Allahu Robbul Alamin

Tidak Mendahulukan Makhluk dari Sang Khalik

Pemateri: Ust. DR. Wido Suparaha

Materi ini membahas satu tema penting bahwa di antara konsekuensi logis syahadatain, seorang mukmin TIDAK BOLEH MENDAHULUKAN ย  makhluk daripada Sang Khalik.

Mendahulukan Allah atas segala urusan kita adalah bagian dari adab yang tidak boleh terlepas. Kalaupun ada ketaatan kepada makhluk, maka ketaatan itu harus dalam rangka ketaatan kepada Allah, sehingga tidak boleh bertentangan dengan ketaatan kepada Allah.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Hujurat/49 ayat 1,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ayat yang mulia ini mengawali surat Al-Hujurat, surat yang diturunkan di Kota Madinah, dan berisi 18 ayat.

Rangkaian 5 ayat pertama surat ini sesungguhnya berisi taujih rabbani terkait tata cara bergaul dan berhubungan dengan Rasulullah Saw saat beliau masih hidup. Namun ayat pertama ini menjadi jauh lebih penting, karena memuat kandungan aqidah yang sudah menjadi kewajiban umat Islam untuk menjaganya.

๐Ÿ“—Ibnu Katsir mengutip pendapat Ali bin Abi Thalhah yang meriwayat kan dari Ibnu โ€˜Abbas r.a., bahwa maksud ayat (ู„ุง ุชู‚ุฏู…ูˆุง ุจูŠู† ูŠุฏูŠ ุงู„ู„ู‘ู‡ ูˆ ุฑุณูˆู„ู‡) adalah, โ€œJanganlah kalian mengucapkan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qurโ€™an dan Al-Hadits.โ€

Mujahid juga menafsirkan, โ€œJanganlah kalian mendahului Rasulullah Saw dalam sesuatu (hal), sehingga Allah Swt. menetapkannya melalui lisan beliau.โ€

Adh-Dhahhak mengatakan jangan memutuskan suatu perkara tanpa mengikuti petunjuk Allah dan Rasulnya dari seluruh syariโ€™at-syariโ€™at dalam agama Islam,

Sufyan ats-Tsauri mengingatkan untuk tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.[1]

Imam Jalaluddin mengatakan bahwa kalimat (ู„ุง ุชู‚ุฏู‘ู…) berasal dari kata kerja (ู‚ุฏู‘ู…) yang berarti (ุชู‚ุฏู‘ู…) yang maksudnya, โ€˜janganlah kalian mendahului dengan perbuatan maupun perkataanโ€™.[2]

Sementara Imam Syafiโ€™i mengatakan bahwa kata (ุชู‚ุฏู‘ู…) ,(ู‚ุฏู‘ู…) dan (ุงุณุชู‚ุฏุงู…) memiliki makna yang satu. [3]

Ibn Hajar al-Atsqalani mengutip pendapat Ath-Thabari yang meriwayatkan dari Saโ€™id, dari Qatadah, โ€œDisebutkan kepada kami bahwa sebagian orang berkata, โ€˜Sekiranya diturunkan tentang iniโ€™, maka Allah pun menurunkan ayat itu.โ€

Imam Ath-Thabari juga berkata, โ€œAl-Hasan berkata, โ€˜Mereka adalah sebagian kaum muslimin.
Mereka menyembelih (kurban) sebelum shalat, maka Nabi Saw memerintahkan mereka menyembelih kembali.โ€[4]

Ketika cara kita dalam melihat Surat Al-Hujurat ini ditingkatkan lebih global lagi, maka akan kita dapati adanya fokus bahasan tentang adab Mukmin kepada Nabi Saw, sebagai rangkaian utuh yang telah dimulai sejak Surat Muhammad.

Surat Muhammad menjelaskan bahwa mengikuti Nabi Saw. adalah bukti diterimanya amal.

Surat Al-Fath menjelaskan sifat-sifat orang yang mendapatkan kemenangan.

Sedangkan Surat ini, Surat Al-Hujurat, memberikan pesan, โ€œWahai orang yang akan mendapatkan kemenangan, hiasilah diri dengan adab-adab sosial, terutama adab kepada Nabi Saw.โ€

Seakan-akan beberapa sifat yang disebutkan di akhir Surat Al-Fath, pengorbanan dan kesungguhan, serta keseimbangan antara ibadah dan keberhasilan dalam kehidupan, masih membutuhkan penyempurnaan.

Adapun penyempurnaan nya adalah sifat-sifat yang terkait dengan moral dan adab yang disebutkan dalam Surat Al-Hujurat. Maka ayat pertama dari Surat Al-Hujurat ini berkata kepada para sahabat Nabi Saw., โ€ Janganlah kalian tergesa-gesa meminta turunnya wahyu, beradablah terhadap syariat, terhadap Allah dan Rasul-Nya.โ€

Sementara penerapan ayat ini dalam kehidupan kita adalah dengan tunduk pada syariat Allah Swt., dan sunnah Nabi-Nya, tanpa melakukan pelanggaran terhadap keduanya.[5]

Ayat tersebut diakhiri dengan perintah agar bertakwa kepada Allah Swt., sebagai pertanda bahwa jika seorang mukmin meninggalkan adab yang telah dibahas di atas, maka tidak sempurnalah keimanannya.
Dalam makna berkebalikan dapat disebutkan bahwa seorang yang bertakwa pastilah pandai dalam menjaga adab terhadap Allah dan Rasul-Nya, sebagai adab yang harus diprioritaskan dan ditempatkan pada tempat yang paling tinggi.

Esensi dari ayat ini sesungguhnya adalah agar mukmin sentiasa menjaga ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan berhukum dengan hukum yang telah ditetapkan untuknya.

Maka dalam banyak ayat Al-Qurโ€™an, esensi yang sama semakin dikuatkan dengan ragam redaksi, untuk terus mengingatkan sifat kemanusiaan yang terkadang mudah tersimpangkan karena faktor-faktor yang dapat menyimpangkannya.

Firman Allah Swt. dalam Surat An-Nisa/4 ayat 60-61,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ?
Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Apabila dikatakan kepada mereka :
โ€œMarilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasulโ€, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”

Firman Allah Swt. dalam Surat Al-Anfal/8 ayat 24,

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”

Firman Allah Swt. dalam Surat An-Nur/24 ayat 51-52,

“Sesungguhnya jawaban oran-orang muโ€™min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka [1046] ialah ucapan. โ€œKami mendengar, dan kami patuhโ€.

Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.”

Firman Allah Swt. dalam Surat Al-Ahzab/33 ayat 36,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang muโ€™min dan tidak (pula) bagi perempuan yang muโ€™min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.

Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Marajiโ€™

1] Muhammad Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, hlm. 357. Menurut Ibn Hajar dalam Fathul Bari, pendapat Mujahid dinukil oleh Abd bin Humaid melalui sanad yang maushul dari Ibn Abi Najih, dari Mujahid. Ibn Hajar meriwayatkan dalam kitab Dzammul Kalam dari jalur ini.

2] Jalaluddin Muhammad al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Tafsir Jalalain, Jilid 3, Surabaya: Pustaka eLBA, Tanpa Tahun, hlm. 470.

3] Asy-Syafiโ€™i, Tafsir Al-Imam Asy-Syafiโ€™i, Saudi Arabia: Dar at-Tadmiriyyah, 2006, hlm. Maktabah Syamilah.

4] Ibn Hajar al-Atsqalani, Fathul Bari Jilid 24, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008, hlm. 97.

5] Amru Khalid, Khowathir Qurโ€™aniyyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qurโ€™an, Jakarta: Al-Iโ€™tishom, Cetakan ke-3, 2012, hlm. 621.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Urgensi Dua Kalimat Syahadat (Bag. 2 – Habis)

Pemateri: Ust. DR. Wido Suparaha

Materi sebelumnya bisa dibuka di link berikut:

3. Konsep Dasar Reformasi Total atau Gerakan Perubahan

Generasi terbaik agama ini telah mencontohkan, bagaimana begitu mereka menerima syahadatain sebagai dua persaksian penting dalam hidup mereka, mereka LANGSUNG melakukan perubahan tanpa menunggu waktu lama.

Sebuah perubahan yang sangat drastis.

Cukuplah sosok Mushโ€™ab bin โ€˜Umari menjadi contoh dari begitu banyak contoh terbaik.

Sosok yang awalnya merupakan pemuda dengan gaya hidup mewah di kota Makkah, langsung berubah menjadi daโ€™i nan sederhana, duta Rasul untuk kota Madinah, sehingga tatkala syahid menjemputnya saat perang Uhud, dibacakan ayat berikut ini kepadanya dari Surat Al-Ahzab/33 ayat 23,

“Di antara orang-orang muโ€™min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.

Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”

Orang-orang yang tadinya mati hatinya tiba-tiba mendapatkan cahaya setelah menerima syahadatain, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Anโ€™am/6 ayat 122

“Dan apakah orang yang sudah mati ย kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?

Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Ar-Raโ€™d/13 ayat 11,

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa

malaikat yang mencatat amalan-amalannya.

Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat ‘Hafazhah’.

Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.”

4. Hakikat Daโ€™wah Para Rasul

Tauhid merupakan misi dakwah para Rasul.

Agama para Nabi adalah satu, yaitu TAUHID, sedangkan syariat bisa berbeda-beda.

Seluruh bentuk ibadah tidak diterima tanpa tauhid. Tauhid menjadi pangkal keselamatan di dunia, karena dengannya seseorang menjadi Muslim dan kemudian darah dan hartanya terlindungi.

Tauhid juga tentu menjadi pangkal keselamatan di akhirat.[12]

Sesungguhnya dakwah para Rasul adalah kepada syahadatain ini. Dengan hakikat ini, seorang Muslim akan memahami Islam sebagai pedoman hidup menyeluruh, baik untuk urusan kecil maupun besar hanya kepada Allah dan Rasulnya.

Jika demikian, maka pemahaman lengkap kita akan agama ini MENJADIKAN Islam sebagai:
– agama dan kedaulatan,
– akidan dan syariโ€™ah,
– sistem moral dan kepemimpinan,
– jihad dan ibadah,
– dunia dan akhirat, dengan segala yang terkandung di dalam Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. [13]

Dengan motivasi yang benar dari syahadatain, seseorang akan mulai menghadirkan aktifitas-aktifitas kebaikan
– diawali memperbaiki diri sendiri,
– kemudian membentuk rumah tangga Muslim, dan
– dilanjutkan membimbing masyarakat.

Dari tiga aktifitas mendasar tersebut, maka mulailah para peyakin syahadatain meningkatkan aktifitas mereka hingga
– membebaskan tanah air dari kekuatan asing,
– memperbaiki pemerintah an,
– mewujudkan kesatuan umat Islam,
– sampai pada puncaknya memimpin dunia dengan dakwah Islamiyah ke seluruh pelosok dunia. [14]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Ali โ€˜Imran/3 ayat 31,

“Katakanlah: โ€œJika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.โ€
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Anโ€™am/6 ayat 19,

“Katakanlah:
โ€œSiapakah yang lebih kuat persaksiannya?โ€

Katakanlah: โ€œAllahโ€. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quraan ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quraan (kepadanya).

Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?โ€ Katakanlah: โ€œAku tidak mengakui.โ€

Katakanlah: โ€œSesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)โ€.

Allah Swt. berfirman dalam Surat An-Nahl/16 ayat 36,

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):

โ€œSembahlah Allah (saja),
dan jauhilah Thaghut [826] ituโ€, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya [827].

Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

5. Keutamaan yang Besar

Kalimat ini selain melahir kan konsekuensi logis, juga memberikan balasan terbaik bagi para peyakinnya khususnya di akhirat kelak.

Namun adalah sesuatu yang sulit untuk meraihnya jika kalimat ini belum menyatu dalam sanubari dan keseharian kita, dan terpatri kuat dalam alam bawah sadar manusia.

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุขุฎูุฑู ูƒูŽู„ูŽุงู…ูู‡ู ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ

Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah โ€˜lailaha illallahโ€™, maka dia akan masuk surgaโ€ (HR. Abu Daud)

ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ุงูŽ ุดูŽุฑููŠูƒูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนููŠุณูŽู‰ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุฃูŽู…ูŽุชูู‡ู ูˆูŽูƒูŽู„ูู…ูŽุชูู‡ู ุฃูŽู„ู’ู‚ูŽุงู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽุฑู’ูŠูŽู…ูŽ ูˆูŽุฑููˆุญูŒ ู…ูู†ู’ู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŒ ุฃูŽุฏู’ุฎูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‰ู‘ู ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ุซู‘ูŽู…ูŽุงู†ููŠูŽุฉู ุดูŽุงุกูŽ

โ€Barangsiapa mengucap kan โ€™saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa โ€™Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.โ€ (HR. Muslim no. 149)

***

Marajiโ€™

1] Abdullah Azzam, Aqidah, Landasan Pokok Membina Ummat, Jakarta: GIP, Cetakan ke-6, 1995, hlm. 19.

2] Muhammad Saโ€™id Salim al-Qaththany, Al-Walaโ€™ wa al-Baraโ€™, Jakarta: Ramadhani, Cetakan ke-4, 1994, hlm. 6.

3] Muhammad at-Tamimi, Mengungkap Kebatilan Penentang Tauhid, Jakarta: Darul Haq, 1997, hlm. 10.

4] Muhammad Saโ€™id Salim al-Qaththany, Al-Walaโ€™ wa al-Baraโ€™, hlm. 23.

5] Abu Zaid al-Aโ€™jami, Akidah Islam Menurut Empat Madzhab, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cetakan ke-2, 2014, hlm. 71.

6] Saโ€™id Hawwa, Allah Subhanahu wa Taโ€™ala, Jakarta: GIP, Cetakan ke-3, 2005, hlm. 226.

7] Taufiq Yusuf al-Waโ€™iy, Fiqih Dakwah Ilallah, Jakarta: Al-Iโ€™tishom, Cetakan ke-2, 2012, hlm. 21.

8] Abdurrahman Abdul Khaliq, Dasar-dasar Dakwah Generasi Islam Pertama, Jakarta: Pustaka Al-Hidayah, Cetakan ke-2, 1993, hlm. 19.

9] Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Jilid 1, Bogor: Pustaka Imam Syafiโ€™i, 2004, hlm. 291.

10] Jalaluddin Muhammad al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, Jilid 1, Surabaya: Elba, 2010, hlm. 664.

11] Ridhwan Muhammad Ridhwan, 20 Taushiyah Hasan Al-Banna, Jakarta: Al-Farda, 2004, hlm. 157.

12] Shalah Shawi, Ats-Tsawabit Wal Mutaghayyirat, Prinsip-prinsip Gerakan Dakwah Yang Mutlak dan Fleksibel, Jakarta: Era Intermedia, 2011, hlm. 154.

13] Jumโ€™ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah, Jakarta: Intermedia, Cetakan ke-2, 1998, hlm. 56.

14] Saโ€™id Hawwa, Membina Angkata Mujahid, Jilid 1, Jakarta: Al-Ishlahy Press, Tanpa Tahun, hlm. 61.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Romantis Tahajud Bersama

SUASANA ROMANTIS DALAM KELUARGA RASULULLAH SAW

Pemateri: Ustadzah. Dra. Indra Asih

Suasana harmonis sangat ditentukan dengan kerja sama yang bagus antara suami istri dalam menciptakan suasana yang kondusif dan hangat, tidak membosankan, apalagi menjemukan.

Rasulullah adalah sosok manusia yang paling sempurna akhlaknya di antara makhluk ciptaan Allah. Beliau merupakan sosok teladan terbaik dalam membina keluarga, sehingga patut dijadikan contoh bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu โ€˜anha, Rasulullah shallallรขhu โ€˜alaihi wa sallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, tidak pada perempuan, tidak juga pada pembantu, kecuali perang di jalan Allah.

Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga ketika diperlakukan sahabatnya secara buruk tidak pernah membalas, kecuali kalau ada pelanggaran atas kehormatan Allah, maka ia akan membalas atas nama Allah.

(HR Muslim).

Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam adalah manusia yang paling sibuk. Beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pemimpin pemerintahan negara, memimpin ribuan tentara, menghabiskan waktunya untuk agama, tetapi beliau tetap meluangkan waktu bersama istri dan keluarga, sesuai sabdanya:

โ€œOrang terbaik di antara kalian (suami) adalah yang terbaik bagi keluarganya dan akulah di antara kalian yang paling baik terhadap keluargaku, tidak memuliakan wanita kecuali orang yang hina,โ€

(HR Ibnu Asakir dari Ali bin Abi Thalib).

Gambaran bagaimana suasana romantis beliau bersama istrinya nampak pada:

1. Panggilan Kesayangan

Suasana mesra dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ialah ia memanggil โ€˜Aisyah radhiyallahu โ€˜anha dengan panggilan kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat perasaan โ€˜Asiyah menjadi ย sangat bahagia.

โ€˜Aisyah radhiyallahu โ€˜anha bercerita sebagai berikut, pada suatu hari Rasรปlullรขh berkata kepadanya.

ูŠูŽุง ุนูŽุงุฆูุดู, ู‡ูŽุฐูŽุง ุฌูุจู’ุฑููŠู’ู„ู ูŠูู‚ู’ุฑูุฆููƒู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ูŽ

โ€œWahai โ€˜Aisy Malaikat Jibril tadi menyampaikan salam buatmu.โ€

(HR Muttafaqun โ€˜alaihi).

Kita masih sering mendengar suami yang memanggil istrinya seenaknya saja. Bahkan ada yang memanggil istrinya dengan cacat dan kekurangannya.

Kalau begitu sikap suami, mungkinkah keharmonisan dapat tercipta?

Mungkinkah akan tumbuh rasa cinta istri kepada suami?

2. ย Mandi Bersama

Suami-istri diperbolehkan mandi bersama dalam satu ruangan meski masing-masing saling melihat aurat pasangannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu โ€˜anha, ia berkata;

ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ู’ ุฅูู†ูŽุงุกู ูˆูŽุงุญูุฏู

Aku biasa mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dari satu bejana. (HR Bukhari).

Dalam redaksi yang lain disebutkan Aisyah radhiyallahu โ€˜anha berkata:

โ€œAku pernah mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dari satu wadah yang terletak di antara aku dan beliau.

Tangan kami berebutan menciduk air yang ada di dalamnya. Beliau menang dalam perebutan itu, sampai aku katakan, โ€œSisakan untuk sayaโ€ฆSisakan untuk sayaโ€ฆ!

Kami dalam keadaan junub.โ€ (HR Bukhari Muslim)

3. ย  Makan dan Minum dalam Satu Tempat

โ€˜Aisyah radhiallahu โ€˜anha menuturkan:

ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุดู’ุฑูŽุจู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุญูŽุงุฆูุถู, ููŽุฃูู†ูŽุงูˆูู„ูู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠูŽ ููŽูŠูŽุถูŽุนู ููŽุงู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽูˆู’ุถูุนู ูููŠู‘ ูˆูŽ ุฃูŽุชูŽุนูŽุฑู‘ูŽู‚ู ุงู„ุนูŽุฑูŽู‚ูŽ ููŽูŠูŽุชูŽู†ูŽุงูˆูŽู„ูู‡ู ูˆูŽ ูŠูŽุถูŽุนู ููŽุงู‡ู ูููŠ ู…ูŽูˆู’ุถูุนู ูููŠู‘

โ€œSuatu ketika aku minum, ketika itu aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.โ€ (HR Muslim)

Begitulah kemesraan dapat tercipta, yaitu menciptakan rasa saling memiliki. Sepiring berdua, segelas berdua, makan berjamaโ€™ah serta beberapa hal lain yang dianjurkan oleh Rasulullah agar dilakukan bersama oleh suami istri!

Dengan demikian akan tercipta rasa saling memahami satu sama lain.

4. ย  Mencium Kening Istri

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw tidak malu untuk bermesraan walaupun hanya sekedar mencium istri sebelum keluar rumah.

Diriwayatkan oleh โ€˜Aisyah radhiallahu โ€˜anha bahwa ia berkata:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠูŽ ู‚ูŽุจู‘ูŽู„ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ู†ูุณูŽุงุฆูู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃู’

“Sungguh Rasulullah pernah mencium salah seorang istri beliau baru kemudian berangkat menunaikan shalat tanpa memperbaharuhi wudhuโ€

(HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Budaya mencium istri agaknya masih asing di tengah masyarakat kita, khususnya masyarakat timur. Bahkan masih banyak yang menggapnya tabu, mereka mengklaimnya sebagai budaya barat.

Tentu saja mencium istri yang kita maksud di sini bukanlah mencium istri di depan umum atau di hadapan orang banyak. Sebenarnya banyak sekali hikmah sering-sering mencium istri.

Sering kita lihat sepasang suami istri yang saling cuek. Kadang kala si suami pergi tanpa diketahui oleh istrinya kemana suaminya pergi. Buru-buru melepasnya dengan ciuman, menanyakan kemana perginya saja tidak sempat. Sang suami keburu pergi menghilang, kadang kala tanpa pamit dan tanpa salam!? Coba lihat bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bergaul dengan istri-istri beliau. Sampai-sampai Rasulullah menyempatkan mencium istri beliau sebelum berangkat ke masjid.

5. ย Beribadah Bersama

โ€œDan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezqi kepadamu, kamilah yang memberi rezqi kepadamu dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.โ€ (QS Thaha [20]: 132).

Dalam kesempatan lain, โ€˜Aisyah radhiyallahu โ€˜anha menceritakan:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฑูŽุงู‚ูุฏูŽุฉูŒ ู…ูุนู’ุชูŽุฑูุถูŽุฉูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ููุฑูŽุงุดูู‡ู, ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠููˆุชูุฑูŽ ุฃูŽูŠู’ู‚ูŽุธูŽู†ููŠ

โ€œRasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat malam sementara aku tidur melintang di hadapan beliau. Beliau akan membangunkanku bila hendak mengerjakan shalat witir.โ€ (HR Muttafaqun โ€˜alaihi)

Abu Hurairah radhiyallรขhu โ€˜anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

ุฑูŽุญูู…ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ู‚ูŽุงู…ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ูˆูŽุฃูŽูŠู’ู‚ูŽุธูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูŽู‡ู ููŽุตูŽู„ู‘ูŽุชู’ ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุจูŽุชู’ ู†ูŽุถูŽุญูŽ ูููŠ ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ูŽุง ุงู„ู…ูŽุงุกูŽ,ุฑูŽุญูู…ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ู‚ูŽุงู…ูŽุชู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ููŽุตูŽู„ู‘ูŽุชู’ ูˆูŽุฃูŽูŠู’ู‚ูŽุธูŽุชู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽู‡ูŽุง ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุจูŽู‰ ู†ูŽุถูŽุญูŽุชู’ ูููŠ ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ู ุงู„ู…ูŽุงุกูŽ

โ€œSemoga Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan istrinya untuk shalat bersama. Bila si istri enggan, ia memercikkan air ke wajah istrinya (supaya bangun). Semoga Allah Subhanahu wa Taโ€™ala merahmati seorang istri yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan suaminya untuk shalat bersama. Bila si suami enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya (supaya bangun)”

(HR Ahmad).

6. Ramah dan Lembut

Masing-masing pihak suami istri harus bertekad untuk bersikap ramah dan lembut kepada pasangannya, bersenda gurau dengannya, dan bercanda dengannya.

Umar bin Khaththab radhiyallahu โ€˜anhu, meskipun mempunyai sifat keras dan tegas, mengatakan: โ€œSudah selayaknya seorang laki-laki menjadi seperti anak kecil di tengah keluarganya. Bila dia di tengah kaumnya, maka hendaknya dia menjadi seorang laki-laki.โ€

Aisyah radhiyallรขhu โ€˜anha menceritakan, โ€œAdalah Rasulullah ketika bersama istri-istrinya, beliau adalah manusia lembut dan paling pemurah. Gampang tertawa dan gampang tersenyum.โ€ (HR Ibnu Asakir)

Berlaku lemah lembutlah dalam menjalankan kehidupan supaya keharmonisan dapat tercapai dalam lingkungan keluarga, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

โ€œJanganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (istri). Jika ia tidak menyukai salah satu akhlaknya, ia pasti ridha kepada akhlaknya yang lain.โ€
(HR Muslim)

Sikap ramah dan lembut Rasulullah ditunjukkan kepada keluarganya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersenda gurau dengan istri dan anak-anaknya, menghibur, dan mema’afkan kesalahan mereka, menyebar senyum bahagia serta mengisi rumah mereka dengan hal-hal yang menyenangkan.

Suatu ketika Anas bin Malik, pembantu beliau melukiskan keadaan keadaan beliau dengan mengatakan, โ€œAku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Selama itu belum pernah beliau menegur atas apa yang aku lakukan, โ€œMengapa kamu tidak melakukan ini?โ€ Beliau juga beliau belum pernah mengatakan kepadaku sesuatu yang belum aku kerjakan, โ€œMengapa kamu belum melakukan ini?โ€

Kasih sayang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menembus hati orang-orang terdekat yang pernah berinteraksi dengan beliau, sehingga setiap jiwa selalu merindukannya.

Oleh karena itu, berlemah lembutlah pada keluarga supaya kehangatan dan kemesraan keluarga dapat tercapai sebagaimana keluarga Rasulullsh shallallahu alaihi wa sallam.

7. ย Memberi Hadiah

Saling memberi hadiah diantara suami istri โ€“terutama hadiah dari suami untuk istri- merupakan salah sebab makin mendalamnya rasa cinta di antara keduanya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, โ€œHendaknya kalian sering memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.โ€ (HR Bukhari)

Hadiah merupakan ekspresi kasih sayang dan mampu mencairkan kebekuan dan rutinitas hubungan manusia.

Hadiah tidak disyaratkan berupa barang-barang kepemilikan yang mahal lagi mewah karena tujuan dari hadiah pada awalnya adalah mengekspresikan kasih sayang dan kesatuan. Hal ini dapat diwujudkan dalam materi hadiah dengan nilai seberapa pun. Tapi jika hadiah tersebut berupa sesuatu yang mahal, maka itu akan menyebabkan kebahagiaan berlipat ganda dan kasih sayang makin bertambah.

8. ย Memahami Kecemburuan Istri

Rasa cemburu dianggap sebagai watak dasar para wanita, tidak ada wanita yang selamat dari watak ini, bahkan para Ummahat al-Mukminin yang merupakan istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Aisyah selalu mencemburui Khadijah radhiyallahu โ€˜anha walaupun ia tidak pernah bertemu dengan Khadijah.

Aisyah mengingkari pujian dan sanjungan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Khadijah dengan mengatakan,

โ€œAllah telah memberikan ganti yang lebih baik darinya.โ€ (Ini ucapan Aisyah radhiyallahu โ€˜anha. HR Bukhari dan Muslim)

Kecemburan yang baik memengaruhi hubungan mesra suami istri dengan syarat tidak berlebihan dalam cemburu, namun proporsional dan penuh pertimbangan.

Dengan demikian, cemburu menjadi indikator rasa cinta pasangan kepada pasangannya, disinilah cemburu itu akan nampak indah. Untuk itu suami harus bersikap proporsional dalam masalah ini, dan tidak boleh berburuk sangka, dan mencari-cari kesalahan.

Aisyah radhiyallahu โ€˜anha pernah cemburu pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ia menceritakan sendiri bahwa pada suatu malam Rasulullah pergi dari sisinya. Ia berkata,

โ€œAku mencemburuinya karena jangan-jangan beliau mendatangi salah satu istrinya. Lalu datanglah beliau dan melihat keadaanku.

Rasulullah bersabda, โ€œApakah engkau cemburu?โ€

Jawabku, โ€œApakah orang sepertiku tidak pantas untuk cemburu terhadap orang sepertimu?โ€

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, โ€œSungguh setanmu telah datangโ€. (HR Muslim dan Nasaโ€™i)

Aisyah radhiyallรขhu โ€˜anha juga pernah berkata, โ€œAku tidak melihat yang pandai memasak seperti Shafiyah. Ia memasak makanan untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau ada dirumahku.

Timbullah rasa cemburuku, aku merebut piring yang berisi makanan tersebut dan membantingnya sampai pecah. Tetapi aku menyesal, lalu berkata, โ€œYa Rasulullah, apa kifarat bagi perbuatan yang telah aku lakukan?โ€

Nabi shallallรขhu alaihi wa sallam menjawab, โ€œGantilah piring itu dengan piring yang serupa, demikian pula makanannya.โ€

(HR Abu Dawud dan Nasaโ€™i)

9. ย Mengajak Istri Bermusyawarah

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka.

Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya.

Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak kepemimpinan keluarga, berada di tangan laki-laki.

Allah Azza wa Jalla ย berfirman: โ€œDan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang maโ€™ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.โ€ (QS al Baqarah [2]: 228)

Pendapat dari Ummu Salamah radhiyallahu โ€˜anha pada peristiwa Hudaibiyah, membawa berkah dan keselamatan bagi umat Islam. Ummu Salamah memberi masukan kepada Nabi agar keluar menemui para sahabat tanpa berbicara dengan siapa pun, langsung menyembelih hadyu atau seekor domba dan mencukur rambutnya. Ketika beliau melaksanakan hal itu, para sahabat dengan serta-merta menjalankan perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, padahal sebelumnya mereka tidak mau melaksanakan perintah Rasul, karena mereka merasa pada pihak yang kalah pada peristiwa itu. Mereka melihat bahwa syarat yang diajukan kaum kafir Quraisy tidak menguntungkan kaum muslimin.

10. Bercanda dengan Istri

Bercanda dengan istri akan memupuk rasa kasih sayang terhadap istri dan keluarga, disamping itu juga bercanda akan melepaskan rasa penat ketika selesai bekerja di luar rumah.

Dengan bercanda kita akan sangat mudah tersenyum dan ketawa. Namun tidaklah ketawa berlebihan karena hal itu akan membawa mudharat.

Canda Rasulullah bersama istri dan keluarganya dilakukan saat sedang melakukan perjalanan dan saat sedang berada di rumahnya.

Aisyah radhiyallahu โ€˜anha meriwayatkan, bahwa pernah ia bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Maka aku mengajak Beliau lomba lari dan aku berhasil mendahului beliau dengan kedua kakiku. Ketika aku menjadi gemuk, aku mengajak Beliau lomba lari lagi. Akhirnya Beliau berhasil mengalahkan aku dan bersabda, โ€œIni sebagai balasan atas perlombaan yang dulu itu.”
(HR Abu Dawud)

Masya Allah…

Indahnya suasana rumah teladan kita Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Semoga kita bisa membangun kemesraan dan romantisme di dalam rumah kita, hingga keluarga yang harmonis bukan hanya potret dan mimpi.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Stop Ghibah

Antara Ghibah dan Dusta

Pemateri: Ust. Rikza Maulan Lc. MAg.

FENOMENA GHIBAH DAN DUSTA

Ghibah dan Dusta merupakan dua hal, yang hampir-hampir menjadi fenomena dalam lingkup kehidupan manusia. Seringkali, dimanapun manusia berkumpul dan berbicara, tidak luput dari dua hal ini, atau minimal dengan salah satunya.

Jika kita perhatikan di kantor, di pasar, di rumah, di kantin atau di manapun juga, baik laki-laki maupun perempuan, senantiasa minimal ghibah (baca; membicarakan orang lain) menjadi tema sentral pembicaraan mereka.

Padahal, Allah SWT memerintahkan kepada setiap insan untuk berkomunikasi ย dan berbicara dengan baik. Dalam salah satu ayatnya Allah berfirman:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽู‚ููˆู„ููˆุง ู‚ูŽูˆู’ู„ุงู‹ ุณูŽุฏููŠุฏู‹ุง* ย ูŠูุตู’ู„ูุญู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฐูู†ููˆุจูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุทูุนู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู
ููŽู‚ูŽุฏู’ ููŽุงุฒูŽ ููŽูˆู’ุฒู‹ุง ุนูŽุธููŠู…ู‹ุง*

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (baik), niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Ayat di atas menggambar kan kepada kita, adanya korelasi yang kuat antara keimanan (baca; ketakwaan) dengan perkataan yang baik.

Seseorang yang memiliki keimanan yang baik, insya Allah secara otomatis akan berkomunikasi dan bertutur kata yang baik.

Sementara ghibah apalagi dusta termasuk dalam kategori perkataan yang tidak baik. Bahkan dusta masuk dalam kategori dosa-dosa besar.

ANTARA GHIBAH DAN DUSTA

Dari segi bahasa, ghibah berasal dari kata bahasa Arab โ€˜Ghabaโ€™, yang berarti ghaib (baca; tidak tampak), atau tidak terlihat:

ุงู„ุบูŠุจุฉ ู„ุบุฉ ู…ุดุชู‚ ู…ู† ูุนู„ ุบุงุจ ุฃูˆ ุงู„ุบูŠุจุŒ ูˆู‡ูˆ ูƒู„ ู…ุง ุบุงุจ ุนู† ุงู„ุฅู†ุณุงู†

Oleh karena itulah, dari segi bahasa, ghibah berarti membicarakan orang lain yang ghaib (baca; yang tidak hadir) diantara orang yang sedang membicarakannya.
Baik pembicaraan tersebut mengenai hal-hal yang positif darinya, ataupun yang bersifat negatif.

Adapun dari segi istilah, GHIBAH adalah pembicaraan yang dilakukan seorang muslim mengenai saudaranya sesama muslim lainnya dalam hal-hal yang bersifat keburukan dan kejelekannya, atau hal-hal yang tidak disukainya.

Sedangkan DUSTA, adalah kita membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri seseorang yang sesungguhnya sesuatu itu tidak terdapat dalam diri saudara kita tersebut.

Sehingga dari sini, perbedaan antara ghibah dengan dusta terletak pada obyek pembicaraan yang kita lakukan. Dalam ghibah, yang kita bicarakan itu memang benar-benar ada dan melekat pada diri orang yang menjadi obyek pembicaraan kita. Sedangkan dalam dusta, sesuatu yang kita bicarakan tersebut, ternyata tidak terdapat pada diri seseorang yang kita bicarakan.

Hal ini secara jelas pernah digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุชูŽุฏู’ุฑููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุงู„ู’ุบููŠุจูŽุฉู ู‚ูŽุงู„ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฐููƒู’ุฑููƒูŽ ุฃูŽุฎูŽุงูƒูŽ ุจูู…ูŽุง ูŠูŽูƒู’ุฑูŽู‡ู ู‚ููŠู„ูŽ ุฃูŽููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุฃูŽุฎููŠ ู…ูŽุง ุฃูŽู‚ููˆู„ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽู‚ููˆู„ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุงุบู’ุชูŽุจู’ุชูŽู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ูููŠู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุจูŽู‡ูŽุชู‘ูŽู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, โ€˜Tahukah kalian, apakah itu ghibah?
Para sahabat menjawab, โ€˜Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.โ€™

Rasulullah SAW bersabda, โ€˜engkau membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai.

Salah seorang sahabat bertanya, โ€˜Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapatmu jika yang aku bicarakan benar-benar ada pada diri saudaraku?

Rasulullah SAW menjawab, jika yang kau bicarakan ada pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mengghibahinya. Sedangkan jika yang engkau bicarakan tidak terdapat pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mendustakannya. (HR. Muslim)

DUSTA DAN GHIBAH DALAM PANDANGAN ISLAM

Baik ghibah maupun dusta, sesungguhnya merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah SAW .

Mengenai dusta, Dalam Al-Qurโ€™an Allah berfirman (QS. 22: 30):

ููŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ุงู„ุฑู‘ูุฌู’ุณูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽูˆู’ุซูŽุงู†ู ูˆูŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽ ุงู„ุฒู‘ููˆุฑู*

โ€˜Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.โ€™

Bahkan dusta ini masuk dalam kategori dosa-dosa besar yang senantiasa harus dijauhi oleh setiap muโ€™min.

Dalam satu riwayat, Rasulullah SAW pernah mengatakan:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุจูŽูƒู’ุฑูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู„ุงูŽ ุฃูู†ูŽุจู‘ูุฆููƒูู…ู’ ุจูุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงู„ู’ูƒูŽุจูŽุงุฆูุฑู ู‚ูู„ู’ู†ูŽุง ุจูŽู„ูŽู‰ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุฅูุดู’ุฑูŽุงูƒู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุนูู‚ููˆู‚ู ุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชู‘ูŽูƒูุฆู‹ุง ููŽุฌูŽู„ูŽุณูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู„ุงูŽ ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ู ุงู„ุฒู‘ููˆุฑู ูˆูŽุดูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ุงู„ุฒู‘ููˆุฑู ุฃูŽู„ุงูŽ ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ู ุงู„ุฒู‘ููˆุฑู ูˆูŽุดูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ุงู„ุฒู‘ููˆุฑู ููŽู…ูŽุง ุฒูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ูู‡ูŽุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู‚ูู„ู’ุชู ู„ุงูŽ ูŠูŽุณู’ูƒูุชู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

โ€œDari Abu Bakrah ra, Rasulullah SAW bersabda: โ€˜Maukah kalian aku beritahu tentang dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar?

Kami menjawab, tentu wahai Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW mengatakan, โ€˜Yaitu, menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua.โ€™ Beliau berdiri, kemudian duduk, lalu mengatakan lagi, โ€˜dan perkataan dusta serta persaksian dusta.. perkataan dusta dan persaksian dusta..โ€™

Beliau terus mengucapkan itu, hingga aku katakan bahwa beliau tidak berhenti mengucapkannya.โ€ (HR. Bukhari)

Ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya yang membicarakan masalah ghibah masih cukup banyak. Namun dari kedua dalil di atas, kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa dusta merupakan perbuatan tercela yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW secara langsung mengkategorikannya pada perbuatan dosa-dosa besar yang paling besar.

Sedangkan mengenai ghibah, sebagaimana dusta, banyak ayat-ayat maupun hadits-hadits yang melarangnya. Dalam Al-Qurโ€™an, Allah berfirman dalam (QS. 49 : 12) :

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ู ุฅูุซู’ู…ูŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุฌูŽุณู‘ูŽุณููˆุง ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุบู’ุชูŽุจู’ ุจูŽุนู’ุถููƒูู…ู’ ุจูŽุนู’ุถู‹ุง ุฃูŽูŠูุญูุจู‘ู ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฃู’ูƒูู„ูŽ ู„ูŽุญู’ู…ูŽ ุฃูŽุฎููŠู‡ู ู…ูŽูŠู’ุชู‹ุง ููŽูƒูŽุฑูู‡ู’ุชูู…ููˆู‡ู ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุชูŽูˆู‘ูŽุงุจูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ*

โ€˜Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.

Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.

Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.โ€™

Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda :

ุนูŽู†ู’ ุณูŽุนููŠุฏู ุจู’ู†ู ุฒูŽูŠู’ุฏู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูุจูŽุง ุงู„ุงูุณู’ุชูุทูŽุงู„ูŽุฉูŽ ูููŠ ุนูุฑู’ุถู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุญูŽู‚ู‘ู (ุฑูˆุงู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ)

Dari Said bin Zaid ra, Rasulullah SAW bersabda, โ€˜Sesungguhnya riba yang paling bahaya adalah berpanjang kalam dalam membicarakan (keburukan) seorang muslim dengan (cara) yang tidak benar. (HR. Abu Daud)

Kedua dalil di atas telah cukup menunjukkan kepada kita mengenai bahaya ghibah. Dalam ayat (QS. 49 : 12) Allah mengumpamakan ghibah seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal.

Sedangkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah SAW mengumpamakannya dengan riba yang paling berat dan berbahaya.Oleh karena itulah, bagi setiap muslim harus berusaha secara maksimal untuk meninggalkan kedua penyakit lisan yang ternyata sangat berbahaya ini.

Kita dapat membayangkan, sekiranya setiap hari kita diumpamakan seperti menyantap makanan yang terbuat dari daging saudara kita sendiri ? Selain itu kita juga diumpakan selalu berinteraksi dengan riba yang paling berbahaya dan paling besar dosanya di sisi Allah SWT?

Naโ€™udzu billah min dzalik.

Kondisi Diperbolehkannya Ghibah dan Dusta

Meskipun demikian, memang ada beberapa kondisi tertentu di mana kita diperbolehkan untuk dusta dan ghibah.

1. Kondisi Diperbolehkan nya Dusta

Dalam hadits dijelaskan oleh Rasulullah SAW mengenai beberapa keadaan dimana seseorang dihalalkan untuk berdusta, berdasarkan hadits berikut:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุณู’ู…ูŽุงุกูŽ ุจูู†ู’ุชู ูŠูŽุฒููŠุฏูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ู„ุงูŽ ูŠูŽุญูู„ู‘ู ุงู„ู’ูƒูŽุฐูุจู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ูููŠ ุซูŽู„ุงูŽุซู ูŠูุญูŽุฏู‘ูุซู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูŽู‡ู ู„ููŠูุฑู’ุถููŠูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุฐูุจู ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฑู’ุจู ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุฐูุจู ู„ููŠูุตู’ู„ูุญูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐู‰)

โ€œDari Asmaโ€™ binti Yazid ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Dusta tidak diperkenankan melainkan dalam tiga hal; seorang suami berbicara kepada istrinya agar istrinya (lebih mencintainya), dusta dalam peperangan dan dusta untuk mendamaikan diantara manusia (yang sedang bertikai)โ€ (HR. Turmudzi)

2. Kondisi Diperbolehkan nya Ghibah

Dr. Sayid Muhammad Nuh dalam Afat Ala al-Thariq (1996 : III/ 52) mengungkapkan ada enam hal, dimana seseorang diperbolehkan untuk ghibah, yaitu:

Tadzalum.

Yaitu orang yang teraniaya, kemudian mengadukan derita yang diterimanya kepada hakim, ulama dan penguasa agar dapat mengatasi problematika yang sedang dialaminya. Dalam pengaduan tersebut tentu ia akan menceritakan keburukan orang yang menganiaya dirinya. Dan hal seperti ini diperbolehkan. Dalam Al-Qurโ€™an Allah SWT berfirman:

ู„ุงูŽ ูŠูุญูุจู‘ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ุฌูŽู‡ู’ุฑูŽ ุจูุงู„ุณู‘ููˆุกู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุธูู„ูู…ูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุณูŽู…ููŠุนู‹ุง ุนูŽู„ููŠู…ู‹ุง*

โ€œAllah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.โ€

Meminta bantuan untuk merubah kemungkaran & mengembalikan orang yang maksiat menjadi taat kepada Allah SWT, kepada orang yang dirasa mampu untuk melakukannya. Seperti ulama, ustadz atau psikolog.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,
โ€˜Barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. (HR. Muslim).

Sementara meminta bantuan kepada orang yang lebih mampu, masuk dalam kategori merubah kemungkaran dengan lisan.

Meminta fatwa.

Seperti seseorang yang meminta fatwa kepada ulama dan ustadz, bahwa saudaraku misalnya mendzolimiku seperti ini, maka bagaimana hukumnya bagi diriku maupun bagi suadaraku tersebut.

Dalam salah satu riwayat pernah digambarkan, bahwa Hndun binti Utbah (istri Abu Sufyan) mengadu kepada Rasulullah SAW dan mengatakan, wahai Rasulullah SAW, suamiku adalah seorang yang bakhil. Dia tidak memberikan padaku uang yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga kami, kecuali yang aku ambil dari simpanannya dan dia tidak mengetahuinya. Apakah perbuatanku itu dosa ?

Rasulullah SAW menjawab, ambilah darinya sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik (baca; maโ€™ruf)โ€ (HR. Bukhari)

Peringatan terhadap keburukan atau bahaya.

Seperti ketika Fatimah binti Qais ra datang kepada Rasulullah SAW dan memberitahukan bahwa ada dua orang pemuda yang akan meminangnya, yaitu Muawiyah dan Abu Jahm.

Rasulullah SAW mengatakan, โ€˜Adapun Muawiyah, ia adalah seseorang yang sangat miskin, sedangkan Abu Jahm, adalah seseorang yang ringan tangan (suka memukul wanita).โ€ (HR. Muslim)

Terhadap orang yang menampakkan kefasikan & kemaksiatannya, seperti minum khamer, berzina, judi, mencuri, dan membunuh.

Terhadap orang yang seperti ini kita boleh ghibah. Apalagi terhadap orang yang menampakkan permusuhannya kepada agama Islam dan kaum muslimin.

Untuk pengenalan.

Adakalanya seseorang telah dikenal dengan julukan tertentu yang terkesan negatif, seperti para periwayat hadits ada yang dikenal dengan sebutan Aโ€™masy (si rabun), Aโ€™raj (pincang), Asham (tuli), Aโ€™ma (buta) dsb. Mereka semua sangat dikenal dengan nama tersebut. Jika disebut nama lain bahkan banyak perawi lainnya yang kurang mengenalnya.

Meskipun demikian, tetap menggunakan nama aslinya adalah lebih baik. Bahkan jika dengan namanya tersebut dia telah dikenal, maka tidak boleh menggunakan julukan yang terkesan negatif.

Cara Untuk Menghindari Dusta dan Ghibah

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap penyakit tentu ada obatnya. Demikian juga dengan penyakit hati dan lisan, seperti dusta dan ghibah. Allah memberikan berbagai jalan untuk manusia agar dapat mengobati dirinya dari penyakit-penyakit seperti ini, diantaranya adalah:

1. Dengan meningkatkan rasa โ€˜muraqabatullahโ€™ yaitu sebuah rasa dimana kita senantiasa tahu, bahwa Allah sangat mengetahui segala tindak tanduk yang kita lakukan, baik ketika seorang diri maupun di saat bersama-sama. Baik ketika orang yang kita bicarakan ada diantara kita ataupun tidak ada. Allah pasti mengetahuinya.

2. Meningkatkan keyakinan kita bahwa setiap orang yang kita bicarakan, pasti akan dimintai pertanggung jawabannya dari Allah SWT kelak. Dalam salah satu ayatnya, Allah berfirman (QS. 50 : 18) :

ู…ูŽุง ูŠูŽู„ู’ููุธู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ุฑูŽู‚ููŠุจูŒ ุนูŽุชููŠุฏูŒ*

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

3. Menahan emosi dan mencegah amarah. Karena keduanya merupakan faktor yang dapat membawa seseorang pada ghibah dan dusta.

4. Tabayun (baca; mengecek) terhadap informasi yang datang dari seseorang, sebelum membicarakannya pada orang lain.

Dalam Al-Qurโ€™an Allah berfirman (QS. 49 : 6)

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฅูู†ู’ ุฌูŽุงุกูŽูƒูู…ู’ ููŽุงุณูู‚ูŒ ุจูู†ูŽุจูŽุฃู ููŽุชูŽุจูŽูŠู‘ูŽู†ููˆุง ุฃูŽู†ู’ ุชูุตููŠุจููˆุง ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ุจูุฌูŽู‡ูŽุงู„ูŽุฉู ููŽุชูุตู’ุจูุญููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ููŽุนูŽู„ู’ุชูู…ู’ ู†ูŽุงุฏูู…ููŠู†ูŽ*

โ€œHai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.โ€

5. Beramal & berusaha untuk dapat menciptakan suasana yang โ€˜Islamiโ€™, dilingkungan kerja, dirumah, di kantin dsb, dengan membuat kesepakatan dan ketauladanan untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain, apalagi berbohong. Di samping itu juga keharusan adanya teguran, kepada orang yang secara sengaja atau tidak dalam membicarakan orang lain.

6. Jika kita merupakan orang yang menjadi obyek pembicaraan, kitapun harus menanggapinya dengan akhlak yang baik dan bijaksana. Kita mencek kembali, mengapa mereka membicarakan kita, siapa saksinya kemudian diselesaikan dengan baik.

7. Himbauan secara khusus kepada orang-orang yang menjadi panutan, baik dalam kantornya, masyarakatnya atau di mana saja, untuk menjauhi hal ini (ghibah dan dusta), supaya mereka yang berada di bawahnya dapat mencontoh. Karena apabila para panutan ini memberikan keteladanan yang buruk, maka para bawahannya pun akan mengikutinya.

8. Membiasakan diri untuk bertanya sesegera mungkin manakala melihat adanya fenomena seseorang yang berbuat sesuatu yang melanggar syariat, hingga kita tidak terjerumus pada keghibahan.

9. Mengajak umat secara keseluruhan untuk menghindari diri dari penyakit ini, dengan cara tidak membicarakan orang lain, tidak mendengarkan jika ada orang yang membicarakan orang lain, memberikan teguran dan lain sebagainya.

10. Mengingat-ingat kembali, tentang hukum dusta dan ghibah serta akibat yang akan ditimbulkan dari adanya hal seperti ini.

โค PENUTUP

Kita yakin bahwa setiap insan pasti pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat.
Dan kemasiatan yang paling mudah menjerumus kan setiap insan adalah maksiat mata dan maksiat lisan. Dan diatara kemasiatan lisan adalah dusta dan ghibah.

Padahal kedua kemaksiatan ini (ghibah dan dusta) adalah termasuk dalam kategori dosa-dosa besar.

Dusta, adalah dosa besar yang paling besar, yang disejajarkan dengan syirik dan durhaka pada orang tua.

Sementara ghibah Allah umpamakan seperti memakan bangkai saudara kita sendiri yang telah mati. Atau seperti orang yang melakukan riba yang paling berat dan berbahaya. Jadi betapa besarnya dosa kita jika setiap hari kita โ€˜menkonsumsiโ€™ dusta dan ghibah ?

Oleh karena itulah, hendaknya kita memper baharui taubat kita kepada Allah SWT serta berjanji untuk tidak terjerumus kembali pada ghibah & dusta, semampu kita.

Apalagi jika kita merenungi bahwa salah satu sifat muโ€™min adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู„ูู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู„ูุณูŽุงู†ูู‡ู ูˆูŽูŠูŽุฏูู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู‡ูŽุงุฌูุฑู ู…ูŽู†ู’ ู‡ูŽุฌูŽุฑูŽ ู…ูŽุง ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Abdullah bin Amru ra, Rasulullah SAW bersabda, โ€˜Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat (terjaga) dari lisan dan tanganya.

Sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah SWT. (HR. Bukhari)

Wallahu Aโ€™lam Bis Shawab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

Tenang Dalam Kemenangan, Tenang Dalam Kekalahan (Bagaimana Shalahuddin Mengelola Emosi Pasukannya) (bag-1)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Pertempuran Arsuf – 7 September 1191

Pertempuran ini terjadi pada masa Perang Salib Ketiga dimana Raja Richard I dari Inggris (bergelar “Berhati Singa” atau The Lionheart) mengalahkan Sultan Shalahuddin (Yusuf ibn Ayyub) di luar kota Arsuf di Palestina. Pada perang itu pasukan Salib telah merebut kota Acre melalui pengepungan yang berkepanjangan. Sasaran mereka berikutnya adalah menguasai kota Jaffa guna menopang pencapaian sasaran utamanya yaitu merebut kota al-Quds (Jerusalem).

Setelah tidak tergiur oleh serbuan-serbuan pancingan yang dilancarkan Shalahuddin, maka pada hari Sabtu 11 Sya’ban 587 Hijriah (7 September 1191) pertempuran besar mulai berkobar. Balatentara Richard berhasil mempertahankan kedisiplinan untuk tidak terpancing maju menyerang keluar dari jarak formasi kohesif. Hanya kesatuan Hospitallers yang tidak tahan dan melancarkan serangan keluar sehjngga Richard terpaksa mengerahkan seluruh pasukannya. Richard kemudian menyusun ulang barisan pasukannya setelah keberhasilan serbuan pertama dan menyerang lagi lalu menang. Pertempuran ini menyebabkan beberapa kota di pesisir selatan Palestina, termasuk kota Jaffa, kembali ke tangan Pasukan Salib. Sejauh itu sepertinya target merebut Jerusalem sepertinya dimungkinkan.

Permulaan di Selatan Acre

Setelah berhasil menguasai Acre pada tahun 1191, Richard sadar bahwa ia juga harus merebut Jaffa sebelum bergerak menuju Jerusalem. Ia mulai bergerak menuju Jaffa menyisiri jalur pesisir dari Acre ย pada bulan Agustus 1191. Shalahuddin pun menyadari tujuan manuver ini sehingga ia pun mengarahkan pasukannya guna mencegat Richard. Raja Inggris yang konon tidak bisa berbahasa Inggris ini telah menyusun formasi dan manuver militer secara detail.

Setelah jatuhnya Acre, angkatan laut Shalahuddin yang berasal dari Mesir telah jatuh ke tangan lawan sehingga Richard dapat bebas bergerak menyusuri pesisir ke arah selatan tanpa harus khawatir akan serangan dari sayap kanannya (dari laut).

*Richard Belajar dari Pertempuran Hattin

Richard sangat sadar akan permasalahan yang menyebabkan kekalahan telak Pasukan Salib di Pertempuran Hattin sehingga ia menyiapkan persediaan air yang cukup serta rutin memantau tingkat keletihan pasukannya dari sengatan terik matahari. Walaupun ia harus mengejar waktu untuk sampai ke titik transit sebelum sampai ke Jaffa namun Richard tidak memacu barisan pasukannya. Ia hanya menggerakkan pasukannya pada pagi hari sebelum matahari menyengat dan berhenti pada titik-titik mata air untuk beristirahat. Angkatan lautnya berlayar secara paralel sebagai pangkalan logistik sekaligus ambulans bagi mereka yang cidera.

Richard juga menyadari taktik lawannya berupa serangan pancingan serbu-mundur sehingga ia mewajibkan formasi ketat dengan 12 resimen berkuda masing-masing berkekuatan 100 knight sebagai inti kekuatan. Pasukan infanteri berbaris dalam formasi sejajar di sebelah pasukan berkuda pada sisi daratan sebagai perlindungan bagi pasukan berkuda atas serangan panah. Barisan terluar dari infanteri ditempati oleh pasukan crossbow sebagai penggentar kesatuan berkuda ringan Shalahuddin. Pasukan infanteri secara bergantian pindah ke sisi dalam (ke dekat pantai) untuk beristirahat untuk menjaga mereka selalu dalam kondisi segar.

Walaupun seluruh Pasukan Salib tersiksa perasaan akibat tidak diperbolehkannya meladeni serangan-serangan pancingan Shalahuddin, namun kharisma Richard mampu meredam emosi serta menegakkan disiplin mereka; bahkan untuk ini ditulis oleh Bahauddin, seorang sejarawan sekretaris pribadi Shalahuddin yang juga saksi peristiwa tersebut:

“Pasukan Muslimin menyerang sisi luar untuk memancing emosi mereka agar keluar dari formasi rapat barisan, namun mereka (pasukan Richard) sangat terkendali dan tetap dalam formasi barisan sambil bergerak maju seiring dengan berlayarnya kapal sepanjang pesisir, hal ini mereka lakukan dengan rapi hingga tercapai setiap tahapan perjalanan diselingi peristirahatan.”

Bahauddin juga memaparkan adanya perbedaan kekuatan antara crossbow Passukan Salib dan kaum Muslimin. Ia melihat bagaimana prajurit Salib tetap berjalan dalam formasi walaupun pada baju besinya tertancap 1 sampai 10 panah. Sedangkan, prajurit kaum Muslimin banyak yang langsung terbunuh manakala tertembak crossbow lawan dan kuda tersungkur sekali tembak.

Strategi Shalahuddin

Derap laju Pasukan Salib ditentukan oleh kecepatan infanteri dan rombongan logistik, sedangkan pasukan Ayyubi sebagian besar bertunggang kuda sehingga mobilitasnya lebih tinggi. Tindakan membakar dan memanen lebih awal bahan pangan di jalur lawan oleh pihak Shalahuddin ternyata tidak ย efektif menghambat laju karena logistik Pasukan Salib sebagian besar diangkut via laut.

Pada hari Ahad 3 Sya’ban 587 Hijriah (25 Agustus 1191) elemen terbelakang ย Pasukan Salib sempat tertinggal sehingga diserbu lawannya. Kalau saja kesigapan iring-iringan Pasukan Salib tidak sempat menghubungkan barisan maka mereka sudah bisa diperkirakan binasa. Dari tanggal 28-29 Agustus pasukan Richard mengalami jeda serangan karena mereka harus mengitari bukit Caramel sehingga tidak ada ruang manuver kavaleri yang cukup. Shalahuddin membawa pasukannya mengitari dari sisi dalam dan kedua balatentara bertemu lagi di sekitar kota Caesaria; separuh jalan antara Acre dan Jaffa. Shalahuddin tiba di luar Caesarea lebih dahulu pada tanggal 30 Agustus karena Pasukan Salib menempuh jarak jarak yang lebih jauh dengan kecepatan yang lebih lamban. Antara tanggal 30 Agustus hingga 7 september Shalahuddin selalu berada pada jarak dekat dan siap menyergap jika kesempatan terbuka.

*Penyesuaian Strategi

Pada awal bulan September, Shalahuddin menyadari bahwa mengerahkan sebagian kecil saja dari pasukannya tidak akan mampu menghentikan laju pasukan Richard. Ia harus mengerahkan keseluruhan pasukannya dalam suatu serangan umum. Perubahan taktik ini mendapatkan peluangnya karena tidak lama lagi lawan akan melintasi salah satu dari sedikit area di Palestina yang berhutan agak lebat; yaitu Hutan Arsuf. Daerah berpohon lebat ini membentang sejajar pesisir sekitar 19 km panjangnya dan merupakan medan yang cocok untuk menyamarkan penyebaran pasukan Shalahuddin dalam rencana penyerbuan.

*Dalam Penyamaran Hutan Arsuf

Pasukan Salib telah melintasi separuh hutan tanpa gangguan yang berarti dan mereka beristirahat pada hari Jum’at 15 Sya’ban 587 Hijriah (6 September 1191) dimana tendanya terlindungi oleh sedikit rawa pada muara Sungai Nahrul Falaik (Rochetaillรฉe). Lebih ke selatan lagi terbentang jarak sekitar 9.7 km yang harus ditempuh Pasukan Salib sebelum sampai ke reruntuhan Arsuf. Pada bentangan ini terdapat padang rumput selebar 1.5-3.0 km antara pinggiran hutan dan pantai; di sinilah rencana Shalahuddin akan melancarkan serangannya.

Shalahuddin tetap melancarkan serbuan pancingan sepanjang kolom barisan Pasukan Salib namun kali ini memusatkan serbuan terkuat pada bagian belakang. Rencananya adalah memberikan dorongan bagi elemen terdepan untuk menjauh hingga memecah kekuatan mereka sendiri. Jika celah nanti terbentuk maka Shalahuddin akan menumpahkan elemen cadangannya guna menuntaskan jebakan serta melumatkan lawannya.

(bersambung…insyaa Allah Kamis pekan depan)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersegera Mencari Ampunan Allah

Enam Perkara Yang Seharusnya Disegerakan

Pemateri: UST. SYAHRONI MARDANI,Lc

Sesungguhnya perbuatan baik yang paling utama adalah yang disegerakan. Ini sesuai dengan apa yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dari Ali bin Abi Thalib, sesungguhnya Rasulullah saw berpesan padanya, โ€œWahai Ali, ada tiga perkara yang tidak baik kalau diakhirkan (jangan ditunda-tunda): shalat jika sudah datang waktunya, jenazah jika sudah hadir, menikahkan anak gadis jika sudah datang jodohnya (HR Turmudzi).

Dari Hatim Al-Ashom -rahimahullah- berkata :

ูŠู‚ุงู„: ุงู„ุนุฌู„ุฉ ู…ู† ุงู„ุดูŠุทุงู† ุฅู„ุง ููŠ ุฎู…ุณ ุฅุทุนุงู… ุงู„ุทุนุงู… ุฅุฐุง ุญุถุฑ ุงู„ุถูŠู ูˆุชุฌู‡ูŠุฒ ุงู„ู…ูŠุช ุฅุฐุง ู…ุงุช ูˆุชุฒูˆูŠุฌ ุงู„ุจูƒุฑ ุฅุฐุง ุฃุฏุฑูƒุช ูˆู‚ุถุงุก ุงู„ุฏูŠู† ุฅุฐุง ูˆุฌุจ ูˆุงู„ุชูˆุจุฉ ู…ู† ุงู„ุฐู†ุจ ุฅุฐุง ุฃุฐู†ุจ

โ€œDikatakan, โ€œKetergesa-gesaan itu dari setan, kecuali dalam lima perkara: menghidangkan makanan jika tamu telah hadir, mengurusi jenazah jika telah wafat, menikahkan anak gadis jika telah baligh, menunaikan utang jika telah jatuh tempo, dan bertobat dari dosa jika telah melakukan dosaโ€. [HR. Abu Nuโ€™aim dalam Al-Hilyah (8/78)]

Dari hadist dan keterangan keterangan hadits di atas, minimal ada 6 hal yang seharusnya disegerakan.

1. SHALAT KALAU SUDAH MASUK WAKTUNYA

Pertama, menyegerekan shalat ketika sudah masuk waktunya. Kenyataan yg sering kita temui di lapangan (bahkan mungkin menimpa diri kita, naudzubillahi mindzalik) bahwa “seorang karyawan jika dipanggil bosnya, sesibuk apa pun dia segera memenuhi panggilan tersebut. Tetapi saat Allah memanggilnya melalui suara adzan, kebanyakan dari kita tidak segera memenuhinya.

Padahal dari Abu Abdurrahman Abdulloh bin Masud ra berkata, Aku bertanya pada Nabi saw , โ€œAmal apakah yang paling Allah cintai?โ€ Nabi saw menjawab, โ€œShalat pada (awal) waktunya. Berbakti pada orang tua, dan Jihad di jalan Allahโ€. (Muttafaq Alaih)

Ketka Aisyah ra ditanya, โ€œBagaimanakah kebiasaan Nabi Muhammad saw di rumahnya?โ€ Aisyah menjawab, โ€œBeliau biasa membantu keluarganya dan melayani mereka. Tapi jika terdengar panggilan Adzan, Beliau pergi untuk melakukan shalatโ€. (HR Bukhari)

Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda, โ€œShalat di awal waktu akan mendapatkan keridhoan (kasih sayang) Allah. shalat di akhir waktu โ€˜dimaafkanโ€™ oleh Allahโ€. (HR Turmudzi)

2. SEGERA MEMULIAKAN TAMU

Kedua, segera memuliakan tamu. Ketika seseorang kedatangan tamu,yang seharusnya disegerakan adalah menghidangkan minuman dan makanan, bukan menanyakan ini dan itu pada sang tamu. Juga tidak perlu ditanya mau ย minum apa, sudah makan atau belum? Kalau tamunya pemalu, meskipun lapar dan belum makan, dia akan menjawab sudah makan.

Rasulullah saw bersabda, โ€œSiapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunyaโ€. (HR Bukhari dan Muslim).

Nabi Ibrahim dikenal sebagai orang yang paling baik dalam memuliakan tamunya. Tak heran jika Nabi Ibrahim a.s memiliki gelar ABU DHIFAN (orang yang sangat memuliakan tamu).

Allah mengabadikan dalam Al Qur’an kisah bagaimana Nabi Ibrahim a.s yang bersegera dalam memuliakan tamunya. Nabi Ibrahim segera mengeluarkan hidangan saat tamunya datang.

โ€œSudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?

(ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun,” Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

Maka Dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. lalu dihidangkan-nya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” (Adz Dzariyat 51 : 24 โ€“ 27).

dan Sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.

Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: “Jangan kamu takut, sesungguhnya Kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.”

dan istrinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub. (Huud 11 : 69 โ€“ 71)

3. SEGERA MENGURUS JENAZAH

Ketiga, yang seharusnya segera dilakukan adalah mengurus jenazah. Apalagi ada hadits yang melarang mendiamkan jenazah berlama-lama. โ€œTidak sepantasnya mayat seorang muslim dibiarkan berlama lama di tengah keluarganya. (HR Abu Daud).

Hadits lainnya menyebutkan, โ€œJenazah itu segera diurus. Seandainya dia orang baik, maka dia akan segera mendapatkan balasan kebaikannya. Seandainya bukan orang baik, agar segera lepas dari tanggungan kalianโ€ (Muttafaq Alaih).

Jika jenazah digotong di atas pundak (menuju kuburnya), jika jenazah ini adalah orang soleh, maka dia akan berkata, โ€œSegerakan aku.โ€ Dan jika jenazah ini adalah orang jahat, maka dia akan berkata kepada keluarganya โ€œCilakalah aku, mau dibawa kemanakah aku iniโ€ Semua makhluk mendengar suara ini, kecuali manusia. Seandainya manusia dapat mendengarnya pasti mereka akan pingsan.โ€ (HR Bukhari)

4. MENYEGERAKAN MENIKAHKAN ANAK GADIS KETIKA SUDAH DATANG JODOHNYA

Keempat, yang seharusnya disegerakan menikahkan anak gadis jika sudah ada jodohnya. Dalam menikahkan anak gadisnya, menururt pengamatan Syahroni, kebanyakan yang menjadi pertimbangan dari para orangtua faktornya harta, bukan agama dan akhlaknya.

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, โ€œJika datang padamu seorang pemuda yang akan mengkitbah(melamar) anak gadismu. Engkau ridha dengan agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah anak gadismu dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan muncul kerusakan yang nyata.โ€ (HR Turmudzi).

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui. (An Nuur 24 ; 32).

5. MEMBAYAR HUTANG

Kelima, yang seharusnya disegerakan membayar hutang. Jika seseorang punya hutang hendaknya segera dibayar. Jangan ditunda-tunda untuk melunasinya. Dalam Hadits Nabi disebutkan, Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda, โ€œJiwa seorang mukmin itu โ€˜tergantungโ€™ gara gara hutangnya hingga hutangnya dilunasi. (HR Turmudzi). Rasulullah kembali bersabda, โ€œPenundaan pembayaran hutang oleh orang yang mampu adalah satu kezaliman.โ€ (Muttafaq Alaih)

6. BERTAUBAT DARI PERBUATAN MAKSIAT

Keenam, yang seharusnya disegarakan bertaubat dari perbuatan maksiat. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan perbuatan salah dan dosa. Tapi sebaik-baik orang yang pernah melakukan perbuatan salah dan dosa, segera bertaubat kepada Allah. โ€œSesungguhnya Allah swt menerima taubat hamba-Nya sebelum ajal di tenggorokannya.โ€ (HR Turmudzi)

โ€œBertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.โ€ (An Nuur 24 : 31.

Segeralah taubat sebelum wafat dan segeralah shalat sebelum waktunya terlewat.

wallahu a’lam bishshowab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Manusia Terbaik

TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT (Bag-1)

Pemateri: Ust. DR. Abas Mansur Tamam

ูˆูŽุงุฐู’ูƒูุฑู’ ุนูุจูŽุงุฏูŽู†ูŽุง ุฅุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ูˆูŽุฅูุณู’ุญูŽู‚ูŽ ูˆูŽูŠูŽุนู’ู‚ููˆุจูŽ ุฃููˆู’ู„ููŠ ุงู„ู’ุฃูŽูŠู’ุฏููŠ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑู. ุฅูู†ู‘ูŽุง ุฃูŽุฎู’ู„ูŽุตู’ู†ูŽุงู‡ูู… ุจูุฎูŽุงู„ูุตูŽุฉู ุฐููƒู’ุฑูŽู‰ ุงู„ุฏู‘ูŽุงุฑู. ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุนูู†ุฏูŽู†ูŽุง ู„ูŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุตู’ุทูŽููŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฎู’ูŠูŽุงุฑู (ุต [38]: 45-47)

Artinya: โ€œDan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang terampil (punya tangan/ulil aidi) dan berwawasan luas (punya penglihatan/ulil abshar). Sesungguhnya Kami telah memilih mereka dengan kualifikasi mengingat negeri akhirat (dzikrad dar). Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baikโ€ (Shad [38]: 45-47).

MUKADIMAH:

Allah SWT. memiliki khazanah kisah menarik yang jumlahnya tak terhingga, sebanding dengan ketidak terhinggaan ilmu-Nya.

Dari sekian banyak kisah itu, Allah telah memilihkan untuk kita kisah-kisah terbaik dan paling menarik (ahsanal qashashi). Diantara kisah terbaik itu disebutkan dalam tiga ayat di atas, yaitu kisah Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub.

Tidak bisa dipungkiri manusia menyukai kisah.

Allah Mengetahui, karena Dia yang menciptakannya. Maka kisah-kisah dalam Alquran dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan dalam diri manusia. Karena itu kisah merupakan satu dari sekian metode terbaik dalam pendidikan.

Alquran mengatakan: โ€œSungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang cerdasโ€ (Yusuf [12]: 111).

Kita wajib berusaha untuk pandai memetik pelajaran dari setiap kisah Alquran.

Dalam hal ini, Allah swt. menyebutkan tiga sifat unggulan dari manusia-manusia pilihan Allah itu, yaitu: terampil (ulil aidi), berwawasan luas (ulil abshar), dan selalu mengingat negeri akhirat (zikrad dar).

Nilai kita di hadapan Allah digantungkan pada kemampuan untuk melakukan proses internalisasi ketiga sifat itu.

Tujuannya agar nilai kita di sisi Allah mendekati keutamaan para nabi, meskipun tidak akan menyamainya. โ€œSaddidu wa qaribuโ€, bertindaklah dengan tepat dan berupayalah untuk ย semakin dekat!
(Bukhari, 5/6099) demikian pesan al-habib Rasulullah saw.

TERAMPIL (ULIL AIDI):

Dalam bahasa Arab kata ulil aidi (punya tangan) digolongkan sebagai pendekatan metafora (majaz mursal).
Artinya bukan punya tangan dalam pengertian biasa, tetapi mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.

Hubungan makna ini dengan kalimat ulil aidi, karena biasanya orang berbuat dengan tangan. Dalam bahasa yang lugas, ulil aidi bisa diartikan terampil.

Agar kita bisa mengejar kualifikasi ulil aidi seperti Ibrahim, Ishaq dan Yaโ€™qub, kita harus mengetahui ragam penafsiran para ulama tentang kalimat tadi.

Karena keragaman makna ayat bersifat saling melengkapi. Makna-makna itu dirangkum oleh Imam Al-Mawardi dalam tafsirnya (An-Nukat wal Uyun).

Keragaman makna itu sekaligus bisa dijadikan indikator dari ketercapaian kualifikasi terampil dalam diri kita.

1. Kemampuan Beribadah (Al-Quwwatu fil Ibadah):

Indikator pertama dari orang yang terampil adalah memiliki kemampuhan untuk beribadah, demikian menurut Ibn Abbas. Kemampuan ini menjadi indikator pertama dari manusia unggulan, karena agama hakikatnya adalah ibadah, taat, serta tunduk kepada Allah swt.

Kemampuan beribadah kedudukannya lebih dari sekedar tahu dan mau.

Karena orang tahu dan mau belum tentu bisa melakukannya.
Betapa banyak orang yang mengetahui keutamaan bangun malam, tetapi tidak bisa melakukannya. Betapa banyak orang yang mau membiasakan wirid Alquran satu juz dalam sehari, tetapi tidak sanggup menjaga konsistensi tilawahnya karena alasan kesibukan dan lain-lain.

Orang yang terampil akan mampu menunaikan semua amal-amal fardu dengan sebaik-baiknya. Mampu menyempurnakan salat, puasa, zakat, dan haji. Mampu melakukan amal-amal nafilah (sunah), baik yang sejenis fardu seperti: salat sunah, puasa sunah, infak dan sedekah, serta umrah; atau amal-amla sunah lainnya.

Orang yang mampu menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan ditambah dengan ibadah-ibadah sunah akan membuatnya menjadi wali-wali Allah swt.

Dalam hadits qudsi dikatakan:
โ€œSiapa yang memusuhi Aku, maksudnya memusuhi wali-Ku, maka Aku akan mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku taqarrub kepada-Ku lebih Aku cintai dari jenis ibadah yang telah Aku fardukan.

Jika hamba-Ku terus bertaqarrub dengan nawafil, maka Aku akan mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya ketika dia mendengar. Akulah matanya ketika dia melihat. Akulah tangannya ketika dia merangkak. Dan akulah kakinya yang dia pakai untuk melangkah. Jika dia meminta sesuatu pada-Ku, pasti akan Aku kabulkan. Jika ia meminta perlindungan, pasti akan Aku lindungi..โ€ ย (Bukhari, 5/6137).

2. Ketegasan Menjaga Perintah Allah (Alquwwatu fi Amrillah):

Indikator kedua adalah ketegasan dalam menjaga perintah Allah (alquwwatu fi amrillah) demikian menurut Qatadah.

Indikator ini berbeda dari indikator pertama. Karena orang yang rajin beribadah (mahzah), belum tentu punya rasa cemburu dengan agamanya.

Sehingga mungkin saja dia bersikap tak acuh dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap perintah Allah yang terjadi di tengah masyarakat.

Ketegasan menjaga perintah Allah menuntut kepedulian terhadap masyarakat, serta berani melakukan amar makruf dan nahyil mungkar.

Rasulullah saw. bersabda:

ู…ู† ุฑูŽุฃูŽู‰ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู‹ุง ููŽู„ู’ูŠูุบูŽูŠู‘ูุฑู’ู‡ู ุจูŠุฏู‡ุŒ ููŽุฅูู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุจูู„ูุณูŽุงู†ูู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู’ ู„ู… ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุจูู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุถู’ุนูŽูู ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู

Artinya: โ€œSiapa yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa dengan tangannya, maka rubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan itu selemah-lemahnya imanโ€ (Muslim, 1/49).

Contoh ideal dari sahabat yang memiliki indikator ini adalah Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah saw. mengumumkan prestasi sahabat-sahabatnya beliau bersabda:

โ€œWa asyadduhum fi amrillah Umarโ€, orang yang paling tegas menjaga perintah Allah adalah Umar (Tirmizi, 5/3790, hadits hasan garib).

Sebagai tambahan, orang yang tegas dalam menjaga perintah Allah akan disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan.

Abdullah bin Buraidah mengabarkan, Rasulullah saw. bersabda: โ€œAku mengira, syaitan saja akan melarikan diri dari engkau wahai Umarโ€ (Sahih Ibn Hibban, 15/6892).

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang ditakuti oleh syetan.

3. Memiliki Fisik yang Sehat dan Kuat (Alquwwah fil Abdan)

Indikator ketiga adalah memiliki fisik yang sehat dan kuat (alquwwah fil abdan), demikian kata Athiyyah.

Indikator ini menjadi bagian dari pemahaman dasar, bahwa orang-orang yang berbadan kuat dan sehat dimungkinkan akan mampu beramal lebih dahsyat, serta mampu mengerjakan proyek-proyek besar dalam hidup ini.

Kaidah orang kuat mampu melakukan pekerjaan besar memang tidak mutlak.

Karena Syeikh Ahmad Yasin dalam keadaan memiliki fisik yang tidak berdaya, beliau mampu melakukan pekerjaan besar yaitu memimpin intifazah.

Meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan berat dan besar kemungkinan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang fisiknya sehat dan kuat.
Itu sebabnya Rasulullah saw. bersabda:

ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ุงู„ู’ู‚ูŽูˆููŠู‘ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽุญูŽุจู‘ู ุฅู„ูŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ู† ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ุงู„ุถู‘ูŽุนููŠููุŒ ูˆููŠ ูƒูู„ู‘ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ

Artinya: โ€œSeorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, daripada seorang mukmin yang lemah. Meskipun masing-masing memiliki kebaikanโ€ (Muslim, 4/2664).

Maka manusia-manusia pilihan Allah memiliki kebiasaan menjaga kesehatan dan kekuatan fisik.

4. Pekerjaan yang Kreatif (Al-ibdaโ€™):

Indikator keempat ini diinspirasi dari Ibn Baher, ketika ia mengartikan ulil aidi sebagai al-โ€˜amal.

Al-โ€˜amal secara sederhana artinya memang bekerja atau berbuat. Tetapi jenis pekerjaan yang akan membuat seseorang menjadi orang yang unggul tentu bukan pekerjaan biasa. Pekerjaan itu harus bersifat kreatif dan inovatif, sehingga mampu memberikan sumbangan yang baru bagi umat manusia.

Allah swt. memberikan contoh paling ideal dalam kreatifitas yang inovasi, ketika menciptakan langit dan bumi dengan segala yang ada di dalamnya.

Semua pekerjaan itu bersifat inovatif, tidak menjiplak dari yang ada sebelumnya. Semuanya diciptakan dari ketidak-adaan. Alquran menyebutnya โ€œBadiโ€™us samawati wal ardiโ€ (Al-Baqarah [2]: 117).

Penemuan-penemuan baru di bidang sains dan teknologi masuk dalam kategori ini.

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

SURAT AL FALAQ (Bag-2)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

AYAT 2
BERLINDUNG DARI KEJAHATAN MAKHLUK CIPTAAN ALLAH

ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ

Ayat ini menjelaskan – secara global – DARI APAKAH kita mesti berlindung kepada Rabbul falaq?

Yaitu dari kejahatan makhluk yang semuanya adalah ciptaanNya.

Semua makhluk diciptakan dengan hikmah dan tujuan. Kebaikan dan kelebihan yang ada pada makhluk akan membuat mereka saling membutuhkan sehingga interaksi antar mereka tak mungkin dihindari baik secara langsung atau tidak langsung. Oleh karena itu kita hanya berlindung dari kejahatan makhluk, bukan berlindung dari makhluk itu sendiri.

โ€œDalam situasi berinteraksi sesama makhluk, ada kejahatan yang muncul, sebagaimana ada kebaikan dan manfaat mereka dalam situasi yang lain. Dan permohonan perlindungan kepada Allah di sini adalah dari kejahatannya agar bertahan kebaikannya.โ€ (Fi Zhilal Al-Quran, 6/4007).

Setelah disebutkan kejahatan makhluk secara umum, ayat-ayat selanjutnya akan menyebutkan secara khusus apa saja bentuk kejahatan yang kita diminta berlindung darinya dengan membaca surat Al-Falaq ini.

Ada tiga hal terkait kejahatan yang disebutkan secara khusus:

1. Waktu yang biasanya banyak kejahatan terjadi di dalamnya, yaitu malam.

2. Sekelompok manusia yang profesi mereka dibangun di atas keinginan jahat terhadap orang lain, yaitu para penyihir.

3. Dan sekelompok manusia yang memiliki akhlak buruk yang memotifasi diri mereka untuk menyakiti orang lain. Merekalah para pendengki.

AYAT 3
BERLINDUNG DARI MALAM/GELAP JIKA IA DATANG

ูˆูŽู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ุบูŽุงุณูู‚ู ุฅูุฐูŽุง ูˆูŽู‚ูŽุจูŽ

Ghasiq: malam, idzaa waqab: jika ia telah masuk. Demikian riwayat dari Mujahid. (Tafsir Ath-Thabari, 24/702).

Setelah mengemukakan beberapa pendapat tentang makna ghasiq, Al-Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa makna ghasiq yang tepat menurut beliau adalah segala sesuatu yang berubah menjadi gelap. (Tafsir Ath-Thabari, 24/704).

Malam hari terutama saat ia semakin larut dan gelap adalah waktu di mana para penjahat biasanya beraksi memanfaatkan kelalaian dan kelelahan calon korbannya atau penegak hukum.

Di malam hari pula hewan malam yang berbahaya mencari mangsanya.

Suasana malam itu sendiri dengan kegelapan dan keheningannya kadang sudah menumbuhkan perasaan takut pada diri seseorang.

Jika kita memaknai gelap tidak secara lahiriah, maka suasana ketidakjelasan, ketersembunyian atau kekacauan juga merupakan kegelapan dan menjadi saat-saat krusial bagi berlangsungnya kejahatan, meskipun di siang hari.

AYAT 4
BERLINDUNG DARI KEJAHATAN PARA PENYIHIR ATAU PELAKU ILMU HITAM

ูˆูŽู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ุงู„ู†ู‘ูŽูู‘ูŽุงุซูŽุงุชู ูููŠ ุงู„ู’ุนูู‚ูŽุฏู

Setelah berlindung dari kejahatan malam, kita juga diperintahkan berlindung dari satu jenis kejahatan amat keji yang pelakunya kerap menggunakan malam untuk beraksi, yaitu sihir.

Dalam ayat ini digambarkan bahwa tukang sihir ini meghembus pada buhul yaitu benang atau tali yang dibuat simpul atau ikatan tertentu yang telah dibacakan mantra-mantra untuk mengganggu korbannya. Tukang sihir akan menjaga agar simpul tali ini tidak terurai, untuk itu mereka menyembunyikannya di tempat yang sulit ditemukan orang lain.

Di masyarakat Arab saat itu, mayoritas praktek sihir seperti ini dilakukan oleh perempuan, sehingga ayat ini mengungkapkan orang-orang yang menghembus pada buhul ini dalam bentuk jamak muannats salim (kata benda jamak untuk perempuan) yakni an-naffaatsaat. Kata an-naffaatsaat juga dapat diartikan jiwa-jiwa tukang sihir, sehingga berlaku juga pada tukang sihir laki-laki.

AYAT 5
BERLINDUNG DARI PENDENGKI JIKA IA MEWUJUDKAN

ูˆูŽู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ุญูŽุงุณูุฏู ุฅูุฐูŽุง ุญูŽุณูŽุฏูŽ

Kejahatan sihir biasanya dilakukan oleh tukang sihir karena kedengkiannya kepada orang yang akan disihirnya, atau tukang sihir itu melakukan sihir atas pesanan orang yang dengki.

Hasad atau dengki adalah keinginan seseorang agar kebaikan atau kelebihan orang lain lenyap atau bahkan bisa ia rebut.

Jika sifat hasad ini hanya tersimpan di dalam hati maka ia tidak membahayakan orang lain, hanya membahayakan pemilik sifat itu.

Oleh karena itu ayat ini mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan orang yang hasad yaitu apabila ia mewujudkan hasadnya dengan berbagai usaha keji, termasuk dengan sihir.

PENUTUP

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam dan ummatnya untuk berlindung kepadaNya dari kejahatan-kejahatan yang disebutkan oleh surat Al-Falaq ini menunjukkan betapa besarnya dosa kejahatan-kejahatan tersebut dan betapa hina pelakunya di sisi Allah.

Seorang muslim dan muslimah yang rutin membaca dzikir dan doa perlindungan yang disyariatkan, dengan izin Allah akan terhindar dari berbagai gangguan.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan ia tetap terkena gangguan kejahatan karena beberapa hal, diantaranya:

1. karena Allah hendak mengangkat lebih tinggi derajatnya seperti yang dialami oleh para Nabi dan Rasul yang mengalami luka atau musibah dalam perjuangan mereka.

Atau Allah hendak menghapus dosa hambaNya melalui gangguan kejahatan tersebut yang bisa jadi dosa itu tidak terampuni karena ia tak kunjung bertaubat. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูุตููŠุจูŽุฉู ูŠูุตูŽุงุจู ุจูู‡ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูุŒ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูƒููู‘ูุฑูŽ ุจูู‡ูŽุง ุนูŽู†ู’ู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุงู„ุดู‘ูŽูˆู’ูƒูŽุฉู ูŠูุดูŽุงูƒูู‡ูŽุงยป

Dari Aisyah radhiyallahu โ€˜anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang muslim terkena musibah, kecuali diampuni dosa karenanya, termasuk tusukan duri yang ia alami. (HR. Muslim).

2. tidak yakin atau kurang yakin dengan dzikir atau doa yang ia baca, atau tidak khusyuโ€™ hatinya saat membacanya.

Namun tetap saja dzikir yang ia baca akan lebih meringankan dampak buruk gangguan kejahatan itu baik pada fisiknya atau sikap mentalnya dalam menyikapi gangguan atau penyakit.

Artinya boleh jadi ia merasakan sakit secara fisik tetapi hal itu tidak membahayakan imannya kepada Allah, tidak merusak kesabaran menghadapinya dan rasa syukurnya kepada Allah atas berbagai niโ€™matNya.

ู„ูŽู†ู’ ูŠูŽุถูุฑู‘ููˆูƒูู…ู’ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽุฐู‹ู‰ ..

Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat madharat (bahaya) kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan saja. (QS. Ali Imran: 111).

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Urgensi Dua Kalimat Syahadat (ุฃู‡ู…ูŠุฉ ุงู„ุดู‡ุงุฏุชูŠู†) (Bag-1)

Pemateri: Ustadz DR Wido Supraha

Materi ini mengingatkan kaum muslimin akan pentingnya dua kalimat syahadat yang telah sangat dikenal sejak pertama kali mengenal Islam, bahkan dihafal dan terus menerus diulang pengucapannya setiap hari.

Namun adakah di antara Anda yang memaknai untaian kalimat singkat namun penuh makna ini? Bukankah dua kalimat ini kita lafazhkan setiap harinya?

Bagaimana sesungguhnya urgensi dari kalimat yang merupakan gerbang pertama seseorang untuk masuk ke dalam agama Islam?

Aqidah berasal dari kata โ€˜aqoda, bermakna maโ€™qudah (yang terikat).

Aqidah bagaikan ikatan perjanjian yang teguh dan kuat, karena ia terpatri dalam hati dan tertanam di dalam lembah hati yang paling dalam. Aqidah adalah iman dengan semua rukunnya yang enam.

Rukun pertamanya adalah mengucapkan syahadatain, dua kalimat syahadat.[1]

Tegaknya Islam wajib didahului tegaknya rukun Islam. Tegaknya Rukun Islam wajib didahului tegaknya syahadah.

Maka sedemikian pentingnya syahadah ini sehingga ia perlu mendapatkan perhatian khusus agar mendapatkan pemaknaan yang shahih, menentukan kebahagiaan hidup kita, dunia dan akhirat.

Bersama syahadat, kita saksikan generasi awal pemeluk agama ini (ุงู„ุณูŽู‘ุงุจูู‚ููˆู†ูŽ ุงู„ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ููˆู†ูŽ) memiliki kesabaran di atas rata-rata ketika disiksa, ditawan, dipukuli, dan berhijrah.

Syahadatain, dua kalimat syahadat, dua kalimat yang diucapkan sebagai persaksian seorang Muslim.

Kalimat pertama menegaskan bahwa โ€˜Tidak Ada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya selain Allahโ€™, dan kalimat kedua menegaskan bahwa โ€˜Muhammad Saw. adalah benar utusan Allah Swt.โ€™.[2] Yang dimaksud dengan kalimat ini adalah makna hakikinya bukan sekedar lafazhnya.

Maka kemudian, kedua kalimat ini melahirkan loyalitas (walaโ€™) dan penolakan (baraโ€™), sebagai wujud kelurusan tauhid.

Muslim pun akan tergerak untuk hanya mengesakan Allah, selalu bergantung kepada Allah, mengingkari dan berlepas diri dari segalah sesuatu yang disembah selain Allah. [3]

Berkata Ibn Qayyim al-Jauziyyah, โ€œTauhid itu mengandung kecintaan kepada Allah, ketundukan dan merendahkan diri kepada-Nya, patuh dengan sebenarnya untuk taโ€™at kepada-Nya, memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, menghendaki pertemuan dengan wajah-Nya Yang Maha Tinggi dengan segenap perkataan dan perbuatan, memberi dan menahan, mencinta dan marah karena-Nya, serta menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menyeret pada kedurhakaan kepada-Nya.โ€[4]

Begitu pentingnya pemaknaan yang benar akan konsep syahadat, dan melihat begitu banyak penyimpangan dalam sejarah pengembangan agama ini, maka lahirlah disiplin ilmu tauhid.

Kehadiran ilmu tauhid ini merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap aqidah Islam, baik dari sisi pemahaman, penarikan konklusi dalil, ataupun pembelaan terhadap ragam serangan yang telah pernah terjadi di masanya.

Ragam serang itu muncul karena lahirnya ragam pemikiran menyimpang sehingga membutuhkan upaya untuk pelurusan dan penguatan kembali.[5]

Bersyukurlah kita berada dalam keyakinan Islam. Islam dengan akidah ketuhanan menjadi penyempurna dan perbaikan bagi setiap akidah yang telah mendahuluinya dalam berbagai aliran keagamaan ataupun filsafat yang membahas masalah ketuhanan.[6]

Syahadatain merupakan awal sekaligus inti dari ber-Islam.
Syahadatain adalah akidah itu sendiri. Syahadatain adalah sesuatu yang kepadanya segala bentuk ketundukan sebagaimana makna ad-Din. Maka Islam adalah akidah, agama, dan manhaj hidup seorang mukmin.[7]

Syahadatin menjadi inti dan sumber motivasinya. Konsep ini membawa kita kepada keimanan dengan cara yang benar bahwa hanya kepada Allah kita beribadah, dan bahwa hanya Allah yang memiliki hak membuat syariat untuk manusia.[8]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Baqarah/2 ayat 143:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan [95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Kata wasathan hanya satu kali ditemukan dalam Al-Qurโ€™an, namun ada 4 kata lain yang menggunakan dasar kata yang sama didapati, dengan satu kata sebagai kata kerja.

Ummat wasathan adalah umat terbaik, sebagaimana dikatakan โ€˜Rasulullah wasathan fi qaumihiโ€˜, dan sebagaimana Shalat Wustha adalah shalat terbaik. Ketika Allah menjadikan Ummat ini sebagai ummatan wasathan maka Dia memberikan kekhususan kepadanya dengan syariโ€™at yang paling sempurna, jalan yang paling lurus, dan paham yang paling jelas.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Saโ€™id, juga disebutkan oleh Rasulullah bahwa kata al-wasath juga bermakna al-โ€˜adl, adil dan pilihan.[9]

Kata syahadah dengan ragam bentuknya dapat ditemukan sebanyak 160 kata di dalam Al-Qurโ€™an, 107 kata benda, dan 53 kata kerja. Sebagaimana kata โ€˜syahiidanโ€™, dalam Surat An-Nisaโ€™/4 ayat 41:

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu.:

1. Pintu Masuk ke dalam Islam

Memasuki agama Islam sangatlah mudah, hanya dengan memformalkan pengucapan syahadatain di atas keimanan.

Namun sesuatu yang mudah ini sangat sulit dilakukan oleh kafir Quraisy yang sangat memahami makna di balik kalimat yang mudah diucapkan tersebut. Kandungan dan konsekuensi logis di balik kalimat tersebut telah menahan mereka untuk kembali ke jalan Islam, jalan hidayah nan penuh kasih.

Dikatakan โ€˜kembaliโ€™, karena asasinya, manusia telah pernah berjanji di alam ruh, untuk sentiasa menyembah Allah semata.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Aโ€™raf/7 ayat 172;

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): โ€œBukankah Aku ini Tuhanmu?โ€ Mereka menjawab: โ€œBetul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksiโ€.

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: โ€œSesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)โ€,

Atau agar kamu tidak mengatakan:
โ€œSesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?โ€

Menurut Imam Jalaluddin Muhammad al-Mahalli, kata โ€˜min zhuhurihimโ€˜ merupakan badal isytimal (kata ganti yang mencakup) dari kata-kata sebelumnya, โ€˜min bani Adamโ€˜ dengan mengulang penyebutan huruf jar โ€˜minโ€˜.[10]

Maka kemudian kita menyaksikan bagaimana Nabi Muhammad Saw. telah berupaya mengislamkan seluruh isi bumi ini semaksimal kemampuan yang ada saat tersebut, sebagaimana hadits ke-8 Arbaโ€™in An-Nawawiyah berikut ini:

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฃูู…ูุฑู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูู‚ูŽุงุชูู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุดู’ู‡ูŽุฏููˆุง ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏุงู‹ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูู‚ููŠู’ู…ููˆุง ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉูŽ ูˆูŽูŠูุคู’ุชููˆุง ุงู„ุฒู‘ูŽูƒุงูŽุฉูŽุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ููˆุง ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽุตูŽู…ููˆุง ู…ูู†ู‘ููŠ ุฏูู…ูŽุงุกูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูŽู€ู‡ูู…ู’ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุญูุณูŽุงุจูู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ู‰ูŽ [ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู…

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah taโ€™ala. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Muhammad/47 ayat 19,

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang muโ€™min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.”

Kalimat โ€˜wastaghfir li dzanbikaโ€˜ mengikuti untaian kalimat tauhid menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan antara pernyataan dan perbuatan merupakan dosa.

Maka selain menjaga kemurnian kalimat tauhid dengan amal ibadah yang shahih, seorang Muslim juga dituntut untuk tidak menyombongkan diri di atas kalimat tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Surat Ash-Shaffat/37 ayat 35:

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: โ€œLaa ilaaha illallahโ€ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.

Maka hanya dengan ilmu-lah, seorang Muslim akan terhindar dari kesombongan diri, dan bersyahadat dalam arti yang sebenarnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali โ€˜Imran/3 ayat 18,

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu ย (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Perlu diketahui bahwa kata paduan qa-sin-tha ini digunakan dalam 27 kata di dalam Al-Qurโ€™an, dengan 14 kata di antaranya adalah kata โ€˜bil qisthโ€˜. 24 kata darinya adalah kata benda, dan 3 kata merupakan kata kerja

2. Intisari Ajaran Islam

Syahadatain menjadi inti dari ajaran Islam.
Keimanan sebagai motivator kehidupan sekaligus asas amal. Gerak hati menjadi lebih penting daripada gerak jasmani.

Sebab hati sumber dan pengarah amal. Jika hati penuh dengan keimanan, keikhlasan, ketakwaan, maka amal jasmani mendapat ridha dan pahala dari-Nya. Maka wajib setiap Muslim untuk memperbaiki ibadah hati. [11]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Anbiya/21 ayat 25,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: โ€œBahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Akuโ€.

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Al-Jasiyah/45 ayat 18,

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”

Maka prinsip syahadatain yang menjadi intisari ajaran Islam adalah sebagai pernyataan penghambaan dan ibadah hanya kepada Allah. Pernyataan bahwa Rasulullah menjadi teladan dalam penghambahan dan ibadah tersebut.

Pernyataan bahwa penghambaan dan ibadah itu meliputi seluruh aspek kehidupan.

Bersambung


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

ASAS PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH

Pemateri: Ustadzah. Aan Rohana

Islam merupakan agama yang sempurna, mengatur segala sisi kehidupan manusia, sehingga tidak ada yang dibiarkan tanpa ada syariatnya.

Allah berfirman:

ู…ุง ูุฑุทู†ุง ูุงู„ูƒุชุงุจ ู…ู† ุดูŠุก

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang kami tinggalkan di dalam al-quran”. ( QS. 6 : 38).

Karena itu, Al-quran telah memberikan arahan yang jelas tentang kehidupan berkeluarga yang merupakan salah satu tahapan terpenting dalam kehidupan manusia, sehingga bisa dibentuk menjadi keluarga yang sakinah penuh berkah dan selalu diridhai Allah SWT, yaitu keluarga yg Islami yang bisa menyiapkan generasi yang shalih , generasi pemimpin bagi orang2 yang ย bertakwa sehingga bisa menjadi permata hati bagi siapa saja serta semua anggota keluarga bahagia di dunia dan di akhirat . Inilah yang menjadi cita2 bagi semua orang tua.

Allah berfirman:

ูˆุงู„ุฐูŠู† ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ุฑุจู†ุง ู‡ุจ ู„ู†ุง ู…ู† ุงุฒูˆุงุฌู†ุง ูˆุฐุฑุจุงุชู†ุง ู‚ุฑุฉ ุงุนูŠู† ูˆุงุฌุนู„ู†ุง ู„ู„ู…ุชู‚ูŠู† ุงู…ุงู…ุง

Artinya: ” Dan orang2 yang berkata: ya Tuhan kami anugrahkanlah kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati ( kami ) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” ( QS. 25 : 74 ).

Dalam ayat lain Allah berfirman :

ุฑุจู†ุง ูˆุงุฏุฎู„ู‡ู… ุฌู†ุงุช ุนุฏู† ุงู„ุชู‰ ูˆุนุฏุชู‡ู… ูˆู…ู† ุตู„ุญ ู…ู† ุงุจุง ุฆู‡ู… ูˆุงุฒูˆุงุฌู‡ู… ูˆุฐุฑูŠุง ุชู‡ู… ุฅู†ูƒ ุงู†ุช ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุงู„ุญูƒูŠู…. ูˆู‚ู‡ู… ุงู„ุณูŠุฆุงุช ูˆู…ู† ุชู‚ ุงู„ุณูŠุฆุงุช ูŠูˆู…ุฆุฐ ูู‚ุฏ ุฑุญู…ุชู‡ ูˆุฐุงู„ูƒ ู‡ูˆ ุงู„ููˆุฒ ุงู„ุนุธูŠู…

Artinya : ” Ya Tuhan kami dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Aden yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang2 yang shaleh diantara bapak2 mereka dan istri2 mereka dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari kejahatan2, barang siapa yang Engkau jaga dari kejahatan pada saat itu , maka sungguh Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya, dan demikian itulah kemenangan yang agung “. ( QS. 40 : ย 8 – 9 ).

Begitupun Rasulullah telah memberikan arahan untuk kebahagian keluarga itu tergantung kepada pasangan yang shaleh, rumah yang nyaman dan kendaraan yang baik.

Beliau bersabda:

ู…ู† ุณุนุงุฏุฉ ุงุจู† ุงุฏู… ุซู„ุงุซุฉ ูˆู…ู† ุดู‚ุงูˆุฉ ุงุจู† ุงุฏู… ุซู„ุงุซุฉ . ู…ู† ุณุนุงุฏุฉ ุงุจู† ุงุฏู… : ย ุงู„ู…ุฑุงุฉ ุงู„ุตุงู„ุญุฉ ูˆุงู„ู…ุณูƒู† ุงู„ุตุงู„ุญ ูˆุงู„ู…ุฑูƒุจ ุงู„ุตุงู„ุญ . ูˆู…ู† ุดู‚ุงูˆุฉ ุงุจู† ุงุฏู… ย ุงู„ู…ุฑุงุฉ ุงู„ุณูˆุก ูˆุงู„ู…ุณูƒู† ุงู„ุณูˆุก ูˆุงู„ู…ุฑูƒุจ ุงู„ุณูˆุก . ุฑูˆุงู‡ ุงุญู…ุฏ

Artinya : ” Faktor yang membahagiakan anak Adam itu ada tiga perkara dan faktor yang mencelakakan juga ada tiga perkara. Diantara faktor yang membahagiakannya adalah wanita ( istri ) shalihah , tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Sedangkan faktor yang mencelakakan anak Adam adalah wanita ( istri ) yang jahat, tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk “. ( HR. Ahmad ).

Pembentukan keluarga sakinah; keluarga Islami sangat penting untuk menuju pada terbentuknya masyarakat yang berperadaban dan bermartabat. Maka keluarga sakinah harus bisa menegakkan nilai2 Islami pada seluruh anggota keluarga, sehingga mereka menyatu untuk beribadah karena Allah dalam perasaan damai penuh cinta dan sayang untuk bersama2 meraih berkah dan ridha Allah SWT. Inilah suasana rumah bagaikan suasana surga yang sering disebut batii jannatii.

Adapun asas pembentukan keluarga sakinah ; keluarga Islami sebagai berikut:

1. Didirikan diatas landasan takwa.

Takwalah yang bisa membuat suami istri ย melaksanakan berbagai kewajiban dengan lapang tanpa beban. Sekalipun dalam berkeluarga tidak selalu senang , tapi dengan takwa dalam duka pun bisa tetap ikhlas berkeluarga karena Allah.

Untuk mewujudkan dan mempertahankan keluarga yang sakinah ย diperlukan ย pengorbanan dan perjuangan. Tapi suami istri tidak akan lelah untuk berkorban dalam keluarga selama itu dilakukan karena takwanya kepada Allah. Allah berfirman:

ูŠุงุงูŠู‡ุง ุงู„ู†ุงุณ ุงุชู‚ูˆุง ุฑุจูƒู… ุงู„ุฐูŠ ุฎู„ู‚ูƒู… ู…ู† ู†ูุณ ูˆุงุญุฏุฉ ูˆุฎู„ู‚ ู…ู†ู‡ุง ุฒูˆุฌู‡ุง ูˆุจุซ ู…ู†ู‡ู…ุง ุฑุฌุงู„ุง ูƒุซูŠุฑุง ูˆุงุชู‚ูˆุง ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฐูŠ ุชุณุงุกู„ูˆู† ุจู‡ ูˆุงู„ุงุฑุญุงู… ุงู† ุงู„ู„ู‡ ูƒุงู† ุนู„ูŠูƒู… ุฑู‚ูŠุจุง

Artinya: ” ย Wahai manusia bertakwalah kepada TuhanMu yang telah menciptakan kamu ( Adam) dari satu jiwa dan Allah menciptakan pasangannya ย ( Hawa) dari dirinya, dan dari keduanya Allah mengembangbialkan laki2 dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu ” ( QS. 4 : 1 )

2. Ditegakkan diatas landasan ibadah kepada Allah.

Keluarga harus didirikan atas dasar karena beribadah kepada Allah . Karena itu sejak memilih pasangan hendaknya karena agamanya bukan semata karena kecantikan, atau kegagahan, kekayaan, maupun jabatannya. Sehingga rumah tangga yang dibangun penuh dengan suasana ibadah, sebab manusia diciptakan hanya untuk beribadah.

Allah berfirman:

ูˆู…ุง ุฎู„ู‚ุช ุงู„ุฌู† ูˆุงู„ุงู†ุณ ุงู„ุง ู„ูŠุนุจุฏูˆู†

Artinya : ” Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. ( QS. 51 : 56 ) .

Jika semua kewajiban dilakukan dengan tujuan ingin beribadah kepada Allah. Maka apapun yang dilakukan untuk keluarga semata2 hanya ingin menjadi ibadah yang berpahala di sisi Allah. Maka jika ada permasalahan dalam keluarga akan mudah diselesaikan dalam bingkai ketaatan kepada Allah SWT.

3. Internalisasi nilai2 Islam secara kaffah (menyeluruh).

Keluarga harus dibiasakan untuk disiplin ย dalam melaksanakan nilai2 Islam secara kaffah sehigga mereka memiliki komitmen dengan nilai2 Islam. Diharapkan dengan komitmen tersebut keluarga menjadi benteng yang kuat dari perilaku tidak bermoral.

Allah berfirman:

ูŠุง ุงูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุงู…ู†ูˆุง ุงุฏุฎู„ูˆุง ููŠ ุงู„ุณู„ู… ูƒุงูุฉ

Artinya : ” Wahai manusia masuklah kamu ke dalam ajaran Islam secara kaffah” (QS. 2 : 208 ).

4. Keteladanan

Untuk menciptakan keluarga yang Islami diperlukan keteladanan yang nyata dari kedua orang tua. . Sekalipun pembiasaan, pendampingan serta pengarahan yang baik dari kedua orang tua juga penting, tapi sebelum itu semua diperlukan lebih dulu keteladan yang nyata dari kedua orang tua yang ย selalu bergerak di hadapan anak2.

Allah berfirman:

ูŠุงุงูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุงู…ู†ูˆุง ู„ู… ุชู‚ูˆู„ูˆู† ู…ุงู„ุง ุชูุนู„ูˆู†. ูƒุจุฑ ู…ู‚ุชุง ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงู† ุชู‚ูˆู„ูˆ ู…ุงู„ุง ุชูุนู„ูˆู†

Artinya : ” Wahai orang2 yang beriman mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan. Amat besar dosa bagi orang yang mengatakan tetapi tidak melakukan “. ( QS. 61 : 2 -3 ).

Allah berfirman dalam ayat lain:

ุฑุจ ุงุฌุนู„ู†ูŠ ู…ู‚ูŠู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆู…ู† ุฐุฑูŠุชูŠ

Artinya: ” Wahai Tuhanku jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat dan demikian juga keturunanku” ( QS. 14 : 40 ).

5. Melaksanakan kewajiban

Setiap suami istri harus bisa melaksanakan kewajiban masing2 sesuai dengan tuntunan Islam sehingga suasana dalam keluarga harmonis , tidak banyak tuntutan, protes dan pertikaian.

Jika hal tersebut bisa dilakukan dengan baik oleh suami istri , maka insya Allah hal itu bisa membuat mereka mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Allah berfirman:

ูˆู„ุง ุชุชู…ู†ูˆุง ู…ุง ูุถู„ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ุจุนุถูƒู… ุนู„ู‰ ุจุนุถ ู„ู„ุฑุฌุงู„ ู†ุตูŠุจ ู…ู…ุง ุงูƒุชุณุจูˆุง ูˆู„ู„ู†ุณุงุก ู†ุตูŠุจ ู…ู…ุง ุงูƒุชุณุจู† ูˆุงุณุงู„ูˆุง ุงู„ู„ู‡ ู…ู† ูุถู„ู‡ ุงู† ุงู„ู„ู‡ ุจูƒู„ ุดูŠุฆ ุนู„ูŠู…ุง

Artinya: ” Dan janganlah kamu iri hati ย terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Bagi orang laki2 ada bagian dari ย apa yang mereka usahakan, dan wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah dari sebagian karunia Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui terhadap segala sesuatu”. ( QS. 4 :32)

Maka tidak akan ada keguncangan keluarga , ย tidak akan ada pertengkaran diantara ย suami istri , dan tidak ada keributan diantara mereka untuk ย saling menuntut haknya selama mereka dapat ย memenuhi kewajiban ย masing2.

6. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

Tidak ada suami dan istri ย yang memiliki segalanya sehingga mereka memerlukan kerja sama satu sama lain. Tidak ada suami istri yang sempurna sehingga mereka harus saling melengkapi. Sungguh berat perjuangan suami istri ย untuk menciptakan generasi yang shaleh dan shalihah dan menjadi generasi imamul muttaqin tanpa ada saling membantu.

Maka untuk mensukseskan visi misi keluarga sakinah harus siap untuk saling tolong menolong antara suami dan istri dalam kebaikan dan takwa.

Allah berfirman:

ูˆุชุนุงูˆู†ูˆุง ุนู„ู‰ ุงู„ุจุฑ ูˆุงู„ุชู‚ูˆู‰

Artinya : ” Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa” ( QS. 5 : 2 ).

7. Jujur

Jujur harus menjadi asas atau fondasi dalam membentuk keluarga sakinah sejak proses memilih pasangan, penyelenggaraan akad nikah, keberlangsungungan rumah tangga hingga ajal menjemput.

Suami istri harus jujur terhadap dirinya sendiri dan harus jujur terhadap orang lain. Mereka harus jujur terhadap hatinya, jujur terhadap lisannya, jujur terhadap yang hak dan jujur terhadap yang bathil. Sehingga jujur akan menjadi cahaya dalam segala urusan.

Selain itu jujur dalam berumah tangga akan mendangkan keberkahan dan kemudahan dalam melahirkan berbagai kebaikan ,

Rasulullah bersabda:

ุงู† ุงู„ุตุฏู‚ ูŠู‡ุฏู‰ ุงู„ู‰ ุงู„ุจุฑ ย ูˆุงู„ุจุฑ ูŠู‡ุฏู‰ ุงู„ู‰ ุงู„ุฌู†ุฉ ูˆุงู† ุงู„ูƒุฐุจ ูŠู‡ุฏูŠ ุงู„ู‰ ุงู„ูุฌูˆุฑ ูˆุงู„ูู‹ุฌูˆุฑ ูŠู‡ุฏูŠ ุงู„ู‰ ุงู„ู†ุงุฑ ย . ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑู‰ ูˆ ู…ุณู„ู…

Artinya : ” Sesungguhnya jujur itu menunjukkan pada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan pada surga, dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan pada perbuatan dosa dan perbuatan dosa menunjukkan pada neraka”. (HR. Bukhari dan Muslim. )

Maka jangan ada dusta antara suami istri, karena dusta akan menjadi sumber berbagai keburukan dalam berumah tangga.

ย 8. Sabar

Berkeluarga itu terkadang diuji oleh masalah kejiwaan, masalah perasaan, masalah harta, masalah pendidikan anak, perbedaan karakter, perbedaan budaya dll. Karena itu untuk mempertahankan keutuhan dan keharmonisan dalam keluarga harus selalu bersabar. Sabar memang berat tapi sabar itu menjadi syarat dalam mendatangkan keberuntungan dan kesuksesan .

Allah berfirman :

ูŠุง ุงูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุงู…ู†ูˆุง ุงุตุจุฑูˆุง ูˆุตุงุจุฑูˆุง ูˆุฑุงุจุทูˆุง ูˆุงุชู‚ูˆุง ุงู„ู„ู‡ ย ู„ุนู„ูƒู… ุชูุงุญูˆู†

Artinya: ” Hai orang2 yang beriman bersabarlah, dan kuatkanlah kesabaran, dan bersiap siagalah dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. ( QS. 3 : 200 ).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

ย ูŠุง ุงูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุงู…ู†ูˆุง ุงุณุชุนูŠู†ูˆุง ุจุงุงู„ุตุจุฑ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ุงู† ุงู„ู„ู‡ ู…ุน ุงู„ุตุงุจุฑูŠู†

Artinya : ” Wahai orang2 yang beriman mintalah tolong pada sabar dan shalat, sesungguhnya Allah selalu bersama orang2 yang sabar” ( QS. 2 : 153 ).

Demikianlah 8 asas pembentukan keluarga sakinah; keluarga Islami yang menjadi dambaan bagi setiap keluarga muslim.

Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan dalam merealisasikan 8 asas tersebut kepada kepada kita semua, aamiin


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678