Dulu Sapa Sekarang Tidak

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah saya mau bertanya. Gimana hukumnya jika dua orang (akhwat & ikhwan) yang dulunya berteman tetapi sekarang tidak pernah bertegur sapa saat bertemu? Seolah-olah seperti tidak saling kenal..
# A 45

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bergaul dengan siapa saja bagi setiap individu mungkin merupakan suatu kebutuhan yang lazim dan harus. Sosialisasilah yang membuat manusia dapat  mengalami titik tolak perubahan dalam dirinya. Pergaulan yang harus diperlihatkan bukanlah pergaulan yang salah, tidak jenis pergaulan yang mematuhi syariat yang dianjurkan/diperintahkan islam di dalamnya. Semua pencapaian dan akhir klimaks bagi setiap orang harus memenuhi rasa syukur dan bangga secara lahiriah maupun batiniah. Itulah tadi mengapa manusia harus melakukan interaksi yang baik? Jawabannya karena ingin memperoleh hasil yang baik dan mempunyai manfaat bagi dirinya atau orang lain yang bersangkutan.

 Perlu kita bahas bagaimana pergaulan yang benar antara saudara kita yang satu dengan yang lainnya. Ikwan dan akhwat. Jika mendengar kata tersebut, maka setiap individu sontak menyadari bahwa dirinyalah ikhwan atau akhwan. Sebuah penciptaan yang tidak sia-sia dari yang Maha Agung dalam menciptakan manusia yang berbeda-beda jenis kelamin. Tujuan ini di dasarkan atas tujuan sang pencipta untuk manusia berpasang-pasangan.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya:

” Wahai orang-orang yang beriman ! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-oorang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada ( suami ) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu meminta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang telah ditetapkanNya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS : Al- Mumtahanah: 10)

Dalam pergaulannya, tidak selamanya seorang ikhwan akan bergaul dengan ikhwan. Begitupun sebaliknya, tak selamanya seorang akhwat akan bergaul dengan seorang akhwat. Pasti ada hubungan atau interaksi sosial yang sifatnya heterogen. Dan biasanya interaksi yang heterogen dapat diambil arti bahwa hubungan pertemanan yang dilakukan dari akwat dengan ikhwan. Pergaulan antara ikhwan dan akhwat tetap diperbolehkan dalam islam asalkan semua pergaulan yang dilakukan didasarkan atas perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya, serta mengikuti anjuran Al-Quran, Hadits, dan As-sunnah.

Jangan sampai pergaulan yang kita lakukan antara ikhwan dan akhwat merupakan pergaulan yang dapat mengundang murka Allah, dan setiap orang (Ikhwan-akhwat) harus meemperhatikan dan menjaga dirinya baik- baik.

Islam tidak melarang ikhwan dan akhwat untuk bertegur sapa selama tidak berlebihan dan tetap menjaga diri. Dan perlu dicatat, dalam pergaulan antar lawan jenis jangan sampai membuka peluang setan untuk menjerumuskan atau menggoda kita melewati batas, misalnya mengobrol berdua di tempat sepi dll.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Diantara Penyakit-Penyakit Para Aktifis

1. Kamaliyat (Perfeksionis)

Ada aktifis Islam yang begitu ingin sempurna dan ideal. Apa yang dia baca, dia pahami, dan dia inginkan harus benar-benar terwujud sejak proses sampai tujuan akhirnya. Pandangan terhadap seseorang, nilai, dan entitas, begitu sempurna.

Aktifis model ini akan mudah kecewa jika tidak sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi.
Jenis muharrik (aktifis) seperti ini rentan menggerutu dan merajuk (ngambek) jika idealismenya tidak terwujud.
Dia lupa bahwa dirinya manusia, qiyadah-nya manusia,  kawannya manusia, mad’u (objek da’wah)-nya juga manusia, yang akan terjadi hal-hal yang sifatnya manusiawi pula.

2. Isti’jaal (Tergesa-gesa)

Ada lagi aktifis Islam yang begitu semangat dalam da’wahnya, mengerahkan semua tenaga dan pikirannya, tanpa memahami tabiat jalan da’wah yang begitu panjang dan melelahkan.

Akhirnya staminanya berakhir pada saat jauh dari tujuan. Ini terjadi karena keinginannya untuk cepat-cepat menang, cepat-cepat terjadinya futuhat (penaklukan) atas musuh atau daerah.

Kadang tergesa-gesa pula dalam menilai perubahan musuh-musuh da’wah, sehingga hilang kewaspadaan.
Disangkanya musuh melunak, disangkanya musuh sudah ditaklukan, disangkanya musuh menjadi pendukung,  padahal itu strategi mereka. Tergesa-gesa memang membuat kesadaran untuk hati-hati dan waspada menjadi tipis.

3. Futuur (Lemah dan Berhenti)

Ada pula aktifis yang lemah setelah semangat, berhenti setelah bergerak. Itulah futur. Biasanya disebabkan oleh kerasnya pertarungan dan minimnya stamina baik berupa pasokan ruhiyah yang ringkih, fikriyah yang lemah, jasadiyah yang layu, ditambah faktor ekonomi yang terseok-seok.
Di sisi luar, kemenangan yang tidak kunjung datang, sementara musuh-musuh da’wah Islam semakin keras menteror, memfitnah, sampai menangkap mereka. Lahirlah rasa takut, akhirnya mereka surut dan meninggalkan da’wah sama sekali.  Dulunya mereka rijal, sekarang menjadi buih.

5. Hubbuzh Zhuhuur (Senang Tampil)

Ada pula aktifis yang selalu ingin tampil. Ingin disebut namanya, dianggap besar saham da’wahnya, dan penting kontribusinya. Semangat dalam keramaian, lesu dalam kesendirian. Sesak dada jika saudaranya lebih unggul dan sering tampil. Keikhlasannya dipertaruhkan. Memandang saudaranya sesama aktifis sebagai kompetitor dalam arti negatif, bukan berlomba dalam kebaikan.

Penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan bagusnya tauhid,  mujahadah untuk meluruskan niat, dan mengenyampingkan target pribadi duniawi.

5. Isytighal bimaa laa ya’nih (Sibuk Dengan Hal Yang Tidak Bermanfaat)

Ada aktifis yang sibuknya mengoleksi kesalahan saudaranya, berdebat di sana sini, berkutat pada masalah yang tidak produktif, dan jauh dari umat. Seolah dia autis, punya dunia dan kehidupan sendiri.

Bagaimana bisa memperbaiki, jika sibuk sendiri, dan menjauh dari permasalahan umat?

6. Tafarruq (perpecahan)

Ada aktifis yang sulit untuk menerima pandangan saudaranya. Lapang dada adalah sikap yang tidak mampu dia raih. Ke mana dia berada selalu mengundang dan mengandung ihtikaak (gesekan/friksi), baik di organisasi, perkumpulan, masjid, bahkan dunia maya.

Hobi sekali berpecah, dengan alasan “meluruskan yang salah”. Akhirnya, kawan menjadi lawan, saudara menjauh, sementara musuh bertepuk tangan.

Wahai para aktifis, apakah ini pernah anda alami?

By: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Doa Nurbuat

Assalamu’alaikum, mau tanya. Pengalaman membaca doa nurbuat itu apakah dianjurkan oleh Rasulullah? Mohon jawabannya yaa ukh, syukron.

Jawab:

Wa’alaikumussalaam wrwb…

Banyak ulama meragukan apakah doa nurbuat ini benar berasal dari Rasulullah saw atau tidak.
Karena ada beberapa alasan yang cukup kuat yang harus dipertimbangkan, diantaranya adalah kesalahan tata bahasa dalam sebagian lafazh doa yang tidak sesuai dengan nahwu bahasa Arab, juga isi permintaan dalam doa tersebut serta keutamaan-keutamaan membaca doa ini yang tidak jelas dasar dalilnya.
Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa doa ini bukan berasal dari Nabi saw dan tidak ada anjuran khusus untuk membacanya sehingga tidak layak untuk dirutinkan.

Meskipun demikian, ada juga kalangan ulama yang mengatakan bahwa walaupun doa nurbuat ini bukan berasal dari Nabi saw, namun membaca doa ini boleh-boleh saja, sebagaimana hukum berdoa secara umum yakni boleh-boleh saja untuk berdoa meminta kebaikan-kebaikan kepada Allah SWT asalkan isinya tidak bertentangan dengan syariat.
Walaupun memang, doa yang paling utama adalah doa yang terdapat dalam Al Quran, doa yang berasal dari Nabi saw, dan doa yang berasal dari para sahabat dan orang-orang sholeh terdahulu.

Maka untuk lebih afdhol dan keluar dari perbedaan pendapat ini, adalah lebih baik jika kita mengamalkan doa-doa yang utama yakni doa-doa yang terdapat dalam Al Quran, doa yang berasal dari Nabi saw, para sahabat dan orang-orang sholeh terdahulu.

Demikian, wallaahu a’lam bishshowab…

Dijawab oleh Ustadzah Prima Eyza

KISAH NABI ADAM A.S. (3)

Apa khabarnya? Masih dalam kehausan akan ilmu kan? Keep your spirit, yach!
Oh ya, terkait judul materi ini, kita lanjutkan ya tadabburnya.

Dari berbagai nash yang kita terima hari ini, berikut ini kelanjutan beberapa fakta terkait dengan Nabi Adam a.s., sebagai manusia pertama yang diciptakan-Nya di muka bumi, sbb.:

9. Nabi Adam a.s. adalah manusia yang materi jasadnya diambil oleh Malaikat Maut dari wakil seluruh debu tanah dari seluruh wilayah di bumi, dibawa oleh Malāikat Jibril, dan dikumpulkan Allah dalam bentuk tanah campuran, dibiarkan-Nya hingga berwujud tembikar kering. Wajar sehingga kemudian warna kulit manusia ini berbeda-beda, ada yang merah, kuning, hitam atau putih. (Q.S. Shād [38]:71-72/HR. Ahmad)

10. Nabi Adam a.s. adalah manusia dan ciri manusia adalah berongga secara jasad, dan berpadu dengan ruh. Adanya ruh melahirkan sifat dasar jasad yang kehausan, kelaparan dan senang dengan segala sesuatu yang indah dan menarik hatinya. Sifat dasar inilah yang seringkali membuat manusia sering tergesa-gesa dalam segala sesuatu (Q.S. Al-Anbiyā [21]:37)

11. Ruh memasuki seluruh bagian jasad Nabi Adam a.s. dan keturunannya, hingga ketika meliputi bagian kepala, disinilah pusat perintah pergerakan manusia. Di antara awal perintah otak adalah ketika Nabi Adam a.s. bersin, maka ia memuji-Nya, _Alhamd li Allāh_, dan Allah ﷻ mendo’akannya dengan _Yarhamukallāh_.. (Qashash al-Anbiyā)

Sampai disini dulu ya Brother and Sista. Ada yang mau ditanyakan? Kita akan lanjutkan poin-point terkait sosok Adam a.s. pada tulisan selanjutnya ya.

By: Dr. Wido Supraha

Laporan Penyaluran Donasi Manis untuk Aleppo dan Bima

INFO DONASI ALEPPO & BIMA


Assalamualaikum semua…. Alhamdulillah pengumpulan donasi untuk Aleppo & Bima sudah terkumpul dana sebesar :

1. Donasi untuk Aleppo : Rp. 10.000.000,-

2. Donasi untuk Bima : Rp. 9.000.000,-

Semoga bagi teman2 yang telah menyisihkan hartanya untuk saudara/i kita di Aleppo & Bima, dihitung sebagai amal jariyah diyaumil akhir….Aamiin yaa Robb

Kami Ucapkan Jazaakumulloh khaeran jaza atas semua partisipasinya….dan Donasi tersebut sudah kami salurkan kepada saudara2 kita di Bima melalui RELINDO, dan donasi untuk Aleppo melalui Aksi Cepat Tanggap ( ACT ) pada tanggal 17 Januari 2017 yang telah turun langsung dalam penanganan korban

NB : Donasi untuk Bima tersebut diatas adalah sebagian tergabung juga dengan teman2 komunitas Sedekah Seribu Sehari
Sekali lagi kami ucapkan…. Jazaakumulloh khaeran atas perhatian & partisipasinya

PENGURUS MANIS

HIJRAHNYA SHAHABIYAH

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah….
Klo dilihat dr zaman rasul saw. Hijrah yg seperti apa yg plg baik yg telah dilakukan wanita2 d sanaa? Mungkin sprti siti aisyah, / siapa agar kami bisa blajar. Afwan

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Seluruh shahabiyah adalah bintang-bintang bercahaya karena ilmu yang dimilikinya.

K!ita teringat dengan seorang wanita berpenyakit ayan yang memilih tidak jadi meminta kesembuhan dan hanya mengharapkan agar ketika ayan-nya kambuh auratnya tidak tersingkap, inilah wujud wanita yang mampu membuat keputusan prioritas

Kita teringat dengan Fathimah r.a. yang sejak kecil hingga wafat selalu sabar dalam ekonomi serba terbatas

Kita teringat seorang wanita yang menangis ketika dikunjuni Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. pasca wafatnya Nabi ﷺ. Bukan menangis karena tiadanya Nabi, namun menangis karena terputusnya ilmu yang ia cintai karena wafatnya Nabi.

Terlalu banyak cahaya purnama para shahabiyah, prioritaskanlah untuk membaca biografi mereka, dan mengambil faidah dari akhlak mereka.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Wido Supraha

Inikah Zamannya?

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»

“Akan datang ke pada manusia:

tahun-tahun penuh kebohongan,
saat itu pendusta dibenarkan
orang yang benar justru didustakan
pengkhianat diberikan amanah
orang yang dipercaya justru dikhianati
dan Ar-Ruwaibidhah berbicara.”

Ditanyakan: “Apakah Ar-Ruwaibidhah?” Beliau bersabda:

“Seorang laki-laki yang bodoh (Ar Rajul At Taafih) yang mengurusi urusan orang banyak.”

(HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912.  Dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad No. 7912. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: sanadnya jayyid. Lihat Fathul Bari, 13/84)

Inilah zaman itu. Pembohong dibenarkan, orang benar didustakan. Para pengkhianat diberikan amanah, orang yang amanah justru dikhianat.

Para ulama yang ingin melindungi NKRI dari komunis malah direndahkan fatwanya, kepribadian mereka dilecehkan, dan dibuat jauh dari umatnya, ….

Gerombolan preman justru dibela oleh aparat yang seharusnya memberantas mereka … sementara para ulama dimusuhi dan dibenci ..

Media-media busuk pemfitnah ulama dan umat semakin  menjamur ..

Ulama suu’ (buruk), penerus Bal’am,  yang menjual agama dengan dunia disanjung-sanjung setinggi-tingginya  ..

Itulah Ar-Ruwaibidhah …, secara bahasa merupakan tashghir (pengecilan) dari Ar Raabidh yang artinya berlutut. Ya, saat itu banyak orang-orang yang rendah (berlutut) tetapi justru banyak bicara seakan menjadi pahlawan .. padahal mereka merusak negeri ..

Wallahul Musta’an

Ditulis oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Polisi .. Kok Gitu Sih?

Salah satu pertanyaan saya ke murid-murid saya yang SD, “Udah besar mau jadi apa?” Jawaban mereka beragam, di antara yang hampir selalu muncul adalah polisi (selain dokter, pilot, dan guru)

Artinya polisi masih jadi favorit lho, karena kesan gagah dan mengayomi ada dalam benak anak-anak

Apalagi pasca pelumpuhan komplotan pencuri di Pulomas yang sangat cepat. Dua jempol buat POLRI …!

Maka, jangan sampai kesan itu hilang, dan jangan  pula sebatas kesan, mesti jadi kenyataan yang langgeng. Melindungi, mengayomi, dan melayani.

Jangan sampai kesan itu tidak pernah muncul, atau yang  muncul adalah sebaliknya; arogan dibalik seragam dan senjata, tidak bersama masyarakat tapi bersama cukong dan preman, gara-gara perilaku sebagian kecil oknumnya

Yang terbaca, polisi nampak begitu mengerikan dan menyeramkan, itulah yang terjadi saat ini.

Saat  masa Presiden SBY yang jelas purnawirawan TNI, ratusan mungkin ribuan kali Beliau dikritik keras, tapi Beliau sabar …, Nah saat ini, presiden yang justru sipil, seolah kembali masa represi orde baru yang militeristik, anti kritik ..

Kata-kata seperti si Fulan menjadi tersangka, si Fulan dipanggil polisi, dari pihak kepolisian lebih sering terdengar .., hanya karena “Fulan-Fulan” mengkritik pemerintah yang berkuasa saat ini ..

Belum lagi pernyataan-pernyataan pejabat tinggi Polri yang justru menebar ancaman di tengah masyarakat .., tidak simpatik

Jadi, sebenarnya pengayom masyarakat atau pengayom penguasa?

Saat Islam dan ulama direndahkan, baik di medsos dan lainnya, kesannya sangat lamban bahkan ogah-ogahan. Alasannya, belum ada laporan.

Paling mudah terlihat adalah penista agama seperti Abu Janda Al Boluwudi, sangat jelas status-statusnya menista Islam .. dia masih bebas berkeliaran, kalau pun belum ada laporan bukankah Polri punya Tim Cyber Crime?

Tapi jika ada yang mengkritik Mr. Presiden, sangat cepat diusut dan menjadi tersangka .., seperti yang dialami Bambang Tri ..
 
Maka, jangan salahkan masyarakat .. jika mereka masih belum mengubah persepsi bahwa TNI lebih asyik di banding POLRI … pembandingan ini adalah hal yang alami ditengah masyarakat, jd jangan capek-capek berkilah

Lalu .. ini yang membuat termenung …, apakah yang diiprediksikan oleh Nabi ﷺ memang sudah datang zamannya saat ini? Termasuk di negeri kita tercinta?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ شَرَطَةٌ، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ بِطَانَتِهِمْ”.

👉Akan datang di akhir zaman adanya polisi yang di pagi hari di bawah kemurkaan Allah, dan sore harinya di bawah kebencian Allah. Hati-hatilah kamu menjadi bagian dari mereka. (HR. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 7616. Imam Al Munawi mengatakan: shahih. Lihat At Taisir bi Syarh Al Jaami’ Ash Shaghiir, 2/192)

Imam Al Munawi mengatakan Syurthah (polisi) di sini adalah a’wanus sulthaan (pelindung penguasa). Beliau juga menjelaskan, -mengutip dari An Nihayah- bahwa polisi dinamakan Syurthah, karena mereka memiliki tanda (‘alamaat) untuk mengenalinya, dan juga keberadaannya  sebagai asyraatus saa’ah (tanda-tanda datangnya kiamat). (Faidhul Qadir, 4/169)

Asli .. Rindu Kapolri Hoegeng nih ..! Masih Ingat Hoegeng??

Ditulis oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Hidangan dari Perayaan Agama Lain

Assalamu’alaikum…Bagaimana hukumnya makan makanan dari ummat agama lain dlm rangka peringatan hari besarnya. Misal tetangga yg nasrani membagi snack kepada anak2,semacam ulang tahun itu,pada hari natal ini ?
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Kita tidak bisa menerima penyelewengan umat kristiani yang telah menuhankan nabi Isa alaihissalam. Tindakan ini adalah sebuah tindakan syirik yang dosanya tidak akan diampuni. Ditambah lagi mereka juga menyembah tiga tuhan (trinitas).

Karena itulah mereka ini ditetapkan sebagai kafir oleh Al-Quran Al-Kariem.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS Al-Maidah: 72)

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَـهٍ إِلاَّ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS Al-Maidah: 73)

Hukum Makanan Natal

Namun lepas dari ketidak-setujuan kita dengan aqidah mereka, khusus dalam masalah makanan yang mereka buat, pada dasarnya tidak ada larangan khusus. Bahkan dalam Al-Quran telah ditegaskan bahwa hewan sembelihan ahli kitab halal buat umat Islam, seperti juga kebalikannya.

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُّ لَّهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلاَ مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَن يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi”. (QS Al-Maidah: 5)

Sedangkan yang diharamkan adalah hewan yang disembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang disembelih selain untuk Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS. Al-Baqarah: 173)

Maka makanan yang ketika disembelih diniatkan untuk berhala misalnya, makanan itu haram untuk kita makan.

Tapi sebaliknya, bila tidak untuk berhala melainkan sekedar hidangan konsumsi biasa, meski untuk acara natal sekalipun, sebenarnya tidak ada ‘illat yang membuatnya menjadi haram. Baik secara zatnya atau pun secara nilainya.

Haram secara zat misalnya karena makanan itu najis seperti bangkai, anjing, babi dan sebagainya. Atau karena berupa khamar yang diharamkan. Atau karena zatnya memang berbahaya buat manusia seperti racun, drugs, narkoba dan sejenisnya.

Sedangkan haram secara nilai misalnya karena hasil curian, atau dipersembahkan untuk berhala. Sedangkan bila makanan itu pernah diedarkan untuk sebuah perayaan agama lain namun bukan buat persembahan berhala, tentu tidak ada kaitannya dengan zat dan nilainya.

Meski tidak ada yang salah dari segi zat dan nilainya, bukan berarti kita bebas begitu saja memakannya. Sebab bisa saja makanan itu mengandung unsur lain seperti menjaring umat Islam untuk murtad dari agamanya. Mulai dari menanam budi tapi ujung-ujungnya banyak juga yang bergantung.

Dengan masuknya bantuan makan, obat, sekolah, beasiswa serta kebutuhan hidup yang lain, seringkali terjadi kemurtadan di tengah umat. Karena itu umat Islam perlu waspada dan hati-hati menerima hadiah atau bantuan dari agama lain.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Ash Shadiquun – Orang-Orang Jujur

Al Harits Al Muhasibiy Rahimahullah berkata:

الصادق هو الذي لا يبالي ولو خرج عن كل قدر له في قلوب
الخلائق من أجل صلاح قلبه ولا يحب إطلاع الناس على مثاقيل الذر من حسن عمله ولا يكره إطلاع الناس على السئ من عمله فإن كراهته لذلك دليل على أنه يحب الزيادة عندهم وليس هذا من أخلاق الصديقين

Orang Jujur lagi benar adalah orang yang tidak memperhatikan segala penghargaan manusia kepadanya, demi kedamaian hatinya. Dia tidak suka manusia mengetahui kebaikan dirinya walau seberat atom. Dia tidak menarus rasa benci jika manusia tahu kejelekan dirinya. Kebencian itu hanyalah menunjukkan bahwa dia menginginkan tambahan perhatian dari mereka. Itu bukan akhlak orang-orang yang jujur

Imam An Nawawi, At Tibyan fi Adab Hamalah Al Quran, Hal. 33

Ditulis oleh: Farid Nu’man Hasan