Jual Beli Emas Perak

Hukum PO Jual Beli Emas Online Dengan DP?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, selama ini ana jual online emas mutiara. Jika ada yang pesan diminta DP dari toko. Sebagai pengikat. Kemudian dibuatkan barang yang dipesan. Kurang lebih 10 hari. Setelah jadi pemesan transfer sisa pembayaran (ketika memesan penjual hanya memberikan harga estimasi, karena memang belum dibuat jadi tidak bisa memastikan harga fix). Baru barang dikirimkan.

Apakah yang seperti ini termasuk riba?

A_03

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Ustadz : Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Beli emas itu yadan biyadin, kontan. Serta taqabudh (serah terima dalam majelis yang sama), untuk menghindari riba.

Dalilnya:

لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا شَيْئًا غَائِبًا مِنْهُ بِنَاجِزٍ إِلَّا يَدًا بِيَدٍ

“Janganlah kalian jual beli emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali jika sama berat, dan janganlah kalian melebihkan antara satu dengan yang lain. Dan jangan pula salah seorang dari kalian melakukan transaksi sedangkan yang lain tidak ada di tempat, kecuali jika dengan tunai.” (HR. Muslim no. 1584)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

 فدل الحديث على أنه إن كان البيع ذهباً بذهب فيشترط فيه شرطان التماثل والتقابض

Hadits ini menunjukkan bahwa jika membeli emas dengan emas ada dua syarat: setara nilainya dan taqabudh (serah terima langsung). (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 100033)

Jika belinya online.., beli hari ini emasnya sampai 10 hari kemudian maka akan terjadi riba karena emasnya mengalami perubahan harga, walau kecil. Ini terlarang.

Sebagian ulama memang ada yang membolehkan jika hanya 1-2 hari, alasannya yg sangat kecil itu boleh diabaikan. Lebih baik adalah hindari.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jual Beli Emas

Jual Beli Emas Secara Kredit

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, kalau kredit emas hukum nya apa ya… Misalnya saya beli emas trus saya kreditin. Dengan harga saya mendapat keuntungan. A/27

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu”man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Ada dua pendapat tentang jual beli emas secara cicil/kredit..

1. Melarang

Menurut kelompok ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan jual beli emas secara yadan biyadin (kontan), kalau tdk kontan, maka jatuhnya riba, sebab harga emas yg berkembang. Ini penpendapat mayoritas ulama.

Dalilnya:

لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا شَيْئًا غَائِبًا مِنْهُ بِنَاجِزٍ إِلَّا يَدًا بِيَدٍ

“Janganlah kalian jual beli emas dengan emas atau perak dengan perak kecuali jika sama berat, dan janganlah kalian melebihkan antara satu dengan yang lain. Dan jangan pula salah seorang dari kalian melakukan transaksi sedangkan yang lain tidak ada di tempat, kecuali jika dengan tunai.”

(HR. Muslim no. 1584)

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

 فدل الحديث على أنه إن كان البيع ذهباً بذهب فيشترط فيه شرطان التماثل والتقابض

Hadits ini menunjukkan bahwa jika membeli emas dengan emas ada dua syarat: setara nilainya dan taqabudh (serah terima langsung). (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 100033)

Beliau jg berkata:

ولا بد في بيع الذهب بالنقد من التقابض، أما البيع بالأقساط فغير جائز،

Dan diharuskan dalam jual beli emas dengan uang secara taqabudh, ada pun dengan cara kredit TIDAK BOLEH. (Ibid)

2. Membolehkan

Alasannya, emas saat ini sama dgn sil’ah (barang biasa), yang bisa dijual belikan sbgmn barang lain. Ada pun yadan biyadin krn zaman dulu emas mrpakan alat tukar transaksi, alat jual beli sebagaimana uang, berbeda dgn saat ini emas tak ubahnya seperti rumah, kendaraan, dan semisalnya. Ini pendapat Syaikh Ali Jum’ah, dan Fatwa Dewan Syariah Nasional.

Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Rasulullah Sholat Sambil Menggendong

Jamak Sholat karena Punya Bayi

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apakah boleh sholat jamak apabila anak tidak bisa ditinggal untuk shalat? usia anak baru 40 hari, kalau di tinggal sholat nangis terus, di rumah saya cuma berdua saja dengan anak.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga jadi amal jihad bagi ibunya, tetap semangat dan semoga anaknya sehat dan menjadi anak soleh.

Kesibukan luar biasa dari seorang ibu dalam mengurus bayinya tanpa pembantu adalah masyaqqat (kesulitan/kepayahan), boleh baginya untuk shalat tidak di awal waktu, bisa di tengahnya, atau akhirnya

Dalam hadits:

إن للصلاة أولا وآخرا، وإن أول وقت الظهر حين تزول الشمس، وإن آخر وقتها حين يدخل وقت العصر..

“Shalat itu ada awal waktunya dan akhirnya, awal waktu zhuhur adalah saat tergelincir matahari, waktu akhirnya adalah saat masuk waktu ashar.”

(HR. Ahmad no. 7172, dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Ta’liq Musnad Ahmad, no. 7172)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

يجوز تأخير الصلاة إلى آخر وقتها بلا خلاف، فقد دل الكتاب، والسنة، وأقوال أهل العلم على جواز تأخير الصلاة إلى آخر وقتها، ولا أعلم أحداً قال بتحريم ذلك

Dibolehkan menunda shalat sampai akhir waktunya tanpa adanya perselisihan, hal itu berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Perkataan para ulama juga membolehkan menunda sampai akhir waktunya, tidak ada seorang ulama yang mengatakan haram hal itu.

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/58)

Bagaimana jika sampai habis waktunya?

Jika diperkirakan urusan bayi tersebut dapat melewati waktu ke shalat berikutnya, tidak apa-apa niatkan jamak ta’khir (misal zuhur dan ashar di waktu ashar, atau maghrib dan isya di waktu isya). Jamak saja, bukan qashar. Sebab, qashar hanya berlaku bagi yang SAFAR.

Dalilnya:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya di Madinah, pada hari saat tidak ketakutan dan tidak hujan.” (HR. Muslim No. 70)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

وأوسع المذاهب في الجمع مذهب أحمد فإنه جوز الجمع إذا كان شغل كما روى النسائي ذلك مرفوعا إلى النبي صلى الله عليه وسلم إلى أن قال: يجوز الجمع أيضا للطباخ والخباز ونحوهما ممن يخشى فساد ماله

“Madzhab yang paling luas dalam masalah jamak adalah madzhab Imam Ahmad, dia membolehkan jamak karena kesibukkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam An Nasa’i secara marfu’ (sampai) kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai-sampai dibolehkan jamak juga bagi juru masak dan pembuat roti dan semisalnya, dan juga orang yang ketakutan hartanya menjadi rusak.” (Al Fatawa Al Kubra, 5/350)

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنْ الْأَئِمَّة إِلَى جَوَاز الْجَمْع فِي الْحَضَر لِلْحَاجَةِ لِمَنْ لَا يَتَّخِذهُ عَادَة ، وَهُوَ قَوْل اِبْن سِيرِينَ وَأَشْهَب مِنْ أَصْحَاب مَالِك ، وَحَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ عَنْ الْقَفَّال وَالشَّاشِيّ الْكَبِير مِنْ أَصْحَاب الشَّافِعِيّ عَنْ أَبِي إِسْحَاق الْمَرْوَزِيِّ عَنْ جَمَاعَة مِنْ أَصْحَاب الْحَدِيث ، وَاخْتَارَهُ اِبْن الْمُنْذِر وَيُؤَيِّدهُ ظَاهِر قَوْل اِبْن عَبَّاس : أَرَادَ أَلَّا يُحْرِج أُمَّته ، فَلَمْ يُعَلِّلهُ بِمَرَضٍ وَلَا غَيْره وَاللَّهُ أَعْلَم

“Sekelompok para imam, membolehkan jamak ketika tidak bepergian apabila ia memiliki keperluan, namun hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Demikianlah pendapat dari Ibnu Sirin, Asyhab dari golongan Malikiyah. Al Khathabi menceritakan dari Al Qaffal dan Asy Syasyil kabir dari madzhab Syafi’i, dari Abu Ishaq al Marwazi dan dari jamaah ahli hadits.

Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir, yang didukung oleh zhahir ucapan Ibnu Abbas, bahwa yang dikehendaki dari jamak adalah ‘agar umatnya keluar dari kesulitan.’ Karena itu, tidak jelaskan alasan jamak, apakah karena sakit atau yang lainnya. Wallahu A’lam.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/219)

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

Tanyakan Kepada Ulama

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:

إذا كان عند الرجل الكتب المصنفة فيها قول رسول الله – صلى الله عليه وسلم – واختلاف الصحابة والتابعين فلا يجوز أن يعمل بما شاء ويتخير فيقضي به ويعمل به حتى يسأل أهل العلم ما يؤخذ به فيكون يعمل على أمر صحيح

Jika seseorang memiliki berbagai buku, yang didalamnya terdapat hadits Rasulullah ﷺ, perselisihan para sahabat, dan tabi’in, maka tidak diperkenankan seenaknya saja baginya memilih pendapat lalu dia menetapkan perkaranya dengan itu, dan mengamalkannya, sampai dia bertanya dulu kepada ulama ttg apa yang dijadikan olehnya sebagai pegangan itu, agar itu menjadi perkara yang benar.

(Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, 1/35)

Al Hafizh Abul Hasan Al Maimuni Rahimahullah berkata: Imam Ahmad bin Hambal berkata kepadaku:

يا ابا الحسن إياك أن تتكلم أن مسألة ليس لك فيها امام

Wahai Abu Hasan, hati-hatilah kamu berbicara tentang permasalahan yang seorang imam tidak membicarakan permasalahan itu.

(Imam Ibnul Jauzi, Manaqib al Imam Ahmad, Hal. 178)

Ada pun mereka yang meremehkan fiqihnya para ulama, dgn alasan langsung berhukum kepada Al Quran dan As Sunnah, hakikatnya mereka tidak mengerti fiqih. Kita lihat keterangan Imam Adz Dzahabi berikut tentang Ibnu Syahin:

قال الخطيب: وسمعت محمد بن عمر الداوودي يقول:
ابن شاهين ثقة، يشبه الشيوخ إلا أنه كان لحانا، وكان أيضا لا يعرف من الفقه لا قليلا ولا كثيرا، وإذا ذكر له مذاهب الفقهاء كالشافعي وغيره، يقول: أنا محمدي المذهب

Al Khathib Al Baghdadi berkata: Saya mendengar Muhammad bin Umar Ad Dawudi berkata:

Ibnu Syahin adalah seorang tsiqah dan mirip para syaikh, hanya saja ia sering keliru. Dia juga tidak mengerti tentang fikih sama sekali baik sedikit atau banyak, dan kalau disebutkan kepadanya ttg mazhab-mazhab para fuqaha (ahli fiqih) seperti Asy Syafi’i dan lainnya, ia berkata: “Madzhab saya Muhammadi (pengikut nabi Muhammad).”

(Siyar A’lam An Nubalaa’ 15/32, Muassasah Ar Risalah)

Apa yang dikatakan Ibnu Syahin, mirip perkataan sebagian orang saat ini. Di mana perkataan ini dikritik sebagai ucapan yang disebabkan ketidaktahuan ilmu fiqih sama sekali. Ini ulama sekelas Ibnu Syahin, lalu bagaimana dengan orang awam saat ini yang berkata demikian?

Laa haula walaa quwwata illa billah

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Lafazh lsti’adzah yang Dianjurkan

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bacaan isti’adzah yang lebih dipilih oleh Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) sebagaimana disampaikannya di dalam al-Umm adalah a’udzu billahi minasy-syaithanir-mjim. Lafazh isti’adzah inilah yang paling masyhur. Dalilnya tiada lain sebagaimana redaksi asli dari firman-Nya: “Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl [16]: 98).

Abu al-Hasan al-Mawardi (w. 450 H) di dalam al-Hawi al-Kabir fi Fiqh Madzhab al-Imam asy-Syafi’i yang merupakan penjelasan dari kitab Mukhtashar al-Muzanni mengemukakan bahwa selain lafazh isti’adzah a’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim, bisa juga isti’adzah dengan lafazh a’udzu billahis-sami’il-‘alimi minasy-syaithanir-rajim atau dengan lafazh a’udzu billahil-‘aliyyi minasy-syaithanilghawiyy. Namun, menurutnya, yang lebih utama adalah dengan lafazh yang pertama dibandingkan dengan yang kedua dan ketiga, karena ia diambil dari al-Qur’an. Isti’adzah dengan lafazh yang kedua lebih utama dari isti’adzah yang ketiga karena adanya riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri ra. mengenainya, yaitu dalam hal ini salah satunya sebagaimana disampaikan oleh Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) di dalan Sunannya di mana Abu Sa’id bercerita: “Adalah Rasulullah saw. jika beliau melakukan shalat malam, maka beliau bertakbir, kemudian mengucapkan ‘Subhanaka allahumma wa bi hamdika, wa tabarakasmuka, wa tahta jadduka, wa la ilaha ghairuka’, lantas mengucapkan Allahu akbaru kabira’, kemudian mengucapkan ‘audzu billahis-sami’il‘alimi minasy-syaithanir-rajim, min hamzihi, wa nafkhihi, wa nafatsihi’.

Isti’adzah dengan lafazh a’udzu billahis-sami’il-‘alimi minasy-syaithanir-mjim ini sebagaimana dapat kita baca penjelasan Sulaiman al-Bujairami (w. 1221 H) di dalam Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khathib atau yang dikenal juga dengan Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khathib, sebenarnya adalah dengan menggabungkan redaksi dalam dua ayat al-Qur’an, masing-masing dari QS. An-Nahl [16]: 98 dan QS. Fushshilat [41]: 36. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Mengharap Doa Dari Orang Yang Diberi Sedekah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukum meminta didoakan orang lain? Terutama kepada orang yang kita beri sedekah?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Minta didoakan orang lain boleh, dan pernah terjadi dimasa awal Islam..

1. Rasulullah ﷺ minta didoakan Umar Radhiyallahu ‘Anhu saat Umar hendak izin berangkat Umrah.

2. Rasulullah ﷺ pesan kepada Umar Radhiyallahu’ Anhu untuk minta doa kepada Uwais al Qarni, seorang tabi’in terbaik, jika Umar berjumpa dengannya.

3. Suku Daus, minta ke Rasulullah ﷺ untuk didoakan agar turun hujan

4. Umar bin Khathab Radhiallahu ‘Anhu minta kepada Abbas bin Abdul Muthalib Radhiallahu’ Anhu untuk berdoa agar turun hujan.

Dan masih banyak lainnya.

Ada pun minta didoakan setelah memberikan sesuatu, ada kesan “pamrih” yang bisa menodai keikhlasannya. Seharusnya tidak usah dia minta didoakan, toh secara alami dan tanpa diperintah biasanya orang yang dibantu akan mendoakannya.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhlaq Islam

Jangan Ganggu Tetangga

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, tetangga saya memelihara ayam banyak sekali dan sudah bertahun2 sampai sekarang masih, ayamnya itu dilepas liarkan sehingga membuat saya dan tetangga2 lainnya setiap hari kedatangan “kotoran ayam2 tersebut”, saya sudah berulang kali menyindir tetangga saya ketika saya mengeluh membersihkan kotoran ayam2 tersebut, tapi tidak pernah ada perubahan. Ayamnya pun kalau hujan dibiarkan begitu saja, kedinginan dan sebagainya. Jika saya menegur secara langsung saya tidak enak dan pasti beliau akan mencari2 kesalahan saya. Kira2 dosa tidak tetangga macam begitu? Padahal dia tau dia salah, dia sudah membuat tetangga2nya tidak nyaman dengan kotoran ayam2nya bertahun2, dan membiarkan ayam2nya kehujanan dan kedinginan.

Jawaban

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Salah satu ciri orang beriman adalah berlaku baik dengan tetangga dan jangan mengganggunya.

Sebagaimana hadits:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya. (HR. Bukhari no. 6136)

Tentunya sikap tetangga yang Anda ceritakan tersebut, yang tidak peduli keluhan tetangga lainnya dengan kotoran ayam miliknya yang begitu banyak, tidaklah mencerminkan hidup bertetangga yang baik.

Cukuplah seseorang disebut jahat ketika dia membuat tidak nyaman tetangganya. Hal ini sebagaimana hadits berikut:

َ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya. (HR. Muslim no. 46)

Oleh karena itu sebaiknya sampaikan dgn baik, dgn bahasa yang santun dan momen yang tepat, agar dia bertanggungjawab atas hewan peliharaannya.
Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Rizki Halal

Hukum Ikut MLM

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukum MLM HNI HPAI? A_04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

‌و عليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Masalah bisnis MLM ini tidak bisa digeneralisir. Semua tergantung komitmen masing-masing perusahaan MLM terhadap syariah. Bukan sekedar penamaan “MLM syariah”.

– Pada dasarnya semua bentuk muamalah dan akad adalah sah dan boleh sampai ada dalil yang melarangnya (kullul asyyaa al ibaahah illa maa warada ‘anisy syaari’ tahriimuhu), termasuk MLM

– MLM pada dasarnya keumuman ayat: wa ahallallahul bai’a .. dan Allah halalkan jual beli

maka, selama tidak ada, atau bebas dari:

* barang dan jasa haram
* gharar (penipuan)
* dharar (bahaya)
* Zhulm (ada pihak yang dirugikan)
* unsur riba
* dua akad dalam 1 transaksi,

Maka, MLM boleh-boleh saja, asalkan para upline dan downline sama-sama bekerja, tidak mengandalkan kerja orang lain.

Jadi, secara global ada aspek:

1. Aspek barang dan jasa, ini harus jelas halalnya
2. Aspek mekanisme penjualannya, juga harus jelas halalnya juga akadnya.

Pihak yang mengharamkan MLM beralasan ada unsur haram, yaitu satu transaksi ada dua akad. Akad jual beli dan ijarah/sewa jasa. Yaitu ketika anggota beli barang biasanya lebih murah dibanding bukan anggota. Maka “lebih murah” itu merupakan reward dari keanggotaannya, itulah akad keduanya yaitu dimurahkan karena jasanya sebagai anggota.

Sementara pihak yang membolehkan menganggap bahwa seseorang yang telah menjadi anggota, maka dia menjadi “pengiklan dan penawar” produk yang bisa menekan biaya produksi seperti iklan.

Posisi seperti ini namanya SAMSARAH orangnya disebut SIMSAAR, bahasa kita adalah makelar atau perantara. Ini dibolehkan para salaf seperti Ibnu Abbas, Ibnu Sirin, Atha, Al Bukhari, Ibrahim. (Fiqhus Sunnah, 3/159).

Jadi, dia mendapat murah atau bonus, bukan karena akad kedua dalam satu transaksi, tapi itu transaksi yang berbeda yaitu samsarah/makelar, dia ikut menjadi perantara antara produsen dan konsumen, sehingga wajar dia mendapat diskon, bonus, tip, atau istilah lainnya.

Perselisihan ini sangat wajar mengingat model ini adalah sistem kontemporer yang sangat mungkin beda sudut pandang.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Perbaiki Niat

Pelajaran dari kisah perkawinan Rasulullah saw dengan Hafshah binti Umar bin Khattab Radhiallahu anhuma

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab (ayahnya) berkata,

“Hafshah menjanda setelah suaminya Khunais bin Huzafah wafat, dia adalah salah seorang shahabat yang turut serta dalam perang Badar, lalu meninggal di Madinah.

Maka aku segera menemui Utsman bin Affan, lalu aku tawarkan kepadanya agar menikahi Hafshah. Aku katakan kepadanya, “Jika engkau bersedia, Hafshah akan aku nikahkan denganmu.” Namun Utsman bin Affan berkata, “Aku pikir-pikir dahulu.”

Lalu aku tunggu beberapa malam hingga akhirnya dia (Utsman) menemuiku seraya berkata, “Saat-saat sekarang ini, saya belum berencana untuk menikah.” Lalu Umar berkata, “Lalu aku menemui Abu Bakar dan aku katakan kepadanya, ‘Kalau mau, aku akan nikahkan Hafshah denganmu” Namun tidak ada respon, sehingga aku merasa bahwa keadaannya seperti Utsman. Setelah beberapa hari berlalu, ternyata Hafshah dilamar oleh Rasulullah saw, akhirnya Hafshah aku nikahkan dengan beliau saw.

Kemudian (setelah pernikahan tersebut) Abu Bakar menemuiku seraya berkata, “Tampaknya ada sesuatu yang engkau simpan saat engkau menawarkan Hafshah kepadaku dan aku tidak menjawabnya?” Aku katakan, “Ya” Lalu dia berkata, ‘Tidak ada yang menghalangiku untuk menerima tawaranmu sedikit pun kecuali aku mendengar bahwa Rasulullah saw menyebut namanya (untuk menikahinya) dan aku tidak berani menyebarkan rahasia Rasulullah saw. Seandainya beliau membatalkannya, niscaya aku bersedia menikahinya.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Abu Bakar dan Utsman tidak merespon tawaran Umar bin Khattab untuk menikahi Hafshah, beliau mendatangi Rasulullah saw untuk menyampaikan hal tersebut. Maka Rasulullah saw bersabda,

يَتَزَوَّجُ حَفْصَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْ عُثْمَانَ ; وَيَتَزَوَّجُ عُثْمَانُ مَنْ هِيَ خَيْرٌ مِنْ حَفْصَةَ (رواه أبو يعلى)

“Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Utsman dan Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih baik dari Hafshah.” (HR. Abu Ya’la)

Ternyata benar. Tak lama kemudian Rasulullah saw melamar Hafshah untuk dirinya, sedangkan Utsman menikahi puteri Rasulullah saw; Ummu Kultsum, setelah isteri beliau sebelumnya yang juga puteri Rasulullah saw; Ruqoyyah, meninggal dunia.

Pernikahan Rasulullah saw dengan Hafshah terjadi pada tahun ketiga hijriah. Maka dengan demikian, Hafshah menikah dengan Rasulullah saw pada usia 20 tahun.

———————————–

Pelajaran:

– Seorang ayah sebaiknya aktif mencarikan calon suami yang saleh bagi puterinya.

– Kedua belah pihak hendaknya merahasiakan proses pencarian tsb dan tidak dipublikasikan.

– Seraya berikhtiar, tetap meyakini bahwa pilihan Allah baginya adalah yang terbaik.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Akhlaq Islam

Akan Kukatakan Siapa Dirimu

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

قل لى من تعاشر اقول لك من أنت

“Katakanlah kepadaku dengan siapa engkau bergaul, maka akan ku katakan siapa dirimu.”

Hati hatilah memilih teman karena teman adalah gambaran tentang siapa diri kita sebenarnya.

Kita memang boleh berteman dengan siapa saja, namun untuk menjadikannya teman akrab haruslah di seleksi terlebih dahulu.

Akrab itu terambil dari bahasa Arab yaitu أقرب” ”Lebih dekat“ dari kata “قريب” yang berarti dekat.

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”

(HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Seorang yang baik baik bisa di jadikan tersangka koruptor karena berteman dengannya, begitu juga seorang yang shaleh bisa saja menjadi pudar kebaikannya karena terlalu sering berbaur dengan mereka yang buruk perangainya.

Memilih teman yang baik baik saja bukanlah berarti kita memusuhi mereka yang masih bergelimang dalam dosa dan maksiat, untuk mereka yang masih berada dalam jalan yang kelam tugas kita adalah mendakwahi jika kita memilki ilmu dan imunitas yang kuat untuk membentengi diri kita dari kemaksiatan mereka.

Adapun jika kita belum memilki ilmu untuk mendakwahi mereka, maka tugas kita adalah mencari juru dakwah yang dapat memperbaiki keadaan mereka dan setelah mereka kembali dalam kebaikan, barulah kita dekati mereka untuk semakin menguatkannya dalam keta’atan.

Sebelum kita berteman ada baiknya kita perhatikan tips dari umar bin Khattab tentang bagaimana mengenal karakter teman, beliau berkata:
“Kau tidak mengenal sahabatmu kecuali dengan tiga hal:

1. Engkau berjalan seharian dengannya,
2. Engkau bermalam dirumahnya,
3. Dan engkau berhubungannya dalam masalah uang.

Semoga kita semua bisa memilih sahabat sahabat yang baik untuk bisa saling mengisi dan mengingatkan dalam kebaikan dan semoga kita bisa meraih teman teman kita yang masih terjerembab dalam jurang dosa yang hina dina itu.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678