Memindahkan dan Menembok Kuburan

Ustadz Menjawab
Rabu, 03 Oktober 2018
Ustadz Farid Nu’man Hasan
Assalamualaikum ustadz/ah..apa hukum memindahkan tulang belulang jenazah yg da didalam kubur ke kubur yg lain ? dan jika boleh adakah cara yg sesuai dgn syariat agama kita ?
I04
Jawaban
————–
‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..
Pertama. Memindahkan Kuburan
Membongkar mayat di  kuburnya dan memindahkannya tanpa keperluan syar’i adalah terlarang menurut para ulama.  Sebab pemindahan itu dapat menyakiti dan menghinakan mayat tersebut. Larangan ini berdasarkan hadits-hadits berikut:
إِنَّ كَسْرَ عَظْمِ الْمُؤْمِنِ مَيْتًا مِثْلُ كَسْرِهِ حَيًّا
Sesungguhnya mematahkan tulang seorang mu’min yang sudah wafat sama seperti mematahkannya saat hidupnya. (HR. Abu Daud No. 3207, Ibnu Majah No. 1616,  Ahmad No. 24308, dll. Syaikh Syu’aib Al Arna’uth mengatakan para perawinya terpercaya. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24308)
Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan hadits ini:
ويستفاد منه أن حرمة المؤمن بعد موته باقية كما كانت في حياته
Dari hadits ini terdapat faidah, bahwa kehormatan seorang mu’min setelah wafatnya masih ada sebagaimana dahulu saat dia masih hidup. ( Fathul Bari, 9/113)
Ath Thayyibiy Rahimahullah berkata:
إشارة إلى أنه لا يهان ميتا كما لا يهان حيا
Ini adalah isyarat bahwa tidak boleh menghinakan mayat, sebagaimana tidak boleh menghinanya saat hidup. ( ‘Aunul Ma’bud, 9/18)
Dalil lainnya, ‘Amru bin Hazm Radhiallahu ‘Anhu bercerita: Nabi ﷺ melihatku sedang besandar di kuburan, Beliau bersabda:
لا تؤذ صاحب القبر
Jangan sakiti penghuni kubur. (HR. Ath Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar No. 2944, Alauddin Muttaqi dalam Kanzul ‘Umal No. 42988. Al Hafzih Ibnu Hajar mengatakan: sanadnys shahih. (Fathul Bari, 3/225). Lihat juga  Syarh Az Zarqani ‘alal Muwaththa, 2/97)
Imam Ash Shan’ani Rahimahullah menjelaskan:
نهى عن أذية المقبور من المؤمنين، وأذية المؤمن محرمة بنص القرآن {وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُبِيناً}
Dilarang menyakiti penghuni kubur dari kalangan orang-orang beriman. Menyakiti seorang mu’min diharamkan berdasarkan nash Al Quran: Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al Ahzab: 58). ( Subulus Salam, 2/120)
Demikianlah alasan terlarangnya memindahkan mayit yang sudah kubur jika tanpa keperluan syar’iy. Tapi jika ada alasan yang dibenarkan, atau darurat, tidak apa-apa. Seperti adanya perluasan kawasan pemukiman penduduk yang semakin banyak, dan amat diperlukan umat Islam, sebab kepentingan yang masih hidup diutamakan terlibih dahulu. Atau pemindahan karena tanah kubur longsor, kebanjiran,  dan sebab lainnya.
Dalam Madzhab Syafi’iy, disebutkan:
يحرم نقله بعد دفنه إلا لضورة كمن دفن في أرض مغصوبة فيجوز نقله إن طالب بها مالكها
Diharamkan memindahkan mayat setelah dikuburnya kecuali darurat seperti mayat yang dikuburkan di tanah yang dirampas, maka boleh memindahkannya atas permintaan pemiliknya. ( Al Fiqhu ‘Alal Madzahib Al Arba’ah, 1/843)
Sementara dalam Madzhab Malikiy, disebutkan – dan ini lebih lengkap lagi:
يجوز نقل الميت قبل الدفن وبعده من مكان إلى آخر بشروط ثلاثة : أولها : أن لا ينفجر حال نقله ثانيها : أن لا تهتك حرمته بأن ينقل على وجه يكون فيه تحقير له ثالثها : أن يكون نقله لمصلحة كأن يخشى من طغيان البحر على قبره أو يراد نقله إلى مكان له قيمة أو إلى مكان قريب من أهله أو لأجل زيارة أهله إياه فإن فقد شرط من هذه الشروط الثلاثة حرم النقل
Dibolehkan memindahkan mayat sebelum dan sesudah dikubur dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan tiga syarat:
1.    Mayat tidak rusak ketika dipindahkan
2.    Tidak sampai menodai kehormatannya, yaitu memindahkan dengan cara yang dapat menghinakannya
3.    Kepindahan itu karena ada sesuatu maslahat, seperti takut kubur ter
sapu oleh lautan, atau memindahkan ke tempat yang memiliki nilai tersendiri, atau tempat yang lebih dekat dengan kleuarganya, atau karena supaya dekat diziarahi keluarganya.
Jika satu syarat dari ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka haram memindahkannya. ( Ibid)
Pembolehan ini berdasarkan riwayat berikut:
عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ دُفِنَ مَعَ أَبِي رَجُلٌ فَلَمْ تَطِبْ نَفْسِي حَتَّى أَخْرَجْتُهُ فَجَعَلْتُهُ فِي قَبْرٍ عَلَى حِدَةٍ 
Dari Abu Nadhrah, dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu  ia berkata: ada  seorang laki-laki dimakamkan bersama  mayat ayahku,  namun   jiwaku tidak enak, hingga akhirnya aku keluarkan beliau dari kuburan dan aku kuburkan beliau dalam satu  kubur sendiri. (HR. Al Bukhari No. 1352)
Demikian. Wallahu A’lam
Kedua. Menembok Kubur
Membangun kuburan atau mendirikan tembok di sisi kubur adalah terlarang, sebagaimana hadits berikut:
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر وأن يقعد عليه وأن يبنى عليه
Rasulullah ﷺ melarang mengecat/mengapur kubur, duduk di atasnya, dan membangunnya. (HR. Muslim No. 970)
  Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:
الحديث دليل على تحريم الثلاثة المذكورة لأنه الأصل في النهي. وذهب الجمهور إلى أن النهي في البناء والتجصيص للتنزيه.
Hadits ini merupakan dalil haramnya tiga hal tersebut, karena hukum asal dari larangan adalah haram. Sedangkan mayoritas ulama mengatakan bahwa larangan membangun dan mengapur adalah untuk _tanzih_ (sesuatu yang sepantasnya ditinggalkan). ( Subulus Salam, 2/111)
  Imam Al Munawi Rahimahullah mengatakan:
(وأن يبني عليه) قبة أو غيرها فيكره كل من الثلاثة تنزيها 
Nabi melarang (Membangun bangunan atasnya) yaitu kubah dan selainnya, maka dimakruhkan tiga hal itu sebagai hal yang selayaknya ditinggalkan (tanzih).
Lalu beliau juga berkata:
قال ابن القيم : والمساجد المبنية على القبور يجب هدمها حتى تسوى الأرض إذ هي أولى بالهدم من مسجد الضرار الذي هدمه النبي صلى الله عليه وسلم وكذا القباب والأبنية التي على القبور وهي أولى بالهدم من بناء الغاصب اه.
وأفتى جمع شافعيون بوجوب هدم كل بناء بالقرافة حتى قبة إمامنا الشافعي رضي الله عنه التي بناها بعض الملوك
Imam Ibnul Qayyim berkata: masjid yang dibangun di atas kubur wajib dihancurkan sampai rata dengan tanah, bahkan dia lebih utama dihancurkan dibanding masjid dhirar yang pernah dihancurkan Nabi ﷺ , demikian juga kubah-kubah di atas kubur dia lebih layak dihancurkan dibandingkan bangunannya, dst. Ulama Syafi’iyah memfatwakan wajib menghancurkan semua bangunan di qarafah (tanah kuburan) sampai-sampai kubah imam kita sendiri, Imam Asy Syafi’iy, yang telah dibangun oleh pihak kerajaan. ( Faidhul Qadir, 6/402)
Namun, Imam Asy Syafi’i membolehkan meninggikan kuburan tidak sampai melebihi sejengkal, sebagai tanda itu adalah kubur agar tidak terinjak-injak manusia. ( Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/286-287)
Jadi, kalau membangunnya tidak sampai melebihi sejengkal tidak apa-apa, sebagai tanda itu adalah kubur. Selebihnya terlarang.
Wallahu a’lam.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh: manis.id
📱 Info & pendaftaran member: bit.ly/mediamanis
💰Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
a.n Yayasan MANIS,
No Rek BSM 7113816637
Info lebih lanjut: bit.ly/donasidakwahmanis

Berjihadlah

Kita Berjuang Bukan untuk Ketenaran Cukuplah Penduduk Langit Menjadi Saksi

Setelah beberapa kali ragu-ragu, akhirnya Ka’b ibn Malik Radhiyallahu’anhu tertinggal rombongan Nabi Muhammad ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam ke Perang Tabuk.

والمسلمون من تبع رسول الله صلى الله عليه وسلم كثير
لا يجمعهم كتاب حافظ، يعني بذلك الديوان

Ka’b menduga Rasulullah tidak mengetahui absennya dia karena banyaknya balatentara Kaum Muslimin yang berangkat menuju Tabuk. Begitu banyaknya sahabat yang antusias ikut sehingga tidak semuanya tercatat dalam diwan (register/manifest).

Dari sejak dahulu, para mujahid dan mujahidah tidak pernah berjuang agar tertulis namanya dalam suatu catatan atau prasasti.

وأخبر هم خبره فغزاها رسول الله صلى الله عليه وسلم في حرّ شديد واستقبل سفرًا بعيدًا واستقبل غزو عدوّ كثير 

[Sebagaimana diketahui, pra kondisi keberangkatan Tabuk berbeda dengan ekspedisi lainnya], Rasulullah menjelaskan bahwa perjalanan akan dilakukan pada musim panas/kering (lagi minim sumber air sepanjang rute perjalanan), jaraknya ekstra jauh, serta lawannya yang lebih banyak (daripada sebelumnya).

Rasulullah memberikan kesempatan yang cukup untuk bersiap dan saling membantu persiapan, ciri khas ummah yang shalihah.

فقلّ رجل يريد أن يتغيّب إلا ظنّ انه سيخفى له ذلك 

[Ternyata keadaan yg berat itu tidak mengurangi kesemangatan para sahabat untuk berangkat]. Hanya sedikit yang berniat untuk tidak ikut serta kecuali mereka yang menduga Rasulullah tidak mengetahui ketidakhadirannya.

Merupakan ciri mu’min ketika masalah mendera ummat dengan kekuatan besar, maka ia menyambutnya dengan kesemangatan yang lebih besar lagi.

يحزنني أني لا أرى إلا رجلًا مغموصًا عليه في النفاق، أو رجلًا ممّن عذر الله من الضعفاء

[Setelah benar-benar tertinggal dan tidak mungkin tersusul lagi, kini perasaan yang menghantui Ka’b adalah] sedih karena menilai dirinya sendiri tidak lebih dari seorang laki-laki yang tertancap penyakit nifaq (munafik) atau seorang laki-laki yang diberi udzur oleh Allah karena kelemahannya; [dua perasaan yang tidak dimiliki serta tidak pernah diinginkan Ka’b].

Sungguh menakjubkan para sahabat dahulu ketika melakukan kesalahan, mereka sibuk menghisab diri dan cemas dengan kekhilafannya serta tidak pernah mencari sebab pada orang lain.

Kemudian kita semua ketahui bahwa hanya Ka’b ibn Malik, Murarah ibn ar-Rabi, serta Hilal ibn Umayyah yang terus terang mengakui kesalahan mereka di hadapan Baginda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Taubat mereka diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah hampir dua bulan lamanya menerima sanksi berupa larangan dari Rasulullah untuk berbicara dengan ketiganya, sampai turun ketiga ayat:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka,

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman!

Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.

Surah At-Tawbah, Ayat 117-119

Agung Waspodo, beristighar panjang atas segala kelalaiannya, semoga Allah Ta’ala ampuni dirinya yang lemah itu.

Depok, 15 Syawwal 1439 Hijriyah


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iman Islam

RIYADHUS SHALIHIN: Muraqobah – Rukun Islam dan Iman​

​Al Hadits:​

وأما الأحاديث ، فالأول : عن عمر بن الخطاب – رضي الله عنه – ، قَالَ :

بَيْنَما نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – ذَاتَ يَومٍ ، إذْ طَلَعَ عَلَينا رَجُلٌ شَديدُ بَياضِ الثِّيابِ ، شَديدُ سَوَادِ الشَّعْرِ ، لا يُرَى عَلَيهِ أثَرُ السَّفَرِ ، وَلا يَعْرِفُهُ مِنَّا أحَدٌ ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيهِ إِلَى رُكْبتَيهِ ، وَوَضعَ كَفَّيهِ عَلَى فَخِذَيهِ،

وَقالَ : يَا مُحَمَّدُ ، أخْبرني عَنِ الإسلامِ ، فَقَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : الإسلامُ : أنْ تَشْهدَ أنْ لا إلهَ إلاَّ الله وأنَّ مُحمَّداً رسولُ الله ، وتُقيمَ الصَّلاةَ ، وَتُؤتِيَ الزَّكَاةَ ، وَتَصومَ رَمَضَانَ ، وَتَحُجَّ البَيتَ إن اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبيلاً

قَالَ : صَدَقْتَ . فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقهُ ! قَالَ : فَأَخْبرنِي عَنِ الإِيمَانِ

قَالَ : أنْ تُؤمِنَ باللهِ ، وَمَلائِكَتِهِ ، وَكُتُبهِ ، وَرُسُلِهِ ، وَاليَوْمِ الآخِر ، وتُؤْمِنَ بالقَدَرِ خَيرِهِ وَشَرِّهِ

قَالَ : صَدقت

​Artinya:​

​Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: “Pada suatu ketika kami semua duduk di sisi Rasulullah s.a.vv. yakni pada suatu hari, tiba-tiba muncullah seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam warna rambutnya, tidak tampak padanya bekas perjalanan dan tidak seorang pun dari kita semua yang mengenalnya, kemudian duduklah orang tadi di hadapan Nabi SAW. lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha sendiri dan berkata:​

​”Ya Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam.”​

​Rasulullah SAW. lalu bersabda:​

​”Islam, yaitu hendaknya engkau menyaksikan bahawa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, hendaklah pula engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melakukan haji ke Baitullah jikalau engkau mampu.”​

​Orang itu berkata: “Anda benar.”​

​Kita semua heran padanya, kerana dia yang bertanya dan juga membenarkan.​

​Ia berkata lagi: “Kemudian beritahukanlah padaku tentang Iman.”​

​Rasulullah SAW bersabda:​
​”yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari kemudian – kiamat – dan hendaklah engkau beriman pula kepada takdir, yang baik ataupun yang buruk – semuanya dari Allah.”​

​Orang itu berkata: “Anda benar.”​

-Bersambung-
☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO dari Web Manis berikut.

Klik disini


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keteladanan Kunci Suksesnya Pendidikan

© Dalam proses pendidikan anak ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan sebagai orang tua. Mendidik mereka tak cukup menyampaikan materi yang kita baca tapi kita pun melaksanakannya.

▪Kita tentunya sudah tahu bahwa kunci pendidikan adalah keteladanan. Dengan mengambil referensi dari buku Tarbiyatul Aulad karya Ustadz Abdullah Nashih Ulwan ada beberapa hal yang harus kita cermati sebagai orang tua.

1. Lisanul Hal afshahu min lisanul Maqal. Bahwa keteladanan dari perilaku orang tua jauh lebih manjur bila dibandingkan dengan ucapan saja. Semisal kita suruh anak shalat dengan meneriaki akan merasa kesulitan meskipun suara kita sudah mengeras bahkan dengan membentak sekalipun. Mengapa tidak kita lakukan dengan kita berwudhu dan mengajak shalat bersama. Mengusapnya, menyentuhnya sebagai bentuk dari ajakan.

2. Attarbiyah bil muta’ah. Kita harus mendidik dengan pengawasan. Kita tidak hanya melepas begitu saja sekiranya anak kita sudah sekolah di tempat yang baik. Belum sepenuhnya karena pendidikan yang utama adalah tanggung jawab utama dipikulkan pada pundak orang tua. Maka wajiblah kita mengawasi mereka.

3. At Tarbiyah Bin Nashihah. Mendidik dengan nasihat. Mendidik anak dengan kalimat-kalimat berhikmah untuk membentuk pribadi yang shalih. Kita ajak mereka berdialog penuh kenyamanan. Sikap tubub dan bahasa lisan mampu membentuk kepribadian mereka. Maka hiasi hari-hari dengan saling berbincang tentang kebaikan.

4. At Tarbiyah bil ‘aadah. Mendidik anak dengan kebiasaan. Hal yang baik bisa kita contohkan. Orang tua itu potret pertama bagi anak. Apa yang dilakukan oleh mereka para orang tua di rumah dan kebiasaannya itulah yang akan ditiru. Bahkan semangat mengikuti agenda dakwah menjadi contoh juga bagi anak-anak kita. Dan tentunya masih banyak lagi adat kebiasaan di rumah yang ditiru oleh anak-anak kita.

5. At Tarbiyah bil hadiah wa Uqubah. Mendidik dengan hadiah, penghargaan dan iqab atau hukuman. Tentu saja hadiah bukan sembarang hadiah. Hadiah bisa berupa pujian yang membangun rasa percaya dirinya. Atau bisa juga dengan barang-barang sederhana yang bagi mereka cukup membahagiakan. Menyenangkan anak tidak harus mahal. Bahkan membangun suasana kebersamaan dengan jalan-jalan atau makan di luar bersama juga bisa.

Untuk hukuman juga bukan serta merta berupa tindakan yang berat. Tapi lebih pada yang sifatnya mendidik agar mereka semakin memahami kaidah yang menjadi ketentuan agama ini. Selain itu juga perlu alasan yang bijak untuk disampaikan kepada anak-anak tentang hukuman yang diberikan agar mereka mengerti. Seperti halnya Luqman Al Hakim berkata: “Jangan menyekutukan Allah, karena itu sebuah kedzaliman yang besar.

® Seperti inilah proses pendidikan anak yang kita harapkan bisa meneruskan perjuangan dakwah ini.

Dosa Menggelisahkan Jiwa

Sendal Pembawa Dosa

📝 Pemateri: Ustadz Solikhin Abu Izzuddin

© Dalam perjalanan ke masjid untuk mengisi pengajian sore ini aku teringat dengan sebuah kisah yang unik. Seorang ulama ahli ibadah seringkali memakai sandal bagus untuk mendukung dia pergi ke masjid dalam rangka bersyukur kepada Allah. Namun sandal tersebut ternyata diambil atau tepatnya dicuri orang yang membutuhkan.

▪Kemudian dia memakai sandal yang biasa agar tidak menarik minat dan selera orang untuk mengambil sandal tersebut. Eh ternyata hilang juga. Akhirnya beliau memutuskan untuk tidak memakai sandal. Orang-orang pun bertanya keheranan,  “Ya Syaikh mengapa Anda tidak mengenakan sandal?”

▪Dengan bijak beliau menjawab, “Aku memang sengaja tidak memakai sandal agar tidak ada orang yang mencuri sandalku sehingga aku tidak membuat mereka melakukan dosa gara-gara mencuri sandalku. Aku tidak ingin menjadi sebab bagi timbulnya dosa bagi orang lain.”

© Sahabatku…
Kisah ini sangatlah sederhana, seorang yang shalih tidak ingin menjadi sebab timbulnya dosa bagi orang lain. Sangat berbeda dengan orang-orang atau seseorang yang menyengaja membuat sebuah sensasi sehingga diomongin atau dikomentari orang lain yang bisa saja yang komen tersebut menjadi berdosa karenanya. Misalnya mancing malem sandal kemudian ramai ramai orang berkomentar. Bisa saja menjadi berdosa bila komentar termasuk ejekan. Dia pemicu komentar juga berdosa. Kita yang asal komentar juga hati-hati karena bisa jadi sedang memproduksi dosa.

▪Caranya gimana?
Orang yang memang tidak punya kapasitas selain sensasi yang menyebabkan dosa bagi orang lain nggak usah diberikan beban dan amanah yang berat apalagi pemimpin sebuah negara. Kasihan kalau dia banyak berdosa.

® Sahabatku
Mari tolonglah dia dengan tidak usah memilih lagi. Satu kali sudah cukup banyak bikin dosa kita dan dia juga,  apalagi kalau sampai dua periode. Terlalu berat.

Wallahu a’lam

 


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Penuhi janjimu

Telah Kujual Diriku Untuk Allah

لَاتَسْأَلُوْنِيْ عَنْ حَيَاتِيْ. فَهِيَ أَسْرَارُ الْحَيَاةِ. هِيَ مِنْحَةٌ هِيَ مِنْحَةٌ. هِيَ عَالَمٌ مِنْ أُمْنِيَاتْ. قَدْ بِعْتُهَا لِلَّهِ ثُمَّ مَضَيْتُ فِيْ رَكِبِ الْهُدَاةِ
​​(Janganlah engkau tanya tentang jalan hidupku. Di jalan ini terdapat rahasia kehidupan. Ia adalah karunia sekaligus ujian. Ia adalah dunia cita-cita. Aku telah menjual hidup ini kepada Allah, kemudian aku berlalu bersama pemberi petunjuk….)​​

▪Sungguh potongan nasyid indah dari para pejuang Ikhwanul Muslimin. Syair ini dibuat kala mereka tersandung oleh banyaknya ujian yang menguji ketegaran jiwa dalam menegakkan kalimat-Nya.® Dakwah nampak dari kejauhan selayaknya gunung yang tegak berdiri serta nampak indah dari kejauhan. Seolah warna membiru oleh biasan langit menambah pesona keindahannya. Banyak manusia yang ingin melihat dari dekat bahkan menempuhi perjalanannya.

▪Tak dinyana, di balik keelokannya banyak jurang yang siap menjerumuskan, jalan pun berkelok dan menanjak yang membuat kita harus kuat dalam menapakinya. Nafas kita pun akan terengah-engah, tubuh juga berpeluh, terkadang udara yang semakin dingin akan menusuk tulang belulang.

® Tak banyak yang sanggup menjalani namun tak sedikit yang memiliki mental pejuang sanggup untuk terus berjalan hingga puncaknya.

▪Selayaknya dakwah. Terpaan ujian yang semakin berat dan kian berat kala perjalan ini mendekati puncak. Fitnah dan mighnah saling beriringan. Dalam keadaan ini para pejuang harus semakin meyakini kebenaran nash Ilahi.

© Jalan dakwah telah membeli kita dan membayar dengan Surga. Jalan dakwah telah meminta bahwasanya setiap helaan nafas akan menghadirkan makna. Dan jalan dakwah mengajarkan kita agar menjadi pribadi yang kian memesona.

▪Selayaknya penjual,  kita seharusnya bergegas memperbaiki keadaan diri, keadaan hati untuk Allah semata. Begitulah pribadi yang akhirnya terbeli untuk tegaknya kalimat suci di muka bumi ini.

® Jangan pernah mudah merasa lelah, karena semua kan berupah. Kalau pun tidak terbayar di dunia, tak apalah karena Allah akan menggantinya dengan Surga.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jujur

RIYADHUS SHALIHIN: Bab  Shiddiq – Jujur Dalam Jihad​

Hadits:

اعن أبي هريرةَ – رضي الله عنه – ، قَالَ :
قَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – :

غَزَا نبيٌّ مِنَ الأنْبِياءِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهمْ فَقَالَ لِقَومهِ : لا يَتْبَعَنِّي رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأةٍ وَهُوَ يُريدُ أنْ يَبْنِي بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا ، وَلا أحَدٌ بَنَى بُيُوتاً لَمْ يَرْفَعْ سُقُوفَهَا ، وَلا أحَدٌ اشْتَرَى غَنَماً أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ يَنْتَظِرُ أَوْلادَها . فَغَزا فَدَنَا مِنَ القَرْيَةِ صَلاةَ العَصْرِ أَوْ قَريباً مِنْ ذلِكَ ،

فَقَالَ لِلشَّمْسِ : إِنَّكِ مَأمُورَةٌ وَأنَا مَأمُورٌ ، اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَيْنَا ، فَحُبِسَتْ حَتَّى فَتَحَ اللهُ عَلَيهِ ، فَجَمَعَ الغَنَائِمَ فَجَاءتْ – يعني النَّارَ – لِتَأكُلَهَا فَلَمْ تَطعَمْها ،

فَقَالَ : إنَّ فِيكُمْ غُلُولاً، فَلْيُبايعْنِي مِنْ كُلِّ قَبيلةٍ رَجُلٌ ، فَلَزِقَتْ يد رجل بِيَدِهِ فَقَالَ : فِيكُمُ الغُلُولُ فلتبايعني قبيلتك ، فلزقت يد رجلين أو ثلاثة بيده ،

فقال : فيكم الغلول ، فَجَاؤُوا بِرَأْس مثل رأس بَقَرَةٍ مِنَ الذَّهَبِ ، فَوَضَعَهَا فَجاءت النَّارُ فَأكَلَتْها . فَلَمْ تَحلَّ الغَنَائِمُ لأحَدٍ قَبْلَنَا ، ثُمَّ أحَلَّ الله لَنَا الغَنَائِمَ لَمَّا رَأَى ضَعْفَنا وَعَجْزَنَا فَأحَلَّهَا لَنَا
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Rasulullah SAW. bersabda:

“Ada seorang Nabi dari golongan beberapa Nabi –Shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim- berperang, kemudian ia berkata kepada kaumnya:

“Jangan mengikuti peperanganku ini seorang lelaki baru nikah – dan berkeinginan  masuk tidur dengan isterinya itu, tetapi masih belum lagi masuk tidur dengannya,

Jangan pula mengikuti peperangan ini seorang yang membangun rumah dan belum lagi mengangkat atapnya – maksudnya belum selesai sampai rampung semuanya

Jangan pula seseorang yang membeli kambing atau unta yang sedang hamil tua yang ia sedang menantikan kelahiran anak-anak ternak yang dibelinya itu.

Nabi itu lalu berperang, kemudian mendekati sesuatu desa pada waktu shalat Ashar atau sudah dekat dengan itu, kemudian ia berkata kepada matahari: “Sesungguhnya engkau – hai matahari – adalah diperintahkan – yakni berjalan mengikuti perintah Tuhan – dan saya pun juga diperintahkan – yakni berperang ini pun mengikuti perintah Tuhan. Ya Allah, tahanlah jalan matahari itu di atas kita.”

Kemudian matahari itu tertahan jalannya sehingga Allah memberikan kemenangan kepada Nabi tersebut. Beliau mengumpulkan banyak harta rampasan. Kemudian datanglah api, untuk makan harta rampasan tadi, tetapi ia tidak suka memakannya. Nabi itu berkata:​ ​“Sesungguhnya di kalangan engkau semua itu ada yang menyembunyikan harta rampasan, maka dari itu hendaklah berbai’at padaku – dengan jalan berjabatan tangan – dari setiap kabilah seseorang lelaki.

Lalu ada seorang lelaki yang lekat tangannya itu dengan tangan Nabi tersebut. Nabi itu lalu berkata lagi: “Nah, sesungguhnya di kalangan kabilah-mu itu ada yang menyembunyikan harta rampasan. Oleh sebab itu hendaklah seluruh orang dari kabilahmu itu memberikan pembai’atan padaku.”

Selanjutnya ada dua atau tiga orang yang tangannya itu lekat dengan tangan Nabi itu, lalu beliau berkata pula: “Di kalanganmu semua itu ada yang menyembunyikan harta rampasan.” Mereka lalu mendatangkan sebuah kepala sebesar kepala lembu yang terbuat dari emas – dan inilah benda yang disembunyikan, lalu diletakkanlah benda tersebut, kemudian datanglah api terus memakannya – semua harta rampasan.

Oleh sebab itu memang tidak halallah harta-harta rampasan itu untuk siapapun ummat sebelum kita, kemudian Allah menghalalkannya untuk kita harta-harta rampasan tersebut, di kala Allah mengetahui betapa kedhaifan serta kelemahan kita semua. Oleh sebab itu lalu Allah menghalalkannya untuk kita.” (Muttafaq ‘alaih).

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO dari Web Manis berikut.

Silahkan menyimak dengan cara klik link dibawah ini:

http://www.manis.id/p/kajian.html?m=1

 

Status Anak dari Zina

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Blh nanya, apakah ayah kandung dr anak hasil zina merupakan mahrom…?
Jazakillahu katsiran. 🙏

Jawaban

Oleh: Ustadzah​ Nurdiana

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Tergantung pada si ibu di nikahi atau tidak oleh ayahnya sebelum 4 bulan?.
Kalau si ibu tidak dinikahi maka anak hasil zina nya bukan mahram.

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka TIDAK dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya… (HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth).

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Tuhan Alam

MAKNA AL-ILAH​

Oleh: Wido Supraha

​Tadabbur Surat Al-Isrā’ [17] ayat 42​

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَىٰ ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا

Katakanlah (Muhammad), “Jika ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagai-mana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ’Arsy.”

📕 Surat Al-Isrā’ [17] ayat 42

♦️ Al-ilah adalah sesuatu yang kita meras tentram, terlindungi, merindui, hingga selalu cenderung kepadanya

♦️ Intensitas kedekat dengan al-Ilah akan membawa seseorang pada kecintaan dan ketundukan sempurna yang mengarah pada penghambaan, pada saat itu tanpa sadar ia telah menyembahnya

♦️ Muncullah kalimat konsep hidup seperti: “Aku tidak bisa hidupmu” atau “Aku rela menyerahkan segalanya untukmu”, konsep-konsep penghambaan yang akan hina jima ditujukan kepada makhluk

♦️ Islam dengan demikian mendorong manusia untuk membersihkan jiwanya dari seluruh Ilah dan penghambaan kepada mereka, kecuali menghadirkan hanya satu Ilah semata, Allah Jalla Jalāluh.

♦️ Lahirlah konsep hidup, “Tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah saja.”

✨ Wallāhu a’lam,


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pandangan Fikih Tentang Biaya Perjalanan Dinas

Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A

Pandangan Fikih Tentang Biaya Perjalanan Dinas

1. Dari aspek akad atau transaksi, dapat dipilah menjadi dua opsi.

a. Jika yang dimaksud adalah sewa (ijarah) atau fee yang didapatkan oleh pegawai tersebut atas jasa melakukan pekerjaan atau menyelesaikan pekerjaan tertentu berbasis harian, biaya tersebut harus berbasis harian. Oleh karena itu, jika dipersingkat, biaya sah yang diambil adalah sejumlah hari yang riil ditunaikan. Sementara itu, sisanya dikembalikan kepada pemerintah atau kantor kecuali jika pemerintah atau kantor merelakannya.

b. Jika transaksi yang disepakati adalah sewa atas progres. Maksudnya biaya dinas yang dikeluarkan bukan berbasis harian, tetapi berbasis progres. Jika waktu yang ditentukan tiga hari, tetapi output-nya sudah bisa selesai dalam dua hari, biaya tersebut sudah sah diterima dan halal dimanfaatkan pegawai. Jenis kontrak ini dinamakan ju’alah karena fee atau reward diberikan kepada pegawai adalah atas jasanya berbasis progres, bukan berbasis harian. Jika ini yang diberlakukan, biaya yang didapatkan pegawai atas progres yang dihasilkan walaupun waktunya dipersingkat itu diperkenankan atau halal.

▪Akad ijarah, yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri; akad ijarah juga berlaku untuk memperoleh jasa pihak lain guna melakukan pekerjaan tertentu dengan pembayaran upah (ujrah/fee).

▪Ju’alah adalah janji atau komitmen (iltizam) untuk memberikan imbalan (reward/’iwadh//ju’l) tertentu atas pencapaian hasil (natijah) yang ditentukan dari suatu pekerjaan.

2. Berdasarkan teori akad di atas, perlu diperjelas kontrak yang biasa ditandatangani, apakah berbasis harian atau progres. Jika berbasis harian dan sulit ditunaikan, sebaiknya jenis kontrak yang disepakati bukan berbasis harian, tetapi berbasis progres. Sebaiknya diarahkan agar dari awal transaksi yang disepakati berbasis progres atau hasil dari pekerjaan agar fee yang didapatkan halal dan legal.

Sebagaimana firman Allah,

قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ
Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya” (Q.S. Yusuf : 72)3. Sebagai muslim dan da’iyah, kita sebaiknya memberikan teladan dan mendorong pemangku kebijakan agar kegiatan tersebut menuntaskan pekerjaan dan hasilnya sehingga meskipun harinya dipersingkat, hasil atau outputnya dapat direalisasikan sebagaimana yang disepakati.

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678