Halalkah Bayi Tabung

🌏Ustadzah Menjawab
📝Ustadzah Novria, S.Si
🌿🌺🍁🌻🌼🌸🍄🌷🌹
Assalamualaikum ustadz/ustadzah saya kan udah nikah 10 tahun belum di kasih momongan. Sudah berobat ke dokter ada masalah, dokter kasih saran untuk bayi tabung. Di halalkan tidak sama agama bayi tabung itu?
Kalau saya mau adopsi anak, bagaimana ya caranya agar anak tersebut menjadi mahrom saya dan suami?
Saya dengar kan harus melalui air susu saudara kandung, tapi kalau saudara kandung baik saya dan suami tidak ada yang melahirkan dan tidak ada air susu, apa ada cara lain?
Terima kasih banyak sebelumnya 😊😊#A 40
————–
🌿🌿Jawaban🌿🌿
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Dalam proses bayi tabung dan kehamilan secara alami, proses tahapan dari pembuahan sampai terbentuknya embrio/ janin sama dengan proses kehamilan alami, dari pembuahan sampai terjadinya embrio.. Hanya saja proses bayi tabung atau inseminasi buatan terjadi diluar rahim. Proses fertilisasi/pembuahan terjadi dalam satu tabung yang dikondisikan sama dengan rahim ibu, jika telah terjadi pembuahan maka embrio ini akan dipindahkan ke dalam rahim ibu untuk di besarkan secara internal dan itu juga jika srmua proses pemeriksaan ahli bahwa rahim istri bisa mengandung anak tersebut sampai proses partus/melahirkan.
Bayi tabung hukumnya halal jika sel telur dan sperma berasal dari suami istri tersebut. Hanya prosesnya tidak terjadi secara alami, tetapi dikerjakan oleh para ahli dalam pembuatan bayi tabung tsb. Saat ini sudah banyak klinik dan rumah sakit yang menyediakan pembuatan bayi tabung.
Tentang anak adopsi
Dalam Alqur’an surat Al-Ahzab ayat 4-5 disebutkan bahwa:
  
: مَا جَعَلَ اللّٰهُ لِرَجُلٍ مِّنْ قَلْبَيْنِ فِيْ جَوْفِهٖ   ۚ  وَمَا جَعَلَ اَزْوَاجَكُمُ الّٰٓـئِْ تُظٰهِرُوْنَ مِنْهُنَّ اُمَّهٰتِكُمْ   ۚ  وَمَا جَعَلَ اَدْعِيَآءَكُمْ اَبْنَآءَكُمْ    ؕ  ذٰ  لِكُمْ قَوْلُـكُمْ بِاَ فْوَاهِكُمْ    ؕ  وَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِى السَّبِيْلَ
Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

اُدْعُوْهُمْ لِاٰبَآئِهِمْ هُوَ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ   ۚ  فَاِنْ لَّمْ تَعْلَمُوْۤا اٰبَآءَهُمْ فَاِخْوَانُكُمْ فِى الدِّيْنِ وَمَوَالِيْكُمْ  ؕ  وَ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيْمَاۤ اَخْطَأْ تُمْ بِهٖ ۙ  وَلٰكِنْ مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوْبُكُمْ    ؕ  وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Di ayat tersebut dikatakan bahwa anak angkat/adopsi tidaklah sama dengan anak kandung 😊.
Dari opsi tersebut jika peluang untuk bayi tabung lebih besar untuk kehamilan, maka suami istri tersebut bisa melakukannya..
Wallahu a’lam.
🌿🌺🍁🌻🌼🌸🍄🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
📲Sebarkan! Raih pahala…

KARAKTERISTIK SUAMI DAN ISTRI YANG SHALEH

📆 Sabtu, 7 Sya’ban 1437H / 14 2016

📚 *Tema KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*

📝 Pemateri: *Ustzh. DR. Hj. Aan Rohanah, Lc , M.Ag*

📝 *KARAKTERISTIK SUAMI DAN ISTRI YANG SHALEH*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Keshalehan suami istri dalam membangun keluarga Islami, keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah harus sama. Sehingga visi dan misi yang dimiliki sama2 bertujuan untuk membangun keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

*Karakteristik suami shaleh dan istri shalihah*

Suami sebagai imam dalam keluarga memiliki tanggung jawab yang besar di dunia dan akhirat. Kebahagiaan keluarga banyak ditentukan oleh peran kepemimpinan  suami. Karena itu suami harus menjadi imam yang shaleh.

Demikian juga istri yang menjadi sumber kebahagiaan suami dan menjadi sekolah bagi anak2nya.  Keceriaan suami dan keberhasilan pendidikan anak2 sangat bergantung pada peran ibu. Karena itu  sebagai istri dan sekali gus sebagai ibu harus shalihah.

Allah telah menyebutkan karakteristik yang sama bagi suami shaleh dan istri shalihah di dalam Surat 33, QS Al Ahzab : 35.

 ان المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات والقانتين والقانتات والصادقين والصادقات والصابرين والصابرات والخاشعين والخاشعات والمتصدقين والمتصدقات والصائمين والصائمات والحافظين فروجهم  والحافظات والذاكرين الله  كثيرا والذاكرات اعدالله لهم مغفرة واجرا عظيما.

Artinya:
” Sesungguhnya laki2 dan perempuan yang muslim, laki2 dan perempuan yang mukmin, laki2 dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, laki2 dan perempuan yang benar, laki2 dan perempuan yang sabar, laki2 dan perempuan yang khusyuk, laki2 dan perempuan yang bersedekah, laki2 dan perempuan yang shaum, laki2 dan perempuan yang menjaga kehormatannya , laki2 dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. ( QS Al Ahzab : 35 ).

Sebab turunnya ayat ini adalah suatu hari Ummu Salamah berkata kepada Rasulullah SAW. : mengapa kami secara eksplisit tidak disebut dalam alquran sebagaimana kaum laki2  ? Beliau tidak memperhatikan pertanyaan itu sampai suatu hari beliau memanggil diatas mimbar dan bersabda: ” Wahai manusia sesungguhnya Allah berfirman
ان المسلمين والمسلملت ………  
sampai akhir ayat “. ( HR. Ahmad ” ).
Dengan turunnya ayat ini maka Allah telah mengarahkan suami istri agar memiliki karakter yang sama dalam berkeluarga yaitu karakter orang yang shaleh agar bisa sukses membentuk keluarga yang Islami yang sakinah mawaddah wa rohmah.
Karakter yang harus dimiliki oleh suami shaleh dan istri shalihat yang sudah disebut dalam surat 33 Al Ahzab: 35  itu saling terkait sehingga bisa menjadi pribadi yang shaleh dan Islami yaitu Islam, iman, tunduk, benar ( jujur ), sabar, khusyuk, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatan, dan banyak berzikir kepada Allah.

*Karakteristik Islam* yang disebut dalam ayat itu adalah masuk ke dalam agama Islam disertai tunduk patuh dan mengamalkan syariatnya  dalam kehidupan sehari- hari. Sebagai mana Rasulullah bersabda saat ditanya tentang Islam :

الإسلام ان تشهد ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤت الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت ان استطاع اليه سبيلا.  رواه مسلم.

Islam adalah hendaknya kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, nabi Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, shaum di bulan romadhan, dan pergi haji ke Baitullah bagi yang mampu (HR Muslim)

_Karakteristik ke 2_ adalah *iman*, Rasulullah bersabda saat ditanya tentang iman , yaitu :

ان تؤمن بالله و ملائكته وكتبه ورسله واليوم الاخر وتؤمن بالقدر خيره وشره . رواه مسلم

Artinya:
” Hendaknya kamu beriman kepada Allah,  para malaikat, kitab- kitab, para Rasul Nya, hari akhir dan takdir yang baik dan yang buruk.” ( HR. Muslim )

Bersambung

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Beberapa Hal Praktis Yang Perlu Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Beranjak Remaja

📆 Sabtu, 30 Rajab 1437H / 7 Mei 2016

📚 KELUARGA & TARBIYATUL AULAD

📝 Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

📝 Beberapa Hal Praktis Yang Perlu Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Beranjak Remaja

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌷

Apa yang dibutuhkan bagi orang tua untuk mengarahkan anak remaja untuk menjadi seorang muslim dewasa?

💐Tips 1: Lakukan pengasuhan anak remaja kita lebih serius dari apa yang kita lakukan pada profesi “full-time” kita.

Kedua orang tua harus memahami bahwa anak-anak mereka adalah amanah dari Allah. Dan Allah akan bertanya bagaimana mereka dibesarkan.

Jika anak-anak tumbuh dewasa dan tidak mempraktekkan Islam karena kelalaian orang tua, maka hal itu merupakan hal yang sia-sia dalam kehidupan orang tua.

💐Tips 2: Mengurangi atau mengubah jam kerja dan berikan waktu tersebut untuk keluarga

Lebih baik untuk memiliki waktu lebih banyak dengan keluarga walau hanya memberikan sedikit kemewahan di rumah. Jadi janganlah membanjiri anak dengan banyak materi tapi kehadiran orang tua nyaris tidak ada.

Ini berlaku untuk ibu dan ayah. Orang tua tidak bisa menanamkan nilai-nilai pada anak-anak jika mereka tidak ada di sisi anak-anak.

Kurangilah pekerjaan ekstra di akhir pekan atau di malam hari, agar lebih bisa mendorong anak-anak ke masjid atau untuk pergi halaqah serta kegiatan positif lainnya.

Bisa juga mempertimbangkan beralih jadwal di tempat kerja sehingga kita ada ketika anak-anak di rumah.

💐Tip 3: Rutinkan bersama untuk membaca Al-Quran, memahami maknanya, minimal selama lima menit setiap hari

Hanya lima menit.

Apakah itu di dalam mobil dalam kemacetan lalu lintas, dini hari setelah Subuh, atau tepat sebelum kita pergi tidur, membaca Al-Quran dengan terjemahan dan / atau Tafsir.

Kita akan merasakan efek bola salju. Kita akan, Insya Allah, selalu terhubung kembali dengan Allah.

Jika kita sudah biasa melakukannya, dalam jangka panjang, kita akan menjadi panutan membantu seluruh keluarga, bukan hanya remaja kita, untuk selalu berhubungan dengan Allah.

💐Tips 4: Menghadiri halaqah mingguan

Menentukan waktu rutin untuk halaqah pekanan. Ketika anak-anak melihat orang tua mereka berjuang untuk belajar tentang Islam, mereka dalam banyak kasus akan terdorong untuk melakukan hal yang sama.

💐Tip 5: Hormati remaja kita

Menghormati remaja kita berarti tidak memperlakukan mereka seperti bayi yang tidak kompeten. Tidak berbicara ke mereka dengan isi dan intonasi yang mempermalukan dan menghina mereka.

Ini berarti melibatkan mereka dalam kegiatan yang bermanfaat di sekitar rumah dan meminta pendapat mereka tentang hal-hal penting.

💐Tip 6: Berminatlah pada apa yang mereka lakukan

Apakah Hilmi bermain footsal di tim olahraga setempat? Menghadiri pertandingan/latihan Hilmi seteratur mungkin.

Apakah Muhsin suka membuat website? Kunjungi situs nya, masukkan e-mail ucapan selamat pada papan pesan dan tawarkan beberapa saran untuk situsnya. Beri dia sebuah buku tentang desain web canggih sebagai hadiah lebaran. Dan seterusnya

💐Tip 7: Memahami masalah mereka dan mengatasinya.

Ketika kita menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak remaja, kita akan lebih mampu merasakan jika ada sesuatu yang mengganggu mereka. Selesaikan secara terbuka tapi jangan ungkapkan masalah mereka dalam forum pertemuan keluarga atau di depan orang lain, jika menyangkut hal yang sensitif buat mereka

💐Tip 8: “ngedate” dengan remaja kita

Ngadate atau kencan dengan remaja kita untuk mengenal satu sama lain dengan lebih baik.

Ini terutama penting untuk anak-anak yang menginjak usia remaja karena mereka tidak lagi hanya “salah satu dari anak-anak”. Mereka adalah orang dewasa muda yang membutuhkan perhatian dan bimbingan secara individu. Kita bisa pergi keluar pada saat ketika Hamnah lulus dari sekolah tinggi, ketika Ahmad baru mendapat KTP-nya atau jika kita merasa ada sesuatu yang mengganggu mereka dan kita ingin mengatasinya sendiri.

💐Tip 9: Jangan hanya menjadi orang tua remaja kita, jadilah mitranya

Menjadikan mereka mitra berarti memberi mereka tanggung jawab dalam keluarga. Buatlah Amir, yang baru memasuki usia 16, untuk membantu ibunya berbelanja di hari Sabtu; ajaklah Syifa berusia 15 tahun, yang mencintai bunga, untuk bertanggung jawab atas taman dan memotong rumput. Dengan cara ini, remaja akan merasa menjadi bagian dari keluarga dan diperlukan.

💐Tip 10: Membangun Masjid di rumah kita

Membuatkan bagian tertentu rumah atau ruang tamu sebagai Masjid rumah. Kita dapat melakukan ini tanpa biaya besar.

Membuat Masjid ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab anak-anak. Jadikan anak yang tertua untuk bertanggung jawab dan untuk mendelegasikan tanggung jawab untuk adik-adik. Tanggung jawabnya meliputi menjaga Masjid bersih, membangunkan orang untuk Fajr, dan seterusnya

💐Tip 11: Janganlah melatih laki-laki saja

Itu berarti tidak mengecualikan istri atau anak perempuan. Ketika orang-orang sholat berjamaah, pastikan perempuan juga sholat berjamaah.

💐Tip 12: Membuat perpustakaan Islam

Melengkapi rumah kita dengan sebuah perpustakaan Islam dengan buku-buku, video dan kaset audio tentang berbagai aspek Islam.

Jika Bilal 13 tahun suka novel petualangan, misalnya, pastikan kita memiliki beberapa buku petualangan Islam

Jadikan salah satu remaja kita untuk menjadi pustakawan. Dia diharapkan mengontrol bahan terorganisir dan dalam kondisi baik. Setiap permintaan untuk bahan yang akan ditambahkan ke koleksi harus melalui dia. Berikan pustakawan ini anggaran bulanan untuk memesan buku-buku baru, kaset, dan lain-lain.

💐Tip 13: Mengajak mereka keluar untuk melakukan kegiatan Islam

Alih-alih makan malam mewah di restoran, akan menghemat uang kita untuk mengajak semua orang keluar untuk makan bersama atau melakukan kegiatan lainnya bersama komunitas Muslim. Mengusahakan untuk pergi ke acara di mana remaja Muslim lainnya akan hadir.

Bersambung..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Cinta (bag-2)

📆 Sabtu, 30 Rajab 1437H / 7 Mei 2016

📚 KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha

📋 CINTA ( bag-2)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌿

Bag-1 http://www.iman-islam.com/2016/05/cinta-bag-1.html?m=1

🔆Seorang ulama besar yang lahir di Bashrah pada pertengahan tahun ke-2 abad ke-2 Hijriyah, Al-Imam Abu ‘Abdullah al-Harits bin Asad al-Muhasibi (wafat 243 H), memiliki wawasan yang luas dan keilmuan mendalam di bidang fikih, hadits, sekaligus seorang ahli kalam yang meninggalkan karya tulis dengan jumlah yang sangat banyak membahas tentang zuhud, akhlak, pendidikan dan kelembutan hati (ar-raqa’iq), sehingga ia pun dijuliki dengan al-Muhasibi karena banyaknya ber-muhasabah(introspeksi diri), menulis bahwa sesungguhnya permulaan cinta adalah ta’at, dan ta’at itu terlahir dari cinta kepada Allah Jalla wa ‘Ala, karena Dialah yang memulai hal tersebut, dan karena Dia memperkenalkan diriNya kepada mereka, menunjukkan kepada mereka untuk menaati-Nya, dan memperlihatkan kasih sayang kepada mereka dengan mencukupi mereka. Lalu Dia menjadikan kecintaan terhadap diri-Nya itu sebagai titipan dalam hati para pecinta-Nya, kemudian Dia memakaikan mereka cahaya yang terang dalam lafazh-lafazh mereka karena kuatnya cahaya kecintaan-Nya dalam hati mereka. Ketika Allah melakukan hal tersebut kepada mereka, Dia memperlihatkan mereka – sebagai bentuk kegembiraan pada mereka, kepada para malaikatnya, hingga seluruh penduduk langitpun mencintai mereka. [5]

Lebih lanjut, Abu ‘Abdullah al-Muhasibi berkata bahwa yang paling memberikan manfaat bagi seorang mukmin untuk mengobati diri dalam urusan agamanya adalah memutus rasa cintanya terhadap dunia dari hatinya. Apabila dia melakukan itu, maka ringan untuk meninggalkan dunia[6], dan mudah untuk menggapai akhirat, namun dia tidak dapat berada di atas keadaan tersebut kecuali dengan berbagai perlengkapannya. Yang menjadi pangkal perlengkapannya adalah pikiran, pendek angan-angan, mengulangi tobat dan kesucian, mengeluarkan rasa mulia dalam hati, senantiasa bersikap rendah hati, membangun hati dengan ketakwaan, mengekalkan kesedihan dan banyaknya kegelisahan yang datang padanya. Betapa banyak orang yang beramal dengan amal yang telah dipaparkannya sementara kecintaannya terhadap dunia dalam hatinya pun bertambah, dan banyak orang yang tidak memperbanyak amal-amal tersebut, namun cintanya kepada dunia semakin berkurang, karena dia mengambilnya melalui jalannya. Maka di dalam Adab an-Nufus (hlm. 136) beliau mengatakan, “Karena sesungguhnya hati yang disertai dengan berpikir akan menjadi hidup jika memikirkan akhirat, dan akan menjadi mati jika memikirkan dunia.”

🔆Seorang ulama fikih bermadzhab Hambali yang juga seorang penasihat, ahli tafsir, ahli hadits dan budayawan yang digelari Jamaluddin (Keindahan Agama) yang bernama Abul al-Faraj, Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali al-Qurasyi at-Taimi al-Bakri (lahir 511 H, wafat 597M), atau ia juga dikenal dengan nama Ibn al-Jauzi (panggilan yang dinisbatkan pada salah satu kakeknya yang dikenal dengan al-Jauzi karena menjualjauzah (jenis buah di daerahnya) pernah berkata, “Bersihkanlah hatimu dari berbagai kotoran karena cinta itu tidak akan diberikan kecuali dalam hati yang bersih. Apakah kamu tidak melihat seorang petani memilih tanah yang baik, menyiraminya dan mengairinya, kemudian membajaknya dan mengawasinya. Setiap dia menemukan batu di dalamnya, maka dia akan melemparkannya, dan setiap dia melihat yang dapat merusak tanahnya, maka dia menyingkirkannya, kemudia dia menaburkan benih ke dalamnya dan menjaganya dari berbagai hal yang dapat merusaknya. Begitu pula dengan Allah Jalla wa ‘Ala.”

Lebih lanjut beliau berkata, “Jika seorang hamba ingin dicintai oleh-Nya, maka hendaknya dia memangkas berbagai duri kesyirikan dari hatinya, lalu membersihkannya dari kotoran-kotoran riya dan keraguan, kemudian menyiraminya dengan air tobat daninabah, lalu membajaknya dengan seretan rasa takut dan ikhlas, lalu menyamakan batin dan zhahirnya dalam ketakwaan, kemudian meletakkan benih hidayah di dalamnya, maka berbuahlah benih-benih cinta.” [7]

🔆Berkata al-Muhaqqiq al-Hafizh Syamsuddin Abu ‘Abdullah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’d bin Harits az-Zar’i ad-Dimasqy yang terkenal dengan Ibn Qayyim al-Jauziyyah (lahir 691 H, wafat 751 H, namanya dinisbatkan kepada sekolah yang didirikan oleh Yusuf bin Abdurrahman al-Jauzi karena ayahnya turut mendirikannya), “Setiap kesalahan yang terjadi di jagat raya ini, pangkalnya adalah cinta dunia. Janganlah engkau melupakan kesalahan kedua nenek moyang kita dahulu, karena sebabnya adalah cinta kekekalan di dunia. Janganlah engkau melupakan dosa iblis, karena sebabnya adalah cinta kepada kekuasaan, yang rasa cintanya lebih buruk daripada cinta dunia. Dengan sebab itu pula Fir’aun, Haman serta bala tentaranya, Abu Jahal serta kaumnya dan bangsa Yahudi menjadi kufur.”

Lebih lanjut beliau berkata, “Cinta dunia dan kepemimpinan yang menyebabkan manusia masuk ke dalam neraka, sedangkan zuhud terhadap dunia dan kekuasaan yang menyebabkan manusia masuk ke dalam surga. Mabuk sebab cinta dunia lebih berbahaya dibandingkan mabuk meminum khamr. Pemabuk cinta dunia tidak akan sadar hingga dia berada dalam kegelapan liang lahat. Anda saja penutupnya dibuka dalam memandang dunia, maka dia pasti mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah kemabukan, dan itu lebih berbahaya dibandingkan mabuk khamr.” [8]

✅ Maka marilah kita hadirkan cinta dalam seluruh kerja-kerja besar kita agar melahirkan harmoni. Cinta yang tidak bertujuan duniawi akan tetapi ukhrawi, karena hanya cinta seperti ini yang akan melahirkan energi besar untuk berkarya di dunia, karena hanya di dunia tempat bertanam cinta untuk merasakan semaiannya kelak.

[1] Persis seperti judul sebuah buku yang ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim

[2] Shalih Ahmad asy-Syami, Nasihat Ulama Salaf, hlm. 133

[3] Ibid, hlm. 139

[4] Ibn Jauzi, Al-Hasan al-Bashri, hlm. 38-39

[5] Tahdzib Hilyah al-Auliya (3/273)

[6] Maksudnya meninggalkan ketamakan terhadap harta dunia, dan menjadikannya hanya sebagai perantara dan bukanlah sebuah tujuan

[7] Lihat al-Yawaqit al-Jauziyah fi al-Mawa’izh an-Nabawiyah, tahqiq Sayyid bin Abdul Maqshud, Muassasah al-Kutub ats-Tsaqafiyah (hlm. 139)

[8] Lihat Iddatush Shabirin, cetakan Darul Kitab al-Arabi (hlm. 266)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Mempertahankan Mahligai Rumah Tangga

📆 Sabtu, 23 Rajab 1437H / 30 April 2016

📚 KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

📋 Mempertahankan Mahligai Rumah Tangga

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌿

Jika cinta bersemi di awal-awal pernikahan, itu wajar; tapi ketika perasaan saling menyayangi dan memahami bertahan untuk selamanya, itu luar biasa!
Di masyarakat, keluarga yang kandas di tengah jalan jumlahnya makin banyak saja. Kasus perceraian dari tahun ketahun meningkat tajam. Rumah tangga yang kelihatannya baik-baik saja, tiba-tiba berakhir di pengadilan. Terkesan, mengakhiri cinta dengan pasanganitu mudah sekali. Semudah membalik telapak tangan. Istilah True love (cinta sejati) atau endlesslove (cinta yang tiada akhir) seolah hanya menjadi impian

Data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA), kurun 2010 ada 285perkararumahtangga.184 perkara berakhir dengan perceraian ke Pengadilan Agama se-Indonesia. Angka tersebut merupakan angka tertinggi sejak 5 tahun terakhir. Dari data Ditjen Badilag 2010, kasus tersebut dibagi menjadi beberapa aspek yang menjadi pemicu munculnya perceraian. Misalnya, ada 10.029 kasus perceraian yang dipicu masalah cemburu. Kemudian, ada 67.891 kasus perceraian dipicu masalah ekonomi. Sedangkan perceraian karena masalah ketidakharmonisan dalam rumah tangga mencapai 91.841 perkara.

Adapun secara geografis, perkara perceraian paling banyak terjadi di Jawa Barat yakni 33.684 kasus, disusul Jawa Timur dengan 21.324 kasus. Di posisi ketiga adalah Jawa Tengah dengan 12.019 kasus. Sedangkan, dalam Proyek Transisi Institut Perceraian Australia, mayoritas laki-laki dan perempuan menyatakan penyebab perceraian mereka antara lain adalah masalah komunikasi, ketidakcocokan, perubahan nilai dan gaya hidup, serta perselingkuhan. Alasan yang cukup mendominasi juga adalah meningkatnya harapan kepuasan diri dalam pernikahan dan penurunan toleransi (Reynolds dan Mansfield 1999; Amato dan Booth 1997, Coontz 1997, Dewan Keluarga di Amerika 1.995 ).

Meskipun mengakhiri pernikahan tidak mudah dan mungkin menimbulkan trauma atau merugikan bagi salah satu atau kedua pasangan dan anak-anak mereka (Waite 1995; Amato dan Booth 1997), sebagian besar perempuan dan laki-laki, apa pun alasan perceraian mereka, menyatakan bahwa merasa mereka tidak ingin kembali dengan mantan pasangan mereka. Bagi wanita, alasa yang paling kuat untuk perceraian adalah perilaku kasar pasangan.

Ternyata, untuk mempertahankan mahligai rumah tangga, tidak harus melalukan hal-hal besar dan sulit. Dari studi tentang pernikahan jangka panjang (Kaslow dan Robinson 1996, Levenson et al 1993; Wallerstein dan Blakeslee 1995) diidentifikasi beberapa karakteristik hubungan pasangan yang sehat, yaitu rasa hormat dan merasa dihargai, kepercayaan dan kesetiaan, hubungan seksual yang baik, komunikasi yang baik, berbagi, kerjasama dan saling mendukung serta kebersamaan, rasa spiritualitas, dan kemampuan masing-masing untuk fleksibel ketika dihadapkan dengan suasana transisi dan perubahan.

Para peneliti juga menggambarkan karakteristik sebuah keluarga yang kuat (Schlesinger 1998, Curran 1983). Menurut Stinnett dan Defrain (1985), keluarga yang kuat memiliki semangat untuk memajukan kesejahteraan dan kebahagiaan masing-masing, menunjukkan penghargaan satu sama lain, memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan berbicara satu sama lain, menghabiskan waktu bersama-sama, memiliki rasa spiritualitas, dan menggunakan krisis sebagai kesempatan untuk tumbuh.

Jadi bisa disimpullkan, mahligai rumah tangga dapat dipertahankan dengan suasana hubungan yang sehat dan penuh cinta, melalui beberapa hal berikut:

🌷 1. Yakinlah pada kekuatan kebersamaaan. Salah satu kekuatan yang sangat penting adalah bekerja sama dengan baik. Tidak ada beban yang terlalu berat saat mengangkatnya bersama.

🌷 2. Ingatlah selalu hal-hal yang menyenangkan dari pasangan Anda. Ketika istri sedang melipat baju suami, bayangkankan etos kerja, kesabaran, dan kemurahan hatinya. Suami, tersenyumlah dengan meingat-ingat lelucon dan humoristri. Dengan menghabiskan waktu untuk selalu merenungkan sifat-sifat baik dari pasangan Anda, cinta, kasih sayang, pemujaan terhadap satu sama lain akan terus tumbuh.

🌷 3.Tertarik dan berbagilah tentang dunia masing-masing. Tetap terhubung dan berkomunikasi ketika Anda terpisah.

🌷 4. Saling menghormati dan menghargai. Jangan pernah merendahkan pasangan. Perhatikan nada suara ketika Anda berkomunikasi satu sama lain. Belajarlah untuk menyenandungkan pujian. Jangan memiliki harapan yang berlebihan. Berlatihlah untuk menerima apa adanya.

🌷 5.Saling mendorong dan meningkatkan semangat untuk maju. Jangan meragukan kemampuan pasangan. Memberikan dorongan, saran dan kebijaksanaan dengan cara yang penuh kasih.

🌷 6. Siap jika dibutuhkan pada saat-saat penting terutama melewati saat-saat sulit dalam hidup

🌷 7. Membuat kejutan-kejutan untuk pasangan. Hindari kehidupan rutin.Ya, bila Anda bosan sesuatu cobalah sesuatu yang berbeda dengan pasangan. Kesempatan tidak terbatas!

🌷 8. Kenalilah apa-apa yang pasangan Anda suka dan tidak suka. Semakin banyak Anda tahu dan memahami dunia pribadi masing-masing, maka persahabatan Anda akan makin terjalin kuat.

🌷 9. Terus mensyukuri apa yang sudah dijalani dan mengandalkan kekuatan doa. Milikilah keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatu akan selesai dengan baik dan menyenangkan.

Perlu terus dikuatkan keyakinan bahwa pernikahan adalah karunia dari Allah swt. Ya, pernikahan adalah ibadah dan hal itu adalah motivasi paling kuat bagi kaum muslim sehingga kita mampu bersabar atas kekurangan pasangan masing-masing.

Referensi:
-Amato, P. & Booth, A. (1997), A Generation at Risk: Growing Up in an Era of Family Disheaval, Harvard University Press, Cambridge.
-Coontz, S. (1997), The Way We Really Are, Basic Books, New York.
-Curran, D. (1983), Traits of a Healthy Family: Fifteen Traits Commonly Found in Healthy Families by Those Who Work With Them, Winston Press, Minneapolis.
-Kaslow, R. & Robinson, J. (1996), ‘Long-term satisfying marriages: perceptions of contributing factors’, American Journal of Family Therapy, vol. 24, no. 2, pp. 69 78.
-Levenson, R., Carstenson, L. & Gottman, J. (1993), ‘Long-term marriage: age, gender and satisfaction’, Psychology and Aging, vol. 8, no. 2, pp. 310-313
-Reynolds, J. & Mansfield, P. (1999), ‘The effect of changing attitudes to marriage on its stability’, in Simons, J. (ed.) High Divorce Rates: The State of the Evidence on Reasons and Remedies: Reviews of Evidence on the Causes of Marital Breakdown and the Effectiveness of Policies and Services Intended to Reduce its Incidence, Research Series, vol. 1, pp. 1-38, Lord Chancellor’s Department, London.
-Schlesinger, B. (1998), ‘Strong families: a portrait’, Transition, June, pp. 4-15.
-Stinnett, N. & DeFrain, J. (1985), Secrets of Strong Families, Little Brown, Boston.
-Waite, L. (1995), ‘Does marriage matter?’, Demography, vol. 32, no. 4, pp. 483 507.
-Wallerstein, J. & Blakeslee, S. (1995), The Good Marriage, Warner Books, New York.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

CINTA (bag-1)

📆 Sabtu, 23 Rajab 1437H / 30 April 2016

📚 KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadz DR. Wido Supraha

📋 CINTA (bag-1)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Cinta adalah nikmat Allah Jalla wa ‘Ala yang dianugerahkan kepada setiap hamba-Nya. Begitu besar perhatian manusia sepanjang sejarah kehidupan tentang cinta sejalan dengan perhatian manusia yang besar terhadap hati mereka, sebuah perwujudan pengagungan atau perhatian atau luapan kecintaan kepadanya, yang seperti singa dan pedang, atau seperti bencana besar atau seperti arak yang memabukkan, dan tiga pengertian ini menyatu di dalam cinta.

Maka wajar begitu banyak istilah yang disematkan kepada kata cinta hingga hari ini, bahkan melebih 50 istilah. Di antaranya kasih sayang (al-mahabbah), hubungan (al-‘alaqah), hasrat (al-hawa), kerinduan (as-shabwah), kerinduan yang halus (ash-shibabah), cinta mendalam (asy-syaghaf), cinta (al-miqats), cinta disertai rasa sedih (al-wajdu), cinta mendalam (al-kalafu), penghambaan (at-tatayyamu), cinta yang meluap-luap (al-‘isyq), cinta membara (al-jawa), sakit karena cinta (ad-danfu), cinta yang berakhir kegelisahan dan kesedihan (asy-syajwu), rindu (asy-syawaq), cinta yang mengecoh (al-khilābah), cinta yang gelisah (al-balābil), cinta yang memuncak (at-tabārīh), cinta yang berakhir dengan sesal (as-sidam), lalai dan mabuk (al-ghamarāt), takut (al-wahal), membutuhkan (asy-syajan), hangus (al-lā’ij), merana karena sedih (al-aktiāb), derita cinta (al-washab), kesedihan (al-huzn), kesedihan yang terpendam di dalam hati (al-kamadu), terbakar api (al-ladz’u), gejala cinta (al-huraqu), sulit tidur (al-araqu), sedih (al-lahfu), belas kasih (al-hanīn), tunduk (al-istikānah), derita cinta (at-tabālah), terbakar kerinduan (al-lau’ah), ujian cobaan (al-futūn), tidak waras (al-junūn), setengah gila (al-lamamu), binasa (al-khablu), teguh (ar-rasīs), penyakit yang merasuk (ad-dā al-mukhāmiru), kasih yang tulus (al-wuddu), satu cinta (al-khullah), sahabat (al-khilmu), cinta yang dibutuhkan (al-gharamu), sangat dahaga (al-huyamu), linglung (at-tadliyah), bingung (al-walahu), penghambaan (at-ta’abbud), dan banyak lagi istilah-istilah lainnya. Namun istilah yang telah disebutkan ini adalah yang paling tepat dimasukkan ke dalam kategori cinta, sebagaimana Ibn Qayyim al-Jauziyyah di dalam Raudhah al-Muhibbīn wa Nuzhah al-Musytaqīn.

Cinta dapat hadir karena ada motif dan pendorongnya, jika belum ada, maka munculkanlah motif dan pendorong cinta. Hal ini selaras dengan sabda Nabishallallaahu ‘alai wa sallam, “Jika salah seorang di antara kalian hendak melamar seorang wanita, maka hendaklah dia memandang apa yang mendorongnya untuk menikahinya, karena yang demikian itu lebih layak untuk merukunkan di antara keduanya.” (HR. Abu Daud).

Maka sepasang suami-isteri yang telah melalui ikatan pernikahan sekian lamanya, hendaknya bersama-sama melakukan introspeksi dan menghadirkan apa motif dan pendorong terlahirnya cinta yang akan menguatkan bahtera dalam sakinah, mawaddah, rahmah dan da’wah. Pernikahan yang tercipta karena kerinduan meraih cinta kepada Allah akan melahirkan aktifitas turunan yang bertemakan cinta, seperti mendidik anak dengan cinta, membimbing istri dengan cinta, suami bekerja mencari nafkah karena cinta, dan ayah mengajarkan ilmu kepada anaknya dengan cinta, bahkan seorang suami dapat mengatakan kepada isterinya, “Disebabkan oleh Cinta, kupercayakan rumahku padamu.” [1]

Cinta yang hadir di antara orang-orang beriman bisa menjadi begitu kuat karena mereka merasakan ikatan yang sama, kecocokan dalam satu keadaan, perbuatan dan tujuan yang sama, menyatukan hati mereka laksana satu tubuh, satu tubuh yang amat besar. Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan mereka laksana satu tubuh. Jika ada satu anggotanya yang sakit, maka semua anggota tubuhnya akan mengeluh karena demam dan tidak bisa tidur (HR. Muslim).

Kecintaan yang begitu mendalam akan melahirkan konsentrasi yang tinggi terhadap sesuatu dan meniadaan sesuatu yang lain secara sempurna, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kecintaanmu kepada sesuatu bisa membuat buta dan tuli. (HR. Ahmad).

Ketika seseorang mencintai ilmu, maka ia tidak lagi merasakan penting selainnya. Al-Hasan al-Bashri berkata, “Satu bab mempelajari ilmu lebih aku cintai daripada dunia dan segala isinya.”[2]

Ketika seseorang mencintai Allah maka ia pun ingin ada sekian banyak saudaranya dalam tubuh yang besar itu juga mencintai Allah dan aktifitas apapun akan dilakukannya untuk melahirkan satu tubuh besar yang mencintain Allah. Berkata al-Hasan al-Bashri, “Hamba yang paling dicintai Allah adalah hamba yang membuat Allah dicintai hamba lainnya dan mengamalkan nasihat di muka bumi ini.”[3]

Benar bahwa ia saat ini hidup di dunia sehingga realistis baginya untuk mengupayakan kebaikan untuk hidupnya di dunia, namun ia sama sekali tidak mencintainya kecuali bersungguh-sungguh menjadikan aktifitasnya di dunia untuk meraih cinta yang hakiki di akhirat. Nasihat besar dari al-Hasan al-Bashri dalam hal ini, “Tidak ada yang lebih membuatku tercengang daripada rasa kagetku melihat orang yang menganggap mencintai dunia adalah dosa besar. Sungguh mencintai dunia adalah perbuatan dosa besar. Sebab, semua dosa besar bersumber dari mencintai dunia, penyembahan berhala dan bermaksiat kepada Allah terjadi karena mencintai dunia serta perilaku lebih mengutamakannya?”[4]

Bersambung …

[1] Persis seperti judul sebuah buku yang ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim

[2] Shalih Ahmad asy-Syami, Nasihat Ulama Salaf, hlm. 133

[3] Ibid, hlm. 139

[4] Ibn Jauzi, Al-Hasan al-Bashri, hlm. 38-39

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

MENJADI RINGAN SAAT DITUNAIKAN BERSAMA

📆 Sabtu, 16 Rajab 1437H / 23 April 2016

📚 KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

📋 MENJADI RINGAN SAAT DITUNAIKAN BERSAMA
(Kerjasama Suami Istri Memaksimalkan Tanggung Jawab Bersama)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Suami dan Istri perlu menjalin kerjasama untuk memaksimalkan tanggung jawab ;
   
1⃣ Dalam hal nafkah :
🌷Menggunakan nafkah yang diberikan suami secara arif

Nafkah yang diberikan suami untuk keluarga adalah amanah. Amanah yang harus dikelola dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika istri memiliki kelemahan untuk mengelola nafkah yang diberikan suami, maka suami perlu membimbing istri agar cakap mengelola nafkah yang ia berikan. Keterampilan mengelola keuangan mencakup peruntukan(list kebutuhan), alokasi (berapa untuk poin apa), prioritas (mana yang harus didahulukan), dll. Sangat baik jika suami istri bermusyawarah untuk menentukan penggunaan keuangan keluarga. Kemampuan mengelola akan menentukan cukup atau tidak nafkah yang diberikan suami. Semata-mata bukan hanya terletak pada sedikit atau banyak.

🌷Bersedekah dari nafkah yang diberikan suami

Rasulullah SAW bersabda : “Apabila seorang istri bersedekah dari makanan rumahnya untuk sesuatu yang tidak memunculkan kerusakan, maka baginya pahala dari apa yang ia sedekahkan dan bagi suaminya pahala dari apa yang ia nafkahkan.” (HR Muslim)
Sedekah selalu membawa berkah. Alokasikan dana untuk sedekah dari nafkah yang diberikan suami agar keberahan meliputi keluarga dan seluruh anggotanya.

🌷Memberi hadiah dari nafkah yang diberikan suami

“Saling memberi hadiahlah kalian, agar kalian saling mencintai”. Demikin Rasulullah SAW bersabda. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahwa : “Rasulullah SAW menikah, lalu beliau menemui keluarganya. Ibuku (Ummu Sulaim) membuat makanan yang terbuat dari tepung, minyak samin dan gandum. Kemudian ia simpan di atas bejana kecil dan berkata kepadaku : ‘Anas, antarkan ini kepada Rasulullah dan sampaikan kepadanya bahwa aku memberikan hadiah untuknya dan menitipkan salam.”

🌷Bantulah suami yang membutuhkan

Maha Besar Allah yang telah menebar rizki demikian banyak dan luas. Tidak hanya untuk kaum laki-laki tetapi juga untuk kaum perempuan. Bersyukurlah para perempuan yang Allah taqdirkan harta berada di tangannya. Tidak selamanya kondisi nafkah suatu keluarga berada dalam kondisi ideal. Kondisi ekonomi sebagian keluarga kadang stabil kadang tidak. Kadang lebih banyak situasi sulitnya. Dalam kondisi seperti itulah para perempuan perlu berkontribusi. Membantu para suami, bukan untuk mengambil alih tanggung jawabnya.

Diriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudry RA bahwa Zainab istri Ibnu Mas’ud datang kepada Rasulullah SAW dan berkata : “Ya Nabi Allah, hari ini engkau menyuruh kami untuk bersedekah. Aku memiliki perhiasan dan aku ingin bersedekh dengannya. Tapi Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ia dan anak-anaknya lebih berhak menerima sedekah itu.” Nabi SAW berkata: “Benar apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud. Suamimu dan anak-anakmu lebih berhak mendapatkan sedekahmu itu.” (HR Bukhri)
Terpujilah para istri dermawan yang ikhlas bersedekah untuk suami, anak-anak dan keluarganya berdasar kesadaran melaksanakan perintah Rasulullah SAW.

2⃣ Dalam Hal Mengatur Urusan Rumah Tangga

Diriwayatkan dari Al-Aswad : “Aku bertanya kepada Aisyah RA apa saja yang dilakukan Rasulullah SAW dirumahnya?” Aisyah menjawab :”Beliau memberikan pelayanan kepada keluarganya. Apabila tiba waktu shalat, beliau pergi menunaikan shalat.” (HR Bukhari)

Disebutkan dalam kitab Fathul Baari juz 11:366, suatu hari Ali berkata kepada Fathimah :”Demi Allah, aku telah mengambil air dari dalam sumur hingga dadaku sakit” . Dan Fathimah berkata : “Dan aku menggiling gandum hingga kedua tanganku lecet.” (HR Ahmad)
Saat urusan rumah tangga menjadi tanggung jawab istri, bukan berarti dia yang harus melakukan semuanya. Istri berperan sebagai manajer yang mengatur pekerjaan apa dilakukan oleh siapa. Jika pekerjaan sudah terbagi kepada anggota keluarga dan masih tersisa pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan anggota keluarga, diperbolehkan untuk meminta tolong orang lain. Misalnya dengan menghadirkan khadimat. Khadimat berfungsi membantu menunaikan pekerjaan yang tidak tertangani bukan menggantikan peran istri atau ibu.

3⃣ Bermusyawarah dalam permasalahan keluarga

Musyawarah adalah akhlak yang harus dibawa seorng muslim dalam semua lini kehidupannya. “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (QS As-Syuura : 38)
Suami dan istri seyogyanya saling memahami dan bermusyawarah dalam urusan keluarga. Tidak meremehkan juga tidak bergantung pada pendapat pasangannya.

Simaklah bagaimana Rasulullah SAW membiasakan musyawarah dengan istrinya dan sangat menghargai pendapatnya. Peristiwa di hari Hudaibiyah dimana Ummu Salamah sangat berperan dengan ide cemerlangnya mendorong Rasulullah SAW melakukan hadyu dan tahallul saat para sahabat menolak mengikuti perintah yang diucapkan Rasulullah SAW.
Atau seperti yang diceritakan Umar RA : “Ketika aku berada dalam suatu urusan yang membuatku sibuk memikirkannya, tiba-tiba istriku menegurku :’Coba engkau lakukan ini dan itu.’ Aku menyergahnya : ‘Kenapa engkau ini. Kenapa engkau ada didekatku. Apa yang membuatmu ikut campur dalam masalahku?’. Istrinya menjawab :’Engkau aneh wahai putra Al-Khottob. Tidakkah engkau mengevaluasi dirimu sendiri? Lihatlah bagaimana putrimu (Hafsah) mengevaluasi Rasulullah SAW sampai-sampai beliau marah sepanjang hari.” (HR Bukhari Muslim).

Demikianlah beberapa hal yang perlu dilakukan oleh suami dan istri agar tanggung jawab menjadi lebih ringan, dan menjadi ringan saat semua hal tsb ditunaikan bersama.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

MANAJEMEN MARAH

📆 Sabtu, 09 Rajab 1437H / 16 April 2016

📚 KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadzah KINGKIN ANIDA

📝 MANAJEMEN MARAH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌿🍀

Sahabatku yang dirahmati Allah Azza wa Jalla,
Istri adalah belahan jiwa seorang suami. Memandangnya menyejukkan mata. Mendengar tutur katanya menenangkan perasaan. Istri anugerah terindah dari Allah Yang Maha Pengasih Maha Lembut.

Allah berfirman :
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَب
Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung  bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan mereka laki-laki telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).  Perempuan perempuan  yang kamu khawatirkan akan nusyuz ( meninggalkan kewajiban suami istri) hendaklah kamu beri  nasehat pada mereka, dan tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang) dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari cari alasan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisa : 34).

Memahami hakikat bahwa suami adalah pelindung istri, maka lelaki yang telah menikah itu  dimaknai seperti pakaian yang melindungi badan atau bak payung melindungi pemakainya dari panas/hujan atau dapat dimaknai benteng yang melindungi penghuni dari serangan musuh. Suami itu seseorang yang berkarakter kuat, lembut, mampu menahan goncangan dan memberi rasa aman. Demikianlah tentu saja yang dilindungi (istri) mempunyai kekuatan, kelembutan, atau sifat lebih lemah darinya.

Islam memiliki parameter  dalam menilai kekuatan. Sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,
“لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ“
“Orang yang kuat bukanlah jago gulat, namun orang yang kuat adalah yang mampu menahan diri manakala marah” ( HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Jika seorang istri suka marah marah, berarti dia seorang yang lemah. Baik lemah secara wawasan, jasmani, maupun rohaninya.  Para suami hendaknya bisa bersabar dan kuat menghadapi kemarahan istri. Kesabaran suami haruslah diatas kesabaran istri. Batas kemarahannya mesti berada tiga level dibawah level istri. Suami tidak menjadi marah atau tambah marah saat istrinya marah marah…

“وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُت”
“Jika engkau marah diamlah”(HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany).
Nasehat bagi istri yang lemah, adalah bagian dari kewajiban seorang suami sebagaimana terkandung dalam tarjamah surat An Nisa ayat 34.
Nasehatilah dia, para istri dengan :

✅ Pertama, cobalah diberi waktu istirahat atau tidur yang cukup. Bantu beberapa pekerjaan rumah yang memerlukan tenaga yang besar seperti mengepel lantai, menyetrika pakaian dan menyikat kamar mandi. Kisahkan tentang surga bagi istri yang menahan amarah, sebagaimana sabda Nabi , “Janganlah marah maka bagimu surga”. Tentunya nasehat ini diberikan padanya tidak dihadapan anak atau orang lain. Mengapa? Ya karena nasehat didepan selain dirinya, hanya akan menimbulkan “defence mechanism”. Dia semakin bertahan kuat dan nusyuz (membantah).

✅ Kedua, gambaran yang jelas tentang wanita surga itu lemah lembut, sabar dan cantik, tentu menambah kuat nilai sebuah nasehat. Setiap wanita pada dasarnya cantik. Tak ada wanita yang jelek. Seorang wanita kelihatan jelek saat dia terjebak pada kemarahan. Kemarahan juga hanya akan menambah daftar penyakit masuk kedalam tubuh.

✅ Ketiga, bila dia mau untuk bersabar tapi tak mampu melakukannya, maka seorang suami bisa menawarkan diri sebagai “Coach” yang akan membantunya dengan mengingatkan agar istri saat marah segera memegang dadanya lalu berta’awudz, menarik nafas, melepasnya dan beristighfar. Merubah posisi. Mengambil wudhu dan membaca Al Qur’an.

Tiga point diatas sudah dijalankan, namun istri pemarah mengalami kesulitan menghentikan kebiasaan marahnya?

Maka cobalah dengan langkah berikutnya :

✅ Keempat, berilah kesempatan pada istri untuk  keluar rumah, ikut Majlis Ta’lim. Hadir di Majlis taklim itu seakan piknik atau rihlah ruhiyah. Menyegarkan hati yang penat. Atau bersama ke toko Buku dan menghadiahkan kepadanya buku atau Majalah tentang Pendidikan Anak dalam Islam.

✅ Kelima, jika rangkaian hal tersebut terlalu panjang tahapannya dan ia membantah begitu diingatkan, maka saat itu segeralah peluk dia dan bacakan ayat perlindungan (surat-surat muawidzatain yaitu Annas dan Al Falaq). Jangan lupa godalah untuk bisa tersenyum! Pastikan bahwa kondisi suami juga dalam kelapangan dada. Dalam hubungan yang dekat dengan Allah Yang Maha Bijaksana.

✅ Keenam, bila istri mengulang kembali marah marahnya, maka punggungi dia ditempat tidur (untuk menunjukkan perasaan suami) dengan catatan suami tidak perlu pindah ranjang atau meninggalkan rumah maupun tidak bicara sama sekali dengan istri. Dengan membelakangi istri, kemungkingan dia akan merasa sedang ditegur.

Sahabatku yang dirahmati Allah Azza wa Jalla,
Istri adalah belahan jiwa seorang suami. Memandangnya menyejukkan mata. Mendengar tutur katanya menenangkan perasaan. Istri anugerah terindah dari Allah Yang Maha Pengasih Maha Lembut.

Setiap wanita yang mempunyai kelembutan meski sebesar dzarrah dalam hatinya tentu akan pelan pelan berubah dengan nasehat-nasehat tersebut diatas. Memerlukan waktu yang agak panjang untuk hal itu. Bersabarlah. Langkah berikut mungkin akan menjadi jalan keluar terbaik Insya Allah :

✅ Ketujuh, jelaskan padanya bahwa para suami menginginkan kebaikan dan kelembutan tumbuh dalam diri istri. Bahkan kemarahan yang terus menerus bisa mematikan cinta. Tiadanya cinta dalam perkawinan akan menurunkan gairah bersama. Menjadikan malam malam dalam kehidupan perkawinan, bak siksaan. Seperti tersiksanya hati seorang  Ayah mendengar kabar bahwa anak perempuannya dalam kesakitan, kesedihan, dan penderitaan hidup.

✅Kedelapan, kekerasan di hati seorang istri apabila tidak berkesudahan maka perlu untuk ‘dipecahkan’. Memukul dengan ringan, kemungkinan bisa menjadi jalan keluar sebagaimana yang pernah dilakukan Nabi Ayyub kepada istrinya. Dalam hal ini adalah sunnah untuk menghukum istri dengan cara memukulnya.

Pilihlah waktu pelaksanaan memukul, yaitu diwaktu hati suami sedang tenang, sehingga pukulan tak menyakitkan. Memilih alat pukul yang ringan seperti koran, sajadah, jilbab, atau perlengkapan sholat lainnya. Sampaikan terlebih dulu bahwa itu dilakukan sebagai jalan keluar terakhir sesuai perintah Allah dalam QS surat An Nisa ayat 34. Unik ya?

Semoga hal demikian akan mengubah prilaku kerasnya menjadi semakin lembut.
” Bertakwalah kalian kepada Allah dalam perkara para wanita (istri), karena kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seseorang yang kalian benci untuk menginjak di hamparan (permadani) kalian, jika mereka melakukan hal tersebut maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras” (HR. Muslim).

Ya memang memukul adalah jalan paling akhir dari masalah sifat istri yang pemarah. Nabi kita mengajarkan kelembutan dan kasih sayang. Beliau kanjeng Nabi mendapat gelar “Roufur Rahim” lantaran karakter kuat dalam kelembutannya.  Dari Aisyah radhiyallahu’anha, ” Rasulullah sama sekali tidak pernah memukul seseorang pun dengan tangannya, tidak pernah memukul seorang wanita, tidak pernah pula memukul pembantunya, …” ( HR. Muslim).

Wallahu’alam bishowab

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Tanggung Jawab Pendidikan Anak-Anak Kita Ada Pada Siapa?

📆 Sabtu, 09 Rajab 1437H / 16 April 2016

📚 KELUARGA & PARENTING

📝 Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌿
 
Serasa terkoyak sembilu hati ini, membaca berita seorang anak yang gusar pada ibundanya karena menganggap sang bunda yang sudah renta terlalu lama membelikan nasi uduk untuk sarapan si anak. Kegusaran yang mendorong sang anak tega memukul kepala sang bunda dengan gagang cangkul hingga sang bunda yang naas ini menghembuskan nafas terakhirnya di tangan anak semata wayangnya. Sebelum kejadian menyedihkan itu berlangsung, sang bunda renta yang sedang sibuk mencuci baju kotor sudah berusaha tergopoh berlari membelikan nasi uduk untuk sang anak yang baru bangun kesiangan, merasa lapar, dan dengan kasar memerintahkan ibundanya untuk segera menyiapkan sarapan. Bukannya, merasa malu dan segera mengambil alih kerepotan ibundanya. Satu contoh dari sekian kasus yang relatif sama yang cukup banyak kita baca atau dengar. Duh, ada apa dengan kalian nak?

Sebagai seorang ibu, tercenung aku membaca headline berita, “Kenakalan Remaja Sudah Tak Wajar Dan Mulai Bergeser Ke Arah Kriminal”. Atau membaca opini yang berisi kekurangyakinan atas efektifitas pemberlakuan kurikulum pendidikan.

Muncul pertanyaan pada diri sendiri, sebagai seorang ibu, siapakah yang paling dominan membentuk kepribadian anak-anak kita? Pemerintah? Lingkungan? Masyarakat? Guru-guru atau sekolah? Pembantu? Atau..berat dan lirih aku menyebutkannya, orang tua? Ibu? Kita? Saya?

Apakah kita masih ingat untuk terus menanamkan nilai-nilai mulia ini pada anak-anak kita? “…Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya . Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-Israa’ : 23-24)

Bagaimana dengan konsep, prioritas keutamaan manusia di hadapan anak-anaknya, “ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu” ?

Sesuai hadits berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Atau apa yang terjadi dengan mengajarkan keyakinan bahwa doa restu orang tua adalah sesuatu yang begitu sakral untuk memotivasi dan mendorong kesuksesan seorang anak?

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga do’a yang tidak tertolak yaitu do’a orang tua, do’a orang yang berpuasa dan do’a seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro)

Dalam pembicaraan sehari-hari, ada istilah ibukota, untuk menggambarkan kota yang utama di suatu wilayah atau negeri, tempat berpusat semua aktifitas-aktifitas penting. Ada juga ibu jari, untuk menyebut jari yang paling besar dan menonjol di telapak tangan kita. Pada sebuah computer, motherboard adalah bagian tempat pusat pemrosesan. Ada juga ibu pertiwi, ada sel induk,ada pasar induk dan seterusnya. Tentu saja, maksud tulisan ini bukan untuk membahas istilah-istilah, tapi lebih untuk mengangkat bahwa sadar ataupun tidak sadar, ketika kita ingin menyebut satu bagian dalam suatu sistem, adalah bagian yang terpenting atau sebagai pusat pengorganisasian bagian-bagian lain, maka tak ayal, kata ibu, mother atau induk akan digunakan.

Masihkah anak-anak kita menganggap bahwa kita adalah bagian terpenting di rumah-rumah kita? Ketika, wujud dan keberadaan kita hampir-hampir tidak nampak di mata anak-anak kita, dengan berbagai alasan. Mengejar karir, eksistensi diri, atau bahkan kegiatan-kegiatan menghabiskan waktu untuk keasyikan dan kesenangan diri kita semata. Bagaimana dengan anak-anak? Cukup kita sediakan buat mereka pembantu-pembantu yang dengan sigap melayani kebutuhan mereka. Pendidikan mereka? Cukup kita sekolahkan mereka pada sekolah-sekolah yang kita anggap baik seharian penuh, ditambah dengan kursus-kursus tambahan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka.

Sebagian ibu sekarang ketika ditanya, “Sekarang kerja dimana?”, meresponnya dengan berat, atau bahkan berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Malu!
Apalagi jika yang menanyakan itu, seorang ibu yang “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar.
Apalagi jika yang ditanya adalah ibu lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude tapi telah “menyia-nyiakan kepandaiannya” dengan menjadi ibu rumah tangga.

Wahai ibu, posisi dan peran kita begitu mulia.

Realitanya sekarang menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka.
Bagaimana mungkin pekerjaan menanamkan budi pekerti yang baik di dada-dada anak-anak kita bisa dikalahkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bergengsi? Atau kepuasan eksistensi diri kita?

Tapi, bisa saja banyak ibu-ibu penuh waktu mereka di rumah, namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anak-anak mereka, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. “Full” di rumah tapi tidak perduli dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan dan uang jajan saja.

Bukan masalah bekerja atau tidak bekerja, atau masalah keluar atau tidak keluar rumah, tapi yang utama adalah kesadaran kita bahwa mendidik anak-anak kita bukanlah hanya bertujuan menginginkan serta mengarahkan anak-anak kita bahwa kesuksesan mereka adalah keberhasilan akademis dan karir mereka, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar sekian pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di tempat-tempat rekreasi.

Bukan hanya itu!

Wahai ibu…

Di usia tua kita, dalam kondisi makin lemah, apakah anak-anak kita akan teringat keutamaan kita kalau kita tidak optimal mendidik anak-anak kita?

Apakah justru mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu selalu kita bangga-banggakan melebihi kebanggaan atas keberhasilan mereka belajar menata perilaku dan akhlak mereka?
Atau mungkin mereka sedang asyik dengan istri dan anak-anak mereka?

Sedangkan kita? Sosok renta yang membebani mereka, tidak berguna, dan mengganggu kesenangan mereka?

Hangat terasa air mataku mengalir, tak sanggup membayangkannya..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

MAU DIBAWA KEMANA KELUARGA KITA?

📆 Sabtu, 24 Jumadil Akhir 1437H / 2 April 2016

📚 KELUARGA & PARENTING

📝 Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN @ajobendri

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌿

Ada satu pertanyaan penting yang harus kita jawab saat memulai rumah tangga : mau dibawa kemana keluarga kita?
Pertanyaan ini akan menggiring kita kepada sikap dan cara berumah tangga. Jika kita menjawabnya mengalir bagai air, seraya berharap mengalir ke danau jernih meskipun ternyata ngalirnya ke got atau septic tank, maka sikap kita dalam berumah tangga cenderung reaktif layaknya pemadam kebakaran. Hanya sibuk memadam masalah yg tiba-tiba muncul. Inilah model keluarga survival. Hidup yang penuh adrenalin.  Berdebar debar, khususnya dirasakan para istri. Hanya menerka nerka apa gerangan yg terjadi esok sambil siapin mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Jika Anda naik roller coaster semenit aja bisa muntah-muntah, maka model keluarga seperti ini dijamin akan membuat cemas dan berpeluang stroke.

Lain halnya jika Anda jelas tujuannya mau kemana. Dan tau jalan menuju tujuan itu. Meskipun berliku-liku dan ada turbulensi dan guncangan sepanjang jalan, tetap kan tegar. Karena telah memprediksi kejadian tersebut sebelumnya. Inilah keluarga yg punya visi. Bukan berarti gak punya masalah. Namun tau apa yg dilakukan saat menghadapi masalah karena jelas tujuan dan arahnya.

Maka, visi berkeluarga menjadikan kita menikmati setiap irama hidup berumah tangga. Baik iramanya dangdut koplo atau black metal. Masing-masing telah dipahami pola nadanya. Saat berkelimpahan tau sikap yg dilakukan, saat berkesusahan mengerti strategi yg diterapkan. Tetap optimis sampai ke tujuan. Tidak saling menyalahkan.  Sebab masing masing anggota paham rute dan medannya.

Itulah kenapa perintah agama senantiasa mengajak kita untuk membuat visi dalam berbagai hal khususnya dalam berkeluarga. Allah katakan dalam alquran surat al hasyr ayat 18 : Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan hendaklah tiap tiap diri melihat apa yang akan dilakukannya esok hari. Maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”

Ayat ini memakai kalimat تنظر dari kata نظر yang maknanya melihat dengan jelas. Ini menandakan bahwa masalah visi adalah bukan sekedar dalam pikiran namun terimajinasikan hingga seolah-olah kita melihatnya. Dengan melihat jelas itulah kita melihat dua hal : peluang sekaligus tantangan. Peluang kita jadikan alat untuk meraih tujuan dan tantangan kita sikapi dengan antisipasi sedari awal. Inilah keluarga yang selamat.

Karena itu, sebelum biduk dikayuh hendaknya masing masing anggota keluarga saling mengingatkan tujuan, ‘kita mau kemana?’ Jangan sampai energi mengayuh habis sepanjang jalan hanya untuk siap siap tenggelam karena tidak mengerti arah dan tujuan bersandar.

Sebagai muslim, Allah telah membuat panduan visi dalam keluarga. Visi umum ini mutlak kita ikuti. Tinggal misi operasionalnya yg berbeda antar keluarga. Visi yang dimaksud di antaranya :
1. Terbebas dari siksa api neraka (QS At Tahrim : 6)
2. Masuk surga sekeluarga (QS Ath Thur : 21)

Kedua visi ini memberi petunjuk kita bahwa urusan akherat adalah prioritas. Bukan sambilan. Apalagi dianggap penghambat kesuksesan dunia. Jangan sampai muncul kalimat : ngajinya libur dulu ya, besok kamu mau UN. Ntar UN nya keganggu lagi. Ini menunjukkan bahwa kita telah gagal menempatkan akherat sebagai prioritas. Padahal urusan akherat itu yg utama sebagaimana Allah sebutkan dalam surat Al Qososh ayat 77(silahkan buka sendiri ayatnya)

Untuk menjaga visi berkeluarga agar sesuai dgn petunjuk quran tersebut, maka mulailah dari dominasi tema dialog dalam rumah tangga kita. Ada sebuah ungkapan masyhur yg diucap Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tarikhnya “dialog yg sering dibicarakan antar rakyat menunjukkan visi asli pemimpinnya”. Kesimpulan ini beliau ucapkan setelah meneliti visi para pemimpin di zaman dinasti umayyah, mulai dari Sulaiman bin Abdul Malik, Walid bin Abdul Malik hingga ke Umar bin Abdul Aziz. Apa yg dibicarakan rakyat menunjukkan visi pemimpinnya. Saat rakyat banyak dialog tentang jumlah anak istri dan cucu ternyata sesuai dengan visi Sulaiman yg memang concern kepada urusan pernikahan dan keluarga. Begitupun saat rakyat banyak berdialog tentang uang dan harta di masa Walid, sebab memang visinya walid seputar materi dan pembangunan.

Dan anehnya begitu di masa Umar bin Abdul Aziz rakyat lebih banyak dialog tentang iman dan amal sholeh. Tersebab memang pemimpinnya, yakni umar, kuat visinya akan akherat,

Dengan demikian, coba perhatikan dialog dalam keluarga kita, khususnya anak anak sebagai ‘rakyat’ dalam keluarga, Itulah visi asli kita. Jika lebih banyak bicarakan liburan dan makanan sebab visi keluarga mungkin seputar wisata kuliner. Sebaliknya jika sudah mulai bicarakan hal hal seputar agama, itu tanda visi akherat dari ortu telah sampai kepada mereka.

Mulailah dari perbaikan lisan (QS Al Ahzab : 70) lewat dialog yg bernuansakan akherat, maka kelak akan terperbaiki amalan kita menuju cita cita : masuk surga bersama. Inilah sejatinya keluarga. Yakni ketika kumpul bersama di surga. Dan terhindar dari keluarga broken home, dimana bukan yg tercerai berai di dunia, namun keluarga yg tak mampu kumpul bersama di surga. Semoga Allah kabulkan pinta kita tuk ajak sanak famili kumpul bersama di jannahNya. Aamiin

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…