Ketundukan Yang Membawa Kepada Kehinaan Sejarah Penghujung Masa Kesultanan Seljuq

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Pertempuran Qatwan – 9 September 1141

Pertempuran Qatwan adalah konflik antara Kara-Khitai Khanate dan Kesultanan Seljuq yang didukung oleh taklukannya Kara-Khaniya. Pada pertempuran ini Seljuq mengalami kekalahan yang menjadi awal dari kemundurannya.

Latar Belakang

Kara-Khitai adalah bangsa Mongol dari dinasti Liao yang bermigrasi dari wilayah utara China ke arah barat karena kerajaannya dihancurkan oleh invasi Jurchen pada tahun 1125. Perpindahan ini dipimpin oleh Yelü Dashi dan dalam prosesnya mereka bahkan merebut kota Balasaghun, ibukota Kara-Khaniya. Bahkan pada tahun 1137 imigran Kara-Khitai mampu mengalahkan Kara-Khaniya di Pertempuran Khujand. Pemimpin Kara-Khaniya yang bernama Mahmud II mengirim surat permohonan perlindungan dari Sultan Ahmed Sanjar dari Kesultanan Seljuq. Pada tahun 1141, Ahmed Sanjar tiba dengan pasukannya di Samarkand.

Pertempuran

Sumber-sumber sejarah memberikan angka kekuatan kedua seteru dengan besaran yang berbeda. Namun, patut diduga bahwa Kara-Khitai berkekuatan 20-30 ribu pasukan sedangkan Seljuq sekitar 70-100 ribu; namun Kara-Khitai mendapatkan bantuan dari Karluk sebanyak 30-50 ribu pasukan berkuda.

Di padang rumput Qatwan di bagian utara Samarkand pertempuran itu berkecamuk. Kara-Khitai membagi balatentaranya dalam 3 bagian dan menyerang kekuatan Seljuq secara serentak hingga berhasil mengepungnya. Lini tengah Seljuq terdesak masuk ke sebuah wadi/lembah Dargham sekitar 12 km dari Samarkand. Tanpa celah untuk meloloskan diri, hampir seluruh pasukan Seljuq hancur dan Sanjar lolos dengan susah payah. Tidak diketahui bagaimana bisa terjadi, namun banyak komandan Seljuq yang tertawan dan termasuk isteri Sanjar juga yang terpisah dari kesatuan kawal di tengah kepanikan tersebut. Sepertinya tradisi membawa permaisuri ke medan laga adalah sebuah tradisi militer dari Asia Tengah.

Kesudahan

Yelü Dashi menghabiskan 90 hari di Samarkand untuk menyelesaikan masalah politik lokal termasuk menerima banyak janji setia dari berbagai penguasa Muslimin dan mengangkat saudaranya Mahmud, yaitu Ibrahim, sebagai Samarkand. Yalü juga menerima keluarga Burhan sebagai pemimpin wilayah Bukhara.

Setelah pertempuran ini kesultanan Khwarazim menjadi wilayah taklukan (vassal) bagi Kara-Khitai dan sempat diserbu karena Sultan Atsiz telat membayarkan 30 ribu dinar upeti. Untuk keterlambatan ini wilayah Khwarazim dibumi-hanguskan oleh Erbuz utusan langsung Yelü Dashi.

Agung Waspodo, setelah 874 tahun berlalu tetap saja mencatat hikmah tunduk kepada lawan akan menghasilkan kehinaan.

Depok Utara, Sabtu 19 September 2015.. masih mengejar ketelatan artikel yang seharusnya dirampungkan 10 hari yang lalu, memanfatkan waktu sebelum acara ta’lim dimulai..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

LUKISAN KEHIDUPAN

Pemateri: Ust. Abdullah Haidir Lc.

Kita tentu pernah melihat sebuah lukisan yang indah, katakanlah tentang lukisan sebuah pemandangan.

Sering kita terkesima dan terpana dengan lukisan seperti itu, komentar-komentar takjub dan apresiasi positif reflek terlontar dari mulut-mulut kita.

Tapi yang patut kita sadari adalah bahwa sesungguhnya yang membuat menarik bukan sekedar pemandangannya, tetapi kemampuan orang yang melukiskannya.

Dengan objek pemandangan yang sama, jika dilukis oleh orang yang bukan ahlinya, tentu akan berbeda pula sikap dan apresiasi kita terhadap lukisan tersebut.

Kehidupan kita ini, pada dasarnya merupakan ‘pemandangan’ yang akan terekam bak sebuah lukisan.

Bolehlah hal tersebut kita katakan sebagai ‘Lukisan Kehidupan’. Dan kitalah yang telah Allah tetapkan untuk menjadi pelukis bagi kehidupan kita sendiri.

Maka, langkah kaki, lenggang tangan, lidah yang terucap, sejurus pandangan mata, pendengaran telinga dan gerak semua organ tubuh kita, tak ubahnya bagaikan kuas yang sedang menari-nari di atas kanvas kehidupan.

Itulah arti dari hari-hari yang kita lalui dalam kehidupan ini.

Oleh karena itu, kini masalahnya bukan lagi apakah kita seorang maestro pelukis terkenal macam Picasso dan Afandi atau bukan, tetapi adalah bahwa -suka atau tidak suka- hasil ‘lukisan’ kita pada akhirnya akan dilihat dan dinilai orang.

Kesadaran tersebut jelas akan mendorong naluri kita untuk berkata bahwa ‘lukisan kehidupan’ saya harus terlihat indah dipandang.

Dan selama kesempatan melukis itu masih diberikan, kita masih diberi kebebasan berekspresi untuk memperindah lukisan kehidupan kita, meluruskan guratan-guratan yang kurang harmonis, memperjelas sapuan warna yang buram, mengarahkan segmen gambar yang tak terarah, dst.

Hingga akhirnya, ketika mata ini terpejam dan nafas terakhir telah dihembuskan, itulah saatnya lukisan kita telah usai lalu dibingkai, dan kemudian siap dipajang di ‘ruang depan rumah kita’.

Ketika itu pula kita tinggal menunggu bagaimana komentar orang-orang yang melihat lukisan kita yang secara refleks –tanpa basa basi dan formalitas- akan terlontar dari mulut-mulut mereka.

Bagaimana reaksi dan apresiasi yang akan mereka berikan, tentu sangat tergantung dengan kualitas lukisan yang terpampang.. Di situlah salah satu parameter kehidupan kita sedang ditentukan.

Suatu saat para shahabat melihat jenazah yang sedang digotong, lalu mereka memuji kebaikannya, maka Rasulullah saw bersabda, ‘pasti.’

Kemudian lewat lagi jenazah yang lain, lalu mereka menyebut-nyebut keburukannya, Beliau bersabda, ‘Pasti.’

Umar bin Khattab bertanya, ‘Apanya yang pasti wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, “Yang kalian sebutkan kebaikannya, pasti masuk surga, sedangkan yang kalian sebutkan keburukannya pasti masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi ini.” (Muttafaq alaih)

Seorang penyair berkata,

إنما المرء حديث من بعده
فكن حديثا حسنا لمن وعى

Innamal mar’u hadiitsu man ba’dahu
Fa kun hadiitsan hasanan liman wa’aa

Seseorang akan menjadi pembicaraan orang-orang sesudahnya.

Maka jadilah bahan pembicaraan yang baik bagi orang yang mendengarnya.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

KEJUJURAN

Pemateri: Ust. Dr. Abas Mansur Tamam

Kejujuran merupakan anak kandung dari iman.
Itu sebabnya salah satu ciri orang munafik adalah suka berbohong ketika berbicara.

Sedangkan orang beriman meskipun ia belum bisa menghilangkan sebagian sifat buruk, seperti pelit atau penakut, tetapi tidak boleh memiliki sifat pembohong.

Di bawah ini ayat Alquran dan hadis yang mengajarkan sifat kejujuran.

1. Ayat Alquran

QS Al-Baqarah [2]: 42
Allah Swt. berfirman:

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة [2]: 42)

Artinya: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil, dan janganlah kamu menyembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui” (Al-Baqarah [2]: 42).

Ayat di atas mengajarkan akhlak kejujuran.

Kejujuran akan berdampak baik dalam kehidupan bermasyarakat, karena orang-orang akan menyukainya sebagai orang yang jujur.

Kejujuran juga akan berdampak baik dalam kehidupan beragamanya, karena akan membuatnya bersikap terbuka dengan kebenaran, mau menerima serta melaksanakan kebenaran.

Dan ketika ajaran-ajaran Islam semuanya merupakan kebenaran, maka orang yang jujur sangat bersemangat dalam menjalankan agamanya.

Sebaliknya kebohongan akan berakibat buruk.

Berdampak buruk terhadap kehidupan bermasyarakat, karena orang-orang tidak akan menyukainya sebagai seorang pembohong.

Kebohongan juga akan berdampak buruk dalam kehidupan beragama, karena akan membuatnya antipati terhadap kebenaran.

Karena itu sangat mungkin dari kebohongannya itu akan melahirkan sikap memerangi agama Allah dengan cara menyesatkan orang lain.

Menurut ayat di atas, ada dua cara seorang pendusta dalam menyesatkan manusia:

a. Mencampur-adukkan hak dengan batil, sehingga seolah-olah kebenaran dan kebatilan itu relatif alias abu-abu. Inilah yang dimaksud dengan tidak boleh mencampur-adukkan haq dengan batil.

b. Menolak kebenaran dan menyembunyikannya, sehingga tidak Nampak.
Ini yang dimaksud dengan larangan untuk menyembunyikan haq.

2. Hadis Kejujuran:

Nabi Saw. bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فإن الصِّدْقَ يهدى إلى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يهدى إلى الْجَنَّةِ، وما يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حتى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

Artinya: “Berbuat jujurlah kalian! Karena kejujuran menunjukkan pada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke surga.

Dan tidaklah seseorang terus berbuat jujur dan dengan sadar mengupayakan kejujuran, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur” (Muslim, 4/2607).

Hadits tadi menyebutkan tata-cara seorang Muslim membina dirinya menjadi orang yang jujur.

Bahwa ada beberapa tips menjadi seorang yang jujur:

a. Penghayatan iman tentang surga dan neraka. Bahwa kebaikan berbalas surga, dan keburukan berbalas neraka.

b. Pengetahuan bahwa kejujuran menjadi gerbang kebaikan, dan kebohongan menjadi gerbang keburukan. Kejujuran menjadi sifat dasar seorang Muslim.

c. Terus mengupayakan kejujuran. Karena memiliki sifat jujur membutuhkan proses, yaitu upaya terus-menerus untuk jujur, meskipun banyak godaan untuk berbohong.

d. Berhati-hati agar tidak berbohong. Misalnya, ketika dalam pembicaraan telepon seseorang ditanya sedang dimana? Dia menjawab sedang di luar kota. Dalam hatinya dia bermaksud bahwa ia berada di kota yang berbeda dari penelepon.

Dia sadar bahwa penelpon akan menangkap bahwa dia benar-benar sedang pergi ke luar kota.

Gaya pembicaraan seperti ini jika terus dilakukan bisa membuatnya terbiasa berbohong.

3. Kriteria Kejujuran:

Dalam bahasa Arab, jujur (sidq) adalah lawan dari berbohong  (kadzib).

Kejujuran aselinya disebutkan dalam konteks pembicaraan.

Karena itu jujur didefinisikan sebagai kesesuaian antara perkataan dengan hati dan objek yang dikabarkan (Al-Munawi, At-Ta’arif, 451).

Sehingga jika suatu pembicaraan tidak sesuai dengan objek yang dikabarkan, ia merupakan kebohongan.

Tetapi jika pembicaraan sesuai dengan objek berita, tetapi tidak sesuai dengan hati, maka dari segi kesuaiannya dengan objek berita disebut benar. Tetapi dari sisi perbedaannya dengan hati disebut kebohongan.

Seperti orang munafik yang menyebut bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Perkataan itu benar, tetapi karena tidak sesuai dengan keyakinan dalam hatinya, mereka disebut telah berbohong.

Firman Allah:

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. Tetapi Allah mengetahui sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta” (Al-Munafiqun [63]: 1).

Wallahu a’lam.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Memakai Atribut Natal Bagi Muslim dan Muslimah

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Isra: 36)

Muqadimah
 
Biasanya menjelang perayaan Natal, marak para pelayan mall, pertokoan, dan penginapan, menggunakan atribut natal. Biasanya mereka menggunakan topi Sinterklas. Umumnya mereka muslim dan muslimah, bahkan bisa jadi ada yang rajin shalatnya, muslimahnya pun ada yang berjilbab. Jilbab yes, Sinterklas Ok.   Entah karena paksaan atasan, atau memang ketidaktahuannya. Yang jelas, dari sudut pandang apa pun, baik aqidah, akhlak, dan hukum, Islam melarang tegas hal ini. Baik ikut-ikutan apalagi menyerupai. Bukan ini saja, tapi lainnya seperti April Mop, Valentine, Hallowen, dan sebagainya.
 
Allah Ta’ala berfirman:
 
Wahai orang-orang beriman, jika kalian ikuti sekelompok orang-orang yang diberikan Al Kitab (Yahudi dan Nasrani) nisaya mereka akan memurtadkan kamu menjadi kafir lagi setelah kamu beriman. (QS. Ali Imran: 100)

Isyarat Kenabian
 
Sejak 15 abad lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah mengisyaratkan akan datangnya masa-masa umat Islam mengekor kehidupan Yahudi dan Nasrani. Pemikiran, budaya, mode, dan sebagainya. Minimal   umat Islam sudah kehilangan identitasnya, tidak bangga dengan Islamnya, justru malu, dan lebih suka dan senang dengan identitas khusus kekufuran, dan paling  tinggi adalah murtad.
 
Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Kalian benar-benar akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai mereka masuk ke lubang biawak pun kalian tetap mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Siapa lagi?” (HR. Bukhari No. 3456, 7320, Muslim No. 2669)
 
Isyarat ini begitu mengerikan. Sebab, umat Islam akan mengikuti mereka sebegitu jauh. Sampai walau mereka masuk lubang biawak, umat Islam akan mengikuti juga. Artinya, walau tidak layak, tidak pantas dan tidak patut diikuti, tetaplah diikuti. Tentunya lubang biawak dengan tubuh manusia lebih besar tubuh manusia, namun tetap kita akan memasukinya karena mengikuti mereka. Artinya, begitu memaksakan untuk tetap mengikuti mereka walau tidak pantas dan menyakitkan, sebagaimana tubuh manusia yang tidak pantas dan tida pas untuk memasuki lubang biawak.
 
Asy Syaikh Al Ustadz Mushthafa Al Bugha menjelaskan:

Betapa indah pemisalan ini, yang menunjukan benarnya mu’jizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita menyaksikan generasi umat ini begitu taklid (ikut-ikutan) terhadap bangsa-bangsa kafir di dunia. Baik berupa akhlak yang tercela, kebiasaan yang rusak, yang memancarkan bau yang busuk yang berputar dalam hidung manusia, di rawa penuh lumpur yang kotor, jahat lagi berdosa, dan menjadi peringatan bagi manusia di mana-mana. (Syarh wa Ta’liq ‘Alash Shahih Al Bukhari, 3/1283)

Mengikuti dan Menyerupai Mereka (Orang Kafir) Maka Bukan Golongan Kami

Kami sampaikan dua hadits untuk menegaskan hal ini.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Daud No. 4031, Ahmad No. 5115, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf  No.33016, dll) (1)

Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Bukan golongan kami orang yang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani.(HR. At Tirmdizi No. 2695, Al Qudha’i, Musnad Asy Syihab No. 1191) (2)

Ketika menjelaskan hadits-hadits di atas, Imam Abu Thayyib mengutip dari Imam Al Munawi dan Imam Al ‘Alqami  tentang hal-hal yang termasuk penyerupaan dengan orang kafir:

“Yakni berhias seperti perhiasan zhahir mereka, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti mereka, dan perbuatan lainnya.” (Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim, ‘Aunul Ma’bud, 11/51)

Imam Abu Thayyib Rahimahullah juga mengatakan:

Lebih dari satu ulama berhujjah dengan hadits ini bahwa dibencinya segala hal terkait dengan kostum yang dipakai oleh selain kaum muslimin.(Ibid, 11/52)

Demikianlah keterangan para ulama bahwa berhias dan menggunakan pakaian yang menjadi ciri khas mereka –seperti topi Sinterklas, kalung Salib, topi Yahudi, peci Rabi Yahudi- termasuk makna tasyabbuh bil kuffar – menyerupai orang kafir yang begitu terlarang dan dibenci oleh syariat Islam.

Ada pun pakaian yang bukan menjadi ciri khas agama, seperti kemeja, celana panjang, jas, dasi, dan semisalnya, para ulama kontemporer berbeda pendapat apakah itu termasuk menyerupai orang kafir atau bukan.  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menganggap kostum-kostum ini termasuk menyerupai orang kafir, maka ini hal yang dibenci dan terlarang, bahkan menurutnya termasuk jenis kekalahan secara psikis umat Islam terhadap bangsa-bangsa penjajah. Sedangkan menurut para ulama di Lajnah Daimah kerajaan Saudi Arabia seprti Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, dan lainnya, menganggap tidak apa-apa pakaian-pakaian ini. Sebab jenis pakaian ini sudah menjadi biasa di Barat dan Timur. Bukan menjadi identitas agama tertentu.

Pendapat kedua inilah yang lebih tepat, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam riwayat shahih, pernah memakai Jubah Romawi yang sempit. Sebutan “Jubah Romawi” menunjukan itu bukan pakaian kebiasaannya, dan merupakan pakaian budaya negeri lain (Romawi), bukan pula pakaian simbol agama, dan Beliau memakai jubah Romawi itu walau agama bangsa Romawi adalah Nasrani.

Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai jubah Romawi yang sempit yang memiliki dua lengan baju.(HR. At Tirmidzi No. 1768, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 18239. Al Baghawi, Syarhus Sunnah No. 3070. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh Al Albani, dan lainnya)

Sementara dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengenakan Jubbah Syaamiyah (Jubah negeri Syam).  Riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat Jubbah Rumiyah. Sebab, saat itu Syam termasuk wilayah kekuasaan Romawi.

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan:

Banyak terdapat dalam riwayat Shahihain dan lainnya tentang Jubbah Syaamiyah, ini tidaklah menafikan keduanya, karena Syam saat itu masuk wilayah pemerintahan kerajaan Romawi. (Tuhfah Al Ahwadzi, 5/377)

Syaikh Al Mubarkafuri menerangkan, bahwa dalam keterangan lain,  saat itu terjadi ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang safar. Ada pun dalam riwayat Malik, Ahmad, dan  Abu Daud, itu terjadi ketika perang Tabuk, seperti yang dikatakan oleh Mairuk. Menurutnya hadits ini memiliki pelajaran bahwa bolehnya memakai pakaian orang kafir, sampai-sampai walaupun terdapat najis, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai Jubah Romawi tanpa adanya perincian (apakah baju itu ada najis atau tidak). (Ibid)

Mengambil Ilmu Dari Mereka (Orang Kafir) Bukan Termasuk Tasyabbuh (penyerupaan)

Begitu pula mengambil ilmu dan maslahat keduniaan yang berasal dari kaum kuffar, maka ini boleh. Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggunakan cara Majusi dalam perang Ahzab, yaitu dengan membuat Khandaq (parit) sekeliling kota Madinah. Begitu pula penggunakaan stempel dalam surat, ini pun berasal dari cara kaum kuffar saat itu, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengikutinya.
 
Oleh karena itu, memakai ilmu keduniaan dari mereka, baik berupa penemuan ilmiah, fasilitas elektronik, transportasi, software, militer, dan semisalnya, tidak apa-apa mengambil manfaat dari penemuan mereka. Ini bukan masuk kategori menyerupai orang kafir. Sebab ini merupakan hikmah (ilmu) yang Allah Ta’ala titipkan melalui orang kafir, dan seorang mu’min lebih berhak memilikinya dibanding penemunya sendiri, di mana pun dia menjumpai hikmah tersebut.
             
Jadi, tidak satu pun ketetapan syariat yang melarang mengambil kebaikan dari pemikiran teoritis dan pemecahan praktis non muslim dalam masalah dunia selama tidak bertentangan dengan nash yang jelas makna dan hukumnya serta kaidah hukum yang tetap. Oleh karena hikmah adalah hak muslim yang hilang, sudah selayaknya kita merebutnya kembali. Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan –dengan sanad dhaif- sebuah kalimat, “Hikmah adalah harta dari seorang mu’min, maka kapan ia mendapatkannya, dialah yang paling berhak memilikinya.”

Meski sanadnya dhaif, kandungan pengertian hadits ini benar. Faktanya sudah lama kaum muslimin mengamalkan dan memanfaatkan ilmu dan hikmah yang terdapat pada umat lain. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr, bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu pernah berkata, “Ilmu merupakan harta orang mu’min yang hilang, ambil-lah walau dari orang-orang musyrik.” (3) Islam hanya tidak membenarkan tindakan asal comot terhadap segala yang datang dari Barat tanpa ditimbang di atas dua pusaka yang adil, Al Qur’an dan As Sunnah.

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah

***

Catatan:

1] Imam As Sakhawi mengatakan ada kelemahan dalam hadits ini,   tetapi hadits ini memiliki penguat (syawahid), yakni hadits riwayat Al Bazzar dari Hudzaifah dan Abu Hurairah, riwayat Al Ashbahan dari Anas bin Malik, dan riwayat Al Qudha’i dari Thawus secara mursal.(Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 215).

Sementara, Imam Al ‘Ajluni mengatakan, sanad hadits ini shahih menurut Imam Al ‘Iraqi dan Imam Ibnu Hibban, karena memiliki penguat yang disebutkan oleh Imam As Sakhawi di atas.(Imam Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa, 2/240). Imam Ibnu Taimiyah mengatakan hadits ini jayyid (baik). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya hasan.(Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim, Aunul Ma’bud, 11/52). Syaikh Al Albani mengatakan hasan shahih. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4031)

2] Sebagaimana kata Imam AtTirmidzi, Pada dasarnya hadits ini dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhai’ah seorang perawi yang terkenal kedhaifannya. Namun, hadits ini memiliki berapa syawahid (penguat), sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menghasankan hadits ini dalam berbagai kitabnya. (Shahihul Jami’ No. 5434, Ash Shahihah No. 2194). Begitu pula yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth, bahwa hadits ini memiliki syawahid yang membuatnya menjadi kuat.(Raudhatul Muhadditsin No. 4757)

3] Hadits: “Hikmah adalah kepunyaan orang mukmin yang hilang, di mana saja dia menemukannya maka dialah yang paling berhak memilikinya.”

Hadits ini dhaif, diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dalam sunannya, pada Bab Maa Ja’a fil Fadhli Fiqh ‘alal ‘Ibadah, No. 2828. Dengan sanad: Berkata kepada kami Muhammad bin Umar Al Walid Al Kindi, bercerita kepada kami Abdullah bin Numair,  dari Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi, dari Sa’id Al Maqbari, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: …. ( lalu disebut hadits di atas).

Imam At Tirmidzi mengomentari hadits tersebut: “Hadits ini gharib (menyendiri dalam periwayatannya), kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini. Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi adalah seorang yang dhaif fil hadits (lemah dalam hadits).”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Kitab Az Zuhud Bab Al Hikmah, No. 4169. Dalam sanadnya juga terdapat Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi.

Imam Ibnu Hajar mengatakan, bahwa Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi adalah Abu Ishaq Al Madini, dia seorang yang Fahisyul Khatha’ (buruk kesalahannya). (Al Hafizh Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, 1/14. Mawqi’ Al Warraq). Sementara Imam Yahya bin Ma’in menyebutnya sebagai Laisa bi Syai’ (bukan apa-apa). (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, 1/105. Mawqi’ Ya’sub)

Sederetan para Imam Ahli hadits telah mendhaifkannya. Imam Ahmad mengatakan: dhaiful hadits laisa biqawwifil hadits (haditsnya lemah, tidak kuat haditsnya). Imam Abu Zur’ah mengatakan: dhaif. Imam Abu Hatim mengatakan: dhaifulhadits munkarulhadits (hadisnya lemah dan munkar). Imam bukhari mengatakan: munkarul hadits. Imam An Nasa’imengatakan: munkarul hadits, dia berkata ditempat lain: tidak bisa dipercaya, dan haditsnya tidak boleh ditulis. Abu Al Hakim mengatakan: laisa bil qawwi ‘indahum (tidak kuat menurut mereka/para ulama). Ibnu ‘Adi mengatakan: dhaif dan haditsnya boleh ditulis, tetapi menurutku tidak boleh berdalil dengan hadits darinya.

Ya’qub bin Sufyan mengatakan bahwa hadits tentang “Hikmah” di atas adalah hadits Ibrahim bin Al Fadhl yang dikenal dan diingkari para ulama. Imam Ibnu Hibban menyebutnya fahisyul khatha’ (buruk kesalahannya).  Imam Ad Daruquthni mengatakan: matruk (haditsnya ditinggalkan), begitu pula menurut Al Azdi. (Lihat semua dalam karya Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 1/131 .DarulFikr. Lihat juga Al Hafizh Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 2/43.Muasasah ArRisalah. Lihat juga Imam Adz Dzahabi, Mizan Al I’tidal, 1/52.Darul Ma’rifah. Lihat juga Imam Abu Hatim ArRazi, Al JarhwatTa’dil, 2/122. Dar Ihya AtTurats. Lihat juga Imam Ibnu ‘Adi Al Jurjani, Al Kamilfidh Dhu’afa, 1/230-231.Darul Fikr. Imam Al ‘Uqaili, Adh Dhuafa Al Kabir, 1/60. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Syaikh Al Albani pun telah menyatakan bahwa hadits ini dhaif jiddan (sangat lemah), lantaran Ibrahim ini. (Dhaiful Jami’ No. 4302. Dhaif Sunan At Tirmidzi, 1/320)

Ada pula yang serupa dengan hadits di atas:

“Hikmah adalah kepunyaan orang mukmin yang hilang, di mana saja seorang mukmin menemukan miliknya yang hilang, maka hendaknya ia menghimpunkannya kepadanya.”

Imam As Sakhawi mengatakan, hadits ini diriwayatkan oleh Al Qudha’i dalam Musnadnya, dari hadits Al Laits, dari Hisyam bin Sa’ad, dari Zaid bin Aslam, secara marfu’. Hadits ini mursal. (Imam AsSakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, 1/105. Imam Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa’, 1/363)

Ringkasnya, hadits mursal adalah hadits yang gugur di akhir sanadnya, seseorang setelah tabi’in. Kita lihat, riwayat Al Qudha’i ini, Zaid bin Aslam adalah seorang tabi’in, seharusnya dia meriwayatkan dari seorang sahabat nabi, namun sanad hadits ini tidak demikian, hanya terhenti pada Zaid bin Aslam tanpa melalui sahabat nabi. Inilah mursal. Jumhur (mayoritas) ulama dan Asy Syafi’i mendhaifkan hadits mursal.

Ada pula dengan redaksi yang agak berbeda, bukan menyebut Hikmah, tetapi Ilmu. Diriwayatkan oleh Al ‘Askari, dari‘Anbasah bin Abdurrahman, dari Syubaib bin Bisyr, dari Anas bin Malik secara marfu’:

“Ilmu adalah barang mukmin yang hilang, dimana saja dia menemukannya maka dia mengambilnya.”

Riwayat ini juga dhaif. ‘Anbasah bin Abdurrahman adalah seorang yang matruk (ditinggal haditsnya), dan Abu Hatim menyebutnya sebagai pemalsu hadits.(Taqribut Tahdzib, 1/758)

Ibnu Abi Hatim bertanya kepada ayahnya (Abu Hatim) tentang ‘Anbasah bin Abdurrahman, beliau menjawab: matruk dan memalsukan hadits. Selain itu, Abu Zur’ahjuga ditanya, jawabnya: munkarul hadits wahil hadits (haditsnya munkar dan lemah). (Al JarhwatTa’dil, 6/403)

Ada pun Syubaib bin Bisyr, walau pun Yahya bin Ma’in menilainya tsiqah (bisa dipercaya), namun Abu Hatimdan lain-lainnya mengatakan: layyinulhadits. (haditsnya lemah). (Imam Adz Dzahabi, MizanulI’tidal, 2/262)

Ada pula riwayat dari Sulaiman bin Mu’adz, dari Simak, dari ‘ikrimah, dariIbnu Abbas, di antara perkataannya:

“Ambillah hikmah dari siapa saja kalian mendengarkannya, bisa jadi ada perkataan hikmah yang diucapkan oleh orang yang tidak bijak, dan dia menjadi anak panah yang bukan berasal dari pemanah.”

Ucapan ini juga dhaif. Lantaran kelemahan Sulaiman bin Muadz.

Yahya bin Ma’in mengatakan tentang dia: laisa bi syai’ (bukan apa-apa). Abbas mengatakan, bahwa Ibnu Main mengatakan: dia adalah lemah. Abu Hatim mengatakan: laisa bil matin (tidak kokoh). Ahmad menyatakannya tsiqah (bisa dipercaya).Ibnu Hibban mengatakan: dia adalah seorang rafidhah (syiah) ekstrim, selain itu dia juga suka memutar balikan hadits. An Nasa’i mengatakan: laisa bil qawwi (tidak kuat). (Mizanul I’tidal, 2/219)

Catatan:

Walaupun ucapan ini dhaif, tidak ada yang shahih dari RasulullahShallallahu ‘AlaihiwaSallam. Namun, secara makna adalah shahih. Orang beriman boleh memanfaatkan ilmu dan kemajuan yang ada pada orang lain, sebab hakikatnya dialah yang paling berhak memilikinya. Oleh karena itu, ucapan ini tenar dan sering diulang dalam berbagai kitab para ulama. Lebih tepatnya, ucapan ini adalah ucapan dari beberapa para sahabat dan tabi’in dengan lafaz yang berbeda-beda.

Dari Al Hasan bin Shalih, dari ‘Ikrimah, dengan lafaznya:

“Ambil-lah hikmah dari siapa pun yang engkau dengar, sesungguhnya ada seorang laki-laki yang berbicara dengan hikmah padahal diabukan seorang yang bijak, dia menjadi bagaikan lemparan panah yang keluar dari orang yang bukan pemanah.” (Al Maqashid Al Hasanah, 1/105)

Ucapan ini adalah shahih dari ‘Ikrimah, seorang tabi’in senior, murid Ibnu Abbas. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, Al Hasan bin Shalih bin Shalih bin Hay adalah seorang tsiqah, ahli ibadah, faqih, hanya saja dia dituduh tasyayyu’ (agak condong ke syi’ah). (Taqribut Tahdzib,  1/205)

Waki’ mengatakan Al Hasan bin Shalih adalah seseorang yang jika kau melihatnya kau akan ingat dengan Said bin Jubeir.  Abu Nu’aim Al Ashbahani mengatakan aku telah mencatat hadits dari 800 ahli hadits, dan tidak satu pun yang lebih utama darinya. Abu Ghasan mengatakan, Al Hasan bin Shalih lebih baik dari Syuraik. Sedangkan Ibnu ‘Adi mengatakan, sebuah kaum menceritakan bahwa hadits yang diriwayatkan dari nya adalah mustaqimah, tak satu pun yang munkar, dan menurutnya Al Hasan bin Shalih adalah seorang yang ahlushshidqi (jujur lagi benar).  Ibnu Hibban mengatakan, Al Hasan bin Shalih adalah seorang yang faqih, wara’, pakaiannya lusuh dan kasar, hidupnya diisi dengan ibadah, dan agak terpengaruh syi’ah (yakni tidak meyakini adanya shalatJumat). Abu Nu’aim mengatakan bahwa Ibnul Mubarak mengatakan Al Hasan bin Shalih tidak shalat Jumat, sementara Abu Nu’aim menyaksikan bahwa beliau shalat Jum’at.  Ibnu Sa’ad mengatakan dia adalah seorang ahli ibadah, faqih, dan hujjah dalam hadits shahih, dan agak tasyayyu’. As Saji mengatakan Al Hasan bin Shalih adalah seorang shaduq (jujur). Yahya bin Said mengatakan, tak ada yang sepertinya di Sakkah. Diceritakan dari Yahya bin Ma’in, bahwa Al Hasan bin Shalih adalah tsiqatun tsiqah (kepercayaannya orang terpercaya). (Tahdzibut Tahdzib, 2/250-251)

Hanya saja Sufyan Ats Tsauri memiliki pendapat yang buruk tentangnya. Beliau pernah berjumpa dengan Al Hasan bin Shalih di masjid pada hari Jum’at, ketika Al Hasan bin Shalih sedang shalat, Ats Tsauri berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari khusyu’ yang nifaq.” Lalu dia mengambil sendalnya dan berlalu. Hal ini lantaran Al Hasan bin Shalih –menurut At Tsauri- adalah seseorang yang membolehkan mengangkat pedang kepada penguasa (memberontak). (Ibid, 2/249) Namun, jarh (kritik) ini tidak menodai ketsiqahannya, lantaran ulama yang menta’dil (memuji) sangat banyak.

Selain itu, telah shahih dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

“Ilmu adalah barang mukmin yang hilang, maka ambil-lah walau berada di tangan orang-orang musyrik, dan janganlah kalian menjauhkan diri untuk mengambil hikmah itu dari orang-orang yang mendengarkannya.” (IbnuAbdil Bar, Jami’  Bayan Al ilmi wa Fadhlihi, 1/482. Mawqi’ Jami Al Hadits)

Selesai

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadzah Menjawab: Seputar Keluarga

Oleh: Ustadzah Wulandari Eka Sari

1. Pertanyaan :

Assalamualaikum ustadzah Wulan, Jika melihat beberapa lapis dalam membangun keluarga seperti yang ustadzah sampaikan sangatlah bagus dan ideal untuk semua keluarga muslim. Tapi dalam praktek di lapangan sehari-hari seringnya kita menemukan kendala-kendala terutama dalam mendidik anak-anak kita. Wa bil khusus untuk anak yang mulai menginjak remaja. Karena faktor pergaulan dan lingkungan di luar rumah mau tidak mau juga ikut andil dalam membentuk pribadi anak kita. Sekuat tenaga kita sebagai orang tua pastilah kita upayakan untuk tetap melakukan yang terbaik untuk menjaga anak kita dari pengaruh buruk pergaulannya di luar rumah. Nah yg saya mau tanyakan adalah, kiat-kiat apa atau apa yg perlu kita lakukan sebagai ortu bagi anak yang mulai remaja agar anak kita bisa tetap ada pada rule-rule yang sudah kita susun dalam mencapai keluarga muslim yang diharapkan Allah seperti yang ustadzah wulan sampaikan. (Ukhti Yani – Riyadh)

Jawaban :
Salam kenal ukhti Yani di Riyadh. Kendala dalam proses pendidikan di keluarga adalah hal yang lumrah. Merupakan bagian dari kehidupan. Maka ada beberapa hal yang bisa kita siapkan agar ketika kendala menghadang, solusi bisa diperoleh.

Yang pertama : Dalam menjalani proses pendidikan keluarga kita harus selalu bersandar pada Allah. Bahwa setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan, itu bagian dari penciptaan Allah. “kenakalan” tidak hanya mutlak milik anak, orang dewasa pun bisa melakukannya. Karena itu dalam upaya pendidikan keluarga, selalu ingat bahwa Allah yang punya kuasa dalam menentukan segalanya. Kita hanya berupaya.

Yang ke dua : Dalam proses pendidikan keluarga semuanya berperan, semua bisa menjadi subyek dan obyek. Anak bisa belajar dari ortu dan sebaliknya. Hal ini melahirkan rasa saling menghargai dan membutuhkan. inilah prinsip tawashowbil haq tawashowbishobr tawashowbil marhamah.

Yang ketiga : Bangun komitmen bersama melalui komunikasi yang intensif dan ramah. Mengapa al quran banyak bercerita tentang kisah-kisah? Karena berkisah adalah sarana terbaik dalam membangun komunikasi. Dengan komunikasi yang harmonis antar anggota keluarga, proses pendidikan bisa dijalankan dengan baik… Allahu a’lam bish showab.

Proses pendidikan untuk anak memiliki keunikan di tiap fase usia. Seperti pesan Ali bin Abi Thalib ra, ada 3 fase yaitu usia 0-7 di mana anak ibarat raja, 7-14 anak ibarat tawanan dan di atas 14 anak adalah sahabat. Namun 3 fase itu saling berkelindan (berkaitan laksana rajutan). Bila dirasa anak usia baligh sulit diajak berkomunikasi, mungkin ada yang sempat ‘miss’ pada hubungan kita sebagai ortu dengan si anak di fase sebelumnya. Namun tidak ada kata terlambat utk perbaikan….

2. Pertanyaan :

Seperti apa langkah-langkah teknis yg dapat kami terapkan untuk anak umur 0-5 tahun agar kami orang tua dapat melahirkan anak-anak dengan kepribadian seperti yang di gambarkan dalam surah Al Ahzab ayat 35? ( Ummu Hisyma)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Hisyma.. Usia 0-5 tahun adalah fase penting di mana sel neuron dalam otak sangat aktif membangun jaringan. Informasi apapun yg masuk di otak anak sangat melekat. Dalam ilmu neuroscience, dalam otak ada bagian ‘ketuhanan’. Di mana pada hakekatnya manusia itu mengakui keberadaan Dzat yang Maha Besar yang menguasai dirinya. Di usia ini, sangat baik dimulai dengan menstimulan pengenalan terhadap Allah. Misal ortu sering menyebut-nyebut Asmaul Husna, tilawah alQuran di dekatnya, kalau ortu memiliki bacaan al Quran yg bagus bisa juga mentalaqqi anak hafalan al Quran dan bercerita banyak kisah. Terkait perkembangan motorik kasar dan halus bisa dilakukan di rumah dan sekitarnya oleh keluarganya, misal pengenalan tubuh, alam, hal-hal di dalam dan sekitar rumah. Namun perlu diingat, pada fase ini fungsi pengembangan kognitif anak bukan prioritas. Sehingga tidak disarankan anak utk diajari membaca, menulis bila ia tidak tertarik. Stimulan dengan banyak hal yg bisa membuatnya mengenal Robbnya, RasulNya dan kondisi sekitarnya..

3. Pertanyaan

Bisa diceritakan ustdzh, pendampingan seperti apa yg ustdzh. Wulan berikan, hingga anak anak bisa terus termotivasi untuk mengambil jalannya dengan penuh kesadaran? (Ummu Ahda)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Ahda. Pendampingan seperti apa yang kami lakukan, saya sendiri merasa belum optimal dan masih terus belajar.
📌Upaya pertama yg kami lakukan adalah ada kesamaan pandang antara suami dan istri dalam menjalani proses pendidikan, sehingga bisa saling sinergi. Karena dalam pendidikan anak, ada peran ayah dan peran ibu dalam proses pendampingan tersebut. Misal ada saat di mana ayah yg harus bersikap dan berbicara. Saya sendiri kadang ada momen merasa sulit utk bisa menyampaikan maksud saya ke anak2, lalu saya komunikasikan ke suami dan beliaulah yg berbicara ke anak2. Begitu juga kadang ada momen di mana anak butuh kelembutan sikap seorang ibu.

Yang kedua, membangun komitmen bersama dengan anak adalah upaya pendampingan ortu ke anak. Kita tidak bisa mengawasi mereka 24 jam. Komitmen inilah yang menjadi kesepakatan kita.

Yang ke tiga, mereview komitmen bersama sebagai upaya menyegarkan kembali hubungan ortu dan anak.

Yang ke empat, selalu mohon kepada Allah utk penjagaanNya kepada keluarga kita.

4. Pertanyaan :

Ustadzah, bagaimana membuat kurikulum yang pas bagi putra-putri kita, agar tercapai tujuan-tujuan sebagaimana tersebut di materi? (Ummu Maryam, Riyadh)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Maryam di Riyadh. Bila ditanyakan ke saya, sebagai praktisi Homeschooling, saya sekarang menyebutnya Familyschooling, tidak bisa menyatakan kurikulum yg pas itu seperti apa. Karena tiap manusia unik. Apa yg saya tulis di artikel ttg 10 model pembentuk pribadi muslim adalah sarana yg saya coba pakai sebagai standar. Saya sendiri membuat kurikulum bisa utk 6 bulan atau untuk setahun disesuaikan dengan masing-masing anak.

Yang kita perlukan sebagai langkah pertama dalam membuat kurikulum adalah membangun kedekatan kita dengan anak. Output dari kedekatan ini adalah pengenalan satu dengan yang lain.

Yang kedua  dengan melakukan dokumentasi misal foto, pencatatan dll yg bisa dibuat menjadi portofolio yg bisa dijadikan tolak ukur perkembangan proses pendidikan anak.

Yang ketiga, kurikulum perlu direview dengan kembali melihat tujuan dengan anak sebagai subyek. Disesuaikan dg potensi, kapasitas dan kemampuan anak.

5. Pertanyaan :

Ustadzah, mau tanya bagaimana memotivasi anak agar bersemangat dlm menghafal al qur’an dan tumbuh kecintaannya thd al qur’an atas kesadaran pribadi , bkn atas suruhan ortu.

Jawaban :
Pengenalan terhadap al Quran bisa dilakukan sejak usia dini.

Yang pertama adalah banyak berdoa khusus meminta kepada Allah agar keluarga kita dirahmati dengan al Quran. Allahummarhamna bil Qur’an, Allahumma yassirlana litilawatil Qur’an, yassir lana li hifdzil Qur’an…

📌Yang kedua, banyak menghidupkan al Quran dalam kehidupan, bisa dengan tilawah, menghafal, berkisah yg diambil dr al Quran, membaca terjemah, mendengar murottal. Bahkan di saat iman sedang lemah, tetaplah dekat dengan al Quran walaupun hanya mendengar murottal, sedikit tilawah. anak-anak yang melihat kebiasaan ini jadi terbiasa hidup dengan al Qur’an dan tidak merasa canggung…

Yang ketiga, tidak mengapa di awal anak membaca dan menghafal Qur’an atas suruhan ortu. Tentu saja kita memotivasinya dengan niat liLlah dan dengan cara yg positif. Setelah menjalaninya, insya Allah pada diri anak perlahan tumbuh rasa cintanya pada al Qur’an dan mulai berinteraksi dg al Qur’an secara mandiri… Allahu a’lam bish showab.

6. Pertanyaan :

Bagaimana caranya agar dalam mendidik anak si anak tidak merasa sebagai objek tunggal tetapi mereka melihat bahwa ortu pun termasuk dalam proyek besar pendidikan dlm keluarga itu sendiri.

Jawaban :
Dalam proses pendidikan keluarga semua anggota keluarga terlibat. Ini yang perlu dihidupkan. Mulai dari yang kecil seperti saling membangunkan pagi, membersihkan rumah hingga yang besar seperti cara mewujudkan keinginan dll. Komunikasi, walaupun sepertinya sederhana tapi ternyata merupakan batu terbesar yang sering sulit dipecahkan dalam proses harmonisasi dalam keluarga. Inilah hal yang sangat perlu dibangun sejak awal. Jangan biarkan siapapun, suami, istri atau anak bahkan ortu kita, bila masih ada, membangun impian atau cita-citanya sendiri. Tak perlu sungkan menceritakan impian kita ke orang terdekat. Maka impian anak pun kita genggam bersama. Katakan padanya, kita jalan bareng yuk menuju ke impianmu.

7. Pertanyaan :
Ustadzah Wulan, dalam mendidik anak di rumah, apa kiat Ustadzah dlm manajemen emosi menghadapi rutinitas bersama anak?

Jawaban :
Manajemen emosi memang butuh jam terbang. Kalau teringat saya dulu sering tidak mampu mengontrol emosi pada anak ketika anak masih kecil dan pemahaman saya yg masih minim, saya merasa malu dan mohon ampun kepada Allah. Itu pun karena minimnya ilmu saya. Alhamdulillah itu tidak berlangsung lama. Kesadaran demi kesadaran Allah berikan dari kejadian-kejadian dalam kehidupan yg membuka mata saya untuk selalu move on. Rasa kesal kadang muncul baik kepada pasangan atau anak adalah hal lumrah. Namun yg membedakan kita dg org lain adalah pada cara mengendalikannya.

Yang pertama yang perlu menjadi kesadaran utama adalah tidak ada manusia sempurna. Begitu juga anak kita. Kesalahan yg dilakukannya atau hal yang tidak menyenangkan bagi kita, bukan pula hal yg diharapkannya. Karena itulah Rasul saw mengatakan bahwa kesabaran itu ada pada pukulan pertama. Ketika masalah itu muncul di hadapan kita, istighfar, bertasbih, mencoba tenang, berpikir positif dan bersikap positif.

📌Yang kedua, ajak anak utk menyelesaikan masalah bersama. Tidak melempar masalah ke pihak lain dan meminta pihak lain menyelesaikannya.

📌Yang ke tiga, utk keluar dr rutinitas yg kadang menjenuhkan kita, buatlah hal-hal yang di luar dari rutinitas kita dan buang pikiran bahwa itu akan membebani kita nantinya. Misal bila kita ingin bersantai di hari ahad, biarlah rumah berantakan, makanan apa adanya, anak-anak tidak mandi dll.. Itu hanya terjadi sehari, dan tidak akan mengubah banyak hal… asal ibadah tetap baik loh…
Allahu a’lam bi showab….

Bismillah… Tidak ada manusia sempurna kecuali Rasulullah saw.. Dalam proses pendidikan keluarga, hanya Allah yang berkehendak menentukan kita akan bagaimana. Semoga Allah mudahkan cita-cita mulia dan langkah-langkah kita… fa idza ‘azamta fa tawakkal ‘alaLlah…

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

SURAT AL-KAFIRUN (Bag-2)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

Pembahasan sebelumnya bisa dilihat tautan di bawah ini..
www.iman-islam.com/2015/12/surat-al-kafirun-bag-1.html?m=1

Penjelasan tentang ayat-ayat Surat Al-Kafirun berikut ini semoga memperkuat motivasi kita semua untuk mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan terus mendalaminya.

AYAT 1

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir”

“Qul” (Katakanlah wahai Rasul-Ku): adalah perintah Allah kepada beliau untuk merespon negosiasi yang dilakukan oleh Al-Walid bin Al-Mughirah dan rekan-rekannya agar Rasulullah mau melakukan kompromi dan pencampuran ibadah. Sebuah respon negatif untuk mereka dan jawaban tegas berupa penolakan.

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa seruan ayat ini berlaku umum untuk semua orang kafir di muka bumi, meskipun seruan saat ayat ini diturunkan ditujukan untuk kafir Quraisy. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/507).

Beberapa ulama tafsir lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-kafirun dalam ayat ini adalah orang-orang kafir yang tetap dalam kekafiran mereka hingga akhir hayat, seperti yang terjadi pada Al-Walid bin Mughirah dan rekan-rekannya yang menjadi sebab turunnya ayat ini. Mereka semua tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggal dalam kekafiran. (Tafsir Al-Qurthubi, Syamsuddin Al-Qurthubi, 20/226; Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 5/619; Nazhm Ad-Durar, Al-Biqa’i, 22/3012; At-Tafsir Al-Munir, Az-Zuhaili, 30/440).

Orang-orang Quraisy di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dinyatakan kafir oleh Allah meskipun mereka mengakui dan menyatakan Allah sebagai pencipta langit dan bumi, dan biasa menyebut kata Allah dalam pembicaraan mereka.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Al-Ankabut: 61).

Hal ini menegaskan bahwa sekadar percaya bahwa Allah adalah Maha Pencipta, apalagi sekadar percaya bahwa alam ini diciptakan tanpa keyakinan yang jelas siapa Penciptanya, maka semua itu tidak cukup untuk dikatakan beriman kepada Allah dengan benar.

Keimanan dan beragama yang benar bagi manusia yang lahir setelah diutusnya Nabi Muhammad adalah dengan beribadah hanya kepada Allah dengan tata cara yang dijelaskan oleh wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui Al-Quran dan Hadits dan membenarkan semua informasi yang bersumber dari keduanya.

Dalam konteks Quraisy, awal kekafiran mereka adalah pengingkaran mereka kepada kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Seruan kepada mereka oleh Rasulullah menggunakan isim fa’il (kata sifat, pelaku) “kafirun” untuk menghinakan mereka dan mengisyaratkan bahwa:

1. Rasulullah tidak pernah takut kepada mereka meskipun beliau memanggil mereka dengan “orang-orang kafir”, sebuah panggilan yang mereka pasti tidak suka. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/581).

2. Bahwa negosiasi yang mereka lakukan adalah upaya pencampuran tauhid dengan syirik tanpa keraguan sedikitpun, dan momen menjawab negosiasi mereka adalah momen ketegasan, sehingga diperlukan bahasa yang tegas tentang al-furqan (garis pemisah) antara iman dengan kafir yang tidak menimbulkan kesan keraguan atau kelemahan.

3. Seruan dakwah Rasulullah menggunakan bahasa yang sesuai situasi dan kondisi, termasuk dalam memanggil objek dakwah. Beliau menggunakan panggilan umum seperti “Ya Ayyuhan-Nas” (wahai manusia), atau panggilan yang mengandung penghormatan misalnya dengan menyebut suku atau kabilah mereka yang terhormat seperti “Ya Ma’syara Quraisy” (Wahai masyarakat Quraisy) atau “Ya Bani ‘Abdi Manaf” (Wahai anak keturunan Abdu Manaf), .. demi maslahat dakwah yang ingin diwujudkan tanpa melanggar larangan.

AYAT 2 sampai dengan 5

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

Beberapa ulama tafsir memaparkan dengan penjelasan yang berbeda. Apakah AYAT 4 adalah sekadar taukid (penguat) bagi AYAT 2, begitu juga AYAT 5 bagi AYAT 3, ataukah ada fungsi dan manfaat lainnya?

PENJELASAN IBNU ‘ASYUR

Ada yang memandang bahwa rangkaian AYAT dari 2 sampai 5 ini memiliki fungsi yang berbeda.

Diantaranya Ibnu ‘Asyur rahimahullah yang menyimpulkan  bahwa:

AYAT 2 menjelaskan situasi MASA DEPAN, bahwa Rasulullah tidak akan menyembah sesembahan mereka DI WAKTU MENDATANG.

Dalilnya adalah:

Dalil bahasa Arab, bahwa huruf nafi/negasi لا (tidak) yang masuk ke dalam fi’il mudhari’ (أعبد) mengandung makna negasi di MASA DEPAN.
Juga dapat disimpulkan dari salah satu riwayat sabab nuzul surat ini bahwa mereka menawarkan untuk lebih dahulu beribadah kepada Allah selama setahun,  baru setelah itu Rasulullah beribadah menyembah berhala mereka DI TAHUN BERIKUTNYA.

Sehingga maknanya menjadi:

“Aku tidak akan (di masa datang) beribadah kepada apa yang kalian ibadahi.”

AYAT 3 mengandung negasi untuk SAAT SEKARANG, bahwa kalian orang-orang kafir tidak menjadi pelaku ibadah kepada Allah SAAT INI.

Dalilnya:

Dalil bahasa:   Negasi atas kalimat yang berbentuk JUMLAH ISMIYAH adalah negasi untuk keadaan SAAT INI. Jumlah ismiyah adalah kalimat yang intinya diawali dengan isim (kata benda), di AYAT 3 ini isimnya adalah dhamir (kata ganti) – أنتم dimana “antum” (kalian) adalah mubtada (kata yang diterangkan), dengan KHABARnya (yang menerangkan) juga ISIM yaitu عابدون.

Juga dapat disimpulkan dari sabab nuzul bahwa mereka siap mulai menyembah Allah SAAT INI dengan syarat tahun berikutnya Rasulullah menyembah berhala mereka.

Maksudnya: kalian wahai tokoh-tokoh Quraisy tidak perlu SAAT INI menjadi pelaku ibadah menyembah Allah jika hal itu kalian lakukan dengan tujuan mencampur adukan keyakinan dan peribadatan, dan supaya tahun depan aku bergantian menyembah berhala kalian. Karena perbuatan itu tidaklah benar.

Sehingga terjemahannya akan menjadi:

“Dan kalian (saat ini) tidak menjadi pelaku ibadah kepada Tuhan yang aku ibadahi.”

AYAT 4 merupakan athaf bagi AYAT 3 (keduanya berkedudukan sejajar, dipisahkan dengan huruf wau) dan sama-sama berbentuk JUMLAH ISMIYAH, sehingga juga mengandung negasi untuk SAAT SEKARANG.

Sehingga maknanya menjadi:

Dan aku (saat ini) tidak menjadi pelaku ibadah kepada apa yang kalian ibadahi.

AYAT  5 merupakan athaf bagi AYAT 4: berfungsi sebagai penegasan perbedaan 180 derajat antara Rasulullah dengan mereka.

AYAT 5 sebagai pengulangan dari AYAT 3: sebagai isyarat bahwa Allah dengan pengetahuan-Nya yang tak dibatasi oleh apapun telah mengetahui bahwa tokoh-tokoh Quraisy yang datang kepada Rasulullah untuk menawarkan negosiasi ini tidak akan pernah sama sekali menyembah Allah sampai akhir hayat mereka. Sekaligus ini menjadi salah satu tanda kenabian atau mu’jizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/581-583).

PENJELASAN ASY-SYAUKANI

Sementara Asy-Syaukani rahimahullah berpendapat bahwa AYAT 4 adalah taukid (penguat) bagi AYAT 2, dan AYAT 5 adalah taukid bagi AYAT 3. Taukid ini bertujuan untuk membuat mereka putus asa dari keinginan agar Rasulullah mau menerima negosiasi mereka.

Beliau juga menjelaskan bahwa kata ما pada keempat ayat tersebut bisa berposisi sebagai “maushulah” (kata sambung) bermakna objek sesembahan atau yang diibadahi, sehingga terjemahan ayat-ayatnyanya kurang lebih sebagai berikut:

“Aku tidak beribadah kepada apa yang kalian ibadahi. Dan kalian bukan pelaku ibadah kepada Tuhan yang aku ibadahi. Dan aku tidak menjadi pelaku ibadah kepada apa yang kalian ibadahi. Dan kalian tidak (pula) menjadi pelaku ibadah kepada Tuhan yang aku ibadahi.”

Atau ما pada keempat ayat tersebut bisa juga sebagai “mashdariyah” (kata benda bentukan dari kata kerja) bermakna ibadah itu sendiri atau tata cara ibadah, sehingga terjemahan ayat-ayatnya kurang lebih sebagai berikut:

“Aku tidak beribadah dengan ibadah yang kalian lakukan. Dan kalian bukan pelaku ibadah dengan ibadah yang aku lakukan. Dan aku tidak menjadi pelaku ibadah dengan ibadah yang kalian lakukan. Dan kalian tidak  (pula) menjadi pelaku ibadah dengan ibadah yang aku lakukan.”
(Fath Al-Qadir, 5/620-621)

PENJELASAN TAMBAHAN

Penjelasan lain yang berbeda sudut pandang namun menambah kekayaan pemahaman kita terhadap surat ini, diantaranya:

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin menyembah apa yang mereka sembah. Hal ini diungkapkan sekaligus dengan dua bentuk kalimat:

Pertama, JUMLAH FI’LIYAH (kalimat yang intinya diawali dengan fi’il (kata kerja) – أعبد) yaitu PADA AYAT 2. Jumlah fi’liyah lebih menunjukkan kesan sewaktu-waktu terjadi, maka ketika ia dinafikan berarti perbuatan yang dinafikan (beribadah kepada berhala) itu tidak akan terjadi meskipun hanya sewaktu-waktu.

Kedua, JUMLAH ISMIYAH  (kalimat yang intinya diawali dengan isim (kata benda), dalam hal ini adalah dhamir (kata ganti) – أنا) yaitu PADA AYAT 4. Jumlah ismiyah ini lebih menunjukkan sifat pelaku yang relatif tetap, maka ketika ia dinafikan berarti sifat yang dinafikan itu secara relatif konsisten tidak terjadi. (Website Multaqa Ahli At-Tafsir, pada link: http://vb.tafsir.net/tafsir6174/#.Vmqwblf43C4)

Penjelasan di atas merupakan isyarat bahwa KONSISTENSI RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam DALAM BERIBADAH KEPADA ALLAH dan menjauhi syirik JAUH LEBIH HEBAT daripada konsistensi orang-orang Quraisy dalam menyembah berhala. Alasannya karena pernyataan tentang orang-orang kafir Allah hanya diungkapkan dengan jumlah ismiyah saja yaitu pada AYAT 3 dan AYAT 5, sementara keadaan Rasulullah diungkapkan dengan jumlah ismiyah dan fi’liyah sekaligus yaitu pada AYAT 2 dan AYAT 4. Dan begitulah hendaknya kita, selalu berupaya sekuat tenaga untuk konsisten beribadah kepada Allah melebihi ibadah orang-orang kafir yang menyembah selain Allah, demi meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (http://vb.tafsir.net/tafsir26247/#.Vmwvvlf43C4).

Ibnu Katsir mengutip pendapat Abu Al-Abbas Ibnu Taimiyah rahimahumallah:

Bahwa jumlah fi’liyah pada AYAT 2 berfungsi sebagai nafyu al-fi’li (menolak kemungkinan perbuatan itu terjadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), sedangkan jumlah ismiyah pada AYAT 3, 4 dan 5 berfungsi sebagai nafyu al-qabul (menolak kemungkinan hal itu diterima oleh syariat). (Tafsir Ibnu Katsir, 8/508).

Perbuatan menyembah berhala oleh orang-orang kafir diungkapkan dengan fi’il madhi (kata kerja yang menunjukkan masa lalu – عبدتم) untuk menunjukkan bahwa penyembahan berhala telah mereka lakukan sejak lama.

Sedangkan ibadah kepada Allah yang dilakukan oleh Rasulullah diungkapkan dengan fi’il mudhari’ (kata kerja yang menunjukkan masa kini – أعبد) merupakan isyarat bahwa sebelum menerima wahyu beliau tidak mengenal iman dan ibadah yang benar, meskipun beliau tidak pernah menyembah berhala. Seperti dinyatakan dalam firman Allah:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura: 52).

Dengan akal sehat dan fitrah yang lurus, mungkin saja seorang manusia sampai pada kesimpulan tentang keesaan Tuhan. Tetapi untuk mengetahui siapa Tuhan sesungguhnya dan bagaimana cara beribadah kepadaNya, manusia tidak akan sampai pada pengenalan dan tata cara beribadah dengan tepat tanpa wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya.

Dr. Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah menjelaskan juga bahwa AYAT 2 dan 3 menegaskan perbedaan al-ma’bud (yang diibadahi), dimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beribadah kepada Allah saja, sedangkan mereka orang-orang kafir menyembah berhala atau sesembahan selain Allah.

Sementara AYAT 3 dan 4  menegaskan perbedaan ibadah itu sendiri, dimana ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ibadah yang murni tanpa kemusyrikan dan tata caranya benar, sedangkan ibadah orang-orang kafir adalah syirik dan batil, sehingga tidak akan pernah keduanya bertemu. (At-Tafsir Al-Munir, 30/441).

AYAT 6

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Mengandung makna:

1. Bahwa semua agama selain Islam adalah satu kesatuan dalam kebatilan, dan hanya Islam yang benar. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/508).

2. Bagi kalian agama kalian yang berisi kemusyrikan, dan bagiku agama tauhid yaitu Islam. (Tafsir Jalalain, hlm 825).

3. Kalian wahai orang-orang yang datang bernegosiasi untuk mencampuradukkan ibadah, bagi kalian agama kalian selamanya, dimana kalian tak akan masuk Islam hingga akhir hayat kalian. Dan bagiku agamaku, dan aku dengan izin Allah tetap istiqamah dalam keislaman. (Ibnu Katsir, 8/508).

4. Bagi kalian balasan amal-amal kalian, dan bagiku balasan amal-amalku. (Tafsir Al-Maraghi, Ahmad bin Mushthafa Al-Maraghi, 30/256). Karena balasan adalah salah satu arti kata ad-din seperti di surat Al-Fatihah ayat 4.

والله أعلم بالصواب

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Tanya Ustadz/Ustadzah: Seputar Keluarga

Dari mba Sumi Ati member A 83

Afwan ustadzah ada yang ingin saya tanyakan.

 Ini dari seorang teman, yang sudah bersuami.  Dia bilang suaminya seringkali selingkuh suka marah-marah dengan ucapan2 kasar, dan kadang dia juga ringan tangan, tidak sholat sehingga merasa sudah tidak tahan lagi menghadapi tingkahnya

Pertanyaan dia, apakah berdosa jika dia meminta untuk cerai /Khuluq.

 Ustadzah…. syukron

Jawaban Ustadzah Indra Asih:

Asalnya seorang wanita dilarang untuk meminta dicerai.

Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda:

أيُّما امرأةٍ سألت زوجَها طلاقاً فِي غَير مَا بَأْسٍ؛ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ

“Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 1928, At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

الْمُخْتَلِعَاتُ وَالْمُنْتَزِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ

“Para wanita yang khulu’ dari suaminya dan melepaskan dirinya dari suaminya, mereka itulah para wanita munafiq” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 632)

Para ulama telah menyebutkan perkara-perkara yang membolehkan seorang wanita meminta khulu’ (pisah) dari suami, di antaranya:

1. Akhlak suami yang buruk terhadap sang istri, seperti suka menghinanya atau suka memukulnya.

2. Agama sang suami yang buruk, seperti sang suami yang terlalu sering melakukan dosa-dosa, seperti minum khomr, berjudi, berzina, atau sering meninggalkan sholat, dll

Bersabar lebih baik

Memang menjadi idaman setiap wanita untuk mendapatkan suami yang shalih, yang lembut, setia, pengertian, bertutur kata halus, berimu, membimbing, bertanggungjawab dan kriteria-kriteria ideal lainnya. Namun harus diingat, saat ini kita hidup di dunia, bukan di surga. Dunia adalah negeri ujian, bukan negeri pembalasan.

Sebaik-baik suami tentu tetaplah ada celah kekurangannya, dan seburuk-buruk suami tentu tetaplah ada sisi kebaikannya.

Setiap kali wanita bertemu dengan kondisi tidak ideal dalam rumah tangga yang menyusahkannya akibat perlakuan suami, maka sebaik-baik sikap adalah Shobr (tabah). Kesusahan yang dihadapi dengan Shobr karena semata-mata ingin memperoleh ridha Allah, akan menghapuskan dosa dan kesalahan seorang hamba.

Bukhari meriwayatkan
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.(H.R.Bukhari)

Terhapusnya dosa bermakna bersihnya diri. Bersihnya diri dan kesucian jiwa akan membuat seorang hamba dicinta Rabbnya. Jika seorang hamba sudah dicintai Rabbnya maka doanya akan didengar, kebutuhannya akan dipenuhi, dilindungi dari marabahaya, dan dibela jika disakiti. Boleh jdi juga dengan kedekatan kepada Allah seorang wanita bisa membuat ‘keajaiban’, yakni menjadi perantara suaminya menjadi orang shalih sebagaimana dirinya.

Wallahu a’lam

Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Asma’ul Husna dan Shifat Al ‘Ulya (bag-2)


Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan SS.

Materi sebelumnya bisa dilihat di tautan berikut ini:

http://www.iman-islam.com/2015/12/sikap-ahlus-sunnah-terhadap-asmaul.html

1. Sikap pertama: Tatsbit (menetapkan apa adanya sesuai zhahir nash) ……

2. Sikap Kedua: Tafwidh

Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah  berkata ketika mengunggulkan madzhab salaf tentang masalah sifat-sifat Allah Ta’ala, mengatakan:

ونحن نعتقد أن رأي السلف من السكوت وتفويض علم هذه المعاني إلى الله تبارك وتعالى أسلم وأولى بالاتباع ، حسما لمادة التأويل والتعطيل ، فإن كنت ممن أسعده الله بطمأنينة الإيمان ، وأثلج صدره ببرد اليقين ، فلا تعدل به بديلا

“Kami meyakini bahwa pendapat salaf yakni diam dan menyerahkan ilmu makna-makna ini kepada Allah Ta’ala adalah lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti, dengan memangkas habis takwil dan ta’thil (pengingkaran), maka jika Anda adalah termasuk orang yang telah Allah bahagiakan dengan ketenangan iman, dan disejukkan dadanya dengan salju embun keyakinan, maka janganlah mencari gantinya (salaf).”
(Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu Ar Rasail, Hal. 368. Al Maktabah At Taufiqiyah)

Sebagian orang ada yang mencela apa yang dikatakan oleh Al Ustadz Hasan Al Banna ini, lantaran mereka begitu ‘memaksakan’ pendapatnya bahwa kaum salaf adalah tatsbit, tidak yang lainnya.

Sebenarnya, jika mereka mau bersabar untuk melihat ke berbagai literatur yang ada, mereka akan temukan bahwa apa yang dikatakan oleh Al Ustadz Hasan Al Banna ini merupakan kesimpulan dan sikap para Imam Ahlus Sunnah sebelumnya. Sehingga tidak perlu sampai keluar celaan untuknya, yang secara tidak langsung hal itu juga celaan untuk para ulama sebelumnya.

Imam Adz Dzahabi Rahimahullah mengatakan bahwa sikap salaf terhadap Bab Sifat-Sifat Allah Ta’ala adalah tafwidh, berikut ucapannya:

فقولنا في ذلك وبابه: الاقرار، والامرار، وتفويض معناه إلى قائله الصادق المعصوم

Adapun pendapat kami tentang itu dan dalam bab ini adalah  mengakui, membiarkan, dan menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada pengucapnya yang benar dan ma’shum (Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lam An Nubala, 8/105)

Begitu pula Imam Al Alusi Rahimahullah, ketika menafsirkan Surat Al An’am ayat  158:

أَوْ يَأْتِىَ بَعْضُ ءايات رَبّكَ

“Atau Kedatangan sebagian ayat Tuhanmu”

Berkata Imam Al Alusi dalam tafsir Ruhul Ma’ani:

وأنت تعلم أن المشهور من مذهب السلف عدم تأويل مثل ذلك بتقدير مضاف ونحوه بل تفويض المراد منه إلى اللطيف الخبير مع الجزم بعدم إرادة الظاهر

“Engkau telah mengetahui, bahwa yang masyhur dari madzhab salaf adalah meniadakan takwil seperti itu, baik dengan cara menambahkan atau lainnya, tetapi (mereka) tafwidh (menyerahkan) maksudnya kepada Al Lathiful Khabir (maksudnya Allah Ta’ala) beserta meyakininya  dengan tanpa memaknainya secara literal.” (Ruhul Ma’ani,  6/80)

Begitu pula ketika menafsiri Al A’raf ayat 54:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Allah bersemayam di atas ‘Arys”
Berkata Imam Al Alusi:

وأنت تعلم أن المشهور من مذهب السلف في مثل ذلك تفويض المراد منه إلى الله تعالى

“Engkau telah mengetahui, bahwa yang masyhur dari madzhab salaf dalam hal seperti ini adalah tafwidh (menyerahkan) maksudnya kepada Allah Ta’ala.” (Ibid, 6/196)

Berkata Imam An Naisaburi dalam tafsirnya ketika menafsiri Al Maidah ayat 64:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ

“Dan orang Yahudi berkata: tangan Allah terbelenggu ..”

وكان طريقة السلف الإيمان بها وأنها من عند الله ثم تفويض معرفتها إلى الله

“Adalah metode kaum salaf mereka mengimaninya, bahwa itu dari sisi Allah, kemudian tafwidh (menyerahkan) pengetahuan tentangnya kepada Allah.” (Tafsir An Naisaburi, 3/186)

Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri Rahimahullah mengatakan tentang makna, ‘Alal ‘Arsyistawa’ , Dia bersemayam di atas ‘arsy:

وَلِقَوْلِهِ : { عَلَى الْعَرْشِ اِسْتَوَى } مِنْ تَفْوِيضِ عِلْمِهِ إِلَيْهِ تَعَالَى وَالْإِمْسَاكِ عَنْ تَأْوِيلِهِ .

“Untuk firmanNya: ‘Ala Al ‘Arsy istawa (Dia bersemayam di atas ‘arsy), termasuk menyerahkan ilmunya kepada Allah Ta’ala, dan menahan diri dari menta’wilnya.” (Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri,Tuhfah Al Ahwadzi Syarh Sunan At Tirmidzi, 8/160)

Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki beliau berkata:

فإِنَّ أحدًا لا يعرفُ كيفيةَ ما أخبر الله به عن نفسه ، ولا يقف على كنه ذاته وصفاته غيره ، وهذا هو الذي يجبُ تفويضُ العلم فيه إِلى الله عزَّ وجلَ

“Maka, sesungguhnya tak ada satu pun manusia yang mengetahui bagaimana caranya, tentang apa-apa yang Allah kabarkan tentang diriNya, dan tidak ada yang mengerti asalNya, DzatNya, SifatNya, selain diriNya, dan yang demikian itulah yang diwajibkan untuk menyerahkan (tafwidh) ilmu tentang hal itu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Mujmal I’tiqad A’immah As Salaf,  Hal. 141)

Demikianlah.
Imam Al Alusi justru mengatakan, tafwidh baik itu tafwidhul murad (menurut istilah Imam Al Alusi ), atau tafwidhul ma’na (menurut istilah Imam Adz Dzahabi), atau tafwidhul ma’rifah (menurut istilah Imam An Naisaburi), atau tafwidhul ‘ilmi (menurut istilah Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki) yang semuanya bermakna sama yakni  menyerahkan maksud/makna/pengetahuan/ilmu tentang sifat-sifat Allah  kepada Allah Ta’ala, ternyata sebagaimana dikatakan Imam Al Alusi- itu adalah madzhab masyhur dari para ulama salaf.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun melakukan tafwidh

Disadari atau tidak, sengaja atau tidak, ternyata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga melakukan tafwidh terhadap sifat-sifat Allah Ta’ala.
Padahal tafwidh adalah pemahaman yang sangat dia benci.

Demikian katanya:

” الْإِيمَانُ بِصِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَسْمَائِهِ ” الَّتِي وَصَفَ بِهَا نَفْسَهُ وَسَمَّى بِهَا نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ وَتَنْزِيلِهِ أَوْ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَيْهَا وَلَا نَقْصٍ مِنْهَا وَلَا تَجَاوُزٍ لَهَا وَلَا تَفْسِيرٍ لَهَا وَلَا تَأْوِيلٍ لَهَا بِمَا يُخَالِفُ ظَاهِرَهَا وَلَا تَشْبِيهٍ لَهَا بِصِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ ؛ وَلَا سِمَاتِ المحدثين بَلْ أَمَرُوهَا كَمَا جَاءَتْ وَرَدُّوا عِلْمَهَا إلَى قَائِلِهَا ؛ وَمَعْنَاهَا إلَى الْمُتَكَلِّمِ بِهَا . وَقَالَ بَعْضُهُمْ – وَيُرْوَى عَنْ الشَّافِعِيِّ – : ” آمَنْت بِمَا جَاءَ عَنْ اللَّهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُرَادِ رَسُولِ اللَّهِ “

“Beriman kepada Sifat Allah Ta’ala dan NamaNya” yang telah Dia sifatkan diriNya sendiri, dan Dia namakan diriNya sendiri, di dalam KitabNya dan wahyuNya, atau atas lisan RasulNya, dengan tanpa penambahan atau pengurangan atasnya, tidak melampauinya, tidak menafsirkannya dengan apa-apa yang menyelisihi zhahirnya, tidak menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk, dan apalagi dengan pembawa berita, tetapi membiarkan sebagaimana datangnya, dan mengembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya.

Sebagian mereka berkata: -diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i- : Aku beriman dengan apa-apa yan datang dari Allah, dan yang datang dari Rasulullah Shllalalhu “Alaihi wa Sallam dengan maksud dari Rasulullah.” (Majmu’  Fatawa, 1/ 294)

Apa yang dikatakannya: “ … dan mengembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya.” Tak lain dan tak bukan adalah tafwidhul ilmi (menyerahkan ilmunya kepada Allah Ta’ala) dan tawidhul ma’na (menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala).

Sungguh, ini sangat jelas persamaannya. Wallahu A’lam.

Sedangkan, kita melihat adanya dua sikap dari Al Ustadz Hasan Al Banna, dia menampakkan bahwa sikap yang benar sebagaimana salaf adalah mengimani dan menetapkan sebagaimana datangnya (tatsbit), dan menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala (tafwidh), tanpa takwil dan ta’thil.

3. Sikap ketiga: Takwil (memberikan makna yang tidak mengotori kesucian Allah Ta’ala)

3. Sikap ketiga: Takwil (memberikan makna yang tidak mengotori kesucian Allah Ta’ala)

Kita akan dapati pula, bahwa sebagian salaf, mulai dari sahabat dan tabi’in juga ada yang melakukan ta’wil terhadap sifat-sifat yang disandarkan kepada Allah Ta’ala. Namun, pada generasi selanjutnya, metode ta’wil inilah yang lebih sering ditempuh oleh para ulama.
Maka boleh kita katakan, ta’wil merupakan madzhab jumhur setelah masa-masa abad-abad pertama Islam.

Ta’wil yang kita bahas di sini, bukanlah ta’wil kaum zindik yang memang telah melakukan penyimpangan terhadap makna-makna sifat Allah Ta’ala.

Sebelum saya paparkan tentang  contoh ta’wil para Imam Ahlus Sunnah, saya akan berikan rambu-rambu ta’wil, dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

Syaikh Utsaimin membagi ta’wil menjadi tiga dalam kitab,  Lum’ah al I’tiqad, Hal. 19 (saya ringkas saja):

1. Dilakukan melalui ijtihad dan niat yang baik. Maka ini dimaafkan.

2. Dilakukan karena hawa nafsu dan fanatisme, dan memiliki argumentasi bahasa Arab, maka pelakunya fasiq, kecuali jika pendapatnya itu terdapat penguarangan atau aib terhadap Allah maka itu bias kufur.

3. Dilakukan karena hawa nafsu dan fanatisme, dan tanpa memiliki argumentasi bahasa Arab. Keloimpok ini kufur, karena pada hakikat nya kedustaan yang tidak berdasar.

Berikut ini beberapa contoh ta’wil yang dilakukan oleh sahabat nabi dan tabi’in ridhwanullah ‘alaihim jami’an, terhadap ayat-ayat sifat

Firman Allah Ta’ala tentang ‘tangan’:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ

“Dan orang Yahudi berkata: tangan Allah terbelenggu ..”

Ayat ini tidak mungkin dipahami sesuai teksnya, sebab membawa makna Allah Ta’ala serupa dengan makhlukNya sendiri yang tangannya terbelenggu.

Oleh karena itu, Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

ليس يعنون بذلك أن يد الله موثقةٌ، ولكنهم يقولون: إنه بخيل أمسك ما عنده، تعالى الله عما يقولون علوًّا كبيًرا.
“Maknanya bukanlah tangan Allah terikat, tetapi mereka mengatakan: Sesungguhnya Allah Ta’ala bakhil, lantaran telah menahan apa-apa yang ada padaNya, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar.”

Sementara Qatadah Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

أما قوله:”يد الله مغلولة”، قالوا: الله بخيل غير جواد!

“Ada pun tentang firmanNya, Tangan Allah Terbelenggu, mereka mengatakan: “Allah itu bakhil tidak dermawan.” (Imam Abu Ja’afar bin Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, 10/452-453)

Imam Ibnu Katsir telah menyebutkan, dari Ibnu Abbas tentang makna ‘terbelenggu’: yakni bakhil. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/146)

Imam Al Baghawi Rahimahullah berkomentar tentang ayat tersebut:

قال ابن عباس وعكرمة والضحاك وقتادة: إن الله تعالى كان قد بسط على اليهود حتى كانوا من أكثر الناس مالا وأخصبهم ناحية فلما عصوا الله في أمر محمد صلى الله عليه وسلم وكذبوا به كف الله عنهم ما بسط عليهم من السعة، فعند ذلك قال فنحاص بن عازوراء: يد الله مغلولة، أي: محبوسة مقبوضة عن الرزق نسبوه إلى البخل، تعالى الله عن ذلك.

“Berkata Ibnu Abbas, Ikrimah, Adh Dhahak, dan Qatadah: “Sesungguhnya Allah Ta’ala begitu lapang terhadap Yahudi sampai-sampai mereka menjadi manusia yang paling banyak hartanya dan kelompok paling makmur di antara mereka. Lalu, ketika mereka mengingkari Allah dalam urusan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mendustakannya, maka Allah Ta’ala menahan buat mereka apa-apa yang dahulu Dia lapangkan, maka saat itulah Finhash bin ‘Azura berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, yaitu dikekang dan dicabut dari rezeki, mereka menyandarkanNya dengan kebakhilan.

Maha Tinggi Allah dari hal itu.” (Imam Al Baghawi, Ma’alim At Tanzil, 3/76)

Ayat lainnya:

قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ

“ Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah..” (QS. Ali Imran (3): 73)

Imam Ibnu Katsir menta’wil ayat ini, katanya:

أي: الأمورُ كلها تحت تصريفه، وهو المعطي المانع، يَمُنّ على من يشاء بالإيمان والعلم والتصور التام، ويضل من يشاء ويُعمي بصره وبصيرته، ويختم على سمعه وقلبه، ويجعل على بصره غشاوة، وله الحجة والحكمة

“Yaitu semua urusan di bawah pengaturanNya. Dialah yang memberi dan menolak. Dia memberikan karunia berupa ilmu, iman, dan seluruh tindakan kepada siapa saja secara sempurna. Serta menyesatkan, membutakan penglihatannya dan mata hatinya, menutup pendengarannya dan hatinya, dan menjadikan pada pandangannya halangan, dan  Dialah yang memiliki hujjah dan hikmah.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/60)

Dalam ayat lain, yang menyebutkan sifat Wajhullah (Wajah Allah), para Imam Ahlus Sunnah pun melakukan ta’wil:

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وهكذا قوله ها هنا: { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ } أي: إلا إياه.

“Demikian juga, firmanNya di sini: “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajahNya”, yaitu kecuali DiriNya” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/261)

Begitu pula Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengatakan, tentang makna ‘Wajah Allah’:

قال: ” إنما نطعمكم لوجه الله ” أي لرضائه وطلب
ثوابه، ومنه قوله صلى الله عليه وسلم: (من بنى مسجدا يبتغي به وجه لله بنى الله له مثله في الجنة).

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian, hanyalah demi wajah Allah.’ Yaitu demi ridhaNya, dan mencari pahalaNya, dari itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa membangun masjid dengan mengharap wajah Allah, maka akan Allah bangunkan baginya yang seumpama itu di surga.” (Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 2/84)

Belau juga mengatakan:

 (ويبقى وجه ربك) أي ويبقى الله، فالوجه عبارة عن وجوده وذاته سبحانه، قال الشاعر: قضى على خلقه المنايا * فكل شئ سواه فاني
وهذا الذي ارتضاه المحققون من علمائنا: ابن فورك وأبو المعالي وغيرهم.
وقال ابن عباس: الوجه عبارة عنه كما قال: (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والاكرام) وقال أبو المعالي: وأما الوجه فالمراد به عند معظم أئمتنا وجود الباري تعالى، وهو الذي ارتضاه شيخنا.

“Dan Yang tersisa hanyalah wajah Rabbmu, yaitu yang tersisa hanyalah Allah, wajah merupakan ibarat (perumpamaan) dari wuudNya dan ZatNya yang Maha Suci.

Berkata seorang penyair:
“Telah ditetapkan atas hambaNya kematian, Segala sesuatu selainNya adalah binasa (fana).”

Inilah yang disetujui para muhaqqiq (peneliti) dari ulama kami, seperti: Ibnu Furak, Abu Al Ma’ali, dan lainnya.

Ibnu Abbas mengatakan: Wajah merupakan ibarat dariNya, sebagaimana frmanNya: “Dan yang tersisa hanyalah wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliann.”

Abul Ma’ali mengatakan: “Ada pun wajah maksudnya adalah menurut imam-imam besar kami adalah wujud Allah Ta’ala, dan itulah yang disetujui oleh guru kami.” (Ibid, 17/165)

Ayat lainnya:

 سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ
 
“Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu Hai manusia dan jin.” (QS. Ar Rahman: 31)

Para ulama salaf pun melakukan ta’wil  atas ayat “kami akan memperhatikan” , sebab jika dipahami secara zhahir makna ‘memperhatikan’ membutuhkan alat penginderaan, dan itu mustahil bagi Allah Ta’ala.

Oleh karena itu Imam Ibnu Jarir berkata tentang ayat tersebut:

وأما تأويله : فإنه وعيد من الله لعباده وتهدد

“Ada pun ta’wilnya adalah ancaman dari Allah dan menakut-nakuti.” Begitu pula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Adh Dhahak. (Jami’ul Bayan, 23/41-42)
Ayat lain:

 وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
  “ ..dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al Hadid (57): 4)

Ayat ini mesti dita’wil, sebab jika tidak, akan bertentangan dengan kalimat yang ada pada ayat itu sendiri bahwa Allah bersemayam di ‘ArysNya.

Oleh karena itu Imam Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya pun yang sangat anti ta’wil, juga menakwil ayat ini.

Ayat ini tidak berarti Allah Ta’ala secara zat ada di setiap tempat kita berada, dan tidak boleh mengartikan demikian.

Kata Imam Ibnu Jarir  takwilnya adalah:

وهو شاهد لكم أيها الناس أينما كنتم يعلمكم، ويعلم أعمالكم، ومتقلبكم ومثواكم، وهو على عرشه فوق سمواته السبع

“Dia menyaksikan kalian, wahai Manusia, dimana saja kalian berada Dia mengetahui kalian, mengetahui perbuatan kalian, lalu lalang kalian, dan di tempat tinggal kalian,dan Dia di atas ‘ArsyNya, di langit yang tujuh.” (Ibid, 23/196)

Demikianlah. Sebenarnya masih sangat banyak ta’wil yang dilakukan para ulama terhadap ayat-ayat sifat, dalam rangka menjaga kesucian sifat-sifatNya dari penakwilan menyimpang manusia.

Sikap ta’wil ini di dukung deretan para Imam kaum muslimin, seperti Imam Al Ghazali, Imam An Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Al Khathabi, Imam Fakruddin Ar Razi, Imam Al Jashash, Imam As Suyuthi, Imam Al Baqillani, Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Imam Izzuddin bin Abdusalam, Imam Abul Faraj bin Al Jauzi, Imam An Nasafi, Imam Al Bulqini, Imam Ar Rafi’i, Imam Al Baidhawi, Imam Al Amidi, Imam Al ‘Iraqi, Imam Ibnu Al ‘Arabi, Imam Al Qurthubi, Imam Al Qadhi ‘Iyadh, Imam Al Qarrafi, Imam Asy Syathibi, Imam Abu Bakar Ath Thurthusi, Imam Syahrustani, Imam Al Maziri, Imam Isfirayini, Imam Dabusi, Imam As Sarakhsi, Imam At Taftazani, Imam Al Bazdawi, Imam Ibnul Hummam, Imam Ibnu Nujaim, Imam Al Karkhi, Imam Al Kasani, Imam As Samarqandi, dan lain-lain.

Mereka inilah yang biasa disebut kaum Asy ‘ariyah. (sebenarnya saya ingin menguraikan satu-persatu bukti sikap mereka, namun ini sudah cukup mewakili)

Jika kita perhatikan, maka jumhur ulama adalah melakukan ta’wil. Namun, para ulama salaf (terdahulu), lebih sedikit melakukan ta’wil.

Ada apa dibalik ini?
Ini bisa terjadi, lantaran Islam dan Al Quran telah menyebar ke seluruh penjuru dunia yang penduduknya bukan berbahasa Arab. Sehingga, jika ayat-ayat dan hadits-hadits sifat ini   dibaca dan difahami secara literal (zhahiriyah), maka bisa menggelincirkan pemahaman orang awam yang tidak bercita rasa bahasa Arab.

Oleh karena itu, bangkitlah para ulama untuk melindungi nash-nash tersebut, dari kemungkinan tafsiran berbahaya orang-orang ‘Ajam (non Arab).

Dari sisi ini, maka sebenarnya antara salaf dan khalaf, memiliki tujuan yang sama dengan sikap mereka itu, yakni menjaga kesucian Al Quran.

Oleh karena itu, walau kita lebih condong kepada pemahaman salaf, tidak selayaknya menjadikan polemik ini sebagai ajang saling pengkafiran sesama umat Islam. sebab, para ulama yang berselisih pun tidak sampai tingkat seperti itu.

Sebab memojokkan kaum Asy’ariyah (para penakwil) dan menuduhnya keluar dari Ahlus Sunnah, sama juga memojokkan nama-nama para Imam kaum muslimin yang telah mendapat posisi penting di hati umumnya kaum muslimin.

Maka, renungkanlah!

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala..

Ustadzah Menjawab: Seputar Shalat

Oleh: Ustz Aan Rohana

Pertanyaan

1. Jika kita shalat sebelum azan dgn jeda waktu tdk terlalu lama krn di daerah tsb jauh dr masjid/ musholla ternyata pas kita shalat baru terdengar sayup2 azan, apakah kita hrs mengulang shalat kita lg atau tdk?

2. Mengenai qorin, sy pernah baca tp sy lupa dimana krn sdh lama skli klo qorin itu afa yg baik ada yg jahat… Tapi saat ini saya baca lagi qorin itu jahat smua kec qorinnya nabi muhammad SAW.

3. Bagaimana cara kita mhadirkan hati pd saat shalat krn seringkali kita sdh berusaha khusyu’ tp sering ada lintasan2 pikiran yg muncul

Jzklh khair ust/ ustz atas penjelasannya

Jawaban:

Jika shalat dilakukan sudah masuk waktunya. Maka shalatnya sah sekalipun belum terdengar adzan. Karena yg menjadi syarat sahnya shalat adalah sudah masuk waktunya.
Sdgk adzan itu utk panggilan shalat.

Adzan juga menjadi isyarat sudah masuk waktu shalat, namun tdk semua sang muadzdzin adzan di awal waktu shalat terkadang ada yg tertunda bbrp menit.

2. Mengenai qorin , iya semua Qarin mengajak manusia kepada keburukan, kecuali hanya Qarin yg mendampingi Rasulullah SAW selalu mengajak pada kebaikan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah kpd Aisyah rodiyallahu anha.

3. Cara mrnghadirkan khusyuk dlm shalat , adalah;

a. Menyiapkan dan mengkondisikan jiwa  utk shalat .
b. Konsentrasikan fikiran agar bisa fokus kepada bacaan dan gerakan shalat.
c. Memahami makna semua bacaan dan gerakan shalat.
d. Menghindari dari hal2 yg mengganggu kekhusyuan shalat.
e. Banyak berdoa kpd Allah agar diberikan kekhudyuan dlm shalat.
f. Merasakan diri yg hina sedang berhadapan dgn
 Allah yang Maha agung .

Wallahu a’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ustadz Menjawab: Seputar Muamalat

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc. M.Ag.

Pertanyaan:

1. Afwan ust, kalau petugas insenminasi buatan atau ib bgm? Petani biasanya bayar biaya ib.

2. Manis30 Tulus: Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Afwan Ustad ”..mau nanya?…bagaimana tetang hukum Sperma Laki-laki yang katanya bisa di tanam ke Rahim Wanita, dari Sperma yang bukan Suaminya?”..apa istilah bayi Tabung itu Ustd?”…Jazaakallahkhair,Mohon Pencerahanya.Wassalamu alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

3. Ustadz, terkait dengan jual beli sperma,, bagaimana hukumnya bagi orang yang bekerja sebagai perantaranya..,misal rekan kami yang bekerja di dinas peternakan, salah satu kegiatan rutin mereka yaitu melakukan IB (inseminasi buatan) pada lembu, dengan memasukkan sperma unggul dari lembu lain yang merupakan benih unggul yang diperjual belikan kepada indukan. Mohon tanggapannya. Terima kasih
Abu faruqi i33

4. MANIS A55
Bgmn hukum ensiminasi buatan? Karena sekarang ini kan lagi trend, mau pilih bibit yg seperti apa silahkan saja dgn harga yg berbeda?

5. Bgmn hukum upah bg mantri/ dokter hewan yg mengkawinkan sapi dengan ensiminasi buatan?
Sangat penting info ini bg sy..krn ada sapi yg sy pelihara dg cara ini.

Jazakumullah

6. Jadi program “setetes mani sejuta harapan” yg merpkn program pemerintah mll bid pwternakan berupa peningkatan kualitas n kuantitas ternak dg inseminasi buatan ato kawin IB “tak sesuai syariah”?
Suryanto I28

Jawaban Ust Rikza:

 Wa’alaikumsalam wbr

1. Inseminasi buatan, apabika kadar mani pejantannya sdh ada, disimpan dan diproses dengan menggunakan tatacara tertentu yg bukan merupakan cara kawin alami hewan, adalah boleh, namun dengan syarat ;

1. Kadar kuantitas dan kualitasnya dapat diukur dengan jelas.
2. Proses suntik atau memasukkan mani pejantan yg sudah diproses adalah dengan cara khusus yang bukan merupakan kawin alami.
Apabila persyaratan tersebut sdh dilaksanakan, maka hukumnya boleh.

Adapun tidak boleh nya upah kawin pejantan secara alami adalah karena objek akadnya tidak jelas dan tidak diketahui serta tidak ada ukurannya secara jelas, sehingga menimbulkan gharar. Dan transaksi yg mengandung gharar adalah dilarang secara syariah.
Wallahu A’lam

2. Dalam kasus bayi tabung para ulama sepakat hukumnya boleh apabila sperma yg dimasukkan ke dalam rahim istri adalah bersumber dari sperma suami.

Apabila bukan berasal dari suaminya, maka hukumnya haram.
Wallahu A’lam

3. Petugas inseminasi buatan hukumnya boleh saja, karena hukum inseminasi nya juga boleh.

Yg tdk diperbolehkan adalah upah kawin pejantan karena mentransaksikan sesuatu yg tidak jelas keberadaan yaitu mani pejantan. Keberadaan bisa ada atau tidak ada.

Ukurannya juga tdk jelas dan cara memperoleh nya juga spekulasi bisa wujud atau tidak.
Wallahu A’lam

4, 5 & 6
 Inseminasi buatan, apabika kadar mani pejantannya sdh ada, disimpan dan diproses dengan menggunakan tatacara tertentu yg bukan merupakan cara kawin alami hewan, adalah boleh, namun dengan syarat ;

1. Kadar kuantitas dan kualitasnya dapat diukur dengan jelas.

2. Proses suntik atau memasukkan mani pejantan yg sudah diproses adalah dengan cara khusus yang bukan merupakan kawin alami.

Apabila persyaratan tersebut sdh dilaksanakan, maka hukumnya boleh.

Adapun tidak boleh nya upah kawin pejantan secara alami adalah karena objek akadnya tidak jelas dan tidak diketahui serta tidak ada ukurannya secara jelas, sehingga menimbulkan gharar.

Dan transaksi yg mengandung gharar adalah dilarang secara syariah.
Kalaupun harga bibit atau mani pejantannya berbeda tergantung kualitas nya, maka tetap boleh, selama mani tersebut sdh wujud adanya dan bukan masih berada dalam tubuh pejantan nya.

Wallahu A’lam

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…