Hadiah dari Non Muslim

Menyikapi Hadiah Non Muslim kepada Kita

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz…
Bagaimana sikap terbaik dalam islam, terhadap tentangga kita yang akan merayakan natal
Mereka tetangga yang baik dan santun
Ketika lebaran, mereka berkunjung ke rumah kami.
Terkadang memberi makanan, apa boleh kami makan?
Kami belum tau makanan itu pesan atau buat sendiri, dan tidak tau apakah mereka mengkonsumsi yang diharamkan dalam islam.
Mohon penjelasan ustadz.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d.

Hendaknya tetap berbuat baik dalam momen yang lain, yang bukan ritual keagamaan.

Menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, selama makanan halal, barang halal, bukan makanan acara ritualnya, tidak apa-apa.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

أما قبول الهدية من الكافر في يوم عيده ، فلا حرج فيه ، ولا يعد ذلك مشاركة ولا إقرارا للاحتفال ، بل تؤخذ على سبيل البر ، وقصد التأليف والدعوة إلى الإسلام ، وقد أباح الله تعالى البر والقسط مع الكافر الذي لم يقاتل المسلمين ، فقال : ( لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8
لكن البر والقسط لا يعني المودة والمحبة ؛ إذ لا تجوز محبة الكافر ولا مودته ، ولا اتخاذه صديقا أو صاحبا

Ada pun menerima hadiah dari mereka saat hari rayanya, tidak apa-apa. Itu tidak dinilai ikut serta dalam perayaan dan menyetujui acara mereka.

Bahkan itu bisa dijadikan sarana kebaikan dan ajakan kepada Islam. Allah Ta’ala telah membolehkan berbuat baik dan adil kepada orang yang tidak memerangi kaum muslimin:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al Mumtahanah: 8)

Tetapi berbuat baik dan adil bukan berarti menumbuhkan kasih sayang dan Mahabbah (cinta), sebab kasih sayang dan cinta terlarang kepada orang kafir, serta terlarang menjadikan sebagai sahabat dekat.
(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 85108)

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم فقد قدمنا عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه أتي بهدية النيروز فقبلها

Ada pun menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, dulu kami telah jelaskan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia diberikan hadiah pada hari raya Nairuz, dan dia menerimanya (Iqtidha Shirath al Mustaqim, Hal. 251)

Ibnu Abi Syaibah menceritakan:

أن امرأة سألت عائشة قالت إن لنا أظآرا [جمع ظئر ، وهي المرضع] من المجوس ، وإنه يكون لهم العيد فيهدون لنا فقالت : أما ما ذبح لذلك اليوم فلا تأكلوا ، ولكن كلوا من أشجارهم

Bahwa ada seorang wanita bertanya kepada Aisyah, katanya: “Kami memiliki wanita-wanita yang menyusui anak kami, dan mereka Majusi, mereka memberikan kami hadiah.”

Aisyah menjawab: “Ada pun makanan yang disembelih karena hari raya itu (makanan ritual), maka jangan kalian makan, tetapi makanlah yang sayuran.” (Ibid)

♦️Bagaimana kalau kita yg memberikan hadiah?

Jika tidak terkait hari raya tidak apa-apa, bahkan bagus untuk mendakwahkan mereka. Dahulu Aisyah Radhiyallahu ‘Anha membawakan makanan kepada ibunya yang masih musyrik, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membolehkannya.

Tapi pemberian itu jika terkait hari raya, itu tidak boleh.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

يجوز للمسلم أن يهدي للكافر والمشرك ، بقصد تأليفه ، وترغيبه في الإسلام ، لاسيما إذا كان قريبا أو جارا ، وقد أهدى عمر رضي الله عنه لأخيه المشرك في مكة حلة (ثوبا) . رواه البخاري (2619)

Boleh bagi seorang muslim memberikan hadiah kepada orang kafir dan musyrik, dengan tujuan mengikat hatinya dan mengajaknya kepada Islam. Apalagi jika dia kerabat dekat atau tetangga. Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu pernah memberikan hadiah kepada saudaranya yang musyrik di Mekkah. (HR. Bukhari no. 2619)

لكن لا يجوز أن يهدي للكافر في يوم عيد من أعياده ، لأن ذلك يعد إقرارا ومشاركة في الاحتفال بالعيد الباطل

Tapi tidak boleh memberikan hadiah kepada orang kafir di hari raya mereka. Sebab itu dihitung sebagai ikut serta dan pengakuan atas acara hari raya mereka yg batil.

وإذا كانت الهدية مما يستعان به على الاحتفال كالطعام والشموع ونحو ذلك ، كان الأمر أعظم تحريما ، حتى ذهب بعض أهل العلم إلى أن ذلك كفر

Jika hadiah itu dapat membantu perayaan tersebut baik berupa makanan, minuman, dan lainnya. Maka, itu keharamannya besar, sampai ada sebagian ulama berpendapat ini adalah kafir.

(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 85108)

♦️Jadi, kesimpulannya:

– Secara umum menerima atau memberi hadiah kepada non muslim boleh, selama barang dan makanan halal

– Termasuk menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, selama harta dan makanan halal, bukan barang dan makanan ritual. Ini tidak termasuk ikut membantu acara mereka.

– Kecuali memberikan hadiah saat mereka hari raya, ini terlarang. Sebab termasuk membantu mensukseskan acara mereka.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jika Allah Hendak Mewafatkan Mematikan Seseorang

Memikul Jenazah Dipundak, Sunnahkah?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz mau tanya, apa memikul jenazah dipundak itu sunnah, kenapa tidak pakai meja yang ada rodanya didorong, apa tidak berat yang mikulnya? A/06

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Bagi yang sudah pernah ke kubur pasti tahu, secara teknis tidak mungkin ke kubur pakai meja dorong yang pakai roda. Karena kuburan di Indonesia itu tanah, bebatuan kerikil, rerumputan, dan tentu menyulitkan. Bahkan yang sudah pakai batu konblok pun tetap tidak mudah. Meja dorong lancar jika lantainya licin seperti di rumah sakit.

Masalah ini tanpa harus pakai dalil Insya Allah sudah clear sebenarnya. Dari rumah duka ke kubur tentu tidak mungkin digotong-gotong jika jauh kuburannya, biasanya pakai ambulan. Sesampainya di depan pemakaman, barulah digotong dan itu lebih cepat sampai dibanding pakai meja dorong roda yang akan tersendat-sendat oleh krikil, batu, tanah, rumput, lubang.

Ada pun salah satu dalil menggotong jenazah adalah, Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berkata:

مَنْ اتَّبَعَ جِنَازَةً فَلْيَحْمِلْ بِجَوَانِبِ السَّرِيرِ كُلِّهَا فَإِنَّهُ مِنْ السُّنَّةِ ثُمَّ إِنْ شَاءَ فَلْيَتَطَوَّعْ وَإِنْ شَاءَ فَلْيَدَعْ

“Barangsiapa mengiring jenazah hendaklah ia panggul pada setiap sisinya karena hal itu termasuk sunnah, Barangsiapa mau memanggulnya hendaklah ia lakukan, dan jika tidak ia boleh meninggalkannya. ”

(HR. Ibnu Majah no. 1478)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Membaca al-Qur’an di dalam Shalat Bukan dengan Bahasa Arab

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Mengenai bacaan al-Qur’an di dalam shalat dengan bahasa selain Arab ini, Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmu’ memberikan penjelasan bahwa tidak boleh membaca al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab, baik seseorang memang mampu berbahasa Arab maupun tidak, baik bacaan tersebut di dalam shalat maupun di luar shalat. Sehingga jika seseorang yang sedang shalat kemudian menerjemahkan bacaan al-Qur’annya, maka shalatnya menjadi tidak sah. Inilah pandangan yang dipegang dalam madzhab Syafi’i. Pendapat ini juga menjadi pegangan mayoritas ulama, di antaranya Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud.

Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) di dalam at-Tahbir fi ‘Ilm at-Tafsir mengatakan: “Membaca al-Qur’an dengan selain bahasa Arab adalah haram secara mutlak, baik yang membaca itu mampu membacanya dengan bahasa Arab maupun tidak.”

Sebelumnya, pada pembahasan tentang seseorang yang tidak mampu membaca al-Fatihah, penulis menyampaikan sebuah riwayat di dalam Sunan at-Tirmidzi bahwa Rasulullah saw. pernah mengoreksi shalat seseorang yang tidak memenuhi persyaratan sahnya shalat. Di antara yang Rasulullah sampaikan kepadanya adalah agar ia membaca al-Qur’an di dalam shalatnya, adapun jika ia tidak mampu, maka ia hendaknya membaca hamdalah, membaca takbir, tahlil, kemudian baru ia boleh ruku’. Dari riwayat ini saja jelas sekali bahwa tidak ada pilihan untuk mengganti bacaan al-Qur’an tersebut dengan makna yang dimengertinya, termasuk di antaranya menerjemahkannya.

Sebagaimana diketahui bahwa al-Qur’an adalah lafazh yang berbahasa Arab, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab…” (QS. Yusuf [12]: 2), “(Ditururzkan) dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 195), dan juga firman-Nya: ‘Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab…” (QS. Az-Zukhruf [43]: 3), maka, terjemahan al-Qur’an di luar bahasa Arab tidak dapat disebut sebagai al-Qur’an. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Melunasi Utang dengan Mengurangi Harga Jual Barang, Boleh?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, kalau ada yang pinjam uang, tapi mau dibayar dengan dagangan hukumnya bagaimana? Misal si A pinjam uang ke si B, kebetulan si A jualan makanan, nanti kalau si B beli makanan ke si A, si A langsung bilang potong aja utang saya bu, bagaimana hukumnya? A/15

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz : DR Oni Sahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pertama, boleh selama perjanjiannya terpisah. Jadi berapa harga jualnya dan berapa yang menjadi kewajiban bayar utang pedagang/debitur kepada pembeli/kreditur. Juga ini tidak diperbolehkan menjadi rekayasa. Selama tidak ada rekayasa dan pembayaran utang dari harga jual, maka diperbolehkan.

Kedua, lebih baik lagi dengan cara jualan dulu baru bayar utang, atau bayar utang dulu baru jualan.

Untuk lebih detailnya bisa dilihat tulisan terkait di link berikut:

Adab berutang

https://www.instagram.com/p/B0j6RaVnzcW/

Produk multi akad

https://www.instagram.com/p/BnYcfquBn_x/

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Saat Hatimu Lelah

Berdamai dengan Rasa Luka

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ketika bahagia ternyata sudah diperjuangkan, namun belum juga didapatkan, maka disaat kondisi seperti ini yang kamu butuhkan adalah berdamai dengan kesedihan. Terima saja sedih dan luka itu. Karena semakin dilawan semakin melukai. Setidaknya memberi ruang baginya eksis. Ruang berdamai dengan sedih dan luka.

Memang kadang kesedihan butuh ruang. Ruang pengakuan. Ruang penyaluran. Ruang untuk mengekspresikan dirinya. Sekaligus ruang untuk melokalisir masalahnya agar korban tidak bertambah lagi.

Biarkan kesedihan diam sejenak di ruang itu. Tetapi jangan diberi keleluasaan untuk mendominasi hati dan kehidupanmu. Jangan beri kesempatan. Kitalah yang mengelolanya. Bukan menghamba padanya.

Kelola hati kita pada jalan meraih kebahagiaan. Fokus kita memberi peluang lebih besar pada rasa bahagia dari pada rasa sedih dan luka. Dorong terus agar kebahagiaan mendominasi ruang di hati dan jiwa kita. Setidaknya dengan cara ini energi positif mulai mengalir deras ke ruang bahagia.

Beban rasa sedih dan luka itu semestinya bisa diluruhkan dengan keikhlasan. Pelan tapi pasti. Akhirnya lega itu hadir bersama bahagia. Selalulah yakin bahwa pintu bahagia itu banyak jalannya. Adakalanya bahagia itu bukan apa yang kamu dapatkan, tapi melepaskan bersama pengorbanan.

Bahkan setelah berkorban kamu pun tetap belum bahagia, itu artinya untuk apa diperjuangkan. Ini sungguh semakin meyakinkan kita, sudahlah jangan terlalu percaya berharap pada manusia. Allahlah sejatinya tempat berharap yang tidak akan pernah mengecewakanmu.

Bersyukur dan bersabarlah yang hanya akan membuatmu bisa berdamai dengan sedih dan terluka. Bahkan mengubahnya menjadi bahagia. Jangan biarkan perlahan hatimu mati.
“Diantara tanda matinya hati adalah tidak adanya perasaan SEDIH atas ketaatan yang kau lewatkan, dan tidak adanya perasaan MENYESAL atas kesalahan yang kau lakukan” (Ibnu Athaillah).

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jaman Riba Tersebar

Hukum Memakai Kendaraan Yang Beli Secara Angsur

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya memiliki motor dg nama suami saya(ac) kami sedang butuh uang karena pernah pinjam ke seseorang untuk pendidikan. Sampai sekarang belum bisa mengganti padahal orang yg meminjamkan juga butuh. Saya memiliki motor tapi itu memang untuk kendaraan suami kerja. Boleh gak saya pinjam ke koprasi syariah dg aqad saya membeli motor suami saya. Jadi motor susmi saya tetap bisa di pakai kerja. Sementara saya bisa mengganti uang yg saya pinjam ke orang tersebut 8.000.000.dan pinjaman saya ke koprasi syariah sy cicil selama 10 bulan. Karena saya niat membeli motor berarti saya membayar dg ada kelebihan 2 persen. Bolehkah uztaz?

A/12

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Ustadz : DR Oni Sahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Transaksi penjualan tersebut diperbolehkan dengan syarat memenuhi semua ketentuan jual beli, diantaranya motor yang dijual kepada koperasi tersebut dimiliki secara penuh oleh koperasi.

Misalnya beberapa bukti kepemilikan seperti BPKB dan dokumen lainnya diserahkan ke koperasi dan ada kerelaan dari koperasi walaupun motor tersebut statusnya dimiliki koperasi tetapi masih tetap boleh digunakan oleh keluarga si pembeli dan sewaktu-waktu bisa digunakan oleh koperasi.

Dengan demikian akad jual beli secara angsur yang telah dilakukan itu sah.

Hal ini merujuk pada target dari jual beli adalah perpindahan kepemilikan (intiqal al-milkiyyah) dimana seluruh cicilan adalah hak koperasi, seluruh harga itu milik pembeli dan kendaraan itu milik hak penuh koperasi.

Dan ada kerelaan dari si penjual motor tersebut sementara digunakan oleh si pembeli.
Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Relakan dan Sabar

TABUNGAN CINTA

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Emang benar bahwa sabar itu gak ada batasnya. Yang ada batasnya itu Sumbar, Jabar, Kalbar atau Wabar (Wakanda bagian barat). Tapi kekuatan kita sebagai manusia untuk sabar tentu lah terbatas.

Maka emosi yang kita tahan seharian bisa jebol juga. Dimulai dari pergi kondangan sama suami eh ternyata saltum alias salah kostum. Corak baju mirip dengan taplak meja prasmanan di hajatan. Alhasil sebelum nyicipin makanan minta buru-buru pulang. Malu.

Di tengah jalan ban motor bocor setelah dikejar-kejar anjing dan nabrak tiang listrik. Mata berkunang-kunang pas ngelihat spanduk Kepak Sayap Kebhinnekaan. Plus ilfil saat papasan sama pelakor yang pernah godain suami. Udah gitu pas update status di Facebook gak ada yang komen. Ya Allah…. untung sempat denger pengamen jalanan bersenandung, “Dinda jangan marah-marah..takut nanti lekas tua”. Marah pun surut sesaat. Takut tua. Kebayang kalau Skincare berubah jadi Freshcare buat kerokan.

Begitu sampai di rumah, anak berulah. Rumah berantakan. Kertas bertebaran dimana-mana. Lipstik kesayangan dari Wardah dijadiin crayon buat coret-coret di tembok. Emosi pecah. Spontan membentak anak. Langsung menjewer bahkan mencubitnya.

Anehnya anak malah minta maaf. Menyesal udah bikin ibu marah. Mereka mendadak bijak meski tak bayar pajak. Memaklumi ibu yg marah apalagi di tanggal tua. Dimana emosi ibu berbanding terbalik dengan saldo tabungan. Saldo menurun, emosi memuncak.

Ajaib. Setelah dimarahi anak masih ingin mendekat. Apa sebabnya? Ternyata karena saldo cinta yg kita miliki sudah terlalu banyak dalam rekening jiwa anak. Maka saat kita marah terjadi auto debet pengurangan saldo. Tapi gak sampai defisit. Anak masih sayang dan kagum dengan ortunya.

Hal ini persis dengan yang dialami Usamah bin Zaid. Dimana Rasul pernah murka luar biasa akibat kesalahannya membunuh seseorang di medan jihad. Amarah Rasul ini tak membuat Usamah kesel balik. Kenapa? Salah satunya ketika ia teringat pernah dipeluk Rasul saat kecil seraya didoakan “Ya Allah sayangilah ia. Sesungguhnya aku sangat sayang dengannya”.

Inilah tabungan cinta. Membuat anak tetap kagum meski kita memarahinya. Sayangnya tabungan cinta ini masih konven. Gak syariah. Setelah menabung hasilnya membuat hati anak berbunga. Cobalah!

Wallahu a’lam bish showab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Suami Wajib Menafkahi

Keseimbangan Memberi Nafkah Antara Istri, Anak Dan Orang Tua

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz/ah saya mau bertanya, saya seorang Istri dengan 2 anak.
Bersuamikan pekerja buruh harian dengan kisaran gaji tidak UMR, sebesar 2,5 jt dimana gaji itu hanya diperuntukkan untuk kontrakan 2jt + listrik 200 (itupun saya sebagai istri masih suka nombok) + 300 bekal suami kerja (itupun sering minta sama saya juga karena gak cukup).

Suami memiliki keluarga yaitu Ibu, Bapak, 1 adik laki2 usia 25th, 1 adik perempuan usia 20th.
Keadaannya, bapaknya sudah tua dan 2 adiknya pengangguran susah sekali disuruh cari nafkah untuk orangtua dikarenakan selalu menunggu ada yang laku terjual dikarenakan Bapak punya banyak kebon, sawah dan ada mobil.
Mereka sehari-hari saat ini, mengandalkan dari rental mobil dan uang kontrakan yang ada.

❓Hal yang saya ingin tanyakan adalah :

1. Saya sebagai istri selalu bantu suami, untuk makan sehari-hari dan keperluan anak (baju, susu, jajan, bayar spp sekolah dll). Saya anak yatim dari kecil jadi tidak punya Ayah. Hanya punya Ibu, itupun membantu merawat anak tanpa dikasih imbalan uang. Hanya biaya hidup saya tanggung karna Ibu saya tinggal bersama kami. Sudah tua juga, sekitar usia 60th. Karna saya diharuskan kerja makanya tidak bisa merawat anak dirumah sendiri.
Bagaimana dengan kondisi ini?
Apa suami berdosa karena tidak memberi nafkah full dikarenakan saya kadang tidak ridho?

2. Saya tidak Ridho karena suami masih di recokin sama keluarga nya. Di sini kami memang tidak bisa ngasih sepeserpun, karena kami juga tidak dinafkahi full, tapi mereka mewajibkan suami merawat bapaknya dan tinggal di kampung tanpa menafkahi kami. Karena kata ibu mertua (kan istri sudah bisa kerja bantulah di sana) gitu.
Ini gimana hukumnya? Apa suami harus menurut pada Ibu karena surganya masih ditelapak kaki Ibu nya? Karna dalil ini yg menjadikan Ibu nya bergantung pada Suami.

3. Sebenarnya dalam Islam, saya istri dan anak yang bertanggung jawab pada kami siapa?

Terimakasih, mohon berkenan untuk menjawab. Sejujurnya saya sudah lelah di posisi ini.

A/18

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim.

Intisarinya adalah keseimbangan (tawazun). Seimbang dalam memberikan perhatian dan nafkah kepada istri, anak, dan mengurus orangtua.

Dalam bahasa hadits:
_Fa a’thi kulla dzi haqqin haqqah_ (berikan hak itu secara proporsional kepada yang seharusnya menerimanya). Maka, jika Satu saja ada yang dilupakan/diabaikan secara SENGAJA, maka itu kezaliman. Seperti mengabaikan anak, atau istri, atau ortua.

1. Seandainya suami sudah memberikan nafkah, walau tidak full, karena dia sanggupnya seperti itu, tentu dia tidak berdosa.

Allah Ta’ala berfirman:

۞وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةُۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوۡلُودٞ لَّهُۥ بِوَلَدِهِ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. *Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.* Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (men-derita) karena anaknya.

-Surat Al-Baqarah, Ayat 233

Yg berdosa adalah dia sanggup, tapi malas atau sengaja mengabaikan orang-orang yang memang wajib baginya untuk dinafkahi.

2. Ini sama seperti di atas, yaitu masalah keseimbangan. Hendaknya suami memahami wajibnya nafkah kepada anak dan istrinya. Hendaknya ortua pun memahami posisi anaknya yg sudah ada kewajiban baru sebagai suami. Hendaknya istri juga paham bahwa memang laki-laki masih ada kewajiban mengurus ortuanya terlepas saudara2 kandungnya malas/pengangguran atau tidak.

Allah Ta’ala berfirman:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ

Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. (QS. An-Nisa’, Ayat 34)

Ayat ini menunjukkan kepemimpinan laki-laki itu ada sebab, yaitu dia menafkahi istrinya. Menurut Imam Al Qurthubi, jika suami tidak mampu menafkahinya teranulirlah status kepemimpinannya, maka apalagi jika karena malas.

Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengatakan:

أَنَّهُ مَتَى عَجَزَ عَنْ نَفَقَتِهَا لَمْ يَكُنْ قَوَّامًا عَلَيْهَا، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ قَوَّامًا عَلَيْهَا كَانَ لَهَا فَسْخُ الْعَقْدِ، لِزَوَالِ الْمَقْصُودِ الَّذِي شُرِعَ لِأَجْلِهِ النِّكَاحُ. وَفِيهِ دَلَالَةٌ وَاضِحَةٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ عَلَى ثُبُوتِ فَسْخِ النِّكَاحِ عِنْدَ الْإِعْسَارِ بِالنَّفَقَةِ وَالْكُسْوَةِ، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ

Sesungguhnya, dikala dia tidak mampu menafkahi istrinya maka lenyaplah kepemimpinannya atas istrinya. Jika dia sudah tidak lagi sebagai pemimpin, maka istrinya boleh melakukan fasakh (pembatalan) atas nikahnya, karena maksud diadakannya pernikahan (yaitu tanggung jawab nafkah) telah hilang. Ini menjadi dalil yang jelas atas kuatnya kebolehan melakukan fasakh nikah dikala seorang suami kesulitan memberikan nafkah dan pakaian. Inilah pendapat Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i. (Tafsir Al Qurthubi, jilid. 5, hal. 169)

Kewajiban nafkah telah ijma’ (konsensus), walau istri kaya dan berpenghasilan sendiri, seperti yang dikatakan Imam Ibnu Hazm Rahimahullah:

وَاتَّفَقُوا أَن الْحر الَّذِي يقدر على المَال الْبَالِغ الْعَاقِل غير الْمَحْجُور عَلَيْهِ فَعَلَيهِ نَفَقَة زَوجته الَّتِي تزَوجهَا زواجا صَحِيحا إذا دخل بهَا وَهِي مِمَّن تُوطأ وَهِي غير ناشز وَسَوَاء كَانَ لَهَا مَال أَو لم يكن

Para ulama sepakat bahwa laki-laki yang merdeka (bukan budak) yang memiliki harta, baligh, aqil, dalam kondisi tidak ada halangan, wajib memberikan nafkah untuk istrinya yang dinikahi dalam ikatan pernikahan yang sah, dia sudah menggaulinya, baik istrinya orang berharta atau tidak. (Maratibul Ijma’, hal. 79)

3. Sudah dijawab di atas ya.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dakwah bil Hikmah

Berdakwah Bil Hikmah

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dakwah itu butuh orang-orang berakhlakul karimah agar mampu menuai berkah.
Dakwah itu butuh manusia-manusia kuat agar geloranya mendahsyat.
Dakwah itu butuh orang-orang yang tulus agar jalan dakwah ini senantiasa lurus.
Dan dalam berdakwah butuh sifat yang jujur agar pelakunya meraih mujur.

Amanah dakwah bukanlah jabatan.
Tidak pula diperjualbelikan.
Amanah dakwah itu disematkan kepada orang yang tepat.
Karena pemberian dari Yang Maha Pemberi selamat.

Bila dakwah sudah ditanggungkan di pundak kita.
Jaga semangat agar tak mudah putus asa.
Jaga lisan agar tak salah berkata.
Jaga hati agar jauh dari durjana.
Dan jaga sikap agar tidak berbuat cela.

Dakwah itu keteladanan.
Bukan hanya pandai berorasi tanpa perbaikan.
Perubahan diri senantiasa dilakukan.
Menempa diri menjadi manusia pilihan.

Berdakwahlah jangan seperti yang biasa orang yahudi lakukan.

Dalam Q.S. Al-baqarah; 44.“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”

Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya kaum Yahudi menyuruh orang lain untuk mengerjakan kebajikan, sedangkan mereka melupakan dirinya sendiri.

Mereka menyuruh orang lain untuk berbuat baik, namun mereka sendiri tidak melakukannya. Itu artinya, terdapat kebathilan antara ucapan dan perbuatan yang mereka lakukan. Itulah yang menjadi pembedaumat Islam dan kaum Yahudi.

Berhati-hati menjadi tabiat agar mendapat jalan selamat.
Jangan seperti lilin yang menerangi orang lain tapi membakar dirinya.

” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 125)

Innallaha ma’ana

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Salat di Awal Waktu

Sholat atau Melanjutkan Pekerjaan?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, ketika telah masuk waktu shalat ashar misal pukul 15.30, mana yang prioritas, apakah harus segera shalat ashar atau boleh tetap melanjutkan pekerjaan karena pertimbangan jam pulang kantor berjarak tidak begitu lama yaitu di 16.00? Kemudian bagaimana jika saat masuk waktu shalat situasi sedang rapat atau ada pekerjaan yang harus segera dirampungkan karena terkait kepentingan pimpinan/orang lain pada umumnya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Idealnya adalah shalat di awal waktunya. Sebagaimana pertanyaan Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu tentang amal yang paling disukai Allah Ta’ala, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab:

الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا

Shalat tepat pada waktunya. (HR. Bukhari no. 527)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga memberikan nasihat:

صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا

Shalatlah tepat pada waktunya. (HR. Muslim no. 648)

Namun, demikian jika tidak di awal waktu, baik karena uzur atau tidak, shalatnya tetap sah dan tidak mengapa. Yang haram adalah jika dia shalat SETELAH HABIS waktunya tanpa uzur.

Itulah yang dikecam dalam firmanNya:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang saahuun (lalai) terhadap shalatnya.
(QS. Al-Ma’un, Ayat 4-5)

Imam Ibnu Jarir Rahimahullah mengatakan:

عني بذلك أنهم يؤخرونها عن وقتها، فلا يصلونها إلا بعد خروج وقتها

Maknanya, bahwa mereka mengakhirkan shalat dari waktunya, mereka tidaklah shalat kecuali setelah keluar dari waktunya. (Tafsir Ath Thabariy, 10/8786)

Dalam Al Mausu’ah:

اتفق الفقهاء على تحريم تأخير الصلاة حتى يخرج وقتها بلا عذر شرعي

Para fuqaha sepakat haramnya menunda shalat sampai habis waktunya tanpa uzur syar’iy. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 10/8)

Sedangkan jika shalatnya masih di rentang waktu shalat, walau tidak di awal waktu, itu tidak apa-apa. Tidak dikatakan saahuun (lalai dari shalatnya), walau dia tidak dapat keutamaan di awal waktu.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

(QS. An-Nisa’, Ayat 103)

Sehingga selama shalat dilakukan di interval waktu shalat tersebut, belum masuk waktu shalat berikutnya, maka sah dan boleh.

Dalam hadits:

إن للصلاة أولا وآخرا، وإن أول وقت الظهر حين تزول الشمس، وإن آخر وقتها حين يدخل وقت العصر

Shalat itu ada awal waktunya dan akhirnya, awal waktu zhuhur adalah saat tergelincir matahari, waktu akhirnya adalah saat masuk waktu ashar .. (HR. Ahmad no. 7172, dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Ta’liq Musnad Ahmad, no. 7172)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

يجوز تأخير الصلاة إلى آخر وقتها بلا خلاف، فقد دل الكتاب، والسنة، وأقوال أهل العلم على جواز تأخير الصلاة إلى آخر وقتها، ولا أعلم أحداً قال بتحريم ذلك

Dibolehkan menunda shalat sampai akhir waktunya tanpa adanya perselisihan, hal itu berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Perkataan para ulama juga membolehkan menunda sampai akhir waktunya, tidak ada seorang ulama yang mengatakan haram hal itu. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/58)

Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

وقد بين النبي صلى الله عليه وسلم مواقيتها من كذا إلى كذا فمن أداها فيما بين أول الوقت وآخره فقد صلاها في الزمن الموقوت لها

Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam telah menjelaskan bahwa waktu shalat itu sejak waktu ini ke ini, maka barang siapa yang menjalankan di antara awal waktu dan akhirnya, maka dia telah menunaikan di waktu yang telah ditentukan.

(Majmu’ Al Fatawa wa Rasail, Jilid. 12, Bab Shalat)

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678