Doa Orang Tua Atas Anaknya

Kenapa Doa Tidak Dikabulkan?

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Sebagian manusia menganggap ini adalah kenyataan yang nampaknya tidak mengenakkan di tengah janjiNya bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-hamaNya. Tetapi hal ini memang ada, kenapa bisa terjadi? Apa yang harus dievaluasi?

Ada banyak sebab doa kita ditolak, diantaranya:

๐Ÿ“Œ Makan dan Minum dari yang Haram

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, dia berkata:

โ€œRasulullah ๏ทบ menyebutkan, seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, berambut kusut, berdebu, dan menengadahkan tangannya ke langit: โ€œYa Rabb .. Ya Rabb .., tetapi dia suka makan yang haram, minum yang haram, pakaiannya juga haram, dan dikenyangkan dengan yang haram. Maka, bagaimana doanya bisa dikabulkan?โ€ (HR. Muslim No. 1015)

๐Ÿ“Œ Tergesa-gesa dalam Berdoa

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dia berkata:

Sesungguhnya Rasulullah ๏ทบ bersabda, โ€œDoa salah seorang di antara kalian pasti akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu dia mengatakan: Saya sudah berdoa akan tetapi belum dikabulkan.โ€ (HR. Bukhari No. 6340)

Bukan hanya itu, dia juga tidak menjaga adab-adab doa yang lainnya.

๐Ÿ“Œ Meninggalkan Kewajiban

Dari Huzaifah Radhiallahu Anhu dari Nabi ๏ทบ beliau bersabda, โ€œDemi yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus betul-betul memerintahkan kepada yang maโ€™ruf dan melarang dari yang mungkar, kalau tidak maka betul-betul dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan kepada kalian semua siksaan dari-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya akan tetapi Dia tidak mengabulkannya.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 2169, kata At Tirmidzi: hasan)

Hadits ini menyebutkan bahwa meninggalkan salah satu kewajiban agama yakni kewajiban untuk amar maโ€™ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran), merupakan salah satu penyebab ditolaknya doa.

๐Ÿ“Œ Menjalankan Larangan dan Maksiat

Inilah keanehan manusia. Ketika mereka membutuhkan sesuatu atau dalam keadaan sulit, mereka mencari-cari Tuhannya, mereka memohon dan menangis, serta mengakui semua kesalahan dan kelemahannya. Tetapi ketika kesulitan hilang, mereka melupakanNya dan kembali maksiat kepadaNya. Bagaimana yang seperti ini dikabulkan doanya?

Ada jawaban sangat bagus dari Imam Ibrahim bin Adham Rahimahullah atas pertanyaan ini. Ketika beliau ditanya kenapa doa tidak dikabulkan dia menjawab:

1. Seseorang yang meyakini adanya Allah ๏ทป tetapi ia tidak menunaikan hak-hakNya.
2. Seseorang yang telah membaca ( mengerti ) kitab Allah ๏ทป tetapi tidak mengamalkannya.
3. Seseorang yang mengetahui bahwa syetan adalah musuhnya yang nyata, tetapi ia justru mengikuti langkah-langkahnya.
4. Seseorang yang mengaku mencintai Rasulullah ๏ทบ tetapi meninggalkan atsar dan sunnahnya.
5. Seseorang yang mencita-citakan masuk surga namun meninggalkan amalan – amalan masuk surga.
6. Seseorang mengatakan takut adzab neraka, tetapi ia tidak berhenti melakukan dosa dan maksiat.
7. Seseorang yang yakin tentang kepastian datangnya ajal, tetapi ia tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
8. Seseorang yang sibuk dengan aib dan cacat orang lain, tetapi ia melupakan cacat dan aibnya sendiri.
9. Seseorang yang makan rizki Allah, tetapi tidak mensyukurinya.
10.Seseorang yang mengubur orang mati, tetapi ia tidak mengambil pelajaranya dari padanya.

๐Ÿ“Œ Allah ๏ทป Sedang menguji hambaNya

Sebenarnya Allah ๏ทป punya banyak cara untuk menguji keimanan hambaNya, di antaranya dengan tidak dikabulkannya doa, khususnya di dunia. Apakah dengan itu dia semakin beriman atau justru lari dariNya.

Hamba yang mukmin dan shabirin (sabar) akan meyakini bahwa Allah ๏ทป punya rencana lain untuknya, dan itu pasti lebih baik. Sebab Dia lebih tahu dibanding hambaNya sendiri tentang apa yang terbaik bagi hambaNya. Hamba minta A, Allah ๏ทป memberinya B, dan B itu ternyata lebih baik baginya. Atau, Allah ๏ทป menundanya sebagai ujian kesabaran dan sekaligus memang itulah momen yang pas baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

โ€œBoleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.โ€ (QS. Al Baqarah (2): 216)

Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pembatal Wudhu

Buang Air Kecil Di Tengah-tengah Mandi Wajib, Bagaimana status mandinya?

Pertanyaan

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Ustadz, saya mau bertanya, kalau mandi junub kan berwudhu dulu, waktu mandi ternyata buang air kecil, abis mandi perlu wudhu lagi apa tidak kalau mau shalat?

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู

Bismillahirrahmanirrahim…

Keluarnya air seni baik sengaja atau tidak, adalah pembatal wudhu berdasarkan ijma’, dan bukan pembatal mandi wajib. Maka teruskan mandi dan ulangi wudhu. Jadi kencing saat itu, tdk mengharuskan mengulang mandinya, lanjutkan saja, dan ulangi wudhunya.

Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid berkata:

ุฎุฑูˆุฌ ุงู„ุฑูŠุญ ู…ู† ู†ูˆุงู‚ุถ ุงู„ูˆุถูˆุก ู„ุง ู…ู† ู†ูˆุงู‚ุถ ุงู„ุบุณู„ ุŒ ูˆุนู„ูŠู‡ : ูู…ู† ู„ู…ุณ ูุฑุฌู‡ ุฃูˆ ุชุจูˆู„ ุฃูˆ ุฃุฎุฑุฌ ุฑูŠุญุง ุฃุซู†ุงุก ุบุณู„ู‡ ูุฅู†ู‡ ูŠุชู… ุบุณู„ู‡ ุŒ ูˆูŠุชูˆุถุฃ ุจุนุฏู‡

Buang angin termasuk pembatal wudhu, bukan pembatal mandi, oleh karena itu disaat seseorang memegang kemaluan, kencing, atau buang angin, ketika mandi maka sempurnakan mandinya dan ulangi wudhunya.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 49693)

Demikian. Wallahu a’lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hendaknya Satu Kubur Untuk Satu Mayit

Mengubur Mayit Satu Lubang Lebih Dari Satu Mayat

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Bismillahirrahmanirrahim…

Hal ini pada prinsipnya terlarang karena tidak sesuai dengan cara penguburan Islam, KECUALI dalam kondisi darurat atau alasan yang dibenarkan.Seperti sama sekali ketiadaan lahan atau mayit yg sangat banyak dan tidak mungkin diurus satu persatu.

Syaikh Muhammad bin Umar Al Jawi Rahimahullah berkata:

ูˆูŽู„ูŽุง ูŠุฌูˆุฒ ุฌู…ุน ุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูููŠ ู‚ุจุฑ ูˆูŽุงุญูุฏ ุจู„ ูŠูุฑุฏ ูƒู„ ูˆูŽุงุญูุฏ ุจูู‚ูŽุจู’ุฑ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงูˆูŽุฑู’ุฏููŠู‘ ุจูุงู„ู’ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉู ุนูู†ู’ุฏ ุงุชู‘ูุญูŽุงุฏ ุงู„ู’ุฌูู†ู’ุณ ุฃูŽูˆ ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ุฑูŽู…ููŠู‘ูŽุฉ ุฃูŽูˆ ุงู„ุฒู‘ูŽูˆู’ุฌููŠู‘ูŽุฉ

Tidak boleh menggabungkan dua mayit dalam satu kubur, tapi hendaknya satu kubur untuk satu orang. Al Mawardi berkata bahwa makruh menyatukan jenis, mahram, dan pasangan suami istri. [1]

Syaikh Sulaiman Al Jamal Rahimahullah menjelaskan:

ุฃู…ุง ุฏูˆุงู…ุง ุจุฃู† ูŠูุชุญ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูŠุช ูˆูŠูˆุถุน ุนู†ุฏู‡ ู…ูŠุช ุขุฎุฑ ููŠุญุฑู…ุŒ ูˆู„ูˆ ู…ุน ุงุชุญุงุฏ ุงู„ุฌู†ุณ ุฃูˆ ู…ุน ู…ุญุฑู…ูŠุฉ ูˆู†ุญูˆู‡ุง ู‡ุฐุง ูˆุงู„ู…ุนุชู…ุฏ ุฃู† ุฌู…ุน ุงุซู†ูŠู† ุจู‚ุจุฑ ุญุฑุงู… ู…ุทู„ู‚ุง ุงุจุชุฏุงุก ูˆุฏูˆุงู…ุง ุงุชุญุฏ ุงู„ุฌู†ุณ ุฃูˆ ู„ุง

Ada pun membuka kubur mayit lalu meletakkan mayit lain di situ secara permanen adalah haram. Walau sesama jenis, atau mahramnya, dan semisalnya. Inilah pendapat yang mu’tamad ( pendapat resmi dalam madzhab Syafiโ€™i), bahwa mengumpulkan dua mayit dalam satu kubur HARAM secara mutlak, baik dipermulaan saja atau terus menerus baik yg sesama jenis atau tidak. [2]

Larangan ini, baik yang mengatakan haram atau makruh, telah final dan disepakati. Imam Ibnu al Haj Rahimahullah berkata:

ุงุชู‘ูŽููŽู‚ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุถูุนูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุฏู’ููŽู†ู ูููŠู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู : ูˆูŽู‚ู’ููŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ู…ูŽุง ุฏูŽุงู…ูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู…ูู†ู’ู‡ู ู…ูŽูˆู’ุฌููˆุฏู‹ุง ูููŠู‡ู ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽูู’ู†ูŽู‰ ุŒ ููŽุฅูู†ู’ ููŽู†ููŠูŽ ููŽูŠูŽุฌููˆุฒู ุญููŠู†ูŽุฆูุฐู ุฏูŽูู’ู†ู ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูููŠู‡ู ุŒ ููŽุฅูู†ู’ ุจูŽู‚ููŠูŽ ูููŠู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู…ูู†ู’ ุนูุธูŽุงู…ูู‡ู ููŽุงู„ู’ุญูุฑู’ู…ูŽุฉู ุจูŽุงู‚ููŠูŽุฉูŒ ู„ูุฌูŽู…ููŠุนูู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุญู’ููŽุฑูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุฏู’ููŽู†ูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠููƒู’ุดูŽููŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุงุชูุงู‚

Para ulama sepakat bahwa tempat dikuburkannya seorang muslim adalah tempatnya yang terakhir, selama masih ada bagian dari tubuhnya maka dia masih di situ, sampai dia fana (lenyap), jika mayat itu sudah tidak ada maka saat itu boleh bagi mayat lain di kubur di situ. Seandainya ada sisa tulangnya maka semua itu tetap dihormati, tidak boleh menggalinya dan menguburkan mayat lain bersamanya, dan tidak boleh dibongkar berdasarkan kesepakatan ulama. [3]

Namun, jika kondisinya darurat, jumlah mayat sangat banyak dan tidak tertangani satu persatu, maka tidak apa-apa mereka dikubur satu lubang. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. sendiri terhadap mayat para sahabat saat perang Uhud.

Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu berkata:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุฌู’ู…ูŽุนู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽูŠู’ู†ู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุชู’ู„ูŽู‰ ุฃูุญูุฏู ูููŠ ุซูŽูˆู’ุจู ูˆูŽุงุญูุฏูุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู: ยซุฃูŽูŠู‘ูู‡ูู…ู’ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ุฃูŽุฎู’ุฐู‹ุง ู„ูู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูยปุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูุดููŠุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽุญู’ุฏู

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah menggabungkan dua mayat yang terbunuh saat Uhud dalam satu kain, lalu Beliau bersabda: โ€œSiapa di antara mereka yang lebih banyak hapal al Quranโ€, jika ditunjuk salah satunya maka dia didahulukan yang dimasukkan ke liang lahad. [4]

Dari Hisyam bin โ€˜Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

ุงุญู’ููุฑููˆุงุŒ ูˆูŽุฃูŽูˆู’ุณูุนููˆุงุŒ ูˆูŽุฃูŽุญู’ุณูู†ููˆุงุŒ ูˆูŽุงุฏู’ููู†ููˆุง ุงู„ุงูุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽู„ุงูŽุซูŽุฉูŽ ูููŠ ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽุงุญูุฏูุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู‘ูู…ููˆุง ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽู‡ูู…ู’ ู‚ูุฑู’ุขู†ู‹ุง

Galilah lubang, buatlah yang luas, dan berbuat ihsanlah,[5] kuburkanlah dua atau tiga orang di dalam satu kubur, dan dahulukan dalam penguburan yang paling banyak hapal Al Quran. [6]

Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri Rahimahullah berkata tentang hadits ini:

ููŠู‡ ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุฌู…ุน ุจูŠู† ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ู‚ุจุฑ ูˆุงุญุฏุŒ ูˆู„ูƒู† ุฅุฐุง ุฏุนุช ุฅู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุญุงุฌุฉุŒ ูƒู…ุง ููŠ ู…ุซู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ูˆุงู‚ุนุฉ ูˆุฅู„ุง ูƒุงู† ู…ูƒุฑูˆู‡ุงู‹ุŒ ูƒู…ุง ุฐู‡ุจ ุฅู„ูŠู‡ ุฃุจูˆุญู†ูŠูุฉ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุญู…ุฏ

Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya menggabungkan sekelompok orang dalam satu kubur, tetapi itu jika ada kebutuhan, sebagaimana realita dalam hadits ini, tapi jika tidak ada kebutuhan maka itu makruh sebagaimana pendapat Abu Hanifah, Syafiโ€™i, dan Ahmad. [7]

Imam ash Shanโ€™ani Rahimahullah juga mengatakan:

ุฌูˆุงุฒ ุฌู…ุน ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ู‚ุจุฑ ูˆูƒุฃู†ู‡ ู„ู„ุถุฑูˆุฑุฉ

Bolehnya mengumpulkan sekelompok (mayat) dalam satu kubur, itu jk kondisi darurat. [8]

Syaikh Muhammad bin Shalih al โ€˜Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

ยซุฅู„ุง ู„ุถุฑูˆุฑุฉยปุŒ ูˆุฐู„ูƒ ุจุฃู† ูŠูƒุซุฑ ุงู„ู…ูˆุชู‰ุŒ ูˆูŠู‚ู„ ู…ู† ูŠุฏูู†ู‡ู…ุŒ ูููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุงู„ ู„ุง ุจุฃุณ ุฃู† ูŠุฏูู† ุงู„ุฑุฌู„ุงู† ูˆุงู„ุซู„ุงุซุฉ ููŠ ู‚ุจุฑ ูˆุงุญุฏ. ูˆุฏู„ูŠู„ ุฐู„ูƒ: ยซู…ุง ุตู†ุนู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ููŠ ุดู‡ุฏุงุก ุฃุญุฏ ุญูŠุซ ุฃู…ุฑู‡ู… ุฃู† ูŠุฏูู†ูˆุง ุงู„ุฑุฌู„ูŠู† ููŠ ู‚ุจุฑ ูˆุงุญุฏุŒ ูˆูŠู‚ูˆู„: ุงู†ุธุฑูˆุง ุฃูŠู‡ู… ุฃูƒุซุฑ ู‚ุฑุขู†ุงู‹ ูู‚ุฏู…ูˆู‡ ููŠ ุงู„ู„ุญุฏยป ูˆุฐู‡ุจ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุฅู„ู‰ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุฏูู† ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุงุซู†ูŠู† ูƒุฑุงู‡ุฉ ุชู†ุฒูŠู‡

(Kecuali darurat) ini terjadi karena banyaknya mayat sementara petugas yang menguburkan sedikit, dalam kondisi seperti ini tidak apa-apa menguburkan dua orang laki-laki atau tiga orang dalam satu kubur. Dalilnya adalah apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap syuhada Uhud ketika Beliau memerintahkan menguburkan dua orang laki-laki dalam satu kubur, dan bersabda: โ€œLihat, siapa di antara mereka yang paling banyak hapal Al Quran maka dahulukan di liang lahad.โ€ Sebagian ulama berpendapat makruhnya menguburkan lebih dari dua orang, makruh tanzih. [9]

Demikian, maka menguburkan dalam satu kubur untuk sekumpulan mayat adalah dibolehkan hanya jika memang ada hajat atau darurat. Wallahu Aโ€™lam


Notes:

[1] Syaikh Muhammad bin Umar al Jawi, Nihayatu az Zain, 1/163

[2] Syaikh Sulaiman al Jamal, Hasyiyah Al Jamal, 2/203

[3] Imam Ibnu al Haj al Maliki, al Madkhal, Hal. 18

[4] HR. Bukhari no. 1343

[5] Imam Ali al Qari mengatakan, ada yang mengartikan berbuat baiklah kepada mayat yang akan dikubur, ada pula yang mengartikan perbaguslah kuburannya baik kedalamannya, meratakan bagian bawahnya, dan lainnya. (Imam Ali al Qari, Mirqah al Mafatih, 3/1219)

[6] HR. At Tirmidzi no. 1813, katanya: hasan shahih

[7] Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri, Mirโ€™ah al Mafatih, 5/437

[8] Imam ash Shanโ€™ani, Subulussalam, 1/547

[9] Syaikh Muhammad bin Shalih al โ€˜Utsaimin, Asy Syarh al Mumtiโ€™, 5/368

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678