THE RIGHT MAN AT THE RIGHT TIME (seri FATHERMAN bag. 3)

๐Ÿ“† Sabtu, 14 Sya’ban 1437H / 21 Mei 2016

๐Ÿ“š *KELUARGA & PARENTING*

๐Ÿ“ Pemateri: *Ustadz Bendri Jaisyurrahman* @ajobendri

๐Ÿ“‹  *THE RIGHT MAN AT THE RIGHT TIME (seri FATHERMAN bag. 3)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Pernah lihat adegan ini?
โ€œSeorang wanita lari dengan nafas tersengal-sengal dikejar seorang monster atau makhluk jahat. Di depannya hanya ada jurang. Ia tak bisa lari kemana-mana. Pilihannya hanya dua. Mati jatuh ke jurang atau diterkam monster buas. Begitu sang monster mendekat dan siap memangsa korbannya, muncullah pahlawan bertopeng. Dengan gagah berani ia taklukkan sang monster hingga lumat dan lenyap dari muka bumi. Si wanita meleleh hatinya seraya membatin _โ€˜So sweet. You are my heroโ€™._

Demikianlah kisah mainstream kepahlawanan dalam hampir setiap film, komik ataupun novel. Polanya selalu sama. Pahlawan datang di detik-detik terakhir yang menegangkan. Ketika adrenalin bergejolak, jantung berdetak kencang, air mata terkuras karena saking pedihnya hati dibarengi dengan air kencing yang tanpa sadar keluar saking mencekamnya suasana, muncullah sang pahlawan. Yes. _Pahlawan selalu punya rumus : datang di saat yang tepat._ Beda dengan mahasiswa jenius yang datang kecepetan, bahkan sebelum pintu kelas dibuka. Atau polisi dalam film-film Indonesia jaman dulu yang selalu datang terlambat sekedar untuk memasang garis kuning di TKP sambil membereskan puing-puing di lokasi kejadian diikuti credit title tanda berakhirnya film.

*Tepat waktu, itulah ciri pahlawan.*. Tidak terlalu cepat seperti petugas pendaftaran atau terlambat seperti haid alias datang bulan. _Dan itu pulalah yang selayaknya dimiliki pahlawan bagi anak yang bernama Fatherman. Tahu kapan harus hadir di sisi anak._ Tentu tepat waktu yang dimaksudkan disini bukan mengabaikan peran ayah memberi banyak waktu bagi anak. Namun bagaimana melatih kemampuan ayah sebagai Fatherman membaca situasi dan moment agar WAJIB hadir di saat anak membutuhkan. Hasilnya akan memberikan *efek terpesonanya batin anak. The right man at the right time*. Jangan sampai di situasi genting dan kritis malah orang lain yang hadir. Jika ini sampai terjadi, ayah akan bernasib seperti para jones alias jomblo ngenes yang ditikung teman sendiri. Awalnya dia yang deketin eh nikahnya sama yang lain. Duh sakitnya tuh di sana sini. Perih.

Agar kejadian jones tidak dialami oleh ayah, maka ada *dua waktu yang ayah mutlak harus hadir sebagai Fatherman.*

*Pertama, saat anak sedang sedih.*

Inilah waktu-waktu yang kritis. Sebab, saat anak lagi sedih ia butuh sandaran jiwa. Siapapun yang hadir di sisinya saat itu, ia anggap super hero baginya. Disinilah kejelian bandar narkoba, predator seksual dan musuh-musuh pengasuhan dalam mengintai mangsanya. Mereka mengincar anak-anak yang lagi sedih. Bisa karena putus cinta, gagal berprestasi, merasa diabaikan oleh kawan, dan segala masalah anak lainnya. Mereka menyamar sebagai sosok pahlawan padahal sejatinya adalah monster jahat yang siap menerkam. Anak pun terpikat akan sosoknya. Hingga akhirnya dibujuk ke dalam perangkap jahatnya.

Nah, sang fatherman tidak boleh terlambat. Hadirlah di saat situasi tersebut. Sesegera mungkin. Jika saat tersebut sedang ada tugas di kantor, minimal hubungi anak via telpon. Luangkan waktu untuk mendengarkan masalah anak. Jika perlu, berjanjilah untuk pulang lebih cepat. Semakin ayah berani luangkan waktu dan hadir secara fisik dalam situasi ini semakin anak terpikat hatinya. Ayah benar-benar sudah menjadi super hero bagi ananda. This is Fatherman!

Inilah yang diajarkan oleh baginda Nabi. Dikisahkan oleh Anas bin Malik bahwa ia memiliki sepupu yang dijuluki Abu Umair. Sepupunya ini punya hewan kesayangan, seekor burung pipit yang diberi nama Nughair. Suatu hari Abu Umair berduka. Nughair yang disayanginya telah mati. Ia amat kehilangan. Menangis sesenggukan. Kabar matinya hewan piaraan ini sampai kepada Rasulullah. Beliau pun segera mengunjungi Abu Umair dan menghibur hatinya yang sedang merasakan kehilangan. Disinilah hebatnya rasul. Tak remehkan urusan yang dianggap โ€˜sepeleโ€™. Sebagian besar ayah mungkin akan bertindak beda. Saat anak kehilangan burung pipit malah dikomentari โ€œHalah, baru burung pipit mati aja kamu udah sedih. Ya sudah, nanti papa ganti sama burung rajawali. Kalau perlu burung garuda yang ada logo pancasilaโ€. Huft… Padahal bukan masalah burung yang mati, namun kehilangan sesuatu yang dicintai amatlah mengoyak hati. Sang fatherman hadir untuk memahami situasi ini.

*Kedua, saat anak sakit.*

Sakitnya fisik mempengaruhi psikis. Di saat inilah anak butuh diperhatikan. Bukan sekedar obat ataupun makanan. Lebih dari itu, ia butuh perhatian dan kasih sayang. Hadir di sisinya, memeluknya, mengusap kepalanya, menyuapinya makan atau mendoakannya amatlah menyentuh batinnya. Obat akan menyembuhkan dan menguatkan fisiknya, namun perhatian akan menyembuhkan luka batinnya dan menguatkan cinta kepada ayahnya.
Di saat seperti inilah, sang fatherman bisa manfaatkan momen untuk bercerita, menasehati dan mengajarkan hikmah kepada anak. Asal jangan banyak-banyak. Ingat! Anak ini bukan mahasiswa yang lagi ambil kuliah 6 SKS. Jadi nasehati seperlunya saja. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah kepada seorang anak yang menjadi pembantunya. Anak ini beragama yahudi. Di saat ia sakit, Rasul pun mengunjunginya. Hati anak pun tersentuh akan perhatian Rasul. Di saat itulah Rasul pun mengajaknya masuk Islam, ia pun mau sebab hatinya telah terpikat.

Maka, menasehati anak hanya bisa dilakukan oleh ayah yang telah mengikat hati anak lewat momen yang tepat. Hadir di saat sakit itu contohnya. Meleset sedikit, nasehat ayah tak lagi didengarkan malah dikacangin. Kalau kacang sih gurih, tapi dikacangin? Perih…

Agar kedua moment itu bisa memberikan efek yang dahsyat dalam jiwa anak, ayah selaku Fatherman jangan sampai salah kostum. Salah kostum bisa berakibat fatal. Lihat aja Superman. Tanda โ€œSโ€di dada bidangnya itu kostum khas. Memberi makna tubuhnya yang kekar dan langsing. Seumpama diganti dengan tanda โ€œXLโ€ maka itu bermakna dia sudah overweight. Harus banyak lari pagi. Tidak ada yang mau ditolong karena ragu, sebab Super Heronya sendiri butuh pertolongan konsultan nutrisi, khususnya untuk menurunkan berat tubuh sendiri.

_Kostum yang dimaksud bagi Fatherman adalah topi peran yang sudah kita ulas di bagian awal tulisan ini. Dan topi yang tepat di kedua situasi tersebut adalah Topi Konselor._Ayah berperan sebagai konselor yang memahami perasaan anak. Siap mendengarkan keluh kesah anak seraya menunggu moment yang pas untuk memberikan advice. Endurance atau ketahanan Ayah dalam mendengarkan curhat anak dalam situasi ini, amat menentukan. Kuping emang harus siap panas karena mendengarkan curhat yang berulang. Tapi inilah super hero idaman. Sedikit bicara dan banyak diam namun memberikan kesan. Bukan sembarang diam. Namun diam yang penuh respons lewat isyarat tubuh yang menunjukkan kepedulian. Inilah yang membuat ayah makin tampak cool di hadapan anak.

*Kehadiran ayah dengan kostum yang tepat di situasi kritis tersebut adalah prasyarat menjadi sosok ayah yang memorable.* Hingga terpahat di hati anak sebuah untaian kalimat *โ€œAyah memang tidak selalu hadir setiap saat disisiku, namun ayah selalu hadir di saat aku membutuhkan. Itulah ayahku, sang fatherman.โ€*  So sweet…tissue mana tissue?

 (bersambung)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Hukum Bagi Wanita Haid Mengikuti Halaqah di Masjid

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB 
โœUstadz Farid Nu’man Hasan, S.S
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน
Assalamualaikum ustadz/ah…
Bagaimana sebenarnya hukum bagi wanita haid mengikuti halaqah atau majlis ilmu dimesjid?
Maksud saya apa boleh didalam, diteras mesjid atau dihalaman atau tidak sama sekali dimana pun bagian mesjid? A 02
Jawaban:

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Dalam pertanyaan diatas, perlu diketahui berhadats besar yaitu hadats yang disucikannya dengan ghusl (mandi), atau istilah lainnya di negeri kita adalah mandi junub, mandi wajib, dan mandi besar. Yang termasuk ini adalah wanita haid, nifas, dan orang junub (baik karena jimaโ€™ atau mimpi basah yang dibarengi syahwat).
Pada bagian ini terjadi khilaf (perselisihan) pendapat di antara ulama Islam, antara yang mengharamkan dan membolehkan.
๐ŸŒฟPara Ulama Yang Mengharamkan dan Alasannya Mereka yang mengharamkan beralasan dengan beberapa dalil berikut:Hadits dari Ali bin Abi ThalibRadhiallahu โ€˜Anhu, katanya:
ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุญุฌุฒู‡ ุดูŠุก ุนู† ุงู„ู‚ุฑุฃุกุฉ ุฅู„ุง ุงู„ุฌู†ุงุจุฉ              
โ€œBahwasanya tidak ada suatu pun yang menghalanginya dari membaca Al Quran kecuali junub.โ€ 
(HR. Ibnu Majah No. 594) 
Hadits lain dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
ู„ุงุชู‚ุฑุฃ ุงู„ุญุงุฆุถ ูˆู„ุง ุงู„ุฌู†ุจ ุดูŠุฆุง ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู†          
“Janganlah wanita haid dan orang junub membaca sesuatu pun dari Al Quran.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 131, Al Baihaqi dalam Sunannya No. 1375, katanya: laisa bi qawwi โ€“ hadits ini tidak kuat. Ad Daruquthni,  Bab Fin Nahyi Lil Junub wal Haa-id โ€˜An Qiraโ€™atil Quran,No. 1) 
๐ŸŒฟPara Ulama Yang Membolehkan dan Alasannya Menurut ulama lain, sama sekali tidak ada larangan yang qathโ€™i (pasti) dalam Al Quran dan As Sunnah bagi orang yang berhadats besar untuk membaca Al Quran. Ada pun dalil-dalil yang dikemukakan di atas bukanlah larangan membaca Al Quran, tetapi larangan menyentuh Al Quran. Tentunya, membaca dan menyentuh adalah dua aktifitas yang berbeda. Inilah pendapat yang lebih kuat, dan memang begitulah adanya, menurut mereka bahwa nash-nash yang dibawakan oleh kelompok yang melarang tidaklah relevan. Wallahu Aโ€™lamTetapi, ada yang merinci: wanita  HAID dan  NIFAS adalah  BOLEH, sedangkan  JUNUB adalah TIDAK BOLEH.Syaikh Abdul Aziz bin BazRahimahullah mengatakan โ€“dan ini adalah jawaban beliau yang memuaskan dan sangat bagus:

ู„ุง ุญุฑุฌ ุฃู† ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ุญุงุฆุถ ูˆุงู„ู†ูุณุงุก ุงู„ุฃุฏุนูŠุฉ ุงู„ู…ูƒุชูˆุจุฉ ููŠ ู…ู†ุงุณูƒ ุงู„ุญุฌ ูˆู„ุง ุจุฃุณ ุฃู† ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุนู„ู‰ ุงู„ุตุญูŠุญ ุฃูŠุถุงู‹ ู„ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠุฑุฏ ู†ุต ุตุญูŠุญ ุตุฑูŠุญ ูŠู…ู†ุน ุงู„ุญุงุฆุถ ูˆุงู„ู†ูุณุงุก ู…ู† ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุฅู†ู…ุง ูˆุฑุฏ ููŠ ุงู„ุฌู†ุจ ุฎุงุตุฉ ุจุฃู† ู„ุง ูŠู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆู‡ูˆ ุฌู†ุจ ู„ุญุฏูŠุซ ุนู„ู‰ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูˆุฃุฑุถุงู‡ ุฃู…ุง ุงู„ุญุงุฆุถ ูˆุงู„ู†ูุณุงุก ููˆุฑุฏ ููŠู‡ู…ุง ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ุนู…ุฑ { ู„ุง ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ุญุงุฆุถ ูˆู„ุง ุงู„ุฌู†ุจ ุดูŠุฆุงู‹ ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู† } ูˆู„ูƒู†ู‡ ุถุนูŠู ู„ุฃู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ู…ู† ุฑูˆุงูŠุฉ ุงุณู…ุงุนูŠู„ ุจู† ุนูŠุงุด ุนู† ุงู„ุญุฌุงุฒูŠูŠู† ูˆู‡ูˆ ุถุนูŠู ููŠ ุฑูˆุงูŠุชู‡ ุนู†ู‡ู… ุŒ ูˆู„ูƒู†ู‡ุง ุชู‚ุฑุฃ ุจุฏูˆู† ู…ุณ ุงู„ู…ุตุญู ุนู† ุธู‡ุฑ ู‚ู„ุจ ุฃู…ุง ุงู„ุฌู†ุจ ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ ุฃู† ูŠู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู„ุง ุนู† ุธู‡ุฑ ู‚ู„ุจ ูˆู„ุง ู…ู† ุงู„ู…ุตุญู ุญุชู‰ ูŠุบุชุณู„ ูˆุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู†ู‡ู…ุง ุฃู† ุงู„ุฌู†ุจ ูˆู‚ุชู‡ ูŠุณูŠุฑ ูˆููŠ ุฅู…ูƒุงู†ู‡ ุฃู† ูŠุบุชุณู„ ููŠ ุงู„ุญุงู„ ู…ู† ุญูŠู† ูŠูุฑุบ ู…ู† ุงุชูŠุงู†ู‡ ุฃู‡ู„ู‡ ูู…ุฏุชู‡ ู„ุง ุชุทูˆู„ ูˆุงู„ุฃู…ุฑ ููŠ ูŠุฏู‡ ู…ุชู‰ ุดุงุก ุงุบุชุณู„ ูˆุฅู† ุนุฌุฒ ุนู† ุงู„ู…ุงุก ุชูŠู…ู… ูˆุตู„ู‰ ูˆู‚ุฑุฃ ุฃู…ุง ุงู„ุญุงุฆุถ ูˆุงู„ู†ูุณุงุก ูู„ูŠุณ ุจูŠุฏู‡ู…ุง ูˆุฅู†ู…ุง ู‡ูˆ ุจูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ุŒ ูู…ุชู‰ ุทู‡ุฑุช ู…ู† ุญูŠุถู‡ุง ุฃูˆ ู†ูุงุณู‡ุง ุงุบุชุณู„ุช ุŒ ูˆุงู„ุญูŠุถ ูŠุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ุฃูŠุงู… ูˆุงู„ู†ูุงุณ ูƒุฐู„ูƒ ุŒ ูˆู„ู‡ุฐุง ุฃุจูŠุญ ู„ู‡ู…ุง ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู„ุฆู„ุง ุชู†ุณูŠุงู†ู‡ ูˆู„ุฆู„ุง ูŠููˆุชู‡ู…ุง ูุถู„ ุงู„ู‚ุฑุฃุกุฉ ูˆุชุนู„ู… ุงู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ู…ู† ูƒุชุงุจ ุงู„ู„ู‡ ูู…ู† ุจุงุจ ุฃูˆู„ู‰ ุฃู† ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ูƒุชุจ ุงู„ุชูŠ ููŠู‡ุง ุงู„ุฃุฏุนูŠุฉ ุงู„ู…ุฎู„ูˆุทุฉ ู…ู† ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ูˆุงู„ุขูŠุงุช ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุตูˆุงุจ ูˆู‡ูˆ ุฃุตุญ ู‚ูˆู„ู‰ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฑุญู…ู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุฐู„ูƒ . 
โ€œTidak mengapa bagi wanita haid dan nifas membaca doa-doa manasik haji, begitu pula dibolehkan membaca Al Quran menurut pendapat yang benar. Lantaran tidak adanya nash yang shahih dan jelas yang melarang wanita haid dan nifas membaca Al Quran, yang ada hanyalah larangan secara khusus bagi orang yang junub sebagaimana hadits dari Ali โ€“ semoga Allah meridhainya dan dia  ridha padaNya. Sedangkan untuk haid dan nifas, terdapat hadits dari Ibnu Umar: โ€œJanganlah wanita haid dan orang junub membaca apa pun dari Al Quran,โ€ tetapi  hadits ini dhaif (lemah), lantaran hadits yang diriwayatkan oleh Ismail bin โ€˜Iyash dari penduduk Hijaz adalah tergolong hadits  dhaif. Tetapi membacanya dengan tidak menyentuh mushaf bagian isinya. Ada pun orang junub, tidaklah boleh membaca Al Quran, baik dari isinya atau dari mushaf, sampai dia mandi.  Perbedaan antara keduanya adalah, karena sesungguhnya junub itu waktunya sedikit, dia mampu untuk  mandi sejak selesai berhubungan dengan isterinya dan waktunya tidaklah lama, dan urusan ini ada di bawah kendalinya kapan pun dia mau mandi. Jika dia lemah kena air dia bisa tayamum, lalu shalat dan membaca Al Quran. Sedangkan haid dan nifas,  dia tidak bisa mengendalikan waktunya karena keduanya adalah kekuasaan Allah โ€˜Azza wa Jalla, ketika sudah suci dari haid dan nifasnya maka  dia baru mandi. Haid membutuhkan waktu berhari-hari begitu pula nifas, oleh karena itu dibolehkan bagi keduanya untuk membaca Al Quran agar dia tidak lupa terhadapnya, dan tidak luput darinya keutamaan membacanya, dan mengkaji hukum-hukum syariat dari kitabullah. Maka, diantara permasalahan yang lebih utama dia baca adalah buku-buku yang didalamnya terdapat doa-doa dari hadits dan ayat-ayat, dan selainnya. Inilah pendapat yang benar di antara dua pendapat ulama โ€“rahimahumullah-tentang hal ini. (Fatawa Islamiyah,  4/27. Disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid) 
๐ŸŒฟBerkata Syaikh Al Albani Rahimahullah:

ูุณู‚ุท ุงู„ุงุณุชุฏู„ุงู„ ุจุงู„ุญุฏูŠุซ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุญุฑูŠู… ูˆูˆุฌุจ ุงู„ุฑุฌูˆุน ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃุตู„ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฅุจุงุญุฉ ูˆู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ุฏุงูˆุฏ ูˆุฃุตุญุงุจู‡ ูˆุงุญุชุฌ ู„ู‡ ุงุจู† ุญุฒู… ( 1 / 77 – 80 ) ูˆุฑูˆุงู‡ ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ูˆุณุนูŠุฏ ุจู† ุงู„ู…ุณูŠุจ ูˆุณุนูŠุฏ ุจู† ุฌุจูŠุฑ ูˆุฅุณู†ุงุฏู‡ ุนู† ู‡ุฐุง ุฌูŠุฏ ุฑูˆุงู‡ ุนู†ู‡ ุญู…ุงุฏ ุจู† ุฃุจูŠ ุณู„ูŠู…ุงู† ู‚ุงู„ : ุณุฃู„ุช ุณุนูŠุฏ ุจู† ุฌุจูŠุฑ ุนู† ุงู„ุฌู†ุจ ูŠู‚ุฑุฃ ุŸ ูู„ู… ูŠุฑุจู‡ ุจุฃุณุง ูˆู‚ุงู„ : ุฃู„ูŠุณ ููŠ ุฌูˆูู‡ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุŸ 
โ€œMaka gugurlah pendalilan dengan hadits tersebut tentang keharamannya, dan wajib kembali kepada hukum asal, yakni boleh. Inilah madzhab Daud dan sahabat-sahabatnya, Ibnu Hazm berhujah dengannya (1/77-80). Ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, dan sanadnya tentang ini jayyid (baik). Telah diriwayatkan dari Hammad bin Abi Sulaiman, dia berkata: โ€œAku bertanya kepada Said bin Jubeir tentang orang junub yang membaca Al Quran, dia memandangnya tidak apa-apa, dan berkata; โ€œBukankah Al Quran juga berada di rongga  hatinya?โ€ (Tamamul Minnah, Hal. 117) 
๐ŸŒฟBegitu pula Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah, dia berkata:

ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ุญุงุฆุถ ุฃู† ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู„ู„ุญุงุฌุฉุŒ ู…ุซู„ ุฃู† ุชูƒูˆู† ู…ุนู„ู…ุฉุŒ ูุชู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู„ู„ุชุนู„ูŠู…ุŒ ุฃูˆ ุชูƒูˆู† ุทุงู„ุจุฉ ูุชู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู„ู„ุชุนู„ู…ุŒ ุฃูˆ ุชูƒูˆู† ุชุนู„ู… ุฃูˆู„ุงุฏู‡ุง ุงู„ุตุบุงุฑ ุฃูˆ ุงู„ูƒุจุงุฑุŒ ูุชุฑุฏ ุนู„ูŠู‡ู… ูˆุชู‚ุฑุฃ ุงู„ุขูŠุฉ ู‚ุจู„ู‡ู…. ุงู„ู…ู‡ู… ุฅุฐุง ุฏุนุช ุงู„ุญุงุฌุฉ ุฅู„ู‰ ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู„ู„ู…ุฑุฃุฉ ุงู„ุญุงุฆุถุŒ ูุฅู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ูˆู„ุง ุญุฑุฌ ุนู„ูŠู‡ุงุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ู„ูˆ ูƒุงู†ุช ุชุฎุดู‰ ุฃู† ุชู†ุณุงู‡ ูุตุงุฑุช ุชู‚ุฑุคู‡ ุชุฐูƒุฑุงู‹ุŒ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ุญุฑุฌ ุนู„ูŠู‡ุง ูˆู„ูˆ ูƒุงู†ุช ุญุงุฆุถุงู‹ุŒ ุนู„ู‰ ุฃู† ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ู‚ุงู„: ุฅู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ู…ุฑุฃุฉ ุงู„ุญุงุฆุถ ุฃู† ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู…ุทู„ู‚ุงู‹ ุจู„ุง ุญุงุฌุฉ.ูˆู‚ุงู„ ุขุฎุฑูˆู†: ุฅู†ู‡ ูŠุญุฑู… ุนู„ูŠู‡ุง ุฃู† ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ู„ุญุงุฌุฉ.ูุงู„ุฃู‚ูˆุงู„ ุซู„ุงุซุฉ ูˆุงู„ุฐูŠ ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠู‚ุงู„ ู‡ูˆ: ุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ุงุญุชุงุฌุช ุฅู„ู‰ ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู„ุชุนู„ูŠู…ู‡ ุฃูˆ ุชุนู„ู…ู‡ ุฃูˆ ุฎูˆู ู†ุณูŠุงู†ู‡ุŒ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ุญุฑุฌ ุนู„ูŠู‡ุง.
โ€œDibolehkan bagi wanita haid untuk membaca Al Quran jika ada keperluan, misal jika dia seorang guru, dia membaca Al Quran untuk pengajaran, atau dia seorang pelajar dia membacanya untuk belajar, atau untuk mengajar anak-anaknya yang masih kecil atau besar, dia menyampaikan dan membacakan ayat di depan mereka. Yang penting adalah jika ada kebutuhan bagi wanita untuk  membaca Al Quran, maka itu boleh dan tidak mengapa. Begitu pula jika dia khawatir lupa maka membacanya merupakan upaya untuk mengingatkan, maka itu tidak mengapa walau pun dia haid. Sebagian ulama mengatakan: sesungguhnya boleh bagi wanita haid membaca Al Quran secara mutlak walau tanpa kebutuhan.                
Jadi, tentang โ€œOrang Berhadats Besar Membaca Al Quranโ€ bisa kita simpulkan: 
๐Ÿ€ Haram secara mutlak, baik itu Haid, Nifas, dan Junub. Inilah pandangan mayoritas ulama, sejak zaman sahabat seperti Umar, Ali,  Jabir,  hingga tabiโ€™in seperti Az Zuhri, Al Hasan, An Nakhaโ€™i , Qatadah, dan generasi berikutnya, seperti Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hambal, Asy Syafiโ€™i, dan Ishaq.
๐Ÿ€ Haid dan Nifas adalah boleh, sedangkan junub tidak boleh. Ini pendapat Al Qadhi โ€˜Iyadh dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.
๐Ÿ€ Boleh jika ada kebutuhan seperti untuk mengajar, belajar, atau untuk menjaga hapalan. Ini pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Al โ€˜Utsaimin. 
๐Ÿ€Boleh secara mutlak, baik untuk Haid, Nifas, dan Junub.  Ini pendapat Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, Bukhari, Thabarani, Daud,  Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir, Asy Syaukani, dan lainnya. Selesai.
Wallahu a’lam.
[http://kumpulanartikelsyariah.blogspot.ae/2014/02/apakah-orang-haid-nifas-dan-junub-boleh.html?m=1] is good,have a look at it! 
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 3)

๐Ÿ“† Jumat,  13 Sya’ban 1437 H / 20 Mei 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 3)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Niat, Bagaimanakah itu?*

โฃ *Definisinya*

Secara Lughah, niat adalah Al Qashdu (maksud/kehendak) dan Al Azm (tekad/kemauan kuat) untuk melakukan sesuatu. (Imam Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahfan, Hal. 136)

Dalam Al Mausu’ah disebutkan, makna niat secara mutlak adalah Al Qashdu. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/287)

Dia juga bermakna Al Hifzhu (penjagaan), nawallahu fulanan, yaitu Allah menjaganya (Hafizhahu). (Al Mausu’ah, 42/59)

Makna secara Syariat,   hakikat niat adalah kehendak (Al Iradah) yang terarah pada  sebuah perbuatan untuk mencari ridha Allah Taala dengan menjalankan hukumNya. (Fiqhus Sunnah, 1/42. Al Mausuah, 2/287. Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

Menurut fuqaha Hanafiyah, artinya adalah  kehendak ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah Taala. Kalangan Malikiyah mengatakan kehendak di hati terhapap apa-apa yang dikehendaki manusia untuk dilakukan, itu termasuk pembahasan Al Uzuum (tekad) dan Al Iradaat (kehendak), bukan pembahasan ilmu dan aqidah. Kalangan Syafi’iyah mengartikan kehendak terhadap sesuatu yang tersambung dengan perbuatannya. Ada pun fuqaha hanabilah mengartikan kemauan kuat di hati untuk melakukan ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah Taala, menjadikan Allah Taala sebagai tujuannya bukan selainnya.  (Al Mausu’ah, 42/59-60)

Ada beberapa istilah yang terkait dengan niat, yakni:

โœ… Al ‘Azm  (tekad),  bermakna kehendak yang pasti setelah adanya keraguan (Jazmul Iradah bada taraddud). Hubungan  antara niat dan Al ‘Azm adalah keduanya merupakan marhalah (tahapan/tingkatan) dari kehendak. Al ‘Azm merupakan  ism (kata benda) yang lebih dahulu ada sebelum  berwujud  perbuatan. Sedangkan niat adanya langsung bersambung dengan perbuatan yang dibarengi dengan pengetahuan terhadap apa yang diniatkan.

โœ… Al Iradah (kehendak), artinya adalah Ath Thalab (tuntutan), Al Ikhtiyar (daya untuk memilih), dan Al Masyi’ah  (kemauan). Jika dikatakan Araada syai’a artinya dia menghendaki sesuatu dan menyukainya. Secara istilah,  Al Iradah adalah sifat yang mesti  ada pada sesuatu yang hidup dan terjadinya pada perbuatan, pada satu  sisi tidak pada sisi lainnya.  (Lihat semua dalam Al Mausu’ah, 42/60)

โฃ *Letaknya*

Niat terletak di hati, demikianlah yang dikatakan semua literatur fiqih, kamus, tradisi dan akal manusia. Kami tidak perlu menyampaikan referensinya sebab hal itu sudah diketahui dengan mudah oleh semua manusia.

Berkata Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki:

( ูˆูŽุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ุจูุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจู ) ุฅุฌู’ู…ูŽุงุนู‹ุง ู‡ูู†ูŽุง ูˆูŽูููŠ ุณูŽุงุฆูุฑู ู…ูŽุง ุชูุดู’ุฑูŽุนู ูููŠู‡ู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุงู„ู’ู‚ูŽุตู’ุฏู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู†ู ุฅู„ู‘ูŽุง ุจูู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽูƒู’ูููŠ ู…ูŽุนูŽ ุบูŽูู’ู„ูŽุชูู‡ู

 (Niat itu di hati) berdasarkan ijma’, dan mesti ada pada setiap amal yang disyariatkan karena niat adalah maksud, dan tidaklah perbuatan dianggap ada kecuali dengan adanya niat, maka tidaklah mencukupi jika melalaikannya. (Tuhfah Al Muhtaj, 5/285)

Mayoritas fuqaha kalangan Hanafiyah, dan ini juga pendapat Malikiyah, dan Syafiiyah,  serta Hanabilah, menyatakan bahwa niat adalah syarat sahnya ibadah.

Pendapat mayoritas Syafi’iyah menyatakan bahwa niat adalah rukunnya ibadah.

Sedangkan kalangan Malikiyah menyatakan bahwa niat adalah fardhu (wajib) ketika wudhu. Berkata Al Mazari: itu adalah pendapat yang lebih terkenal (pada madzhab Maliki). Berkata Ibnu Hajib: itu adalah pendapat yang lebih benar.  (Al Asybah wan Nazhair Libni Nujaim, Hal. 20, 24, 52. Al Mawahib Al Jalil, 1/182-230. Adz Dzakhirah, Hal. 235-236. Al Qawaid Al Ahkam, Hal. 175-176. Hasyiah Al Jumal, 1/103. Mughni Muhtaj, 1/148. Al Asybah Wan Nazhair Lis Suyuthi, Hal. 10, 43, 44. Kasyful Qina, 1/85, 313. Al Mughni, 3/91)

โฃ *Melafazkan Niat*

Ada pun melafazkan niat, tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan para tabi’in, bahkan imam empat madzhab. Wacana tentang melafazkan  niat baru ada pada masa pengikut-pengikut mereka.

Sejak berabad-abad lamanya, umat Islam mulai dari ulama hingga kaum awamnya, berpolemik tentang melafazkan niat (At Talafuzh An Niyah), seperti lafaz niat hendak shalat:

 “ushalli fardha subhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaan lillahi ta’ala,”  atau lafaz niat hendak wudhu: “nawaitu wudhu’a liraf’il hadatsil asghari lillahi ta’ala,” atau lafaz niat hendak berpuasa Ramadhan: “nawaitu shaama ghadin an ada’i fardhusy syahri Ramadhana haadzihis sanati lillahi ta’ala, dan lainnya. Di negeri ini, kalimat-kalimat ini sering diajarkan dalam pelajaran agama di sekolah-sekolah dasar, umumnya pesantren, dan forum-forum pengajian.

Polemik ini bukan hanya terjadi di negeri kita, tapi juga umumnya di negeri-negeri Muslim. Di antara mereka ada yang membid’ahkan, memakruhkan, membolehkan, menyunnahkan, bahkan mewajibkan (namun yang mewajibkan   telah dianggap   pendapat yang syadz janggal lagi menyimpang).

Di sisi lain, tidak ada perbedaan pendapat tentang  keberadaan niat di hati dalam melaksanakan ibadah. Mereka juga sepakat bahwa melafazkan niat tidaklah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan tabi’in, bahkan imam empat madzhab. Perbedaan mereka adalah  dalam hal legalitas pengucapan niat ketika ibadah.

โฃ *Menurut  Pendapat Madzhab*

Sebelumnya, mari kita tengok bagaimana pandangan para ulama madzhab tentang melafazkan niat dalam beribadah ritual.

 Tertulis dalam Al Mausuโ€™ah:

ููŽุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูุฎู’ุชูŽุงุฑู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู†ูŽุงุจูู„ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽู„ูŽูู‘ูุธูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏูŽุงุชู ุณูู†ู‘ูŽุฉูŒ ู„ููŠููˆูŽุงููู‚ูŽ ุงู„ู„ู‘ูุณูŽุงู†ู ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจูŽ   .
ูˆูŽุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุจูŽุนู’ุถู ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽุงุจูู„ูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽู„ูŽูู‘ูุธูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ูŒ  .
ูˆูŽู‚ูŽุงู„ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ููƒููŠู‘ูŽุฉู ุจูุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุงู„ุชู‘ูŽู„ูŽูู‘ูุธู ุจูุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏูŽุงุชู ุŒ ูˆูŽุงู„ุฃู’ูˆู’ู„ูŽู‰ ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ู ุŒ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ููˆูŽุณู’ูˆูŽุณูŽ ููŽูŠูุณู’ุชูŽุญูŽุจู‘ู ู„ูŽู‡ู ุงู„ุชู‘ูŽู„ูŽูู‘ูุธู ู„ููŠูŽุฐู’ู‡ูŽุจูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽุจู’ุณู

Pendapat kalangan Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) berdasarkan pendapat yang dipilih, dan Syafiโ€™iyah (pengikut imam Asy Syafiโ€™i) serta Hanabilah (Hambaliyah-pengikut Imam Ahmad bin Hambal) menurut pendapat madzhab bahwasanya melafazkan niat dalam peribadatan adalah SUNAH, agar lisan dapat membimbing hati.

Sebagian Hanafiyah dan sebagian Hanabilah menyatakan bahwa melafazkan niat adalah MAKRUH.

Kalangan Malikiyah (pengikut Imam Malik) mengatakan bolehnya melafazkan niat dalam peribadatan, namun yang lebih utama adalah meninggalkannya, kecuali bagi orang yang was-was maka baginya dianjurkan untuk melafazkannya untuk menghilangkan kekacauan dalam pikirannya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/67)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah menyebutkan:

ูˆู„ุง ูŠุดุชุฑุท ุงู„ุชู„ูุธ ุจู‡ุง ู‚ุทุนุงู‹ุŒ ู„ูƒู† ูŠุณู† ุนู†ุฏ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ุงู„ุชู„ูุธ ุจู‡ุง ู„ู…ุณุงุนุฏุฉ ุงู„ู‚ู„ุจ ุนู„ู‰ ุงุณุชุญุถุงุฑู‡ุงุŒ ู„ูŠูƒูˆู† ุงู„ู†ุทู‚ ุนูˆู†ุงู‹ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฐูƒุฑุŒ ูˆุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุนู†ุฏ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ: ุชุฑูƒ ุงู„ุชู„ูุธ ุจู‡ุง   ุ› ู„ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠู†ู‚ู„ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุฃุตุญุงุจู‡ ุงู„ุชู„ูุธ ุจุงู„ู†ูŠุฉุŒ ูˆูƒุฐุง ู„ู… ูŠู†ู‚ู„ ุนู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ.

 โ€œSecara qahโ€™i melafazkan niat tidaklah menjadi syarat sahnya, tetapi disunahkan menurut jumhur (mayoritas) ulama -selain Malikiyah- melafazkannya untuk menolong hati menghadirkan niat, agar pengucapan itu menjadi pembantu dalam mengingat, dan yang lebih utama menurut kalangan Malikiyah adalah meninggalkan pelafazan niat itu, karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tentang melafazkan niat, begitu pula tidak ada riwayat dari imam yang empat. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

 Jadi, secara umum kebanyakan ulama madzhab adalah menyunnahkan melafazkan niat, ada pun sebagian Hanafiyah dan sebagian Hanabilah memakruhkan. Sedangkan Malikyah membolehkan walau lebih utama meninggalkannya, kecuali bagi orang yang was-was maka dianjurkan mengucapan niat untuk mengusir was-was tersebut. Sedangkan para imam perintis empat madzhab, tidak ada riwayat dari mereka tentang pensyariatan melafazkan niat.

โฃ *Pandangan Para Imam Kaum Muslimin*

Berikut adalah pandangan para ulama yang mendukung pelafazan niat, baik yang menyunnahkan atau membolehkan.

โฃ *Imam Muhammad bin Hasan Rahimahullah, kawan sekaligus murid Imam Abu Hanifah Rahimahullah.*

Beliau  mengatakan:

ุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ุจูุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจู ููŽุฑู’ุถูŒ ุŒ ูˆูŽุฐููƒู’ุฑูู‡ูŽุง ุจูุงู„ู„ู‘ูุณูŽุงู†ู ุณูู†ู‘ูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฌูŽู…ู’ุนู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽูู’ุถูŽู„

 โ€œNiat di hati adalah wajib, menyebutnya di lisan adalah sunah, dan menggabungkan keduanya adalah lebih utama.โ€ (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/100)

โฃ *Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki Rahimahullah*

Beliau mengatakan:

( ูˆูŽูŠูŽู†ู’ุฏูุจู ุงู„ู†ู‘ูุทู’ู‚ู ) ุจูุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ูˆููŠู‘ู ( ู‚ูุจูŽูŠู’ู„ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽูƒู’ุจููŠุฑู ) ู„ููŠูุณูŽุงุนูุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูุณูŽุงู†ู ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจูŽ ูˆูŽุฎูุฑููˆุฌู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฎูู„ูŽุงูู ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูˆู’ุฌูŽุจูŽู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุดูŽุฐู‘ูŽ ูˆูŽู‚ููŠูŽุงุณู‹ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ู

 โ€œ(Disunahkan mengucapkan) dengan apa yang diniatkan (sesaat sebelum takbir) agar lisan  membantu hati dan keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) dengan kalangan yang mewajibkan, walaupun yang mewajibkan ini adalah pendapat yang syadz (janggal),  sunnahnya ini  diqiyaskan dengan apa yang ada pada haji (yakni pengucapan kalimat talbiyah, pen).โ€ (Tuhfah Al Muhtaj, 5/285)

โฃ *Imam Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah*

Beliau mengatakan:

ูˆูŠู†ุฏุจ ุงู„ู†ุทู‚ ุจุงู„ู…ู†ูˆูŠ ู‚ุจูŠู„ ุงู„ุชูƒุจูŠุฑ ู„ูŠุณุงุนุฏ ุงู„ู„ุณุงู† ุงู„ู‚ู„ุจ ูˆู„ุฃู†ู‡ ุฃุจุนุฏ ุนู† ุงู„ูˆุณูˆุงุณ ูˆู„ู„ุฎุฑูˆุฌ ู…ู† ุฎู„ุงู ู…ู† ุฃูˆุฌุจู‡

โ€œDianjurkan mengucapkan apa yang diniatkan sesaat sebelum takbir untuk membantu hati, karena hal itu dapat menjauhkan was-was dan untuk keluar dari perselisihan pendapat dengan pihak yang mewajibkannya.โ€ (Nihayatul Muhtaj, 1/457. Darul Fikr)

โฃ *Imam Al Bahuti Rahimahullah*

  Beliau mengatakan ketika membahas niat dalam shalat:

ูˆูŽู…ูŽุญูŽู„ู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจู ูˆูุฌููˆุจู‹ุง ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูุณูŽุงู†ู ุงุณู’ุชูุญู’ุจูŽุงุจู‹ุง

 โ€œTempatnya niat  adalah  di hati sebagai hal yang wajib, dan disukai (sunah) diucapkan lisan ..  (Kasyful Qina’,  2/442. Mawqi Islam)

Dan lain-lain.

๐Ÿ“š *Kepada Siapa Diwajibkan dan Tidak Diwajibkan?*

 Puasa Ramadhan diwajibkan kepada setiap umat Islam, laki-laki dan perempuan,  baligh, berakal, dan sedang tanpa udzur (halangan). Udzur-udzur  tersebut adalah:

โฃ *Orang Sakit*

 Hal ini berdasarkan ayat:

 ูˆู…ู† ูƒุงู† ู…ู†ูƒู… ู…ุฑูŠุถุง ุฃูˆ ุนู„ู‰ ุณูุฑ ูุนุฏุฉ ู…ู† ุฃูŠุงู… ุฃุฎุฑ

โ€œMaka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.โ€  (QS. Al Baqarah (2): 184)

โฃ *Sakit Yang Bagaimana?*
Sebagian ulama mengatakan bahwa segala macam sakit walau ringan- boleh untuk tidak puasa. Alasan mereka adalah karena ayat ini tidak merincinya. Jadi,  karena kemutlakan ayat ini maka semua macam sakit boleh membuat seseorang tidak puasa dan wajib diganti di hari lain.

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi Rahimahullah  mengatakan dalam kitabnya Al Mughni:

ูˆูŽุญููƒููŠูŽ ุนูŽู†ู’ ุจูŽุนู’ุถู ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽูู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุจูŽุงุญูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽ ุจููƒูู„ู‘ู ู…ูŽุฑูŽุถู ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู…ูู†ู’ ูˆูŽุฌูŽุนู ุงู„ู’ุฅูุตู’ุจูŽุนู ูˆูŽุงู„ุถู‘ูุฑู’ุณู ุ› ู„ูุนูู…ููˆู…ู ุงู„ู’ุขูŠูŽุฉู ูููŠู‡ู

โ€œDiceritakan dari sebagian salaf bahwa dibolehkan berbuka bagi setiap jenis penyakit, sampai rasa sakit di jari-jari dan tergigit, lantaran keumuman ayat tentang hal ini. (Al Mughni, 6/149. Mawqi Islam)

 Ini juga pendapat Imam Bukhari, Imam Atha, dan ahluzh zhahir seperti Imam Daud dan Imam Ibnu Hazm Al Andalusi.

 Namun, pendapat yang lebih aman dan selamat adalah bahwa penyakit yang boleh bagi penderitanya untuk meninggalkan puasa adalah penyakit yang membuatnya sulit dan berat berpuasa, dia tidak mampu, dan bisa membahayakan dirinya jika dia berpuasa. Dengan demikian, seseorang tidak bermain-main dengan syariat, hanya dengan alasan sakit yang sebenarnya tidak menyulitkannya.

 Imam Ibnu Qudamah mengomentari ayat di atas, katanya;

ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฑูŽุถู ุงู„ู’ู…ูุจููŠุญู ู„ูู„ู’ููุทู’ุฑู ู‡ููˆูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุฏููŠุฏู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽุฒููŠุฏู ุจูุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ู ุฃูŽูˆู’ ูŠูุฎู’ุดูŽู‰ ุชูŽุจูŽุงุทูุคู ุจูุฑู’ุฆูู‡ู .

 โ€œSakit yang dibolehkan untuk berbuka adalah sakit keras yang bisa bertambah parah karena puasa atau dikhawatiri lama sembuhnya.โ€ (Ibid)

 Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah pernah di tanya:

ู…ูŽุชูŽู‰ ูŠููู’ุทูุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุฑููŠุถู ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ .
ู‚ููŠู„ูŽ : ู…ูุซู’ู„ู ุงู„ู’ุญูู…ู‘ูŽู‰ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูˆูŽุฃูŽูŠู‘ู ู…ูŽุฑูŽุถู ุฃูŽุดูŽุฏู‘ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูู…ู‘ูŽู‰

 โ€œKapankah orang sakit boleh berbuka?โ€ Dia  menjawab: โ€œjika dia tidak mampu (puasa).โ€ Ditanyakan lagi: โ€œsemacam demam?โ€ Beliau menjawab: โ€œSakit apa pun yang lebih berat dari demam.โ€ (Ibid)

 Dialog ini menunjukkan bahwa beliau hanya mengkhususkan sakit tertenu saja yakni yang memberatkan bagi si penderitanya.

 Berkata Syaikh Sayid Sabiq Rahimahullah:

ูˆุงู„ุตุญูŠุญ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฎุงู ุงู„ู…ุฑุถ ุจุงู„ุตูŠุงู…ุŒ ูŠูุทุฑุŒ ู…ุซู„ ุงู„ู…ุฑูŠุถ ูˆูƒุฐู„ูƒ ู…ู† ุบู„ุจู‡ ุงู„ุฌูˆุน ุฃูˆ ุงู„ุนุทุดุŒ ูุฎุงู ุงู„ู‡ู„ุงูƒุŒ ู„ุฒู…ู‡ ุงู„ูุทุฑ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุตุญูŠุญุง ู…ู‚ูŠู…ุง ูˆุนู„ูŠู‡ ุงู„ู‚ุถุงุก.

 โ€œYang benar adalah jika puasa  dikhawatirkan membuat sakit maka dia boleh berbuka, sebagaimana puasa, begitu juga bagi orang yang tidak kuat menahan lapar dan haus yang dikhawatiri membuatnya celaka, maka dia mesti berbuka. Jika dia dalam keadaan sehat dan mukim maka wajib baginya qadhaโ€™ โ€œ (Fiqhus Sunnah, 1/442)

 Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah  mengatakan tentang standar sakit  yang boleh berbuka puasa:

ู‡ูˆุงู„ุฐูŠ ูŠุดู‚ ู…ุนู‡ ุงู„ุตูˆู… ู…ุดู‚ุฉ ุดุฏูŠุฏุฉ ุฃูˆ ูŠุฎุงู ุงู„ู‡ู„ุงูƒ ู…ู†ู‡ ุฅู† ุตุงู…ุŒ ุฃูˆ ูŠุฎุงู ุจุงู„ุตูˆู… ุฒูŠุงุฏุฉ ุงู„ู…ุฑุถ ุฃูˆ ุจุทุก ุงู„ุจุฑุก ุฃูŠ ุชุฃุฎุฑู‡  . ูุฅู† ู„ู… ูŠุชุถุฑุฑ ุงู„ุตุงุฆู… ุจุงู„ุตูˆู… ูƒู…ู† ุจู‡ ุฌุฑุจ ุฃูˆ ูˆุฌุน ุถุฑุณ ุฃูˆ ุฅุตุจุน ุฃูˆ ุฏู…ู„ ูˆู†ุญูˆู‡ุŒ ู„ู… ูŠุจุญ ู„ู‡ ุงู„ูุทุฑ.

 โ€œYaitu sakit   berat yang jika puasa beratnya semakin parah atau  khawatir dia celaka, atau khawatir dengan puasa akan menambah sakit atau memperlama kesembuhan. Jika seorang puasa tidaklah mendatangkan mudharat baginya seperti   sakit kudis, sakit gigi, jari,  bisul, dan yang semisalnya, maka ini tidak boleh berbuka. (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 3/75. Maktabah Al Misykah)

 Inilah pendapat yang lebih kuat, karena Allah Taala berfirman:

ููŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุทูŽุนู’ุชูู…ู’

โ€Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.. โ€œ (QS. At Taghabun (64): 16)

Jadi, selama masih ada kesanggupan maka berpuasalah. Jangan menyerah begitu saja hanya karena penyakit ringan seperti panu, kudis, keseleo kaki, dan sejenisnya.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฃู…ุง ุงู„ุตุญูŠุญ ุงู„ู…ู‚ูŠู… ุงู„ุฐูŠ ูŠูุทูŠู‚ ุงู„ุตูŠุงู…ุŒ ูู‚ุฏ ูƒุงู† ู…ุฎูŠู‘ูŽุฑู‹ุง ุจูŠู† ุงู„ุตูŠุงู… ูˆุจูŠู† ุงู„ุฅุทุนุงู…ุŒ ุฅู† ุดุงุก ุตุงู…ุŒ ูˆุฅู† ุดุงุก ุฃูุทุฑุŒ ูˆุฃุทุนู… ุนู† ูƒู„ ูŠูˆู… ู…ุณูƒูŠู†ุงุŒ ูุฅู† ุฃุทุนู… ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ู…ุณูƒูŠู† ุนู† ูƒู„ ูŠูˆู…ุŒ ูู‡ูˆ ุฎูŠุฑุŒ ูˆุฅู† ุตุงู… ูู‡ูˆ ุฃูุถู„ ู…ู† ุงู„ุฅุทุนุงู…ุŒ ู‚ุงู„ู‡ ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏุŒ ูˆุงุจู† ุนุจุงุณุŒ ูˆู…ุฌุงู‡ุฏุŒ ูˆุทุงูˆุณุŒ ูˆู…ู‚ุงุชู„ ุจู† ุญูŠุงู†ุŒ ูˆุบูŠุฑู‡ู… ู…ู† ุงู„ุณู„ูุ› ูˆู„ู‡ุฐุง ู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰: { ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูุทููŠู‚ููˆู†ูŽู‡ู ููุฏู’ูŠูŽุฉูŒ ุทูŽุนูŽุงู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู ููŽู…ูŽู†ู’ ุชูŽุทูŽูˆู‘ูŽุนูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ููŽู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุตููˆู…ููˆุง ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ }

 โ€œAda pun orang sehat yang tidak bepergian, tapi dia mengalami kesulitan untuk puasa, maka mereka bisa memilih antara puasa atau berbuka. Jika dia mau maka puasa, jika dia mau buka maka buka saja, lalu memberikan makan tiap hari (yang ditinggalkannya)  ke orang miskin, jika dia memberikan makannya lebih banyak dari hari yang ditinggalkannya maka itu lebih baik. Jika dia mau berpuasa maka itu lebih utama dibanding memberikan makan. Inilah pendapat Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Mujahid, Thawus, Muqatil bin Hayyan, dan selain mereka dari kalangan salaf. Oleh karena Allah Taala berfirman:

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 1/498. Dar Ath thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi)

Ada pun jika orang yang sakit keras memaksakan diri untuk puasa, maka puasanya tetap sah, walau hal itu dibenci (makruh), lantaran dia telah menyiksa diri sendiri dan menolak keringanan yang Allah dan RasulNya berikan.

Allah Taala berfirman:

ูŠูุฑููŠุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจููƒูู…ู ุงู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽ ูˆูŽู„ุง ูŠูุฑููŠุฏู ุจููƒูู…ู ุงู„ู’ุนูุณู’ุฑูŽ

โ€œAllah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.โ€ (QS. Al Baqarah (2): 185)

Ayat lainnya:

ูˆูŽู„ุง ุชูู„ู’ู‚ููˆุง ุจูุฃูŽูŠู’ุฏููŠูƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุชู‘ูŽู‡ู’ู„ููƒูŽุฉู
  โ€œ dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.โ€  (QS. Al Baqarah (2): 195)

 Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฅุฐุง ุตุงู… ุงู„ู…ุฑูŠุถุŒ ูˆุชุญู…ู„ ุงู„ู…ุดู‚ุฉุŒ ุตุญ ุตูˆู…ู‡ุŒ ุฅู„ุง ุฃู†ู‡ ูŠูƒุฑู‡ ู„ู‡ ุฐู„ูƒ ู„ุงุนุฑุงุถู‡ ุนู† ุงู„ุฑุฎุตุฉ ุงู„ุชูŠ ูŠุญุจู‡ุง ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆู‚ุฏ ูŠู„ุญู‚ู‡ ุจุฐู„ูƒ ุถุฑุฑ.

โ€œJika orang sakit berpuasa dan hal itu membawanya pada keadaan yang menyulitkan, maka puasanya sah, tetapi hal itu makruh karena dia menentang rukhshah (dispensasi) yang Allah Taala sukai, dan dengan itu dia bisa jadi  tertimpa hal yang buruk. (Fiqhus Sunnah, 1/442)

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Yasinan & Tahlilan…Bagaimana Hukumnya???

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ€Ustadzah Indra Asih

๐Ÿ“†Kamis, 19 Mei 2016 M
                  12 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamualaikum ustadzah saya mau bertanya…
Sebenarnya bagaimana hukumnya yasinan dan tahlilan…
Karena ada saudara kita yang kalau ada undangan untuk yasinan tidak mau datang..dengan alasan yasinan dan tahlilan itu tidak ada.. Maaf karena ada saudara kita yang islamnya maaf islam wahabi… Mohon pencerahannya ustadzah..
Syukron๐Ÿ™๐Ÿฝ  ๐Ÿ…ฐ3โƒฃ8โƒฃ

Jawaban
————-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Kalau sekedar mengatakan bahwa perayaan tahlilan atau yasinan tidak ada ajaran atau anjurannya dari Rasulullah SAW, sepertinya semua pihak pasti sepakat. Nyatanya memang tidak ada satu pun hadits shahih, bahkan tidak juga hadits palsu, yang menyebutkan bahwa ada  ritual seperti urusan tahilan 3 hari kematian, 7 hari atau 40 hari. Semua itu memang tidak kita temui contoh langsung dari Rasulullah SAW.

Tapi masalahnya, bagaimana cara mensosialisasikan pengertian ini di tengah saudara2 yang sudah dicecoki doktrin tahlilan dan praktek sejenisnya? Padahal mereka sudah berpikir demikian sejak dahulu?

Memang benar bahwa yang menjadi masalah adalah tinggal tehnik berdakwah.

Masalahnya, saudara-saudara kita justru tidak pernah sepakat dalam tehnik berdakwah. Ada yang cenderung dengan jurus sekali sikat, pokoknya bid’ah, sesat dan masuk neraka, titik dan habis perkara

Memang harus diakui bahwa masalah yasinan, tahlilan dan maulidan ini memang mencakup wilayah perbedaan pendapat yang sangat ekstrim. Di tengah masyarakat berkembang beberapa pandangan yang berbeda. Ada yang yang mewajibkan, menyunnahkan, memubahkan, memakruhkan hingga yang mengharamkan.

Tentu saja masing-masing pihak datang tidak sekedar dengan kesimpulan akhirnya. Mereka bahkan datang dengan sekian banyak hujjah, istidlal, argumentasi serta latar belakang manhaj fiqihnya.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia…

Khitan Untuk Wanita

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab๐Ÿ‘ณ
โœUstadz Farid Nu’man Hasan SS

๐Ÿ“†Kamis, 19 Mei 2016 M
                   12 Sya’ban 1437 H

*Khitan Untuk Wanita*
————————————-

Assalamualaikum…saya mau bertanya tentang masalah hukum khitan untuk anak perempuan. Bagaimana hukum sebenarnya? karena ada beberapa negara islam seperti pakistan tidak ada khitan u perempuan tp hanya u lelaki saja.. sedangkan di indonesia khitan u anak perempuan masih ada… bagaimana hukumnya ustadz… terima kasih
 ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ              

 Jawaban:
—————

Wa Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu Ala Rasulillah wa Ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah wa bad:

Khitan merupakan salah satu millah (ajaran) Nabi Ibrahim Alaihis Salam, yang Allah Taala perintahkan agar kita mengikutinya. Allah Taala berfirman:

ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู’ุญูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฃูŽู†ู ุงุชู‘ูŽุจูุนู’ ู…ูู„ู‘ูŽุฉูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ุญูŽู†ููŠูู‹ุง ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ

โ€œKemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An Nahl (16): 123)

Maka, khitan baik laki-laki dan wanita adalah perbuatan yang memiliki tempat dalam syariat Islam. Dia bukan barang asing, bukan pula bidah yang menyusup ke dalam ajaran Islam, sebagaimana yang dituduhkan sebagian orang.

*_๐Ÿ“ŒApanya Yang Dikhitan?_*

Pada wanita, yang dipotong adalah kulit yang menyembul dibagian atas saluran kencing, yang mirip dengan jengger ayam (Urf ad Dik). (Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 19/28) Biasa kita menyebutnya klitoris.

Bagian ini adalah bagian luar yang paling sensitif pada genital wanita, oleh karena itu khitan wanita bertujuan untuk menstabilkan libido mereka. Tetapi, tidak dibenarkan memotong semua, atau sebagian besarnya sebagaimana dilakukan di negeri-negeri Afrika. Bahkan ada yang memotong bagian labia minora (bibir kecil). Ini tentu cara yang bertentangan dengan khitan wanita  menurut Islam.

Sedangkan, pada laki-laki yang dipotong adalah kulit yang menutupi  hasyafah (glans), kulit itu dinamakan Qulfah (Kulup), sehingga seluruh hasyafah terlihat. (Ibid)

Bagian ini adalah kumpulan bakteri dan najis, oleh karena itu tujuan khitan pada laki-laki adalah  agar najis yang ada padanya menjadi hilang, tak lagi terhalang oleh qulfah tersebut.

*_๐Ÿ“ŒDalil-Dalil Pensyariatannya_*

Ada beberapa dalil yang biasa dijadikan alasan kewajiban dan kesunnahan khitan bagi wanita. Tetapi, hadits hadits tersebut tak satu pun yang selamat dari cacat.  Di antaranya sebagai berikut:

1โƒฃ Dari Ummu Athiyah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa ada seorang wanita yang dikhitan di Madinah, maka Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

ู„ูŽุง ุชูู†ู’ู‡ููƒููŠ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุญู’ุธูŽู‰ ู„ูู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุญูŽุจู‘ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุจูŽุนู’ู„ู

โ€œJangan potong berlebihan, karena itu menyenangkan bagi wanita dan disukai oleh suami.”
(HR. Abu Daud No. 5271. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 8/324. Juga Syuabul Iman, No. 8393. Ath Thabarani, Al Mujam Al Kabir, No. 8062, juga dalam Al Awsath, No. 2343, dan dalam Ash Shaghir No. 122,  Abu Nuaim, Marifatush Shahabah, No. 3450)

Hadits ini menurut lafaz Imam Abu Daud. Sedangkan dari Imam yang lainnya, ada tambahan diawalnya dengan ucapan: Asyimmi dan Ikhfidhi yang berarti rendahkan/pendekkan. Sedangkan Laa Tanhiki artinya jangan berlebihan dalam memotong.

Hadits ini menurut Imam Abu Daud- sanadnya tidak kuat, dan hadits ini mursal, sedangkan Muhammad bin Hassan  adalah majhul (tidak dikenal). Dan, hadits ini dhaif (lemah). (Sunan Abi Daud No. 5271)

Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim Abadi mengatakan bahwa hadits ini idhthirab (guncang). (Aunul Mabud, 14/126)

2โƒฃ Dari Abdullah bin Umar secara marfu:

ูŠูŽุง ู†ูุณูŽุงุกูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ุงูุฎู’ุชูŽุถูุจู’ู†ูŽ ุบูŽู…ู’ุณู‹ุง ูˆูŽุงุฎู’ููุถู’ู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูู†ู’ู‡ููƒู’ู†ูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุญู’ุธูŽู‰ ุนูู†ู’ุฏ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูู†ู‘ูŽ
       
โ€œWahai wanita Anshar, celupkanlah dan potonglah, jangan banyak-banyak, karena itu membuat senang suami kalian.โ€
(HR. Al Bazzar dan Ibnu โ€˜Adi)

Dalam sanad hadits  Al Bazzar terdapat Mandal bin Ali dan dia dhaif. Sedangkan, ri wayat Ibnu โ€˜Adi terdapat Khalid bin โ€˜Amru Al Kursyi, dia lebih dhaif dari Mandal. (Ibid)

3โƒฃ Hadits lain:

ุงู„ู’ุฎูุชูŽุงู† ุณูู†ู‘ูŽุฉ ู„ูู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ู…ูŽูƒู’ุฑูู…ูŽุฉ ู„ูู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู

โ€œKhitan adalah sunah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi wanita.โ€
(HR. Ahmad)

Hadits ini juga dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Hajaj bin Arthaโ€™ah. Imam Adz Dzahabi mengatakan: Hajaj bin Arthaโ€™ah adalah dhaif dan tidak boleh berhujjah dengannya.

Imam Ath Thabarani juga meriwayatkan yang seperti ini dari Syaddad binAus, dari Ibnu Abbas. Imam As Suyuthi mengatakan sanadnya hasan. Sedangkan Imam Al Baihaqi mengatakan dhaif dan sanadnya munqathi (terputus), dan ditegaskan pula kedhaifannya oleh Imam Adz Dzahabi.

Al Hafizh Al Iraqi mengatakan: sanadnya dhaif. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: Hajaj bin Arthaah adalah seorang mudallis (suka menggelapkan sanad), dan dalam hal ini terjadi idhthirab (keguncangan).  Imam Abu Hatim mengatakan: ini adalah kesalahan Hajaj atau perawi yang meriwayatkan darinya.

Imam Al Munawi mengatakan dalam At Taisir : sanad hadits ini dhaif, berbeda dengan yang dikatakan As Suyuthi yang mengatakan hasan.  (Ibid,  14/125. Lihat juga At Talkhish Al Habirnya Imam Ibnu Hajar)

*_๐Ÿ“ŒBenarkah Seluruh Hadits Khitan Wanita Adalah Cacat dan Dhaif ?_*

Hal ini ditegaskan para Imam muhaqqiq (peneliti). Berkata Imam Abu Thayyib Abadi:

ูˆุญุฏูŠุซ ุฎุชุงู† ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฑูˆูŠ ู…ู† ุฃูˆุฌู‡ ูƒุซูŠุฑุฉ ูˆูƒู„ู‡ุง ุถุนูŠูุฉ ู…ุนู„ูˆู„ุฉ ู…ุฎุฏูˆุดุฉ ู„ุง ูŠุตุญ ุงู„ุงุญุชุฌุงุฌ ุจู‡ุง ูƒู…ุง ุนุฑูุช.ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ: ู„ูŠุณ ููŠ ุงู„ุฎุชุงู† ุฎุจุฑ ูŠุฑุฌุน ุฅู„ูŠู‡ ูˆู„ุง ุณู†ุฉ ูŠุชุจุน. ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุจุฑ ููŠ ุงู„ุชู…ู‡ูŠุฏ: ูˆุงู„ุฐูŠ ุฃุฌู…ุน ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู…ุณู„ู…ูˆู† ุฃู† ุงู„ุฎุชุงู† ู„ู„ุฑุฌุงู„ ุงู†ุชู‡ู‰

โ€œDan hadits tentang khitannya wanita diriwayatkan oleh banyak jalur, semuanya dhaif, memiliki ilat (cacat), dan tidak sah berdalil dengannya sebagaimana yang telah anda ketahui. Berkata Ibnul Mundzir: Tentang khitan (wanita) tidak ada riwayat yang bisa dijadikan rujukan dan tidak ada sunah yang bisa diikuti. Berkata Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid: Dan yang di-ijmakan kaum muslimin adalah bahwa khitan itu bagi laki-laki.” (Aunul Mabud, 14/126)

Tetapi, Syaikh Al Albani menshahihkan hadits riwayat Abu Daud di atas (hadits pertama). Beliau mengakui sanad hadits ini sebenarnya dhaif, tetapi banyak riwayat lain yang menguatkannya sehingga menjadi shahih. (Selengkapnya lihat di kitab As Silsilah Ash Shahihah 2/353, No. 722, dan Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 5271, lihat juga Shahih Al Jamiush Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/1244-1245)

Oleh karena itu, Syaikh Al Albani termasuk ulama yang mewajibkan khitan bagi wanita, karena keshahihan riwayat ini.

Tetapi, benarkah semua hadits tentang khitannya wanita adalah dhaif ?  Jika kita lihat secara seksama, tidaklah demikian.

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅุฐุง ุงู„ุชู‚ู‰ ุงู„ุฎุชุงู†ุงู† ูู‚ุฏ ูˆุฌุจ ุงู„ุบุณู„

โ€œJika bertemu dua khitan maka wajiblah untuk mandi.โ€
(HR. At Tirmidzi No. 109, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 608, Ahmad No. 26067, Ath Thahawi dalam Syarh Maani Al Aatsar No. 332, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 1041, Asy Syafii dalam Musnadnya No. 102 (disusun oleh As Sindi), Ath Thabarani dalam Musnad Syamiyyin No. 2754, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 961 dari Asiyah. Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 954)

Hadits ini shahih. (Syaikh Al Albani, Irwaul Ghalil No. 80. Juga Syaikh Syuaib Al Arnauth,  Taliq Musnad Ahmad No. 26067)

Hadits lainnya:

ุฅุฐุง ุฌู„ุณ ุจูŠู† ุดุนุจู‡ุง ุงู„ุฃุฑุจุน ูˆู…ุณ ุงู„ุฎุชุงู† ุงู„ุฎุชุงู† ูู‚ุฏ ูˆุฌุจ ุงู„ุบุณู„

โ€œJika seserang duduk diantara empat cabang anggata badan, dan khitan bersentuhan dengan khitan, maka wajiblah dia mandi.โ€
(HR. Muslim, No. 349, Abu Daud No. 216, dan At Tirmidzi, katanya: hasan shahih. Ibnu Khuzaimah No. 227,  Abu Yaala No. 4926)

Riwayat seperti ini cukup banyak, dan secara makna, hadits-hadits ini menunjukkan bahwa yang dikhitan bukan hanya laki-laki tetapi wanita. Sebab, maksud bertemunya dua khitan adalah bertemunya dua kemaluan laki-laki dan wanita yang sudah dikhitan. Maksud bertemu di sini bukan sekedar bersentuhan, tetapi terbenamnya kemaluan l aki-laki pada kemalaun wanita, sebagaimana telah disepakati oleh madzhab yang empat. (Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 16/50).

Dan, Imam Ahmad mengatakan: Dari hadits ini, bahwa bagi wanita juga dikhitan.  Tetapi menurutnya khitan wanita adalah sunah.  (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 134. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ูุทุฑุฉ ุฎู…ุณูŒุŒ ุฃูˆ ุฎู…ุณูŒ ู…ู† ุงู„ูุทุฑุฉ: ุงู„ุฎุชุงู†ุŒ ูˆุงู„ุงุณุชุญุฏุงุฏุŒ ูˆู†ุชู ุงู„ุฅูุจุทุŒ ูˆุชู‚ู„ูŠู… ุงู„ุฃุธูุงุฑุŒ ูˆู‚ุตู‘ู ุงู„ุดุงุฑุจ

โ€œFitrah itu ada lima, atau lima hal yang termasuk fitrah: (diantaranya) โ€œKhitan โ€ฆ.โ€ (HR. Bukhari No. 5550, Muslim No. 257)

Hadits ini umum, bukan hanya bagi laki-laki tetapi juga wanita, kecuali memendekkan kumis yang memang khusus untuk laki-laki. Nah, riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa khitan bagi wanita memang ada dalam Islam. Tetapi, memang tidak ada hadits shahih yang khusus menceritakan khitan wanita. Yang ada adalah hadits tentang khitan secara umum, dengan penyebutan untuk laki-laki dan perempuan.

*_๐Ÿ“ŒLalu, Apa Hukumnya Khitan Wanita?_*

Keterangan di atas telah jelas, bahwa khitan wanita adalah masyru (disyariatkan) dalam Islam. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum kemasyruannya. Ada yang mewajibkan, menyunnahkan, membolehkan, bahkan ada yang melarangnya dalam kedaan tertentu.
Pihak yang mewajibkan seperti Imam Asy Syafii dan mayoritas pengikutnya. Juga Imam Ibnul Qayyim dan Syaikh Al Albani Rahimahumulullah Taala.
Sedangkan,  Imam Malik dan Imam Abu Hanifah menyatakan sunah secara mutlak (laki-laki dan wanita), dan Imam Ahmad mengatakan wajib buat laki-laki namun sunah buat wanita. (Aunul Mabud, 14/125),

Imam Ibnu Qudamah mengatakan wajib bagi laki-laki, dan kemuliaan bagi wanita,  serta tidak wajib bagi mereka. (Al Masuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 19/28).

Pihak yang mewajibkan berdalil dengan ayat An Nahl 123 (agar mengikuti millah Ibrahim), dan hadits sunah fitrah ada lima.

Alasan ini ditolak, sebab ayat tersebut memerintahkan kita mengikuti agama Ibrahim secara Global dan pokoknya yaitu Tauhid.

Sedangkan, hadits tersebut juga tidak bisa dijadikan dalil,  dan tidak menunjukkan wajibnya khitan, sebab jika khitan wajib, maka empat hal lainnya dalam hadits itu juga wajib seperti bersiwak, memendekkan kumis, mencukur bulu kemaluan, dan ketiak. Sedangkan kita tahu, tak ada yang mengatakan bersiwak , mencukur ketiak, bulu kemaluan adalah wajib, semua adalah sunah!
Selain itu, hadits tentang bertemunya dua khitan, juga bukan menunjukkan wajibnya khitan wanita, melainkan hanyalah informasi tentang khitan wanita. Ditambah lagi, lemahnya riwayat yang memerintahkan khitan khusus wanita. Maka, pendapat yang paling rajih (kuat) adalah khitan wanita adalah sunah. Inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin, Syaikh Al Qaradhawi, dan lain-lain.

*Tapi, hukum ini bisa berubah jika:*

๐Ÿ’ข Bagi wanita tertentu jika membahayakan maka sebaiknya dilarang. Syaikh Ali Jumah mufti Mesir saat ini- pernah memfatwakan haramnya khitan wanita lantaran kasus tewasnya seorang gadis setelah dikhitan.

๐Ÿ’ข Tekstur genital wanita tidaklah sama satu sama lain. Jika klitorisnya pendek dan kecil, yang justru akan mendatangkan frigid jika dikhitan, maka tidak wajib dan tidak sunah, sebab akan membawa mudharat pada kehidupan seksualnya. Tetapi, jika ada wanita yang klitorisnya panjang, maka sangat dianjurkan untuk dikhitan, agar tidak terjadi mudharat berupa tidak stabilnya libido.

Ketentuan-ketentuan ini sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter yang berkompeten. Sekian.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Bagaimana mensikapi keluarga yg turut mengatur Rumah Tangga kita??

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ“ Ustadzah Nurdiana

๐Ÿ“†Kamis, 19 Mei 2016 M
                  12 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Assalamu’alaikum ustadz/ustadzah… mau tanya, bagaimana hukumnya seorang istri memprotes suami yang masih terpengaruh oleh bude & pakdenya yang masih suka ikut campur mengatur keuangan rumah tangga suami-istri tsb?
Padahal sang istri dalam kehidupan sehari2 sudah berusaha mengikuti (taat dan qonaah) aturan suami untuk hidup irit/hemat. Dan istri tdk pernah menghalangi suami ketika mendapat rizki utk berbagi kepada mertua kandung dan angkat (bude-pakde) bahkan tak jarang istri turut mengingatkan suami ketika mendapat rizki supaya memberi/ berbagi rizki kepada mereka.
Tetapi istri gelisah, merasa tidak terima ketika masalah pengeluaran yg notabene untuk kebutuhan rumah tangga suami & istri, bude-pakde sering ikut mengatur (memprotes) jika menurut mereka misal barang yang dibeli kemahalan. Puncaknya kini istri tidak terima ketika akan melahirkan di RS dikarenakan resiko perdarahan, sedangkan bude-pakde memprotes dan menginginkan si istri (menantu) melahirkan di klinik bidan daerah perkebunan (tempat tinggal bude-pakde) karena harga melahirkan disana masih murah dibawah 1 juta rupiah.
Si istri minta melahirkan di rumah sakit karena peralatan RS lebih lengkap serta penanganan lebih cepat, dikarenakan juga menurut dokter ada indikasi perdarahan. *biayanyapun ada dari uang penghasilan suami.

*Sejarahnya : dalam hal ini bude & pakdenya adalah saudara yg mengangkat anak sang suami sejak bayi dikarenakan adat, yaitu kepercayaan mengambil (mengangkat) anak yg bukan anak kandungnya (kebetulan saat itu mengambil anak adeknya) utk memancing supaya memiliki anak dari rahim sendiri.  ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ

Jawaban:
—————

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Menyimak dari cerita penanya berarti posisi pak de/bu de bagi suami penanya adalah orang tua, karena merekalah suami penanya jadi seperti sekarang, kalau dari sisi fiqh anak laki-laki milik ibunya dan wajib taat sepanjang tidak mengajak pada kemaksiatan.
Dan istri milik suaminya dan wajib taat dgn Suami.

Saran saya masalah ini tidak usah di bawa kepada fiqh, hukumnya gmn? Sebaiknya yang harus dilakukan adalah bagaimana bisa berdamai dan memahami mereka. Berlapang dadalah dan selalu berprasangka baik, karena di hadits qudsi Allah berfirman,

*”Aku seperti persangkaan hambaku”*

tunjukkan sikap baik kepada pak de atau bu de karena posisi mereka seperti orang tua buat suami anda. Jalin komunikasi yang baik dengan suami, kalaupun tidak merasa cocok dgn keputusan suami coba pahami alasan-alasannya dengan positif thinking.

Kalau dari cerita di atas ,contohnya saat mau melahirkan ternyata pak de/bu de ikut campur, coba di pahami ini sebagai bentuk perhatian, dan kenapa disarankan di klinik? Mereka kan tidak paham kondisi kesiapan keuangan suami anda, mungkin bu de mengukur dengan dirinya sendiri, supaya hemat, dll. Jadi untuk hal-hal hubungan sesama tidak harus selalu di bawah ke ranah fiqih, jauh lebih baik kita juga memahami sisi muamalah dan sisi humanis sebagai sesama hamba Allah.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Peran Ulama Haramain Nusantara Dalam Perkembangan Intelektual di Indonesia

๐Ÿ“† Kamis, 12 Sya’ban 1437H / 19 Mei 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

๐Ÿ“ *Peran Ulama Haramain Nusantara Dalam Perkembangan Intelektual di Indonesia* Bag-2

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

*Syaikh Mahfuzh at-Termisi* dilahirkan di Tremas, Pacitan, Jawa Timur, pada 12 Jumadil Ula 1258/1868 ketika ayahnya Abdullah sedang berada di Makkah. Saat berumur 6 tahun, ayahnya membawanya ke Makkah pada tahun 1291/1874 dan memperkenalkan kepadanya beberapa kitab penting, sehingga Mahfuzh menganggap Abdullah lebih dari sekadar ayah dan guru, yakni murabbi wa ruhi (pendidikku dan jiwaku). Ketika Mahfuzh menginjak remaja, akhir 1870-an, ayahnya menemani kembali ke Jawa dan mengirimkannya kepada seorang โ€˜alim Jawa kenamaan, Kyai Saleh Darat (1820-1903) untuk belajar di pesantrennya di Semarang, Jawa Tengah. Ayahnya meninggal di Makkah pada tahun 1314/1896, dan dimakamkan di Maโ€™la di dekat makam Khadijah. Sebagian besar dari delapan saudaranya menjadi ulama penting di Jawa, dan memiliki ketenaran di beberapa bidang yang berbeda. Mahfuzh ahli di bidang Ilmu Hadits, Dimyati di bidang ilmu waris (faraโ€™idh), bakri di bidang ilmu Al-Qurโ€™an, dan Abdurrazzaq (w.1958) di bidang Tarekat, dan menjadi mursyid tarekat yang memiliki ratusan pengikut dari seluruh Jawa. Ketika Mahfuzh meninggal di Makkah pada Sabtu malam menjelang Maghrib, tanggal 1 Rajab 1338/1919, ribuan kaum muslim menyalatkan dan mengantar jenazahnya ke sebuah pemakaman keluarga Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syata                   (w. 1310/1892) di Makkah. Satu-satunya anak Mahfuzh yang masih hidup adalah Muhammad, yang berhasil menjadi seroang guru dalam bidangnya di Demak, Jawa Tengah, yang memiliki banyak murid dari seluruh Nusantara, atas dorongan kuat dari ayahnya, Mahfuzh, untuk mempelajari dan menghafal Al-Qurโ€™an.[7]

*Jaringan Intelektual Ulama Haramain*

Menurut Komaruddin Hidayat, catatan sejarah menunjukkan bahwa secara umum hubungan Islam Nusantara dengan Timur Tengah senantiasa terjalin dengan erat, khususnya sejak sekitar awal abad ke-15 sampai pertengahan abad ke-17, kemudian sejak akhir abad ke-19 sampai sekarang.[8] Ismatu Ropi dan Kusmana menegaskan, dua daerah Timur Tengah yang paling sering dijadikan tumpuan tempat menimba ilmu keislaman (rihlah โ€˜ilmiyyah atau thalab al-โ€˜ilm) adalah Haramain (Makkah dan Madinah) serta Kairo. Posisi Haramain sangat dominan sejak abad ke-17 hingga akhir abad ke-19. Hal ini boleh jadi adalah karena kaum Muslim memandang Haramain sebagai tempat yang memiliki nilai sakral lebih ketimbang daerah-daerah lain. Sedangkan Kairo baru dilirik para pelajar Indonesia sebagai tempat studi mulai pertengahan abad kesembilan belas setelah sebelumnya terjadi kontak-kontak antara murid-murid Jawa dan Universitas al-Azhar sejak akhir abad ke-18.[9]

Pada  pertengahan abad ke-19 ini, menurut Ali Mubarak seperti dikutip Abaza, telah terdapat suatu Riwaq Zawi (asrama mahasiswa Jawa) di Kairo, yang terletak di antara Riwaq Salmaniyyah dan Riwaq al-Shawwam, yang dihuni oleh sekitar 11 orang dipimpin oleh *Syaikh Ismail Muhammad al-Jawi*. Data lain yang menguatkan adalah catatan Goldziher, yang juga seperti dikutip Abaza, bahwa pada 1871 terdapat enam mahasiswa asal Jawi yang tinggal di Riwaq Jawi. Akan tetapi, Jawa atau Jawi di sini masih merupakan istilah yang digunakan sebelum terbentuknya negara bangsa (Indonesia) yang meliputi semua mahasiswa Asia Tenggara tanpa kecuali.[10]

Pada abad ke-17 dan ke-18, interaksi keilmuan antara Timur Tengah dan Indonesia telah semakin menemukan bentuknya yang nyata. Dalam periode ini terbentuk jaringan (networks), dalam bentuk hubungan guru dan murid, yang relatif mapan antara Muslim Nusantara dan rekan mereka di Timur Tengah. Dalam periode ini pula muncul sejumlah ulama yang tidak hanya produktif tetapi juga mempunyai pengaruh terhadap perkembangan Islam di Nusantara. Nama-nama seperti *Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, Syamsuddi al-Sumatrani, โ€˜Abd al-Raโ€™uf al-Sinkili, Abu Shamad* adalah tokoh-tokoh yang secara intens terlibat dalam jaringan tersebut. Demikian lamanya interaksi yang berlangsung sehingga ia tidak hanya telah membentuk wacana keislaman tersendiri yang unik, tetapi lebih dari itu telah menciptakan jaringan ulama yang berfungsi sebagai โ€˜alatโ€™ transmisi keilmuan dan gagasan-gagasan pembaruan pemikiran Islam.[11]

Berdasarkan perkembangan-perkembangan yang terjadi, studi Islam di Haramain dapat dikelompokkan ke dalam tiga periode. Pertama, periode abad ke-17 sampai dengan akhir abad ke-19. Pada periode ini, wacana yang berkembang adalah tradisionalisme Islam dan neo-sufisme. Kedua, awal abad ke-20 sampai dengan dekade 1950-an. Pada periode ini di Haramain terjadi pergumulan yang intens antara Islam tradisi dan Islam reformis. Kalangan tradisionalis mendirikan Madrasah Darul โ€˜Ulum yang embrionya adalah Madrasah Shaulatiyah dengan *Syaikh Yasin al-Fadani* sebagai ujung tombaknya. Sementara kalangan reformis yang dipelopori oleh *Syaikh Janan Thayib* (orang Indonesia pertama yang mendapat gelar LC dari Universitas al-Azhar) mendirikan Madrasah Indonisiyyin. Sayangnya, madrasah ini terpaksa bubar menjelang Perang Dunia II. Ketiga, dekade 1960-an hingga sekarang yang boleh disebut sebagai periode โ€œthe return of Islamic traditionโ€. Kaum reformis mengalami kekalahan total karena dipandang tidak sejalan dengan ideologi penguasa yang sejak 1925 disuburkan oleh bani Saud. Pada konteks Haramain, lingkungan berpikir pelajar Indonesia tidak jauh berbeda dengna warna pendidikan di sana yang sangat menekankan pendekatan normatif dan ideologis terhadap Islam dan secara umum mempertahankan tradionalisme. Mereka amat sedikit mengenyam pemikiran-pemikiran dari luar Arab (seperti Barat).[12]

Banyak alasan mengapa banyak muslim datang ke Makkah untuk mencari ilmu. Pertama, karena pandangan tentang keilmuan Islam dan cara memperoleh ilmu itu. Ada keyakinan bahwa lebih autentik jika ilmu-ilmu keislaman itu dicari dari pusat tumbuhnya, yaitu Timur Tengah, dengan bahasa Arab sebagai salah satu cirinya. Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa banyak di antara para muqimin dan pencari ilmu di Makkah menunjukkan prestasi dan disambut positif oleh masyarakat mereka berasal. Kedua, keyakinan bahwa Makkah adalah tempat pusaran atau bursa ilmu keislaman yang paling dinamis karena sebagai pusat peribadatan, Makkah dikunjungi oleh para ulama mancanegara yang tidak hanya datang untuk menunaikan ibadah tetapi juga melakukan pertukaran ilmu. Dalam batas tertentu, kuantitas dan kualitas sumber atau jaringan ilmu memberikan nilai tersendiri bagi seorang ulama. Ketiga, karena tradisi Makkah yang memberikan peluang yang amat besar bagi orang asing (non-Arab) untuk menuntut ilmu keislaman di sana. Sejak masa pra-Islam komunitas asli Makkah memang telah memiliki tradisi untuk selalu siap menerima kedatangan tamu (hujjaj), melayani dan menghormatinya. Pada masa Islam, tradisi ini berkembang lebih jauh dan pada titik tertentu dikaitkan dengan ajaran Islam yang mendorong pencarian ilmu dan penghormatan terhadap pemilik maupun pencarinya. Mereka yang datang dari luar dan bermuqim di Makkah juga memegang tradisi ini. Dari itu, tradisi waqf dan infaq yang mengarah pada perkembangan ilmu, khususnya ilmu-ilmu keislaman, berkembang dan mengakar dengan kuat.[13]

Perlu juga kita ketahui beberapa tempat di Makkah yang menjadi tujuan para pencari ilmu antara lain: Masjid al-Haram, bait al-Shaikh ataupun rubat, madrasah, dan al-jamiโ€™ah. Pertama, pengajaran di Masjid al-Haram, yakni selain sebagai tempat ibadah, juga tempat studi yang banyak diminati, dengan kegiatan pembelajarannya terdiri atas tiga bentuk yaitu halaqa dirasiya (umumnya baโ€™da โ€˜Ashr diperuntukkan bagi peserta dewasa), halaqa tahfiz al-Qurโ€™an, dan maโ€™had Haram. Kedua, pengajaran di bait al-Shaikh (rumah-rumah para pengajar) dilakukan karena syaikh tertentu melanjutkan pengajarannya di rumah, atau karena ulama-ulama yang tidak mengajar di al-Haram, atau karena sudah terlalu tua (sepuh), atau karena bukan penduduk asli (tabaiya) yang mendapatkan izin membuka halaqa di al-Haram, atau karena alasan lain. Termasuk dalam golongan ini adalah *Syaikh Jabir di Harat al-Bab, Kyai Idris Kediri di Shieb โ€˜Ali*. Adapun pengajaran di rumah yang dilakukan oleh syaikh-syaikh yang mengajar di               al-Haram dilakukan misalnya oleh Syaikh Yasin Padang. Yang paling menonjol adalah aktifitas belajar di rumah Sayyid Muhammad โ€˜Alawi al-Maliki, dahulu di Utabiya, sekarang di Rusaifa, Makkah. Ketiga, pengajaran di Madrasah, baik milik pemerintah yang tidak menerima warga asing (ajanib) atau madrasah swasta yang umumnya didirikan oleh perorangan atau paguyuban dari warga asing yang telah memperoleh kewarganegaraan Saudi (tabaโ€™iya). Madrasah di Makkah yang banyak diikuti warga asing adalah Madrasah Shaulatiyyah, Madrasah Dar al-Hadits, dan Madrasah Dar al-โ€˜Ulum, yang kesemuanya adalah madrasah swasta (ahliya) dan memusatkan pada ilmu-ilmu agama. Madrasah Shaulatiyyah adalah madrasah tertua dari seluruh madrasah yang ada di Makkah (ketika wilayah ini dimasuki penguasa Mamlaka al-Hijaziyyah tahun 1924 M.). Madrasah ini didirikan pada tahun 1291/1871 atas inisiatif seorang muqimin India, al-Syaikh Muhammad Rahmat Allah (lahir 1233 H.). Keempat, pengajaran melalui perguruan tinggi (al-jamiโ€™ah).

*Kedatangan Ulama Haramain ke Nusantara*

Para pakar sejarah memiliki teori masing-masing perihal kapan dan bagaimana agama Islam masuk ke bumi Nusantara Indonesia. Di antara teori-teori yang dikenal adalah Teori Gujarat, Teori Makkah, Teori Persia, Teori Cina, dan Teori Maritim. Namun di antara teori tersebut, tampaknya yang paling bisa diterima validitasnya adalah *Teori Makkah*, sebagaimana pendapat Prof. Dr. Buya Hamka dalam Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia di Medan (1963) yang mengangkat fakta dari Berita Cina Dinasti Tang, bahwa Islam masuk ke Nusantara Indonesia sekitar abad ke-7 M. Di dalam berita tersebut ditemukan daerah hunian wirausahawan Arab Islam di pantai barat Sumatra, maka disimpulkan Islam masuk dari daerah asalnya Arab, dibawah oleh wiraniagawan Arab.[14]

Berbicara tentang ulama Haramain, setidaknya bisa dibagi atas ulama asli kelahiran Haramain, atau ulama kelahiran non-Haramain dan non-Nusantara, dan terakhir ulama Nusantara yang sengaja mengunjungi Haramain. Untuk memastikan siapakah sosok ulama Haramain kelahiran non-Nusantara yang masuk ke Nusantara Indonesia tersebut tentu bukan persoalan yang mudah mengingat literatur yang sangat terbatas sekali. Sebagai contoh Ibnu Battuta yang dikenal sebagai seorang pengembara sejati, telah melakukan perjalanan ke Asia Tenggara dan Cina, pada tahun 1345-1346 M. dari perjalanan panjangnya mengunjungi banyak negara di dunia, mulai dari Afrika Utara, Mesir, Suriah, Arabia, Persia, Irak, Anatolia, Asia Tengah, Afghanistan, India, Sri Lanka, Kepulauan Maladewa, hingga kembali lagi ke Afrika Utara, Spanyol dan Afrika Barat.[15] Menurut Ibnu Battuta, ia berada di Kesultanan Samudra selama dua minggu. Tetapi dengan mempelajari kisah pelayarannya dapat diperkirakan bahwa ia berada di sana lebih lama. Ketika ia melanjutkan pelayaran, menyusuri pantai Sumatra untuk meneruskan perjalanan ke Cina. Ia singgah di Mul-Jawa yang masyarakatnya masih kufur. Dalam perjalanan kembali dari Cina, ia singgah lagi di Samudra. Ketika itu, menurut Ibnu Battuta, Sultan baru saja pulang berperang dan membawa banyak tawanan perang. Sang pelancong pun berkesempatan pula menghadiri pesta perkawinan putra Sultan dengan putri saudaranya. Menurut Ibnu Battuta, โ€œSultan Jawa (Samudra), al-Malik az-Zahir adalah penguasa yang paling hebat dan terbuka, juga pecinta ulama. Meskipun baginda tidak henti-hentinya berperang dan merayah demi agama, ia adalah seorang yang rendah hati, yang selalu berjalan kaki pergi ke masjid untuk salat Jumatโ€ฆ.โ€.[16]

Namun begitu, ditemukan dalam beberapa literatur sosok-sosok ulama baik yang memang asli kelahiran Nusantara Indonesia, maupun dari negara lain yang kemudian menimba ilmu di Haramain, dan memiliki kapasitas intelektual yang diakui sampai saat ini dan berjasa besar dalam pengembangan syiโ€™ar Islam di Nusantara Indonesia.

Pada kurun abad ke-18 sampai abad ke-20, beberapa ulama Indonesia  di Haramain yang terkenal adalah *Syaikh โ€˜Abdusshomad al-Falimbani, Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syaikh Ahmad Ripangi, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, dan Syaikh Muhammad Nawawi Banten*. Adapun beberapa ulama keturunan Arab yang terkenal di Nusantara Indonesia adalah Habib Husein Abu Bakar al-Aydrus, Sayid Usman bin Yahya, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah al-Attas, Habib Ahmad bin Muhsin al-Hadar, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas, Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf (1285-1376 H), Habib Abdullah bin Ali Syahab, Habib Alwi bin Muhammad al-Muhdar, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, Habib Ali al-Habsyi (1870-1968 M), Habib Ahmad bin Abdullah as-Seggaf (1299-1369 H), Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Attas (125501346 H), Habib Abdul Qadir bin Alwi bin Idrus as-Seggaf (1241-1331 H), Habib Ali bin Husein al-Attas (1889-1976 M), Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad (1299-1373 H), Habib Shaleh bin Muhsin al-Hamid, Habib Salim bin Jindan (1324-1389 H/1906-1969 M), Habib Alwi bin Thahir al-Haddad, Habib Muhammad bin Hasyim bin Abdurrahman ath-Thahir, Habib Umar bin Ali as-Syaikh Abu Bakar, Habib Ahmad bin Alwi bin Ahmad al-Haddad (โ€œHabib Kuncungโ€), Habib Alwi bin Segaf Assegaf, Habib Jaโ€™far bin Syaikhan Assegaf, Habib Abdullah bin Ali al-haddad (โ€œKramat Bangilโ€).[17]

Bersambung

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 2)

๐Ÿ“† Rabu,  11 Sya’ban 1437 H / 18 Mei 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 2)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Sejak Kapan Puasa Ramadhan Diwajibkan?*

Telah diketahui secara pasti bahwa puasa Ramadhan adalah wajib berdasarkan Al Quran (QS. Al Baqarah (2): 183), Al Hadits, dan ijma.

Telah masyhur pula bahwa puasa Ramadhan diwajibkan sejak tahun kedua hijriyah, dan sepanjang hayat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya menjalankan sembilan kali puasa Ramadhan.

Dalam sejarah Islam, pewajiban puasa pun tidak langsung, melainkan diberikan anjuran puasa sebagai memberikan pengalaman dan pembiasaan.

Berkata Syaikh Ibnu Al Utsaimin Rahimahullah:

ูˆุญูƒู…ู‡: ุงู„ูˆุฌูˆุจ ุจุงู„ู†ุต ูˆุงู„ุฅุฌู…ุงุน.
ูˆู…ุฑุชุจุชู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ: ุฃู†ู‡ ุฃุญุฏ ุฃุฑูƒุงู†ู‡ุŒ ูู‡ูˆ ุฐูˆ ุฃู‡ู…ูŠุฉ ุนุธูŠู…ุฉ ููŠ ู…ุฑุชุจุชู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ. ูˆู‚ุฏ ูุฑุถ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุตูŠุงู… ููŠ ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ุฅุฌู…ุงุนุงู‹ุŒ ูุตุงู… ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ุชุณุน ุฑู…ุถุงู†ุงุช ุฅุฌู…ุงุนุงู‹ุŒ ูˆูุฑุถ ุฃูˆู„ุงู‹ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฎูŠูŠุฑ ุจูŠู† ุงู„ุตูŠุงู… ูˆุงู„ุฅุทุนุงู…ุ› ูˆุงู„ุญูƒู…ุฉ ู…ู† ูุฑุถู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฎูŠูŠุฑ ุงู„ุชุฏุฑุฌ ููŠ ุงู„ุชุดุฑูŠุนุ› ู„ูŠูƒูˆู† ุฃุณู‡ู„ ููŠ ุงู„ู‚ุจูˆู„ุ› ูƒู…ุง ููŠ ุชุญุฑูŠู… ุงู„ุฎู…ุฑ

 โ€œHukumnya adalah wajib berdasarkan nash (teks Al Quran dan Al Hadits) dan ijmaโ€™.

Kedudukannya dalam agama Islam adalah dia sebagai salah satu rukun Islam yang memiliki urgensi yang agung dalam Islam.

Telah ijma bahwa Allah   mewajibkan puasa pada tahun kedua,  dan ijma pula  bahwa puasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah sembilan kali Ramadhan.

Pertama kali diwajibkan adalah sebagai  takhyir  (pemberian opsi) antara puasa dan makan, hikmah dari pewajiban dengan cara ini adalah sebagai pentahapan dalam pensyariatannya agar lebih mudah diterima, sebagaimana dalam pengharaman khamr. (Syarhul Mumti , 6/298. Mawqi Ruh Al Islam)

๐Ÿ“š *Rukun Puasa*

Puasa ada dua rukun.

โฃ *Pertama* , menahan diri dari yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari.

โฃ *Kedua* , niat untuk puasa. Niat dilakukan paling lambat sebelum terbit fajar.

 (Lengkapnya lihat Fiqhus Sunnah, 1/437)

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Wudhu…Bagaimana seharusnya?

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐ŸŒธUstadzah Nurdiana

๐Ÿ“†Rabu, 18 Mei 2016 M
                11 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamu’alaikum..
Apakah ada hadist yg melarang mengelap anggota tubuh kita jika sdh berwudhu? Misalnya mengelap muka,, tangan, kaki.

Bagaimana jika seseorang berwudhu tanpa menutup kemaluan (auratnya)? Misalnya setelah mandi langsung dan blm menggunakan handuk, trus berwudhu. ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ9โƒฃ

Jawaban :
————

 ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
sejauh yang saya baca hadits tentang wudhu, saya belum menemukan keterangan itu.

Jadi menurut saya disaat kita berwudhu sesuai sunnah, dimana sangat dianjurkan tidak berlebih-lebihan dalam memakai air, maka setelah wudhu tidak perlu di elap, kalaupun di elap boleh.

Wudhunya sah,tapi hendaklah kita memperhatikan adab dan malu kepada Allah.
Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

Bagaimana Khusyu Dalam Sholat?

๐ŸŽ€Ustadzah Menjawab๐ŸŽ€
๐Ÿ’Ustadzah Sri Wisnu Karang Seto

๐Ÿ“†Rabu, 18 Mei 2016 M
                11 Sya’ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamualaikum. Bagaimana hukum bagi orang yang dalam sholatnya kurang khusyu? [Manis A40] —-

Jawaban:

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Pendapat pertama, menurut jumhur ulama khusyuโ€™ bukan syarat sah shalat atau rukunnya. Ia hanya sunnah dalam shalat. Jika tidak ada khusyuโ€™ di dalam shalat, maka tidak ada kewajiban menggantinya (mengqadla) atau mengulangnya. Namun pahalanya berkurang. Jadi tidak khusyuโ€™ itu tidak membatalkan shalat.

Menurut Imam Nawawi, ijma ulama menyatakan khusyuโ€™ tidak wajib, karena tidak ada ulama yang menyatakan wajibnya khusyuโ€™. Ibnu Hajar menambahkan, khusyuโ€™ merupakan penyempurna shalat dan sunnah dalam shalat.

Ada juga pendapat cabang dari pendapat jumhur yakni Ar-Razi yang menyatakan, khusyuโ€™ adalah syarat sah dan bukan syarat diterimanya.

Pendapat kedua, menurut Imam Al-Ghazali, Ibnu Hamid (pengikut Imam Ahmad), Ibnu Taimiyah, khusyuโ€™ hukumnya wajib dalam shalat.  Pendapat ini berdasarkan sejumlah dalil:๏ฟผ

Firman Allah,

{ุฃูู„ุง ูŠุชุฏุจุฑูˆู† ุงู„ู‚ุฑุขู†} (ุงู„ู†ุณุงุก: 82)

โ€œMaka apakah mereka tidak mentadabburkan (memperhatikan) Al-Quran? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya,โ€
(QS An-Nisaโ€™: 82).

Tadabbur hanya bisa dengan khusyuโ€™.

{ุฃู‚ู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุฐูƒุฑูŠ} (ุทู‡: 14).

โ€œSesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku,โ€ (QS Thaha: 14).

Tujuan shalat adalah untuk mengingat Allah dan itu hanya bisa dicapai dengan khusyuโ€™.

{ูˆู„ุง ุชูƒู† ู…ู† ุงู„ุบุงูู„ูŠู†} (ุงู„ุฃุนุฑุงู: 205)

โ€œDan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai,โ€(QS Al-Aโ€™raf: 205).

Dalam ayat ini Allah melarang Rasulullah agar tidak menjadi orang yang lalai, terutama dalam shalat. Sementara lalai notabene bertentangan dengan khusyuโ€™. Dalil lain adalah beberapa hadits Nabi. Di antaranya;

ุฑูˆูŠ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ( ุตู„ูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ) ู…ุณู†ุฏุง :ยซุฅู† ุงู„ุนุจุฏ ู„ูŠุตู„ูŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุง ูŠูƒุชุจ ู„ู‡ ุณุฏุณู‡ุง ูˆู„ุง ุนุดุฑู‡ุงุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ูŠูƒุชุจ ู„ู„ุนุจุฏ ู…ู† ุตู„ุงุชู‡ ู…ุง ุนู‚ู„ ู…ู†ู‡ุง

Rasulullah bersabda, โ€œSungguh seorang hamba shalat dengan satu shalat, tidak ditulis baginya (pahala) seperenam atau sepersepuluhnya. Namun shalatnya ditulis apa yang dipahaminya,โ€  (Hilyatul auliyaโ€™).

ุนู† ู…ุนุงุฐ ุจู† ุฌุจู„: ู…ู† ุนุฑู ู…ู† ุนู„ู‰ ูŠู…ูŠู†ู‡ ูˆุดู…ุงู„ู‡ ู…ุชุนู…ุฏุงู‹ ูˆู‡ูˆ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู„ุง ุตู„ุงุฉ ู„ู‡

Dari Muadz bin Jabal, ia berkata,โ€œBarangsiapa yang mengetahui orang di sebelah kanan atau kirinya dalam shalat secara sengaja maka dia tidak shalat.โ€

ุนู† ุงู„ุญุณู† ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: โ€ ูƒู„ ุตู„ุงุฉ ู„ุง ูŠุญุถุฑ ููŠู‡ุง ุงู„ู‚ู„ุจ ูู‡ูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนู‚ูˆุจุฉ ุฃุณุฑุน โ€œ.

Hasan Al-Bashri berkata, โ€œSetiap shalat yang tidak ada hati yang hadir di dalamnya, maka dia lebih cepat mendapatkan siksa.โ€

 ูˆู‚ุงู„ ุนุจุฏ ุงู„ูˆุงุญุฏ ุจู† ุฒูŠุฏ: โ€ ุฃุฌู…ุนุช ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ู„ู„ุนุจุฏ ู…ู† ุตู„ุงุชู‡ ุฅู„ุง ู…ุง ุนู‚ู„โ€

Abdul Wahid bin Zaid, โ€œUlama sepakat bahwa seseorang tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali yang dia pahami.โ€

๏ฟผIbnu Taimiyah menegaskan,

 โ€œ({ ูˆุงุณุชุนูŠู†ูˆุง ุจุงู„ุตุจุฑ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุฅู†ู‡ุง ู„ูƒุจูŠุฑุฉ ุฅู„ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุงุดุนูŠู† )

โ€œDan mintalah tolong dengan kesabaran dan shalat karena sesungguhnya itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuโ€™,โ€
(QS Al-Baqarah: 45).

Ayat ini menyatakan celaan bagi orang yang tidak khusyuโ€™, seperti halnya celaan dalam ayat lainnya tentang kiblat.

  {ูˆู…ุง ุฌุนู„ู†ุง ุงู„ู‚ุจู„ุฉ ุงู„ุชูŠ ูƒู†ุช ุนู„ูŠู‡ุง ุฅู„ุง ู„ู†ุนู„ู… ู…ู† ูŠุชุจุน ุงู„ุฑุณูˆู„ ู…ู…ู† ูŠู†ู‚ู„ุจ ุนู„ู‰ ุนู‚ุจูŠู‡ ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ู„ูƒุจูŠุฑุฉ ุฅู„ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฐูŠู† ู‡ุฏู‰ ุงู„ู„ู‡ },

โ€œDan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah,โ€
(QS Al-Baqarah: 143).

Celaan dalam ayat ini terjadi karena mereka meninggalkan hal yang wajib. Ayat lain menegaskan,

 {ู‚ุฏ ุฃูู„ุญ ุงู„ู…ุคู…ู†ูˆู† * ุงู„ุฐูŠู† ู‡ู… ููŠ ุตู„ุงุชู‡ู… ุฎุงุดุนูˆู†  โ€œ

“Sungguh bahagia orang-orang beriman yang mereka dalam shalatnya khusyuโ€™,โ€
(QS Al-Mukminun: 1-2).

Artinya, surga Firdaus hanya diwarisi oleh mereka yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan di antaranya khusyuโ€™ dalam shalat. Surga diperoleh dengan hal-hal yang wajib bukan yang mustahab
 (dianjurkan).โ€

Selain itu menurut pendapat ini, dalil khusyuโ€™ itu ada dua: lahir dan batin. Karenanya, Umar pernah melihat seseorang yang mempermainkan sesuatu dalam shalatnya, maka beliau mengatakan, โ€œJika hatinya khusyuโ€™ maka organnya juga khusyuโ€™.โ€

Dalil Khusyuโ€™ Hanya Sunnah Bukan Wajib

Rasulullah
memerintahkan orang yang lupa shalat untuk sujud sahwi dan tidak memerintahkan untuk mengulang.

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏูŽ ู„ูŽูŠูŽู†ู’ุตูŽุฑููู ู…ูู†ู’ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู , ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ุนูุดู’ุฑูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุชูุณู’ุนูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุซูู…ู’ู†ูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุณูุจู’ุนูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุณูุฏู’ุณูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุฎูู…ู’ุณูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุฑูุจู’ุนูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุซูู„ูุซูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ู†ูุตู’ููู‡ูŽุง

Rasulullah Sallallu โ€˜Alaihi wa Sallambersabda,
โ€œSesungguhnya seorang hamba selesai dari shalatnya dan dia tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, atau setengahnya,โ€ (Musykilul atsar).

Selain itu, ijmaโ€™ ulama menyatakan bahwa khusyuโ€™ bukan syarat shalat.๏ฟผ

Dalam hadits lain ditegaskan,

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: โ€ ุฅูุฐูŽุง ู†ููˆุฏููŠูŽ ุจูุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ุฃูŽุฏู’ุจูŽุฑูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ูˆูŽู„ูŽู‡ู ุถูุฑูŽุงุทูŒุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูุถููŠูŽ ุฃูŽู‚ู’ุจูŽู„ูŽุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุซููˆู‘ูุจูŽ ุจูู‡ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุจูŽุฑูŽุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูุถููŠูŽ ุฃูŽู‚ู’ุจูŽู„ูŽุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุฎู’ุทูุฑูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ูˆูŽู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูุŒ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ู: ุงุฐู’ูƒูุฑู’ ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุงุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุฑููŠูŽ ุฃูŽุซูŽู„ุงูŽุซู‹ุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽู…ู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุงุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฏู’ุฑู ุซูŽู„ุงูŽุซู‹ุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุงุŒ ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู ุงู„ุณู‘ูŽู‡ู’ูˆู โ€œ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Sallallu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda,โ€œJika adzan shalat dikumandangkan, setan mundur dengan terkentut-kentut sehingga dia tidak mendengar adzan. Jika adzan selesai, dia datang lagi. Jika diiqamati dia mundur lagi. Jika selesai iqamah, dia datang lagi sehingga mengganggu antara manusia dengan dirinya. Setan berkata, โ€œIngat ini ingat itu.โ€ Sampai dia (manusia) tidak ingat hingga berapa rakaat dia shalat. Jika seseorang mendapatkan seperti itu, maka hendaklah dia sujud dua kali pada saat dia dalam keadaan duduk,โ€(HR Bukhari, Muslim dll).

Karena itu, dalam Al-Minhaj dan sharahnya oleh Ibnu Hajar ditegaskan, disunnahkan khusyuโ€™ dalam shalat dengan hatinya dimana tidak menghadirkan apapun selain shalat.

Jadi shalat tetap sah dan cukup, dan ini bukan masalah pahala dan diterimanya. Ar-Razi berkata, โ€œKehadiran hati menurut kami adalah syarat kecukupan sahnya (ijzaโ€™) dan bukan syarat diterimanya. Yang dimaksud ijzaโ€™adalah tidak wajib diqadla dan yang dimaksud syarat diterima adalah hukum pahalanya.โ€

Al-Alusi berkata, โ€œBerdasarkan pendapat ini maka khusyuโ€™ adalah syarat sah namun hanya di sebagian shalat. Jika tidak bisa sama sekali maka shalatnya batal. Sebab ruh shalat adalah khusyuโ€™. Jika shalat tidak ada ruhnya, maka dia ditolak.โ€

Perkataan Al-Alusi ini agaknya merupakan usaha kompromi dari kedua pendapat antara yang mewajibkan dan menyunnahkan. Pernyataan itu juga berusaha menekan pentingnya khusyuโ€™ dalam shalat.

Terdapat banyak kesimpulan yang kita dapat dari keterangan Al Quran dan Hadits diatas yang pada hakekatnya adalah Islam adalah agama yang mudah dan sangat memudahkan , tidak berat dan memberatkan , karena itu permudahlah jangan kamu persulit , berilah sesuatu yang menggembirakan dan jangan membuat mereka lari.
Wallahu aโ€™lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…