KELUARGA HARMONIS, BUKAN BERARTI TANPA PERTENGKARAN (Bag-2)

Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

Materi sebelumnya: http://goo.gl/XsjLL6

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati agar:

2. Menghindari caci-maki

Siapapun kita, tidak akan bersedia ketika dicaci maki. Karena itulah, syariat hanya membolehkan hal ini dalam satu keadaan, yaitu ketika seseorang didzalimi. Syariat membolehkan orang yang didzalimi itu untuk membalas kedzalimannya dalam bentuk cacian atau makian.

Allah berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ

Allah tidak menyukai Ucapan buruk (caci maki), (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. (An-Nisa: 148)

Dalam ikatan rumah tangga, syariat memotivasi kaum muslimin untuk menciptakan suasana harmonis. Sehingga walaupun sampai terjadi masalah, balasan dalam bentuk caci maki harus dihindari. Karena kalimat cacian dan makian akan menancap dalam hati, dan bisa jadi akan sangat membekas. Sehingga akan sangat sulit untuk bisa mengobatinya. Jika semacam ini terjadi, sulit untuk membangun keluarga yang sakinah.

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan jangan sampai seseorang mencaci pasangannya. Apalagi membawa-bawa nama keluarga atau orang tua, yang umumnya bukan bagian dari masalah.

Beliau bersabda, “jangan kamu menjelekannya”

Dalam Syarh Sunan Abu Daud dinyatakan,

لَا تَقُلْ لَهَا قَوْلًا قَبِيحًا وَلَا تَشْتُمْهَا وَلَا قَبَّحَكِ اللَّهُ

“Jangan kamu ucapkan kalimat yang menjelekkan dia, jangan mencacinya, dan jangan doakan keburukan untuknya..” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud).

Perlu kita ingat bahwa cacian dan makian kepada pasangan yang dilontarkan tanpa sebab, termasuk menyakiti orang mukmin atau mukminah yang dikecam dalam Al-Qur’an. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 58)

Marah kepada suami atau marah kepada istri, bukan alasan pembenar untuk mencaci orang tuanya. Terlebih ketika mereka sama sekali tidak bersalah. Allah sebut tindakan semacam ini sebagai dosa yang nyata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati agar:

3. Tetap Menjaga Rahasia Keluarga

Bagian ini penting untuk kita perhatikan. Hal yang perlu disadari bagi orang yang sudah keluarganya, jadikan masalah keluarga sebagai rahasia anda berdua. Karena ketika masalah itu tidak melibatkan banyak pihak, akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Terkait tujuan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْت

“jangan kamu boikot istrimu kecuali di rumah”

Ketika suami harus mengambil langkah memboikot istri karena masalah tertentu, jangan sampai boikot ini tersebar keluar sehingga diketahui banyak orang. Sekalipun suami istri sedang panas emosinya, namun ketika di luar, harus menampakkan seolah tidak ada masalah. Kecuali jika anda melaporkan kepada pihak yang berwenang, dalam rangka dilakukan perbaikan.

Pihak yang berwenang adalah pihak yang posisinya bisa mengendalikan dan memberi solusi atas masalah keluarga. Dalam hal ini bisa KUA, hakim, ustadz yang amanah, atau mertua. Mertua, karena dia berwenang untuk mengendalikan putra-putrinya. Dan ini tidak berlaku sebaliknya.

Ketika suami melakukan kesalahan, tidak selayaknya sang istri melaporkan kesalahan suami ini kepada orang tua istri. Tapi hendaknya dilaporkan kepada orang yang mampu mengendalikan suami, misalnya tokoh agama yang disegani suami atau orang tua suami. Demikian pula ketika sumber masalah adalah istri. Hendaknya suami tidak melaporkannya kepada orang tuanya, tapi dia laporkan ke mertuanya (ortu istri).

Solusi ini baru diambil ketika masalah itu tidak memungkinkan untuk diselesaikan sendiri antara suami-istri.

Hindari Pemicu Adu Domba

Bagian ini perlu kita hati-hati. Ketika seorang istri memiliki masalah dengan suaminya, kemudian dia ceritakan kepada orang tua istri, muncullah rasa kasihan dari orang tuanya. Namun tidak sampai di sini, orang tua istri dan suami akhirnya menjadi bermusuhan. Orang tua istri merasa harga dirinya dilecehkan karena putrinya didzalimi anak orang lain, sementara suami menganggap mertuanya terlalu ikut campur urusan keluarganya. Bukannya solusi yang dia dapatkan, namun masalah baru yang justru lebih parah dibandingkan sebelumnya.

Selanjutnya, jadilah keluarga yang bijak, yang terbuka dengan pasangannya, karena ini akan memperkecil timbulnya dugaan buruk (suudzan) antar-sesama.

Semoga Allah SWT mudahkan upaya sungguh-sungguh kita membangun keluarga harmonis yang sesungguhnya, yang penuh kedewasan, bukan harmonis yang semu dan melelahkan. (Selesai)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

KELUARGA HARMONIS, BUKAN BERARTI TANPA PERTENGKARAN (Bag-1)

Pemateri: Ustadzah Dra. INDRA ASIH

Keluarga harmonis bukanlah keluarga yang menghindari konflik atau pertengkaran tapi justru menghadapinya dan mengkomunikasikannya. Menghargai perbedaan pendapat dan menyesuaikan satu sama lain, tanpa ada penghakiman di dalamnya.

Karena dari konflik atau pertengkaran dan perbedaan yang timbul, kita jadi lebih mengenal satu sama lain.

Selanjutnga perbedaan yang ada tersebut  bisa berpotensi untuk menguatkan hubungan karena kedua belah pihak berusaha untuk saling menyesuaikan satu sama lain.

Menjadi bahaya jika konflik dihindari atau salah satu pihak terus mengalah. Hubungan akan melelahkan dan suasana harmonis yang sesungguhnya sulit tercipta.

Tapi, memang banyak orang salah memandang konflik sehingga orang cenderung menghindari konflik dan tidak mengkomunikasikannya. Akibatnya, salah persepsi yang ada bisa terus berlanjut antara satu sama lain. Hal seperti ini tidak sehat. Harmonis bukanlah tidak ada perbedaan tetapi bagaimana mengharmonisasikan setiap perbedaan yang ada menjadi hubungan yang sehat dan kuat.

☝Ketika Pertengkaran Terjadi

Dalam keluarga harmonis pertengkaranpun kadang terjadi diantara mereka. Sebagaimana hal ini juga mungkin terjadi di keluarga kita. Hanya saja, pertengkaran yang terjadi di keluarga yang dewasa sangat berbeda dengan pertengkaran yang terjadi di keluarga yang tidak dewasa.

Keluarga yang tidak dewasa, mereka bertengkar tanpa aturan. Satu sama lain saling menguasi dan saling mendzalimi. Sedikitpun tidak ada upaya untuk mencari solusi. Yang penting aku menang, yang penting aku mendapat hakku. Tak jarang pertengkaran semacam ini sampai memunculkan caci-maki, kekerasan, atau bahkan pembunuhan.

Berbeda dengan keluarga yang dewasa, sekalipun mereka bertengkar, pertengkaran mereka dilakukan tanpa melanggar aturan. Sekalipun mereka saling sakit hati, mereka tetap menjaga jangan sampai mendzalimi pasangannya. Dan mereka berusaha untuk menemukan solusinya dari pertengkaran ini. Umumnya sifat semacam ini muncul pada keluarga yang lemah lembut, memahami aturan syariat dalam fikih keluarga, dan sadar akan hak dan kewajiban masing-masing.

Apapun kesedihan yang ditimbulkan dari pertengakaran yang kita alami, yakinlah bahwa hal itu merupakan bagian dari ujian hidup.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari).

Renungkan pula bahwa bisa jadi pertengkaran ini disebabkan dosa yang pernah kita lakukan. Kemudian Allah memberikan hukuman batin dalam bentuk masalah keluarga. Perlu untuk menghadirkan perasaan bahwa Allah akan menggugurkan dosa-dosa kita dengan kesedihan yang kita alami. Lalu kita bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Yang Harus Dihindari dalam Pertengkaran Rumah Tangga

Dalam hadis dari Hakim bin Muawiyah Al-Qusyairi, dari ayahnya, bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kewajiban suami kepada istrinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، أَوِ اكْتَسَبْتَ، وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْت

“Kamu harus memberi makan kepadanya sesuai yang kamu makan, kamu harus memberi pakaian kepadanya sesuai kemampuanmu memberi pakaian, jangan memukul wajah, jangan kamu menjelekannya, dan jangan kamu melakukan boikot kecuali di rumah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Hadis ini merupakan nasehat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para suami. Tentu saja, beberapa larangan yang disebutkan dalam hadis ini juga berlaku bagi wanita.

Dari hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati agar:

1. Menghindari kekerasan

Dalam Al-Quran Allah membolehkan seorang suami untuk memukul istrinya ketika sang istri membangkang. Sebagaimana firman Allah di surat An-Nisa:

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan tidak tunduk, nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya..(QS. An-Nisa: 34)

Namun ini izin ini tidak berlaku secara mutlak. Sehingga suami bebas melampiaskan kemarahannya dengan menganiaya istrinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan batasan lain tentang izin memukul,

A. Tidak boleh di daerah kepala

Sebagaimana sabda beliau, “jangan memukul wajah.” Mencakup kata wajah adalah semua kepala. Karena kepala manusia adalah hal yang paling penting. Ada banyak organ vital yang menjadi pusat indera manusia.

B. Tidak boleh menyakitkan

Batasan ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbah beliau ketika di Arafah.

إِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ

“Jika istri kalian melakukan pelanggaran itu, maka pukullah dia dengan pukulan yang tidak menyakitkan.” (HR. Muslim)

Atha’ bin Abi Rabah pernah bertanya kepada Ibnu Abbas,

قلت لابن عباس : ما الضرب غير المبرح ؟ قال : السواك وشبهه يضربها به

Saya pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa maksud pukulan yang tidak menyakititkan?’ Beliau menjawab, “Pukulan dengan kayu siwak (sikat gigi) atau semacamnya.” (HR. At-Thabari).

Termasuk makna pukulan yang tidak menyakitkan adalah pukulan yang tidak meninggalkan bekas, seperti memar, atau bahkan menimbulkan luka dan mengeluarkan darah. Karena sejatinya, pukulan itu tidak bertujuan untuk menyakiti, tapi pukulan itu dalam rangka mendidik istri.

Namun, meskipun ada izin untuk memukul ringan, tidak memukul tentu jauh lebih baik. Karena wanita yang lemah bukanlah lawan yang seimbang bagi lelaki yang gagah. Lawan bagi suami yang sesunguhnya adalah emosinya. Suami yang mampu menahan emosi, sehingga tidak menyikiti istrinya, itulah lelaki hebat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

“Orang yang hebat bukahlah orang yang sering menang dalam perkelahian. Namun orang hebat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seperti itulah yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

A’isyah menceritakan,

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul wanita maupun budak dengan tangan beliau sedikitpun. Padahal beliau berjihad di jalan Allah. (HR. Muslim).

Maksud pernyataan A’isyah, “Padahal beliau berjihad di jalan Allah” untuk membuktikan bahwa sejatinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang pemberani. Beliau pemberani di hadapan musuh, bukan pemberani di hadapan orang lemah.

Beliau tidak memukul wanita atau orang lemah di sekitarnya. Karena memukul orang lemah bukan bagian dari sifat ‘pemberani’.

2. ….bersambung pekan depan, insyaa Allah

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

“Hadits-hadits Yang Memotivasi Perbuatan Baik dalam Keluarga”

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluarganya diantara kalian.” (HR Ibnu Majah)

Abdullah bin Amr bin Ash RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.” (HR Ibnu Majah)

Anas RA berkata : “Kemudian kami memasuki Madinah sepulang dari Khaibar. Aku melihat Rasulullah SAW mendekap Shafiyyah yang berada di belakang beliau dengan menggunakan mantelnya. Kemudian beliau duduk diatas untanya, meletakan lututnya dan menaruh kaki Shafiyyah diatas lututnya sehingga ia bisa naik ke atas unta itu.” (HR Bukhari)

Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah karena satu akhlaknya. Insya Allah ia akan senang dengan sesuatu yang lainnya.” (HR Muslim)

Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik istri adalah yang membuatmu senang saat engkau memandangnya.” (HR Thabrani)

Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Tidak halal bagi seorang istri untuk berpuasa ketika suaminya berada di sisinya kecuali atas izinnya. Dan janaganlah ia membelanjakan nafkah kecuali atas izinnya.” (HR Bukhari Muslim)

Anas bin Malik RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menggauli istri kalian seperti binatang. Hendaknya awali diantara keduanya dengan rangsangan-rangsangan.” Seorang sahabat bertanya :”Apa yang dimaksud dengan rangsangan-rangsangan itu ya Rasulallah?”. Beliau menjawab : “Pelukan hangat dan ucapan-ucapan lembut.” (HR Abu Manshur & Ad-Dailami)

Aisyah RA berkata : suatu saat Rasulullah SAW berkata kepadaku : “Aku tahu saat dimana engkau sedang senang dan benci kepadaku.” Aku bertanya : Dari mana engkau tahu?. Beliau menjawab : “Apabila engkau sedang senang, engkau akan mengatakan ‘Demi Tuhan Muhammad’ dan apabila engkau sedang marah, engkau mengatakan ‘Demi Tuhan Ibrahim’. Aku berkata : “Engkau benar ya Rasulullah..aku tidak mempedulikan nama lain selain namamu.” (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin itu harus cemburu. Dan Allah lebih berhak untuk dicemburui.” (HR Ahmad, Muslim dan Tirmidzi)

Abdullah bin Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Tiga macam orang yang Allah haramkan atasnya surga : peminum arak (pemabuk), pendurhaka orang tua dan seorang dayyuts yaitu orang yang selalu berburuk sangka kepada keluarganya (pasangannya).” (HR Ahmad)

Aisyah RA berkata : Hindun istri Abu Sufyan berkata kepada Rasulullah SAW :” Abu Sufyan seorang yang pelit. Ia tidak memberikan harta yang cukup untuk kebutuhanku dan kebutuhan anak-anakku. Maka aku mengambil darinya di saat ia tidak tahu.” Rasulullah SAW bersabda : “Ambillah secukupnya untukmu dan untuk anak-anakmu dengan cara yang ma’ruf.” (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Dari Muawiyah Al-Qusyairi ia berkata : “Ya Rasulullah, apa hak istri kami atas kami?”. Beliau menjawab : “Memberinya makanan jika kamu makan dan memberinya pakaian jika kamu berpakaian.” (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai)

Abdullah bin Umar RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Jika istri-istri kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke mesjid di malam hari, maka izinkanlah mereka.” ( HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai)

Dari Aswad, ia berkata : Aku bertanya kepada Aisyah RA apa yang dilakukan Rasulullah SAW di rumahnya? Aisyah menjawab : “Beliau menjadi pelayan keluarganya. Apabila waktu shalat tiba, beliau keluar untuk shalat.” (HR Ahmad, Bukhari, Tirmidzi)

Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Apabila seorang istri bersedekah dari makanan yang berasal dari nafkah suaminya tanpa berbuat kerusakan,maka baginya pahala dan usaha suaminya akan diberkahi.” (HR Ahmad, Bukhari, Abu Daud)

Diriwayatkan dari Ummu Salamah RA ia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah SAW : “Ya Rasulullah, apakah aku mendapatkan pahala jika aku berinfak kepada bani Abu Salamah sementara mereka adalah baniku?” Beliau menjawab : “Silakan berinfak untuk mereka dan bagimu pahalanya.” (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim}

Imam Ad-Dzahaby dalam kitab Al-Kabair meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda : “Empat golongan perempuan berada di surga dan empat golongan yang lain berada di neraka. Golongan yang berada di surga : perempuan yang menjaga dirinya serta ta’at kepada Allah dan suaminya, perempuan yang melahirkan banyak anak dan ia shabar menerima nafkah pemberian suaminya yang sedikit, seorang perempuan yang pemalu jika tidak ada suaminya ia menjaga dirinya dan harta suaminya dan jika ada suaminya ia menjaga lisannya (dari perkataan buruk), dan yang keempat seorang perempuan yang suaminya meninggal dan ia memiliki anak-anak yang masih kecil maka ia fokus mengurus anaknya dan memperbaiki kehidupan mereka tanpa menikah lagi karena khawatir tidak bisa fokus pada anak-anaknya. Adapun empat golongan yang berada di neraka : perempuan yang tajam lidahnya kepada suaminya atau omongannya panjang dengan kata-kata yang buruk, jika suaminya tidak ada dia tidak menjaga dirinya jika suaminya ada dia sakiti dengan ucapan-ucapannya. Kedua, perempuan yang membebani suaminya dengan beban yang ia tidak mampu menanggungnya. Ketiga, perempuan yang tidak menutup auratnya dan keluar rumah dengan tabarruj. Keempat, perempuan yang tidak memiliki semangat kecuali untuk makan, minum dan tidur serta tidak memiliki semangat untuk menunaikan shalat, taat kepada Allah, Rasulullah dan suaminya.”          

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Bingkai Keluarga Muslim – 3. Syuro / Musyawarah (lanjutan)

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

Musyawarah adalah suatu upaya bersama dengan sikap rendah hati untuk memecahkan persoalan (mencari jalan keluar) guna mengambil keputusan bersama dalam penyelesaian atau pemecahan masalah.

Mengedepankan musyawarah adalah akhlak seorang muslim.

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS As-Syuro : 38).

Kehidupan berkeluarga adalah kehidupan yang memiliki banyak masalah.Oleh karenanya seorang suami walaupun ia pimpinan dalam keluarga akan tetapi harus melibatkan istri dan anggota keluarga lain dalam memutuskan masalah keluarga. Demikian juga dengan seorang istri, ia harus melibatkan suami dalam urusan-urusan keluarga.

Umar bin Khattab RA mengatakan : “Ketika aku memiliki urusan yang membuatku sibuk memikirkannya, istriku memberikan masukan : Hendaknya engkau melakukan ini dan itu. Aku menyergahnya: Apa yang membuatmu turut campur dengan masalahku ?. Istriku menjawab :’Wahai putra Al-Khattab, engkau ini seorang yang aneh. Tidakkah engkau mengevaluasi dirimu sendiri? Lihatlah bagaimana putrimu mengevaluasi Rasulullah SAW hingga beliau marah sepanjang hari.” {HR Bukhari Muslim}.

Seorang suami tidak boleh meremehkan pendapat seorang istri. Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW sangat menghargai pendapat Khadijah RA yang meneguhkan hati beliau di awal turunnya wahyu dan bagaimana Rasulullah SAW menerima usulan Ummu Salamah dalam perjanjian Hudaibiyah. Kedua ummahatul mukminin ini memberi contoh bagaimana seorang istri yang aktif memberikan masukan dan pertimbangan kepada suaminya, dan usulan cemerlang mereka membawa berkah bagi keluarga dan masyarakatnya.

Diantara nasehat indah Al-Qur’an adalah memberikan perhatian terhadap pentingnya bermusyawarah dan saling ridho diantara suami istri dalam hal-hal yang berhubungan dengan penyusuan anak dan penyapihannya.

Allah SWT berfirman :
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah : 233}.

Jika dalam hal menyusui dan menyapih anak saja seorang istri perlu bermusyawarah dengan suami, apalagi dalam hal-hal yang lebih besar dan lebih berat dari itu.

Demikian juga sunnah Rasulullah SAW menganjurkan para ayah untuk mengajak putrinya bermusyawarah dalam urusan pernikahan mereka. Imam Ahmad meriwayatkan : “Ajaklah istri-istri kalian bermusyawarah dalam urusan anak-anak perempuan mereka.”
Hal ini dikarenakan seorang ibu biasanya lebih tahu tentang anak perempuannya dari pada seorang ayah. Karena sama-sama perempuan, ibu akan lebih mudah memahami orientasi dan perasaan anak gadisnya. Dan anak perempuan lebih terbuka kepada ibunya tentang rahasia-rahasia pribadinya. Sesuatu yang tidak mungkin dibuka kepada kepada ayahnya. (Malamih Mujtama Muslim ; DR Yusuf Al-Qardhawy)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

NASEHAT AYAH KEPADA ANAK

Oleh: Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

Anak adalah dambaan setiap sepasang manusia yang mengikat tali suci untuk meraih ridho Ilahi. Dengannya nasab Islam akan berlanjut, dengannya agama Rasulullah Saw insya Allah akan terus hidup, dan dengannya insya Allah, seluruh alam akan merasakan keberkahan hidup bersama seorang Muslim. Maka terlahirnya seorang anak bukanlah akhir dari sebuah cita-cita, melainkan awal dari sebuah pekerjaan besar nan mulia untuk menumpuk investasi jariyah yang nilainya amat tinggi, mengalahkan investasi materi di dunia.

Untuk inilah sebuah keluarga harus mencurahkan sepenuh jiwanya, bersama do’a kaum muslimin yang mengharapkan kebaikan, melahirkan sebuah proses berkesinambungan, tanpa harus bersedih jika hasil tidak sesuai dengan asa, karena Allah Sang Pencipta hanya akan menilai proses bukan hasil kerja.

Peran seorang ayah begitu penting sebagai imam dalam keluarga, sebagai panutan dalam tindakan, sebagai guru bagi murid-muridnya, yang tidak lain adalah isteri dan anak-anaknya. Begitu pentingnya peran seorang ayah, sehingga satu halaman Al-Qur’an secara khusus mengajarkan kepada seorang ayah nasihat apa yang pantas disampaikan kepada anak-anaknya pada kesempatan pertama seorang anak mampu untuk menyerap ilmu. Allah mengarahkan seorang ayah agar menjadi guru yang memberikan mau’izhoh (pelajaran) inti dan mendasar, agar dari lisannya pertama kali seorang anak mendengarkannya, bukan dari orang lain, meskipun orang lain itu seorang yang shalih, karena keshalihan utama dalam sebuah keluarga harus terpancar dari seorang imam keluarga.

Allah ‘Azza wa Jalla memilihkan sosok Luqman bin Anqa’ bin Sadun untuk menjadi teladan para ayah dalam bab ini, karena ia sosok panutan yang sangat pandai bersyukur akan nikmat-Nya, dan akan kita lihat bagaimana cara Luqman mensyukuri nikmat dikaruniai seorang anak, khususnya puteranya yang bernama Tsaran.
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. [Q.S. 31.12]

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. [Q.S. 31.13]

Inilah inti agama para Nabi, hakikat da’wah para Rasul, dan bangunan awal nan mendasar yang diletakkan di dasar jiwa setiap anak-anaknya. Ketika dasar ini tertanam kokoh dalam relung hati setiap manusia, niscaya pribadinya akan siap untuk menerima syari’at agama yang akan melahirkan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyyah).

Ayah melanjutkan pelajarannya dengan mengingatkan seorang anak untuk mencurahkan perhatiannya untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, wa bil khushus, ibunya. Seorang anak harus belajar mensyukur nikmat Allah, nikmat memiliki ayah dan ibu yang shalih dan shalihah.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” [Q.S. 31.14]

Iman seorang anak adalah kepada Sang Pencipta, bukan kepada ayah dan ibunya. Kalaupun ia berbakti kepada orang tuanya, itu murni karena penghambaannya kepada Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah, bukan karena orang tuanya. Oleh karenanya, ada kalanya orang tua tersimpangkan hidupnya mengkhianati imannya kepada Allah, maka syariat ini mengajarkan umatnya untuk tetap birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua), dan mengedepankan akhlak yang mulia dalam bab mu’amalah sembari sentiasa berusaha mengingatkan untuk kembali ke jalan yang lurus (ash-shirathal mustaqim). Pelajaran ini harus disampaikan oleh seorang ayah.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Q.S. 31.15]

Keyakinan bahwa Allah sentiasa mengawasinya (muraqabatullah), memiliki kunci-kunci keghaiban sehinga mengetahui hingga hal-hal yang terkecil sekalipun, meskipun sehelai daun yang gugur, meskipun sebutir biji yang jatuh dalam kegelapan malam, meskipun ia tersimpan rapat di hati manusia. Allah telah menuliskannya di Lauh al-Mahfuzh, dan Allah akan memberikan balasan dengan Maha Sempurna dan Maha Adil. “(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. 31.16]

Perhatikanlah, bagaimana taujih rabbani Allah kepada seorang ayah untuk membangun kekuatan jiwa seorang anak. Saat kekuatan jiwa itu telah kokoh, barulah ayah mengajarkan dan membiasakan seorang anak tata cara ibadah yang benar sebagai wujud syukur, dan kunci semua ibadah adalah shalat. Shalat adalah ibadah yang pertama kali dihisab, dan menentukan apakah amalah kebaikan lainnya akan dihisab ataukah tidak tergantung baiknya shalat. Maka seorang anak diajarkan untuk tidak sekedar memahami bahwa shalat adalah kewajiban, akan tetapi shalat harus dinikmati, dinanti, dan dirindukan. Ia menjadi sarana seorang manusia untuk berkhalwat kepada Sang Pencipta, realisasi mi’raj ruhani. Kehidupan adalah waktu yang disiapkan Allah untuk menegakkan shalat, dan sembari menunggu waktu shalat, manusia mengisi waktunya dengan bekerja, belajar, mengajar, dan berdakwah, bukan sebaliknya, bukan shalat yang menanti dirinya. Persepsi seperti inilah yang akan melahirkan pribadi yang mampu shalih tidak hanya di dalam masjid, tetapi dalam seluruh praktik kehidupannya di luar masjid.

“Hai anakku, dirikanlah salat dan serulah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Q.S. 31.17]

Kesombongan, menolak kebenaran dan merendahkan manusia, tidak mungkin akan terlahir dari pribadi yang kokoh dasar imannya dan terlatih dalam kesinambungan ibadah yang benar. Maka tidak akan sulit bagi seorang ayah mengajarkan ilmu ini kepada anaknya, anak  yang akan semakin tawadhu’ seiring ilmu yang semakin banyak yang ia terima, anak yang tidak memilih-milih sahabat kecuali karena pertimbangan keshalihannya, anak yang bagus tutur katanya, karena memiliki motivasi hidup yang benar, yang akan menyuntikkannya energi asa yang tak pernah putus, bahkan berlimpah sehingga mampu dibaginya kepada alam semesta.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Q.S. 31.18] “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” [Q.S. 31.19].

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Potret Kasih Sayang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam Dalam Pendidikan Anak (3)

Pemateri: Indra Asih

Materi sebelumnya dapat dibaca di:
Bag. 1: http://goo.gl/iWTkC0
Bag. 2: http://goo.gl/C268Sp

***

3. Bahagialah Memiliki Anak Perempuan

Mereka yang mempunyai anak perempuan, ada jaminan dari Allah yaitu surga dan dijauhkan dari api neraka.

Pada masa jahiliyah anak perempuan adalah aib bagi keluarganya, ketika anak perempuan lahir seketika itu langsung di kubur hidup-hidup.

Namun setelah hadirnya Islam ditengah-tengah mereka, maka Islam mengangkat derajat perempuan, dan memberi jaminan surga bagi orang tua yang ikhlas merawat anak perempuan serta menjadi dinding yang mengahalangi dari api neraka.

Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bersabda,

 “Barangsiapa mempunyai anak perempuan kemudian tidak membebaninya, tidak melemahkannya, dan tidak mengutamakan anak laki-laki atasnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”
(HR Abu Dawud)

Aisyah berkata, “Seorang wanita disertai dua anak perempuannya datang meminta sesuatu dariku. Aku tidak mempunyai apa-apa selain selain buah kurma yang kuberikan kepadanya. Wanita itu kemudian membelahnya dan memberikan kepada dua anaknya, lalu pergi.
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang, aku menceritakan hal itu.
Beliau bersabda, ‘Barangsiapa diuji dengan anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka perbuatannya itu dapat menjadi dinding yang menghalanginya dari api neraka.”
(HR Bukhari, Muslim dan Tirmidzi )

4. Mengajari Anak Ibadah Sejak Dini

Banyak riwayat yang menunjukkan bahwa cara Rasulullah mengajari anak ibadah sejak dini, dengan mengajak mereka ke masjid. Disebutkan dalam riwayat bahwa, sering kali saat beliau bermaksud memperlama shalatnya, terdengar tangis bayi yang menyebabkan beliau mengurungkan niatnya dan mempercepat shalatnya karena kasihan kepada ibu si bayi tersebut.

Ketika cucunya, Umamah putri Zainab, menangis, beliau menggendongnya sambil terus melakukan shalat. Ketika sampai pada sujud beliau meletakkannya dan kembali menggendongnya saat berdiri.
(HR Bukhari dan Muslim)

Suatu ketika beliau sedang bersujud dalam shalat. Lalu Hasan, cucu beliau, naik ke atas punggungnya. Beliau lalu memperlama sujudnya setelah selesai shalat beliau menjelaskan kepada para sahabatnya, “Cucuku naik ke atas punggungku (saat shalat). Aku tidak ingin mengangkat kepalaku sampai dia turun (dari punggungku).”
(HR Ahmad dan Nasa’i)

Di lain kesempatan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa di antara kalian yang menjadi imam shalat bagi manusia maka hendaknya dia meringankan shalatnya. Sebab di antara mereka ada orang tua, anak kecil, orang yang sakit dan orang yang memiliki keperluan.”
( HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)

Dan kepada Mu’adz ibn Jabal yang memperlama shalat ketika menjadi imam, beliau pun menegur, “Apakah kamu ingin membuat fitnah hai Mu’adz?”
(HR Bukhari dan Muslim)

Jika kita perhatikan, hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa cara Rasulullah mengajari anak-anak dengan mengajaknya ke masjid, dengan demikian apa yang anak-anak lihat di dalam masjid adalah orang yang sedang shalat atau ibadah lainnya.

Secara tidak langsung proses pendidikan dalam mengajari anak ibadah sejak dini sangat tepat karena anak-anak langsung praktek dengan apa yang dilakukan oleh orang tuanya yang sedang shalat.

5. Berbahagia Mendidik Anak

Mendidik anak itu menyenangkan, hal ini dapat dirasakan oleh orang tua yang menjadikan anak sebagai anugerah besar yang Allah berikan, di samping itu juga anak yang lahir adalah amanah dari Allah, sehingga motivasi dalam mendidik anak adalah mendapatkan ridha Allah.

Cinta seorang bapak atau ibu kepada anak-anaknya diwujudkan dalam bentuk pemeliharaan, pembimbingan, pengarahan, dan pendidikan yang baik terhadap anak-anaknya. Sehingga mereka tumbuh menjadi muslim yang baik.

Jabir bin Samurah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda , “Usaha seseorang mendidik anaknya pasti lebih baik dibandingkan dengan ia bersedekah satu sha’.”
(HR Tirmidzi)

Ayyub bin Musa meriwayatkan dari ayahnya, dari kakek-nya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada pemberian yang lebih utama dari seorang ayah kepada anaknya daripada pendidikan yang baik,”
(HR Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menaruh perhatian yang demikian besar terhadap proses pertumbuhan anak sejak kecil.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruh para orangtua memberikan pendidikan dan pengawasan yang baik agar tumbuh sifat-sifat terpuji dan sikap santun dalam diri anak.

Fase ini merupakan fase yang oleh psikologi modern dianggap penting dalam pembentukan kepribadian anak. Fase ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku dalam menghadapi kehidupan di masa selanjutnya.

Kesimpulan:

Menggambarkan sosok Muhammad sebagai teladan dalam setiap lini kehidupan, tak cukup waktu untuk menjelaskannya. Tak pernah habis menceritakan sosok Muhammad sebagai teladan yang agung.

Jika kita mampu mengambil hikmah dan mencontoh dari gambaran teladan di atas dalam mendidik anak, hal tersebut merupakan prestasi yang luar biasa.

Wallahu A’lam bi al-Shawwab.

KETIKA TAK ADA CINTA DALAM RUMAH TANGGA

Pemateri: Indra Asih

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (yaitu sakinah.pen), dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” ( Ar Rum :21)

Meskipun sepasang suami istri tinggal satu atap, satu rumah, dan satu keluarga, mereka berdua pasti memiliki titik-titik perbedaan, kekurangan-kekurangan, dan tabiat-tabiat yang tidak disukai oleh pasangannya. Terkadang, cara makan dan minum, berbicara, tidur, dan banyak perilaku lainnya yang tidak disukai pasangan.

Oleh karena itu, terkadang ada suami atau istri yang tidak atau belum mencintai pasangannya. Mereka butuh waktu untuk menumbuhkan benih-benih cinta antara mereka berdua. Karena cinta adalah perkara hati yang seseorang tidak memiliki kekuasaan untuk seenaknya mengontrol hatinya.

Jika rumah tangga belum atau tidak ditumbuhi bunga-bunga cinta yang menebar keindahan dan keharuman, maka jangan terburu-buru membuka pintu perceraian atau merasa pesimis dengan kebahagiaan rumah tangganya.

Ingatlah bahwa cinta itu terlahir dan bisa bertahan ketika ada 3 faktor, yairu:

a. kecocokan setelah merasakan keindahan pasangan dan keluhuran sifat-sifatnya
b kecocokan batin
c. kebaikan dari sang pasangan

Untuk meraih dan mempertahankan 3 faktor tersebut, tentu membutuhkan waktu dan usaha-usaha yang harus ditempuh oleh suami istri.
Di antara langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:

1. Seorang suami atau istri harus bisa memahami perbedaan antara mereka berdua yang terkadang saling berbenturan dengan diiringi penunaian hak dan kewajiban kedua belah pihak.

2. Seorang suami atau istri harus menjauhi dosa dan maksiat, karena dosa dan maksiat adalah sebab utama timbulnya kebencian dan matinya cinta.

Seorang ulama salaf berkata, “Ketika aku berbuat maksiat kepada Allah swt, aku mendapatkan pengaruh maksiat pada perubahan sifat istriku yang mulai membenciku”.

Termasuk dosa dan maksiat yang sering di lakukan adalah tidak menunaikan hak dan kewajiban suami istri.

3. Suami harus pandai mengambil hati sang istri dengan berlemah lembut, membuka pintu maaf untuk kesalahan-kesalahan istri khususnya masalah duniawi, menjaga penampilan dan kebersihan, menyempatkan diri untuk duduk mesra, memahami emosional wanita yang terkadang labil, menampakkan cintanya dengan perkataan dan perbuatan, saling membantu untuk beribadah kepada Allah, bercanda dengannya, meluangkan waktu untuk membantu pekerjaan istri, dan tidak mencela atau menyakitinya.
Teladan dalam hal ini adalah Rasulullah saw.

Coba kita perhatikan, bagaimana usaha Rasulullah saw dalam menumbuhkan cinta dalam rumah tangga.

Rasulullah saw  memanggil Aisyah dengan namanya yang paling bagus, beliau berkata kepada Aisyah, “Wahai ‘Aisy!”, dan terkadang memanggilnya dengan “Humaira’.

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Aisyah ia berkata, “Rasulullah saw mencium salah satu istrinya sedangkan beliau saw sedang puasa, kemudian Aisyah tersenyum”, maksudnya Rasulullah saw mencium dirinya.

Rasulullah mengungkapkan cintanya dengan lisan, Rasulullah berkata kepada Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, aku bagimu seperti Abu Zar’in kepada Ummu Za’in”

Rasulullah saw bercanda mesra dengan istri-istrinya, Imam An Nasa’i meriwayatkan  hadits dari ‘Aisyah ra beliau berkata, “Pada suatu hari, Saudah mengunjungi kami dan Rasulullah saa duduk di antara kami berdua dan meletakkan kaki beliau di atas pangkuanku dan pangkuannya, aku pun membuat makanan dan aku memerintahkan Saudah untuk memakannya, akan tetapi dia enggan, lalu aku berkata kepadanya, “Makanlah, atau aku akan melumurkannya ke mukamu”, maka aku lumurkan makanan tersebut ke mukanya, kemudian Rasulullah saw mengangkat kakinya dari pangkuan Saudah agar dia membalas perlakuanku tadi, maka dia pun mengambil makanan dan melumurkannya ke mukaku, dan Rasulullah saw tertawa.”

4. Istri pun harus berusaha merengkuh hati suami dengan menyambut kedatangan suami dengan kehangatan, berhias untuknya, bercanda dengannya, memuji dan mensyukuri kebaikannya, bersegera minta maaf kepadanya ketika berbuat salah, taat kepadanya, dan membantu meringankan pekerjaan suami.

Contoh berikut beberapa wanita teladan dalam berusaha menumbuhkan benih-benih cinta dan menjaga kelestariannya.

Istri Abu Muslim Al Khaulani ketika suaminya datang, maka dia langsung menyambutnya,  menanggalkan pakaiannya dan sandalnya, kemudian menghidangkan makanan kepadanya.

Coba perhatikan bagaimana Shafiyah dan ‘Aisyah bekerjasama untuk meraih kecintaan Rasulullah saw.
Suatu hari Rasulullah saw marah kepada Shafiyah, lalu Shafiyah berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, bersediakah kamu mengambil giliranku agar Rasulullah saw meridhaiku?

5. Berdoa kepada Allah swt agar ditumbuhkan dan dipertahann benih-benih cinta di rumah tangganya atau meminta kepada orang-orang shalih untuk mendoakannya.
Seorang wanita mendatangi Rasulullah saw dan mengeluhkan suaminya, maka Rasulullah  saw bertanya kepadanya, “Apakah kamu membencinya?”,
Wanita tersebut, “Ya”. Lalu
Rasulullah berdoa untuk mereka berdua, “Ya Allah satukan hati mereka, tanamkan kecintaan di antara mereka berdua.” Akhirnya mereka berdua pun saling mencintai.

6. Jika langkah-langkah di atas di tempuh, dan belum membuahkan hasil, maka jangan langsung menempuh jalan perceraian, akan tetapi masing-masing pihak berusaha memberikan kasih sayang kepada pasangannya, dengan harapan akan tumbuh benih-benih cinta antara mereka berdua atau muncul kembali benih-benih cinta yang nyaris padam.

Hal ini berdasarkan sebuah kisah ketika seorang lelaki mendatangi Umar bin Khattab ingin bermusyawarah mengenai keinginannya untuk menceraikan istrinya, maka
Umar berkata kepadanya, “Jangan kamu ceraikan dia!”
Lelaki tersebut menjawab, “Aku tidak mencintainya.”
Umar berkata, “Apakah setiap pernikahan itu didasari cinta? Manakah kasih sayangmu? Jika kamu tidak mencintainya maka kasihanilah dia, kecuali jika kamu tidak menginginkannya dan tidak mencintainya dan dia meminta cerai, maka ini adalah perkara lain.”

Jika tidak tumbuh benih-benih cinta juga, bahkan tidak mungkin mempertahankan keutuhan rumah tangganya, maka tidak mengapa menempuh jalan perceraian, dengan syarat setelah menempuh tiga langkah dalam menyelesaikan problematika yaitu
1. nasihat
2. pisah ranjang
3. pukulan yang mendidik.

Cinta dalam rumah tangga  berpahala jika dibangun di atas cinta karena Allah dan tidak mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Wallahu A’lam.

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Ibu Mulia Itu, Ibunda Kita Semua

 Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

يا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ وَ خَلَقَ مِنْها زَوْجَها وَ بَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثيراً وَ نِساءً وَ اتَّقُوا اللَّهَ الَّذي تَسائَلُونَ بِهِ وَ الْأَرْحامَ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقيباً (1)

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan- mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki- laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan) mempergunakan (nama- Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan) peliharalah (hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.( An-Nisaa: 1 )

Saat nabi Adam As lelap dalam tidurnya, Allah SWT ciptakan seorang perempuan. Saat ia terbangun, ia mendapati seorang perempuan anggun duduk disamping kepalanya. Para malaikat bertanya kepadanya siapakah gerangan perempuan itu? Nabi Adam AS menyebutkan namanya Hawa. Para malaikat bertanya lagi, mengapa Allah SWT menciptakannya? Dan inilah jawaban nabi Adam AS yang sangat menakjubkan “Agar dia menjadikanku nyaman/tenang dan aku menjadikannya nyaman/tenang.” Jawaban nabi Adam As ini Allah abadikan dalam surat Ar-Ruum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Perjalanan menarik selanjutnya adalah tentang tujuan diciptakannya Adam dan Hawa. Al-Qur’an menjelaskan bagaimana rajinnya setan mengganggu keduanya agar mau melanggar aturan Allah SWT yaitu memakan buah yang dilarang Allah SWT. Bujuk rayu indah terus dilancarkan setan hingga ia mengatakan “sesungguhnya aku hanya memberikan nasehat untuk kalian (agar memakan buah yang dilarang).” Tidak ada kesalahan Hawa dalam peristiwa ini karena secara tegas Al-Qur’an menjelaskan bahwa yang mengajak keduanya memakan buah yang dilarang adalah setan. Bukan Hawa yang mengajak Adam As.

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya…” (Al-A’raf:20)

Peristiwa selanjutnya adalah peristiwa penuh hikmah yang menjadi teladan bagi kita semua.
Apakah Adam As menyalahkan Hawa saat Allah menghukum mereka?
Apakah Hawa yang menyalahkan Adam saat Allah menghukum mereka?
Jawabannya “tidak.” Sama sekali tidak.
Bahkan keduanya saling menguatkan setelah sama-sama bertaubat kepada Allah SWT. ”

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf:23).

 Tidak ada saling menyalahkan dan tidak ada saling mengandalkan dalam bertaubat kepada Allah SWT. Keduanya mengakui kesalahannya dan keduanya memohon ampunan kepada Allah SWT. Hawa tidak mengatakan bahwa ia hanyalah makmum dan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada imam akan tetapi ia turut bertaubat kepada Allah SWT tanpa menyalahkan siapapun. Maka Allah SWT sempurnakan ni”matNya dengan memberikan ampunan dan petunjuk kepada keduanya.

“Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.” (Tahaa : 122).

***

Ibu…
adalah kata yang takkan pernah habis dieja dalam kehidupan seseorang.
Ibu…
adalah kata yang selalu lekat dengan siapapun bahkan saat ia telah tiada.
Ibu….
adalah sosok yang selalu ada karena semua orang memiliki fitrah untuk mengakui dan menyayanginya.
Tanyalah anak kecil yang belum banyak melakukan dosa. Katakan padanya bahwa ia tidak memiliki ibu, ia pasti akan menangis. Karena demikianlah fitrah berada dalam jiwa setiap manusia.

Berbicara tentang ibu, tak ada teladan terbaik untuk mengenal dan mempelajari sosoknya selain kita mengamati perjalanan hidup ibunda manusia karena ia adalah ibu dari semua ibu.
Ibu hadir untuk membawa ketenangan dan kenyamanan. Demikian nabi Adam As menjawab pertanyaan malaikat ketika mereka bertanya untuk apa Hawa diciptakan. Secara natural, sikap lembut kaum perempuan muncul untuk membawa ketenangan dan kenyamanan.

 Bagaimana seorang perempuan mampu menempatkan sikap lembut penuh kasihnya untuk kenyamanan dan ketenangan, sangat ditentukan oleh interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pernahkah kita melihat seorang perempuan yang bersikap dingin, kaku, tidak ramah, kurang romantis, dan  tidak pandai bersolek? Jika itu adalah anda, saudara anda atau istri anda, ketahuilah bahwa Allah SWT memberikan fitrah sama kepada setiap perempuan untuk mengoptimalkan fitrah perempuannya. Ia hanya perlu diberi wawasan, diberi bekal, diberi modal dan dibiasakan untuk menjadi perempuan sesuai fitrahnya. Karena ibunda Hawa memberi teladan bahwa ia hadir untuk membawa ketenangan dan kenyamanan.

Ibu hadir untuk menjadi mitra ayah.

Sinergi dan kekompakan Adam As dan Hawa menjadikan setan begitu iri bahkan hasad. Tak rela melihat keduanya hidup bahagia di surga, setan berusaha sekuat tenaga menggelincirkan keduanya agar kebahagiaan keduanya porak poranda. Dan hasad setan berlaku sepanjang masa, ia perlakukan sama kepada anak cucu Adam As dan Hawa. Jika hari ini banyak sekali kita dapatkan persoalan yang terjadi dalam rumah tangga kita dengan alasan apapun, maka sadarilah bahwa masalah itu akan hilang dalam waktu sesaat ketika ayah dan ibu mampu bersinergi dan kompak menghadapi masalah. Mungkin tidak diperlukan perubahan fisik tapi kadang yang diperlukan hanya cara berfikir. Menyadari bahwa sesungguhnya masalah itu bukan masalah, tetapi karena kita menganggapnya masalah maka jadilah ia masalah. Nabi Adam As dan ibunda Hawa memberi teladan akan sinergi dan kekompakan ayah ibu.

Ibu hadir untuk menguatkan ayah saat masalah melanda keluarga.

Ini bukan tentang siapa yang salah. Ketika Allah SWT memberikan hukuman/kesulitan kepada Adam As dan Hawa, tak pernah terlintas dalam fikiran ini kesalahan siapa? Akan tetapi keduanya menyadari bahwa ini masalah bersama. Maka mari sama-sama kita cari jalan keluar bersama.

“Dan mulailah keduanya menutupi aurat mereka dengan daun-daun di surga…”(Al-A’raf:22).

Ibu dan ayah perlu sama-sama kuat dan giat menghadapi masalah di keluarga. Tanpa harus berfikir siapa yang menyebabkan masalah ini muncul. Masalah seringkali menjadi semakin runcing ketika kesalahan ditumpukan kepada ayah sehingga ibu merasa di atas angin atau ditumpukan kepada ibu sehingga ia merasa sangat terpuruk. Namun ibunda Hawa memberikan teladan bahwa segera keluar dari masalah dan carilah solusi bersama.

Ibu berada di garda depan dalam memohon ampunan dan perlindungan Allah SWT.

Taubat dan do’a dilantunkan bukan hanya oleh nabi Adam As akan tetapi dilantunkan bersama ibunda Hawa. Keduanya memohon ampun kepada Allah SWT. Diluar kekompakan ayah ibu dalam berdo’a kepada Allah, do’a ibu memiliki keistimewaan tersendiri. Do’anya didengar dan dijamin Allah SWT untuk dikabulkan sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah riwayat tentang kisah do’a seorang ibu di zaman nabi Musa As.

Pada suatu ketika, Musa A.S bertanya kepada Allah Azza wa Jalla, “Ya Allah, siapa yang akan menjadi sahabatku di surga?”  Allah menjawab “Seorang tukang daging.” Musa pun terkejut mendengarnya! “Kenapa seorang tukang daging menjadi sahabatku di surga?” Kemudian dia bertanya kepada Allah “Dimana aku bisa menemukan orang ini?” Allah memberitahunya bahwa orang ini ada di tempat demikian dan demikian. Dan Musa A.S. pergi menemui tukang daging ini. Sesampainya disana, ternyata dia sedang memotong daging dagangannya. Musa A.S. berpikir “Apa yang begitu spesial tentang orang ini?” Ketika senja tiba dan dia selesai menjual daging-dagingnya, pria ini memungut sepotong daging dan membawanya pulang. Musa A.S. mulai mengikuti pria ini sampai ke rumahnya dan berkata padanya “Aku seorang pengelana. Akankah kau menerimaku sebagai tamu?” Orang itu berkata “Silahkan masuk.” Jadi dia mempersilahkan Musa A.S. ke dalam rumahnya, dan Musa A.S.mulai mengamati pria ini. Dia melihat pria ini mengambil sepotong daging yang dia bawa, kemudian mencuci dan memotongnya,  memasaknya, dan menempatkannya di atas piring. Dan dari rak yang tinggi di ruangan itu, dia mengambil sebuah keranjang dan menurunkannya. Kemudian dia mengambil kain yang basah, dan dari dalam keranjang itu ternyata ada seorang wanita tua. Kemudian dia menggendong wanita tua itu, bagaikan seseorang menggendong bayi.

Kemudian dia mengambil daging yang telah dimasaknya, dan menyuapi wanita tua itu (dalam riwayat yang lain dikatakan dia mengunyah dagingnya baru menyuapi wanita tua itu). Dan setiap kali wanita itu selesai mengunyah, dia mengambil kain yang basah dan menyeka bersih mulut wanita itu, begitu seterusnya. Ketika makanannya sudah habis, dia membersihkan mulut wanita itu, menaruhnya kembali ke dalam keranjang, dan menaruh keranjang itu kembali di rak yang tinggi. Musa A.S. menyadari bahwa setiap kali pria itu menyuapinya, wanita itu membisikinya sesuatu. Jadi dia bertanya padanya “Siapakah wanita tua itu dan apa yang dibisikkannya padamu, saudaraku?” Pria itu berkata “Dia ibuku. Aku sangat miskin sehingga tidak dapat membeli makanan untuk dimasak di rumah. Jadi aku mengambil sisa-sisa daging di tempat kerja dan membawanya ke rumah untuk dimasak Dan karena ibuku sangat tua dan lemah, sedangkan aku tidak punya uang untuk membeli budak/pembantu, jadi aku melakukannya seorang diri.” Kemudian Musa A.S. bertanya “Jadi apa yang dibisikkannya kepadamu setiap kali kau menyuapinya?” Pria itu berkata “Dia berdo’a untukku: ‘Ya Allah, jadikan anakku menjadi sahabat Musa di surga.’”

Subhanallah, inilah kekuatan do’a seorang ibu.

Ibu hadir untuk merawat, membesarkan dan membimbing anak-anaknya.

Dalam kisah lain kita mengetahui bahwa ibunda Hawa melahirkan anak yang banyak dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Riwayat menyebutkan bahwa di antara putra-putri nabi Adam As ada yang rupawan, cantik, tidak terlalu rupawan, tidak terlalu cantik, ada yang cerdas, pintar, juga tidak terlalu cerdas dan pintar. Semua membawa kepribadian masing-masing. Diantara mereka ada yang sholih solihah namun ada juga yang berbuat fujur (menyimpang).

Tidak ada ibu yang menginginkan anaknya berbuat salah atau jahat.

Seluruh ibu pasti menginginkan anak-anak yang baik, solih, solihah, cerdas, pintar dan maju. Dan setiap ibu akan berjuang demi keberhasilan anak-anaknya. Jika ada di antara anak yang tumbuh tidak sesuai dengan keinginan orang tua,  (jika ibu sudah maksimal membimbing dan merawat anaknya) maka tidak perlu kita menyalahkan ibu. Karena demikianlah Allah SWT memberikan taqdir  yang berbeda kepada setiap manusia. Yang terpenting adalah setiap ibu berusaha maksimal merawat, mendidik dan membimbing anak-anaknya.

Dan ibunda Hawa menjadi teladan bagaimana ia berusaha maksimal merawat dan mendidik anak-anaknya, walau ada diantara mereka yang tidak sesuai dengan harapan yaitu tidak taat dengan aturan Allah SWT.

***

Ibunda Hawa adalah ibu dari para ibu, yang perjalanan hidupnya Allah SWT abadikan dalam Al-Qur’an agar menjadi teladan untuk para ibu. Menjadi teladan bagi para ayah bagaimana berinteraksi dengan pasangan agar ia menjadi ibu yang hebat.

Ibunda Hawa adalah ibu yang mulia memberi ketenangan kepada suaminya. Namun kemuliaan itu ia dapatkan karena ia pun mendapatkan ketenangan dari suaminya.

Ibunda Hawa adalah ibu yang menyadari bahwa do’anya didengar Allah SWT. Oleh karenanya ia turut berdo’a bersama suaminya memohon ampunan dan bimbingan dari Allah SWT.

Ibunda Hawa adalah ibu yang melahirkan banyak anak, merawat, mendidik dan membesarkan mereka hingga kemudian Allah SWT menetapkan takdir untuk masing-masing anaknya. Tidak ada kutukan atau sumpah serapah bagi anak yang tumbuh tidak sesuai harapan, karena bukan itu tugas seorang ibu. Kembalikan semua kepada Allah SWT.

Ibunda Hawa adalah symbol kesetaraan dan persaudaraan. Bahwa umat manusia berasal dari ibu yang satu. Tak layak seseorang atau sekelompok orang merasa lebih utama
dari yang lainnya. Tak patut manusia saling bermusuhan karena sesungguhnya mereka bersaudara.

Ibunda Hawa adalah ibu peradaban. Ibu yang tidak hanya hadir untuk anak cucunya akan tetapi hadir untuk generasi yang sangat panjang. Ibu peradaban adalah ibu yang tidak hanya siap dengan kuantitas tapi juga siap dengan kualitas.

***

Saat banyak orang merayakan hari ibu, marilah kita memaknai kembali arti kata “IBU” dengan meneladani ibunda manusia “Hawa”. Seyogyanya momen hari ibu kita jadikan momen untuk semua elemen keluarga mencoba mengejawantahkan makna kata “IBU”.

Para ibu berusaha menjadi ibu mulia seperti yang dicontohkan ibunda Hawa.
Para ayah membantu para ibu untuk menjadi ibu hebat, berkepribadian seperti ibunda Hawa.
Anak cucu meningkatkan khidmah dan perbuatan baik tak kenal lelah untuk mendapatkan ridho ibu. Menjadikan ridhonya sebagai pintu-pintu keberkahan dan kebaikan dunia dan akhirat.

Selain hari ini, hari ibu berada di sepanjang hidup kita. Kalaupun sebagian orang secara khusus menjadikan hari ini sebagai hari ibu, maka itulah hari dimana kita terus bersyukur, bermuhasabah, dan merencanakan kebaikan-kebaikan yang akan kita lakukan kepada ibu kita.

Sudahkah hari ini kita menyapa dan mendo’akan ibu kita???

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Mendidik Anak Cinta Al-Qur’an

Pemateri: Ustzh. DR. Hj. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

Anak sebagai karunia dari Allah, merupakan rahmat dan rizki yang dinanti para orang tua. Karena anak adalah permata hati yang dengan keshalehannya bisa membahagiakan kedua orang tua di dunia dan di akhirat .

Allah berfirman:
 رحمة الله وبركاته عليكم
Artinya : ” itu adalah rahmat dan berkah Allah curahkan kepadamu” ( QS. 11:73 )

Amal shaleh anak bisa menjadi sedekah jariyah yang pahalanya tidak akan terputus hingga hari kiamat tiba. Sebab keberadaan anak shaleh dikarenakan adanya pengorbanan dan perjuangan yang besar dari para orang tua dalam mendidiknya tanpa kenal waktu.
Rasulullah bersabda:
 اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له
Artinya: ” Apabila anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara , yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya” ( HR. Muslim ).
Pantaslah jika anak adalah milik yang paling berharga , menjadi aset yang paling bernilai bagi para orang tua di dunia dan akhirat. Karena itu wahai para orang tua berilah anak nikmat Allah yang teragung yaitu pendidikan mencintai Alquran.
Allah berfirman:
 الرحمن. علم القران.
Artinya: ” Allah Yang Maha Penyayang . Telah mengajarkan Alquran”( QS. 55 : 1-2 ).
Pentingnya pendidikan anak mencintai Al-Quran telah diwasiatkan Rasulullah SAW. kepada para orang tua dengan sabdanya:
 ادبوا اولادكم على ثلاث خصال : حب نبيكم وحب ال بيته وتلاوة القران فان حملة القران في ظل عرش الله يوم لا ظل الا ظله.
Artinya : ” Didiklah anakmu kepada 3 perkara yitu mencintai nabimu, mencintai keluarganya, dan ( mencintai) membaca Al-Qur’an, karena sesungguhnya pelaku Al-Qur’an akan berada di bawah naungan Arsy Allah saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya” ( HR. Thabrani ).

Mengapa anak harus dididik mencintai Rasulullah, keluarganya dan mencintai Al-Quran ? Karena dalam konsep Islam, anak harus disiapkan menjadi pemimpin yang beriman kokoh, beribadah benar, berakhlak mulia, berwawasan pengetahuan yang luas dan bermanfaat , sehat, mandiri, dan menjadi pejuang dalam melaksanakan dan menegakkan nilai2 Islam hingga kejayaaannya. Merekalah yang akan menjadi pemimpin bagi orang2 yang bertakwa.

Mendidik anak cinta alquran itu dimulai dengan cinta membacanya, cinta menghafal dan mengulangnya, cinta memahami ayat2-Nya, hingga cinta untuk mengamalkan dan berdakwah kepadanya. Urgensi mendidik anak cinta Al-Qur’an :
1. Mendidik anak selalu dekat dengan Allah dan dekat dengan wahyu-Nya.

2. Melatih kecerdasan dan kekuatan hafalannya.

3. Mendidik anak berjiwa kuat agar mampu mengendalikan nafsunya.
 اذا تليت عليهم اياته زادتهم ايمانا
Artinya: “Apabila dibacakan alquran kepada mereka maka bertambahlah imannya” ( QS. 8 : 2 )

4. Mendidik anak berakhlak mulia.

5. Menjaga anak dari penyakit hati dan penyimpangan moral.

6. Mempersiapkan anak lebih dini untuk memiliki potensi menjadi tokoh besar.

7. Menyibukkan anak pada kegiatan yang bermanfaat.

8. Menyiapkan anak bahagia di dunia dan di akhirat.

9. Bernilai sedekah jariah bagi orang tua.

10. Menjadi syafaat bagi anak dan orang tuanya.

Kiat mendidik anak cinta Al-Qur’an:
1. Keteladanan dari kedua orang tua.
2. Banyak berdoa kepada Allah.
3. Memberikan motivasi kepada anak.
4. Disiplin dalam mengajarkan alquran ; membaca, menghafal dan mengamalkan.
5. Banyak memperdengarkan tilawah quran dari qari terbaik.
6. Melekatkan anak kepada guru alquran ( ahli alquran yang fashih, hafidz dan berakhlak alquran ).
7. Menciptakan lingkungan yang kondusif.
8. Memberikan apresiasi dan tidak memberikan sangsi.
9. Bertahap sesuai kemampuan anak.
10. Menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.

Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan dalam upaya kita mewujudkan anak cinta alquran, amin

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Pernikahan, Cara Allah SWT Memuliakan Wanita (bag-2, selesai)

Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha,ST

Materi bag-1 bisa dibaca melalui tautan berikut …. http://www.iman-islam.com/2015/12/pernikahan-cara-allah-swt-memuliakan.html?m=1

Pernikahan adalah cara Allah Swt memuliakan setiap wanita beriman nan berakal. Ia menjadikan dasar iman untuk bergerak dan membuat pilihan kehidupan sehingga ia meraih kemuliaan dengannya. Pilihan untuk menikah setelah kehadiran niat untuk menjadi wanita mulia tentu akan mendapatkan kemudahan dan kebaikan dalam seluruh urusannya. Ada saja kemudian cara Allah Swt meninggikan maqam wanita mukminah agar ia tetap berada dalam kemuliaannya, bersama ilmu dan penghayatan dalam ber-Islam.

Pernikahan sejatinya untuk menguatkan keimanan yang telah bersemayam di dalam dada, sehingga memperhatikan keimanan pasangan akan mendukung pemuliaan wanita.[1] Ia merupakan ikatan suci yang tidak layak dirusak dan dianggap sebelah mata, sehingga wanita yang diceraikan sebelum disentuh ditetapkan untuknya ½ dari mahar yang telah dikabarkan, tanpa kewajiban idah.[2] Benar bahwa Islam memberikan jalan keluar untuk dapat menikahi wanita lebih dari satu, namun prinsip keadilan akan memberikan suaminya keselamatan di dunia dan akhirat.[3] Mahar adalah satu di antara bentuk keseriusan tekad untuk menjaga kemuliaan wanita.[4]

Pernikahan sejatinya untuk mendapatkan sepasang manusia yang berkualitas dan siap menggapai ridho Ilahi. Ingatkah kita bagaimana Nabi Syu’aib a.s. menguji kualitas Nabi Musa a.s selama 8-10 tahun lamanya, sebelum akhirnya dia yakin untuk menjadikannya suami untuk anak wanitanya tersayang?[5] Sedemikian ketatnya seleksi pasangan hidup sehingga tidak diharapkan terlintas sedikitpun keinginan berpisah, bahkan perpisahan menjadi dipersulit agar pernikahan tidak dianggap permainan.[6]

Pernikahan sejatinya untuk menjaga keberlangsungan bahkan kebaikan nasab atau jalur keturunan anak manusia yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan, meski di antara hikmahnya juga menjaga keselamatan dan kesehatan individu.[7] Ingatkah kita bagaimana Nabi Luth a.s. menawarkan wanita-wanita negerinya yang memiliki keimanan yang kokoh untuk menjadi sebab lahirnya kesadaran bahwa homo seksual adalah penyakit kejiwaan yang dapat disembuhkan dengan mudah ketika manusia mampu menata persepsinya terhadap sesuatu?[8]

Pernikahan sejatinya adalah capaian utama pertama dari seluruh upaya penjagaan kehormatan diri untuk meraih ampunan dan pahala yang amat besar.[9] Ia merupakan buah kesuksesan yang penuh kesucian, sehingga dengannya ia akan dikaruniakan kemampuan untuk meraih capaian utama berikutnya.[10] Jika ini menjadi paradigma awal berpikir maka kelanjutan upayanya akan penuh dengan keberkahan.

Pernikahan sejatinya adalah cara Allah Swt untuk melihat sejauh mana implementasi kebaikan dari ilmu yang telah diwariskan Rasul-nya yang mulia. Ikatan suci ini telah diawali tanpa unsur paksaan, maka keridhoan keduanya melahirkan kemuliaan cinta. Begitu mulianya, sehingga setiap pemberian suami kepada wanita tidaklah untuk ditanyakan apalagi dimintakan kembali, karena telah jelas hak masing-masing sebagaimana kewajiban di antara keduanya.[11] Kemuliaan cintalah yang kemudian menghadirkan bentuk komunikasi paling efektif di antara sepasang manusia yang akan hidup bersama hingga ajal menjemput mereka. Komunikasi efektif adalah ciri kesiapan manusia dalam menghadirkan solusi terhadap seluruh problematika pasca pernikahan.[12]

Pernikahan sejatinya adalah wujud kesiapan wanita untuk mengandung seorang calon mujahid, dan kesiapan untuk menikmati kelemahan yang bertambah-tambah selama kandungan di dalam tubuh. Ia siap menjadi mujahidah bahkan syahid di jalan Allah dengan jihad di saat melahirkan karena kepasrahan penuh hanya kepada Allah semata. Ia siap memberikan waktu-waktu berharganya di dunia untuk tujuan akhirat dimulai dari fokus dan konsentrasinya untuk menyusi sang mujahid baru selama dua tahun lamanya atau tiga puluh bulan.[13]

Sekali lagi, pernikahan adalah bukti bahwa wanita siap melahirkan generasi rabbani, dengan peluh tanpa henti dalam mentarbiyah keturunannya. Ia bak madrasah ilmu yang mengalirkan ilmu tanpa pernah surut dan mundur karena ia semakin dekat dengan derajat tinggi di sisi Allah Swt. Ia ingatkan pasangan hidupnya untuk sentiasa berdo’a saat awal sekali ikhtiar mereka untuk memperbanyak generasi penyembah dan pejuang agama Allah dengan berdo’a, “Allaahumma jannibnaa asy-syaithaan, wa jannibi asy-syaithaanu maa razaqtanaa”, agar kesucian terjaga sentiasa dari sentuhan syaithan laknatullah ‘alaihim. Ingatkah kita bagaimana istri ‘Imran a.s. menadzarkan anaknya agar kelak menjadi wanita shaleh dan pelayan Allah Swt?[14]Ingatkah kita bagaimana keyakinan penuh keluarga Zakaria a.s. akan iradah Allah Swt memberikan keturunan untuk mereka agar dapat mereka bina menjadi sosok pejuang Islam padahal sang istri sudah tua dan dianggap mandul? [15] Ingatkah kita bagaimana Maryam a.s. tetap dalam prasangka baiknya kepada Allah Swt dengan ujian yang sangat berat untuk ukuran seorang wanita dengan dilahirkannya anak tanpa ayah biologis? Namun justru ketegaran dalam ujian Allah Swt itulah yang kemudian menjadikan Maryam a.s, saudara Harun a.s. ini, sebagai wanita yang paling mulia di masanya.[16]

Semoga bersama kesabaran seluruh wanita mukminah, kedalaman penghayatan terhadap ajaran Islam secara sempurna, kesungguhan untuk meraih kesuksesan akhirat, Allah memudahkan langkah setiap wanita untuk menjadikan diri dan pasangan hidupnya sebagai hamba-hamba yang dicintai Allah Swt dan dikumpulkan kelak di Surga-Nya Allah Tabaraka wa Ta’ala. (selesai)

[1] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 221, An-Nur [24] ayat 3, Al-Mumtahanah [60] ayat 10

[2] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 235-237, Al-Ahzab [33] ayat 49

[3] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 4, 129

[4] Lihat Q.S. Al-Maidah [5] ayat 5

[5] Lihat Q.S. Al-Qashash [28] ayat 27

[6] Lihat Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 230-232

[7] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 22-25, Al-Ahzab [33] ayat 37, Ath-Thalaq [65] ayat 4

[8] Lihat Q.S. Al-Hijr [15] ayat 66-71

[9] Lihat Q.S. Al-Ahzab [33] ayat 35

[10] Lihat Q.S. Al-Maidah [5] ayat 5, An-Nur [24] ayat 32-33

[11] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 19

[12] Lihat Q.S. An-Nisa [4] ayat 128

[13] Lihat Q.S. Luqman [31] ayat 14, Al-Ahqaf [46] ayat 15, Al-A’raf [7] ayat 189, Ar-Ra’d [13] ayat 8

[14] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 35-37

[15] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 38-41

[16] Lihat Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 42-47, [19] ayat 16-39, Al-Anbiya [21] ayat 91, At-Tahrim [66] ayat 12

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…