Ia Datang Menguji Cinta

Oleh: Umar Hidayat M Ag

Ujian bisa datang dari mana saja.

❣Kefakiran mendatangkan ujian. Ujian untuk bertahan hidup. Perjuangan dan pengorbanan yang tiada tara.

Berlelah payah jungkir balik, banting tulang untuk sekedar bisa makan menyambung hidup.

Bagi yang kaya tak akan mengalaminya.

❣Begitupun mereka yang telah mapan. Ternyata kemapanan juga ujian.

Godaan makin membentuk formasi yang canggih.
Soft.
Silent.
Tapi mampu meluluhlantakkan seluruh persendian hidup, hingga korbannya tak berdaya.

Bagi yang miskin tak akan mengalaminya.

🌵Banyak keluarga yang bubar, bercerai gegara kemiskinan yang melanda.
Pun tak sedikit keluarga yang telah mapan ikut bubar juga bersebab kemapanan itu.

Maka bekal apa yang harus kita genggam agar melalui ujian kefakiran dan kemapanan tak membuat kita bubar jalan?

*🌹Iman dan sandarkan cinta pada Allah.🌹*
Dengan cara ini kita semakin memiliki imunitas (kemampuan bertahan) dan mengelola segala ujian yang datang. Karena ujian sesungguhnya menguji cinta kita kepada Allah.

Dengan ini seberapa pun ujian yang datang justru makin membesarkan cinta kita pada Allah.

Renungkanlah..

Marah, Kecewa Dan Persahabatan Kita

As’adallahu shobaahakum_

Semoga Allah bahagiakan Anda di pagi ini.

Jangan tersandera oleh kekecewaan. Jadikan dia motivasi lakukan perbaikan…

Kekecewaan ibarat tikungan tajam bagi seorang pembalap. Di sana dia dapat terjungkal, atau justru menyalip lawan.
Tergantung penyikapan…

Kekecewaan akan selalu menyapa. Sebagai isyarat, walau kita harus ikhtiar sekuat tenaga, tapi jangan menuntut segalanya harus sempurna…

Kecewa sering lahir dari espektasi dan pemujaan berlebihan.
Selalulah bersikap wajar,
tapi jangan liberal.

Kecewa tak mungkin kita hindari. Tapi kita dapat hindari sikap dan ucapan tak terkendali.

Saat kita kecewa, banyak juga orang lain yang kecewa. Hanya saja, ada yang menatanya dengan tenang, ada yang melampiaskannya dengan berang.

Yang menyedihkan adalah kekecewaan berlebihan untuk hal-hal yang dia tidak tahu persis latar belakang masalahnya dan tidak terlibat langsung di dalamnya.

Sebagaimana kecewa, kemarahanpun sering menerpa. Jika memang harus terjadi, jangan mudah melampiaskannya.

Ingat pesan nabi,

*مَنْ كَظَمَ غَيظاً، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ سُبحَانَهُ وَتَعَالى عَلَى رُؤُوسِ الخَلائِقِ يَومَ القِيامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الحُورِ العِينِ مَا شَاءَ*

_“Siapa yang menahan amarah padahal dia mampu melampiaskannya, Allah akan panggil dia di hadapan makhluk-makhluknya yang mulia di hari kiamat, lalu dipersilahkan untuknya memilih bidadari yang dia suka.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi)_

Jika ada saudara kita yang sedang marah dengan saudaranya, jangan ikut-ikutan marah. Jika mampu medamaikannya, bagus. Jika tidak, cukup doakan atau diam.

Sahabat akrab dari sahabat kita, layak kita akrabi. Sahabat yang sedang tidak akrab dengan sahabat kita, tidak mesti harus kita musuhi.

Jika begitu saja kita ikut memusuhi orang yang dimusuhi sahabat kita, boleh jadi di lain waktu mereka berbaikan sedangkan kita masih bermusuhan.

Jika Allah selamatkan kita dari sengketa yang terjadi di antara saudara-saudara kita, mestinya kita selamatkan sikap dan lidah kita dari sengketa tersebut.

Semoga hati kita selalu disatukan dalam cinta karena Allah, marah dan kecewa segera sirna berganti cinta, canda dan tawa…

Aamin.

Oleh: Abdullah Haidir, Lc

Belajarlah dari Kegagalan

_Dengan keburukanlah kita akan tahu tentang kebaikan._
_Dengan kesesatanlah kita melihat nilai kebenaran._
_Dengan sakitlah kita bisa mengerti tentang kesehatan._

_Dengan ujian kita akan bisa merasakan kenikmatan._
_Dengan keruntuhanlah kita bisa membangun sebuah kejayaan._

_Dengan kegagalan kita bisa belajar meraih kesuksesan._

_Dan lembahlah yang menjadikan gunung nampak tinggi menjulang_

Banyak orang mundur teratur bila harus bertemu dengan kegagalan.

Mungkin akan berteriak, “Apa sebenarnya potensiku? Melakukan ini gagal, melakukan itu gagal.”

Kalimat ini mungkin akan terlontar dari siapa pun yang nyaris putus asa dalam menjalani hidupnya.
Setelah energi mereka telah habis. Seolah mereka tak percaya dengan jalan hidup yang telah ditakdirkan.

Kadang mereka enggan untuk mengembalikan semua urusan kepada yang memiliki kehidupan.

*Janganlah berputus asa!*

_Selama nafas masih ada kesempatan masih bisa diraih. Selama darah masih mengalir dalam raga kita dan tubuh ini masih mampu untuk bergerak, kesuksesan masih bisa kita dapatkan._

Memang, terkadang untuk mengerti dan memahami diri kita butuh waktu.
Apa sebenarnya potensiku? Apa pekerjaan yang bisa mengantarkan pada keberhasilanku?

Bila tak bertemu kegagalan tak tak kan pernah tahu jalan-jalan menuju kesuksesan.

      ☆☆☆☆☆

Kisah ini bagi kita tak asing.

Seorang anak yatim piatu yang sekolah di sebuah madrasah. Dia sebenarnya anak yang rajin tapi sering tertinggal pelajaran dengan teman-temannya.

Dia merasa malu dan minder dengan teman-temannya. Rasa putus asa menyelimuti dirinya.

Kemudian dia meminta ijin dengan gurunya untuk keluar dari madrasah tersebut.
Dalam perjalanannya meninggalkan madrasahnya, hujan tak kunjung reda. Dia mencari tempat berteduh.

Ditemukanlah sebuah gua yang cukup lapang untuk tempat istirahat sambil menunggu hujan reda.

Ketika di dalam gua pandangannya tertuju pada tetesan air hujan pada sebngkah batu. Tetesan demi tetesan itu ternyata mampu membuat batu itu berlubang.

Kemudian dia merenung. Batu yang keras saja bisa berlubang apalagi otak manusia. Setelah perenungannya dan semangat belajarnya pulih kembali dia akhirnya kembali ke madrasah itu.

Sekembalinya ke madrasah itu dia bersemangat belajar meski sering tertinggal. Namun semangat pantang menyerah dan tak putus asa menjadikan dia seorang anak yang cerdas.
Bahkan karya-karyanya yang cukup monumental bisa kita jadikan bacaan untuk menambah wawasan kita.

Inilah *Ibnu Hajar Asqalany.* Yang kisahnya memotivasi kita bahwa dalam setiap diri pasti memiliki potensi.

Jangan merasa lelah dan pantang menyerah.

Begitu pula laki-laki penemu hukum kekekalan energi ini memiliki kisah yang cukup unik.
Siapa yang tak kenal *Einstein*. Pastilah kita semua mengenalnya.

Dia enggan sekolah sejak kecil. Baginya bangku sekolah itu membosankan. Banyak hal yang akan mengganggu kesukaannya seperti banyak membaca dan bermain biola. Aturan yang sangat kaku di sekolah membuatnya selah bangku sekolah itu seperti penjara yang mengusik kebebasannya.

Sehingga label yang sejak kecil menempel pada Albert Einstein adalah “tidak terlalu pintar.” Meski demikian tak membuat dia merubah dari kebiasaannya.

Ketika masa remajanya pun secara akademis termasuk anak yang gagal. Dia tidak menyukai guru-gurunya kala itu. Ketika harus mengenyam pendidikan lebih tinggi, Einstein pernah mengalami kegagalan. Namun kegagalan tak membuatnya surut.

Dia tetap berusaha. Hingga dia sekolah di jenjang yang lebih tinggi. Waktu itu prestasinya mulai nampak. Dia pun lulus dengan gemilang.

Sayangnya cita-cita sebagai guru kandas. Dia bekerja di tempat pencatat penemuan-penemuan baru. Dia tidak kecewa justru dengan hal-hal yang baru membuat dia berpikir, mengkaji, serta menemukan sesuatu yang baru. Hasil kajiannya itulah dia menemukan rumus Relativitas Khusus.

Luar biasa. Banyak tokoh yang kita kenal, mereka tak melalui perjalanan hidupnya dengan mulus saja dan tanpa rintangan apa pun.

Mereka pernah gagal. Tak hanya satu kegagalan yang mereka lalui. Namun dengan kegagalan itu ia mampu menemukan kesuksesan. Dengan kegagalan itu ia mampu menemukan potensi dirinya untuk mampu lebih berkembang.

_*Kegagalan merupakan pengalaman yang paling berharga untuk sebuah keberhasilan.*_

Oleh: Rochma Yulika

Salah Satu Cara Mendapatkan Pahala Jihad

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

   من دخل مسجدنا هذا ليتعلم خيرا أو يعلمه كان كالمجاهد فى سبيل الله
 ومن دخله لغير ذلك كان كالناظر إلى ما ليس له

Barang siapa yang masuk ke dalam masjid kami ini, tujuannya mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dia seperti mujahid fisabilillah. Barang siapa memasukinya bukan untuk itu, maka dia seperti orang yang melihat sesuatu yang bujan kepunyaannya.

(HR. Ahmad No. 8587, Ibnu Hibban No. 78. Hadits ini hasan menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiq Beliau terhadap Shahih Ibni Hibban)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan:

فمن جاء إلى المسجد من أجل أن يصلي فيه، أو من أجل أن يشهد الجماعة التي هي واجبة، أو من أجل أن يُحصّل الأجر في المسجد بالذكر وقراءة القرآن، فهو حظه وله ما أراد، ومن لم يدخل المسجد لهذا العمل العظيم، وإنما دخله لأمر من الأمور التي لا علاقة لها بالدين والطاعة فهو حظه، وله ما أراد من العمل بلا أجر  

Barang siapa yang mendatangi masjid ingin shalat di dalamnya, atau ingin shalat berjamaah dan itu merupakan kewajiban, atau karena ingin mendapatkan pahala di masjid dengan berdzikir, membaca Al Quran, maka dia mendapatkan bagian sesuai yang diinginkan, barang siapa yang masuk ke masjid bukan untuk amal-amal agung ini, dia ke masjid tidak ada kaitan urusan agama dan ketaatan, maka dia akan mendapatkan sesuai apa yang diinginkan itu tapi tanpa pahala.

(Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, No. 066. Maktabah Al Misykah)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

Kalau…….Minimal….

Kalau engkau belum jadi ulama, jadilah penuntut ilmu.
Kalapun tidak, jadilah orang yang mencintai ulama atau penuntut ilmu.
Kalaupun tidak, *minimal jangan membenci mereka.*

Kalaupun benih kebaikanmu tidak kau ketahui dimana dia akan tumbuh, biarkan saja.
Nanti kan datang hujan yang akan memberitahu….

Kalaupun prestasimu belum jadi pusat perhatian, setidaknya kau tidak dikenal sebagai sumber keburukan…..

Kalaupun belum ada buku yang kau susun, setidaknya kau sudah memiliki judul-judul positif sebagai penuntun……

Kalau belum dapat mengarang puisi cinta, setidaknya engkau tidak mengumbar kata-kata tercela….

Kalau tak dapat menjadi pohon yang berbuah,
Jadilah pohon rindang, tempat semua orang merasakan tempat yang nyaman…

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Mari Belajar Cerdas……

Cerdas adalah selalu berusaha menjadi pelopor, bukan pengekor….

Cerdas itu pandai memilah bukan suka menggeneralisir masalah.

Cerdas adalah teliti mengamati, bukan terbawa arus opini….

Cerdas adalah engkau melakukan kebaikan yang telah engkau ketahui…

Cerdas itu adalah apabila kesalahan tak menghalanginya tuk terus bekerja sambil memperbaiki diri, bukan alasan untuk undur diri dan mencaci maki…

Cerdas tidak lemah berjuang karena survey lemah, justeru dia harus lemahkan hasil survey dengan perjuangan keras…

Cerdas standar:
Memilih yang baik dari yg buruk.

Cerdas super: Memilih yang terbaik di antara yang baik atau memilih yang lebih ringan keburukanya di antara yang buruk

Cerdas itu, kalau tidak dapat seluruhnya, minimal dapat sebagiannya….
bukan berprinsip, kalau tidak dapat sebagiannya, tinggalkan saja seluruhnya….

Cerdas adalah memilih kata yang tepat di moment yang tepat, bukan selalu mengulang-ulang kata yang sama walau moment berbeda.

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Bekal Apa yang Kita Bawa Untuk Masuk Surga?

Sudahkah kita mulai menakar diri, seberapa bekal yang sudah kita bawa untuk perjumpaan nanti.
Bersegera kita menyadari bahwa hidup ini tak akan abadi.

Mungkin saja esok kita tiada atau lusa sudah tak bernyawa.
Namun diri masih saja terlena oleh kesia-siaan belaka.

Banyak canda dan tawa untuk mengisi hari-hari kita.
Banyak bertopang dagu dan membawa angan yang tak menentu.
Terkadang merenda mimpi tanpa berusaha merealisasi.
Semua kosong selayaknya rumah tak berpenghuni.

Ada dua kehidupan yang akan kita lewati.
Dunia fana dan akhirat nan abadi.
Dua kehidupan yang tiada berpadanan.
Namun semuanya butuh bekalan agar tak dirudung kesulitan.

Perjalanan di dunia tak lain ketika manusia menjalani kehidupan saat nyawa masih di kandung badan.
Namun manusia juga harus bersiap menuju kehidupan yakni berangkat dari dunia menuju hidup yang tak berkesudahan.

Seperti itulah tabiat kehidupan manusia.

*Dalam tafsir Ar Razi*, 5/68 disebutkan lima perbandingan antara bekal di dunia dan bekal dari dunia.

1. Perbekalan kita dalam perjalanan di dunia, akan menyelamatkan kita dari penderitaan yang belum tentu terjadi.

Tetapi perbekalan kita untuk perjalanan dari dunia, akan menyelamatkan kita dari penderitaan yang pasti terjadi.

2. Perbekalan kita dalam perjalanan di dunia, setidaknya akan menyelamatkan kita dari kesulitan yang sifatnya sementara.

Tetapi perbekalan untuk perjalanan dari dunia, akan menyelamatkan kita dari kesulitan yang tiada habisnya.

3. Perbekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada kenikmatan dan pada saat yang sama mungkin saja kita akan mengalami rasa sakit, keletihan dan kepayahan.

Sementara perbekalan untuk perjalanan dari dunia akan membuat kita terlepas dari marabahaya apapun dan terlindung dari kebinasaan yang sia-sia.

4. Perbekalan dalam perjalanan di dunia memiliki karakter bahwa kita akan melepaskan dan meninggalkan sesuatu dalam perjalanan.

Sementara perbekalan dalam perjalanan dari dunia, memiliki karakter kita akan lebih banyak menerima lebih dekat dengan tujuan.

5. Perbekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada kepuasan syahwat dan hawa nafsu.

Sementara perbekalan dari dunia akan semakin membawa kita pada kesucian dan kemuliaan.

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Tanpa Iman

Tanpa iman hidup kita tak kan berarti. Jauh dari cahaya Ilahi.
Hati kelam bagai malam yang sunyi. Dan diri tak kenal budi pekerti.

Tanpa iman hati bagai ruang kosong tak berpenghuni.
Perangai jauh dari terpuji.
Akal akan sulit terkendali.
Pribadi pun jauh dari mawas diri.

Dengan iman kesulitan tiada memberatkan.
Keterjatuhan tak akan memperburuk keadaan.
Kelelahan tak menyurutkan
Semua dinikmati sebagai tempaan.

Iman kita seperti laut kadang pasang kadang pula surut.
Menjaga keimanan menjadi kewajiban.
Dengan amaliyah yang istiqamah. Dengan segala ibadah yang tak pernah lelah.

Mari menjaga iman kita agar tak sengsara di dunia.
Mari menjaga iman kita agar tak menderita di akhirat sana.

Imam Hasan Al Banna mengungkapkan:

_”Mereka mendengar seruan yang mengajak untuk beriman, maka mereka pun beriman. Kita memohon kepada Allah agar membuat diri kita mencintai iman ini, menghiasi hati kita dengannya sebagaimana Allah pernah memberikan cinta itu kepada mereka dan menghiasi hati mereka dengannya. Iman adalah Bekal utama kita. (Ath-Thariq ila Ar-Rabbaniyyah, Majdi Al Hilali, hlm 46-47)_

Iman itu perbuatan. Saatnya kita merealisasikan keimanan kita dengan perjuangan hingga titik darah terakhir kita.

Bergerak dan segera tinggalkan kebekuan. Lantaran iman itu energi yang mampu memelesatkan kita.

Selayaknya anak panah yang tak pernah lepas dari busurnya maka sampai kapan anak panah itu hingga ke sasaran.

Jika kita tak berusaha untuk bergerak dan berusaha keras untuk ambil bagian dari perjuangan ini maka dimana keberadaan iman kita.

Tidaklah harapan akan sampai pada yang dicitakan bila kita tak segera bergegas untuk meraihnya.

Seperti halnya matahari yang enggan beranjak dari ufuk tak akan ada kebermanfaatan yang ia tebar.
*Kata kuncinya adalah bergerak atau tergantikan.*

Mari kita segera tinggalkan belenggu-belenggu  yang bisa menghentikan langkah kita. Tatap ke depan dan segera lah melaju.

Abaikan hal-hal yang sia-sia dan merugikan diri kita dan berusaha menghentikan derap langkah kita.

Maju dan terus melaju hingga perjumpaan dengan Sang Penentu.

Jadikan iman sebagai kendaraan menuju haribaan Tuhan. Niscaya jiwa-jiwa kan terselamatkan.

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Jangan Remehkan Urusan Sebab Kehidupan Bisa Berubah !

Shalat sunah dua rakaat sebelum subuh senilai dunia dan isinya

Memindahkan duri dari jalan adalah cabang dari iman

Lidah yang lentur bisa menjerumuskan pemiliknya ke neraka

Memberi minum seekor anjing kehausan dapat melindungi pelakunya dari api neraka

Jadi, kebaikan apa pun lakukan saja .., keburukan sekecil apa pun jauhilah …

لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق

Jangan remerhkan kebaikan sedikit pun walau menoleh ke  saudaramu dengan wajah ceria. (HR. Muslim No. 2626)

Ahli hikmah mengatakan:

الطيور تأكل النمل، وعندما تموت فإن النمل يأكلها .. الظروف قد تتغير .. فلا تقلل من شأن أحد.

Burung memakan semut, namun di saat burung mati semutlah yang memakannya …, keadaan itu bisa berubah … maka jangan kecilkan satu pun urusan

Wallahu A’lam

By: Farid Nu’man Hasan

Nasihat Hati

📚 MOTIVASI

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

☘Apakah hati sudah terpaut dengan Al Quran?
Apakah hati lebih cenderung pada jalan kebenaran?
Apakah hati sudah tertambat pada keistiqamahan?

🌹Atau…
Hati yang lebih condong pada kemungkaran
Hati yang lebih memilih jalan kesesatan
Hati yang lebih menyukai belenggu setan?

☘Tak dirasai perilaku mulai tercela
Tak disadari kata-kata berbalut dusta
Tak dipungkiri hidup pun tak lagi bermakna

🌹Kala diri tak rindu sajadah
Kala diri mulai malas bertilawah
Kala diri berhasrat meninggalkan dakwah

☘Apa yang akan kita persembahkan?
Tak ada catatan amal kebaikan
Tak punya pahala yang jadi bekalan
Hingga saatnya di yaumul mizan

🌹Tergugu di ujung hari
Tak tau akan nasib diri
Bila akhlak tak segera diperbaiki

☘Bila nafas masih bisa dihela
Berharap ada kesempatan kedua
Menyadari segala khilaf dan alpa.

🌹Hingga perjalanan ini berakhir
Ada karya yang sudah kita ukir
Dan mendapat pahala yang sentiasa mengalir.
Berharap mulia di akhir masa

☘Mendapat surga sebagai balasannya
Hidup kekal di alam baka
Bahagia pun dirasa hingga di Surga

🌹 *Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah* berkata:

_“Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan):_

_1.Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya,_
_2. Kepayahan yang tiada henti, dan_
_3. Penyesalan yang tiada berakhir._

☘Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) jika telah mendapatkan sebagian dari (harta benda) duniawi maka nafsunya (tidak pernah puas dan) terus berambisi mengejar yang lebih daripada itu.

🌹Sebagaimana dalam hadits yang shahih *Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam* bersabda,
_“Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga“_
[HR al-Bukhari (no. 6072) dan Muslim (no. 116)].
[“Igaatsatul lahfaan” (1/37)]

☘Begitu juga seperti halnya nasihat *Ibnu Athaillah Al Iskandari*
_”Bagaimana mungkin qalbu akan bersinar, sedangkan bayang-bayang dunia masih terpampang di cerminnya? Bagaimana mungkin akan pergi menyongsong Ilahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya? Bagaimana mungkin akan bertamu ke hadirat Nya. Sedangkan ia belum bersuci dari kotoran kelalaiannya? Bagaimana mungkin diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat atas kekeliruannya.”_

Wallahu A’lam.