Al-Adab Qablal 'Ilm, Al-'Ilm Qablal 'Amal


© Belajar Beradab sebelum mencari ilmu agar mudahnya ilmu menjadi nilai diri kita.

Menyampaikan ilmu dan menuntut ilmu itu adalah agenda kemuliaan. Bukankah Rasulullah saja mengatakan bahwa ketika kita berjalan menjemput ilmu maka itu tak lain adalah perjalanan menuju Surga.

© Al-adab qablal ‘ilm

Hampir semua Ulama sepakat bahwa “al-adab qoblal ilm” (adab itu sebelum ilmu).

Adab itu akhlak sebelum ilmu artinya seorang murid belajar adab sebelum ilmu, seorang guru harus memiliki adab sebelum menyampaikan ilmu, dan bahkan seorang murid belajar dari gurunya adab sebelum belajar ilmunya.

Hati yang bersih serta akhlak yang terpuji akan menjadikan apa yang kita pelajari menjadi harta yang paling berharga yang kita miliki. Jangan sampai kita melupakan perbaikan akhlak kita sebagai seorang murid, apalagi kala menjadi guru. Penyampaian ilmu itu butuh keteladanan kerena keteladanan seutama-utamanya cara dalam menyampaikan. Bil hal wa bil lisan (Teladan baru menyusul lisan).

▪Mengapa demikian?

Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam firmannya dalam surat Al Jumu’ah ayat 5 

مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُوا۟ ٱلتَّوْرَىٰةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًۢا ۚ بِئْسَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” 

Bahayanya ilmu tanpa adab akan merusak. Seolah ilmu hanya untuk permainan. Kajian ilmu jadi trend dan tanpa ruh. Sehingga semua tiada bermakna.

© Al-‘ilm qablal ‘amal.

Mu’adz bin Jabal ra mengatakan,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

Bahkan dalam ayat Al-Quran dikatakan bahwa kita diminta mengilmui terlebih dahulu.

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad : 19)

Sebuah perkataan dan perbuatan tanpa ilmu akan menjadi sia-sia. Dikhawatirkan akan menjadi taklid buta atau sekedar ikutan tanpa pengetahuan.

Maka wajiblah berhati-hati menyampaikan ilmu tanpa mampu beramal dan beramal tanpa ilmu. Apalagi ilmu tanpa diiringi adab serta akhlakul karimah.

Ilmu tanpa adab ibarat tanaman tanpa tempat yang subur untuk ditanami, dan amal tanpa ilmu ibarat buah tak tahu dari mana dipetiknya.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Kesombongan yang Akan Meruntuhkan


©Teringat kisah Imam Hanafi yang menangis kala berjumpa dengan seorang anak kecil. Abu Hanifah bin Tsabit, atau populer disebut Imam Hanafi. Suatu ketika Abu Hanifah berpapasan dengan seorang anak kecil yang tampak berjalan dengan mengenakan sepatu kayunya.

▪Abu Hanifah menegur sang anak itu supaya berhati-hati, “Hati-hati ya nak dengan sepatu kayumu, karena bisa menggelincirkanmu.” Sang bocah miskin itu pun tersenyum menyambut perhatian sang imam dengan ucapan terima kasih. “Bolehkan saya tahu namamu, Tuan?” tanya sang bocah. “Nu’man.” Jawab Abu Hanifah.

© Kemudian bocah miskin itu meneruskan pertanyaannya, “Jadi,Tuan lah yang terkenal selama ini dengan gelar al-Imam al-Ada’dham (imam agung) itu?” Abu Hanifah pun menjawab,”Bukan aku yang menyematkan gelar itu, tapi masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.”

▪Lalu bocah miskin itu berkata pada sang imam, “Wahai imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara gelar itu. Sepatu kayuku ini mungkin hanya akan menggelincirkanku di dunia, tapi gelarmu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api neraka yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”

© Tak disangka celoteh sang bocah miskin itu menggetarkan nurani sang imam. Beliau pun tersungkur menangis. Ada rasa haru menyelimuti perasaan sang imam. Baginya itu sebuah nasihat yang sangat berharga sehingga bisa menjadi kehati-hatian dalam mengemban tanggung jawab dan amanah sebagai ulama yang disegani umat.

▪Subhanallah, kisah keteladanan dari seorang ulama besar yang patut kita tiru. Berjiwa besar. Tentunya kita bisa berhikmah padanya. Namun sayang sedikit sekali para pemimpin kita yang mampu berjiwa besar.

Mereka dengan mudah mencari setiap kesalahan orang-orang yang dipimpinnya sementara terkadang enggan menerima kritik atau masukan dari orang-orang di sekelilingnya. Rasa superioritas dalam diri seseorang kadang membutakan mata hati. Ilmu yang mumpuni tanpa disadari melenakan. Amal yang lebih dalam pandangannya seolah mampu juga menyelamatkan dirinya.

© Padahal masuknya surga seseorang tak hanya dengan amal. Apalagi amal tanpa keikhlasan dan ketawadhu’an.
Rasulullah pun menyatakan dalam haditsnya.

“Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816)

▪Seorang sufi besar yakni Ibnu Atha’ As-Sakandari, beliau pernah berkata,”Boleh jadi (Allah) membukakan pintu ketaatan bagimu namun tidak dibukakan pintu penerimaan bagimu. Dan boleh jadi ditetapkan bagimu dosa namun dapat menjadi sebab untuk sampai kepada Allah.

© Kemaksiatan yang dapat mengakibatkan kerendahan diri dan kebutuhan terhadap Allah, lebih baik daripada taat yang mengakibatkan rasa tinggi hati dan sombong.”

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Menjadi Generasi "Sekarang"​


Ketika menjumpai kondisi yang negatif atau terpuruk, kita sering menggunakan pendekatan motivatif futuristik. Misalnya, saat melihat kondisi umat Islam secara umum di Timur, Barat, Utara dan Selatan, hampir semuanya seolah terstigmatisasi negatif. Belum lagi, bila bicara tentang krisis kemanusiaan yang dahsyat di abad ini. Suriah dan Rohingya, adalah kasus-kasus besar yang mengimbuhi masalah berat sebelumnya, Palestina yang juga belum terlihat ujung solusinya. ​Biasanya, untuk melipur lara tak jarang kita mengalihkan semangat juang ke generasi setelah kita.​ Maka secara otomatis, itu sama dengan mengatakan bahwa ​diri kita tidaklah hadir sebagai solusi.​

Atau kurang percaya diri tampil memberi solusi dan justru banyak berharap pada generasi akan datang.

Jika estafet ini berlanjut, maka tidak mustahil kendala yang sama akan dialami oleh generasi setelah kita. Mereka akan melakukan estafet masalah dan estafet harapan. Mereka pun saat menjadi “sekarang” akan mengatakan bahwa solusinya ada di generasi “mendatang”. Demikian terjadi dan akan terus tak berujung.

​Maka, sudah saatnya umat Islam ini mengatakan dan mendoktrin dirinya bahwa dialah generasi sekarang yang harus hadir sebagai solusi, bukan keturunannya.​

Benar, mereka akan melanjutkan, tapi bukan sekedar melanjutkan mimpi saja. Namun, lebih pada melanjutkan aksi nyata yang mengatrol prestasi umat ini.

Maka, semangatnya adalah semangat “SEKARANG”. Lakukan sekarang, mulai dari yang mungkin untuk dimulai. Kemudian lakukan secara komunal dan masif.

Belajarlah semangat “sekarang” ini dari Zulaikha, “Berkata isteri Al Aziz:
​“Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar” (QS. Yusuf: 51)​

Pendekatan ​“sekarang”​ bisa lebih membuka diri untuk melakukan pendekatan introspektif dibanding menyalahkan orang lain.

Dengan pendekatan tersebut, seseorang tidak fokus pada masalah atau penyebab masalah. Ia akan fokus pada mencari solusi dan jalan keluar.

Lihat pula apa yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang terus mempertahankan spirit juangnya,

​“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal: 66)​

Maka permasalahannya terletak pada manajemen harapan. Kitalah yang seharusnya mengharapkan untuk menyaksikan diri terlibat langsung terhadap penyelesaian masalah yang saat ini terjadi. Kalau pun itu tidak terjadi maka generasi setelah kita akan meningkatkan usahanya lebih gigih dank eras lagi.

Mentalitas “sekarang” ini jugalah yang akan mendesak dan mengusir kebiasaan menunda dan inferior (rasa rendah diri) serta tak percaya dengan kemampuan yang Allah berikan.

Jika melihat secara internal, setiap manusia selalu dibekali keistimewaan oleh Allah dengan segudang potensi positif dan prestasi. Jika melihat kepada eksternal, maka seseorang akan menempatkan diri secara proporsional. Ia tak sombong dengan tetap menghormati orang lain (tidak terlalu merasa superior), tidak juga merasa buruk jika dibandingkan orang lain.

Semangat inilah yang dimiliki oleh para sahabat Nabi Muhammad saw. Kuburan mereka menyebar ke pelosok dunia, karena jiwa ekspansif yang termotivasi menyebar kebaikan. Mereka pun tak pernah takut kepada selain Allah, dengan segala keterbatasan. Jadilah, mereka disegani kemudian membuka pintu dakwah dan kemenangan bagi generasi setelahnya.

Jadilah Umar atau Shalahuddin yang akan menaklukan kezaliman di Baitul Maqdis dan sekitarnya. Atau setidaknya bisikkan pada diri ini, akan benar-benar menyaksikan kehadiran Umar atau Shalahuddin tak lama lagi.

AlLâhu al-Musta’ân

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Tumbuhkan Rasa Percaya Diri


© Tak ada manusia yang sempurna. Tak ada manusia yang tak berdosa. Tak ada manusia yang tanpa kurang satu pun jua. Dan tak ada seorang pun yang luar biasa. Minder? Berkecil hati? Merasa tak mampu? Tepis rasa itu. Lihatlah kemampuan yang kita miliki yang bisa menjadi energi untuk mengubah kita. Lihat selalu sisi baik kita tapi jangan lupakan sisi buruk dari kita. Pikirkanlah bahwa kamu bisa melakukan.

▪Motivasi dari dalam diri merupakan energi yang luar biasa meski membangun motivasi butuh waktu. Membangun kepercayaan diri merupakan awalnya, melihat kelebihan diri tanpa menafikan kekurangan yang dimiliki.

© Kita harus mampu mengevaluasi diri kita. Bila perlu data setiap kekurangan yang ada beserta kelebihannya. Yakinlah dengan kelebihan yang kita miliki, kita mampu memanfaatkannya akan kita dapati hasil yang luar biasa.

▪Jangan pernah merasa bosan untuk belajar. Jangan pernah bosan untuk bisa berubah. Allah mengajarkan pada kita untuk memiliki keyakinan. Seperti apa pun kabut misteri yang ada di hadapan kita selama kita yakin dan menggantungkan keyakinan itu hanya pada Allah semua akan berakhir dengan kebaikan.

© Ibarat perjalanan manusia dari dia dilahirkan, dia selalu berjuang untuk bisa. Allah beri kemampuan dan naluri perjuangan sejak kita bayi. Belajar tengkurap, belajar merangkak, hingga berjalan. Dari berjalan pun akhirnya berlari. Hingga akhirnya menjadi anak-anak yang mulai belajar mandiri. Ketika bersekolah pun tak bosan-bosannya dia mau untuk belajar dan mengerti. Rasa keingintahuan yang begitu besar membuat anak-anak kita tumbuh dan berkembang menjadi anak yang luar biasa.

▪Jangan pernah menyerah sekedar karena keterbatasan kita untuk mengetahui masa depan kita. Tugas kita adalah berdoa dan berusaha setelah kita meletakkan keyakinan sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan ini.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Jangan Kalah, Teruslah Berjuang

© Dahulu muslimah yang memakai jilbab di negeri kita sering dilecehkan dan dipojokkan, kini wanita yang berjilbab ada dimana-mana.

▪Kini, laki-laki yang berjenggot karena ingin ikut sunah sering dilecehkan dan dipojokkan, insya Allah, nanti, laki-laki berjenggot untuk laksanakan sunah, ada dimana-mana….

® Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tinggalkan kota Mekkah karena permusuhan kafir Quraisy Mekkah. Sekian tahun kemudian, beliau dan para sahabatnya tundukkan kota Mekkah dan para musuhnya misuh-misuh minta pengampunan….

© Dahulu bangsa Tatar menyerbu negeri-negeri Islam dan membantai kaum muslimin dan nyaris membumihanguskan peradaban Islam. Sekian ratus kemudian, anak cucunya masuk Islam, bahkan ada yang jadi mujahid terdepan…..

▪Dahulu imperialis barat jajah negeri-negeri muslim sembari sebarkan ajaran Kristen. Kini, Islam menjadi agama yang paling cepat pertumbuhannya di barat. Prediksinya sekian puluh tahun kemudian Islam akan menjadi agama mayoritas.

® Jangan pernah lemah dan hilang kendali oleh keras dan degilnya orang-orang yang memusuhi Islam dan syariatnya. Teruslah berdakwah dan berjuang di jalan Allah, dengan tenang dan Spartan serta kokoh di atasnya. Allah punya cara tersendiri untuk memenangkan agama-Nya dan menghinakan para penghina syariat-Nya.

© Orang Islam boleh jadi dikalahkan, kaum Muslimin boleh jadi dilecehkan, ajaran Islam boleh jadi menjadi guyonan, para dai boleh jadi dipojokkan, bahkan Nabi sekalipun ada yang jadi korban pembunuhan. Tapi yang tidak boleh terjadi, kita yang mengaku muslim, berhenti berdakwah dan berjuang serta amalkan syariat Islam….

▪Allahumma afrig alaina shabran wa tsabbit aqdaamana…..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh:
http://www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram
🖥 Fans Page
📮 Twitter
📸 Instagram
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Petualangan Dakwah


© Menemukan Makna dari petualangan dakwah.

▪Perjalanan ini sangatlah panjang dan melelahkan. Kadang, kita harus berjalan tertatih-tatih untuk melangkahkan kaki hingga ke tujuan.

▪Meski harus tersandung dan terjatuh lantaran kesulitan yang hadir di depan kita, namun sang pejuang pantang menyerah meski berkalang tanah. Isy kariman au mut syahidan adalah semboyannya. Hidup mulia atau mati syahid adalah cita-citanya.

▪Bersyukurlah atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman dan Islam yang telah kita rasakan mampu menuntun kita untuk tetap tegar menapaki jejak-jejak kebenaran.

▪Pengorbanan, kesulitan, dan segala ujian yang ada di jalan ini adalah suatu fase yang akan mengantarkan kita untuk semakin merasakan indahnya kehidupan. Kita tak akan pernah merasakan bahagia bila kita tak pernah merasakan kesedihan. Kita tak akan pernah merasa lapang bila kita belum pernah mencicipi kesempitan. Dan hanya orang-orang yang selalu bersyukur saja yang mampu merasakan segala titah sang pencipta-Nya.

▪Untaian kalimat rasa syukur akan selalu mengalir dari bibir orang-orang yang beriman. Karena mereka yakin jika selalu bersyukur pastilah Allah Sang Maha Pemberi nikmat akan menambah nikmat untuk orang-orang yang mau bersyukur.

©Tersurah dalam firman-Nya ayat 7 surah Ibrâhîm, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Itu adalah janji Allah yang mustahil akan diingkari-Nya.

▪Bersyukur akan selalu ada di hati pribadi yang senantiasa mau bertafakur. Semoga dengan kesyukuran yang ada kan ditambah karunia bagi sesiapa yang menjadi pembela agama-Nya.

Wallahu A’lam

Belajar Berhikmah Agar Meruah Berkah

© Mengambil hikmah dari setiap episode yang hadir dalam kehidupan kita merupakan keniscyaan. Lantaran tak sia-sia ketika Allah menetapkan keputusan atas apa saja yang terjadi tanpa terlewat sedikit pun. Semua akan bermakna bila kita bisa mengerti maksud setiap peristiwa.

▪Sejarah pun banyak mengajarkan pada kita tentang banyak hal. Dan dari kisah sejarah kita belajar untuk memperbaiki diri. Namun sayang tak banyak orang yang mampu mengambil pelajaran.

® Ada nilai-nilai tersirat yang ingin disampaikan oleh sejarah. Namun, mereka kebanyakan menganggap bahwa apa yang terjadi hanya menjadi sejarah yang dijadikan monumen kebanggaan.

© Bagi siapa yang di dalam hatinya bersemayam segenggam iman niscaya hikmah meruah akan dirasakan. Banyak pelajaran yang bisa diambil untuk melangkah ke depan. Menapaki kehidupan yang kian hari terasa kian menyesakkan.

▪Karut marutnya dunia membuat kita harus bersiap dengan mental pejuang. Pengorbanan tak sedikit yang harus kita persembahkan untuk sebuh kemuliaan karena itulah sunatullah jika ingin berjumpa dengan Allah swt.

® Hikmah kebaikan yang tiada berkesudahan kala ujian menerpa kehidupan. Semua baik adanya bagi orang yang mengimani takdir. Justru bagi orang yang beriman ujian itu merupakan harta kekayaan yang tiada bernilai. Rasulullah pun mengingatkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang isinya,

”Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian dan ujian bagi umatku adalah harta kekayaan.”

© Tak pernah mampu kita menolak ujian bila Allah ingin hadirkan untuk kita. Kadang kita pernah berpikir panjang bahwa ada hikmah di balik setiap ujian. Inilah saat yang tepat Allah sedang mendidik kita. Allah tak hanya akan beri kekuatan namun Allah beri kesulitan agar kita belajar bagaimana menyelesaikannya.

▪ Kala kita lemah saat itulah Allah mendidik kita menjadi kuat dan tangguh. Banyak pelajaran kala kesulitan menerpa. Bila kesulitan demi kesulitan hadir silih berganti, Allah beri kesempatan pada kita untuk berdoa tiada henti. Bila kesulitan datang beruntun sesungguhnya Allah beri kesempatan bagi kita agar senantiasa doa itu terlantun. Dan bila kesulitan tak mampu segera terselesaikan, saatnya kita menyadari bahwa hakikat kehidupan adalah perjuangan dan butuh pengorbanan.

® Allah SWT pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yang Allah berikan setelah kesulitan? Allah telah memberi janji dengan firman-Nya itu, dibalik kesulitan, pasti ada jalan keluar yang begitu dekat. Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An-Nasyr: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu,

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An-Nasyr: 6)

Wallahu A’lam

Berjalanlah Selayaknya Musafir

©Sebentar saja waktu kita hidup di dunia. Hidup di dunia, kata Rasulullah, ka raakibin istadzalla bi syajaratin tsumma raahaa wa tarakaha. Seperti seorang musafir yang bernaung di bawah rindangnya pohon, ia beristirahat tapi setelah itu ia tinggalkan pohon itu.

▪Tak ada yang abadi di dunia ini. Kun fi dunya kaannaka ghariibun au ‘abiri sabiil. Karenanya hiduplah di dunia seperti orang asing, atau orang yang dalam keadaan perjalanan.

©Dari mana ia datang, seberapa bekal yang telah dipersiapkan, di mana ia berhenti untuk tempat istirahat, dan ke mana akan menuju dan berakhir; semua itu harus menjadi perhatian.
Memang kehidupan ini tak ubahnya seperti sebuah perjalanan.

®Dalam melakukan perjalanan akan kita temui peluang dan kesempatan. Hidup itu ada untuk dilewati bukan untuk dinikmati. Seperti halnya Allah telah memberikan kemampuan berpikir untuk memilih antara yang baik dan buruk, antara benar dan salah, dan antara adil dan zalim.

▪Yang baik akan mendapat pahala dan yang buruk akan berdosa.
Banyak perbekalan yang harus dipersiapkan dalam menempuh perjalanan ini.

©Di dunia ini bukan saatnya menikmati perbekalan, melainkan waktunya kita harus mengumpulkannya. Ketika harus mengambil keputusan akan berlomba dalam kebaikan atau terpuruk dalam kesesatan. Sebagai musafir, ada rambu-rambu yang harus diperhatikan, supaya kita tidak tersesat.

®Al-Qur`an dan Sunnah Rasul jadikan petunjuk tuk temukan jalan terang.

▪Dalam beberapa ayat telah dikatakan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik dan buruk. Oleh karena itu, ada dua hal yang selayaknya ada sebagai perhatian bagi kita.

©Pertama, kita meyakini bahwa ketika manusia melakukan kebaikan maka akan mereka mendapat kebahagiaan dan kenikmatan atas apa yang mereka usahakan. Bukan saja di dunia, melainkan lebih utama lagi di akhirat.

©Kedua, kita meyakini bahwa Allah akan memberikan hukuman dan balasan yang setimpal dengan apa yang mereka perbuat. Teguran langsung yang diberikan Allah adalah wujud kasih sayang-Nya. Karena, ketika teguran diberikan secara langsung, sesungguhnya Allah hendak menjadikannya sebagai peringan dosa-dosa yang telah kita perbuat.

▪Cukuplah kisah-kisah kaum terdahulu yang diazab langsung oleh Allah menjadi pelajaran.

®Memperbaiki semuanya menjadi tanggung jawab kita sebagai pribadi beriman. Sehingga kemuliaan akan kita dapatkan.

Wallahul musta’an

✍ Sumber: Buku Wahai Muslimah Janganlah Menyerah karya Rochma Yulika

Tak Pernah Lelah Belajar Rela​

Sungguh, bersikap rela tidaklah mudah.

Lantaran banyak harapan yang tak selaras dengan kenyataan. Apa yang ditetapkan tak seiring dengan apa yang manusia rencanakan.

Saat seperti inilah menjadi ujian berat bagi manusia.

Terkadang kita dirudung kecewa, berduka, dan berderailah air mata.

Semua itu terjadi lantaran tak pernah tahu apa yang menjadi rahasia di hari kemudiannya.

Wajar, begitulah sisi manusiawi kita.

Namun kala sempat terlintas kecewa dan kesedihan segeralah untuk berlari menuju Allah. Menunjukkan kerelaan atas apa yang ditakdirkan justru berbuah pada semakin dekatnya hamba pada Rabbnya.

Lisan dipenuhi dzikir. Ibadah terus dilakukan untuk merebut kasih sayang Nya. Akhlak pun semakin diperbaiki.

Seperti itulah pembuktian dari kerelaan atas segala ketetapan.

Bukan sebaliknya.
Bibir mengeluh penuh kekesalan, mulut berucap tentang kekecewaan. Hati pun marah karena merasakan derita. Serta sikap yang semakin menjauh dari Rabbnya.

Bahkan ada yang sampai menuduh bahwa Allah tidak adil. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Bila diri kita mengaku beriman maka, beginilah sejatinya rela.

Suatu Ibnu Abbas ra berkata,
​”Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menemui sahabat-sahabat Anshar, beliau bersabda,”Apakah kalian orang-orang mukmin?”​

​Mereka semua terdiam, lantas Umar bin Khatab menjawab, Ya Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda lagi,”Apakah tanda keimanan kalian?”​

​Mereka berkata, “Kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan rela dengan ketentuan Allah.”​

​Nabi saw bersabda lagi, “Orang-orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’bah.”​

Masya Allah…
Laa Quwwata illa billah…

Tentramkan Jiwamu…​

Hidup dengan tenang adalah idaman setiap insan. Sebab kegaduhan hanya akan menyiksa jiwa dan menyisakan luka di jiwa.

Banyak orang menganggap setelah sukses di puncak karir, terkumpulnya harta, tercukupinya kebutuhan, cerahnya masa depan, bahkan pasangan, menjadi ukuran hadirnya ketenangan hidup.

Faktanya bisa sebaliknya.

​Tentramkan Jiwamu Agar Kualitas Hidupmu Melejit Jauh dari prasangkamu.​

Apa kuncinya????

Kita tidak perlu melawan kehendak Yang Maha Besar. Kita hanya perlu memahaminya, lalu belajar berdamai dengan diri kita bahwa itulah yang terbaik untuk kita.

Sebab jika Allah hendak menciptakan peristiwa dan memberlakukan kehendakNya, Ia menyiapkan semua sebab-sebabnya dan terjadilah semua takdirNya.

Berhasil membaca kehendakNya dalam hidup kita akan memberi kita ketenangan jiwa yang tak kan tergoyahkan.

Sayangnya jujur pada diri sendiri, sekarang ini menjadi barang langka yang susah mencarinya. Antara menerima takdir dan menolaknya kadang silih berganti menggulirkan perjuangan yang tak pernah sepi menuntut pengorbanan.

​​Padahal rela akan takdir Allah dan tetap husnudzan padaNya​ menjadi kunci ketenangan jiwa, melejitkan kualitas hidup dan selalu melahirkan bahagia.​

Bukankah Allah tak menyiakan hambaNya.

​”Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”​

(Fushshilat:46)

Dengan itu kita bisa mencintai yang harus si jalani. Menikmati setiap sisi hidup ini sepenuh rasa disyukuri dan di sabari.

Karenanya begitu indah sikap ​Ibnul Qoyyim rohimahullah​ atas semua takdir yang terjadi. Beliau mengatakan,

فإن المقدور يكتنفه أمران :
الإستخارة قبل وقوعه،
و الرضى بعد وقوعه.

​“Sesungguhnya suatu hal yang ditakdirkan berporos pada dua hal: ​(1) Istikhoroh (meminta Allah pilihkan) sebelum terjadinya, dan (2) Ridho setelah terjadinya”​.​

فمن سعادة العبد أن يجمع بينهما

​“Maka merupakan bagian dari kebahagiaan seorang hamba mampu mengumpulkan dua perkara di atas” [Mawaaridul amaann hal. 56-57]​

Wallahua’lam bishawab.