Maaf, Hari Rayamu bukan Perayaan Kami, Tahun Barumu, bukan Tahun Baru Kami

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Kami umat Islam menghargai adanya perbedaan, dan mengakui perbedaan itu adalah sunatullah kehidupan …. Sebab Rabb kami telah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

Seandainya Rabbmu berkehendak niscaya manusia Dia jadikan umat yang satu, namun mereka senantiasa berselisih. (QS. Huud: 118)

Ayat yang lain:

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS. Yunus: 99)

Oleh karena itu, kami akan tetap berbuat baik dan adil kepada siapa pun yang berbeda dengan kami, selama mereka tidak berbuat aniaya kepada kami.

Rabb kami mengajarkan:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (QS. Al Mumtahanah: 8)

Maka, biarlah kami istiqamah atas agama kami dan budaya kami, jangan kalian kecut dan jangan pula cemberut, sebab itu bagian dari tuntutan iman kami.

Nabi kami – Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam- mewasiatkan kami:

قُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah! (HR. Muslim, 62/38, At Tirmidzi No. 3574, Ahmad No. 15416, 15417, 19431, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 11425, Abu Bakar Al Khalal dalam As Sunnah No. 1677, Ibnu Hibban No. 942, dll)

Dan, kami pun tidak memaksa kalian untuk mengikuti agama dan budaya kami. Sebab memaksa bukan ajaran Rabb kami.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat ….. (QS. Al Baqarah: 256)

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (untuk memaksa). (QS. Al Ghasyiah: 21-22)

Jadi, .. sangat ingin kami katakan kepada kalian …..

Bahwa hari raya kalian bukan hari raya kami, begitu pula hari raya kami bukan hari raya kalian, sebagaimana tahun baru masehi kalian bukanlah tahun baru bagi kami, karena titik tolak sejarah awal tahun kalian berbeda dengan tahun hijriyah kami, tahun baru kalian diawali oleh kelahiran Nabi kami yang mulia -yang telah kalian Tuhankan-  ‘Isa ‘Alaihissalam, sementara tahun kami diawali hijrah Rasulullah dan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah. Walaupun banyak saudara kami muslimin awam yang ikut-ikutan berbahagia dan bersuka cita atas hari raya dan budaya kalian karena ketidaktahuan mereka ….. itu bukan alasan bagi kami untuk turut larut di dalamnya.

Nabi kami – Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- mengajarkan:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya masing-masing, dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari No. 952, Muslim, 16/892)

Ya …, jelaskan? Setiap kaum, setiap umat punya hari raya dan hari besarnya sendiri, silahkan berbahagia dan suka cita dihari itu. Kami tidak memaksa dan menuntut kalian mengucapkan selamat atas kami karena kebahagiaan kami sangat berlimpah dan tidak akan berkurang tanpa ucapan selamat dari kalian. Kami pun meyakini, kebahagiaan kalian tidak akan berkurang seandainya kami tidak mengucapkan selamat atas hari raya kalian, sebab sangat tidak dewasa bila perasaan kebahagiaan dan suka cita mesti didahului ucapan selamat dahulu.

Kami, umat Islam, memiliki sangat banyak hari raya dan hari-hari istimewa, dan kami pun puas atas hal itu, itulah kenapa kami tidak membutuhkan hari raya yang tidak berasal dari Rabb dan nabi kami, yang telah menjadi budaya dan sejarah kami.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:

“Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dia bersabda: “Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yakni hari Fithri dan hari Adha.” (HR. Abu Daud No. 1134, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1755, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1098, katanya: hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar (Fathul Bari, 3/371) juga mengatakan: shahih.)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.”)

Dari Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, dia berkata: Bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Sesungguhnya hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam (pimpinan hari-hari), keagungannya ada pada sisi Allah, dan dia lebih agung di sisi Allah dibanding hari Idul Adha dan Idul Fitri. Padanya ada lima hal istimewa: pada hari itu Allah menciptakan Adam, pada hari itu Allah menurunkan Adam ke bumi, pada hari itu Allah mewafatkan Adam, pada hari itu ada waktu yang tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah melainkan akan dikabulkan selama tidak meminta yang haram, dan pada hari itu terjadinya kimat. Tidaklah malaikat muqarrabin, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan, melainkan mereka ketakutan pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Majah No. 1083. Ahmad No. 15547, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 4511, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2973, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 817, Al Bazzar No. 3738. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 2279)

Lihatlah hari raya kami …. Idul Fitri (1 Syawwal), Idul Adha (10 Dzulhijjah), hari Arafah (9 Dzulhijjah), hari-hari tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah), dan hari Jum’at yang datangnya tiap pekan.

Belum lagi hari istimewa lainnya, walau bukan hari raya tetapi ini merupakan hari istimewa bagi kami karena di dalamnya mengandung keutamaan yang banyak untuk beribadah dan nilai sejarah. Seperti Senin, Kamis, 10 hari pertama Dzulhijjah, 6 hari Syawwal, hari ‘asyura, ayyamul bidh, 17 Ramadhan, 1 Muharam awal penanggalan kami, dan Lailatul Qadar. Semua ini ada dasarnya dalam agama dan sejarah kami ….

Inilah kami, dan inilah agama kami … walau kami bersikap Lakum diinukum wa liyadin dalam urusan agama, tetapi kami ini rahmatan lil ‘alamin bagi kalian dalam urusan muamalah. Kalian tetap saudara dan sahabat, jangan khawatir …. Sebab Rabb kami mengajarkan:

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 106)

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 124)

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Ketika saudara mereka, shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 142)

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 161)

Lihatlah, Allah Ta’ala tetap menyebut para nabi pembawa risalahNya; Nuh, Hud, Shalih, dan Luth, sebagai saudara bagi kaumnya, walau kaumnya mengingkari agama yang dibawa mereka, mengingkari kenabian, dan mengingkari ketuhanan Allah Ta’ala. Itulah sikap kami juga, walau kalian ingkar kepada agama yang kami yakini, kalian tetap saudara kami.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Hukum Ikut Merayakan Hari Raya Agama Lain

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:

Untuk mengetahui batasan-batasan pergaulan Muslim dan non Muslim, maka panduan kita adalah Al Quran dan As Sunnah, sebagai rujukan tertinggi umat Islam dan pedoman hidup bagi kaum Muslimin. Bukan pemikiran untung rugi masing-masing manusia yang subjektif.

Perayaan Keagamaan Adalah Wilayah Aqidah Bukan Muamalah

Persepsi ini harus dibangun dalam pemikiran kaum Muslimin,  bahwa perayaan keagamaan adalah masalah aqidah, bukan masalah muamalah (hubungan interaksi sosial), bukan pula budaya. Dalam masalah aqidah kita memiliki batasan-batasan yang jelas, yakni:

 لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al Kafirun (109): 6)

Tidak sedikit kaum Muslimin yang keliru dalam menempatkan teks-teks agama. Mereka berdalih dengan ungkapan:Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Ungkapan ini benar jika ditempatkan dalam hubungan sosial, seperti pinjam meminjam, hutang piutang, kerja sama dalam kebaikan sosial, dan yang semisalnya. Dalam hal ini Islam sangat membuka diri dan luwes. Bahkan dalam hukum Islam, kaum kafir dzimmi mendapatkan perlindungan dari pemerintahan Islam dan masyarakatnya. Mereka sama sekali tidak boleh diganggu, kecuali jika mereka mengumumkan perang terhadap umat Islam.

Nah, mari kita lihat bagaimana Al Quran dan As Sunnah menyikapi perayaan hari besar keagamaan non Muslim.

Kesetiaan (Wala’) Kaum Muslimin Hanya Kepada Allah, RasulNya, dan Kaum Muslimin

Kita lihat ada sebagian kaum Muslimin yang begitu enggan dengan undangan sesama Muslim, ajakan saudaranya, dan acara sesama umat Islam, seperti majelis ta’lim dalam rangka menggali ilmu-ilmu agama. Tetapi anehnya, mereka bersemangat dengan ajakan dan undangan orang kafir kepada mereka. Sungguh aneh! Mereka pun merasa bangga dengan kebersamaannya dengan orang-orang kafir tersebut. Persis seperti yang Allah Ta’ala sindir dalam Al Quran.

Allah Ta’ala berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi  wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An Nisa (4):139)

Ayat lainya:

“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman yang menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan mereka orang-orang yang ruku’ (tunduk). (QS. Al Maidah (5): 55)

Ayat lainnya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (pemimpin-pemimpinmu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah (5) : 51)

Apakah makna wali ? Wali jamaknya adalah auliya’ yang berati penolong dan kekasih.[1] Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, yang mengusai (pemimpin).[2]

Maka, jelaslah bahwa umat Islam tidak dibenarkan menjadikan orang kafir sebagai penolong, kekasih, teman dekat, dan pemimpin mereka. Sebab wali kita hanyalah kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman.

Ikut merayakan dan menghadiri Hari Raya mereka merupakan salah satu bentuk keakraban dengan mereka dalam hal keagamaan. Ini semua tercela. Kita terbuai dengan perangkap syetan yang ada dibalik istilah toleransi yang tidak pada tempatnya. Ditambah lagi, khususnya Natal, mereka menyebut apa yang mereka lakukan adalah budaya, atau dialog antar budaya, bukan ritual keagamaan. Ini merupakan talbis (perangkap) dan syubhat pemikiran yang menggelayuti pemikiran mereka.

Dialog antar budaya bukan dengan mengikuti acara hari besar non Muslim, yang merupakan simbol utama sebuah agama. Bukan duduk bersimpuh mendengarkan ayat-ayat mereka. Bukan ikut berdiri ketika mereka berdiri dan duduk ketika mereka duduk, dan bernyanyi ketika mereka nyanyi, lalu memakan makanan ritual keagamaan mereka, bertepuk tangan menyanjung mereka, dan ikut berbahagia atas perayaan mereka. Itu bukan dialog yang diinginkan Al Quran, walau bisa jadi itulah dialog yang diinginkan ala mereka. Itu bukan  memperkaya aqidah, tetapi ittiba’ bil kuffar (mengekor kepada kaum kuffar).

Dialog itu adalah berdiskusi, tanya jawab, munazharah, debat yang baik, agar mereka mau menerima Islam; baik menerima menjadi agama mereka, atau menerima Islam sebagai  agama yang eksis dan mereka mau berdampingan dengan tidak saling menganggu.

Memperkaya aqidah adalah dengan banyak-banyak mengkaji Al Quran melalui para ahlinya, mempelajari As Sunnah, mempelajari sejarah para nabi dan orang-orang shalih, hidup bersama orang shalih dan kaum beriman, dan berbanggalah dengan itu.

Memperkaya aqidah bukan dengan berbasa basi dengan kekafiran dan penyimpangan mereka, bukan dengan mengikuti perayaan mereka, dan justru berbangga dengan itu, ini adalah sinkretisme yang dibaluti toleransi agama yang bukan pada tempatnya.

Lalu, yang terpenting adalah bahwa larangan mengikuti Hari Raya mereka adalah bagian dari ta’abbudi (peribadatan) yang manshush ‘alaih (disebutkan dalam nash), yang sikap kita adalah dengar dan taat.  Turun atau tidak keimanan Anda,  tetap stabil atau labil keadaan iman Anda, maka larangan tersebut tetaplah berlaku. Larangan tersebut tetap ada walau pelakunya adalah seorang yang merasa sangat shalih dan mukmin, dan mampu menjaga keimanannya.

Peringatan Allah Ta’ala Bagi Kaum Muslimin

Jauh-jauh hari, 15 abad yang lalu, Al Quran telah memberikan panduan bagi umatnya untuk melindungi aqidahnya, yakni untuk tidak mengikuti mereka, tidak memenuhi ajakan mereka dalam hal aqidah dan keagamaan.  Namun, entah ke mana dan di mana ayat-ayat ini  dalam sanubari umat Islam?

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra’ (17): 36)

“Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”(QS. Al Baqarah (2): 109)

Dalam ayat lain:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS. An Nisa (4): 100)

Ayat ini dengan jelas memperingatkan umat Islam untuk tidak mengikuti perilaku orang kafir, sebab niscaya mereka akan mengembalikan orang beriman menjadi kafir setelah beriman.

Imam Ibnu Katsir mengatakan:

يحذر تعالى   عباده المؤمنين عن سلوك طَرَائق الكفار من أهل الكتاب، ويعلمهم بعداوتهم لهم في الباطن والظاهر

“Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada hamba-hambaNya yang beriman tentang jalan dan perilaku orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), dan memberitahu mereka tentang permusuhan mereka terhadap kaum beriman, baik yang di hati atau yang ditampakkan.”[3]

Al Quran Melarang Umat Islam Mengikuti Hari Raya Orang Kafir

Dalam Al Quran, mengikuti Hari Raya mereka diistilahkan dengan memberikan kesaksian palsu (Az Zuur). Allah Ta’ala  telah menegaskan demikian:

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqan (25): 72)

Tentang makna ayat ini,  Abu Bakar Al Khalal meriwayatkan dalam Al Jami’, dari sanadnya sendiri dari Muhammad bin Sirin, tentang makna: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu ..,  katanya: itu adalah menghadiri Sya’anin.

Sya’anin adalah Hari Raya Nasrani, mereka merayakannya dalam rangka mengenang kembali masuknya Isa Al Masih ke Baitul Maqdis.

Begitu pula yang disebutkan dari Mujahid, katanya: “Mengikuti hari-Hari Raya orang musyrik.”[4]

Begitu juga yang dikataka oleh Rabi’ bin Anas, katanya: “Mengikuti hari-Hari Raya orang musyrik.

Semakna dengan ini, apa yang diriwayatkan dari Ikrimah, katanya: “(Tidak melakukan) permainan yang dahulu mereka lakukan ketika jahiliyah.”

Al Qadhi Abu Ya’la mengatakan: “Ayat ini berbicara tentang larangan menghadiri Hari Raya orang-orang musyrik.”

Adh Dhahak juga mengatakan: “(tidak) mengikuti Hari Raya orang musyrik.” Sementara Amru bin Murrah mengatakan: “Mereka tidak ikut bersama kaum musyrikin dan tidak membaur bersama mereka.”  Lihat semua tafsir ini dalam kitab Iqtidha’ Ash Shirath Al Mustaqim. [5]

As Sunnah Telah Melarang Umat Islam Menyerupai dan Mengikuti Hari Raya Orang Kafir

Ada dua pembahasan dalam bagian ini. Pertama, larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerupai orang kafir. Kedua, larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam   mengikuti hara raya orang kafir. Larangan berpartisipasi dalam perayaan Hari Raya orang kafir sangat kuat. Jangankan ikut andil, sekadar menyerupai mereka saja tidak dibenarkan. Ini membuktikan betapa kuat agama ini dalam melindungi umatnya, dari aqidah, kebiasaan, dan perilaku orang-orang kafir.

1. Pertama, Larangan Menyerupai Orang Kafir

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.”[6]

Imam As Sakhawi mengatakan ada kelemahan dalam hadits ini,   tetapi hadits ini memiliki penguat (syawahid), yakni hadits riwayat Al Bazzar dari Hudzaifah dan Abu Hurairah, riwayat Al Ashbahan dari Anas bin Malik, dan riwayat Al Qudha’i dari Thawus secaramursal.[7]  Sementara, Imam Al ‘Ajluni mengatakan, sanad hadits ini shahihmenurut Imam Al ‘Iraqi dan Imam Ibnu Hibban, karena memiliki penguat yang disebutkan oleh Imam As Sakhawi di atas.[8] Imam Ibnu Taimiyah mengatakan hadits ini jayyid (baik). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya hasan.[9]  Demikian status hadits ini.

Oleh karena itu tidak dibenarkan menyerupai mereka dalam urusan agama, terlebih mengikuti  perayaan hari besar, yang merupakan hari utama mereka.

Imam Al Munawi dan Imam Al ‘Alqami menegaskan hal-hal yang termasuk penyerupaan dengan orang kafir: “Yakni berhias seperti perhiasan zhahir mereka, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti mereka, dan perbuatan lainnya.” [10]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan mengatakan, dan ini merupakan  perkataan Imam Ahmad bin Hambal juga,  bahwa hadits ini merupakan dalil, paling sedikit kondisi penyerupaan dengan mereka merupakan perbuatan haram, dan secara zhahirnya bisa membawa pada kekufuran, sebagaimana ayat: “Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai wali, maka dia telah menjadi bagian dari mereka.” [11]

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

”Bukan golongan kami orang yang menyerupai selain kami.”. [12]

Sebagaimana kata Imam At tirmidzi, Pada dasarnya hadits ini dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhai’ah seorang perawi yang terkenal kedhaifannya. Namun, hadits ini memiliki berapa syawahid (penguat), sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menghasankan hadits ini dalam berbagai kitabnya.[13] Begitu pula yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth, bahwa hadits ini memiliki syawahid yang membuatnya menjadi kuat.[14]

Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri tentang hadits ini:

لَا تَشَبَّهُوا بِهِمْ جَمِيعًا فِي جَمِيعِ أَفْعَالِهِمْ

“Janganlah kalian semua menyerupai mereka dalam segala perilaku mereka.”[15]

Tentu maksudnya adalah segala perilaku yang terkait dengan agama dan simbol agama mereka, baik acara keagamaan, pakaian keagamaan, dan lainnya. Namun, untuk perilaku di luar itu, yang terkait dengan kemaslahatan dunia dan kemakmuran manusia, seperti teknologi, ilmu pengetahuan, strategi perang, dan semisalnya, maka Islam membolehkan mengambil manfaat dari mereka.

Ketika perang Ahzab yang biasa juga disebut perang Khandaq (parit), strategi yang diterapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya adalah strategi menggali Khandaq (parit) yang merupakan cara orang Persia (Majusi), atas usul sahabat Nabi, Salman Al Farisi Radhiallahu ‘Anhu ‘. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah menggunakan baju Romawi yang sempit padahal saat itu Romawi adalah Nasrani, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi.[16]

2. Kedua, larangan Mengikuti Perayaan Hari Besar Orang Kafir

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,sudah melarang umatnya untuk mengikuti Hari Raya mereka. Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ketika hari Id:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki Hari Raya, dan hari ini adalah Hari Raya kita.”[17]

Maka, Hari Raya umat Islam adalah Hari Raya yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, saat itulah kaum Muslimin merayakan kebahagiaan mereka, kesenangan mereka, berhibur dari, makan-makanan yang enak dan lainnya. Bukan pada Hari Raya agama orang lain, baik Yahudi, Nasrani, Konghucu, Budha, Hindu, dan agama lainnya.

Secara khusus, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang umat Islam mengikuti Hari Raya mereka.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  datang ke Madinah, dia bersabda: “Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya,  yakni hari Fithri dan hari Adha.”[18]

Al Hafizh Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari mengatakan hadits ini sanadnya shahih.[19] Syaikh Al Albani juga menshahihkannya dalam  Ash Shahihah.[20]

Pada masa jahiliyah, kaum musyrikin memiliki dua hari, yakni Nairuz dan Mihrajan. Berkata Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim:

“Dilarang (bagi umat Islam) mengadakan permainan dan berbahagia pada dua hari itu yakni Nairuz dan Mihrajan. Hadits ini juga terdapat larangan yang halus dan perintah untuk beribadah, karena kebahagiaan hakiki terdapat dalam ibadah.” (

Lalu, disebutkan perkataan Al Muzhhir:

“Ini merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” merupakan dalil bahwa   menghormati Nairuz dan Mihrajan, dan Hari Raya orang-orang muysrik yang lain,  adalah terlarang.” [21]

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan: “Dari hadits ini disimpulkan bahwa adalah hal yang dibenci berbahagia menyambut Hari Raya orang musyrik dan menyerupai mereka, dan telah sampai perkataan Syaikh Abu Hafsh Al Kabir An Nasafi dari kalangan Hanafiyah: ‘Barangsiapa yang memberikan hadiah kepada orang musyrik demi menghormati Hari Raya mereka, adalah perbuatan kufur kepada Allah Ta’ala.”.[22]

Bahkan, lebih tegas lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melarang seorang Muslim membantu menjual keperluan orang Islam yang ingin ikut-ikutan Hari Raya mereka pada  Hari Raya orang kafir, baik berupa makanan,  pakaian, dan lainnya, sebab itu merupakan pertolongan atas kemungkaran.[24][23]

Peringatan

Hari Raya merupakan simbol utama dari sebuah agama. Bukan hanya simbol tapi juga waktu kebanggaan bagi masing-masing agama. Maka, perilaku mengikuti, merayakan, dan memperingati Hari Raya orang kafir merupakan perilaku melarutkan diri dalam sebuah simbol utama dan hari kebanggaan mereka. Maka, tidak syak(ragu) lagi keharamannya, bahkan sebagian ulama mengatakan kufur seperti yang kami sebutkan di atas. Apalagi jika seorang Muslim ikut-ikutan acara ritual yang ada di pelaksanaan Hari Raya tersebut seperti ikut kebaktian, ikut melagukan lagu puji-pujian mereka, ikut ke klenteng atau tepekong untuk sembahyang, dan semisalnya. Hal ini jika dilakukan karena kesadaran, tidak dipaksa, dan sudah disampaikan dalil kepada mereka, tetapi mereka masih membandel ikut-ikutan juga, maka  ini kufur menurut ijma’’ ulama. Tetapi, jika dilakukan karena kebodohannya, atau terpaksa dan dipaksa, dan belum disampaikan dalil kepada mereka, maka belum dikategorikan kafir.

Ada pun orang Islam yang menjadi penggembira, yang ikut-ikutan berbahagia menyambutnya walau tidak ikut langsung dengan perayaannya, maka ini pun terlarang bahkan haram sebagaimana dijelaskan oleh para ulama di atas.

Berikut ini fatwa Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah tentang sekedar mengucapkan selamat Hari Raya agama lain –yang sebenarnya lebih ringan dibanding ikut merayakannya:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, imlek, waisak, dll. pen) adalah  hal  yang diharamkan berdasarkan  kesepakatan  kaum Muslimin .  Misalnya memberi ucapan selamat pada Hari Raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan yang semacamnya.  Jika memang orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, namun  itu termasuk dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat Hari Raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai   Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia  layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Imam Ibnul Qayyim,Ahkam Ahlu Adz Dzimmah, Hal. 162. Cet. 2. 2002M-1423H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Demikianlah penjelasan Al Quran, As Sunnah, dan keterangan para Imam kaum Muslimin. Semoga bermanfaat bagi yang menginginkan kebaikan bagi agama dan dunianya.[25]

Wallahu A’lam

______________________________

[1] Imam Ibnu Jarir, Jami’ul Bayan, Juz. 9, Hal. 319. Muasasah Ar Risalah

[2] Ahmad Warson Al Munawwir, Kamus Al Munawwir, Hal. 1582

[3] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz. 1, Hal. 382. Darut Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’

[4] Agama Konghucu dengan hari besar mereka, Cap Gho Meh, termasuk kaum musyrikin yang hari raya besar mereka harus dijauhi.

[5] Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 381.

[6] HR. Abu Daud No. 4031

[7] Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 215

[8] Imam Ismail bin Muhamamd Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa’, Juz. 2, Hal. 240. Darul Kutub Al ‘Ilmiah

[9] Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, Juz. 11, Hal. 52. Cet. 2, 1415H.  Darul Kutub Al ‘Ilmiah

[10] Ibid

[11] Ibid. Lihat juga Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 214

[12] HR. At Tirmidzi No. 2695

[13] Lihat dalam Silsilah Ash Shahihah, Juz. 5, Hal. 193, No. 2194. Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 3, Hal. 23, No. 2723.  Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi, Juz. 6, Hal. 195. Shahihul Jami’ No. 5434

[14] Raudhatul Muhadditsin, 10, Hal. 332, No. 4757

[15] Syaikh Abul ‘Ala  Al Mubarakfuri,Tuhfah Al Ahwadzi, Juz. 6, Hal. 496

[16] HR. At Tirmidzi No. 1768,   Katanya:hasan shahih

[17] HR. Bukhari No. 952

[18] HR.  An Nasa’i No. 1556, lihat jugaAs Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  Sunan Al Kubra  No. 1755

[19] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 3, Hal. 371.  Dalam kitabnya yang lain, yakni Bulughul Maram juga disebutkan demikian.

[20] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani,  As Silsilah Ash Shahihah No. 2021

[21] Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Juz. 3, Hal. 88

[22] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 3, Hal. 371

[23] Imam Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ Ash Shirath Al Mustaqim, Hal. 462

[25] Namun belakangan ada pendapat yang membolehkan mengucapkan selamat hari raya kepada agama lain dengan tujuan sekedar mujamalah (basa-basi) saja, yakni pendapat Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dan Syaikh Mushthafa Az Zarqa. Kemudian pendapat mereka disalahgunakan kalangan JIL untuk memprogandakan agenda SEPILIS mereka. Padahal  garis pemikiran  kedua syaikh ini amat  bertolak belakang dengan pemikiran JIL. Dikira dengan mencatut dan mengutip pendapat Syaikh Al Qaradhawi umat mau saja dengan mudah mengikuti mereka. Tidak. Sebab kecintaan kita kepada ulama adalah kecintaan yang didasari rasa takut kepada Allah Ta’ala, dan bingkai syariat. Oleh karenanya mencintai mereka bukan berarti selalu mengikuti apa kata mereka, benar atau salahnya. Sebab Al Haq ahaqqu ayyuttaba’  – kebenaran lebih berhak untuk diikuti.
Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Bab Larangan Jual Beli Gharar (Bag – 2)

Pemateri:  Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Materi sebelumnya bisa dibuka di sini:

http://www.iman-islam.com/2015/12/bab-larangan-jual-beli-gharar.html?m=1

Taujih Nabawi

Hadits #1
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شِرَاءِ مَا فِيْ بُطُوْنِ اْلأَنْعَامِ حَتَّى تَضَعَ، وَعَنْ بَيْعِ مَا فِيْ ضُرُوْعِهَا إِلاَّ بِكَيْلٍ، وَعَنْ شِرَاءِ الْعَبْدِ وَهُوَ آبِقٌ، وَعَنْ شِرَاءِ الْمَغَانِمَ حَتَّى تُقْسَمَ، وَعَنْ شِرَاءِ الصَّدَقَاتِ حَتَّى تُقْبَضُ، وَعَنْ ضَرْبَةِ الْغَائِصِ (رواه أحمد وابن ماجه والترمذي)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra berkata, bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli hewan yang dalam kandungan induknya hingga dilahirkan, jual beli apa yang ada dalam kelenjar susu hewan kecuali dengan takaran, jual beli budak yang lari, jual beli harta ghanimah hingga ia dibagikan, jual beli harta sedekah hingga digenggam, dan jual beli hasil temuan penyelam.”

(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Hadits # 2
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبَاعَ ثَمَرٌ حَتَّى يُطْعَمَ أَوْ صَوْفٌ عَلَى ظَهْرٍ أَوْ لَبَنٍ فِيْ ضَرْعٍ، أَوْ سَمْنٌ فِيْ لَبَنٍ (رواه الدارقطنى)

Dari Ibnu Abbas ra berkata bahwa Rasulullah SAW melarang menjual buah, hingga (bisa) dimakan, atau bulu domba yang masih berada di punggung hewan, atau susu dalam tetenya, atau lemak dalam susu. (HR. Ad-Daruquthni)

Takhrij Hadits

Hadits #1,
Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra diriwayatkan oleh :
Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab An-Nahyi an Syira’ ma fi buthunil An’am wa dhuru’iha  wa dharbatil gha’ish, hadits no 2187.

Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dalam Musnad Abi Sa’id Al-Khudri ra, hadits no 10950.

Hadits tersebut juga dikuatkan dengan hadits yang memiliki jalur sanad lain, yaitu dari Ibnu Abbas diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dan dari Abu Hurairah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud.

Hadits #2
Dari Ibnu Abbas ra diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruquthni dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, hadits no 2874.

1. Jual beli hewan dalam kandungan.

Jual beli pertama dalam hadits-hadits ini yang dilarang adalah jual beli hewan dalam kandungan.

Imam Syaukani mengemukakan, hadits ini merupakan dasar tidak sahnya jual beli hewan dalam kandungan. Dan hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama.

Adapun illat (sebab) tidak diperbolehkannya jual beli hewan dalam kandungan adalah karena adanya gharar (ketidakjelasan) dan tidak bisa diserah terimakan.

Dalam hadits di atas, Nabi SAW memberikan solusi yaitu “kecuali setelah dilahirkan”.

Artinya, ketika hewan tersebut telah lahir dan telah jelas bentuknya, jenis kelaminnya, sehat atau sakitnya, maka ia boleh diperjual belikan.

2. Jual beli susu dalam kelenjar susu hewan.

Hadits di atas juga menggambarkan tentang larangan jual beli susu yang masih terdapat dalam kelenjar susu hewan.

Imam Syaukani bahkan mengatakan bahwa hal ini sudah menjadi kesepakatan seluruh ulama, bahwa tidak sah jual beli susu dalam kelenjar susu hewan.

Illat dari larangan jual beli susu dalam kelenjar susu hewan adalah karena faktor gharar (ketidakjelasan) dan jahalah (ketidaktahuan atas objek akad).

Kecuali apabila susu tersebut telah dikeluarkan dari kelenjar susunya dan ditakar dengan takaran yang jelas, seperti literan, dsb maka hal tersebut diperbolehkan, sebagaimana sabda Nabi SAW.

3. Jual beli hewan yang lari (kabur).

Hal ketiga yang dilarang diperjual belikan berdasarkan hadits di atas adalah jual beli budak yang lari, atau kabur atau hilang.

Karena pada dasarnya objek akadnya tidak ada ; hilang. Oleh karenanya tidak boleh diperjual belikan.

Pada awal mula datangnya Islam, masih ada perbudakan dan budak diperjual belikan.

Namun Islam menghapus kan perbudakan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hilang sama sekali. Adapun kini, maka perbudakan telah tidak ada.

Objek apapun yang hilang atau tidak ada, maka tidak boleh diperjual belikan, seperti kendaraan yang hilang, binantang piaraan yang hilang, dsb.

Hal tersebut karena objeknya tidak ada dan tidak bisa diserahterimakan.

4. Jual Beli ghanimah (harta rampasan perang).

Harta rampasan perang (ghanimah), diantara yang berhak mendapatkannya adalah para mujahid yang ikut berjihad dalam peperangan tersebut.

Namun umumnya harta tersebut dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian setelah itu baru dibagikan.

Harta ghanimah yang belum dibagikan, artinya belum menjadi hak milik mujahid tersebut. Oleh karenanya belum bisa diperjualbelikan.

Sebagai contoh bahwa diantara barang ghanimah yang akan dibagikan adalah kuda. Selama senapan tersebut belum dibagikan, maka tidak boleh diperjual  belikan.

Ketika telah dibagikan dan digenggam dalam genggamannya, maka barulah pada saat tersebut ia boleh memperjualbelikannya.

5. Jual beli harta sedekah.

Jual beli harta sedekah, sebelum sedekah tersebut diterima atau digenggam adalah tidak sah.

Maksud dari hadits ini adalah apabila seseorang dijanjikan akan mendapatkan sedekah, dan sedekahnya berupa barang (seperti beras, pakaian, dsb) atau berupa hewan (misalnya kambing, domba, ayam, dsb), maka ia tidak boleh memperjualbelikannya kecuali apabila ia telah benar-benar “menggenggam” harta sedekah tersebut.

Karena sebelum sedekah tersebut diterima, kepemilikan terhadap barang sedekah tersebut, belum menjadi miliknya.

Dan karena belum menjadi miliknya, maka tidak boleh diperjualbelikan.

6. Jual beli hasil temuan penyelam.

Yang dimaksud dengan jual beli hasil temuan penyelam adalah, (sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam As-Syaukani), seorang penyelam mengatakan kepada orang lain, ‘apa yang akan aku dapatkan dari penyelaman di sini aku jual kepadamu dengan harga sekian.’

Sementara apa yang akan didapatkan oleh penyelam tersebut belum diketahui.

Jual beli seperti ini adalah tidak boleh, karena mengandung unsur gharar dan ketidaktahuan (jahalah).

Pembeli tidak tahu apa yang akan didapatkan oleh penyelam, dan bahkan penyelam pun tidak mengetahui apa yang akan di dapatkannya.

Hal ini dapat menimbulkan potensi kerugian pada salah satu pihak atau bahkan kedua belah pihak yang berakad.

7.bJual beli buah-buahan, hingga ia layak untuk dimakan.

Hadits di atas digambarkan tentang larangan menjual buah-buahan yang masih sangat kecil, atau yang dikenal dengan istilah ijon.

Jual beli ini dilarang, karena beberapa alasan :

Ada unsur (gharar) ketidakpastian berkenaan dengan buah tersebut, apakah ia akan matang atau akan membusuk dan mati?

Di samping itu juga terdapat unsur (jahalah) ketidakjelasan berkenaan dengan ukuran dan timbangannya, menjadi berapa kilo, berapa kwintal, dsb. Kemudian juga adanya ketidakpastian dalam serah terimanya. Karena serah terimnya adalah ketika buah sudah besar dan matang.

Sementara ada kemungkinan buah tersebut matang atau membusuk.

8. Jual beli bulu domba yang masih terdapat di punggungnya.

Jual beli ini termasuk yang dilarang, selama bulu tersebut masih melekat di punggung domba.

Hal ini adalah karena adanya unsur jahalah (ketidaktahuan) seberapa banyak bulu yang ada dan juga karena berpotensi menimbulkan konflik, yaitu batasan memotong bulu dombanya.

Adapun apabila telah dipotong dari dombanya, dan ditakar sesuai dengan takaran yang umum digunakan, maka boleh diperjualbelikan.

9. Jual beli minyak yang masih terdapat dalam susu.

Ada indikasi, orang Arab mengambil lemak atau minyak dari susu untuk dimanfaatkan bagi keperluan sehari-hari.

Namun apabila lemak atau minyak yang berasal dari susu tersebut belum dipisahkan dari susunya, maka tidak boleh diperjualbelikan.

Hal tersebut karena adanya unsur jahalah atau ketidaktahuan berapa jumlah minyak yang bisa didapatkan dan seperti apa kualitas minyaknya.
Serta adanya unsur gharar, karena bisa jadi dalam susu tersebut tidak terdapat minyak sama sekali.

Oleh karena itulah, transaksi sepeti ini dilarang dan tidak boleh dilakukan.

Kesimpulan:

Bahwa Nabi SAW melarang kita untuk melakukan transaksi jual beli yang mengandung unsur gharar (ketidakjelasan), adalah karena beberapa alasan :

Jual beli gharar bisa merugikan salah satu pihak

Jual beli gharar berpotensi menimbulkan konflik dan pertikaian diantara pihak yang berakad.

Jual beli gharar dapat merusak iklim dan sistim perekonomian secara umum

Jual beli gharar dilarang adalah dalam rangkan menjaga kemaslahatan umum dan menghormati kepemlikian dalam Islam.

Oleh karenanya, sebagai seorang muslim, kita wajib untuk mentaati perintah dan larangan Nabi SAW.

Dan insya Allah menghindari transaksi-transaksi di atas akan mendapatkan pahala mengikuti sunnah Nabi SAW.

Akan tetapi, apabila illat (penyebab) dari gharar atau ketidakjelasan tersebut dapat dihilangkan, maka jual belinya diperbolehkan.

Diantaranya sebagaimana digambarkan dalam hadits, jual beli hewan dalam kandungan adalah tidak boleh.
Namun ia boleh apabila telah dilahirkan.

Demikian juga susu yang masih terdapat dalam kelenjar susu hewan, tidak diperbolehkan diperjualbelikan, kecuali apabila telah ditakar dengan takaran umum (seperti literan, dsb).

Jika kita mengamalkan sunnah dari sisi muamalah ini, maka insya Allah akan diberikan keberkahan oleh Allah SWT dan mengamalkan sunnah-sunnah Nabi SAW dari sisi muamalah.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ibu Mulia Itu, Ibunda Kita Semua

 Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

يا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ وَ خَلَقَ مِنْها زَوْجَها وَ بَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثيراً وَ نِساءً وَ اتَّقُوا اللَّهَ الَّذي تَسائَلُونَ بِهِ وَ الْأَرْحامَ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقيباً (1)

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan- mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki- laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan) mempergunakan (nama- Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan) peliharalah (hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.( An-Nisaa: 1 )

Saat nabi Adam As lelap dalam tidurnya, Allah SWT ciptakan seorang perempuan. Saat ia terbangun, ia mendapati seorang perempuan anggun duduk disamping kepalanya. Para malaikat bertanya kepadanya siapakah gerangan perempuan itu? Nabi Adam AS menyebutkan namanya Hawa. Para malaikat bertanya lagi, mengapa Allah SWT menciptakannya? Dan inilah jawaban nabi Adam AS yang sangat menakjubkan “Agar dia menjadikanku nyaman/tenang dan aku menjadikannya nyaman/tenang.” Jawaban nabi Adam As ini Allah abadikan dalam surat Ar-Ruum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Perjalanan menarik selanjutnya adalah tentang tujuan diciptakannya Adam dan Hawa. Al-Qur’an menjelaskan bagaimana rajinnya setan mengganggu keduanya agar mau melanggar aturan Allah SWT yaitu memakan buah yang dilarang Allah SWT. Bujuk rayu indah terus dilancarkan setan hingga ia mengatakan “sesungguhnya aku hanya memberikan nasehat untuk kalian (agar memakan buah yang dilarang).” Tidak ada kesalahan Hawa dalam peristiwa ini karena secara tegas Al-Qur’an menjelaskan bahwa yang mengajak keduanya memakan buah yang dilarang adalah setan. Bukan Hawa yang mengajak Adam As.

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya…” (Al-A’raf:20)

Peristiwa selanjutnya adalah peristiwa penuh hikmah yang menjadi teladan bagi kita semua.
Apakah Adam As menyalahkan Hawa saat Allah menghukum mereka?
Apakah Hawa yang menyalahkan Adam saat Allah menghukum mereka?
Jawabannya “tidak.” Sama sekali tidak.
Bahkan keduanya saling menguatkan setelah sama-sama bertaubat kepada Allah SWT. ”

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf:23).

 Tidak ada saling menyalahkan dan tidak ada saling mengandalkan dalam bertaubat kepada Allah SWT. Keduanya mengakui kesalahannya dan keduanya memohon ampunan kepada Allah SWT. Hawa tidak mengatakan bahwa ia hanyalah makmum dan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada imam akan tetapi ia turut bertaubat kepada Allah SWT tanpa menyalahkan siapapun. Maka Allah SWT sempurnakan ni”matNya dengan memberikan ampunan dan petunjuk kepada keduanya.

“Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.” (Tahaa : 122).

***

Ibu…
adalah kata yang takkan pernah habis dieja dalam kehidupan seseorang.
Ibu…
adalah kata yang selalu lekat dengan siapapun bahkan saat ia telah tiada.
Ibu….
adalah sosok yang selalu ada karena semua orang memiliki fitrah untuk mengakui dan menyayanginya.
Tanyalah anak kecil yang belum banyak melakukan dosa. Katakan padanya bahwa ia tidak memiliki ibu, ia pasti akan menangis. Karena demikianlah fitrah berada dalam jiwa setiap manusia.

Berbicara tentang ibu, tak ada teladan terbaik untuk mengenal dan mempelajari sosoknya selain kita mengamati perjalanan hidup ibunda manusia karena ia adalah ibu dari semua ibu.
Ibu hadir untuk membawa ketenangan dan kenyamanan. Demikian nabi Adam As menjawab pertanyaan malaikat ketika mereka bertanya untuk apa Hawa diciptakan. Secara natural, sikap lembut kaum perempuan muncul untuk membawa ketenangan dan kenyamanan.

 Bagaimana seorang perempuan mampu menempatkan sikap lembut penuh kasihnya untuk kenyamanan dan ketenangan, sangat ditentukan oleh interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pernahkah kita melihat seorang perempuan yang bersikap dingin, kaku, tidak ramah, kurang romantis, dan  tidak pandai bersolek? Jika itu adalah anda, saudara anda atau istri anda, ketahuilah bahwa Allah SWT memberikan fitrah sama kepada setiap perempuan untuk mengoptimalkan fitrah perempuannya. Ia hanya perlu diberi wawasan, diberi bekal, diberi modal dan dibiasakan untuk menjadi perempuan sesuai fitrahnya. Karena ibunda Hawa memberi teladan bahwa ia hadir untuk membawa ketenangan dan kenyamanan.

Ibu hadir untuk menjadi mitra ayah.

Sinergi dan kekompakan Adam As dan Hawa menjadikan setan begitu iri bahkan hasad. Tak rela melihat keduanya hidup bahagia di surga, setan berusaha sekuat tenaga menggelincirkan keduanya agar kebahagiaan keduanya porak poranda. Dan hasad setan berlaku sepanjang masa, ia perlakukan sama kepada anak cucu Adam As dan Hawa. Jika hari ini banyak sekali kita dapatkan persoalan yang terjadi dalam rumah tangga kita dengan alasan apapun, maka sadarilah bahwa masalah itu akan hilang dalam waktu sesaat ketika ayah dan ibu mampu bersinergi dan kompak menghadapi masalah. Mungkin tidak diperlukan perubahan fisik tapi kadang yang diperlukan hanya cara berfikir. Menyadari bahwa sesungguhnya masalah itu bukan masalah, tetapi karena kita menganggapnya masalah maka jadilah ia masalah. Nabi Adam As dan ibunda Hawa memberi teladan akan sinergi dan kekompakan ayah ibu.

Ibu hadir untuk menguatkan ayah saat masalah melanda keluarga.

Ini bukan tentang siapa yang salah. Ketika Allah SWT memberikan hukuman/kesulitan kepada Adam As dan Hawa, tak pernah terlintas dalam fikiran ini kesalahan siapa? Akan tetapi keduanya menyadari bahwa ini masalah bersama. Maka mari sama-sama kita cari jalan keluar bersama.

“Dan mulailah keduanya menutupi aurat mereka dengan daun-daun di surga…”(Al-A’raf:22).

Ibu dan ayah perlu sama-sama kuat dan giat menghadapi masalah di keluarga. Tanpa harus berfikir siapa yang menyebabkan masalah ini muncul. Masalah seringkali menjadi semakin runcing ketika kesalahan ditumpukan kepada ayah sehingga ibu merasa di atas angin atau ditumpukan kepada ibu sehingga ia merasa sangat terpuruk. Namun ibunda Hawa memberikan teladan bahwa segera keluar dari masalah dan carilah solusi bersama.

Ibu berada di garda depan dalam memohon ampunan dan perlindungan Allah SWT.

Taubat dan do’a dilantunkan bukan hanya oleh nabi Adam As akan tetapi dilantunkan bersama ibunda Hawa. Keduanya memohon ampun kepada Allah SWT. Diluar kekompakan ayah ibu dalam berdo’a kepada Allah, do’a ibu memiliki keistimewaan tersendiri. Do’anya didengar dan dijamin Allah SWT untuk dikabulkan sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah riwayat tentang kisah do’a seorang ibu di zaman nabi Musa As.

Pada suatu ketika, Musa A.S bertanya kepada Allah Azza wa Jalla, “Ya Allah, siapa yang akan menjadi sahabatku di surga?”  Allah menjawab “Seorang tukang daging.” Musa pun terkejut mendengarnya! “Kenapa seorang tukang daging menjadi sahabatku di surga?” Kemudian dia bertanya kepada Allah “Dimana aku bisa menemukan orang ini?” Allah memberitahunya bahwa orang ini ada di tempat demikian dan demikian. Dan Musa A.S. pergi menemui tukang daging ini. Sesampainya disana, ternyata dia sedang memotong daging dagangannya. Musa A.S. berpikir “Apa yang begitu spesial tentang orang ini?” Ketika senja tiba dan dia selesai menjual daging-dagingnya, pria ini memungut sepotong daging dan membawanya pulang. Musa A.S. mulai mengikuti pria ini sampai ke rumahnya dan berkata padanya “Aku seorang pengelana. Akankah kau menerimaku sebagai tamu?” Orang itu berkata “Silahkan masuk.” Jadi dia mempersilahkan Musa A.S. ke dalam rumahnya, dan Musa A.S.mulai mengamati pria ini. Dia melihat pria ini mengambil sepotong daging yang dia bawa, kemudian mencuci dan memotongnya,  memasaknya, dan menempatkannya di atas piring. Dan dari rak yang tinggi di ruangan itu, dia mengambil sebuah keranjang dan menurunkannya. Kemudian dia mengambil kain yang basah, dan dari dalam keranjang itu ternyata ada seorang wanita tua. Kemudian dia menggendong wanita tua itu, bagaikan seseorang menggendong bayi.

Kemudian dia mengambil daging yang telah dimasaknya, dan menyuapi wanita tua itu (dalam riwayat yang lain dikatakan dia mengunyah dagingnya baru menyuapi wanita tua itu). Dan setiap kali wanita itu selesai mengunyah, dia mengambil kain yang basah dan menyeka bersih mulut wanita itu, begitu seterusnya. Ketika makanannya sudah habis, dia membersihkan mulut wanita itu, menaruhnya kembali ke dalam keranjang, dan menaruh keranjang itu kembali di rak yang tinggi. Musa A.S. menyadari bahwa setiap kali pria itu menyuapinya, wanita itu membisikinya sesuatu. Jadi dia bertanya padanya “Siapakah wanita tua itu dan apa yang dibisikkannya padamu, saudaraku?” Pria itu berkata “Dia ibuku. Aku sangat miskin sehingga tidak dapat membeli makanan untuk dimasak di rumah. Jadi aku mengambil sisa-sisa daging di tempat kerja dan membawanya ke rumah untuk dimasak Dan karena ibuku sangat tua dan lemah, sedangkan aku tidak punya uang untuk membeli budak/pembantu, jadi aku melakukannya seorang diri.” Kemudian Musa A.S. bertanya “Jadi apa yang dibisikkannya kepadamu setiap kali kau menyuapinya?” Pria itu berkata “Dia berdo’a untukku: ‘Ya Allah, jadikan anakku menjadi sahabat Musa di surga.’”

Subhanallah, inilah kekuatan do’a seorang ibu.

Ibu hadir untuk merawat, membesarkan dan membimbing anak-anaknya.

Dalam kisah lain kita mengetahui bahwa ibunda Hawa melahirkan anak yang banyak dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Riwayat menyebutkan bahwa di antara putra-putri nabi Adam As ada yang rupawan, cantik, tidak terlalu rupawan, tidak terlalu cantik, ada yang cerdas, pintar, juga tidak terlalu cerdas dan pintar. Semua membawa kepribadian masing-masing. Diantara mereka ada yang sholih solihah namun ada juga yang berbuat fujur (menyimpang).

Tidak ada ibu yang menginginkan anaknya berbuat salah atau jahat.

Seluruh ibu pasti menginginkan anak-anak yang baik, solih, solihah, cerdas, pintar dan maju. Dan setiap ibu akan berjuang demi keberhasilan anak-anaknya. Jika ada di antara anak yang tumbuh tidak sesuai dengan keinginan orang tua,  (jika ibu sudah maksimal membimbing dan merawat anaknya) maka tidak perlu kita menyalahkan ibu. Karena demikianlah Allah SWT memberikan taqdir  yang berbeda kepada setiap manusia. Yang terpenting adalah setiap ibu berusaha maksimal merawat, mendidik dan membimbing anak-anaknya.

Dan ibunda Hawa menjadi teladan bagaimana ia berusaha maksimal merawat dan mendidik anak-anaknya, walau ada diantara mereka yang tidak sesuai dengan harapan yaitu tidak taat dengan aturan Allah SWT.

***

Ibunda Hawa adalah ibu dari para ibu, yang perjalanan hidupnya Allah SWT abadikan dalam Al-Qur’an agar menjadi teladan untuk para ibu. Menjadi teladan bagi para ayah bagaimana berinteraksi dengan pasangan agar ia menjadi ibu yang hebat.

Ibunda Hawa adalah ibu yang mulia memberi ketenangan kepada suaminya. Namun kemuliaan itu ia dapatkan karena ia pun mendapatkan ketenangan dari suaminya.

Ibunda Hawa adalah ibu yang menyadari bahwa do’anya didengar Allah SWT. Oleh karenanya ia turut berdo’a bersama suaminya memohon ampunan dan bimbingan dari Allah SWT.

Ibunda Hawa adalah ibu yang melahirkan banyak anak, merawat, mendidik dan membesarkan mereka hingga kemudian Allah SWT menetapkan takdir untuk masing-masing anaknya. Tidak ada kutukan atau sumpah serapah bagi anak yang tumbuh tidak sesuai harapan, karena bukan itu tugas seorang ibu. Kembalikan semua kepada Allah SWT.

Ibunda Hawa adalah symbol kesetaraan dan persaudaraan. Bahwa umat manusia berasal dari ibu yang satu. Tak layak seseorang atau sekelompok orang merasa lebih utama
dari yang lainnya. Tak patut manusia saling bermusuhan karena sesungguhnya mereka bersaudara.

Ibunda Hawa adalah ibu peradaban. Ibu yang tidak hanya hadir untuk anak cucunya akan tetapi hadir untuk generasi yang sangat panjang. Ibu peradaban adalah ibu yang tidak hanya siap dengan kuantitas tapi juga siap dengan kualitas.

***

Saat banyak orang merayakan hari ibu, marilah kita memaknai kembali arti kata “IBU” dengan meneladani ibunda manusia “Hawa”. Seyogyanya momen hari ibu kita jadikan momen untuk semua elemen keluarga mencoba mengejawantahkan makna kata “IBU”.

Para ibu berusaha menjadi ibu mulia seperti yang dicontohkan ibunda Hawa.
Para ayah membantu para ibu untuk menjadi ibu hebat, berkepribadian seperti ibunda Hawa.
Anak cucu meningkatkan khidmah dan perbuatan baik tak kenal lelah untuk mendapatkan ridho ibu. Menjadikan ridhonya sebagai pintu-pintu keberkahan dan kebaikan dunia dan akhirat.

Selain hari ini, hari ibu berada di sepanjang hidup kita. Kalaupun sebagian orang secara khusus menjadikan hari ini sebagai hari ibu, maka itulah hari dimana kita terus bersyukur, bermuhasabah, dan merencanakan kebaikan-kebaikan yang akan kita lakukan kepada ibu kita.

Sudahkah hari ini kita menyapa dan mendo’akan ibu kita???

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Tadabbur QS. Al-Mulk: BILIK-BILIK PRESTASI

Pemateri: Dr. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Keniscayaan Sebuah Ujian

Surat al-Mulk diturunkan Allah di Makkah

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. 67:1-2)

Melalui ujian tersebut Allah tahu siapa yang terbaik di antara para hamba-Nya. Terbaik dalam mengisi lembar ujian. Karena sepanjang hidup manusia selalu diuji oleh Allah. Jika –nantinya- hasil tersebut baik, maka kemanfaatan tersebut kembali pada diri masing-masing. Allah sama sekali tidak memerlukan itu. Jika ternyata belum sesuai harapan; toh pintu maaf-Nya tak pernah tertutup.

Sebagaimana siswa/mahasiswa menempuh ujian. Selalu ada materi yang diujikan atau diajarkan sebelumnya. Selalu ada yang mengingatkannya. Selalu ada yang mengajaknya bersiap-siap menempuhnya. Selalu ada yang menemani mereka.

Demikianlah kehidupan ini. Kehidupan yang dilapangkan oleh Dzat pencipta tujuh lapis langit, yang menghiasinya dengan bintang-bintang sekaligus sebagai pelempar para syetan; sang penyontek dan pengganggu ujian para manusia.

Orang yang gagal dalam ujian tersebut adalah orang yang merugi. Sekali lagi; merugi. Karena ia bukan sekadar gagal. Tapi akan menerima siksaan yang tak terperikan; pedih yang sangat. Ini bukan sebuah sistem yang kejam. Tapi sebuah hari pembalasan. Hari pengumuman. Yang pada hari itu semua manusia menampakkan penyesalan. Bagi yang berbuat baik ia menyesal mengapa tidak menambahnya. Bagi yang berbuat buruk, akan semakin tampak guratan sesal itu. Karena ia tahu kesudahan masalahnya. Hari itu takkan ada kebohongan sedikit pun. Karena yang menjadi saksi adalah anggota-anggota tubuh. Dengan titah Sang Pemilik segala kerajaan.

Ketika orang-orang yang gagal tersebut dilempar ke neraka sa’îr, para penjaga neraka itu menanyai mereka. Apakah tak pernah ada, orang yang memberi peringatan selama mereka di dunia? Mereka pun tak punya pilihan kecuali hanya mengiyakan. Guratan sesal sangat nampak. Karena mereka melecehkan para pembawa peringatan tersebut. Bahkan sebagian ada yang ditindas dan disakiti.

Sejenak kita simak pengakuan jujur mereka. “…. Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. 67:10)

Mereka adalah orang-orang yang tak mau menggunakan karunia mahal yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Untuk menempuh ujian kehidupan. Untuk menjadi orang-orang pilihan. Untuk menjadi yang terbaik.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (QS. 3:190)

Dan akal adalah perangkat kesungguhan manusia dalam menempuh ujian. Karena hanya orang yang bersungguh-sungguh saja yang akan lulus sebagai orang-orang pilihan yang berprestasi.

Derivasi kata “a qa la” diulang dalam al-Qur’an sebanyak 49 kali. Semuanya berbentuk fi`il mudhâri’ (present/countinuous tense) kecuali satu berbentuk fi`il mâdhî (past tense). “Ta’qilûn” 24 kali, “ya’qilûn” 22 kali. ‘Aqala, na’qilu dan ya’qilu; masing-masing sekali. Ini belum kata-kata derifatif dari “fakara” yang juga diulang sebanyak 18 kali. Keduanya berarti berpikir. Menariknya adalah ketika Allah mengulang-ulang “afalâ ta’qilûn” (Tidakkah kalian berpikir) sebanyak 13 kali. Ini mengindikasikan bahwa agama bukan merupakan sebuah doktrin yang tak bisa diterima akal. Bahwa aturan-aturan yang diturunkan dari langit sebagai bahan ujian manusia di bumi tidaklah sulit untuk dipahami. Dalam setiap masa, Allah mengutus para rasul-Nya untuk menjelaskannya. Hingga datang penutup para rasul itu, Muhammad Saw.

Setelah itu tugas pemberi peringatan itu diteruskan oleh orang-orang setelahnya, pewaris para nabi. Mereka sebagai pemberi peringatan. Sekaligus sebagai peserta ujian. Karena mereka pun tak luput dari hari penghitungan. Agar kelak diketahui, siapa diantara mereka yang hanya berkata tapi tak mengamalkan. Menyeru tapi menyelisihi apa yang dikatakannya kepada manusia.

📌“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. (QS. 61: 2-3)

Kelengkapan manusia dengan dibekali akal tidaklah hanya kebetulan. Allah menjadikannya sebagai perangkat menuntut ilmu. Dengan ilmu Allah memerintahkan malaikat dan jin bersujud pada Adam as. Dan jin dilaknat karena enggan melakukan titah itu.

Dengan akal itu Allah menjadikan manusia sebagai khlifah-Nya di bumi. Untuk memakmurkan isinya. Agar bermuara pada ketundukan pada-Nya. Sebuah amanah yang bumi dan langit serta gunung pun menolaknya. Hanya manusia yang lemah yang berani memikulnya.

Allah mencela mereka yang tak menggunakan akalnya. Karena sama saja tidak menyukuri karunia-Nya.

Kembali ke permasalahan ujian. Bahwa proses penghargaan untuk yang menjadi terbaik adalah kedua sisi penciptaan Allah. Hidup dan mati. Semasa hidup manusia mengukir prestasi untuk dinikmatinya setelah ia mati. Jika hanya kehidupan, maka hasil ujian takkan pernah diumumkan. Sebaliknya, jika hanya ada kematian, maka takkan pernah ada ujian; apalagi penghitungan dari ujian itu.

Standar kelulusan ujian ini adalah; yang terbaik (ahsanu ‘amalâ). Bukan mereka yang banyak bicara. Bukan mereka yang banyak berbuat. Tapi mereka yang bagus dan benar amalnya. Dimensi –paling- bagus ini mencakup berbagai lini kehidupan. Dari aspek spirit, berupa kejernihan dan kebeningan hati. Dari aspek lainnya, kualitas dan profesional. Keberhasilan aspek pertama, akan membantu –sedikit banyak- keberhasilan aspek kedua.

Dalam usaha membuahkan kerja produktif dan profesional yang jujur –jika boleh dibahasakan demikian- maka akal manusia berperan untuk mewujudkan prestasi ini.

Karenanya sangat pantas jika kemudian akal ini dijadikan salah satu sarana pembantu kekhilafahan manusia di bumi.

Namun, ada hal lain yang kadang membuat manusia yang lemah lagi bodoh ini untuk mendewakan akal. Ia dijadikan satu-satunya sandaran yang dikultuskan. Bahwa akal adalah segala-galanya. Padahal akal ini juga sebagaimana hati, digunakan sebagai sarana kekhilafahan yang dibimbing dan dipedomani dengan ajaran yang dibawa seorang rasul Allah. Akal tidak untuk didewakan dan dikultuskan, sebagaimana hati dan perasaan tidak pula untuk diperturutkan secara emosional.

Maka al-Quran tak pernah memuat secara langsung kata “al-aqlu” (akal); ini dimaksudkan –walLâhu a’lam”– agar kita juga tidak terlalu mendewakan akal. Yang dipuji Allah adalah proses menggunakan akal. Dianjurkan dan dijadikan sarat meraih prestasi dan posisi yang tinggi di sisi-Nya sebagai orang yang beriman dan berilmu.

Pengkultusan akal ini suatu saat bisa mengakibatkan pengkultusan diri. Pada saat kekuasaan dan harta digenggam. Pada saat tak ada orang yang berani mengatakan tidak untuk melawan keputusaannya. Pada saat semua orang terdiam, bungkam oleh keterpaksaan. Saat itulah firaun-firaun Musa menjelma menjadi dzat yang merasa besar. Congkak namun dungu “…(Seraya) berkata: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”. (QS. 79:24)

Orang-orang yang gagal itu akan enggan bila diajak berpikir. Siapa yang mendatangkan badai atau hujan batu? Apakah kalian merasa tenang-tenang saja dari ditimpa hal-hal seperti itu di bawah langit? Langit siapakah itu?

Ketika Allah menjadikan bumi ini sebagai tempat tinggal manusia, ia seolah tidak pernah merasa bahwa bumi ini berputar dengan cepatnya. Di samping itu bumi dan beberapa planet di sekelilingnya juga berputar lebih cepat mengelilingi matahari sebagai pusat peredaran planet-planet. Pernahkah ia berpikir? Pernahkah manusia membayangkan, air laut yang sangat banyak itu mengapa tidak tumpah? Dan semua penghuni bumi juga tidak terlempar dengan kecepatan perputaran tersebut. Siapakah yang menjadikan hal tersebut?

Lihatlah burung ketika terbang. Saat mengembangkan dan menahan sayapnya. Siapa yang menahannya berada di udara di atas kita.

Siapa yang memberi rizki? Menjodohkan dan mengabulkan berbagai permohonan?

Siapa yang menghidupkan dan mematikan. Mencipta kehidupan sekaligus mencabutnya dan menjelmakan sebuah kematian sebagai gantinya?

Siapa yang menjadikan bumi ini laik untuk dihuni para khalifah Allah. Yang sekaligus ditugaskan memakmurkannya serta menikmati segala fasilitasnya.

📌Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (QS. 67:23).

Benar; sungguh sedikit yang mau mengerti dan paham serta menyukuri segala fasilitas ini.

Bukankah dengan ini manusia sudah cukup diajak berdialog dengan sangat demokratis. Sebelum jatuh vonis kelak di hari yang tak ada perbantahan di sana. Karena hanya ada sebuah kesaksian yang jauh dari rekayasa. Kesaksian yang berbicara dengan titah kejujuran.

Sangat adil. Dia mengaruniai manusia pendengaran, penglihatan serta hati untuk membalance akal. Sekaligus menyempurnakan perangkat dan peralatan menempuh ujian. Adapun sarana dan perangkat lain; manusia dianjurkan untuk berinovasi serta kreatif menemukan dan menggunakannya.

Setelah itu, dengan keterbukaan akal dan wawasan; kita tahu bahwa lahan prestasi dalam hidup ini sangatlah luas. Berbuat apa saja bisa dijadikan sebagai lahan peningkatan poin dalam buku prestasi amal. Bahkan tidur dan makan pun sebagai pemenuhan di antara insting manusia bisa diframe dalam bingkai prestasi. Dengan niat yang baik. Secara vertikal kepada Sang Pemilik hidup dan mati, kita tahu berinteraksi. Kepada diri kita, kita juga tahu dan paham. Serta kepada apa dan siapa saja di sekeliling kita, semua ada cara interaksinya.

Semua bisa dibingkai untuk meningkatkan raihan prestasi kita. Dengan kesungguhan. Dan dengan kecerdasan akal kita. Serta dengan kekuatan bashirah. Setelah itu, laluilah. Jalanilah kehidupan ini apa adanya. Kelak kita hanya tinggal menuai hasilnya.

Bersegeralah isi bilik-bilik prestasi itu. Sebelum semuanya menjadi terlambat. Dan tiada guna lagi sesal saat itu.

“Katakanlah:”Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. (QS. 67:30)

Sedang para hamba-Nya yang berprestasi hari itu, akan diberi nilai bermacam-macam dan berbeda sesuai dengan amalnya. Pada hari itu mereka dihargai dengan derajat yang bertingkat-tingkat. Siapakah yang beruntung saat penyematan prestasi itu dilakukan di depan Allah, para malaikat; penghuni langit. Jin dan manusia, serta para penduduk dunia dari berbagai penjuru dan dari setiap masa. Akankah kita termasuk salah satu dari mereka? WalLâhu al musta’ân.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Mendidik Anak Cinta Al-Qur’an

Pemateri: Ustzh. DR. Hj. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

Anak sebagai karunia dari Allah, merupakan rahmat dan rizki yang dinanti para orang tua. Karena anak adalah permata hati yang dengan keshalehannya bisa membahagiakan kedua orang tua di dunia dan di akhirat .

Allah berfirman:
 رحمة الله وبركاته عليكم
Artinya : ” itu adalah rahmat dan berkah Allah curahkan kepadamu” ( QS. 11:73 )

Amal shaleh anak bisa menjadi sedekah jariyah yang pahalanya tidak akan terputus hingga hari kiamat tiba. Sebab keberadaan anak shaleh dikarenakan adanya pengorbanan dan perjuangan yang besar dari para orang tua dalam mendidiknya tanpa kenal waktu.
Rasulullah bersabda:
 اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له
Artinya: ” Apabila anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara , yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya” ( HR. Muslim ).
Pantaslah jika anak adalah milik yang paling berharga , menjadi aset yang paling bernilai bagi para orang tua di dunia dan akhirat. Karena itu wahai para orang tua berilah anak nikmat Allah yang teragung yaitu pendidikan mencintai Alquran.
Allah berfirman:
 الرحمن. علم القران.
Artinya: ” Allah Yang Maha Penyayang . Telah mengajarkan Alquran”( QS. 55 : 1-2 ).
Pentingnya pendidikan anak mencintai Al-Quran telah diwasiatkan Rasulullah SAW. kepada para orang tua dengan sabdanya:
 ادبوا اولادكم على ثلاث خصال : حب نبيكم وحب ال بيته وتلاوة القران فان حملة القران في ظل عرش الله يوم لا ظل الا ظله.
Artinya : ” Didiklah anakmu kepada 3 perkara yitu mencintai nabimu, mencintai keluarganya, dan ( mencintai) membaca Al-Qur’an, karena sesungguhnya pelaku Al-Qur’an akan berada di bawah naungan Arsy Allah saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya” ( HR. Thabrani ).

Mengapa anak harus dididik mencintai Rasulullah, keluarganya dan mencintai Al-Quran ? Karena dalam konsep Islam, anak harus disiapkan menjadi pemimpin yang beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berwawasan pengetahuan yang luas dan bermanfaat , sehat, mandiri, dan menjadi pejuang dalam melaksanakan dan menegakkan nilai2 Islam hingga kejayaaannya. Merekalah yang akan menjadi pemimpin bagi orang2 yang bertakwa.

Mendidik anak cinta alquran itu dimulai dengan cinta membacanya, cinta menghafal dan mengulangnya, cinta memahami ayat2-Nya, hingga cinta untuk mengamalkan dan berdakwah kepadanya. Urgensi mendidik anak cinta Al-Qur’an :
1. Mendidik anak selalu dekat dengan Allah dan dekat dengan wahyu-Nya.

2. Melatih kecerdasan dan kekuatan hafalannya.

3. Mendidik anak berjiwa kuat agar mampu mengendalikan nafsunya.
 اذا تليت عليهم اياته زادتهم ايمانا
Artinya: “Apabila dibacakan alquran kepada mereka maka bertambahlah imannya” ( QS. 8 : 2 )

4. Mendidik anak berakhlak mulia.

5. Menjaga anak dari penyakit hati dan penyimpangan moral.

6. Mempersiapkan anak lebih dini untuk memiliki potensi menjadi tokoh besar.

7. Menyibukkan anak pada kegiatan yang bermanfaat.

8. Menyiapkan anak bahagia di dunia dan di akhirat.

9. Bernilai sedekah jariah bagi orang tua.

10. Menjadi syafaat bagi anak dan orang tuanya.

Kiat mendidik anak cinta Al-Qur’an:
1. Keteladanan dari kedua orang tua.
2. Banyak berdoa kepada Allah.
3. Memberikan motivasi kepada anak.
4. Disiplin dalam mengajarkan alquran ; membaca, menghafal dan mengamalkan.
5. Banyak memperdengarkan tilawah quran dari qari terbaik.
6. Melekatkan anak kepada guru alquran ( ahli alquran yang fashih, hafidz dan berakhlak alquran ).
7. Menciptakan lingkungan yang kondusif.
8. Memberikan apresiasi dan tidak memberikan sangsi.
9. Bertahap sesuai kemampuan anak.
10. Menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.

Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan dalam upaya kita mewujudkan anak cinta alquran, amin

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Pernikahan, Cara Allah SWT Memuliakan Wanita (bag-2, selesai)

Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha,ST

Materi bag-1 bisa dibaca melalui tautan berikut …. http://www.iman-islam.com/2015/12/pernikahan-cara-allah-swt-memuliakan.html?m=1

Pernikahan adalah cara Allah Swt memuliakan setiap wanita beriman nan berakal. Ia menjadikan dasar iman untuk bergerak dan membuat pilihan kehidupan sehingga ia meraih kemuliaan dengannya. Pilihan untuk menikah setelah kehadiran niat untuk menjadi wanita mulia tentu akan mendapatkan kemudahan dan kebaikan dalam seluruh urusannya. Ada saja kemudian cara Allah Swt meninggikan maqam wanita mukminah agar ia tetap berada dalam kemuliaannya, bersama ilmu dan penghayatan dalam ber-Islam.

Pernikahan sejatinya untuk menguatkan keimanan yang telah bersemayam di dalam dada, sehingga memperhatikan keimanan pasangan akan mendukung pemuliaan wanita.[1] Ia merupakan ikatan suci yang tidak layak dirusak dan dianggap sebelah mata, sehingga wanita yang diceraikan sebelum disentuh ditetapkan untuknya ½ dari mahar yang telah dikabarkan, tanpa kewajiban idah.[2] Benar bahwa Islam memberikan jalan keluar untuk dapat menikahi wanita lebih dari satu, namun prinsip keadilan akan memberikan suaminya keselamatan di dunia dan akhirat.[3] Mahar adalah satu di antara bentuk keseriusan tekad untuk menjaga kemuliaan wanita.[4]

Pernikahan sejatinya untuk mendapatkan sepasang manusia yang berkualitas dan siap menggapai ridho Ilahi. Ingatkah kita bagaimana Nabi Syu’aib a.s. menguji kualitas Nabi Musa a.s selama 8-10 tahun lamanya, sebelum akhirnya dia yakin untuk menjadikannya suami untuk anak wanitanya tersayang?[5] Sedemikian ketatnya seleksi pasangan hidup sehingga tidak diharapkan terlintas sedikitpun keinginan berpisah, bahkan perpisahan menjadi dipersulit agar pernikahan tidak dianggap permainan.[6]

Pernikahan sejatinya untuk menjaga keberlangsungan bahkan kebaikan nasab atau jalur keturunan anak manusia yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan, meski di antara hikmahnya juga menjaga keselamatan dan kesehatan individu.[7] Ingatkah kita bagaimana Nabi Luth a.s. menawarkan wanita-wanita negerinya yang memiliki keimanan yang kokoh untuk menjadi sebab lahirnya kesadaran bahwa homo seksual adalah penyakit kejiwaan yang dapat disembuhkan dengan mudah ketika manusia mampu menata persepsinya terhadap sesuatu?[8]

Pernikahan sejatinya adalah capaian utama pertama dari seluruh upaya penjagaan kehormatan diri untuk meraih ampunan dan pahala yang amat besar.[9] Ia merupakan buah kesuksesan yang penuh kesucian, sehingga dengannya ia akan dikaruniakan kemampuan untuk meraih capaian utama berikutnya.[10] Jika ini menjadi paradigma awal berpikir maka kelanjutan upayanya akan penuh dengan keberkahan.

Pernikahan sejatinya adalah cara Allah Swt untuk melihat sejauh mana implementasi kebaikan dari ilmu yang telah diwariskan Rasul-nya yang mulia. Ikatan suci ini telah diawali tanpa unsur paksaan, maka keridhoan keduanya melahirkan kemuliaan cinta. Begitu mulianya, sehingga setiap pemberian suami kepada wanita tidaklah untuk ditanyakan apalagi dimintakan kembali, karena telah jelas hak masing-masing sebagaimana kewajiban di antara keduanya.[11] Kemuliaan cintalah yang kemudian menghadirkan bentuk komunikasi paling efektif di antara sepasang manusia yang akan hidup bersama hingga ajal menjemput mereka. Komunikasi efektif adalah ciri kesiapan manusia dalam menghadirkan solusi terhadap seluruh problematika pasca pernikahan.[12]

Pernikahan sejatinya adalah wujud kesiapan wanita untuk mengandung seorang calon mujahid, dan kesiapan untuk menikmati kelemahan yang bertambah-tambah selama kandungan di dalam tubuh. Ia siap menjadi mujahidah bahkan syahid di jalan Allah dengan jihad di saat melahirkan karena kepasrahan penuh hanya kepada Allah semata. Ia siap memberikan waktu-waktu berharganya di dunia untuk tujuan akhirat dimulai dari fokus dan konsentrasinya untuk menyusi sang mujahid baru selama dua tahun lamanya atau tiga puluh bulan.[13]

Sekali lagi, pernikahan adalah bukti bahwa wanita siap melahirkan generasi rabbani, dengan peluh tanpa henti dalam mentarbiyah keturunannya. Ia bak madrasah ilmu yang mengalirkan ilmu tanpa pernah surut dan mundur karena ia semakin dekat dengan derajat tinggi di sisi Allah Swt. Ia ingatkan pasangan hidupnya untuk sentiasa berdo’a saat awal sekali ikhtiar mereka untuk memperbanyak generasi penyembah dan pejuang agama Allah dengan berdo’a, “Allaahumma jannibnaa asy-syaithaan, wa jannibi asy-syaithaanu maa razaqtanaa”, agar kesucian terjaga sentiasa dari sentuhan syaithan laknatullah ‘alaihim. Ingatkah kita bagaimana istri ‘Imran a.s. menadzarkan anaknya agar kelak menjadi wanita shaleh dan pelayan Allah Swt?[14]Ingatkah kita bagaimana keyakinan penuh keluarga Zakaria a.s. akan iradah Allah Swt memberikan keturunan untuk mereka agar dapat mereka bina menjadi sosok pejuang Islam padahal sang istri sudah tua dan dianggap mandul? [15] Ingatkah kita bagaimana Maryam a.s. tetap dalam prasangka baiknya kepada Allah Swt dengan ujian yang sangat berat untuk ukuran seorang wanita dengan dilahirkannya anak tanpa ayah biologis? Namun justru ketegaran dalam ujian Allah Swt itulah yang kemudian menjadikan Maryam a.s, saudara Harun a.s. ini, sebagai wanita yang paling mulia di masanya.[16]

Semoga bersama kesabaran seluruh wanita mukminah, kedalaman penghayatan terhadap ajaran Islam secara sempurna, kesungguhan untuk meraih kesuksesan akhirat, Allah memudahkan langkah setiap wanita untuk menjadikan diri dan pasangan hidupnya sebagai hamba-hamba yang dicintai Allah Swt dan dikumpulkan kelak di Surga-Nya Allah Tabaraka wa Ta’ala. (selesai)

[1] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 221, An-Nur [24] ayat 3, Al-Mumtahanah [60] ayat 10

[2] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 235-237, Al-Ahzab [33] ayat 49

[3] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 4, 129

[4] Lihat Q.S. Al-Maidah [5] ayat 5

[5] Lihat Q.S. Al-Qashash [28] ayat 27

[6] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 230-232

[7] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 22-25, Al-Ahzab [33] ayat 37, Ath-Thalaq [65] ayat 4

[8] Lihat Q.S. Al-Hijr [15] ayat 66-71

[9] Lihat Q.S. Al-Ahzab [33] ayat 35

[10] Lihat Q.S. Al-Maidah [5] ayat 5, An-Nur [24] ayat 32-33

[11] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 19

[12] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 128

[13] Lihat Q.S. Luqman [31] ayat 14, Al-Ahqaf [46] ayat 15, Al-A’raf [7] ayat 189, Ar-Ra’d [13] ayat 8

[14] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 35-37

[15] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 38-41

[16] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 42-47, [19] ayat 16-39, Al-Anbiya [21] ayat 91, At-Tahrim [66] ayat 12

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

SHALAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW

Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

Ketika Allah Jalla wa ‘Ala dan para Malaikat saja bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, maka jelaslah bagaimana posisi hamba yang mulia itu di langit, dan seharusnya jelas pula posisi manusia kepada hamba yang telah memberikan berkah risalah dan usahanya kepada seisi alam ini.

Bershalawatnya Allah akan mengalirkan pujian kepada manusia yang bershalawat di sisi malaikat-malaikat yang dekat, dan salamnya manusia akan menyempurnakan hidupnya ketika terangkai dengan shalawat, karena tercapailah apa yang diinginkan manusia, dan terhapuslah apa yang ditakutkan manusia.

Sungguh tergesa-gesa adalah kondisi bagi mereka yang berdo’a tanpa diawali dengan shalawat. Tidak sekedar hilangnya kesempurnaan, rukun, sayap dan sebab, namun do’anya pun akan terhalangi (mahjub).

Sebab yang tidak dihadirkan, menyulitkan terbentuknya perasaan tunduk, ketenangan, kekhusyu’an, dan ketergantungan hati hanya kepada Allah.

Sungguh, celaka adalah kondisi bagi mereka yang tidak bershalawat di saat menyebut, mendengar dan menulis nama Nabi Saw.

Shalawat menjadi agenda keseharian manusia, terlebih lagi di hari Jum’at, setiap kali hendak memasuki Masjid, setiap kali selesai mengulangi seluruh redaksi muadzin ketika adzan, dan setiap kali manusia berkumpul dalam sebuah majelis. Sekali lagi, rangkaian shalawat bersanding dengan salam, menjadi ikhtiar dan sebab terkabulkannya do’a manusia. Nabi Saw. mengajarkan cara bershalawat kepadanya.

 Demikian pula dalam kesempatan lain, Nabi Saw. mengajarkan kelengkapan redaksi shalawat kepadanya,

Membacanya di waktu pagi 10x dan di waktu sore 10x, menghadirkan sebab diperolehnya syafa’at, sementara 1x saja manusia bershalawat, Allah Sang Khalik akan bershalawat untuknya 10x, diampuni 10 dosanya dan diangkat baginya 10 derajat.

Tidakkah manusia rindu menjadi manusia yang paling utama di sisinya pada hari kiamat karena kecintaannya kepada shalawat? Tidakkah manusia rindu saat-saat dimana syafaat hadir tatkala manusia berjalan merangkak di atas shirath?

Tidak ada lagi setelah keutamaan kecuali kehinaan. Sebagaimana manusia yang enggan bershalawat, ia disebut bakhil, maka memudarlah kecintaannya kepada sang Nabi, terkikislah rasa rindunya kepada sang Rasul, maka tidakkah ia khawatir hatinya akan terisi kecintaan kepada selain Nabi Saw.?

Tidakkah ia gelisah hatinya akan bergemuruh dengan kerinduan kepada selain Rasulullah Saw?

***

Sesungguhnya, seringnya manusia bershalawat, khususnya pada waktu-waktu yang mengharuskan untuk itu, akan mengakrabkan manusia akan petunjuk Nabi Saw, akan memudahkan penerimaan akan petunjuk tersebut, dan menguatkan keyakinan bahwa tiada petunjuk apalagi hukum yang lebih baik dari petunjuk dan hukum Nabi Saw.

Berarti ini memudahkan manusia menjaga salah satu prinsip yang tidak akan membatalkan ke-Islam-annya.

Petunjuk atau teladan (al-hadyu) Nabi Saw., merupakan arahan (al-irsyad), perjalanan hidup (as-sirah), cara (ath-thariqah) satu-satunya manusia yang menyelamatkannya, berpandu wahyu yang telah diwahyukan13.

Maka sudah selayaknya muslim yang memahami hakikat kepasrahannya bersama hukum Allah, menjadikan Rasul sebagai hakim dalam segala urusan, tidak keberatan dalam hati mereka atas apa yang diputuskannya, dan pasrah dengan penuh kepasrahan terhadap hukumnya yang akan melahirkan keadilan untuk semesta alam, karena semesta alam pun sentiasa bershalawat atas Nabi Saw.

Maraji’

1] Q.S. Al-Ahzab: 56
2] Menukil Ibn Qayyim dalam Jalaul Afham
3] H.R. Thabarani
4] H.R. Tirmidzi
5] HR. Abu Daud
6] H.R. Ibn Majah
7] H.R. Bukhari
8] H.R Tirmidzi
9] H.R. Muslim
10] H.R. Thabarani
11] H.R. Ahmad
12] H.R. Nasa’i
13] Q.S. An-Najm:4

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

BAB LARANGAN JUAL-BELI GHARAR

Pemateri: Ust. RIKZA MAULAN, Lc. MAg

Taujih Nabawi #1
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ (رواه الجماعة إلا البخاري)

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hashoh (jual beli dengan lemparan batu) dan beliau melarang jual beli gharar (jual beli yang objeknya tidak jelas). (HR. Jamaah, Kecuali Imam Bukhari)

Taujih Nabawi #2
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ، لاَ تَشْتَرُوْا السَّمَكَ فِي الْمَاءِ، فَإِنَّهُ غَرَرٌ (رواه أحمد)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwasanya Nabi SAW bersabda, ‘Janganlah kalian membeli ikan di dalam air, karena hal itu adalah gharar.’ (HR. Ahmad)

Taujih Nabawi #3
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ (رواه أحمد ومسلم والترمذي)، وَفِيْ رِوَايَةٍ نَهَى عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ مَا فِيْ بَطْنِهَا ثُمَّ يَحْمِلُ الَّتِيْ نُتِجَتْ (رواه أبو داود)، وَفِيْ لَفْظٍ، كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْتَاعُوْنَ لُحُوْمَ الْجَزُوْرِ إِلَى حَبَلِ الْحَبَلَةِ، وَحَبَلُ الْحَبَلَةِ أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ مَا فِيْ بَطْنِهَا ثُمَّ يَحْمِلُ الَّتِىْ نُتِجَتْ، فَنَهَاهُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ (متقف عليه)، وَفِيْ لَفْظٍ كَانُوْا يَبْتَاعُوْنَ الْجَزُوْرَ إِلَى حَبَلِ الْحَبَلَةِ، فنََهَاهُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang jual beli habalil habalah. (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi). Dalam riwayat lainnya, ‘Nabi SAW melarang jual beli habalil habalah (yaitu) onta melahirkan anak onta yang dikandungnya, hingga kemudian anak onta yang baru lahir tersebut hamil.’ (HR. Abu Daud).

Dalam redaksi lain, ‘Bahwasanya orang-orang Jahiliyah memperjualbelikan daging onta dengan model habalil habalah. Habalul Habalah adalah onta melahirkan anak yang dikandungnya, hingga kemudian onta tersebut hamil. Kemudian Nabi SAW melarang transaksi tersebut. (Muttafaqun Alaih).

Dalam redaksi lainnya, ‘Dahulu mereka memperjualbelikan daging onta secara habalil habalah, lalu Nabi SAW melarang jual beli tersebut.’ (HR. Bukhari)

Takhrij Hadits
Hadits #1 dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh :
Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyu’ bab Buthlani Bai’i Al-Hashah wal Bai’illadzi Fiihi Gharar, hadits no 2783
Imam Tirmudzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a fi Karahiyati Bai’ Al-Gharar, hadits no 1151.
Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Al-Hashah, hadits no 4442.

Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab An-Nahyi an Bai’ al Hashah wa Bai’ Al-Gharar, hadits no 2185.
Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad Al-Muktsirin Minas Shahabah, dalam Musnad Abi Hurairah ra, hadits no 9255.

Hadits #2 dari Ibnu Mas’ud ra, diriwayatkan oleh :
Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dalam Musnad Al-Muktsirin minas shahabah, Musnad Abdullah bin Mas’ud, hadits no 3494.

Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, Kitab Al-Buyu’, Bab Ma Ja’a fi An-Nahyi an Bai’ As-Samak Fil Maa’, juz 5, hal 907.

Imam Al-Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Kitab Al-Buyu’, Bab An-Nahyi an Bai’ Al-Gharar wa Tsamani Asbil Fahl, Hadits No 3576.

Imam At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dalam Min Musnad Abdillan bin Mas’ud ra, Juz 9 Halaman 59, hadits no 10341

Hadits #3 dari Ibnu Umar ra diriwayatkan oleh :
Imam Bukhari dalam Shahihnya, dalam Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Al-Gharar wa Habalil Habalah, hadits no 1999.

Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyu’, Bab Tahrim Bai’ Habalil Habalah, hadits no 2784.
Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Bai’ al-Gharar, hadits no 2934.
Imam Tirmidzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a Fi Bai’I Habalil Habalah, hadits no 1150.

Imam Nasa’I dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Habalil Habalah, hadits no 4544, 4545 dan 4546.
Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab An-Nahyi An Syira’ ma fi buthunil An’am wa Dhuru’iha, hadits no 2188.

Makna Gharar
Gharar adalah sesuatu yang tidak diketahui hasil (akhirnya), apakah akan diperoleh atau tidak.

Atau gharar adalah keraguan atas keberadaan objek suatu akad (antara ada dan tidak ada).

Dengan bahasa singkatnya, gharar adalah ketidakjelasan terhadap apa yang ditransaksikan; baik objeknya, caranya maupun harganya.

Gharar merupakan bentuk muamalah yang dilarang dalam syariah Islam, berdasarkan hadits-hadits di atas.

Sehingga tidak boleh kita memperjual belikan sesuatu yang samar dan tidak jelas.

Larangan Jual Beli Hashoh

Diantara bentuk jual beli atau transaksi gharar yang dilarang adalah jual beli hashoh (bai’ al-hashoh), yaitu jual beli dengan lemparan batu.

Ada beberapa bentuk bai’ al-hashoh, sebagaimana dijelaskan dalam Nailul Authar, yaitu :

Seorang penjual berkata kepada pembeli, ‘Aku jual baju-baju ini kepadamu, tergantung baju mana yang terkena lemparan batumu. Kemudian pembeli melempar batunya. Atau penjual mengatakan, ‘Aku jual tanah ini kepadamu dengan harga sekian, dengan luas sejauh lemparan batumu.

Semua bentuk jual beli sebagaimana gambaran di atas adalah tidak boleh ditransaksikan, karena masuk dalam kategori gharar.

Larangan Jual Beli Ikan Dalam Air.

Diantara jual beli yang bersifat gharar yang dilarang adalah jual beli ikan yang masih terdapat di dalam air.

Maksudnya adalah merujuk kepada umumnya ikan yang terdapat di dalam air habitatnya, seperti di sungai, di danau atau di lautan. Karena ikan-ikan tersebut tidak diketahui keberadaannya; apakah ada atau tidak. Dan juga kalaupun ada, tidak bisa diperkirakan besar dan beratnya.

Oleh karena itulah, jual beli ikan di dalam air termasuk gharar yang dilarang.

Sedangkan Illat atau sebab dilarangnya jual beli ikan dalam air adalah bahwa ikan yang terdapat di dalam air tidak dapat dilihat, tidak dapat diukur dan tidak dapat diserahterimakan.

Namun, apabila illatnya bisa dihilangkan, maka jual belinya boleh dilakukan dan transaksinya sah.

Larangan Jual Beli Habalil Habalah.

Transaksi atau jual beli gharar lainnya yang dilarang adalah bai’ habalil habalah. Adapun makna habalil habalah adalah sebagai berikut :

Sebagaimana dalam hadits, yaitu jual beli anak onta yang terdapat dalam kandungan induknya, dan ketika onta ini lahir, ditunggu hingga dewasa lalu hamil. Anak dari anak onta tersebut merupakan objek akad jual belinya.

Jual beli daging onta dengan pembayaran tangguh, hingga anak onta yang dikandungnya melahirkan anak onta berikutnya.

Jual beli habalil habalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas adalah tidak diperbolehkan, karena adanya gharar atau ketidakjelasan dalam waktu penyerahan barang yang diperjualbelikan, juga karena objek akadnya tidak ada (ma’dum), serta karena barang tidak bisa diserahterimakan.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Bunda Pejuang Penggelora Semangat yang Pekiknya adalah “Marilah kaum putri, hari ini adalah hari para pejuang”

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Nene Hatun lahir di kota Erzurum di pedalaman Anatolia (Asia Kecil) sebelah timur tahun 1957 pada masa Turki Utsmani. Apa peran beliau pada masanya, mari kita telusuri!

Ketika Turki Utsmani berperang melawan Russia pada tahun 1877-1878 sempat terjadi kemunduran pada permulaan perang yang menyebabkan Benteng Aziziye di kota Erzurum jatuh ke tangan Russia. Benteng ini merupakan salah satu kunci pertahanan Turki Utsmani di front ini dan kejatuhannya pada 7 November 1877 merupakan pukulan yang telak. Pasukan Turki Utsmani mundur untuk menyusun kekuatan, termasuk suami Nene Hatun, namun penduduk setempat punya rencana lain.

Malam itu adik laki-laki Nene Hatun pulang dalam keadaan luka parah yang menyebabkan kematiannya di pangkuannya. Setelah mengurus jenazah adik laki-lakinya yang gugur mempertahankan benteng tersebut, Nene Hatun menitipkan kepada orangtuanya kedua buah hatinya, yaitu anak bungsunya yang baru berusia 3 bulan dan kakak sang bayi yang juga masih balita. Jika seorang ibu telah menitipkan anak-anaknya untuk berangkat perang maka patut diperkirakan bahwa kondisi sudah sangat kritis.

Ia berangkat memanggul senapan adiknya dan berbekal kampak dapur miliknya sendiri. Nene Hatun menyemangati para perempuan lain di desanya dan berkumpul bersama penduduk Erzurum lainnya yang juga bertekad untuk merebut kembali benteng Aziziye. Pasukan Russia di benteng tidak pernah menduga atau menganggap remeh kekuatan penduduk yang sebagian besar terdiri atas barisan perempuan.

Nene Hatun termasuk berada pada barisan terdepan dengan pekik legendarisnya “marilah kaum putri, hari ini adalah hari para syuhada, kalau para prajurit sudah tiada maka kita yang menghentikan (mereka).”

Pertempuran jarak dekat tidak terelakkan lagi ketika sekitar 6.000 penduduk (hanya terdiri dari 1.000 pria) bersenjata apa adanya menyerbu benteng yang dipertahankan sekitar 3.000 pasukan Russia. Setelah pertarungan reda, Nene Hatun ditemui pingsan dengan beberapa luka namun kampak tetap tergenggam erat di tangannya. Pasukan Russia telah terdesak mundur dengan 2.000 korban jiwa dan luka-luka; sebuah corengan atas balatentara bersenjata modern tersebut.

Setelah siuman, Nene Hatun mengatakan “mereka dengan persenjataannya, kami dengan agama (Islam) kami..” berulang kali.

Nene Hatun hidup dalam usia yang panjang, suaminya dan anak laki-lakinya gugur pada Perang Dunia Pertama.

Setahun sebelum beliau wafat, Jenderal Ahmet Nurettin Baransel mengunjungi Nene Hatun secara resmi untuk menjadikannya “Bunda Bagi Balatentara Ke-3” yang berbasis di Erzurum dan sebuah monumen dibangun untuk menghormatinya. Beliau dinobatkan menjadi “Ibunya Kaum Ibu Turki” pada hari Ibu tahun 1955. Beliau wafat dalam usia 98 tahun pada tanggal 22 Mei 1955 dan dikebumikan di pemakaman khusus para ‘sehit’ (syuhada) di dalam Benteng Aziziye.

Memang benar seorang ibu adalah madrasah pertama bagi keluarganya! Para ibu adalah tiang kekuatan bagi negara. Bagaimana perhatian kita bagi pendidikan kaum ibu dan generasi calon ibu?

Agung Waspodo,
Depok, 14 Desember 2015.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…