Kisah Istri Nabi Nuh AS

Sabtu, 21 Muharram 1438 H / 22 Oktober 2016

KELUARGA

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Kisah istri Nabi Nuh AS ini diabadikan Allah di surat At-Tahrim ayat 10 :

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلا النار مع الداخلين

At Tahrim Ayat 10-12

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”

Pagi bersinar cerah dengan cahaya mentari memancar tajam menerangi penjuru bumi dengan sinarnya yang tajam. Seluruh makhluk bertasbih kepada Allah Robb Sang Pemilik Mentari.

Pagi itu…nabi Nuh AS keluar rumah untuk berdakwah menyeru manusia agar menyembah Allah SWT.
Pagi itu juga, istri nabi Nuh beranjak dari peraduan. Ia bersolek, memakai pakaian terbaik, menggunakan perhiasan simpanannya dan bergegas menemui karib kerabatnya. Hari ini hari raya besar….pesta akan dilaksanakan di tempat penyembahan berhala Wadda, Suwa’, Yaghuts, Ya’uuq, dan Nasra. Mereka bergegas dengan membawa berbagai sesajen dari makanan yg beragam, bunga2 yg bermacam, serta wewangian yg menjadi persembahan bagi para berhala.

Dalam perjalanan pulang dari perayaan besar itu, istri nabi Nuh bertemu dengan putranya Kan’an yang menceritakan dakwah yang dilakukan sang ayah. Seraya terbahak si anak berkata : “
Ayah menginginkan agar tuhan-tuhan itu dijadikan hanya satu saja.”

Si ibu berkata : “Biarlah dia bersama mereka. Mereka akan menjadikannya pahlawan pembawa petunjuk.”

Si anak berkata lagi : “Bayangkan ibu! Ayah menyeru manusia seperti kebiasaannya dan mereka berkumpul disekelilingnya dan ayah mulai meracuni mereka dengan kata-kata ajaibnya.”
Si ibu berkata: “Aku hafal betul apa yang dia katakan ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,
(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.'(QS Nuh :2-3)”.

Ia mengucapkannya dengan penuh amarah. Baginya…apa yang dilakukan suaminya adalah perbuatan yang hina dan memalukan. Mencoreng nama baik dan kedudukannya di tengah kaum kerabatnya.
Si anak bertanya:”Bagaimana engkau hafal dengan apa yang disampaikan ayah itu wahai ibu?”.
Si ibu menjawab: “Karena setiap waktu siang dan malam, pagi dan sore, kalimat itulah yang disampaikan ayahmu kepada setiap orang.” Ia melanjutkan : “Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya saat ia pulang nanti.”
Beberapa saat kemudian nabi Nuh AS memasuki rumahnya. Dan saat itu juga, si istri memberondongnya dengan kata2 penuh caci maki dan amarah. Nabi Nuh AS berkata:”Takutlah engkau kepada Allah dan tinggalkanlah menyembah berhala. Jangan engkau pelihara anakmu dalam kesesatan.”

“Dan diwahyukan kepada Nuh, “Ketahuilah, tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat. Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS Huud:36-37)…..

Inilah perintah Allah SWT kepada nabi Nuh AS. Allah memerintahkan kepada beliau untuk membuat bahtera. Dengan keta’atan nabi Nuh AS melaksanakan perintah Robb-nya.

Dan lihatlah apa yg dilakukan istri serta kaumnya. Setiap kali mereka lewat di tempat nabi Nuh membuat bahtera, si istri tertawa dengan penuh ejekan dan mengatakan :”Rupanya kau telah alih profesi. Apakah engkau telah meninggalkan ibadah kepada Tuhanmu dan beralih menjadi tukang kayu?”. Ejekan itu terus dikatakan istrinya setiap hari. Hingga ketika bahtera itu sudah sempurna, nabi Nuh AS mengajak orang2 yang beriman untuk pergi menaiki bahtera dengan membawa keluarga bahkan binatang ternak miliknya.

Dan inilah istri nabi Nuh yang tak henti mengolok-olok. “Apakah engkau membawa binatang ternak yang beriman kepadamu dan meninggalkan yang lain karena tidak beriman kepadamu?”. Nabi Nuh AS menjawab:”Ini adalah perintah Allah.”

Pagi itu….saat seharusnya mentari bersinar terang, Allah taqdirkan air bah melimpah ruah keluar dari semua sumbernya dan hujan deras tak terhingga menyertai kepergian nabi Nuh AS meninggalkan kaumnya tanpa disertai istri dan anaknya. Angin topan bertiup kencang memporak porandakan apa yang ada dipermukaan bumi. Nabi Nuh AS masih berharap anaknya bisa ikut bersamanya. Dari atas bahtera yang kokoh, nabi Nuh berseru: “Ayo….pergilah bersama kami!”. Namun si anak menjawab: “Aku bersama ibu akan pergi ke puncak gunung.” Maka sirnalah harapan itu. Harapan untuk pergi dengan selamat bersama orang terdekat anak dan istri…

*Hikmah kehidupan :*

1⃣ Ada model pasangan suami istri yang sikapnya kepada Allah SWT begitu kontras. Suami sangat soleh dan istri sebaliknya. Membangkang aturan2 Allah.

2⃣ Dalam kondisi taqdir seperti ini, sikap istri tidak harus menjadikan suami berhenti berdakwah. Ia tetap berdakwah dengan terus mengupayakan perubahan sikap istrinya.

3⃣ Peran ibu dalam memelihara & menumbuhkan hidayah dalam diri seorang anak sangat penting. Jangan serahkan urusan memelihara hidayah kepada guru ngaji. Tetapi ibulah yang menghandle urusan ini.

4⃣ Ujian dalam keluarga seorang da’i terkadang lebih berat daripada ujian yang datang dari luar.

5⃣ Khianat terbesar seorang istri adalah khianat dalam aqidah dan dakwah.

6⃣ Diantara karakter istri tolihah (kebalikan solihah) adalah sering mengejek/mengolok2/memandang rendah pekerjaan dan kondisi suami.

7⃣ Hidayah tidak mengenal nasab dan ikatan keluarga. Bahkan ia bisa begitu jauh dari orang2 terdekat seorang da’i. Maka mintalah kepada Allah dan berdo’alah agar hidayah selalu bersemai dihati kita, keluarga kita, orang2 dekat kita dan orang2 yg kita cintai

اللهم نور قلوبنا بنور هدايتك كما نورت الارض بنور شمسك ابدا ابدا يا ارحم الراحمين
“Ya Allah…terangilah hati kami dengan cahaya hidayahMu sebagaimana Engkau menerangi bumi dengan cahaya matahai yg tidak pernah padam…selamanya…. selamanya…wahai yang Maha Penyayang..”

Wallohu a’lam bis showwab

Kisah Mariyah Al-Qibtiyah

Sabtu, 14 Muharram 1438 H / 15 Oktober 2016

SIROH & KELUARGA

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Kisah Mariyah Al-Qibtiyah

Mariyah lahir di kota Jafnin sebelah timur sungai Nil ke arah Asmuniyah. Kemudian ia pindah ke istana Muqauqis gubernur Mesir dan hari demi hari ia lalui di sana. Hari-hari yang tergadaikan. Hingga suatu hari…datanglah Hatib bin Bi Balta’ah membawa surat dari Rasulullah Saw mengajak Muqauqis kepada Islam.

Bismillahirrahmanirrahiim
Dari Muhamad bin Abdillah hamba Allah dan rasulNya. Aku ingin mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah maka kalian akan selamat. Allah akan memberikan pahala bagimu dua kali lipat. Jika engkau menolaknya maka engkau akan menanggung dosa orang Qibti semuanya.

“Katakanlah wahai ahlul kitab, marilah kita berpegang kepada satu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak menyekutukan sesuatu denganNya, sebagian kita tidak menjadikan yang lain sebagai tuhan selain Allah, bila mereka berpaling maka katakanlah “Saksikanlah bahwa kami berserah diri (kepada Allah).” (QS Ali Imran:94)

Mariyah seorang budak belian yang cantik mendengar isi surat tersebut yang membuat hatinya lapang. Fikiran dan jiwanya melayang membayangkan siapa orang yang mengirimkan kata-kata indah penuh makna itu. Jantungnya hampir berhenti berdetak ketika seorang pemuka mengatakan bahwa  ia bersama saudara kandungnya dipilih oleh kaisar untuk pergi ke Madinah sebagai hadiah untuk Rasulullah Saw. Bersamanya Muqauqis menyertakan emas permata, perhiasan yang indah serta madu asli yang sangat lezat. Ia menyambut perjalanan ini dengan penuh suka cita dengan kerinduan akan hidayah Allah.

Aku membaca suratmu dan memahami isinya. Aku mengetahui bahwa seorang nabi telah datang dan aku kira ia berasal dari daerah Syam. Aku telah memuliakan utusanmu dan mengutus untukmu dua orang sahaya yang memiliki kedudukan yang mulia di Qibty. Bersama dengan berbagai perbekalan yang dapat engkau manfaatkan. Semoga keselamatan atasmu. (Inilah surat balasan dari Muqauqis untuk Rasulullah Saw)

Saat rehat di perjalanan, Hatib bercerita kepada Mariyah tentang Rasulullah dan Islam serta bagaimana beliau sangat memuliakan manusia dan menjaga kehormatannya juga memperhatikan kebebasan beribadah.
Detak jantung Mariyah saling berbalapan saat perjalanan sudah mendekati Madinah. Nabi meminta Mariyah untuk tetap bersamanya dan menghadiahkan Sirin saudaranya kepada Hissan bin Tsabit.

Para istri Rasulullah menyambut kehadiran duta baru disertai rasa cemburu dalam hati mereka. Suatu pagi ummul mukminin Hafsah pergi ke rumah ayahnya. Tak lama kemudian ia kembali. Dan ternyata di dalam rumahnya Rasulullah sedang berbincang dengan Mariyah. Betapa marahnya Hafsah. Ia berkata:”Jika engkau tidak merendahkanku, tidak akan engkau ajak dia ke rumahku.” Dan mulailah ia menangis. Rasulullah menenangkannya dengan mengatakan: “Sesungguhnya  Mariyah haram untukku.” Beliau meminta Hafsah untuk tidak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun. Namun Hafsah menceritakannya kepada Aisyah dan akhirnya semua istri Rasulullah melakukan _unjuk rasa_. Rasulullah sampai bersumpah untuk tidak menjumpai mereka selama satu bulan. Dan tersiarlah kabar bahwa Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya.

Maka turunlah surat At-Tahrim ayat 1
  يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيم

“Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS At Tahrim:1)

Rasulullah Saw memindahkan Mariyah ke daerah aaliyah (tempat penyembelihan di Madinah) yang jauh dari istri-istrinya. Kemudian Mariyah hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim.

Kelahiran Ibrahim disambut gembira oleh Rasulullah Saw. Beliau mencarikan sebaik-baik kabilah untuk merawatnya dan memberikan berbagai hadiah kepadanya. Ketika Ibrahim berusia delapan belas bulan, ia jatuh sakit yang cukup parah. Ia dipindahkan ke sebuah kamar disamping masyrubah Ummu Ibrahim. Mariyah bersama saudaranya Sirin bergantian menjaganya. Setelah Rasulullah diberi kabar akan sakitnya Ibrahim beliau segera datang dan menggendongnya. Dengan berlinang air mata beliau menemani Ibrahim hingga menghembuskan nafas terakhirnya.

Rasulullah telah mewasiatkan kebaikan akan orang-orang Qibty. Beliau bersabda:”Akan dibebaskan Mesir setelah ini. Maka aku wasiatkan kepada kalian agar memperlakukan orang-orang Qibty dengan baik. Sesungguhnya mereka memiliki tanggungan dan sifat penyayang.

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Kisah Ummu Kultsum binti Uqbah

📆 Sabtu, 07 Muharram 1438 H / 08 Oktober 2016

📚 *SIROH & KELUARGA*

📝 Pemateri: *Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag*

📝 *Kisah Ummu Kultsum binti Uqbah*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَلا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ذَلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS Al Mumtahanah:10)

🌟Ketika cahaya Islam bersinar di jazirah Arab, keyakinan kepada Allah merasuki relung hatinya. Ia beriman kepada Allah dan RasulNya dan kehidupannya disinari petunjuk dan ketakwaaan.

📚 Ayahnya seorang yang sangat memusuhi Islam. Ummu Kultsum menyembunyikan keislamannya. Dan ketika Rasulullah bersama para sahabat hijrah ke Madinah, ia merindukan kehadiran kaum muslimin dan majlis-majlis iman. Maka ia bertekad untuk hijrah ke Madinah dan dengan sembunyi-sembunyi ia mempersiapkan perjalanan menuju Madinah.

🌸 Ummu Kultsum menceritakan perjalanan hijrahnya: sesungguhnya ia mulai meninggalkan kampung dan tinggal 3 atau 4 malam di pinggiran Tan’im. Hingga ia benar2 membukatkan tekad untuk berhijrah. Di perjalanan ia bertemu dengan seseorang dari Bani Khuza’ah yang bertanya:”Hendak pergi kemana wahai hamba Allah?” Ketika ia tahu bahwa yg bertanya adalah seorang Khuza’qh dan Khuza’ah terikat pernanjian dengan Rasulullah Saw, ia menjawab: “Aku seorang perempuan Quraisy yang ingin menyusul Rasulullah ke Madinah.” Lelaki Khuza’ah itu kemudian membawakan seekor unta, didudukan dihadapannya dan mempersilakannya untuk naik. Lelaki itu bersumpah untuk tidak berbicara kepadanya hingga sampai di Madinah. Sesampainya di Madinah ia menemui Ummul Mu’minin Ummu Salamah yang bertanya kepadanya :”Apakah engkau berhijrah untuk Allah dan RasulNya.” Ummu Kultsum menjawab:”Ya, akan tetapi aku takut Rasulullah Saw mengembalikan aku kepada orang2 Quraisy sebagaimana beliau mengembalikan Abu Jandal dan Abu Bashir.”

📚 Ketika memasuki rumah Rasulullah Saw, beliau menyambutnya.  Ummu Kultsum berkata:”Sesungguhnya aku lari menujumu untuk menyelamatkan agamaku. Maka lindungilah aku dan jangan kau kembalikan aku kepada mereka. Mereka akan menyiksaku dan aku bukan  orang yang sabar menghadapinya. Sesungguhnya aku  seorang  perempuan yang lemah.”
Maka Allah menurunkan surat Al-mumtahanah ayat 10.

🌷Al Walid dan Ammaroh dua saudara kandung Ummu Kultsum, kemudian menyusul ke Madinah untuk bertemu Rasulullah Saw.  Mereka berkata:”Ya Muhammad, apakah engkau melanggar perjanjian antara engkau dan kami?” Rasulullah menjawab:” Allah telah membatalkan perjanjian  itu dengan apa yang telah Ia ajarkan kepada kita tentang perempuan.” Dan kedua saudara Ummu Kultsum itu pun pergi meninggalkannya di Madinah.

💍Hari berlalu….dan Zubair bin Awwam, Zaid bjn Haritsah, Abdurrahman bin Auf, Amr bin Ash hadir untuk melamar Ummu Kultsum. Ia bingung, siapa yang harus ia pilih diantara sahabat2 mulia ini? Ia pun menemui saudara seibunya yaitu Utsman bin Affan untuk bermusyawarah. Utsman menyarankan agar ia bertanya kepada Rasululloh Saw dan memilihkan baginya. Maka Nabi Saw menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah dan lahirlah dari pernikahan itu Zaid bin Zaid dan Ruqoyyah. Keduanya wafat saat masih anak2. Kemudian Zaid menceraikannya dan ia menikah dengan Zubair bin Awwam. Dari pernikahan ini lahirlah seorang anak yaitu Zainab. Zubair bin Awwam saat itu dikenal sangat keras terhadap perempuan. Ummu Kultsum tidak menyukai perangainya dan meminta talak akan tetapi Zubair menolak. Suatu hari ia merajuk kepadanya dibulan terakhir kandungannya. Maka Zubair mentalaknya dan iapun melahirkan. Zubair sempat mengadu kepada Rasulullah dan menginginkan untuk tidak menceraikannya. Dan Rasulullah menjelaskan ia harus memulainya dari awal dengan kembali melamarnya. Akan tetapi Ummu Kultsum tidak menghendaki untuk kembali kepadanya. Kemudian Abdurrahman bin Auf menikahinya dan ia hidup bahagia bersamanya. Dari pernikahan ini lahir Ibrahim dan Humaidan. Hingga Abdurrahman bin Auf wafat, ia kemudian dinikahi oleh Amr bin Ash dan terus hidup bersamanya sampai akhir hayatnya.

✍🏻Ummu Kultsum meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw :”Bukanlah pendusta ia yang memperbaiki hubungan antara sesama dengan mengatakan yang baik2 saja.” Ibrahim dan Humaidan kedua putranya meriwayatkan hadits ini.

🌸Diriwayatkan bahwa para muslimah menemuinya dan meminta nasehat darinya. Maka Ummu Kultsum binti Uqbah mengatakan :”Sesungguhnya hubungan antaramu dengan suamimu harus berdasarkan cinta dan kasih sayang yang dengannya hati kalian berdua bersatu. Dengannya ruh kalian berpadu. Hingga masing2 kalian menjadi tempat menyimpan rahasia pasangannya dan menjadi penguat dalam kesulitan dan berbagai masalah.”

Wallahu a’lam bish showab

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
– Telegram : @majelismanis
– Fans Page : /majelismanis
– Twitter : @grupmanis
– Instagram : @majelismanis
– Play Store : Majelis Iman Islam
– Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Kisah Kabisyah binti Ma'an

📆 Sabtu, 22 Dzulhijjah 1437H / 24 September 2016
📚 *SIROH & KELUARGA*

📝 Pemateri: *Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag*
📝 *Kisah Kabisyah binti Ma’an*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Kabisyah binti Ma’an menikah dengan seseorang yang sudah menikah sebelumnya dengan perempuan lain dan memiliki anak. Ia hidup berkeluarga dengannya penuh dengan ridho dan bahagia. Suaminya adalah tipe yang sangat penyayang dan melindungi keluarga. Akan tetapi….Kabisyah tak juga dikarunia anak. Istri pertama suami Kabisyah meninggal. Dan tinggallah si anak dengan ayahnya dan Kabisyah dengan penuh kasih sayang. Si anak benar-benar merasakan kasih sayang Kabisyah. Ibu sambungnya itu perempuan yang sangat baik. Pantas jika ia menempati tempat istimewa di lubuk hati sang ayah.
Tahun berganti dan suami Kabisyah jatuh sakit cukup lama.  Suatu hari ia memanggil anaknya dan berwasiat agar menjaga dan memelihara ibunya dengan baik. Kemudian ia memanggil istrinya dan menitipkan anaknya kepadanya. Tak lama iapun wafat.
Setelah pemakaman usai, Kabisyah dikejutkan dengan Abul Qois anak suaminya yang melemparkan baju suaminya kepadanya. Dalam kebiasaan jahiliyah itu berarti bahwa istri tidak memiliki hak atas waris suaminya dan tidak boleh menikah lagi. Dan urusannya berada ditangan anak/kerabat mayit yang melemparkan pakaian tadi. Jika ia berkehendak, ia (anak atau kerabat mayit) bisa menikahinya, menikahkan istri si mayit dengan siapa saja laki-laki pilihan anak/kerabat itu,  atau membiarkan si istri terpenjara didalam rumah hingga akhir hayatnya.
Diam-diam Kabisyah menemui Rasulullah Saw. Ia tahu bahwa Islam memuliakan perempuan dan memberi kabar gembira kaum mukminat yang solihat bahwa mereka akan mendapatkan surgaNya. Dan bahwa ia memiliki taklif/beban dari Allah sebagaimana laki-laki, sama persis. Ia berharap Rasulullah Saw akan menyelamatkannya dari penjara rumah dan kezaliman ini. Ia mendapatkan Rasulullah sedang di mesjid, kemudian ia berkata:”Ya Rasulullah…suamiku wafat dan anaknya melemparkan baju suamiku kepadaku. Maka aku tidak mendapatkan waris dari suamiku dan aku tidak bisa menikah lagi. Dan inilah aku…seorang tawanan dirumahnya sendiri yang hanya menunggu mati. Maka aku menanti pemuliaan Islam terhadap perempuan.”
Allah Swt mendengar aduan Kabisyah dan turunlah ayat yang melarang kaum muslimin menghalangi waris perempuan dengan cara seperti ini.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّساءَ كَرْهاً وَلا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلاَّ أَنْ يَأْتِينَ بِفاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An Nisa: 19)
📚 *Hikmah kehidupan:*
✳ Islam memuliakan perempuan dan menempatkannya di posisi yang sama dengan laki-laki.
✳ Di hadapan Allah, laki-laki dan perempuan berada pada posisi yang sama. Perbedaan mereka ada pada fisik yang menyebabkan berbeda karakter. Perbedaan fisik dan karakter berdampak pada perbedaan peran. Dan perbedaan peran inilah yang menjaikan mereka berbeda tanggung jawab.
✳ Manusia paling mulia adalah yang paling bertakwa . Baik ia laki-laki maupun perempuan.
✳ Harta adalah fitnah dunia. Jika tak arif memandang dan menggunakannya, ia bisa menjadi sumber masalah, memecah ukhuwah dan menimbulkan tamak dalam diri.
✳ Didalam Islam seorang perempuan dibenarkan mencari keadilan untuk dirinya sendiri. Berjuang dan tidak tergantung pada orang lain.
✳ Kisah Kabisyah juga menjadi teladan bahwa seseorang (terutama perempuan) tidak boleh berdiam diri saat didzalimi orang lain, akan tetapi harus berusaha untuk keluar dari kedzaliman itu.
✳ Rasulullah Saw sangat menghargai suara perempuan. Mereka diberi kesempatan untuk belajar, menyampaikan pendapat, mengadukan masalah, dll. Bahkan Allah Swt yang langsung merespon aduan kaum perempuan.
Wallohu a’lam bis showwab
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan oleh:
website: http://www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kisah Jumail binti Yassar

📆 Sabtu, 15 Dzulhijjah 1437H / 17 September 2016
📚 *SIROH & KELUARGA*

📝 Pemateri: *Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag*
📝 *Kisah Jumail binti Yassar*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
🍂Jumail binti Yassar adalah saudara sahabat mulia Ma’qal bin Yassar. Ia menikah dengan seorang laki-laki muslim Abul Baddah. Akan tetapi ia seorang yang sangat pencemburu pada istrinya.
🍁Inilah dia…menghadapi istrinya dengan emosi dan kemarahan yang luar biasa karena sang istri berbincang akrab dengan para tetangga. Ketika ia (suaminya) masuk rumah dan tidak mendapatkan makanan, tersulutlah api kemarahan hingga kedua suami istri berdebat hebat.  Dan sampailah perdebatan itu pada kalimat talak. Maka Jumail mengumpulkan barang2 miliknya dan membawanya ke rumah saudaranya Ma’qal dengan kondisi larut dalam sedih disebabkan talak yang dijatuhkan suaminya.  Ia menunggu amarah suaminya reda dan berharap untuk kembali kepadanya. Akan tetapi bulan berlalu dan masa iddah telah penuh hingga talak itu benar2 menjadi talak ba’in. Dan ia tidak akan halal lagi kecuali dengan akad dan mahar baru.
🌿Dan seseorang melamarnya. Ketika Abu Dabbah mengetahui bahwa mantan istrinya hendak menikah lagi, ia segera menemui saudaranya memintanya untuk mengembalikan istrinya kepadanya dengan mengakui semua penyesalan atas apa yang dilakukan dimasa lalu. Namun Ma’qal bin Yassar menyikapi dingin dengan mengatakan: “Sungguh Allah telah memuliakanmu dengannya kemudian engkau mentalaknya. Demi Allah aku tidak akan mengembalikannya kepadamu…selamanya.” Ma’qal dengan nyata menolaknya. Maka Abu Baddah menemui Rasulullah Saw dan mengadukannya. Dan Jumail menginginkan untuk kembali kepada suaminya. Ia menemui saudaranya menyampaikan keinginan hatinya untuk kembali kepada suaminya. Akan tetapi saudaranya menolaknya.
🍀Rasulullah Saw mengutus seseorang untuk memanggil Ma’qal bin Yassar dan menghadapnya. Ia berkata:”Ya Rasulullah, ia telah mentalaknya dan menghinakannya. Iddahnya telah selesai. Dan aku memandang menikahkannya dengan orang yang menyayanginya dan melindunginya akan lebih baik.” Nabi Saw terdiam…hingga turunlah ayat
وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تعلمون
“Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari akhir. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 232)
Mendengar ayat ini Ma’qal berkata:”Aku mendengar dan taat kepada Tuhanku.” Dan ia berkata kepada Abu Dabbah:”Menikahlah dengannya. Sesungguhnya ia untukmu.”
*Hikmah kehidupan:*
🍃Ada tipikal suami yang unik. Diantaranya pencemburu atau temperamen. Suami tipe ini ada disetiap zaman….di setiap masa. Bahkan dimasa Rasulullah dan para sahabat.
🌾Perselisihan antara suami istri kadang disebabkan hal yang sepele. Tapi jika ditanggapi dengan serius oleh kedua pihak akan menjadi masalah besar.
🍃Setiap pasangan perlu mengenali situasi kritis dimana ia tahu apa sikap yang harus diambil dalam situasi tertentu. Saat terjadi perselisihan misalnya. Apakah kedua suami istri harus sama2 bicara saat itu juga, atau istri perlu menunggu amarah suami reda baru bicara atau sebaliknya. Suami yg menunggu istrinya selesai bicara dan kondisinya tidak marah baru suami bicara. Pola komunikasi ini bukan menentukan siapa yang lebih mulia akan tetapi cara menghadapi masalah agar tuntas dengan logis dan rasional. Dalam kondisi marah, keputusan2 yang diambil seringkali tidak rasional.
🍃Tidak dibenarkan setiap kali ada masalah salah satu pasangan pergi meninggalkan rumah. Seyogyanya keduanya bertahan hingga tercapai kata sepakat apa langkah selanjutnya.
🌾Komunikasi terbuka suami istri…sangat penting. Jangan menunggu semua terlambat. Bicaralah….
🌾Rumah tangga itu pelik. Maka perlu jeli memahami berbagai situasinya. Perjalan rumah tangga itu panjang. Maka perlu banyak perbekalan untuk menempuhnya.
🍃Pernikahan itu bukan hanya tentang 2 orang yang berpasangan akan tetapi terkait dengan banyak orang dengan keluarga besar. Pertimbangkan hal ini terutama saat mengambil keputusan2 penting.
🍃Didalam Islam, perempuan memiliki kebebasan & kehormatan. Termasuk untuk menentukan pasangannya. Bahkan orang tua atau saudara, tidak boleh memaksakan kehendaknya.
🌾Keta’atan para sahabat kepada Allah dan RasulNya sungguh luar biasa. Bahkan untuk sesuatu yang berat bagi hatinya.
🍃Bersegera dalam  ta’at kepada Allah dan tidak menundanya adalah ciri mukmin sejati.
Wallohu a’lam bis showwab

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan oleh:
website: http://www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Ketika Kepercayaan Menghilang Dalam Pernikahan (bag. 3)

📆 Sabtu, 8 Dzuhijah 1437H / 10 September 2016
📚 *KELUARGA*
📝 Pemateri: *Ustadzah Dra. INDRA ASIH*
📝 *Ketika Kepercayaan Menghilang Dalam Pernikahan (bag. 3)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Bag. 2 :  http://www.iman-islam.com/2016/09/ketika-kepercayaan-menghilang-dalam.html?m=1
lanjutan beberapa tindakan yg sering dilakukan oleh sumai yg melanggar ketentuan Allah dan mengabaikan hak-hak istri :
5⃣ *Menarik Mahar Tanpa Keridhaan Istri*
“jika kalian (para suami) ingin mengganti istri dengan istri yang lain,sedang kalian telah memberikan kepada salah seorang diantara mereka itu mahar yang banyak,janganlah kalian mengambilnya kembali sedikitpun. Apakah kalian kalian akan mengambilnya kembali dengan cara cara yang licik dan dosa yang nyata?Bagaimana kalian akan mengambilnya kembali,sedangkan kalian satu dengan lainnya sudah saling bercampur (sebagai suami istri) dan mereka ( istri istri kalian) telah membuat perjanjian yang kokoh dngan kalian,”(QS.An-Nisaa’(4):20-21)
Ayat tersebut dengan tegas mencela suami yang meminta atau menarik kembali mahar yang telah diberikan kepada istrinya, baik sebagian maupun seluruhnya. Tujuan islam menetapkan mahar dalam perkawinan adalah untuk menghormati kedudukan istri yang pada jaman sebelum islam tidak mendapatkan hak untuk memiliki dan menguasai harta kekayaan apapun, baik dari orang tuanya maupun suaminya. Disamping itu mahar merupakan lambang kekuasaan perempuan yang diberikan oleh islam untuk menentukan pilihan atas laki laki yang akan mempersuntingnya.
Suami yang terlanjur menarik maharnya hendaknya segera meminta maaf kepada istriya dan memohon ampun kepada Allah SWT.
6⃣ *Melanggar Persyaratan Istri*
“Hai orang orang yang beriman,penuhilah janji janji kalian..”(QS.Al-Maaidah(5):1)
“Dari Uqbah bin “Amir ra, ia berkata:”Rasulullah saw bersabda: ’Syarat yang paling berhak untuk kalian penuhi ialah syarat yang menjadikan kalian halal berwenggama dengan istri kalian.’”(HR.Bukhari,Muslim,Tirmidzi,Abu Dawud,Ibnu Majah,Ahmad dan Darimi)
Allah memerintahkan orang orang yang beriman untuk memenuhi janji yang dibuatnya dengan orang orang yang terlibat dengan perjanjian. Dalam Hadist tersebut Rasulullah saw menerangkan bahwa suami istri harus memenuhi perjanjian yang telah dibuatnya, bahkan perjanjian seperti itu paling patut dipenuhi dengan  sebaik baiknya. Islam membenarkan pemberian syarat yang diajukan oleh pihak istri maupun keluarga istri selama tidak bertentangan dengan syariat islam kepada calon suami.
7⃣ *Mengabaikan Kebutuhan Seksual Istri*
Dari anas ra, Nabi saw bersabda: ”jika seseorang diantara kalian bersenggama dengan istrinya, hendaklah ia melakukannya dengan penuh kesungguhan. Selanjutnya, bila ia telah menyelesaikan kebutuhannya (mendapat kepuasan) sebelum istrinya mendapatkan kepuasan, janganlah ia buru buru sampai istrinya menemukan kepuasan.”(HR.’Abdur Razzaq dan Abu Ya’la)
Rasullullah saw bersabda: ”janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian menyenggamai istrinya seperti seekor hewan bersenggama, tetapi hendaklah ada pendahuluan diantara keduanya.’ada yang bertanya ”apakah pendahuluan itu?”beliau bersabda :”ciuman dan ucapan (romantis).” (HR Abu Syaikh)
Memenuhi kebutuhan seksual istri yaitu mengusahakan agar istri mendapatkan kepuasan sebagaimana yang suami dapatkan. Bagaimanapun, suami harus berusaha  dan memperhatikan kebutuhan seksual istri dan tidak boleh mengabaikannya karena berarti melanggar perintah agama.
8⃣ *Menyenggamai Istri Saat Haidh*
  
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah:’ haidh itu adalah suatu kotoran.’ Oleh karena itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita pada waktu haidh dan janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka bersuci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka ditempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang bertaubat dan menyukai orang orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah(2):222)
Wanita yang sedang haidh berada dalam keadaan sakit, maksudnya ialah mengalami keadaan yang membuat kesehatannya terganggu karena keluarnya darah kotor dari dalam rahimnya.
Menyenggamai istri saat haidh adalah suatu perbuatan yang dilarang karena sama halnya dengan menyakitinya dan merupakan suatu tindakan yang mengganggu keselamatannya. Di sebut darah kotor karena didalamnya terkandung bibit penyakit yang jika dipaksa melakukan hubungan seksual bakteri-bakteri tersebut tidak hanya menjangkiti milik istri tapi juga milik laki laki juga ikut terserang.
Sungguh berdosa bagi suami yang melakukan perbuatan keji yang menyakiti dirinya dan istrinya.
8⃣ *Menyenggamai Istri lewat Duburnya*
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: ”’Umar (Ibnu Khaththa) datang kepada Rosulullah saw., ia bertanya: ‘Ya Rosullullah, saya telah binasa.’ Beliau bertanya: ‘apa yang menyebabkan kamu binasa?’ Ia menjawab: ‘semalam saya telah membalik posisi istriku. ’akan tetapi beliau tidak menjawab sedikitpun, lalu turun kepada Rosulullah saw ayat. ‘istri kalian adalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian dimana dan kapan saja kalian kehendaki.’ (selanjutnya Beliau bersabda: ’Datangilah dari depan atau belakang, tetapi jauhilah dubur dan ketika haidh.’”( HR Tarmidzi)
Perbuatan menyenggamai istri pada duburnya merupakan tindakan yang membinasakan pribadi muslim, setiap suami muslim wajib menjauhinya, karena hal ini merupakan tindakan yang dimurkai oleh Allah dan merupakan kedurhakaan terhadap istri.
1⃣0⃣ *Menyebarkan Rahasia Hubungan Dengan Istri*
Hubungan suami istri haruslah dilakukan ditempat yang tidak terlihat orang lain, bahkan suaranya pun tak boleh terdengar orang lain. Suami istri wajib menjaga kehormatan masing masing apalagi dihadapan orang lain.
1⃣1⃣ *Menuduh Istri Berzina*
 “dan orang orang yang menuduh istri mereka berzina, padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka kesaksian satu orang dari mereka adalah bersumpah empat kalli dengan nama Allah bahwa sesungguhnya dia adalah termasuk orang orang yang benar (dalam tuduhannya) dan kelima kalinya (ia mengucapkan) bahwa laknat Allah akan menimpa dirinya jika ternyata ia tergolong orang orang yang berdusta.” (QS.An-Nuur (24):6-7)
Ayat tersebut memberi ketentuan untuk melindungi istri dari tuduhan suami. Karena tuduhan itu dapat merusak kehormatan dan harga diri istri. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengaturan ketat agar suami tidak sembarangan menuduh istrinya berzina tanpa bukti yang dipertanggung jawabkan menurut syari’at Islam.
1⃣2⃣ *Merusak Martabat Istri*
Dari mu’awiyah Al-Qusrayiri, ia berkata: ”saya pernah datang kepada Rosulullah saw.’ Ia berkata lagi: ’saya lalu bertanya: ’Ya Rosulullah, apa saja yang engkau perintahkan (untuk kami perbuat) terhadap istri-istri kami? ’Beliau bersabda: ’…janganlah kalian memukul dan janganlah kalian menjelek-jelekan mereka.’”(HR Abu Dawud)
Nabi saw melarang para suami menjelek-jelekan atau merendahkan martabat istri. Suami dilarang menggunakan kata yang bernada merendahkandan menghina martabat istri baik dihadapannya maupun dihadapan orang lain. Walaupun istri berasal dari keluarga yang lebih rendah status ekonominya dibanding dirinya.
📚 *Istri, Jangan Khianati Amanah Kalian.*
Tanggungjawab suami yang tidak ringan diatas mesti diimbangi dengan ketaatan seorang istri pada suaminya. Kewajiban seorang istri dalam urusan suaminya setahap setelah kewajiban dalam urusan agamanya. Hak suami di atas hak siapapun setelah hak Allah dan Rasul-Nya, termasuk hak kedua orang tua. Mentaatinya dalam perkara yang baik menjadi tanggungjawab terpenting seorang istri
1⃣ *Ketaatan istri pada suami adalah jaminan surganya.*
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban)
Suami adalah surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi keridhoan Allah. Istri yang tidak diridhoi suaminya karena tidak taat dikatakan sebagai wanita yang durhaka dan kufur nikmat.
Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian? Rasulullah pun menjawab bahwa diantarannya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. (HR Bukhari Muslim)
2⃣ *Menyadari kedudukan suami.*
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi para suami atas mereka (para istri). (HR Abu Dawud)
Hak suami berada diatas hak siapapun manusia termasuk hak kedua orang tua. Hak suami bahkan harus didahulukan oleh seorang istri daripada ibadah-ibadah yang bersifat sunnah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh bagi seorang perempuan berpuasa sementara suaminya ada di rumah kecuali dengan izinnya. Dan tidak boleh baginya meminta izin di rumahnya kecuali dengan izinnya.” (HR Bukhari Muslim)
3⃣ *Dalam hak berhubungan suami-istri, jika suami mengajaknya untuk berhubungan, maka istri tidak boleh menolaknya.*
“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR Bukhari Muslim)
4⃣ *Hendaknya seorang istri benar-benar menjaga amanah suami di rumahnya*
Baik harta suami dan rahasia-rahasianya, begitu juga bersungguh-sungguh mengurus urusan-urusan rumah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan wanita adalah penanggungjawab di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR Bukhari Muslim)
5⃣ *Tidak Keluar Rumah Kecuali Dengan Izin Suami*
Seorang istri juga tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suami. Karena tempat asal wanita itu di rumah. Sebagaimana firman Allah, “Dan tinggal-lah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian.” (QS. Al Ahzab [33]: 33)
Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan.” (Tafsir Al Quran Al Adzim 6/408).
Dengan demikian, wanita tidak boleh keluar rumah melainkan untuk urusan yang penting atau termasuk kebutuhan seperti memasak dan lain-lain. Jika bukan urusan tersebut, maka seorang istri tidak boleh keluar rumah melainkan dengan izin suaminya.
📚 *Penutup*
Perlu diketahui, bahwa menjalankan amanah dan menjaganya bukanlah perkara yang bisa dilakukan semudah membalik tangan.
Allah swt telah menjelaskan tentang beratnya amanah di dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah (yaitu menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa`: 58)
Sedangkan cara untuk menjalankan amanah ini, adalah dengan kita senantiasa menginginkan agar orang lain mendapatkan kebaikan sebagaimana kita menginginkan kebaikan itu pada diri kita.
Hal ini sebagaimana sabda nabi saw:
لاَ يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يـُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُـحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Mudah-mudahan Allah swt menyelamatkan kita semua dan keluarga kita dari api neraka serta mengumpulkan kita dan keluarga kita di dalam surga-Nya.
Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang yang beriman dan yang keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan keturunan mereka dengan mereka di dalam surga dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (Ath-Thur: 21)
Mudah-mudahan Allah mengaruniakan kepada kita semua keluarga yang barakah.
Wallahu a’lam
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan oleh:
website: http://www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Ketika Kepercayaan Menghilang Dalam Pernikahan (bag. 2)

📆 Sabtu, 01 Dzuhijjah 1437H / 03 September 2016
📚 *KELUARGA*

📝 Pemateri: *Ustadzah Dra. INDRA ASIH*
📝 *Ketika Kepercayaan Menghilang Dalam Pernikahan (bag. 2)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Bag. 1 : http://www.iman-islam.com/2016/08/ketika-kepercayaan-menghilang-dalam.html?m=1
*Pintu-pintu selingkuh*
🌹 *Pertama*:  _Dimulai dari keisengan_
Seringkali ada pria atau wanita jika menyukai seseorang maka mereka lalu secara iseng membangun komunikasi. Jika komunikasi itu berjalan baik, maka hubungan itu bisa meningkat ke hubungan yang bersifat persaudaraan atau bisa lebih mengarah kepada hubungan percintaan. Disinilah awal mula perselingkungan terjadi. Dan untuk keluar dari zona ini sulitnya bukan main, kecuali mereka mendapat hidayah dari Allah. 
🌹 *Kedua:*  _Melalui Hubungan pertemanan._
Seringkali ada pria atau wanita menjalin pertemanan, di dalam pertemanan ini terjadi curhat-curhatan. Si pria menceritakan keadaan rumah tangganya si wanita lalu menceritakan keadaan rumah tangganya, yang menurut mereka bermasalah, atau sengaja dibuat bermasalah. Maka terjadilah komunikasi sambung rasa. Kalau si pria atau wanita tidak cepat sadar maka mereka akan terlibat perselingkuhan yang juga sangat sulit mereka akhiri karena nafsu sudah merasuk sampai di ubun-ubun.
🌹 *Ketiga:* _Melalui pintu kekaguman._
Selingkuh itu bisa terjadi karena faktor kekaguman seorang terhadap orang lain yang menurutnya memiliki pesona dan karisma untuknya. Jika orang yang dikaguminya tersebut juga merespon maka mulai dari sinilah perselingkuhan itu akan terjadi. Dan barangkali masih banyak  pintu selingkuh yang lain.
📚 *Islam telah mengatur dan menetapkan ketentuan yang seimbang antara hak dan kewajiban.*
Islam telah mengatur dan menetapkan ketentuan yang seimbang antara hak dan kewajiban, bukan hanya dalam rumah tangga, tetapi juga dalam setiap permasalahan dan ketentuan yang ada.
Setiap rumah tangga tentu memiliki resep dan kunci kebahagiaan sendiri-sendiri. Hubungan rumah tangga akan berjalan seimbang dan harmonis bila antara suami dan istri mampu menempatkan posisi mereka masing-masing secara tepat dan baik.
Dalam bingkai rumah tangga, pasangan suami dan istri masing-masing memiliki hak dan kewajiban. Suami sebagai pemimpin, berkewajiban menjaga istri dan anak-anaknya baik dalam urusan agama atau dunianya, menafkahi mereka dengan memenuhi kebutuhan makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalnya.
*A.  Suami, Jangan Khianati Amanah Kalian.*
Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Pemimpin bagi istri dan anak-anaknya. Suami bertanggung jawab penuh akan kebutuhan mereka, baik lahir maupun batin. Dan juga, suami berkewajiban membimbing istri ke arah yang lebih baik jika terdapat kekurangan pada istrinya.
Seorang suami yang berikrar dalam suatu ikatan pernikahan berarti telah memikul tanggung jawab yang besar. Tak ada alasan baginya untuk mengelak dari hal itu. Sebab, tanggung jawab tersebut telah diatur dan termasuk dalam ketentuan agama.
Namun, ternyata banyak suami yang menyalahgunakan kepemimpinannya dan tanggungan itu. Sang suami malah semena-mena memerintah istri di luar kemampuannya atau melebihi batas dari yang seharusnya. Tentu ini bukan tipe suami yang ideal dalam rumah tangga. Sifat seperti itu malah akan menjerumuskan pada sebuah kehancuran mahligai rumah tangga yang seyogianya harus menuju rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Tanpa kita sadari dalam kehidupan keluarga tidak jarang para suami melakukan tindakan yang menyimpang dari ketentuan Allah SWT dan telah melanggar hak-hak isterinya.
Oleh karena itu _perlu sekali para suami mengetahui perbuatan-perbuatan yang oleh islam dikategorikan sebagai tindakan durhaka terhadap istri._
Adapun beberapa perilaku yang sering suami lakukan adalah sebagai berikut  :
1⃣ Menjadikan Istri Sebagai Pemimpin Rumah Tangga
Dari Abu Bakrah, ia berkata: ”Rasulullah saw.bersabda: ‘tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita.’ “(HR.Ahmad,Bukhari,Tirmidzidan Nasa’i)
Rasul menyampaikan bahwa suatu kaum (termasuk didalamnya suami) tidak akan pernah memperoleh kejayaan atau keberuntungan bila menjadikan seorang wanita (termasuk istri) menjadi seorang pemimpin. Bentuk ketidak beruntungan ini adalah hilangnya wibawa suami sehingga memberi peluang untuk istri berlaku sesukanya dalam mengatur rumah tangga tanpa memperdulikan pendapat suami.
Menyuruh istri mencari nafkah dan mengatur urusan rumah tangga termasuk menjadikan istri sebagai pemimpin. Suami yang berbuat demikian berarti melanggar ketentuan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
Mengingat besarnya tanggung jawab dan akibat yang ditimbulkan akibat kedurhakaan ini, suami wajib menghindari perbuatan tersebut dan segera meminta maaf terhadap Istri dan bertaubat kepada Allah SWT.
2⃣ Menelantarkan Belanja Istri
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr,ia berkata: ”Rasululluah bersabda:’seseorang cukup dipandang berdosa bila ia menelantarkan belanja orang yang menjadi tanggung jawabnya.’”(HR.Abu Dawud,Muslim,Ahmad,dan Thabarani)
Dari ‘Aisyah ra, bahwa Hindun binti Utbah pernah berkata: “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang kikir dan tidak mau memberikan kepadaku belanja yang cukup untuk aku dan anakku, sehingga terpaksa aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.” Beliau besabda: “Ambillah sekadar cukup untuk dirimu dan anakmu dengan wajar.” (HR.Bukhari,Muslim,Nasa’i,Abu dawud,Ibnu Majah,Ahmad,dan Darimi)
Hadist ini menerangkan bahwa istri yang diberi nafkah tidak sesuai dengan kebutuhannya padahal mempunyai harta yang cukup maka diperbolehkan mengambil sendiri harta itu tanpa sepengetahuan suaminya sekadar untuk memenuhi kebutuhannya dan anaknya secara wajar.
Suami hendaknya menyadari bahwa selama ia menelantarkan belanja istri, selama itulah ia berdosa kepada istrinya. Oleh karena itu ia wajib meminta maaf kepada istrinya dan selanjutnya bertaubat kepada Allah. Ia wajib menyadari bahwa tidak membelanjai istri termsuk mendurhakai Allah SWT. Dosanya tidak hanya kepada istri tapi juga terhadap Allah SWT.
3⃣ Tidak Memberi Tempat Tinggal Yang Aman
“Tempatkanlah mereka (para istri) di tempat kalian bertempat tinggal menurut kemampuan kalian dan janganlah menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Jika mereka (istri yang di thalaq) itu sedang hamil, berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan…” (QS.Ath-Thalaaq(65):6)
4⃣Tidak Melunasi Mahar
Dari Maimun Al-Kurady,dari bapaknya,ia berkata: ”saya mendengar Nabi saw.(bersabda): “siapa saja laki laki yang menikahi seorang perempuan dengan mahar sedikit atau banyak, tetapi dalam hatinya bermaksud tidak akan menunaikan apa yang menjadi hak perempuan itu, berarti ia telah mengacuhkannya. Bila ia mati sebelum menunaikan hak perempuan itu, kelakpada hari kiamat ia akan bertemu dengan Allah sebagai orang yang fasiq…’” (HR.Thabaran,)
Menurut Hadist ini seorang suami yang telah menetapkan mahar untuk istrinya,tetapi kemudian tidak membayarkan mahar yang dijanjikan kepada istrinya, berarti menipu atau mengicuh istrinya. Jika ia tidak memiliki mahar maka ia boleh mengutang kepada istrinya.
Dalam QS.Al-Baqarah(2):237 menerangkan bahwa “jika kalian menceraikan istri istri kalian sebelum kalian bercampur dengan mereka, padahal kalian sudah menentukan maharnya, bayarlah separuh dari mahar yang telah kalian tentukan itu,kecuali jika istri istri kalian itu telah memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah. Pemberian maaf kalian itu adalah lebih dekat kepada taqwa. Janganlah kalian melupakan kebaikan antara sesama kalian.sesungguhnya Allah maha melihat apa yang kalian kerjakan.”.
Suami yang berutang mahar kepada istrinya dengan niat tidak akan melunasinya harus mempertanggung jawabkannya di akhirat kelak.
Apapun alasan yang menjadikan dasar untuk suami melakukan kedurhakaan ini tetap tidak dibenarkan. Karena segala macam utang wajib dilunasi baik oleh suami maupun istri dan untuk melunasinya tidak perlu menunggu ditagih.
🔸Bersambung 🔹
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan oleh:
website: http://www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Ketika Kepercayaan Menghilang Dalam Pernikahan

📆 Sabtu, 25 Dzulqo’dah 1437H / 27 Agustus 2016
📚 *KELUARGA*

📝 Pemateri: *Ustadzah Dra. INDRA ASIH*
📝 *Ketika Kepercayaan Menghilang Dalam Pernikahan*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Sesungguhnya Allah subhanallahu wa ta’ala di samping menyebutkan di dalam firman-Nya perintah untuk menjalankan amanah, juga menyebutkan kepada kita larangan untuk berbuat khianat.
Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
_“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian dalam keadaan mengetahui.” (Al-Anfal: 27)_
Bahkan Allah swt memberitakan kepada kita dalam ayat-Nya bahwa mengkhianati amanah adalah sifat orang-orang Yahudi, yang kita dilarang untuk meniru akhlak mereka. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
_”Dan di antara mereka (orang-orang Yahudi) ada orang yang jika kamu memercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya.” (Ali ‘Imran: 75)_
Begitu pula Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam memberitakan kepada kita bahwa mengkhianati amanah adalah sifat orang-orang munafik. Sebagaimana dalam sabdanya:
آيَةُ الْـمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.
“Tanda-tanda orang munafiq ada tiga: Jika berbicara berdusta, bila berjanji tidak menepati janjinya, dan apabila diberi amanah mengkhianatinya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)
Dalam riwayat Al-Imam Muslim  disebutkan:
وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ
“Meskipun dia shalat dan puasa serta mengaku dirinya muslim.”
 
🚥 *Selingkuh itu pengkhianatan*  🚥
_“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk,”
(al-Israa’: 32)_
Islam sangat menganjurkan kesetiaan, terutama bagi pasangan suami istri. Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad Saw sudah mencontohkan kesetiaannya terhadap istrinya.
Meskipun di Al Quran secara jelas memperbolehkan menikah sebanyak 4 kali, namun kuncinya adalah jika itu semua berbuat adil. Intinya, satu lebih baik jika setia, dan empat sangat tidak terpuji jika tidak bisa berbuat adil.
Selingkuh, secara bahasa Indonesia diartikan sebagai perbuatan suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; suka menggelapkan uang; bahkan diartikan korup.
Selingkuh itu ibarat menyembuyikan sesuatu yang pasti itu tidak baik dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya, faktornya ketidakpuasan salah satu pihak, baik dalam konteks jasmani dan rohani, serta adanya pengganggu atau orang ketiga dalam suatu rumah tangga.
Secara manusiawi, siapa saja di dunia ini asal dia manusia pasti tidak mau dikhianati. Apalagi khianat dalam rumah tangga, hal itu sangat menyakitkan dan Allah  membenci tipe orang seperti itu. Di dalam Islam, perselingkuhan sering dikaitkan dengan perzinaan. Pasalnya, selingkuh akan mengarah pada zina.
💝 _*Cara menghindari perselingkuhan menurut Islam*_ 💝
Di dalam surat Al-isra’ sudah dijelaskan yang artinya;  _“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”_
Ayat tersebut memberi pesan kepada semua muslim agar tidak dekat-dekat dengan perselingkuhan dan zina. Jelas, selingkuh itu harus diputus mata rantainya.
Caranya adalah dengan menyukuri nikmat Allah, mempertebal iman-takwa dan tidak khianat pada pasangan.
Godaan nafsu di era digital seperti ini memang luar biasa. Untuk mencegah selingkuh, suami istri harus saling menerima kekurangan dan kelebihan. Serta saling menunaikan amanah masing-masing. Sebab, akar perselingkuhan itu biasanya diawali dari ketidakpuasan di antara keduanya, atau ada salah satu atau lebih pelanggaran hak yang dilakukan oleh salah satu atau keduanya.
Pada hal menurut Rasulullah SAW. Konsep perzinahan (Perselingkuhan itu adalah salah satu bentuk perzinahan) itu tidak hanya sebatas hubungan suami isteri diluar nikah saja, tetapi meliputi pula melihat sesuatu, membicarakan sesuatu yang menjurus kepada perzinahan itu tidak boleh. Seperti zina mata, zina lisan, dan zina anggota badan.
Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw. bersabda, “Allah telah menetapkan atas setiap Bani Adam bagiannya dari zina yang  bisa dan pasti ia mendapatinya yaitu zina mata adalah melihat, zina lisan adalah berbicara, zina hati adalah hati berangan-angan serta bernafsu dan merasuk ke dalam perasaan untuk menikmatinya”
Mereka yang terjerat situasi ini adalah mereka yang telah tercerabut Imannya dari dalam hatinya,  karena sabda Rasulullah  yang diriwayatkan Abu Hurairah ra.
“Seseorang yang melanggar perintah Allah itu dengan melakukan dosa maka sesunguhnya pada saat itu imannya telah dicabut oleh Allah dalam dalam hatinya. Setelah berbuat dosa dia akan sadar, disaat dia sadar ini imannya dikembalikan lagi oleh Allah padanya”.
Orang yang terlibat selingkuh itu seperti orang gila, berapapun biaya dan waktu dia akan mengorbankannya dalam rangka memuaskan nafsu selingkuhnya.
*Pintu-pintu selingkuh*
*Pertama*:  _Dimulai dari keisengan_
🔸Bersambung 🔹
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan oleh:
website: http://www.iman-islam.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Facebook  : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Langkah-Langkah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam Dalam Memerangi Kekerasan Terhadap Perempuan Di Dalam Rumah Tangga (Bag.3)

📆 Sabtu, 17 Dzulqo’dah 1437H / 20 Agustus 2016
📚 *KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*

📝 Pemateri: *Ustadzah Dra. Indra Asih*
📝 *Langkah-Langkah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam Dalam Memerangi Kekerasan Terhadap Perempuan Di Dalam Rumah Tangga* (Bag.3)
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌷
Bag. 2: http://www.iman-islam.com/2016/08/langkah-langkah-nabi-salallahu-alaihi_13.html?m=1
_*Kesalahan-kesalahan atau Kekerasan yang Banyak Dilakukan Suami Terhadap Istri*_
1⃣ _Tidak mengajarkan agama dan hukum syariat kepada Istri_
Seringkali, yang menjadi perhatian besar bagi sang istri adalah bagaimana cara memasak dan menghidangkan makanan tertentu, bagaimana cara berdandan yang cantik dan sebagainya. Tidak  lain karena memang suami yang sering menuntut hal itu dari sang istri. Sedangkan masalah agamanya, tentang ibadahnya, jarang bahkan mungkin hampir tidak pernah ditanyakan oleh suami.
Tidak ragu lagi, ini adalah pengabaian suami terhadap kewajibannya memelihara keluarga dari api neraka.
Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Qs At Tahrim:6)
Maka hendaknya suami tidak mengabaikan hal ini, karena mereka akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Dan hendaknya suami benar-benar berusaha mengajarkan agama kepada istrinya, baik dia lakukan sendiri atau dengan perantaraan-perantaraan yang lain.
2⃣ _Mencari-cari kekurangan dan kesalahan istri_
Dalam suatu hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasalam melarang laki-laki yang bepergian dalam waktu yang lama, pulang menemui keluarganya di waktu malam. Hal itu karena dikhawatirkan laki-laki tersebut akan mendapati berbagai kekurangan dan cela istrinya. Dan barangsiapa mencari-cari aib saudara sesama muslim, Allah akan mencari-cari aibnya. Barangsiapa dicari aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun dia berada di ruang tersembunyi dalam rumahnya.
Hendaknya seorang suami bersabar dan menahan diri dari kekurangan yang ada pada istrinya, juga ketika istri tidak melaksanakan kewajibannya dangan benar.
Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda,
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
“Bersikap baiklah kepada para istri. Karena mereka tercipta dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atas. Jika kamu hendak meluruskannya niscaya kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Maka bersikap baiklah kepada para istri.” (Muttafaqun’alaih)
Dan ingatlah sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam,
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya.” (HR Muslim)
3⃣ _Pemberian hukuman yang tidak sesuai dengan kesalahan istri_
Ini termasuk bentuk kezhaliman terhadap istri.
Diantara bentuk hukuman yang zhalim itu:
💔 Menggunakan pukulan di tahap awal pemberian hukuman
وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ
“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka.”(Qs An Nisa’:34)
Maka tahapan yang benar adalah nasihat terlebih dahulu, kemudian pisah di tempat tidur, kemudian baru dengan pukulan yang bukan untuk menyakiti.
💔 Mengusir istri dari rumahnya tanpa ada pembenaran secara syar’i
لا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ
“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang .” (Qs Ath Thalaq:1)
💔 Memukul wajah, mencela dan menghina.
Ada seseorang yang datang bertanya kepada Rasulullah, apa hak istri atas suaminya?
Beliau menjawab,
أَنْ يُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمَ وَأَنْ يَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَى وَلَا يَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا يُقَبِّحْ وَلَا يَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ
“Dia (suami) memberinya makan jika dia makan, memberinya pakaian jika dia berpakaian, tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkan dan tidak menghajr (boikot) kecuali di dalam rumah.” (HR Ibnu Majah)
4⃣ _Pelit dalam menafkahi istri_
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (Qs Al-Baqarah:233)
Dan jika seorang istri mendapatkan suami yang pelit, bakhil, tidak memberi nafkah kepadanya tanpa ada pembenaran syar’i, maka dia boleh mengambil harta suami untuk mencukupi kebutuhannya secara ma’ruf (tidak berlebihan), meski tanpa sepengetahuan suami.
Dan bagi suami, hendaknya memperhatikan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasalam,
إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Jika seorang muslim mengeluarkan nafkah untuk keluarganya, sedangkan dia mengharapkan pahalanya, maka nafkah itu adalah sedekah baginya.” (Muttafaq’alaih)
5⃣ _Sikap keras, kasar, dan tidak lembut terhadap Istri_
Rasulullah shallallahu ’alahi wasalam telah bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
“Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR Tirmidzi)
Maka hendaknya seorang suami berakhlak bagus terhadap istrinya, dengan bersikap lembut, dan menjauhi sikap kasar. Diantara bentuk sikap lembut seorang suami kepada istri seperti membahagiakan istri dengan canda-canda yang dibolehkan, berlomba dengan istrinya, menyuapi makanan untuk istrinya, memanggilnya dengan panggilan-panggilan mesra dan lain sebagainya.
6⃣ _Keengganan suami membantu istri dalam urusan rumah_
Ini adalah satu kesalahan yang mungkin banyak menjangkiti suami yang telah menyadari bahwa dirinya adalah pemimpin dalam keluarga, yang harus ditaati. Bahkan ada di antara mereka yang menganggapnya sebagai bentuk kejantanan, sedangkan membantu pekerjaan rumah adalah suatu hal yang merusak kelaki-lakiannya.
Padahal, laki-laki yang paling utama, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak segan-segan membantu pekerjaan istrinya.
Ketika ‘Aisyah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dirumahnya, beliau menjawab,
كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ خَرَجَ
“Beliau membantu pekerjaan istrinya. Dan jika datang waktu shalat, maka beliau pun keluar untuk shalat.” (HR Bukhari)
7⃣ _Menyebarkan rahasia dan aib istrinya_
أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
“Sesungguhnya di antara orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang menggauli istrinya dan istrinya menggaulinya, kemudian dia menyebarkan rahasia-rahasia istrinya.” (HR Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah berkata menjelaskan hadits ini, “Dalam hadits ini, diharamkan seorang suami menyebarkan apa yang terjadi antara dia dengan istrinya dari perkara jima’. Juga diharamkan menyebutkan perinciannya, serta apa yang terjadi pada istrinya baik berupa perkataan maupun perbuatan dan yang lain.”
8⃣ _Terburu-buru menceraikan istri_
Sesungguhnya hubungan antara seorang suami dan istrimu adalah hubungan yang kuat lagi suci.
Hal ini bisa ditunjukkan dengan penamaan hubungan pernikahan ini sebagai al-miitsaq al-ghalizh ( perjanjian yang kuat).
وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
“Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (Qs An Nisa:21)
Oleh karena itu, islam menganggap perceraian adalah perkara besar yang tidak bisa diremehkan. Karena perceraian akan berbuntut kepada rusaknya rumahtangga, kacaunya pendidikan anak dan lain sebagainya. Maka sangat tidak pantas bagi seorang muslim untuk menceraikan istrinya, tanpa pembenaran yang bisa diterima.
Sesungguhnya talak (perceraian) tidaklah disyariatkan dalam islam untuk dijadikan sebagai pedang yang dihunuskan ke leher para istri, sebagaimana diyakini oleh sebagian suami.
Tidak pula disyariatkan untuk dijadikan sebagai sumpah dalam rangka menguatkan dan menegaskan berita, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang, sebagaimana biasa dilakukan sebagian orang ketika berbicara kepada temannya, “Akan aku ceraikan istriku kecuali engkau melakukan ini dan itu …”
Dan hendaknya kata-kata cerai itu tidak digunakan sebagai bahan canda atau mainan.
Karena Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam telah bersabda,
ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جَدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جَدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ
“Tiga perkara yang seriusnya adalah serius dan candanya adalah dinilai serius, yaitu; nikah, perceraian, dan rujuk.” (HR Abu Daud, at Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinilai hasan oleh al-Albani)
Sesungguhnya islam tidak lari dari berbagai kenyataan yang terjadi. Memang perselisihan antar suami istri kadang terjadi dan bisa mengarah kepada perceraian. Akan tetapi perceraian ini tidak boleh dijadikan sebagai langkah pertama dalam menyelesaikan perselisihan ini.
Bahkan harus diusahakan dengan berbagai cara terlebih dahulu untuk menyelesaikannya, sebelum melakukan perceraian.  Maka janganlah seorang suami terburu atau tergesa-gesa dalam mencerai istrinya, karena kemungkinan besar dia akan banyak menyesal.
Dan perlu diketahui oleh setiap suami, dia tidak boleh mencerai istrinya ketika sedang haidh, atau ketika suci namun telah digauli pada masa suci itu, atau mencerainya dengan tiga kali talak dalam sekali waktu.
9⃣ _Berpoligami tanpa memperhatikan ketentuan syariat_
Tidak ragu lagi bahwa menikah untuk yang kedua kali, ketiga kali dan yang keempat kali merupakan salah satu perkara yang Allah syariatkan. Akan tetapi yang menjadi catatan di sini bahwa sebagian orang yang ingin menerapkan syariat ini atau yang memang benar telah menerapkannya, tidak memperhatikan sikapnya yang tidak memenuhi kewajiban-kewajiban serta tanggung jawabnya terhadap para istri. Terutama istri yang pertama dan anak-anaknya. Padahal Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” Qs An Nisa: 3
Dan sikap semacam ini jelas bukan merupakan keadilan yang Allah perintahkan.
Poligami memang benar merupakan syariat islam. Akan tetapi, jika seseorang tidak mampu melaksanakannya dengan baik, tidak memenuhi syarat-syaratnya atau tidak bisa memikul tanggung jawabnya, hal ini hanya akan merusak rumah tangga, menghancurkan anak-anak dan akan menambah permasalahan keluarga dan masyarakat.
Maka ukurlah akibatnya, perhatikan dengan seksama perkaranya, sebelum masuk kedalamnya.
Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kapasitas dirinya.
🔟 _Lemahnya kecemburuan_
Inilah salah satu penyakit yang sangat disayangkan telah banyak tersebar dikalangan kaum muslimin. Sangat banyak sekali para suami yang membiarkan keelokan, keindahan dan kecantikan istrinya dinikmati oleh banyak orang. Dia membiarkan istrinya menampakkan auratnya ketika keluar rumah, membiarkannya berkumpul-kumpul dengan lelaki lain. Bahkan ada sebagian orang yang merasa bangga jika memiliki istri cantik yang bisa dinikmati oleh siapa saja yang melihatnya. Padahal seorang wanita di mata islam adalah makhluk yang sangat mulia, sehingga keindahan dan keelokkannya hanya diperuntukkan bagi suaminya saja, tidak diumbar kemana-mana.
Seorang suami yang memiliki kecemburuan terhadap istri, tidak akan membiarkan istrinya berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahram.
Seorang suami yang memiliki kecemburuan terhadap istri, dia akan memperhatikan ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap lelaki yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarga (istri)nya.
Beliau bersabda,
ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ وَالدَّيُّوثُ
“Tiga golongan manusia yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat; seorang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, wanita yang menyerupai laki-laki dan ad-dayyuts.” (HR An Nasa’i)
Yang dimaksud dengan ad-dayyuts adalah laki-laki yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarganya.
Jika ada suami termasuk mempunyai salah satu atau bahkan lebih kesalahan-kesalahan diatas, maka segeralah taubat. Ulurkan tanganmu dengan penuh senyuman untuk meminta maaf. Berusahalah sekuat tenaga dan sungguh-sungguh untuk menekan rasa egomu, dan katakan “Maafkan kesalahanku selama ini, Duhai sayangku.” Maka badai yang menerjang biduk kapal rumah tanggamu laksana tergantikan dengan semilir angin sepoi yang membawanya ke dermaga cinta. Segala masalah bisa hilang begitu saja, dengan ucapan itu.
Sungguh beruntunglah seorang istri yang memiliki suami penuh dengan kasih sayang, kelembutan dan kerendah hatian seperti itu. Wallahu a’lam.
Wallahu a’lam.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
🗳Sebarkan dan raihlah pahala …

Langkah-Langkah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam Dalam Memerangi Kekerasan Terhadap Perempuan Di Dalam Rumah Tangga (Bag.2)

📆 Sabtu, 10 Dzulqo’dah 1437H / 13 Agustus 2016
📚 *KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*
📝 Pemateri: *Ustadzah Dra. Indra Asih*
📝 *Langkah-Langkah Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam Dalam Memerangi Kekerasan Terhadap Perempuan Di Dalam Rumah Tangga* (Bag.2)
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌷
Bag. 1 : http://www.iman-islam.com/2016/08/langkah-langkah-nabi-salallahu-alaihi.html?m=1
*Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Memerangi Segala Bentuk Kezaliman Terhadap Perempuan*
📚Bagaimana seharusnya memperlakukan kaum wanita dalam menurut Al Qur’an
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
 
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19)
📚Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar umat Islam menghargai dan memuliakan kaum wanita.
 اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
 “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim)
 خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.” (HR Tirmidzi)
📚Wanita adalah Karunia, Bukan Musibah
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al Rûm [30]: 21)
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ
“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?.” (QS. An Nahl [16]:72)
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
“Mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)
🌸 *Hak dan Kedudukan Wanita* 🌸
1⃣ Wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam beribadah dan mendapat pahala
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisa [4]: 124)
2⃣ Wanita memiliki hak untuk dilibatkan dalam bermusyawarah dalam soal penyusuan
فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا
“Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.” (QS. Al Baqarah [2]: 233)
3⃣ Wanita berhak mengadukan permasalahannya kepada hakim
قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Mujadilah [58]: 1)
4⃣ Wanita adalah partner laki-laki dalam peran beramar makruf nahi munkar dan ibadat yang lainnya
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Taubah [9]: 71)
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah [2]: 228)
🔸Insya Allah bersambung .. membahas tentang
_Kesalahan-kesalahan Atau Kekerasan yang Banyak dilakukan Suami Terhadap Istri_ 🔹
Wallahu a’lam.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
🗳Sebarkan dan raihlah pahala …