momentum.

Abu Khaytsamah (ra) membawa pasukan kaum Muslimin bermanuver di Wadi al-Qanat sehingga hilang dari pantauan Khalid ibn al-Walid (sebelum masuk Islam). Manuver ini menjadi salah satu sebab yang memungkinkan tenda komando Rasul (saw) di Uhud tidak pernah diketahui lawan.

Manuver ini juga yang membuat posisi kaum Muslimin yang tinggal 700an personil – setelah desersinya kaum munafiqin pimpinan Abdullah ibn Ubay – tetap memiliki posisi strategik di kaki Jabal Uhud menghadapi 3000 kaum musyrikin Makkah.

Bahan tambahan diambil dari kitab “Wafa’ul Wafa’ bi Akhbari Darul Mustafa” karya sejarawan as-Sumhudi.

Agung Waspodo,
Jakarta, 30 Nov 2015 (Tulisan awal
Depok, 18 Mei 2015)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keutamaan Salat Shubuh

Hadits Mengusap Dahi dan Wajah Setelah Shalat

Pertanyaan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustd mo tanya materi di atas adalah mengusap wajah setelah doa, apakah materi ini juga berlaku untuk setelah sholat fardu? Mohon pencerahannya (Ismail-I44)

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Dalam hal ini ada dua hadits.

1. Hadits pertama, dari Anas bin Malik, katanya:

كان إذا قضى صلاته مسح جبهته بيده اليمنى ثم قال : أشهد أن لا إله إلا الله الرحمن الرحيم ، اللهم أذهب عني الهم و الحزن

“Adalah Rasulullah jika telah selesai shalat, maka dia usapkan dahinya dengan tangan kanannya, kemudian berkata: “Aku bersaksi tiada Ilah kecuali Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, Ya Allah hilangkanlah dariku kegelisahan dan kesedihan.” ( HR. Ibnu Sunni ,‘Amalul Yaum wal lailah, No. 110,  dan Ibnu Sam’un,Al Amali, 2/176q).

Hadits ini dhaif jiddan (sangat lemah), bahkan sebagian ulama mengatakan:maudhu’ (palsu).

Imam Ibnu Rajab Al Hambali berkata dalam Fathul Bari-nya:

وله طرق عن أنس ،كلها واهية

“Hadits ini memiliki banyak jalan dari Anas bin  Malik, semuanya lemah.”(Imam Ibnu Rajab Al Hambali, Fathul Bari, pembahasan hadits no. 836. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sanad hadits ini adalah dari Salam Al Madaini, dari Zaid Al ‘Ami dari Mu’awiyah, dari Qurrah, dari Anas … (lalu disebutkan hadts di atas)

Cacatnya hadits ini lantaran Salam Al Madaini dan Zaid Al ‘Ami. Salam Al Madaini adalah orang yang dtuduh sebagai pendusta, sedangkan Zaid Al ‘Ami adalah perawi dhaif. Oleh karena itu, Syaikh Al Albani mengatakan, sanad hadits ini palsu. Hanya saja, hadits ini juga diriwayatkan dalam sanad lainnya yang juga dhaif. Secara global, hadits ini dhaif jiddan. (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Silsilah Ad Dhaifah wal Maudhu’ah, No. 1058.  Darul Ma’arif)

Sementara, Imam Al Haitsami mengutip dari Al Bazzar, bahwa Salam Al Madaini adalah layyinul hadits (haditsnya lemah). (Imam Al Haitsami, Majma’ az Zawaid, 10/47. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Al Haitsami juga mengatakan bahwa Zaid Al ‘Ami adalah dhaif (lemah).(Ibid,1/230) Imam Al Baihaqi juga menyatakan bahwa Zaid Al ‘Ami adalah dhaif. (Al ‘Allamah Ibnu At Turkumani, Al Jauhar, 3/46. Darul Fikr) begitu pula kata Imam Al ‘Iraqi. (Takhrijul Ihya’, 6/290)

Al ‘Allamah As Sakhawi mengatakan, lebih dari satu orang menilai bahwa Zaid Al ‘Ami adalah tsiqah (bisa dipercaya), namun jumhur (mayoritas) menilainya dhaif. (As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, 4/486) yang menilainya tsiqah adalah Imam Ahmad.(Ibid, 2/400) Imam Ahmad juga mengatakan: shalih (baik). (Ibnu Al Mubarrad, Bahr Ad dam, Hal. 58. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Sementara Imam An Nasa’i mengatakan Zaid Al ‘Ami sebagai laisa bil qawwi(bukan orang kuat hafalannya). (Al Hafizh Az Zaila’i, Nashbur Rayyah, 7/185. Lihat Abul Fadhl As Sayyid Al Ma’athi An Nuri, Al Musnad Al Jami’, 14/132) begitu pula kata Imam Abu Zur’ah. (Al Hafiz Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, 3/561. Dar Ihya At Turats)

2.  Hadits kedua, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu katanya:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قضى صلاته مسح جبهته بكفه اليمنى ، ثم أمرها على وجهه حتى يأتي بها على لحيته ويقول : « بسم الله الذي لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة الرحمن الرحيم ، اللهم أذهب عني الغم والحزن والهم ، اللهم بحمدك انصرفت وبذنبي اعترفت ، أعوذ بك من شر ما اقترفت ، وأعوذ بك من جهد بلاء الدنيا ومن عذاب الآخرة »

“Adalah Rasulullah Shallalllahu ‘Alaihi wa Sallam jika telah selesai shalatnya, beliau mengusap dahinya dengan tangan kanan, kemudian ilanjutkan ke wajah sampai jenggotnya. Lalu bersabda: “Dengan nama Allah yang Tidak ada Ilah selain Dia, yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan Yang Tampak, Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah hilangkanlah dariku kegelisahan, kesedihan, dan keresahan. Ya Allah dengan memujiMu aku beranjak dan dengan dosaku aku mengakuinya. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang telah aku akui, dan aku berlidung kepadaMu dari beratnya cobaan kehidupan dunia dan siksaan akhirat.”  (HR. Abu Nu’aim, Akhbar Ashbahan, No. 40446. Mawqi’ Jami’ Al Hadits)

Hadits ini dhaif (lemah). Karena di dalam sanadnya terdapat Daud Al Mihbarpengarang kitab Al ‘Aql.

Imam Al Bukhari berkata tentang dia: munkarul hadits. Imam Ahmad mengatakan: Dia tidak diketahui apa itu hadits.  (Imam Al Bukhari, At Tarikh Al Kabir, No. 837. Mawqi’ Ya’sub. Lihat juga kitab Imam Bukhari lainnya, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 45. Darul Ma’rifah. Lihat juga Al Hafizh Al ‘Uqaili, Dhu’afa, 2/35. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah )

Al Hafizh Az Zarkili mengatakan mayoritas ulama menilainya dhaif. (Khairuddin Az Zarkili,  Al A’lam, 2/334. Darul ‘Ilmi wal Malayin)

Ali Maldini mengatakan Daud ini: haditsnya telah hilang. Abu Zur’ah dan lainnya mengatakan: dhaif (lemah). Ad Daruquthni mengatakan: matruk (haditsnya ditinggalkan). Abu Hatim mengatakan: haditsnya hilang dan tidak bisa dipercaya. Ad Daruquthni mengatakan bahwa Daud Al Mihbar dalam kitab Al ‘Aql  telah memalsukan riwayat Maisarah bin Abdi Rabbih, lalu dia mencuri sanadnya dari Maisarah, dan membuat susunan sanad bukan dengan sanadnya Maisarah. Dia juga pernah mencuri sanad dari  Abdul Aziz bin Abi Raja’, dan Sulaiman bin ‘Isa Al Sajazi. (Imam Adz Dzahabi, Mizan Al I’tidal, 2/20. No. 2646. Darul Ma’rifah) Abu Hatim juga mengatakan:munkarul hadits. (Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 3/424, No. 1931)

Bahkan, Syaikh Al Albani dengan tegas mengatakan sanad hadits ini adalahmaudhu’ (palsu) lantaran perilaku Daud yang suka memalsukan sanad ini. Beliau mengatakan Daud adalah orang yang dituduh sebagai pendusta. Sedangkan untuk Al Abbas bin Razin As Sulami, Syaikh Al Albani mengatakan: aku tidak mengenalnya.(Syaikh Al AlBani, As Silsilah Adh Dhaifah wal Maudhu’ah, No. 1059.  Darul Ma’arif)


Catatan:

Walaupun hadits-hadits ini sangat lemah dan tidak boleh dijadikan dalil, namun telah terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang mengusap wajah jika sekadar untuk membersihkan bekas-bekas sujud, seperti pasir, debu, tanah, dan lainnya. Di antara mereka ada yang membolehkan, ada juga yang memakruhkan.

Al Hafizh Al Imam Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan:

فأما مسح الوجه من أثر السجود بعد الصلاة ، فمفهوم ما روي عن ابن مسعودٍ وابن عباسٍ يدل على أنه غير مكروهٍ
وروى الميموني ، عن أحمد ، أنه كان اذا فرغ من صلاته مسح جبينه

“Adapun mengusap wajah dari bekas sujud setelah shalat selesai, maka bisa difahami dari apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, yang menunjukkan bahwa hal itu tidak makruh. Al Maimuni meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa dia mengusap dahinya jika selesai shalat.”   (Imam Ibnu Rajab Al Hambali,Fathul Bari, pembahasan hadits no. 836. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sebagian ulama lain memakruhkannya, bahkan mengusap wajah merupakan penyebab hilangnya doa pengampunan dari malaikat. Berikut penjelasan dari Imam Ibnu Rajab Rahimahullah:

وكرهه طائفة ؛ لما فيه من إزالة أثر العبادة ، كما كرهوا التنشيف من الوضوء والسواك للصائم
وقال عبيد بن عميرٍ : لا تزال الملائكة تصلي على إلانسان ما دام أثر السجود في وجهه
خَّرجه البيهقي بإسنادٍ صحيحٍ
وحكى القاضي أبو يعلي روايةً عن أحمد ، أنه كان في وجهه شيء من أثر السجود فمسحه رجل ، فغضب ، وقال : قطعت استغفار الملائكة عني . وذكر إسنادها عنه ، وفيه رجل غير مسمىً
وبوب النسائي ((باب : ترك مسح الجبهة بعد التسليم )) ، ثم خرج حديث أبي سعيد الخدري الذي خَّرجه البخاري هاهنا ، وفي آخره : قال ابو سعيدٍ : مطرنا ليلة أحدى وعشرين ، فوكف المسجد في مصلى النبي – صلى الله عليه وسلم – ، فنظرت إليه وقد انصرف من صلاة الصبح ، ووجهه مبتل طيناً وماءً

“Sekelompok ulama memakruhkannya, dengan alasan hal itu merupakan penghilangan atas bekas-bekas ibadah, sebagaimana mereka memakruhkan mengelap air wudhu (dibadan) dan bersiwak bagi yang berpuasa. Berkata ‘Ubaid bin ‘Amir: “Malaikat senantiasa bershalawat atas manusia selama bekas sujudnya masih ada di wajahnya.” (Riwayat Al Baihaqi dengan sanad shahih)

Al Qadhi Abu Ya’la menceritakan sebuah riwayat dari Imam Ahmad, bahwa  ada bekas sujud di wajahnya lalu ada seorang laki-laki yang mengusapnya, maka beliau pun marah, dan berkata: “Kau telah memutuskan istighfar-nya malaikat dariku.” Abu Ya’la menyebutkan sanadnya darinya, dan didalamnya terdapat seseorang yang tanpa nama.

Imam An Nasa’i membuat bab: Meninggalkan Mengusap Wajah Setelah Salam. Beliau mengeluarkan sebuah hadits dari Abu Said Al Khudri, yang telah dikeluarkan pula oleh Imam Bukhari di sini, di bagian akhirnya berbunyi: Berkata Abu Said: “Kami kehujanan pada malam ke 21 (bulan Ramadhan), lalu air di masjid mengalir ke tempat shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kami memandang kepadanya, beliau telah selesai dari shalat subuh, dan wajahnya terlihat sisa tanah dan air.” (Ibid)

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678