POTRET KASIH SAYANG RASULULLAH S.A.W DALAM PENDIDIKAN ANAK(2): BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK

Pemateri: Ustzh. INDRA ASIH
Di tengah kesibukan mengurusi umat, perang, keluarga, dan masalah-masalah duniawi, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam selalu memberi dan menakar sesuatu sesuai dengan haknya. Beliau memberikan anak-anak kecil haknya untuk disayang dan dimanja. Beliau seringkali bermain dan bercanda bersama mereka, untuk membuat mereka ceria dan senang.
Abu Hurairah Ra pernah menceritakan bagaimana Nabi Saw bermain dan bercanda dengan cucu beliau, Al-Hasan. “Rasulullah Saw pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali Ra. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira”.
Anas bin Malik Ra menuturkan, bahwa beliau juga senang bercanda dengan Zainab. “Rasulullah sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu Salamah Ra, beliau memanggilnya dengan: Ya Zuwainab, Ya Zuwainab, berulang kali”. Zuwainab artinya Zainab kecil.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Mereka (anak-anak itu) berkata, “Ya Rasulullah, mengapa engkau bercanda dengan kami?” Kemudian Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam pun menjawab,
“Ya, akan tetapi aku selalu berkata benar, walau dalam senda gurau.” (HR Ahmad)
Di antara candaan beliau adalah apa yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa beliau memanggilnya dengan sebutan, “wahai orang yang berkuping dua.” (HR Abu Daud).
Seorang anak kecil bernama Abu Umair adalah anak Ummi Sulaim yang sering diajak bercanda oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Pada suatu hari, terlihat wajah anak ini kelihatan murung. Rupanya dia sedang bersedih karena burung pipit peliharaannya mati. Kemudian Rasulullah pun menghampirinya dan mencoba untuk menghiburnya dengan berkata, “Hai Abu Umair, apa yang dilakukan burung pipitmu?” (Muttafaq ‘alaih)
Pada kesempatan lain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam nampak asyik saat bercanda dengan anak-anak (kedua cucunya), sering kali Rasulullah digelantungi oleh mereka berdua. 
Al-Barra berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam digelantungi Hasan, dan Beliau berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah ia.” 
(HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).
Al-Barra’ juga mengatakan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memperhatikan Hasan dan Husain, lalu berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.”
(HR Tirmidzi)
Sebagai imam masjid, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sangat memaklumi perilaku anak-anak, meskipun mereka agak “menganggu”. Beliau memaklumi, dunia anak-anak memang demikian dan kecintaan anak-anak kepada masjid harus ditumbuhkan dengan dibiasakan mendatangi masjid dan dibina agar berlaku baik ketika berada di masjid. Hal tersebut nampak pada kejadian berikut,
Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sedang berjalan menuju masjid guna menunaikan shalat berjamaah, di tengah jalan didapati beberapa anak-anak yang sedang bermain.
Saat mereka melihat kedatangan beliau, anak-anak itu langsung mengerubunginya, bahkan memegang dan menarik-narik baju beliau.
Diantara mereka bahkan sampai mengatakan:
“Jadilah engkau untaku.”
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melayani ajakan anak-anak itu sehingga beliau agak terlambat datang ke masjid dari biasanya.
Bilal bin Rabah yang sudah menunggu kedatangan Rasul di masjid akhirnya harus mencari dimana Rasulullah ber shalallahu ‘alaihi wassalam ada. Ternyata ia mendapati, beliau sedang bermain dan dikerubungi anak-anak itu.
Bilal mendatangi mereka dan bermaksud menjewer telinga anak-anak itu agar mau melepaskan Rasul. Tetapi Rasul mencegah Bilal dengan mengatakan:
“Sempitnya waktu shalat lebih kusukai daripada harus menyakiti anak-anak ini.”
Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam kemudian memerintahkan Bilal untuk mencari makanan di rumah beliau agar bisa diberikan kepada anak-anak.
Bilal segera kembali kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dengan membawa kacang. 
Beliau kemudian mengatakan: 
“Apakah kalian mau menjual unta kalian dengan kacang ini?”
Anak-anakpun bergembira dengan mengambil kacang-kacang itu dan melepaskan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang melanjutkan perjalanan menuju masjid yang diikuti oleh anak-anak itu. Bilal terharu menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
Penelitian yang dilakukan Rana Esseily dari Paris West University Nanterre La Defense dan teman-temannya menunjukkan bahwa bercanda bersama anak membantu mereka menjadi lebih bahagia dan hal tersebut akan meningkatkan perhatian, motivasi, persepsi, daya ingat, yang pada gilirannya meningkatkan pembelajaran mereka.
Mereka melakukan penelitian tentang hubungan antara humor dengan kemampuan balita dalam belajar.
Penelitian tersebut melibatkan bayi berusia 18 bulan dengan menemukan bahwa anak-anak yang sering bercanda atau tertawa karena tingkah laku orang tua atau orang dewasa mampu mengulangi sebuah tindakan dibandingkan mereka yang tidak tertawa
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rana ini akan menyimpulkan bahwa kecerdasan anak dalam belajar ternyata berkaitan dengan kebahagiaan anak. Dengan kata lain, mental anak yang bahagia mendukung anak-anak untuk mencoba sesuatu yang baru dan berhasil ketika mempelajari sesuatu.
Berikut cara yang dilakukan oleh Rana Esseily dan teman-teman dalam mengetahui bahwa bercanda bisa membuat anak lebih cerdas:
Dalam satu kelompok, orang dewasa hanya bermain dengan mainan; tetapi pada kelompok lain, orang dewasa melemparkan mainan di lantai, yang membuat separuh anak-anak dalam kelompok tertawa. Hasilnya, anak-anak yang tertawa karena tingkah laku orang dewasa mampu mengulangi sebuah tindakan daripada mereka yang tidak tertawa.
Kesimpulan:
Nabi shalallhu ‘alaihi wassalam senang bercanda dengan anak-anak. Bermain dan bercanda dengan anak ini merupakan salah satu hal yang penting untuk diperhatikan oleh orang tua. 
Sebagian orang tua merasa malu dan gengsi untuk bermain dan bercanda bersama anak-anaknya. Padahal cara ini merupakan salah satu cara yang sangat jitu dan manjur untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tuanya. Ketika orang tua sudah akrab dengan anak-anaknya, maka pada saat itu anak akan lebih terbuka untuk menceritakan apa yang dia hadapi kepada orang tuanya.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Ketika seseorang berada di tengah-tengah keluarganya, hendaklah ia menjadi seperti anak kecil; penuh kasih sayang, bercanda dan bermain-main dengan anaknya. Tapi, ketika kehorrmatannya dilecehkan, ia menjadi lelaki sejati.”
Orang tua hendaklah menyempatkan waktu untuk bermain-main dengan anak-anak. Dalam mendidik anak, bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah bermain dan belajar bersama anak-anak. Betapa senang anak-anak apabila orang tua mau bermain-main dan bergembira bersama mereka. Para orang tua jangan menganggap bermain-main dengan anak sebagai sesuatu yang tidak penting. Penelitian telah menunjukkan, orang tua yang memiliki waktu untuk bermain dengan anak-anak, memberikan pengaruh yang positif bagi perkembangan anak.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Siapa memiliki anak kecil, hendaklah ia bercanda dan bermain dengan mereka.” (HR. Ad-Dailami dan Ibnu ‘Asakir)
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
Sebarkan! Raih pahala…
Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

LAPIS-LAPIS TUJUAN PENDIDIKAN (TUJUAN PENDIDIKAN )

Oleh: Ustzh. Wulandari Eka Sari

Ketika membahas tentang pendidikan anak, maka sejatinya kita adalah sedang membahas tentang Pendidikan Keluarga. Kenapa keluarga? Karena pendidikan itu berlaku madal hayah, seumur hidup. Pelakunya dalam keluarga inti adalah orang tua dan anak. Ketika orang tua menuntut anak untuk belajar, maka orang tua pun perlu belajar. Hakikat wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasul saw ‘iqro bismirobbika aladzi kholaq’ merupakan prinsip bahwa pendidikan itu akan berlangsung sepanjang ruh masih melekat di raga.

Merangkai tujuan pendidikan di keluarga sama dengan menggali hakikat keberadaan manusia di bumi ini. Mengapa kita diciptakan? Apa tujuan penciptaan kita? Dari sanalah kita kemudian membuat turunan apa saja yang menjadi langkah demi langkah tujuan hidup kita. Sementara proses pendidikan adalah tools atau alat untuk menuju ke sana.

Seringkali dalam menjalani proses, kita kebingungan di tengah jalan. Berhenti dan bertanya, sebenarnya kita mau apa sih? Mau ke mana? Kita sudah melakukan ini dan itu, tapi mengapa begini jadinya? Trus habis ini apa lagi? Dan seabrek teka teki lainnya..

Ketika setiap hari kita berdoa “Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qinaa ‘adzabannar” sebenarnya kita pun setiap hari sudah mengucapkan tujuan hidup kita dan dengannya kita melakukan hal-hal untuk bisa meraihnya. Tujuan itu perlu diucapkan, diceritakan, disampaikan bahkan dituliskan.

Sekelumit kisah mimpi besar khalifah Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemuda yang sangat kuat bercita-cita. Ia memiliki mimpi-mimpi besar dalam hidupnya. Saat masih lajang, cita-citanya adalah menikahi Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan, gadis cantik putri seorang khalifah. Ia persiapan dirinya dengan serius hingga cita-citanya terkabul. Mimpi besarnya yang lain adalah ingin menjadi Gubernur Madinah. Sebuah posisi prestius saat itu yang menjadi idaman keluarga besar Bani Umayah. Ia pun berusaha dengan kuat dan terwujudlah cita-citanya. Kemudian ia pun ingin menjadi seorang khalifah. Tekad yang kuatnya pun membawanya menjadi seorang khalifah. Masya Allah. Hingga ketika ia sampai pada cita-cita tertinggi yaitu masuk surga Allah. Maka upaya terkuatnya adalah dengan memilih gaya hidup baru yaitu : Zuhud. Itu ia lakukan semasa menjadi khalifah.

Umar bin Abdul Aziz muda tak segan mengurai mimpi besarnya. Semua itu mampu ia lakukan karena ia yakin kuasa Allah mampu mewujudkan mimpinya. Maka ketika kita merangkai tujuan-tujuan hidup kita, setinggi apapun, langkah selanjutnya sandarkan semuanya pada Allah. Karena hanya Allah yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk kita.

Lalu apa tujuan keluarga kita? Tujuan kita memiliki keluarga? Tujuan kita memiliki anak? Tujuan pendidikan di keluarga kita?

Saya membagi tahapan tujuan pendidikan keluarga dalam lima lapis.

1. Lapis pertama

Tujuan Pendidikan Keluarga sesuai doa yang biasa kita haturkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang tersurat pada surah al Furqon : 74.

للمتقين اماما

Dalam doa tersebut kita meminta kepada Allah untuk menjadikan kita pemimpin bagi umat. Secara bahasa kata imam berarti al mu’tammu bih (orang yang diikuti) yaitu yang diteladani ucapan dan perbuatannya baik dalam kebaikan maupun kebatilan. Pengertian itulah diambil para mufassir dalam menafsirkan ayat ini. Ibnu ‘Abbas, al Hasa, al Sudi, Qatadah dan al Rabi’ bin Anas berkata : Mereka menjadi para pemimpin yang diteladani dalam kebaikan. Ibnu ‘abbas sebagimana dikutip al Qurthubi, ayat ini berarti “Jadikanlah kami sebagai pemimpin yang memberi petunjuk”. Sebagaimana gambaran Allah ‘Azza wa Jalla pada surah as Sajdah : 24″Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk degan perintah Kami ketika mereka sabar”. Juga sebagaimana sabda Rasul saw bahwa setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya, maka visi melahirkan pemimpin yang mulia adalah tujuan besar dalam pendidikan keluarga.

2. Lapis ke dua

Ketika hamil anak ke dua, saya pernah membaca sebuah bait doa dari seorang syaikh dari Kuwait. Doa ini untuk ibu hamil yang ditujukan untuk janinnya. Di antara bait doa ada yang bertuliskan

اللهم اجعلنا من المجددين لدينك ومن المحيين للسنة رسولك محمد صلي الله عليه و سلم

“Ya Allah, jadikan kami bagian dari para mujadid untuk agamaMu dan bagian dari para penghidup sunnah RasulMu Muhammad saw”

Doa itu menjadi inspirasi saya dalam mengukuhkan pendidikan keluarga. Makna mujadid atau pembaharu bukan berarti membuat hal-hal baru dalam agama. Mujadid berarti menjadi orang yang selalu menghidupkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari seakan-akan hal itu adalah hal yang baru dan selalu bergelora dalam menjalankannya. Sementara aplikasi dalam kehidupan tidak akan bisa berjalan baik tanpa kita mengenal dan memahami sunnah Rasulullah Muhammad saw.

Lapis ini akan membuat kita memahami mengapa mempelajari dinuLlah baik melalui Al Quran, sunnah Rasulullah saw dan ayat-ayat kauniyah Allah perlu selalu dan selalu terus diulang. Kehidupan yang berputar, inti sejarah yang berulang, masalah yang terjadi pun berulang. Pedoman hidup yang tidak pernah berubah membuat kita mampu mengurai masalah umat dan memberinya solusi.

3. Lapis ke tiga

Anggota keluarga dengan kepribadian seperti apa yang ingin kita lahirkan sebagai persembahan kita untuk peradaban Robbani? Allah al Hadi menggambarkan dalam surah Ali Imron : 110 bahwa kita adalah umat terbaik yang dilahirkan ke muka bumi ini untuk kebaikan manusia.
Bayangan saya mengenai kepribadian umat terbaik seperti yang termaktub dalam surah al Ahzab : 35. Pemimpin itu adalah :
1.  Seorang Muslim yang kaafah dengan keIslamannya (al Muslim)
2.  Seorang Mukmin yang benar dalam keimanannya (Al Mukmin)
3.  Seorang yang tetap dalam ketaatan (al Qonit)
4.  Seorang yang menjaga integritas atau kejujuran dalam kebenaran (as Shodiq)
5.  Seorang yang sabar dalam menjalani proses (as Shobir)
6.  Seorang yang khusyu’ sehingga mampu tuma’ninah dalam bersikap (al Khosyi’)
7.  Seorang yang bersedekah baik dalam keadaan lapang dan sempit (al Mutashodiq)
8.  Seorang yang berpuasa sehingga mampu mengendalikan hawa nafsunya (as Shoim)
9.  Seorang yang menjaga harga diri dan kehormatannya (al Hafidz farjihi)
10. Seorang yang selalu ingat kepada Allah (adz DzakiruLlah)

Apa yang terjabar di atas, membuat kita memiliki gambaran pribadi manusia seperti apa yang akan kita wujudkan dalam keluarga kita.

4. Lapis ke empat

Setelah terwujud gambaran pada lapis ke tiga, selanjutnya saya memerlukan tools dalam upaya mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Tools yang saya gunakan adalah 10 model pembentuk kepribadian muslim. Model tersebut adalah :

1. Aqidah Salimah (عقيدة سليمة)
Aqidah yang selamat. Hal ini meliputi pengenalan dan pemahaman terhadap Allah, RasulNya dan Islam secara jelas dan menyeluruh.

2. Shohihul ibadah (صحيح العبادة)
Pelaksanaan kemurnian aqidah ada pada ibadah yang benar yang sesuai tuntunan Rasulullah Muhammad saw.
3. Matiinul Khuluq (متين الخلق)
Akhlaq yang kokoh sebagai upaya mewujudkan Islam rohmatan lil alamin
4. Mutsaqoful fikri (مثقف الفكر)
Akal yang berwawasan luas
5. Qowiyul jismi (قوي الجسم)
Tubuh yang sehat dan kuat
6. Harishun ‘ala waqtihi (حريص على وقته)
Pandai menjaga dan menghargai waktu
7. Munadzhom fi syu-unihi (منظم فى شؤونه)
Teratur dalam urusan
8. Qodirun ‘ala kasbi (قادرعلى كسب)
Mandiri secara ekonomi
9. Mujahidun linafsihi (مجاهدلنفسه)
Mampu melawan hawa nafsu dalam kesungguhan amal
10. Nafi’un lighoirihi (نافع لغيره)
Bertekad untuk mampu memberi manfaat bagi manusia dan alam seisinya

Model tersebut di atas saya buat turunannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Disesuaikan dengan usia, kapasitas dan kemampuannya.

5. Lapis ke lima

Inilah adalah lapis terakhir. Di mana lapis ini suami dan saya membuat 10 pilar keluarga kami sebagai gambaran yang mengokohkan kami, inilah keluarga yang kami bangun. Poin-poinnya tertulis Pada 10 Pilar keluarga yang kami bangun.
1.Keluarga ini kami bangun dengan atas landasan cinta kami kepada Allah, Rasul Nya dan perjuangan di jalanNya

2.Keluarga ini kami bangun dengan cita-cita mendapat ridho Allah serta dipertemukanNya kami kembali di tempat pertemuan terbaik yaitu Syurga

3.Keluarga yang kami bangun adalah keluarga Robbani yang berbahagia karena kedekatan kami kepada Allah SWT dengan sunnah-sunnah Rasulullah saw dan dengan aktivitas-aktivitas dakwah

4.Setiap anggota keluarga kami senang mengkaji dan menghafal Al Qur’an, Al Hadits serta kajian-kajian tentang Islam secara keseluruhannya sebagai bekal kami dalam beribadah, beramal shalih dan berdakwah

5.Setiap anggota keluarga kami memancarkan cahaya akhlaq terpuji, terlihat dalam perbuatan, perkataan maupun pakaian kami

6.Setiap anggota keluarga kami senang mengembangkan wawasan intelektual dan emosional, memiliki keahlian dalam belajar dan berkomunikasi, senantiasa melakukan penelitian dan memproduksi karya-karya intelektual

7.Keluarga yang kami bangun sangat memperhatikan pendidikan yang berkualitas bagi setiap anggotanya

8.Keluarga yang kami bangun mencintai hidup sehat. Setiap anggota keluarga kami mengerti dan memperhatikan keseimbangan gizi, mengerti dan memelihara dan mengembangkan kesehatan tubuh dan lingkungan

9.Setiap anggota keluarga kami peduli sanak saudara, teman, tetangga dan seluruh anggota masyarakat pada umumnya. Keluarga kami menyadari fungsi kami sebagai contoh, pembina dan anggota masyarakat yang baik

10.Keluarga yang kami bangun adalah keluarga yang merdeka secara keuangan. Setiap anggota keluarga kami senang menabung, berbisnis, berinvestasi dan mengembangkan kekayaan

Semoga Allah SWT memberikan limpahan rahmat dan ridho Nya serta memberi kekuatan dan kemudahan kepada kami sekeluarga.

Lapis-lapis yang terangkai adalah upaya kita melahirkan generasi Robbani yang akan membangun peradaban umat dalam pondasi kebenaran. Insya Allah

* Setiap keluarga dapat merumuskan tahapan pendidikan anak secara aplikatif, menyesuaikan dengan karakter keluarga masing-masing.

Allahu ma’ana
Nashrun minaLlah wa fathun qoriib

***

Sharing session dari ummahat yang atas ijin Allah menghantarkan anak-anaknya huffazh Qur’an dengan Metode home schooling.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

POTRET KASIH SAYANG RASULULLAH ﷺ DALAM PENDIDIKAN ANAK I (1): MENCIUM DAN MEMELUK ANAK

Oleh: Ustzh. Dra. Indra Asih

Anas Bin Malik ra berkata :

«مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»، قَالَ: «كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ، فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيُدَّخَنُ، وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا، فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ، ثُمَّ يَرْجِعُ»

“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putra Nabi (yang bernama) Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah Awaali di kota Madinah. Maka Nabipun berangkat dan kami bersama beliau. lalu beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan penuh asap. Suami Ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabipun mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali” (HR Muslim)

Dari ‘Aisyah ra ia berkata :

جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ

“Datang seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?, kami tidak mencium mereka”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa rahmat/sayang dari hatimu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah ra berkata :

قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits di atas diperlihatkan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan hal yang mendatangkan rahmat Allah.
“Barangsiapa yang tidak merahmati maka tidak dirahmati”, yaitu barangsiapa yang tidak merahmati manusia maka ia tidak akan dirahmati oleh Allah Azza wa Jalla.

Mencium anak-anak kecil sebagai refleksi dari rahmat dan sayang kepada mereka, apakah mereka anak-anak kita ataukah cucu-cucu kita dari putra dan putri kita atau anak-anak orang lain. Dan hal ini akan mendatangkan rahmat Allah dan menjadikan orang tua memiliki hati yang menyayangi anak-anak.

Semakin seseorang rahmat/sayang kepada hamba-hamba Allah maka ia semakin dekat dengan rahmat Allah.

Jika Allah menjadikan rasa rahmat/kasih sayang dalam hati seseorang maka itu merupakan pertanda bahwa ia akan dirahmati oleh Allah…”

“Maka hendaknya seseorang menjadikan hatinya lembut, ramah, dan sayang (kepada anak-anak).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik dan mulia akhlak dan adabnya. Suatu hari beliau sedang sujud maka datanglah Hasan bin Ali bin Abi Tholib, lalu Hasanpun menaiki pundak Nabi yang dalam kondisi sujud. Nabipun melamakan/memanjangkan sujudnya. Para sahabat heran. Mereka berkata :

هَذِهِ سَجْدَةٌ قَدْ أَطَلْتَهَا، فَظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ، أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ

“Wahai Rasulullah, engkau telah memperpanjang sujudmu, kami mengira telah terjadi sesuatu atau telah diturunkan wahyu kepadamu”,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka,

ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

“Bukan, tetapi cucuku ini menjadikan aku seperti tunggangannya, maka aku tidak suka menyegerakannya hingga ia menunaikan kemauannya” (HR Ahmad dan An-Nasaai)

Pada suatu hari yang lain Umamah binti Zainab putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih kecil dibawa oleh Nabi ke masjid. Lalu Nabi sholat mengimami para sahabat dalam kondisi menggendong putri mungil ini. Jika beliau sujud maka beliau meletakkannya di atas tanah, jika beliau berdiri maka beliau menggendongnya. Semua ini beliau lakukan karena sayang kepada sang cucu mungil. Padahal bisa saja Nabi memerintahkan Aisyah atau istri-istrinya yang lain untuk memegang cucu mungil ini, akan tetapi karena rasa kasih sayang beliau. Bisa jadi sang cucu hatinya terikat senang dengan kakeknya shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi ingin menenangkan hati sang cucu mungil.

Pada suatu hari Nabi sedang berkhutbah, lalu Hasan dan Husain (yang masih kecil) datang memakai dua baju. Baju keduanya tersebut kepanjangan, sehingga keduanya tersandung-sandung jatuh bangun tatkala berjalan. Maka Nabipun turun dari mimbar lalu menggendong keduanya di hadapan beliau (di atas mimbar) lalu beliau berkata:

صَدَقَ اللهُ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ نَظَرْتُ إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيْعْثُرَانِ فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ حَدِيْثِي وَرَفَعْتُهُمَا

“Maha benar Allah. Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah”, aku melihat kedua anak kecil ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak sabar hingga akupun memutuskan khutbahku dan aku menggendong keduanya” (HR At-Thirmidzi)
Kemudian beliau melanjutkan khutbah beliau (lihat HR Abu Dawud)

Hendaknya kita membiasakan diri kita untuk menyayangi anak-anak dan membiasakan mengekspresikan rasa sayang tersebut berupa ciuman dan pelukan dan tentu saja,  pelukan kita…ciuman kita….akan mendatangkan pahala dan rahmat Allah.

Selain itu, banyak penelitian telah membuktikan betapa besar pengaruh dari sentuhan, pelukan dan ciuman orang tua terhadap tumbuh kembang anak termasuk kecerdasan anak.

1. Sentuhan dari orang yang kita sayangi akan meningkatkan jumlah hemoglobin di dalam darah.   Hemoglobin merupakan salah satu bagian dari tubuh yang membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk jantung dan otak. Suplai hemoglobin yang meningkat ini dipercaya secara ilmiah akan mempercepat proses penyembuhan setelah sakit.

2. Pada bayi prematur, pelukan dari sang ibu bisa membuatnya lebih kuat dan mempercepat perkembangan tubuh serta otak. Penelitian dari Bliss Hospital di Montreal, bayi prematur yang dipeluk ibu jadi lebih cepat kuat, sehat dan besar ketimbang hanya ditempatkan di inkubator.

3. Penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Epidemiology and Community Health mengungkapkan fakta bahwa bayi yang sedari lahir selalu diberi sentuhan (pelukan, ciuman, belaian) pertanda kasih sayang oleh orangtuanya tumbuh menjadi pribadi yang tak mudah stres.

4. Dr. Coolam yang melakukan penelitian kepada ribuan orang membuktikan bahwa ciuman di pagi hari melahirkan keistimewaan dan susunan kimiawi tertentu, seperti memberikan perasaan senang dan lapang.

5. Penelitian yang dilakukan psikolog Edward R. Christopherson. Ph.D,  menemukan bahwa pelukan lebih efektif daripada pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai serta memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak.

6. Dalam bukunya ‘The Hug Therapy’, psikolog Kathleen Keating menyebutkan bahwa pelukan juga dapat meningkatkan kecerdasan otak dan IQ anak serta dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres.

Tidak hanya itu, sentuhan penuh kasih sayang yang diberikan orang tua juga dapat berdampak secara kognitif pada anak. Sambil memeluk dan membelai kepala anak, orang tua dapat memberi masukan mengenai hal-hal baik yang perlu dilakukan olehnya. Masukan-masukan dalam situasi positif semacam itu akan lebih mudah diproses dalam pikirannya.

Semoga Allah memperkuat kesabaran kita sebaga orang tua dalam mendidik anak-anak kita hingga mampu untuk menjadi orang tua yang mendidik penuh dengan ekspresi kasih sayang.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Suami yang Bersama Istri di Surga

BINGKAI HUBUNGAN SUAMI ISTRI

Pemateri: Ustzh. EKO YULIARTI SIROJ, SAg

Satu kisah mengagumkan diriwayatkan oleh seorang sahabiyat berhati mulia bernama Asma binti Abu Bakar Ra.

Ia berkata : “Aku menikah dengan Zubair saat dia tidak memiliki apapun selain seekor keledai yang menjadi tunggangannya. Setiap hari aku memberi makan dan minum keledai itu serta membersihkannya.

Aku mencari air untuk keperluan keluarga dan aku menyiapkan minum untuknya.

Akupun membuatkan roti dengan dibantu para wanita anshar karena aku tidak pandai membuat roti.

Aku membawa biji gandum di atas kepalaku dan berjalan sepertiga farsakh menuju rumah para wanita anshar itu.

Suatu hari saat aku berjalan pulang dengan membawa biji gandum di atas kepalaku, tiba-tiba aku bertemu dengan Rasulullah SAW dan rombongan kaum anshar. Beliau mengajakku untuk pulang dengan menunggang unta yang berjalan di belakang unta beliau.

Betapa senang hatiku dengan tawaran beliau karena lelahku akan segera berakhir. Namun saat aku ingat Zubair yang sangat pencemburu, aku urungkan niatku menerima tawaran Rasulullah. Beliau memahami kekhawatiranku dan berlalu didepanku dengan cepat.

Setibanya dirumah, aku ceritakan peristiwa itu kepada Zubair suamiku dan ia berkata : “Sungguh perjalananmu dengan membawa biji gandum di atas kepalamu lebih membuatku merasa berat dibandingkan dengan engkau menerima tawaran Rasulullah SAW.”

Dari Anas bin Malik ia berkisah, “Suatu saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di tempat salah seorang istrinya dan istrinya yang lain mengirim sepiring makanan. Maka istrinya yang sedang bersamanya ini memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah sehingga makanan berhamburan. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, dengan tersenyum beliau berkata, “Ibu kalian cemburu…”

Imam Tirmizi dalam kitabnya Asy-Syamail meriwayatkan bahwa Aisyah RA berkata : “Rasulullah SAW itu adalah seorang biasa, beliau menjahit sendiri bajunya, memerah sendiri susu dari kambingnya, dan melakukan sendiri perkara yang diingininya.”

Demikianlah Rasulullah SAW dan para sahabat mencontohkan bagaimana seharusnya suami dan istri memiliki komitmen yang dilandasi kesadaran akan misinya sebagai manusia untuk beribadah kepada Allah dan untuk memakmurkan bumi. Menyadari bahwa setiap langkah hidupnya bahkan setiap helaan nafasnya adalah ibadah kepada Allah SWT.

Dalam rumah tangga hubungan suami istri adalah hubungan yang paling penting. Karena keduanya adalah subyek utama didalam keluarga.

Agar hubungan keduanya terjaga dalam keharmonisan, hubungan yang dijalin harus dilandasi oleh petunjuk Rasulullah SAW, dan landasan dari hubungan suami istri adalah :

1. Saling Tolong Menolong (Ta’awun)

Berumah tangga adalah kebaikan. Dan Allah SWT memerintahkan kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿المائدة: ٢﴾

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah : 2)

Kalimat  تَعَاوَنُوا memiliki arti saling tolong menolong. Kata saling menunjukkan bahwa yang melakukan pekerjaan itu bukan hanya satu pihak akan tetapi dilakukan oleh kedua belah pihak.

Suami dan istri sama-sama melakukan dan memberikan pertolongan untuk pasangannya. Suami sebagai pencari nafkah, bekerja bukan semata untuk memenuhi kewajibannya. Ia menafkahi istri, anak-anak dan keluarganya dalam rangka menolong mereka agar berkehidupan layak dan mampu berdiri tegak menunaikan kebaikan-kebaikan yang banyak dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

Terkadang istri harus ikut turun tangan memenuhi kebutuhan keluarga. Seperti yang dilakukan oleh Asma binti Abi Bakar dalam kisah di atas. Saat Zubair suaminya tidak mampu untuk menghadirkan seorang pembantu (khadimat) maka Asma melakukan seluruh pekerjaan rumahnya seorang diri. Bahkan ia rela menempuh perjalanan cukup jauh demi membuat roti yang merupakan makanan pokok di keluarganya.

2. Tidak Mengurangi Hormat Pada Pasangan

Pekerjaan berat dan perjalanan jauh yang ditempuh Asma tidak membuat hormatnya kepada Zubair berkurang. Ia bahkan menjaga sekuat tenaga agar aktifitasnya selalu terjaga.

Bahkan saat ia benar-benar membutuhkan bantuan dan bantuan itu benar-benar datang, ia mempertimbangkan perasaan suaminya yang tidak tahu akan peristiwa itu. Jika saja Asma mau, ia bisa ikut dalam rombongan Rasulullah SAW dan tidak perlu menceritakannya pada suaminya. Tapi rupanya tidak demikian akhlak seorang muslimah.

Asma menyadari bahwa aktifitas yang ia lakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga adalah bantuan/pertolongan yang ia berikan kepada suaminya agar kelak mereka bisa mempertanggung jawabkan kelangsungan rumah tangga itu dihadapan Allah SWT.

Sebagai istri yang turut lelah memenuhi kebutuhan rumah tangga, Asma tidak lantas bercerita kepada orang lain akan kekurangan suaminya. Dengan ikhlas putri Abu Bakar ini bekerja dalam ta’at.

Kondisi yang sama perlu dipegang teguh juga oleh seorang suami.

Zaman yang semakin modern menuntut kaum perempuan untuk turut beraktifitas mencari finansial. Hal yang positif bila tetap berada dalam koridor syar’i. Dan Rasulullah SAW menegaskan bahwa harta istri yang dipakai untuk kepentingan keluarganya bernilai sedekah. Namun bukan berarti jika seorang istri tidak berpenghasilan membuat suami berhak untuk mengurangi rasa hormat pada istrinya. Ia tetap harus bersikap baik dan menghormati istrinya. Dan diantara menghormati istri adalah menjaga perasaannya.

Zaman dimana komunikasi antar manusia menjadi begitu mudah perlu kita waspadai. Karena bisa jadi maksiat/khalwat yang dilakukan oleh banyak orang tidak lagi membutuhkan tatap muka akan tetapi cukup di dunia maya. Cara-cara seperti itu tentu akan melukai perasaan pasangan. Oleh karenanya, ihsan (menyadari pengawasan Allah) harus terus dihidupkan dalam keseharian kita.

3. Tidak Perhitungan dg Jasa Masing-masing

Seringkali saat terjadi konflik di keluarga terutama jika terkait dengan hubungan suami istri, masing-masing tiba-tiba menjadi ingat akan semua kebaikan yang pernah dilakukan dirinya untuk pasangannya. Seringkali masing-masing mulai berhitung.

Istri berhitung bahwa suami tidak pernah turut serta dalam pendidikan anak, tidak pernah membantu pekerjaan-pekerjaan rumah, tidak pernah menyimpan handuk pada tempatnya seusai mandi dan lain sebagainya hingga masalah-masalah yang remeh.

Suami juga berhitung bahwa selama ini istri tidak menyediakan kebutuhan suami dengan optimal, kurang dalam mendidik anak, kurang dalam menata rumah, kurang pandai memasak, tidak membantu mencari income untuk keluarga dan lain-lain. Maka jadilah masing-masing berhitung akan jasanya.

Lantas…kita pun bertanya, apakah kita sedang mengelola keluarga atau mengelola perusahaan? Karena untung rugi hanya ada di perusahaan.  Karena di keluarga kita hanya mengenal ta’awun tanpa hitung-hitungan.

4. Saling Memahami

Satu hal yang harus difahami oleh kita semua adalah perbedaan yang mendasar antara laki-laki dan perempuan.

Laki-laki dengan sifat kepemimpinannya dominan dengan kekuatan, kemampuan untuk berinteraksi dengan kerasnya hidup, kemampuan menanggung persoalan-persoalan berat, dsb.

Perempuan  dengan sifat lembutnya memiliki kemampuan merawat, mengasihi, telaten, dsb. Namun, sifat dasar ini banyak dipengaruhi oleh pola asuh/lingkungan saat ia tumbuh dan pola didik/ajaran yang diberikan orang tua saat ia berkembang.

Dalam perbedaan yang tajam inilah pasangan suami istri membutuhkan satu  sikap bersama yaitu saling memahami. (At-Tafahum).

Kalimat “at-tafahum” adalah bentuk kalimat yang menunjukkan arti saling. Mengandung makna bahwa yang memahami bukan hanya satu pihak suami saja atau istri saja, akan tetapi dalam hal memahami harus dilakukan oleh kedua pihak suami dan istri.

Saling memahami dalam hubungan suami istri tidak terwujud begitu saja. Perlu waktu panjang dan latihan kontinyu untuk mewujudkannya.

Di awal pernikahan, masing-masing  memiliki harapan ideal terhadap pasangannya yang seringkali kurang realistis. Akan tetapi bersama dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit tersingkaplah kekurangan-kekurangan yang dimiliki pasangan. Masing-masing juga seringkali mempertahankan egonya sendiri. Memakai ukuran dengan ukuran yang dimilikinya, tidak mencoba untuk mengerti ukuran yang dimiliki oleh pasangan. Situasi seperti ini harus segera diatasi dengan kesadaran masing-masing. Jika tidak dilakukan perubahan, maka salah faham akan terus berlanjut hingga hari-hari berikutnya.

Mari kita mengenal sebab-sebab munculnya perselisihan pada pasangan suami istri :
Perbedaan kepribadian
Perbedaan pengalaman
Perbedaan latar belakang keluarga
Perbedaan latar belakang pendidikan
Perbedaan wawasan

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Pada ayat diatas, secara  jelas Allah SWT menyebutkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Artinya Allah SWT menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia berbeda-beda. Dan selanjutnya Allah SWT menjelaskan hikmah dari diciptakannya manusia secara berbeda-beda agar mereka melakukan proses dan kegiatan saling mengenal. Dan mengenal adalah kunci untuk memahami.
Adalah sesuatu yang sulit untuk  merubah orang lain menjadi seperti diri kita atau seperti apa yang kita inginkan. Yang lebih mudah dan lebih baik adalah menjadikan perbedaan-perbedaan di atas sebagai  sesuatu yang baik yang bisa dikelola dengan pengelolaan yang baik. Yang penting adalah bagaimana pasangan itu memiliki semangat, keinginan, dan kesiapan untuk  mempelajari keterampilan mengelola perbedaan itu. Tentu perlu waktu, kelapangan hati dan kesabaran untuk bisa memahami pasangan.

Jika berhasil, akan tumbuh saling menghormati, semakin mencintai dan menyayangi, semakin dekat dan tenang terjadi pada pasangan ini.

Kunci-kunci hadirnya tafahum diantaranya:

Kunci pertama keterampilan berkomunikasi

Komunikasi adalah hal paling penting dalam kehidupan suami istri. Masing-masing harus membiasakan berkomunikasi verbal sejak awal. Menyampaikan segala sesuatu secara terbuka bukan dengan isyarat. Perempuan seringkali menganggap dan menuntut agar dengan isyarat yang ia lakukan, suami harusnya faham. Sementara umumnya laki-laki lebih mudah memahami sesuatu yang disampaikan secara jelas. Suami juga seringkali menyimpan suara hatinya karena khawatir istrinya marah, sedih atau tersinggung. Sehingga banyak para suami di kemudian hari menyalahkan istrinya padahal istri tidak tahu apa yang diinginkan suami. Sesuatu yang baik, jika kita mampu membicarakan segala hal yang terkait dengan rumah tangga walau kadang-kadang terasa kurang nyaman. Keterbukaan itu penting, untuk menghindari masalah di kemudian hari. Kita perlu terbiasa menciptakan momen-momen nyaman untuk mengemukakan berbagai keperluan rumah tangga.
Dan inilah Ummu Sulaim RA, yang memberikan teladan kepada kita bagaimana ia sangat memahami karakter dan kondisi suaminya sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut :
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putera Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu puteranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh puteraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya puteranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.”
Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah. (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).

Suami istri perlu membiasakan diskusi bahkan untuk hal yang dianggap tabu seperti masalah hubungan seksual.

Hilangnya keterbukaan dalam komunikasi suami istri akan memunculkan kebosanan dan masalah yang rumit.

Pasangan suami istri perlu mempelajari cara komunikasi dan psikologi pasangan sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan tepat.

Kunci kedua menghormati

Manusia menyukai penghormatan dan mencintai orang yang menghormatinya. Itu dikarenakan penghormatan/penghargaan adalah kebutuhan manusia. Sebagaimana manusia membutuhkan cinta, makan, minum, demikian juga ia membutuhkan penghormatan & penghargaan. Tidak ada manusia yang menyukai penghinaan. Apalagi dalam kehidupan suami istri. Penghormatan dan penghargaan yang dilakukan oleh suami istri menjadi rahasia kebahagiaan rumah tangga.

Pasangan suami istri perlu melakukan hal-hal berikut sebagai bentuk penghargaan terhadap pasangannya :
mendengarkan, memperlihatkan rasa ridho, ikut merasakan perasaan pasangan baik senang ataupun sedih,
menjaga perasaan pasangan baik saat disampingnya maupun dibelakangnya, tidak mengkritik didepan orang lain, dsb.

Ibunda Khadijah RA memberi contoh bagaimana penghormatan dan penghargaan yang diberikannya kepada suami tercinta Muhammad SAW mampu menghilangkan segenap kegelisahan yang sedang dirasakannya.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim serta Musnad Ahmad disampaikan tentang keadaan Nabi saat baru menerima wahyu pertama di Gua Hira’, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pulang kepada Khadijah dalam keadaan gemetar fisik dan hatinya. Beliau masuk dan berkata: selimuti aku, selimuti aku…

Ketika kondisi Rasulullah SAW mulai tenang, beliau berkata: Khadijah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah.

Khadijah berkata: “Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Engkau benar-benar jujur dalam ucapan, menjaga silaturahim, menanggung beban, memuliakan tamu dan membantu orang yang kesulitan.”

Walau situasi hati belum sepenuhnya tenang, akan tetapi ungkapan penuh hormat dan penghargaan yang disampaikan Khadijah mampu meredakan ketegangan yang dirasakan Rasulullah SAW.

Sikap suami istri yang saling menghormati akan melahirkan ketenangan dalam keluarga

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (Qs. Ar Rum: 21)

Kunci ketiga realistis

Masing-masing harus menyadari bahwa tidak ada keluarga tanpa masalah.  Oleh karenanya masing-masing perlu meningkatkan pengetahuan tentang pasangannya. Menyimpan ego dan idealismenya agar bisa menerima keinginan dan kebutuhan pasangan. Menyadari bahwa inilah takdir yang Allah berikan untuk kita serta mensyukurinya. Tidak perlu melihat orang lain dalam menjalankan biduk rumah tangga. Fokus pada pasangan dan keluarga kita karena masing-masing kita memiliki tujuan. Lebih banyak melihat sisi kebaikan pasangan dan berusaha untuk menutupi kekurangannya. Baik secara fisik maupun dari sisi akhlaknya.

Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya), jika ia membenci  sebuah sikap (akhlak) istrinya maka ia akan ridho dengan sikapnya (akhlaknya) yang lain” (HR Muslim)

Kunci keempat tidak mengizinkan pihak lain untuk masuk dalam rumah tangga kita

Yang dimaksud dengan pihak lain bisa dari kalangan keluarga (orang tua, kakak, adik, ipar, kerabat) atau bahkan orang lain yang kita percaya.

Rumah tangga dibangun oleh suami dan istri. Jika terjadi sesuatu dalam rumah tangga, maka yang paling berhak untuk menyelesaikan adalah yang membangunnya bukan orang lain.

Seringkali permasalahan sederhana menjadi rumit dan melebar karena ikut campurnya pihak lain. Terlebih apabila yang ikut terlibat dalam rumah tangga adalah pihak luar yang tidak memiliki hubungan keluarga seperti teman kantor, teman sekolah, teman kuliah, dan lebih berat jika teman itu lawan jenis.

Benar bahwa kita kadang perlu nasehat dari para pakar atau ahli atau orang tua, akan tetapi peran mereka hanya sebatas memberi nasehat bukan ikut campur.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA ia berkata:  Suatu hari Rasulullah SAW datang kepada puterinya Fathimah Az-Zahra. Beliau mendapati Fathimah sedang menumbuk gandum di atas batu penggiling sambil menangis. Kemudian Rasullah bertanya kepadanya: “Apakah yang membuatmu menangis wahai Fathimah?  Allah tiada membuat matamu menangis. “Fathimah kemudian  menjawab: ” Wahai ayahanda, aku menangis karena batu penggiling ini dan  kesibukanku di rumah”. Kemudian Rasulullah SAW duduk di sampingnya. Dan Fathimah berkata lagi: “Wahai ayahanda, atas keutamaan engkau, mintalah kepada Ali agar dia menyediakan khadimat untukku supaya dapat membantuku menumbuk gandum dan  menyelesaikan urusan rumah.”  Kemudian Rasulullah berkata kepada puterinya: “Jika Allah menghendaki wahai Fathimah, tentu batu penggiling itu akan menggilingkan gandum  untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan  serta hendak mengangkat  derajatmu.

Wahai Fathimah, jika seorang perempuan menumbukkan  (gandum) untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskan  untuknya dari setiap biji gandum, satu kebaikan serta menghapuskan darinya  dari setiap biji gandum satu keburukan. Dan bahkan Allah akan   mengangkat  derajatnya.”

Tafahum adalah kunci kebahagiaan rumah tangga. Pupuklah hubungan suami istri dengan perasaan dan sikap yang baik-baik. Kadang hubungan ini basi termakan waktu hingga menjadi hambar, jenuh tanpa gairah. Inilah kondisi paling berbahaya dalam rumah tangga.

Belajarlah terus untuk menumbuhkan dan menyegarkan cinta, kasih sayang, gairah, semangat dalam berumah tangga agar keluarga kita selalu segar tak pernah layu.

Semoga Allah curahkan shalawat atas Nabi SAW. Suami mulia yang begitu faham dengan istrinya sebagaimana diceritakan oleh  Anas bin Malik ia berkisah, “Suatu saat Rasulullah SAW di tempat salah seorang istrinya dan istrinya yang lain mengirim sepiring makanan. Maka istrinya yang sedang bersamanya ini memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring itu dan pecah berkeping-keping. Makanan pun berhamburan. Lalu Rasulullah SAW mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang berhamburan .Dengan tersenyum beliau berkata, “Ibu kalian cemburu…” .


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Romantis Tahajud Bersama

SUASANA ROMANTIS DALAM KELUARGA RASULULLAH SAW

Pemateri: Ustadzah. Dra. Indra Asih

Suasana harmonis sangat ditentukan dengan kerja sama yang bagus antara suami istri dalam menciptakan suasana yang kondusif dan hangat, tidak membosankan, apalagi menjemukan.

Rasulullah adalah sosok manusia yang paling sempurna akhlaknya di antara makhluk ciptaan Allah. Beliau merupakan sosok teladan terbaik dalam membina keluarga, sehingga patut dijadikan contoh bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, tidak pada perempuan, tidak juga pada pembantu, kecuali perang di jalan Allah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga ketika diperlakukan sahabatnya secara buruk tidak pernah membalas, kecuali kalau ada pelanggaran atas kehormatan Allah, maka ia akan membalas atas nama Allah.

(HR Muslim).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling sibuk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pemimpin pemerintahan negara, memimpin ribuan tentara, menghabiskan waktunya untuk agama, tetapi beliau tetap meluangkan waktu bersama istri dan keluarga, sesuai sabdanya:

“Orang terbaik di antara kalian (suami) adalah yang terbaik bagi keluarganya dan akulah di antara kalian yang paling baik terhadap keluargaku, tidak memuliakan wanita kecuali orang yang hina,”

(HR Ibnu Asakir dari Ali bin Abi Thalib).

Gambaran bagaimana suasana romantis beliau bersama istrinya nampak pada:

1. Panggilan Kesayangan

Suasana mesra dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah ia memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan panggilan kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat perasaan ‘Asiyah menjadi  sangat bahagia.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita sebagai berikut, pada suatu hari Rasûlullâh berkata kepadanya.

يَا عَائِشُ, هَذَا جِبْرِيْلُ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ

“Wahai ‘Aisy Malaikat Jibril tadi menyampaikan salam buatmu.”

(HR Muttafaqun ‘alaihi).

Kita masih sering mendengar suami yang memanggil istrinya seenaknya saja. Bahkan ada yang memanggil istrinya dengan cacat dan kekurangannya.

Kalau begitu sikap suami, mungkinkah keharmonisan dapat tercipta?

Mungkinkah akan tumbuh rasa cinta istri kepada suami?

2.  Mandi Bersama

Suami-istri diperbolehkan mandi bersama dalam satu ruangan meski masing-masing saling melihat aurat pasangannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata;

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَ رَسُوْلُ اللهِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ

Aku biasa mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana. (HR Bukhari).

Dalam redaksi yang lain disebutkan Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Aku pernah mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu wadah yang terletak di antara aku dan beliau.

Tangan kami berebutan menciduk air yang ada di dalamnya. Beliau menang dalam perebutan itu, sampai aku katakan, “Sisakan untuk saya…Sisakan untuk saya…!

Kami dalam keadaan junub.” (HR Bukhari Muslim)

3.   Makan dan Minum dalam Satu Tempat

‘Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan:

كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٍ, فَأُنَاوِلُهُ النَّبِيَ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيّ وَ أَتَعَرَّقُ العَرَقَ فَيَتَنَاوَلُهُ وَ يَضَعُ فَاهُ فِي مَوْضِعِ فِيّ

“Suatu ketika aku minum, ketika itu aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR Muslim)

Begitulah kemesraan dapat tercipta, yaitu menciptakan rasa saling memiliki. Sepiring berdua, segelas berdua, makan berjama’ah serta beberapa hal lain yang dianjurkan oleh Rasulullah agar dilakukan bersama oleh suami istri!

Dengan demikian akan tercipta rasa saling memahami satu sama lain.

4.   Mencium Kening Istri

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw tidak malu untuk bermesraan walaupun hanya sekedar mencium istri sebelum keluar rumah.

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَ قَبَّلَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

“Sungguh Rasulullah pernah mencium salah seorang istri beliau baru kemudian berangkat menunaikan shalat tanpa memperbaharuhi wudhu”

(HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Budaya mencium istri agaknya masih asing di tengah masyarakat kita, khususnya masyarakat timur. Bahkan masih banyak yang menggapnya tabu, mereka mengklaimnya sebagai budaya barat.

Tentu saja mencium istri yang kita maksud di sini bukanlah mencium istri di depan umum atau di hadapan orang banyak. Sebenarnya banyak sekali hikmah sering-sering mencium istri.

Sering kita lihat sepasang suami istri yang saling cuek. Kadang kala si suami pergi tanpa diketahui oleh istrinya kemana suaminya pergi. Buru-buru melepasnya dengan ciuman, menanyakan kemana perginya saja tidak sempat. Sang suami keburu pergi menghilang, kadang kala tanpa pamit dan tanpa salam!? Coba lihat bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bergaul dengan istri-istri beliau. Sampai-sampai Rasulullah menyempatkan mencium istri beliau sebelum berangkat ke masjid.

5.  Beribadah Bersama

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezqi kepadamu, kamilah yang memberi rezqi kepadamu dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS Thaha [20]: 132).

Dalam kesempatan lain, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan:

كَانَ النَّبِيُ يُصَلِّي وَأَنَا رَاقِدَةٌ مُعْتَرِضَةٌ عَلَى فِرَاشِهِ, فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِي

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat malam sementara aku tidur melintang di hadapan beliau. Beliau akan membangunkanku bila hendak mengerjakan shalat witir.” (HR Muttafaqun ‘alaihi)

Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا المَاءَ,رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan istrinya untuk shalat bersama. Bila si istri enggan, ia memercikkan air ke wajah istrinya (supaya bangun). Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati seorang istri yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu membangunkan suaminya untuk shalat bersama. Bila si suami enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya (supaya bangun)”

(HR Ahmad).

6. Ramah dan Lembut

Masing-masing pihak suami istri harus bertekad untuk bersikap ramah dan lembut kepada pasangannya, bersenda gurau dengannya, dan bercanda dengannya.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, meskipun mempunyai sifat keras dan tegas, mengatakan: “Sudah selayaknya seorang laki-laki menjadi seperti anak kecil di tengah keluarganya. Bila dia di tengah kaumnya, maka hendaknya dia menjadi seorang laki-laki.”

Aisyah radhiyallâhu ‘anha menceritakan, “Adalah Rasulullah ketika bersama istri-istrinya, beliau adalah manusia lembut dan paling pemurah. Gampang tertawa dan gampang tersenyum.” (HR Ibnu Asakir)

Berlaku lemah lembutlah dalam menjalankan kehidupan supaya keharmonisan dapat tercapai dalam lingkungan keluarga, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

“Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (istri). Jika ia tidak menyukai salah satu akhlaknya, ia pasti ridha kepada akhlaknya yang lain.”
(HR Muslim)

Sikap ramah dan lembut Rasulullah ditunjukkan kepada keluarganya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersenda gurau dengan istri dan anak-anaknya, menghibur, dan mema’afkan kesalahan mereka, menyebar senyum bahagia serta mengisi rumah mereka dengan hal-hal yang menyenangkan.

Suatu ketika Anas bin Malik, pembantu beliau melukiskan keadaan keadaan beliau dengan mengatakan, “Aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Selama itu belum pernah beliau menegur atas apa yang aku lakukan, “Mengapa kamu tidak melakukan ini?” Beliau juga beliau belum pernah mengatakan kepadaku sesuatu yang belum aku kerjakan, “Mengapa kamu belum melakukan ini?”

Kasih sayang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menembus hati orang-orang terdekat yang pernah berinteraksi dengan beliau, sehingga setiap jiwa selalu merindukannya.

Oleh karena itu, berlemah lembutlah pada keluarga supaya kehangatan dan kemesraan keluarga dapat tercapai sebagaimana keluarga Rasulullsh shallallahu alaihi wa sallam.

7.  Memberi Hadiah

Saling memberi hadiah diantara suami istri –terutama hadiah dari suami untuk istri- merupakan salah sebab makin mendalamnya rasa cinta di antara keduanya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kalian sering memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR Bukhari)

Hadiah merupakan ekspresi kasih sayang dan mampu mencairkan kebekuan dan rutinitas hubungan manusia.

Hadiah tidak disyaratkan berupa barang-barang kepemilikan yang mahal lagi mewah karena tujuan dari hadiah pada awalnya adalah mengekspresikan kasih sayang dan kesatuan. Hal ini dapat diwujudkan dalam materi hadiah dengan nilai seberapa pun. Tapi jika hadiah tersebut berupa sesuatu yang mahal, maka itu akan menyebabkan kebahagiaan berlipat ganda dan kasih sayang makin bertambah.

8.  Memahami Kecemburuan Istri

Rasa cemburu dianggap sebagai watak dasar para wanita, tidak ada wanita yang selamat dari watak ini, bahkan para Ummahat al-Mukminin yang merupakan istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Aisyah selalu mencemburui Khadijah radhiyallahu ‘anha walaupun ia tidak pernah bertemu dengan Khadijah.

Aisyah mengingkari pujian dan sanjungan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Khadijah dengan mengatakan,

“Allah telah memberikan ganti yang lebih baik darinya.” (Ini ucapan Aisyah radhiyallahu ‘anha. HR Bukhari dan Muslim)

Kecemburan yang baik memengaruhi hubungan mesra suami istri dengan syarat tidak berlebihan dalam cemburu, namun proporsional dan penuh pertimbangan.

Dengan demikian, cemburu menjadi indikator rasa cinta pasangan kepada pasangannya, disinilah cemburu itu akan nampak indah. Untuk itu suami harus bersikap proporsional dalam masalah ini, dan tidak boleh berburuk sangka, dan mencari-cari kesalahan.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah cemburu pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ia menceritakan sendiri bahwa pada suatu malam Rasulullah pergi dari sisinya. Ia berkata,

“Aku mencemburuinya karena jangan-jangan beliau mendatangi salah satu istrinya. Lalu datanglah beliau dan melihat keadaanku.

Rasulullah bersabda, “Apakah engkau cemburu?”

Jawabku, “Apakah orang sepertiku tidak pantas untuk cemburu terhadap orang sepertimu?”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh setanmu telah datang”. (HR Muslim dan Nasa’i)

Aisyah radhiyallâhu ‘anha juga pernah berkata, “Aku tidak melihat yang pandai memasak seperti Shafiyah. Ia memasak makanan untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau ada dirumahku.

Timbullah rasa cemburuku, aku merebut piring yang berisi makanan tersebut dan membantingnya sampai pecah. Tetapi aku menyesal, lalu berkata, “Ya Rasulullah, apa kifarat bagi perbuatan yang telah aku lakukan?”

Nabi shallallâhu alaihi wa sallam menjawab, “Gantilah piring itu dengan piring yang serupa, demikian pula makanannya.”

(HR Abu Dawud dan Nasa’i)

9.  Mengajak Istri Bermusyawarah

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka.

Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya.

Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak kepemimpinan keluarga, berada di tangan laki-laki.

Allah Azza wa Jalla  berfirman: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al Baqarah [2]: 228)

Pendapat dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pada peristiwa Hudaibiyah, membawa berkah dan keselamatan bagi umat Islam. Ummu Salamah memberi masukan kepada Nabi agar keluar menemui para sahabat tanpa berbicara dengan siapa pun, langsung menyembelih hadyu atau seekor domba dan mencukur rambutnya. Ketika beliau melaksanakan hal itu, para sahabat dengan serta-merta menjalankan perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, padahal sebelumnya mereka tidak mau melaksanakan perintah Rasul, karena mereka merasa pada pihak yang kalah pada peristiwa itu. Mereka melihat bahwa syarat yang diajukan kaum kafir Quraisy tidak menguntungkan kaum muslimin.

10. Bercanda dengan Istri

Bercanda dengan istri akan memupuk rasa kasih sayang terhadap istri dan keluarga, disamping itu juga bercanda akan melepaskan rasa penat ketika selesai bekerja di luar rumah.

Dengan bercanda kita akan sangat mudah tersenyum dan ketawa. Namun tidaklah ketawa berlebihan karena hal itu akan membawa mudharat.

Canda Rasulullah bersama istri dan keluarganya dilakukan saat sedang melakukan perjalanan dan saat sedang berada di rumahnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, bahwa pernah ia bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Maka aku mengajak Beliau lomba lari dan aku berhasil mendahului beliau dengan kedua kakiku. Ketika aku menjadi gemuk, aku mengajak Beliau lomba lari lagi. Akhirnya Beliau berhasil mengalahkan aku dan bersabda, “Ini sebagai balasan atas perlombaan yang dulu itu.”
(HR Abu Dawud)

Masya Allah…

Indahnya suasana rumah teladan kita Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Semoga kita bisa membangun kemesraan dan romantisme di dalam rumah kita, hingga keluarga yang harmonis bukan hanya potret dan mimpi.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

ASAS PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH

Pemateri: Ustadzah. Aan Rohana

Islam merupakan agama yang sempurna, mengatur segala sisi kehidupan manusia, sehingga tidak ada yang dibiarkan tanpa ada syariatnya.

Allah berfirman:

ما فرطنا فالكتاب من شيء

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang kami tinggalkan di dalam al-quran”. ( QS. 6 : 38).

Karena itu, Al-quran telah memberikan arahan yang jelas tentang kehidupan berkeluarga yang merupakan salah satu tahapan terpenting dalam kehidupan manusia, sehingga bisa dibentuk menjadi keluarga yang sakinah penuh berkah dan selalu diridhai Allah SWT, yaitu keluarga yg Islami yang bisa menyiapkan generasi yang shalih , generasi pemimpin bagi orang2 yang  bertakwa sehingga bisa menjadi permata hati bagi siapa saja serta semua anggota keluarga bahagia di dunia dan di akhirat . Inilah yang menjadi cita2 bagi semua orang tua.

Allah berfirman:

والذين يقولون ربنا هب لنا من ازواجنا وذرباتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما

Artinya: ” Dan orang2 yang berkata: ya Tuhan kami anugrahkanlah kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati ( kami ) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” ( QS. 25 : 74 ).

Dalam ayat lain Allah berfirman :

ربنا وادخلهم جنات عدن التى وعدتهم ومن صلح من ابا ئهم وازواجهم وذريا تهم إنك انت العزيز الحكيم. وقهم السيئات ومن تق السيئات يومئذ فقد رحمته وذالك هو الفوز العظيم

Artinya : ” Ya Tuhan kami dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Aden yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang2 yang shaleh diantara bapak2 mereka dan istri2 mereka dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari kejahatan2, barang siapa yang Engkau jaga dari kejahatan pada saat itu , maka sungguh Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya, dan demikian itulah kemenangan yang agung “. ( QS. 40 :  8 – 9 ).

Begitupun Rasulullah telah memberikan arahan untuk kebahagian keluarga itu tergantung kepada pasangan yang shaleh, rumah yang nyaman dan kendaraan yang baik.

Beliau bersabda:

من سعادة ابن ادم ثلاثة ومن شقاوة ابن ادم ثلاثة . من سعادة ابن ادم :  المراة الصالحة والمسكن الصالح والمركب الصالح . ومن شقاوة ابن ادم  المراة السوء والمسكن السوء والمركب السوء . رواه احمد

Artinya : ” Faktor yang membahagiakan anak Adam itu ada tiga perkara dan faktor yang mencelakakan juga ada tiga perkara. Diantara faktor yang membahagiakannya adalah wanita ( istri ) shalihah , tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Sedangkan faktor yang mencelakakan anak Adam adalah wanita ( istri ) yang jahat, tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk “. ( HR. Ahmad ).

Pembentukan keluarga sakinah; keluarga Islami sangat penting untuk menuju pada terbentuknya masyarakat yang berperadaban dan bermartabat. Maka keluarga sakinah harus bisa menegakkan nilai2 Islami pada seluruh anggota keluarga, sehingga mereka menyatu untuk beribadah karena Allah dalam perasaan damai penuh cinta dan sayang untuk bersama2 meraih berkah dan ridha Allah SWT. Inilah suasana rumah bagaikan suasana surga yang sering disebut batii jannatii.

Adapun asas pembentukan keluarga sakinah ; keluarga Islami sebagai berikut:

1. Didirikan diatas landasan takwa.

Takwalah yang bisa membuat suami istri  melaksanakan berbagai kewajiban dengan lapang tanpa beban. Sekalipun dalam berkeluarga tidak selalu senang , tapi dengan takwa dalam duka pun bisa tetap ikhlas berkeluarga karena Allah.

Untuk mewujudkan dan mempertahankan keluarga yang sakinah  diperlukan  pengorbanan dan perjuangan. Tapi suami istri tidak akan lelah untuk berkorban dalam keluarga selama itu dilakukan karena takwanya kepada Allah. Allah berfirman:

ياايها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا واتقوا الله الذي تساءلون به والارحام ان الله كان عليكم رقيبا

Artinya: ”  Wahai manusia bertakwalah kepada TuhanMu yang telah menciptakan kamu ( Adam) dari satu jiwa dan Allah menciptakan pasangannya  ( Hawa) dari dirinya, dan dari keduanya Allah mengembangbialkan laki2 dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu ” ( QS. 4 : 1 )

2. Ditegakkan diatas landasan ibadah kepada Allah.

Keluarga harus didirikan atas dasar karena beribadah kepada Allah . Karena itu sejak memilih pasangan hendaknya karena agamanya bukan semata karena kecantikan, atau kegagahan, kekayaan, maupun jabatannya. Sehingga rumah tangga yang dibangun penuh dengan suasana ibadah, sebab manusia diciptakan hanya untuk beribadah.

Allah berfirman:

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

Artinya : ” Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. ( QS. 51 : 56 ) .

Jika semua kewajiban dilakukan dengan tujuan ingin beribadah kepada Allah. Maka apapun yang dilakukan untuk keluarga semata2 hanya ingin menjadi ibadah yang berpahala di sisi Allah. Maka jika ada permasalahan dalam keluarga akan mudah diselesaikan dalam bingkai ketaatan kepada Allah SWT.

3. Internalisasi nilai2 Islam secara kaffah (menyeluruh).

Keluarga harus dibiasakan untuk disiplin  dalam melaksanakan nilai2 Islam secara kaffah sehigga mereka memiliki komitmen dengan nilai2 Islam. Diharapkan dengan komitmen tersebut keluarga menjadi benteng yang kuat dari perilaku tidak bermoral.

Allah berfirman:

يا ايها الذين امنوا ادخلوا في السلم كافة

Artinya : ” Wahai manusia masuklah kamu ke dalam ajaran Islam secara kaffah” (QS. 2 : 208 ).

4. Keteladanan

Untuk menciptakan keluarga yang Islami diperlukan keteladanan yang nyata dari kedua orang tua. . Sekalipun pembiasaan, pendampingan serta pengarahan yang baik dari kedua orang tua juga penting, tapi sebelum itu semua diperlukan lebih dulu keteladan yang nyata dari kedua orang tua yang  selalu bergerak di hadapan anak2.

Allah berfirman:

ياايها الذين امنوا لم تقولون مالا تفعلون. كبر مقتا عند الله ان تقولو مالا تفعلون

Artinya : ” Wahai orang2 yang beriman mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan. Amat besar dosa bagi orang yang mengatakan tetapi tidak melakukan “. ( QS. 61 : 2 -3 ).

Allah berfirman dalam ayat lain:

رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي

Artinya: ” Wahai Tuhanku jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat dan demikian juga keturunanku” ( QS. 14 : 40 ).

5. Melaksanakan kewajiban

Setiap suami istri harus bisa melaksanakan kewajiban masing2 sesuai dengan tuntunan Islam sehingga suasana dalam keluarga harmonis , tidak banyak tuntutan, protes dan pertikaian.

Jika hal tersebut bisa dilakukan dengan baik oleh suami istri , maka insya Allah hal itu bisa membuat mereka mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Allah berfirman:

ولا تتمنوا ما فضل الله به بعضكم على بعض للرجال نصيب مما اكتسبوا وللنساء نصيب مما اكتسبن واسالوا الله من فضله ان الله بكل شيئ عليما

Artinya: ” Dan janganlah kamu iri hati  terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Bagi orang laki2 ada bagian dari  apa yang mereka usahakan, dan wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah dari sebagian karunia Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui terhadap segala sesuatu”. ( QS. 4 :32)

Maka tidak akan ada keguncangan keluarga ,  tidak akan ada pertengkaran diantara  suami istri , dan tidak ada keributan diantara mereka untuk  saling menuntut haknya selama mereka dapat  memenuhi kewajiban  masing2.

6. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

Tidak ada suami dan istri  yang memiliki segalanya sehingga mereka memerlukan kerja sama satu sama lain. Tidak ada suami istri yang sempurna sehingga mereka harus saling melengkapi. Sungguh berat perjuangan suami istri  untuk menciptakan generasi yang shaleh dan shalihah dan menjadi generasi imamul muttaqin tanpa ada saling membantu.

Maka untuk mensukseskan visi misi keluarga sakinah harus siap untuk saling tolong menolong antara suami dan istri dalam kebaikan dan takwa.

Allah berfirman:

وتعاونوا على البر والتقوى

Artinya : ” Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa” ( QS. 5 : 2 ).

7. Jujur

Jujur harus menjadi asas atau fondasi dalam membentuk keluarga sakinah sejak proses memilih pasangan, penyelenggaraan akad nikah, keberlangsungungan rumah tangga hingga ajal menjemput.

Suami istri harus jujur terhadap dirinya sendiri dan harus jujur terhadap orang lain. Mereka harus jujur terhadap hatinya, jujur terhadap lisannya, jujur terhadap yang hak dan jujur terhadap yang bathil. Sehingga jujur akan menjadi cahaya dalam segala urusan.

Selain itu jujur dalam berumah tangga akan mendangkan keberkahan dan kemudahan dalam melahirkan berbagai kebaikan ,

Rasulullah bersabda:

ان الصدق يهدى الى البر  والبر يهدى الى الجنة وان الكذب يهدي الى الفجور والفًجور يهدي الى النار  . رواه البخارى و مسلم

Artinya : ” Sesungguhnya jujur itu menunjukkan pada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan pada surga, dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan pada perbuatan dosa dan perbuatan dosa menunjukkan pada neraka”. (HR. Bukhari dan Muslim. )

Maka jangan ada dusta antara suami istri, karena dusta akan menjadi sumber berbagai keburukan dalam berumah tangga.

 8. Sabar

Berkeluarga itu terkadang diuji oleh masalah kejiwaan, masalah perasaan, masalah harta, masalah pendidikan anak, perbedaan karakter, perbedaan budaya dll. Karena itu untuk mempertahankan keutuhan dan keharmonisan dalam keluarga harus selalu bersabar. Sabar memang berat tapi sabar itu menjadi syarat dalam mendatangkan keberuntungan dan kesuksesan .

Allah berfirman :

يا ايها الذين امنوا اصبروا وصابروا ورابطوا واتقوا الله  لعلكم تفاحون

Artinya: ” Hai orang2 yang beriman bersabarlah, dan kuatkanlah kesabaran, dan bersiap siagalah dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. ( QS. 3 : 200 ).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

 يا ايها الذين امنوا استعينوا باالصبر والصلاة ان الله مع الصابرين

Artinya : ” Wahai orang2 yang beriman mintalah tolong pada sabar dan shalat, sesungguhnya Allah selalu bersama orang2 yang sabar” ( QS. 2 : 153 ).

Demikianlah 8 asas pembentukan keluarga sakinah; keluarga Islami yang menjadi dambaan bagi setiap keluarga muslim.

Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan dalam merealisasikan 8 asas tersebut kepada kepada kita semua, aamiin


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

mukmin satu tubuh

Sama Dalam Seruan Syari’ah, Berbeda Dalam Tugas & Peran

Pemateri: Ustz Eko Yuliarti Siroj S.Ag.

UMMU AIMAN bersama beberapa sahabiyat bertugas sebagai tim kesehatan dan penyiapan makanan pasukan perang Uhud.

Dan inilah yang dilakukannya saat pasukan panah tidak memenuhi instruksi Rasulullah sehingga musuh berhasil memukul mundur pasukan muslimin.

Saat mereka lari ketakutan, Ummu Aiman menghadang mereka sambil melempar pasir ke muka mereka

“Ini bedak yang pantas kalian terima. Ambil pedang kalian dan kembali ke medan perang!”.

Bersama para sahabiyat ia mencari kabar tentang Rasulullah. Dan ia merasa tenang saat mengetahui Rasulullah selamat.

AR-RUBAYYI binti MU’AWWIDZ adalah teladan bagi setiap muslimah yang sedang belajar.

Ia menguasai ilmu dengan baik dan sangat berhati-hati dalam menyampaikan setiap kata dan maknanya.

Semua orang mengakui kedudukan dan kehormatannya dan menyanjung kekuatan ilmunya.

Banyak sahabat dan tabi’in yang menemuinya untuk bertanya tentang hukum agama dan banyak penduduk madinah yang meriwayatkan hadits darinya.

Ini mereka lakukan karena mereka tahu kedudukan Ar-Rubayyi’ di mata Rasulullah dan kebiasaan yang dilakukannya yaitu berkunjung kepada Aisyah ra. untuk belajar memperdalam dan memahami ilmu khususnya ilmu agama.

UMMU HISYAM  binti HARITSAH salah seorang sahabiyat yang turut dalam rombongan umroh bersama Rasulullah pada bulan Dzulqo’dah tahun 6 hijrah.

Saat mengetahui Rasulullah akan datang, orang-orang Quraisy sepakat untuk menghadang beliau.

Dan saat mendekati Makkah, Rasulullah mengutus Utsman bin Affan untuk berunding. Waktu berlalu namun Utsman tak kunjung kembali.

Kaum muslimin mulai gelisah dan mereka bersumpah setia rela mengorbankan nyawanya. Rasulullah memegang tangan mereka dan semua kaum muslimin bersumpah setia kecuali seorang munafik bernama Jaad bin Qais.

Tak lama Utsman muncul dan ia pun ikut bersumpah setia.

Sumpah setia ini dilakukan dibawah sebuah pohon dan inilah yang dinamakan baiatur Ridwan.

Ummu Hisyam termasuk diantara yang bersumpah setia rela untuk mati.

***

Pada banyak aspek umum dalam kehidupan, laki-laki dan perempuan memiliki posisi dan perlakuan yang sama dari Allah SWT.

Keduanya Allah seru secara bersama-sama dalam ayat-ayat yang dimulai dengan kata “يا أيها الناس”.

Dalam sebuah ayat, Allah SWT menyebut keduanya secara rinci dalam kalimat yang setara. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab : 35).

Dalam ayat ini Allah SWT menempatkan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang sejajar untuk mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dengan berlakunya syarat yang sama dalam pekerjaan yang dilakukan.

Demikian juga di surat At-Taubah ayat 17 Allah SWT berfirman :

“Dan orang-orang yang beriman laki -laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”

Bukan hanya kaum mukminin yang menjadi penolong tapi Allah tegaskan keduanya (mukminin dan mukminat) bisa SALING bantu, SALING tolong menolong.

Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda :

النساء شقائق الرجال

“Perempuan adalah saudara kandung laki-laki.” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi)

Abu Halim Abu Syuqqoh dalam kitab tahrirul mar’ah fii ‘ahdi risalah menyebutkan bahwa makna syaqoiq (saudara kandung) menunjukkan laki-laki dan perempuan memiliki KEDUDUKAN SETARA didalam Islam.

Yang membedakan keduanya adalah fungsi & peran.

Didalam ayat-ayat lain, Allah menjelaskan bahwa fungsi diciptakannya laki-laki dan perempuan untuk saling menyempurnakan dalam menunaikan misinya sebagai manusia.

Mereka adalah mitra dalam seluruh aspek kehidupan. Mereka adalah mitra dalam berkeluarga. Allah SWT berfirman :

“Dan Allah menjadikan bagi kamu istri-istrimu dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istrimu anak-anak dan cucu-cucu dan memberimu rizki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni’mat Allah?” (QS An-Nahl:72)

Disamping fungsi untuk SALING MENGUATKAN dan menjadi mitra, Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan dengan kekhususan masing-masing.

Kekhususan itu terkait erat dengan perbedaan fisik, psikologi, dan fungsi sebagian organ tubuhnya.

Perbedaan inilah yang menyebabkan laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan tugas dan peran.

Perbedaan ini tidak menjadikan yang satu lebih unggul dari yang lain karena keunggulan hanya ditentukan oleh ketakwaan dan kesiapan menunaikan misi hidup sebagai manusia (ibadah & memakmurkan bumi).

PEREMPUAN dengan kelembutan, keibuan, kasih sayang dan sifat kewanitaannya adalah sumber stabilitas dan ketenangan bagi lingkungannya.

Dengan fitrah sabarnya, Allah takdirkan ia menanggung beban kehamilan, melahirkan, menyusui, mengasuh, merawat dan mengurus anak-anaknya.

LAKI-LAKI dengan kekuatan fisiknya diwajibkan untuk terjun ke dunia yang keras berupaya konsisten mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga, membimbing dan melindungi seluruh anggota keluarga.

Masing-masing Allah berikan tugas sesuai dengan kondisi yang telah Allah siapkan.

Oleh karenanya tidak ada ruang untuk saling mencemburui dan menggugat tugas & peran yang telah ditetapkan Allah.
Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Jarir At-Thabary dalam tafsirnya menjelaskan asbabun nuzul dari QS An-Nisa:32.

Mujahid menyampaikan bahwa Ummu Salamah berkata :
“Wahai Rasulullah, kaum laki-laki digarda depan peperangan, kami tidak pergi berperang. Kami juga mendapatkan setengah hak waris dari laki-laki.”

Maka Allah menurunkan ayat

:”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.
(Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan.

Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An-Nisa:32)

Kisah para sahabiyat diatas menunjukkan kematangan para sahabiyat dalam menunaikan perannya di tengah masyarakat tanpa mengganggu peran para sahabat bahkan memberikan dorongan untuk terus bekerja/berjihad.

Sebaliknya para sahabat menerima dengan lapang dada kehadiran para sahabiyat.

Bahkan untuk hadir di medan perang mereka lakukan akan tetapi mereka bertugas sesuai fitrahnya.

Para sahabiyat juga menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan turut berjanji setia kepada Allah dan RasulNya.

Memahami kesamaan dihadapan Allah dan perbedaan dalam beberapa tugas dan peran merupakan bagian penting dari pondasi kehidupan berkeluarga.

Agar setiap anggota keluarga baik ayah, ibu, dan anak-anak tidak memiliki ketergantungan karena masing-masing memiliki posisi yang sama dihadapan Allah.

Agar masing-masing tidak melakukan tugas dan peran yang terbalik.

Ibu fokus pada peran utamanya mengurus keluarga, ayah fokus pada peran utamanya mencari nafkah dan anak-anak hormat dan berbakti pada orang tuanya bukan sebaliknya.

Maka ketika mulai ada tugas dan peran yang dilakukan terbalik, terjadilah kerusakan di muka bumi.

Dari kefahaman akan pembahasan ini, kita akan mudah memaknai dan menerima pernikahan, tujuannya, makna qowwamah, kerjasama dalam keluarga, membentuk keluarga harmonis, menangani problematika dalam keluarga, dll.

Bagi mereka yang belum menikah, fahamilah pondasi-pondasi dan prinsip-prinsip berkeluarga ini dengan baik.

Dan bagi mereka yang sudah menikah, tidak ada salahnya bila kita menata ulang prinsip-prinsip yang harus kita tanamkan dalam kehidupan berkeluarga.

Semoga Allah ridhoi setiap detik kehidupan kita dan Allah jadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Wallohu a’lam bis showwab.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

Sama Dalam Penciptaan, Berbeda Dalam Sifat dan Karakter (Bag-2)

Pemateri: Ustadzah. EKO YULIARTI SIROJ,  M.Ag.

Lantas, dimana letak perbedaan manusia?

Rasulullah SAW bersabda :

إن الله خلق آدم من قبضة قبضها من جميع الأرض, فجاء بنو آدم على قدر الأرض جاء منهم الأبيض والأحمر والأسود وبين ذلك والخبيث والطيب والسهل والحزن وبين ذلك

Artinya:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan Adam dari segumpal tanah yang diambil-Nya dari segala macam tanah.

Kemudian datanglah anak-anak Adam menurut tanah asal mereka. Mereka ada yang putih, merah, hitam dan sebagainya; ada pula yang jelek, baik, sederhana, bersedih dan sebagainya.” (H.R. Abu Daud dan Tirmizi)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَاا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.

Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS Ar Ruum : 54)

Disinilah perbedaannya…..
dalam perjalanan itu.

Dalam tumbuh kembang dan pembentukan karakternya.

Berbedanya pola hidup, makanan, minuman dan budaya membuat manusia memiliki karakter umum yang berbeda-beda.

Ada orang Timur yang ramah dan santun, ada orang Barat yang terbuka dan terus terang.

Ada orang Arab yang penuh semangat, ada orang Inggris yang penuh etika.

Karakter umum itu kemudian mengerucut menjadi karakter khusus orang per orang.

Ada orang yang berhati
lembut, ada yang keras hatinya.
Ada yang pemaaf, ada yang pemarah.
Ada yang pendiam ada yang ramai.
Ada yang terbuka ada yang tertutup.
Ada yang bergerak cepat, ada yang santai.
Dan yang lainnya.

Karakter khusus ini dilandasi oleh sifat dasar seseorang yang dipengaruhi dengan sangat besar oleh pola asuh, kondisi lingkungan, kondisi ekonomi dan pendidikan.

Maka menjadi sebuah keniscayaan bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda.

Perbedaan karakter ini membuat manusia harus saling mengenal.
Agar interaksi diantara mereka dapat berjalan dengan harmonis. Interaksi yang hangat, saling memahami dan terhindar dari banyak masalah yang muncul karena perbedaan.

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat:13)

Maka mulialah dua sahabat besar Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA. Dua insan yang Allah ciptakan sama sebagai manusia kemudian keduanya berjalan dengan takdirnya sendiri-sendiri.

Abu Bakar RA sahabat berhati lembut, berparas tampan, bersegera dalam berderma dan dalam semua kebaikan. Ia  yang rela menghadapi rintangan yang sangat berat demi  menemani Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrahnya. Ia yang diakhir hayatnya meminta agar kekayaan yang ia dapat saat menjadi khalifah, dikembalikan ke baitul maal kaum muslimin.
Dan inilah Umar bin Khattab RA… Sahabat berhati baja, berpostur gagah, bersegera menghadang musuh-musuh Allah yang akan mengganggu Rasulullah SAW dan bersegera menghunus pedangnya saat mendengar kemunkaran terjadi.

Ia yang disebutkan dalam hadits riwayat Aisyah sebagai seseorang yang ditakuti oleh syaitan. Ia yang begitu murka saat mendengar orang mengatakan Rasulullah telah wafat.

Allah ciptakan keduanya sama sebagai manusia…dengan karakter yang jauh berbeda.

Namun perbedaan karakter yang hampir seratus delapan puluh derajat itu tidak membuat mereka harus berhadapan, berselisih atau berpisah karena merasa tidak cocok.
Justru perbedaan karakter itu mereka kelola dalam interaksi mereka sehingga menghasilkan amal solih yang luar biasa.

Abu Bakar yang menangis tersedu saat Allah membenarkan pandangan Umar tentang tawanan perang Badar dan Umar yang berlinang air mata saat tahu apa yang setiap pagi dilakukan Abu Bakar dirumah seorang nenek tua dipinggiran kota Madinah.

Keduanya menjadi manusia mulia karena ketakwaan yang mereka miliki bukan sekedar karena karakter belaka.

❁Dan disinilah kita hari ini. Belajar dan terus belajar, berusaha dan terus berusaha agar perbedaan karakter antara suami, istri, anak, orang tua, mertua, ipar, dan kerabat lainnya dapat kita kelola menjadi sebuah harmoni yang indah bukan menjadi sebab terjadinya perpecahan.❁

Di keluargalah kita belajar mengelola beragam karakter ini karena diluar sana, di masyarakat luas, kita akan berhadapan dengan karakter yang lebih beragam.

Sebagai insan yang berbeda, suami istri pasti akan mengahadapi  ketidakcocokan.

Tapi benarkah ketidakcocokan harus menjadi factor yang menyebabkan suami istri berpisah padahal itu adalah hal yang niscaya?

Jika sampai terjadi, maka sesungguhnya kekurangan yang ada pada keluarga-keluarga kita adalah keterampilan untuk mengelola ketidakcocokan itu bukan ketidakcocokan itu sendiri.

Keluarga-keluarga kita kurang terampil mengelola perbedaan bukan perbedaan itu sendiri yang menyebabkan banyak perpisahan.

Maka, memahami persamaan dalam penciptaan  dan perbedaan dalam karakter merupakan prinsip ketiga yang perlu difahami oleh anggota keluarga setelah prinsip pertama yaitu memahami misi sebagai manusia dan prinsip yang kedua yaitu fitrah manusia yang terjaga dengan mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Semoga Allah kuatkan pondasi-pondasi keluarga kita dan Allah tingkatkan kefahaman kita terhadap ilmu dalam berkeluarga.

Aamiin ya Robbal ‘alamiin….


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

Sama Dalam Penciptaan, Berbeda Dalam Sifat dan Karakter (Bag-1)

Pemateri: Ustadzah. EKO YULIARTI SIROJ,  M.Ag.

❃ Tentang nasib para tawanan Badar, keduanya berbeda pandangan.

Dengan kelembutan hatinya, sahabat mulia ini berpandangan bahwa mereka harus diberikan hak untuk hidup. Dilindungi dan dikasihi, sebesar apapun kesalahan dan kebencian mereka kepada Rasulullah SAW.

Sahabat mulia yang lain teguh dengan pandangannya bahwa mereka harus dibunuh karena kekafiran, penolakan dan kebenciannya kepada Rasulullah SAW.

Setelah mempertimbangkan kedua pandangan tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

“Allah SWT melembutkan hati beberapa orang diantara kalian lebih lembut dari susu.
Dan Dia mengeraskan hati beberapa orang diantara kalian lebih keras dari batu.”

Kepada Abu Bakar RA, Rasulullah berkata :
“Engkau seperti Ibrahim AS yang mengatakan,
“Dia yang mengikutiku adalah salah satu dari kami, dan dia yang tidak mengikutiku, maka ya Allah, Engkau Maha Pemurah untuk memaafkannya”.

Kepada Umar bin Khattab RA, Rasulullah berkata :
“Engkau seperti Nuh AS yang mengatakan,
“Ya Allah, jangan tinggalkan satupun dari orang yang tidak beriman itu di bumi ini.”

Dan Rasulullah pun menerima saran Abu Bakar RA.

Namun keesokan harinya, Umar mendapati Rasululah dan Abu Bakar sedang menangis.

Umar bertanya:
“Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu menangis? Katakan padaku sehingga aku ikut menangis bersamamu.”

Rasulullah menjawab :
“Wahai Umar, tidak ada yang perlu engkau tangisi karena seharusnya engkau berbahagia.
Allah telah menguatkan pandanganmu tentang tawanan Badar, dan menegur mereka yang mengambil pandangan yang bertentangan.”

Kemudian Rassulullah SAW membacakan ayat :

“Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan
sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.

Kalian menghendaki harta benda duniawiah,
sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untuk kalian).
Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “(QS Al-Anfaal:67)

❆ Di kesempatan lain…..

Suatu hari, Umar mengawasi Abu Bakar di waktu fajar.
Sesuatu telah menarik perhatian Umar.

Saat itu Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya.

Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan Abu Bakar kecuali rahasia urusan gubuk tersebut.

Hari-hari terus berjalan, Abu Bakar tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar masih belum mengetahui apa yang dilakukan Abu Bakar di sana.

Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya.

Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan mata kepalanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya di situ.

Saat Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapatkan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu.

Umar tercengang dengan apa yang dilihatnya, dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar RA.

Umar bertanya:
“Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?”

Nenek menjawab:
“Demi Allah, aku tidak mengetahui, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya.

Dia menyiapkan makanan untukku. Kemudian dia
pergi tanpa berbicara apapun denganku.”

Berlinang air mata Umar mendengarnya dan ia mengucapkan kalimatnya yang sangat masyhur,

“Sungguh, engkau telah membuat lelah khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.” (Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf)
♢♢♢

❁ Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan penciptaan yang sama.
Dilahirkan sebagai seorang bayi merah, lemah tak berdaya, tanpa sehelai benang di tubuhnya, hanya berbekal tangis sebagai alat untuk berkomunikasi.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً  وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا  ﴿النساء:١﴾

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(QS An-Nisaa:1)

Karena Allah menciptakan manusia berpasangan yaitu laki-laki dan perempuan, maka merekapun berkembang biak. Bertambah jumlahnya dan menjadi banyak.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (QS. Ar-Ruum:20)

Ayat-ayat diatas secara nyata menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan kondisi yang sama.

Lantas, dimana letak perbedaan manusia?

Bersambung ke bag-2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

URGENSI KELUARGA SAKINAH, KELUARGA  ISLAMI (Bag-2)

📝 Pemateri: Ustadzah Aan Rohana Lc. M Ag.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia dapat menyelamatkan  manusia dari krisisis moral melalui pembentukan keluarga yang sakinah; keluarga yang Islami.

Karena itu keluarga muslim harus kembali kepada ajaran Islam, sebab  Islam telah memberikan perhatian yang besar dalam membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah yang selalu diberkahi Allah SWT.

Hal tersebut telah terbukti dalam sejarah bahwa Rasulullah dan para sahabat mampu menciptakan rumah sebagai surga dalam suka dan duka serta mereka sukses melahirkan generasi terbaik dalam sejarah kehidupan manusia.

Berkeluarga harus diawali dengan akad pernikahan yang sah sebagai ikatan bersatunya suami istri.

Akad nikah yang sah harus berdasarkan alquran dan hadits Rasulullah. Sebab pernikahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agama. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W.

من رزقه الله امراة صالحة فقد اعانه علي شطر دينه فليتق الله  في الشطر الباقي

Artinya: ” Barang siapa yang diberi rizki oleh Allah berupa wanita shalihah, maka Allah telah menolongnya setengah dari agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lain”. ( HR. Thabroni dan Hakim).

Dengan pernikahan yang sah sesuai Quran dan hadis maka bertambahlah kasih sayang antara suami istri.

Masing-masing akan merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Sesuai dengan firman Allah dalam QS. 30 : 21 yang sudah ditulis diatas .

ومن اياته ان خلق لكم من انفسكم ازواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودة ورحمة ان في ذالك لأيات لقوم يتفكرون

Artinya: ” Dan dari tanda2 kebesaran-Nya adalah  Dia telah menciptakan untuk kalian pasangan dari jiwa kalian sendiri agar kalian merasa tenang dan senang kepadanya dan Dia telah menjadikan  rasa  cinta dan kasih sayang diantara kalian. Sesungguhnya pada hal yang demikian itu terdapat tanda2 kebesaran Allah  bagi orang2 yang berfikir” ( QS. 30 : 21)

Maka pernikahan yang sah ini menjadi fondasi terbentuknya keluarga yang sakinah.

Jika suami istri bisa menyatukan visi dan misi serta persepsi dan kiprah mereka dalam berkeluarga maka akan terbentuk rumah tangga yang kokoh yang berpijak pada kasih sayang untuk bersama-sama berjuang mencapai visi dan misi keluarganya menjadikan seluruh anggota keluarga sebagai permata hati dan imam bagi orang-orang  yang bertakwa.

Sebagaimana doa kita semua yang sering kita panjatkan kepada Allah

ربنا هب لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما
Artinya:
Wahai Rob kami anugrahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai permata hati dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. 25:74)Suksesnya membentuk keluarga yang sakinah sekaligus  keluarga yang Islami menjadi fondasi terhadap terbentuknya masyarakat madani.

Pada saat yang sama keluarga seperti itu merupakakan bagian penting yang harus ada dalam membangun bangsa dan negara sebagai baldatun thayyibatun wa robbun ghafuur.

Karena itu mari kita perbaiki diri kita masing-masing untuk menjadi muslim yang berkepribadian Islami dan bersama pasangan kita masing-masing bekerjasama membentuk keluarga yang sakinah; keluarga yang Islami.

Serta tidak lupa menyiapkan keluarga untuk bisa berkontribusi pada perbaikan  masyarakat, bangsa dan negara yang beragama dan bermartabat.

📚 Ada beberapa unsur yang asasi dalam pembentukan keluarga sakinah; keluarga Islami diantaranya yaitu :

🍀1⃣. dibangun atas dasar takwa dan ingin beribadah kepada Allah semata.

🍀2⃣. adanya internalisasi nilai2 Islam dalam keluarga.

🍀3⃣. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

🍀4⃣. Situasi rumah yang kondusif dalam menerapkan nilai2 Islam.

🍀5⃣. Terbentengi dari pengaruh lingkungan yang buruk,

🍀6⃣. Dll. Insya Allah akan dijelaskan pada materi sesi berikutnya.😊😊😊

Wallahu a’lam bishshawaab.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678