AIR

Ustadzah Nurdiana

Assalamualaikum Ustadz/ah ..saya mau tanya ๐Ÿ™
Air Dua Kolah adalah air yang apabila kejatuhan benda najis tidak menjadi najis seperti kejatuhan kotoran tikus dll
Adapun ukuran kolah adalah PxL=T (60x60x60)cm atau dgn vol air sebanyak -+ 216 L
Jika kurang dri ukuran tsb maka di hukumi air sedikit.

Ada 3 Kolah Air dg ukuran 60x60x60 cm dg vol air tidak lebih dari 216 ltr
Masing2 Kolah kedatangan anjing = Anjing pertama meminum air karena kehausan
(anjing) keduq mendatangi kolah dan menjeburkan diri karena kepanasan.

(anjing) ketiga datang kemudian kencing di kolah tsb.

Bagaimanakah hukum dari pada masing2 ke 3 Kolah tsb?
Apakah berubah menjadi Najis atau tidak ? # A41

Jawaban
————–

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
2 Qullah Adalah Ketetapan Hadits Nabawi
Ukuran jumlah air 2 qullah sesungguhnya bersumber dari hadits nabawi berikut ini:

ูˆุนูŽู†ู’ ุนูŽุจุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุจู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู…ูŽุขุกู ู‚ูู„ู‘ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุญู…ูู„ู ุงู„ุฎูŽุจูŽุซูŽุŒ ูˆููŠ ู„ูŽูู’ุธู: ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู†ู’ุฌูุณู’ุŒ ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุงู„ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉูุŒ ูˆูŽุตูŽุญู‘ูŽุญูŽู‡ู ุงุจู’ู†ู ุฎูุฒูŽูŠู’ู…ูŽุฉูŽ ูˆุงู„ุญุงูƒู…ู ูˆุงุจู’ู†ู ุญูุจู‘ูŽุงู†ูŽ.

Dari Abdullah bin Umar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Apabila jumlah air mencapai 2 qullah, tidak membawa kotoran. Dalam lafadz lainnya, Tidak membuat najis.

Ibnu Khuzaemah, Al-Hakim dan Ibnu HIbban menshahihkan hadits ini. Sehingga ketentuan air harus berjumlah 2 qullah bukan semata-mata ijtihad para ulama saja, melainkan datang dari ketetapan Rasulullah SAW sendiri lewat haditsnya.

Berapakah Ukuran 2 Qullah?

Istilah qullah adalah ukuran volume air yang digunakan di masa Rasulullah SAW masih hidup.
Bahkan 2 abad sesudahnya, para ulama fiqih di Baghdad dan di Mesir pun sudah tidak lagi menggunakan skala ukuran qullah. Mereka menggunakan ukuran rithl yang sering diterjemahkan dengan istilah kati. Sayangnya, ukuran rithl ini pun tidak standar, bahkan untuk beberapa negeri Islam sendiri. Satu rithl air buat orang Baghdad ternyata berbeda dengan ukuran satu rithl air buat orang Mesir. Walhasil, ukuran ini agak menyulitkan juga sebenarnya.

Dalam banyak kitab fiqih disebutkan bahwa ukuran volume 2 qulah itu adalah 500 rithl Baghdad. Tapi kalau diukur oleh orang Mesir, jumlahnya tidak seperti itu. Orang Mesir mengukur 2 qullah dengan ukuran rithl mereka dan ternyata jumlahnya hanya 446 3/7 Rithl.
Ditempat lain lagi, orang-orang di Syam mengukurnya dengan menggunakan ukuran mereka yang namanya rithl juga, jumlahnya hanya 81 rithl. Namun demikian, mereka semua sepakat volume 2 qullah itu sama, yang menyebabkan berbeda karena volume 1 rithl Baghdad berbeda dengan volume 1 rithl Mesir dan volume 1 rithl Syam.

Lalu sebenarnya berapa ukuran volume 2 qullah dalam ukuran standar besaran international di masa sekarang ini?

Para ulama kontemporer kemudian mencoba mengukurnya dengan besaran zaman sekarang. Dan ternyata dalam ukuran masa kini kira-kira sejumlah 270 liter. Demikian disebutkan oleh Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu.

Jadi bila air dalam suatu wadah jumlahnya kurang dari 270 liter, lalu digunakan untuk berwudhu, mandi janabah atau kemasukan air yang sudah dipakai maka ia dihukumi air mustamal

JAWABAN
1. Bila anjing itu hanya meminumnya maka untuk air 2 qullah atau lebih maka hukum airnya tetap suci, hal ini berdasarkan hadits yang
Diriwayatkan bahwa Rasul saw. dalam perjalanan antara Mekah dan Madinah dan menemukan kolam air kecil. Umar r.a. kemudian berkata:

โ€œwahai pemilik kolam, apakah hewan [pemakan daging] meminum dari kolammu?โ€ Kemudian Rasul saw. berkata: โ€œWahai pemilik kolam, tidaklah usah engkau beritahukan kepada kami, Umar ini berlaku berlebihan, sebab hewan [pemakan daging] punya hak untuk meminum sebagaimana air yang telah diminum, sedangkan boleh dan suci bagi kami untuk minum sisa air mereka dari kolam iniโ€.

Dan berdasar riwayat-riwayat lain dikisahkan bahwa anjing-anjing dan hewan pemakan daging lainnya meminum dari kolam tersebut.

Berdasar hadist tersebut, maka tampaklah bahwa Rasul saw. menyiratkan bahwa air dari kolam tersebut tidaklah terkena najis karena anjing yang meminum darinya.

2. Menceburkan diri karena kepanasan, bila airnya dalam jumlah sangat banyak seperti air sungai atau laut tidak masalah tapi bila airnya kurang dari 2 qullah maka dihukumi najis

3. Bila kemudian anjing itu kencing dan mampu merubah warna ,rasa dan bau maka hukum airnya najis

Dari Abu Umamah Al Bahiliy, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกูŽ ู„ุงูŽ ูŠูู†ูŽุฌู‘ูุณูู‡ู ุดูŽู‰ู’ุกูŒ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู…ูŽุง ุบูŽู„ูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑููŠุญูู‡ู ูˆูŽุทูŽุนู’ู…ูู‡ู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ู†ูู‡ู

โ€œSesungguhnya air tidaklah dinajiskan oleh sesuatu pun selain yang mempengaruhi bau, rasa, dan warnanya.โ€

Tambahan โ€œselain yang mempengaruhi bau, rasa, dan warnanyaโ€ adalah tambahan yang dhoโ€™if. Namun, An Nawawi mengatakan, โ€œPara ulama telah sepakat untuk berhukum dengan tambahan ini.โ€ Ibnul Mundzir mengatakan, โ€œPara ulama telah sepakat bahwa air yang sedikit maupun banyak jika terkena najis dan berubah rasa, warna dan baunya, maka itu adalah air yang najis.โ€ Ibnul Mulaqqin mengatakan, โ€œTiga pengecualian dalam hadits Abu Umamah di atas tambahan yang dhoโ€™if (lemah). Yang menjadi hujah (argumen) pada saat ini adalah ijmaโ€™ (kesepakatan kaum muslimin) sebagaimana dikatakan oleh Asy Syafiโ€™i, Al Baihaqi, dll.โ€ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, โ€œSesuatu yang telah disepakati oleh kaum muslimin, maka itu pasti terdapat nashnya (dalil tegasnya). Kami tidak mengetahui terdapat satu masalah yang telah mereka sepakati, namun tidak ada nashnya.โ€

Intinya, air ini (air najis) tidak boleh digunakan untuk berwudhu.

Wallahu a’lam.

Hukum Ikhtilath

Ustadz Abdullah Haidir, Lc

Assalamualaikum ustadz/ah….Bagaimanakah hukum ikhtilath itu karena di dalam mengerjakan suatu pekerjaan perlu adanya sebuah kelompok kerja? Apakah istilah ikhtilath itu juga bersumber pada Alqur’an dan Al hadist? Maaf saya blm tahu . # A 43

Jawaban:
—————-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Terkait dgn ikhtilath, pada dasarnya jika tidak ada kepentingan mendesak dan dapat dilakukan, maka tidak perlu ada interaksi laki perempuan yang bukan mahram dalam satu tempat. Namun, jika ada kebutuhan, tidak mengapa berinteraksi sebatas kebutuhan yang ada. Yang penting tetap dijaga adab-adabnya, seperti tidak saling memandangi, bersentuhan, atau khalwat, berduaan di tempat sepi.

Berdasarkan nash tidak ada secara khusus istilah tersebut. Yang ada dalam hadits adalah istilah khalwat. Umumnya para ulama menyebut masalah ikhtilath ini dari beberapa hadits yang memiliki makna larangan berkumpul-kumpul laki-laki dan wanita, seperti hadit terkenal:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุฏู‘ูุฎููˆู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ูˆูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ูˆู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian masuk ke dalam tempat kaum wanita.” Lalu seorang laki-laki dari Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” beliau menjawab: “Ipar adalah maut.” (HR. Bukhari)

Wallahu Aโ€™lam

Muslimah Berpergian Sendirian

Ustadzah Nurdiana

Assalamualaikum, kakak afwan bolehkan bertanya sesuatu…akhwat tidak boleh berpergian sendiri?
apakah itu benar? kalau bepergiannya tanpa memakan waktu lama atau tidak sambil menginap apakah boleh? Member A 44 ๐Ÿ˜Š

Jawaban :

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Idealnya memang setiap keluar rumah di temani mahram khususnya bepergian jauh.
Yang harus kita pahami bahwa aturan yang Allah turunkan adalah merupakan bentuk kasih sayang Allah dalam menjaga hambanya . Apabila seorang perempuan tidak punya keperluan keluar rumah maka Allah berfirman:

{ูˆูŽู‚ูŽุฑู’ู†ูŽ ูููŠ ุจููŠููˆุชููƒูู†ูŽู‘} [ุงู„ุฃุญุฒุงุจ: 33]

โ€œDan hendaklah kamu tetap di rumahmuโ€. [Al-Ahzab: 33]

Dari Abdullah bin Masโ€™ud; Rasulullah sallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:

ุฅู† ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุนูˆุฑุฉ ูุฅุฐุง ุฎุฑุฌุช ุงุณุชุดุฑูู‡ุง ุงู„ุดูŠุทุงู† ุŒ ูˆุฃู‚ุฑุจ ู…ุง ุชูƒูˆู† ู…ู† ูˆุฌู‡ ุฑุจู‡ุง ูˆ ู‡ูŠ ููŠ ู‚ุนุฑ ุจูŠุชู‡ุง [ุตุญูŠุญ ุงุจู† ุฎุฒูŠู…ุฉ]

โ€œSesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka jika ia keluar rumah setan akan memuliakannya, dan tempat yang paling dekat bagi wanita dari wajah Tuhannya adalah ketika ia di dalam rumahnya.โ€ [Sahih Ibnu Khuzaimah]

Ummu Humaid istri Abu Humaid As-Saโ€™idy mendatangi Rasulullah sallallahu โ€˜alaihi wasallam dan berkata: Ya Rasulullah sesungguhnya aku suka jika salat bersamamu. Rasulullah sallallahu โ€˜alaihi wasallam menjawab:

ู‚ูŽุฏู’ ุนูŽู„ูู…ู’ุชู ุฃูŽู†ูŽู‘ูƒู ุชูุญูุจูู‘ูŠู†ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉูŽ ู…ูŽุนููŠุŒ ูˆูŽุตูŽู„ูŽุงุชููƒู ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชููƒู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒู ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุชููƒู ูููŠ ุญูุฌู’ุฑูŽุชููƒูุŒ ูˆูŽุตูŽู„ูŽุงุชููƒู ูููŠ ุญูุฌู’ุฑูŽุชููƒู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุชููƒู ูููŠ ุฏูŽุงุฑููƒูุŒ ูˆูŽุตูŽู„ูŽุงุชููƒู ูููŠ ุฏูŽุงุฑููƒู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒู ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุชููƒู ูููŠ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ู‚ูŽูˆู’ู…ููƒูุŒ ูˆูŽุตูŽู„ูŽุงุชููƒู ูููŠ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ู‚ูŽูˆู’ู…ููƒู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒู ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุชููƒู ูููŠ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏููŠ

โ€œAku sudah tau kalau engkau suka shalat bersamaku, akan tetapi shalat di kamarmu lebih baik dari pada di luar kamar, dan di luar kamar lebih baik daripada di luar rumah, dan di luar rumah lebih baik daripada di mesjid kaummu, dan di mesjid kaummu lebih baik daripada di mesjidku.โ€ [Musnad Ahmad: Hadits hasan]

Akan tetapi jika ada keperluan mendesak yang mengharuskan seorang muslimah untuk keluar rumah, maka ia boleh keluar dengan memperhatikan aturan yang telah ditetapkan syariโ€™at.
Dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:

ู„ูŽุง ุชูŽู…ู’ู†ูŽุนููˆุง ุฅูู…ูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ู„ููŠูŽุฎู’ุฑูุฌู’ู†ูŽ ูˆูŽู‡ูู†ูŽู‘ ุชูŽููู„ูŽุงุชูŒ [ุณู†ู† ุฃุจูŠ ุฏุงูˆุฏ: ุตุญุญู‡ ุงู„ุฃู„ุจุงู†ูŠ]

โ€œJangan kalian melarang hamba Allah (wanita) pergi ke mesjid, akan tetapi hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian.โ€ [Sunan Abu Daud: Sahih]

Aisyah radiyallahu โ€˜anha berkata:

ู„ูŽูˆู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฑูŽุฃูŽู‰ ู…ูŽุง ุฃูŽุญู’ุฏูŽุซูŽ ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกู ู„ูŽู…ูŽู†ูŽุนูŽู‡ูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ู…ูู†ูุนูŽุชู’ ู†ูุณูŽุงุกู ุจูŽู†ููŠ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ [ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠู ูˆู…ุณู„ู…]

“Seandainya Rasulullah melihat apa yang diperbuat wanita jaman sekarang maka ia akan melarang mereka pergi ke mesjid sebagaimana wanita bani Israil dilarang.” [Sahih Bukhari dan Muslim]

Ada beberapa kewajiban yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang harus dipatuhi oleh seorang wanita ketika keluar rumah. Diantaranya:
Keluar seizin walinya (suami, ayah, saudara laki2 yang baligh, atau paman).

Sebagaimana hadits Abu Hurairah di atas: โ€œJangan kalian melarang hamba Allah (wanita) pergi ke mesjidโ€. Kalau seandainya perempuan boleh keluar rumah tampa seizin walinya maka tidak perlu Rasulullah memberi peringatan tersebut. Wallahu aโ€™lam !

Dengan aturan yang Allah buat tidak membuat perempuan tidak produktiv atau jumud. Buktinya di zaman Rasul dan zaman keemasan Islam banyak tinta emas sejarah yang di toreh oleh sahabiat dan sejak awal dakwah Islam Rasul selalu melibatkan dan memberi ruang untuk sahabiat berkontribusi.siapa orang yang pertama beriman? Ibunda khodijah ra. Siapa yang syahid pertama dari kaum muslimin? Seorang perempuan ” Sumayah”. Siapa penyuplai logistik saat Rasul akan hijrah? Dialah Asma binti abu bakar. Dan masih banyak lg wanita- wanita hebat bahkan ada wanita yang ikut berjuang dan jadi pembela Rasul saat perang uhud .

Kesimpulannya:
Didalam konsep ajaran Islam , Islam memberi ruang dan gerak untuk perempuan dengan aturan yang indah yang membuat perempuan terlindungi dan terjaga.

Wa Allahu Alam bisshawab

Hukum Vaksinasi

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Ustadz mau tanya diluar pembahasan diatas, terkait dengan vaksinasi/imunisasi utk bayi,bgmna hukumnya menurut syari’at islam? Mohon penjelasannya ust,..syukran (# i44)

Jawaban
—————

ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู
Ada dua pendapat dalam masalah ini:

1.       Mengharamkan
Jika terbukti ada unsur2 yang diharamkan, seperti Babi, baik minyak, daging, atau apa saja darinya. Dalilnya jelas yaitu keharaman Babi itu sendiri, dan  kaidah fiqih yang berbunyi:

ุฅุฐูŽุง ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุญูŽู„ูŽุงู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ุบูŽู„ูŽุจูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู

โ€œJika Halal dan haram bercampur maka yang haramlah yang menang (dominan).โ€

Kaidah ini berasal dari riwayat mauquf dari Ibnu Masโ€™d sebagai berikut:

ู…ูŽุง ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุญูŽู„ูŽุงู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ุฅู„ู‘ูŽุง ุบูŽู„ูŽุจูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ุงู„ู’ุญูŽู„ูŽุงู„ูŽ

โ€œTidakah halal dan haram bercampur melainkan yang haram akan mengalahkan yang halal.โ€

Imam As Suyuti Rahimahullah mengomentari riwayat ini, katanya:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุงููุธู ุฃูŽุจููˆ ุงู„ู’ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ุนูุฑูŽุงู‚ููŠู‘ู : ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุตู’ู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุณู‘ูุจู’ูƒููŠู‘ู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุดู’ุจูŽุงู‡ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุธูŽุงุฆูุฑู ู†ูŽู‚ู’ู„ู‹ุง ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ู‡ูŽู‚ููŠู‘ : ู‡ููˆูŽ ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุฌูŽุงุจูุฑูŒ ุงู„ู’ุฌูุนู’ูููŠู‘ูุŒ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุถูŽุนููŠููŒ ุŒ ุนูŽู†ู’ ุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุจููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆุฏู ุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูู†ู’ู‚ูŽุทูุนูŒ . ู‚ูู„ู’ุช : ูˆูŽุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู‚ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุฒู‘ูŽุงู‚ู ูููŠ ู…ูุตูŽู†ู‘ูŽููู‡ู . ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽูˆู’ู‚ููˆููŒุนูŽู„ูŽู‰ ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆุฏู ู„ูŽุง ู…ูŽุฑู’ูููˆุนูŒ . ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุงู„ุณู‘ูุจู’ูƒููŠู‘ : ุบูŽูŠู’ุฑู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุงุนูุฏูŽุฉูŽ ูููŠ ู†ูŽูู’ุณูู‡ูŽุง ุตูŽุญููŠุญูŽุฉูŒ .

Berkata Al Hafizh Abul Fadhl Al โ€˜Iraqi: โ€œTidak ada asalnya.โ€ As Subki berkata dalam Al Asybah wan Nazhair, mengutip dari Al Baihaqi: ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir Al Juโ€™fi, seorang yang dhaif, dari Asy Syaโ€™bi, dari Ibnu Masโ€™ud, dan hadits ini munqathiโ€™ (terputus). Aku (As Suyuthi) berkata: Abdurrazzaq dalamMushannaf-nya, telah mengeluarkannya dengan jalan ini. Itu adalah riwayat mauquf(terhenti) pada ucapan Ibnu Masโ€™ud, bukan marfuโ€™(Sampai kepada Rasulullah). Kemudian, berkata Ibnu As Subki: โ€ โ€œNamun, sesungguhnya kaidahnya sendiri,  yang ada pada hadits ini adalah shahih (benar). (Al Asybah wan Nazhair, 1/194)

Inilah yang dipilih oleh MUI kita, kalau pun mereka membolehkan karena dharurat saja, yaitu dalam keadaan memang tidak ada penggantinya yang halal, atau dalam konteks haji, hanya dibolehkan untuk haji yang wajib bukan haji sunah (haji kedua, ketiga, dst).

2.       Membolehkan.
Ini pendapat dari segolongan Hanafiyah, seperti Imam Abu Jaโ€™far Ath Thahawi. Nampaknya ini juga diikuti oleh ulama kerajaan Arab Saudi.

Alasannya adalah karena ketika sudah menjadi vaksin, maka itu sudah menjadi wujud baru, tidak lagi dikatakan campuran. Sedangkan fiqih melihat pada wujud baru, bukan pada wujud sebelumnya. Dahulu ada sahabat Nabi ๏ทบ yang membuat cuka berasal dari nabidz anggur (wine). Ini menunjukkan bahwa benda haram, ketika sudah berubah baik karena proses alami atau kimiawi, maka tidak apa-apa dimanfaatkan ketika sudah menjadi wujud baru. Dianggap, unsur haramnya telah lenyap. Hal ini bagi mereka juga berlaku untuk alat-alat kosmetik dan semisalnya. Ini juga yang dipegang oleh Syaikh Al Qaradhawi Hafizhahullah.

Dari kedua pendapat ini, pendapat pertama nampak lebih hati-hati. Di sisi lain, tidaklah apple to apple menyamakan unsur Babi dalam vaksin dengan wine yang menjadi cuka. Sebab, wine berasal dari buah anggur yang halal, artinya memang sebelumna adalah benda halal. Beda dengan Babi, sejak awalnya memang sudah haram.

 Pembolehan hanya jika terpaksa, belum ada gantinya yang setara, dan terbukti memang vaksin itu penting, dan pada haji pertama. Kalau ada cara lain, atau zat lain yang bisa menggantikan vaksin tersebut maka itulah yang kita pakai. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi ilmuwan muslim untuk menemukannya.

Wallahu Aโ€™lam

Berniaga Dengan Non Muslim

Ustadz Oni Syahroni

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Afwan ustadz wa ustadzah.. saya mau bertanya, jika seorang muslim berdagang.. ketika ada pembeli yang non muslim membeli dagangan kita,, boleh tidak? Dan status uangnya itu bagaimana ustadz?? Halalkah atau bagaimana.. mohon penjelasan beserta dalilnya ustadz..syukron ๐Ÿ™
# A 42

Jawaban
————–

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Dalam fikih, tidak ada larangan bagi setiap pihak dalam transaksi bisnis untuk membeli atau menjual komoditasnya kepada non-muslim selama dipastikan bahwa komoditas yang dijual atau keuntungan yang didapatkan oleh penjual non-muslim tidak diperuntukkan untuk hal yang maksiat atau mendzalimi masyarakat atau umat islam.

Kebolehan tersebut sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw yang pernah bermuamalah dengan non-muslim, dimana beliau membeli secara tidak tunai dari seorang yahudi, sebagai jaminannya adalah baju besinya.

Sesusai hadits dari ‘Aisyah r.a yang menyampaikan bahwa:

ุงุดุชุฑู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ูŠู‡ูˆุฏูŠ ุทุนุงู…ุง ุจู†ุณูŠุกุฉุŒ ูุงุนุทุงู‡ ุฏุฑุนุง ู„ู‡ ุฑู‡ู†ุง (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…).

Di samping itu dalam rukun dan syarat akad, tidak disyaratkan bahwa pihak-pihak yang menjadi mitra bisnis kita harus muslim. Oleh karena itu dalam syarat-syarat atau kriteria pihak-pihak akad atau ‘aqid yang ada hanya baligh, berakal, dan rasyid, dan tidak ada syarat agama atau harus muslim.

Kaidah ini juga sesuai dengan aspek maslahat yang menuntut transaksi atau muamalah itu dilakukan terhadap muslim dan non-muslim, karena tidak setiap komoditas yang kita butuhkan bisa kita dapatkan pada umat islam. Apalagi saat ini, dimana banyak sekali kebutuhan-kebutuhan seperti alat kesehatan dan sebagainya yang hanya bisa kita dapatkan atau bisa kita beli dari non-muslim.

Dari aspek fikih aulawiyat atau fikih prioritas, selama pilihan yang boleh atau bertransaksi dengan non-muslim itu tidak hanya satu, maka kita memilih pilihan yang paling ashlah (yang paling maslahat). Begitupula jika pilihannya adalah muslim dan non-muslim, maka kita memilih bermitra dengan sesama muslim, juga apabila pilihannya sesama muslim maka kita memilih pilihan muslim yang paling bermanfaat untuk umat islam.

Wallahu a’lam.

Seputar Warisan

Ustadz Slamet Setiawan

Assalamualaikum ustadz/ah..Begini kondisinya saat ini ada seorang ibu yang mempunyai 4 orang anak laki2 dan 1 orang perempuan… Saat ini beliau sudah dlm kondisi tidak sehat lagi…
Pertanyaan :
1. Anak laki2 nya tdk ada satupun yang mau mengurus beliau setiap harinya (kondisi beliau sudah tdk bs bangun dr tempat tidur) selama 4 bulan ini diurus oleh anak perempuannya.. Namun lama kelamaan karena urusan ngurus anak dan rumah serta urusan biologis sang suami dirumah jd agak terbengkalai alhasil suami sang istri ini jadi keberatan jika ortu sang istri kelamaan diurus dirumah sang istri krn kan ada anak laki2nya yang lain… Nah dlm hal ini bagaimana kewajiban dlm mengurus sang ibu ini ya?

2. C ibu meminta untuk rumah beliau dijual dan dibagi rata kepada 5 orang anaknya (4 orang laki2 dan 1 org perempuan) nah nanti pembagian ini termasuk kategori hibah atau warisan? Apa boleh dibagi rata, apa ada hitungan pembagian lain?

3. Jika ada harta warisan dr org tua yang mempunyai 2 orang anak (1 laki2 dan 1 perempuan) namun anak perempuannya ini sudah meninggal… Apa jatah warisannya bisa diberikan ke anak2 dari anak perempuannya tersebut?

Mohon maaf atas borongan pertanyaannya… Mudah2an bisa segera mendapatkan jawabannya

Pertanyaan ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ

Jawaban
—————

ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡
Pertama,
Rasulullah ๏ทบ bersabda:

“Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?โ€ Rasulullah menjawab, โ€œSuaminyaโ€ (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, โ€Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?โ€ Rasulullah menjawab, โ€œIbunyaโ€ (HR. Muslim).

Hadits di atas menjelaskan bahwa seorang anak laki-laki adalah milik ibunya, artinya sang anak bertanggung jawab atas ibunya, merawat dan menjaganya.

Akan tetapi pada kasus di atas anak laki-laki enggan merawat ibunya, maka solusinya adalah lakukan musyawarah dengan semua anaknya, kemudian bicarakan dengan baik. Jika tetap tidak ada anak laki-lakinya yang mau merawat, maka kewajiban anda sebagai anak perempuannya untuk merawat.

Masalah suami yang tidak mengijinkan, ini hanya masalah komunikasi yang kurang baik antara anda dan suami. Mungkin ada sikap anda yang membuat suami yang asalnya mengijinkan lalu sekarang keberatan. Hilangkan penyebab dari keberatan suami itu. Kalau anda tidak tahu, tanyakan padanya apa saja sikap anda yang membuat dia keberatan dan lakukan negosiasi yang baik. Kalau komunikasi empat mata tidak bisa, mintalah bantuan pihak ketiga yang disetujui suami dan anda. 

Soal kedua,
Islam agama rahmatal lil’alamin, dalam pembagian warisan anak laki-laki mendapatkan dua kali bagian dari anak perempuan bukan berarti tidak adil, tetapi karena islam menitikberatkan pada berat ringanya pada tanggung jawab.

Sesuatu hal jika tidak sesuai dengan aturan yang sudah ada maka hukumnya haram. Harta pusaka itu wajib dibagi menurut semestinya sesuai dengan hukum yang telah ditentukan dalam alquran.

“Dan janganlah sebagian kamu makan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil.” (QS Al-Baqarah: 188)

Kalaupun orang tua ingin memberikan harta lebih kepada anak perempuanya ada satu cara yaitu dengan cara wasiat, namun wasiat ini tidak boleh lebih dari sepertiga harta kekayaannya kecuali apabila diijinkan ahli waris sesudah matinya yang berwasiat.

“Sesungguhnya Allah menganjurkan untuk bersedakah atasmu dengan harta sepertiga harta pusaka kamu. Ketika menjelang wafatmu, sebagai tambahan kebaikanmu.” (HR. Ad Daru Quthni dari Mu’ad bin Jabal)

Ketiga,

Dalam hukum waris secara Islam, memang dikenal sebuah aturan hijab. Hijab artinya penutup. Maksudnya bahwa seorang yang termasuk dalam daftar ahli waris tertutup haknya -baik semua atau sebagian- dari harta yang diwariskan.

Sehingga orang yang terhijab ini bisa berkurang haknya atau malah sama sekali tidak mendapatkan harta warisan. Kalau hanya berkurang, disebut dengan istilah hijab nuqshan. Sedangkan kalau hilang 100%, disebut dengan istilah hijab hirman.

Yang menyebabkan adanya seorang ahli waris terhijab adalah keberadaan ahli waris yang lebih dekat kepada almarhum. Ketika seorang meninggal dunia dan meninggalkan anak dan cucu, maka yang mendapat warisan hanya anak saja, sedangkan cucu tidak mendapat warisan. Karena kedudukan cucu lebih jauh dari kedudukan anak. Atau boleh dibilang, keberadaan anak akan menghijab cucu dari hak menerima warisan.

Dan dalam kasus ini, hijab yang berlaku memang hijab hirman, yaitu hijab yang membuat si cucu menjadi kehilangan haknya 100% dari harta warisan.

Ada dua ilustrasi yang mungkin bisa membantu pemahaman ini. Ilustrasi pertama, mungkin anda bisa memahaminya dengan mudah. Tapi yang sering kurang dipahami adalah ilustrasi kedua, karena agak aneh namun memang demikian aturannya.

Pada diagram sebelah kiri, ktia dapati ilustrasi pertama. Seorang almarhum yang wafat, maka anaknya akan mendapat warisan. Namun cucunya yang posisinya ada di bawahnya, jelas tidak akan dapat warisan. Karena antara cucu dengan almarhum, dihijab oleh anak.

Pada diagram yang di sebelah kanan, almarhum punya 2 orang anak, anak 1 dan anak 2.Anak 2 punya anak lagi dan kita sebut cucu [anak2]. Seandainya anak 2 wafat lebih dahulu dari almarhum, maka cucu [anak2] tidak mendapat warisan.

Mengapa?

Karena almarhum masih punya anak 1, maka anak 1 ini akan menghijab cucu [anak 2]. Sehingga warisan hanya diterima oleh anak 1 sedangkan cucu [anak2] tidak mendapat warisan. Dia terhijab oleh pamannya, yaitu anak 1.

Walaupun dalam diagram itu, tidak ada penghalang antara cucu dengan almarhum, namun keberadaan anak akan menghijab cucu, meski cucu itu bukan anak langsung dari anak.
*dari berbagai sumber

Wallahu a’lam

Obat Penyakit

Ustadz Farid Nu’man

Assalamualaikum ustadz/ah…Aku mau nanya, apakah penyakit fisik juga berawal dr penyakit hati? Kalau memang iya, adakah pengobatan yg mujarab?

๐Ÿ๐Ÿ๐ŸJawaban

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Penyakit fisik ada yg disebabkan fisik saja, ada juga yang disebabkan kondisi dan suasana hati. “Semangat hidup”, “sugesti”, rasa syukur, merupakan suasana hati positif yg meresisten penyakit.

Obat mujarabnya adalah membaca Al quran dan dzikrullah, selain tentunya pengobatan medis.
Ada ibu2 yg cerita ke saya, suaminya kanker otak, dokter udah nyerah, dan memvonis sampai 6 bulan saja hidupnya. Tapi, suaminya selalu tilawah .. Alhamdulillah sampe sekarang masih hidup dan aktifitas biasa.

Wallahu a’lam

Menjaga Gereja dalam Perayaan Natal, Bolehkan?

Ustadz Slamet Setiawan

assalamualaikum ust/h ana mau tanya apakah org muslim boleh menjaga gereja di hari raya nasrani  dan apakah itu di namakan toleransi?

Jawaban
——————

ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡
Berikut kami kutipkan sikap Bahtsul Masail NU terhadap ucapan Natal dan menjaga Gereja. Ditulis oleh KH.Muhammad Idrus Romli, Penulis adalah Pengurus Lajnah Taโ€™lif  wan Nasyr PWNU Jawa Timur. Tulisan ini sudah dimuat di Jurnal Islamia-Republika, Kamis 15 Desember 2011 dengan judul โ€œRahmatan Lil-โ€˜Alamin dan Toleransiโ€ dan diambil dari hidayatullah.com

***

Umat Islam tentu meyakini misi rahmatan lil-โ€˜alamin, sebab  istilah rahmatan lil-โ€˜alamin telah dinyatakan oleh al-Qurโ€™an. Istilah rahmatan lil-โ€˜alamin dipetik dari salah satu ayat al-Qurโ€™an;

ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ู’ู†ูŽุงูƒูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ู„ูู‘ู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ

โ€œWa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-โ€˜aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).โ€ (QS al-Anbiyaโ€™ : 107).

Dalam ayat itu,  โ€œrahmatan lil-โ€˜alaminโ€ secara tegas dikaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad saw. Artinya, Allah tidaklah menjadikan Nabi saw sebagai rasul, kecuali karena kerasulan beliau menjadi rahmat bagi semesta alam. Karena rahmat yang diberikan Allah kepada semesta alam ini dikaitkan dengan kerasulan Nabi saw, maka umat manusia dalam menerima bagian dari rahmat tersebut berbeda-beda. Ada yang menerima rahmat tersebut dengan sempurna, dan ada pula yang menerima rahmat tersebut tidak sempurna.

Ibnu Abbas radhiyallahu โ€˜anhuma, sahabat Nabi Salallahu โ€˜Alaihi Wa Sallam, pakar dalam Ilmu Tafsir menyatakan: โ€œOrang yang beriman kepada Nabi saw, maka akan memperoleh rahmat Allah dengan sempurna di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang tidak beriman kepada Nabi saw, maka akan diselamatkan dari azab yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu ketika masih di dunia seperti dirubah menjadi hewan atau dilemparkan batu dari langit.โ€

Demikian penafsiran yang dinilai paling kuat oleh al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi dalam tafsirnya, al-Durr al-Mantsur.

Penafsiran di atas diperkuat dengan hadits shahih yang menegaskan bahwa rahmatan lil-โ€˜alamin telah menjadi karakteristik Nabi saw dalam dakwahnya. Ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada beliau, agar mendoakan keburukan bagi orang-orang Musyrik, Nabi saw menjawab: โ€œAku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat.โ€ (HR. Muslim).

Penafsiran di atas memberikan gambaran, bahwa karakter rahmatan lil-โ€˜alamin memiliki keterkaitan sangat erat dengan kerasulan Nabi saw. Dalam kitab-kitab Tafsir, tidak ditemukan keterkaitan makna rahmatan lil-โ€˜alamin dengan sikap toleransi yang berlebih-lebihan dengan komunitas non-Muslim. Ini berangkat dari kenyataan bahwa rahmatan lil-โ€˜alamin sangat erat kaitannya dengan kerasulan Nabi saw, yakni penyampaian ajaran Islam kepada umatnya.

Maka seorang Muslim, dalam menghayati dan menerapkan pesan Islam rahmatan lil-โ€˜alamin tidak boleh menghilangkan misi dakwah yang dibawa oleh Islam itu sendiri. Misalnya, memberikan khotbah dalam acara kebaktian agama lain, menjaga keamanan tempat ibadah agama lain dan acara ritual agama lain, atau doa bersama lintas agama dengan alasan itu adalah โ€œIslam rahmatan lil-โ€˜alaminโ€.   Kegiatan-kegiatan semacam itu justru mengaburkan makna rahmatan lil-โ€˜alamin yang berkaitan erat dengan misi dakwah Islam.

Sebagaimana dimaklumi, selain sebagai rahmatan lil-โ€˜alamin, Nabi saw diutus juga bertugas sebagai basyiiran wa nadziiran lil-โ€˜aalamiin (pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada seluruh alam).

โ€œMaha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qurโ€™an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.โ€ (QS. al-Furqan : 1).

โ€œDan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan (basyiiran wa nadziiran), tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.โ€ (QS. Sabaโ€™ : 28).

Sebagai pengejawantahan dari ayat-ayat ini, seorang Muslim dalam interaksinya dengan orang lain, selain harus menerapkan watak rahmatan lil-โ€˜alamin, juga bertanggungjawab menyebarkan misi basyiran wa nadziran lil-โ€˜alamin.

Islam tidak melarang umatnya berinteraksi dengan komunitas agama lain. Rahmat Allah yang diberikan melalui Islam, tidak mungkin dapat disampaikan kepada umat lain, jika komunikasi dengan mereka tidak berjalan baik.

Karena itu, para ulama fuqaha dari berbagai madzhab membolehkan seorang Muslim memberikan sedekah sunnah kepada non Muslim yang bukan kafir harbi. Demikian pula sebaliknya, seorang Muslim diperbolehkan menerima bantuan dan hadiah yang diberikan oleh non Muslim.

Para ulama fuqaha juga mewajibkan seorang Muslim memberi nafkah kepada istri, orang tua dan anak-anak yang non Muslim.

Di sisi lain, karena seorang Muslim bertanggungjawab menerapkan basyiran wa nadziran lil-โ€˜alamin, Islam melarang umatnya berinteraksi dengan non Muslim dalam hal-hal yang dapat menghapus misi dakwah Islam terhadap mereka.

Mayoritas ulama fuqaha tidak memperbolehkan seorang Muslim menjadi pekerja tempat ibadah agama lain, seperti menjadi tukang kayu, pekerja bangunan dan lain sebagainya, karena hal itu termasuk menolong orang lain dalam hal kemaksiatan, ciri khas dan syiar agama mereka yang salah dalam pandangan Islam.

ูˆูŽุชูŽุนูŽุงูˆูŽู†ููˆุงู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุจุฑูู‘ ูˆูŽุงู„ุชูŽู‘ู‚ู’ูˆูŽู‰ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุนูŽุงูˆูŽู†ููˆุงู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฅูุซู’ู…ู ูˆูŽุงู„ู’ุนูุฏู’ูˆูŽุงู†ู ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ููˆุงู’ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ุดูŽุฏููŠุฏู ุงู„ู’ุนูู‚ูŽุงุจู

โ€œDan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.โ€ (QS. al-Maโ€™idah : 2).

Doa Lintas Agama

Doa bersama lintas agama, dewasa ini juga agak marak dilakukan. Sebagian beralasan Islam rahmatan lil-โ€˜alamin.  Padahal, karakter rahmatan lil-โ€˜alamin, sebenarnya tidak ada kaitannya dengan doa bersama lintas agama. Sebagaimana dimaklumi, doa merupakan inti dari pada ibadah (mukhkhul โ€˜ibadah), yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuhan.

Tidak jarang, seorang Muslim berdoa kepada Allah, dengan harapan memperoleh pertolongan agar segera keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Tentu saja, ketika seseorang berharap agar Allah segera mengabulkan doanya, ia harus lebih berhati-hati, memperbanyak ibadah, bersedekah, bertaubat dan melakukan kebajikan-kebajikan lainnya. Dalam hal ini, semakin baik jika ia memohon doa kepada orang-orang saleh yang dekat kepada Allah. Hal ini sebagaimana telah dikupas secara mendalam oleh para ulama fuqaha dalam bab shalat istisqaโ€™ (mohon diturunkannya hujan) dalam kitab-kitab fiqih.

Ada dua pendapat di kalangan ulama fuqaha, tentang hukum menghadirkan kaum non Muslim untuk doa bersama dalam shalat istisqaโ€™.

Pertama, menurut mayoritas ulama (madzhab Maliki, Syafiโ€™i dan Hanbali), tidak dianjurkan dan makruh menghadirkan non Muslim dalam doa bersama dalam shalat istisqaโ€™. Hanya saja, seandainya mereka menghadiri acara tersebut dengan inisiatif sendiri dan tempat mereka tidak berkumpul dengan umat Islam, maka itu tidak berhak dilarang.

Kedua, menurut madzhab Hanafi dan sebagian pengikut Maliki, bahwa non Muslim tidak boleh dihadirkan atau hadir sendiri dalam acara doa bersama shalat istisqaโ€™, karena mereka tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa. Doa istisqaโ€™  ditujukan untuk memohon turunnya rahmat dari Allah, sedangkan rahmat Allah tidak akan turun kepada mereka. Demikian kesimpulan pendapat ulama fuqaha dalam kitab-kitab fiqih. Maka, jika doa diharapkan mendatangkan rahmat dari Allah, sebaiknya didatangkan orang-orang saleh yang dekat kepada Allah, bukan mendatangkan orang-orang yang yang jauh dari kebenaran.

Forum Bahtsul Masail al-Diniyah al-Waqiโ€™iyyah Muktamar NU di PP Lirboyo Kediri, 21-27 November 1999, menyatakan, bahwa โ€œDoa Bersama Antar Umat Beragamaโ€ hukumnya haram. Diantara dalil yang mendasarinya: Kitab Mughnil Muhtaj, Juz I hal. 232: โ€œWa laa yajuuzu an-yuammina โ€˜alaa duโ€™aa-ihim kamaa qaalahu ar-Rauyani li-anna duโ€™aal kaafiri ghairul maqbuuli.โ€ (Lebih jauh, lihat:  Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam: Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), penerbit: Lajtah Taโ€™lif wan-Nasyr, NU Jatim, cet.ke-3, 2007, hal. 532-534).

Wallahu a’lam.

Hukumnya Menyanyi

Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum..Afwan mau tanya,  apa sih hukumnya bernyanyi? Soalnya ada yang bilang bernyanyi itu haram dan ada yang bilang kalau lebih baik tenggorokan kita disiram timah panas dari pada bernyanyi. Bahkan kita cuma denger orang muter lagu aja katanya juga dosa. Terus kalo bernyanyi itu haram gimana dengan hukum berdakwah lewat lagu kayak yang dilakukan opick, alm ust jefri dan lain-lain? Mohon menjelasannya. Syukron.
Wassalamu’alaikum  # A 42

๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅJawaban๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡
Menurut Asy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah:

Fatwa 1:

ุณู…ุงุญุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏุงู„ุนุฒูŠุฒ ุจู† ุจุงุฒ
ุณ: ู…ุง ุญูƒู… ุงุณุชู…ุงุน ุฃุดุฑุทุฉ ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉุŸ
ุฌู€- ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุชุฎุชู„ู ูุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุณู„ูŠู…ุฉ ู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ุฅู„ุง ุงู„ุฏุนูˆุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุงู„ุชุฐูƒูŠุฑ ุจุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุทุงุนุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ูˆุงู„ุฏุนูˆุฉ ุฅู„ู‰ ุญู…ุงูŠุฉ ุงู„ุฃูˆุทุงู† ู…ู† ูƒูŠุฏ ุงู„ุฃุนุฏุงุก ูˆุงู„ุงุณุชุนุฏุงุฏ ู„ู„ุฃุนุฏุงุก ุŒ ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ุŒ ูู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ุดูŠุก .
ุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ููŠู‡ุง ุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ ู…ู† ุฏุนูˆุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุนุงุตูŠ ูˆุงุฎุชู„ุงุท ุงู„ู†ุณุงุก ุจุงู„ุฑุฌุงู„ ุฃูˆ ุชูƒุดูู‡ู† ุนู†ุฏู‡ู… ุฃูˆ ุฃูŠ ูุณุงุฏ ูƒุงู† ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงุณุชู…ุงุนู‡ุง .

Beliau ditanya: โ€œApa hukum mendengarkan kaset-kaset nasyid Islami?

 Beliau menjawab:

โ€œ(Hukum) Nasyid memiliki perbedaan. Jika nasyid tersebut benar, tidak ada di dalamnya kecuali ajakan pada kebaikan dan peringatan pada kebaikan dan ketaatan kepada Allah dan RasulNya, serta ajakan kepada pembelaan kepada tanah air dari tipu daya musuh, dan menyiapkan diri melawan musuh, dan yang semisalnya, maka tidak apa-apa.

Ada pun jika di dalam nasyid tidak seperti itu, berupa ajakan kepada maksiat, campur baur antara laki-laki dan wanita, atau para wanita membuka auratnya, atau kerusakan apa pun, maka tidak boleh mendengarkannya.โ€ (Selesai fatwa pertama)

Fatwa 2 :

ุณู…ุงุญุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุจุงุฒ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ :
 ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ู…ุซู„ ุงู„ุฃุดุนุงุฑุ› ุฅู† ูƒุงู†ุช ุณู„ูŠู…ุฉ ูู‡ูŠ ุณู„ูŠู…ุฉ ุŒ ูˆ ุฅู† ูƒุงู†ุช ููŠู‡ุง ู…ู†ูƒุฑ ูู‡ูŠ ู…ู†ูƒุฑ … ูˆ ุงู„ุญุงุตู„ ุฃู† ุงู„ุจูŽุชู‘ูŽ ููŠู‡ุง ู…ุทู„ู‚ุงู‹ ู„ูŠุณ ุจุณุฏูŠุฏ ุŒ ุจู„ ูŠูู†ุธุฑ ููŠู‡ุง ุ› ูุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุณู„ูŠู…ุฉ ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ุง ุŒ ูˆุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุชูŠ ููŠู‡ุง ู…ู†ูƒุฑ ุฃูˆ ุฏุนูˆุฉ ุฅู„ู‰ ู…ู†ูƒุฑู ู…ู†ูƒุฑุฉูŒ ) [ ุฑุงุฌุน ู‡ุฐู‡ ุงู„ูุชูˆู‰ ููŠ ุดุฑูŠุท ุฃุณุฆู„ุฉ ูˆ ุฃุฌูˆุจุฉ ุงู„ุฌุงู…ุน ุงู„ูƒุจูŠุฑ ุŒ ุฑู‚ู… : 90 / ุฃ  [

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata:

โ€œNasyid-nasyid Islam itu seperti syaโ€™ir-syaโ€™ir. Jika dia benar isinya, maka dia benar. Jika di dalamnya terdapat kemungkaran, maka dia munkar ….  wal hasil, memutuskan hukum nasyid secara mutlak (general/menyamaratakan) tidaklah benar, tetapi mesti dilihat dulu. Maka, jika nasyid-nasid tersebut baik, maka tidak apa-apa. Dan nasyid-nasyid yang terdaat kemungkaran atau ajakan kepada kemunkaran, maka dia munkar.โ€ *(Lihat fatwa ini dalam kaset tanya jawab, Al Jamiโ€™ Al Kabir, no. 90/side. A) (selesai fatwa kedua)*

Fatwa 3 :

ุงู„ุณุคุงู„: ูƒุซุฑ ุงู„ูƒู„ุงู… ุญูˆู„ ู…ูˆุถูˆุน ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉุŒ ูˆุงู„ู†ุงุณ ููŠ ุญูŠุฑุฉ ุญูˆู„ ู‡ุฐุงุŒ ูˆุฌุงุกุช ุฃุณุฆู„ุฉ ุจุฎุตูˆุต ู‡ุฐุง ุงู„ู…ูˆุถูˆุนุŒุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุณุคุงู„ุŒ ูู†ุฑุฌูˆุง ู…ู† ุณู…ุงุญุชูƒู… ุงู„ุชูุถู‘ู„ ุจุจูŠุงู† ุฐู„ูƒ ูˆุชูˆุถูŠุญู‡ุŸุŸ
ูุฃุฌุงุจ ุณู…ุงุญุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุจู† ุจุงุฒ- ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ :
ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ููŠู‡ุง ุชูุตูŠู„ุŒ ู„ุง ูŠู…ูƒู† ุงู„ุฌูˆุงุจ ุนู†ู‡ุง ู…ุทู„ู‚ุŒ ู„ุง ุจุฏ ูŠูƒูˆู† ููŠู‡ุง ุชูุตูŠู„ุ› ููƒู„ ุดูุนุฑ ุฃูˆ ุฃู†ุดูˆุฏุฉุŒ ุณูˆุงุก ุณู…ูŠ ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุฃูˆ ุบูŠุฑ ุฐู„ูƒุŒ ู„ุงุจุฏ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุณู„ูŠู…ุงู‹ ู…ู…ุง ูŠุฎุงู„ู ุงู„ุดุฑุน ุงู„ู…ุทู‡ู‘ุฑุŒ ูุฅุฐุง ูƒุงู† ุณู„ูŠู…ุงู‹ ู…ู…ุง ูŠูุฎุงู„ู ุงู„ุดุฑุน ุงู„ู…ุทู‡ุฑ ููŠ ู…ุฏุญ ู‚ูŠู…ุฉ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ูƒุงู„ูƒุฑู… ูˆุงู„ุฌูˆุฏุŒ ููŠ ุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู‡ุงุฏ ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ููŠ ุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ุญู…ุงูŠุฉ ุงู„ุฃูˆุทุงู† ู…ู† ุงู„ุฃุนุฏุงุกุŒ ููŠ ุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅุฎู„ุงุต ู„ู„ู‡ ููŠ ุงู„ุนู…ู„ุŒ ููŠ ุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ุจุฑ ุงู„ูˆุงู„ุฏูŠู†ุŒ ูˆุนู„ู‰ ุฅูƒุฑุงู… ุงู„ุฌุงุฑุŒ ุนู„ู‰ ุบูŠุฑ ู‡ุฐุง ู…ู† ุงู„ุดุคูˆู† ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉุŒ ุจุฃุณุงู„ูŠุจ ูˆุงุถุญุฉ ู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ู…ุง ูŠุฎุงู„ู ุงู„ุดุฑุน ุงู„ู…ุทู‡ู‘ุฑุŒ ูู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ุจุฃุณ ู…ุซู„ ู…ุง ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ-ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡- ููŠ ุงู„ุดุนุฑ- ู‡ูˆ ูƒุงู† ุนู„ู‰ ุฎูŠุฑ ู†ุณู‚-:  ุญุณู†ู‡ ุญุณู†ุŒ ูˆู‚ุจูŠุญู‡ ู‚ุจูŠุญ
. ู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ” ุฅู† ู…ู† ุงู„ุดุนุฑ ุญูƒู…ุฉ
 “. ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงู„-ุฌู„ุง ูˆุนู„ุง-: ” ูˆุงู„ุดุนุฑุงุก ูŠุชุจุนู‡ู… ุงู„ุบุงูˆูˆู†*ุฃู„ู… ุชุฑ ุฃู†ู‡ู… ููŠ ูƒู„ ูˆุงุฏ ูŠู‡ูŠู…ูˆู† * ูˆุฃู†ู‡ู… ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ู…ุงู„ุงูŠูุนู„ูˆู† * ุฅู„ุง ุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง ูˆุนู…ู„ูˆุง ุงู„ุตุงู„ุญุงุช ูˆุฐูƒุฑูˆุง ุงู„ู„ู‡ ูƒุซูŠุฑุงู‹……. “ุงู„ุขูŠุฉ.
ูู‡ุคู„ุงุก ู…ูุณุชูŽุซู†ูŽูˆู†..ุฅุฐุง ูƒุงู† ุดุนุฑู‡ ุณู„ูŠู…ุงู‹ุŒ ุฏุงุฎู„ุงู‹ ููŠ ุงู„ุนู…ู„ ุงู„ุตุงู„ุญ..ูู‡ูˆ ู…ูุณุชุซู†ู‰. ูˆู…ู† ูƒุงู† ุดุนุฑู‡ ู„ูŠุณ ุฏุงุฎู„ุงู‹ ููŠ ุฐู„ูƒ ุจุฃู† ูŠุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ู…ุง ูŠูุฎุงู„ู ุงู„ุดุฑุนุŒ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠูƒูˆู† ุฃู…ุฑู‡ ุทูŠุจุงู‹ุŒ ูˆู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠูุณู…ุญ ู„ู‡ุŒ ุจู„ ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠูุชุฑูƒ ุญุชู‰ ูŠูƒูˆู† ุดุนุฑู‡ ู…ูˆุงูู‚ุงู‹ ู„ุดุฑุน ุงู„ู„ู‡ุŒ ุณู„ูŠู…ุงู‹ ู…ู…ุง ูŠูุฎุงู„ูู‡.
ููƒู„ ุฃู†ุดูˆุฏุฉ ุฃูˆ ุฃู†ุงุดูŠุฏ ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ุชูุนุฑุถ ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู…ุŒุนู„ู‰ ู„ุฌู†ุฉ ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูŠู†ุธุฑูˆู†ู‡ุงุŒ ูˆูŠูู†ู‚ู‘ุญูˆู†ู‡ุงุŒ ูุฅุฐุง ู†ู‚ู‘ุญูˆู‡ุง ูˆุจูŠู‘ู†ูˆุง ุฃู†ู‡ุง ุฌุงุฆุฒุฉ ุชูู‚ุฏู‘ู… ู„ู„ู…ุฏุฑุณุฉ ุฃูˆ ู„ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุฏุฑุณุฉ.. ูˆู„ุง ุชูู‚ุจู„ ู…ู† ูƒู„ ุฃุญุฏ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุจู„ ุชูู†ุธุฑ ููŠู‡ุง ู…ู† ู„ุฌู†ุฉุŒ ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ู…ุนุงุฑู ูู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ู…ุนุงุฑูุŒ ูˆุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ู…ุนุงู‡ุฏ ูู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ู…ุนุงู‡ุฏ..ู…ู† ุฃูŠ ุฌู‡ุฉ ุชูƒูˆู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุ›ู„ุง ูŠูุณู…ุญ ุจู‡ุง ุญุชู‰ ุชูุนุฑุถ ุนู„ู‰ ู„ุฌู†ุฉ ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ุจุตูŠุฑุฉุŒ ุงู„ู…ุนุฑูˆููŠู† ุจุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ูˆุงู„ุนู„ู… ุจุงู„ุดุฑุน ุญุชู‰ ูŠู†ุธุฑูˆุง ููŠู‡ุงุŒ ู„ุฃู† ุงู„ุชุณุงู‡ู„ ููŠู‡ุง ู‚ุฏ ูŠููุถูŠ ุฅู„ู‰ ุดุฑู‘ู ูƒุซูŠุฑ..ูู„ุง ุจุฏ ุฃู† ุชูุนุฑุถ ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุงู„ุฐูŠู† ูŠูุนุฑู ููŠู‡ู… ุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ูุถู„ ูˆุงู„ุบูŠุฑุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ..[ูƒู„ู…ุฉ ุบูŠุฑ ูˆุงุถุญุฉ] ููŠู‡ุงุŒ ูˆูŠุจูŠู†ูˆู† ู…ุงููŠู‡ุง ู…ู† ุฎู„ู„ุŒ ุซู… ูŠูˆุฌู‘ูู‡ูˆู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุฅู„ู‰ ู…ุงู‡ูˆ ุงู„ุฃูุถู„..ูู‚ุงู„ ุงู„ุณุงุฆู„: ุทุจุนุงู‹ ู…ู† ุฑุฃูŠ ุณู…ุงุญุชูƒู… ุฃู† ู„ุง ุชุทุบู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅู†ุตุฑุงู ุนู† ุณู…ุงุน ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ูƒุฑูŠู…ุŒ ู„ุฃู† ุจุนุถ ุงู„ุฅุฎูˆุฉ ูŠุดุชูƒูŠ ุจุฃู†ู‡ุง ุตุฑูุชู‡ู… ุนู† ุณู…ุงุน ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆุงู„ุฐูƒุฑุŸุŸ
 ูู‚ุงู„ ุณู…ุงุญุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ุงุจู† ุจุงุฒ-ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡-: ู„ุงุจุฏ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู„ู‡ุง ูˆู‚ุช ุฎุงุต ู‚ู„ูŠู„ุŒ ู…ุง ุชุดุบู„ู‡ู… ุนู…ุง ู‡ูˆ ุฃู‡ู…ุŒ ู„ุง ุนู† ุฏุฑูˆุณู‡ู…ุŒ ูˆู„ุง ุนู† ุงู„ู‚ุฑุขู†ุŒ ูˆู„ุง ุนู† ุงู„ุฐูƒุฑุŒ ููŠูƒูˆู† ู„ู‡ุง ูˆู‚ุช ู‚ู„ูŠู„.. ู„ูƒู† ุฅุฐุง ุฃูุฑูŠุฏุช ูŠูƒูˆู† ู„ู‡ุง ูˆู‚ุชุŒ ุฅู…ุง ู‚ุจู„ ุงู„ุฏุฑูˆุณ ุŒ ุฃูˆ ุจุนุฏ ุงู„ุฏุฑูˆุณุŒ ุฃูˆ ููŠ ุฃุซู†ุงุก ุงู„ุฏุฑุณุŒ ุฅุฐุง ูƒุงู† ููŠ ู‡ู†ุงูƒ ูุงุฆุฏุฉุŒ ุชุชุนู„ู‚ ุจุงู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉุŒ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠููˆุฌู‘ู‡ ุงู„ู„ุฌู†ุฉุŒ ู„ุฌู†ุฉ ุงู„ุนู„ู…ุงุกุŒ ุนู„ู‰ ุชูˆุฌูŠู‡ ุงู„ู„ุฌู†ุฉ ุงู„ุชูŠ ุชุฎุชุต ุจู‡ุฐุง ุงู„ุดูŠุกุŒ ุชู†ุธุฑ ููŠู‡ุŒ ุฅู…ุง ุฃู† ุชู‚ูˆู„ ุชููุนู„ุŒ ุฃูˆ ู„ุง ุชููุนู„ุŒ ุฃูˆ ุชูƒูˆู† ููŠ ูˆู‚ุช ูƒุฐุงุŒ ุฃูˆ ููŠ ุฎู…ุณ ุฏู‚ุงุฆู‚ุŒ ุฃูˆ ููŠ ุนุดุฑ ุฏู‚ุงุฆู‚ุŒ ุฃูˆ ููŠ ุฃู‚ู„ ุฃูˆ ููŠ ุฃูƒุซุฑ..[ุซู… ุงู†ู‚ุทุน ุงู„ุตูˆุช] ุซู… ู‚ุงู„ ุงู„ุดูŠุฎ ุงุจู† ุจุงุฒ: ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ูู‡ูŠ ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉุŒ ูˆุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู„ูŠุณุช ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ูˆู‡ูŠ ู…ุจุงุญุฉ ูู‡ูŠ ู…ุจุงุญุฉ ุนู„ู‰ ุญุณุจุŒ ู‚ุฏ ุชูƒูˆู† ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุดูŠุทุงู†ูŠุฉ
ูู‚ุงู„ ุณุงุฆู„:ู„ูƒู† ูŠุงุดูŠุฎ ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ู„ู„ุชุณุฌูŠู„ุงุช ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ-ุฌุฒุงู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุฎูŠุฑ- ุนู†ุฏู‡ู… ุงู„ูƒุซูŠุฑ ู…ู†ู‡ุง ูˆุฎุงู„ูŠุฉ ู…ู† ุงู„ู…ูˆุณูŠู‚ู‰ุŒ ูˆููŠ ุจุนุถ ู…ู†ู‡ุง ุดูŠุก ู…ุฎุชู„ุท[ุบูŠุฑ ู…ุชุฃูƒุฏุฉ] ุจุงู„ู…ูˆุณูŠู‚ู‰ุŒ ูˆุงู„ู…ูˆุณูŠู‚ู‰ ุญุฑุงู…ุŸ
 ูู‚ุงู„ ุงู„ุดูŠุฎ ุงุจู† ุจุงุฒ-ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡-: ู…ุง ุฃุฏุฑูŠ ูˆุงู„ู„ู‡ุŒ ุฃู†ุง ู…ุง ุนู†ุฏูŠ ุฎุจุฑ ู…ู†ู‡ุง ุŒ ู„ูƒู† ุงู„ู‚ุงุนุฏุฉ ู…ูˆุงูู‚ุฉ ุงู„ุดุฑุน ูˆู…ุฎุงู„ูุชู‡ุŒ ุงู„ุฐูŠ ููŠู‡ุง ู…ูˆุณูŠู‚ู‰ ุชูู…ู†ุน.

   Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya:

  โ€œBanyak perbincangan seputar nasyid-nasyid Islam, manusia nampak kebingungan tentang masalah ini, dan telah datang pertanyaan ini secara khusus sebagai tema yang paling banyak ditanyakan, maka kami berharap kepada Anda untuk memberikan penjelasan tentang persoalan ini?โ€

Syaikh menjawab:

โ€œNasyid-nasyid Islami ini, di dalamnya perlu ada perincian. Tidak mungkin menjawabnya secara general (memukul rata). Harus dibahas secara rinci. Maka, semua syaโ€™ir atau nasyid,  baik yang dinamakan nasyid Islami atau selainnya, harus bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat yang suci. Jika nasyid bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat, berupa pujian terhadap akhlak yang terpuji, seperti  kedermawanan, anjuran untuk berjihad fisabilillah, anjuran melindungi tanah air dari musuh, anjuran ikhlas dalam beramal, anjuran berbakti kepada orang tua, memuliakan tetangga, dan perilaku islami lainnya, dengan cara yang jelas  dan tidak ada di dalamnya pertentangan dengan syariat, maka  hal itu tidak mengapa. Sebagaimana komentar Imam Asy Syafiโ€™i โ€“rahimahullah- tentang syaโ€™ir, dan ucapan beliau ini adalah mutiara yang bagus, katanya: โ€œkebaikannya adalah baik, dan keburukannya adalah buruk.โ€

  Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œSesungguhnya di antara syaโ€™ir itu terdapat hikmah.โ€

Allah Taโ€™ala berfirman:

โ€œDan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah …. (QS. Asy Syuโ€™ara (26): 224-227)

Mereka inilah yang mendapatkan pengecualian, jika syaโ€™irnya baik, maka itu termasuk amal shalih, maka mereka inilah yang dikecualikan.

Tetapi jika syaโ€™irnya tidak termasuk yang seperti ini, lantaran mengajak kepada hal-hal yang bertentangan dengan syariat, maka itu bukanlah perkara yang baik, dan tidak seharusnya bertoleransi dengannya, bahkan wajib meninggalkannya hingga syaโ€™ir tersebut sesuai dengan syariat Allah Taโ€™ala.

 Hendaknya setiap nasyid diserahkan kepada ulama atau lembaga ulama untuk menilai dan mengoreksinya. Maka, jika sudah dikoreksi, dan mereka membolehkan untuk disampaikan  di sekolah atau selain sekolah … Janganlah diserahkan kepada tiap orang untuk menilai nasyid ini, tetapi hendaknya dinilai oleh lembaga. Jika yang menilai adalah dari lembaga ilmu pengetahuan umum maka mereka menilai dengan sudut pandangnya itu, jika yang menilai dari lembaga pesantren maka mereka juga akan menilai dengan sudut pandangnya. .. dari sudut apa pun cara pandang menilai nasyid-nasyid ini: tidaklah diberi kelapangan sampai dikembalikan kepada lembaga ahli ilmu dan pengetahuan, yang sudah diketahui keistiqamahannya terhadap syariat, karena menggampangkan masalah ini akan membawa kepada keburukan yang banyak .. maka harus dikembalikan kepada ulama yang mereka dikenal keilmuan, keutamaan, dan kecemburuannya terhadap Islam … (ucapan tidak jelas) .. mereka menjelaskan cacat apa saja yang ada padanya, lalu mengarahkan para penasyid kepada apa yang lebih afdhal ..

Lalu Penanya berkata:  Tentu .., diantara pendapat Anda janganlah berlebihan terhadap nasyid-nasyid ini, hingga memalingkan dari mendengarkan Al Quran, karena sebagian ikhwah ada yang mengeluh, bahwa nasyid telah memalingkan mereka dari mendengarkan Al Quran dan dzikir?

Syaikh bin Baz menjawab: โ€œDia semestinya memiliki waktu khusus yang sedikit saja, jangan sampai nasyid menyibukkan mereka dari hal yang lebih penting, baik dibanding  pelajaran mereka, dibanding Al Quran, dan dibanding dzikir, maka hendaknya nasyid itu porsinya sedikit saja .. tetapi jika engkau menghendaki waktu khusus untuknya, baik sebelum belajar, atau setelahnya, atau ketika belajar, jika hal itu ada manfaat yang terkait dengan maslahat islam yang telah diarahkan oleh lembaga ulama yang secara khusus memberikan perhatian dalam masalah ini. Baik yang dikatakan oleh mereka  untuk dilakukan atau tidak dilakukan, atau  pada waktu sekian , atau selama lima menit atau sepuluh menit, atau lebih sedikit atau juga lebih lama .. โ€œ (lalu suara terputus).

Kemudian, Syaikh bin Baz berkata: *_โ€œNasyid yang Islami maka dia islami, yang tidak islami maka dia boleh pada kadar tertentu, jika berlebihan maka menjadi nasyid syaithani.โ€_*

Berkata penanya: โ€œTetapi Ya Syaikh, kaitannya dengan   perusahaan rekaman Islam โ€“semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada mereka- banyak di antara nasyid-nasyid yang  tanpa musik, dan sebagiannya sudah dicampur dengan musik … (suara tidak kuat), dan musik itu haram?

Syaikh menjawab: โ€œSaya tidak tahu, demi Allah, saya tidak punya info tentang itu. Tetapi, yang jadi kaidah adalah: โ€˜sesuai dengan syariat dan bertentangan dengan syariatโ€™, jika pakai musik maka itu terlarang.โ€ (selesai fatwa ketiga)

Fatwa 4 :

ุณู…ุงุญุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏุงู„ุนุฒูŠุฒ ุจู† ุจุงุฒ
ุณ: ูŠู‚ูˆู„ ุงุจู†ุชูŠ ุชุฐู‡ุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฑูˆุถุฉ ุฑูŠุงุถ ุงู„ุฃุทูุงู„ ูˆู„ูƒู† ู…ู† ุจูŠู† ุงู„ุฃุดูŠุงุก ุงู„ุชูŠ ูŠุคุฏูˆู†ู‡ุง ููŠ ุงู„ุฑูˆุถุฉ ุฃู† ุงู„ู…ุฏุฑุณุฉ ุชูุชุญ ู„ู‡ู… ุงู„ู…ุณุฌู„ ูˆุชุณู…ุนู‡ู… ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุบูŠุฑ ู…ุจุชุฐู„ุฉ ู…ุซู„ุง ุนู† ุงู„ุฃู… ูˆุงู„ูˆุทู† ูˆู…ุง ุดุงุจู‡ ุฐู„ูƒ ูˆู„ูƒู† ุชู„ูƒ ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุชูƒูˆู† ู…ุตุญูˆุจุฉ ุจุงู„ู…ูˆุณูŠู‚ูŠ ูู‡ู„ ูŠุฌูˆุฒ ู„ูŠ ุฃู† ุฃุฏุน ุงุจู†ุชูŠ ุชุฐู‡ุจ ูˆู‡ู„ ูŠูƒูˆู† ุนู„ู‰ ุฐู†ุจ ุฅุฐุง ุงุณุชู…ุนุช ู„ู…ุซู„ ุฐู„ูƒุŸ
ุฌ- ู‡ุฐุง ุบู„ุท ู…ู† ุงู„ู…ุฏุฑุณุฉ ุฃู…ุง ุณู…ุงุน ุงู„ุทูู„ุฉ ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุณู„ูŠู…ุฉ ูู„ุง ุญุฑุฌ ููŠ ุฐู„ูƒ ูˆู‡ูƒุฐุง ุงู„ุทูู„ ูˆู‡ูƒุฐุง ุบูŠุฑู‡ู…ุง ู…ู† ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุชูŠ ู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ู…ุญุฑู… ุฅู†ู…ุง ู‡ูŠ ู„ู„ุชุดุฌูŠุน ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ูุงุถู„ุฉ ุฃูˆ ู…ุง ูŠุชุนู„ู‚ ุจูˆุงุฌุจ ุงู„ูˆุทู† ุนู„ูŠู‡ู… ูˆูˆุงุฌุจ ุฏูˆู„ุชู‡ู… ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ุฃู…ุง ุงุตุทุญุงุจู‡ุง ุจุงู„ู…ูˆุณูŠู‚ูŠ ูู‡ุฐุง ุบู„ุท ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ูˆุงู„ูˆุงุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุงุฆู… ุนู„ู‰ ุงู„ุฑูˆุถุงุช ู…ู†ุน ุฐู„ูƒ ุญุชู‰ ู„ุง ูŠุจู‚ู‰ ู‡ู†ุงูƒ ู…ุงู†ุน ู…ู† ู…ุฌูŠุก ุงู„ุฃุทูุงู„ ุฅู„ูŠู‡ู… ูุนู„ูŠูƒ ุฃู†ุช ูˆุฅุฎูˆุงู†ูƒ ุฃู† ุชุชุตู„ูˆุง ุจุงู„ู…ุณุฆูˆู„ูŠู† ุนู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฑูˆุถุงุช ุญุชู‰ ูŠู…ู†ุนูˆุง ู‡ุฐุง ุงู„ุดูŠุก ู„ุฃู† ู‡ุฐุง ู„ุง ุญุงุฌุฉ ุฅู„ูŠู‡ ูˆูŠุฑุจู‰ ุงู„ุฃุทูุงู„ ุงู„ุตุบุงุฑ ุนู„ู‰ ุญุจ ุงู„ู…ูˆุณูŠู‚ูŠ ูˆุงู„ุชู„ุฐุฐ ุจู‡ุง ูˆุงุณุชู…ุงุนู‡ุง ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ ูุงู„ุทูู„ ุนู„ู‰ ู…ุง ุฑุจูŠ ุนู„ูŠู‡ ูุนู„ูŠูƒู… ุฃู† ุชุชุตู„ูˆุง ุจุงู„ู…ุณุฆูˆู„ูŠู† ุจู‡ุฐุง ุนู† ุงู„ู…ุฏุงุฑุณ ุญุชู‰ ูŠู…ู†ุนูˆุง ุฐู„ูƒ ูˆุญุชู‰ ุชุณู„ู… ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฑูˆุถุงุช ู…ู…ุง ูŠุฎุงู„ู ุดุฑุน ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰.

Penanya berkata:
โ€œAnak putri saya pergi ke taman sekolah TK,   tetapi di sana sekolah menyambutnya dengan berbagai sambutan diantaranya adalah rekaman nasyid yang diperdengarkan  kepada mereka, bertemakan semangat berkorban kepada ibu dan tanah air misalnya, dan sejenisnya. Tetapi pada nasyid tersebut diiringi dengan musik, apakah boleh bagi saya membiarkan anak saya pergi ke sana, dan apakah berdosa jika dia mendengarkan hal seperti itu?โ€

Jawab Syaikh:

 โ€œItu merupakan kesalahan sekolah. Ada pun bagi anak-anak puteri mendengarkan nasyid-nasyid yang baik maka tidak mengapa hal itu. Begitu pula tidak mengapa bagi anak-anak putera dan selain mereka, yakni nasyid-nasyid yang tidak mengandung keharaman.  Nasyid yang menggelorakan  terbentuknya akhlak yang mulia, dan apa-apa yang terkait dengan kewajiban mereka terhadap tanah air dan negara. Ada pun iringan musik, maka itu kesalahan dan tidak boleh, dan wajib bagi  penjaga taman untuk mencegahnya, sampai tidak ada lagi hal-hal yang menghalangi anak-anak untuk datang ke sana. Maka, anda dan saudara anda wajib menyampaikan kepada penanggung jawab taman-taman ini, sampai mereka menceah hal ini, sebab hal ini tidak dibutuhkan untuk mendidik mereka agar mencintai musik, menikmati, dan mendengarkannya setelah itu. Maka, hendaknya anak-anak mendapatkan apa-apa yang bisa mendidiknya, maka anda sampaikan hal ini kepada pihak penanggung jawab sekolah tentang hal  ini, sehingga mereka mencegahnya sampai TK ini bersih dari apa-apa yang berselisihan dengan syariat Allah Taโ€™ala.โ€ (selesai fatwa keempat)

Al โ€˜Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah

ู…ุญุฏู‘ุซ ุงู„ุฏูŠุงุฑ ุงู„ุดุงู…ูŠู‘ุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ู…ุญู…ุฏ ู†ุงุตุฑ ุงู„ุฏูŠู† ุงู„ุฃู„ุจุงู†ูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡
 ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุฐุงุช ู…ุนุงู†ู ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุŒ ูˆ ู„ูŠุณ ู…ุนู‡ุง ุดูŠุก ู…ู† ุงู„ู…ุนุงุฒู ูˆ ุขู„ุงุช ุงู„ุทุฑุจ ูƒุงู„ุฏููˆู ูˆ ุงู„ุทุจูˆู„ ูˆ ู†ุญูˆูู‡ุง ุŒ ูู‡ุฐุง ุฃู…ุฑูŒ ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ ุŒ ูˆ ู„ูƒู† ู„ุงุจุฏ ู…ู† ุจูŠุงู† ุดุฑุทู ู…ู‡ู… ู„ุฌูˆุงุฒู‡ุง ุŒ ูˆู‡ูˆ ุฃู† ุชูƒูˆู† ุฎุงู„ูŠุฉ ู…ู† ุงู„ู…ุฎุงู„ูุงุช ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ุ› ูƒุงู„ุบู„ูˆู‘ ุŒ ูˆ ู†ูŽุญูˆูู‡ ุŒ ุซู… ุดุฑุท ุขุฎุฑ ุŒ ูˆ ู‡ูˆ ุนุฏู… ุงุชุฎุงุฐู‡ุง ุฏูŽูŠุฏูŽู†ุงู‹ ุŒ ุฅุฐ ุฐู„ูƒ ูŠุตุฑููู ุณุงู…ุนูŠู‡ุง ุนู† ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ุฐูŠ ูˆูŽุฑูŽุฏูŽ ุงู„ุญุถู‘ู ุนู„ูŠู‡ ููŠ ุงู„ุณูู†ู‘ูŽุฉ ุงู„ู†ุจูˆูŠุฉ ุงู„ู…ุทู‡ุฑุฉ ุŒ ูˆ ูƒุฐู„ูƒ ูŠุตุฑูููู‡ูู… ุนู† ุทู„ุจ ุงู„ุนู„ู… ุงู„ู†ุงูุน ุŒ ูˆ ุงู„ุฏุนูˆุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡
 ]ุงู„ุนุฏุฏ ุงู„ุซุงู†ูŠ ู…ู† ู…ุฌู„ุฉ ุงู„ุฃุตุงู„ุฉ ุŒ ุงู„ุตุงุฏุฑ ุจุชุงุฑูŠุฎ 15 ุฌู…ุงุฏู‰ ุงู„ุขุฎุฑุฉ 1413ู‡ู€ ุŒ ุต : 73  [  

Beliau berkata:
โ€œJika nasyid-nasyid ini memiliki muatan-muatan islami, dan tidak diiringi dengan alat-alat musik seperti dufuf (gendang), dan semisalnya, maka ini sesuatu yang tidak mengapa. Tetapi harus dijelaskan syarat penting untuk kebolehannya. Hendaknya tidak bertentangan dengan syariat, seperti ghuluw  (melampaui batas) dan semisalnya, kemudian syarat lainnya, yaitu tidak menjadikannya sebagai kebiasaan, ingatlah, hal itu bisa mengalihkannya dari membaca  Al Quran yang telah diperintahkan dengan tegas dalam sunah nabi, dan juga mengalihkannya dari menuntut ilmu yang bermanfaat, dan daโ€™wah ilallahu Subhanahu wa Taโ€™ala . (Majalah Ashalah, edisi 2, tanggal 15 Jumadil Akhir 1413H, Hal. 73)

Al โ€˜Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah

ุงู„ุดูŠุฎ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุตุงู„ุญ ุงู„ุนุซูŠู…ูŠู† ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡
ู…ุง ุฑุฃู‰ ูุถูŠู„ุชูƒู… ูู‰ ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุงุณู„ุงู…ูŠุฉ ุŸ
ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ูƒุซุฑ ุงู„ูƒู„ุงู… ุนู„ูŠู‡ุง ูˆุฃู†ุง ู„ู… ุฃุณุชู…ุน ุฅู„ูŠู‡ุง ุฅู„ุง ู…ู† ู…ุฏุฉ ุทูˆูŠู„ุฉุŒ ูˆู‡ูŠ ุฃูˆู„ ู…ุง ุฎุฑุฌุช ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ุงุŒ ู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ุฏููˆูุŒ ูˆุชุคุฏู‰ ุชุฃุฏูŠุฉ ู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ูุชู†ุฉ ุŒ ูˆู„ูŠุณุช ุนู„ู‰ ู†ุบู…ุงุช ุงู„ุฃุบุงู†ูŠ ุงู„ู…ุญุฑู…ุฉุŒ ู„ูƒู† ุชุทูˆุฑุช ููŠ ุงู„ูˆุงู‚ุน ูˆุตุงุฑุช ูŠุณู…ุน ู…ู†ู‡ุง ู‚ุฑุน ูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุบูŠุฑ ุงู„ุฏูุŒ ุซู… ุชุทูˆุฑุช ุจุงุฎุชูŠุงุฑ ุฐูˆูŠ ุงู„ุฃุตูˆุงุช ุงู„ุฌู…ูŠู„ุฉ ุงู„ูุงุชู†ุฉุŒ ุซู… ุชุทูˆุฑุช ุฃูŠุถุง ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ุง ุชุคุฏู‰ ุนู„ู‰ ุตูุฉ ุงู„ุฃุบุงู†ูŠ ุงู„ู…ุญุฑู…ุฉุŒ ู„ุฐู„ูƒ ุจู‚ูŠ ููŠ ุงู„ู†ูุณ ู…ู†ู‡ุง ุดูŠุก ูˆู‚ู„ู‚ุŒ ูˆู„ุง ูŠู…ูƒู† ู„ู„ุฅู†ุณุงู† ุฃู† ูŠูุชูŠ ุจุฃู†ู‡ุง ุฌุงุฆุฒุฉ ุนู„ู‰ ูƒู„ ุญุงู„ ูˆู„ุง ู…ุญุฑู…ุฉ ุนู„ู‰ ูƒู„ ุญุงู„ุŒ ูˆุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุฎุงู„ูŠุฉ ู…ู† ุงู„ุฃุดูŠุงุก ุงู„ุชูŠ ุฐูƒุฑุชู‡ุง ูู‡ูŠ ุฌุงุฆุฒุฉุŒ ุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู…ุตุญูˆุจุฉ ุจุฏูุŒ ุฃูˆ ูƒุงู† ู…ุฎุชุงุฑุง ู„ู‡ุง ุฐูˆูŠ ุงู„ุฃุตูˆุงุช ุงู„ุฌู…ูŠู„ุฉ ุงู„ุชูŠ ุชูุชู† ุŒ ุฃูˆ ุฃุฏูŠุช ุนู„ู‰ ู†ุบู…ุงุช ุงู„ุฃุบุงู†ูŠ ุงู„ู‡ุงุจุทุฉ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ุณู…ุงุน ู„ู‡ุง

    โ€œBanyak perbincangan tentang nasyid-nasyid Islami, dan saya tidak lagi mendengarkannya sudah sejak lama. Ketika awal keluarnya nasyid tidaklah mengapa. Tidak pakai dufuf (rebana), ditampilkan dengan tanpa hal-hal yang mengandung fitnah, tidak diperindah dengan nyanyian yang diharamkan,   tetapi perkembangan realitanya, mendengarkan sebagian nasyid menjadi sesuatu yang berbahaya, mungkin bukan cuma memakai rebana, lalu berkembang lagi dengan memakai suara-suara yang indah mengandung fitnah, lalu berkembang lagi ditampilkan seperti penampilan lagu-lagu yang diharamkan, karena itu nasyid telah menyisakan sesuatu yang menggelisahkan, maka tidak mungkin manusia memfatwakan, bahwa  nasyid itu boleh pada semua keadaan, dan haram dalam semua keadaan.
Jika nasyid tersebut tidak terdapat hal-hal yang saya sebutkan, maka boleh saja mendengarkannya. Ada pun jika diiringi dengan rebana, atau  memakai suara – suara indah dan mengandung fitnah,  dan ditampilkan dengan dihiasi cara-cara penyanyi rendahan, maka tidak boleh mendengarkannya.โ€ (Selesai fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)

 Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin hafizhahullah

 ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนุจุฏุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฌุจุฑูŠู†
 ุงู„ู†ุดูŠุฏ ู‡ูˆ ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุตุงุฆุฏ ุฅู…ุง ุจุตูˆุช ูˆุงุญุฏ ุฃูˆ ุจุชุฑุฏูŠุฏ ุฌู…ุงุนุชูŠู†ุŒ ูˆู‚ุฏ ูƒุฑู‡ู‡ ุจุนุถ ุงู„ู…ุดุงูŠุฎุŒ ูˆู‚ุงู„ูˆุง: ุฅู†ู‡ ู…ู† ุทุฑู‚ ุงู„ุตูˆููŠุฉุŒ ูˆุฃู† ุงู„ุชุฑู†ู… ุจู‡ ูŠุดุจู‡ ุงู„ุฃุบุงู†ูŠ ุงู„ุชูŠ ุชุซูŠุฑ ุงู„ุบุฑุงุฆุฒุŒ ูˆูŠุญุตู„ ุจู‡ุง ู†ุดูˆุฉ ูˆู…ุญุจุฉ ู„ุชู„ูƒ ุงู„ู†ุบู…ุงุช. ูˆู„ูƒู† ุงู„ู…ุฎุชุงุฑ ุนู†ุฏูŠ: ุฌูˆุงุฒ ุฐู„ูƒ- ุฅุฐุง ุณู„ู…ุช ู…ู† ุงู„ู…ุญุฐูˆุฑ- ูˆูƒุงู†ุช ุงู„ู‚ุตุงุฆุฏ ู„ุง ู…ุญุฐูˆุฑ ููŠ ู…ุนุงู†ูŠู‡ุงุŒ ูƒุงู„ุญู…ุงุณูŠุฉ ูˆุงู„ุฃุดุนุงุฑ ุงู„ุชูŠ ุชุญุชูˆูŠ ุนู„ู‰ ุชุดุฌูŠุน ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ุŒ ูˆุชุญุฐูŠุฑู‡ู… ู…ู† ุงู„ู…ุนุงุตูŠุŒ ูˆุจุนุซ ุงู„ู‡ู…ู… ุฅู„ู‰ ุงู„ุฌู‡ุงุฏุŒ ูˆุงู„ู…ุณุงุจู‚ุฉ ููŠ ูุนู„ ุงู„ุฎูŠุฑุงุชุŒ ูุฅู† ู…ุตู„ุญุชู‡ุง ุธุงู‡ุฑุฉุŒ ูˆู‡ูŠ ุจุนูŠุฏุฉ ุนู† ุงู„ุฃุบุงู†ูŠุŒ ูˆุณุงู„ู…ุฉ ู…ู† ุงู„ุชุฑู†ู… ูˆู…ู† ุฏูˆุงูุน ุงู„ูุณุงุฏ.

โ€œNasyid adalah bacaan qasidah, baik dengan satu suara atau dua kelompk yang saling bersahutan, sebagian masyayikh ada yang memakruhkannya, mereka mengatakan itu merupakan jalan sufi, dan sesungguhnya melantunkannya merupakan penyerupaan dengan nyanyian yang berdampak bagi gharizah (instink), yang akan menghasilkan mabuk cinta lantaran keindahannya. Tetapi pendapat yang dipilih menurutku adalah hal itu boleh, jika bersih dari hal-hal yang harus diwaspadai. Qasidah yang makna-maknanya baik, seperti semangat atau syiโ€™ar-syiโ€™ar yang bisa menyemangati kaum musimin untuk beramal, dan memperingatkan mereka dari maksiat, dan membangkitkan semangat jihad, berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan, maka maslahatnya jelas, dan jauh dari sifat nyanyian, bersih dan terhindar dari lantunan yang merusak.โ€ (selesai fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin)

 Fatwa Lajnah Daimah Lil Iftaโ€™ Saudi Arabia

 ุงู„ู„ุฌู†ุฉู ุงู„ุฏุงุฆู…ุฉู ู„ู„ุฅูุชุงุกู
ุงุนุชูŽุจูŽุฑูŽุช ุงู„ู„ุฌู†ุฉู ุงู„ุฏุงุฆู…ุฉู ู„ู„ุฅูุชุงุกู ุงู„ุฃู†ุงุดูŠุฏูŽ ุจุฏูŠู„ุงู‹ ุดุฑุนูŠู‘ุงู‹ ุนู† ุงู„ุบู†ุงุก ุงู„ู…ุญุฑู‘ู… ุŒ ุฅุฐ ุฌุงุก ููŠ ูุชุงูˆุงู‡ุง
  ูŠุฌูˆุฒ ู„ูƒ ุฃู† ุชุณุชุนูŠุถ ุนู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุบุงู†ูŠ ุจุฃู†ุงุดูŠุฏ ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุŒ ููŠู‡ุง ู…ู† ุงู„ุญููƒูŽู… ูˆ ุงู„ู…ูˆุงุนุธ ูˆ ุงู„ุนูุจูŽุฑ ู…ุง ูŠุซูŠุฑ ุงู„ุญู…ุงุณ ูˆ ุงู„ุบูŠุฑุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุฏูŠู† ุŒ ูˆ ูŠู‡ูุฒู‘ู ุงู„ุนูˆุงุทู ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุŒ ูˆ ูŠู†ูุฑ ู…ู† ุงู„ุดุฑ ูˆ ุฏูˆุงุนูŠู‡ ุŒ ู„ุชูŽุจุนูŽุซูŽ ู†ูุณูŽ ู…ู† ูŠูู†ุดูุฏูู‡ุง ูˆู…ู† ูŠุณู…ุนูู‡ุง ุฅู„ู‰ ุทุงุนุฉ ุงู„ู„ู‡ ุŒ ูˆ ุชูู†ูŽูู‘ูุฑ ู…ู† ู…ุนุตูŠุชู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุŒ ูˆ ุชูŽุนูŽุฏู‘ููŠ ุญุฏูˆุฏู‡ ุŒ ุฅู„ู‰ ุงู„ุงุญุชู…ุงุกู ุจุญูู…ูŽู‰ ุดูŽุฑุนูู‡ู ุŒ ูˆ ุงู„ุฌู‡ุงุฏู ููŠ ุณุจูŠู„ู‡ .
ู„ูƒู† ู„ุง ูŠุชุฎุฐ ู…ู† ุฐู„ูƒ ูˆูุฑู’ุฏุงู‹ ู„ู†ูุณู‡ ูŠู„ุชุฒู…ูู‡ ุŒ ูˆ ุนุงุฏุฉู‹ ูŠุณุชู…ุฑ ุนู„ูŠู‡ุง ุŒ ุจู„ ูŠูƒูˆู† ุฐู„ูƒ ููŠ ุงู„ููŠู†ุฉ ุจุนุฏ ุงู„ููŠู†ุฉ  …

Lajnah Daimah Lil Iftaโ€™  telah menjelaskan, nasyid-nasyid Islami sebagai alternatif  pengganti yang syarโ€™i terhadap nyanyian-nyayian yang haram. Demikian ini fatwanya:

โ€œBoleh bagimu menggantikan nyanyian tersebut dengan nasyid-nasyid Islami, di dalamnya terdapat hikmah, pelajaran, dan โ€˜ibrah yang memberikan pengaruh bagi semangat dan kecemburuan terhadap agama, menggerakkan belas kasih  Islami, menjauh dari keburukan dan ajakannya, untuk membangkitkan ketaatan kepada Allah baik bagi yang menyenandung dan yang mendengarkannya, menjauh dari maksiat kepadaNya, melanggar batasNya, menjaga diri dengan syariatNya, serta berjihad di jalanNya. Tetapi hendaknya tidak menjadikannya sebagai sebuah kelaziman dan kebiasaan terus menerus, melainkan sesekali saja…. dan seterusnya.โ€

Wallahu a’lam.

Darah Haid atau Istihadhoh

Ustadzah Nurdiana

Assalamualaikum….Apakah boleh ikut bertanya
Mohon disampaikan di grup ustadz/ah majelis iman dan islam
Pertanyaan :

1. Bagaimana cara membedakan darah haid dan istihadhah?
2. Apabila kebiasaan haid seseorang adalah satu pekan, kemudian suatu saat mendapati haid yang lebih lama dari kebiasaan, misal sebulan, bagaimana menentukan kapan saat istihadhah dan wajib shalatnya?
3. Apabila haid seseorang lama sekali, lebih dari tiga pekan,  boleh kah kita ber-ijtihad sendiri untuk menentukan kapan haid dan kapan saat istihadhah ?
4. Bagaimana bila penampakan zatnya seperti haid tapi jangka waktunya lebih dari tiga pekan, apakah istihadhah?
Jazakumullah khairan katsiiran

๐Ÿ‚๐Ÿƒ๐Ÿ‚ Jawaban

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡
1.Darah haid warnanya merah tua kehitaman dan bau yg khas. Kalau darah istihadhoh, warnanya merah segar,  Cerah.

2. kalau haid biasa sepekan maka setelahnya bukร n haid . Tetapi isthadhoh. Sholatnya saat sdh berhenti haid mandi bersih lalu sholat .biasanya terlihat dari perubahan darah. Bila segar dan cerah berarti istihadhoh

3. Kalau tidak mengalami maka tidak paham. Kalau mengalami nanti akan tahu dan terasa kapan haid dan kapan istihadhoh. Jadi jangan berandai andai.

4.Jangan bertanya apa yang tidak di alami.
 Maksudnya kalau belum terjadi tidak usah ditanya. Karena apa yg ditanyakan tidak sesuai. Krn haid dan istihadhoh pasti beda.

Wallahu a’alam