Menaaehati Orang yang Menyakiti Saudaranya

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUstadz Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐ŸŒธ๐ŸŒป๐Ÿ„๐Ÿ€๐Ÿ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaikum…
Afwan ustadz, Bagaimana kita harus bersikap untuk menghadapi seseorang yg secara tidak langsung dia menyakiti hati dan perasaan orang di sekitarnya, tapi dia tidak pernah merasa apabila dia berkata dan berbuat itu menyakiti saudara a.
Apakah akan kita tabayun sendiri atau menyerahkan kepada seseorang lebih berkafaah dengan urusan ini?-A13-

Jawaban:
—————
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜Ala Rasulillah wa baโ€™d:

Menghadapi orang yang menyakiti kita, ada beberapa cara:

๐Ÿ“Œ Reaksikan dengan sikap, seperti mendiamkannya dalam rangka memberikan pelajaran. Ini tidak dilarang dan bukan termasuk larangan โ€œmendiamkan saudara melebihi tiga hari.โ€ Rasulullah  ๏ทบ pernah mendiamkan tiga orang sahabatnya selama 50 hari karena mereka meninggalkan perang Tabuk tanpa alasan.
Orang-orang bijak mengatakan: โ€œOrang biasa menyikapi hal buruk dengan perkataan dan orang โ€˜alim menyikapi yang tidak disukai dengan sikapnya.โ€

๐Ÿ“Œ Jika cara itu tidak membuatnya berubah, maka coba menasihatinya dengan baik. Allah ๏ทป berfirman:
  ูˆูŽุฐูŽูƒู‘ูุฑู’ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฐู‘ููƒู’ุฑูŽู‰ ุชูŽู†ู’ููŽุนู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ

Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatakn itu bermanfaat bagi orang-orang beriman. (QS. Adz Dzariyat: 55)

๐Ÿ“Œ Jika ini juga tidak bisa, maka minta bantuan kepada orang lain yang mungkin bisa dia dengar nasihatnya. Biasanya orang yang dihormatinya.

 Sebagaimana yang Allah ๏ทป perintahkan kepada suami istri yang sedang berselisih, dalam ayat berikut:

ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฎููู’ุชูู…ู’ ุดูู‚ูŽุงู‚ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูู‡ูู…ูŽุง ููŽุงุจู’ุนูŽุซููˆุง ุญูŽูƒูŽู…ุงู‹ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ูˆูŽุญูŽูƒูŽู…ุงู‹ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ูŽุง ุฅูู†ู’ ูŠูุฑููŠุฏูŽุง ุฅูุตู’ู„ุงุญุงู‹ ูŠููˆูŽูู‘ูู‚ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ููŠู…ุงู‹ ุฎูŽุจููŠุฑุงู‹

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. An Nisa: 35)

๐Ÿ“Œ Jika ini masih belum mempan, maka serahkan kepada Allah ๏ทป, yang penting kita sudah melakukan upaya-upaya ishlah (perbaikan).

Allah ๏ทป berfirman:

ููŽุฐูŽูƒู‘ูุฑู’ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ู…ูุฐูŽูƒู‘ูุฑูŒ (21) ู„ูŽุณู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุจูู…ูุตูŽูŠู’ุทูุฑู

Berilah peringatakan, tugasmu hanyalah memberi peringatan. Kamu tidaklah memiliki kekuasaan kepada mereka untuk memaksa. (QS. Al Ghasyiah: 21-22)

๐Ÿ“Œ Terakhir doakan dia, karena doa orang teraniaya tidak ada hijab (penghalang).  Nabi ๏ทบ bersabda:

ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ู ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุธู’ู„ููˆู…ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ู ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุญูุฌูŽุงุจูŒ

Dan takutlah kalian terhadap doanya orang teraniaya, sebab tidak hijab (penghalang) antara dirinya dengan Allah ๏ทป.  (HR. Muttafaq โ€˜Alaih)

Demikian. Wallahu Aโ€™lam wa Ilahil Musytaka

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐ŸŒธ๐ŸŒป๐Ÿ„๐Ÿ€๐Ÿ๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih pahala…

IBU HAMIL DAN MENYUSUI, BAGAIMANA PUASANYA?

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB
๐Ÿ“šUstadz Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐Ÿ’๐ŸŒด๐ŸŒฟ๐Ÿ’๐ŸŒด๐ŸŒฟ๐Ÿ’๐ŸŒด

Apakah benar ibu hamil dan menyusui itu bayar fidyah, ketika tidak bisa puasa ramadhan? Atau harus qodho?
Dan ketika kasusnya seseorang itu melahirkan di awal ramadhan..otomatis kan dia nifas satu bulan penuh ramadhan tdk bisa puasa.. jika seperti itu kasusnya apakah ibu ini dihukumi sebagai ibu mnyusui juga yg boleh bayar fidyah ato ya harus bayar ganti puasa karna nifas?
๐Ÿ…ฐ2โƒฃ1โƒฃ

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Jawaban_______

Ibu hamil dan menyusui adalah dua macam โ€˜udzur dibolehkannya meninggalkan puasa. Namun, dia diwajibkan menggantinya. Ini adalah kesepakatan (ittifaq) para fuqaha (ahli fiqih) sejak dahulu hingga hari ini. Jika dia memiliki daya tahan tubuh yang kuat, dan tidak khawatir terhadap kesehatan dirinya dan janinnya, maka dia boleh memilih, puasa atau tidak. Keduanya dibenarkan, namun puasa lebih afdhal, karena tubuhnya kuat tadi.

Hanya saja, para fuqaha berselisih (ikhtilaf), dengan apa dia harus mengganti puasa. Qadhakah (berpuasa pada hari di luar Ramadhan)? Atau fidyah? Perlu diketahui, Qadha merupakan mengganti puasa di hari selain Ramadhan karena dia masih mampu untuk berpuasa di hari lain tersebut. Seperti musafir, orang sakit yang masih punya harapan sembuh, hamil dan menyusui, pekerja keras, orang yang perang, dipaksa/diancam untuk tidak puasa.

Sedangkan Fidyah adalah mengganti puasa bagi orang yang sudah tidak mampu lagi berpuasa dengan memberikan makanan pokok yang mengenyangkan kepada orang miskin, sebanyak jumlah hari yang dia tinggalkan. Seperti sakit menahun yang tipis kemungkinan sembuh, orang yang sangat tua, orang yang selalu bergelut dengan pekerja keras tiap hari. Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, ibu hamil dan menyusui termasuk golongan ini.

Untuk Qadha dalilnya adalah firman Allah Taโ€™ala, โ€œMaka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.โ€ (QS. al-Baqarah [2]: 184)

Untuk Fidyah dalilnya adalah kalimat selanjutnya, โ€œDan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.โ€ (QS. al-Baqarah (2): 184)

Perbedaan pandangan ulama dalam hal ini sangat wajar. Sebab memang ayat tersebut tidak merinci siapa sajakah yang termasuk orang-orang yang berat menjalankannya. Dalam hadits pun tidak ada perinciannya. Adapun tentang Qadha secara khusus, ayat di atas menyebut musafir dan orang yang sakit. Sedangkan ayat tentang Fidyah, tidak dirinci hanya disebut orang yang berat menjalankannya.

Nah, khusus ibu hamil dan menyusui, jika kita melihat keseluruhan pandangan ulama yang ada, bisa kita ringkas seperti yang dikatakan Imam Ibnu Katsir,[1] bahwa ada empat pandangan/pendapat ulama. Berikut rinciannya, silahkan perhatikan baik-baik:

Pertama, kelompok ulama yang mewajibkan qadha dan fidyah sekaligus. Ini adalah pandangan Imam Ahmad dan Imam asy-Syafiโ€™i. Dilakukan jika Si Ibu mengkhawatiri keselamatan janin atau bayinya.

Kedua, kelompok ulama yang mewajjibkan fidyah saja, tanpa qadha. Inilah pandangan beberapa sahabat Nabi, seperti Abdullah bin โ€˜Abbas, dan Abdullah bin โ€˜Umar Radhiyallahu โ€˜Anhuma. Dari kalangan tabiโ€™in (murid-murid para sahabat) adalah Said bin Jubeir,[2] Mujahid, dan lainnya. Kalangan tabiโ€™ut tabiโ€™in (murid para tabiโ€™in) seperti al-Qasim bin Muhammad dan Ibrahim an-Nakhaโ€™i.

Imam Daruquthni meriwayatkan dengan sanad yang shahih, Ibnu โ€˜Abbas pernah berkata kepada hamba sahayanya yang sedang hamil, โ€œKau sama dengan orang yang sulit berpuasa, maka bayarlah fidyah dan tidak usah qadha.โ€

Nafiโ€™ bercerita bahwa Ibnu Umar ditanya tentang wanita hamil yang khawatir keselamatan anaknya kalau ia berpuasa. Dia menjawab, โ€œHendaknya dia berbuka. Sebagai gantinya, hendaklah dia memberi makanan kepada seorang miskin sebanyak satu mud gandum.โ€ (Riwayat Malik )

Ketiga, kelompok ulama yang mewajibkan qadha saja, tanpa fidyah. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Seperti madzhab Hanafi, Abu Ubaid, dan Abu Tsaur. Sedangkan Imam Syafiโ€™i dan Imam Ahmad bin Hambal ikut pendapat ini, jika sebabnya karena mengkhawatiri keselamatan Si Ibu, atau keselamatan Ibu dan janin (bayi) sekaligus.

Keempat, ke ompok ulama yang mengatakan tidak qadha, tidak pula fidyah.

Demikianlah berbagai perbedaan tersebut. Nah, pendapat manakah yang sebaiknya kita ikuti? Seorang ahli fiqih abad ini, Al-โ€˜Allamah Syaikh Yusuf al-Qaradhawy hafizhahullah,[3] dalam kitab Taisiru Fiqh (Fiqhus Siyam) memberikan jalan keluar dan kompromi yang bagus. Beliau berkata:

โ€œBanyak ibu-ibu hamil bertepatan bulan Ramadhan, merupakan rahmat dari Allah bagi mereka, jika tidak dibebani kewajiban qadha, namun cukup dengan fidyah. Di samping hal ini merupakan kebaikan untuk faqir dan miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan materi.

Namun bagi ibu-ibu yang masa melahirkannya jarang, sebagaimana umumnya ibu-ibu di masa kita saat ini dan di sebagian besar negara Islam, tertutama di kota-kota, kadang-kadang hanya mengalami dua kali hamil dan dua kali menyusui selama hidupnya. Maka, bagi mereka lebih tepat pendapat jumhur, yakni qadha (bukan fidyah).โ€

Jadi, beragam pendapat ini tidak diposisikan saling vis a vis (saling berhadap-hadapan). Tetapi semuanya disesuaikan keadaan wanitanya. Jika wanita tersebut sering hamil, tiap tahun atau dua tahun sekali, sulit baginya melakukan qadha, maka bagi dia fidyah saja. Adapun, jika hamilnya jarang, ada waktu jeda dia tidak hamil maka wajib baginya qadha di masa jeda itu, bukan fidyah. Inilah pendapat yang nampaknya adil, seimbang, sesuai ruh syariat Islam.

Bagi wanita yg lagi nifas sama ketika wanita haid yaitu mengqodho atau mengganti puasa.

Demikian. Wallahu Aโ€™lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan :
Www.iman-islam,com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih pahala, …….

BOLEHKAH AQIQAH DILUAR TANGGAL 7, 14, 21?

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Assalamu’alaikum wr wb..
Saya mau mnanyakan tentang seputar aqiqah,
1. apa hukum mengaqiqahkan anak?
2. apakah boleh mengaqiqahkan bukan pada hari ke7(hari ke 14,21 dst)
3. setelah mencukur rambut,
kemudian ditimbang dan dihargai apakah dengan harga emas ataukah dengan harga perak?
4. apakah boleh membagikan uang yg dari mencukur rambut anak yg aqiqah beberapa bulan setelahnya?
Demikian jazakallah khairan katsira. Member Manis ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ8โƒฃ.
                                                        ๐ŸŒดJawaban nya.                                                                
๐ŸŒด๐ŸŒปTentang AQIQAH๐ŸŒป๐ŸŒด
Wa alaikumsalam wr wb…..                                  1โƒฃ Definisi Aqiqah:
 Imam Ibnu Hajar Rahimahullah, beliau menulis sebagai berikut dalam Al Fath:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ู : ุงู„ู’ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉ ุงูุณู’ู… ุงู„ุดู‘ูŽุงุฉ ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ุจููˆุญูŽุฉ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ูˆูŽู„ูŽุฏ ุŒ ุณูู…ู‘ููŠูŽุชู’ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุชูุนูŽู‚ู‘ ู…ูŽุฐูŽุงุจูุญู‡ูŽุง ุฃูŽูŠู’ ุชูุดูŽู‚ู‘ ูˆูŽุชูŽู‚ู’ุทูŽุน . ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ู‡ููŠูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุฑ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุญู’ู„ูŽู‚ . ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูุจู’ู† ููŽุงุฑูุณ : ุงู„ุดู‘ูŽุงุฉ ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุชูุฐู’ุจูŽุญ ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุฑ ูƒูู„ู‘ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ูŠูุณูŽู…ู‘ูŽู‰ ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉ

Berkata Al Khaththabi: Aqiqah adalah nama bagi kambing yang disembelih karena kelahiran bayi. Dinamakan seperti itu karena aqiqah adalah merobek sembelihan tersebut yaitu mengoyak dan memotong. Dia berkata: dikatakan aqiqah adalah rambut yang sedang dicukur. Berkata Ibnu Faris: Kambing yang disembelih dan rambut, keduanya dinamakan aqiqah. (Fathul Bari, 9/586. Darul Fikr)

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah mengatakan:

ุงู„ู’ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉู ู‡ููŠูŽ ุงู„ุฐู‘ูŽุจููŠุญูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุชูุฐู’ุจูŽุญู ู„ูู„ู’ู…ูŽูˆู’ู„ููˆุฏู .
ูˆูŽุฃูŽุตู’ู„ู ุงู„ู’ุนูŽู‚ู‘ู ุงู„ุดู‘ูŽู‚ู‘ู ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุทู’ุนู ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ูู„ุฐู‘ูŽุจููŠุญูŽุฉู ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉูŒ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุดูู‚ู‘ู ุญูŽู„ู’ู‚ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูู‚ูŽุงู„ู ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉูŒ ู„ูู„ุดู‘ูŽุนู’ุฑู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุฃู’ุณู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ู„ููˆุฏู ู…ูู†ู’ ุจูŽุทู’ู†ู ุฃูู…ู‘ูู‡ู ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ุฒู‘ูŽู…ูŽุฎู’ุดูŽุฑููŠู‘ู ุฃูŽุตู’ู„ู‹ุง ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุงุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ุจููˆุญูŽุฉู ู…ูุดู’ุชูŽู‚ู‘ูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ู‡ู .

โ€œAqiqah adalah hewan sembelihan yang disembelih untuk bayi. Berasal dari merobek, mengoyak, dan memutus. Dikatakan,  sembelihan adalah aqiqah, karena merobek dan mecukurnya. Dikatakan aqiqah pula bagi rambut yang tumbuh di kepala bayi dari perut ibunya. Az Zamakhsyari mengatakan itu adalah kata asal dari aqiqah, dan kambing sembelihan termasuk kata yang berasal   dari itu.  (Subulus Salam, 6/328. Lihat juga Nailul Authar, 5/ 132.  Maktabah Ad Daโ€™wah Al Islamiyah Syabab Al Azhar. Lihat juga, Imam Abu Thayyib Syamsul โ€˜Azhim Abadi, โ€˜Aunul Maโ€™bud, 8/25. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiah )

2โƒฃ Dalil Pensyariatannya:
Dari Samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

 ูƒู„ู‘ู ุบู„ุงู…ู ุฑู‡ูŠู†ุฉูŒ ุจุนู‚ูŠู‚ุชู‡: ุชุฐุจุญ ุนู†ู‡ ูŠูˆู… ุณุงุจุนู‡ุŒ ูˆูŠุญู„ู‚ุŒ ูˆูŠุณู…ู‰

โ€œSetiap bayi digadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya, dan diberikan nama.โ€ (HR. Abu Daud No. 2838. Ahmad No. 19382. Ad Darimi No. 2021. Al Baihaqi, Syuโ€™abul Iman, No. 8377. Hadits ini shahih. Lihat Syaikh Al Albani, Irwaโ€™ Al Ghalil No. 1165. Al Maktab Al Islami. Imam An Nawawi, Al Adzkar, No. 843. Darul Fikr)

Dari Salman bin โ€˜Amir Adh Dhabbi, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุบูู„ูŽุงู…ู ุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉูŒ ููŽุฃูŽู‡ู’ุฑููŠู‚ููˆุง ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฏูŽู…ู‹ุง ูˆูŽุฃูŽู…ููŠุทููˆุง ุนูŽู†ู’ู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุฐูŽู‰

โ€œBersama bayi itu ada aqiqahnya, maka sembelihlah (kambing), dan hilangkanlah gangguan darinya.โ€ (HR. Bukhari No. 5154. At Tirmidzi No. 1551 Ibnu Majah No. 3164. Ahmad No. 17200)

Maksud dari โ€œhilangkanlah gangguan darinyaโ€ adalah mencukur rambut kepalanya (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 5/132. Maktabah Ad Daโ€™wah Al Islamiyah).  Imam Ibnu Hajar menyebutkan, bahwa Imam Muhammad bin Sirin berkata: โ€œJikalau makna โ€˜menghilangkan gangguanโ€™ adalah bukan mencukur rambut, aku tak tahu lagi apa itu.โ€  Al Ashmuโ€™i telah memastikan bahwa maknanya adalah mencukur rambut. Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih, bahwa Al Hasan Al Bashri juga mengatakan demikian. (Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 9/593. Darul Fikr)

Apa maksud kalimat โ€œSetiap bayi digadaikan dengan aqiqahnyaโ€? Imam Al Khaththabi mengatakan, telah terjadi perbedaan pendapat tentang makna tersebut. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, maksudnya adalah setiap anak yang lahir dan dia belum diaqiqahkan, lalu dia wafat ketika masih anak-anak,  maka dia tidak bisa memberikan syafaโ€™at kepada kedua orang tuanya. Sementara, pengarang Al Masyariq dan An Nihayah mengatakan, maksudnya adalah bahwa tidaklah diberi nama dan dicukur rambutnya kecuali setelah disembelih aqiqahnya. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 5/133.  Maktabah Ad Daโ€™wah Islamiyah. Imam Abu Thayyib Syamsul Haq โ€˜Azhim Abadi, โ€˜Aunul Maโ€™bud, 8/27. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

Seorang tokoh tabiโ€™in, โ€˜Atha bin Abi Rabbah mengatakan seperti yang dikatakan Imam Ahmad, maksud kalimat tersebut adalah orang tua terhalang mendapatkan syafaโ€™at dari anaknya. (Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 48. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

3โƒฃ Hukumnya
Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฐู‡ุจ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู…ู† ุงู„ุนุชุฑุฉ ูˆุบูŠุฑู‡ู… ุฅู„ู‰ ุงู†ู‡ุง ุณู†ุฉ

โ€œMadzhab jumhur (mayoritas) ulama dan lainnya adalah aqiqah itu sunah.โ€ (Nailul Authar, 5/132. Maktabah Ad daโ€™wah Al Islamiyah Syabab Al Azhar)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ูˆุงู„ุนู‚ูŠู‚ุฉ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุงู„ุงุจ ู…ุนุณุฑุงุŒ ูุนู„ู‡ุง ุงู„ุฑุณูˆู„ุŒ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูˆูุนู„ู‡ุง ุฃุตุญุงุจู‡ุŒ ุฑูˆู‰ ุฃุตุญุงุจ ุงู„ุณู†ู† ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠุŒ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ุนู‚ ุนู† ุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ุญุณูŠู† ูƒุจุดุง ูƒุจุดุงุŒ ูˆูŠุฑู‰ ูˆุฌูˆุจู‡ุง ุงู„ู„ูŠุซ ูˆุฏุงูˆุฏ ุงู„ุธุงู‡ุฑูŠ.

“Aqiqah adalah sunah muโ€™akkadah walau keadaan orang tuanya sulit, Rasulullah telah melaksanakannya, begitu pula para sahabat. Para pengarang kitab As Sunan  telah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam telah meng-aqiqahkan Hasan dan Husein dengan masing-masing satu  kambing kibas. Sedangkan menurut Laits bin Saโ€™ad dan Daud Azh Zhahiri aqiqah adalah wajib.โ€ (Fiqhus Sunnah, 3/326. Darul Kitab Al โ€˜Arabi)

Sedangkan, Imam Abu Hanifah justru membidโ€™ahkan Aqiqah! (Imam An Nawawi, Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 3/217. Dar โ€˜Alim Al Kitab)

Pengarang kitab Al Bahr menyebutkan, bahwa Imam Abu Hanifah menilai Aqiqah merupakan kejahiliyahan. Imam Asy Syaukani mengatakan, jika benar itu dari Abu Hanifah, maka hal itu bisa jadi dikarenakan belum sampai kepadanya hadits-hadits tentang aqiqah. Sementara Imam Muhammad bin Hasan mengatakan Aqiqah adalah kebiasaan jahiliyah yang telah dihapus oleh Islam dengan qurban. Sementara, justru kalangan zhahiriyah (yakni Imam Daud dan Imam Ibnu Hazm, pen) dan Imam Al Hasan Al Bashri mengatakan wajib. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 5/132. Maktabah Ad daโ€™wah Al Islamiyah Syabab Al Azhar. Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud, Hal. 38. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

Imam Ibnu Hazm mengatakan bahwa aqiqah adalah wajib. (Al Muhalla, 7/523. Darul Fikr)

Pendapat yang benar dan lebih kuat, hukum aqiqah adalah sunah. Hal ini didasari oleh hadits berikut:

ู…ู† ูˆู„ุฏ ู„ู‡ ูุฃุญุจ ุฃู† ูŠู†ุณูƒ ุนู† ูˆู„ุฏู‡ ูู„ูŠูุนู„

โ€œBarang siapa dilahirkan untuknya seorang bayi, dan dia mau menyembelih (kambing) untuk bayinya, maka lakukanlah.โ€ (HR. Malik No. 1066. Ahmad No. 22053. Al Haitsami mengatakan, dalam sanadnya terdapat seorang yang tidak menjatuhkan hadits ini, dan periwayat lainnya adalah para periwayat hadits shahih. Majmaโ€™ Az Zawaid, 4/57)

  Hadits ini dengan jelas menyebutkan bahwa penyembelihan dikaitkan dengan kemauan orangnya. Kalau dia mau, maka lakukanlah. Maka, tidak syak lagi bahwa pendapat jumhur (mayoritas) ulama lebih kuat dan benar, bahwa aqiqah adalah sunah.

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah menjadikan hadits ini sebagai pengalih kewajiban aqiqah menjadi sunah. (Subulus Salam, 6/329)

4โƒฃ Tentang Mencukur Rambut
Mencukur semuanya, bukan sebagiannya.
Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู ุงู„ู‚ูŽุฒูŽุนู

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang qazaโ€™. (HR. Bukhari No. 5921 dan Muslim No. 2120)

Apakah Qazaโ€™? Nafiโ€™ โ€“seorang tabiโ€™in dan pelayan Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma menjelaskan:

ูŠูุญู’ู„ูŽู‚ู ุจูŽุนู’ุถู ุฑูŽุฃู’ุณู ุงู„ุตู‘ูŽุจููŠู‘ู ูˆูŽูŠูุชู’ุฑูŽูƒู ุจูŽุนู’ุถูŒ

Kepala bayi yang dicukur sebagian dan dibiarkan sebagian lainnya. (HR. Muslim No. 2120)

Contoh qazaโ€™ adalah seorang yang membiarkan bagian depan kepala, tapi mencukur bagian belakangnya, atau yang tengah dibiarkan tapi kanan kirinya dicukur. Inilah yang kita lihat dari model-model rambut orang kafir yang ditiru remaja Islam. Kadang ada orang tua yang mencukur anaknya seperti ini lalu dibuat buntut, sekedar untuk lucu-lucuan.

Lalu, menimbang potongan rambut itu, dan disesuaikan dengan berat perak untuk disedekahkan. Ini jika dalam kelapangan ekonomi.

Sebagian kecil ulama seperti Imam Ar Rafiโ€™i memilih menggunakan emas. Mungkin karena perak jarang dipakai oleh manusia.

Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Salim bin Dhayyan berkata : โ€œDan disunnahkan mencukur rambut bayi, bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya dan diberi nama pada hari ketujuhnya. Masih ada ulama yang menerangkan tentang sunnahnya amalan tersebut (bersedekah dengan perak seperti A l Hafidz Ibnu Hajar Al โ€˜Asqalani, Imam Ahmad, dan lain-lain.โ€

Hal ini berdasarkan hadits:

Dari Anas bin Malik, Bahwasanya Rasulullah memerintahkan mencukur rambut Hasan dan Husein, anak Ali bin Abi Thalib, pada hari ke tujuh, kemudian bersedekah dengan perak seberat timbangan rambut Hasan dan Husein itu. (HR. Thabrani dalam Al Ausath, 1/133)

Hadits jalur Anas bin Malik ini dhaif (lemah), namun ada hadits lain yang serupa, dari jalur Abdullah bin Abbas, yang bisa menguatkannya. Sehingga hadits di atas naik derajatnya menjadi hasan li ghairihi.

Berkata Imam Ibnu Hajar, โ€œSeluruh riwayat yang ada sepakat tentang penyebutan bersedekah dengan perak. Tidak ada satu pun yang menyebutkan emas. Berbeda dengan perkataan Ar Rafiโ€™i, bahwa disunnahkan bersedekah dengan emas seberat timbangan rambut, kalau tidak sanggup maka dengan perak. Riwayat yang menyebut bersedekah dengan emas dhaif dan tak ada yang menguatkannya!โ€ (Talkhis al Habir IV/1408)
Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

MENIKAHI WANITA HAMIL

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB
โœ Ustadz Farid Nu’man

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ€๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaikum Wr. Wb ustadz/ah…
bagaimana seseorang laki2 menikah dengan wanita yg hamil 3 bulan sedangkan anak yg dikandunganya itu bukan anaknya melainkan perbuatan laki2 lain. Tapi laki2 ini tau dan beliau ttp menikahinya..

JAWABAN
——————-

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah ..
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: โ€œNikahnya orang zina itu haram hingga ia bertaubat, baik dengan pasangan zinanya atau dengan orang lain. Inilah yang benar tanpa diragukan lagi. Demikianlah pendapat segolongan ulama salaf dan khalaf, di antara mereka yakni Ahmad bin hambal dan lainnya.

Tetapi kebanyakan ulama salaf dan khalaf membolehkannya, yaitu pendapat Imam Yang tiga, hanya saja Imam Malik mensyaratkan rahimnya bersih (kosong/tidak hamil).
Abu Hanifah membolehkan akad sebelum  istibraโ€™ (bersih dari kehamilan) apabila ternyata dia hamil, tetapi jika dia hamil tidak boleh  jimaโ€™ (hubungan badan) dulu  sampai dia melahirkan.
Asy Syafiโ€™i membolehkan akad secara mutlak akad dan hubungan badan, karena air sperma zina itu tidak terhormat, dan hukumnya tidak bisa dihubungkan nasabnya, inilah alasan Imam Asy Syafiโ€™i.
Abu Hanifah memberikan rincian antara hamil dan tidak hamil, karena wanita hamil apabila dicampuri, akan menyebabkan terhubungnya anak yang bukan anaknya, sama sekali berbeda dengan yang tidak hamil.โ€

# Nikahnya Wanita Hamil
Harus dirinci sebagai berikut:
1. Hamil karena suaminya sendiri, tetapi suaminya meninggal atau wafat, dia jadi janda. Bolehkah menikah dan dia masih hamil?
Sepakat kaum muslimin seluruhnya, wanita hamil dan dia menjanda ditinggal mati suami atau cerai, hanya baru boleh nikah setelah masa iddahnya selesai, yaitu setelah kelahiran bayinya. Tidak boleh baginya nikah ketika masih hamil, karena โ€˜iddahnya belum selesai.

2. Gadis Hamil karena berzina, bolehkah dia menikah?
Jika yang menikahinya adalah laki-laki yang menghamilinya, maka menurut Imam Asy Syafiโ€™i adalah boleh. Imam Abu Hanifah juga membolehkan tetapi tidak boleh menyetubuhinya sampai ia melahirkan.
Imam Ahmad mengharamkannya. Begitu pula Imam Malik dan Imam Ibnu Tamiyah. Sedangkan, jika yang menikahinya adalah laki-laki lain, maka menurut Imam Ibnu taimiyah juga tidak boleh kecuali ia bertaubat, yang lain mengatakan boleh, selama ia bertobat plus Iddahnya selesai (yakni sampai melahirkan), inilah pendapat Imam Ahmad. Demikian. Wallahu Aโ€™lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

MATI YANG BAGAIMANA YANG DISEBUT MATI SYAHID?

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

๐Ÿ“ŒAssalamualaikum wr wb ustadz/ah…Saya mau bertanya, tentang mati syahid. Mati seperti apa sajakah yg termasuk mati syahid? Dan mohon penjelasan nya tentang macam2 mati syahid. Terima kasih….. ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ8โƒฃ

Jawaban;
—————–
Bismillah wal Hamdulillah …
Orang-orang yang mati syahid itu banyak, di antaranya:

1โƒฃ Dibunuh Karena Amar Maโ€™ruf Nahi Munkar Kepada Penguasa Zalim

Dari Jabir radhiallahu โ€˜anhu, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam  bersabda,

 ุณูŠุฏ ุงู„ุดู‡ุฏุงุก ุญู…ุฒุฉ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู…ุทู„ุจ ุŒ ูˆุฑุฌู„ ู‚ุงู„ ุฅู„ู‰ ุฅู…ุงู… ุฌุงุฆุฑ ูุฃู…ุฑู‡ ูˆู†ู‡ุงู‡ ูู‚ุชู„ู‡

โ€œPenghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang berkata benar kepada penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.โ€   (HR. Al Hakim, Al  Mustdarak-nya, Ia nyatakan shahih, tetapi Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya.  Adz Dzahabi menyepakatinya. Syaikh Al Albany mengatakan hasan, dia memasukkannya dalam kitabnya As Silsilah Ash Shahihah,  No. 374)

3โƒฃ  Dibunuh Karena Melindungi Harta

Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ู…ูŽุงู„ูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ

โ€Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya, maka dia syahid.โ€   (HR. Al Bukhari No. 2348)

3โƒฃ  Dibunuh karena membela agama, keluarga, dan darahnya (kehormatan)

Dari Saโ€™id bin Zaid Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ู…ูŽุงู„ูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ุฏููŠู†ูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ุฏูŽู…ูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ุฏููˆู†ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ

Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya maka dia syahid, barangsiapa dibunuh karena agamanya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena darahnya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka dia syahid.โ€   (HR. At Tirmidzi, No. 1421, katanya: hasan shahih. Abu Daud, No. 4177. An Nasaโ€™i,  No. 4095. Ahmad, Juz.  4, Hal. 76, No. 1565. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 2, Hal. 75, No. 1411)

4โƒฃ  Mati karena penyakit thaโ€™un, sakit perut, dan tenggelam

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

  ู…ูŽุง ุชูŽุนูุฏู‘ููˆู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู‡ููŠุฏูŽ ูููŠูƒูู…ู’ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุดูู‡ูŽุฏูŽุงุกูŽ ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠ ุฅูุฐู‹ุง ู„ูŽู‚ูŽู„ููŠู„ูŒ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ููŽู…ูŽู†ู’ ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูุชูู„ูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูููŠ ุงู„ุทู‘ูŽุงุนููˆู†ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุทู’ู†ู ููŽู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ู…ูู‚ู’ุณูŽู…ู ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุจููŠูƒูŽ ูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽุฑููŠู‚ู ุดูŽู‡ููŠุฏ

Siapa yang kalian anggap sebagai syahid? Mereka menjawab: โ€œOrang yang dibunuh di jalan Allah, itulah yang syahid.โ€ Nabi bersabda: โ€œKalau begitu syuhada pada umatku sedikit.โ€ Mereka bertanya: โ€œSiapa sajakah mereka wahai Rasulullah?โ€ Nabi menjawab: โ€œSiapa yang dibunuh di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena thaโ€™un dia syahid, siapa yang mati karena sakit perut maka dia syahid.โ€ Ibnu Miqsam berkata: โ€œAku bersaksi atas ayahmu, pada hadits ini bahwa Beliau bersabda: โ€œOrang yang tenggelam juga syahid.โ€ (HR. Muslim No. 1915)

5โƒฃ Juga karena melahirkan, tertiban, dan terbakar. Sebagaimana hadits berikut:

ุงู„ุดู‘ูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ุณูŽุจู’ุนูŒ ุณููˆูŽู‰ ุงู„ู’ู‚ูŽุชู’ู„ู ููู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽุทู’ุนููˆู†ู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽุฑูู‚ู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุตูŽุงุญูุจู ุฐูŽุงุชู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู’ุจู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุจู’ุทููˆู†ู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุตูŽุงุญูุจู ุงู„ู’ุญูŽุฑููŠู‚ู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐูู‰ ูŠูŽู…ููˆุชู ุชูŽุญู’ุชูŽ ุงู„ู’ู‡ูŽุฏู’ู…ู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุชูŽู…ููˆุชู ุจูุฌูู…ู’ุนู ุดูŽู‡ููŠุฏูŒ ยป.

Mati syahid itu ada tujuh golongan, selain yang  terbunuh fi sabilillah: โ€œOrang yang kena penyakit  thaโ€™un, tenggelam, luka-luka di tubuh, sakit perut, terbakar, tertiban, dan wanita melahirkan.โ€ (HR. Abu Daud No. 3113, shahih)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ู‚ุงู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก:ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจุดู‡ุงุฏุฉ ู‡ุคู„ุงุก ูƒู„ู‡ู…ุŒ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ู‚ุชูˆู„ ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุฃู†ู‡ู… ูŠูƒูˆู† ู„ู‡ู… ููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ุซูˆุงุจ ุงู„ุดู‡ุฏุงุกุŒ ูˆุฃู…ุง ููŠ ุงู„ุฏู†ูŠุงุŒ ููŠุบุณู„ูˆู†ุŒ ูˆูŠุตู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ู….

  Berkata para ulama: Yang dimaksud   syahadah (mati syahid) adalah bagi mereka semua,  selain karena terbunuh di jalan Allah,   dan sesungguhnya bagi mereka di akhirat akan mendapatkan ganjaran syuhada, ada pun di dunia mereka tetap dimandikan dan dishalatkan. (Fiqhus Sunnah, 2/633)
Demikian. Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan :
Www.iman-islam,com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih pahala, …….

APAKAH BERSENTUHAN DENGAN NON MUSLIM MEMBATALKAN WUDHU?

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB
โœ Ustadz Farid Nu’man

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ€๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaikum Wr. Wb ustadz/ah…Mau bertanya itu, kemaren waktu saya PKL ada yg bilang kalo perempuan sudah wudhu kemudian bersentuhan dgn wanita non muslim maka harus wudhu lagi, itu benar? Dan kalau benar apakah berlaku untuk laki”? Terima kasih ๐Ÿ™‚
I07

JAWABAN
——————-

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah ..
Menurut mayoritas ulama, tidak usah mengulang wudhunya. Sebab mereka suci tubuhnya.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุงู„ู’ุจูุฎูŽุงุฑููŠู‘ ูููŠ ุตูŽุญููŠุญู‡ ุนูŽู†ู’ ุงูุจู’ู† ุนูŽุจู‘ูŽุงุณ ุชูŽุนู’ู„ููŠู‚ู‹ุง : ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู… ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุฌูุณ ุญูŽูŠู‘ู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽูŠู‘ูุชู‹ุง . ู‡ูŽุฐูŽุง ุญููƒู’ู… ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู… . ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑ ููŽุญููƒู’ู…ู‡ ูููŠ ุงู„ุทู‘ูŽู‡ูŽุงุฑูŽุฉ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉ ุญููƒู’ู… ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู… ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจ ุงู„ู’ุฌูŽู…ูŽุงู‡ููŠุฑ ู…ูู†ู’ ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽู„ูŽู . ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽูˆู’ู„ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ : { ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููˆู†ูŽ ู†ูŽุฌูŽุณ } ููŽุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏ ู†ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉ ุงู„ูุงุนู’ุชูู‚ูŽุงุฏ ูˆูŽุงู„ูุงุณู’ุชูู‚ู’ุฐูŽุงุฑ ุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุนู’ุถูŽุงุกูŽู‡ูู…ู’ ู†ูŽุฌูุณูŽุฉ ูƒูŽู†ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉู ุงู„ู’ุจูŽูˆู’ู„ ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽุงุฆูุท ูˆูŽู†ูŽุญู’ูˆู‡ู…ูŽุง . ููŽุฅูุฐูŽุง ุซูŽุจูŽุชูŽุชู’ ุทูŽู‡ูŽุงุฑูŽุฉ ุงู„ู’ุขุฏูŽู…ููŠู‘ ู…ูุณู’ู„ูู…ู‹ุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽูˆู’ ูƒูŽุงููุฑู‹ุง ุŒ ููŽุนูุฑู’ู‚ู‡ ูˆูŽู„ูุนูŽุงุจู‡ ูˆูŽุฏูŽู…ู’ุนู‡ ุทูŽุงู‡ูุฑูŽุงุช ุณูŽูˆูŽุงุก ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุญู’ุฏูุซู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุฌูู†ูุจู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุญูŽุงุฆูุถู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ู†ูููŽุณูŽุงุก ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ูƒูู„ู‘ู‡ ุจูุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ู’ุชู‡ ูููŠ ุจูŽุงุจ ุงู„ู’ุญูŽูŠู’ุถ

โ€œImam Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya, dari Ibnu Abbas secara mualaq (tidak disebut sanadnya): Seorang muslim tidaklah najis baik hidup dan matinya. Ini adalah hukum untuk seorang muslim. Ada pun orang kafir maka hukumnya dalam masalah  suci dan najisnya adalah sama dengan hukum seorang muslim (yakni suci). Ini adalah madzhab kami dan mayoritas salaf dan khalaf. Ada pun ayat (Sesungguhnya orang musyrik itu najis) maka maksudnya adalah najisnya aqidah  yang kotor, bukan maksudnya anggota badannya najis seperti najisnya kencing,  kotorannya , dan semisalnya. Jika sudah pasti kesucian manusia baik dia muslim atau kafir, maka keringat, ludah, darah, semuanya suci, sama saja apakah dia sedang berhadats, atau junub, atau haid, atau nifas. Semua ini adalah ijma kaum muslimin sebagaimana yang telah lalu saya jelaskan dalam Bab Haid. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/87. Mawqi Ruh Al Islam)
Penjelasan di atas, menunjukkan bahwa mayit non muslim adalah sama dengan mayit muslim, yakni suci. Bahkan Imam An Nawawi mengklaim telah terjadi ijma kaum muslimin.

Namun, faktanya tidak  ijma. Sebagian salaf dan ahli zhahir menyatakan bahwa kaum kafir adalah najis ketika hidupnya, tentu apalagi mayitnya.
 Abdullah bin Abbas Radhiallahu Anhuma  berpendapat bahwa sesuai zahir ayat: innamal musyrikun najasun  (sesungguhnya orang musyrik itu najis), maka tubuh orang musyrik itu najis sebagaimana najisnya babi dan anjing. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Al Hasan Al Bashri, katanya: Barang siapa yang bersalaman dengan mereka maka hendaknya berwudhu.โ€  (Lihat Tafsir Ayat Al Ahkam, 1/282)

Ini juga menjadi pendapat kaum zhahiriyah. Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:

ูุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ุจู†ุฌุณ ุงู„ุจุฏู† ูˆุงู„ุฐุงุชุ› ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุญู„ ุทุนุงู… ุฃู‡ู„ ุงู„ูƒุชุงุจุŒ ูˆุฐู‡ุจ ุจุนุถ ุงู„ุธุงู‡ุฑูŠุฉ ุฅู„ู‰ ู†ุฌุงุณุฉ ุฃุจุฏุงู†ู‡ู….

Maka, menurut jumhur bukanlah najis badan dan zatnya, karena Allah Taala menghalalkan makanan Ahli Kitab, dan sebagian Zhahiriyah menajiskan badan mereka. (Tafsir Al Quran Al Azhim, 4/131)

Namun yang shahih adalah pendapat jumhur bahwa mereka adalah suci, sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ayat Al Ahkam berikut ini:

ุงู„ุชุฑุฌูŠุญ : ุงู„ุตุญูŠุญ ุฑุฃูŠ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู„ุฃู† ุงู„ู…ุณู„ู… ู„ู‡ ุฃู† ูŠุชุนุงู…ู„ ู…ุนู‡ู… ุŒ ูˆู‚ุฏ ูƒุงู† ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ูŠุดุฑุจ ู…ู† ุฃูˆุงู†ูŠ ุงู„ู…ุดุฑูƒูŠู† ุŒ ูˆูŠุตุงูุญ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… .

Tarjih: yang shahih adalah pendapat jumhur (mayoritas) karena seorang muslim berinteraksi dengan mereka, dahulu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam minum dari wadah kaum musyrikin, dan bersalaman dengan  non muslim.
Wallahu Aโ€™lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia….

SHALAT FAJAR SETELAH SHALAT SUBUH, BOLEHKAH?

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
๐Ÿ“ŒAssalamuallaikum wr wb

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฅ

Assalamualaikum ustadz๐Ÿ˜€ , ada pertanyaan dr member ๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ:

Mau tanya apakah boleh shalat sunat fajar dilakukan sesudah shalat subuh? Karena sy seorang ibu yg memiliki bayi. Pernah suatu kali sy mendahulukan shalat sunat fajar tp kemudian bayi sy menangis dan sy hrs menyusuinya hingga sy shalat subuhnya sdh telat sekali diakhir waktu. Demikian prtanyaan sy. Jzk atas jawabannya

๐ŸŒด.Jawaban nya

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah … Bismillah wal Hamdulillah ..

Shalat sunah fajar boleh diqadha, yakni dilakukan setelah subuh baik matahari telah terbit atau belum. Hal ini berdasarkan hadits berikut (sebenarnya masih ada beberapa hadits lainnya, namun saya sebut dua saja):

Hadits Pertama:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุตูŽู„ู‘ู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู ููŽู„ู’ูŠูุตูŽู„ู‘ูู‡ูู…ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูŽุง ุชูŽุทู’ู„ูุนู ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œBarangsiapa yang belum shalat dua rakaat fajar, maka shalatlah keduanya (sunah fajar dan subuh) sampai tebitnya matahari.โ€  (HR. At Tirmidzi No. 423)

Imam At Tirmidzi Rahimahullah berkata:

ูˆู‚ุฏ ุฑูˆูŠ ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฃู†ู‡ ูุนู„ู‡  ูˆุงู„ุนู…ู„ ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุนู†ุฏ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูˆุจู‡ ูŠู‚ูˆู„ ุณููŠุงู† ุงู„ุซูˆุฑูŠ ูˆุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุญู…ุฏ ูˆุฅุณุญู‚

Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa dia melakukannya. Sebagian ulama telah mengamalkan hadits ini dan inilah pendapat Sufyan At Tsauri, Ibnul Mubarak, Asy Syafiโ€™I, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan At Tirmidzi, penjelasan hadits No. 423)

Imam Asy Syaukani menulis dalam Nailul Authar sebagai berikut:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุซูŽุจูŽุชูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุถูŽุงู‡ูู…ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ููŽุฑููŠุถูŽุฉู ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู†ูŽุงู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽููŽุฑู

โ€œTelah tsabit (kuat) bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam telah mengqadha keduanya  (shalat sunah fajar)  bersama shalat wajib (subuh) ketika ketiduran saat fajar dalam sebuah perjalanan.โ€

Tentang hadits Imam At Tirmidzi di atas,  Imam As Syaukani berkata:

ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ู…ูŽุง ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ุนู ู…ูู†ู’ ููุนู’ู„ูู‡ูู…ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ุตู‘ูุจู’ุญู

โ€œPada hadits ini tidaklah menunjukkan  larangan untuk melaksanakan dua rakaat tersebut setelah shalat subuh.โ€    (Nailul Authar, 3/25)

Hadits Kedua:

Hadits yang paling jelas tentang qadha shalat sunah fajar adalah riwayat tentang Qais bin Umar bahwa beliau shalat subuh di masjid bersama Rasulullah, sedangkan dia sendiri belum mengerjakan shalat sunah fajar. Setelah selesai shalat subuh dia berdiri lagi untuk shalat sunah dua rakaat. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam   berjalan melewatinya dan bertanya:

ู…ูŽุง ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ููŽุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู‡ู ููŽุณูŽูƒูŽุชูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู…ูŽุถูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง

โ€œShalat apa ini?, maka dia menceritakannya. Lalu, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam diam, dan berlalu tanpa mengatakan apa-apa.โ€ (HR. Ahmad No. 23761, Abdurazzaq dalam Al Mushannaf No. 4016, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul Ummal No. 22032, Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkat: Berkata Al Iraqi: sanadnya hasan. (Fiqhus Sunnah, 1/187). Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan: hadits ini mursal (terputus sanadnya pada generasi sahabat), namun semua perawinya tsiqaat. Lihat Taliq Musnad Ahmad No. 23761)

Beliau  melanjutkan:

ูˆุธุงู‡ุฑ ุงู„ุงุญุงุฏูŠุซ ุฃู†ู‡ุง ุชู‚ุถู‰ ู‚ุจู„ ุทู„ูˆุน ุงู„ุดู…ุณ ูˆุจุนุฏ ุทู„ูˆุนู‡ุงุŒ ุณูˆุงุก ูƒุงู† ููˆุงุชู‡ุง ู„ุนุฐุฑ ุฃูˆ ู„ุบูŠุฑ ุนุฐุฑ ูˆุณูˆุงุก ูุงุชุช ูˆุญุฏู‡ุง ุฃูˆ ู…ุน ุงู„ุตุจุญ

โ€œSecara zhahir, hadits-hadits ini menunjukkan bahwa mengqadha shalat sunah fajar  bisa  dilakukan sebelum terbit matahari atau setelahnya. Sama saja, baik terlambatnya karena adanya udzur atau selain udzur,  dan sama  pula baik yang luput itu shalat   sunah fajar saja, atau juga shalat subuhnya sekaligus.   (Fiqhus Sunnah, 1/187) Sekian. Wallahu Alam

Syaikh  Abul Hasan Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan:

ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู„ูƒ: ุณูƒูˆุชู‡ ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ู‚ุถุงุก ุณู†ุฉ ุงู„ุตุจุญ ุจุนุฏ ูุฑุถู‡ ู„ู…ู† ู„ู… ูŠุตู„ู‡ุง ู‚ุจู„ู‡. ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ – ุงู†ุชู‡ู‰. ูˆูƒุฐุง ู‚ุงู„ ุงู„ุดูŠุฎ ุญุณูŠู† ุจู† ู…ุญู…ูˆุฏ ุงู„ุฒูŠุฏุงู†ูŠ ููŠ ุงู„ู…ูุงุชูŠุญ ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ู…ุตุงุจูŠุญุŒ ูˆุงู„ุดูŠุฎ ุนู„ูŠ ุจู† ุตู„ุงุญ ุงู„ุฏูŠู† ููŠ ู…ู†ู‡ู„ ุงู„ูŠู†ุงุจูŠุน ุดุฑุญ ุงู„ู…ุตุงุจูŠุญุŒ ูˆุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุงู„ุฒูŠู†ูŠ ููŠ ุดุฑุญ ุงู„ู…ุตุงุจูŠุญ

Berkata Ibnu Al Malik: Diamnya nabi menunjukkan bolehnya mengqadha shalat sunah subuh setelah ditunaikan kewajiban subuhnya, bagi siapa saja yang belum melakukannya sebelumnya. Ini adalah pendapat Asy Syafii. Selesai. Demikian juga pendapat Syaikh Husein bin Mahmud Az Zaidani dalam kitab Al Mafatih Hasyiah Al Mashabih, Syaikh Ali bin Shalahuddin dalam kitab  Manhal Al Yanabi Syarh Al Mashabih, dan juga Al Allamah Az Zaini dalam Syarh Al Mashabih. (Mirah Al Mafatih, 3/465).

Namun, hal ini tidak boleh dijadikan kebiasaan.

Wallahu Alam
 ๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Pahala…

APAKAH RAMBUT WANITA HAID YANG RONTOK HARUS DISUCIKAN?

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Assalamuallaikum wr wb…Saya mau bertanya ke ustadz/ah
Apakah di dlm islam ada  hukum serta dalilnya, jika seorang wanita hamil atau nifas, baik rambut, kuku atau anggota badan lainnya tdk boleh rontok/lepas,  kalaupun rontok atau lepas harus disucikan dulu Krn pernah  kejadian. Seorang teman yg khawatir dan mencari-cari  di lantai  rambut rontoknya  saat dia haid sehingga dia kumpulkan, disimpan  rambut tsb di kertas, nanti kalau sudah mandi jinabah, semua rambut yg rontok  diikutkan mandi /disucikan.

๐ŸŒด. Jawaban nya.
 —————-                                                          Waalaikumsalam  wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜Ala Rasulillah wa baโ€™d:

Di beberapa kitab para ulama memang ada anjuran untuk tidak memotong rambut dan kuku ketika haid atau junub, seperti Imam Al Ghazali dalam Ihya โ€˜Ulumuddin-nya. Sehingga hal ini menjadi keyakinan sebagian kaum muslimin.

Sebenarnya, hal ini tidak memiliki dasar dalam Al Quran, As Sunnah, dan ijmaโ€™. Baik secara global dan terpeinci, langsung dan tidak langsung, tersurat dan tersirat. Oleh karena itu pada dasarnya tidak apa-apa, tidak masalah memotong rambut dan kuku baik yang haid dan junub.

Hal ini merupakan baraโ€™atul ashliyah, kembali kepada hulum asal, bahwa segala hal boleh-boleh saja selama tidak ada dalil khusus yang melarangnya dari pembuat syariat.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุงู„ุญู„ุงู„ ู…ุง ุฃุญู„ ุงู„ู„ู‡ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ูˆุงู„ุญุฑุงู… ู…ุง ุญุฑู… ุงู„ู„ู‡ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ูˆู…ุง ุณูƒุช ุนู†ู‡ ูู‡ูˆ ู…ู…ุง ุนูุง ุนู†ู‡

โ€œYang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam kitabNya, yang haram adalah yang Allah haramkan dalam kitabNya, dan apa saja yang di diamkanNya, maka itu termasuk yang dimaafkan.โ€
(HR. At Tirmidzi No. 1726, katanya: hadits gharib. Ibnu Majah No. 3367, Ath Thabarani dalam Al Muโ€™jam Al Kabir No. 6124. Syaikh Al Albani mengatakan: hasan. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 1726. Juga dihasankan oleh Syaikh Baariโ€™ โ€˜Irfan Taufiq dalam Shahih Kunuz As sunnah An Nabawiyah, Bab Al Halal wal Haram wal Manhi โ€˜Anhu, No. 1)    

Kaidah ini memiliki makna yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Mereka dibebaskan untuk melakukan apa saja dalam hidupnya baik dalam perdagangan, politik, pendidikan, militer, keluarga, penampilan, dan semisalnya, selama tidak ada dalil yang mengharamkan, melarang, dan mencelanya, maka selama itu pula boleh-boleh saja untuk dilakukan. Ini berlaku untuk urusan duniawi mereka. Tak seorang pun berhak melarang dan mencegah tanpa dalil syaraโ€™ yang menerangkan larangan tersebut.

Oleh karena itu, Imam Muhammad  At Tamimi Rahimahullah sebagai berikut menjelaskan kaidah itu:

ุฃู† ูƒู„ ุดูŠุก ุณูƒุช ุนู†ู‡ ุงู„ุดุงุฑุน ูู‡ูˆ ุนููˆ ู„ุง ูŠุญู„ ู„ุฃุญุฏ ุฃู† ูŠุญุฑู…ู‡ ุฃูˆ ูŠูˆุฌุจู‡ ุฃูˆ ูŠุณุชุญุจู‡ ุฃูˆ ูŠูƒุฑู‡ู‡
 โ€œSesungguhnya segala sesuatu yang didiamkan oleh Syariโ€™ (pembuat Syariat) maka hal itu dimaafkan, dan tidak boleh bagi seorang pun untuk mengharamkan, atau mewajibkan, atau menyunnahkan, atau memakruhkan.โ€ (Imam Muhammad At Tamimi,  Arbaโ€™u Qawaid Taduru al Ahkam โ€˜Alaiha, Hal. 3. Maktabah Al Misykah)

 Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‡ูˆ ุณุจุญุงู†ู‡ ู„ูˆ ุณูƒุช ุนู† ุฅุจุงุญุฉ ุฐู„ูƒ ูˆุชุญุฑูŠู…ู‡ ู„ูƒุงู† ุฐู„ูƒ ุนููˆุง ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ุญูƒู… ุจุชุญุฑูŠู…ู‡ ูˆุฅุจุทุงู„ู‡ ูุฅู† ุงู„ุญู„ุงู„ ู…ุง ุฃุญู„ู‡ ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุญุฑุงู… ู…ุง ุญุฑู…ู‡ ูˆู…ุง ุณูƒุช ุนู†ู‡ ูู‡ูˆ ุนููˆ ููƒู„ ุดุฑุท ูˆุนู‚ุฏ ูˆู…ุนุงู…ู„ุฉ ุณูƒุช ุนู†ู‡ุง ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ู‚ูˆู„ ุจุชุญุฑูŠู…ู‡ุง ูุฅู†ู‡ ุณูƒุช ุนู†ู‡ุง ุฑุญู…ุฉ ู…ู†ู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ู†ุณูŠุงู† ูˆุฅู‡ู…ุงู„

Dia โ€“Subhanahu wa Taโ€™ala- seandainya mendiamkan tentang kebolehan dan keharaman sesuatu, tetapi memaafkan hal itu, maka tidak boleh menghukuminya dengan haram dan membatalkannya, karena halal adalah apa-apa yang Allah halalkan, dan haram adalah apa-apa yang Allah haramkan, dan apa-apa yang Dia diamkan maka itu dimaafkan. Jadi, semua syarat, perjanjian, dan muamalah yang didiamkan oleh syariat, maka tidak boleh mengatakannya haram, karena mendiamkan hal itu merupakan kasih sayang dariNya, bukan karena lupa dan membiarkannya. (Iโ€™lamul Muwaqiโ€™in, 1/344-345)

๐Ÿ“˜ Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Tertulis dalam Majmuโ€™ Al Fatawa-nya:

ูˆูŽุณูุฆูู„ูŽ: ุนูŽู†ู’ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุฅุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฌูู†ูุจู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽุตู‘ูŽ ุธููู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุดูŽุงุฑูุจูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุดูŽุทูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูŽู‡ู ู‡ูŽู„ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽุŸ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ุฅู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅุฐูŽุง ู‚ูŽุตู‘ูŽ ุงู„ู’ุฌูู†ูุจู ุดูŽุนู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุธููู’ุฑูŽู‡ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนููˆุฏู ุฅู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฒูŽุงุคูู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ููŽูŠูŽู‚ููˆู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู‚ูุณู’ุทูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุจูŽุฉู ุจูุญูŽุณูŽุจู ู…ูŽุง ู†ูŽู‚ูŽุตูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู„ููƒ
ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽุนู’ุฑูŽุฉู ู‚ูุณู’ุทูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุจูŽุฉู: ููŽู‡ูŽู„ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽู…ู’ ู„ูŽุงุŸ .
ููŽุฃูŽุฌูŽุงุจูŽ
ู‚ูŽุฏู’ ุซูŽุจูŽุชูŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุซู ุญูุฐูŽูŠู’ููŽุฉูŽ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง {: ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุฌูู†ูุจูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุฌูุณู} . ูˆูŽูููŠ ุตูŽุญููŠุญู ุงู„ู’ุญูŽุงูƒูู…ู: {ุญูŽูŠู‘ู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽูŠู‘ูุชู‹ุง} . ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูŽุฑูŽุงู‡ููŠูŽุฉู ุฅุฒูŽุงู„ูŽุฉู ุดูŽุนู’ุฑู ุงู„ู’ุฌูู†ูุจู ูˆูŽุธููู’ุฑูู‡ู ุฏูŽู„ููŠู„ู‹ุง ุดูŽุฑู’ุนููŠู‘ู‹ุง ุจูŽู„ู’ ู‚ูŽุฏู’ {ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ูู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฃูŽุณู’ู„ูŽู…ูŽ: ุฃูŽู„ู’ู‚ู ุนูŽู†ู’ูƒ ุดูŽุนู’ุฑูŽ ุงู„ู’ูƒููู’ุฑู ูˆูŽุงุฎู’ุชูŽุชูู†ู’} ููŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฃูŽุณู’ู„ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู’ู‡ู ุจูุชูŽุฃู’ุฎููŠุฑู ุงู„ูุงุฎู’ุชูุชูŽุงู†ู. ูˆูŽุฅูุฒูŽุงู„ูŽุฉู ุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุฑู ุนูŽู†ู’ ุงู„ูุงุบู’ุชูุณูŽุงู„ู ููŽุฅูุทู’ู„ูŽุงู‚ู ูƒูŽู„ูŽุงู…ูู‡ู ูŠูŽู‚ู’ุชูŽุถููŠ ุฌูŽูˆูŽุงุฒูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑูŽูŠู’ู†ู. ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุชูุคู’ู…ูŽุฑู ุงู„ู’ุญูŽุงุฆูุถู ุจูุงู„ูุงู…ู’ุชูุดูŽุงุทู ูููŠ ุบูุณู’ู„ูู‡ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ูุงู…ู’ุชูุดูŽุงุทูŽ ูŠูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุจูุจูŽุนู’ุถู ุงู„ุดู‘ูŽุนู’ุฑู. ูˆูŽุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู.

Ditanyakan:
Tentang seorang laki-laki yang junub dia memotong kukunya, atau kumisnya, atau menyisir kepalanya apakah dia terkena suatu hukum? Sebagian orang telah mengisyaratkan hal   demikian dan mengatakan: โ€œJika seorang junub memotong rambut atau kukunya maka pada hari akhirat nanti bagian-bagian yang dipotong itu akan kembali kepadanya dan akan menuntutnya untuk dimandikan, apakah memang demikian?โ€

Jawaban:
—————–
Wa Alaikum salam wr wb,
Telah shahih dari Nabi ๏ทบ yang diriwayatkan dari Hudzaifah dan Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhuma,  yaitu ketika ditanyakan kepadanya tentang status orang junub, maka Beliau ๏ทบ bersabda: โ€œSeorang muโ€™min itu tidak najis.โ€ Dalam riwayat yang Shahih dari Al Hakim: โ€œBaik keadaan hidup dan matinyaโ€

Saya tidak dapatkan dalil syarโ€™i yang memakruhkan memotong rambut dan kuku bagi orang yang junub.  Justru Nabi ๏ทบ  memerintahkan orang yang masuk islam, โ€œHilangkan darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.โ€ Beliau juga memerintahkan orang yang masuk Islam untuk mandi. Dan beliau tidak memerintahkan agar potong rambut dan khitannya dilakukan setelah mandi. Tidak adanya perintah, menunjukkan bolehnya potong kuku dan berkhitan sebelum mandi. Begitu pula diperintahkannya (oleh Nabi) kepada  wanita haid untuk menyisir rambutnya padahal menyisir rambut akan merontokan sebagian rambutnya. Wallahu Aโ€™lam.โ€ (Majmuโ€™ Al Fatawa, 21/121)
Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia…

Bulan Rajab dan Keutamaannya

๐Ÿ“† Selasa,  27 Jumadil Akhir 1437H / 5 April 2016

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹ Bulan Rajab dan Keutamaannya

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

1โƒฃ Rajab termasuk Ayshurul Hurum

Bulan Rajab adalah salah satu bulan mulia, yang telah Allah Taโ€™ala sebutkan sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan haram). Maksudnya, saat itu manusia dilarang (diharamkan) untuk berperang, kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak.
Allah Taโ€™ala berfirman:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ู„ูŽุง ุชูุญูู„ู‘ููˆุง ุดูŽุนูŽุงุฆูุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽู‡ู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ูŽ

๐Ÿ“Œโ€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah , dan jangan melanggar kehormatan bulan haram (syahral haram) โ€ฆโ€ (QS. Al Maidah (95): 2)

Ayat mulia ini menerangkan secara khusus keutamaan bulan-bulan haram, yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Bulan yang termasuk Asyhurul hurum (bulan-bulan haram) adalah dzul qaโ€™dah, dzul hijjah, rajab, dan muharam. (Sunan At Tirmidzi No. 1512)

 Namun sebagian ulama mengatakan, larangan berperang pada bulan-bulan haram ini telah mansukh (dihapus hukumnya) oleh ayat wa qaatiluuhum haitsu tsaqiftumuuhum (dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai mereka).  Imam Ibnu Jarir lebih menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa ayat ini mansukh. (Jamiโ€™ Al Bayan, 9/478-479. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah).

 Imam Ibnu Rajab mengatakan kebolehan berperang pada bulan-bulan haram adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama), pelarangan hanya terjadi pada awal-awal Islam. (Lathaif Al Maโ€™arif Hal. 116. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ุณู†ุฉ ุงุซู†ุง ุนุดุฑ ุดู‡ุฑุงู‹ุŒ ู…ู†ู‡ุง ุฃุฑุจุนุฉูŒ ุญุฑู…ูŒ: ุซู„ุงุซูŒ ู…ุชูˆุงู„ูŠุงุชูŒ ุฐูˆ ุงู„ู‚ุนุฏุฉุŒ ูˆุฐูˆ ุงู„ุญุฌุฉ ูˆุงู„ู…ุญุฑู…ุŒ ูˆุฑุฌุจ ู…ุถุฑ ุงู„ุฐูŠ ุจูŠู† ุฌู…ุงุฏู‰ ูˆุดุนุจุงู†”.

๐Ÿ“Œ            โ€œSetahun ada 12 bulan, di antaranya terdapat 4 bulan haram: tiga yang awal adalah Dzul Qaโ€™dah, Dzul Hijjah, dan Muharam. Sedangkan Rajab yang penuh kemuliaan antara dua jumadil dan syaโ€™ban.โ€ (HR. Bukhari No. 3025)

2โƒฃ Rajab adalah bulan untuk banyak mengagungkan Allah Taโ€™ala

            Dinamakan Rajab karena itu adalah bulan untuk yarjubu, yakni Yaโ€™zhumu (mengagungkan), sebagaimana dikatakan Al Ashmuโ€™i, Al Mufadhdhal, dan Al Farraโ€™. (Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Maโ€™arif, Hal. 117. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

 Banyak manusia meyakini bulan Rajab secara khusus sebagai bulan untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat, puasa, dan menyembelih hewan untuk disedekahkan. Tetapi, pengkhususan kebiasaan ini nampaknya tidak didukung oleh sumber yang shahih. Para ulama hadits telah melakukan penelitian mendalam, bahwa tidak satu pun riwayat shahih yang menyebutkan keutamaan shalat khusus, puasa, dan ibadah lainnya pada bulan Rajab, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Imam Ibnu Rajab, Syaikh Sayyid Sabiq,  Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lainnya.    Benar, bulan Rajab adalah bulan yang agung dan mulia, tetapi kita tidak mendapatkan hadits shahih tentang rincian amalan khusus pada bulan Rajab. Wallahu Aโ€™lam

3โƒฃ Penelitian Ulama Terhadap Hadits-Hadits Tentang Bulan Rajab

 Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah , Beliau berkata:

ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุตูŽูˆู’ู…ู ุฑูŽุฌูŽุจู ุจูุฎูุตููˆุตูู‡ูุŒ ููŽุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซูู‡ู ูƒูู„ู‘ูู‡ูŽุง ุถูŽุนููŠููŽุฉูŒุŒ ุจูŽู„ู’ ู…ูŽูˆู’ุถููˆุนูŽุฉูŒุŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ุชูŽู…ูุฏู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽุชู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ุถู‘ูŽุนููŠูู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุฑู’ูˆูŽู‰ ูููŠ ุงู„ู’ููŽุถูŽุงุฆูู„ูุŒ ุจูŽู„ู’ ุนูŽุงู…ู‘ูŽุชูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุถููˆุนูŽุงุชู ุงู„ู’ู…ูŽูƒู’ุฐููˆุจูŽุงุชู

๐Ÿ“ŒAda pun mengkhususkan puasa Rajab, maka semua hadits-haditsnya adalah dhaif bahkan palsu, para ulama tidak berpegang sedikit pun  terhadapnya, dan itu bukanlah termasuk dhaifnya riwayat tentang masalah keutamaan (fadhaail), bahkan umumnya adalah palsu lagi dusta … (Al Fatawa Al Kubra, 2/478, Majmu Fatawa, 25/290)

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah, berkata:

ูƒู„ ุญุฏูŠุซ ููŠ ุฐูƒุฑ ุตูŠุงู… ุฑุฌุจ ูˆุตู„ุงุฉ ุจุนุถ ุงู„ู„ูŠุงู„ูŠ ููŠู‡ ูู‡ูˆ ูƒุฐุจ ู…ูุชุฑู‰

๐Ÿ“ŒSemua hadits yang menyebutkan tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam-malamnya adalah dusta. (Al Manar Al Muniif, Hal. 96)

 Imam Ibnu Hajar Al โ€˜Asqalani Rahimahullah, mengatakan:

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุญุฌุฑ : ู„ู… ูŠุฑุฏ ููŠ ูุถู„ู‡ุŒ ูˆู„ุง ููŠ ุตูŠุงู…ู‡ุŒ ูˆู„ุง ููŠ ุตูŠุงู… ุดุฆ ู…ู†ู‡ ู…ุนูŠู†ุŒ ูˆู„ุง ููŠ ู‚ูŠุงู… ู„ูŠู„ุฉ ู…ุฎุตูˆุตุฉ ู…ู†ู‡ุŒ ุญุฏูŠุซ ุตุญูŠุญ ูŠุตู„ุญ ู„ู„ุญุฌุฉ.

๐Ÿ“Œโ€œTidak ada hadits yang menyebutkan keutamaannya, tidak pula keutamaan puasanya, tidak ada puasa khusus pada Rajab, tidak juga shalat malam secara khusus, dan hadits shahih lebih utama dijadikan hujjah (dalil).โ€ (Dikutip oleh Syaikh Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah, 1/453)

Imam Ibnu Hajar juga berkata dalam Kitab Tabyinul โ€˜Ajab, sebagaimana dikutip oleh Imam Abdul Hay Al Luknawi:

ุฃู…ุง ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ููŠ ูุถู„ ุฑุฌุจ ุฃูˆ ุตูŠุงู…ู‡ ุฃูˆ ุตูŠุงู… ุดูŠุก ู…ู†ู‡ ูู‡ูŠ ุนู„ู‰ ู‚ุณู…ูŠู† ุถุนูŠูุฉ ูˆู…ูˆุถูˆุนุฉ

๐Ÿ“Œโ€œAdapun hadits-hadits yang ada tentang keutamaan Rajab atau puasanya atau sedikit puasa pada bulan Rajab, terdiri atas dua bagian; yaitu dhaif (lemah) dan maudhuโ€™ (palsu).โ€ (Al Atsar Al Marfuโ€™ah fil Akhbar Al Maudhuโ€™ah, hal. 59)

Imam Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah, berkata:

ูˆุฃู…ุง ุงู„ุตูŠุงู… ูู„ู… ูŠุตุญ ููŠ ูุถู„ ุตูˆู… ุฑุฌุจ ุจุฎุตูˆุตู‡ ุดูŠุก ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ุง ุนู† ุฃุตุญุงุจู‡

๐Ÿ“ŒAda pun puasa, tidak ada yang shahih sedikit pun tentang keutamaan puasa Rajab dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam dan tidak pula dari sahabat-sahabatnya. (Al Latha-if Al Ma’arif, Hal. 228)

  Imam Al Munawi Rahimahullah berkata:

ุจู„ ุนุงู…ุฉ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ู…ุฃุซูˆุฑุฉ ููŠู‡ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุฐุจ

๐Ÿ“Œ โ€œBahkan Umumnya hadits-hadits tentang keutamaan Rajab adalah dusta.โ€ (Faidhul Qadir, 4/24)

 Imam Muhammad bin Manshur As Samโ€™ani Rahimahullah, mengatakan:

ู„ู… ูŠุฑุฏ ููŠ ุงุณุชุญุจุงุจ ุตูˆู… ุฑุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุฎุตูˆุต ุณู†ุฉ ุซุงุจุชุฉุŒ ูˆุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุชูŠ ุชุฑูˆู‰ ููŠู‡ ูˆุงู‡ูŠุฉ ู„ุง ูŠูุฑุญ ุจู‡ุง ุนุงู„ู…

๐Ÿ“ŒTidak ada riwayat dalam sunah yang tsabit (kuat) tentang anjuran puasa Rajab secara khusus, dan hadits-hadits yang diriwayatkan tentangnya adalah lemah dan tidak  cukup membahagiakan para ulama. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 4/331)

 Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ูˆุตูŠุงู… ุฑุฌุจุŒ ู„ูŠุณ ู„ู‡ ูุถู„ ุฒุงุฆุฏ ุนู„ู‰ ุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุดู‡ูˆุฑุŒ ุฅู„ุง ุฃู†ู‡ ู…ู† ุงู„ุงุดู‡ุฑ ุงู„ุญุฑู…. ูˆู„ู… ูŠุฑุฏ ููŠ ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุตุญูŠุญุฉ: ุฃู† ู„ู„ุตูŠุงู… ููŠู‡ ูุถูŠู„ุฉ ุจุฎุตูˆุตู‡ุŒ ูˆุฃู† ู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุฐู„ูƒ ู…ู…ุง ู„ุง ูŠู†ุชู‡ุถ ู„ู„ุงุญุชุฌุงุฌ ุจู‡

๐Ÿ“ŒPuasa Rajab, tidak memiliki
kelebihan apa pun dibanding bulan-bulan lainnya, hanya saja dia termasuk bulan-bulan haram. Tidak ada dalam sunah yang shahih tentang bahwa  puasa pada bulan tersebut memiliki  keutamaan khusus, ada pun riwayat yang menyebutkan tentang hal itu tidak kuat dijadikan sebagai hujjah. (Fiqhus Sunnah, 1/453)

๐Ÿ“– Sebagai contoh:

โ€œSesungguhnya di surga ada sungai bernama Rajab, airnya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa yang berpuasa Rajab satu hari saja, maka Allah akan memberikannya minum dari sungai itu.โ€ (Status hadits: โŒbatil. Lihat As Silsilah Adh Dhaifah No. 1898. Imam Ibnul Jauzi mengatakan: tidak shahih. Imam Adz Dzahabi mengatakan: batil. Lihat Syaikh Muhammad bin Darwisy bin Muhammad, Asnal Mathalib, Hal. 86)

โ€œ Ada lima malam yang doa tidak akan ditolak: awal malam pada bulan Rajab, malam nishfu syaโ€™ban, malam Jumat, malam idul fitri, dan malam hari raya qurban.โ€ (Status hadits: Maudhuโ€™โŒ (palsu). As Silsilah Adh Dhaifah No. 1452. Lihat juga Syaikh Khalid bin Saโ€™ifan, Ma Yatanaaqaluhu Al โ€˜Awwam mimma Huwa Mansuub li Khairil Anam, Hal.  14)

โ€œRajab adalah bulannya Allah, Syaโ€™ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.โ€ (Status hadits:โŒ Dhaif (lemah). Lihat As Silsilah Adh Dhaifah No. 4400. Imam Al Munawi mengutip dari Imam Zainuddin Al โ€˜Iraqi mengatakan: dhaif jiddan โ€“ sangat lemah. Lihat Faidhul Qadir, 4/24)

โ€œDinamakan Rajab karena di dalamnya banyak kebaikan yang diagungkan (yatarajjaba)  bagi Syaโ€™ban dan Ramadhan.โ€ (Status hadits: Maudhuโ€™โŒ (palsu). As Silsilah Adh Dhaifah No. 3708. Lihat juga Imam As Suyuthi, Al Jamiโ€™ Ash Shaghir No. 4718)

Dan masih banyak lagi yang lainnya, seperti shalat raghaib (12 rakaat) pada hari kamis baโ€™da maghrib di bulan Rajab (Ini ada dalam kitab Ihya Ulumuddin-nya Imam Al Ghazali). Segenap ulama seperti Imam An Nawawi mengatakan ini adalah bidโ€™ah yang buruk dan munkar, juga Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Nuhas, dan lainnya mengatakan hal serupa).

4โƒฃ Sekedar ingin berpuasa di Bulan Rajab?
Boleh!

Walau demikian, tidak berarti kelemahan semua riwayat ini menunjukkan larangan ibadah-ibadah  secara global. Melakukan puasa, sedekah, memotong hewan untuk sedekah, dan amal shalih lainnya adalah perbuatan mulia dan dianjurkan, kapan pun dilaksanakannya termasuk bulan Rajab (kecuali puasa pada hari-hari terlarang puasa).

Tidak mengapa puasa pada bulan Rajab, seperti puasa senin kamis dan ayyamul bidh (tanggal 13,14,15 bulan hijriah), sebab ini semua memiliki perintah secara umum dalam syariat.Tidak mengapa puasa di bulan Rajab karena mengikuti perintah Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam secara umum untuk shaum di bulan-bulan haram. Tidak mengapa sekedar memotong hewan untuk disedekahkan, yang keliru adalah meyakini dan MENGKHUSUSKAN ibadah-ibadah ini dengan fadhilah tertentu yang hanya bisa diraih di bulan Rajab, dan tidak pada bulan lainnya.Jika seperti ini, maka membutuhkan dalil shahih yang khusus, baik Al Quran atau As Sunnah yang shahih.

Imam An Nawawi mengatakan:

ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุซู’ุจูุช ูููŠ ุตูŽูˆู’ู… ุฑูŽุฌูŽุจ ู†ูŽู‡ู’ูŠูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ู†ูŽุฏู’ุจูŒ ู„ูุนูŽูŠู’ู†ูู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุตู’ู„ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ู ู…ูŽู†ู’ุฏููˆุจูŒ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽูููŠ ุณูู†ูŽู† ุฃูŽุจููŠ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽุฏูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู… ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฃูŽุดู’ู‡ูุฑ ุงู„ู’ุญูุฑูู… ุŒ ูˆูŽุฑูŽุฌูŽุจ ุฃูŽุญูŽุฏู‡ูŽุง . ูˆูŽุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู .

๐Ÿ“Œโ€œTidak ada yang shahih tentang larangan berpuasa pada bulan Rajab, dan tidak shahih pula mengkhususkan puasa pada bulan tersebut, tetapi pada dasarnya berpuasa memang hal yang disunahkan. Terdapat dalam Sunan Abu Daud bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menganjurkan berpuasa pada asyhurul hurum (bulan-bulan haram), dan Rajab termasuk asyhurul hurum. Wallahu Aโ€™lam (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/39)

Hadits yang dimaksud Imam An Nawawi berbunyi:

ุนูŽู†ู’ ู…ูุฌููŠุจูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุจูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู…ู‘ูู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุชูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุงู†ู’ุทูŽู„ูŽู‚ูŽ ููŽุฃูŽุชูŽุงู‡ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุชูŽุบูŽูŠู‘ูŽุฑูŽุชู’ ุญูŽุงู„ูู‡ู ูˆูŽู‡ูŽูŠู’ุฆูŽุชูู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู…ูŽุง ุชูŽุนู’ุฑูููู†ููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ุงู„ู’ุจูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฌูุฆู’ุชููƒูŽ ุนูŽุงู…ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู…ูŽุง ุบูŽูŠู‘ูŽุฑูŽูƒูŽ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุญูŽุณูŽู†ูŽ ุงู„ู’ู‡ูŽูŠู’ุฆูŽุฉู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽูƒูŽู„ู’ุชู ุทูŽุนูŽุงู…ู‹ุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูู„ูŽูŠู’ู„ู ู…ูู†ู’ุฐู ููŽุงุฑูŽู‚ู’ุชููƒูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ูู…ูŽ ุนูŽุฐู‘ูŽุจู’ุชูŽ ู†ูŽูู’ุณูŽูƒูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูู…ู’ ุดูŽู‡ู’ุฑูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽู‡ู’ุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฒูุฏู’ู†ููŠ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุจููŠ ู‚ููˆู‘ูŽุฉู‹ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูู…ู’ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฒูุฏู’ู†ููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูู…ู’ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฒูุฏู’ู†ููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูุฑูู…ู ูˆูŽุงุชู’ุฑููƒู’ ุตูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูุฑูู…ู ูˆูŽุงุชู’ุฑููƒู’ ุตูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูุฑูู…ู ูˆูŽุงุชู’ุฑููƒู’ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูุฃูŽุตูŽุงุจูุนูู‡ู ุงู„ุซู‘ูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ููŽุถูŽู…ู‘ูŽู‡ูŽุง ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ูŽู‡ูŽุง

๐Ÿ“ŒDari Mujibah Al Bahili, dari ayahnya, atau pamannya, bahwasanya dia mendatangi Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, lalu dia pergi. Kemudian mendatangi lagi setelah satu tahun lamanya, dan dia telah mengalami perubahan baik keadaan dan penampilannya. Dia berkata: โ€œWahai Rasulullah, apakah kau mengenali aku?โ€ Nabi bertanya: โ€œSiapa kamu?โ€ Al Bahili menjawab: โ€œSaya Al Bahili yang datang kepadamu setahun lalu.โ€ Nabi bertanya:: โ€œApa yang membuatmu berubah, dahulu kamu terlihat baik-baik saja?โ€ Al Bahili menjawab: โ€œSejak berpisah denganmu, saya tidak makan kecuali hanya malam.โ€ Bersabda Rasulullah: โ€œKanapa kamu siksa dirimu?โ€, lalu bersabda lagi: โ€œPuasalah pada bulan kesaabaran, dan    sehari pada tiap bulannya.โ€ Al Bahili berkata: โ€œTambahkan, karena saya masih punya kekuatan.โ€ Beliau bersabda: โ€œPuasalah dua hari.โ€ Beliau berakata: โ€œTambahkan.โ€ Beliau bersabda: โ€œPuasalah tiga hari.โ€ Al Bahili berkata: โ€œTambahkan untukku.โ€ Nabi bersabda: โ€œPuasalah pada bulan-bulan haram, dan tinggalkanlah (sebagiannya), Puasalah pada bulan-bulan haram, dan tinggalkanlah (sebagiannya), Puasalah pada bulan-bulan haram, dan tinggalkanlah (sebagiannya). Beliau berkata dengan tiga jari jemarinya, lalu menggenggamnya kemudian dilepaskannya. (HR. Abu Daud No. 2428, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra  No. 8209, juga Syuโ€™abul Iman No. 3738. Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan: sanadnya jayyid. Lihat Fiqhus Sunnah, 1/453.  Namun Syaikh Al Albani mendhaifkan dalam berbagai kitabnya)

Kebolehannya semakin terlihat berdasarkan riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, sebagai berikut:

Dari Utsman bin Hakim Al Anshari, beliau berkata:

ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุณูŽุนููŠุฏูŽ ุจู’ู†ูŽ ุฌูุจูŽูŠู’ุฑู ุนูŽู†ู’ ุตูŽูˆู’ู…ู ุฑูŽุฌูŽุจู ูˆูŽู†ูŽุญู’ู†ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุฆูุฐู ูููŠ ุฑูŽุฌูŽุจู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุงุจู’ู†ูŽ ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุตููˆู…ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู†ูŽู‚ููˆู„ูŽ ู„ูŽุง ูŠููู’ุทูุฑู ูˆูŽูŠููู’ุทูุฑู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู†ูŽู‚ููˆู„ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุตููˆู…ู

๐Ÿ“ŒAku bertanya kepada Saโ€™id bin Jubeir tentang shaum pada bulan Rajab, saat itu kami sedang berada pada bulan Rajab, Beliau menjawab: โ€œAku mendengar Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma berkata: Dahulu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berpuasa (pada bulan Rajab) sampai-sampai kami mengatakan Beliau tidak meninggalkannya, dan Beliau pernah meninggalkannya sampai kami mengatakan dia tidak pernah berpuasa (Rajab). (HR. Muslim No. 1157)

Oleh karenanya, mayoritas para imam membolehkan berpuasa pada bulan Rajab secara umum, selama dia tidak mengkhususkan, mengistimewakan, dan menspesialkannya  melebihi bulan lainnya.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

ุงู„ุธุงู‡ุฑ ุฃู† ู…ุฑุงุฏ ุณุนูŠุฏ ุจู† ุฌุจูŠุฑ ุจู‡ุฐุง ุงู„ุงุณุชุฏู„ุงู„ ุฃู†ู‡ ู„ุง ู†ู‡ู‰ ุนู†ู‡ ูˆู„ุง ู†ุฏุจ ููŠู‡ ู„ุนูŠู†ู‡ ุจู„ ู„ู‡ ุญูƒู… ุจุงู‚ูŠ ุงู„ุดู‡ูˆุฑ

๐Ÿ“ŒSecara lahiriah, maksud dari Saโ€™id bin Jubeir dengan pendalilan ini adalah bahwa tidak ada larangan dan tidak ada pula anjuran secara khusus puasa pada Rajab,  tetapi hukumnya sama seperti bulan-bulan lainnya. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/38-39)

Jumhur ulama – imam tiga madzhab- membolehkannya, sementara kalangan Hanabilah (Hambaliyah) memakruhkannya (Lihat  Al Fiqhu ‘alal Madzaahib Al Arba’ah, 1/895), sebagaimana itu juga  pendapat Umar bin Al Khathab  Radhiallahu ‘Anhu [1] dan anaknya, Abdullah bin Umar Radhiallahu โ€˜Anhu. [2]

Berkata Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih Hafizhahullah:

ูˆู…ู† ุฎู„ุงู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู†ู‚ูˆู„ ูŠุชุถุญ ู„ู†ุง ุฌู„ูŠุงู‹ ุฃู† ุงู„ู…ุณุฃู„ุฉ ุฎู„ุงููŠุฉ ุจูŠู† ุงู„ุนู„ู…ุงุกุŒ ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ุชูƒูˆู† ู…ู† ู…ุณุงุฆู„ ุงู„ู†ุฒุงุน ูˆุงู„ุดู‚ุงู‚ ุจูŠู† ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†ุŒ ุจู„ ู…ู† ู‚ุงู„ ุจู‚ูˆู„ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู„ู… ูŠุซุฑุจ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆู…ู† ู‚ุงู„ ุจู‚ูˆู„ ุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ู„ู… ูŠุซุฑุจ ุนู„ูŠู‡.ูˆุฃู…ุง ุตูŠุงู… ุจุนุถ ุฑุฌุจุŒ ูู…ุชูู‚ ุนู„ู‰ ุงุณุชุญุจุงุจู‡ ุนู†ุฏ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ ู„ู…ุง ุณุจู‚ุŒ ูˆู„ูŠุณ ุจุฏุนุฉ.
ุซู… ุฅู† ุงู„ุฑุงุฌุญ ู…ู† ุงู„ุฎู„ุงู ุงู„ู…ุชู‚ุฏู… ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู„ุง ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ.

๐Ÿ“ŒPada masalah ini, kami katakan bahwa telah jelas perkara ini telah diperselisihkan para ulama, dan tidak boleh masalah ini menjadi sebab pertentangan dan perpecahan di antara kaum muslimin. Bahkan, siapa saja yang berpendapat seperti jumhur ulama dia tidak boleh dicela, dan siapa saja yang berpendapat seperti Hanabilah dia juga tidak boleh dicela. Ada pun berpuasa pada sebagian bulan Rajab, maka telah disepakati kesunahannya menurut para pengikut empat madzhab sebagaimana penjelasan lalu, itu bukan bid’ah

Kemudian, sesungguhnya pendapat yang lebih kuat dari perbedaan pendapat sebelumnya adalah pendapat jumhur, bukan pendapat Hanabilah. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 28322)

Sementara itu, mengkhususkan menyembelih hewan (istilahnya Al โ€˜Atirah) pada bulan Rajab, telah terjadi perbedaan pendapat di dalam Islam. Imam Ibnu Sirin mengatakan itu sunah, dan ini juga pendapat penduduk Bashrah, juga Imam Ahmad bin Hambal sebagaimana yang dikutip oleh Hambal. Tetapi mayoritas ulama mengatakan bahwa hal itu adalah kebiasaan jahiliyah yang telah dihapuskan oleh Islam. Sebab Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits shahih: โ€œTidak ada Al Faraโ€™ dan Al โ€˜Atirah.โ€ (Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Maโ€™arif Hal. 117)

 Namun, jika sekedar ingin menyembelih hewan pada bulan Rajab, tanpa mengkhususkan dengan fadhilah tertentu pada bulan Rajab, tidak mengapa dilakukan. Karena Imam An Nasaโ€™i meriwayatkan, bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah: โ€œWahai Rasulullah, dahulu ketika jahiliyah kami biasa menyembelih pada bulan Rajab?โ€ Maka Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงุฐุจุญูˆุง ู„ู„ู‡ ููŠ ุฃูŠ ุดู‡ุฑ ูƒุงู†

๐Ÿ“Œ            โ€œMenyembelihlah karena Allah, pada bulan apa saja.โ€ (HR. An Nasaโ€™i, hadits ini shahih. Lihat Shahih Al Jamiโ€™ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 1/208)

5โƒฃ Benarkah Isra Miโ€™raj Terjadi Tanggal 27 Rajab?

Ada pun tentang Israโ€™ Miโ€™raj, benarkah peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab? Atau tepatnya 27 Rajab? Jawab: Wallahu Aโ€™lam. Sebab, tidak ada kesepakatan para ulama hadits dan para sejarawan muslim tentang kapan peristiwa ini terjadi, ada yang menyebutnya Rajab, dikatakan Rabiul Akhir, dan dikatakan pula Ramadhan atau Syawal. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 7/242-243)  

 Imam Ibnu Rajab Al Hambali  mengatakan, bahwa banyak ulama yang melemahkan pendapat bahwa peristiwa Isra terjadi pada bulan Rajab, sedangkan Ibrahim Al Harbi dan lainnya mengatakan itu terjadi pada Rabi’ul Awal. (Lathaif Al Maโ€™arif,  Hal. 95).

Beliau juga berkata:

ูˆ ู‚ุฏ ุฑูˆูŠ: ุฃู†ู‡ ููŠ ุดู‡ุฑ ุฑุฌุจ ุญูˆุงุฏุซ ุนุธูŠู…ุฉ ูˆู„ู… ูŠุตุญ ุดูŠุก ู…ู† ุฐู„ูƒ ูุฑูˆูŠ: ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ุฏ ููŠ ุฃูˆู„ ู„ูŠู„ุฉ ู…ู†ู‡ ูˆุฃู†ู‡ ุจุนุซ ููŠ ุงู„ุณุงุจุน ูˆุงู„ุนุดุฑูŠู† ู…ู†ู‡ ูˆู‚ูŠู„: ููŠ ุงู„ุฎุงู…ุณ ูˆุงู„ุนุดุฑูŠู† ูˆู„ุง ูŠุตุญ ุดูŠุก ู…ู† ุฐู„ูƒ ูˆุฑูˆู‰ ุจุฅุณู†ุงุฏ ู„ุง ูŠุตุญ ุนู† ุงู„ู‚ุงุณู… ุจู† ู…ุญู…ุฏ: ุฃู† ุงู„ุฅุณุฑุงุก ุจุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู† ููŠ ุณุงุจุน ูˆุนุดุฑูŠู† ู…ู† ุฑุฌุจ ูˆุงู†ูƒุฑ ุฐู„ูƒ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุงู„ุญุฑุจูŠ ูˆุบูŠุฑู‡

๐Ÿ“Œ”Telah diriwayatkan bahwa pada bulan Rajab banyak terjadi peristiwa agung dan itu tidak ada yang shahih satu pun. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan pada awal malam bulan itu, dan dia diutus pada malam 27-nya, ada juga yang mengatakan pada malam ke-25, ini pun tak ada yang shahih. Diriwayatkan pula dengan sanad yang tidak shahih dari Al Qasim bin Muhammad bahwa peristiwa Isra-nya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terjadi pada malam ke-27 Rajab, dan ini diingkari oleh Ibrahim Al Harbi dan lainnya.” (Lathaif Al Ma’arif Hal. 121. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sementara, Imam Ibnu Hajar mengutip dari Ibnu Dihyah, bahwa: โ€œHal itu adalah dusta.โ€ (Tabyinul โ€˜Ajab hal. 6). Imam Ibnu Taimiyah juga menyatakan peristiwa Israโ€™ Miโ€™raj tidak diketahui secara pasti, baik tanggal, bulan, dan semua riwayat tentang ini terputus dan berbeda-beda.

6โƒฃ Adakah Doa Khusus Menyambut Rajab, Syaโ€™ban dan Ramadhan?

            Tidak ditemukan riwayat yang shahih tentang ini. Ada pun doa yang tenar diucapkan manusia yakni: Allahumma Bariklana fi rajaba wa syaโ€™ban, wa ballighna ramadhan, adalah hadits dhaif (lemah).โŒ

            Dari Anas bin Malik Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

   ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุฑูŽุฌูŽุจูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠ ุฑูŽุฌูŽุจู ูˆูŽุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ ูˆูŽุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ

 ๐Ÿ“Œ         Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam jika masuk bulan Rajab, dia berkata: โ€œAllahumma Barik lanaa fii Rajaba wa Syaโ€™ban wa Barik lanaa fii Ramadhan.โ€
(Ya Allah Berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaโ€™ban wa Berkahilah kami di bulan Ramadhan).

(HR. Ahmad, No. 2346. Ath Thabarani, Al Muโ€™jam Al Awsath,  No. 4086, dengan teks agak berbeda yakni, โ€œWa Balighnaa fii Ramadhan.โ€ Al Baihaqi, Syuโ€™abul Iman, No. 3815. Ibnus Sunni dalam โ€˜Amalul Yaum wal Lailah No. 659. Abu Nuโ€™aim dalam Al Hilyah, 6/269)

Dalam sanad hadits ini terdapat Zaidah bin Abi Ruqad dan Ziyad an Numairi.

๐Ÿ”น  Imam Bukhari berkata tentang Zaidah bin Abi Ruqad: โ€œMunkarul hadits.โ€ (haditsnya munkar) (Imam Al Haitsami, Majmaโ€™ az Zawaid, Juz. 2, Hal. 165. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

๐Ÿ”น  Imam An Nasaโ€™i berkata: โ€œAku tidak tahu siapa dia.โ€  Imam Adz Dzahabi sendiri mengatakan: โ€œDhaโ€™if.โ€  Sedangkan tentang Ziyad an Numairi beliau berkata: โ€œZiyad dhaโ€™if juga.โ€ (Imam Adz Dzahabi, Mizanul Iโ€™tidal, Juz. 2, Hal. 65)

๐Ÿ”น  Imam Abu Daud berkata tentang Zaidah bin Abi   Ruqad: โ€œAku tidak mengenal haditsnya.โ€ Sementara Imam An Nasaโ€™i dalam kitabnya yang lain, Adh Dhuโ€™afa, mengatakan: โ€œMunkarul hadits.โ€ Sedangkan dalam Al Kuna dia berkata: โ€œTidak bisa dipercaya.โ€ Abu Ahmad Al Hakim mengatakan: โ€œhaditsnya tidak kokoh.โ€ (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, Juz. 3, Hal. 305)

๐Ÿ”น  Imam Al Haitsami berkata tentang Ziyad an Numairi: โ€œDia dhaโ€™if menurut jumhur (mayoritas ahli hadits).โ€ (Majmaโ€™ az Zawaid, Juz. 10, Hal. 388. Darul Kutub Al Ilmiyah)

๐Ÿ”นImam Ibnu Hibban  mengatakan bahwa penduduk Bashrah meriwayatkan dari Ziyad hadits-hadits munkar. Imam Yahya bin Maโ€™in  meninggalkan hadits-haditsnya, dan tidak menjadikannya sebagai hujjah (dalil). Imam Yahya bin Maโ€™in juga  berkata tentang dia: โ€œTidak ada apa-apanya.โ€ (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, Juz. 1, Hal. 306)

๐Ÿ”น   Sementara dalam Al Jarh wat Taโ€™dil, Imam Yahya bin Maโ€™in mengatakan: โ€œDhaโ€™if.โ€ (Imam Abu Hatim ar Razi, Al jarh Wat Taโ€™dil, Juz. 3, Hal. 536)

๐Ÿ”น  Syaikh Al Albany mendhaโ€™ifkan hadits ini. (Misykah al Mashabih, Juz. 1, Hal. 306, No. 1369. Lihat juga Dhaiful jamiโ€™ No. 4395), begitu pula Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: isnaduhu dhaif (isnadnya dhaif). (Lihat Musnad Ahmad No. 2346. Muasasah Ar Risalah)

๐Ÿ”‘  Walau hadits ini dhaif, tidak mengapa sekedar membaca doa seperti di atas dengan syarat seperti yang digariskan para ulama terhadap masalah fadhailul a’mal:

๐Ÿ”ธ1. Tidak ada perawi yang tertuduh pendusta atau pemalsu hadits.
๐Ÿ”ธ2. Isinya tidak bertentangan dengan tabiat umum agama Islam.
๐Ÿ”ธ3.  Tidak menganggapnya sebagai doa dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam

Sebab, berdoa dengan membuat redaksi sendiri juga dibolehkan selama isinya tidak bertentangan syariat.

 Anggaplah ini doa bagus yang kita pinjam redaksinya. Lalu, sebaiknya jangan membiasakan doa ini tanpa menjelaskan kedudukannya sebagai doa yang tidak valid dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Sebab, mentradisikan dan mengulang-ulangnya setiap tahun, akan terbuka peluang bagi pikiran sebagian manusia bahwa ini adalah sunah nabi, atau paket yang sudah menjadi pakem khusus ketika menjelang Rajab, Syaโ€™ban, dan Ramadhan. Tentunya ini keliru khawatir dusta atas nama Beliau Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Maka, kelemahannya mesti dijelaskan agar manusia tidak terkecoh.

 Wallahu Aโ€™lam
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Foot notes:

[1] Umar bin Al Khathab Radhiallahu โ€˜Anhu tidak men
yukai puasa Rajab. Berikut ini riwayatnya:

–          Riwayat Imam Ath Thabarani, berkata kepada kami Muhammad bin Al Marziban,  berkata kepada kami   Al Hasan bin Jablah,  berkata kepada kami Saโ€™id bin Shalt, dari Al Aโ€™Masy, dari Barrah bin Abdirrahman, bahwa  Kharasyah bin Al Hurr berkata:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุนูู…ูŽุฑูŽ ูŠูŽุถู’ุฑูุจู ุฃูŽูƒููู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูููŠ ุฑูŽุฌูŽุจู ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุถูŽุนููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฌูููŽุงู†ู ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู : ูƒูู„ููˆุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑูŒ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุนูŽุธู‘ูู…ูู‡ูุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ูู„ู…ุง ุฌุงุก ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุชุฑูƒ

๐Ÿ“ŒAku melihat Umar memukul telapak tangan manusia pada bulan Rajab, hingga dia mengantarkannya ke mangkuk besar, dan berkata: โ€œMakanlah, ini adalah bulan yang dimuliakan oleh orang-orang Jahiliyah, yang ketika Islam datang dia sudah ditinggalkan.โ€ (Ath Thabarani dalam Al Muโ€™jam Al Awsath No. 7636)

Imam Al Haitsami mengatakan tentang sanad Ath Thabarani: โ€œSanadnya terdapat Al Hasan bin Jablah, aku belum temukan orang yang menceritakannya, dan perawi lainnya terpercaya.โ€ (Majmaโ€™ Az Zawaid,  3/439) Maka, sanad ini belum meyakinkan. Tetapi Syaikh Al Albani mengatakan: โ€œTidak apa-apa jika sebagai mutabaโ€™ah (penguat).โ€ (Irwaโ€™ul Ghalil, 4/114)

Ternyata ada riwayat lain dari Imam Ibnu Abi Syaibah sebagai berikut:

Dari Abu Muโ€™awiyah, dari Al Aโ€™masy, dari Barah bin Abdirrahman, dari Kharasyah bin Al Hurr, dia berkata:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุนูู…ูŽุฑูŽ ูŠูŽุถู’ุฑูุจู ุฃูŽูƒููู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูููŠ ุฑูŽุฌูŽุจู ุŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุถูŽุนููˆู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฌูููŽุงู†ู ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู : ูƒูู„ููˆุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑูŒ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุนูŽุธู‘ูู…ูู‡ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู

๐Ÿ“ŒAku melihat Umar memukul telapak tangan manusia pada bulan Rajab, hingga dia mengantarkannya ke mangkuk besar, dan berkata: โ€œMakanlah, ini adalah bulan yang dimuliakan oleh orang-orang Jahiliyah. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 9851)

                Syaikh Al Albani berkata: haadza sanadun shahihun โ€“ sanad hadits ini shahih. (Irwaโ€™ul Ghalil, 4/114)

[2] Imam Ibnu Abi Syaibah menceritakan:

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ูˆูŽูƒููŠุนูŒ ุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุตูู…ู ุจู’ู†ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูƒูŽุงู†ูŽ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฅุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูุนูุฏู‘ูˆู†ูŽ ู„ูุฑูŽุฌูŽุจู ุŒ ูƒูŽุฑูู‡ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ

๐Ÿ“Œ                Berkata kepada kami Waki;, dari โ€˜Ashim bin Muhamad, dari ayahnya, dia berkata: โ€œDahulu Ibnu Umar jika dia melihat manusia -dan betapa banyak yang melakukannya  pada Rajab- maka dia membencinya.โ€ (Al Mushannaf No. 9854)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

HUKUM ZIKIR SAAT ADZAN

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB
โœUstadz Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ’๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒน๐ŸŒท

Assalamu’alaikum wr wb.
Mau tanya ustadz
Bagaimana hukum dzikir pada saat adzan?
syukron atas jawabannya
i25

Jawaban:

Wa’alaikumussalam  warahmatullah .., bismillah wak hamdulillah ..

 Ketika dikumandangkan adzan, yang mesti kita lakukan adalah menjawabnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

  Dari Abu Saโ€™id Al Khudri Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ุฅุฐุง ุณู…ุนุชู… ุงู„ู†ุฏุงุก ูู‚ูˆู„ูˆุง ู…ุซู„ ู…ุง ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ู…ูˆุฐู†
Jika kalian mendengarkan panggilan adzan maka jawablah oleh kalian seperti yang dikatakan muadzin. (HR. Al Jamaโ€™ah)

Perintah ini umum buat siapa pun, tapi ada kondisi dikecualikan boleh tidak menjawabnya. Siapa saja itu?

Imam An Nawawi menjelaskan:

ู‚ุงู„ ุงุตุญุงุจู†ุง ูˆูŠุณุชุญุจ
ู…ุชุงุจุนุชู‡ ู„ูƒู„ ุณุงู…ุน ู…ู† ุทุงู‡ุฑ ูˆู…ุญุฏุซ ูˆุฌู†ุจ ูˆุญุงุฆุถ ูˆูƒุจูŠุฑ ูˆุตุบูŠุฑ ู„ุงู†ู‡ ุฐูƒุฑ ูˆูƒู„ ู‡ุคู„ุงุก ู…ู† ุงู‡ู„ ุงู„ุฐูƒุฑ ูˆูŠุณุชุซู†ู‰ ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ู…ุตู„ูŠ ูˆู…ู† ู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุงู„ุฎู„ุงุก ูˆุงู„ุฌู…ุงุน ูุฅุฐุง ูุฑุบ ู…ู† ุงู„ุฎู„ุงุก ูˆุงู„ุฌู…ุงุน ุชุงุจุนู‡ ุตุฑุญ ุจู‡ ุตุงุญุจ ุงู„ุญุงูˆู‰ ูˆุบูŠุฑู‡ ูุฅุฐุง ุณู…ุนู‡ ูˆู‡ูˆ ููŠ ู‚ุฑุงุกุฉ ุฃูˆ ุฐูƒุฑ ุฃูˆ ุฏุฑุณ ุนู„ู… ุฃูˆ ู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ู‚ุทุนู‡ ูˆุชุงุจุน ุงู„ู…ุคุฐู† ุซู… ุนุงุฏ ุงู„ูŠ ู…ุง ูƒุงู† ุนู„ูŠู‡ ุงู† ุดุงุก ูˆุงู† ูƒุงู† ููŠ ุตู„ุงุฉ ูุฑุถ ุฃูˆ ู†ูู„ ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุงู„ุงุตุญุงุจ ู„ุง ูŠุชุงุจุนู‡ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฅุฐุง ูุฑุบ ู…ู†ู‡ุง ู‚ุงู„ู‡ ูˆุญูƒู‰ ุงู„ุฎุฑุงุณุงู†ูŠูˆู† ููŠ ุงุณุชุญุจุงุจ ู…ุชุงุจุนุชู‡ ููŠ ุญุงู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู‚ูˆู„ุง ูˆู‡ูˆ ุดุงุฐ ุถุนูŠู

Para sahabat kami (Syafiโ€™iyyah) berkata bahwa disunahkan menjawabnya bagi semua yang mendengarkannya, baik yang sedang suci, berhadats, junub, haid, tua, anak-anak, karena itu adalah kalimat dzikir, dan semua orang ini termasuk yang dibilehkan berdzikir. Dikecualikan adalah ORANG YANG SHALAT, juga orang yang sedang di toilet dan jimaโ€™.

Jika sudah selesai dari toilet dan jimaโ€™, maka hendaknya dia menjawabnya. Pengarang Al Hawi dan selainnya menjelaskan  hal itu. Jika dia sedang membaca Al Quran, atau dzikir, atau belajar ilmu atau semisalnya, maka hentikan dulu dan jawablah muadzin, lalu dia kembali lagi jika dia mau. Jika dia dalam keadaan shalat, wajib atau sunah, Asy Syafiโ€™i dan para sahabatnya mengatakan tidak usah menjawabnya dalam shalat, jika sudah selesai hendaknya menjawabnya. Orang-orang Khurasan menyunnahkan menjawabnya walau ketika shalat, ini adalah pendapat yang janggal lagi lemah. (Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 3/118)

Maka, dzikir bukan penghalang untuk menjawab adzan. Demikian. Wallahu A’lam

๐Ÿ““๐Ÿ“•๐Ÿ“—๐Ÿ“˜๐Ÿ“™๐Ÿ“”๐Ÿ“’

โœ๏ธ Farid Nu’man Hasan
๐Ÿ“š Percik Iman, Ilmu, dan Amal
๐Ÿ“ก Sebarkan! Raih amal shalih
๐ŸŒ Join Channel Telegram : bit.ly/1Tu7OaC

โœ FN

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ’๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…