Al Quran dan Hadits

Tolong Menolong dalam Kemungkaran

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya kalau ada saudara kita yang menitipkan uangnya untuk disimpan dalam rekening bank kita, sementara kita tau bahwa uang itu adalah uang simpanan yang asalnya kurang jelas (seperti hasil pemberian orang lain/korupsi) ? apa saya juga bisa terkena dosa atas perbuatan saudara saya tersebut?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika kita tahu itu uang haram, dan dia nitip ke kita maka lebih hati-hati adalah menolaknya. Sebab seolah itu melindunginya.

ولا تعاونوا علي الاثم والعدوان

Dan janganlah kamu saling tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran.

(QS. Al-Maidah: 2)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tidak Termasuk Najis

Status Bangkai Hewan Yang Tidak Mengalir Darahnya

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah bangkai binatang yang tidak memiliki darah itu najis? Lalu jika najis bagaimana cara mensucikannya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir, menurut umumnya ulama adalah tidak najis.

Dasarnya adalah hadits berikut:

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ ، فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ، ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ ، فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً ، وَفِي الْآخَرِ دَاءً

“Apabila seekor lalat hinggap di tempat minum salah seorang dari kalian, hendaknya ia mencelupkan ke dalam minuman tersebut, kemudian membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya.” [1]

Hadits ini menunjukkan bahwa lalat -hewan yang tidak mengalir darahnya- adalah suci. Jika dia najis, sudah pasti Nabi ﷺ akan memerintahkan membuangnya bukan mencelupnya.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan dalam Zaadul Ma’ad:

“Hadits ini menjadi dalil yang begitu jelas bahwa Lalat yang mati dan terjatuh ke air atau benda cair tidaklah itu membuatnya menjadi najis, tidak diketahui adanya salaf yang menyelesihi ini.” Beliau juga berkata: “Kemudian hukum ini juga berlaku bagi hewan lain yang darahnya tidak mengalir seperti Lebah, Kumbang, Laba-laba, dan semisalnya.” [2]

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata: “Ada pun cicak, pendapat jumhur adalah hewan yang darahnya tidak mengalir.” [3]

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata: “Hewan yang darahnya tidak mengalir semua bagian anggota tubuhnya adalah suci dan kotorannya juga.” [4]

Imam Syamsuddin bin Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah – yang dijuluki Asy Syafi’iy Ash Shaghir (Asy Syafi’i Kecil)- berkata:

“Dan dikecualikan sebagai najis yaitu bangkai yang tidak mengandung darah yang mengalir pada tempat lukanya, termasuk yang pada dasarnya itu hewan memiliki darah, atau darahnya tidak mengalir, seperti cicak, tawon, kumbang, lalat, dan semisalnya. Maka, itu tidak menajiskan benda cair.” [5]

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

[1] HR. Bukhari no. 5782

[2] Imam Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, 4/111

[3] Imam An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/129

[4] Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 1/768

[5] Imam Syamsuddin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, 1/81

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Angan Angan dan Ajal

Ketika Jelang Habis Masa

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Tertegun diri mengingat usia yang tak lagi muda. Langkah kaki mulai melemah tak berdaya. Mata mulai rabun ketika senja telah tiba. Telinga pun sudah mulai berkurang kepekaannya.

Hari berganti pekan tak terasa waktu sudah penuh sebulan. Begitu pun bulan berlalu hingga tiba di tahun depan. Putaran waktu tak ada yang bisa menahan. Hingga tiba di penghujung kehidupan.

Lantas kita akan bertanya.
Kapan jadwal ajalku? Tak ada jawaban atas pertanyaan. Tak pernah kita tahu kapan hidup ini akan berakhiran.

Mati bukan soal usia. Ada yang baru terlahir di dunia Allah sudah panggil menghadap-Nya. Ada yang berusia remaja ternyata sudah habis masanya. Ada yang mulai tumbuh mendewasa ternyata telah sampai di batas umurnya. Bahkan sudah tua renta Allah masih ijinkan untuk menikmati hidupnya.

Suatu ketika Hasan Al-Bashri mengangkat pertanyaan di suatu majelis, “Wahai para orang lanjut usia yang terhormat, apakah yang dinanti dari tanaman pertanian yang sudah tua?” Mereka menjawab, “Masa panen.” Lalu Hasan Al-Bashri melemparkan pandangannya pada para pemuda dan berkata, “Para pemuda yang kucintai, ingatlah adakalanya tanaman itu layu sebelum tua.”

Mari kita pejamkan mata sejenak dan renungi nasihat Hasan Al Bashri hingga menyadari bahwa semua yang berlalu tak bisa kembali. Maka tanamlah kebaikan hingga kelak mulia saat berjumpa kematian.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa

Menjahrkan Bacaan lsti’adzah

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Sebagaimana dikatakan oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam Raudhah ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin, bacaan isti’adzah ini tidak dibaca jahr di dalam shalat sirriyah. Namun di dalam shalat jahriyah, terdapat beberapa pendapat di dalam madzhab Syafi’i sendiri. Ada yang mengatakan bahwa ia sunnah dibaca jahr sama seperti ketika mengucapkan basmalah dan amin, ada juga pendapat bahwa dalam hal ini terdapat dua pilihan, boleh jahr dan boleh sirr. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa ia tidak dibaca jahr, bahkan dikatakan bahwa yang sunnah adalah membacanya dengan sirr.

Pendapat yang mengatakan bahwa yang sunnah sebagaimana disebutkan oleh Imam an-Nawawi di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab adalah jahr melihat bahwa bacaan lsti’adzah itu mengikuti bacaan al-Qur’an, sehingga ketika ia dibaca jahr, maka isti’adzahnya pun dibaca jahr. Di antara yang mengatakan bahwa ia dibaca jahr adalah Abu Hurairah. Sementara pendapat yang mengatakan bahwa boleh memilih salah satu antara jahr dan sirr adalah karena kedua-duanya sama-sama bagus. Di antara yang mengatakan demikian adalah Ibn Laila. Imam asy-Syafn’i (w. 204 H) di dalam al-Umm juga membolehkan keduanya.

Adapun pendapat bahwa yang sunnah adalah membacanya dengan sirr yaitu pendapat yang paling kuat di antara dalilnya adalah firman-Nya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf [7]: 205) Isti’adzah sebenarnya termasuk dzikir, semenatara asalnya dzikir sendiri adalah dibaca dengan sirr.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keutamaan Hari Jum'at

Hukum Meninggalkan Sholat Jumat

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, kalau misalnya ada laki-laki yang tidak shalat jumat sedang dia muslim, apa hukumnya? Apakah dia bukan termasuk golongan umat islam lagi karena pernah denger ini termasuk tanda orang kafir, benarkah? Mohon penjelasannya. A_43

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Meninggalkan shalat Jum’at sudah menjadi hal biasa bagi sebagian orang. Sampai seringkali meninggalkannya. Padahal shalat ini adalah kewajiban yang tidak perlu lagi disangsikan. Dalil pendukungnya pun dari Al Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ ulama. Maka sudah barang tentu yang meninggalkannya akan menuai petaka.

Kewajiban shalat Jum’at ditunjukkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jum’ah: 9).

Mayoritas ahli tafsir mengatakan, yang dimaksud ‘dzikrullah’ atau mengingat Allah di sini adalah shalat Jum’at. Sa’id bin Al Musayyib mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mendengar nasehat (khutbah) pada hari Jum’at. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 8: 265)

Dikuatkan lagi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

“(Shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067)

Begitu pula disebutkan dalam sabda lainnya,

رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

“Pergi (shalat) Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah.” (HR. An Nasai no. 1371)

Lalu bagaimana jika seseorang meninggalkan shalat Jum’at? Apa akibat yang menimpa dirinya?

Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, keduanya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim no. 865)

Dalam hadits lain disebutkan,

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Daud no. 1052, An Nasai no. 1369, dan Ahmad 3: 424)

http://youtube.com/sobatquranchannel

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Kapan Dibolehkan Memakai Sutera?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, dlm aturan agama, laki2 tdk diperbolehkan memakai pakaian dr sutera…bgmn dg dasi sutera ustadz..bolehkah laki2 memakainya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Keharaman terhadap sutera, tidaklah mutlak. Ada kondisi pengecualian yang membuatnya boleh digunakan.

Ketika sakit dan untuk pengobatan

Dalilnya:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ
رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلزُّبَيْرِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي لُبْسِ الْحَرِيرِ لِحِكَّةٍ بِهِمَا

“Dari Anas dia berkata; Nabi ﷺ pernah memberi izin kepada Zubair dan Abdurrahman untuk memakai kain sutera karena penyakit gatal yang dideritanya.”

(HR. Bukhari no. 5839)

Dipakai dalam kadar sangat sedikit

Dalilnya:

عن سويد بن غفلة أن عمر بن الخطاب خطب بالجابية فقال نهى نبي الله صلى الله عليه وسلم عن لبس الحرير إلا موضع إصبعين أو ثلاث أو أربع

Dari Suwaid bin Ghafalah bahwa ‘Umar bin Al Khaththab pernah berpidato di Jabiyah sebagai berikut;
“Rasulullah ﷺ melarang memakai sutera kecuali sekedar dua, tiga, atau empat jari saja.”

(HR. Muttafaq ‘Alaih)

Jadi, jika bercampur dgn bahan lain, prosentasenya sangat kecil, maka masih dibolehkan. Ada pun jika sebuah bahan adalah murni sutera baik kecil atau banyak, maka tetap terlarang.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam berkata:

فيه استثناء قدر الإصبعين أو الثلاث أو الأربع، إذا كان تابعا لغيره. أما المنفرد، فلا يحل منه، قليله ولا كثيره كخيط مسبحة، أو ساعة أو نحو ذلك

Pada hadits ini ada pengecualian seukuran dua jari, tiga atau empat, jika bahannya diikuti bahan lainnya. Ada pun jika hanya sutera, tetaplah tidak halal baik sedikit atau banyak, seperti benang tasbih, jam, dan semisalnya.

(Taisir Al ‘Alaam Syarh ‘Umdah Al Ahkaam, 2/219)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tidur Secukupnya

Pencari Surga itu Sedikit Tidur

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

من لزم الرقاد عدم المراد

“Barang siapa terlalu banyak tidur maka akan banyak kehilangan cita cita nya”

Hasan Al Bashri berkata:

” لم أرى مثل الجنة نام طالبها ولم أرى مثل النار نام هاربها”

Aku belum melihat orang yang mencari syurga itu tidur dan aku belum melihat orang yang takut neraka juga tidur”

Sungguh keindahan nikmat syurgawi membuat para perindunya terbangun di akhir akhir malam, menjauhkan lambungnya dari tempat tidur kemudian ia larut dalam istighfar menyesali kesalahannya”

Sungguh dahsyatnya siksa neraka membuat mata ini tidak ingin banyak tidur, karena sehari saja di neraka maka ia sama dengan seribu tahun di dunia.

Tidurlah secukupnya dan jangan terlalu banyak karena hidup ini singkat sedangkan yang harus di kerjakan itu banyak.

Meski di syurga nanti kita tidak tidur, karena tidur adalah saudara kematian, sedangkan di syurga adalah tempat keabadian.

Penduduk Syurga itu tidak tidur, karena istirahat mereka tidak membutuhkan tidur dan penduduk neraka itu juga demikian karena azab mereka terus menerus.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Toleransi

TOLERANSI DI HARI RAYA AGAMA LAIN

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Jauh sebelum istilah toleransi antara umat beragama didengungkan dan ramai dibicarakan, sejak awal ajaran Islam sudah mengajarkan nilai-nilai yang menjadi prinsip toleransi antara umat beragama, yaitu Tidak menghalangi keyakinan orang yang beragama lain dan tidak memaksa mereka untuk pindah keyakinan ke dalam agama kita dan kemudian tidak menyakiti dan mengganggu mereka semata karena agamanya.

Allah Taala berfirman,

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam) (QS. Al-Baqarah: 256)

Di ayat lain Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Maka, apabila seorang muslim memahami agamanya dengan baik dan utuh lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, hal itu akan menjadikannya sebagai muslim yang toleran terhadap saudara-saudara kita yang belainan agama.

Termasuk dalam hal menyikapi hari raya agama lain. Maka sikap yang benar sesuai syariat Islama adalah tidak melarang mereka merayakan hari raya mereka, tidak mengganggu dan menyakiti mereka merayakan hari rayanya di tempat-tempat ibadah mereka atau di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Karena itu, tidaklah dibenarkan, bahkan layak dikecam, dengan alasan apapun, menghalangi dan mengganggu orang yang beragama lain merayakan hari rayanya, apalagi jika sampai menimbulkan kerusakan dan korban nyawa. Itu adalah perbuatan yang layak dikutuk.

Namun di sisi lain, yang patut diingatkan adalah bahwa ajara Islam yang mengajarkan kita untuk bersikap baik, tidak mengganggu dan menyakiti orang yang beragama lain di hari rayanya, juga adalah ajaran yang mengajarkan kita untuk menjaga jatidiri dan identitas muslim sebaik-baiknya serta tidak mencampur adukkan masalah akidah dan ibadah. Dalam hal ini, wujudnya adalah tidak ikut serta dalam pelaksanaan hari raya mereka. Karena hari raya suatu agama adalah perkara yang sangat spesial dan khusus bagi agama itu sendiri.

Rasulullah saw bersbada pada hari raya Islam,

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا (رواه البخاري ومسلم)

“Setiap kaum ada Idnya, dan ini adalah Id kita.” (HR. Ibnu Majah)
Maka dilarang bagi seorang muslim melakukan tasyabuh (menyerupai) pada perkara yang khusus dan special bagi suatu agama, apakah dalam bentuk sikap, penampilan, pakaian, gerakan, dll. Sebagaimana sabda Rasulullah saw

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَومٍ فَهُوَ مِنْهُم (رواه أبو داود)

Siapa yang menyerupai mereka, maka dia bagian dari mereka (HR. Abu Daud)

Para ulama mengatakan bahwa hadits ini merupakan peringatan untuk tidak menyerupai orang-orang kafir atau ahli maksiat terkait perkara-perkara yang bersifat khusus sebagai identitas mereka.
Karena itu, jika menyerupai mereka yang berlainan agama terkait dengan perkara-perkara khusus mereka, dilarang dalam Islam, apalagi jika ikut serta dalam perayaan agama mereka yang didalamnya terdapat ritual keagamaan mereka dan berbagai keyakinan yang menyertainya.

Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan, ketika datang ke Madinah mendapatkan penduduk Madinah bergembira ria di dua hari yang mereka anggap sebagai hari raya mereka. Maka beliau bersabda.

إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُم بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر

Allah sudah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari kedua hari tersebut; Idul Adha dan Idul Fitri. (HR. Abu Daud)

Karena itu Majlis Ulama Indonesia (MUI) sejak jauh-jauh hari dalam fatwanya yang dikeluarkan pertahun 1401 H/1981 M telah tegas menyatakan haram ikut serta menghadiri upacara natal dan menganjurkan untuk tidak terjerumus dalam perkara syubhat dengan tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Ini bukanlah sikap intoleran atau tidak bertoleransi. Karena toleransi berlaku pada sikap baik dalam perkara-perkara yang bersifat duniawi. Adapun jika berkaitan dengan keyakinan, ibadah dan perkara yang menjadi ciri khas mereka, maka kita memiliki pedoman yang jelas dan tegas; Lakum diinukum waliyadiin (bagi kalian agama kalian, dan bagiku adalah agamaku)

Surat Al-Kafirun yang mengandung ayat di atas diturunkan sebagai jawaban dari tawaran orang kafir Quraisy kepada Rasulullah saw untuk melakukan ibadah secara bergantian, sekali waktu mereka ikut beribadah seperti orang beriman, sekali waktu orang beribadah ikut cara mereka. Maka Allah turunkan surat Al-Kafirun yang sangat kita hafal tersebut sebagai bantahan bahwa soal ibadah dan keyakinan maka hendaklah memegang prinsip dan pengamalan sendiri. Tidak boleh dicampuradukkan.

Demikianlah Islam mengajarkan sebuah ajaran yang agung namun penuh keseimbangan. Yaitu bagaimana kita sebagai muslim memiliki akidah yang kuat, ibadah yang benar, identitas dan jatidiri yang jelas, namun tetap memberikan penghormatan kepada mereka yang berlainan agama, tidak menyakiti dan mengganggu mereka.

Jangan sampai keimanan dan ketaatan, kita dijadikan alasan untuk menyakiti dan mengganggu umat beragama lain. Tapi jangan sampai juga, tuntutan toleransi membuat kita luntur dalam akidah, rusak dalam ibadah serta kehilangan identitas dan jatidiri. Semoga Allah kuatkan iman islam kita dan berikan kita kemampuan untuk berakhlak mulia dan berlaku baik kepada siapapun termasuk kepada mereka yang berlainan agama.

بارك الله لي وليكم في القرآن العظيم

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Masuk Surga dengan Mudah Menyantuni Anak Yatim

Menyantuni Anak Yatim Baligh

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah tidak sah/tepat jika kita menyantuni anak yatim yang telah baligh? Infaq dari jamaah hanya diperuntukkan untuk anak yatim, sedangkan anaknya sudah baligh, tetapi anak-anak tersebut masih membutuhkan biaya untuk sekolah dan lainnya. Tetapi terjadi perbedaan pendapat di majelis kami. Beberapa anggota tidak tega rasanya jika dia tidak mendapatkan bantuan anak yatim.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Anak yatim berakhir statusnya JIKA:

1. Dia masuk usia baligh

2. Atau walau pun tidak baligh, ibunya nikah lagi sehingga ada ayah baru yang menjadi penanggungjawabnya..

Sehingga jika disebut “santunan anak yatim” memang sudah tidak cocok.. TAPI jika anak itu fakir/miskin masih berhak disedekahi karna kemiskinannya bukan karena keyatimannya yang sudah berakhir. Jadi tidak masalah..

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Katak dan Cicak

Anjuran Membunuh Cicak

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, Apa hukumnya membunuh cicak?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ada beberapa hadits yang memerintahkan untuk membunuh cicak, di antaranya:

عَنْ سَائِبَةَ مَوْلَاةِ الْفَاكِهِ بْنِ الْمُغِيرَةِ: أَنَّهَا دَخَلَتْ عَلَى عَائِشَةَ فَرَأَتْ فِي بَيْتِهَا رُمْحًا مَوْضُوعًا، فَقَالَتْ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، مَا تَصْنَعِينَ بِهَذَا؟ قَالَتْ: نَقْتُلُ بِهِ هَذِهِ الْأَوْزَاغَ، فَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَخْبَرَنَا: أَنَّ إِبْرَاهِيمَ لَمَّا أُلْقِيَ فِي النَّارِ لَمْ تَكُنْ فِي الْأَرْضِ دَابَّةٌ إِلَّا أَطْفَأَتْ النَّارَ، غَيْرَ الْوَزَغِ، فَإِنَّهَا كَانَتْ تَنْفُخُ عَلَيْهِ، فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِقَتْلِهِ

Dari Saibah, pelayan Fakih bin Al Mughirah, dia menjumpai ‘Aisyah dan dia lihat di rumahnya ada cemeti yang tergeletak, lalu bertanya: “Wahai Ummul Mu’minin, kamu pakai buat apa ini?”

‘Aisyah menjawab: “Kami memakainya untuk membunuh cicak.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa ketika Nabi Ibrahim dilempar ke kobaran api, semua makhluk di bumi ikut memadamkan api, kecuali cicak dia malah meniupan api (agar tetap membara). Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membunuhnya. (HR. Ahmad No. 3231. Shahih menurut Syaikh Syu’aib Arnauth)

Juga dalam riwayat Abdurazzaq, dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Dahulu katak mematikan apinya Ibrahim, sedangkan cicak justru meniup utk membesarkannya. Maka, yang ini (katak) dilarang untuk dibunuh, dan yang ini (cicak) diperintahkan untuk dibunuh. (HR. Abdurazzaq No. 8392, Shahih menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Sebenarnya ‘Aisyah tidak mendengar langsung perintah membunuh cicak dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi dia mendengar dari Sa’ad bin Abi Waqash sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Bukhari berikut:

 عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لِلْوَزَغِ الفُوَيْسِقُ» وَلَمْ أَسْمَعْهُ أَمَرَ بِقَتْلِهِ وَزَعَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِهِ

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ” Cicak itu Al Fuwaisiq (si kecil pengganggu).” Dan aku belum pwrnah dengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan membunuhnya, dan Sa’ad bin Waqash mengira bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membunuhnya. (HR. Al Bukhari No. 3306)

Jadi, Aisyah tidak mendengar langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi dari sebagian sahabat nabi, sebagaimana dikatakan Al Hafizh Ibnu Hajar sbb:

ولعل عائشة سمعت ذلك من بعض الصحابة

Dan, nampaknya Aisyah mendengarkannya dari sebagian sahabat. (Fathul Bari, 6/354)

Bahkan membunuhnya mendapatkan pahala. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«مَنْ قَتَلَ وَزَغَةً بِالضَّرْبَةِ الأُولَى كَانَ لَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً، فَإِنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّانِيَةِ كَانَ لَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً، فَإِنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّالِثَةِ كَانَ لَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً»

Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul maka dia dapat pahala sekian sekian, jika dua kali pukulan maka sekian, jika tiga kali pukulan maka sekian.” (HR. At Tirmidzi No. 1482, kata At Tirmidzi: hasan shahih)

Hikmah dari ini adalah bahwa semua bentuk gangguan kepada manusia mesti dihilangkan sampai akar-akarnya, termasuk gangguan dari hewan seperti cicak. Banyak manusia yg geli dan jijik dengannya ketika berada di lemari, makanan, dsb. Maka, syariat melindungi manusia dan menyingkirkan gangguannya.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678