Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 5)

📆 Selasa,  17 Sya’ban 1437 H / 24 Mei 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 5)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Orang Yang Kesulitan Menjalankan Puasa*

Orang seperti ini mendapatkan keringanan dari Allah Taala:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
📌“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan (fidyah) seorang miskin.”  (QS. Al Baqarah (2): 184)

Yang dimaksud adalah orang-orang yang sudah sama sekali tidak mampu puasa kapan pun, sehingga mesti diganti dengan fidyah, seperti orang jompo, dan sakit menahun yang tipis kemungkinan sembuh.  Ada pun bagi yang masih mampu puasa di hari lain, maka gantinya adalah qadha puasa di hari lain, sebagaimana bunyi ayat   sebelumnya. Inilah ketetapan buat pekerja keras, musafir (termasuk di antaranya supir jarak jauh), sakit, dan semisalnya, yang ada kemungkinan dapat melakukan puasa ketika libur atau sehat.

Sedangkan wanita haid dan  nifas, bukannya boleh tidak berpuasa tetapi memang tidak boleh berpuasa.  Tentu dua  kalimat ini berbeda makna dan ketentuan.

 Wanita hamil dan menyusui juga termasukan kelompok yang berat untuk puasa. Hanya saja para ulama berbeda apakah dia termasuk menggantinya dengan qadha di hari lain, ataukah fidyah memberikan makanan ke fakir miskin.

📚 *Hamil dan Menyusui; Fidyah atau Qadha?*

Untuk yang menyatakan Qadha dalilnya adalah firman Allah Taala: Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al Baqarah (2): 184)

Untuk yang menyatakan Fidyah dalilnya adalah kalimat selanjutnya:  Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. (QS. Al Baqarah (2): 184)

 Perbedaan pandangan ulama dalam hal ini sangat wajar, sebab memang ayat tersebut tidak merinci siapa sajakah yang termasuk orang-orang yang berat menjalankannya. Dalam hadits pun tidak ada perinciannya. Adapun tentang Qadha secara khusus, ayat di atas menyebut musafir dan orang yang sakit.

Sedangkan ayat tentang Fidyah, tidak dirinci. Nah, Khusus ibu hamil dan menyusui, jika kita melihat keseluruhan pandangan ulama yang ada, bisa kita ringkas seperti yang dikatakan Imam Ibnu Katsir. (Tafsir Al Quran al Azhim,  1, 215. Darul Kutub al Mishriyah) bahwa ada empat pandangan/pendapat ulama:

1⃣  *Pertama* , kelompok ulama yang mewajibkan wajib qadha dan fidyah sekaligus. Ini adalah pandangan Imam Ahmad dan Imam Asy Syafii, jika Si Ibu mengkhawatiri keselamatan janin atau bayinya.

2⃣  *Kedua,*  kelompok ulama yang mewajjibkan fidyah saja, tanpa qadha. Inilah pandangan beberapa sahabat Nabi, seperti Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Umar Radhiallahu Anhuma. Dari kalangan tabiin (murid-murid para sahabat) adalah Said bin Jubeir,   Mujahid, dan lainnya. Kalangan tabiut tabiin (murid para tabiin) seperti Al Qasim bin Muhammad dan Ibrahim an Nakha’i.
Imam Daruquthni meriwayatkan dengan sanad yang shahih, bahwa Ibnu Abbas pernah berkata kepada hamba sahayanya yang sedang hamil: Kau sama dengan orang yang sulit berpuasa, maka bayarlah fidyah dan tidak usah qadha.
Nafi’ bercerita bahwa Ibnu Umar ditanya tentang wanita hamil yang khawatir keselamatan anaknya kalau ia berpuasa, maka dia menjawab: Hendaknya dia berbuka, dan sebagai gantinya, hendaklah dia memberi makanan kepada seorang miskin sebanyak satu mud gandum. (Riwayat Malik )

3⃣  *Ketiga,*  kelompok ulama yang mewajibkan qadha saja, tanpa fidyah. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Seperti madzhab Hanafi, Abu Ubaid, dan Abu Tsaur. Sedangkan Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal ikut pendapat ini, jika sebabnya karena mengkhawatiri keselamatan Si Ibu, atau keselamatan Ibu dan janin (bayi) sekaligus.

3⃣  *Keempat,*  kelompok ulama yang mengatakan tidak qadha, tidak pula fidyah.

Demikianlah berbagai perbedaan tersebut. Nah, pendapat manakah yang sebaiknya kita ikuti. Seorang ahli fiqih abad ini, Al Allamah Syaikh Yusuf Al Qaradhawy hafizhahullah, dalam kitab Taisiru Fiqh (Fiqhus Siyam) memberikan jalan keluar yang bagus. Beliau berkata:

 _”Banyak ibu-ibu hamil bertepatan bulan Ramadhan, merupakan rahmat dari Allah bagi mereka jika tidak dibebani kewajiban qadha, namun cukup dengan fidyah saja, di samping hal ini merupakan kebaikan untuk faqir dan miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan materi. Namun bagi ibu-ibu yang masa melahirkannya jarang, sebagaimana umumnya ibu-ibu di masa kita saat ini dan di sebagian besar negara Islam, tertutama di kota-kota, kadang-kadang hanya mengalami dua kali hamil dan dua kali menyusui selama hidupnya. Maka, bagi mereka lebih tepat pendapat jumhur, yakni qadha (bukan fidyah)._ (Selesai dari Al Allamah Asy Syaikh Yusuf bin Al Qaradhawi Hafizhahullah)

🔑Jadi, jika wanita tersebut sulit puasa karena sering  hamil dan selalu melalui bulan Ramadhan saat hamil, maka bagi dia fidyah saja. Ada pun, jika hamilnya jarang, karena masih ada waktu atau kesempatan di waktu tidak hamil, maka wajib baginya qadha saja. Inilah pendapat yang nampaknya adil, seimbang, sesuai ruh syariat Islam. Wallahu Alam

📚 *Kecaman Untuk Orang Yang Tidak Puasa Ramadhan Tanpa Udzur*

 Meninggalkan puasa karena mengingkari kewajibannya, tidak syak lagi, merupakan perbuatan kufur dan pelakunya murtad dari Islam menurut ijma’ (aklamasi) kaum muslimin.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata tentang orang yang mengingkari kewajibannya:

وأجمعت الامة: على وجوب صيام رمضان. وأنه أحد أركان الاسلام، التي علمت من الدين بالضرورة، وأن منكره كافر مرتد عن الاسلام.

 📌               “Umat telah ijma’ atas wajibnya puasa Ramadhan. Dia merupakan salah satu rukun Islam yang telah diketahui secara pasti dari agama, yang mengingkarinya adalah kafir dan murtad dari Islam.” (Fiqhus Sunnah, 1/433. Darul Kitab Al Arabi)

Lalu, bagaimana bagi yang meninggalkan puasa karena sengaja dan kemalasan, bukan karena udzur (sakit, safar, hamil dan menyusui, nifas, tua Bangka, pikun, pekerja keras)  namun dia masih meyakininya sebagai kewajiban dan bagian dari rukun Islam. Maka, menurut zhahir hadits berikut ini dia juga kafir.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

عرى الاسلام، وقواعد الدين ثلاثة، عليهن أسس الاسلام، من ترك واحدة منهن، فهو بها كافر حلال الدم: شهادة أن لا إله إلا الله، والصلاة المكتوبة، وصوم رمضان

📌                Tali Islam dan kaidah-kaidah agama ada tiga, di atasnyalah agama Islam difondasikan, dan barangsiapa yang meninggalkannya satu saja, maka dia kafir dan darahnya halal ( untuk dibunuh), (yakni):  Syahadat Laa Ilaaha Illallah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan. (HR. Abu Yaala dan Ad Dailami dishahihkan oleh Adz Dzahabi. Berkata Hammad bin Zaid: aku tidak mengetahui melainkan hadits ini  telah dimarfukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Al Haitsami mengatakan sanadnya hasan, Majma Az Zawaid, 1/48. Darul Kutub Al Ilmiyah)

                Namun, Syaikh Al Albani telah mendhaifkan hadits ini lantaran kelemahan beberapa perawinya, yakni Amru bin Malik An Nukri, di mana tidak ada yang menilainya tsiqah kecuali Ibnu Hibban, itu pun masih ditambah dengan perkataan: Dia suka melakukan kesalahan dan keanehan.

                Telah masyhur bahwa Imam Ibnu Hibban termasuk ulama hadits yang terlalu mudah mentsiqahkan seorang rawi, sampai-sampai orang yang majhul (tidak dikenal) pun ada yang dianggapnya tsiqah. Oleh karena itu, para ulama tidak mencukupkan diri dengan tautsiq yang dilakukan Imam Ibnu Hibban, mereka biasanya akan meneliti ulang.

                Selain dia, rawi lainnya Ma’mal bin Ismail, adalah seorang yang shaduq (jujur) tetapi banyak kesalahan, sebagaimana dikatakan Imam Abu Hatim dan lainnya. Umumnya hadits darinya yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas hanyalah bernilai mauquf (sampai sahabat) saja.

                Lalu, secara zhahir pun hadits ini bertentangan dengan hadits muttafaq alaih: Islam dibangun atas lima perkara dst.

                Maka dari itu, Syaikh Al Albani tidak meyakini adanya seorang ulama mu’tabar yang mengkafirkan orang yang meninggalkan puasa, kecuali jika dia menganggap halal perbuatan itu. (Lihat As Silsilah Adh Dhaifah No. 94)

 Dengan kata lain, jika dia masih meyakini kewajibannya, tetapi dia meninggalkannya maka dia fasiq, jika Allah Taala berkehendak akan mengampuninya sesuai kasih sayangNya, dan jika Dia berkehendak akan mengazabnya sesuai dengan keadilanNya, sejauh kadar dosanya. Inilah pendapat yang lebih mendekati kepada kebenaran. Wallahu Alam

Allah Taala juga berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An Nisa (4): 116)

🔑Tetapi, meninggalkan puasa Ramadhan tanpa udzur  bukan hal main-main, melainkan perbuatan yang keji dan termasuk dosa besar.

Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:

وعند المؤمنين مقرر:  أن من ترك صوم رمضان بلا مرض، أنه شر من الزاني، ومدمن الخمر، بل يشكون في إسلامه، ويظنون به الزندقة، والانحلال.

📌“Bagi kaum mukminin telah menjadi ketetapan bahwa meninggalkan puasa Ramadhan padahal tidak sakit adalah lebih buruk dari pezina dan pemabuk, bahkan mereka meragukan keislamannya dan mencurigainya sebagai zindiq dan tanggal agamanya. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/434. Lihat juga Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/410. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Wallahu Alam

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Siksa Kubur, Adakah dalam Alqur’an???

👳Ustadz Menjawab👳
✏Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S

📆Rabu, 24 Mei 2016 M
                18 Sya’ban 1437 H
🌿🌺🍁🌻🌼🌸🍀🌷🌹

Assalamualaikum ustadz/ah…
Afwan, boleh bertanya ?…ada yg mempertanyakan tentang siksa kubur karena katanya bertentangan dgn ayat yg ada di Al Quran….mohon pencerahannya.  # A 39

Jawaban :
—————-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Semua Imam Ahlus Sunnah sepakat bahwa siksa kubur adalah benar adanya dan tidak boleh diragukan. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari siksa kubur. Amin ya Rabbal ‘Alamin. Bahkan Imam Ahmad mengatakan -sebagaimana yang dikutip oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Ar ruh-
 “bahwa tidak ada yang mengingkari siksa kubur melainkan orang yang sesat dan menyesatkan.”
Bahkan para ulama ada yang mengkafirkan bagi pengingkar nikmat dan azab kubur, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh ‘Athiyah Shaqr. Berikut ini Fatwa beliau:
Setelah menyebutkan berbagai dalil ayat dan hadits, dia berkata;

“Ini adalah sebagian dalil-dalil yang kuat atas kepastian nikmat dan azab kubur. Hal ini dikuatkan oleh sunah dan zahir ayat, dan Ahlus Sunnah telah ijma’ atas hal ini, dan ijma’ merupakan hujjah menurut mayoritas para ulama ushul, namun kaum mu’tazilah mengingkarinya dan mengingkari apa saja yang terjadi di dalamnya. Sesungguhnya perkara aqidah tidaklah ditetapkan kecuali oleh nash yang qath’iuts tsubut dan qath’iud dalalah, dan hadits shahih yang menunjukkan adanya nikmat dan azab kubur menurut sebagian ulama adalah qath’iuts tsubut yang membawa faedah bagi ilmu dan keyakinan, dan yang lainnya menganggapnya sebagai zhanniuts tsubut yang tidak berfaedah membawa ilmu dan keyakinan. Dari sinilah terjadinya perbedaan pendapat tentang hukumnya orang-orang yang mengingkari nikmat dan azab kubur, apakah dia kafir atau bukan kafir.”
(Fatawa Al Azhar, Juz. 8, Hal. 286)

Ghundar mengatakan bahwa azab kubur adalah haq (benar adanya). (Shahih Bukhari, Kitab Al Janaiz Bab Maa Ja’a fi Azabil Qabri, Juz. 5, Hal. 163. No. 1283)

Tidaklah ada kitab-kitab matan hadits dan syarahnya melainkan pasti ada bab tentang adzab kubur, tidaklah ada kitab-kitab tafsir yang mu’tabar melainkan ada pembahasan tentang adzab kubur. Begitu pula tentang kitab-kitab aqidah. Maka, meyakini adanya azab kubur bukan sekadar untuk menakut-nakuti, melainkan bagian dari konsekuensi dari iman kepada yang ghaib, baik yang telah dijelaskan dalam Al Quran dan As Sunnah secara global (jumlatan) atau rinci (tafshilan).

Bagaimana mungkin masalah aqidah ini, dianggap tidak penting oleh aktifis Islam? Lalu mereka ditenggelamkan oleh kesibukkan politik, padahal –betapa pun pentingnya masalah khilafah- dia bukan masalah ushuluddin dan itu menjadi kesepakatan para imam ahlus sunnah. Hanya Syi’ah Imamiyah yang menganggap bahwa masalah kepemimpinan adalah masalah ushuluddin. Demikian dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Syaikh al Qaradhawy.Dalil-Dalil Al Quran tentang Siksa Kubur

“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).”
*( Qs.As Sajadah : 21)*

Berkata Mujahid tentang maksud ‘azab yang dekat’:

“Yakni azab yang dekat di kubur dan di dunia.” (Imam At Thabari, Jami’ al Bayan fi Ta’wil al Quran, Juz. 20, Hal. 191. Al Maktabah Asy Syamilah)

Berkata Imam Ibnu Katsir:

Berkata Al Bara bin ‘Azib, Mujahid, dan Abu ‘Ubaidah, maksudnya adalah ‘azab kubur.(Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz. 6, Hal. 369. Al Maktabah Asy Syamilah)

“Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) kamilah yang mengetahui mereka. nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”
*( Qs.At Taubah : 101)*

Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari berkata, tentang makna ‘mereka akan Kami siksa dua kali’ :

“Kami akan mengazab orang-orang munafik itu dua kali, azab satunya di dunia, dan yang lainnya di dalam kubur.” (Jami’ al Bayan fi Ta’wil Al Quran, Juz. 14, Hal. 441. Al Maktabah Asy Syamilah)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri menafsirkan ayat di atas adalah azab kubur. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, beliau menceritakan tentang khutbah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari Jum’at, saat itu beliau mengusir mereka dari Mesjid, di bagian akhir beliau bersabda:

“Hari ini Allah telah menunjukkan keburukan orang-orang munafik! Ini adalah azab yang pertama ykni ketika mereka diusir dari mesjid. Sedangkan azab yang kedua adalah azab kubur.” (Ibid, Juz. 14, hal. 442)

Dari Abu Malik, dia berkata tentang ayat ‘mereka akan kami azab dua kali’:

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah dan menyebutkan tentang orang munafik bahwa mereka akan disiksa karena lisannya, dia bersabda: ‘Azab Kubur.’ (Ibid)

Begitu pula yang dikatakan oleh Qatadah, Al Hasan, dan Ibnu Juraij, bahwa maksud dari ‘mereka akan Kami azab dua kali,’ adalah azab dunia dan azab kubur. (Ibid, Juz. 14, Hal. 443-444)

Dari Ibnu Abbas, dia berkata tentang makna ayat ‘mereka akan Kami azab dua kali’:

Maka azab pertamanya adalah ketika mereka (orang munafik) diusir dari mesjid, azab yang kedua adalah di kubur. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz. 4, hal. 205. Al MaktabahA sy Syamilah)

Sedangkan dalam satu riwayat disebutkan, bahwa maksud ayat tersebut adalah: “lapar dan azab kubur.” (Ibid)

Begitu pula yang dikatakan oleh Mujahid dan Ibnu Ishaq, bahwa maksud ayat tersebut adalah azab kubur.(Imam Abul Husein bin Mas’ud al Baghawi, Ma’alim at Tanzil, Juz. 4, Hal. 89. Al Maktabah Asy Syamilah)

Berkata Imam Ibnu Hajar al Asqalani Rahimahullah:

Berkata Ath Thabari setelah dia menyebutkan berbagai perbedaan dari selain mereka; bahwa umumnya mereka menafsirkan makna satu di antara dua azab itu adalah azab kubur, sedangkan yang lainnya bisa salah satu yang telah disebutkan seperti kelaparan, terbunuh, terhina, dan lainnya. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz. 4, Hal. 443.

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
*( Qs. Ibrahim :27 )*

Imam al Bukhari Radhiallahu ‘Anhu berkata:

“Ayat ini turun tentang azab kubur.” (Shahih Bukhari, Kitab Al Janaiz Bab Maa Ja’a fi Azabil Qabri, Juz. 5, Hal. 160. No Hadits. 1280. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Muslim Radhiallahu ‘Anhu berkata:

Ayat ini turun tentang azab kubur, maka akan dikatakan kepada penghuni kubur; “Siapa Tuhanmu?”, dia menjawab: “Tuhanku adalah Allah dan Nabiku adalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Maka untuk itulah maksud ayat ini. “ (Shahih Muslim, Kitab Al Jannah wa Shifatu Na’imiha wa Ahliha Bab ‘Ardhi Maq’adil mayyit …., Juz. 14, Hal. 33, No hadits. 5117. Al Maktabah Asy Syamilah)

Begitu pula yang dikatakan Imam An Nasa’i dan Imam Ibnu Majah bahwa ayat itu turun tentang azab kubur. Demikian dalil-dalil dari Al Quran.

Dalil-dalil Syar’i dari As Sunnah Ash Shahihah tentang adanya azab kubur sangat banyak, di antaranya:

1. Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

Bahwa wanita Yahudi masuk kepada ‘Aisyah, lalu dia menyebutkan tentang azab kubur, maka dia berkata kepadanya: “Berlindunglah kamu kepada Allah dari azab kubur.” Maka ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang azab kubur. Rasulullah menjawab: “Benar, azab kubur ada.” ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata: “Maka aku tidaklah pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan melainkan setelah shalat pasti ia meminta perlindungan dari azab kubur.” Ghundar menambahkan bahwa azab kubur adalah benar. (HR. Bukhari , Kitab Al Janaiz Bab Maa Ja’a fi Azabil Qabri, Juz. 5, Hal. 163. No. 1283)

2. Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda::

“Wahai manusia, berlindunglah kalian dari azab kubur, sesungguhnya azab kubur itu benar adanya.” (HR. Ahmad, juz. 50, hal. 35, No hadits. 23379)

Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini sesuai syarat (standar) Imam Bukhari. (Fathul Bari, Juz. 4, Hal. 447, No hadits. 1283. Al Maktabah Asy Syamilah)

3. Dari Asma’ binti Abu bakar Radhiallahu ‘Anha:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah dan menyebutkan tentang fitnah kubur, yang akan di alami oleh seseorang di dalm kubur, sehingga kaum muslimin merasakan ketakutan yang sangat. (HR. Bukhari, Kitab Al Janaiz Bab Maa Ja’a fi Azabil Qabri, Juz. 5, Hal. 163. No. 1284)

4. Dari Ummu Mubasyir Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Berlindunglah kalian kepada Allah dari Azab kubur!” Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah apakah mereka akan di azab di kubur mereka?” Rasulullah menajwab: “Ya, dengan azab yang bisa di dengar oleh hewan.” (HR. Ahmad, Juz. 54, hal. 484, No hadits. 25779. Syaikh al AlBany mengatakan shahih sesuai syarat Imam Muslim. As Silsilah Ash Shahihah, Juz. 4, Hal. 18, No hadits. 1444. Al Maktabah Asy Syamilah)

5. Dari ‘Aisyah Radhilallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa di dalam shalat: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari azab kubur, aku berlindung kepadaMu dari fitnah Masih ad Dajjal, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari, Kitab Al Adzan Bab Ad Du’a Qabla As Salam, Juz. 3, Hal. 332, no hadits. 789) masih banyak lagi doa-doa seperti.

6. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melewati dua buah kuburan, lalu berkata: “Kedua penghuni kubur ini sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena dosa besar, melainkan karena dia tidak cebok dari kencingnya, sedangkan yang lain karena suka mengadu domba.” Lalu beliau mengambil pelepah kurma basah, dan membelahnya menjadi dua dan masing-masing ditancapkannya di dua kuburan tersebut. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kenapa kau lakukan itu?” Beliau bersabda: “Semoga diringankan siksa keduanya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (HR. Hukhari, Kitab Al Wudhu’ Bab Maa Ja’a fi Ghuslil Baul, Juz. 1, Hal. 365, No hadits. 211)

7. Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Diutus kepada orang kafir dua ular, yang satu diarahkan ke kepalanya, yang satu di kakinya. Kedua ular itu menggerogotinya sampai habis. Dan setiap selasai maka keduanya dikembalikan lagi pulih, dan digerogoti lagi, terus menerus sampai kiamat. (HR. Ahmad, Juz. 51, Hal. 190, No. 24033. Al Haitsami mengatakan: hasan. Majma’ az Zawa’id, Juz. 3, hal. 55)

Sebenarnya masih banyak yang belum saya sampaikan, seperti hadits Bukhari – Muslim tentang pertanyaan alam kubur, orang mu’min mampu menjawab dan selamat sedangkan orang kafir dan orang yang banyak dosanya tidak mampu menjawab dan mendapatkan pukulan dari malaikat, dan hadits-hadits lainnya. Namun apa yang saya paparkan di atas mudah-mudahan mencukupi bagi orang yang menghendaki kebenaran.

_Apa kata Para Imam Ahlsu Sunnah Tentang Azab Kubur?_
Dalam Fiqhus Sunnah tertulis:

Berkata Al Marwazi (Al Maruzi); berkata Abu Abdullah yakni Imam Ahmad: “Azab kubur adalah benar, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang sesat dan menyesatkan.” Berkata Hambal: Aku bertanya kepada ayahku tentang azab kubur, dia menjawab: “Hadits-hadits ini adalah shahih dan kami beriman kepadanya dan menetapkan kebenarannya. Dan semua apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sanad yang baik maka kami membenarkannya, sebab jika kami tidak menetapkan kebenaran apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka sama saja kami menolak dan membantah perintah Allah Ta’ala: “Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambil-lah.”

Saya berkata kepadanya: “Apakah azab kubur benar adanya?” Dia menjawab: “Benar, meansia disiksa di dalam kuburnya.” Dia berkata; Aku mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad) berkata: “Kami beriman kepada azab kubur, munkar dan nakir, dan sesungguhnya seorang hamba akan ditanya di kuburnya. Maksud ayat “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,” yaitu di dalam kubur. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 572. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya azab kubur adalah benar, dan ditanya-nya ruh setelah mati adalah benar, dan tak seorang pun dihidupkan setelah matinya hingga hari kiamat.” (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz. 1, Hal. 22. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Ibnu Hajar al Asqalani Rahimahullah berkata:

“Ibnu Hazm dan Ibnu Hubairah berpendapat bahwa pertanyaan dalam kubur hanya terjadi pada ruh saja, dia tidak kembali kepada jasadnya. Namun jumhur (mayoritas) ulama berbeda dengan mereka, jumhur mengatakan: “Ruh akan dikembalikan kepada jasad atau sebagiannya sebagaimana telah dikuatkan oleh hadits. Seandainya hanya ruh saja tanpa dikembalikan ke badan, maka hal itu harusnya mencegah terjadinya terbagi-baginya tubuh mayat, karena sesungguhnya Allah Maha Mampu untuk mengembalikan kehidupan kepada sebagian anggota jasad dan memberikan pertanyaan kepada mereka, sebagaimana Dia juga mampu mengumpulkan lagi bagian-bagian yang telah terpotong itu.” (Fathul Bari, Juz. 4, hal. 446, No hadits. 1282. Al Maktabah Asy Syamilah)

Apa yang dipaparkan oleh Imam Ibnu Hajar ini merupakan jawaban yang sangat telak bagi mereka yang mengatakan bahwa siksa kubur adalah majaz atau kiasan saja.
– See more at: Adanya Siksa Kubur adalah Pasti dan Bukan Majazi
Wallahu A’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Keramas Saat Haidh, Bagaimana Hukumnya???

🎀Ustadzah Menjawab🎀
💐Ustadzah Dra Indra Asih

📆Rabu, 24 Mei 2016 M
                18 Sya’ban 1437 H
🌿🍁🌺🍄🍀🌷🌻🌹

Assalamualaikum,afwan saya mau bertanya apakah benar kalau wanita yang sedang menstruasi itu tdk diperbolehkan untuk keramas?syukron mba. # A 39

Jawaban
—————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Tidak ada satupun dalil yang melarang wanita haid mandi keramas.

Demikian pula, tidak terdapat riwayat yang memerintahkan agar rambut wanita haid yang rontok untuk di cuci bersamaan dengan mandi selesai haid.

Bahkan sebaliknya, terdapat riwayat yang membolehkan wanita haid untuk menyisir rambutnya. Padahal, tidak mungkin ketika wanita yang menyisir rambutnya, tidak ada bagian rambut yang rontok.

Disebutkan dalam hadis dari A’isyah, bahwa ketika Aisyah mengikuti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesampainya di Mekkah beliau mengalami haid. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

…..دعي عمرتك وانقضي رأسك وامتشطي

“Tinggalkan umrahmu, lepas ikatan rambutmu dan ber-sisir-lah…”
(HR. Bukhari & Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan A’isyah yang sedang haid untuk menyisir rambutnya. Padahal beliau baru saja datang dari perjalanan. Sehingga kita bisa menyimpulkan dengan yakin, pasti akan ada rambut yang rontok.

Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh A’isyah untuk menyimpan rambutnya yang rontok untuk dimandikan setelah suci haid.
Wallahu a’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Dicium Kucing Saat Shalat, Batalkah ???

👳Ustadz Menjawab👳
✏Ustadz Yusrizal, ST

📆Rabu, 24 Mei 2016 M
                18 Sya’ban 1437 H
🌺🍀🌸🍃🌹☘🌾

Assalamualaikum
Afwan, ana mau tanya, klo lg shalat dicium sm kucing peliharaan batal ga shalat atau wudhunya?
Syukron
==========

Jawaban
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,

Tidak batal karena kucing tidak najis.

Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

“Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Mali)
Sebab Abu Qotadah menyebutkan hadits di atas:

Dalam riwayat Abu Daud diceritakan dari Kabsyah binti Ka’ab bin Malik (dia adalah istri dari anak Abu Qotadah, yaitu menantu Abu Qotadah).
Wanita ini mengatakan bahwa Abu Qotadah pernah masuk ke rumah, lalu dituangkanlah air wudhu  padanya. Kemudian tiba-tiba datanglah kucing. Bejana air wudhu lantas dimiringkan, lalu kucing itu minum dari bejana tersebut. Abu Qotadah pun melihat wanita tadi merasa heran padanya. Abu Qotadah mengatakan,
“Apakah engkau heran (dengan tingkahku), wahai anak saudaraku?”
Wanita tersebut lantas menjawab, “Iya.”
Setelah itu, Abu Qotadah menyebutkan hadits di atas.
Wallahu a’lam.

🌺🍀🌸🍃🌹☘🌾

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih pahala….

Urgensi Sirah Nabawiyah

📆Selasa, 17 Sya’ban 1437H/ 24 Mei 2016

📙Syirah

📝 Dr. WidoSupraha

📖Urgensi Sirah Nabawiyah
=========================
🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃
Dear Para Pemuda Islam,

1. Sirah Nabawiyah adalah sejarah hidup teladan utama kita semua, Nabi Muhammad Saw., manusia dengan sebaik-baik nasab dari seluruh nasab penghuni bumi namun bukanlah buku sejarah an sich. Ia merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa Rasulullah Saw kepada masyarakat manusia untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya

2. Muslim pasti membutuhkan Sirah Nabawiyah untuk mendapatkan pemahaman utuh dan gambaran sempurna hakikat Islam, cara menghidupkan-nya, dan segudang rahasia keindahan Islam sebagai sebuah manhaj hidup.

3. Darinya muslim akan menghayati kemudahan Islam untuk ditegakkan oleh seluruh manusia, karena Nabi Saw adalah seorang manusia yang tergabung dalam dirinya segudang peran, mulai dari seorang suami hingga pemimpin dunia. Bahkan tidak ada satupun Nabi yang diutus kepada seluruh umat manusia, kecuali Nabi Muhammad Saw.

4. Sirah Nabawiyah memberikan kemudahan bagi manusia untuk:
Memahami pribadi Nabi Saw dalam keseluruhan aspek kehidupannya
Mendapatkan gambaran al-matsul a’la (referensi ideal) untuk dijadikan sumber hukum
Mudah memahami Al-Qur’an
Mengumpulkan segudang wawasan dan pengetahuan Islam yang benar
Memiliki rujukan pola dakwah terbaik

5. Kebutuhan manusia terhadap jejak hidup Nabi Saw jauh lebih besar dari kebutuhan raga terhadap nyawanya, mata terhadap cahaya penglihatannya dan jiwa terhadap kehidupannya.

6. Sirah Nabawiyah memiliki banyak keistimewaan

7. Sejarah yang paling benar dari sejarah seorang Nabi yang diutus, dan telah hadir melalui jalur ilmiah dan otentik, sehingga terbebas dari sekedar mengikuti kepopuleran sebuah kisah dan riwayat, karena keshahihan sejarah tentu adalah yang lebih utama.

8. Mengandung semua fase kehidupan Nabi Saw., mulai dari sebelum kelahirannya, sejak pernikahan ayahnya, bahkan sejak kisah berpindahnya ‘Amr bin Amir keluar dari Negeri Yaman
Mengandung sisi risalah yang bersih, bebas dari penisbatan manusia dengan sifat Tuhan, dan bebas dari kisah tanpa asal-usul
Mencakup semua aspek kehidupan manusia
Menegaskan kebenaran risalah dan kenabiannya

Dengan semangat ilmiah, menyelami sirah Nabawiyah akan menjadi satu agenda menarik untuk kamu-kamu dalam peningkatan pemahaman agama Islam. Yuk semangat mempelajari Sirah Nabawiyah!
=================

Maraji’
1] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’d fi Hady Khair al-‘Ibad, Dar at-Taqwa lil an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1999
2] Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhal ash-Shalati wa as-Salam, Riyahd: Dar as-Salam, 1414H
3] Ibn al-Jauzi, Al-Wafa bi Ahwal al-Musthafa shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004
4] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiyah ‘Ilmiyah li Shiratil Musthafa ‘alahi ash-shalatu wa as-salam, Libanon: Dar al-Fikr, Cet. ke-6, 1977
5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Jami’ as-Sirah, Dar al-Wafa, 2002
6] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah an-Nabawiyyah, Kairo-Dar as-Salam, 1998
7] Al-Usyan, Ma sya’a wa lam Yatsbutu fi as-Sirah an-Nabawiyah,
8] Ibn Ishaq, As-Sirah an-Nabawiyah
=============================

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…….

Obat Galau

📆 Senin, 16 Sya’ban 1437H/ 23 Mei 2016

📙 Akhlak

📝 Kingkin Anida

🔮 Obat Galau
=====================
🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Hai sahabat fillah, gimana kabar kamu sekarang? Lagi galaukah? Hmm, galau boleh boleh aja sih. Itu normal. Yang ngga normal, bila galau dibiarin aja. Kamu bakal jadi anggota Komunitas Galau Internasional lho.

Hati galau adalah milik Allah. Hati ngga galau milik Allah juga sih… hati kita itu amanah Allah. Hati yang perlu senantiasa dijaga kekuatannya, kecerdasannya, kesehatannya untuk membangun pribadi bertakwa. Hati bertakwa itu imun dari kegalauan.

Hati yang sehat tidak galau, adalah hati yang terkategori dalam “Qolbun Syakirun” maknanya adalah hati yang selalu menerima apa adanya (qona’ah) dengan penuh rasa berterima kasih pada Allah.

Hati yang senang dengan pemberian Allah. Hati demikian yakin bahwa itulah rahmatNya yang terbaik bagi dirinya. Tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.
Allah berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS 13:28).

Sahabat fillah, rezki yang dibagikan kepada manusia olehNya itu bisa berupa :
1.    Harta berlimpah
2.    Jabatan atau kekuasaan
3.    Jodoh yang setia
4.    Rumah serta kendaraan yang bagus
5.    Umur yang panjang berkah
6.    Keluarga bahagia
7.    Persaudaraan yang kompak
8.    Persahabatan yang hangat
9.    Teman teman yang soleh solehah
10.    Kesehatan
11.    Kecerdasan
12.    Kekuatan
13.    Pengikut yang banyak
14.    Waktu yang bermanfaat
15.    Hati yang dipenuhi cinta padaNya

Mungkin daftar tersebut diatas, bisa dibuat lebih panjang lagi. Sesuai dengan kapasitas kemampuan kita menghitungnya. Hanya saja Allah telah memberikan isyarat bahwa kita tak akan sanggup menghitung nikmat-Nya.

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS 14 ayat 34)

لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya) ( QS 16 ayat 55).

Tentu kita menyadari bahwa tidak semua dari 15 point rezeki itu bisa didapatkan oleh seseorang. Para Nabi dan Rasul pun mendapat rezki yang berbeda-beda. Ada Nabi yang diberikan keistimewaan dengan harta berlimpah, jabatan tertinggi, istri-istri yang setia, kemampuan retorika dan kecerdasan luarbiasa. Namun ada Nabi yang lain yang diberikan anak kuat yang soleh, yang dipilih menjadi Nabi juga. Semuanya mendapat rezki yang tak sama. Rezki yang ada, yang apa adanya, yang ada ada saja.

Belum tentu rezki yang “apa adanya itu buruk baginya”. Bisa jadi rezki tersebut justru mendatangkan banyak manfaat. Seperti seorang artis yang pernah saya temui, sangat bersyukur bahwa beberapa bulan dia hanya makan singkong. Justru menurunkan berat badannya hingga 16 kg. Terlepas apakah itu direncanakan atau dia ada dalam ” rencana Allah”, hasilnya menggembirakan dan mendatangkan kabar gembira bagi mereka yang ingin diet. Jadi kamu sahabat fillah, kalau sedikit ngga ada uang jajan…santai aja yah! Itu salah satu jalan buat diet.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS 2 : 152)

Ingatan yang kuat kepada Allah dengan segala kemahabesaran-Nya, kemahakuasa-Nya, membuat seseorang layak untuk diingat Allah. Siapakah yang paling merasa tersanjung karna diingat oleh-Nya?

Masya Allah, maka dia pantas bersyukur untuk anugerah tersebut. Diingat ingat oleh Dzat Yang Maha Tinggi Maha Suci. Insya Allah tentu hamba tersebut akan ditempatkan secara baik di tempat terbaik. The right man on the right place.

Segala sakit hati atau kegalauan akan hilang manakala kita mampu melihat bahwa rezkinya itu adalah yang terbaik bagi dirinya. Apakah rezki berupa “sahabat yang menghilang”, atau “cinta yang ditolak” atau “diomelin ortu”.

Hey tapi tetep dong… setelah semua moment itu, kamu berusaha dengan segala upaya baik dan benar. Bukan cara cara yang malah bikin hati tambah galau.
Apabila sakit hati tersebut belum juga dapat terobati, maka pandanglah ayat ayat kekuasaanNya yang terangkai dalam Al Qur’an. Banyak kisah luarbiasa dari “paramuda hampir putus asa” dan para sahabatku yang mengobati hati mereka lewat membaca Al Qur’an . Mereka yakin bahwa Al Qur’an itu obat (syifa).

Hati mereka jadi tenang. Damai seperti pasir yang berbisik. Bisik bisik yang menenangkan…

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 3 : 29).

Allah lah yang memilih hati hati tertentu untuk disembuhkan. Dengan membaca ayat ayatnya, tentu Allah jadi cinta sama kamu. Dan Allah lah yang membuat hati kita sembuh dari kegalauan. Oke ya sahabat fillah, resepnya sederhana, bersyukur dan baca Al Qur’an, maka hati kita sembuh dari berbagai kegalauan.

Ila Liqo. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Aku Tau Diriku

📆Jum’at, 13 Sya’ban 1437H/ 20 Mei 2016

📕Pengembangan diri dan Motivasi

📝Tim Psikologi Manis 4 Teen

📖Aku Tau Diriku
===========================
🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃

Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh
Gimana kabar member group manis 4 teen???

semoga semuanya selalu dalam limpahan Rahmat Allah S.W.T. aamiin

Tahu gak sih…kalau manusia itu akan mengalami perkembangan di setiap rentang usia lhoo…ketika kita lahir kita masuk dalam tahap perkembangan masa bayi kemudian tubuh kita berkembang terus sampai ke masa kanak-kanak. Setelah masa kanak-kanak masuklah ke masa puber,apa itu puber?

Menurut Hurlock,seorang pakar perkembangan psikologi,puber adalah suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapainya kemampuan reproduksi. Setiap manusia pasti mengalami masa ini hanya rentang usia berbeda-beda. Umumnya anak perempuan sekitar usia 11-15 tahun dan anak laki2 sekitar usia 12-16 tahun.
Kamu sudah masuk usia ini belum yaaa??atau sudah mengalaminya??
Karena masa puber ini pendekk binggittt….bisa jadi tiap dari kita masuk masa pubernya berbeda-beda. Ketika kamu mengalami haid maka disitulah masuk masa puber. Kemudian di ikuti perubahan-perubahan lainnya pada anggota tubuh,seperti. Proporsi tubuh berubah,pinggul melebar,buah dada mulai mengembang,kulit menjadi lebih berminyak,emosi mulai berubah,Tiba2 merasa marah,khawatir,gelisah bahkan sedih.

Kamu Pernah merasakan?

Islam menaruh  perhatian yang penting lhoo di masa puber ini. Islam menamakan masa ini adalah masa balig. Dimana sudah harus bertanggung jawab pada diri masing-masing atas setiap niat&perbuatan yang dilakukannya. Jika sudah bertanggung jawab dengan diri sendiri berarti segala apa2 yang dilakukan kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah. Pahami ayat berikut ini

اَلْيَوْمَ  نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَاۤ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا  يَكْسِبُوْنَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

[QS. Ya Sin: Ayat 65]

Ternyata mulut yang biasa digunakan untuk membela diri ditutup rapat oleh Allah! Yang berbicara adalah anggota tubuh lainnya. Soo…..perlu berhati-hati dalam bertindak..

Trus setelah masa puber masuk masa apa??

Yupp…setelah masa puber masuklah masa remaja atau sering disebut masa muda. Kayak lagu bang Rhoma yaa : darah muda darahnya para remaja….eitss!! Jangan joget sambil pegang hape lhoo…cukup di ingat saja lagunya. Masa remaja adalah masa dimana mulai berintegrasi dengan masyarakat dewasa,dimana pada usia ini muncul keinginan untuk menjadi sosok dewasa. Masa ini dianggap menjadi masa yang paling efektif untuk berkarya karena tubuhnya kuat dan semangat muda bergejolak tinggi. Usia remaja kisaran 15-17 tahun..

ada yang berusia 17 tahun di sini?? Sepertinya ada tuh….

Apa yang seharusnya dilakukan remaja seusia kalian?
1Bertaqwa kepada Allah
2Berbakti pada Orang tua
3Pilih teman yang mengajak kebaikan…apalagi teman yang mengajak selalu dekat dg Al-Qur’an. Keren tuhh…..
4Menjaga kemaluan
5Menahan pandangan dari hal-hal yang tidak bermanfaat

Baiklah….Sekian dulu materi hari ini ketemu lagi jumat depan,insyallah.
============================

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…..

Ibadah Dalam Islam

📆Kamis, 12 Sya’ban 1437H / 19 Mei 2016

📔Fiqh Ibadah

📝Suci Susanti S.SoS.I

💎Ibadah Dalam Islam💎
=====================
💦🌸💦🌸💦🌸💦🌸💦🌸💦

Banyak orang yang menyempitkan ibadah dalam Islam hanya shalat, zikir, puasa dan membayar zakat. Padahal tidak seperti itu. Islam itu luas, mengatur semua sisi kehidupan hingga hal yang terkecil.

Islam amat istimewa hingga menjadikan seluruh kegiatan manusia sebagai ibadah, apabila diniatkan dengan penuh ikhlas karena Allah demi mencapai keridhaan-Nya, serta dikerjakan menurut cara-cara yang disyariatkan oleh-Nya.

 Islam tidak membataskan ruang lingkup ibadah kepada sudut-sudut tertentu saja. Namun seluruh kehidupan manusia adalah medan amal dan bekal bagi para mukmin sebelum mereka kembali bertemu Allah di hari akhir nanti.

✏Pengertian Ibadah
Menurut bahasa ; عبد- يعبد -عبادة  . ibadah berasal dari bahasa Arab, yang artinya : melayani, patuh, tunduk.
Menurut istilah, ibadah artinya ; mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai allah azza wa jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. (Amin Syukur, 2003)

Abul A’la Al-Maududi, menyatakan bahwa makna asal ibadah adalah ketundukan secara total, kepatuhan secara sempurna, dan ketaatan mutlak. Kemudian, kadang makna ini ditambah dengan unsur perasaan baru yang padanya tergambar penghambaan hati, setelah penghambaan kepala atau leher. Dan indikasi unsur ini adalah penghambaan, peribadahan, dan melaksanakan syiar-syiar (Qaradhawi, 2005)

Ibadah ada dua macam :
1.       Ibadah mahdhah atau ibadah khusus ialah ibadah yang telah ditetapkan Allah akan tingkat, tata cara dan perincian-perinciannya. Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah ;Wudhu, tayammum, mandi hadats, shalat, puasa, haji dan umrah.

2.       Ibadah ghairu mahdhah ; segala amalan yang diizinkan oleh Allah dan membutuhkan keterlibatan orang lain. Misalnya ; belajar, dzikir, dakwah, tolong menolong dan lain sebagainya

Dalam pelaksanaannya,  ibadah harus memenuhi beberapa syarat yaitu ;
a.Tidak menyekutukan Allah

وَاعْبُدُواْ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun….”
(QS An-Nisa : 36)

b.Pasrah kepada Allah

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS Al-An’am 162-163)

c.Ikhlas

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS: Al-Bayyinah Ayat: 5)

d.      Yakin pada Allah swt

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Tuhan bagi semua langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; maka sembahlah Dia nya dan berteguh hatilah di dalam beribadat kepadaNya. Apakah engkau mengetahui bahwa bagiNya ada yang menyamai?”
(QS Maryam : 65)

———————
Maroji :

Prof. Amin Syukur MA, Pengantar Studi Islam ,2003)
Yusuf Qardhawi, Ibadah dalam Islam, 2005
======================

Dipersembahkan :
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala… 

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 4)

📆 Senin,  16 Sya’ban 1437 H / 23 Mei 2016 M

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋  *Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 4)*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Safar yang Bagaimana yang dapat keringan tidak puasa dan diganti di hari lain?*

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang safar boleh tidak puasa, baik ia tidak berpuasa sebelum berangkat atau ketika berangkat. Hal ini ditegaskan oleh beberapa hadits berikut:

Dari Hamzah bin Amru Al Aslami Radhiallahu Anhu, katanya:

يا رسول الله: أجد بي قوة على الصيام في السفر. فهل علي جناح ؟، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “هي رخصة من الله فمن أخذ بها فحسن. ومن أحب أن يصوم فلا جناح عليه”.

📌 “Wahai Rasulullah, saya punya kekuatan untuk berpuasa dalam safar, apakah salah saya melakukannya? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab: Itu adalah rukhshah dari Allah, barang siapa yang mau mengambilnya (yakni tidak puasa) maka itu baik, dan barang siapa yang mau berpuasa maka tidak ada salahnya. (HR. Muslim No. 1121. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, no.  7947. Ibnu Khuzaimah No. 2026)

 Hadits di atas adalah bagi yang merasa kuat dan sanggup, ada pun bagi yang kepayahan puasa dalam perjalanan maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih menganjurkan berbuka saja.

 Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

 أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج إلى مكة عام الفتح في رمضان فصام حتى بلغ كراع الغميم فصام الناس معه فقيل له يا رسول الله إن الناس قد شق عليهم الصيام فدعا بقدح من ماء بعد العصر فشرب والناس ينظرون فأفطر بعض الناس وصام بعض فبلغه أن ناسا صاموا فقال أولئك العصاة

📌 “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar pada tahun Fath (penaklukan) menuju Mekkah pada saat Ramadhan. Dia berpuasa hingga sampai pinggiran daerah Ghanim. Manusia juga berpuasa bersamanya. Dikatakan kepadanya: Wahai Rasulullah, nampaknya manusia kepayahan berpuasa. Kemudian Beliau meminta segelas air  setelah asar,  lalu beliau minum, dan manusia melihatnya. Maka sebagian manusia berbuka, dan sebagian lain tetap berpuasa. Lalu, disampaikan kepadanya  bahwa ada orang   yang masih puasa.   Maka Beliau bersabda: Mereka  durhaka.  (HR. Muslim No. 1114.  Ibnu Hibban No. 2706, An Nasai No. 2263. At Tirmidzi No. 710.  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No.7935)

 Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengkritik orang yang berpuasa dalam keadaan safar dan dia kesusahan karenanya.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفره. فرأى رجلا قد اجتمع الناس عليه. وقد ضلل عليه. فقال: “ماله ؟” قالوا: رجل صائم. فقال رسول الله عليه وسلم: “ليس من البر أن تصوموا في السفر”.

📌 “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tengah dalam perjalanannya. Dia melihat seseorang yang dikerubungi oleh manusia. Dia nampak kehausan dan kepanasan. Rasulullah bertanya: “Kenapa dia?” Meeka menjawab: “Seseorang yang puasa. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Tidak ada kebaikan kalian berpuasa dalam keadaan safar. (HR. Muslim No. 1115)

 Jika diperhatikan berbagai dalil ini, maka dianjurkan tidak berpuasa ketika dalam safar, apalagi perjalanan diperkirakan melelahkan. Oleh karena itu, para imam hadits mengumpulkan hadits-hadits ini dalam bab tentang anjuran berbuka ketika safar atau dimakruhkannya puasa ketika safar. Contoh: Imam At Tirmidzi membuat Bab Maa Jaa fi Karahiyati Ash Shaum fi As Safar (Hadits Tentang makruhnya puasa dalam perjalanan), bahkan Imam Ibnu Khuzaimah menuliskan dalam Shahihnya:

 باب ذكر خبر روي عن النبي صلى الله عليه وسلم في تسمية الصوم في السفر عصاة من غير ذكر العلة التي أسماهم بهذا الاسم توهم بعض العلماء أن الصوم في السفر غير جائز لهذا الخبر

📌 “Bab tentang khabar dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang penamaan berpuasa saat safar adalah *DURHAKA* tanpa menyebut alasan penamaan mereka dengan nama ini. Sebagian ulama menyangka bahwa berpuasa ketika safar adalah *TIDAK BOLEH* karena hadits ini.”

 Tetapi, jika orang tersebut kuat dan mampu berpuasa, maka boleh saja dia berpuasa sebab berbagai riwayat menyebutkan hal itu, seperti riwayat Hamzah  bin Amru Al Aslami Radhiallahu Anhu d atas.

 Ini juga dikuatkan oleh riwayat lainnya, dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma, katanya:

لا تعب على من صام ولا من أفطر. قد صام رسول الله صلى الله عليه وسلم، في السفر، وأفطر.

📌 “Tidak ada kesulitan bagi orang yang berpuasa, dan tidak ada kesulitan bagi yang berbuka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berpuasa dalam safar dan juga berbuka.” (HR. Muslim No. 1113)

 Dari Ibnu Abbas juga:

سافر رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان. فصام حتى بلغ عسفان. ثم دعا بإنء فيه شراب. فشربه نهارا. ليراه الناس. ثم أفطر. حتى دخل مكة .
قال ابن عباس رضي الله عنهما: فصام رسول الله صلى الله عليه وسلم وأفطر. فمن شاء صام، ومن شاء أفطر.
📌 “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengadakan perjalanan pada Ramadhan, dia berpuasa singga sampai ‘Asfan. Kemudian dia meminta sewadah air dan meminumnya siang-siang. Manusia melihatnya, lalu dia berbuka hingga masuk Mekkah. Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata: Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa dan berbuka. Barang siapa yang mau maka dia puasa, dan bagi yang mau buka maka dia berbuka. (Ibid)

Dengan mentawfiq (memadukan) berbagai riwayat yang ada ini, bisa disimpulkan bahwa anjuran dasar  bagi orang yang safar adalah berbuka. Namun, bagi yang kuat dan sanggup untuk berpuasa maka boleh saja berbuka atau tidak berpuasa sejak awalnya. Namun bagi yang sulit dan lelah, maka lebih baik dia berbuka saja. Wallahu A’lam

📚 *Dalam konteks ‘boleh buka dan boleh puasa’ bagi yang sanggup, lalu manakah yang lebih utama?*

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah meringkas sebagai berikut:

  فرأى أبو حنيفة، والشافعي، ومالك: أن الصيام أفضل، لمن قوي عليه، والفطر أفضل لمن لا يقوى على الصيام.
وقال أحمد: الفطر أفضل.
وقال عمر بن عبد العزيز: أفضلهما أيسرهما، فمن يسهل عليه حينئذ، ويشق عليه قضاؤه بعد ذلك، فالصوم في حقه أفضل.
وحقق الشوكاني، فرأى أن من كان يشق عليه الصوم، ويضره، وكذلك من كان معرضا عن قبول الرخصة، فالفطر أفضل وكذلك من خاف على نفسه العجب أو الرياء – إذا صام في السفر – فالفطر في حقه أفضل.
وما كان من الصيام خاليا عن هذه الامور، فهو أفضل من الافطار.

📌 “Menurut Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, puasa adalah lebih utama bagi yang kuat menjalankannya, dan berbuka lebih utama bagi yang tidak kuat. Ahmad mengatakan: berbuka lebih utama. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz berkata: Yang paling utama dari keduanya adalah yang paling mudah. Barangsiapa yang lebih mudah puasa saat itu, dan mengqadha setelahnya justru berat, maka berpuasa baginya adalah lebih utama.”

 Asy Syaukani melakukan penelitian, dia berpendapat bahwa bagi yang berat berpuasa dan membahayakannya, dan juga orang yang tidak mau menerima  rukhshah, maka berbuka lebih utama. Demikian juga bagi orang yang khawatir pada dirinya ada ujub dan riya jika puasa dalam perjalanan- maka berbuka lebih utama. Ada pun jika puasanya sama sekali bersih dari perkara ini semua, maka puasa lebih utama. (Fiqhus Sunnah, 1/443. Nailul Authar, 4/225)

📚  *Bolehkah Berbuka Sebelum Berangkat?*

 Jika seseorang sedang puasa Ramadhan, lalu di waktu tengah berpuasa, dia hendak melakukan safar, bolehkah dia berbuka sebelum berangkat safarnya ?

 Dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أتيت في رمضان أنس بن مالك، وهو يريد سفرا، وقد رحلت له راحلته، ولبس ثياب السفر، فدعا بطعام فأكل فقلت له: سنة؟ فقال: سنة، ثم ركب

📌 “Saya menemui Anas bin Malik, dan dia hendak safar, dan sudah bersiap-siap dengan kendaraannya, serta sudah mengenakan pakaian safar. Lalu dia minta disediakan makanan, lalu dia makan. Maka saya bertanya kepadanya: apakah ini sunah? Dia menjawab: Ini sunah. Kemudian dia berangkat dengan kendaraannya. (HR. At Tirmidzi No. 799, katanya: hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 799)

 Ja’far berkata, Dari  ‘Ubaid bin Jubeir Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كنت مع أبي بصرة الغفاريِّ صاحب رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم في سفينة من الفسطاط في رمضان فرفع، ثم قرِّب غداؤه، قال جعفر في حديثه: فلم يجاوز البيوت حتى دعا بالسُّفرَة قال: اقترب قلت: ألست ترى البيوت؟ قال أبو بصرة: أترغب عن سنة رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم؟ قال جعفرٌ في حديثه: فأكل.

📌 “Aku bersama Abu Bashrah Al Ghifari, seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah perahu dari daerah Fusthath (Mesir) pada saat Ramadhan. Tiba-tiba dia menawarkan dan menyajikan sarapannya.” Ja’far berkata dalam haditsnya: belumlah meninggalkan rumah-rumah dan dia mengajak ke meja makan. Dia (Abu Bashrah) berkata: Mendekatlah. Aku berkata: Bukankah engkau masih  melihat rumah-rumah? Berkata Abu Bashrah: Apakah engkau tidak suka sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam? Jafar berkata dalam haditsnya: maka dia memakannya. (HR. Abu Daud No. 2412. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 2412)

 Dua riwayat ini sangat jelas menerangkan bahwa berbuka sebelum safar adalah boleh, bahkan para sahabat menyebutnya sunah nabi.

 Imam Asy Syaukani memberikan penjelasan sebagai berikut:

“والحديثان” يدلان على أنه يجوز للمسافر أن يفطر قبل خروجه من الموضع الذي أراد السفر منه. قال ابن العربي في العارضة: هذا صحيح

📌 “Dua hadits ini menunjukkan bahwa boleh bagi musafir untuk berbuka sebelum dia keluar dari tempat kediamannya. Ibnul ‘Arabi mengatakan dalam Al ‘Aridhah: Inilah yang benar. (Nailul Authar, 4/229. Maktabah Ad Dawah Al Islamiyah)

 Lalu, Ibnul Arabi berkata lagi:

وأما حديث أنس فصحيح يقتضي جواز الفطر مع أهبة السفر

📌 “Ada pun hadits Anas adalah shahih, dan menetapkan bolehnya berbuka puasa ketika sedang persiapan safar.” (Ibid)

📚  *Berapakah Jarak Safar Yang Membolehkan Untuk Berbuka?*

 Tidak ada keterangan khusus tentang hal ini. Kasus ini sama halnya dengan jarak dibolehkannya Qashar, juga tidak ada  keterangan khusus. Sedangkan Imam Ibnul Mundzir menyebutkan ada 20 pendapat lebih tentang jarak untuk dibolehkannya qashar. Oleh karena itu, jarak yang sudah dibolehkan bagi seseorang untuk berbuka adalah sebagaimana dibolehkannya untuk qashar. Inilah pendapat para ulama muhaqqiq (peneliti).

 Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

والسفر المبيح للفطر، هو السفر الذي تقصر الصلاة بسببه، ومدة الاقامة التي يجوز للمسافر أن يفطر فيها، هي المدة التي يجوز له أن يقصر الصلاة فيها. وتقدم جميع ذلك في مبحث قصر الصلاة ومذاهب العلماء وتحقيق ابن القيم.

📌 “Safar yang membolehkan berbuka adalah safar yang membuatnya boleh pula qashar shalat. Begitu pula rentang waktu waktu yang membolehkan untuk berbuka bagi seorang musafir, yaitu selama jangka waktu dibolehkan pula mengqashar. Semua pembahasan ini telah kami bahas sebelumnya dalam pembahasan qashar shalat, pandangan para ulama, dan tahqiq dari Ibnul Qayyim. (Fiqhus Sunnah, 1/444)

🔸Bersambung 🔸

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

KARAKTERISTIK SUAMI DAN ISTRI YANG SHALEH Bag-2

📆 Sabtu, 14 Sya’ban 1437H / 21 Mei 2016

📚 *Tema KELUARGA & TARBIYATUL AULAD*

📝 Pemateri: *Ustzh. DR. Hj. Aan Rohanah, Lc , M.Ag*

📝 *KARAKTERISTIK SUAMI DAN ISTRI YANG SHALEH* Bag-2

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Bag. 1 👇
http://www.iman-islam.com/2016/05/karakteristik-suami-dan-istri-yang.html?m=1

*Karakteristik suami shaleh dan istri shalihah*

Menurut Sayyid Quthub dalam buku tafsirnya ” Fii Dzilaalil Quran” bahwa Islam dan iman itu mempunyai hubungan yang erat, salah satu sisi dari keduanya merupakan sisi bagi yang lain. Sebab makna Islam adalah tunduk dan patuh , sedangkan makna iman adalah pembenaran dengan keyakinan. Sedangkan Islam  adalah tuntutan iman, dan iman yang benar harus tumbuh dari Islam.

Karakteristik yang ke 3 adalah *tunduk dan patuh*. Maksudnya adalah ketaatan yang tumbuh dari Islam dan iman. Tunduk yang didasarkan dari keridhaan  bukan paksaan . Muhammad bin Ali Asysyaukani  dalam buku tafsirnya ” Fathul Qadiir” menjelaskan bahwa yang dimaksud tunduk disini adalah selalu beribadah dan taat kepada Allah.

Karakter yang ke 4 adalah *benar ( jujur )* yaitu orang yang selalu menjaga kejujurannya dan tidak mau berdusta.
Rumah tangga yang menjaga kejujurannya dapat menjaga kehormatan dan saling percaya antara suami dan istri.

Karakteristik yang ke 5 adalah *sabar* , yaitu sabar dalam taat melakukan perintah   Allah, sabar dalam menjauhi larangan Allah, dan sabar menghadapi musibah. Maka dengan sabar ini keluarga yang dibangun bisa menjadi keluarga yang Islami yang istiqomah dan bahagia dalam kondisi apapun.

Karakteristik yang ke 6 adalah *khusyuk*. Khusyuk merupakan sifat hati dan anggota tubuh yang sedang terpengaruh oleh kebesaran dan keagungan Allah SWT sehingga bertambah ketakwaan dan amal shalehnya.

Karakteristik yang ke 7 yaitu *bersedekah*. Tidak bersifat bakhil dengan karunia rizki yang diberikan Allah kepadanya.
Bersedekah menunjukkan kesucian jiwa dan cinta kasih kepada sesama manusia.
Bersedekah sebagai tanda setia terhadap hak harta dan bersyukur kepada Allah atas nikmat rizki dari Nya.

Karakteristik yang ke 8 adalah *shaum/berpuasa*.
Berpuasa untuk bisa melatih diri dalam mengendalikan kehendak diri untuk bisa istiqomah di jalan yang diridhai Allah.

Karakteristik yang ke 9 adalah *menjaga kehormatan*. Menjaga kehormatan sebagai tanda setia kepada Islam dan setia kepada pasangan serta setia kepada anak cucu, keturunan dan keluarga besar. Kehormatan yang terjaga tidak akan menodai dan mencederai jiwa mereka semua.

Karakteristik yang ke 10 adalah *banyak berzikir kepada Allah* . Banyak berzikir menunjukkan kuatnya hubungan dengan Allah SWT, agar seluruh prilaku zhahir dan bathin selalu berlimpah cahaya Ilahi rabbi sehingga tidak berada di jalan yang dimurkai.

10 karakteristik keshalehan  yang harus dimiliki suami istri yang disebut dalam surat al-ahzaab ini memudahkan mereka dalam membangun keluarga Islami yang sakinah mawaddah wa rohmah. Mereka akan bahagia selalu sampai nanti di surga Nya, amin.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…