Karena Dakwah Hidup Tambah Berkah

© Jika bukan karena dakwah ini, mungkin diri ini adalah seorang hamba yang mudah berputus asa dan mudah berkeluh kesah. Berbagai ujian hadir dalam langkah-langkah perjalanan hidup ini. Ketika tak kuasa untuk bertahan di jalan ini, tiba-tiba ingatan akan kisah para shahabat Rasul di medan dakwah yang tidak sekedar keletihan, bahkan mereka harus kesakitan sampai harus mati bersimbah darah pun justru menjadi pilihan.
▪Mereka adalah manusia-manusia pilihan, perindu syahid yang pantang menyerah. Kami pun tersadar dari lamunan bahkan masih teringat kisah Anas bin Nadhr dalam perang uhud. Teriaknya: ”Surga…. Surga…. aku mencium bau surga di kaki bukit uhud.” dengan semangat membara dia terjang lawan sampailah pada kematiannya di medan juang. Inilah sepenggal kisah perang Uhud yang berakhir dengan kekalahan kaum muslimin. Tak terasa air mata menetes, seolah kami hadir dan menyaksikan teriakan Annas. Keimanan yang kuat yang tertanam dalam hati para sahabat yang membuat mereka tak gentar meski musuh menghadang.
® Kehidupan di dunia sangat sebentar jika dibanding dengan kehidupan akhirat yang tiada batas. Banyak ulama yang menggambarkan kehidupan di dunia dengan mencelupkan jari telunjuk kita ke dalam air laut dan air yang menempel pada jari kita itulah usia kehidupan kita di dunia. Dan air yang tersisa di lautan yang luas adalah ibarat kehidupan akhirat yang tanpa batas.
▪Lantas bekal apa yang akan kita bawa? Hanya amal yang kita lakukan yang mampu menolong kita untuk melintasi shirathal mustaqim. Dan dakwah adalah amalan yang terbaik karena di dalamnya terdapat amal jariyah yang senantiasa mengalir sampai dunia ini tutup usia. Dengan dakwah hidup kian berkah.  Waktu kita hanya sedikit, bila demikian masih berapa lagi waktu kita tersisa agar kita mendapatkan cinta-Nya, hidup bersama-Nya? Berharap rahmat Allah selalu tercurah agar hidup berjumpa jalan yang mudah.
© Bismillahi tawakaltu ‘alallah la haula wa laa quwwata illa billah….
Wallahul musta’an

Hidup Akan Hampa

© Kehidupan tanpa takbir akan terasa fakir. Kehidupan tanpa Al-Fatihah akan terasa susah. Kehidupan tanpa ayat-ayat terasa makin menyayat. Kehidupan tanpa ruku’ akan semakin terpuruk. Kehidupan tanpa I’tidal akan terasa mengganjal. Kehidupan tanpa sujud akan terasa carut marut. Kehidupan tanpa salam akan terasa kelam.

▪Tanpa shalat diri mudah bermaksiat. Tanpa doa diri merasa hampa. Tanpa munajat hidup makin sesat. Tanpa sabar kan banyak nafsu yang diumbar. Tanpa syukur kan jadi hamba-hamba yang kufur. Tanpa dzikir diri kan tergelincir.

® Ada tasbih kala hati merintih. Ada tahlil kala diri merasa terkucil. Ada tahmid kala harus merasakan sakit. Ada takbir kala hidup merasakan yang getir. Itulah kalimah thayibah yang senantiasa menjadikan hidup ini berkah

▪Bila lisan dan hati tak pernah usai untuk mengingat Allah, jiwa ini kan senantiasa ternaungi cahaya Ilahi. Langkah pun senantiasa menuju jalan kebenaran yang hakiki.

© Maka jauhkan diri dari kelalaian, niscaya hidup kan terselamatkan. Jauhkan diri dari keburukan, niscaya hidup kan raih kemuliaan.

▪Ingatlah Surga telah menanti hingga diri tak lagi terlena oleh duniawi. Ingatlah Surga kan jadi tempat tinggal maka segeralah untuk mengumpulkan bekal.

“Kemudian sesungguhnya, Tuhanmu mengampuni orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya,
kemudian mereka bertobat setelah itu memperbaiki dirinya, Sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl : 125)

Wallahul musta’an

Nasehat Kepada Pimpinan, Antara Ibnu Dzil Khuwaishirah dan Habab bin Munzir

© Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahihnya, setelah selesai suatu peperangan, seperti biasa beliau membagi-bagikan ghanimah (rampasan perang). Tiba-tiba ada seseorang dengan ketus berucap, “Adillah wahai Rasulullah!” Maka dengan tegas Rasulullah saw menjawab,
وَيْلَكَ ! وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ ؟! قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ
“Celaka engkau, siapa yang adil jika aku tidak adil?! Sungguh engkau akan kecewa dan rugi jika aku tidak adil.”
▪Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa orang tersebut bernama Ibnu Dzil Khuwaishirah At-Tamimi.
® Di bagian lain, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hisyam dalam sirahnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menentukan sebuah tempat dekat mata air di daerah Badar sebagai markas pasukan kaum muslimin saat bersiap-siap menghadapi pasukan kafir Quraisy dalam perang Badar. Ada seorang Sahabat yang bernama Habab bin Munzir mendekati beliau seraya bertanya,
“Wahai Rasulullah, apakah tempat ini merupakan ketetapan yang telah Allah tetapkan untukmu, tidak dapat dimajukan atau dimundurkan, ataukah ini termasuk bagian yang masih boleh berpendapat dan strategi perang?”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ini termasuk bagian yang boleh berpendapat dan strategi perang.”
▪Maka Habab bin Munzir mengusulkan agar pasukan Rasulullah bermarkas di mata air yang lebih dekat dengan musuh, lalu mata air yang ada ditimbun agar musuh tidak mendapatkan air sedangkan mereka mendapatkan air. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun menerima keputusan tersebut dan memerintahkan pasukan kaum muslimin untuk berpindah ke tempat yang diusulkan oleh Habab.
© Dari dua riwayat di atas kita dapat tarik kesimpulan bahwa bukan masalah memberikan masukan bahkan kritikan sekalipun kepada pimpinan.  namun dia harus memenuhi adab yang baik, memiliki argument yang jelas serta tetap memberikan cinta dan loyalitas kepada pimpinan. Adapun nasehat atau kritik yang bersifat serampangan, mengabaikan berbagai alasan dan latar belakang dari sebuah keputusan serta dilandasi sikap benci dan bertujuan menggoyahkan loyalitas kepada pimpinan, maka dia lebih dekat disebut sebagai hujatan ketimbang nasehat atau kritik.
▪Dari sinilah kita dapat melihat perbedaan sikap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap apa yang dilakukan oleh Ibnu Dzil Khuwaishirah dan Habab bin Munzir dalam riwayat di atas.
Wallahua’lam.

Mari kita Melek Politik

© Meski bukan praktisi politik namun setidaknya mengerti dan memahami seperti apa sejatinya politik. Mungkin dulu juga sempat mengikuti arus yang mengatakan bahwa politik itu kotor. Namun seiring usia dan bertambah wawasan maka sedikit merenung sejatinya yang kotor bukan politiknya namun yang membawakannya atau tidak lain adalah mereka yang berkecimpung di dalamnya.
▪Politik tak lain berarti kebijakan atau politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles). Ketika mengambil makna dari seorang Yunani bukan berarti pula kita mengikuti paham barat. Coba sedikit buka wawasan ada beberapa bahasa yang diambil dari para penjajah seperti kata antara itu dari kata entere, sepatu dari kata sapato dari bahasa portugis, bahkan banyoo itu juga berarti air dalam bahasa spanyol. Apalagi yang diserap dari bahasa Belanda yang nyata-nyata 350 tahun lamanya menjajah seperti kata coklat, atlet dan lain-lain. Dan masih banyak lagi. Apa lantaran setelah kita tahu bahwa banyak bahasa yang diadopsi dari para penjajah akan kita nafikan keberadaannya? Silakan!
® Nah bahasa dari mana saja bisa diadopsi untuk menambah kosa kata dan kekayaan literasi. Menjadi orang yang cerdas akan menjadikan diri pribadi yang berkelas. Tidak hanya sekedar menuruti pemahaman yang sempit. Butuh membuka wawasan seluas-luasnya dan membangun jaringan dengan banyak kalangan.
▪Deal-deal politik di masa Rasulullah juga ada jika menilik makna dari kata tersebut. Ketika Rasulullah mengajak masuk Islam, ketika beliau mempimpin umat juga ketika melakukan musyawarah untuk menuju kebaikan itu juga bagian dari kerja politik.
© Kita di Indonesia akan melakukan Pilkada serentak tak lain dalam rangka sebagai upaya untuk mencapai kebaikan bersama untuk bangsa ini. Agar keadilan tercipta, kesejahteraan terwujud dan masih banyak yang ingin diraih dalam rangka untuk menjadikan negeri ini lebih bermartabat.
▪Seorang penyair dan dramawan Jerman yang bernama bertolt brecht berkata; “Buta terburuk adalah buta politik.
Orang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat dan semuanya tergantuk sikap politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar “Aku Benci Politik!”  Sungguh bodoh dia, yang tidak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan dan yang terburuk adalah korupsi dan perusahaan multidimensional yang menguras kekayaan negeri.
▪Kita melihat sendiri saat kepemimpinan yang tak berpihak pada umat Islam apa yang terjadi? Banyak ulama yang ditangkapi, umat Islam yang lurus akan dibully, yang benar dicaci maki, sementara yang menyimpang diberi simpati dan dilindungi.
® Apakah kita ingin keadaan lebih buruk lagi dari yang sudah terjadi? Suara lawan utuh untuk memberi dukungan sementara umat Islam tercerai berai bahkan ada yang memilih untuk Golput. Lantas ketika harga melambung tinggi, hutang negara tak terkendali, kesengsaraan rakyat semakin menyesak tiada terperi. Lantas apa kita hanya diam saja.
▪Saudaraku mari kita relakan diri untuk membantu perjuangan yang sudah dimusyawarahkan. Kita buang ego diri untuk membantu untuk memenangkan Pilkada ini. Semoga Allah merahmati dan mengaruniakan kemuliaan hingga akhir hayat nanti.
© Semoga Allah beri kemenangan Pada Pilkada esok hari 27 Juni 2018.
#2019gantipresiden
Wallahul musta’an

Keteladanan Kunci Suksesnya Pendidikan

© Dalam proses pendidikan anak ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan sebagai orang tua. Mendidik mereka tak cukup menyampaikan materi yang kita baca tapi kita pun melaksanakannya.

▪Kita tentunya sudah tahu bahwa kunci pendidikan adalah keteladanan. Dengan mengambil referensi dari buku Tarbiyatul Aulad karya Ustadz Abdullah Nashih Ulwan ada beberapa hal yang harus kita cermati sebagai orang tua.

1. Lisanul Hal afshahu min lisanul Maqal. Bahwa keteladanan dari perilaku orang tua jauh lebih manjur bila dibandingkan dengan ucapan saja. Semisal kita suruh anak shalat dengan meneriaki akan merasa kesulitan meskipun suara kita sudah mengeras bahkan dengan membentak sekalipun. Mengapa tidak kita lakukan dengan kita berwudhu dan mengajak shalat bersama. Mengusapnya, menyentuhnya sebagai bentuk dari ajakan.

2. Attarbiyah bil muta’ah. Kita harus mendidik dengan pengawasan. Kita tidak hanya melepas begitu saja sekiranya anak kita sudah sekolah di tempat yang baik. Belum sepenuhnya karena pendidikan yang utama adalah tanggung jawab utama dipikulkan pada pundak orang tua. Maka wajiblah kita mengawasi mereka.

3. At Tarbiyah Bin Nashihah. Mendidik dengan nasihat. Mendidik anak dengan kalimat-kalimat berhikmah untuk membentuk pribadi yang shalih. Kita ajak mereka berdialog penuh kenyamanan. Sikap tubub dan bahasa lisan mampu membentuk kepribadian mereka. Maka hiasi hari-hari dengan saling berbincang tentang kebaikan.

4. At Tarbiyah bil ‘aadah. Mendidik anak dengan kebiasaan. Hal yang baik bisa kita contohkan. Orang tua itu potret pertama bagi anak. Apa yang dilakukan oleh mereka para orang tua di rumah dan kebiasaannya itulah yang akan ditiru. Bahkan semangat mengikuti agenda dakwah menjadi contoh juga bagi anak-anak kita. Dan tentunya masih banyak lagi adat kebiasaan di rumah yang ditiru oleh anak-anak kita.

5. At Tarbiyah bil hadiah wa Uqubah. Mendidik dengan hadiah, penghargaan dan iqab atau hukuman. Tentu saja hadiah bukan sembarang hadiah. Hadiah bisa berupa pujian yang membangun rasa percaya dirinya. Atau bisa juga dengan barang-barang sederhana yang bagi mereka cukup membahagiakan. Menyenangkan anak tidak harus mahal. Bahkan membangun suasana kebersamaan dengan jalan-jalan atau makan di luar bersama juga bisa.

Untuk hukuman juga bukan serta merta berupa tindakan yang berat. Tapi lebih pada yang sifatnya mendidik agar mereka semakin memahami kaidah yang menjadi ketentuan agama ini. Selain itu juga perlu alasan yang bijak untuk disampaikan kepada anak-anak tentang hukuman yang diberikan agar mereka mengerti. Seperti halnya Luqman Al Hakim berkata: “Jangan menyekutukan Allah, karena itu sebuah kedzaliman yang besar.

® Seperti inilah proses pendidikan anak yang kita harapkan bisa meneruskan perjuangan dakwah ini.

Teladan Dalam Tawadhu Dan Memuliakan Ulama

© Imam Asy-Sya’bi berkata, “Suatu saat Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu (sahabat senior, ulama dan penghafal Al-Quran) melakukan shalat jenazah. Setelah selesai, dibawakan kepadanya keledai untuk dia kendarai. Maka datanglah Ibnu Abas untuk memegang tempat pijakan kakinya.

Zaid berkata, “Biarkanlah wahai anak paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”

Ibnu Abbas berkata,

هكذا نفعل بالعلماء
“Demikianlah (yang seharusnya) kami lakukan terhadap ulama.”

Maka Zaid bin Tsabit segera mencium tangan Ibnu Abas seraya berkata,

هكذا أمرنا أن نفعل بأهل بيت نبينا
“Demikianlah kami diperintahkan untuk bersikap terhadap ahlul bait (keluarga) Nabi kami.”

(Tarikh Dimasyq, Ibnu Asakir, 19/326)

® Muhamad bin Abi Bisyr mendatangi Imam Ahmad untuk bertanya suatu masalah. Maka beliau berkata,

“Datanglah kepada Abu Ubaid, yaitu Al-Qasim bin Sallam, karena dia memiliki penjelasan yang tidak dapat kamu dengarkan dari selain dia.”

Maka dia mendatanginya dan ternyata mendapatkan jawaban yang jelas dari beliau. Lalu dia memberitahu bahwa Imam Ahmad yang menyuruhnya bertanya kepadanya seraya memujinya. Maka dia (Abu Ubaid) berkata,

“Beliau merupakan pembela Allah. Allah perlihatkan kebaikannya di tengah masyarakat, walapun dia menyembunyikannya, lalu Allah jadikan simpanan untuknya meraih kemuliaan. Tidakkah engkau lihat beliau menjadi orang yang dicintai masyarkat? Kedua mata saya belum pernah melihat seseorang di Irak yang berkumpul sifat-sifat yang ada padanya; Santun, berilmu dan paham.”

(Siyar A’lam Nubala, 11/201)

© Saat putera Imam Ahmad wafat, Ibrahim Al-Harbi, seorang ulama besar mendatangi bertakziah dan menemui Abdullah bin Ahmad bin Hambal, putera Imam Ahmad ini juga merupakan ulama besar. Saat melihat kedatangan Ibrahim Al-Harbi, Abdullah bin Ahmad segera berdiri menyambutnya.

Maka berkatalah Ibrahim Al-Harbi, “Kamu berdiri untukku?”

Abdullah bin Ahmad berkata,

والله لو رآك أبي لقام إليك

“Demi Allah, seandainya bapakku melihatmu, diapun akan bediri untuk menyambutmu.”

Lalu Ibrahim Al-Harbi berkata,

والله لو رأى ابن عيينة أباك لقام إليه

“Wallahi, seandainya Ibnu Uyaynah melihat bapakmu, niscaya diapun akan berdiri untuk menyambutnya.”

▪Ibnu Uyaynah adalah ulama besar yang hidup sebelum masa Imam Ahmad.

(Manaqib Imam Ahmad, hal. 202)

® Imam Bukhari berkisah,

“Saat aku ke negeri Bashrah (irak), lalu dia menghadiri majelis seorang ulama di sana yang bernama Bundaar. Saat melihatnya, ulama tersebut bertanya (dia belum mengenali wajah Imam Bukhari), “Saudara dari mana?” Beliau menjawab, “Dari Bukhara.” (Bukhara adalah negeri tempat Imam Bukhari tinggal yang dari situlah namanya lebih dikenal). Maka sang ulama tadi berkata, “Mengapa engkau tidak datangi majelis Abu Abdillah (kunyah Imam Bukhari).”

Imam Bukhari diam saja. Lalu orang-orang di situ yang mengenali Imam Bukhari berkata, “Beliaulah Abu Abdillah.” Maka sang ulama tadi berkata, “Selamat datang wahai orang yang selama ini bertahun-tahun aku kagumi.” Sambil beliau mengambil tangannya lalu memeluknya.

(Tarikh Baghdad, 2/17)

Wallahu A’lam

Dosa Menggelisahkan Jiwa

Sendal Pembawa Dosa

📝 Pemateri: Ustadz Solikhin Abu Izzuddin

© Dalam perjalanan ke masjid untuk mengisi pengajian sore ini aku teringat dengan sebuah kisah yang unik. Seorang ulama ahli ibadah seringkali memakai sandal bagus untuk mendukung dia pergi ke masjid dalam rangka bersyukur kepada Allah. Namun sandal tersebut ternyata diambil atau tepatnya dicuri orang yang membutuhkan.

▪Kemudian dia memakai sandal yang biasa agar tidak menarik minat dan selera orang untuk mengambil sandal tersebut. Eh ternyata hilang juga. Akhirnya beliau memutuskan untuk tidak memakai sandal. Orang-orang pun bertanya keheranan,  “Ya Syaikh mengapa Anda tidak mengenakan sandal?”

▪Dengan bijak beliau menjawab, “Aku memang sengaja tidak memakai sandal agar tidak ada orang yang mencuri sandalku sehingga aku tidak membuat mereka melakukan dosa gara-gara mencuri sandalku. Aku tidak ingin menjadi sebab bagi timbulnya dosa bagi orang lain.”

© Sahabatku…
Kisah ini sangatlah sederhana, seorang yang shalih tidak ingin menjadi sebab timbulnya dosa bagi orang lain. Sangat berbeda dengan orang-orang atau seseorang yang menyengaja membuat sebuah sensasi sehingga diomongin atau dikomentari orang lain yang bisa saja yang komen tersebut menjadi berdosa karenanya. Misalnya mancing malem sandal kemudian ramai ramai orang berkomentar. Bisa saja menjadi berdosa bila komentar termasuk ejekan. Dia pemicu komentar juga berdosa. Kita yang asal komentar juga hati-hati karena bisa jadi sedang memproduksi dosa.

▪Caranya gimana?
Orang yang memang tidak punya kapasitas selain sensasi yang menyebabkan dosa bagi orang lain nggak usah diberikan beban dan amanah yang berat apalagi pemimpin sebuah negara. Kasihan kalau dia banyak berdosa.

® Sahabatku
Mari tolonglah dia dengan tidak usah memilih lagi. Satu kali sudah cukup banyak bikin dosa kita dan dia juga,  apalagi kalau sampai dua periode. Terlalu berat.

Wallahu a’lam

 


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Telah Kujual Diriku Untuk Allah

لَاتَسْأَلُوْنِيْ عَنْ حَيَاتِيْ. فَهِيَ أَسْرَارُ الْحَيَاةِ. هِيَ مِنْحَةٌ هِيَ مِنْحَةٌ. هِيَ عَالَمٌ مِنْ أُمْنِيَاتْ. قَدْ بِعْتُهَا لِلَّهِ ثُمَّ مَضَيْتُ فِيْ رَكِبِ الْهُدَاةِ.

​​(Janganlah engkau tanya tentang jalan hidupku. Di jalan ini terdapat rahasia kehidupan. Ia adalah karunia sekaligus ujian. Ia adalah dunia cita-cita. Aku telah menjual hidup ini kepada Allah, kemudian aku berlalu bersama pemberi petunjuk….)​​

▪Sungguh potongan nasyid indah dari para pejuang Ikhwanul Muslimin. Syair ini dibuat kala mereka tersandung oleh banyaknya ujian yang menguji ketegaran jiwa dalam menegakkan kalimat-Nya.

® Dakwah nampak dari kejauhan selayaknya gunung yang tegak berdiri serta nampak indah dari kejauhan. Seolah warna membiru oleh biasan langit menambah pesona keindahannya. Banyak manusia yang ingin melihat dari dekat bahkan menempuhi perjalanannya.

▪Tak dinyana, di balik keelokannya banyak jurang yang siap menjerumuskan, jalan pun berkelok dan menanjak yang membuat kita harus kuat dalam menapakinya. Nafas kita pun akan terengah-engah, tubuh juga berpeluh, terkadang udara yang semakin dingin akan menusuk tulang belulang.

® Tak banyak yang sanggup menjalani namun tak sedikit yang memiliki mental pejuang sanggup untuk terus berjalan hingga puncaknya.

▪Selayaknya dakwah. Terpaan ujian yang semakin berat dan kian berat kala perjalan ini mendekati puncak. Fitnah dan mighnah saling beriringan. Dalam keadaan ini para pejuang harus semakin meyakini kebenaran nash Ilahi.

© Jalan dakwah telah membeli kita dan membayar dengan Surga. Jalan dakwah telah meminta bahwasanya setiap helaan nafas akan menghadirkan makna. Dan jalan dakwah mengajarkan kita agar menjadi pribadi yang kian memesona.

▪Selayaknya penjual,  kita seharusnya bergegas memperbaiki keadaan diri, keadaan hati untuk Allah semata. Begitulah pribadi yang akhirnya terbeli untuk tegaknya kalimat suci di muka bumi ini.

® Jangan pernah mudah merasa lelah, karena semua kan berupah. Kalau pun tidak terbayar di dunia, tak apalah karena Allah akan menggantinya dengan Surga.

Mewaspadai Istidraj

© Nikmat dan musibah bagi orang beriman itu bisa menjadi karunia sekaligus ujian. Sesiapa yang beriman akan menyadari betul jalan-jalan yang telah disiapkan oleh Allah adalah yang terbaik.

▪Bisa jadi kita diberi ujian berupa kenikmatan yang melimpah. Karena kita mengerti bahwa ujian tak selalu berbentuk musibah.  Walau demikian sangat wajar untuk mengubah keadaan hati agar iman yang tertanam semakin kokoh bila berjumpa dengan kesulitan. Namun sering lalai bila ada karunia yang melimpah ruah dalam hidupnya.

® Bila kita ini pribadi yang hati-hati akan mewaspadai dengan hadirnya karunia yang sangat banyak. Kita harus lebih banyak menangisi dan mengevaluasi diri sembari mengingat betapa Allah telah sembunyikan aib kita. Seperti itulah pribadi yang selalu mawas karena kekhawatirannya akan tertipu dengan amal yang mungkin saja selayaknya buih di lautan.

▪Sungguh beruntunglah orang-orang yang bersabar menerima musibah dan memahami hakikat bahwa musibah itu pada dasarnya adalah sebuah proses untuk menghapuskan dosa dosanya.

© Berbeda halnya ketika ada hamba-hamba yang tiada menyadari tentang kesalahan dirinya. Bisa jadi orang yang enggan bermuhasabah akan dibutakan mata hatinya, disilaukan pengelihatannya, sehingga selalu merasa bahwa dirinya benar dan Allah pun ridha.

▪Orang-orang yang enggan mengoreksi diri inilah kadang dibiarkan oleh Allah dan akhirnya tertipu dengan apa yang telah diperbuat sementara semua kosong tak berisi. Dan nikmat yang dikaruniakan kepada mereka akan semakin membuat mereka jauh dan jauh dari cahaya kebenaran.

® Kita kadang melihat tentang nikmat yang di peroleh para pelaku maksiat. Nikmat yang  terus menerus diberikan tanpa musibah itu bukanlah rahmat dari Allah, bisa jadi itu tipu daya Allah. Bisa jadi itu istidraj, dimana Allah membiarkan hambanya memperoleh segala yang ia kehendaki sementara adzab yang nyata telah menanti di akhirat kelak.

▪Sungguh celaka orang yang tertipu. Ia larut dan terlena oleh nikmat dunia yang menjerumuskan.

“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (Terjemah hadits riwayat Muslim)

© Mudahlah menjadi pribadi yang mau mengevaluasi diri. Segera muhasabah tanpa menunggu datangnya musibah.

Pesan Pagi, As’adallahu shobaahakum….

سُئِلَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ التَّقْوَى، فَقَالَ: هَلْ أَخَذْتَ طَرِيقًا ذَا شَوْكٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَكَيْفَ صَنَعْتَ؟ قَالَ: إِذَا رَأَيْتُ الشَّوْكَ عَدَلْتُ عَنْهُ، أَوْ جَاوَزْتُهُ، أَوْ قَصَّرْتُ عَنْهُ، قَالَ: ذَاكَ التَّقْوَى.

Abu Hurairah pernah ditanya tentang taqwa. Maka dia balik bertanya, ‘Pernahkan engkau melewati jalan berduri?’ Orang itu menjawab, ‘Ya’ Beliau bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan?’ dia menjawab, ‘Jika aku lihat duri, aku akan
menyingkir, atau melangkahinya atau aku mundur.’ Beliau berkata, ‘Itulah takwa.”

® Berdasarkan riwayat ini, Ibnu Mu’taz menggibah sebuah syair,

خَلِّ الذُّنُوبَ صَغِيرَهَا ..وَكَبِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى

وَاصْنَعْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْ ..ضِ الشَّوْكِ يَحْذَرُ مَا يَرَى

لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً … إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى

▪Tinggalkan dosa, kecil maupu besar, itulah takwa

▪Bersikaplah seperti orang yang berjalan di atas tanah berduri, dia berhati-hati dengan apa yang dia lihat.

▪Jangan remehkan dosa kecil, sesungguhnya gunung dari kumpulan kerikil.

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: أَعَزُّ الْأَشْيَاءِ ثَلَاثَةٌ: الْجُودُ مِنْ قِلَّةٍ، وَالْوَرَعُ فِي خَلْوَةٍ، وَكَلِمَةُ الْحَقِّ عِنْدَ مَنْ يُرْجَى أَوْ يُخَافُ

Imam Syafii berkata, “Tiga perkara yang sangat mulia;
▪Dermawan saat kekurangan,

▪ Wara (sangat berhati-hati dari perbuatan dosa) saat sendirian

▪Menyampaikan kebenaran, baik kepada orang yang ditakuti atau diharapkan..”

إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا فَلَا تَقُلْ … خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيبُ

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ يَغْفُلُ سَاعَةً … وَلَا أَنَّ مَا يَخْفَى عَلَيْهِ يَغِيبُ

▪Jika suatu saat engkau seorang diri, jangan katakan, aku seorang diri, tapi katakan, diriku selalu diamati.

▪Jangan dikira Allah lalai walau sesaat, juga jangan mengira bahwa apa yang tersembunyi, bagi-Nya tak terlihat

Wallahu A’lam